Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA PASIEN BRONCHOPNEUMONIA

Di ajukan sebagai salah satu tugas keperawatan anak

Disusun oleh

Enaf Fantiah Nurwanti

Iis Surdyani

Ella Rahmasuti

PROGRAM STUDI S1 NON REGULER KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

BUDI LUHUR CIMAHI


2020

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pneumonia atau radang paru merupakan salah satu penyakit yang diperkirakan telah
mengakibatkan 4 juta anak balita meninggal tiap tahun. Di Indonesia dari 450.000 kematian
balita setiap tahun diduga 150.000 disebabkan oleh ISPA terutama pneumonia. (Ichwanu,
2003 : 126). Pneumonia menjadi penyebab tunggal kematian utama pada anak–anak
berusia kurang dari 5 tahun dengan sekitar 1,6 juta anak meninggal setiap tahun. Studi
telah mengidentifikasi Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan virus RSV
sebagai penyebab utama patogen yang berhubungan dengan pneumonia pada anak.
Penyakit pneumonia adalah penyebab nomor satu (15,7 %) dari penyebab kematian balita
di rumah sakit (Profil Dinas Kesehatan Jawa Tengah, 2005). Pada tahun 2006, cakupan
penemuan pneumonia balita di Jawa Tengah mencapai 26,62%. Angka tersebut
mengalami penurunan pada tahun 2007 yaitu menjadi 24,29% dan pada tahun 2008 juga
mengalami penurunan menjadi 23,63% (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2008). Pneumonia
adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran napas bagian bawah yang terbanyak
kasusnya dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah
yang menyerang anakanak dan balita hampir di seluruh dunia..
Bronkopneumonia disebut juga 2 pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada
parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai
alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan
kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab
non infeksi yang perlu dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi
sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga
sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang dewasa. Maka
dari itu dalam makalah ini kami akan menjelaskan dan menjabarkan tentang konsep teori
penyakit bronchopneumonia dan asuhan keperawatan pada pasien bronchopneumonia.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan
bronchopneumonia.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian bronchopneumonia
b. Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab bronchopneumonia
c. Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa yang mungkin muncul pada pasien
bronchopneumonia
d. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan
bronchopneumonia
C. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Bagi Mahasiswa
Dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk mengetahui konsep dan
aplikasi asuhan keperawatan pada pasien bronchopneumonia.
2. Bagi Institusi Kesehatan
Dapat digunakan sebagai acuan dan sebagai sumber informasi tambahan di
institusi dalam mengembangkan pendidikan terkait asuhan keperawatan pada
pasien bronchopneumonia.
3. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Dapat digunakan sebagai bahan untuk menambah ilmu pengetahuan dalam
keperawatan dan dapat mengatahui cara mengatasi bronchopneumonia.
4. Bagi Pelayanan Kesehatan
Dapat digunakan sebagai acuan dan sebagai sumber informasi tambahan di
pelayanan kesehatan dalam mengembangkan asuhan keperawatan pada pasien
bronchopneumonia.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronchi
dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer & Suzanne C,
2002 : 572). Menurut Whaley & Wong, Bronchopneumonia adalah bronkiolus terminal
yang tersumbat oleh eksudat, kemudian menjadi bagian yang terkonsolidasi atau
membentuk gabungan di dekat lobulus, disebut juga pneumonia lobaris.
Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang di
bronkeoli terminal. Bronkeoli terminal tersumbat oleh eksudat mokopurulen yang
membentuk bercak-barcak konsolidasi di lobuli yang berdekatan. Penyakit ini sering
bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi yang
spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh (Nurarif & Kusuma. 2015).

B. Etiologi
Secara umun individu yang terserang bronchopneumonia diakibatkan oleh
adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen.
Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ
pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan
silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa,
mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia antara lain: (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682 dikutip
Nurarif & Kusuma. 2015)

C. Patofisiologi
Bakteri yang masuk ke paru-paru menuju ke bronkioli dan alveoli melalui saluran
napas yang menimbulkan reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema
yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan interstitial (Riyadi & Sukarmin, 2009).
Alveoli dan septa menjadi penuh dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin
serta relative sedikit leukosit sehingga kapiler alveoli 8 menjadi melebar. Apabila proses
konsolidasi tidak dapat berlangsung dengan baik maka setelah edema dan terdapatnya
eksudat pada alveolus maka membran dari alveolus akan mengalami kerusakan.
Perubahan tersebut akan berdampak pada pada penurunan jumlah oksigen yang
dibawa oleh darah. Sehingga berakibat pada hipoksia dan kerja jantung meningkat
akibat saturasi oksigen yang menurun dan hiperkapnia. Penurunan itu yang secara klinis
menyebabkan penderita mengalami pucat sampai sianosis.

D. Manifestasi klinis
Menurut Ringel, 2012 tanda-gejala dari Bronkopneumonia yaitu :
1. Gejala penyakit datang mendadak namun kadang-kadang didahului oleh infeksi
saluran pernapasan atas.
2. Pertukaran udara di paru-paru tidak lancar dimana pernapasan agak cepat dan
dangkal sampai terdapat pernapasan cuping hidung.
3. Adanya bunyi napas tambahan pernafasan seperti ronchi dan wheezing
4. Dalam waktu singkat suhu naik dengan cepat sehingga kadang-kadang terjadi
kejang.
5. Anak merasa nyeri atau sakit di daerah dada sewaktu batuk dan bernapas.
6. Batuk disertai sputum yang kental.
7. Nafsu makan menurun.

E. Pemeriksaan penunjang
Menurut Nurarif dan Kusuma (2015) untuk dapat menegakkan diagnosa
keperawatan dapat digunakan cara :
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis
(meningkatnya jumlah neutrofil).
b. Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari batuk yang spontan dan
dalam. Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes
sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius.
c. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa.
d. Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
e. Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi
antigen mikroba.
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgen Thoraks
Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi
pneumokokal atau klebsiella. Infiltrat multiple seringkali dijumpai pada infeksi
stafilokokus dan haemofilus
b. Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat
oleh benda padat.
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bronkopneumonia menurut Mansjoer (2000) dan Ngastiyah (2005)
dibagi dua yaitu penataksanaan, medis &keperawatan:
1. Penatalaksanaan medis Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji
resistensi. Akan tetapi, karena hal itu perlu waktu dan pasien perlu terapi
secepatnya maka biasanya diberikan :
a. Penisilin ditambah dengan Cloramfenikol atau diberikan antibiotik yang
mempunyai spektrum luas seperti Ampisilin. Pengobatan ini diteruskan
sampai bebas demam 4 – 5 hari.
b. Pemberian oksigen dan cairan intervensi.
c. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat
kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan
hasil analisis gas darah arteri.
d. Pasien pneumonia ringan tidak perlu dirawat di Rumah Sakit.
2. Penatalaksanaan Keperawatan Penatalaksanan keperawatan dalam hal ini yang
dilakukan adalah :
a. Menjaga kelancaran pernafasan Klien pneumonia berada dalam keadaan
dispnea dan sianosis karena adanya radang paru dan banyaknya lendir di
dalam bronkus atau paru. Agar klien dapat bernapas secara lancar, lendir
tersebut harus dikeluarkan dan untuk memenuhi kebutuhan O2 perlu
dibantu dengan memberikan O2 2 l/menit secara rumat.
b. Kebutuhan Istirahat Klien Pneumonia adalah klien payah, suhu tubuhnya
tinggi, sering hiperpireksia maka klien perlu cukup istirahat, semua
kebutuhan klien harus ditolong di tempat tidur. Usahakan pemberian obat
secara tepat, usahakan keadaan tenang dan nyamn agar psien dapat
istirahat sebaik-baiknya.
c. Kebutuhan Nutrisi dan Cairan Pasien bronkopneumonia hampir selalu
mengalami masukan makanan yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama
beberapa hari dan masukan cairan yang kurang dapat menyebabkan
dehidrasi. Untuk mencegah dehidrasi dan kekukrangan kalori dipasang infus
dengan cairan glukosa 5% dan NaCl 0,9%. 20
d. Mengontrol Suhu Tubuh Pasien bronkoneumonia sewaktu-waktu dapat
mengalami hiperpireksia. Untuk ini maka harus dikontrol suhu tiap jam. Dan
dilakukan kompres serta obat-obatan satu jam setelah dikompres dicek
kembali apakah suhu telah turun.
G. Pengkajian keperawatan :
1. Mengidentifikasi Data Catat tanggal dan tempat kelahiran, nama panggilan, serta
nama pertama orang tua (jika berbeda dengan nama pertama anak, tanyakan
nama terkhir) (Bickley, 2008).
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dengan pneumonia untuk
meminta pertolongan keshatan adalah sesak napas, batuk, dan peningkatan suhu
tubuh/demam (Muttaqin, 2008).
3. Riwayat Penyakit Saat Ini
Pengkajian ini dilakuakan untuk mendukung keluhan utama. Lakukan pertanyaan
yang bersifat ringkas sehingga jawaban yang diberikan klien hanya kata “ya” atau
“tidak” atau hanya dengan anggukan dan gelengan kepala. Apabila keluhan
utama adalah batuk, maka perawat harus menanyakan sudah berapa lama
keluhan batuk muncul (onset). Pada klien dengan pneumonia, keluhan batuk
biasanya timbul, mendadak dan tidak berkurang setelah minum obat batuk yang
ada di pasaran. Pada awalnya keluhan batuk tidak produktif, tapi selanjutnya
akan berkembang menjadi batuk produktif dengan mukus purulen kekuning-
kuningan, kehijau-hijauan, kecokelatan atau kemerahan, dan sering sekali berbau
busuk. Klien biasanya mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil (onset
27 mungkin tiba-tiba dan bahaya). Adanya keluhan nyeri dada pleuritic, sesak
napas, peningkatan frekuensi pernapasan, lemas, dan nyeri kepala (Muttaqin,
2008).
4. Riwayat Penyakit Masa Lalu
a. Riwayat Kelahiran. Data ini terutama penting saat terjadi masalah
neurologis dan perkembangan. Dapatkan catatan rumah sakit jika
diperlukan (Bickley, 2008).
a) Pranatal kesehatan maternal: pengobatan; penggunaan tembakau,
obat-obatan, dan pengguanaan alcohol; perdarahan vagina;
pertambahan berat badan; durasi kehamilan
b) Natal sifat persalinan dan kelahiran, berat badan lahir, skor Apgar
pada 1 dan 5 menit pertama
c) Neonatal Usaha resusitasi, sianosis, icterus, infeksi, pelekatan
b. Riwayat Makan. Data ini terutama penting pada kekurangan nutrisi atau
kelebihan nutrisi (Bickley, 2008).
a) Menyusui air susu ibu (ASI): frekuensi dan durasi menysui,
kesulitan dan waktu metode penyapihan
b) Pemberian susu botol: jenis; jumlah; frekuensi; muntah; kolik;
diare; suplemen vitamin, zat besi, dan fluoride; pengenalan pada
makanan padat
c) Kebiasaan makan: tipe dan jumlah makanan yang dimakan, sikap
orang tua, dan respons terhadap masalah makan
c. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan. Data ini penting ketika terjadi
keterlambatan pertumbuhan, retardasi psikomotor dan intelektual, serta
gangguan perilaku (Bickley, 2008).
a) Pertumbuhan fisik: berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala
pada saat lahir dan sebelum berusia 2 tahun; periode pertumbuhan
cepat atau lambat
b) Tahap perkembangan yang penting: usia anak ketika ia dapat
mengangkat kepala, berguling, duduk, berdiri, berjalan, dan
berbicara
c) Perkembangan wicara: performa di pra-sekolah dan sekolah
d) Perkembangan soaial: pola tidur malam dan siang hari; toilet
training, masalah dalam bicara; kebiasaan perilaku; masalah
disiplin; prestasi di sekolah; hubungan dengan orang tua, saudara
kandung, dan teman sebaya
5. Pengkajian psiko-sosio-spiritual Pengkajian psikologis klien meliputi beberapa
dimensi yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas
mengenai status emosi, kognitif dan perilaku klien. Perawat mengumpulkan data
hasil dari pemeriksan awal klien tentang kapasitas fisik dan intelektual saat ini.
Data ini penting untuk menentukan tingkat perlunya pengkajian psiko-sosio-
spiritual yang saksama. Pada kondisi klinis, klien dengan pneumonia sering
mengalami kecemasan bertingkat sesuai dengan keluhan yang dialaminya. Hal
lain yang perlu ditanyakan adalah kondisi pemukiman di mana klien bertempat
tinggal, klien dengan pneumonia sering dijumpai bila bertempat tinggal di
lingkungan dengan sanitasi buruk (Muttaqin, 2008).
6. Status Kesehatan Sekarang (Bickley, 2008)
a. Alergi. Beri perhatian khusus pada riwayat eczema, urtikaria, rhinitis alergi
lama, intoleran makanan, hipersensitivitas serangga, dan mengi berulang
b. Imunisasi. Termasuk tanggal pemberian imunisasi dan reaksi yang tidak
menguntungkan
c. Uji Skrining. Cenderung bervariasi sesuai dengan kondisi medis dan sosial
anak. Termasuk hasil skrining nayi baru lahir, skrining anemia, timbal darah,
penyakit sel sbait, penglihatan, pendengaran, dan lain-lain (misal:
tuberkulosis)
7. Pengkajian fisik
a. Keadaan umum : Keadaan umum pada pasien dengan bronchopneumonia
adalah pasien terlihat lemah, pucat dan sesak nafas
b. Tanda-tanda vital : didapatkan suhu meningkat (39-400C), nadi cepat dan
kuat, pernafasan cepat dan dangkal
c. Kulit : Tampak pucat, sianosis, biasanya turgor jelek
d. Kepala : pada pemeriksaan kepala dapat dilakukan inspkesi pada bentuk
kepala, lingkar kepala, warna dan tekstur rambut, keadaan ubun-ubun
(anterior dan posterior)
e. Mata : didapatkan hasil inspeksi konjungtiva anemis, sklera putih
f. Hidung : pada pasien bronchopneumonia didapatkan adanya secret, ada
pernafasan cuping hidung, dan sianosis
g. Mulut : pucat, sianosis, membrane mukosa kering, bibir kering, dan pucat
h. Telinga : inspeksi adanya peradangan atau tidak. Peradangan menandakan
sudah terjadi komplikasi
i. Leher : inspeksi dan palpasi adanya pembesaran limfe atau tidak
j. Dada : ada tarikan dinding dada, pernafasan cepat dan dangkal
k. Jantung : jika terjadi komplikasi ke ednokarditis, terjadi bunyi tambahan
l. Paru-paru : suara nafas ronchi, wheezing
m. Abdomen : Bising usus (+), lembek/kembung/tegang, distensi abdomen
n. Ekstremitas : pada pasien dengan bronchopneumonia didapatkan pasien
tampak lemah, penurunan aktifitas, sianosis pada ujung jari dan kaki, akral
hangat
H. Analisa data
1. Data subyektif
Anak dikeluhkan rewel, tidak mau makan, sesak nafas, terdengar suara grek-
grek, anak mencret
2. Data obyektif
Pernafasan cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung, batuk berdahak,
sputum purulent, penggunaan otot bantu nafas, bunyi nafas bronkovaskuler,
ronchi, respirasi meningkat, peningkatan suhu tubuh, penurunan nafsu makan,
muntah, malaise, penurunan berat badan

I. Diagnosa keperawatan berdasarkan NANDA 2018, Sebagai berikut :


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d mukus berlebihan yang ditandai dengan
jumlah sputum dalam jumlah yang berlebihan, dispnea,sianosis, suara nafas
tambahan (ronchi)
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan yang
ditandai dengan dispena, dispena, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan
cuping hidung
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolarkapiler yang ditandai dengan dispnea saat istirahat, dispneu saat aktifitas
ringan, sianosis
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
Asupan diet kurang yang ditandai dengan ketidakmampuan menelan
makanan,membran mukosa pucat, penurunan berat badan selama dalam
perawatan
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen yang ditadai dengan Dispnea setelah beraktifitas,keletihan,
ketidaknyamanan setelah beraktifitas
J. PERENCANAAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Keperawatan Perencanaan Tindakan Keperawatan

Tujuan Intervensi Rasional

1 Ketidakefektifan bersihan jalan setelah dilakukan tindakan 1. Monitor status pernafasan 1.untuk mendeteksi tand-tanda
napas b.d jumlah sputum keperawatan selama 3x24 jam 2. Posisikan pasien semi bahaya
dalam jumlah yang berlebihan, dengan kriteria hasil : fowler, atau posisi fowler
dispnea, sianosis, suara nafas 3. Observasi kecepatan, 2. untuk membantu bernafas
tambahan (ronchi) 1. Pasien tidak mengalami irama, kedalaman dan kesulitan dan ekspansi dada serta
kelebihan mukus bernafas ventilasi lapangan paru basilar
2. Tidak mngalami dispneu 4. Auskultasi suara nafas
(frekuensi pernafasan normal 5. 3. untuk mendeteksi tanda-
lakukan fisioterapi dada
30-50x/menit, kedalaman tanda bahaya
sebagaimana mestinya
inspirasi normal) 6. Kolaborasi pemberian O2 4. untuk mendeteksi suara
3. Tidak ada pernafasan cuping sesuai instruksi nafas tambahan
hidung 7. Ajarkan melakukan batuk (whezing,ronchi)
4. Tidak ada pnggunaan otot efektif
bantu nafas 8. Ajarkan pasien dan 5. untuk membantu mobilisasi
5. Pasien tidak batuk dan keluarga mengenai penggunaan dan membersihkan sekresi
tersedak perangkat oksigen yang
6. Tidak ada pengluaran 6. untuk membantu menurunkan
memudahkan mobilitas
sputum dalam jumlah yang distres pernafasan yang
abnormal disebabkan oleh hipoksemia
7. untuk membantu
mengeluarkan sekresi dan
mempertahankan potensi jalan
nafas

8. untuk memudahkan dalam


meggunakan oksigen

2 Ketidakefektifan pola napas setelah dilakukan tindakan 1. Posisikan pasien Posisi semi 1. untuk memaksimalkan
berhubungan dengan keletihan keperawatan selama 3x24 jam fowler, atau posisi fowler ventilasi
otot pernafasan yang ditandai dengan kriteria hasil :
dengan dispnea, dispena, 2.Observasi 2. untuk mendeteksi tanda-

penggunaan otot bantu 1. Tidak mngalami dispneu kecepatan,irama,kedalaman dan tanda bahaya

pernafasan, pernafasan cuping ( frekuensi pernafasan normal kesulitan bernafas


30-50x/menit, kedalaman 3. untuk mendeteksi tanda-
hidung
inspirasi normal) 3.Observasi pergerakan dada, tanda bahaya
kesimetrisan dada,penggunaan
2. Tidak ada pernafasan cuping oto-otot bantu 4. untuk mendeteksi suara

hidung nafas tambahan


4. auskultasi suara nafas (whezing,ronchi)
3. Tidak ada penggunaan otot
bantu nafas 4. Pasien tidak 5. Kolaborasi pemberian O2 5. untuk membantu menurunkan

batuk dan tersedak distres pernafasan yang


6. Monitor aliran oksigen disebabkan oleh hipoksemia
5. Tidak ada pengeluaran 7. Ajarkan pasien dan keluarga 6. untuk melihat ada atau
sputum dalam jumlah yang mengenai penggunaan perangkat tidaknya aliran oksigen yang
abnormal oksigen yang memudahkan masuk
mobilitas
6. Tidak ada penafasan dengan 7. untuk memudahkan dalam
bibir mengerucut meggunakan oksigen

7. Tidak ada pengembangan


dinding dada yang tidak simetris

3 Gangguan pertukaran gas Pasien tidak mengalami 1. Monitor kecepatan, irama, 1. untuk mendeteksi tanda-
perubahan membran alveolar- kedalaman, dan kesulitan tanda bahaya Terapi oksigen
berhubungan dengan
kapiler setelah dilakukan bernapas
perubahan membran alveolar- tindakan keperawatan selama 2. Pertahankan kepatenan 2.pasien dapat bernapas
3x24jam dengan kriteria hasil : jalan napas dengan mudah
kalpiler yang ditandai dengan
1. Pasien tidak dispnea saat 3. Observasi adanya suara
dispnea saat istirahat, dispneu istirahat (RR normal 30-50x/mnt) napas tambahan 3.untuk mendeteksi krepitasi
2. Pasien tidak sianosis 4. Kolaborasi pemberian O2 dan laporkan ketidaknormalan
saat aktifitas ringan, sianosis
5. Ajarkan pasien dan keluarga
3. Pasien tidak ada gangguan mengenai penggunaan 4.untuk membantu menurunkan
kesadaran perangkat oksigen yang distres pernafasan yang
memudahkan mobilitas disebabkan oleh hipoksemia

5.untuk memudahkan dalam


meggunakan oksigen

4 Ketidakseimbangan nutrisi Pasien mendapatkan asupan 1. Observasi dan catat asupan 1.untuk mengkaji zat gizi yang
kurang dari kebutuhan tubuh nutrisi yang cukup Selama 3x24 pasien (cair dan padat)
dikonsumsi dan suplemen yang
berhubungan dengan asupan jam dengan kriteria hasil : 1.
diet kurang yang ditandai Intake cairan lewat mulut 2.Ciptakan lingkungan yang
dengan ketidakmampuan adekuat (420cc/hr) 2. Kadar Hb diperlukan
menelan makanan,membran dalam rentang normal (9.2-13-6 optimal pada saat mengkonsumsi
mukosa pucat, penurunan g/dL) makan (misalnya; bersih, santai,
berat badan selama dalam 2.untuk meningkatkan nafsu
dan bebas dari bau yang
perawatan 3. Intake cairan intravena mneyengat) makan pasien
adekuat
3. Monitor kalori dan asupan
3.untuk menilai asupan
4. Kadar albumin dalam rentang makanan
normal (3.4-5.4 g/dL) makanan yang adekuat
4. Atur diet yang diperlukan
5. Kadar glukosa dalam rentang (menyediakan makanan protein
4.untuk : Meningkatkan asupan
normal (100-200 mg/dl) tinggi, menambah atau menguragi
kalori, vitamin, mineral atau nutrisi yang adekuat
6. BBI dalam rentang normal suplemen
(4800 gram)
5.untuk mencegah kekambuhan
5.Kolaborasi pemberian obat-
obatan sebelum makan (contoh pada saat makan
obat anti nyeri)
6.untuk membantu keluarga
6. Ajarkan pasien dan keluarga
dalam memberikan asupan
cara mengakses program-program
nutrisi yang baik
gizi komunitas (misalnya ;
perempuan,bayi,anak)

5 Intoleransi Aktifitas Pasien terbebas dari 1. Observasi sistem kardiorespirasi 1.Memantau tanda-tanda
berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pasien selama kegiatan (misalnya ;
bahaya
ketidakseimbangan antara suplai dan oksigen setelah takikardi, distrimia, dispnea)
suplai dan kebutuhan oksigen dilakukan tindakan keperawatan
yang ditandai dengan kesulitan selama 3x24jam dengan kriteria 2. Monitor lokasi dan sumber 2.Untuk mengidentifikasi
bernafas saat melakukan hasil : 1. Frekuensi nadi dalam ketidaknyamanan/nyeri yang
aktifitas, kulit pucat, batasan normal (100-130x/mnt) penyebab pasien tidak toleran
dialami pasien selama aktifitas
ketidakmampuan melakukan 2. Frekuensi nafas dalam batas terhadap aktifitas
ADL normal (30-50x/mnt) 3. Lakukan Rom aktif atau

3. Tidak sianosis 3.untuk menghilangkan


4. Lakukan terapi non farmakologis
(terapi musik) ketegangan otot

5. Kolaborasi pemberian terapi


4.untuk meningkatkan tidur
farmakologis untuk mengurangi
kelelahan
5.meningkatkan istirahat pasien
6. Beri Penyuluhan kepada
keluarga dan pasien tentang nutrisi
yang baik dan istirahat yang 6.untuk meningkatkan praktik
adekuat kesehatan