Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut UU RI No. 18 Tahun 2015 tentang Kesehatan Jiwa, Kesehatan Jiwa

adalah kondisi seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual,

dan sosial sehingga individu menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi

tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk

komunitasnya. WHO memperkirakan sebanyak 450 juta orang diseluruh dunia

mengalami gangguan mental. Terdapat sekitar 10% orang dewasa mengalami

gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan akan mengalami gangguan

jiwa pada usia tertentu. (Kementerian Kesehatan RI, 2015).

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Untuk Mengetahui Askep Harga Diri Rendah (HDR).

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Menjelaskan Pengertian Harga Diri Rendah.

2. Menjelaskan Rentang respon harga diri rendah.

3. Menjelaskan Faktor penyebab harga diri rendah.

4. Menjelaskan Tanda dan gejala harga diri rendah.

5. Menjelaskan Proses Terjadinya Harga Diri Rendah.

6. Menjelaskan Mekanisme Koping Harga Diri Rendah.

7. Menjelaskan Penatalaksanaan Harga Diri Rendah.

8. Menjelaskan Asuhan Keperawatan harga Diri Rendah.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Harga Diri Rendah

Harga diri rendah merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi

diri negatif tentang kemampuan dirinya.Harga diri rendah situasional yaitu evaluasi

diri negatif yang berkembang sebagai respons terhadap hilangnya atau berubahnya

perawatan diri seseorang yang sebelumnya mempunyai evaluasi diri positif.

(Muhith, A. 2015).

Harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap dirinya sendiri menyebabkan

kehilangan rasap ercaya diri, pesimis, dan tidak berharga dikehidupan. (Dermawan,

D. 2014).

Harga diri rendah adalah evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan

diri disertai kurangnya perawatan diri, tidak berani menatap lawan bicara lebih

banyak menunduk, berbicara lambat dan suara lemah. (Purwanto, T. 2015).

2.2 Rentang Respon Harga Diri Rendah

Adaptif Mal adaptif

Aktualisasi Konsep Diri Harga Diri Kekacauan Depersonalisasi

Diri Positif Rendah Identitas

2
1. Respon Adaptif

Respon adaptif adalah kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah

yang dihadapinya. Respon adaptif terdiri dari aktualisasi dan konsep diri positif.

Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan

latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.Konsep diri

positif adalah apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam

beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang negatif dari

dirinya. (Prabowo, 2014).

2. Respon Maladaptif

Respon maladaptif adalah respon yang diberikan individu ketika dia tidak

mampu lagi menyelesaikan masalah yang dihadapi. Respon maladaptif dapat

berupa harga diri rendah, keracuan identitas, dan dipersonalisasi. Harga diri

rendah adalah individu yang cenderung untuk menilai dirinya yang negatif dan

merasa lebih rendah dari orang lain. Keracunan identitas adalah identitas diri

kacau atau tidak jelas sehingga tidak memberikan kehidupan dalam mencapai

tujuan. Depersonalisasi (tidak mengenal diri) tidak mengenal diri yaitu

mempunyai kepribadian yang kurang sehat, tidak mampu berhubungan dengan

orang lain secara intim. Tidak ada rasa percaya diri atau tidak dapat membina

hubungan baik dengan orang lain. (Prabowo, 2014).

2.3 Faktor Penyebab Harga Diri Rendah

a. Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan harga diri rendah yaitu :

3
1. Perkembangan individu

Perkembangan Individu yang meliputi :

 Adanya penolakan dari orang tua, sehingga anak merasa tidak dicintai

kemudian dampaknya anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal pula

untuk mencintai orang lain.

 Kurangnya pujian dan kurangnya pengakuan dari orang – orang tuanya

atau orang tua yang penting/ dekat dengan individu yang bersangkutan.

 Sikap orang tua over protecting, anak merasa tidak berguna, orang tua atau

orang terdekat sering mengkritik serta merevidasikan individu.

 Anak menjadi frustasi, putus asa merasa tidak berguna dan merasa rendah

diri.

2. Ideal diri

Ideal diri meliputi yaitu :

 Individu selalu dituntut untuk berhasil.

 Tidak mempunyai hak untuk gagal dan berbuat salah.

 Anak dapat menghakimi dirinya sendiri dan hilangnya rasa percaya diri.

b. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi atau stresor pencetus dari munculnya harga diri rendah

mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti:

 Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga keluarga

merasa malu dan rendah diri.

4
 Pengalaman traumatik berulang seperti penganiayaan seksual dan psikologis

atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, aniaya fisik,

kecelakaan, bencana alam dan perampokan. Respon terhadap trauma pada

umumnya akan mengubah arti trauma tersebut dan kopingnya adalah represi

dan denial.

c. Perilaku

Dalam melakukan pengkajian, perawat dapat memulai dengan mengobservasi

penampilan klien, misalnya kebersihan, dandanan, pakaian yang kemudian

perawat mendiskusikannya dengan klien untuk mendapatkan pandangan klien

tentang gambaran dirinya.Harga diri yang rendah merupakan masalah bagi

banyak orang dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai

berat.Umumnya disertai oleh evaluasi diri yang negatif membenci diri sendiri

dan menolak diri sendiri.

2.4 Tanda dan gejala Harga diri rendah

1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan

terhadap penyakit.

Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi

sinar pada kanker.

2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri.

Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/

mengejek dan mengkritik diri sendiri.

3. Merendahkan martabat.

5
Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu

apa-apa.

4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu

dengan orang lain, lebih suka sendiri.

5. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang

memilih alternatif tindakan.

6. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram,

mungkin klien ingin mengakhiri hidupnya.

2.5 Proses Terjadinya Harga Diri Rendah

Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan harga diri rendah

situasional yang tidak diselesaikan atau dapat juga terjadi karena individu tidak

pernah mendapatkan feed back dari lingkungan tentang perilaku klien sebelumnya

bahkan mungkin kecendrungan lingkungan yang selalu memberi respon negatif

mendorong individu menjadi harga diri rendah.

Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Awalnya individu

berada pada situasi yang penuh dengan stressor, individu berusaha menyelesaikan

krisis tetapi tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak mampu atau

merasa gagal menjalankan fungsi dan peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri

karena kegagalan menjalankan fungsi dan peran adalah kondisi harga diri rendah

situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau justru

menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan

individu mengalami harga diri rendah kronis.

6
Proses terjadinya harga diri rendah dapat juga dimulai dari akibat faktor

predisposisi yang diantaranya pengalaman kanak-kanak yang merupakan faktor

kontribusi pada gangguan konsep diri, arah yang tidak menerima kasih sayang,

individu yang kurang mengerti akan arti dan tujuan kehidupan akan gagal

menerima tanggung jawab untuk diri sendiri, penolakan orang tua, harapan realistis.

Selain faktor predisposisi, faktor presipitasi juga salah satu penyebab terjadinya

harga diri rendah yang diantaranya pola asuhan anak yang tidak cepat atau dituruti,

kesalahan dan kegagalan berulang kali, cita-cita yang tidak dapat dicapai gagal,

bertanggung jawab tehadap diri sendiri.

2.6 Mekanisme Koping Harga Diri Rendah

Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka panjang pendek atau

jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanann ego untuk melindungi

diri sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan. Pertaahanan

tersebut mencakup berikut ini :

a. Mekanisme koping jangka pendek yang terdiri dari :

 Aktivitas yang memberikan pelarian semestara dari krisis identitas diri

(misalnya, konser musik, bekerja keras, menonton tv secara obsesif).

 Aktivitas yang memberikan identitas pengganti semestara (misalnya, ikut

serta dalam klub sosial, agama, politik, kelompok, gerakan, atau geng).

 Aktivitas yang sementara menguatkan atau meningkatkan perasaan diri yang

tidak menentu (misalnya, olahraga yang kompetitif, prestasi akademik, kontes

untuk mendapatkan popularitas)

7
b. Mekanisme koping jangka panjang mencakup berikut ini :

 Penutupan identitas seperti, adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh

orang terdekat tanpa memerhatikan keinginan,aspirasi,atau potensi diri

individu

 Identitas negatif seperti, asumsi identitas yang tidak sesuai dengan nilai dan

harapan yang diterima masyarakat.

Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, isolasi,

proyeksi, pengalihan (displacement, berbalik marah terhadap diri sendiri dan

mengamuk).

2.7 Penatalaksanaa Harga Diri Rendah

1. Psikofarmako

a. Cloppromazine (CPZ)

Indikasi untuk sindrom psikologis yaitu berat dalam kemampuan menilai

realistis, kesadaran diri terganggu, waham, halusinasi, gangguan perasaan dan

perilaku aneh.Efek samping sedasi, gangguan otonomik dan endokrin

b. Haloperidol (HPL)

Indikasi : berdaya berat dalam kemampuan menilai realistis dalam fungsi

netral serta fungsi kehidupan sehari-hari. Efek samping : sedasi, gangguan

otonomik dan endokrin.

c. Trihexypheridyl (THP)

8
Indikasi : Segala jenis penyakit parkinson, termasuk pascaenchepalitis dan

idiopatik. Efek samping : hpersensitive terhadap trihexyphenidyl, psinosis

berat, psikoneurosis, dan obstruksi saluran cerna.

2. Psikoterapi

a. Terapi okupasi/ rehabilitasi

Terapi terarah bagi pasien, fisik maupun mental dengan menggunakan

aktivitas terpilih sebagai media.Aktivitas tersebut berupa kegiatan yang

direncanakan sesuai tujuan.

b. Terapi psikososial

Rencana pengobatan skizofrenia harus ditujukan pada kemampuan dan

kekurangan pasien. Selain itu sebagai strategi penurunan stress dan mengenal

masalah dan perlibatan kembali pasien ke dalam aktivitas.

c. Psikoterapi

Psikoterapi dapat membantu penderita adalah psikoterapi suportif dan

individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis.

3. Manipulasi lingkungan

a. Bersikap menerima psien dan negatifismenya.

b. Melibatkan pasien dalam aktivitas kelompok dan aktivitas di ruangan.

c. Memberi kesempatan pada pasien untuk mengerjakan tugas dan tanggung

jawabnya sendiri.Misalnya, menata tempat tidur, membersihkan alat makan,

dan minum obat.

9
d. Memberikan umpan balik positif untuk tugas-tugas yang dilakukan secara

mandiri.

2.8 Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah

 Asuhan keperawatan Tindakan Keperawatan Klien (Purwaningsih, W &

Karlina, I. 2015). Tindakan keperawatan kepada pasien yaitu:

a. Tujuan keperawatan

- Pasien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang

dimiliki.

- Pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

- Pasien dpat memilih kegiatan sesuai dengan kemampuan.

- Pasien dapat melatih kegiatan yang dipilih sesuai dengan

kemampuan.

- Pasien dapat melakukan kegiatan yang sudah dilatih sesuai jadwal.

b. Tindakan keperawatan

- Identifikasi kemampuan dan aspek postif yang masih dimiliki pasien.

Untuk membantu pasien, perawat dapat melakukan hal berikut,

yaitu:

1) Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan aspek positif yang

dimiliki pasien seperti kegiatan pasien di rumah sakit, rumah,

adanya keluarga dan lingkungan terdekat pasien.

2) Beri pujian yang realistic dan hindarkan penilaian yang

negative.

10
- Bantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan dengan

cara-cara berikut :

1) Diskusikan dengan pasien mengenai kemampuan yang masih

dapat digunakan saat ini.

2) Bantu pasien menyebutkannya dan beri penguatan terhadap

kemampuan siri yang diungkapkan pasien.

3) Perlihatkan respons yang kondusif dan upayakan menjadi

pendengar yang aktif.

- Membantu pasien untuk memilih/menetapkan kemampuan yang

akan dilatih. Tindakan kepewatan yang bisa digunakan yaitu :

1) Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pelaksanaan

kegiatan.

2) Bantu pasien untuk memilih kegiatan yang dapat pasien lakukan

dengan mandiri atau dengan bantuan minimal.

- Latih kemampuan yang dipilih pasien dengan cara berikut :

1) Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pelaksanaan

kegiatan.

2) Bersama pasien peragakan kegaitan yang telah ditetapkan.

3) Berikan dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang bisa

pasien lakukan.

- Bantu pasien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih

11
1) Beri kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang

telah dilatihkan.

2) Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap

hari.

3) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan

perubahan setiap kegiatan.

4) Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah

dilatih.

5) Berikan pasien kesempatan mengungkapkan perasaannya

setelah pelaksanaan kegiatan.

 Tindakan keperawatan kepada keluarga

a. Tujuan keperawatan

- Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemamuan yang

dimiliki pasien.

- Keluarga dapat memfasilitasu pelaksanaan kemampuan yang dimiliki

pasien.

- Keluarga dapat memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang

sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilannya.

- Keluarga mampu enilai perkembangan perubahan kemampuan pasien.

b. Tindakan keperawatan

- Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien.

12
- Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang dialami oleh

pasien.

- Diskusi dengan keluarga mengenai kemampuan yang dimiliki pasien

dan puji pasien atas kemampuannya.

- Jelaskan cara-cara merawat pasien harga diri rendah.

- Demostrasikan cara merawat pasien harga diri rendah.

- Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktikan cara merawat.

pasien harga diri rendahseperti yang perawat telah demostrasikan

sebelumnya.

- Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah.

 Askep NANDA, NIC, NOC

a. Analisis Data

No Data Masalah Etiologi


Keperawatan
.
1. DO :

 Klien sudah 2 tahun hanya berdiam Harga diri rendah Gangguan

diri didalam kamar. kronik. psikiatrik.

 Klien hanya diam dalam posisi

duduk meringkuk dan tidak ada

kontak mata.

 Klien mau berbicara dengan suara

pelan dan jawabannya singkat.

13
 Klien diam dengan wajah

ditundukan dan tangan memeluk

lutut.

DS :

 keluarga mengatakan sebelumnya

klien bekerja sebagai tukang

rongsok, namun sering ditagih oleh

pembeli karena tidak dapat

melunasi rongsong yang dibelinya,

hingga klien berhenti bekerja.

 keluarga mengatakan klien orang

yang pendiam, jarang ada

komunikasi,baik dengan istri

maupun anak anak dan tidak

pernah membantu pekerjaan

rumah.

 klien mengatakan saya bingung

mau ngomong apa, saya orang

bodoh.

2. DO :

 Klien tidak mau bertemu dengan Isolasi social. Perubahan

orang lain. status

14
 Klien hanya diam dalam posisi mental.

duduk meringkuk dan tidak ada

kontak mata.

DS :

 keluarga mengatakan klien orang

yang pendiam, jarang ada

komunikasi,baik dengan istri

maupun anak anak dan tidak

pernah membantu pekerjaan

rumah.

 klien mengatakan saya bingung

mau ngomong apa, saya orang

bodoh.
3. DO :

 Selama tiga hari dirumah sakit, Defisit perawatan Penurunan

klien belum pernah mandi, kulit diri : mandi. motivasi.

kusam, rambut acak acakan dan

badan bau.

b. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan Dan Kriteria


Intervensi (Nic)
Keperawatan Hasil (Noc)
Harga diri NOC: NIC:

15
rendah kronik Self-Esteem  NIC: Self-Esteem

b.d gangguan Setelah dilakukan asuhan Enhancement (5400)

psikiatrik keperawatan selama 3x24 jam, Domain 3 Kelas R Coping

diharapkan pasien menjadi lebih Assistance

baik dengan kriteria hasil: 1. Tentukan kepercayaan

Keterangan : diri pasien menurut


Indikator Awa Akhir
1. Sangat penilaian pasien.
l
1. Ungkapan 2 3 parah 2. Dukung pasien untuk
penerimaan 2 4 2. Parah mengidentifikasi
diri. 3. Sedang kekuatan diri.
2. Mempertaha 2 4 4. Ringan 3. Kuatkan kekuatan diri
nkan posisi 5. Normal yang ditemukan oleh
tegak. 2 4
pasien dalam dirinya.
3. Mempertaha 2 3
4. Dukung kontak mata
nkan kontak
saat komunikasi.
mata. 2 3
5. Damping pasien untuk
4. Komunikasi 2 4
mengidentifikasi
terbuka.
respon positif dari
5. Menjaga
orang lain.
penampilan
6. Cegah pasien untuk
dan
berpikiran negative.
kebersihan.
7. Buat pernyataan positif
6. Tingkat

percaya diri.

7. Menerima
16
kritik yang

konstruktif.
tentang pasien.

8. Monitor frekuensi dari

verbalisasi negative

tentang dirinya.

9.Fasilitasi lingkungan

dan aktivitas yang dapat

meningkatkan harga diri.

10. Dukung pasien untuk

mengevaluasi perilaku

pasien.

11. Cari tahu alasan

pasien.

Self-Esteem

Enhancement

 Tentukan

kepercayaan diri

pasien menurut

penilaian pasien.

 Dukung pasien

untuk

mengidentifikasi

kekuatan diri.

17
 Kuatkan kekuatan

diri yang ditemukan

oleh pasien dalam

dirinya.

 Dukung kontak

mata pasien saat

berkomunikasi

dengan orang lain.

 Damping pasien

untuk

mengidentifikasi.

respon positif dari

orang lain.

 Cegah pasien

untuk berpikiran

negative.

 Buat pernyataan

positif tentang pasien.

 Monitor frekuensi

dari verbalisasi

negatif tentang

dirinya.

18
 Fasilitasi lingkungan

dan aktivitas yang

dapat meningkatkan

harga diri.

 Dukung pasien untuk

mengevaluasi

perilaku pasien.

 Cari tahu alasan

pasien mengkritik

dirinya sendiri.

 Damping pasien

untuk memeriksa

kembali persepsi

negative tentang

dirinya mengkritik

dirinya sendiri.

12. Damping pasien untuk

memeriksa kembali

persepsi negative tentang

dirinya.

BAB III

19
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Harga diri rendah merupakan semua pemikiran, penilaian, keyakinan dan

kepercayaan individu terhadap dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan

orang lain. Harga diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil

pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri dengan orang terdekat dan

realitas dunia.

Penyebab harga diri rendah di bagi menjadi 2 yaitu faktor predisposisi dan

faktor presipitasi. Yang termasuk faktor predisposisi adalah perkembangan individu

dan ideal diri yang terganggu, sedangkan faktor presipitasinya adalah adanya

gangguan fisik dan mental serta pengalaman traumatik berulang. Asuhan

keperawatan pada kasus harga diri rendah menggunakan diagnosa harga diri rendah

kronik berhubungan dengan gangguan psikiatrik, isolasi sosial berhubungan dengan

perubahan status mental, dan defisit perawatan diri : mandi berhubungan dengan

penurunan motivasi.

3.2 saran

Dalam proses keperawatan hendaknya selalu menerapkan ilmu dan kiat

keperawatan sehingga pada saat menerapkan tindakan keperawatan secara

profesional dan hendaknya meningkatkan komunikasi terapeutik terhadap klien

sehingga asuhan keperawatan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

20
Prabowo,E.2014.Konsep Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta :Nuhamedika.

Sari,Kartika.2015.Panduan Lengkap Praktik Klinik Keperawatan Jiwa. Jakarta:

TransMedia.

Dermawan,D.R. 2014. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:

Salemba Medika

Muhith, A. 2015.Pendidikan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Purwanto, T. 2015.Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Purwaningsih, W & Karlina, I. 2015. Asuhan keperawatan jiwa. Jogjakarta: Nuha

Medika Press.

21

Anda mungkin juga menyukai