Anda di halaman 1dari 14

PROYEK INOVASI

MANAJEMEN DAN PENCEGAHAN CEDERA

KERACUNAN MAKANAN PADA BAYI 0-6 BULAN

Laporan Proposal

Dibuat untuk memenuhi tugas mata ajar

Manajemen dan Pencegahan Cedera pada

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Oleh

Anika Kartika 0906619176


Dian Debora 0906619200
Fatriani 0906619283
Iis Puspitasari 0906619333
Jufriyanto 0906619365
Lelep Nadadap 0906619371
Tuti Asrianti 0906619661

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kelompok panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kelompok dapat menyelesaikan proposal proyek
inovasi ini yang berjudul “Keracunan makanan pada bayi 0-6 bulan”

Penyusunan proposal ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat dalam
menyelesaikan mata ajar manajemen dan pencegahan cedera pada Fakultas Ilmu
Keperawatan program ekstensi Universitas Indonesia.

Proposal ini tersusun atas dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk
itu pada kesempatan ini kami kelompok mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Elfi Syahreni, selaku koordinator mata ajar manajemen dan pencegahan cedera.
2. Ibu Etty Rekawati, Ibu Imami Nurrachmawati, Bapak Masfuri, Ibu Allenidekania
selaku tim pengajar manajemen dan pencegahan cedera.
3. Rekan-rekan mahasiswa/i ekstensi sore 2009 yang telah membantu dan memberikan
support dalam penyusunan proposal ini.
Dengan keterbatasan yang ada, besar harapan rencana proyek inovasi ini dapat
memberikan sumbangan yang bermanfaat khususnya bagi pengembangan profesi
keperawatan.

Depok, April 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keracunan adalah masuknya zat racun ke dalam tubuh baik melalui saluran
pencernaan, saluran nafas, atau melalui kulit atau mukosa yang menimbulkan gejala
klinis. Formula bayi adalah pengganti ASI bagi bayi., yang pertama diproduksi secara
komersial pada tahun 1867 oleh Justus von Liebig. Perlunya menyediakan makanan yang
aman bagi semua bayi, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama Badan
Kesehatan Dunia (WHO) menyelenggarakan pertemuan membicarakan Enterobacter
sakazakii dan mikroorganisme dalam formula bayi bubuk (WHO, Jenewa, 2-5 Pebruari
2OO4). Dalam rangka revisi Rekomendasi Kode lnternational tentang Praktik Higienis
Makanan Bayi dan Anak. Sementara peneliti IPB mengenai adanya Enterobacter
sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup
menghebohkan masyarakat, hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula 13,5
persen mengandung bakteri berbahaya tersebut. Manusia dapat mengalami gejala
keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi
media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen
biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E.
sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium
botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella
agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella
Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan salmonella lainnya.

Para ahli menyimpulkan bahwa formula bayi bubuk yang terkontaminasi


Enterobacter sakazakii dan Salmonella menyebabkan infeksi dan penyakit pada bayi,
bahkan menyebabkan penyakit berat dengan gejala sisa yang serius atau bahkan
kematian. E.sakazakii dapat menyebabkan penyakit pada semua kelompok umur,
dilaporkan bahwa bayi kurang dari 1 tahun memiliki risiko khusus, risiko terbesar untuk
terinfeksi kuman tersebut adalah neonatus sampai usia 28 hari, terutama bayi pre-term
atau bayi berat lahir rendah dan bayi imunokompromais. Bayi dari ibu terinfeksi HIV
juga berisiko karena mereka lebih membutuhkan susu formula dan mereka lebih rentan
terhadap infeksi.

Rekomendasi kesehatan masyarakat global adalah bayi disusui eksklusif selama


enam bulan untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan yang optimal,
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, bayi perlu diberi makanan pelengkap yang aman
dengan kandungan nutrisi yang adekuat, sementara menyusui dilanjutkan sampai usia 2
tahun atau lebih. Bayi yang tidak menyusu membutuhkan pengganti ASI yang cocok,
formula bayi yang memenuhi standar. Informasi meliputi instruksi penyiapan dan akibat
kesehatan yang bisa terjadi akibat penyiapan dan penggunaan yang salah. Pedoman yang
dianjurkan adalah apabila penggantian ASI didapat dengan mudah, berkesinambungan,
dan aman, maka penggantian ASI dapat direkomendasikan, dan formula bayi bubuk
adalah salah satu pilihan. Bayi yang memerlukannya adalah bayi HIV yang
imunokompromais.
Kelompok merencanakan membuat laporan kegiatan tentang manajemen
pencegahan keracunan pada bayi 0 – 6 bulan, khususnya pada kejadian pre event yaitu
sebelum terjadinya kejadian.

B. Tujuan

Tujuan Umum

Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan para ibu hamil dan ibu- ibu menyusui
dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayinya

Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penyuluhan ini adalah
peningkatan pengetahuan dan pemahaman para peserta penyuluhan meliputi :

1) Definisi keracunan susu formula


2) Definisi ASI Eksklusif
3) Keuntungan menyusui ASI Eksklusif
4) Kerugian memberikan susu formula
5) Tatalaksana memberikan ASI Eksklusif
6) Peran tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pencegahan keracunan susu formula

C. Peserta penyuluhan

Penyuluhan ini diikuti oleh para ibu hamil, ibu- ibu yang akan menyusui bayinya
dan tenaga kesehatan atau bidan di Puskesmas Tebet Jakarta Selatan.

D. Waktu dan tempat seminar

Waktu penyuluhan akan dilaksanakan pada minggu pertama bulan Mei 2011 di
Puskesmas Tebet, Jalan. Prof.Dr.Soepomo No.54 Jakarta Selatan.

E. Materi penyuluhan

1) Definisi keracunan susu formula


2) Definisi ASI Eksklusif
3) Keuntungan menyusui ASI Eksklusif
4) Kerugian memberikan susu formula
5) Tatalaksana memberikan ASI Eksklusif
6) Peran tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pencegahan keracunan susu formula

F. Rencana biaya

- Proposal kegiatan/print dan fotocopy Rp 20.000,00


- Transport permohonan surat penyuluhan Rp 100.000,00
- Cetak leaflet 30 lembar/ poster Rp 60.000,00
- Snack peserta @ Rp5.000,00 x 20 orang Rp 100.000,00
- Laporan kegiatan/print dan penggandaan Rp 20.000,00 +

Jumlah Rp 300.000,00
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Definisi keracunan susu formula

Curigai keracunan pada anak sehat yang mendadak sakit dan tidak dapat
dijelaskan penyebabnya. Keracunan makanan adalah penyakit yang disebabkan oleh
karena mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan berbahaya/toksik atau yang
terkontaminasi. Kontaminasi bisa oleh bakteri, virus, parasit, jamur, toksin.

E. sakazakii adalah kuman jenis gram negatif dari family Enterobacteriaceae.


Organisma ini dikenal sebagai "yellow pigmented Enterobacter cloacae", spesies bakteri
yang ada di lingkungan sekitar dan usus manusia maupun hewan. Ditemukan pada
kejadian meningitis dan enteritis terutama pada bayi, kasus yang dilaporkan, 20% bayi
yang terjangkit mengalami kematian. Di antara penderita yang selamat, dapat terjadi
komplikasi berat yang menetap seperti gangguan neurologi. Habitat alami Enterobacter
sakazakii belum diketahui sepenuhnya. Bakteri ini dapat dideteksi pada usus manusia
sehat; kemungkinan sebagian besar adalah bersifat intermiten. Bakteri ini juga dapat
ditemukan pada usus hewan maupun di lingkungan sekitar.

Terjadinya kontaminasi bakteri dimulai ketika susu diperah dari puting sapi.
Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di
sekitarnya. Bakteri ini terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi
teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin
pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami
kontak dengan udara. Sampai saat ini belum ditemukan bayi menyusu eksklusif yang
terinfeksi Enterobacter sakazakii.

Pencemaran susu oleh mikroorganisme terjadi selama pemerahan (milking),


penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-
processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril, sehingga
bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan
pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat
menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam
temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam
lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri
untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di
dalam ruangan tertutup.

Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat
menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya
harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika
proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi
perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan
bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan
memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-
negara maju.

B. Definisi ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman
lain “ASI Eksklusif dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan pertama kehidupan bayi”
(Depkes RI, 2002).

ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI, tanpa diberi tambahan cairan lain,
seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, bahkan air putih sekalipun, selain tambahan
cairan, bayi juga tidak diberi makanan padat lain, seperti pisang, pepaya, bubur susu,
biskuit, bubur nasi, tim dan lain-lain (Roesli,U 2005).

C. Keuntungan menyusui ASI Eksklusif

Keuntungan menyusui ASI Eksklusif untuk bayi, ASI merupakan sumber gizi
yang tepat untuk kebutuhan bayi, mengandung semua nutrient untuk tumbuh kembang
optimum, mempunyai faktor kekebalan, perlindungan bayi terhadap alergi, selalu
tersedia, jumlah selalu cukup (demand and supply), meningkatkan kasih sayang dan
kedekatan antara ibu dan anak, memproteksi terjadinya kolik, meningkatkan kesehatan
ibu dengan meningkatkan antibodi ibu yang beredar, menyusui membuat ibu merasa
bahagia, bangga dan percaya diri karena dapat memberikan hal yang terbaik bagi
bayinya, mengurangi perdarahan setelah persalinan, mempercepat rahim/kandungan
menjadi kecil kembali, menyusui eksklusif menunda masa subur shg dapat digunakan
sebagai KB sementara, mengurangi terjadinya anemia, mempercepat pengembalian tubuh
karena produksi ASI membakar lemak yg terbentuk selama hamil.

ASI terdiri dari vitamin, minerals, trace elements, protein, lemak dan karbohidrat,
oligosaccharida yang dijumpai dalam ASI tetapi tak ada pada susu formula. ASI
mengandung 4.000 sel hidup per milliliter, sebagian besar merupakan lekosit, sebagai
imunisasi pasif melalui antibodi yang dibentuk ibunya, selama bayi mendapat ASl.,
membantu pertumbuhan otak dan sistem saraf dari asam amino, lemak, gula sederhana,
garam dan mineral.
The American Academy of Pediatrics menyampaikan bahwa pemberian ASI
secara eksklusif adalah nutrisi yang ideal dan mencukupi untuk mendukung pertumbuhan
optimal selama 6 bulan pertama setelah kelahiran. Bayi-bayi yang disapih sebelum usia
12 bulan jangan diberi susu sapi namun diberi formula bayi yang difortifikasi dengan zat
besi. Formula terdiri dari tiga pilihan: bubuk, cairan konsentrat dan siap minum. Bubuk
paling rnurah, sedang formula yang langsung dapat diminum paling mahal.

D. Kerugian memberikan susu formula

1) Bayi yang mendapat formula buang air besar (BAB) dua kali sehari dengan bentuk
mirip pasta berwarna kuning dan kental. Bayi itu mudah mengalami konstipasi.
2) Peningkatan penyakit gastrointestinal (muntah, diarrhea, kembung dan dehidrasi),
penyakit respirasi (pneumonia, asma), penyakit telinga (otitis media) dijumpai empat
kali lebih tinggi pada bayi yang mendapat formula, terjadinya karies gigi (nursing
bottle carries), resiko gangguan imunologi.
3) Kemungkinan lebih besar untuk mengalami kegemukan sewaktu masih kecil.
4) Peningkatan alergi mulai dari kemerahan pada kulit sampai asma.
5) Pencemaran/ resiko terkontaminasi, dalam tahap-tahap penyajian dapat tercemar oleh
kuman, di pabrik atau di rumah.
6) Tersedak, dalam pemberian susu memakai botol dot sangat mungkin terjadi, terutama
jika lubang yang ada pada dot sangat besar, sehingga air susu yang mengalir sangat
deras sedangkan bayi belum bisa menyesuaikannya.
7) Merepotkan, dengan ASI penyajiannya sangat praktis, kapan dan dimanapun bayi
menginginkan, ibu dengan mudah dapat memberikan dalam keadaan segar. Susu
formula penyajiannya cukup lama dan repot karena harus merebus air dulu,
menyeduh susu, membersihkan botol, dan seringkali susu sudah tidak segar lagi/basi
ketika disajikan.
8) Mahal, menambah biaya bulanan.
9) Penggunaan susu formula dapat menurunkan rasa keibuan dan mengurangi eratnya
hubungan ikatan batin antara ibu dan anak.
E. Tatalaksana memberikan ASI Eksklusif
1) Pemberian ASI pertama dimulai di ruang persalinan, karena merupakan :
saat terbaik bagi bayi untuk belajar menghisap pada usia 30 menit refleks isap
bayi sangat kuat. Isapan pertama merangsang produk oksitosin yang membantu
menghentikan perdarahan setelah persalinan. Bayi mendapatkan susu
jolong/kolostrum yang berharga. Menyusui segara setelah lahir membuat ibu
mencintai dan merawat bayinya.
2) Rawat gabung adalah suatu cara perawatan bayi baru lahir yang
ditempatkan dalam satu ruangan di samping ibunya atau tidur bersama ibunya.
Ibu dapat segera menyusui, menggendong dan membersihkan bayi.
3) Menyusui atas permintaan bayi (on demand), ibu memberikan ASI-nya
setiap bayi memintanya dan tidak berdasarkan jam.Jenjang waktu menyusui pada
bayi biasanya 2-3 jam sekali atau 8-10 kali/hari. Dan pola ini tidak akan
menimbulkan masalah seperti terjadinya bendungan dan sebagainya.

F. Pencegahan keracunan susu formula


Sejak FAO dan WHO pertama kali menyadari adanya masalah ini, kedua
organisasi ini, bekerja sama mengumpulkan data dan bukti-bukti yang dapat digunakan
untuk bergerak maju. Pertemuan ahli Februari 2OO4 di Jenewa, mempelajari dan
menguji metode produksi, faktor risiko, angka kejadian dan sebagainya.
Besarnya masalah biasanya digambarkan dalam bentuk frekuensi dan beratnya
penyakit. Frekuensi penyakit ini pada bayi masih sangat rendah walaupun
penyakit ini bisa sangat merusak. Review kasus-kasus pada bayi yang dilaporkan di
literatur lnggris sejak tahun 1961sampai 2003 menemukan 48 kasus Enterobacter
sakazakii menginduksi penyakit pada bayi. Survey makanan tahun 2OO2
(USFoodNet2OO2) menemukan bahwa invasi E sakazakii di antara bayi di bawah 1
tahun adalah 100.000. Angka mortalitas infeksi Enterobacter sakazakii telah dilaporkan
sebesar 20%-50%. Efek jangka panjang yang signifikan berupa defisiensi neurologis
dapat terjadi, terutama pada penderita meningitis dan cerebritis. Dari berbagai penelitian
dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health
Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa
negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk
komersial yang steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai
produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian
perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian
susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi.
Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya.

Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi adalah
1) Cara penyajian yang baik dan benar, hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya
untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula
terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan waktu antara kontak susu dengan
udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak
lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut akan meningkatkan resiko
pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut.
2) Sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan
orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan
pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.
3) Pada situasi dimana bayi tidak menyusu, pengasuh yang merawat bayi risiko tinggi,
sebaiknya diingatkan secara berkala bahwa formula bubuk sebenarnya bukan produk
steril, dan sewaktu-waktu dapat terkontaminasi oleh patogen yang dapat
menyebabkan penyakit serius. Para pengasuh juga perlu mendapat informasi tindakan
yang dapat mengurangi risiko.
4) Pada situasi dimana bayi tidak menyusu, pengasuh bayi dengan risiko tinggi perlu
didorong bila mungkin dan mudah menggunakan formula cair steril.
5) lndustri makanan bayi sebaiknya didorong untuk mengembangkan lebih banyak
produk komersial formula steril alternatif untuk kelompok risiko tinggi.
6) lndustri makanan bayi sebaiknya didorong mengurangi konsentrasi dan prevalensi E.
Sakazakii baik di lingkungan pabrik maupun pada formula bayi bubuk. lndustri
makanan bayi perlu mempertimbangkan pemberlakuan program monitor lingkungan
yang efektif dan menggunakan Enterobacteriaceae bukan coliform sebagai indikator
higiene produk.
7) Dalam penerapan Code, Codex perlu menyatakan risiko adanya kuman di dalam
formula bayi, bahkan bila perlu menuliskan spesifikasi E. Sakazakii.
8) FAO/WHO sebaiknya memperhatikan kebutuhan tertentu negara berkembang
bagaimana mengurangi risiko pada keadaan dimana pengganti susu ibu perlu
diberikan seperti pada keadaan bayi dari ibu HIV ataupun bayi berat lahir rendah.
9) Penggunaan metode deteksi molekuler yang valid terhadap E. Sakazakii dan
mikroorganisme lain perlu didukung
10) Penelitian perlu dikembangkan untuk lebih memahami ekologi, taksonorni,virulensi
dan berbagai karakteristik lain dari E. Sakazakii dan cara untuk mengurangi
jumlahnya pada saat penyajian formula bayi.
G. Peran tenaga kesehatan

Apakah pernahkah kita membayangkan pada suatu hari penjara-penjara yang ada
di negara kita tidak saja dipenuhi oleh penjahat-penjahat kelas kakap, tetapi dipenuhi juga
oleh tenaga-tenaga kesehatan seperti dokter umum, dokter anak, dokter kebidanan, bidan,
perawat, dan lain sebagainya. September 2009 , pemerintah Indonesia mengesahkan
Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, yaitu pasal 200 tertulis: Setiap
orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2), dipidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Setelah 1 tahun
sosialisasi, pada September 2010 Undang-Undang ini akan mulai diberlakukan. Jika kita
sebagai tenaga kesehatan tidak mewaspadai akan hal ini, tidak mustahil "reuni" tenaga
kesehatan yang dimaksud di atas terjadi bukan di hotel mewah, tetapi di lembaga
pemasyarakatan (LP).

Menurut Indonesia Demographic and Health Survey 2007, cakupan ASI eksklusif
negara Indonesia hanya mencapai 32%. Turun 8% jika dibandingkan dengan survei yang
sama tahun 2002 -2003, penyebabnya adalah multifaktorial. Mengapa kita tidak
mencontoh mamalia lain misalnya kucing. Setelah anak-anak kucing lahir, pertama kali
yang disodorkan oleh ibu kucing adalah payudara. Ia membiarkan anak-anaknya
menyusu sampai puas tanpa rasa khawatir ada yang akan memberikan makanan lain
selain air susunya yang mengalir deras. Gambaran tentang keluarga kucing yang
berbahagia ini secara tidak langsung mencerminkan suatu ungkapan rasa syukur.

Apakah kita tenaga kesehatan sudah membantu ibu-ibu di Indonesia agar dapat
menjadi malaikat bagi anaknya, untuk menyusui? Peran adalah serangkaian perilaku yang
diharapkan sesuai dengan posisi social yang diharapkan. Sehingga peran tenaga
kesehatan dalam mendukung kegiatan menyusui untuk terhindar dari kuman E.sakazakii
adalah :

1) Melatih ketrampilan, mendukung, membantu dan menerapkan inisiasi


menyusu dini – ASI Eksklusif.
2) Memberi informasi manfaat menyusui.
3) Meningkatkan rasa percaya diri ibu
4) Melarang promosi susu buatan/susu formula di pelayanan keehatan termasuk
puskesmas dan posyandu.
5) Mendukung kegiatan menyusui ASI Eksklusif 6 bulan.
6) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan sehingga terampil dalam
melaksanakan penyuluhan tentang ASI.
7) Memberikan ketrampilan dan informasi tentang penyimpanan ASI perah
kepada ibu yang akan memerah ASI nya karena kembali bekerja

Target MDG4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3
dalam kurun waktu 1990 - 2015. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare
dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. Pemberian
ASI secara eklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping
pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah
satu intervensi efektif dapat menurunkan AKB.

.
DAFTAR PUSTAKA

Wong, D.L. et. All. (2000). Nursing care of the general pediatric surgical patient.
Maryland: Aspen Publication.
WHO. (2009). Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit.
Lai KK. Enterobacter sakazakii infections among neonates, infants, children, and
adults. Medicine 2001;80:113-22.
Asosiasi IBCLC. (2009). Pelatihan Ilmu laktasi dan manajemen menyusui.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21189/5/Chapter%20I.pdf

http://supportbreastfeeding.wordpress.com/2010/01/26/uu-kesehatan-melindungi-hak-
bayi-mendapatkan-asi-3/