Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN AKHIR

BAB VII. RENCANA STRUKTUR RUANG KOTA

A. RENCANA PENGEMBANGAN STRUKTUR RUANG PERKOTAAN

1. Kriteria Sistem Perkotaan

a) Rencana Pusat-Pusat Kegiatan

Dalam rumusan pusat-pusat kegiatan, secara umum dapat dikategorikan dalam pembagian pusat kegiatan
pemerintahan, ekonomi, social dan budaya berada di kawasan perkotaan. Secara umum pula Makassar`telah
mampu menjadi kota yang mandiri, hal ini di dukung oleh wilayah kota yang cukup strategis, memiliki ragam pulau
yang eksotik dan keunikan-keunikan local lainnya. Selain itu peningkatan dari aspek ekonomi maupun social
budaya cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil APBD setiap tahunnya.

Rencana pusat-pusat kegiatan di kota Makassar didesain dan terstrukutur dalam pembagian kawasan terpadu,
kawasan khusus dan kawasan prioritas. Pusat-pusat kegiatan tersebut tersebar di beberapa kawasan yang
tentunya memiliki derajat aksesbilitas dan interkonektifitas yang besar, serta pelayanan prasarana wilayah yang
memadai sehingga melahirkan Makassar sebagai wujud ruang kota yang indah, sinergis dan simbiosis mutualism
antar ruang-ruang kota di dalamnya.

Berdasarkan PP No 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional sistem perkotaan ditentukan sebagai berikut:

 Pusat Kegiatan Nasional (PKN) berupa kawasan perkotaan dengan skup pelayanan nasional atau beberapa
provinsi yang fungsi kota dan prasarana wilayahnya strategis. RTRWN menempatkan PKN di Kota Makassar

 Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) berupa Kawasan perkotaan dengan skup pelayanan provinsi atau beberapa
kabupaten dan atau kota dengan fungsi dan prasarana wilayah strategisnya. Wilayah ini berada di wilayah Kota
Makassar.

 Pusat Kegiatan Lokal (PKL) merupakan pusat-pusat kegiatan skala Kecamatan, sebagai pusat administrasi, pusat
kegiatan perdagangan, bisnis, industri dan jasa, serta simpul transportasi yang melayani skala kecamatan.

b) Kriteria PKN dan PKL

1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN)

PKN minimal memenuhi fungsinya sebagai: (i) pusat jasa pelayanan keuangan/perbankan yang cakupan
pelayanannya berskala nasional atau beberapa provinsi; (ii) pusat pengolahan/ pengumpul barang secara
nasional/ beberapa provinsi, (iii) simpul transportasi skup pelayanan nasional/ beberapa provinsi; (iv) jasa
pemerintahan nasional/ beberapa provinsi; (v) jasa publik lainnya yang skup pelayanannya nasional/
beberapa provinsi; (vi) berdaya dorong pertumbuhan wilayah sekitarnya; (vii) potensiil menjadi pintu gerbang
internasional.

VII - 1
Ketersediaan minimal fasilitas umum:
Perhubungan : Pelabuhan laut (utama) dan atau terminal Tipe A.
Ekonomi : Pasar induk antar wilayah, perbankan skup Nasional dan internasional.
Kesehatan : Rumah sakit umum tipe A.
Pendidikan : Perguruan tinggi.
2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

PKL minimal berfungsi sebagai: (i) pusat pengolahan/pengumpulan barang yang melayani beberapa
kecamatan dalam satu kota ; (ii) simpul transportasi yang melayani kota dan beberapa kecamatan
kota/kabupaten tetangga; (iii) jasa pemerintahan kabupaten/kota; serta (iv) pusat pelayanan publik lainnya
untuk kota dan beberapa kabupaten tetangga.

Fasilitas minimal yang harus tersedia di PKL:


Perhubungan : Terminal bis tipe C.
Ekonomi : Pasar Induk kabupaten/kota, perbankan skup kabupaten/kota.
Kesehatan : Rumah Sakit umum tipe C.
Pendidikan : SLTA

Selanjutnya SISTEM STRUKTUR RUANG Kota Makassar disusun terutama berdasarkan Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional, Sistem Transportasi Nasional, Sistem Struktur Pulau Sulawesi, RTRWP Provinsi Sulawesi
Selatan, dan Sistem Perkotaan Kota Makassar. Untuk lebih jelasnya, lihat peta berikut:

Gambar 7-1 Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota Makassar 2010-2030

VII - 2
Mengacu pada peta rencana pola ruang wilayah di atas, bahwa rencana kawasan perkotaan di Makasaar di
konsentrasikan di beberapa kecamatan seperti kecamatan Makassar, Mariso, Ujung Pandang, Wajo, Bontoala.
Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan kawasan yang dianggap cukup potensial dan strategis. Strategis tidak
hanya menghubungkan antar wilayah kecamatan, kabupaten tetapi juga strategis dalam skala provinsional, nasional
dan bahkan skala internasional. Dengan background tersebut sehingga kawasan tersebut dijadikan sebagai kawasan
pusat kota, dimana kegiatan utama kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial serta kegiatan ekonomi.

2. Rencana Kerangka Kota Makassar

Rencana Struktur Ruang Kota Makassar berguna untuk menciptakan pembangunan fisik kota dan pemanfaatan ruang
kota Makassar yang berkelanjutan. Oleh karena itu, suatu Rencana Struktur Ruang Kota yang secara komprehensif
mempertimbangkan seluruh aspek perencanaan kota sehingga terwujud sesuai dengan Visi dan Misi Kota Makassar.

Rencana Struktur Ruang Kota Makassar digunakan sebagai pedoman untuk:

 Perumusan kebijakan pokok pemanfaatan ruang


 Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar kawasan terpadu dan khusus serta
keserasian antar sektor pembangunan
 Pelestarian dan Pengendalian terhadap kawasan lindung

Ruang-ruang struktural merupakan ruang dengan fungsi-fungsi utama kota yang memiliki fungsi, peranan dan pengaruh
yang sangat besar/vital, baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya, maupun alam/lingkungan.

Ruang-Ruang Struktural di Kota Makassar meliputi:

 Rencana PERSEBARAN dan KEPADATAN PENDUDUK;


 Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Hijau;
 Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Permukiman;
 Rencana PENGEMBANGAN Bangunan Umum;
 Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Industri;
 Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Pergudangan;
 Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Pedagang Kaki Lima;
 Rencana PENGEMBANGAN Prasarana Wilayah;
 Rencana INTENSITAS RUANG;
 Rencana PENGEMBANGAN Sistem Prasarana Wilayah;
 Rencana PENYEDIAAN Fasilitas Umum dan Sosial;
 Rencana PENGELOLAAN Air Bersih;
 Rencana PENGELOLAAN Air Limbah;
 Rencana PENGELOLAAN Persampahan;
 Rencana PENGEMBANGAN Listrik;
 Rencana PENGEMBANGAN Jaringan Telepon;
 Rencana PENGEMBANGAN Centerpoint Of Indonesia (COI);
 Rencana PENGEMBANGAN Kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP).

Dalam Rencana Struktur Ruang Kota, yang menjadi Kerangka Kota – Urban Struktur adalah jalan-jalan utama kota yang
menjadi jalan primer kota serta alur sungai utama yang penting.

VII - 3
Jaringan Jalan Utama Kota meliputi:

1) Jalan Lingkar Luar Barat – Utara Outer Ring Road, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan
eksisting, terletak menyusuri sisi pantai kota Makassar dengan kelas jalan arteri primer, lebar ROW = 50 m.
Di sisi barat dimulai dari kawasan Barombong, melalui kawasan Tanjung Bunga, Center Point of Indonesia,
Pantai Losari, Pelabuhan Sukarno – Hatta, kemudian ke sisi Utara melewati Kawasan Ujung Tanah, dan
menerus ke Jl. Tol Sutami sampai ke Maros. Jalan ini juga membuka koridor ke arah selatan yaitu wilayah
Gowa/Takalar;

2) Jalan Lingkar Luar Utara Outer Ring Road, direncanakan terletak di sepanjang pesisir pantai utara Kota
Makassar dengan kelas jalan arteri primer, lebar ROW = 50 m. Selain berfungsi untuk membagi beban Jalan
Lingkar Luar Barat – Utara Outer Ring Road yang ada sekarang, juga membuka koridor baru menuju Kabupaten
Maros melalui sisi paling utara kota Makassar;

Merangkai kawasan mulai dari Pelabuhan Laut Sukarno-Hatta, menyeberangi area muara Sungai Tallo, melalui
kawasan pantai kecamatan Tamalanrea, area Untia, sampai ke wilayah Kabupaten Maros;

3) Jalan Lingkar Kawasan Utara Sungai Tallo, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan
eksisting dan pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 – 50 m.
Merangkai kawasan Tamalanrea dan kawasan Biringkanaya, jalur ini menyusuri sisi utara Sungai Tallo dan
perbatasan timur sampai utara Makassar dengan Kabupaten Maros. Di segmen utara jalan ini terdapat 3 koridor
baru ke wilayah Kabupaten Maros;

4) Jalan Lingkar Luar Timur Outer Ring Road (Jalan Rencana Utama Mamminasata), direncanakan terletak
menembus sisi timur kota dengan kelas jalan arteri primer, lebar ROW = 50 m.
Merangkai kawasan mulai dari Kabupaten Gowa (jalan poros Gowa – Takalar), melewati wilayah kecamatan
Manggala (di sisi Timur Perumnas Antang), melalui wilayah Kab. Maros dan menembus Kecamatan Tamalanrea
(di sisi Timur Perumahan Bumi Tamalanrea Permai), kemudian berbelok ke arah barat dan bertemu dengan Jl.
Perintis Kemerdekaan (Perempatan Terminal Daya);

5) Jalan Lingkar Dalam (Jalan Rencana Mamminasata), direncanakan


melewati bagian tengah kota, melingkupi area antara sungai Tallo
dan Jene’berang, dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW =
30 m. Dimulai dari perempatan Tamalate menuju daerah Antang
(Regulation Pond), kemudian menerus ke utara dan bercabang di
wilayah Panakukkang, satu jalan mengarah ke barat melewati
kawasan Lakkang dan bertemu dengan Jl. Tol Reformasi, satu jalan
lainnya mengarah ke utara dan bertemu dengan Jl. Tol Sutami;

6) Jalan Poros Tengah Utara – Selatan, direncanakan menggunakan


dan meningkatkan kualitas jalan eksisting dan pembukaan jalan baru
dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 – 50 m.
Menghubungkan kawasan selatan kota (wilayah Tamalate) sampai
dengan wilayah utara kota (wilayah Ujung Tanah). Melalui Jl. A.P.
Pettarani dan Jl. Tol Reformasi;

7) Jalan Poros Utara – Selatan Pusat Kota bagian Timur, direncanakan


menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisiting dengan
kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.

VII - 4
Menghubungkan kawasan Ujung Tanah di utara kota, kawasan Bontoala, kecamatan Makassar sampai dengan
kawasan Pa’baeng-baeng. Melalui Jl. Veteran Selatan, Jl. Veteran Utara, Jl. Bandang, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Yos
Sudarso, dan bertemu dengan Jl. Tol Reformasi;

8) Jalan Poros Utara – Selatan Pusat Kota bagian Barat, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas
jalan eksisting dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.
Menghubungkan kawasan pusat kota (Karebosi) ke selatan sampai dengan kawasan batas kota Makassar –
Gowa. Melalui Jl. Jend. Sudirman, Jl. Sam Ratulangi, bertemu dengan Jl. Veteran Selatan dan berbelok ke arah
tenggara melalui Jl. Sultan Alauddin sampai dengan batas kota di wilayah Tamalate;

9) Jalan Poros Tengah Timur – Barat, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting
dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 – 50 m. Gambar 7-1 Salah satu sudut Jl. Jend. Sudirman

Menghubungkan batas kota Makassar – Maros (kawasan Biringkanaya), kawasan Tamalanrea, kawasan
Panakkukang sampai dengan kawasan pusat kota (Lapangan Karebosi). Melalui Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl.
Urip Sumoharjo, Jl. G. Bawakaraeng;

10) Jalan Poros Timur – Barat Pusat Kota, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting
dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.

Menghubungkan kawasan Fort Rotterdam dengan kawasan Masjid Raya dan masjid Al Markaz Al Islami. Melalui
Jl. Riburane, Jl. A. Yani, Jl. Bulusaraung, Jl. Masjid Raya, dan bertemu dengan Jl. Urip Sumoharjo – Jl. G.
Bawakaraeng;

11) Jalan Poros Timur – Barat Rappocini – Manggala, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan
eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Terletak di sisi
Timur dari Jl. A.P. Pettarani (Poros Tengah Utara – Selatan), menghubungkan kawasan Pettarani dengan sisi
Timur kompleks Perumnas Antang, direncanakan bertemu dengan Jalan Lingkar Dalam dan Jalan Lingkar Luar
Timur (Outer Ring Road). Segmen antara kedua jalan Lingkar ini merupakan Jalan rencana Utama
Mamminasata;

12) Jalan Poros Timur – Barat Tallo – Panakkukang (jalan rencana utama Mamminasata), direncanakan
menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor
primer, lebar ROW = 30 m. Terletak di sisi Timur dari Jl. Tol Reformasi (Poros Tengah Utara – Selatan),
menghubungkan kawasan Barawaja dengan Kecamatan Panakkukang, melalui kawasan Lakkang, terhubung
dengan jalan Lingkar Dalam Utara Selatan;

13) Jalan Poros Timur – Barat Pesisir Sungai Tallo, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan
eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Terletak di sisi
Selatan Sungai Tallo, menghubungkan kawasan muara Sungai Tallo dan menyusuri sisi selatan koridor sungai
sampai pertemuan dengan Jalan Lingkar Luar Timur Outer Ring Road;

14) Jalan Poros Timur – Barat Muara Tallo – Tamalanrea, direncanakan menghubungkan kawasan Pusat Bahan
Bakar dan Energi di Muara Sungai Tallo dengan kawasan di sisi timur kompleks BTP, menjadi koridor baru
Makassar – Maros, kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m;

15) Jalan Poros Timur – Barat Kawasan Industri Makassar – Tamalanrea, direncanakan menghubungkan Jalan
Lingkar Luar Pantai Utara sampai dengan wilayah timur kota (kawasan sisi timur kompleks BTP), kelas jalan
kolektor primer, lebar ROW = 30 m;

16) Jalan Poros utara – selatan Pusat Kota – Batara Bira, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas
jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.
Menghubungkan area Karuwisi dengan area Batara Bira melalui area Barawaja, Lakkang, Tamalanrea dan
berakhir di pertemuan dengan Jl. Sutami – Batara Bira;

VII - 5
17) Jalan Lingkar Tanjung Bunga – Jene’berang, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan
eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.

Menghubungkan lingkar kawasan Tanjung Bunga dan Tanah Tumbuh serta menyusuri sisi utara koridor Danau
Tanjung Bunga (ex Sungai balang Beru) sampai dengan batas kota Makassar – Sungguminasa di area
Tamalate;

18) Jalur Lingkar Delta Sungai Jene’berang, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting
serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.

Menghubungkan sisi Selatan koridor Danau Tanjung Bunga (ex Sungai Balang Beru) dengan lingkar kawasan
delta dan menyusuri sisi utara koridor sungai Jene’berang dan bersambung dengan Jalan Lingkar Tanjung
Bunga – Jene’berang menuju batas kota Makassar – Sungguminasa di area Tamalate;

19) Jalur Lingkar Kawasan Selatan Sungai Jene’berang, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas
jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.

Jalur ini menyusuri sisi selatan koridor sungai Jene’berang serta melingkupi wilayah Barombong dan sekitarnya.

Jaringan Alur Sungai Utama meliputi:

Jalur sungai utama yang merupakan saluran drainase primer kota menjadi bagian dari kerangka Kota Makassar,
antara lain:

1) Di bagian Selatan Kota, yang bermuara di Pantai Barat Makassar adalah Sungai Jeneberang;

2) Dibagian Timur Kota, yang bermuara di Pantai Utara Makassar adalah Sungai Tallo.

B. RENCANA RUANG-RUANG STRUKTURAL KOTA MAKASSAR

Rencana Struktur Ruang Kota Makassar berguna untuk menciptakan pembangunan fisik kota dan pemanfaatan ruang
kota Makassar yang berkelanjutan. Oleh karena itu, suatu Rencana Struktur Ruang Kota yang secara komprehensif
mempertimbangkan seluruh aspek perencanaan kota sehingga terwujud sesuai dengan Visi dan Misi Kota Makassar.

1. RENCANA PERSEBARAN DAN KEPADATAN PENDUDUK

Rencana persebaran penduduk dalam distribusi dan tingkat kepadatannya dimaksud untuk mengetahui:

a. Tingkat kepadatan maksimum dan perkembangan penduduk pada satu kawasan;


b. Trend pertumbuhan dan perkembangan distribusi penduduk di masing-masing kawasan;
c. Komposisi ruang maksimal dari luas lahan terbangun dan kosong;
d. Tingkat intensitas ruang yang dibutuhkan;
e. Rencana tindak penanganan pengendalian pemanfaatan ruang.

Berikut ini, rencana tingkat kepadatan dan distribusi penduduk maksimal di Kota Makassar, yang didalamnya
berisi mengenai tingkat kepadatan rencana, distribusi penduduk maksimal, dan hubungannya terhadap tingkat
ketersediaan lahan terpakai dan kosong di Kota Makassar.

VII - 6
Tabel 7-1 Tingkat Kepadatan dan Distribusi Penduduk Maksimal Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Dari uraian tabel 7-1 di atas, menunjukkan bahwa dari masing-masing kawasan terpadu telah ditentukan nilai
tingkat kepadatan rencananya, yang diukur dari estimasi jumlah orang dalam kawasan dengan jumlah luas lahan
yang tersedia.

Sementara nilai distribusi penduduk maksimal diperoleh dari nilai perkalian dengan malakukan perkalian antara
tingkat kepadatan rencana dengan luas lahan masing-masing kawasan terpadu. Dari hasilnya menunjukkan
bahwa untuk kawasan permukiman terpadu dan pendidikan tinggi terpadu secara signifikan akan tumbuh
menjadi daerah tujuan utama pergerakan orang dalam kawasan beberapa tahun kedepan.

Tabel 7-2 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk maksimal, dan distribusi penduduk Tahun 2008

Sumber: Hasil Analisis Tim

Untuk tahun 2008 distribusi penduduk maksimal dapat dilihat dalam tabel 7-2 di atas, menunjukkan bahwa
secara rata-rata konsentrasi penduduk akan berpusat pada kantong-kantong penduduk yang dalam wilayah
Makassar merupakan daerah perkotaan dan menjadi pusat kegiatan perkotaan berada.

Tabel 7-3 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2015

Sumber: Hasil Analisis Tim

VII - 7
Dari estimasi perencanaan pemanfaatan lahan di tahun 2015 diprediksikan bahwa jumlah penduduk kota
Makassar ditahun tersebut sudah akan mencapai 1.344.088,92 jiwa, dengan tingkat pemakaian lahan akan
meningkat secara signifikan, yakni seluas 5.967,70 Ha dengan persentase sekitar 6,73%. Peningkatan luas
lahan terpakai secara otomatis menjadikan luas lahan kosong di Kota Makassar semakin kecil, sehingga pada
tahun 2015 diprediksikan akan menyusut sebesar 37,0% atau sama dengan 401,52 Ha. Penyusutan lahan ini
terkonversi menjadi lahan terpakai dengan berbagai ragam pemanfaatan lahan.

Pada tahun yang sama untuk kawasan industri, maritim, pergudangan, olahraga terpadu diprediksikan luas lahan
kosong SUDAH TIDAK ADA lagi. Hal ini menunjukkan bahwa KEBIJAKAN BARU bagi pembangunan industri
BERTINGKAT dan pembangunan secara vertikal sudah perlu dipikirkan sebagai salah satu solusi dalam
mengantisipasi luas lahan industri yang semakin sempit.

Tabel 7-4 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2020

Sumber: Hasil Analisis


Tim

Berdasarkan data tabel 7-4 di atas, menunjukkan bahwa untuk luas lahan terpakai pada tahun 2020 akan
meningkat lebih dari 4,85 persen atau sama dengan 303,50 Ha. Tingkat pertumbuhan ini salah satunya dipicu
oleh tingkat pertambahan jumlah penduduk yang pada tahun tersebut juga meningkat diatas 4,8 persen.

Beberapa catatan penting yang perlu dipertimbangkan bahwa pada tahun 2020 luas lahan kasong pada berbagai
kawasan terpadu menunjukkan trend yang yang semakin berkurang dari luas lahannya. Kawasan Pelabuhan,
maritim, budaya, olahraga, Industri bisnis dan pariwisata terpadu merupakan kelompok kawasan terpadu yang
luas lahan kosongnya diprediksikan sudah mencapai titik minimum.

Tabel 7-5 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2025

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan tabel 7-5 di atas menunjukkan bahwa estimasi distribusi penduduk tahun 2025 akan mencapai
1.484.710,38 jiwa. Peningkatan ini dipicu oleh penggunaan lahan yang terpakai semakin meningkat cukup
signifikan, yakni seluas 6592,05 Ha. Peningkatan ini juga jika dipersentasekan mencapai 4,85% atau sekitar
319,94 Ha dari lima tahun sebelumnya.

VII - 8
Pada tahun yang sama lahan kosong untuk kawasan industri, budaya, olahraga, bisnis dan pariwisata,
pergudangan dan kawasan riset terpadu cukup minim dan tidak terdapat lahan kosong. Hal ini perlu disikapi
sejak dini dalam penanganan dan pemberian kebijakan dalam hal pengembangan kawasan. Pada kawasan-
kawasan tersebut dapat dilakukan pembangunan secara vertikal untuk mengefisien lahan yang semakin minim
dalam periodenya.

Tabel 7-6 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2030

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan tabel 7-6 di atas menunjukkan bahwa peningkatan jumlah distribusi penduduk tahun 2030
diprediksikan mencapai 1.560.445,51 jiwa/org. Peningkatan ini disebabkan oleh penggunaan lahan yang selalu
meningkat tiap periodenya. Hampir disetiap kawasan mengalami peningkatan dalam penggunaan lahan,
sehingga mengakibatkan penyusutan lahan kosong/lahan tidak terbangun. Secara rata-rata akibat penyusustan
tersebut diestimasikan tahun 2030 tidak terdapat lagi lahan kosong.

Jika dilihat secara rinci tiap kawasan hanya kawasan pusat kota, pemukiman, pelabuhan dan bandara terpadu
yang masih memiliki lahan kosong. Namun, tidak menuntut kemungkiman lahan ini juga masih terdapat lahan
kosong. Hali ini perlu antisipasi sejak dini untuk menyikapi peningkatan distribusi penduduk yang selalu
meningkat cukup signifikan setiap periodenya.

2. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN HIJAU

Kawasan hijau adalah ruang terbuka hijau yang terdiri dari kawasan hijau lindung dan hijau binaan. Ruang
Terbuka Hijau yang selanjutnya disebut RTH adalah Kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh
tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana kota/lingkungan, dan atau
pengaman jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian.

Dalam kepentingan perencanaan pengembangan kawasan hijau di Kota Makassar di bagi dalam kawasan hijau
lindung dan binaan. Kawasan Hijau Lindung adalah Bagian dari kawasan hijau yang memiliki karakteristik
alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan perlindungan
wilayah yang lebih luas. Sementara Kawasan Hijau Binaan adalah bagian dari kawasan hijau di luar kawasan
hijau lindung untuk tujuan penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun
pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya yang diperlukan baik untuk sarana ekologis
maupun sarana sosial kota yang dapat didukung fasilitas sesuai keperluan untuk fungsi penghijauan tersebut.

VII - 9
Tabel 7-7 Rencana Tingkat Prosentase Hijau Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan tabel 7-7 di atas menunjukkan bahwa sumbangsih dalam penggunaan RTH terbesar dari setiap
kawasan adalah kawasan pemukiman terpadu. Kawasan RTH ini seluas 378,21 Ha. Pengembangan kawasan
hijau lindung dilakukan melalui pembinaan kawasan sesuai dengan fungsinya, meliputi: kawasan pesisir PANTAI
UTARA MAKASSAR sebagai kawasan HUTAN BAKAU dan KAWASAN HILIR SUNGAI TALLO sebagai kawasan
HUTAN BAKAU dan AREA PEMBIBITAN MANGROVE. Selain itu bagian barat (hilir) Sungai JENEBERANG
sebagai kawasan HIJAU LINDUNG.

Pengembangan Kawasan hijau binaan dapat dilakukan dengan upaya:

Memanfaatkan peran dan fungsi dari lahan tak terbangun dengan luas area sekitar 8703,67 Ha. Kawasan
tersebut meliputi, area/ fasilitas umum seperti kuburan, taman, lahan kosong, rawa, danau/ kanal, tambak,
koridor jalan, semak dan fasilita umum lainnya);
Memberdayakan TAMAN MANGROVE sebagai unsur ekowisata;
Perlindungan dan pemanfaatan pulau LAKKANG sebagai kawasan hijau terbuka dan kawasan lindung,
dengan luas area tersebut 487,02 Ha dengan sumbangsih ruang terbuka hijau sebesar 55% atau seluas
50,33 Ha;

Pemanfaatan kawasan area SUTET sebagai kawasan RTH, dimana SUTET tersebut merupakan medan
elektromagnetik yang dapat membawa pengaruh negatif terhadap kesehatan organ tubuh manusia. Sehingga
pada kawasan tersebut relatif jarang dijadikan sebagai tempat pemukiman;

Pengendalian dan pemanfaatan HUTAN HIJAU KOTA dan TAMAN MANGROVE sebagai GREEN OVER
SPACE yang merupakan daerah pengembangan kawasan CENTERPOINT OF INDONESIA, dengan angka
sumbangsi sebesar 47 %;

Perlindungan dan pemanfaatan hutan kota, seperti kawasan UNHAS, daerah sekitar kantor Gubernur.

 RTH berbentuk areal dengan fungsi sebagai fasilitas


umum;

 RTH berbentuk jalur untuk fungsi pengaman,


peneduh, penyangga dan atau nilai estetika
lingkungan.

Selain itu, pengembangan kawasan hijau binaan yang


dijabarkan dalam 12 Kawasan Terpadu, dengan
persentase luas ruang terbuka hijau sebagai berikut:

Gambar 7-2 Taman Segitiga Jl. Balaikota Makassar

VII - 10
1. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PUSAT KOTA ditargetkan sebesar 5 persen
dari luas kawasan pusat kota, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

 Mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dipekarangan;
 Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang
garis pantai barat dan utara kota;
 Mempertahankan lahan pemakaman dan
lapangan olah raga yang ada;
 Meningkatkan RUANG TERBUKA HIJAU di
daerah permukiman padat;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di
kawasan permukiman serta pengadaan RTH
Umum melalui program perbaikan lingkungan,
peremajaan di beberapa kawasan;
Gambar 7-3 Citra SPOT Kawasan Balang Tonjong
 Mendorong pengembangan areal budidaya
tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai
terutama pada lingkungan padat;

2. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PERMUKIMAN TERPADU ditargetkan sebesar
7 persen dari luas kawasan pemukiman terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

 Menata kawasan resapan air di daerah BALANG TONJONG;


 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan
rumah;
 Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olah raga yang ada;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui
program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai
terutama pada lingkungan padat.

3. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU ditargetkan sebesar 7
persen dari luas kawasan pelabuhan terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

 Mendorong peningkatan ruang terbuka hijau pada areal reklamasi pengembangan pelabuhan Sukarno
Hatta, yang sekaligus berfungsi sebagai sarana sosialisasi.
 Menata bagian hilir muara Sungai Tallo.
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui
program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai
terutama pada lingkungan padat.

VII - 11
4. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan sebesar 15
persen dari luas kawasan bandara terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

 Mengamankan RTH di sekitar kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan BANDARA Hasanuddin


dengan budidaya pertanian;
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
 Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olah raga yang ada;
 Mengembangkan penghijauan pada pusat-pusat kegiatan;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui
program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada
lingkungan padat.

5. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan sebesar 10
persen dari luas kawasan maritim terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

 Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI UTARA Makassar;


 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan PERMUKIMAN NELAYAN UNTIA serta pengadaan
RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada
lingkungan padat.

6. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada kawasan


industri terpadu ditargetkan sebesar 7 persen dari luas
kawasan industri terpadu, dengan arahan pengembangannya
sebagai berikut:

 Menata jalur hijau di sepanjang JALAN TOL Ir. Sutami.


 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di
sepanjang jalan dalam kawasan;
 Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih
Gambar 7-4 Citra SPOT Kawasan Industri Makassar
seimbang pada areal kawasan industri;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan industri dan kawasan permukiman sekitarnya
serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
 Mendorong penanaman pohon di halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai, terutama di lingkungan padat

VII - 12
7. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN
PERGUDANGAN TERPADU ditargetkan sebesar 5 persen dari
luas kawasan pergudangan terpadu, dengan arahan
pengembangannya sebagai berikut:

 Menata jalur hijau di sepanjang jalan tol Makassar;


 Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di
sepanjang jalan dalam kawasan; Gambar 7-5 Citra SPOT Kawasan Pergudangan
 Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih
seimbang pada areal kawasan industri;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan pergudangan dan kawasan permukiman serta
pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan
lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah;
 Mendorong penanaman pohon-pohon
besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan,
pinggir sungai terutama pada lingkungan padat;

8. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada pada


KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI TERPADU ditargetkan
sebesar 7 persen dari luas kawasan pendidikan tinggi
terpadu, dengan arahan pengembanganya sebagai
berikut: Gambar 7-6 Koridor Hijau sepanjang Jl. Perintis Kemerdekaan

 Mengembangkan penghijauan di Pusat-Pusat Kegiatan Pendidikan (UNHAS, UMI, UIM, Dipanegara,


UNM);
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
 Mempertahankan lahan pemakaman ISLAM ”PANAIKANG” dan KRISTEN ”PANNARA”;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui
program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada
lingkungan padat.

9. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada


KAWASAN BUDAYA TERPADU ditargetkan sebesar 15
persen dari luas kawasan budaya terpadu, dengan
arahan pengembangannya sebagai berikut:

 Mengamankan RTH dalam areal Kawasan Taman


Miniatur Sulawesi;
 Menata bagian hilir daerah aliran sungai Jene’berang
dan Balang Beru;
 Mengembangkan penghijauan di pusat-pusat
Gambar 7-7 Citra SPOT kawasan Taman Miniatur Sulawesi
kegiatan;
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dalam kawasan
pengembangan Taman Miniatur Sulawesi;

VII - 13
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui
program perbaikan lingkungan, peremajaan di
beberapa kawasan;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman
hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur.
Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN
OLAHRAGA TERPADU ditargetkan sebesar 18 persen dari luas
kawasan olahraga terpadu, dengan arahan pengembangannya
sebagai berikut:
 Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang
garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR;
 Menata bagian hilir MUARA SUNGAI JE’NEBERANG Gambar 7-8 Birdview kawasan Olah raga Terpadu
 Meningkatkan penghijauan di dalam areal
pengembangan kawasan;
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif pada pusat-
pusat kegiatan;
 Mendorong pembentukan taman-taman kota sebagai wadah sosialisasi warga;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau di pusat-pusat kegiatan;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung (pohon Trambesi) pada halaman rumah, ruas jalan,
pinggir sungai terutama pada lingkungan padat. Pohon dengan akar yang besar dan daun lebat menghijau.

10. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada


KAWASAN BISNIS DAN PARIWISATA TERPADU
ditargetkan sebesar 10 persen dari luas kawasan
bisnis dan pariwisata terpadu, dengan arahan
pengembangannya sebagai berikut:

 Mengembangkan jalur hijau terbuka di


sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT
MAKASSAR;
 Menata bagian hilir MUARA SUNGAI
Gambar 7-9 Foto Udara Sungai Jene’berang
JENEBERANG dan BALANG BERU;
 Meningkatkan penghijauan di daerah sekitar danau tanjung bunga (Sungai Balang Beru) guna menjadi
wadah rekreasi dan sosialisasi warga;
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
 Mempertahankan lapangan olah raga yang ada;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat sekitar kawasan pengembangan kota
Tanjung Bunga;
 Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui
program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan sekitar kota tanjung bunga;
 Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
 Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan terutama pada
lingkungan padat.

11. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU ditargetkan sebesar
12 persen dari luas kawasan bisnis dan global terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

VII - 14
 Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang
garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR;
 Menata dan mengembangkan kawasan hijau baru
dari proses REKLAMASI PANTAI LOSARI;
 Menata bagian Hilir Muara KANAL KOTA;
 Menata bagian HILIR MUARA SUNGAI BALANG
BERU;
 Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga
di sepanjang jalan;
 Meningkatkan ruang terbuka hijau melalui
Gambar 7-10 Foto Udara Kawasan Muara S.Jene’berang
pembuatan hutan dan taman-taman kota secara
seimbang dalam kawasaan global terpadu.

3. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN

Dari rencana pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN dalam TATA RUANG KOTA MAKASSAR, arahan
pengembangannya dikelompokkan dalam kategori pengembangan kawasan permukiman yang berkepadatan
tinggi, sedang, dan rendah. Pengembangan kawasan permukiman dalam 12 Kawasan Terpadu Kota Makassar
memungkinkan untuk dikembangkan. Hanya saja, dibutuhkan KETENTUAN-KETENTUAN BARU yang mengatur
pola dan bentuk permukiman tersebut berkembang. Pola dan bentuk tersebut diantaranya menjadikan VISI, MISI,
DAN STRATEGI masing-masing kawasan terpadu sebagai TOLAK UKUR penetuan pola dan bentuk
permukiman yang ingin dikembangkan dalam 12 kawasan terpadu tersebut.

Pengembangan kawasan permukiman, secara bertahap diharapkan melengkapi infrastruktur kawasannya


dengan sarana dan prasarana lingkungan, yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
setempat berdasarkan standar fasilitas umum/fasilitas sosial.

Adapun fasilitas umum/fasilitas sosial sebagaimana yang dimaksudkan diatas, meliputi:

 Fasilitas Pendidikan;
 Fasilitas Kesehatan;
 Fasilitas Peribadatan;
 Fasilitas Olah Raga/Kesenian/Rekreasi;
 Fasilitas Pelayanan Pemerintah;
 Fasilitas Bina Sosial;
 Fasilitas Perbelanjaan/Niaga;
 Fasilitas Transportasi.

Secara umum, strategi pengembangan kawasan permukiman dalam 12 kawasan terpadu dilakukan dengan
mengembangkan cara-cara progresif melalui program REVITALISASI, PEREMAJAAN LINGKUNGAN secara
TERBATAS dan TERUKUR dan ataupun MEMBANGUN BARU dari kawasan yang direncanakan sebagai
kawasan permukiman serta mengembangkan sarana dan prasarana kawasan secara seimbang sesuai
kebutuhan masyarakat setempat.

VII - 15
Tabel 7-8 Rencana Pengembangan Kawasan Perumahan Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Pengembangan kawasan perumahan yang dijabarkan


dalam 12 Kawasan Terpadu, dengan persentase luas
ruang perumahan sebagai berikut:
1. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN
pada KAWASAN PUSAT KOTA ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 733,50 Ha, dengan uraian
arahan pengembangannya sebagai berikut:
 Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada Gambar 7-11 Foto Udara Kawasan Pemukiman Kumuh Kota
kawasan permukiman kumuh berat dan sedang
termasuk pada kawasan sepanjang bantaran KANAL KOTA;
 Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH BERAT
secara terbatas;
 Mengembangkan pola perbaikan kawasan pemukiman kumuh dengan membangun RUMAH SUSUN, dan
memberi kredit mikro kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah;
 Mendorong pengembangan kawasan permukiman secara vertikal dan memperkecil perpetakan untuk
penyediaan perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang
memadai;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok
perumahan berkompleks di dalam kota dan meningkatkan kualitas rumah sewa yang selama ini masih
terabaikan;
 Mendorong dan meningkatkan perbaikan fisik infrastruktur ruang kota, seperti jembatan;
 Mengembangkan dan mendorong pemukiman (RUKO) yang serasi dengan lengkap fasilitas ruang parkir
yang teratur.
 Mendorong dan meningkatkan kualitas sistem drainase yang baik di sekitar pemukiman;
 Mendorong dan meningkatkan sistem letak bangunan yang lebih teratur dan mengurangi pemasangan
reklame di sepanjang koridor pemukiman kota yang dapat mengurangi nilai estetika ruang kota. Sehingga
tercipta pola ruang kota yang elegan dan minimalis tetapi berkarakter;
 Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan
bersejarah dalam kota;
 Mengembangkan dan mendorong pembangunan uniform pada pedagang kaki lima ataupun toko/kios-kios
kecil yang berada pada muka kota;

VII - 16
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
2. Rencana Pengembangan KAWASAN
PERMUKIMAN pada KAWASAN PERMUKIMAN
TERPADU ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 2.160,10 Ha, dengan uraian
arahan pengembangannya sebagai berikut:
 Mengembangkan kawasan permukiman secara
vertikal melalui peremajaan terutama pada lokasi
yang kondisinya kumuh berat;
 Mengembangkan kawasan permukiman baru
terutama di wilayah bagian timur kota (antara jalan Gambar 7-12 Foto Udara Kawasan Selatan Kota Makassar
lingkar tengah dan luar);
 Mendorong pengembangan kawasan permukiman KDB rendah beserta fasilitasnya di daerah
pengembangan permukiman Panakukang Mas;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok
perumahan berkompleks didalam kawasan;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
3. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PELABUHAN Terpadu ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 29,16 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
 Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara
terbatas melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;
 Mengembangkan permukiman masyarakat menengah-atas pada areal reklamasi pantai utara;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman di kawasan Kota Tua/bersejarah dan Pelabuhan
Soekarno-Hatta sekaligus melestarikan budaya lingkungannya;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;
 Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan
bersejarah dalam kota;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
 Melengkapi fasilitas umum/utilitas di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
4. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 201,18 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai
berikut:
 Mengarahkan pengembangan kawasan permukiman KDB rendah di sekitar KAWASAN KESELAMATAN
OPERASI PENERBANGAN BANDARA INTERNASIONAL SULTAN HASANUDDIN dengan upaya
mengembangkan budidaya tanaman hias dan pertanian produktif;

VII - 17
 Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berat,sedang, dan
ringan;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok
perumahan berkompleks didalam kawasan;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
5. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 53,01 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
 Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berikut dengan
penyediaan saranan dan prasarana yang memadai;
 Mengembangkan permukiman nelayan yang bernuansa wisata dan berwawasan lingkungan hidup di
kawasan Pantai utara dan pulau-pulau yang dihuni di Kepulauan Spermonde;
 Mengembangkan kawasan permukiman baru;
 Mempertahankan lingkungan permukiman nelayan yang sudah ada;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
6. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN INDUSTRI TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 151,81 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai
berikut:
 Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara
terukur dan terkontrol;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
 Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara
terbatas melalui pengembangan secara vertikal, dan memperkecil perpetakan untuk penyediaan
perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya;
7. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 156,20 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya
sebagai berikut:
 Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara
terukur dan terkontrol;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
 Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara
terbatas melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;

VII - 18
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
8. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI DAN
KAWASAN PENELITIAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 358,86 Ha, dengan
uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
 Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berikut dengan
penyediaan saranan dan prasarana yang memadai;
 Mengembangkan dan meningkatkan pola perbaikan jalan setapak di lokasi yang padat pemukiman;
 Meningkatkan pola pemukiman dengan membagi kawasan tersebut yang lebih terkoordinir;
 Mengembangkan dan meningkatkan kualitas ruang pedagang kaki lima dan memanagement pola ruang
yang teratur;
 Mengembangkan POLA MANAJEMEN SAMPAH TERPADU dengan menetapkan tempat pembuangan
sampah sementara;
 Mengembangkan dan meningkatkan keteraturan pola ruang di lingkup ruang parkir;
 Mengembangkan kawasan permukiman KDB rendah dalam areal kawasan;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya;
 Membatasi perubahan fungsi lahan/kawasan yang tidak mencerminkan pola ruang kawasan pendidikan
tinggi/kawasan penelitian terpadu;
 Memberikan stimulan untuk tumbuhnya pengembangan kawasan yang berorientasi pendidikan/penelitian;
9. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BUDAYA TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 3,30 Ha, dengan uraian araha pengembangannya sebagai berikut:
 Mengarahkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman warga dengan penyediaan sarana dan
prasarana yang memadai;
 Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan
bersejarah dalam kota;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
 Mengarahkan pembangunan lingkungan permukiman baru yang disesuaikan dengan atmosfir ruang
kawasan yang ingin dicapau sebagai kawasan budaya;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
10. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN OLAHRAGA TERPADU ditargetkan
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 161,08 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya
sebagai berikut:
 Mendorong pengembangan kawasan permukiman baru berikut dengan lingkungannya yang sesuai
dengan irama, aroma dan warna kawasan olahraga;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.

VII - 19
11. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BISNIS DAN PARIWISATA
TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 72,40 Ha, dengan uraian arahan
pengembangannya sebagai berikut:
 Mempertahankan kawasan permukiman KDB rendah pada daerah permukiman TANJUNG BUNGA;
 Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
 Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;
 Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya.
12. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 62,91 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya
sebagai berikut:
Mendorong perbaikan dan penataan lingkungan pada kawasan perencanaan melalui pengembangan
secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;
Mengembangkan kawasan permukiman KDB rendah pada melalui pengembangan permukiman
masyarakat menengah-atas pada areal REKLAMASI PANTAI;
Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan
lingkungannya;
Mengembangkan dan mendorong kawasan pemukiman yang serasi dan teratur yang berwawasan
lingkungan.

4. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN BANGUNAN UMUM

Rencana pengembangan kawasan Bangunan Umum dalam TATA RUANG MAKASSAR diarahkan dan
diperuntukkan bagi pengembangan PERKANTORAN, PERDAGANGAN, JASA, PEMERINTAHAN DAN
FASILITAS UMUM/FASILITAS SOSIAL beserta fasilitas penunjangnya dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih
besar dari 20%.

Tabel 7-9 Rencana Pengembangan Bangunan Umum Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

1. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PUSATKOTA ditargetkan


menempati wilayah perencanaan seluas 439,67 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan FASILITAS PERDAGANGAN terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan
jangkauan pelayanannya;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;

VII - 20
 Membatasi pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang jalan arteri primer dan kolektor
dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir;
 Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan daya tampung penduduk yang
dikembangkan secara VERTIKAL terutama di koridor jalan arteri sekunder;
 Mengendalikan perkembangan kawasan campuran secara terbatas;
 Menata fungsi kawasan kota tua/bersejarah untuk mendukung kegiatan perkantoran, perdagangan, ,jasa
dan pariwisata;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai.
2. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PERMUKIMAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 540,30 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk PASAR TRADISIONAL sesuai kebutuhan dan
jangkauan pelayanannya;
 Meningkatkan kualitas pola ruang PASAR TRADISIONAL yang lebih modern tanpa menghilangkan peran
dan fungsi didalamnya;
 Mengembangkan penyediaan fasilitas pembuangan sampah sementara dan memberi wewenang kepada
pihak tertentu dalam sistem manajemennya;
 Meningkatkan kualitas pola ruang parkir yang bersih dan teratur dengan memanfaatkan preman kota
sebagai pihak penanggung jawab;
 Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di KAWASAN EKONOMI
PROSPEKTIF terutama yang berada pada KAWASAN NIAGA PANAKUKANG SQUARE.
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai dan terkoordinir;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar
SUNGAI TALLO;
 Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan
dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
 Mengembangkan Sentra Primer Baru Timur yang bertaraf internasional.
3. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 25,30 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk mendukung pengembangan kawasan yang sesuai
kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengembangkan dan mengontrol sistem bangunan yang seragam sebagai wujud pola ruang yang lebih
teratur;
 Mengembangkan wilayah Pantai Utara di sub-kawasan pengembangan pelabuhan dengan pola
pengembangan multifungsi/Super Blok dengan fasilitasnya yang bertaraf international;
 Mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang jalan arteri primer dengan
memperhatikan lalulintas dan penyediaan lahan parkir;
 Mengembangkan dan mengendalikan kawasan campuran secara terbatas untuk membantu peningkatan
daya tampung penduduk yang dikembangkan secara vertikal terutama di koridor jalan arteri sekunder;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan
pelabuhan secara terpadu;
 Mengembangkan Sentra Primer Baru Utara yang bertaraf internasional.

VII - 21
4. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BANDARA TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 167,68 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan
pelayanannya;
 Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif
terutama yang berada dekat dengan kawasan bandara;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan
dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
 Mengendalikan perkembangan kawasan campuran terutama yang berada pada jalan arteri primer
 Mengembangkan Sentra Primer Baru Utara yang berskala nasional.
5. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN MARITIM TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 17,06Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan
pelayanannya;
 Mengembangkan fasilitas perdagangan yang sesuai dengan kebutuhan, jenis dan jangkauan pelayanan
yang dibutuhkan;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengembangkan wilayah Pantai Utara di sub-kawasan pengembangan maritim dengan pola
pengembangan yang lebih terencana, terkontrol dan terintegrasi dengan atmosfir ruang rencana kawasan
maritim;
 Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan
dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan maritim
secara terpadu;
 Mengembangkan Sentra Primer Baru Utara yang bertaraf internasional.
6. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN INDUSTRI TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 41,40 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan KAWASAN MULTIFUNGSI secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama
yang berada pada Kawasan Niaga Daya;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan
dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan
kawasan industri secara terpadu.
7. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 195,21 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan KAWASAN MULTIFUNGSI secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama
yang berada pada KAWASAN NIAGA DAYA;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;

VII - 22
 Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan
dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan
kawasan industri secara terpadu.
8. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PENDIDIKAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 52,77 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan
pelayanannya;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Membatasi pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang jalan arteri primer dengan
memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir;
 Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan pelayanan pada masyarakat;
 Mengendalikan pengembangan bangunan umum secara terbatas yang terintegrasi dengan penataan
kawasan sekitar sungai Tallo.
9. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BUDAYA TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1,50 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengembangkan wilayah bagian selatan kota di sub-kawasan pengembangan kawasan taman miniatur
sulawesi dengan pola pengembangan multifungsi yang tetap terintegrasi baik secara bentuk dan ruang
sesuai dengan atmosfir ruang budaya yang ingin dicapai;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang tetap terintegrasi dengan rencana pengendalian dan
revitalisasi sungai balang beru dan jeneberang secara terpadu;
 Melestarikan dan menata fungsi-fungsi kawasan/bangunan bersejarah untuk mendukung kegiatan
perdagangan, jasa, dan pariwisata dengan pengaturan dan penataan lalulintas beserta pedestrian yang
lebih nyaman;
 Mengembangkan Sentra Primer Baru Selatan, dengan penempatan sektor budaya sebagai warna dari
pengembangan kawasan.
10. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN OLAHRAGA TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 80,55 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai. yang mendukung fungsi utama sebagai kawasan olahraga
terpadu dan mengarahkan pembentukanya disesuaikan dengan kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;
 Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif
terutama yang berada pada Kawasan Barombong;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai
makassar bagian barat;
 Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan
dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;
 Mengembangkan Sentra Primer Baru Selatan yang bertaraf internasional.
11. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BISNIS DAN PARIWISATA
TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 35,87 Ha, dengan arahan rencana sebagai
berikut:

VII - 23
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan
jangkauan pelayanannya;
 Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif
terutama yang berada pada kawasan permukiman Tanjung Bunga;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran secara terbatas sepanjang jalan
arteri primer dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai
Makassar bagian barat;
 Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan daya tampung penduduk yang
dikembangkan secara vertikal terutama di koridor jalan arteri sekunder.
12. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 30,09 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan
jangkauan pelayanannya;
 Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif
terutama yang berada pada kawasan Tanjung Beringin;
 Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan
menyediakan fasilitas umum yang memadai;
 Mengarahkan dan mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran secara terbatas
dan terkontrol sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir;
 Mendorong pengembangan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai
makassar bagian barat.

12.1 Pengembangan Kawasan Bangunan Umum KDB rendah:


 Mengembangkan kawasan bangunan umum KDB rendah secara terbatas terutama pada daerah
sebelah UTARA DAN TIMUR yaitu pada kawasan industri terpadu, kawasan pergudangan terpadu,
kawasan maritim terpadu dan kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu;
 PERSENTASE LUAS KAWASAN BANGUNAN UMUM KDB RENDAH ditargetkan sebesar 6,92%
dari luas selurah kawasan terpadu Kota Makassar.
12.2 Pengembangan Kawasan Campuran :

Pengembangan Kawasan Campuran dalam 12 kawasan terpadu Kota Makassar diuraikan sebagai
berikut:

Tabel 7-10 Pengembangan Kawasan Campuran (Bangunan Umum dan Perumahan)

Sumber: Hasil Analisis Tim

VII - 24
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pusat kota ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 586,22 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan permukiman terpadu ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 1.080,60 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pelabuhan terpadu ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 56,22 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bandara terpadu ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 335,31 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan maritim terpadu ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 68,25 Ha.
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan industri terpadu ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 276,02 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pergudangan terpadu ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 390,42 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pendidikan tinggi Terpadu ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 211,10 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan budaya terpadu ditargetkan menempati wilayah
perencanaan seluas 1,50 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan olahraga terpadu 161,10 Ha.
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bisnis dan pariwisata terpadu ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 89,67 Ha;
 Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bisnis global terpadu ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 56,43 Ha.

5. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI

Kegiatan industri yang dimaksudkan dalam perencanaan penataan ruang Kota Makassar adalah kegiatan
ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang
dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan
industri.
Tabel 7-11 Rencana Pengembangan Industri Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Bahwa dari rencana pengembangan kawasan industri di Makassar yang memiliki PERSYARATAN-
PERSYARATAN TERTENTU dalam pengembangannya maka dari 12 kawasan Terpadu Kota Makassar, yang
hanya diperbolehkan hanya pada 4 kawasan terpadu sebagai berikut:

VII - 25
1. Rencana pengembangan KEGIATAN INDUSTRI pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 14,06 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengarahkan pengembangan industri selektif yang mendukung fungsi pelabuhan secara terpadu;
 Mengembangkan kegiatan industri pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau
penambahan fasilitas penunjang beserta penghijauan yang lebih nyaman.
2. Rencana pengembangan KAWASAN INDUSTRI pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 167,66 Ha.
 Mengarahkan pengembangan industri berteknologi tinggi yang tidak mengganggu lingkungan hidup
sebagai satu kesatuan kawasan berikat.
 Mengembangkan industri kecil yang tidak berpolusi dan berwawasan lingkungan hidup
3. Rencana pengembangan kawasan industri pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas 17,06 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengarahkan kegiatan industri yang berlokasi di dekat permukiman hanya untuk jenis-jenis industri kecil
dan tidak polutif serta berwawasan lingkungan;
 Mengarahkan pengembangan kegiatan industri yang berhubungan dengan kegiatan industri perikanan.
4. Rencana pengembangan kawasan industri pada KAWASAN INDUSTRI TERPADU ditargetkan menempati
wilayah perencanaan seluas759,05 Ha dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Menjadi pusat dari semua kegiatan pengembangan industria;
 Merelokasi industri menengah dan besar dari pusat kota kedalam kawasan;
 Mengatur dan mengendalikan kegiatan industri secara terbatas terhadap kegiatan industri yang berisiko
tinggi menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan manusia dan lingkungan.

6. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PERGUDANGAN

Tabel 7-12 Rencana Pengembangan Pergudangan Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Bahwa dari rencana PENGEMBANGAN KAWASAN PERGUDANGAN di Makassar memiliki persyaratan-


persyaratan tertentu dalam pembangunan dan peruntukannya maka dari 12 KAWASAN TERPADU KOTA
MAKASSAR, yang diperbolehkan hanya pada 4 kawasan terpadu sebagai berikut:
1. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 56,22 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengembangkan kawasan pergudangan untuk mengantisipasi perkembangan PELABUHAN
SOEKARNO-HATTA dan menunjang kegiatan perdagangan dan jasa;
 Mengembangkan kawasan pergudangan yang nyaman, asri, dan tertata serta tetap terintegrasi baik
dengan atmosfir kawasan pelabuhan.

VII - 26
2. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 335,31 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:

 Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang dapat menunjang kegiatan industri,


perdagangan, dan jasa yang ada di bandara;

 Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang lebih tertata secara bentuk dan berwawasan
lingkungan.
3. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan
menempati wilayah perencanaan seluas 34,12 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
 Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang dapat menunjang kegiatan industri,
perdagangan, dan jasa kemaritiman;

 Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang lebih tertata secara bentuk dan berwawasan
lingkungan.
4. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU
ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 897,97 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:

 Merelokasi kewasan pergudangan dari dalam kota;

 Menjadi pusat konsentrasi dan relokasi gudang dalam kota;

 Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang sejalan dengan nilai ruang rencana yang ingin
dicapai.

7. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN SISTEM PUSAT KEGIATAN

Dalam rencana pengembangan kawasan sistem pusat kota di Makassar, luasan pada sentra-sentra kawasan
terpadu tidak seragam. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 7-13 Rencana Pengembangan Landmark, Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Sistem pusat kegiatan dibedakan berdasarkan kegiatan kawasan sebagai pembentuk struktur ruang dan
kawasan fungsi khusus sebagai pusat pemerintahan, pusat kegiatan sosial, ekonomi dan budaya. Sistem pusat
kegiatan yang dimaksud terdiri dari Pusat Kegiatan Utama dan Pusat Kegiatan Penunjang.
1. Sistem PUSAT KEGIATAN UTAMA menurut FUNGSI KAWASAN sebagai pembentuk struktur ruang
sebagaimana dimaksud diatas, ditetapkan sebagai berikut:
 Sentra Primer Baru Timur Kota sebagai pusat perkantoran, perdagangan, dan jasa;
 Sentra Primer Baru Barat Kota sebagai pusat pemerintahan kota, perkantoran, perdagangan dan jasa
yang bertaraf global;

VII - 27
 Sentra Primer Baru Selatan Kota sebagai pusat bisnis, pariwisata, perdagangan, budaya, dan olahraga;
 Sentra Primer Baru Utara Kota sebagai pusat bisnis, pariwisata, perdagangan, dan jasa kemaritiman.
2. Sistem PUSAT KEGIATAN UTAMA menurut FUNGSI KHUSUS ditetapkan sebagai berkut:
 Pusat Pemerintahan Propinsi di Wilayah Pengembangan II (Kawasan Urip Sumoharjo);
 Pusat Pemerintahan Kota di Wilayah Pengembangan III (Pusat Kota);
 Pusat Bisnis dan Pariwisata diwilayah pengembangan II, III, IV dan V: Kota Baru Tanjung Bunga,
Panakukang Square, dan Kepulauan spermonde;
 Pusat Bisnis Global di wilayah Pengembangan IV (Tanjung Beringin);
 Pusat Olahraga di Wilayah Pengembangan IV (di Barombong);
 Pusat Energi dan Gas di Wilayah Pengembangan III (Kawasan Strategis Pusat Energi dan Bahan Bakar
Terpadu);
 Pusat Kesehatan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Labuang Baji.

8. RENCANA PENGEMBANGAN PEDAGANG KAKI LIMA

Dalam rencana tata ruang wilayah Kota Makassar, eksistensi pedagang kaki lima sudah ikut diakomodir sebagai
salah satu bentuk pemanfaatan ruang yang mutlak untuk diberi perhatian dan arahan dalam rencana struktur
pemanfaatan ruangnya. Berikut ini beberapa alasan yang mendasari mengapa pedagang kaki lima perlu dan
penting untuk diatur dalam rencana tata ruang wilayah Kota Makassar, sebagai berikut:

1. Tingkat pertumbuhan pedagang kaki lima didalam Kota Makassar dari tahun ke tahun menunjukkan
peningkatan yang signifikan; Terhitung bahwa dari HASIL SURVEY TATA RUANG yang dilakukan terdapat
kurang lebih 5.919 pedagang kaki lima yang ada di Kota Makassar, dengan bentuk dan jenis jualan yang
beragam (terdapat kurang lebih 70 jenis jualan), dimulai dari usaha campuran yang umum dilakukan hingga
usaha yang sifatanya khusus yaitu penjualan perlengkapan jenazah;

2. Secara KERUANGAN rata-rata pedagang kaki lima menempati PUSAT-PUSAT KEGIATAN UTAMA dan
TEMPAT-TEMPAT STRATEGIS didalam kota sebagai tempat berjualan dengan kebanyakan memanfaatkan
bahu dan badan jalan secara tidak teratur;

3. Eksistensi keindahan dan kebersihan kota ikut TERANCAM dengan kehadiran pedagang kaki lima yang
sebagian besar tidak lagi memperdulikan keindahan dan kebersihan kota sebagai sesuatu yang perlu untuk
dijaga;

4. Keberadaan Kaki Lima seringkali mengundang KEMACETAN LALU LINTAS pada ruas-ruas jalan didalam
kota.

Dari data berikut ini menunjukkan bahwa kurang lebih 80% pedagang kaki lima didalam kota menempati bahu
jalan dan drainase sebagai tempat berjualan dengan sifat jualan yang tidak permanen kurang lebih 90%.

Tabel 7-14 Letak, Sifat dan Bentuk Kaki Lima di Kota Makassar Saat Ini

Letak, Sifat, dan Bentuk Kaki Lima Persentase


1 Bahu Jalan 41,97%
2 Drainase 41,61%
3 Trotoar 16,42%

4 Non Permanen 90,08%


5 Permanen 9,92%

6 Movable 93,61%
7 Mobile 6,39%

8 non insidentil 93,73%


9 insidentil 6,27%

Sumber: Hasil Survey Pedagang Kaki Lima, 2005


VII - 28
Atas dasar dari ALASAN-ALASAN di atas maka secara keruangan dari tabel berikut ini keberadaan pedagang
kaki lima secara proporsional diatur dalam 12 kawasan Terpadu Kota Makassar.

Tabel 7-15 Rencana Pemanfaatan Ruang Pedagang Kaki Lima Kota Makassar

Sumber: Analisis Tim

9. RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH

Untuk SISTEM PRASARANA dalam perencanaan penataan ruang Kota Makassar meliputi prasarana
transportasi, sumber air dan air bersih, pengendalian banjir dan drainase, irigasi, air limbah, persampahan,
prasarana energi dan telekomunikasi, utilitas, public servis, pariwisata, reklame dan public sinage, prasarana
sektor informal, dan prasarana street scapes.
1. Pengembangan prasarana transportasi meliputi prasarana untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor,
angkutan sungai dan penyeberangan, angkutan laut dan udara yang dikembangkan sebagai pelayanan
angkutan terpadu untuk lalu lintas lokal, regional, nasional dan internasional.
 Pengembangan sistem ini diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:
a. Tersusunnya suatu jaringan sistem transportasi yang efisien dan efektif;
b. Meningkatnya kelancaran lalu lintas dan angkutan;
c. Terselenggaranya pelayanan angkutan yang aman, tertib, nyaman, teratur, lancar dan efisien;
d. Terselenggaranya pelayanan angkutan barang yang sesuai dengan perkembangan sarana angkutan
dan teknologi transportasi angkutan barang;
e. Meningkatnya keterpaduan baik antara sistem angkutan laut, udara dan darat maupun antar moda
angkutan darat;
f. Meningkatnya disiplin masyarakat pengguna jalan dan pengguna angkutan.
 Mengembangkan sistem angkutan jalan melaui pengembangan jaringan jalan sesuai dengan fungsi dan
hirarki jalan serta terminal bis antar kota dan terminal bis dalam kota;
 Mengembangkan dan menerapkan management angkutan kota ”ONE DAY ONE TICKET”, sehingga
sistem dan pola arus transportasi lebih terkontrol.
 Menata pelayanan angkutan umum yang disesuaikan dengan hirarki jalan, dengan sistem lalulintas
angkutan umum yang terbagi dalam 16 trayek kota;
 Melaksanakan penerapan manajemen lalu lintas, termasuk di dalamnya SISTEM SATU ARAH, pengaturan
dengan lampu lalu lintas, dan kebijakan pembatasan lalu lintas pada daerah-daerah tertentu;
 Membangun gedung-gedung dan atau taman parkir pada pusat-pusat kegiatan untuk menghilangkan parkir
pada badan jalan secara bertahap;

VII - 29
 Mengembangkan fasilitas pejalan kaki yang memadai dengan memperhitungkan penggunaannya bagi
penyandang cacat;
 Lokasi terminal angkutan barang dengan fasilitasnya dan pangkalan truk diarahkan pada kawasan
pelabuhan dan industri/pergudangan serta lokasi yang ditetapkan pada jaringan jalan arteri primer;
 Mengembangkan pelabuhan laut dan dermaga penyeberangan sebagai berikut: kegiatan ekspor/impor,
angkutan penumpang dan barang di Sukarno-Hatta, pelabuhan perikanan nusantara di Untia, pelabuhan
tradisional dan pelayaran rakyat di Paotere, serta pelabuhan penyeberangan dari dan ke Kepulauan
Spermonde di Kayu Bangkoa.
 Mengembangkan pelabuhan-pelabuhan sebagaimana dimaksud diatas secara terintegrasi dengan
pengembangan jaringan angkutan jalan.
 Mengembangkan Pelabuhan Udara Hasanuddin untuk mendukung fungsi kota Makassar sebagai Ibukota
Provinsi dan untuk memenuhi pelayanan lainnya termasuk pelayanan haji.
2. Pengembangan prasarana sumber air dan air bersih
 Pengembangan prasarana sumber air dan air bersih diarahkan untuk mencapai tujuan :
a. Berkurangnya pemakaian air tanah dan terpeliharanya sumber daya air tanah dan air permukaan
sebagai air baku;
b. Terlaksananya distribusi air bersih untuk seluruh lapisan masyarakat;
c. Terlaksananya konservasi air bawah tanah untuk pengendalian penurunan muka tanah, penurunan
muka air tanah, dan kerusakan struktur tanah.
 Pengembangan prasarana sumber air dan sumber air bersih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seluruh
penduduk sebesar 38,00 m3/detik pada tahun 2015 dengan tingkat konsumsi maksimal sebesar 175
liter/orang/hari.
 Pembagian zona pelayanan air bersih, prioritas pelayanan, jaringan pengaliran air baku, lokasi-lokasi
Instalasi Pengolahan Air (IPAL), dan lokasi-lokasi pusat distribusi air yang direncanakan.
3. Pengembangan Prasarana Konservasi sumber Daya Air Kota
Pengembangan prasarana ini tidak hanya dilakukan kesisi ruang saja akan tetapi juga dilakukan upaya-
upaya/strategi dalam arah pelaksanaannya:
 Pembatasan pengambilan air tanah dangkal di kawasan perumahan dan permukiman secara bertahap;
 Perluasan kawasan resapan air melalui penambahan ruang terbuka hijau di masing-masing kawasan
terpadu, waduk, danau, sempadan sungai dan sempadan pesisir pantai UTARA UNTIA serta PULAU
LAKKANG yang saat ini telah beralih fungsi menjadi KAWASAN HIJAU TERBUKA;
 Pencegahan peresapan air limbah ke dalam tanah dan pencemaran sumber-sumber air terutama di sekitar
zona-zona kritis, seperti di daerah sekitar KANAL JONGAYA dan PAMPANG;
 Mengembangkan pembangunan jaringan prasarana air limbah pada kawasan sekitar Pasar TERONG,
PASAR PAKBAENG-BAENG, PASAR BUTUNG dan pasar tradisional lain yang jaringan prasarana air
limbah masih belum terkoordinir dengan baik system operasionalnya;
4. Pengembangan Prasarana Banjir
 Pengembangan prasarana pengendalian banjir dan drainase diarahkan untuk:
a. Menciptakan lingkungan kota yang bebas banjir dan genangan air;
b. Menata daerah aliran atau koridor 2 sungai utama sebagai bagian penting dari unsur kota dengan
menjadikannya sebagai orientasi kawasan;
c. Mengoptimalkan dan memadukan fungsi jaringan saluran makro, sub makro, mikro, dan lokasi
tampungan air (waduk/situ) dalam pengelolaan sistem kawasan.
 Pengembangan prasarana pengendalian banjir ditujukan untuk meningkatkan kapasitas prasarana
pengendalian banjir 100 tahunan dengan tetap mempertahankan debit minimal aliran mantap beserta
kualitasnya

VII - 30
 Pengembangan prasarana sebagaimana dimaksud diatas dilakukan melalui:
a. Normalisasi aliran 3 sungai (jeneberang, tallo, dan pampang);
b. Penyempurnaan sistem aliran kanal kota;
 Penataan kembali sempadan sungai sejalan dengan penataan sungai menurut fungsinya yaitu sebagai
pengendali banjir, drainase, dan penggelontor;
 Pembangunan, peningkatan dan pengembangan fungsi situ-situ sebagai lokasi tempat penampungan air
terutama di bagian hulu dan daerah cekungan atau palung secara terbatas;
 Rasio badan air yang mencakup saluran, kali, sungai, banjir kanal, situ dan waduk tahun 2030 seluas
4,92% dari luas wilayah Kota Makassar;
 Pengembangan drainase diarahkan sebagai saluran air hujan yang merupakan saluran umum;
 Badan air berupa saluran, kali, banjir kanal, situ dan waduk tidak dapat diubah peruntukannya.
5. Pengembangan prasarana air limbah
 Pengembangan prasarana air limbah diarahkan untuk meminimalkan tingkat pencemaran pada badan air
dan tanah, serta meningkatkan sanitasi kota melalui pengaturan fungsi drainase;
 Memperluas pelayanan pengelolaan air limbah sistem perpipaan tertutup melalui pengembangan sistem
terpusat di kawasan permukiman, kawasan pusat bisnis, kawasan industri dan pelabuhan serta
pengembangan sistem modular dengan teknologi terbaik yang dapat diterapkan;
 Menentukan di sentra-sentra tertentu pusat pencemaran atau pusat akumulasi sampah sebagai area
pengembangan/ pembangunan IPAL.
6. Pengembangan prasarana persampahan
 Pengembangan prasarana persampahan diarahkan untuk meminimalkan volume sampah dan
pengembangan prasarana pengolahan sampah dengan teknologi yang berwawasan lingkungan hidup;
 Pengembangan prasarana persampahan ditujukan untuk mencapai target penanganan 90% dari jumlah
total sampah, yang dilakukan baik pada sumbernya, proses pengangkutannya maupun pengelolaannya di
tempat pembuangan akhir (TPA);
 Pengelolaan prasarana sampah dilakukan dengan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi dan
mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sampah;
 Pengembangan prasarana sampah bahan berbahaya dan beracun (b3) serta pengelolaannya dilakukan
dengan teknologi yang tepat.
7. Pengembangan prasarana energi

 Pengembangan prasarana energi diarahkan untuk tujuan terlaksananya pemanfaatan energi gas bagi
kebutuhan rumah tangga dan transportasi, dan tersedianya tenaga listrik yang terjamin keandalan dan
kesinambungan penyediaannya.

 Pengembangan prasarana energi dilakukan melalui:

a. Pengembangan pelayanan terminal gas dan bahan bakar di wilayah PANTAI UTARA MAKASSAR;

b. Pengembangan jaringan distribusi listrik untuk kawasan perkantoran, perdagangan/jasa, industri dan
perumahan baru;

c. Memperluas pengadaan gardu induk dan gardu distribusi.

8. Pengembangan prasarana telekomunikasi diarahkan untuk mencapai tujuan mewujudkan sistem


telekomunikasi lokal, antar kota dan antar negara dan terjamin keandalannya untuk menunjang Kota Makassar
sebagai kota jasa.

VII - 31
10. RENCANA INTENSITAS RUANG

Intensitas Ruang dalam penataan ruang Kota Makassar adalah besaran ruang untuk fungsi tertentu yang
ditentukan berdasarkan pengaturan Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan dan Ketinggian
Bangunan tiap kawasan bagian kota sesuai dengan kedudukan dan fungsinya dalam pembangunan kota.

1. Kepadatan Bangunan

Pada tahap RDTRK. rencana kepadatan bangunan yang diberikan adalah dalam arti kasar, yaitu jumlah
bangunan dibagi luas seluruh kawasan terbangun di dalam unit lingkungan/kawasan tertentu. Sedangkan
rencana kepadatan bersih (net density) bangunan dalam arti jumlah bangunan di bagi jumlah luas kapling
dalam unit lingkungan/kawasan tertentu baru diberikan pada tahap rencana terperinci kota (RTK). Kepadatan
bangunan belumlah secara mutlak membatasi tingkat intensitas penggunaan ruang (atau juga intensitas
kegiatan perkotaan), oleh karena itu masih ada dua faktor penentu berikutnya yaitu koefisien dasar bangunan
(KDB) dan koefisien lantai bangunan (KLB). Penetapan besarnya KLB dan KDB dilakukan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor:

 Rencana kepadatan penduduk dan rencana kepadatan bangunan yang telah ditentukan terlebih dahulu
dalam RDTRK;

 Nilai lahan, semakin tinggi nilai lahan semakin tinggi intensitas penggunaan ruang yang diinginkan,
sehubungan dengan harga / sewa lahan yang relatif tinggi di sana, nilai lahan ini berbeda antara berbagai
lokasi dalam kota;

 Faktor keamanan, yaitu dengan melihat karakteristik fisik lingkungan termasuk struksi teknis dan
sebagainya, maka KDB dan KLB ditetapkan untuk menjaga keamanan dari penghuni dan kegiatan yang
berlangsung dalam bangunan-bangunan yang bersangkutan;

 Faktor estetika dan kenyamanan lingkungan KDB dan KLB ini banyak mempengaruhi kerapatan bangunan,
tinggi bangunan, dan lain-lain yang pada gilirannya menentukan juga garis langit bangunan (skyline),
banyak penyinaran sinar matahari, sirkulasi udara/angin antara bangunan dan lain-lain.

2. Koefisien Luas Bangunan

Yang dimaksud dengan Koefisien Luas Bangunan (KLB) adalah angka besaran jumlah luas lantai bangunan
(berbagai tingkat lantai bila ada) dibagi luas kapling (petak lahan tempat bangunan tersebut) dalam angka
rasio desimal. Secara teoritik angka rasio desimal ini bisa tiada lantai bangunan sedikit pun/tiada bangunan
(0,00) sampai lebih dari jumlah tingkat/lantai bangunan (1,00). Pada keadaan bangunan tidak
bertingkat/bersusun, maka angka KDB akan pararel
dengan angka KLB. MAKS 4,8 Lt. 8

MAKS 1,8 Lt.3


MAKS 4,2 Lt. 7
Maksud penetapan angka KLB adalah untuk mengatur MAKS 1,2 Lt.2
MAKS 3,6 Lt. 6
MAKS 0,6 Lt.1
kepadatan suatu kawasan, yang ditujukan dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
MAKS 3,0 Lt. 5

Bangunan lantai 1, maksimal 0,6 MAKS 2,4 Lt. 4

mengaitkan antara luas lantai bangunan im dengan luas Bangunan lantai


Bangunan lantai
2, maksimum 1,2
3, maksimum 1,8 MAKS 1,8 Lt. 3

MAKS 1,2 Lt. 2


lahan tanah/kapling tempat bangunan berdiri. MAKS 0,6 Lt. 1

PENGATURAN KEPADATAN ini bertujuan untuk: Ketinggian Bangunan 8 lantai

 Menciptakan ruang luar nyaman, yang masih Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
untuk Row Houses
memungkinkan masuknya pencahayaan dan MAKS 4,8 Lt. 8

MAKS 4,2 Lt. 7


MAKS 1,8
pengudaraan alami pada daerah terbuka, serta cukup Lt.3
MAKS 3,6 Lt. 6
MAKS 1,2 Lt.2

tersedia jalur pejalan kaki untuk menampung arus MAKS 0,6 Lt.1
MAKS 3,0 Lt. 5

Bangunan lantai 1, maksimal 1,0 MAKS 2,4 Lt. 4

manusia yang ditimbulkan oleh adanya kegiatan di Bangunan lantai 2, maksimum 2,0
Bangunan lantai 3, maksimum 3,0 MAKS 1,8 Lt. 3

MAKS 1,2 Lt. 2


kawasan tersebut; MAKS 0,6 Lt. 1

Ketinggian Bangunan 8 lantai

Gambar 7-13 Skematik Koefisien Luas Bangunan

VII - 32
 Memperoleh keseimbangan antara arus atau kapasitas kendaraan yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan
dalam suatu bangunan dengan kapasitas jalan yang ada;
 Memberikan karakter pada suatu kawasan yang dipertahankan dan diremajakan;
 Dilihat dari ketiga aspek peninjauan, umumnya bila suatu kawasan akan dipertahankan maka diberikan
tingkat kepadatannya sama dengan sekarang, dan bila suatu kawasan akan diremajakan maka diberikan
tingkat kepadatan yang lebih besar;
 Adapun pertimbangn-pertimbangan dalam menentukan angka-angka KLB adalah jenis penggunaan lahan,
angka KDB, ukuran jalan, jarak bangunan dan ketinggian bangunan maksimum yang diijinkan.

Dari rencana Koefisien Dasar Bangunan (KDB), maka rencana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di wilayah
perencanaan adalah sebagai berikut:

 Pada kawasan padat/strategis, nilai KLB tinggi (lebih dari 3 lantai dan kurang dari 6 lantai);
 Pada kawasan dengan kepadatan sedang, nilai KLB sedang (2-3 lantai);
 Pada kawasan dengan kepadatan rendah, nilai KLB rendah (antara 1-2 lantai).

3. Koefisien Dasar Bangunan

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka besaran luas dasar (tapak bangunan dibagi luas kapling/
petak lahan tempat bangunan tersebut) dalam angka persen. Secara teoritis angka ini dapat berkisar antara
tiada bangunan (0%) sampai tiada pekarangan, hanya ada bangunan (100%).

Maksud penentuan angka KDB adalah untuk tetap


menyediakan perbandingan yang seimbang antara lahan
terbangun dan tidak terbangun di suatu kawasan sehingga: Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimal 60%
ROW 15-20 M

 Peresapan air tanah tidak terganggu;



ROW 15-20 M
Kebutuhan air secara alami dapat dipenuhi;
 Citra arsitektur lingkungan dapat dipelihara;

PERTIGAAN

Nilai estetika lingkungan dapat terjaga.


Koefisien Dasar Bangunan (KDB):
Maksimal 100% untuk Row Houses
Koefisien Dasar bangunan (KDB):
Maksimul 80% untuk bangunan pertigaan

Angka KDB dipergunakan untuk mengatur intensitas dan perempatan jalan.

kepadatan dasar bangunan di suatu kawasan yang ditujukan


dengan mengkaitkan antara luas lantai dasar bangunan
dengan luas tanah / kavling tempat bangunan itu sendiri.

Koefisien dasar bangunan di kawasan perencanaan adalah


ROW 15-20 M

sebagai berikut:
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimal 60%

 Pada Kawasan padat/strategis, nilai KDB dimungkinkan


dan direncanakan lebih dari 50 %; Gambar 7-14 Skematik Koefisien Dasar Bangunan

 Pada kawasan dengan kepadatan sedang, nilai KDB dimungkinkan dan direncanakan tidak lebih dari 30-
40%;

 Pada kawasan dengan kepadatan rendah, nilai KDB dimungkinkan dan direncanakan kurang dari 30%.

4. Sempadan Bangunan

Sempadan Bangunan (GSB) adalah jarak yang diperbolehkan mendirikan bangunan dihitung dari as jalan.
Pengaturan garis sempadan dimaksudkan untuk menciptakan keteraturan bangunan dan yang menjadi dasar
pertimbangan rencana garis sempadan bangunan adalah:

 Keterkaitan dengan pengembangan kawasan perencanaan secara terarah dan terencana, yang berkaitan
pula dengan system pergerakan baik dalam skala makro maupun mikro;
 Memberikan daerah bebas pandang bagi pemakai jalan;

VII - 33
 Jaringan jalan yang terkait dengan besarannya serta fungsi dari jalan tersebut yang akan berpengaruh
dengan bangunan yang ada disepanjang jalan.

 Memberikan jarak tertentu terhadap batas pandang manusia yang memakai jalan.

Gambar 7-15 Skematik Garis Sempadan Bangunan Area Perkantoran Gambar 7-16 Skematik Garis Sempadan Bangunan
Pemerintahan Area Komersial – Mix Use
Garis sempadan bangunan ditentukan dari letak bangunan
tersebut terhadap jalan yang ada didepannya:

5. Ketinggian Bangunan

Ketinggian Bangunan aalah titik bangunan maksimum yang


diperbolehkan dihitung dari permukaan tanah, dan apabila
terdapat basement (ruang bawah tanah) maka ruang
tersebut tidak dihitung.
Ketinggian bangunan di kawasan perencanaan adalah
sebagai berikut:
 Pada kawasan padat / strategis, ketinggian bangunan
relatif sedang;
 Pada kawasan dengan kepadatan sedang, ketinggian
bangunan relatif sedang;
 Pada kawasan dengan kepadatan rendah, ketinggian
bangunan relatif pendek. Gambar 7-17 Skematik Ketinggian dan Fungsi Bangunan

11. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM PRASARANA WILAYAH


1. Sistem Jaringan Jalan dan Transportasi
a. Transportasi Darat

VII - 34
 Sistem Jaringan Jalan dan Lalu Lintas Kendaraan
Berdasarkan pola pengembangan fisik tata ruang kota dan perkiraan pertambahan penduduk, maka luas
lahan terbangun di Kota Makassar akan semakin luas. Berdasarkan pertimbangan tersebut diperlukan
adanya rencana jaringan jalan di kota Makassar untuk memperlancar dan meningkatkan aksesibilitas di
seluruh bagian wilayah Makassar serta untuk pemerataan akses, memperpendek waktu dan jarak tempuh.

Pada umumnya sistem jaringan jalan yang ada di Status Jalan


Uraian Kota Propinsi Negara
Jumlah
Kota makassar berpola linier yang menghubungkan (km
A. Jenis Permukaan )
area pusat kota Makassar yang berada di bagian 1. Aspal 1024,14 42,59 1066,73
2. Kerikil 187,22 - 187,22
barat wilayah kota dengan bagian kota lainnya 3. Batu 166,35 - 166,35
4. Lainnya 173,16 - 173,16
yang berada di bagian selatan dan timur wilayah
B. Kondisi Jalan
kota. Dalam wilayah selatan dan timur kota yang 1. Baik 545,9 - 545,9
2. Sedang 536,02 - 536,02
umumnya area permukiman pola jalan 3. Rusak Ringan 394,9 - 394,9
4. Rusak Berat 116,64 - 116,64
menggunakan sistem grid. Panjang jalan menurut C. Kelas Jalan
1. Kelas I 98,59 - 98,59
jenis permukaan, kondisi, kelas dan status jalan 2. Kelas II 53,45 - 53,45
3. Kelas III 479,02 - 479,02
dapat dilihat pada tabel berikut. 4. Kelas III - A - - -
5. Kelas IV - - -
 Jaringan Prasarana 6. Kelas V - - -
7. Tak Terinci 962,46 - 962,46

Fasilitas perlengkapan jalan yang ada saat ini


2003 1593,46 1593,46
adalah rambu lalu-lintas pada jalan nasional TOTAL 2002 1593,46 1593,46
2001 1593,46 1593,46
sebanyak 734 buah, jalan kota sebanyak 3.120 Tabel 7-16 Panjang jalan Menurut Jenis Permukaan, Kondisi, Kelas dan
buah, marka jalan yang sudah terpasang pada Status Jalan

jalan nasional sepanjang 35,703 km, pada jalan kota sepanjang 37,297 km, lampu penerangan jalan
yang sudah terpasang pada jalan nasional sebanyak 1.165 buah, pada jalan kota sebanyak 3.485 buah,
tempat pemberhentian angkutan umum atau halte pada saat ini adalah pada jalan nasional sebanyak
19 buah, sedangkan pada jalan kota sebanyak 51 buah. Fasilitas pejalan kaki yang ada pada saat ini
yang terpasang adalah zebra cross sebanyak 285 buah, jembatan penyebrangan sebanyak 4 buah.
Alat pemberi isyarat lalu lintas (traffic light) adalah pada simpang empat sebanyak 39 unit, simpang tiga
sebanyak 2 unit, penyebrangan jalan sebayak 1 unit pada ruas jalan sebanyak 4 unit. Fasilitas ruang
parkir yang sudah terpasang adalah pada jalan nasional tidak ada, sedangkan pada jalan kota sudah
terpasang sebanyak 385 satuan ruang parkir (SRP).

Jaringan Jalan yang terdapat di kota Makassar saat ini menyimpan beberapa permasalahan penting,
yakni:

1. Sistem jaringan jalan kota Makassar masih berpola KONVENSIONAL;


2. BELUM TERBENTUKNYA sistim jaringan jalan terpadu yang terkoneksi satu sama lain sesuai sistim
hirarki jaringan jalan;
3. Luas cakupan wilayah pelayanan jaringan jalan belum terencana dengan baik sesuai dengan fungsi,
jenis dan kapasitas jaringan jalan;
4. Kemacetan permanen di ruas jalan tertentu (Bawakaraeng, Perintis Kemerdekaan, dan Ir. Sutami)
disebabkan karena volume jalan yang sudah TIDAK MAMPU menampung volume kendaraan;
5. Pembangunan jalan setelah kawasan ruang sudah berkembang menjadi penyebab utama
rendahnya kualitas jaringan jalan kota;
6. Strategi dan manajemen tanah untuk jaringan jalan yang buruk menyebabkan banyak jaringan jalan
yang terputus.

VII - 35
 Analisis Kebutuhan Jaringan Prasarana

1. Kebutuhan rambu lalu lintas di masa yang akan datang adalah rambu lalu lintas pada jalan
nasional sebanyak 1.087 buah, jalan kota sebanyak 2.667 buah;

2. Kebutuhan marka jalan di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional sepanjang 43,631
km, pada jalan kota sepanjang 151,781 km;

3. Kebutuhan lampu penerangan jalan di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional
sebanyak 1.865 buah, pada jalan kota sebanyak 4.150 buah, kebutuhan tempat pemberhentian
angkutan umum atau halte di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional sebanyak 30
buah, sedangkan pada jalan kota sebanyak 63 buah;

4. Kebutuhan fasilitas pejalan kaki di masa yang akan datang adalah zebra cross sebanyak 415
buah, jembatan penyebrangan sebanyak 8 buah;

5. Kebutuhan alat pemberi isyarat lalu lintas (traffic light) dimasa yang akan datang adalah pada
simpang empat sebanyak 4 unit dan pada ruans jalan sebanyak 4 unit;

6. Kebutuhan fasilitas ruang parkir di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional 500 SRP,
sedangkan pada jalan kota sudah terpasang sebanyak 2.500 satuan ruang parkir (SRP);

7. Kebutuhan Jalan Lingkar untuk rencana pengembangan prasarana transportasi darat dalam 10
tahun mendatang akan dibangun sepanjang 17 km.

8. Kebutuhan trotoar jalan di masa yang akan datang pada jalan nasional sepanjang 39,34 km, jalan
kota sepanjang 40,54 km.

Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Jaringan Jalan dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut:

1. Pengadaan sistim dan jenis jaringan jalan modern seperti:


 Jalan tol;
 Jalan By Pass;
 Ring Road;
 Monorail.

2. Menata kembali sistim jaringan jalan, jalan terpadu kota Makassar sesuai dengan hirarkinya;

3. Pengadaan sistim jaringan pada koridor sungai Tallo dan Je’neberang sebagai usaha
menyeimbangkan kebutuhan sistim jaringan jalan arah Timur-Barat;

4. Pembuatan jalan baru pada kawasan ruang kota rencana sebelum pengisian fungsi ruang tersebut
dilaksanakan;

5. Pembuatan “JALAN LINGKAR KAWASAN” setiap kawasan ruang kota sebagai bingkai kawasan
(frame);

6. Penataan sistem dan manajemen pembebasan lahan untuk jalan.

 Lalu Lintas Kendaraan


Sesuai dengan pola perkembangan fisik kota, kepadatan lalu lintas di Kota Makassar cenderung
terkonsentrasi pada ruas-ruas jalan utama di sekitar pusat kota dimana beban yang cukup tinggi pada
jam puncak (awal dan akhir jam kerja) mengakibatkan kemacetan.
Dari kondisi yang ada terdapat beberapa potensi dan permasalahan jaringan transportasi kota
Makassar, antara lain :

VII - 36
1. Kepadatan lalu lintas terjadi pada jalan-jalan poros utama dan jalan-jalan alternatif antar kawasan
dalam kota yang menghubungkan area pusat kota dengan kawasan-kawasan permukiman utama di
Makassar;
2. Jalan utama dianggap terlalu jauh memutar sehingga orang memilih jalur alternatif yang relatif
sempit yang akhirnya menyebabkan kemacetan;
3. Jaringan jalan di pusat kota rawan terhadap kemacetan karena pola parkir belum memadai dan
kurangnya sistem manajemen transportasi yang tegas dalam mengatur pergerakan moda
transportasi lalu lintas sehingga masih ada moda angkutan berat yang memasuki area pusat kota
pada jam sibuk serta banyak angkutan kota yang mangkal membentuk ”TERMINAL BAYANGAN”;
4. Penataan MANAJEMEN JALUR belum memenuhi kebutuhan optimum dari masing-masing
kepentingan kawasan menyebabkan ketidakseimbangan volume lalu lintas;
5. Sistem TRAFFIC yang belum terintegrasi baik antar jalur pejalan kaki - becak - motor - mobil - bus -
truk – monorail;
6. Adanya ketimpangan mendasar dari hirarki pergerakan transportasi kota barat - timur (bisnis &
pekerjaan) dan transportasi utara – selatan (bisnis & perdagangan).

Untuk itu, dalam analisis kebutuhan Lalu Lintas Kendaraan dibutuhkan USAHA yaitu mendesain
SISTEM TRAFFIC TERPADU sesuai dengan konsep dan kebutuhan 13 ruang kota & 12 kawasan
strategis.
 Streetscape

Elemen ini merupakan bagian yang penting dalam menunjang kenyamanan pengguna jalan terutama
bagi pejalan kaki. Minat masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan dan mulai aktif
berjalan kaki dapat dimulai dari penataan streetscape yang menarik. Beberapa identifikasi
permasalahannya di Makassar yaitu:

1. Penataan “streetscape” (trotoar, hutan kota, curb, drainase, signage, outdoor lighting, utilitas) kota
Makassar belum tertata baik;
2. Tidak adanya desain prototype yang baku tentang “streetscape” menyebabkan tidak seragamnya
ketinggian bahu jalan yang umumnya lebih tinggi dari badan jalan berakibat tidak mengalirnya air
hujan ke drainase sehingga terjadi genangan air yang mengganggu lalu lintas
3. Kualitas desain STREETSCAPE yang sangat konvensional;
4. Streetscape adalah “Frame Kota” kualitas streetscape menentukan kualitas estetika kota. Kualitas
kota modern dan kota konvensional adalah terletak pada kualitas streetscape;

5. Penataan streetscape yang tidak baik akan mengundang ekspansi pedagang kaki lima.

Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Streetscape dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut:

1. Mendesain sistim jaringan STREETSCAPE yang terintegrasi baik;


2. Menetapkan standar desain prototype streetscape sesuai dengan “Tema “ masing-masing fungsi
kawasan dengan kekhasan Kota Makassar;
3. Menetapkan standar komposisi prosentasi hijau kota minimal 47% pada semua kawasan ruang kota
untuk mewujudkan konsep GARDEN CITY/GREEN CITY.
 Jembatan

Elemen ini menjadi vital bagi kota Makassar, karena anatominya yang dilalui oleh dua buah sungai,
yaitu Sungai Jene’berang dan Sungai Tallo. Beberapa hasil identifikasi permasalahannya adalah :

VII - 37
1. BELUM ADANYA analisa rencana kebutuhan jembatan untuk kota Makassar terkhusus 2 sungai
besar (Je’neberang dan Tallo)
2. KETERGANTUNGAN kota Makassar terhadap dua jembatan Sungai Tallo dan dua jembatan Sungai
Je’neberang yang sangat tinggi menimbulkan “kerawanan” sistim transportasi kota

Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Jembatan dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut:
1. Sungai Tallo membutuhkan idealnya 7 JEMBATAN (termasuk 2 jembatan yang ada)
2. Sungai Je’neberang membutuhkan idealnya 6 JEMBATAN (termasuk 2 jembatan yang ada).

Tabel 7-17 Survey Volume Lalu Lintas Pada Beberapa Jalur Utama Pada Waktu Puncak Di Kota Makassar

Jumlah Moda per Jam


No. Nama Jalan
Mobil Motor Angkot Taksi Truk Bus Becak Gerobak Sepeda

1. Jl. Perintis Kemerdekaan 1326 5695 1095 104 84 7 24 4 29

2. Jl. Sultan Alauddin 1306 4173 1293 136 409 32 238 1 570

3. Jl. Rappocini 440 1516 5 53 66 0 192 2 97

4. Jl. Abd. Dg. Sirua 816 2804 634 84 153 1 2 1 10

5. Jl. A. Yani 1090 1836 654 - 5 2 22 1 31

6. Jl. Veteran Selatan 843 2363 7 112 117 0 244 7 143

Sumber: Hasil Survey, 2005

 Sistem Jalur Angkutan Umum Dan Terminal


Moda transportasi umum di Kota Makassar sebagian besar dilayani oleh Angkutan Kota “pete-pete”
(kendaraan minibus), selain beberapa bis kota DAMRI dan taksi. Untuk jarak dekat sampai menengah
masyarakat menggunakan moda transportasi umum ojek, becak motor, dan becak. Angkutan umum
yang ada terdiri dari 16 trayek yang melayani angkutan ke wilayah-wilayah di Kota Makassar.
Untuk pengangkutan barang menggunakan kendaraan berupa truk dan mobil pick-up yang merupakan
mobil khusus angkutan barang. Sedangkan untuk lokasi terminal Kota Makassar ada dua terminal
angkutan kota yang bewrfungsi, yaitu:
1. Terminal Regional Daya yang berlokasi di area Pusat Niaga Daya (Jalur utama Jl. Perintis
Kemerdekaan)
2. Terminal Malengkeri yang berlokasi di Jl. Dg. Tata. (Jalur utama Jl. S. Alauddin)

VII - 38
Gambar 7-18 Salah Satu Jalur Trayek Angkutan Umum di Kota Makassar

 Sistem Jalur Angkutan Umum


Berikut ini asumsi-asumsi yang digunakan dalam menganalisis permasalahan angkutan umum :

1. Dari kondisi tidak tertata baiknya wilayah pelayanan moda transportasi darat menjadi salah satu
penyebab terjadinya kesemrawutan sistim transportasi di Makassar;
2. Belum tersedianya fasilitas transportasi massa dalam kota, yang menyebabkan beban transportasi
kota semakin berat;
3. Karakter pola pergerakan “pete-pete” dan volume yang tidak terkendali salah satu penyebab utama
kemacetan lalu lintas di Makassar;

4. Kecepatan, pola pergerakan, dan ketidakdisiplinan “Becak” juga menjadi PENYEBAB UTAMA
kesemrawutan lalu lintas dalam kota.

Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Jalur Angkutan Umum diperlukan USAHA-USAHA sebagai
berikut:

1. Mengkaji kembali pilihan teknologi transportasi angkutan umum dan pilihan terhadap kebutuhan
pelayanan kepada masyarakat memerlukan pertimbangan kebijakan sosial tersendiri. Keterlambatan
menciptakan sistem pelayanan angkutan umum saat ini, telah banyak mendorong masyarakat untuk
mengatasi persoalannya sendiri dengan caranya masing-masing. Tingginya penggunaan angkutan
pribadi dan munculnya fenomena moda (alat angkut) yang tidak terencana, seperti ojek, becak
motor, menunjukkan kegagalan sistem perencanaan di tingkat makro, meso, maupun mikro.
khususnya pada aspek koordinasi perencanaan dan implementasi di lapangan.

Pengadaan moda transportasi massa yang dibutuhkan Kota Makassar, sebagai berikut:

o Monorail;
o Bus Kota;
o Bus Sekolah;
o Bus Kampus.

VII - 39
Tabel 7-18 Jumlah Sarana Angkutan (Umum & Pribadi) Tahun 2004

No Jenis Kendaraan 2002 2003 2004


(unit) (unit) (unit)
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Sepeda Motor 203.601 316.864 449.947
2. Mobil Penumpang 19.578 20.281 21.009
3. Mobil Barang 19.105 20.212 21.383
4. Mobil Bus
• Umum
Bus Besar 674 761 859
Bus Sedang 16.426 16.648 16.873
Bus Kecil 12.536 12.704 12.874
• Bukan Umum 306 164 391
5. Kendaraan Khusus 103 164 261
6. Mobil Penumpang Umum 13.136 13.286 13.438
7. Kendaraan Roda Tiga 16.000 16.000 16.000
Jumlah 301.465 417.084 553.035

Sumber: Lantas Polwiltabes Kota Makassar, 2004

Dalam analisis ini dikemukakan bahwa untuk mere-evaluasi semua permasalahan mendasar dari
pola transportasi darat, salah satu yang diusulkan adalah bagaimana Menata Kembali HIRARKI
MODA TRANSPORTASI KOTA yang dimulai dari:

o Becak Untuk dan kepentingan jalur antar blok/kavling;


o Ojek Untuk dan kepentingan jalur antar sub-sub kawasan/kavling;
o Pete-Pete (Angkot) Untuk dan kepentingan jalur antar sub kawasan;
o Bus Kota Untuk dan kepentingan jalur antar kawasan;
o Bus Sekolah Untuk dan kepentingan jalur antar sekolah dan pemukiman;
o Bus Kampus Untuk dan kepentingan jalur antar kampus dan pemukiman;
o Monorail Untuk dan kepentingan jalur antar pusat-pusat kawasan;
o Taxi Untuk dan kepentingan jalur antar pusat-pusat kawasan;
o Bus Wisata Untuk dan kepentingan jalur seluruh wilayah kota.

Disamping pembatasan volume jenis moda transportasi sesuai dengan besar wilayah pelayanannya
dan pengendalian motor dan mobil pribadi pada limitasi tertentu sesuai dengan kemampuan sistim
transportasi kota Makassar.

Dalam melakukan analisis perencanaan terhadap sistem angkutan umum pada wilayah Kota
Makassar, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Kota Makassar, antara lain:
1. Perlunya memiliki data base sistem transportasi yang meliputi sistem jaringan jalan dan sistem
angkutan umum;
2. Kompilasi data mengenai perilaku pengguna angkutan umum terhadap adanya perubahan tarif
dan tingkat pendapatan;
3. Beban angkutan umum tiap route/jalur angkutan umum maupun tiap ruas jalan yang dilalui
angkutan umum;
4. Usulan-usulan route untuk angkutan umum yang didasarkan pada kecenderungan perjalanan
(desire line) penduduk bias; dan
5. Pemodelan system angkutan umum dapat dibentuk dengan menggunakan masukan data system
angkutan umum, data pola perjalanan penduduk serta data preferensi pengguna angkutan umum
terhadap perubahan tariff serta tingkat pendapatan

VII - 40
 Terminal dan Halte

Berikut ini asumsi-asumsi yang digunakan dalam menganalisis permasalahan terminal dan halte:

1. Sistem persinggahan transportasi mulai dari halte - terminal pembantu – terminal induk, BELUM
SESUAI dengan kebutuhan KAWASAN RUANG KOTA;
2. Kuantitas & kualitas halte & terminal yang tidak artistik dan memadai dalam standar keamanan &
kenyamanan;
3. TIDAK TERKONEKSINYA secara baik halte dengan jaringan pedestrian dari pusat-pusat kegiatan
kota.

Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Terminal dan Halte dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut:

1. Menata kembali sistem persinggahan transportasi secara makro sesuai dengan jenis, tuntutan dan
karakter “KAWASAN KOTA” yang dilayani;
2. Menata kembali sistem interkoneksitas antar “Pusat Kegiatan” - Pedestrian Street dan Halte yang
sesuai dengan karakter wilayah pelayanannya;
3. Mendesain Konsep Baru halte yang sesuai dengan standar Kota Internasional.
b. Transportasi Laut

1. Sarana Pelabuhan di Makassar

Berdasarkan catatan sejarah, sudah sejak lama Kota Makassar menjadi kota pelabuhan dan bandar
transit untuk berbagai jenis komoditas dagang, baik dari dan ke wilayah Timur Indonesia, maupun dari
dan ke wilayah Barat Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Dengan demikian transportasi laut juga
menjadi salah satu penunjang utama pergerakan kedalam dan keluar Makassar untuk lalu lintas barang
dan penumpang.
Jenis pelayaran yang dilayani di Pelabuhan Makassar adalah Pelayaran Samudera, Pelayaran Nusantara
dan Pelayaran Rakyat. Selain mengangkut penumpang ke berbagai tujuan di perairan Nusantara, jenis
lalu lintas barang yang diakomodir di Pelabuhan Makassar adalah dalam bentuk:
(a) Curah;
(b) Container;
(c) General Cargo;
(d) Bulk Cargo.

Di Kota Makassar terdapat beberapa pelabuhan yang dikelola pemerintah daerah dan pelabuhan
penyeberangan. Pelabuhan besar terdapat di sisi barat laut kota Makassar, sementara pelabuhan-
pelabuhan yang lebih kecil terletak di sisi pantai utara. Pelabuhan yang ada di Makassar yaitu :

(a) Pelabuhan Sukarno – Hatta, merupakan pelabuhan laut utama, melayani lalu lintas penumpang, peti
kemas, barang, dan juga logistik dan bahan baku dalam bentuk cargo maupun curah;
(b) Pelabuhan perikanan Paotere, merupakan pelabuhan perikanan utama, terletak di kawasan pantai
utara kota Makassar dan menjadi salah satu obyek wisata perahu tradisional Phinisi;
(c) Pelabuhan Lantamal TNI AL, terletak di sisi pantai utara kota Makassar;
(d) Pelabuhan Perikanan Nusantara, yang sementara dikembangkan di daerah Untia, dekat perbatasan
Makassar – Maros;
(e) Pelabuhan penyeberangan, terletak di sisi pantai barat Makassar di kawasan Benteng Fort
Rotterdam. Merupakan pelabuhan rakyat untuk penyeberangan dari Makassar ke pulau-pulau
Spermonde.
Sebagai bandar transit modern, Pelabuhan Sukarno Hatta memiliki prospek yang menjanjikan.
Pengembangannya sebagai terminal peti kemas semakin meningkatkan kemampuannya. Proyeksi

VII - 41
statistik arus barang dan arus kapal dengan kemampuan tahun 2030 adalah:

 Proyeksi Arus Kapal (2030) = 19.785 Call

Gambar 7-19 Proyeksi Arus Kapal (2007-2030)

 Proyeksi Arus Barang (2030) = 25.817.636 ton

Gambar 7-20 Proyeksi Arus Barang (2007-2030)

 Proyeksi Arus Penumpang (2030) = 3.520.910 Orang.

Gambar 7-21 Proyeksi Arus Penumpang (2007-2030)

Merupakan Inlet sekaligus Outlet (Kran) yang sangat strategis bagi perkembangan perekonomian Kota
Makassar yang akan dikembangkan menjadi PELABUHAN LAUT INTERNASIONAL.

2. Jaringan Transportasi Laut – Sungai – Pulau

(a) Pengadaan sistim jaringan transportasi Sungai Je’neberang – Pesisir Makassar – Pulau – Sungai
Tallo sebagai pilihan alternatif yang menarik bagi sistim transportasi Kota Makassar;

(b) Berfungsi sebagai jaringan transportasi laut untuk bisnis, jasa dan pariwisata.

VII - 42
3. Terminal, dermaga dan marina sepanjang pesisir Pantai Makassar dalam analisisnya dibutuhkan:

(a) Sungai Je’neberang


 Kawasan Cultural City – terminal dermaga wisata

(b) Pesisir Pantai Makassar


 Barombong - terminal dan dermaga Water Sport Venues;
 Tanjung Bunga – dermaga Water Sport Tourism;
 CBD “Global” – terminal, dermaga & marina internasional (pribadi);
 Pantai Losari – terminal & dermaga transportasi laut – pulau – sungai kota serta marina kota;
 Muara Sungai Tallo – dermaga jaringan pipa untuk bahan bakar & gas;
 Pantai Kuri – terminal dan dermaga nelayan serta marina nelayan.

(c) Sungai Tallo


 Lakkang – terminal & dermaga jasa, bisnis serta wisata;
 Kampus – terminal & dermaga jasa serta bisnis wisata;
 Baruga – terminal & dermaga jasa serta bisnis wisata.

(d) Traffic laut

Untuk itu dibutuhkan pengaturan yang jelas dan teratur antara:

1. Jalur dan ruang tangkapan nelayan;


2. Water sport;
3. Jalur wisata bahari;
4. Jalur perhubungan laut;
5. Area berlabuh kapal.

c. Transportasi Udara

Sebagai pusat dari Kawasan Timur Indonesia maka transportasi udara menjadi sarana angkutan utama dari
dan menuju kawasan Barat Indonesia maupun wilayah Indonesia Timur. Untuk sarana angkutan udara saat
ini Kota Makassar memiliki satu buah bandar udara yaitu Bandar Udara Hasanuddin yang berstatus sebagai
Bandara Internasional. Secara umum Bandara Hasanuddin tergolong sebagai bandara jelas IA yang melayani
penerbangan nasional maupun internasional dengan luas 197 hektar dan elevasi 14 m diatas permukaan
laut. Jarak dari Kota Makassar adalah 22 km, dan area bandara termasuk dalam wilayah Kabupaten Maros.
Saat ini Bandara Hasanuddin memiliki satu runway sepanjang 2.500 meter dengan lebar 45 meter.
Pengembangan berikutnya diproyeksikan untuk memperpanjang runway menjadi 3.500 meter agar dapat
didarati pesawat-pesawat berbadan lebar. Sekarang jenis pesawat yang dapat mendarat adalah sekelas MD-
11, DC 10, B737, DC 9 dan F-100.

Rute penerbangan domestik melalui Bandara Hasanuddin antara lain menghubungkan Makassar dengan
kota-kota utama di Pulau Jawa dan Kalimantan serta Sumatera (Medan dan Palembang), Bali, ibukota
propinsi-propinsi di Pulau Sulawesi, dan kota-kota besar di selatan dan timur Sulawesi. Sedangkan rute yang
dilayani untuk penerbangan internasional adalah Malaysia, Filipina, Singapura, dan penerbangan haji ke Arab
Saudi. Namun saat ini jalur internasional yang dilayani hanya penerbangan haji ke Arab Saudi, sementara
untuk jalur lain sementara dirintis kembali.

VII - 43
Gambar 7-.22 Denah Layout Bandara Hasanuddin

12. RENCANA Penyediaan FASILITAS UMUM DAN SOSIAL

Fasilitas umum dan sosial berfungsi sebagai salah satu aspek penunjang terselenggara dan berkembang
kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, perencanaan fasilitas umum dan sosial
merupakan salah satu aspek penting dalam proses perencanaan di kawasan perencanaan. Secara umum
konsep dan strategi perencanaan fasilitas umum dan sosial yang dilakukan adaian sebagai berikut:

1. Fasilitas umum dan sosial yang direncanakan meliputi kelompok fasilitas perniagaan, pendidikan, kesehatan,
peribadatan, pemerintahan dan pelayanan umum, serta berbagai bentuk ruang terbuka;
2. Jenis, jumlah, alokasi dan distribusi fasilitas yang direncanakan untuk masing-masing kelompok fasilitas
tersebut disesuaikan dengan standar kebutuhan minimal, jumlah penduduk pendukung minimum dan
jangkauan pelayanan;
3. Rencana distribusi fasilitas umum dan sosia! dikaitkan dengan rencana sistem hirarki kelompok hunian
(Konsep neighbourhood units). Dalam sistem ini, masing-masing fasilitas umum dan sosial tersebut berfungsi
sebagai unsur pengikat datam suatu hirarki kelompok hunian:

o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki sub blok diantaranya berupa taman/lapangan bermain dengan
skala pelayanan sub blok;
o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki blok dapat berupa taman/ lapangan bermain dengan skaia
pelayanan blok, sekolah dasar, musholla, GSG/ balai warga atau klinik /posyandu / balai pengobatan;
o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki sub lingkungan dapat berupa taman/lapangan bermain dengan
skala pelayanan sub lingkungan Masjid, SLIP dan pertokoan sub lingkungan;
o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki lingkungan dapat berupa fasilitas SMU, masjid, gereja, pasar,
puskesmas, BKIA, kantor kelurahan, kantor pos pembantu, pos polisi, pos pemadam kebakaran, serta
fasilitas perdagangan lingkungan.

4. Fasilitas umum dan sosial direncanakan dibangun secara berkelompok pada suatu lokasi berdasarkan sistem
pusat-pusat pelayanan lingkungan. Lokasi pembangunan pusat pelayanan merupakan lokasi yang mudah
dijangkau oleh seluruh bagian yang menjadi wilayah pelayanan;
5. Perencanaan memperhatikan kondisi fasilitas umum and sosial eksisiting. Fasilitas eksisting harus dapat
dimanfaatkan secara optimal selama berada pada lokasi yang sesuai dengan peruntukannya. Proses
optimalisasi diwujudkan memaluli perbaikan, menambah perlengkapan, maupun penambahan alokasi lahan
sehingga sesuai dengan skala pelayanan;

VII - 44
6. Perencanaan memperhatikan kondisi fasilitas umum dan sosial eksisting. Fasilitas eksisting harus dapat
dimanfaatkan secara optimal selama pada loksai yang sesuai dengan peruntukannya. Proses optimalisasi
diwujudkan melalui perbaikan, menambgah perlengkapan, maupun penambahan alokasi lahan sehingga
sesuai dengan skala pelayanan;
7. Berkaitan dengan efisiensi pemanfaatan ruang dan optimalisasi penggunaannya, maka pemabgunan fasilitas
umum dan sosial dapat dilakukan melalui:
o Pembangunan secara vertikal (bertingkat);
o Pemanfaatan berdasarkan sistim shift, misalnya pemanfaatan suatu komplek bangunan sekolah untuk
sekolah pagi dan sekolah siang;
o Pemanfaatan berdasarkan sistim multifungsi, misalnya bangunan GSG yang dapat difungsikan sebagai
balai pertemuan warga, tempat penyelenggaraan acara-acara kesenian, olahraga dan kegiatan
kemasyarakatan lainnya;
o Memiliki kedudukan rangkap, misalnya ruang terbuka hijau dengan skala pelayanan blok uang sekaligus
merupakan ruang terbuka hijau dengan skala pelayanan sub blok.

13. RENCANA Pengelolaan AIR BERSIH

Rencana Pemanfaatan Ruang sistem Air Bersih Kota Makassar dapat dibagi dalam dua (2) sistem pelayanan air
bersih. Ditinjau dari wilayah (zona) Kota Lama dan Kawasan Pengembangan serta lokasi Instalasi Pengelolaan
Air (IPA) yang akan dimanfaatkan.

Penggunaan air bersih di kota Makassar selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan
tersebut dalam tiap tahunnya jika dipersentasekan mencapai 2,1% dari volume air yang disalurkan atau sekitar
92.4770 m3. Dan diestimasi pada tahun 2030 tingkat volume kebutuhan air bersih kota Makassar dapat mencapai
52.141.655,43 m3.

Gambar 7-23 Volume Penggunaan Air Bersih Kota Makassar

Pelayanan air bersih kota Makassar direncanakan mencapai 90 % sampai akhir tahun perencanaan dengan
prioritas permukiman dengan kepadatan tinggi serta kawasan komersial serta fasilitas umum dan sosial lainnya.
Proyeksi kebutuhan air bersih kota Makassar sampai akhir tahun 2030 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kebutuhan air bersih diatas dapat dilayani melalui peningkatan instalasi pengolahan air (IPA) yang ada serta IPA
baru terlebih dahulu dilakukan studi khusus potensi sumber air baku yang dapat dijadikan sebagai penyediaan air
bersih serta pengembangan IPA.

VII - 45
14. RENCANA PENGELOLAAN AIR LIMBAH

 Tujuan Pengembangan

Pengembangan jaringan air kotor / limbah domestik ditujukan untuk mengendalikan dan menanggulangi
pencemaran akibat pembuangan air kotor / limbah cair rumah tangga melalui pengelolaan secara terpadu,
serta non domestik diolah secara khusus melalui IPAL masing-masing industri sesuai dengan karakteristik
industrinya.

 Rencana Pengembangan

Rencana pemanfaatan ruang sistem pengelolaan air limbah Kota Makassar meliputi :

a. Pengelolaan air limbah domestik

1) Pengelolaan Limbah Cair Sistem Setempat (On Site Sanitation)

o Pengelolaan Limbah Cair Sistem Setempat (On Site Sanitation);

o Diterapkan pada kawasan dengan kepadatan relatif rendah, menggunakan tangki septik dan
peresapan. Hingga tahun 2030 pengguanan tangki septik dan peresapan direncanakan mencapai
80 % dari total penduduk pada kawasan kepadatan rendah.

o Diterapkan pada kawasan permukiman di atas air di pesisir pantai, dengan menggunakan sistem
tangki septik terapung yang sesuai dengan standard untuk pengaruh pasang surut air laut. Hingga
tahun 2030 penggunaan tangki septik terapung direncanakan mencapai 90 % dari total penduduk
pada kawasan rumah diatas air kepadatan rendah;

o Penyediaan prasarana jamban jamak / MCK pda kawasan permukiman kumuh dan berpenghasilan
relatif rendah, dengan kriteria 1 unit jamban jamak / MCK melayani 5 KK.

2) Pengelolaan Limbah Cair Sistem Terpusat (Off Site Sanitation)

o Diterapkan pada kawasan permukiman perkotaan atau kawasan dengan kepadatan penduduk yang
relatif tinggi dengan menggunakan tangki septik komunal. Hingga tahun 2030 pengelolaan limbah
domestik direncanakan mencapai 80 % dari total limbah cair perkotaan;

o Diterapkan pada permukiman di atas air dengan septic tank terapung komunal yang sesuai dengan
standard teknis untuk pasang surut air laut. Hingga tahun 2030 pengelolaan limbah domestik
direncanakan mencapai 90 % dari total penduduk kawasan permukiman diatas air kepadatan tinggi;

o Kriteria kebutuhan prasarana air limbah dengan tangki septik komunal adalah 1 unit tangki septik
komunal melayani 10 – 15 KK;

o Untuk kawasan strategis dan kawasan pengembangan baru, pengelolaan limbah memakai sistem
assainering (terpusat menggunakan riol-riol).

Kriteria perencanaan kebutuhan untuk penggunaan sistem assainering, meliputi:

o Topografi lahan mencukupi kelandaiannya karena aliran menggunakan riol;

o Pengaliran air limbah dari rumah tangga menuju riol menggunakan sistem;

o Ukuran riol minimum 200 mm, sambungan pipa rapat air, setiap pergantian;

o Pada saat tertentu dilakukan penggelontoran air sehingga limbah yang mengendap atau masih
tertinggal dapat mengalir ke tangki penampungan;

VII - 46
o Air limbah dari riol dialirkan ke bak penampungan dengan kapasitas sesuai kebutuhan;

o Bak penampungan harus melalui sistem pengolahan yang memenuhi standar yang berlaku atau
diambil dan dibawa ke IPLT untuk diolah.

Limbah Cair dari


Kawasan

Pipa

Pipa
Riol
Tangki
Penampungan

Gambar 7-24. Skema Pengolahan Limbah Sistem Assainering

3) Pembuangan air limbah rumah tangga lain (cuci, mandi) masih dapat dibuang ke saluran drainase
yang ada mengingat limbah yang terkandung belum begitu besar dan dapat diuraikan.

Institusi untuk menangani pengelolaan air limbah secara terpadu di Kota Makassar dilakukan oleh
Dinas Lisda dan Dinas Kesehatan.

4) Pengelolaan air limbah non domestik

o Pengelolaan Limbah Cair Non Domestik direncanakan agar masing-masing industri yang ada di
kota Makassar harus memiliki IPAL untuk mengolah limbah-limbah yang dihasilkan sesuai dengan
karakteristiknya;

o Perancangan peraturan yang mengatur serta mengelola air limbah dalam bentuk produk hukum dan
peraturan.

15. RENCANA PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

 Tujuan Pengembangan

Mengelola persampahan Kota Makassar secara terkoordinir dan terpadu dengan upaya efisiensi lahan dan
pemanfaatan sisa sampah yang berguna untuk rehabilitasi kesuburan tanah.

 Rencana Pengembangan

Rencana pemanfaatan ruang sistem pengelolaan persampahan kota Makassar meliputi :

a. Teknis Pengelolaan

Teknis pengelolaan sampah dilakukan dengan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang jelas dimana badan
pengelola persampahan dilakukan oleh institusi yang mempunyai daerah atau wilayah yang jelas, yaitu:

o Dinas Keindahan, bertugas untuk operasi kebersihan di wilayah kota yang dipandang sebagai wajah
kota, yaitu jalan-jalan utama perkotaan dan pengangkutan sampah pemukiman dan pertokoan ke TPA;

o Dinas Pasar, bertanggung jawab menangani kebersihan wilayah pasar dan pertokoan sekitarnya.

o Organisasi Masyarakat dan Swasta;

o Operasi kebersihan lingkungan dapat dikelola oleh lembaga masyarakat yang bermitra dengan institusi
pengelola. Sedangkan peran serta swasta dapat menangani kawasan pemukiman baru dan kawasan
serta turut dalam kegiatan pengangkutan, pemindahan atau pembuangan akhir.

VII - 47
b. Teknis Operasional

Teknis operasional penanganan sampah dilakukan secara terpadu melalui perwadahan, pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan akhir sampah.

o Pada lokasi pelayanan teratur berpenghasilan menengah ke atas yang berlokasi pada jalan-jalan
utama kota, teknis operasional dilakukan dengan ”Pola Individual Langsung (door to door)”.

Gambar 7-.25 Skema Penanganan Sampah Pola Individual Langsung

o Pada daerah pelayanan teratur seperti pertokoan, perkantoran dan pada lokasi lahan yang relatif datar,
teknis operasional dilakukan dengan ”Pola Pengumpulan Individual Tidak Langsung”.

Gambar 7-26 Skema Penanganan Sampah Pola Individual Tidak Langsung

o Pada daerah-daerah padat, kumuh dan kurang teratur dengan penghasilan rendah, teknis operasional
dilakukan dengan ”Pola Pengumpulan Komunal Langsung”.

Gambar 7-27 Skema Penanganan Sampah Pola Pengumpulan Komunal Langsung


o Pada daerah-daerah pelayanan yang teratur dengan jalan-jalan yang cukup lebar, relatif datar dan
mudah dilalui oleh gerobak sampah dan armada pengangkut sampah, teknis operasional dilakukan
dengan ”Pola Pengumpulan Komunal Tidak Langsung”.

Gambar 7-28 Skema Penanganan Sampah Pola Pengumpulan Komunal Tidak Langsung

VII - 48
c. Peran Serta Masyarakat dan Swasta

Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan persampahan kawasan, dilakukan
melalui :
o Penyuluhan akan arti pentingnya kebersihan lingkungan;
o Membentuk mitra kerja dengan masyarakat sebagai partner di lapangan dan jenis kegiatan yang dapat
dilakukan atau diserahkan kepada masyarakat;
o Perlakuan hukum dengan sosialisasi peraturan terlebih dahulu.
o Membentuk mitra kerja dengan swasta melalui :
1. Turut dalam kegiatan pengangkutan, pemindahan (transfer depo) atau pembuangan akhir;
2. Turut dalam penanganan suatu kawasan pemukiman baru dan kawasan strategis.

d. Peraturan

Pengelolaan persampahan didukung oleh peraturan yang melibatkan wewenang dan tanggung jawab
pengelola serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan.

e. Sistem Pembuangan Akhir Sampah dan Pengolahannya

Pengelolaan sampah Kota Makassar hingga tahun 2013 direncanakan menangani 70% total sampah
domestik dan non domestik, dengan prioritas pelayanan pada wilayah dengan kepadatan penduduk lebih
dari 50 jiwa/Ha.

Gambar 7-29 Gambar Teknis Sistem Operasional Pembuangan Akhir dan Pengolahannya

VII - 49
Dengan asumsi bahwa timbulan sampah adalah 2,5 liter/orang/hari, dengan komposisi sampah domestik
adalah 75% dan sampah non domestik 25% maka TIMBULAN SAMPAH KOTA MAKASSAR sampai
dengan tahun 2030 adalah sebagai berikut:

Tabel 7-19 Timbulan Sampah Kota Makassar (m3/hari)

No. Konsentrasi Kawasan Jumlah

1. Permukiman 821

2. Komersial 276

3. Industri 477

4. Perkantoran 43

5. Lainnya (jalan, dll) 75

Total 1692

Sumber: Hasil survey Tim Studi Jica, 2005

Dari hasil Survey Tim Studi JICA menyebutkan bahwa limbah organik merupakan limbah yang paling
banyak diproduksi oleh masyarakat. Dimana sebagian besar diantaranya berasal dari limbah rumah tangga
dan pasar (±65%). Dengan kandungan air pada limbah secara rata-rata mencapai sekitar 70-80%.
Kepadatan curah limbah rumah tangga menunjukkan angka yang lebih tinggi (0,35 kg/l) jika dibandingkan
dengan survei tahun 1996 (0,23 kg/l).

Jumlah limbah padat yang timbul di wilayah Makassar DIPROYEKSIKAN berdasarkan kerangka sosial
untuk limbah rumah tangga dan kerangka ekonomi untuk limbah industri dan komersial sebagai berikut
(sumber tim studi Jica):

 Tahun 2005 = 1676 m3/hari

 Tahun 2010 = 2023 m3/hari

 Tahun 2020 = 2753 m3/hari

 Tahun 2030 = 4758 m3/hari

Sementara itu bila dilihat dari kondisi saat ini dari TAMANGAPA yang juga merupakan tempat pembuangan
akhir sampah Kota Makassar kondisinya cukup memprihatinkan, hal ini ditunjukkan dari kondisi air bawah
tanah telah terkontaminasi oleh infiltrasi kandungan air sampah yang tinggi. Diperkirakan untuk beberapa
tahun kedepan daya tampung TPA ini sudah tidak memungkinkan lagi sehingga dibutuhkan LOKASI-
LOKASI BARU sebagai tempat pembuangan sampah akhir Kota Makassar.

Namun demikian dalam perencanaan lokasi TPA baru diperlukan adanya studi kelayakan terhadap lokasi
tersebut. Kelayakan lokasi tersebut dapat dilihat terhadap:
 Kesesuaian terhadap tata guna tanah atau rencana penggunaan lahan;
 Tinjauan dari segi geologi lingkungan (daerah banjir, tipe material lepas, ketebalan material lepas, tipe
batuan dasar, jarak sumber air yang potensial, topografi, tersedianya tanah urug, daerah bencana
alam);
 Tinjauan terhadap sosial budaya masyarakat sekitarnya;
 Kemungkinan sebagai zona perlindungan tanaman dan satwa;
 Daerah situs purbakala;
 Daerah dekat dengan tempat rekreasi;
 Lokasi dekat dengan pemukiman padat.

VII - 50
Sedangkan kriteria PEMBANGUNAN TPA BARU adalah:
 Tidak berdekatan dengan daerah yang secara geologis dapat merusak keutuhan sarana TPA;
 Muka air tanah tertinggi 3 m di bawah dasar TPA, jarak disebelah hulu sumur air minimum 150 meter
dan tidak terletak pada daerah batu gamping berongga;
 Jarak dari badan air permukaan 60 meter;
 Tidak berada pada bukit yang lerengnya tidak stabil dan daerah depresi yang berair;
 Jarak terhadap lapangan terbang 3000 meter, diluar wilayah untuk perlindungan satwa dan pelestarian
tanaman, berjarak lebih dari 75 meter dari perumahan dan 300 meter dari taman nasional;
 Jauh dari daerah banjir;
 Tersedia tanah penutup;
 Tidak boleh merusak peninggalan sejarah;
 Kapasitas TPA cukup untuk pemakaian 10 tahun.

Sejalan dengan rencana pembangunan TPA baru, arahan pengelolaan persampahan Kota Makassar
secara prinsipil mengikuti arahan yang diberikan dari Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan
Mamminasata yang mengusulkan 4 lokasi alternatif tempat pembuangan akhir sampah selain Tamangapa
yaitu Samata, Bajeng, dan Pattalassang. Hasil studi diatas mengungkapkan bahwa Lokasi Pattalassang
adalah lokasi paling layak untuk bisa dijadikan tempat pembuangan akhir sampah, selain merupakan tanah
negara (luas lahan sekitar 220 Ha), juga layak dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir sampah oleh
Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.

Berikut ini KARAKTERISTIK TPA TAMANGAPA Makassar, terdiri atas:

 Lokasi : Tamangapa, Kecamatan Manggala


 Tahun Operasi : 1993
 Luas : 14,3 Ha
 Kapasitas (m3) : 810 (m3)
 Proses : Ditutup dengan tanah tapi tidak berkala
 Peralatan : 4 Unit Bulldozer dan 1 Unit Excavator
 Fasilitas : 1 Unit kantor; 1 kolam pelumeran (tdk dioperasikan secara
tepat); 1 unit sistem ventilasi gas
 Aktivitas Pemulung : 178 Pemulung
 Industri Daur Ulang : Usaha Luhur Plastik, mengolah/mendaur ulang bahan
Plastik CV. Andalas Jaya, mengolah/mendaur ulang bahan
Aluminium PT. Barawaja, mengolah/mendaur ulang bahan
Logam PT. Batatex, mengolah/mendaur ulang Serpihan Kayu
PT. Orgi, mengolah/mendaur ulang Limbah Organik
(Sumber: Dinas Keindahan Kota Makassar, 2005)

PERALATAN PENGANGKUTAN SAMPAH Kota Makassar:

 Gerobak (1 m3) : 299 Unit

 Truk Penjemput (6 m3) : 64 Unit

 Truk Kontainer (6 m3) : 48 Unit

 Truk Kontainer (10 m3) : 2 Unit

 Truk Kompaktor (6 m3) : 4 Unit

VII - 51
 Kontainer Motor : 6 Unit

 Kendaraan Lain : 12 Unit


(Sumber: Dinas Keindahan Kota Makassar, 2005)

16. RENCANA PENGEMBANGAN LISTRIK

Seperti halnya dengan rencana pengembangan sistem prasarana kota yang lain, rencana pengembangan sistem
jaringan listrik dan penerangan merupakan pengembangan sistem jaringan yang berdasarkan rencana
pemanfaatan ruang, tata letak, tata perkaplingan dan bangunan serta pengembangan sistem jaringan jalan dan
diakhiri dengan penerangan jalan dan hiasan lampu-lampu kota. Dengan demikian perlu dibuat rencana
pengembangan dan penataan jaringan yang sudah ada, meliputi :

 Penambahan jaringan listrik sesuai dengan rencana jaringan jalan pada kawasan perencanaan;

 Perbaikan jaringan listrik yang sudah ada di Kota Makassar;

 Penyusunan rencana induk sistem jaringan listrik pada Kota Makassar;

 Penentuan jenis jaringan listrik yang akan digunakan dan dikembangkan.

Perubahan fungsi suatu bangunan dalam sebuah kawasan yang berkembang akan mempengaruhi kebutuhan
layanan listrik. Penempatan gardu-gardu listrik dan jaringan-jaringan listrik yang baru di proposionalkan dengan
kondisi area terbangun. Sesuai dengan kebutuhan yang ada, serta analisa data-data tersebut maka usulan dan
prioritas program adalah:

 Penambahan jaringan dan trafo hubung dengan akibat perkembangan kawasan karena adanya perencanaan
kawasan permukiman, komersial, dll;

 Pembenahan jaringan listrik yang tidak terdaftar dalam pelayanan listrik dengan melakukan pemutihan pada
setiap rumah dengan koordinasi instansi terkait;

 Penambahan titik lampu untuk fasilitas umum dan jalan baru.

KRITERIA dalam menentukan BESARNYA KEBUTUHAN LISTRIK untuk masing-masing kegiatan dalam
rencana pemanfaatan ruang Kawasan Kota Makassar meliputi:

a) Domestik

 Perumahan Besar : 1.300 watt;

 Perumahan Sedang : 900 watt;

 Perumahan Kecil : 450 watt.

b) Non Domestik

 Perdagangan dan perkantoran : 25 % domestik;

 Kegiatan Sosial dan Pelayanan Umum : 25 % domestik;

 Penerangan Jalan : 10 % domestik;

 Kehilangan Energi / Transmisi : 10 % total energi.

VII - 52
c) Sumber Energi

Daya listrik yang digunakan bersumber dari PLN yang dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN)
Makassar. Penyediaannya didukung dengan beberapa pembangkit listrik yang terdapat dalam kota Makassar
seperti PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kecamatan Panakkukang, PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga
Gas) di Kecamatan Tallo dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) di Kecamatan Ujung Tanah. Dari
ketiga sumber tenaga tersebut dihasilkan daya sebesar 203,88 MW. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan
energi listrik di kota Makassar, PLN Wilayah VIII Kota Makassar juga di suplai listrik dari PLTA (Pembangkit
Listrik Tenaga Air) Bakaru Kabupaten Pinrang, dan dari PLTG Pompanua Kabupaten Wajo.

d) Wilayah Pelayanan

Sebagian besar wilayah Kota Makassar sudah termasuk dalam jaringan PLN. Aliran listrik dari gardu induk
didistribusikan ke tiang listrik pelayananya melalui gardu distribusi. Kapasitas satu buah gardu distribusi
disesuaikan dengan jumlah gardu distribusi di kawasan perencanaan tergantung kebutuhan kawasan yang
bersangkutan. Jaringan distribusi direncanakan memiliki tegangan tertentu dan struktur jaringan sistem open
loop dengan pola operasional radial.

Jaringan listrik akan menjangkau seluruh wilayah dengan jumlah konsumen / pelanggan sebanyak
perumahan, fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ada. Pelanggan adalah rumah tangga dengan batas daya
450 – 2250 watt. Dengan demikian sebagian besar penggunaan listrik adalah untuk penerangan dan dapat
dikembangkan / dimanfaatkan secara maksimal untuk keperluan kegiatan ekonomi / industri.

1. Kriteria Perencanaan Sistem Transmisi

Kriteria perencanaan minimum yang harus dipenuhi oleh sistem transmisi agar perencanaan memberikan suatu hasil
yang memuaskan antara lain adalah :

 sistem harus mampu bertahan bila ada gangguan tertentu

 tegangan ada pada batas yang ditentukan baik pada beban maksimum maupun beban ringan

Dalam hal ini bila terjadi gangguan pada suatu bagian maka bagian lain mampu menggantikannya tanpa mengurangi
fungsi utamanya.

Langkah – langkah perencanaan sistem distribusi :

 perkiraan beban (Load Demand & Energy Forecast)

 Penyusunan Rencana Jaringan Distribusi

 Penentuan Penempatan Gardu Distribusi Baru

 Alternatif feeder Tegangan Menengah

 Optimasi konfigurasi perluasan sistem distribusi dengan fungsi perkembangan.

2. Sistem Distribusi Tegangan Rendah

 Jaringan Tegangan Rendah (JTR) umumnya dipasok dari Gardu Distributor (GD) Tegangan Menengah / Tegangan
Rendah (TM/TR)

 Layout JTR mengikuti keadaan geografis area yang dilayani, pada umumnya mengikuti rute jalan guna menjangkau
pelanggan

 Luas Wilayah yang dicakup serta bentuk layout JTR dari suatu GD sangat tergantung pada faktor berikut :

(1) Kapasitas trafo Gardu Distribusi (kVA)

(2) Distribusi serta kerapatan beban (kVA/Ha) di area yang dilayani

VII - 53
(3) Ukuran penampang JTR yang dipakai

(4) Persyaratan susut tegangan yang diijinkan

3. Model Jaringan Tegangan Rendah

Sebuah GD memasuki suatu area pelayanan melalui beberapa feeder TR (dengan kisaran antara 1 s/d 8 buah). Makin
besar kapasitas trafo GD, makin besar jumlah feeder TR yang keluar dari GD. Makin besar kerapatan beban area yang
dilayani makin besar jumlah TR yang keluar dari GD. Konfigurasi JTR yagn keluar dari GD terdiri dari :

 Feeder Utama (Main Feeder)

 Feeder Cadangan (Branch Feeder)

Tujuan analisis adalah untuk memperkirakan luas maksimum area yang dapat dijangkau oleh sebuah GD. Adapun
beberapa asumsi yang dipakai sebagai dasar analisis adalah :

 Kedudukan GD tepat di pusat area pelayanan

 Beban terdistribusi secara merata dengan kerapatan beban sama (Uniformly Distributed Load)

 Susut tegangan terbesar di JTR yang diijinkan adalah sebesar 6%

17. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN TELEPON

Rencana pengembangan sistem jaringan telepon merupakan sistem pengembangan jaringan yang berdasarkan
rencana pemanfaatan ruang, tata letak, tata perkaplingan dan bangunan serta pengembangan sistem jaringan jalan,
dan diakhiri perletakan tipe-tipe dan sistem jaringan telepon kota.

Rencana pengembangan utilitas ini diarahkan pada penambahan jarinngan pada kawasan yang baru untuk
memenuhi permintaan penambahan sambungan rumah yang baru. Selain itu juga ditambah dengan penyediaan
telepon umum untuk memenuhi kebutuhan akan utilitas ini.

Kebutuhan pengembangan Jaringan Telepon

Jangkauan pelayanan jaringan telepon Kota Makassar diharapkan semakin mudah dan murah untuk
memperolehnya serta semakin meluas jumlah pelanggannya. Perencanaan jaringan telepon memerlukan studi
khusus, karena didasarkan pada perhitungan jumlah pemohon (permintaan atau demand) dari masyarakat, tidak
seperti fasilitas lainnya (misal jaringan jalan, air bersih, dan lainnya). Untuk memprediksi kebutuhan telepon
digunakan pendekatan atau asumsi pertumbuhan penduduk serta potensi pengembangan Kota Makassar.
Adapun wilayah-wilayah yang potensial untuk dikembangkan jaringan telepon pada masa mendatang adalah
merupakan kawasan yang didorong pertumbuhannya sesuai dengan peruntukan kawasan dalam 12 kawasan
terpadu dan kawasan strategis serta 1 kawasan lindung.

18. RENCANA PENGEMBANGAN CENTERPOINT OF INDONESIA (COI)

Rencana pengembangan Centerpoint Of Indonesia merupakan pengembangan kawasan di pesisir barat Kota
Makassar yang dibangun dengan alasan kawasan Centerpoint Of Indonesia menjadi trigger Makassar sebagai kota
dunia. Rencana pengembangan Centerpoint Of Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa masalah sebagai:

Terjadinya sedimentasi berat yang melalui aliran DAS Sungai Jene’berang;

Timbulnya spot-spot abrasi akibat pola gelombang dan aksi arus yang berubah sejalan dengan perubahan iklim
dunia;

Kondisi pesisir yang labil sebagai akibat dari proses sedimentasi Sungai Jene’berang sehingga terjadi
perubahan bentuk pesisir;

Kondisi Pulau Lae-Lae yang tergerus oleh pusaran arus menyebabkan luasan Pulau Lae-Lae berkurang;

VII - 54
Matinya terumbu karang akibat sedimentasi;

Pendangkalan pelabuhan akibat arah arus dan volume sedimentasi yang menyebabkan penumpukan
sedimentasi di sudut bawah pelabuhan Soekarno-Hatta;

Ancaman tertutupnya Pantai Losari karena daratan tanah tumbuh “kepala burung” akibat pola arus dan
sedimentasi makin hari makin mendekati pelataran;

Terjadinya pencemaran berat yang berasal dari 7 outlet yang bermuara ke kawasan pengembangan
Centerpoint Of Indonesia;

Terjadinya kemiskinan pesisir khususnya di kawasan kumuh “lette” yang hampir mencapai 80%;

Dampak global warming tentang kenaikan muka air laut hingga 110 cm di tahun 2100.

Rencana pengembangan Centerpoint Of Indonesia meliputi :

Design bangunan lokasi pengembangan yang modifikasi guna mengantisipasi bahaya sedimentasi;

Penguatan struktur konstruksi bangunan berdasarkan prinsip engineering sebgai upaya persiapan menghadapi
bahaya abrasi sehingga ruang-ruang yang berada diatasnya relatif aman.

19. RENCANA PENGEMBANGAN KAMPUS POLITEKNIK ILMU PELAYARAN (PIP)

Rencana pengembangan Kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) merupakan pengembangan kawasan pesisir
pantai utara yang perencanaannya didasarkan UU No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang dan UU No.27
Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana alam. Penanggulangan terhadap bencana sebagai upaya mitigasi
dengan melihat kondisi saat ini dan masa akan datang di lokasi pengembangan.

Rencana pengembangan Kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) meliputi :

Adanya kenaikan suhu bumi sampai mencapai 6 derajat celcius (SIX DEGREE SCENARIO) yang menyebabkan
kenaikan paras muka air laut yang diperkirakan sekitar 1.10 cm pada tahun 2100. Upaya mitigasi yang dilakukan
dengan peningkatan leveling permukaan tanah dengan memperhitungkan kenaikan sea level rise di tahun 2100
terhadap kondisi muka air laut rata-rata saat ini (2010);

Gambar 7-30 Design Levelling Permukaan Tanah di Kampus PIP Tahun 2010

VII - 55
Gambar 7-31Uji Design Levelling Permukaan Tanah di Kampus PIP Tahun 2100

Perbaikan sistem drainase dan pengembangan kawasan Kampus PIP sebagai ruang terbuka hijau untuk
mengantisipasi kemungkinan bahaya banjir yang akan dihadapi oleh kawasan pembangunan Kampus PIP yang
berasal dari meluapnya Sungai Bonelengga akibat tidak langsung dari naiknya permukaan air laut (Sea Level
Rise) atau akibat curah hujan yang berlebihan akibat CLIMATE CHANGE yang diperparah dengan rusaknya
kawasan DAS.

VII - 56