Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH TEORI PSIKOLOGIS LANSIA

MATA KULIAH KEPERAWATAN GERONTIK

DOSEN:
DWI AGUSTANTI, M.Kep., Sp.Kom.

DISUSUN OLEH:
Kelompok 2
Lataniya Auliya Rizky 1914301051
Yeni Nur Jamil Azizah 1914301052
Tasya Dwinta 1914301056
Sri Wahyuni Lubis 1914301074
Putra Zulfijar Febiantoni 1914301078
Evitha Adhe Rahma Efendi 1914301079
Qurrota A’yun Nurhasanah 1914301096
Selpi Tiara Ariska 1914301057
Rely Alfina 1914301070
Gustia Mega Nanda 1914301060
Sindi Artika 1914301065
Sanoval Aji Pandwi 1914301083

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya
terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
pada mata kuliah Keperawatan Gerontik. Makalah ini yang berjudul “Teori Psikologis
Lansia.”
Terima kasih juga kami ucapkan kepada dosen kami, Ibu Dwi Agustanti, M.Kep.,
Sp.Kom.. serta teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide sehingga
makalah ini dapat disusun dengan baik.
Kami berharap, makalah ini dapat menambah pengetahuan para pembaca. Namun
terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga
kami mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun supaya makalah selanjutnya
dapat lebih baik lagi.

Bandar Lampung, 11 Januari 2022

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...........................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................2

1.3 Tujuan.........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3

2.1 Teori Psikologis Lansia..............................................................................................3

2.2 Faktor yang Memengaruhi Psikologi Lansia...........................................................4

BAB III PENUTUP...................................................................................................................7

3.1 Kesimpulan...................................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia atau lansia merupakan individu yang berada pada tahapan dewasa akhir
yang usianya dimulai dari 60 tahun keatas. Setiap individu mengalami proses penuaan
terlihat dari penurunan fungsi tubuh secara bertahap yang tidak dapat dihindari. Hal ini
dipengaruhi suatu kondisi tertentu seperti penyakit, lingkungan fisik yang tidak sehat dan
stres (Widyanto, 2014).
Laju perkembangan penduduk dunia saat ini menuju proses penuaan yang ditandai
dengan meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lanjut usia (Andini, 2013). Data dari
World Population Prospects (2015) menjelaskan ada 901 juta orang berusia 60 tahun atau
lebih, yang terdiri atas 12% dari jumlah populasi dunia. Pada tahun 2015 dan 2030,
jumlah orang berusia 60 tahun atau lebih diproyeksikan akan tumbuh sekitar 56% dari 901
juta menjadi 1,4 milyar, dan pada tahun 2050 populasi lansia diproyeksikan lebih 2 kali
lipat di tahun 2015, yaitu mencapai 2,1 milyar (United Nations, 2015).
Lansia pada umumnya mengalami berbagai masalah kesehatan akibat terjadinya
perubahan fisik, psikologis, psikososial dan spiritual (Nasrullah, 2016). Psikologis
merupakan faktor penting bagi individu untuk mengontrol terhadap semua kejadian yang
dialami oleh lansia. Penurunan kemampuan psikologis dapat disebabkan karena
penurunan fungsi pendengaran yang menyebabkan para lanjut usia gagal untuk mengerti
apa yang orang lain katakan, tekanan darah tinggi mengakibatkan kerusakan intelektual
pada lanjut usia. Perubahan psikologis berasal dari kesadaran tentang menurunnya
kemampuan dan perasaan rendah diri apabila dibandingkan dengan orang yang lebih
muda, punya kekuatan, kecepatan dan keterampilan (Rohmah, Purwaningsih, &
Khoridatul, 2012).
Masalah-masalah psikologis yang terjadi pada lansia diantaranya kesepian, gangguan
tidur, demensia, kecemasan, depresi, panik dan hipokondriasis (Australian Psychology
Society, 2018). Ketika lansia kehilangan waktu bersama orang yang dicintai, banyak
lansia yang menyadari bahwa suatu saat orang-orang yang dicintai akan pergi
meninggalkannya, sehingga mereka mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Namun,
belum banyak yang menyadari tentang masalah yang akan muncul dan belum mempunyai

1
kesiapan mental untuk menghadapi atau menyesuaikan diri dengan situasi yang dialami
yaitu kesepian (Hurlock, 2011). Perubahan psikososial dapat menyebabkan rasa tidak
aman, takut, dan lain-lain. Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan sosial
finansial pada waktu pensiun yang menyebabkan kehilangan rasa bangga, hubungan
sosial, kewibawaan dan sebagainya (Mubarak et al, 2011).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana teori psikologis lansia?
2. Apa saja faktor yang memengaruhi psikologis pada lansia?
3. Bagaimana perubahan psikososial yang terjadi pada lansia?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami teori psikologis lansia.
2. Mahasiswa mengetahui factor yang memengaruhi psikologis lansia.
3. Mahasiswa mengetahui perubahan psikososial yang terjadi pada lansia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Psikologis Lansia


Sejalan dengan bertambahnya usia maka setiap manusia akan mengalami
proses penuaan, sehingga setiap manusia akan berada pada tahap lanjut usia dan lanjut
usia merupakan tahap kehidupan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Dalam tahap
ini, pada diri lansia secara alami terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu
cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum (penurunan
kondisi fisik) maupun kesehatan jiwa (psikologis) secara khusus pada lansia.
Teori psikologi menjelaskan bagaimana seorang merespon perkembangannya.
Perkembangan seseorang akan terus berjalan walaupun seseorang tersebut telah menua.
Teori psikologi terdiri dari teori hierarki kebutuhan manusia maslow (maslow’s
hierarchy of human needs), yaitu tentang kebutuhan dasar manusia dari tingkat yang
paling rendah (kebutuhan biologis/fisiologis/sex, rasa aman, kasih saying dan harga
diri) sampai tingkat paling tinggi (aktualisasi diri).
a. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah
menua. Sense of integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai
tua. Teori ini menyatakan bahwa pada lansia yang sukses adalah mereka yang aktif
dan ikut banyak dalam kegiatan sosial (Azizah dan Ma’rifatul, L., 2011).
b. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lansia. Identity pada lansia
yang sudah mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat,
melibatkan diri dengan masalah di masyarakat, kelurga dan hubungan interpersonal
(Azizah dan Lilik M, 2011).
c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan
tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari
pergaulan sekitarnya (Azizah dan Lilik M, 2011).

3
2.2 Faktor yang Memengaruhi Psikologi Lansia
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi psikologis pada lansia yang harus
disikapi dengan bijak agar mereka merasakan kebahagiaan dihari tuanya. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
a. Penurunan Kondisi Fisik
Semakin tua seseorang maka semakin jelas pula perubahan fisik yang terlihat,
misalnya energi yang berkurang, kulit semakin keriput, gigi yang yang mulai
rontok ataupun tulang yang semakin rapuh. Penurunan kualitas fisik secara drastis
akan terjadi ketika sesorang memasuki masa lansia. Hal ini dapat berpengaruh
terhadap kondisi psikologik maupun sosial dan menyebabkan kebiasaan
ketergantungan pada orang lain.
b. Penurunan Fungsi
Seksualitas Penurunan fungsi sekualitas berhubungan dengan gangguan fisik
seperti gangguan jantung, gangguan metabolisme, seperti diabetes melitus,
vaginitis, kekurangan gizi yang dikarenakan permasalahan pencernaan yang
menyebabkan menurunnya nafsu makan.
Erikson (2002) mengungkapkan bahwa permasalahan psikologi pada orang
yang mencapai tahapan lanjut usia akan terlihat dari gejala penurunan fisik yang
sejalan dengan aspek psikologisnya. Bagi pria fase lanjut usia ditandai dengan
memasuki fase klimakterium, sedangkan wanita ditandai dengan fase menopause
yang berdampak pada ketidakseimbangan fisiologis yang mengakibatkan
terganggunya keseimbangan emosi, seperti stres dan depresi. Faktor penurunan
fungsi seksualitas orang tua antara lain:
a) Rasa malu jika mempertahankan kehidupan seksual pada masa senja.
b) Kelelahan atau rasa bosan dikarenakan kurangnya variasi dalam kehidupannya.
c) Pasangan hidup telah meninggal.
d) Disfungsi seksual karena perubahan hormon atau masalah kesehatan jiwa
seperti setres atau pikun.
c. Perubahan Aspek Psikososial
Pemicu perubahan aspek psikososial pada lansia adalah menurunya fungsi
kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif yang merupakan proses belajar,
pemahaman ataupun perhatian sehingga menyebabkan reaksi dan prilaku lansia

4
melambat. Sedangkan psikomotorik adalah dorongan kehendak meliputi, gerakan,
tindakan, dan koordinasi yang berakibat lansia menjadi kurang cekatan. Dengan
berubahnya kedua aspek tersebut akan berdampak pada perubahan aspek
psikososial yang berkaitan dengan kepribadian lansia.
d. Perubahan Peran Sosial di Masyarakat
Dengan semakin lanjut usia, biasanya lansia akan melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya dikarenakan segala keterbatasan yang ia miliki. Keadaan ini
berdampak pada menurunnya interaksi sosial para lansia, baik secara kualitas
maupun kuantitas. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya peran ditengah
masyarakat dikarenakan kualitas fisik yang menurun sehingga para lansia merasa
tidak dibutuhkan lagi karena energi nya sudah melemah. Penyesuaian diri yang
buruk akan timbul karena adanya konsep diri yang negatif yang disebabkan oleh
sikap sosial yang negatif berdampak pada kesehatan psikologis para lansia.
Setelah orang memasuki masa usia tua umumnya mulai dihinggapi adanya
kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya
tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang
makin rapuh. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa
lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat
menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang
selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain.
Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka
perlu menyelaraskan kebutuhankebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun
sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang
bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya
dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
Faktor psikologis yang menyertai usia tua antara lain:
a) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
b) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh
tradisi dan budaya.
c) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya
d) Pasangan hidup telah meninggal

5
Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan
jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun.
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan
fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif)
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami
perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.

6
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Lansia secara alami mengalami penurunan atau perubahan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu
cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum (penurunan
kondisi fisik) maupun kesehatan jiwa (psikologis) secara khusus pada lansia.
a. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah
menua. Sense of integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai
tua. Teori ini menyatakan bahwa pada lansia yang sukses adalah mereka yang aktif
dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
b. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lansia. Identity pada lansia
yang sudah mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat,
melibatkan diri dengan masalah di masyarakat, kelurga dan hubungan interpersonal.
c. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan
tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari
pergaulan sekitarnya.
.

7
DAFTAR PUSTAKA

Azizah & Lilik Ma’rifatul, (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Yogyakarta : Graha
Ilmu.

Lia Susanti Simanjuntak, & Wiwik Sulistyaningsih. (2019). Perbedaan Kesejahteraan


Psikologis Lansia Ditinjau dari Bentuk Dukungan Teman Sebaya. Psikologia: Jurnal
Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 13(2), 59–73. https://doi.org/10.32734/
psikologia.v13i2.2268.

Nur Kholifah, Siti. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan : Keperawatan Gerontik.
Jakarta Selatan: Pusdik SDM Kesehatan, BPPSDM Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.

http://repository.uinib.ac.id/9365/4/BAB%20III%20BARU%20MARIZA.pdf.

http://scholar.unand.ac.id/49795/2/BAB%201%20PENDAHULUAN.pdf.