Anda di halaman 1dari 435

Katalog BPS: 1403.

36

Banten in Figures

Kerjasama
In cooperation

Badan Perencanaan Daerah Propinsi Banten


Regional Planning Board of Banten Province

dan/and

Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


BPS –Statistics of Banten Province
BANTEN DALAM ANGKA 2004
BANTEN IN FIGURES 2004

Katalog BPS/BPS Catalogue : 1403.36

Ukuran buku/ Book size : 6,5 “ x 8,5 “

Jumlah halaman/Number of pages: 388 + lxxxvii

Naskah/ Manuscript : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


BPS – Statistics of Banten Province

Gambar kulit/Book cover : Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik


Integration of Processing and Statistical Dissemination Division

Diterbitkan oleh/Published by: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


BPS – Statistics of Banten Province

“Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya”.


“May be cited with reference to the source.”
LEGENDA

PETA ADMINISTRASI PROPINSI BANTEN


ADMINSTRATION MAP OF BANTEN PROVINCE
PENGANTAR

Banten Dalam Angka adalah publikasi tahunan Badan Pusat


Statistik (BPS) Propinsi Banten yang komprehensif. Publikasi ini
menyajikan beraneka jenis data dari berbagai bidang. Buku ini
dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum tentang keadaan
geografis dan iklim di Propinsi Banten, ciri dan keadaan sosial ekonomi
penduduk, serta kondisi sosial dan perekonomian Propinsi Banten.

Publikasi Banten Dalam Angka 2004 merupakan yang


keempat sejak BPS Propinsi Banten terbentuk. Publikasi ini
disempurnakan secara bertahap baik kualitas maupun kuantitas. Namun
demikian kualitas data sangat berkaitan dengan ketersediaan data di
masing-masing Dinas dan Instansi sebagai nara sumber.

Kami sadari bahwa publikasi ini masih jauh dari sempurna,


sehingga saran dan kritik dari berbagai pihak sangat kami harapkan.

Atas perhatian Pemerintah Propinsi Banten serta respon Dinas


dan Instansi sehingga publikasi ini dapat diterbitkan, kami
menyampaikan terima kasih. Kami berharap publikasi ini dapat
dimanfaatkan terutama bagi kesejahteraan masyarakat Banten.

Serang, Juli 2005


Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Kepala,

Ir. Nanan Sunandi, MSc


NIP. 340004369

Banten Dalam Angka 2003 ix


PREFACE

Banten In Figure is a comprehensive publication, published by


BPS – Statistics of Banten Province. This publication presents
collection of data from various fields. This book is aimed at providing
general picture of geographic and climate, socio-economic
characteristics of the population, as well as social and economic
conditions of Banten Province.

Publication of Banten In Figure 2003 is the second since BPS


–Statistics of Banten Province establized. This publication gradually
improved both in quality and quantity of data. Neverless quality of data
depend on scarcity data in each Agencies and Institution. Comments
and suggestions to improve the contents of this book are always
welcome.

Taking of this opportunity, I would like to express my deepest


gratitude to Government of Banten Province for special attention and
all Agencies/Institution in Banten have already given responsiveness so
this publication can be published. I hope this publication will
beneficial primarily for welfare of Banten society in the future.

Serang, August 2004


BPS –Statistics of Banten Province
Chief,

Ir. Nanan Sunandi, MSc


NIP. 340004369

Banten Dalam Angka 2003 x


KATA SAMBUTAN
GUBERNUR BANTEN

As
sal
amu’
ala
ikumWa
rohma
tul
lah
iWa
bar
oka
tuh
,

Propinsi Banten yang baru terbentuk pada Oktober 2000 merupakan


propinsi termuda di Indonesia. Sebagai propinsi termuda banyak sekali
tantangan yang harus dihadapi untuk menyejahterakan masyarakat Banten.
Untuk itu penerbitan publikasi Banten Dalam Angka (BDA) 2004 menjadi
sangat penting dan bermanfaat dalam melihat potensi yang dimiliki serta
kemajuan yang telah dicapai. Oleh karena itu penerbitan buku ini harus
mendapat dukungan semua pihak.

Publikasi ini bukan saja bermanfaat bagi perencanaan pembangunan,


namun juga bagi para peneliti, investor dan pengguna lainnya. Mengingat
kesinambungan penyajian buku ini dari tahun ke tahun perlu dijaga, maka saya
menghimbau kepada semua pihak untuk menggunakan data pada BDA 2004 ini
sebagai acuan pengambilan kebijakan. Buku ini agar digunakan sebagai
rujukan, karena data bersumber dari berbagai instansi dan lembaga di Banten.

Akhirnya, saya mengharapkan agar kegiatan pengumpulan data di


setiap aspek pembangunan lebih ditingkatkan lagi. Pemerintah senantiasa
berkepentingan memiliki data yang benar untuk diinformasikan kepada
masyarakat dan instansi yang memerlukannya. Terima kasih saya ucapkan
kepada BPS Propinsi Banten dan BAPEDA Banten yang telah bekerja sama
mewujudkan terbitan ini.

Sekian dan terima kasih.

Wa
ssa
lamu’
ala
ikumWa
rohma
tul
lah
iWa
bar
oka
tuh
.

Serang, Juli 2005

Gubernur Banten,

H.D. MUNANDAR

Banten Dalam Angka 2004 xi


GOVERNOR OF BANTEN
FOREWORD

The province of Banten is the youngest province that has been formed
at October 2000. We have many challenges to be faced for making of Banten
people’swe lf
ar ebe comingmuc hbe t
te r.Ther
e fore,thepu bl
icationofBant eni n
Figures 2004 is very important and useful to find out the potential that Banten
has, and evaluating the progress that has been achieved. Because of that,
everybody has to support this publication.

This book is not only useful for the planner in the government
institutions, but also useful for anyone who needs, it such as researchers,
investors and other users. We need to keep this book published sustainable for
the year as a serial publication. I strongly recommended to any institutions to
use this publication as one of the matter for decision-making. The data in this
book has been collected from any institutions and parties that can be used as a
reference.

I do hope that data collection activity in all aspects should be done


continuously, so the government always has the reliable data that can be
informed and shared to people and institutions. Finally, I would like to thanks
to BPS-Statistics of Banten Province and Board of Planning of Banten Province
who have done as teamwork in the making of this book.

Serang, July 2005

Governor of Banten,

H.D. MUNANDAR

Banten Dalam Angka 2004 xii


KATA SAMBUTAN
KEPALA BADAN PERENCANAAN DAERAH
PROVINSI BANTEN

As
sal
amu’
alai
kumWar
ohmat
ull
ahiWabar
okat
uh,

Buku Banten Dalam Angka 2004 merupakan kumpulan data statistik


yang setiap tahun diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Banten,
bekerja sama dengan BAPEDA Provinsi Banten.

Data dan informasi yang disajikan ini bersumber dari Instansi, Dinas,
Lembaga Pemerintah dan Swasta dalam wilayah Provinsi Banten. Masih
disadari bahwa dalam penyusunan Buku Banten Dalam Angka ini masih belum
lengkap, dan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu data/informasi
diharapkan adanya partisipasi dari Instansi, Dinas Lembaga Pemerintah dan
Swasta dengan Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, agar kesempurnaan serta
kelancaran penerbitan Buku Banten Dalam Angka pada tahun-tahun mendatang
dapat senantiasa terjamin dan terselenggara dengan baik.

Dengan terbitnya buku ini diharapkan dapat memberi manfaat,


terutama untuk melihat sejauh mana perkembangan dari berbagai kegiatan
pembangunan yang telah kita capai selama ini dan yang akan kita laksanakan di
masa mendatang. Selain itu, data dan informasi tersebut dapat juga disajikan
sebagai bahan pembanding dan perumusan dalam membuat analisis penyusunan
perencanaan serta menentukan kebijakan.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita sekalian, terima kasih.

Was
sal
amu’
alai
kumWar
ohmat
ull
ahiWabar
okat
uh.

Serang, Juli 2005

KEPALA BAPEDA PROVINSI BANTEN,

Ir. H.A. Hilman Nitiamidjaja,MM


NIP. 080 030 907

Banten Dalam Angka 2004 xviii


FOREWORD
REGIONAL PLANNING BOARD OF BANTEN PROVINCE

As
sal
amu’
alai
kumWar
ohmat
ull
ahiWabar
aok
atuh,

Banten in figure 2004 is a statistics data that always published by BPS


Statistics of Banten Province every year, cooperative with Regional Planning
Board of Banten Province.
Data and information that presented are source of Official, Agency,
Department of Government, and Privacy in Banten Province. We realized in this
book is not perfect completely, and to improve the quality of data and
information we hope participate of Institution, Agency, and Privacy with BPS
Statistics of Banten Province to make completely , continuously and sustainable
for publish Banten in figure in next year.
By publishes this book, we hope made advantage, especially for notice
the growth of development activity that already done and make god planning for
next time. Unless that data and information attain also as wrapping,
comparable, and formulated for analysis in disposition planning and assign
subtlety.
I hope this book had beneficial toward our, and thank you.
Was
sal
amu’
alai
kumWar
ohmat
ull
ahiWabar
ikat
uh.

Serang, July 2005


CHIEF OF
REGIONAL PLANNING BOARD OF BANTEN
PROVINCE

Ir. H.A. Hilman Nitiamidjaja,MM


NIP. 080 030 907

Banten Dalam Angka 2004 xix


LAMBANG PROPINSI BANTEN
LOGO OF BANTEN PROVINCE
Arti Lambang

BENTUK, UKURAN DAN ARTI LAMBANG


PROPINSI BANTEN

 Lambang daerah berbentuk perisai dengan warna dasar hijau, didalamnya


ns
terdapat gambar unsur-u ur l
amba
ng da
ntul
is
an“ ,s
BANTEN” e
rta
di
des
ainpi
tabe
rwa
rnaku
ningde
nga
ntu
lis
an“
IMAN TAQWA”.
 Lambang daerah terdiri dari 2 (dua) bagian perincian sebagai berikut :
a. Bentuk Gambar terdiri dari :
1. Kubah Mesjid, melambangkan kultur masyarakat Banten yang agamis.
2. Bintang Ilahi, Pengejawantahan Pancaran Semangat Keyakinan yang
menyinari seluruh jiwa masyarakat Banten
3. Menara Mesjid Agung Banten bertingkat dua berwarna putih dengan
Memolo berwarna merah, menjulang tinggi ke angkasa, melambangkan
masyarakat Banten mempunyai semangat yang tinggi untuk
mewujudkan masyarakat madani, serta adanya tujuan mulia yang
senantiasa berpedoman pada petunjuk Allah Swt, Menara Mesjid
Agung juga melambangkan Budaya dan Historis Banten yang kokoh
pada pendirian zaman kesultanan.
4. Gapura kaibon berwarna putih, melambangkan Daerah Propinsi Banten
sebagai pintu gerbang peradaban dunia dan pintu gerbang
perekonomian dan lalu lintas internasional menuju era globalisasi.
5. Padi berwarna kuning berjumlah 17 (tujuh belas) dan kapas berwarna
putih berjumlah 8 (delapan) tangkai, 4 (empat) kelopak berwarna
coklat, 5 (lima) kuntum bunga melambangkan Propinsi Banten
merupakan daerah agraris yang cukup sandang, pangan, jumlah padi
dan kapas menunjukkan hasil Proklamasi Republik Indonesia 17
Agustus 1945.

Banten Dalam Angka 2004 xxvii


Arti Lambang
6. Gunung berwarna hitam, melambangkan kekayaan sumber daya alam
dan tekstur tanah yang agak bergelombang tidak merata terdiri dari
dataran rendah dan pegunungan.
7. Badak Bercula Satu berwarna hitam, adalah satwa langka satu-satunya
yang dilindungi dunia, melambangkan masyarakat yang pantang
menyerah dalam menegakan kebenaran dan dilindungi oleh hukum.
8. Laut berwarna biru dengan gelombangnya yang berwarna putih
berjumlah 17 (tujuh belas) melambangkan daerah maritim yang kaya
dengan potensi lautnya, mencerminkan historis dan peluang ke depan
Banten sebagai Bandar Samudera Perdagangan Internasional serta
mengandung makna kedalaman jiwa, keluasan wawasan dan
pandangan, muara tempat berlindungnya masyarakat Banten.
9. Roda gerigi berwarna abu-abu berjumlah 10 (sepuluh), melambangkan
orientasi semangat kerja pembangunan serta menunjukkan sektor
industri.
10. Dua garis Marka, Landasan Pacu Bandara Soekarno Hatta berwarna
putih dan 3 (tiga) Lampu Pemandu (Beacon Light) berbentuk bulatan
berwarna kuning melambangkan pemacu semangat untuk mencapai
cita-cita. Makna yang terkandung dalam angka 8 (delapan), 9
(sembilan) dan 10 (sepuluh) mempunyai arti lahirnya Propinsi Banten
yang ditetapkan dan diundangkannya Undang-undang Nomor 23 tahun
2000, tentang pembentukan Propinsi Banten, pada tanggal 17 Oktober
2000.
11. Pita berwarna kuning sebagai pengikat, melambangkan betapa indah
dan kuatnya ikatan persatuan dan kesatuan dalam integritas dan
heteroginitas masyarakat Banten.
12. Se
mboy
an La
mba
ng da
era
h“IMAN TAQWA” s
eba
gail
anda
san
pembangunan menuju Banten Mandiri, maju dan sejahtera
(Darussalam).

Banten Dalam Angka 2004 xxviii


Arti Lambang

b. Makna Warna Lambang :


1. Warna merah, melambangkan keberanian yang didasari kebenaran.
2. Warna putih, melambangkan kesucian, kebijaksanaan dan kearifan.
3. Warna Kuning, melambangkan Kemuliaan, warna jiwa, lambang
cahaya dan kebahagiaan, lambang kejayaan dan keluhuran budi.
4. Warna hitam, melambangkan keteguhan, kekuatan dan ketabahan hati.
5. warna abu-abu, melambangkan ketabahan.
6. Warna biru, melambangkan kejernihan, warna laut melambangkan
kedamaian, ketenangan.
7. Warna hijau, melambangkan kesuburan.
8. Warna coklat, melambangkan kemakmuran.

Banten Dalam Angka 2004 xxix


Arti Lambang

SHAPE, SIZE, AND THE MEANING OF BANTEN PROVINCE SYMBOLS

Regional symbols has shape a shield with intrinsic green, inside the
s
ymbol
shaspi
ctur
eofe
leme
ntandaut
ogr
aph“BANTEN”andatt
hey
ell
ow
t
apehasa
utogr
aph“I
MANTAQWA”.
Regional Symbols have 2 (two) part:
a. Shape of picture:
1. Dome of Mosque; typify of Banten people that religious.
2. Star of God, express the spirit that shining the soul of Banten
people.
3. Great tower of Mosque of Banten with two terrace, express
Banten people have highest spirit to realize madani people,
and objective which always constantly with percept Allah Swt.
The tower of mosque also typify culture and history of Banten
that staple at opinion of kingdom era (kesultanan)
4. White Kaibon Stone, typify of Banten Province area is the first
port of world culture and economic, and international traffic
to global era.
5. 17y
ell
owpa
ddy
’sa
nd8whi
tec
ott
ons
,ty
pif
yBant
enPr
ovi
nce
is an agriculture area that adequate, cloths, food, amount of
paddy
’sandc
ott
onse
vinc
eout
comede
clar
ati
onofRe
pub
lic
of Indonesia, August 17, 1945.
6. Black grey mountain, typify the natural resources and texture
of land that quite surge legible prevail.
7. One-horned rhinoceros is the one of wild animal whose
protected in the world, typifies the people never surrender in
justice the trough and protected by the law.

Banten Dalam Angka 2004 xxx


Arti Lambang
8. Blue ocean with 17 white long wave, typify marine area that
affluent of ocean resources reflects the history and advantage
in the future of Banten as a port of international trade.
9. 10 grey of gear, typify orientation of working spirit and evince
industries sectors.
10. 2 line mark, runways of Soekarno Hatta airport with colored
white, and 3 Beacon light with colored yellow, typify basic
spirit for gain aspire. The number of 8, 9, and 10 have
meaning of institution of Banten Province has ever born at
October 17, 2000 that legitimated with Act Number 23 year
2000.
11. Yellow tape as a union, typify as mansion as beauty and
tightly of unity of integrate and heterogeneous of Banten
people.
12. Wor
dofs
ymbol
s“I
MANTAQWA”asanv
ilf
oundat
ion to gain
Banten, onward and welfare (Darussalam).
b. The meaning of symbol colors.
1. Red, typify courage base on by the truth.
2. White, typify the purification, wise and tactful.
3. Yellow, typify distinction, symbol of shine and happiness,
glory and intelligent.
4. Black, typify strengthen, strongly and resoluteness.
5. Grey, typify firmness
6. Blue, typify clarity, ocean color are symbol of reconcilement
and calm.
7. Green, typify fertile.
8. Brown, typify prosperity

Banten Dalam Angka 2004 xxxi


Sejarah Singkat Banten

SEJARAH SINGKAT BANTEN

Banten sebagai nama suatu wilayah sudah dikenal dan diperkenalkan


sejak abad ke 14. Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai
disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang
Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini. Pada tahun 1330 orang sudah
mengenal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian wilayah
ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam
Wuruk. Pada masa-masa itu Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak
merupakan dua kekuatan terbesar di Nusantara. Tahun 1524 –1525 para
pedagang Islam berdatangan ke Banten dan saat itulah dimulai penyebaran
agama Isalm di Banten. Sekitar dua abad kemudian berdiri Kadipaten Banten di
Surasowan pada 8 Oktober 1526. Pada tahun 1552 –1570 Maulana Hasanudin
Panembahan Surosowan menjadi Sultan Banten pertama. Sejak itu dimulailah
pemerintahan kesultanan di Banten yang diakhiri oleh Sultan Muhammad
Ra
fi’
uddi
n(1813–1820) merupakan sultan ke dua puluh setelah sultan dan
rakyat masa sebelumnya berperang melawan penjajah. Namun demikian
perjuangan rakyat Banten terus berlanjut hingga detik terakhir kaki penjajah
berada di bumi Banten.

Setelah memasuki masa kemerdekaan muncul keinginan rakyat Banten


untuk membentuk sebuah provinsi. Niatan tersebut pertama kali mencuat di
tahun 1953 yang kemudian pada 1963 terbentuk Panitia Provinsi Banten di
Pendopo Kabupaten Serang. Dalam pertemuan antara Panitia Provinsi Banten
dengan DPR-GR sepakat untuk memperjuangkan terbentuknya Provinsi Banten.
Pada tanggal 25 Oktober 1970 Sidang Pleno Musyawarah Besar Banten
mengesahkan Presidium Panitia Pusat Provinsi Banten. Namun ternyata

Banten Dalam Angka 2004 xxxii


Sejarah Singkat Banten

perjuangan untuk membentuk Provinsi Banten dan terpisah dari Jawa Barat
tidaklah mudah dan cepat. Selama masa Orde Baru kenginan tersebut belum
bisa direalisir.

Pada Orde Reformasi perjuangan masyarakat Banten semakin gigih


karena mulai terasa semilirnya angin demokrasi dan isu tentang otonomi daerah.
Pada 18 Juli 1999 diadakan Deklarasi Rakyat Banten di Alun-alun Serang yang
kemudian Badan Pekerja Komite Panitia Provinsi Banten menyusun Pedoman
Dasar serta Rencana Kerja dan Rekomendasi Komite Pembentukan Provinsi
Banten (PPB). Sejak itu mulai terbentuk Sub-sub Komite PPB di berbagai
wilayah di Banten untuk memperkokoh dukungan terbentuknya Provinsi
Banten. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan akhirnya pada 4
Oktober 2000 Rapat Paripurna DPR-RI mengesahkan RUU Provinsi Banten
menjadi Undang-Undang No. 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi
Banten. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 2000 Presiden Abdurrahman
Wahid mengesahkan UU No. 23 Tahun 2000 tentang PPB. Sebulan setelah itu
pada 18 Nopember 2000 dilakukan peresmian Provinsi Banten dan pelantikan
Pejabat Gubernur H. Hakamudin Djamal untuk menjalankan pemerintah
provinsi sementara waktu sebelum terpilihnya Gubernur Banten definitif. Pada
tahun 2002 DPRD Banten memilih Dr. Ir. H. Djoko Munandar, MEng dan Hj.
Atut Chosiyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten pertama.

Sumber: Buku Sekapur Sirih Perjalanan Panjang dan Kronologis Terbentuknya


Propinsi Banten 1953 –2000 oleh Drs. E. Iwa Tuskana Supandri.

Banten Dalam Angka 2004 xxxiii


Sejarah Singkat Banten

Brief History of Banten Province

Banten is the name of the area has been know since 14 century. In the
beginning Banten is a port which the ships and trader are coming from any
country, and finally Euro people control this area. In 1330 people have known a
country which as Panten, and then this area controlled by Kingdom of
Majapahit with Gajah Mada and Hayam Wuruk as a leader. At that time,
Kingdom of Majapahit and Kingdom of Demak are two of Kingdom has power
in Nusantara (Indonesia). In 1524 –1525 Moslem traders came to Bnaten and
that time; begin of Islam religious growth in Banten. In about two century later,
regency (Kadipaten) of Banten has been build at Surasowan in October 8, 1526.
In 1552 -1570 Maulana Hasanudin Princes (Panembahan) of Surasowan
become the first leader (Sultan) of Baneten. At that time the government of
Sultan has begun which finally Sultan MuhammadRaf
i’
udd
in(
1813–1820) is
the 20th Sultan with all the people of Banten attack for the illegal government.
But war of Banten forever until the illegal government goes out from Banten.
Since the freedom of Indonesia, people of Banten want to build a
Banten province. That hoping had existed since 1953 and in 1963 made
committee of Banten Province at Serang regency. In the meeting between
Committee of Banten Province with legislative (DPR-GR) agree to make a
frame of Banten province. In October 25, 1970 the great meeting of Banten has
declared the Presidium of Committee of Banten Province. But not convenient to
build the province which unravel of West Java. In era Orde Baru struggle of
Banten Province can not release yet.
In reformation order (Orde Reformasi), struggle of Banten people is
very obstinate because free democracy and regency autonomy (self-government)
has issue by central government. In July 18, 1999 there was declaration of

Banten Dalam Angka 2004 xxxiv


Sejarah Singkat Banten

Banten people in Serang, later official of Committee of Banten Province (Badan


Pekerja Komite Panitia Provinsi Banten) arrange the basic guide and job
planning recommended Committee of Institution of Banten Province (Komite
Pembentukan Provinsi Banten /PBB). Since that, conformed subs of commission
PBB in some regency in Banten to fasted conformation of Banten Province.
After through martial aborious ultimately at October 4, 2000 tight at great
meeting of legislative (Rapat Paripurna DPR-RI) affirm draft of law (RUU) of
Banten Province become act the law No. 23 Year 2000 about Institution of
Banten Province. Posterior at October 17, 2000 President Abdurrahman Wahid
affirms the law No. 23 Year 2000 about PBB. One month after that at November
18, 2000 there was agreement of Banten Province, and functionary governor H.
Hakamudin Djamal to implement officer transitory province before definitive
governor electing. In 2002 Local legislative (DPRD) of Banten elected Dr. Ir. H.
Djoko Munandar, M.Eng as Governor, and Hj. Atut Chosiyah as Vice Governor.

Source:
Drs. E. Iwa Tuskana Supandri, Sekapur Sirih Perjalanan Panjang dan
Kronologis Terbetuknya Propinsi Banten 1953 - 2000.
.

Banten Dalam Angka 2004 xxxv


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 16 TAHUN 1997
TENTANG STATISTIK
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa statistik penting artinya bagi perencanaan,


pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi penyelenggaraan
berbagai kegiatan di segenap aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam
pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila,
untuk memajukan kesejahteraan rakyat dalam rangka
mencapai cita-cita bangsa sebagaimana tercantum dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;

b. bahwa dengan memperhatikan pentingnya peranan


statistik tersebut, diperlukan langkah-langkah untuk
mengatur penyelenggaraan statistik nasional terpadu
dalam rangka mewujudkan Sistem Statistik Nasional yang
andal, efektif, dan efisien;

c. bahwa Undang-undang Nomor 6 Tahun 1960 tentang


Sensus dan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang
Statistik pada saat ini tidak sesuai lagi dengan
perkembangan keadaan, tuntutan masyarakat, dan
kebutuhan pembangunan nasional;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


dalam huruf a, b, c di atas, dipandang perlu membentuk
Undang-undang tentang Statistik yang baru;

Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar
1945;

Banten Dalam Angka 2004 xxxvi


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG STATISTIK.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Statistik adalah data yang diperoleh dengan cara pengumpulan, pengolahan,


penyajian, dan analisis serta sebagai sistem yang mengatur keterkaitan antar
unsur dalam penyelenggaraan statistik.

2. Data adalah informasi yang berupa angka tentang karakteristik (ciri-ciri


khusus) suatu populasi.

3. Sistem Statistik Nasional adalah suatu tatanan yang terdiri atas unsur-unsur
yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk totalitas dalam
penyelenggaraan statistik.

4. Kegiatan statistik adalah tindakan yang meliputi upaya penyediaan dan


penyebarluasan data, upaya pengembangan ilmu statistik, dan upaya yang
mengarah pada berkembangnya Sistem Statistik Nasional.

5. Statistik dasar adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk


keperluan yamng bersifat luas, baik bagi pemerintah maupun masyarakat,
yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral, berskala nasional, makro, dan
penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab Badan.

6. Statistik sektoral adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk


memenuhi kebutuhan instansi tertentu dalam rangka penyelenggaraan
tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan yang merupakan tugas pokok
instansi yang bersangkutan.

7. Statistik khusus adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk


memenuhi kebutuhan spesifik dunia usaha, pendidikan, sosial budaya, dan
kepentingan lain dalam kehidupan masyarakat, yang penyelenggaraannya

Banten Dalam Angka 2004 xxxvii


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
dilakukan oleh lembaga, organisasi, perorangan, dan atau unsur masyarakat
lainnya.

8. Sensus adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan


semua unit populasi di seluruh wilayah Republik Indonesia untuk
memperoleh karakteristik suatu populasi pada saat tertentu.

9. Survei adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan


sampel untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi pada saat
tertentu.

10. Kompilasi produk administrasi adalah cara pengumpulan, pengolahan,


penyajian, dan analisis data yang didasarkan pada catatan administrasi yang
ada pada pemerintah dan atau masyarakat.

11. Badan adalah Badan Pusat Statistik.

12. Populasi adalah keseluruhan unit yang menjadi objek kegiatan statistik baik
yang berupa instansi pemerintah, lembaga, organisasi, orang, benda maupun
objek lainnya.

13. Sampel adalah sebagian unit populasi yang menjadi objek penelitian untuk
memperkirakan karakteristik suatu populasi.

14. Sinopsis adalah suatu ikhtisar penyelenggaraan statistik.

15. Penyelenggara kegiatan statistik adalah instansi pemerintah, lembaga,


organisasi, perorangan, dan atau unsur masyarakat lainnya.

16. Petugas statistik adalah orang yang diberi tugas oleh penyelenggara
kegiatan statistik untuk melaksanakan pengumpulan data, baik melalui
wawancara, pengukuran, maupun cara lain terhadap objek kegiatan statistik.

17. Responden adalah instansi pemerintah, lembaga, organisasi, orang, dan atau
unsur masyarakat lainnya yang ditentukan sebagai objek kegiatan statistik.

BAB II
ASAS, ARAH, DAN TUJUAN

Pasal 2

Selain berlandaskan asas-asas pembangunan nasional, undang-undang ini juga


berasaskan :

Banten Dalam Angka 2004 xxxviii


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
a. keterpaduan;

b. keakuratan; dan

c. kemutakhiran.

Pasal 3

Kegiatan statistik diarahkan untuk :

a. mendukung pembangunan nasional;

b. mengembangkan Sistem Statistik Nasional yang andal, efektif, dan efisien;

c. meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti dan kegunaan statistik; dan

d. Mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 4

Kegiatan statistik bertujuan untuk menyediakan data statistik yang lengkap,


akurat dan mutakhir dalam rangka mewujudkan Sistem Statistik Nasional yang
andal, efektif, dan efisien guna mendukung pembangunan nasional.

BAB III
JENIS STATISTIK DAN CARA
PENGUMPULAN DATA

Bagian Pertama
Jenis Statistik

Pasal 5

Berdasarkan tujuan pemafaatannya, jenis statistik terdiri atas:

a. statistik dasar;

b. statistik sektoral; dan

c. statistik khusus.

Banten Dalam Angka 2004 xxxix


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
Pasal 6

(1) Statistik dasar dan statistik sektoral terbuka pemanfaatanya untuk umum,
kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengetahui dan
memanfaatkan statistik khusus dengan tetap memperhatikan hak
seseorang atau lembaga yang dilindungi Undang-undang.

Bagian Kedua
Cara Pengumpulan Data

Pasal 7

Statistik diselenggarakan melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan


cara:

a. sensus;

b. survei;

c. kompilasi produk administrasi; dan

d. cara lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 8

(1) Sensus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a diselenggarakan


sekurang-kurangnya sekali dalam 10 (sepuluh) tahun oleh Badan, yang
meliputi:

a. sensus penduduk;

b. sensus pertanian; dan

c. sensus ekonomi.

(2) Penetapan tahun penyelenggaraan dan perubahan jenis sensus


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.

Pasal 9

Banten Dalam Angka 2004 xl


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
(1) Survei sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b diselenggarakan
secara berkala dan sewaktu-waktu untuk memperoleh data yang rinci.

(2) Survei antarsensus dilakukan pada pertengahan 2 (dua) sensus sejenis


untuk menjembatani 2 (dua) sensus tersebut.

Pasal 10

(1) Kompilasi produk administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7


huruf c dilaksanakan dengan memanfaatkan berbagai dokumen produk
administrasi.

(2) Hasil kompilasi produk administrasi milik instansi pemerintah terbuka


pemanfaatannya untuk umum, kecuali ditentukan lain oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

(3) Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mengetahui dan
memanfaatkan hasil kompilasi produk administrasi milik lembaga,
organisasi, perorangan, dan atau unsur masyarakat lainnya dengan tetap
memperhatikan hak seseorang atau lembaga yang dilindungi undang-
undang.

BAB IV
PENYELENGGARAAN STATISTIK

Bagian Pertama
Statistik Dasar

Pasal 11

(1) Statistik dasar diselenggarakan oleh Badan.

(2) Dalam menyelenggarakan statistik dasar sebagaimana dimaksud dalam


ayat (1), Badan memperoleh data dengan cara:

a. sensus;

b. survei;

c. kompilasi produk administrasi; dan

d. cara lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi.

Banten Dalam Angka 2004 xli


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik

Bagian Kedua
Statistik Sektoral

Pasal 12

(1) Statistik sektoral diselenggarakan oleh instansi pemerintah sesuai lingkup


tugas dan fungsinya, secara mandiri atau bersama dengan Badan.

(2) Dalam menyelenggarakan statistik sektoral, instansi pemerintah


memperoleh data dengan cara:

a. survei;

b. kompilasi produk administrasi; dan

c. cara lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi.

(3) Statistik sektoral harus diselenggarakan bersama dengan Badan apabila


statistik tersebut hanya dapat diperoleh dengan cara sensus dan dengan
jangkauan populasi berskala nasional.

(4) Hasil statistik sektoral yang diselenggarakan sendiri oleh instansi


pemerintah wajib diserahkan kepada Badan.

Bagian Ketiga
Statistik Khusus

Pasal 13

(1) Statistik khusus diselenggarakan oleh masyarakat baik lembaga,


organisasi, perorangan maupun unsur masyarakat lainnya secara mandiri
atau bersama dengan Badan.

(2) Dalam menyelenggarakan statistik khusus sebagaimana dimaksusd dalam


ayat (1), masyarakat memperoleh data dengan cara:

a. survei;

b. kompilasi produk administrasi; dan

c. cara lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi.

Banten Dalam Angka 2004 xlii


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik

Pasal 14

(1) Dalam rangka pengembangan Sistem Statistik Nasional, masyarakat


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) wajib memberitahukan
sinopsis kegiatan statistik yang telah selesai diselenggarakannya kepada
Badan.

(2) Sinopsis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memuat:

a. judul;

b. wilayah kegiatan statistik;

c. objek populasi;

d. jumlah responden;

e. waktu pelaksanaan;

f. metode statistik;

g. nama dan alamat penyelenggara; dan

h. abstrak.

(3) Penyampaian pemberitahuan sinopsis dapat dilakukan melalui pos,


jaringan komunikasi data, atau cara penyampaian lainnya yang dianggap
mudah bagi penyelenggara kegiatan statistik.

(4) Kewajiban memberitahukan sinopsis sebagaimana dimaksud dalam ayat


(1), tidak berlaku bagi statistik yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan intern.

BAB V
PENGUMUMAN DAN PENYEBARLUASAN

Pasal 15

(1) Badan berwenang mengumumkan hasil statistik yang


diselenggarakannya.
(2) Pengumuman hasil statistik dimuat dalam Berita Resmi Statistik.

Banten Dalam Angka 2004 xliii


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik

Pasal 16

Badan menyebarluaskan hasil statistik yang diselenggarakannya.

BAB VI
KOORDINASI DAN KERJA SAMA

Pasal 17

(1) Koordinasi dan kerja sama penyelenggaraan statistik dilakukan oleh


Badan dengan instansi pemerintah dan masyarakat, di tingkat pusat dan
daerah.

(2) Dalam rangka mewujudkan dan mengembangkan Sistem Statistik


Nasional, Badan bekerja sama dengan instansi pemerintah dan
masyarakat untuk membangun pembakuan konsep, definisi, klasifikasi,
dan ukuran-ukuran.

(3) Koordinasi dan kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilaksanakan atas dasar kemitraan dan dengan tetap mengantisipasi serta
menerapkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(4) Ketentuan mengenai tata cara dan lingkup koordinasi dan kerja sama
penyelenggaraan statistik antara Badan, instansi pemerintah, dan
masyarakat diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden.

Pasal 18

(1) Kerja sama penyelenggaraan statistik dapat juga dilakukan oleh Badan,
instansi pemerintah, dan atau masyarakat dengan lembaga internasional,
negara asing, atau lembaga swasta asing sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

(2) Kerja sama penyelenggaraan statistik sebagaimana dimaksud dalam ayat


(1) didasarkan pada prinsip bahwa penyelenggara utama adalah Badan,
instansi pemerintah, atau masyarakat Indonesia.

BAB VII
HAK DAN KEWAJIBAN

Bagian Pertama
Penyelenggara Kegiatan Statistik

Banten Dalam Angka 2004 xliv


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik

Pasal 19

Penyelenggara kegiatan statistik berhak memperoleh keterangan dari responden


mengenai karakterisrik setiap unit populasi yang menjadi objek.

Pasal 20

Penyelenggara kegiatan statistik wajib memberikan kesempatan yang sama


kepada masyarakat untuk mengetahui dan memperoleh manfaat dari statistik
yang tersedia, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 21

Penyelenggara kegiatan statistik wajib menjamin kerahasiaan keterangan yang


diperoleh dari responden.

Bagian Kedua
Petugas Statistik

Pasal 22

Setiap petugas statistik Badan berhak memasuki wilayah kerja yang telah
ditentukan untuk memperoleh keterangan yang diperlukan.

Pasal 23

Setiap petugas statistik wajib menyampaikan hasil pelaksanaan statistik


sebagaimana adanya.

Pasal 24

Ketentuan mengenai jaminan kerahasiaan keterangan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 21 berlaku juga bagi petugas statistik.

Pasal 25

Setiap petugas statistik harus memperlihatkan surat tugas dan atau tanda
pengenal, serta wajib memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat setempat,
tata krama, dan ketertiban umum.

Banten Dalam Angka 2004 xlv


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
Bagian Ketiga
Responden

Pasal 26

(1) Setiap orang berhak menolak untuk dijadikan responden, kecuali dalam
penyelenggaraan statistik dasar oleh Badan.

(2) Setiap responden berhak menolak petugas statistik yang tidak dapat
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25.

Pasal 27

Setiap responden wajib memberikan keterangan yang diperlukan dalam


penyelengaraan statistik dasar oleh Badan.

BAB VIII
KELEMBAGAAN

Pasal 28

(1) Pemerintah membentuk Badan yang berada di bawah dan bertanggung


jawab langsung kepada Presiden.

(2) Badan mempunyai perwakilan wilayah di Daerah yang merupakan


instansi vertikal.

(3) Ketentuan mengenai tugas, fungsi, susunan organisasi, dan tata kerja
Badan, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), diatur lebih
lanjut dengan Keputusan Presiden.

Pasal 29

(1) Pemerintah membentuk Forum Masyarakat Statistik yang bertugas


memberikan saran dan pertimbangan di bidang statistik kepada Badan.

(2) Forum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersifat nonstruktural dan
independen, yang anggotanya terdiri atas unsur pemerintah, pakar,
praktisi, dan tokoh masyarakat.

Pasal 30

Banten Dalam Angka 2004 xlvi


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
(1) Instansi pemerintah dapat membentuk satuan organisasi di lingkungannya
untuk melaksanakan statistik sektoral.

(2) Ketentuan mengenai tugas, fungsi, susunan organisasi, dan tata kerja
satuan organisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh
instansi yang bersangkutan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

(3) Dalam menyelenggarakan statistik sektoral, satuan organisasi


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus mengadakan koordinasi
dengan Badan untuk menerapkan penggunaan konsep, definisi,
klasifikasi, dan ukuran-ukuran yang telah dibakukan dalam rangka
pengembangan Sistem Statistik Nasional.

BAB IX
PEMBINAAN

Pasal 31

Badan bekerja sama dengan instansi pemerintah dan unsur masyarakat


melakukan pembinaan terhadap penyelenggara kegiatan statistik dan
masyarakat, agar lebih meningkatkan kontribusi dan apresiasi masyarakat
terhadap statistik, mengembangkan Sistem Statistik Nasional, dan mendukung
pembangunan Nasional.

Pasal 32

Dalam rangka pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, Badan


melakukan upaya-upaya sebagai berikut:

a. meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan


statistik;

b. mengembangkan statistik sebagai ilmu;

c. meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat


mendukung penyelenggaraan statistik;

d. mewujudkan kondisi yang mendukung terbentuknya pembakuan dan


pengembangan konsep, definisi, klasifikasi, dan ukuran-ukuran dalam
kerangka semangat kerja sama dengan para penyelenggara kegiatan statistik
lainnya;

Banten Dalam Angka 2004 xlvii


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
e. mengembangkan sistem informasi statistik;

f. meningkatkan penyebarluasan informasi statistik;


g. meningkatkan kemampuan penggunaan dan pemanfaatan hasil statistik
untuk mendukung pembangunan nasional; dan

h. meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti dan kegunaan statistik.

Pasal 33

Pelaksanaan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 diatur lebih


lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

BAB X
KETENTUAN PIDANA

Pasal 34

Setiap orang yang tanpa hak menyelenggarakan sensus sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
(dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah).

Pasal 35

Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 14 ayat (1), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).

Pasal 36

(1) Penyelenggara kegiatan statistik yang dengan sengaja dan tanpa alasan
yang sah tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal
20, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau
denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).

(2) Penyelenggara kegiatan statistik yang dengan sengaja melanggar


ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Banten Dalam Angka 2004 xlviii


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
Pasal 37

Petugas statistik yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 24, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas
juta rupiah).

Pasal 38

Responden yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 27, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6
(enam) bulan dan denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta
rupiah).

Pasal 39

Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa alasan yang sah mencegah,
menghalang-halangi, atau menggagalkan jalannya penyelenggaraan statistik
yang dilakukan oleh penyelenggara kegiatan statistik dasar dan atau statistik
sektoral, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 40

(1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, Pasal 36 ayat (2),
Pasal 37, Pasal 38, dan Pasal 39 adalah kejahatan.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dan Pasal 36 ayat
(1) adalah pelanggaran.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 41

Semua peraturan pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1960 tentang


Sensus dan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik dinyatakan
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru
berdasarkan Undang-undang ini.

Banten Dalam Angka 2004 xlix


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 42

Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini, maka Undang-undang Nomor 6


tahun 1960 tentang Sensus dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1960 tentang
Statistik dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 43

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Disahkan di Jakarta
Pada tanggal 19 Mei 1997

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

(Ttd)

SOEHARTO

Banten Dalam Angka 2004 l


UU No. 16 Tahun 1997 Statistik
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 19 Mei 1997

MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA


REPUBLIK INDONESIA

(Ttd)

MOERDIONO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


TAHUN 1997 NOMOR 39

Salinan sesuai dengan aslinya Salinan sesuai dengan


salinan aslinya

SEKRETARIAT KABINET BIRO PUSAT STATISTIK


REPUBLIK INDONESIA
Kepala Biro Hukum Kepala Biro Kepegawaian
dan Perundang-undangan dan Organisasi

(Ttd) (Ttd)

Lambock V. Nahattands Pietojo, MSA

Banten Dalam Angka 2004 li


Law of Number 16 of 1997 Statistics
LAW OF REPUBLIC OF INDONESIA

NUMBER 16 OF 1997

ON

STATISTICS

WITH THE MERCY AND COMPASSION OF THE ONE ONLY GOD

THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

Considering : a. That a statistics are important of planning, Implementation,


Monitoring and evaluation of various activities is every
aspect of the community, nation, state in the context of national
development , as the implementation of Panacea, which aims to
promote public Welfare in an effort to achieve the national goals as
stated in the preambule to the constitution of 1945;

b. That in the above mentioned importance of statistics mean, that steps


must be taken to regulate integrated national statistics in the effort to
create a reliable, effective, and efficient National statistics System;

c. That in the law number 6 of 1960 on Censuses and Law Number 7 of


1960 on Statistics are no longer appropriate in light of subsequent
developments, community demands, and the requirement of national
development;

d. That in light of letter a, b, and c above, a new Law on Statistics is


demand necessary;

In View of : Article 5 Section (1) and Article 20 section (1) of the Constitution of 1945.

With the Approval of:

THE PEOPLE REPRESENTATIVE COUNCIL

OF THE INDONESIA DECREES:

To Stipulate : THE LAW ON STATISTICS

CHAPTER I

GENERAL PROVISIONS

Article 1

In this law :

1. Statistics are the obtained by collection

Banten Dalam Angka 2004 lii


Law of Number 16 of 1997 Statistics
2. preparation, presentation and analysis, and is system which regulates the connection between
elements of statistics collection.

3. Data are information in the form of numbers which concern the special characteristics of
population.

4. The National Statistics System is an institution consisting of parts which are interlinked in an
order manner to form a totality in statistical collections.

5. Statistic activities are measures directed towards providing and disseminating data,
advancing the science of statistics, and eventually developing a national statistics system.

6. Basic statistics are statistics utilized for a broad range of (Both government and community)
Purpose, which have cross-sectoral characteristics, are on a nation and macro scale, and will
be the responsibility of the agency.

7. Sectoral statistics are statistics utilized to satisfy the need of particular institution in on effort
to perform the duties of the administration and to further development, the primary duty of the
institution in question.

8. Special statistics are statistics utilized to fulfill The specific need of business, education,
socioculture, and community interest, undertaken by non government institution,
organizations, individuals, and/or other parts of the community.

9. A census is a data collected by enumerating a census of all population units in the entire
territory of the republic of the Indonesia to determine the characteristic of population at a
given time.

10. A survey is data collection method whereby a simple census is taken in other estimate the
characteristics of a population at a given time.

11. The compilation of administrative products is collecting, preparing, presenting and analyzing
data from administrative records available from the government and/or community.

12. The agency is the BPS –Statistics Indonesia.

13. Population is the unit or object of statistical activities, and includes government institutions,
non government institutions, organization, individuals, items, and so on.

14. A sample is a unit of the population used to estimate the characteristics of population.

15. A synopsis is an outline of a statistical collection.

16. A conductor of statistical activities may be a government institutions, a non government


institution, an organization, an individual, or another part of the community.

17. An enumerator is an individual assigned by the conductor of statistical activities to collect data
by interviewing, measuring (or using some other method on) the object of statistical activity.

18. A respondents a government institution, a non government institution, an organization, an


individual, or another part of the community which has been selected as the object of statistical
activity.

Banten Dalam Angka 2004 liii


Law of Number 16 of 1997 Statistics
CHAPTER II.

PRINCIPLES, DIRECTION, AND AIMS

Article 2

In addition to the basic principles of national development, this law based on :

a. Integrity;

b. Accuracy; and

c. Currency.

Article 3

Statistical activities should :

a. support national development;

b. develop a reliable, effective, and efficient national statistics system;

c. increase public awareness of the significance and function of statistics; and

d. support development of science and technology.

Article 4

Statistical activities aim to provide complete, accurate, and current statistical data in order to create
a reliable, effective, and efficient national statistic system to support national development.

CHAPTER III.

TYPE OF STTISTICS AND METHOD OF DATA COLLECTION

Part one

Types of statistics

Article 5

Based on the purpose for which they are used, statistics are classified the following types:

a. basic statistics;

b. sectoral statistics; and

c. special statistics.

Article 6

(1) Basic statistics and sectoral statistics are available for public utilization unless it is specified
otherwise in prevailing legislation.

Banten Dalam Angka 2004 liv


Law of Number 16 of 1997 Statistics
(2) Every individual has equal opportunity to access and make use of special statistics but must
maintain regard for the legally protected right of a person or an institution.

Part two

Data Collection Methods

Article 7

Statistics are collected by :

a. census;

b. survey;

c. the compilation of administrative products; and

d. other methods in keeping with developments in science and technology.

Article 8

(1) Censuses as referred to in article 7 letter a, will be conducted at least once every ten years by
the agency, and will consist of :

a. a population census;

b. an agricultural census; and

c. an economic census.

(2) Changes to the Census and when it is to be conducted as referred to in section (1)will be
further regulated in a government regulation.

Article 9

(1) Surveys is referred to in article 7 letter b, will be conducted periodically or at any time in
order to obtain detailed data.

(2) Intercencal surveys will be carried out between censuses in order to bridge them.

Article 10

(1) Compilation of administrative product referred to in article 7 letter c, will be collected by


utilizing various documents from administrative records.

(2) Compilation of administrative products will be owned by government institution but will be
available for public utilization unless prevailing legislation specifies otherwise.

(3) Every individual will have an equal Opportunity to access the compilation of administrative
product owned by a non government institution, an organization, an individual, or another
part of the community but must maintain regard for the legally protected right of an individual
or an institution.

Banten Dalam Angka 2004 lv


Law of Number 16 of 1997 Statistics
CHAPTER IV.

STSTISTICS COLLLECTION

Part one

Article 11

(1) The Agency is responsible for basic statistics collection.

(2) When collecting basic statistics referred to in section (1), the agency will obtained date by :

a. census;

b. survey;

c. compilation of administrative product; and

d. other methods in keeping with developments in science and technology.

Part two

Sectoral Statistics

Article 12

(1) A government institution will collect sectoral statistics in accordance with the scope of its
duties and function, either independently or in cooperation with the agency.

(2) When collecting sectoral statistics, the government institution will obtained data by:

a. survey;

b. compilation of administrative products; and

c. other methods in keeping with developments in science and technology.

(3) Sectoral statistics must be collected in cooperation with the agency when the statistics can only
be obtained by census and need to be collected on a national scale.

(4) The results of sectoral statistics activity when carried out by a government institution on its
own must be submitted to the agency.

Part Three

Specials Statistics

Article 13

(1) Specials statistics will be collected by the community whether by a non government institution,
an organization, an individual, or another part of the community either independently or in a
cooperation with the agency.

Banten Dalam Angka 2004 lvi


Law of Number 16 of 1997 Statistics
(2) The community may collect special statistics as referred to in section (1) by:

a. Survey;

b. The compilation of administration products; and

c. other methods in keeping with developments in science and technology

Article 14

(1) In order to develop a National Statistics System, the community as referred, to in article 13
section (1) must provide the Agency with a synopsis of the statistical activity that it as
undertaken when completed.

(2) The synopsis referred to in section (1) should contain:

a. a title;

b. the are where statistical activities where conducted;

c. the population;

d. the number of respondents;

e. the time taken;

f. the statistical method;

g. the name address of the conductor of statistics activities; and

h. an abstract.

(3) The synopsis can be delivered by post, a data communication network, or other mean deemed
convenient for the conductor of the statistical activity.

(4) The obligation to provide a synopsis as referred to in section (1) does not apply to statistics
which are used to fulfill internal requirement.

CHAPTER V.

PUBLICATION AND DISEMINATION

Article 15

(1) The agency may publish the statistics it has collected.

(2) The statistics are to be published in the official Statistics News

Article 16

The agency is to disseminates the statistics it has collected.

Banten Dalam Angka 2004 lvii


Law of Number 16 of 1997 Statistics
CHAPTER VI.

COORDINATION AND COOPERATION

Article 17

(1) The coordination and cooperation the collection of statistics will be the responsibility of the
Agency in consultation with government institutions and the community, at both central and
regional levels.

(2) In the frame work of achieving and developing a National Statistics System, the Agency will
cooperate with government institutions and the community to standardize concepts, definition
classifications, and measurements.

(3) The coordination and cooperation referred to in section (1) are to be conduct on the basis of
partnership, and developments in science and technology will be anticipated and applied.

(4) The method and scope of the coordination and cooperation in the collection of statistics
between the Agency, government institution, and the community will be further regulated by a
presidential Decree.

Article 18

(1) There may also be cooperation in collecting statistics between the Agency, government
institutions, and/or the community and international institution, foreign countries institutions
in accordance with prevailing legislation.

(2) The cooperation in he collection of statistics referred to in section (1) is based on the principle
that the principal conductor of the statistical activities will be the Agency, the government
institution, or the Indonesian community.

CHAPTER VII.

RIGHT AND OBLIGATIONS

Part one

Conductor of Statistic Activities

Article 19

The conductor of statistical activities may obtain information from respondents on the
characteristics of every population which is the object of the research.

Article 20
In accordance with prevailing legislation, the conductor of statistical activities must provide equal
opportunity to access available statistics.

Article 21
The conductor of statistical activities must ensure the confidentiality of the information obtained
from respondents.

Banten Dalam Angka 2004 lviii


Law of Number 16 of 1997 Statistics
Part two

Enumerator

Article 22

Every enumerator from the Agency may enter an appointed working area in order to obtain
necessary information.

Article 23

Every enumerator must deliver the results of the statistical activity without altering team.

Article 24

Stipulation ensuring the confidentiality of the information collected referred to in article 21 also
apply to enumerators.

Article 25
Every enumerator must display his or her letter of assignment and/or identification, and must
observe religious beliefs, local customs, etiquette and public order.

Part three

Respondents

Article 26

(1) Every individual has the right of to refuse to be respondent, except when the Agency is
collecting basic statistics.

(2) Every respondent may turn away any enumerator who fails to satisfy the requirements of
article 25.

Article 27

Every respondent must provide the required information when the Agency is collecting basic
statistics.

CHAPTER VIII.

INSTITUTIONAL ISSUES

Article 28

(1) The government will establish a Agency which will be under and directly responsible to the
president.

(2) The Agency has regional representatives vertically.

(3) Sti
pulati
onsr e gard i
n gt heAge nc y
’sd uties,f un ction,or gan i
zationa ls t
ru ct
ure ,a ndwor ki
ng
procedures, as referred to in section (1), will be further regulated by a presidential Decree.

Banten Dalam Angka 2004 lix


Law of Number 16 of 1997 Statistics
Article 29

(1) The government will establish a statistics community forum which will provide advice on
statistics to the Agency.

(2) The forum referred to in section (1) will not have a formal structure but will be independent, its
member will consist of government representatives, experts, practitioners, and public figure.

Article 30

(1) A government institution may establish an organizational unit within its field of operation to
collect sectoral statistics.

(2) The duties, functions, organizational structural, and working procedures of the organizational
unit referred to in section (1) will be regulated by the relevant institution base on prevailing
legislation.

(3) When collecting sectoral statistics, the organizational unit referred to in section (1) must
coordinate with the Agency to apply standardized concepts, definitions, classifications, and
measurements to further develop the National Statistics System, and to support nations
development.

CHAPTER IX.

GUIDANCE

Article 31

The Agency will cooperate with government institution and the community to guide the statistics
coll
ec t
ingbod yan dt hec ommun i
ty,i
nor d
ertofur t
he rincr eas ethec ommun it
y’sc ont
ributi
onst o,
and appreciation of statistic, to develop a National Statistic System, and to support national
development.

Article 32

The Agency should provide guidance as referred to in article 31, by:

a. increasing the capabilities of the human resources used in statistics collections;

b. developing statistics as a science;

c. increasing mastery of science and technology which can support statistics collections;

d. creating conditions that support the necessary standardization and development of


concepts, definitions, classifications, and measurements in cooperation with other
statistics collectors;

e. developing an information statistic system;

f. improving the dissemination of statistical information;

g. increasing the ability to use and utilize statistics to support national development; and

Banten Dalam Angka 2004 lx


Law of Number 16 of 1997 Statistics
h. promoting public awareness of the significance and function of statistics.

Article 33

The guidance directive referred to in article 31 will be further regulated in a government regulation.

CHAPTER X.

CRIMINAL PENALTIES/PROVISIONS

Article 34

Any individual who unlawfully conducts a census in breach of article 11 section (2) letter a, will be
subject to imprisonment for a period not exceeding two years and a fine not exceeding Rp.
50.000.000

Article 35

Any individual who deliberately violates article 14 section (1), will be subject to imprisonment for a
period not exceeding one year or a fine of up to Rp 25.000.000.

Article 36

(1) any conductor of statistical activities who deliberate, and without legal justification, fail to
fulfill his or her obligation as set out in article 20, will be subject to imprisonment for one year
or a fine not exceeding Rp 25.000.000.

(2) any conductor of statistical activities who deliberate violate article 21 will be subject to
imprisonment for a period not exceeding five years and a fine not exceeding Rp. 100.000.000.

Article 37

Enumerators who deliberately violate article 24 will be subject to imprisonment for a period not
exceeding one years and six month and a fine not exceeding 25.000.000.

Article 38

Respondent who deliberately violate article 27 will be subject to imprisonment for a period not
exceeding one year and six month and a fine not exceeding Rp. 25.000.000.

Article 39

Any individual who deliberately and without legal justification prevents, interrupts, or causes the
conductor of statistical activities to fail to collect basic or sectoral statistics will be subject to
imprisonment for a period not exceeding Rp. 100.000.000.

Article 40

(1) The criminal acts referred to in article 34, article 36 section (2), article 37, article 38, and
article 39, are crimes.

(2) The criminal acts referred to in article 35 and article 36 section (1) are violation.

Banten Dalam Angka 2004 lxi


Law of Number 16 of 1997 Statistics
CHAPTER XI.

TRANSITIONAL PROVISION

Article 41

All regulations which implement Law Number 6 of 1960 on censuses and Law Number 7 on
Statistics remain effective period they do not conflict with, or have not been repealed by, this Law or
any subsequent legislation.

CHAPTER XII.

CLOSING PROVISIONS

Article 42

When this Law takes effect, Law Number 6 of 1960 on census as Law Number 7 of 1960 on statistics
will be invalid.

Article 43

This Law will taken effect on hen date in is enacted. In order for every individual to know of this law,
this legislation must be published in this state gazette of the Republic of Indonesia.

Ratified in Jakarta

on May 19, 1997

The President of Republic of Indonesia

Signed

SOEHARTO
Promulgated in Jakarta

On may 19, 1997

THE MINISTER /ATATE SECRETARY

OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

Signed

MOERDIONO

Banten Dalam Angka 2004 lxii


Law of Number 16 of 1997 Statistics
STATE GAZATTE OF THE REPUBLIC OF INDONESIA OF 1997 NUMBER 39

Copy of original text Copy of original text

SECRETARY OF THE CABINET OF BPS - STATISTIC INDONESIA

THE REPUBLIC OF INDONESIA head of the bureau of

Head of the bureau of Personnel and organization,

law and regulations,

signed signed

Lambock V. Nahattands Pietojo, MSA

Banten Dalam Angka 2004 lxiii


Daftar Isi
DAFTAR ISI
CONTENTS

Halaman
Page

Peta Administrasi Propinsi Banten


Administration Map of Banten Province …………………………………… iii

Kata Pengantar
Preface …………………………………………………………………………. ix

Sambutan Gubernur Banten


Foreword of The Governor of Banten………………………………………. xi

Sambutan Kepala Bapeda Propinsi Banten …………………..


Foreword of The Bapeda of Banten Province xiii

Lambang Banten
Logo of Banten ………………………………………………………………… xv

Sejarah Singkat Banten ………………………………...


History of Banten xxxii

Undang-Undang No. 16 Tahun 1997 Tentang Statistik


Law of Number 16 of 1997 on Statistics …………………………………… xxxvi

Daftar Isi
Contents ………………………………………………………………………… lxiv

Daftar Gambar
List of Figures …………………………………………………………………. lxvii

Daftar Tabel
List of Tables …………………………………………………………………. lxix

Penjelasan Umum
Explanatory Notes …………………………………………………………… lxxxvii

Bab I. Kondisi Geografis dan Iklim


Geography and Climate Situation
………………………………………………………… 1

Bab II. Pemerintahan


Government …………………………………………………………………… 13

Bab III. Penduduk dan Tenaga Kerja


Population and Manpower ………………………………………… 29
3.1. Penduduk
Population ………………………………………………………………… 36
3.2. Tenaga Kerja
Manpower ………………………………………………………………… 43

Banten Dalam Angka 2004 lxiv


Daftar Isi

Bab IV. Sosial


Social ………………………………………………………………… 71
4.1. Pendidikan
Education ………………………………………………………………… 74
4.2. Kesehatan dan Keluarga Berencana
Health and Family Planning …………………………………………… 78
4.3 Perumahan dan Lingkungan
Housing and Environment ………………………………………………. 83
4.4. Sosial Lainnya
Other Social Matters ……………………………………………………. 85

Bab V. Pertanian
Agriculture …………………………………………………………… 135
5.1. Pertanian Tanaman Pangan
Food Crops ……………………………………………………………… 137
5.2. Perkebunan
Estate Crops ……………………………………………………………. 139
5.3. Kehutanan
Forestry ……………………………………………………………….. 140
5.4. Peternakan
Animal Husbandry ……………………………………………………… 141
5.5. Perikanan
Fishery …………………………………………………………………… 142

Bab VI. Industri Pengolahan, Penggalian, dan Energi


Manufacturing, Quarrying, Energy ….. 199
6.1. Industri Pengolahan
Manufacturing ……………………………………………………………
201
6.2. Penggalian
Quarrying …………………………………………………………………
204
6.3. Listrik dan Air Minum
Electricity and Drinking Water ……………………….. 204

Bab VII. Perdagangan, Hotel dan Pariwisata


Trade, Hotel and Tourism …………………………………………. 225
7.1. Perdagangan
Trade ……………………………………………………………………….. 227
7.2. Hotel dan Pariwisata
Hotel and Tourism ……………………………………………………….. 228

Bab VIII. Perhubungan


Transportation …………………………………………………….. 255
8.1. Perhubungan Darat
Land Transportation …………………………………………………….. 257
8.2. Perhubungan Udara
Air Transportation ………………………………... 260
8.3. Perhubungan Laut
Sea Transportation ……………………………….. 262

Banten Dalam Angka 2004 lxv


Daftar Isi
Bab IX. Keuangan dan Harga-harga
Finance and Prices …………………………………………………. 291
9.1. Investasi
Investment …………………………………………………………………. 293
9.2. Indeks Harga Konsumen
Consummer Index Price …………………………………………………. 295
9.3. Harga-harga dan Indeks Harga
Prices ……………………………………………………………………… 296

Bab X. Pendapatan Regional


Regional Income ……………………………………………………… 351

Bab XI. Ketersediaan Pangan dan Pengeluaran Penduduk


Food Availability and Population Expenditure …………………. 377
11.1. Ketersediaan Pangan
Food Availability ………………………………... 379
11.2. Pengeluaran Penduduk
Population Expenditure …………………………… 379
11.3. Lainnya
Others ……………………………………………………………………. 380

Banten Dalam Angka 2004 lxvi


Daftar Gambar

DAFTAR GAMBAR
LIST OF FIGURES

Halaman
Page

Grafik 3.1. Perkembangan Jumlah Penduduk Banten Tahun 1961-2004 ………… 49

Grafik 3.2. Perkembangan Laju Pertumbuhan Penduduk Banten, Tahun 1961-2004 49

Grafik 3.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK Kabupaten/Kota Di Banten . 50

Grafik 3.4. Persentase Penduduk Banten Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Utama…………………………………………………………………… 50

Grafik 4.1. Penduduk Usia 7-24 Tahun Yang Masih Sekolah Menurut Jenis
Kelamin Tahun 2004 ………………………………………………. .. 89

Grafik 4.2. Rasio Murid-Guru Menurut Jenjang Pendidikan, Tahun 2004 …………. 89

Grafik 4.3. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas menurut


Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan, Tahun 2004 ……………………. 90

Grafik 4.4. Banyaknya Tindak Kejahatan Yang Terjadi menurut Jenis Kejahatan
Yang Dilaporkan Ke Polwil Banten, Tahun 2003 dan 2004 …………… 90

Grafik 5.1. Luas Panen Padi Palawija Menurut Kabupaten di Banten Tahun 2004
(Ha)……………………………………………………………………. .
. 143

Grafik 5.2. Produktivitas Padi Palawija Menurut Kabupaten di Banten Tahun 2004
(Kuint
a l/
Ha )……………………………………………………………. . 143

Grafik 5.3. Produksi Melinjo Menurut Kabupaten di Banten Tahun 2004 (Ribu
ton) …………………………………………………………………. 144

Grafik 5.4. Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya Menurut Kab/Kota Tahun
2004 (Ton) ……………………………………………………………. . 144

Grafik 6.1 Jumlah Perusahaan Industri Besar/Sedang di Banten Tahun 2002 –2003 207

Grafik 6.2. Jumlah Perusahaan Industri Menurut Golongan Industri Besar/Sedang


di Banten Tahun 2003 …………………………………………. .. 207

Grafik 7.1. Volume Ekspor dan Impor di Pelabuhan Cigading dan Merak Tahun
2003-2004 ………………………………………………. .
. 230

Grafik 7.2. Nilai Ekspor dan Impor di Pelabuhan Cigading dan Merak Tahun 2003
-2004……………………………………………………. 230

Grafik 8.1. Banyaknya Kecelakaan Lalu Lintas dan Jumlah Korban di Banten
Tahun 2004 ……………………………………………………………. .
. 263

Grafik 8.2. Banyaknya Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Tahun 2004 …….


. 263

Banten Dalam Angka 2004 lxvii


Daftar Gambar

Grafik 8.3. Banyaknya Barang dan Pos Paket yang Dimuat dan Dibongkar di
Bandara Soekarno Hatta 2004…………………………………………. . 264

Grafik 8.4. Banyaknya Surat Yang Dikirim Menurut Jenis Surat 2004 ……………. 264

Grafik 9.1. Nilai Rencana Investasi PMA Menurut Asal Negara Tahun 2004 …….
.. 298

Grafik 9.2. Inflasi Kota Serang Cilegon Menurut Kelompok Pengeluaran Tahun
2004 ……………………………………………………………………. .. 298

Grafik 10.1. Peranan Sektor Dalam PDRB Banten Atas Dasar Harga Berlaku 359
Tahun 2004 ……………………………………………………………

Grafik 10.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Banten Tahun 2000-2004 ………
359

Grafik 10.3. PDRB Banten Atas Harga Berlaku Menurut Jenis Pengeluaran Tahun
2004 (persen) ………………………………………………………… 360

Grafik 10.4. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten/Kota se- Banten Tahun
2003 …………………………………………………………………. 360

Banten Dalam Angka 2004 lxviii


Daftar Tabel
DAFTAR TABEL
LIST OF TABLES

Halaman
Page

BAB I : KONDISI GEOGRAFIS DAN IKLIM


GEOGRAPHICAL SITUATION AND CLIMATE

1.1. Jarak Antar Kota di Banten dan Sekitarnya…….


6
Distance Among Selected Cities in Banten and Nearby
1.2. Keadaan Iklim di Banten……………………………..
7
Condition of Climate in Banten
1.3. Suhu Udara Rata-Rata Maksimum dan Minimum di
Stasiun OBS……………………………………….
8
Average Maximum and Minimum Temperature at
Observation Station 2004
1.4 Rata-Rata Curah Hujan, Kelembaban Udara, dan
Kecepatan Angin di Stasiun OBS
9
Average of Rainfalls, Relative, Humidity, Wind
Velocity at Observation Station 2004
1.5. Keadaan Musim Kemarau di Banten…………………
10
Situation of Dry Season in Banten
1.6. Keadaan Musim Penghujan di Banten……………….
11
Situation of Rainy Season in Banten
1.7. Luas Tanah dan Penggunaanya Menurut
Kabupaten/Kota
12
Land Area and its Usage by Regency/Municipality
2003

BAB II : PEMERINTAHAN
GOVERNMENT

2.1. Jumlah Kecamatan, Kelurahan dan Desa di Banten


2004 …………………………………………………... 17
Number of Districts, Special Villages and Villages
in Banten
2.2. Jumlah Desa Menurut Klasifikasi di Banten 2004 ……
18
Number of Villages by Classification in Banten
2.3. Jumlah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa
(LKMD) Menurut Kategori di Banten 2004 …………. 19
Number of LKMD by Category in Banten
2.4. Jumlah Personil Perlindungan Masyarakat Menurut
Klasifikasi di Banten 2004 …………………... 20
Number of Civilian Reserve Personnel by
Classification in Banten
2.5. Jumlah Anggota DPRD Propinsi Banten Menurut Jenis
Partai dan Jenis Kelamin di Banten 2004 …………… 21
Number of Parliament by Political Party and Sex of
Banten
2.6. Jumlah Anggota DPRD Propinsi Banten Menurut
Fraksi dan Jenis Kelamin di Banten 2004 ……….. 22
Number of Parliament by Faction and Sex of Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxix


Daftar Tabel
2.7. Jumlah Anggota DPRD Propinsi Banten Menurut
Fraksi dan Jenis Kelamin di Banten 2004 ………… 23
Number of Parliament by Faction and Sex of Banten
2.8. Jumlah Keputusan DPRD Propinsi Banten 2004….....
24
Number of Parliament Decrees of Banten
2.9 Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS dan CPNS)
Menurut Perndidikan 2004 ……………………….. 25
Number of Local Government Employees by Education
2.10 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut Perndidikan
dan Jenis Kelamin 2004 ……………………….. 26
Number of Local Government Employees by Education
and Sex
2.11 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut Unit Kerja dan
Jenis Kelamin 2004 ……………………….. 27
Number of Local Government Employees by Unit and
Sex

BAB III : PENDUDUK DAN TENAGA KERJA


POPULATION AND MANPOWER

3.1. : PENDUDUK
POPULATION

3.1.1. Perkembangan Penduduk di Banten 1961 - 2004…..... 51


Number of Population in Banten
3.1.2. Laju Pertumbuhan Penduduk di Banten 1961-2004…. 52
Population Growth Rate in Banten
3.1.3. Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk Menurut Jenis
Kelamin di Banten 2004……………...………… 53
Number of Household and Population by Sex in Banten
3.1.4. Penduduk Warga Negara Asing Cina dan Warga
Negara Asing Lainnya di Banten 2000……...……… 54
Number of Chinese and Other Aliens in Banten
3.1.5. Luas Wilayah, Rata-rata Penduduk Per Km2 dan Per
Rumah Tangga di Banten 2004…………….……….. 55
Region Area, Population Average Per Square Km and
Per Household in Banten
3.1.6. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin di Banten i Banten 2004…………….……….. 56
Number of Population by Age Group and Sex
3.1.7. Proyeksi Penduduk Menurut Kelompok Umur di
Banten 2005-2008……………..…………. 57
Projection of Male Population by Age Group in Banten
3.1.8. Proyeksi Penduduk Menurut Kab/Kota di Banten
2005-2008…………………………..……. 58
Projection of Population by Regegency / Municipality
in Banten
3.1.9. Distribusi Persentase dan Kepadatan Penduduk
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 1990-2004 59
Percentage Distribution and Population Density by
Regency/Municipality in Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxx


Daftar Tabel
3.1.10. Rasio Jenis Kelamin Penduduk menurut Kabupaten/
Kota di Banten 1990-2004……… 60
Sex Ratio of Population by Regency/Municipality
in Banten

3.1.11 Rumah Tangga dan Rata-rata Besarnya Anggota


Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota di Banten 61
2004 …………………………………………
Number of Households and Average Size of Household
by Regency/Municipality in Banten

3.2. : TENAGA KERJA


MANPOWER

3.2.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Penduduk


Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Kabupaten /Kota
di Banten 2004……………….…………… 62
Labor Force Participation Rate of Population Aged 10
Years and Over by Regency/Municipality in Banten
3.2.2. Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Bekerja, Mencari
Pekerjaan dan Bukan angkatan Kerja per 63
Kabupaten/Kota di Banten 2004………………
Number of Population Aged 10 Years and Over Who
Worked, Looked for Job and Not Economically Active
in Banten
3.2.3. Penduduk 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut
Jenis Pekerjaan Utama per Kabupaten/Kota di
Banten 2004……………………………….….. 64
Population 10 Years of Age and Over Who Worked by
Type of Primary Job in Banten
3.2.4. Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja
Menurut Kab/Kota dan Lapangan Usaha di Banten
2004………………………………...…… 66
Population 10 Years of Age and Over Who Worked by
Regency/Municipality and Main Industry
3.2.5. Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja
Menurut Kab/Kota dan Status Pekerjaan Utama di
Banten 2004…………………...………... 68
Population 10 Years Age and Over Who Worked by
Regency/Municipality and Main Employment Status in
Banten
3.2.6. Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja
Seminggu Yang Lalu Menurut Kabupaten/Kota dan
Jumlah Jam Kerja Seluruhnya di Banten 2004……... 69
Population 10 Years of Age and Over Who Worked
During The Previous Week by Regency/Municipality
and Total Working Hours in Banten

BAB IV : SOSIAL
SOCIAL

4.1. : PENDIDIKAN
EDUCATION
4.1.1. Penduduk Usia 7 - 24 Tahun yang Masih Sekolah

Banten Dalam Angka 2004 lxxi


Daftar Tabel
Menurut Jenis Kelamin di Banten 2004…………….. 91
Population Aged 7 – 24 Years Attending School by Sex
in Banten
4.1.2. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Taman Kanak-kanak
di Banten 2004……………………………………… 92
Number of Kindergarten Schools, Students and
Teacher in Banten
4.1.3. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Dasar
di Banten 2004…………………………………….. 93
Number of Elementary Schools, Students and Teacher
in Banten
4.1.4. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama di Banten 2004…………………… 94
Number of Junior High Schools, Students and Teacher
in Banten
4.1.5. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas di Banten ……………………………….. 95
Number of Senior High Schools, Students and Teacher
in Banten
4.1.6. Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas Kejuruan di Banten 2004…………. 96
Number of Senior Vocational High Schools, Students
and Teacher in Banten
4.1.7. Jumlah Perrguruan Tinggi di Banten 2004………….
Number of University in Banten 97
4.1.8. Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas menurut Pendidikan
yang Ditamatkan dan Kabupaten/ Kota di Banten 98
2004 …………………………………………
Population Aged 10 Years and Over by Educational
Attainment and Regency/Municipality in Banten
4.1.9. Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas Menurut
Kepandaian Membaca dan Menulis dan abupaten/Kota
di Banten 2004……………………………… 100
Population Aged 10 Years and Over by Reading and
Writing Ability and Regency/Municipality in Banten

4.2. : KESEHATAN DAN KELUARGA BERENCANA


HEALTH AND FAMILY PLANNING

4.2.1. Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur di Banten


2004……………………………………..…. 101
Number of Hospitals and Beds in Banten
4.2.2. Jumlah Dokter Rumah Sakit Umum dan Puskesmas
di Banten 22004…………………………….. 102
Number of Medical Doctors at Public Hospital and
Health Center in Banten
4.2.3. Jumlah Penduduk Yang Diimunisasi Menurut Jenis
Imunisasi di Banten 2004…………………… 103
Number of Immunized People by Kind of Immunization
in Banten
4.2.4. Jumlah Persalinan Menurut Penolong Persalinan
di Banten 2004………………………………………… 104
Number of Birth by Kind of Personel in Charge in
Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxii


Daftar Tabel

4.2.5. Jumlah Tenaga Kesehatan Selain Dokter di Puskesmas 105


dan Rumah Sakit Umum di Banten 2004……...
Number of Health Personnels OTher Than Dokter at
Public Health Center and Government Hospital in
Banten
4.2.6. Jumlah Penyalur Obat di Banten 2004…...… 107
Number of Medicine Distributors in Banten
4.2.7. Jumlah Akseptor Keluarga Berencana (Usia 15-49
tahun Berstatus Kawin) Menurut Alat/Cara 108
Kontrasepsi yang Digunakan di Banten 2004….
Number of Family Planning Acceptors by Method of
Contraception Based on The Result of Family
Registration in Banten
4.2.8. Jumlah Keluarga Pasangan Usia Subur Menurut Umur
Isteri di Banten 2004…………………….. 110
Number of Potential Couple by Age of Wife in
Banten
4.2.9. Jumlah Keluarga Sejahtera Menurut Tahapan Keluarga
Sejahtera di Banten 2003-2004…………………… 111
Number of Prosperous Family by Level of Prosperous
Family in Banten

4.3. : PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN


HOUSING AND ENVIRONMENT

4.3.1. Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan


Luas Lantai Rumah di Banten 2004 ………… 113
Number of Household by Regency/Municipality and
Area of House Floor in Banten
4.3.2. Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan
Jenis Atap Terluas di Banten 2004 ……………
114
Number of Household by Regency/Municipality and
The Widest of Ceiling Type in Banten
Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan
4.3.3. Jenis Lantai Terluas di Banten 2004……….
Number of Household by Regency/Municipality and 116
The Widest of Floor Type in Banten
4.3.4 Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota 117
dan Jenis Dinding Terluas di Banten 2004 ……………
Number of Household by Regency/Municipality and
The Widest of Wall Type in Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxiii


Daftar Tabel
4.3.5. Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota
dan Sumber Penerangan di Banten 2004 …………….. 118
Number of Household by Regency/Municipality and
Source of Lights in Banten
4.3.6. Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan
Fasilitas Air Minum di Banten 2004 …………………. 119
Number of Household by Regency/Municipality and
Drinking Water Facility in Banten
4.3.7 Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota
dan Sumber Air Minum di Banten 2004 ……………… 120
Number of Household by Regency/Municipality and
Source of Drinking Water in Banten

4.4. : SOSIAL LAINNYA


OTHER SOCIAL MATTERS

4.4.1. Rekapitulasi Produksi Sertifikat Oleh Badan


Pertanahan Nasional di Banten Hingga 2003 …...… 122
Production of Sertificate by National Land Affair
Board in BantenUntil
4.4.2. Jumlah PPAT dan Penerbitan Akta di Banten
2004 ………………………………….... 125
Number of Land Certificate Legal Maker and
Certificate Publishing in Banten
4.4.3. Banyaknya Tindak Kejahatan Yang Terjadi Menurut
Jenis Kejahatan di Wilayah Banten 2004…………… 127
Number of Crimes Commited by Type of Crime in
Banten

4.4.4. Jumlah Masjid, Mushola, Gereja, Pura/Kuil dan Vihara


Menurut Kabupaten/Kota…………………………
128
Number of Mosque, Private Mosque,Churchand
Temple by Municipality
4.4.5 Jumlah Penduduk Menurut Agama di Banten 2004 …..
129
Number of Population by Religion in Banten
4.4.6. Jumlah Calon / Jamaah Haji dan Besarnya Biaya
Musim Haji 2000- 2004……………………… 130
Number of Aplicants / Pilgrims and cost to Mecca
4.4.7. Jumlah Jamaah Haji Menurut Jenis Kelamin dan
Kabupaten/Kota 2004………………………………… 131
Number of Aplicantsfor Pilgrims by sex and
Municipality
4.4.8. Tingkat Usia Calon Jamaah 2004………………..…
132
Number of Pilgrims by Age Group

4.4.9 Jumlah Korban Bencana Alam Menurut


Kabupaten/Kota 2004 …………………………… 133
Number of Natural Disaster Outcomes by Reg/Mun
4.4.10 Jumlah Lembaga Sosial/Panti Sosial
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004 134
Number of Social Placed byReg/Mun in Banten

BAB V : PERTANIAN
AGRICULTURE

Banten Dalam Angka 2004 lxxiv


Daftar Tabel
5.1. : PERTANIAN TANAMAN PANGAN
FOOD CROPS

5.1.1. Luas Panen Produktivitas dan Produksi Padi Palawija


di Banten 2004………………………………..……… 145
Harvested Area, Productivity and Production of Paddy
in Banten

5.1.2. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Palawija 147


Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004………
Harvested Area, Productivity and Production of Paddy
by Regency in Banten

5.1.3. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Jagung 150


Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004……..
Harvested Area, Productivity and Production of Maize
by Regency in Banten
5.1.4. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Ubi Kayu
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004 …. 151
Harvested Area, Productivity and Production of
Cassava by Regency in Banten
5.1.5. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kacang Tanah
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004 ….. 152
Harvested Area, Productivity and Production of
Peanuts by Regency in Banten
5.1.6. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kacang
Kedelai Menurut Kabupaten/Kota di Banten 153
2004…………………………………………...
Harvested Area, Productivity and Production of
Soybeans by Regency in Banten
5.1.7. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Ubi Jalar
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 154
2004…………………..
Harvested Area, Productivity and Production of Sweet
Potatoes by Regency in Banten
5.1.8. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kacang Hijau
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004…….. 155
Harvested Area, Productivity and Production of
Mungbeans by Regency in Banten
5.1.9. Luas Panen, Produksi dan Hasil per Ha Sayuran dan
Buah-buahan Semusim di Banten 2004 …..……….... 156
Harvested area, Production and Yield Rate of Season
Vegetables and Fruit in Banten
5.1.10. Luas Panen, Produksi dan Hasil per Ha Sayuran dan 157
Buah-buahan Tahunan di Banten 2004 …..………....
Harvested area, Production and Yield Rate of Annual
Vegetables and Fruit in Banten
5.1.11. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman 158
Obat-obatan di Banten 2004………………………..
Harvested Area, Productivity and Production of
Medicine by Regency in Banten
5.1.12. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Hias 159
di Banten 2004………………………..
Harvested Area, Productivity and Production of
Decorated by Regency in Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxv


Daftar Tabel

5.2. : TANAMAN PERKEBUNAN


ESTATE CROPS

5.2.1. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Besar Negara


Menurut Jenis Tanaman di Banten 2004 ……… 160
Area and Production of National Large Estate
by Types of Crops in Banten

5.2.2. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Besar Swasta 161


Menurut Jenis Tanaman di Banten 2004………….....
Area and Production of Private Large Estate by Types
of Crops in Banten
5.2.3. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Rakyat Menurut
Jenis Tanaman di Banten 2004 …………. 162
Area and Production of Small Holders Private
Plantation by Types of Crops in Banten

5.2.4. Luas Areal dan Produksi Tanaman Karet Menurut


Kepemilikan di Banten 2004 …………………. 163
Area and Production of Rubber by Ownership in
Banten
5.2.5. Luas Areal dan Produksi Tanaman Kelapa Menurut
Kepemilikan di Banten 2004 ………………… 164
Area and Production of Coconut by Ownership in
Banten
5.2.6. Luas Areal dan Produksi Tanaman Kopi Menurut
Kepemilikan di Banten 2004.………………….. 165
Area and Production of Coffee by Ownership in Banten
5.2.7. Luas Areal dan Produksi Tanaman Kakao Menurut
Kepemilikan di Banten 2004…………...…. 166
Area and Production of Cacao by Ownership in
Banten
5.2.8. Luas Areal dan Produksi Tanaman Aren Menurut
Kepemilikan di Banten 2004…………...…. 167
Area and Production of Sugar Palm by Ownership in
Banten
5.2.9. Luas Areal dan Produksi Tanaman Melinjo Menurut
Kepemilikan di Banten 2004…………...…. 168
Area and Production of Melinjo by Ownership in
Banten

5.3. : KEHUTANAN
FORESTRY
5.3.1. Luas Hutan Negara Menurut Jenisnya di Banten 2004 169
National Forest Area by Kind
5.3.2. Luas Kawasan Negara Menurut Status dan BKPH di 170
Banten 2004
National Forest Area by State
5.3.3. Produksi dan Nilai Produksi Kayu Jati dan Rimba di 171
Banten 2000-2004
Production and Value of Jati an Rimba Woods

5.4. : PETERNAKAN
ANIMAL HUSBANDRY

Banten Dalam Angka 2004 lxxvi


Daftar Tabel

5.4.1. Jumlah Ternak Menurut Jenis di Banten 2004…….… 172


Number of Livestocks by Kind in Banten

5.4.2. Jumlah Ternak Yang Masuk ke Banten 2004……….. 173


Number of Livestock Inflow to Banten
5.4.3. Jumlah Unggas dan Telur Yang Masuk ke Banten 2004 174
Number of Poultries and Eggs Inflow to Banten
5.4.4. Populasi Ternak Unggas Menurut Kabupaten/Kota di
Banten 2004……………………………..……….. 175
Population of Poultries in Banten
5.4.5. Produksi Ternak Unggas Menurut Kabupaten/Kota di
Banten 2004………………………………………… 176
Production of Poultries in Banten
5.4.6. Jumlah Ternak Yang Keluar dari Banten 2004………..
177
Number of Livestock Outflow from Banten
5.4.7. Jumlah Unggas dan Telur Yang Keluar dari Banten
2004……………………………….. … 178
Number of Poultries and Eggs Outflow from Banten
5.4.8. Jumlah Ternak Sapi Yang Dipotong Menurut Status
Tempat Pemotongan di Banten 2004…………... 179
Number of Slaughtered Cows by Status of Place in
Banten
5.4.9. Jumlah Ternak Kerbau Yang Dipotong Menurut Status
Tempat Pemotongan di Banten 2004………………. 180
Number of Slaughtered Buffaloes by Status of Place
in Banten
5.4.10. Jumlah Ternak Kambing Yang Dipotong Menurut
Status Tempat Pemotongan di Banten 2004…………. 181
Number of Slaughtered Goats by Status of Place in
Banten
5.4.11. Jumlah Domba Yang Dipotong Menurut Status Tempat
Pemotongan di Banten 2004…………..……………. 182
Number of Slaughtered Sheep by Status of Place in
Banten
5.4.12. Jumlah Ternak Babi Yang Dipotong Menurut Status
Tempat Pemotongan di Banten 2004 …………….…. 183
Number of Slaughtered Pigs by Status of Place in
Banten

5.4. : PERIKANAN
FISHERY

5.5.1. Produksi Ikan Menurut Tempat Penangkapan dan


Pemeliharaan di Banten 2004………………………... 184
Fish Production by Type of Catching and Breeding
Facilities in Banten
5.5.2. Nilai Produksi Ikan Menurut Tempat Penangkapan dan
Pemeliharaan di Banten 2004…………………...… 187
Value of Fish Production by Type of Catching and
Breeding Facilities in Banten
5.5.3. Jumlah Unit Penangkapan Ikan Menurut Jenis di
Banten 2004…………………………………….…. 190
Number of Marine Fisheries Catching by Kind in
Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxvii


Daftar Tabel
5.5.4. Jumlah Perahu/Kapal Penangkapan Ikan Menurut Jenis
di Banten 2004 ………………………………………. 193
Number of Fisheries Boat by Kind in Banten
5.5.5. Luas Areal dan Jumlah Tempat Pemeliharaan Ikan di
Banten 2004……………………………………….. 194
Area and Number of Fish Breeding Facilities in Banten
5.5.6. Jumlah Rumah Tangga Perikanan Menurut Jenis
Perikanan di Banten ………………………………….
Number of Fishery Household by Type of Fishery in 195
Banten

BAB VI. : INDUSTRI, PENGGALIAN DAN ENERGY


MANUFACTURING, QUARRYING, ENERGY

6.1. : INDUSTRI PENGOLAHAN


MANUFACTURING

6.1.1. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Menurut


Kabupaten/ Kota di Banten 2003……………..... 207
Number of Manufacturing and Man Power of
Establishment by Regency/Municipality in Banten

6.1.2. Nilai Input, Output dan Nilai Tambah Industri Menurut


Kabupaten/Kota di Banten 2003……………. 208
Value Input, Output and Added of Manufacturngi by
Regency /Municipality in Banten
6.1.3. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Menurut
Golongan Industri di Banten 2003……………… 209
Number of Manufacturing and Man Power
Establishment by Industrial Group in Banten
6.1.4. Nilai Input, Output dan Nilai Tambah Industri Menurut
golongan Industri di Banten 2003…………….. 211
Value Input, Output and Added of Manufacturing by
Industrial Group in Banten

6.2. : PENGGALIAN
QUARRYING

6.2.1. Produksi Bahan Galian Golongan-C Pada Perusahaan


Pemegang SIPD di Banten 2004…….. 212
Production of Quarrying Items on Companies Holding
SIPD in Banten
6.2.2. Produksi Bahan Galian Golongan-C Menurut
Kabupaten/Kota di Banten 2004……………………. 213
Production of Classification C Quarrying Items by
Regency/Municipality in Banten
6.2.3. Jumlah Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) dan
Luas Wilayah Penambangan per Jenis Bahan Galian di 214
Banten 2004…………………………………………..
Number of SIPD and Area by Kind of Quarrying Items
in Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxviii


Daftar Tabel
6.2.4. Jumlah SIPD dan Luas Wilayah Menurut Kabupaten/
Kota di Banten 2004……………….. 215
Number of SIPD and Area by Regency/ Municipality in
Banten

6.3. : LISTRIK DAN AIR MINUM


ELECTRICITY AND DRINKING WATER

6.3.1. Jumlah Pelanggan, Daya Tersambung dan Energi


Listrik Terjual Menurut Jenis Tarif di Banten 2004 … 216
Number of Customers, Connected Power and Sold
Electrical Energy by Classification of Tariff in Banten
6.3.2. Jumlah Transformator Distribusi Terpasang di Banten
2000-2004 ………………………………………. 217
Number of Distribution Transformator in Banten
6.3.3. Penyediaan, Penjualan dan Susut Energi Listrik di
Banten 2000-2004………………………….. 219
Stocked, Sold and Lost of Energy in Banten
6.3.4. Banyaknya Desa Berlistrik, Jumlah Langanan, dan 220
Daya Tersambung di Banten 2000-2004
Number of Villages, Customer, and Conection Power
6.3.5. Jumlah Perusahaan Air Minum, Kapasitas Produksi
dan Produksi Air Minum Menurut Sumber Air Yang
Dipakai di Banten 2003-2004……………………….... 221
Number of Water supply Enterprises Production
Capacity Water Production by Water Resources in
Banten
6.3.6. Jumlah Pekerja Teknis dan Administrasi Perusahaan
Air Minum Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan di
Banten 2003-2004…………………………….…….
Number of Technical and Administration Worker
222
Water Supply Enterprise by Educational Attainment in
Banten
6.3.7. Jumlah Pelanggan Air Minum yang Didistribusikan
Menurut Jenis Konsumen di Banten 2004……… 223
Number of Water Customer by type of Customer Group
in Banten
6.3.8. Jumlah Pelanggan Air Minum yang Didistribusikan
Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004……… 224
Number of Water Customer by Regency/Municipality
of Customer Group in Banten

BAB VII. : PERDAGANGAN, HOTEL DAN PARIWISATA


TRADE, HOTEL AND TOURISM

7.1. : PERDAGANGAN
TRADE

7.1.1. Volume dan Nilai Ekspor Menurut Pelabuhan Utama


di Banten 2004 ………………………… 231
Volumeand Value of Export by Principal Ports
7.1.2. Volume dan Nilai Impor Menurut Pelabuhan Utama di
Banten. 2004 ………………………………….. 232
Volume and Value of Import by Principal Ports
7.1.3. Ekspor dan Impor Melaui Pelabuhan di Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxix


Daftar Tabel
Menurut Bulan 2004 ……………….. 233
Export dan Import of Banten Province by Month
7.1.4. Ekspor Melalui pelabuhan di Banten Menurut Negara
Tujuan 2004 ….................................... 234
Export from Banten by Destination
7.1.5. Impor Melalui Pelabuhan di Banten Menurut Negara
Asal 2004 …………………………….. 235
Im port from Banten by Source
7.1.6. Ekspor Melalui pelabuhan di Banten Menurut
Komoditi 2004 ….................................... 237
Export from Banten by Commodity
7.1.7 Jumlah Restoran dan Rumah Makan di Banten
2004 ……………………… 239
Number of Restaurant in Banten
7.1.8. Jumlah Desa yang Mempunyai Pasar di Banten 2003 240
Number of Villages Which Have Market

7.2. : HOTEL
HOTEL

7.2.1. Banyaknya Hotel Berbintang dan Tidak Berbintang


Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004……… 241
Number of Classified and Non Classified Hotel by
Regency/Municipality in Banten
7.2.2. Banyaknya Hotel, Kamar dan Tempat Tidur Menurut
Kabupaten/Kota di Banten 2004..…………
Number of Hotels Rooms, and Beds of Hotel by 242
Regency/Municipality in Banten
7.2.3. Banyaknya Tenaga Kerja Kejuruan dan Non Kejuruan
Hotel/ Pariwisata Menurut Kabupaten/Kota di Banten
2004………………. 243
Number of Hotel/Tourism Educational Workers and
Non of Hotel by Regency/Municipality in Banten

7.2.4. Banyaknya Tamu Nusantara dan Tamu Mancanegara


Pada Hotel Menurut Kabupaten/Kota di Banten
2004………………………………….. 244
Number of Domestic Guest and Foreign Guest of
Hotel by Regency/Municipality in Banten

7.2.5. Rata-rata Lamanya Menginap Tamu Nusantara dan


Tamu Mancanegara Pada Hotel di Banten 2004 245
Average Length of Stay of Domestic Guest and Foreign
Guest of Hotel by Regency/Municipality in Banten
7.2.6. Persentase Tingkat Penghunian Kamar Pada Hotel di
Banten 2004 …………………………….... 246
Percentage of Room Occupation Rate of Hotel by
Regency/Municipality in Banten
7.2.7. Persentase Pemakaian Tempat Tidur pada Hotel di
Banten 2004 …………………………………... 247
Percentage of Beds Sold of Hotel by
Regency/Municipality in Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxx


Daftar Tabel

7.3. : PARIWISATA / TOURISM

7.3.1. Jumlah Obyek Wisata Menurut Lokasi di Banten 248


2004 ……………………………………
Number of Tourism Object by Location in Banten
7.3.2 Jumlah Museum, Situs Purbakala dan Bangunan 249
Bersejarah di Banten/ Number of Museum, Old Site
and History Building 2003
7.3.3. Jumlah Pengunjung dan Nilai Penjualan Karcis Tempat
Rekreasi/Taman Hiburan di Banten 2004……... 250
Number of Visitors and Receipts of Recreation Resorts
in Banten
7.3.4. Jumlah Unit Wisata,Pengunjung, dan Penjualan Karcis
Menurut Kabupaten/Kota dan Obyek Wisata di Banten 251
2004 …………………………………………….
Number of Tourism Unit, Visitors and Receipts by
Regency/Municipality and Tourism Object in Banten

BAB VIII. : PERHUBUNGAN


TRANSPORTATION

8.1. : PERHUBUNGAN DARAT


LAND TRANSPORTATION

8.1.1. Panjang Jalan Menurut Tingkat Pemerintah Yang


Berwenang, Jenis Permukaan, Kondisi Jalan dan Kelas
Jalan di Banten 2004 …………………….…………. 265
Length of Type of Surface, Condition and Category of
Road by Level of Government in Banten
8.1.2. Data Ruas Jalan Nasional dan Propinsi di Banten 2004
Data of National and Province Authority Road in 266
Banten
8.1.3. Daftar Penetapan Kelas Jalan di Wilayah Banten 2004
271
List of Road Classification in Banten
8.1.4. Jumlah Kendaraan Bermotor di Banten 2004 …....
272
Number of Vehicles in Banten
8.1.5. Banyaknya Surat Ijin Mengemudi Yang Dikeluarkan
oleh Kepolisian Wilayah Banten 2004....
273
Number of Driving Certificate Was Produced by Police
of Banten Region
8.1.6. Banyaknya Penerbitan STNK oleh Polwil Banten
2004 ………………………………….. 274
Number of STNK Issued by Polwil Banten
8.1.7. Banyaknya Kecelakaan Lalu Lintas dan Jumlah
Korban di Wilayah Kepolisian Banten 2004 ... 275
Number of Accidents and Victims in Police of Banten
Region
8.1.8 Perkiraan Kerugian Materi Pada Kecelakaan Lalu
Lintas di Wilayah Kepolisian Banten 2000-2004…….
276
Material Lost Estimation of Accident in Banten Police
Region
8.1.9. Jumlah Penumpang PT. KAI Daop I Jakarta di

Banten Dalam Angka 2004 lxxxi


Daftar Tabel
Wilayah Banten 2004………………………... 277
Number of Train Passangers of PT. KAI Daop I
Jakarta in Banten
8.1.10. Lalu Lintas Angkutan Barang PT. KAI Daop I Jakarta
di Banten 2004 ……………………………………. 279
Traffic of Train Cargoes at PT. KAI Daop I Jakarta
in Banten
8.1.11. Lalu Lintas Penumpang Keret a Api di Wilayah Usaha
Barat 2003…………………………………………. 280
Traffics of Train Passengers at West Exploitation
8.1.12. Lalu Lintas Angkutan Barang Kereta Api di Wilayah
Usaha Barat Non DKI 2002 ………………………. 281
Traffics of Train Cargoes at West Exploitation Non
DKI

8.2. : PERHUBUNGAN UDARA


AIR TRANSPORTATION

8.2.1. Banyaknya Penerbangan, Penumpang Domestik dan


Barang di Banten 2004………………………… 282
Number of Domestic Flights and Passangers at
Soekarno-Hatta Airport
8.2.2. Banyaknya Penerbangan dan Penumpang Internasional
di Bandara Soekarno – Hatta 2004……………. 283
Number of International Flights and Passangers at
Soekarno-Hatta Airport
8.2.3. Banyaknya Barang dan Pos Paket Domestik Yang
Dimuat dan Dibongkar di Bandara Soekarno-Hatta 284
2004 …………………………………….. ...
Number of Loaded and Unloaded Domestic Cargoes
and Parcels at Soekarno-Hatta Airport
8.2.4. Banyaknya Barang dan Pos Paket Internasional Yang
Dimuat dan Dibongkar di Bandara Soekarno-Hatta 285
2004 …………………………….. ...
Number of Loaded and Unloaded International
Cargoes and Parcels at Soekarno-Hatta Airport 2003

8.3. : PERHUBUNGAN LAUT


SEA TRANSPORTATION

8.3.1. Data Angkutan Penyebrangan di Banten 2000-2004…..


286
Data of Merak – Bakaheuni Sea Crossing in Banten
8.3.2. Data Operasional Pelabuhan di Banten 2004……
288
Operational Data of Port in Banten

8.4. : KOMUNIKASI
COMMUNICATION

8.4.1. Banyaknya Surat Yang Dikirim dan Diterima PT. Pos


Indonesia Menurut Jenis Surat Banten 2004….. 289
Number of Mail R eceived and Sent by Kind

BAB IX. : KEUANGAN DAN HARGA-HARGA


FINANCE AND PRICES

Banten Dalam Angka 2004 lxxxii


Daftar Tabel

9.1. : INVESTASI
INVESTMENT

9.1.1. Rekapitulasi Persetujuan dan Realisasi Investasi PMA


Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004 ……. 299
Recapitulation of Approval and Realization of Foreign
Investment by Regency/Municipality in Banten
9.1.2. Rekapitulasi Persetujuan dan Realisasi Investasi
PMDN Menurut Kabupaten/Kota di Banten 2004 300
Recapitulation of Approval and Realization of
Domestic Investment by Regency/Municipality
in Banten
9.1.3. Peringkat Nilai Rencana Investasi PMA Menurut Asal
Negara di Banten 2004………………………. 301
Rank of Foreign Investment Planning Value by Origin
Country in Banten
9.1.4. Nilai Rencana Investasi PMA Menurut Sektor Usaha di
Banten 2004……………………. 302
Foreign Investment Value by Sector in Banten
Nilai Rencana Investasi PMDN Menurut Sektor Usaha
9.1.5. di Banten 2004 ……………………. 303
Domestic Investment Planning Approval by Sector in
Banten
9.1.6. Rekapitulasi dan Realisasi Anggaran Pendapatan dan
Belanja Pemerintah Propinsi Banten 2001- 2004 ……..
304
Recapitularion and Realization of Budgeted
Government Revenues and Expenditures (Juta/Million
Rp)
9.1.7. Anggaran dan Realisasi Belanja Pemerintah Provinsi
Banten 2004 …………………………………………..
305
Budgeted and Actual Government Routine
Expenditures (Juta/Million Rp)
9.1.8. Anggaran dan Realisasi Pembiayaan Pemerintah
Provinsi Banten 2004 …………………………………
306
Budgeted and Actual Government Cost (Juta/Million
Rp)

9.2. : PENERIMAAN PAJAK DAN PENDAPATAN


ASLI DAERAH
TAX AND ACTUAL REVENUE

9.2.1. Realisasi Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan


Menurut Sektor dan Kabupaten/Kota 2004……... 307
Actual Revenue of Land and Housing Tax by Sector
and Regency/Municipality

9.2.2. Reaalisasi Penerimaan Pajak Penghasilan Menurut


Kantor Pelayanan Pajak 2004 ………………… 308
Actual Revenue of Income Tax by Office of Tax Service
9.2.3. Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Tingkat
I Banten Menurut Komponen Penerimaan 2004 309
Actual Revenues of Banten First Level Local
Government by Kind of Revenue

Banten Dalam Angka 2004 lxxxiii


Daftar Tabel

9.2.4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dari Sektor Penggalian


(Bahan Galian Golongan-C &Retribusi Lainnya) 2004 310
Actual Revenue of Quarrying Sector (Class-C and
Other Retributions)

9.3. : HARGA-HARGA
PRICES

9.3.1. Laju Inflasi 44 Kota di Indonesia 1999-2004…………. 311


Inflation Rate at 44 Cities in Indonesia 1999 – 2004
9.3.2. Indeks Harga Konsumen Kota Serang/Cilegon
(1996=100) Menurut Bulan 2004 …………………….. 313
Consumer Price Index (1996 =100) of Serang/Cilegon
by Month
9.3.3. Inflasi Kota Serang/Cilegon Menurut Bulan 2004…...
315
Inflation Rate of Serang/Cilegonby Month
9.3.4. Perkembangan Harga Gabah dan Beras Menurut
Bulan di Banten 2004………………………… 317
Trend of unhulled Paddy and Rice Price by Month in
Banten

9.4. : ASURANSI DAN BANK


INSURANCE AND BANK

9.4.1. Nilai PremiYang di Terima dan Nilai Klaim Yang


dibayar oleh PT. TASPEN di Banten Menurut Bulan
2004…………………………………. 318
Value of Received Premium and Value of Paid Claim
by PT. Taspen by Month in Banten
9.4.2. Possisi Dana Simpanan Rupiah Dana Valuta Asing
Bank umum Menurut Kab/Kota, Jeenis Valuta dan
Jenis Simapanan 2004…………………………….. 319
Commercial Bank’s Outstanding Funds in Rupiah and
Foreign Exchange by Regions,Type of Currency and
Type of Deposits Based on Banks’Office Funds
Location in Banten
9.4.3. Posisi Kredit Rupiah Dan Valuta Asing Bank Umum
Menurut Kab/Kota, Jenis Valuta, Jenis Penggunaan
dan Sektor Ekonomi Berdasarkan Lokasi Proyek Di
Banten 2004………………………………. 333
Commercial Bank’s Outstanding Funds in Rupiah and
Foreign Exchange by Regions,Type of Currency and
Type of Deposits Based on Banks’Office Funds
Location in Banten
9.4.4. Kinerja Koperasi Menurut Indikator Produksi 2003-
2004………………………………………………..
347
Performance of cooperation Activity by Indicator of
Production
9.4.5. Jumlah SIUP yang diberikan Menurut Golongan Usaha
dan Kabupaten/Kota 2004………………………
348
Number of Trade Business Permits Issued by Scale of
Establisment and Municipality
9.4.6. Jumlah Kantor Bank Umum Menurut Status
349
Kepemilikan di Banten 2001-2004 …………………..

Banten Dalam Angka 2004 lxxxiv


Daftar Tabel
Number of Commercial Bank Officesby Status in
Banten
BAB X. : PENDAPATAN REGIONAL
REGIONAL INCOME

10.1.1 PDRB Propinsi Banten ADHB Menurut Lapangan


Usaha 2001-2004……………………………………... 361
Gross Regional Domestic Product of Banten at
Current Market Price by Industrial Origin
10.1.2. PDRB Propinsi Banten ADHKL 1993 Menurut
lapangan Usaha 2001-2004………………………… 363
Gross Regional Domestic Product of Banten
Constant Price1993 by Industrial Origin
10.1.3. Laju Pertumbuhan PDRB Propinsi Banten ADHK
1993 Menurut Lapangan Usaha 2001-2004 ………….. 365
Growth Rate of Gross Regional Domestic
Product of Banten at Constant Price by Industrial
Origin
Distribusi Persentase PDRB Propinsi Banten ADHB
10.1.4. Menurut Lapangan Usaha 2001-2004………...
Percentage distribution of Gross Regional Domestic
Product of Banten at Current Price 1993 by Industrial 367
Origin
10.1.5. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto
Banten Atas Dasar Harga Konstan 1993 Menurut
Lapangan Usaha 2001-2004…………………………. 369
Percentage Distribution of Gross Domestic Regional
Product of Banten at Constant Price 1993 by
Industrial Origin
10.1.6. Angka Agregatif PDRB, Penduduk Pertengahan Tahun
dan PDRB Perkapita Banten 2001-2004……………… 371
Agregate Figures of GRDP, Population at Mid Year
and GRDP Per Capita in Banten
10.2.1 PDRB Propinsi Banten ADH Berlaku Menurut Jenis
Pengeluaran 2001-2004 ……………………... 373
Gross Regional Domestic Product of Banten at
Current Market Price by Expenditure
10.2.2 PDRB Propinsi Banten ADH Konstan1993 Menurut
Jenis Pengeluaran 2001-2004………………………… 374
Gross Regional Domestic Product of Banten
Constant Price1993 by Expenditure
10.3.1 PDRB Propinsi Banten ADH Berlaku Menurut
Kabupaten/Kota 2001-2003 ……………………... 375
Gross Regional Domestic Product of Banten at
Current Market Price by Regency/ Municipality
10.3.2 PDRB Propinsi Banten ADH Konstan1993 Menurut
Kabupaten/Kota 2001-2003………………………… 376
Gross Regional Domestic Product of Banten
Constant Price1993 by Regency/ Municipality

BAB XI. : KETERSEDIAAN PANGAN DAN


PENGELUARAN PENDUDUK
FOOD AVAILABILITY AND POPULATION
EXPENDITURE

Banten Dalam Angka 2004 lxxxv


Daftar Tabel
11.1. : KETERSEDIAAN PANGAN
FOOD AVAILABILITY

11.1.1. Perkembangan Persediaan Pangan di Banten 2004 ..... 381


Rice Stock in Banten
11.1.2. Laporan Realisasi Pengadaan Gabah Beras Dolog
Wilayah I Banten 2004………………………….. 382
Stock Realization Report of Rice by Dolog Banten

11.2. : PENGELUARAN PENDUDUK


POPULATION EXPENDITURE

11.2.1. Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Golongan


Pengeluaran Perkapita Sebulan 2004 ……………. 384
Population by Regency/Municipality and Monthly Per
Capita Expenditure Class in Banten
11.2.2. Rata-rata Pengeluaran Perkapita Menurut Jenis
Pengeluaran Sebulan dan Golongan Pengeluaran
Perkapita Sebulan 2004………………………………. 386
Average of Per Capita Monthly Expenditure by Kind of
Expenditure and Monthly Per Capita Expenditure
Class in Banten

11.3. : LAINNYA
OTHERS

11.3.1. Gini Ratio Kabupaten/Kota 2000-2004……………….. 388


Gini Ratio by Regency/Municipality in Banten

Banten Dalam Angka 2004 lxxxvi


Penjelasan Umum Explanatory Notes

PENJELASAN UMUM
EXPLANATORY NOTES

Tanda-tanda yang digunakan dalam publikasi ini adalah sebagai berikut:


Symbols which are used in this publication, are as follows:

Data belum tersedia …………………… : …


Data not yet available

Data tidak tersedia …………………… : -


Data not available

Data dapat diabaikan …………………… : 0


Data negligible

Tanda desimal …………………… : ,


Decimal point

Angka sementara …………………… : *)


Final

Angka sangat sementara …………………… : **)


Preliminary

Angka diperbaiki …………………… : r)


Revised figures

Angka perkiraan …………………… : e)


Estimated figures

Banten Dalam Angka 2003 lxxxvii


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Kondisi Geografis dan Iklim Geography and Climate


Melalui Undang-undang no. Base on the act No. 23
23 tahun 2000, status Karesidenan year 2000, state of Banten
Banten Propinsi Jawa Barat be- residency of West Java change
rubah menjadi Propinsi Banten. became Banten Province. Banten
Wilayah Propinsi Banten mem- Province has area about 8.800,83
punyai luas 8.800,83 km2, terdiri km2, that content four regencies
empat kabupaten yaitu Kabupaten namely Pandeglang, Lebak,
Pandeglang, Lebak, Serang, Tangerang, and Serang, and two
Tangerang dan dua Kota yaitu Kota cities namely Tangerang and
Tangerang dan Kota Cilegon. Cilegon.

Wilayah Propinsi Banten Banten Province occur at


berada pada batas astronomis term astronomy about 10501’11”–
10501’ 11” – 10607’ 12” BT da n 10607’ 1 2” Eas tLongi tude and
0
5 7’50”–701’ 1”LS,me mpu nyai 507’50” –701’ 1” Sout h Lat itude ,
posisi strategis pada lintas wield position is a strategy at
perdagangan internasional dan internasional and national traffic.
nasional.

Propinsi Banten mempunyai Banten Province has


batas wilayah: boundaries:
a. Sebelah utara dengan Laut a. In the north are boundaries by
Jawa Java Sea.
b. Sebelah timur dengan Propinsi b. In the east are boundaries by
DKI Jakarta dan Jawa Barat. DKI Jakarta and West Java
c. Sebelah selatan dengan Province.
Samudra Hindia c. In the south are boundaries by
d. Sebelah barat dengan Selat Hindia Ocean.
Sunda d. In the West are boundaries by
Sunda Strait.
Sedangkan ekosistem wila-
yah Banten pada dasarnya terdiri While ecosystem of Banten
dari: Province is basicly content:
a. Lingkungan Pantai Utara yang a. Northern Beach environment
merupakan ekosistem sawah that ecosystem of irigated rice
irigasi teknis dan setengah field, region of population, and
teknis, kawasan pemukiman industries.
dan industri. b. Region of central Banten is
b. Kawasan Banten Bagian rice field with limitation of
Tengah berupa irigasi terbatas irigation, and estate crops,
dan kebun campur, sebagian little villages. Available of
berupa pemukiman pedesaan. water is enough and stable.

Banten Dalam Angka 2004 3


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim
Ketersediaan air cukup dengan Available of water is enough
kuantitas yang stabil. and stable.
c. Kawasan Banten sekitar c. Region of Halim-Kendeng
Gunung Halimun-Kendeng throught Malingping,
hingga Malingping, Leuwi Leuwidamanr, Bayah are hills
damar, Bayah berupa pegu that relative hard to access,
nungan yang relatif sulit untuk neverthless that have a natural
di akses, namun menyimpan resources.
potensi sumber daya alam. d. Region of West Banten (Saketi,
d. Banten Bagian Barat (Saketi, DAS Cidano and about
DAS Cidano dan lereng Karang mountain inclination –
kompleks Gunung Karang – Aseupan, and Pulosari
Aseupan dan Pulosari sampai throught DAS Ciliman –
Pantai DAS Ciliman – Pandeglang and West Serang)
Pandeglang dan Serang bagian that affluent concerning with
Barat) yang kaya akan potensi water, are region that
air, merupakan kawasan agriculture area.
pertanian yang masih perlu
ditingkatkan (intensifikasikan) e. Ujung Kulon as Java
e. Ujung kulon sebagai Taman rhinoceros (Rhini Sondaicus)
Nasional Konservasi Badak National Park.
Jawa (Rhini Sondaicus).
f. DAS Cibaliung –Malingping, f. Das Cibaliung –Malingping is
merupakan cekungan yang area that water affluent, but
kaya air tetapi belum diman does not use effectively and
faatkan secara efektif dan productively. The round are
produktif. Sekelilingnya beru surge hills with estate crops
pa bukit-bukit bergelombang and talun environment.
dengan rona lingkungan kebun
campur dan talun, hutan rakyat
yang tidak terlalu produkrif.
Climate of Banten is very
Iklim wilayah Banten sangat influented by Monson trade and El
dipengaruhi oleh Angin Monson Nino Billow. In raining season
(Monson Trade) dan Gelombang (November –March), West wind is
La Nina atau El Nino. Saat musim dominating at Banten climate (from
penghujan (Nopember - Maret ) Sumatera, Hindia ocean beside
cuaca didominasi oleh angin barat South India) that conspire by wind
(dari Sumatera, Samudra Hindia from Asia that overreach South
sebelah selatan India) yang China Sea. At dry season (June –
bergabung dengan angin dari Asia August) East wind is dominating at
yang melewati Laut Cina Selatan. Banten.

Banten Dalam Angka 2004 4


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim
Pada musim kemarau (Juni– That the reason of Banten
Agustus), cuaca didominasi oleh region is undergoes aridity
angin timur yang menyebabkan especialy at Northern Beach, and
wilayah Banten mengalami it
’sv eryhar difElNi nooccurs.
kekeringan yang keras terutama di
wilayah bagian pantai utara, Temperature at beach region
terlabih lagi bila berlangsung El and hills are about 220 C and 320
Nino. C, while temperature at mountain
by altitude between 400 –1.350 m
Temperatur di daerah pantai gains between 180 C –290 C.
dan perbukitan berkisar antara 220
C dan 320 C, sedangkan suhu di
pegunungan dengan ketinggian
antara 400 –1.350 m dpl mencapai
antara 180 C –290 C.

Banten Dalam Angka 2004 5


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Jarak Antar Kota di Banten dan Sekitarnya


Tabel 1.1 Distance Among Selected Cities in Banten and Nearby
Table (km)

Jakarta

Pandeglang

Rangkasbitung

Tigaraksa

Tangerang

Serang

Cilegon

Bekasi

Bandung
Kota
City

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Jakarta - 111 131 57 25 90 110 29 187

Pandeglang 111 - 20 25 86 21 41 140 298

Rangkasbitung 131 20 - 74 106 41 61 160 227

Tigaraksa 57 54 74 - 32 33 51 86 244

Tangerang 25 86 106 32 - 65 85 54 212

Serang 90 21 41 33 65 - 20 119 277

Cilegon 110 41 61 51 85 20 - 139 297

Bekasi 29 140 160 86 54 119 139 - 154

Bandung 187 298 227 244 212 277 297 154 -

Banten Dalam Angka 2004 6


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Tabel 1.2 Keadaan Iklim di Banten


Table Condition of Climate in Banten

Tipe Iklim
Nama Daerah / No.DPM Bulan Basah Bulan Kering
No. Type of
Name of Region Wet Month Dry Month
Climate
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Kab. Serang
a. Serang Selatan (DPM.2) 6 bulan 0 bulan C1
b. Serang Utara (DPM.4) 4 bulan 5 bulan D3

2. Kab. Pandeglang

a. Sebagian besar Pandeglang


8 bulan 0 bulan B1
(DPM.1)

b. Sebagian Pandeglang bagian


6 bulan 0 bulan C1
Utara

3. Kab. Lebak

a. Sebagian besar Lebak


8 bulan 0 bulan B1
(DPM.3)

b.Sebagian Lebak bagian utara


6 bulan 0 bulan C1
(DPM.3)

c.Sebagian Lebak bagian barat


8 bulan 0 bulan B1
(DPM.3)

4. Kota Cilegon (DPM.4) 4 bulan 5 bulan D3

5. Kab. Tangerang (DPM.4) 4 bulan 5 bulan D3

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Banten


Source: Meteorological and Geophysical Agency of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 7


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Suhu Udara Rata-Rata Maksimum dan Minimum


di Stasiun OBS
Tabel 1.3
Average Maximum and Minimum Temperature at
Table
Observation Station
2004

Suhu
Bulan Temperature (0 Celcius)
Month Maksimum Minimum
Maximum Minimum
(1) (2) (3)
Januari / January 30,9 23,7

Pebruari/ February 30,2 31,1

Maret / March 31,4 23,7

April / April 32,8 23,8

Mei / May 32,3 23,5

Juni / June 31,9 22,1

Juli / July 31,4 23,0

Agustus / August 32,1 22,0

September / September 32,5 22,8

Oktober / October 33,9 22,8

Nopember / November 32,9 23,4

Desember / December 31,4 23,5

Rata-rata / Average 32,0 23,8

2003 31,2 22,9

2002 32,1 23,2


Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Banten
Source: Meteorological and Geophysical Agency of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 8


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Rata-rata Curah Hujan, Kelembaban Udara, dan


Tabel 1.4 Kecepatan Angin di Stasiun OBS
Average of Rainfalls, Relative Humidity, Wind Velocity at
Table Observation Station
2004

Rata-rata Curah Rata-rata Rata-rata


Hujan Kelembaban Kecepatan
Bulan Average of Udara/ Average Angin/ Average
Month Rainfalls of Relative of Wind
Humidity Velocity
mm % m/detik
(1) (2) (3) (4)
Januari / January 9 86 2

Pebruari/ February 13 85 2

Maret / March 4 83 2

April / April 7 83 3

Mei / May 15 82 2

Juni / June 1 78 2

Juli / July 4 82 2

Agustus / August 0 78 2

September / September 6 80 3

Oktober / October 11 76 2

Nopember / November 6 82 2

Desember / December 11 84 2

Rata-rata / Average 7,25 81,58 2,17

2003 4,88 82,2 2,5


Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Banten
Source: Meteorological and Geophysical Agency of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 9


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Tabel 1.5 Keadaan Musim Kemarau di Banten


Table Situation of Dry Season in Banten

Panjang Normal
Rata-rata Periode
Nama Daerah / Musim Curah Hujan
Musim Kemarau
No, No,DPM (Dasarian) (mm)
Average Period of
Name of Region Length of Normal
Dry Season
Season Rainfall
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Kab. Serang

a. Serang Selatan
MEI.III –SEP.III 13 493 - 667
(DPM.2)

b. Serang Utara
APR.II –NOP.III 23 587 - 794
(DPM.4)

2. Kab. Pandeglang
a. Sebagian besar
Pandeglang JUN.III –SEP.II 9 376 - 508
(DPM.1)
b. Sebagian Pandeglang
MEI.III –SEP.III 13 493 - 667
bagian Utara

3. Kab. Lebak

a. Sebagian besar Lebak


JUN.III –SEP.I 9 343 - 465
(DPM.3)
b.Sebagian Lebak
bagian utara MEI.III –SEP.III 13 493 - 508
(DPM.3)
c.Sebagian Lebak
bagian barat JUN.III –SEP.II 9
(DPM.3)
Kodya Cilegon
4. APR.II –NOP.III 23 587 - 794
(DPM.4)

Kab. Tangerang
5. APR.II –NOP.III 23 587 - 794
(DPM.4)
Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Banten
Source: Meteorological and Geophysical Agency of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 10


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Tabel 1.6 Keadaan Musim Penghujan di Banten


Table Situation of Rainy Season in Banten

Panjang Normal
Rata-rata Periode
Musim Curah Hujan
Nama Daerah / No,DPM Musim Hujan
No, (Dasarian) (mm)
Name of Region Average Period of
Length of Normal
Rainy Season
Season Rainfall
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Kab. Serang

a. Serang Selatan
OKT.I –MEI.II 23 1562 - 2114
(DPM.2)

b. Serang Utara (DPM.4) DES.I –APR.I 13 2891 - 3911

2. Kab. Pandeglang

a. Sebagian besar
SEP.III –JUN.II 27 2891 - 3911
Pandeglang (DPM.1)
b. Sebagian Pandeglang
OKT.I –MEI.II 23 1562 - 2114
bagian Utara

3. Kab. Lebak

a. Sebagian besar Lebak


SEP.II –JUN.I 27 2068 - 2798
(DPM.3)
b.Sebagian Lebak bagian
OKT.I –MEI.II 23 1562 - 2114
utara (DPM.3)
c.Sebagian Lebak bagian
SEP.III –JUN.II 27 2891 - 3911
barat (DPM.3)

4. Kodya Cilegon (DPM.4) DES.I –APR. I 13 977 - 1321

5. Kab. Tangerang (DPM.4) DES.I –APR. I 13 977 - 1321

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Banten


Source: Meteorological and Geophysical Agency of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 11


Bab I Kondisi Geografis dan Iklim

Luas Tanah dan Penggunaannya Menurut Kabupaten/Kota


Tabel 1.7
Land Area and its Usage by Regency/Municipality
Table
2002

Ladang/ Hutan Perkebun-


Kabupaten/Kota Perumahan Industri Huma/ Rakyat an
Regency/Municipality Housing Industry Tegal Public Etates
Garden Forest Crops
(2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 14.274,7 307,8 85.861,0 9.511,6 32.497,4

2. Lebak 18.720,2 267,6 128.832,7 17.250,2 37.320,4

3. Tangerang 40.185,4 4.025,2 16.849,8 837,2 355,9

4. Serang 23.547,9 3.695,3 51.202,0 4.052,5 13.083,5

Kota/Mun

5. Tangerang 11.479,3 1.796,7 753,1 205,2 83,5

6. Cilegon 3.414,4 555,7 4.861,5 66,0 26,5

Banten 111.621,9 10.648,3 288.360,1 31.922,7 83.367,2


Sumber : Potensi Desa ST 2003, BPS
Source : Village Potential ST 2003, BPS

Banten Dalam Angka 2004 12


Bab II Pemerintahan

Penjelasan Teknis Technical Notes

1. Pemerintahan adalah suatu 1. Governance is a system that


sistem yang mengatur segala regulates all inhabitants
kegiatan masyarakat dalam activities in an area / in a state
suatu daerah/wilayah/negara in all living aspects based on
yang meliputi segala aspek certain norms.
kehidupan berdasarkan norma-
norma tertentu.

2. Propinsi Banten sebagai salah 2. Banten Province, as one of


satu propinsi dari Negara province in Republic of
Kesatuan Republik Indonesia, Indonesia, has the same
mempunyai sistem peme governmental system with
rintahan yang sama dengan other provinces. Governmental
propinsi lainnya. Unit peme unit below Province is
rintahan di bawah propinsi regencies or cities. Each
adalah kabupaten/kota. Ma regency or city consists of
sing-masing kabupaten/kota many districts. Meanwhile,
terdiri dari beberapa keca district consists of many
matan. Sedangkan kecamatan villages.
terbagi habis dalam beberapa
desa/kelurahan.

Propinsi Banten terbagi Banten Province is divided


dalam 4 kabupaten (Pandeglang, into 4 regency (Pandeglang, Lebak,
Lebak, Tangerang dan Serang) dan Tangerang and Serang) and 2
2 kota (Tangerang dan Cilegon). cities (Tangerang and Cilegon).
Jumlah kecamatan di seluruh The number of districts in this
Banten sebanyak 132. Sedangkan province is 132. Meanwhile the
jumlah desa/kelurahan pada tahun number of villages in this province
2004 adalah 1.483 (Tabel 2.1). is 1483. (Table 2.1)

Jumlah DPRD Propinsi Total of legislative


Banten berjumlah 75 orang terdiri institution in Banten Province are
dari 71 orang laki-laki dan 4 orang 75 person that 71 person are male,
perempuan, yang terbagi dalam 8 and 4 person are female at 8
fraksi. Sebagai lembaga legislatif faction. As a legislative institution,
yang salah satu tugasnya adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
membuat peraturan perundang- (DPRD) or Regional People
undangan. DPRD Propinsi Banten Representatives Board has duties,
telah menghasilkan 25 buah Surat among others, make laws and
Keputusan Pimpinan Dewan, 22 regulations.
buah Surat Keputusan Dewan

Banten Dalam Angka 2004 15


Bab II Pemerintahan
dan 13 buah Peratuaran Daerah DPRD Banten Province has
(Tabel 2.5 s.d 28). legislated 25 Chairman Board
Decrees, 22 Board Decrees and
Pemerintahan Propinsi 13Local Regulation. (Table 2.5-
Banten selama tahun 2004 2.8)
didukung oleh 2.768 orang
Pegawai Negeri Sipil (PNS), Banten Province Govern-
dimana 2.001 orang laki-laki dan ment for 2004, has 2,768 person
767 orang perempuan. Apabila employee, that 2,001 person are
dilihat dari pendidikan, maka 1.286 male and 767 person are female.
orang atau 46,46 persen PNS As shown at education, so 1,286
berpendidikan sarjana (Strata I/II/ person or 46.46 percent are
III), sedangkan sisanya 53,54 graduate (Stratum I/II/III), while
persen hanya berpendidikan non reside about 53,54 percent only are
gelar (Sarjana Muda/D3 atau yang non graduate (bachelor graduate
lebih rendah). Dari 26 instansi or lower). Banten Province
pemerintah yang ada di lingkungan Govern-ment has 26 unit instance,
Propinsi Banten, hanya Sekretariat only Regional Secretary has
Daerah yang mempunyai jumlah enough high employee about 613
PNS yang cukup besar, yaitu 613 person or 22.15 percent of all
orang atau 22,15 persen dari employee.
seluruh PNS yang ada.

Banten Dalam Angka 2004 16


Bab II Pemerintahan

Jumlah Kecamatan, Kelurahan dan Desa di Banten


Tabel 2.1 Number of Districts, Special Villages and Villages
Table in Banten
2004

Desa/Kelurahan
Village/Special Village
Kabupaten/Kota Kecamatan
Regency/Municipality District
Desa Kelurahan Jumlah
Village Special Village Total
(1) (2) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang 28 322 13 335

2. Lebak 23 295 5 300

3. Tangerang 26 328 - 328

4. Serang 34 351 22 373

Kota/Mun

5. Tangerang 13 - 104 104

6. Cilegon 8 41 2 43

Banten 132 1337 146 1.483

2003 124 1.337 144 1.481

2002 122 1.337 144 1.481

2001 116 1.330 146 1.476


Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 17


Bab II Pemerintahan

Jumlah Desa Menurut Klasifikasi di Banten


Tabel 2.2
Number of Villages by Classification in Banten
Table
2004

Swasembada
Kabupaten/Kota Swadaya Swakarsa Jumlah
Self-
Regency/Municipality Self-Help Self-Work Total
Supporting
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang
- - 335 335
2. Lebak
- 1 299 300
3. Tangerang
- - 328 328
4. Serang
- - 373 373
Kota/Mun

5. Tangerang
- - 104 104
6. Cilegon
- - 43 43
Banten
1 1.482 1.483
2003 - 1 1.480 1.481

2002 - 1 1.480 1.481

2001 - 1 1.480 1.481

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat Propinsi Banten


Source : Soviety Power Board of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 18


Bab II Pemerintahan

Jumlah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)


Tabel 2.3 Menurut Kategori di Banten
Table Number of LKMD by Category in Banten
2004

Kabupaten/Kota Swadaya Swakarsa Swasembada Jumlah


Regency/Municipality Self-Help Self-Work Self-Supporting Total

(1) (2) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang - 181 154 385

2. Lebak 1 243 56 300

3. Tangerang - - 328 328

4. Serang - - 373 373

Kota/Mun

5. Tangerang - - 104 104

6. Cilegon - - 43 43

Banten 1 424 1.058 1.533

2003 1 449 1.031 1.481

2002 1 424 1.056 1.481

2001 78.146 2.2057 8.854 109.057


Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat Propinsi Banten
Source : Soviety Power Board of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 19


Bab II Pemerintahan

Jumlah Personil Perlindungan Masyarakat


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 2.4
Number of Civilian Reserve Personnel by
Table
Regency/Municipality
2004

Kabupaten/Kota Personil Persentase


Regency/Municipality Personnel Percentage

(1) (2) (3)


Kab/Reg

1. Pandeglang 23.004 10,07

2. Lebak 161.478 70,66

3. Tangerang 16.064 7,03

4. Serang 18.005 7,88

Kota/Mun

5. Tangerang 8.217 3,60

6. Cilegon 1.750 0,77

Banten 228.518 100,00

2003 466.965 100,00

2002 414.735 100,00


Sumber : Badan Kesbang dan Linmas Propinsi Banten
Source : Kesbang & Linmas Board of Banten Provinvce

Banten Dalam Angka 2004 20


Bab II Pemerintahan

Jumlah Anggota DPRD Propinsi Banten


Tabel 2.5 Menurut Partai Politik dan Jenis Kelamin
Table Number of Parliament Members
by Political Party and Sex
2004

Partai Politik Laki-laki Perempuan Jumlah


Party Male Female Total
(1) (2) (3) (4)

Partai Golongan Karya (Golkar) 16 - 16

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 11 - 11

Partai Demokrasi Indonesia


7 3 10
Perjuangan (PDI-P)
Partai Persatuan Pembangunan
7 1 8
(PPP)

Partai Demokrat 8 - 8

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 5 - 5

Partai Bintang Reformasi (PBR) 5 - 5

Partai Amanat Nasional (PAN) 4 - 4

Partai Bulan Bintang (PBB) 3 - 3

Partai Damai Sejahtera (PDR) 2 - 2

Partai Nahdatul Umat Indonesia


1 - 1
(PNUI)

Partai Sarikat Indonesia (PSI) 1 - 1

Partai Karya Peduli Bangsa


1 - 1
(PKPB)

Jumlah/ Total 71 4 75

Sumber : Sekretariat DPRD TK. I Prop. Banten


Source : Legislative Secretary of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 21


Bab II Pemerintahan

Jumlah Anggota DPRD Propinsi Banten


Tabel 2.6 Menurut Fraksi dan Jenis Kelamin
Table Number of Parliament Members by faction and Sex
2004

Fraksi Laki-laki Perempuan Jumlah


Faction Male Female Total
(1) (2) (3) (4)

Fraksi Partai Golongan Karya


16 - 16
(F. P. Golkar)

Fraksi Keadilan Sejahtera (FKS) 11 - 11

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia


9 3 12
Perjuangan (F.PDIP)

Fraksi Partai Persatuan


7 1 8
Pembangunan (F.PPP)

Fraksi Partai Demokrat 8 - 8

Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) 5 - 5

Fraksi Partai Bintang Reformasi


5 - 5
(F..PBR)

Fraksi Madani 10 - 10

Jumlah/ Total 71 4 75

Sumber : Sekretariat DPRD TK. I Prop. Banten


Source : Legislative Secretary of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 22


Bab II Pemerintahan

Jumlah Anggota DPRD Propinsi Banten


Tabel 2.7 Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin
Table Number of Parliament Members
by Regency/Municipality and Sex
2004

Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Jumlah


Regency/Municipality Male Female Total
(2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 9 - 9

2. Lebak 9 - 9

3. Tangerang 28 1 29

4. Serang 13 2 15

Kota/Mun

5. Tangerang 9 1 10

6. Cilegon 3 - 3

Jumlah/ Total 71 4 75

Sumber : Sekretariat DPRD TK. I Prop. Banten


Source : Legislative Secretary of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 23


Bab II Pemerintahan

Jumlah Keputusan DPRD Propinsi Banten


Tabel 2.8
Number of Parliament Decrees of Banten
Table
2004

Jenis Keputusan Jumlah Keputusan


Kind of Decree Number of Decrees

(1) (2)

1. Surat Keputusan Pimpinan DPRD


25
ParliamentCha i
rma n’sDe cr
eesPa
per

2. Surat Keputusan Dewan (DPRD)


22
Parliament Decree

3. Peraturan Daerah
13
Local Regulation

Jumlah/Total 60

2003 53

2002 74

2001 27

Sumber : Sekretariat DPRD TK. I Prop. Banten


Source : Legislative Secretary of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 24


Bab II Pemerintahan

Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS dan CPNS)


Menurut Pendidikan
Tabel 2.9
Number of Local Government Employees and
Table
Before Employees by Education
2004

CPNS/
PNS/ Jumlah/
Jenis Pendidikan Employee
Education Level Employee Total
Before

(1) (2) (3) (4)

SD / Primary School 31 - 31

SMP / Junior High School 9 - 9

SLTA / Senior High School 935 2 937

Diploma I 56 - 56

Diploma II 24 - 24

Doploma III / Sarjana Muda /


423 - 423
Bachelor Graduate

Strata I 1.103 1 1.104

Strata II 181 - 181

Strata III 3 - 3

Jumlah/Total 2.765 3 2.768

2003 2.661 3 2.664

2002 2.264 498 2.762

Sumber: Biro Kepegawaian Pemerintah Propinsi Banten


Source : Employee Bureau of Regional Government

Banten Dalam Angka 2004 25


Bab II Pemerintahan

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut


Pendidikan dan Jenis kelamin
Tabel 2.10
Number of Local Government Employees by
Table
Education and Sex
2004

Jenis Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah


Education Level Male Female Total

(1) (2) (3) (4)

SD / Primary School 31 - 31

SMP / Junior High School 8 1 9

SLTA / Senior High School 673 264 937

Diploma I/II 53 27 80

Doploma III/Sarjana Muda /


248 177 425
Bachelor Graduate

Strata I 819 283 1.102

Strata II/ III 169 15 184

Jumlah/Total 2.001 767 2.768

Sumber: Biro Kepegawaian Pemerintah Propinsi Banten


Source : Employee Bureau of Regional Government

Banten Dalam Angka 2004 26


Bab II Pemerintahan

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut


Unit Kerja dan Jenis Kelamin
Tabel 2.11
Number of Local Government Employees
Table
by Unit and Sex
2004

Unit Kerja Laki-laki Perempuan Jumlah


Unit Male Female Total

(1) (2) (3) (4)


1.Sekretariat Daerah 402 211 613
2.Badan Perencanaan Daerah 64 32 96
3.Badan Pengawasan Daerah 51 18 69
4.Dinas Pendapatan Daerah 160 48 208
5.Dinas Perhubungan 73 16 89
6.Dinas Pekerjaan Umum 196 15 211
7.Dinas Kesehatan 51 50 101
8.Dinas Pertanian dan Perternakan 135 25 160
9.Dinas Kelautan dan Perikanan 64 17 81
10.Dinas Kehutanan dan Perkebunan 70 25 95
11.Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 45 37 82
12.Dinas Pendidikan 106 75 181
13.Dinas Sosial dan Tenagakerja 79 20 99
14.Badan Pemberdayaan Masyarakat 45 19 64
15.Badan Kesbang dan Linmas 51 16 67
16.Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah 29 16 45
17.Badan Pendidikan dan Latihan 44 26 70
18.Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah 35 18 53
19.Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi 100 21 121
20.Dinas Pertambangan & Energi 60 8 68
21.Sekretariat Dewan 52 21 73
22.Komisi Pemilihan Umum 23 9 32
23.Kantor Pengolahan Data Elektronik dan Arsip Daerah 17 11 28
24.Kantor Penghubung 3 8 11
25.Kantor Perpustakaan Daerah 16 4 20
26.Kantor Satuan Polisi Pamong Praja 30 1 31

Jumlah/Total 2.001 767 2.768

Sumber: Biro Kepegawaian Pemerintah Propinsi Banten


Source : Employee Bureau of Regional Government

Banten Dalam Angka 2004 27


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja

Penjelasan Teknis Technical Notes

1. Sumber utama data kepen 1. The main source of population


dudukan adalah Sensus Pen data is Population Census that is
duduk, yang dilaksanakan setiap conducted every 10 years.
sepuluh tahun sekali. Sensus Population Census was conducted
Penduduk telah dilaksanakan 5 times in 1961, 1971, 1980, 1990
sebanyak lima kali sejak Indo and 2000. Besides Population
nesia merdeka yaitu tahun 1961, Census, to maintain the
1971, 1980, 1990 dan 2000. availability of population data
Selain Sensus Penduduk, untuk between 2 censuses period, BPS-
menjembatani ketersediaan data Statistics Indonesia conducted
kependudukan diantara dua Survey Penduduk Antar Sensus
periode sensus, BPS melakukan (SUPAS) or Population Survey
Survei Penduduk Antar Sensus Between Censuses. SUPAS has
(SUPAS), SUPAS telah dila been conducted 3 times in 1976,
kukan sebanyak tiga kali, tahun 1985 and 1995.
1976,1985 dan terakhir 1995.

Di dalam sensus penduduk, In a Population Census,


pencacahan dilakukan terhadap every citizen who domiciles in
seluruh penduduk yang berdo Indonesian geographical area is
misili di wilayah geografis Indo counted, including expatriates
nesia termasuk warga negara except the member of diplomatic
asing kecuali anggota Korps corps and their family. Different
Diplomatik berserta keluarga from previous censuses,
nya. Berbeda dengan pelaksa Population Census 2000 only
naan sensus penduduk sebelum conducted complete counting
nya, Sensus Penduduk 2000 method with more variables
hanya melaksanakan metode considered. Population Census
pencacahan lengkap dengan 2000 was started 1 June 2000 and
jumlah variabel yang lebih ended 30 June 2000. Data was
banyak. Sensus Penduduk 2000 collected by the way of interview
dilaku kan serentak di seluruh with respondent. Counting method
tanah air mulai tanggal 1-30 used in population census is a
Juni 2000. Metode combination between de jure and
pengumpulan data dilakukan de facto method. Respondent who
dengan wawancara antara domiciles in a permanent resident
petugas sensus dengan res is counted in de jure method or
ponden. Cara pencacahan yang the place in which he/she
dipakai dalam sensus penduduk habitually domiciles, Meanwhile,
adalah kombinasi antara de jure respondent who d oe s
n’tdomi ciles

Banten Dalam Angka 2004 31


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
dan de facto. Bagi penduduk in a permanent resident is counted
yang bertempat tinggal tetap in de facto method or the place in
dipakai cara de jure, dicacah di which census officer finds the
mana mereka biasa tinggal, res ponde nt. Citiz
e ns that don’ t
sedangkan untuk penduduk have a permanent resident are,
yang tidak bertempat tinggal among others, the homeless,
tetap dicacah dengan cara de Indonesian flagged marine vessel
facto, yaitu dicacah di tempat di labour, refugees, boatmen and
mana mereka ditemukan petu remote tribe. Those who have
gas sensus biasanya pada permanent residences but
malam (hari terakhir) sensus. undergoing a trip for more than 6
Termasuk penduduk yang tidak moths are not counted in their
bertempat tinggal tetap tuna residence. Meanwhile, those who
wisma, awak kapal berbendera occupy a house less than 6 months
Indonesia,penghuni perahu/ but intend to domicile are counted
rumah apung, masyarakat in that place.
terpencil /terasing dan
pengungsi. Bagi mereka yang
mempunyai tem pat tinggal
tetap, tetapi sedang bepergian
ke luar wilayah lebih dari enam
bulan, tidak dicacah di tempat
tinggalnya. Sebalik nya,
seseorang atau keluarga
menempati suatu bangunan be
lum mencapai enam bulan tetapi
bermaksud menetap disana dica
cah di tempat tersebut.

2. Penduduk adalah semua orang


yang berdomisili di wilayah 2. Population are people who
geografis Republik Indonesia domicile in Indonesian
selama 6 bulan atau lebih dan geographical area for 6 months or
atau mereka yang berdomisili more and or those who live less
kurang dari 6 bulan tetapi than 6 months but intend to
bertujuan menetap. permanently domicile.

3. Rata-rata Pertumbuhan Pen 3. Average Growth of Population is


duduk adalah angka yang a number showing a population
menunjukkan tingkat pertam increases rate per year within
bahan penduduk per tahun specific period. This number is

Banten Dalam Angka 2004 32


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
dalam jangka waktu tertentu. stated as a percentage of a
Angka ini dinyatakan sebagai population base.
persentase dari penduduk dasar.

4. Kepadatan Penduduk adalah 4. Population Density is the number


banyaknya penduduk per km of population per kilometre square
persegi.

5. Rasio Jenis Kelamin adalah 5. Sex Ratio is a ratio between the


perbandingan antara banyaknya number of male compared with
penduduk laki-laki dengan the number of female in a specific
banyaknya penduduk perem region and a specific time. It is
puan pada suatu daerah dan customarily stated in the number
waktu tertentu. Biasanya dinya of male for every 100 female.
takan dengan banyaknya
penduduk laki-laki untuk 100
penduduk perempuan.

6. Rumah Tangga adalah se 6. Household is one person or a


seorang atau sekelompok orang group of person who occupy a
yang mendiami sebagian atau part or a whole house and
seluruh bangunan fisik/sensus, customarily stay and eat together
dan biasanya tinggal bersama from one kitchen. Eat together
serta makan dari satu dapur. from one kitchen means that
Yang dimaksud makan dari satu daily need is managed together.
dapur adalah jika pengurusan
kebutuhan sehari-harinya dikelo
la bersama-sama menjadi satu.

7. Anggota Rumah Tangga 7. Member of Household is every


adalah semua orang yang bia person who customarily stay in
sanya bertempat tinggal di suatu one household, including those
rumah tangga, baik yang berada whodon ’tst ayathomewhe nthey
di rumah pada waktu penca are counted.
cahan maupun yang sementara
tidak ada.

8. Rata-rata Anggota Rumah 8. Average Member of Household is


Tangga adalah angka yang the average number of member
menunjukkan rata-rata jumlah per household.
anggota rumah tangga per
rumah tangga.

Banten Dalam Angka 2004 33


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja

9. Pengumpulan data angkatan 9. Labour force data collection is


kerja dilaksanakan BPS melalui conducted by BPS through census
sensus dan survei. Survei and survey. Survey Angkatan
Angkatan Kerja Nasional (Saker Kerja Nasional (Sakernas) or
nas) merupakan survei yang National Manpower Survey is a
khusus mengumpulkan informa survey that especially gather
si/data ketenagakerjaan. Pada data/information concerning with
beberapa survei sebelumnya, manpower. In previous survey,
pengumpulan data angkatan manpower data collecting is
kerja dipadukan dalam kegiatan combined in other survey and
lainnya, seperti Survei Sosial census such as Survey Sosial
Ekonomi Nasional (Susenas), Ekonomi Nasional (Susenas) or
Sensus Penduduk (SP), dan National Economic and
Survei Penduduk Antar Sensus Social.Survey, Population Census
(Supas). and Population Survey Between
Censuses (Supas).
10. Penduduk Usia Kerja adalah
Penduduk yang berumur 15 10. Working Age Population are
tahun ke atas those aged beyond 15 year.

11. Bekerja adalah melakukan 11. Working is doing a job that


pekerjaan dengan maksud intends to earn or help to earn
memperoleh atau membantu revenue or profit and lasting
memperoleh pendapatan atau continuously at least one hour
keuntungan dan lamanya beker in the previous week ( including
ja paling sedikit 1 jam secara family worker who works or
terus menerus dalam seminggu helps economic activities of the
yang lalu (termasuk pekerja family without any salary)
keluarga tanpa upah yang
membantu dalam suatu usaha
/kegiatan ekonomi). 12. Labor Force are those aged
beyond 15 who work, or have
12. Angkatan Kerja adalah pen any job but at present is not
duduk usia kerja (15 tahun ke working and those who try to
atas) yang bekerja, atau punya find a job.
pekerjaan namun sementara
tidak bekerja, dan yang mencari
pekerjaan.

Banten Dalam Angka 2004 34


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja

13. Jumlah jam kerja seluruhnya 13. Total Working Hour is the
adalah jumlah jam kerja yang number of working hour used to
digunakan untuk bekerja (tidak work (not include official relax
termasuk jam kerja istirahat hour and working hour that
resmi dan jam kerja yang used to do things instead a job)
digunakan untuk hal-hal diluar
pekerjaan).
14. Working Field is the kinds or the
14. Lapangan Usaha adalah bidang place of works in which
kegiatan dari pekerjaan /tempat someone do his job. The
bekerja dimana sese orang classification of working area
bekerja. Klasifikasi lapangan follows Klasifikasi Baku
usaha mengikuti Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia
Baku Lapangan Usaha (KBLI) or Indonesia Working
Indonesia (KBLI) dalam 1 digit. Field Standard Classification in
one digit.
15. Status Pekerjaan adalah kedu
dukan seseorang dalam unit 15. Employment Status is the level
usaha/kegiatan dalam melaku in which someone does his job
kan pekerjaan. in a working unit.

16. Pekerja Tak Dibayar adalah


seseorang yang bekerja mem 16. Unpaid Workers are those who
bantu usaha untuk memperoleh works to help economic
keuntangan/penghasilan yang activities of the family without
dilakukan oleh salah seorang any salary, including those who
anggota rumah tangga atau are not the member of the
bukan anggota rumah tangga family.
tanpa mendapat upah/gaji.
17. Labor Force Participation
17. Tingkat Partisipasi Rates is the basic manpower
Angkatan Kerja (TPAK) indicator showing inhabitants
adalah salah satu indikator dasar participation in the productive
ketenaga kerjaan yang economic activities. TPAK is
memberikan gam baran tentang formulated as follows:
seberapa besar keterlibatan
penduduk dalam kegiatan
ekonomi produktif. Rumus
TPAK adalah:

Banten Dalam Angka 2004 35


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
Jumlah Penduduk ( Number of
Yang Tergolong dalam inhabitants
Angkatan Kerja in Work Force) X 100
x 100 Number of
Jumlah Penduduk inhabitants
Berumur 10 Tahun aged beyond
Ke Atas 10 year

3.1. Penduduk 3.1 Population

Dalam kaitannya dengan In relation with continuing


pembangunan berkelanjutan, hampir development, almost all programs
tidak satu programpun yang tidak are dealt with inhabitants. All
memperhatikan penduduk. Semua development programs are
jenis program pembangunan ten integrated and directed toward the
tunya diintegrasikan dan akan di goal, namely increasing welfare and
bawa ke dalam suatu tujuan living quality of inhabitants.
pembangunan, yaitu untuk mening Because of that reason, a population
katkan kesejahteraan dan kualitas information that is completed with
hidup penduduk. Oleh karena itu various characteristics, tendency
informasi kependudukan, dengan and differentiation is very
berbagai karakteristik, kecende substantial. By the same reason,
rungan dan diferensiasinya menjadi population data and any other
semakin penting. Sehubungan related data are very important for
dengan itu, data penduduk seba the development planning and
gaimana data lainnya, sangat evaluation especially after paradigm
diperlukan dalam berbagai peren change that not only based on
canaan dan evaluasi pembangunan, economic growth but also based on
terutama setelah adanya pergeseran improving human resources quality,
paradigma pembangunan yang tidak that has become the goal of
hanya bertumpu pada peningkatan development itself. (people - centred
pertumbuhan ekonomi semata tetapi development).
upaya meningkatkan kualitas SDM
telah menjadi tumpuan dan tujuan
pembangunan itu sendiri.

a. Jumlah dan Pertumbuhan a. Population and Population


Penduduk Growth

Jumlah penduduk di suatu Population in an area is


daerah sebenarnya merupakan asset actually a great development asset
dan potensi pembangunan yang and potential if the population is

Banten Dalam Angka 2004 36


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
qualified. In contrast, a great deal
besar, manakala penduduk tersebut number of population and its growth
berkualitas. Sebaliknya dengan with minor quality will be a big
jumlah dan pertumbuhan penduduk burden for the development process
yang pesat tetapi dengan kualitas itself.
yang rendah akan menjadi beban
besar bagi proses pembangunan
yang akan dilaksanakan.

Penduduk Banten berdasar Banten population based on


kan data hasil Sensus Penduduk the result of Population Census
yang disajikan pada tabel 3.1.1, noted at Table 3.1.1 shows that the
menunjukkan bahwa jumlah pen number of population is increasing.
duduk terus bertambah. Pada tahun In 1961 population number is
1961 tercatat sebanyak 2.438.574 2.438.574 while in 1971 is
jiwa dan tahun 1971 sebanyak 3.045.154 and increasing toward
3.045.154 jiwa, meningkat menjadi 4.015.837 in 1980 and 5.967.907 in
4.015.837 jiwa pada tahun 1980 dan 1990. In year 2000 population
5.967.907 jiwa pada tahun 1990. number based on 2000 Population
Pada tahun 2000, jumlah penduduk Census has become 8.096.809 and
tersebut berdasarkan hasil Sensus in 2004 is increasing to be
Penduduk 2000 (SP2000) telah 9.083.144 inhabitants.
bertambah menjadi sebanyak
8.096.809 jiwa dan tahun 2004
meningkat kembali menjadi
9.083.114 jiwa.
Increasing trend in
Kecenderungan penduduk population growth from one census
yang terus bertambah dari periode to the next census or from one
sensus yang satu ke sensus atau survey to the next survey is not only
survei berikutnya tentunya bukan caused by natural population
hanya disebabkan pertambahan growth, but also caused by
penduduk secara alamiah, tetapi migration. Migrants come to Banten
tidak terlepas dari kecenderungan because of many reason and job
migran baru yang masuk disebabkan opportunities in many sectors,
daya tarik provinsi Banten itu among others, industrial companies
sendiri, baik dilihat dari potensi situated Cilegon, Tangerang and
daerah seperti banyaknya peru Serang, tourism companies in
sahaan industri besar/sedang di Pandeglang, Cilegon and Serang
daerah Cilegon, Tangerang dan and any other job opportunities and
Serang serta potensi pariwisata di also the more conducive atmosphere
Pandeglang, Serang dan daerah

Banten Dalam Angka 2004 37


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
lainnya, sehingga ketersediaan for people to enhance any economic
lapangan kerja dan makin kon activities.
dusifnya kesempatan berusaha akan
menarik pendatang dari luar Banten.

Laju Pertumbuhan pen Population growth rate in


duduk Banten seperti yang disajikan Banten, as noted in Table 3.1.2 for
pada tabel 3.1.2, selama kurun periods of 1990– 2000 grows in
waktu 1990-2000 rata-rata tumbuh average of 3,21 percent. This rate
sebesar 3,21 persen. Angka ini shows a decrease compared with
menunjukkan penurunan dibanding population growth rate in periods of
kan pertumbuhan antara tahun 1980- 1980 –1990 showing 4,04 percent,
1990 yang rata-rata sebesar 4,04 but still relatively higher than the
persen tetapi masih relatif lebih population growth rate in 1961-
besar bila dibandingkan antara kurun 1970 and 1971-1980 showing 2,25
waktu 1961-1971 dan 1971-1980 percent and 3,12 respectively. If
yang masing-masing besarnya 2,25 viewed from the regency and
persen dan 3,12 persen. Apabila municipals side, high population
dilihat menurut kabupaten/kota pada growth incurred in Kabupaten
kurun waktu 1990-2000, terdapat Tangerang and Kota Tangerang
rata-rata laju pertumbuhan penduduk with the average of population
yang relatif tinggi, yaitu di growth is 4.35 percent and 3.83
Kabupaten Tangerang dan Kota percent respectively.
Tangerang dengan rata-rata laju The highness of population
pertumbuhan penduduknya masing- growth in those 2 regencies is
masing sebesar 4,35 persen dan 3,83 closely related with their economic
persen. Tingginya pertumbuhan potential that has grown to be the
penduduk di ke-dua daerah tersebut centre of economic area and has
tidak terlepas dari potensi daerah become destination for migrants. It
bersangkutan yang telah tumbuh is also caused by their sites that are
menjadi pusat kawasan pertumbuhan straight-bordered with Indonesian
perekonomian sehingga menjadi Capitol (Jakarta) –Jabotabek area.
daerah tujuan para pendatang A great number of inhabitants whose
(migran), serta karena letaknya yang daily economic activities in Jakarta
berbatasan langsung dengan Ibu stay in that two area. Compared
kota Negara (Jakarta) –wilayah with population growth rate in the
Jabotabek –yang mau tidak mau previous period (1980-1990), all
harus menampung pula penduduk regencies and municipals, except
yang aktivitas ekonomi keseha Serang, shows a decreasing growth
riannya di wilayah DKI Jakarta. rate.
Selanjutnya, bila dibandingkan
dengan pertumbuhan penduduk pada

Banten Dalam Angka 2004 38


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
periode sebelumnya (1980-1990) Extreme decreasing growth rate
semua kabupaten/kota kecuali incurred in Kota Tangerang from
Kabupaten Serang, menunjukkan 8,77 percent in 1980-1990 to 3,83
penurunan laju pertumbuhan percent in 1990-2000. This
penduduk. Penurunan laju pertum happened because in the periods of
buhan yang cukup ekstrim terjadi di 1980-1990 in Kota Tangerang there
Kota Tangerang dari rata-rata is an addition in the number of
sebesar 8,77 persen pada kurun district from 3 districts become 5
waktu 1980-1990 menjadi 3,83 districts. The 2 districts are
persen pada tahun 1990-2000. Hal previously of Kabupaten Tangerang
ini terjadi karena pada kurun waktu
1980-1990 di kota Tangerang
(sebelumnya Kotif) terjadi penam As explained above, population
bahan kecamatan, dari 3 kecamatan number always increases from year
menjadi 5 kecamatan yang ke- to year. Population number in
duanya berasal dari wilayah Banten in 2004 based on the result
di Kabupaten Tangerang. of National Social Economic Survey
(Susenas) in February, increase to
Seperti dijelaskan dimuka, jumlah be 9.083.144 inhabitants, 4.607.595
penduduk dari tahun ke tahun selalu of them are men and greater than
mengalami pening katan. Jumlah the woman that only amounting
penduduk Banten pada tahun 2004 4.475.549 inhabitants.
berdasarkan hasil Survei Sosial The average of population growth
Ekonomi Nasional (Susenas) rate for period 2000-2004
keadaan Februari, bertambah amounting 3,18 percent is relatively
menjadi 9.083.144 jiwa yang terdiri decreassed if compared with the
dari laki-laki 4.607.595 jiwa lebih population growth rate for period
banyak dibanding perempuan yang 1990-2000 amounting 3,21 percent.
jumlah nya 4.475.549 jiwa. Bila Meanwhile, the number of
dihitung rata-rata laju pertumbuhan household in Banten in 2004 is
penduduk selama periode waktu 2.180.336.
2000-2004 besarnya sekitar 3,18 As a region that is open
persen, relatif menurun dibanding for everyone, in Banten there are
pertumbuhan selama kurun waktu 16,871 expatriates as noted in table
1990-2000 yang besarnya 3,21 3.14. Of all expatriates, most of
persen. Sementara itu, jumlah them come from The Mainland
rumahtangga tercatat sebanyak China and Taiwan amounted 12,141
2.180.336. expatriates (71.96 percent), while
Sebagai daerah yang the rest amounting 4,730 expatriates
terbuka bagi setiap warga, di Banten (28.04 percent) are from Arab,
tercatat pula sekitar 16.871 warga Pakistan, British and many others.
negara asing (WNA) seperti yang

Banten Dalam Angka 2004 39


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
disajikan pada tabel 3.1.4. Dari The other data about
keseluruhan WNA tersebut, seba population that is necessary to know
gian besar warga negara asing is the number of population based
China yang teridentifikasi keba on projection. Projected population
nyakan berasal dari keturunan RRC data is needed to, among others,
dan Taiwan dengan jumlah sekitar quantify development targets in the
12.141 jiwa (71,96 persen), sedang future. The projection of population
sisanya sebanyak 4.730 jiwa (28,04 (demography) is basically needed by
persen) adalah warga asing lainnya the three important users, those are
seperti Arab, Pakistan, Inggris dan planner, decision maker and analyst.
lainnya.
Data tentang jumlah Banten population data
penduduk lainnya yang perlu untuk as the result of projection based on
dikaji adalah penduduk yang age group and sex and the number
diperoleh dari hasil proyeksi. Data of population based on regency can
proyeksi penduduk diantaranya be seen in table 3.1.7 and 3.1.8. It is
diperlukan untuk mengkuantifikasi estimated that the number of
kan target-target pembangunan di population in Banten in 2005 is
masa mendatang. Proyeksi pen around 9.352,3 thousand
duduk (demografi) terutama dibutuh inhabitants.
kan oleh tiga kelompok pemakai
utama, yaitu perencana, pembuat
kebijaksanaan dan analis.

Data penduduk Banten


hasil proyeksi menurut kelompok
umur dan jenis kelamin serta jumlah
penduduk menurut kabupaten/kota b. Distribution and Population
dapat dilihat pada tabel 3.1.7 dan Density
3.1.8. Diperkirakan jumlah
penduduk Banten pada tahun 2005 Spread or distribution of
sekitar 9.352,3 ribu population is basically a population
composition based on geographical
area. From the population spread
b. Persebaran dan Kepadatan data it can be seen whether the
Penduduk population composition in a region
is flat or not. Trough population
Persebaran atau distribusi spread, it also can be seen which
penduduk pada dasarnya merupakan region with dense population.
komposisi penduduk berdasarkan Population spread indicator is noted
geografis. Dari data persebaran pen in percentage. By that way its
duduk dapat dilihat apakah kompo pattern can be inferred.

Banten Dalam Angka 2004 40


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
sisi penduduk di suatu wilayah In the time range between
administrasi tersebut merata atau 2000 and 2004, population spread in
tidak. Melalui persebaran penduduk Pandeglang, Lebak and Serang
dapat dilihat pula di wilayah mana municipal tends to decline while in
terjadi pemusatan penduduk. the other three municipals namely
Indikator persebaran ini dinyatakan Tangerang municipal, Tangerang
dalam persentase, sehingga dapat and Cilegon city, population spread
dilihat polanya. relatively inclines (table 3.1.9). The
Pada selang waktu 2000 inclination in those 3 municipals is
sampai 2004, persebaran penduduk quite fair remembering that the
di Kabupaten Pandeglang, Lebak regions is developing, especially
dan Serang terhadap Propinsi Banten from industrial sector accompanied
cenderung mengalami penurunan by trade and service sector, making
sementara tiga daerah lainnya yaitu many manpower come from outside
Kabupaten Tangerang, Kota area including those who open a
Tangerang dan Cilegon relatif new venture whether in small,
mengalami kenaikan (tabel 3.1.9). middle of big scale like Jakarta.
Terjadinya peningkatan di-3 daerah
tersebut adalah hal yang wajar,
mengingat daerah tersebut The spread of population
merupakan daerah berkembang will have more meaning when it is
terutama dari perkembangan sektor related with the density of
industri besar/sedang yang dibarengi population in an area. This is
pertumbuhan pada sektor perda important because a region with a
gangan dan jasa-jasa sehingga huge population will not be
banyak tenaga kerja yang datang considered as dense if it is wide.
dari daerah lain termasuk mereka
yang membuka usaha baru baik
skala besar/menengah maupun kecil
disamping menampung penduduk
limpahan dari Jakarta.

Dari persebaran penduduk ini akan


lebih bermakna apabila dikaitkan
dengan ukuran kepadatan penduduk
di suatu daerah. Hal ini penting
sebab suatu daerah dengan jumlah
penduduk yang besar belum tentu
dirasakan padat apabila me miliki
wilayah yang luas.

Banten Dalam Angka 2004 41


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
Pada tabel 3.1.9 menunjukkan Table 3.1.9 shows the number
pula bahwa angka kepadatan of population density that is
penduduk Banten dari tahun ke increases from year to year. This is
tahun memperlihatkan peningkatan. shown by the data from the last two
Hal ini ditunjukkan berdasarkan data censuses. In 1990 there are 678
dua sensus terakhir, yaitu tahun inhabitants per km square while in
1990 sebesar 678 orang per km2, 2000 there are 920 inhabitants per
tahun 2000 sebesar 920 orang per km square and increases to be 1.032
km2 meningkat menjadi 1.032 orang inhabitants per km square in 2004.
per km2 pada tahun 2004. Demikian Just like in any other regency, there
pula yang terjadi di seluruh is not a decline in population
kabupaten/kota, tidak ada satu-pun density. If the population density in
kabupaten/kota yang mengalami every municipal is compared, until
penurunan tingkat kepadatan. Bila 2004 there are three municipals with
dibandingkan antar kabupaten/kota, high population density, those are
sampai tahun 2004 terdapat tiga Tangerang city with 8.091
daerah yang tingkat kepadatannya inhabitants per km square,
tinggi, yaitu Kota Tangerang 8.091 Tangerang municipal with 2.877
orang per km2, Kabupaten inhabitants per km square and
Tangerang 2.877 orang per km2 dan Cilegon city with 1.891 inhabitants
Kota Cilegon sebesar 1.891 orang per km square. The lowest
per km2. Sedangkan daerah yang population density occurs in Lebak
paling rendah tingkat kepadatannya with 396 inhabitants per km square.
adalah Kabupaten Lebak sebesar
396 orang per km2.

c. Rasio Jenis Kelamin, Rumah c. Sex Ratio, Household and The


Tangga dan Rata-rata Aggota Average Number of Family
Rumah Tangga Houshold

Berdasarkan data yang Based on data in Table


disajikan pada tabel 3.1.10, rasio 3.1.10 sex ratio in Banten is over
jenis kelamin penduduk Banten 100 although it fluctuates. This
diatas 100 walaupun angkanya ber condition has lasted from1990. It
fluktuasi. Kondisi ini sudah ber shows that the number of men is
langsung sejak tahun 1990 Hal ini greater than the number of woman
menggambarkan bahwa jumlah in Banten. In 2004 sex ratio is
penduduk laki-laki di Banten lebih around 102,95 higher than sex
banyak dari pada jumlah penduduk ration in 1990 and 2000 that shows
perempuan. Pada tahun 2004 rasio 102,71 and 101,48 respectively.
jenis kelamin penduduk Banten

Banten Dalam Angka 2004 42


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
sekitar 102,95 meningkat dibanding By looking at the data in
tahun 1990 dan 2000 yang masing- 2004, all municipals in Banten
masing besarnya 102,71 dan 101,48. except Tangerang regency have sex
Dengan melihat data tahun 2004, ration over
seluruh kabupaten/kota yang ada di 100. The low sex ratio in Tangerang
Banten kecuali Kabupaten regency is 99,62 percent due to the
Tangerang rasio jenis kelamin diatas huge female migrant worker
100. Rendahnya rasio jenis kelamin working in any factory as well as
di Kabupaten Tangerang sebesar any other sector.
99,62 diduga karena banyaknya
pendatang tenaga kerja (buruh)
wanita baik yang bekerja di pabrik
(industri) maupun pada sektor
lainnya.

3.2. Tenaga Kerja 3.2 Manpower

a. Tingkat Partisipasi Angkatan a. Labor Force Participation Level


Kerja (TPAK) (TPAK)

Sektor ketenagakerjaan Manpower sector is one of


merupakan salah sektor penting the important economic development
pembangunan ekonomi khususnya sectors especially related with the
dalam upaya pemerintah untuk government effort to overcome
menanggulangi kemiskinan. Hal ini poverty It is because manpower is
karena tenaga kerja adalah modal the factor to move the development.
bagi geraknya roda pembangunan. The number and the composition of
Jumlah dan komposisi tenaga kerja manpower will always changes
akan terus mengalami perubahan along with the process of
seiring dengan berlangsungnya demography. Manpower sector is
proses demografi. Pada umumnya generally focused on the population
yang menjadi fokus perhatian becoming labour force, because this
dibidang ketenagakerjaan adalah group has a high sensitivity to
penduduk usia kerja yang masuk manpower market. That is why the
angkatan kerja, karena kelompok ini changes occur in this group will
memiliki sensitivitas yang cukup affect the demand and supply side of
tinggi terhadap pasar tenaga kerja. manpower. It is different from any
Oleh karena itu, perubahan yang other sectors that are economically
terjadi pada kelompok ini akan inactive so that they are categorised
mempengaruhi sisi permintaan dan as non labour force (non
penawaran akan tenaga kerja. economically active population).

Banten Dalam Angka 2004 43


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
Berbeda halnya dengan In 2004, in Banten there are
lainnya yang memang secara 7.126.446 inhabitants in working
ekonomi tidak aktif, sehingga age and around 35,41 percent
dikategorikan sebagai bukan (2.523.320 inhabitants) of them live
angkatan kerja. in Tangerang regency. The part of
Pada tahun 2004, di Banten terdapat inhabitants in working age that are
7.126.446 penduduk usia kerja, dan active in any economic activity is
sekitar 35,41 persen (2.523.320 called Labour Force. Tingkat
jiwa) dari mereka terdapat di Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Kabupaten Tangerang. Bagian dari or Labour Force Participation Level
penduduk usia kerja yang aktif is a measurement showing the
dalam kegiatan ekonomi disebut number of labour force for every
angkatan kerja. Tingkat Partisipasi 100 inhabitants in working age.
Angkatan Kerja (TPAK), merupakan TPAK in Banten slightly increases
ukuran yang menggambarkan from 49,52 percent in 2000 to 55,11
jumlah angkatan kerja untuk setiap percent in 2004. The increase in
100 penduduk usia kerja. TPAK TPAK is, among others, due to the
Banten sedikit mengalami increase of population becoming
peningkatan dari 49,52 persen pada labour force and better human
tahun 2000 menjadi 55,11 persen resources quality proved by the
pada tahun 2004. Peningkatan increase in number of schools.
TPAK ini salah satunya dikarenakan There are some TPAK
terjadinya peningkatan jumlah variations among municipals. In
penduduk yang memasuki pasar 2004 TPAK, Tangerang city is the
kerja, disamping adanya lowest, only 52,65 percent followed
kecenderungan membaiknya mutu by Tangerang 53,43 percent. The
sumber daya manusia yaitu ada highest TPAK occurs in
kecenderungan peningkatan jumlah Pandeglang regency showing 58,62
penduduk yang sekolah. percent and Lebak showing 57,95
percent.
Terdapat variasi TPAK antar
kabupaten/kota, pada tahun 2004
TPAK Kota Tangerang paling
rendah yaitu 52,65 persen disusul
Kata Cilegon sebesar 53,43 persen.
Sedangkan TPAK paling tinggi
terdapat di Kabupaten Lebak sebesar
58,62 persen dan Pandeglang
sebesar 57,95 persen.

Banten Dalam Angka 2004 44


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja

b. Komposisi Penduduk yang b. Composition of Working People


Bekerja
The increase in the number of
Perkembangan jumlah tenaga manpower that is not balanced by
kerja yang tidak diimbangi dengan the increase of job opportunity
pertumbuhan lapangan kerja akan causes a decline in working
menyebabkan tingkat kesempatan opportunity. Nevertheless, the
atau penyerapan tenaga kerja cen number of population that work
derung menurun. Namun demikian, cannot be considered as the number
jumlah penduduk yang bekerja tidak of job opportunity because of
dapat sepenuhnya dipandang sebagai mismatch that often happened in
jumlah kesempatan kerja yang ada, manpower market. In 2004, of all
hal ini dikarenakan sering terjadinya total labour force (3.927.717
mismatch dalam pasar kerja. Pada inhabitants) 3.161.970 inhabitants
tahun 2004 dari total angkatan kerja of them or 80,50 percent has
(3.927.717), sebesar 3.161.970 worked. It also can be analysed the
orang atau 80,50 persen dari mereka part of labour force that still looking
telah bekerja. Disisi lain, dapat pula for job or usually called as open
dianalisa bagian dari angkatan kerja unemployment. Of 100 labour force,
yang masih mencari pekerjaan atau around 19 (19,50 percent) of them
biasa disebut pengangguran terbuka. still look for job. Totally the number
Dari 100 angkatan kerja, sekitar 19 of the unemployed in Banten are
(19,50 persen) diantaranya masih 765.747 people, and most of them
mencari pekerjaan. Secara live in Tangerang regency around
keseluruhan jumlah penganggur di 267.086 people.
Banten sebanyak 765.747 orang, dan The proportion of
bagian terbesar penganggur terdapat population that work according to
di Kabupaten Tangerang sekitar working field is usually used to
267.086 orang. measure the potential of economic
Proporsi penduduk yang be sector in absorbing labour force.
kerja menurut lapangan usaha biasa That indicator can also be used as a
dipakai sebagai salah satu ukuran measurement that shows economic
untuk melihat potensi sektor pereko structure of a region. In Banten,
nomian dalam menyerap tenaga agricultural sector is the most
kerja. Indikator tersebut juga bisa dominant sector that absorbs labour
digunakan sebagai salah satu ukuran force. The huge job opportunity in
untuk menunjukkan struktur this sector is a historical reality,
perekonomian suatu wilayah. because this sector generallydoe s n’t
require skilled labour.

Banten Dalam Angka 2004 45


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
Di Banten, lapangan usaha Another fact is the salary
pertanian merupakan sektor yang that is generally low and it is done
paling dominan dalam menyerap by traditional or marginal
tenaga kerja. Tingginya lapangan community. Around 25,80 percent of
usaha di sektor ini adalah kenyataan all population that work are
historis, karena sektor ini umumnya absorbed by this sector. The next
tidak banyak membutuhkan tenaga sector is manufacturing industry
kerja terdidik dan terampil. sector (25,24 percent), trade (20,58
Kenyataan lainnya adalah tingkat percent) and services (12,48
upah/pendapatan yang diterima pun percent). Sectors with low level of
biasanya rendah dan dikerjakan oleh labour force absorbent are
ma syarak at ‘ t
radisi
ona l
’ a tau electrical, gas and drinking water
‘ma rj
ina l
’.Sekitar 25,80 persen dari (0,28 percent) and mining sector
total penduduk yang bekerja terserap (0,57 percent).
di sektor ini. Sektor berikutnya According to the characteristic of
yang cukup besar peranannya adalah each municipals in Banten, the
industri pengolahan (25,24 persen), highest population working in
perdagangan (20,58 persen), dan agricultural sector occurs in Lebak
jasa-jasa (12,48 persen). Sedangkan (60,96 percent), Pandeglang (55,15
sektor yang menyerap sedikit tenaga percent) and Serang (37,35
kerja adalah listrik, gas dan air percent). Meanwhile, in Tangerang
minum (0,28 persen), dan regency, Tangerang and Cilegon
pertambangan/ penggalian (0,57 city, industrial manufacturing, trade
persen). and services sectors are more
Sesuai dengan karakteristik dominant (Table 3.2.4).
kabupaten/kota yang ada di propinsi Manpower job status in
ini, dominasi penduduk yang bekerja Banten is dominated by
di sektor pertanian paling tinggi labour/worker compared with the
di Lebak (60,96 persen), number of entrepreneurs or unpaid
Pandeglang (55,15 persen), dan workers (including family workers).
Serang (37,35 persen). Sementara There are around 1.460.588
untuk Kabupaten Tangerang, Kota workers (46,19 percent) categorised
Tangerang dan Cilegon, industri as labour/worker.
pengolahan, perdagangan dan jasa-
jasa lebih dominan (Tabel 3.2.4).

Banten Dalam Angka 2004 46


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
Tenaga kerja di Banten From the regency
apabila diamati dari status pekerjaan /municipality side, it is shown that
utamanya, ternyata jumlah most of workers in 3 industrial
buruh/karyawan/pegawai lebih regencies namely Tangerang
dominan di bandingkan dengan municipality, Tangerang regency
pengusaha atau pekerja tidak dibayar and Cilegon have the status as
(termasuk didalamnya pekerja labour. This fact is quiet fair
keluarga). Terdapat sekitar considering that those 3 regencies
1.460.588 pekerja (46,19 persen) are industrial centres due to big
masuk dalam kategori industrial companies surrounded by
buruh/karyawan. trade and service companies that
Jika dirinci menurut absorb many labours. In contrast,
Kab/Kota, akan terlihat bahwa those who works in informal sector
sebagian besar (persentase) pekerja in those 3 regencies take relatively
pada 3 (tiga) daerah yang banyak small portion.
terdapat industri pengolahan yaitu
Kota Tangerang, Kabupaten Meanwhile, those included as
Tangerang dan di Kota Cilegon entrepreneur in Banten in year 2004
berstatus buruh/karyawan. totalled 1.241.561
Kenyataan tersebut adalah hal yang entrepreneurs.23,94 percent of them
wajar mengingat daerah tersebut are those who works by himself,
pusat pertumbuhan ekonomi setelah 11,03 percent of them have labour
masuknya perusahaan-perusahaan or helped by family worker and 4,30
industri besar/sedang yang diikuti percent of them have permanent
tumbuhnya sektor perdagangan dan labour.
jasa-jasa yang banyak menyerap
tenaga kerja. Sebaliknya mereka
yang bekerja di sektor informal di
daerah tersebut porsinya relatif
rendah.

Banten Dalam Angka 2004 47


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja
Sedangkan mereka yang
termasuk kelompok pengusaha pada
tahun 2004 di Banten terdapat The highness percentage of
sekitar 1.241.561 orang, yang entrepreneur who have labour or
merupakan gabungan dari mereka helped by family worker can be seen
yang berusaha sendiri 23,94 persen, from the huge number of family
berusaha dibantu buruh tidak tetap worker and unpaid worker 259.142
atau pekerja keluarga 11,03 persen (8,20 percent)
dan yang berusaha dibantu buruh
tetap 4,30 persen. The usage of working hours
indirectly can be used as one of
Relatif tingginya pengusaha indicators of labour productivity.
yang dibantu buruh tidak tetap atau The longer working hours used, the
pekerja keluarga terlihat dari higher labour productivity assumed.
banyaknya pekerja keluarga atau There is 2.355.702 (74,50 percen)t
tidak dibayar yang jumlahnya population that works beyond
sebesar 259.142 (8,20 persen). normal working hour (35 hours or
Penggunaan jam kerja secara tidak more per week). The rest 25,50
langsung dapat dijadikan salah satu percent can be categorised as semi-
indikator produktivitas pekerja. unemployed population because they
Makin lama jam kerja yang work less than 35 hour per week,
digunakan diasumsikan produktivi includingt hosewhoatpr ese ntdon’
t
tas pekerja juga meningkat. Terdapat work totalling 2,77 percent.
sekitar 2.355.702 (74,50 persen)
penduduk yang bekerja diatas jam
kerja normal (lebih dari atau sama
dengan 35 jam per minggu), sisanya
sebasar 25,50 persen dapat
dikategorikan sebagai penduduk
setengah pengangguran karena
mereka bekerja kurang 35 jam per
minggu termasuk yang sementara
tidak bekerja yang besarnya 2,77
persen.

Banten Dalam Angka 2004 48


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja

Grafik 3.1. Perkembangan Jumlah Penduduk Banten


Tahun 1961-2004

10,000 8,956.2 9,083.1


9,000 8,096.8
8,000

R 7,000
5,967.9
i 6,000
b
5,000
u 4,015.8
a 4,000 3,045.2
n 3,000 2,438.6

2,000
1,000
0
1961 1971 1980 1990 2000 2003 2004
Tahun

Grafik 3.2. Perkembangan Laju Pertumbuhan Penduduk Banten,


Tahun 1961-2004

5
4.04
4 3.48
3.21
3.12 3.18
P
e 3
r 2.25
s
e 2
n

0
1961-1971 1971-1980 1980-1990 1990-2000 2000-2003 2000-2004
Tahun

Banten Dalam Angka 2004 49


Bab III Penduduk dan Tenaga Kerja

Grafik 3.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)


Kabupaten/Kota di Banten Tahun 2000 - 2004

70

60

50

40

30

20

10

0
Ko ta
Pan d eglan g Leb ak Tan geran g S eran g Cilego n Ban ten
T an geran g

2000 51,55 49,92 48,47 48,79 50,81 50,86 49,52

2001 56,13 50,90 51,30 50,63 57,07 48,75 52,57

2002 56,33 55,43 51,51 47,82 51,62 44,28 51,56

2003 60,52 58,19 53,21 55,41 53,37 51,76 55,07

2004 57,95 58,62 53,51 56,62 52,65 53,43 55,11

Grafik 3.4. Persentase Penduduk Banten Yang Bekerja


Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2004

Jasa-jasa & lainnya Pertanian


Keuangan 12,48% 25,80%
2,14%
Angkutan &
Komunikasi
8,69% P ertambangan/
P enggalian
0,57%

Perdagangan
20,58% Bangunan Industri Pengolahan
4,12% Listrik, Gas & 25,24%
Air Minum
0,28%

Banten Dalam Angka 2004 50


Bab III Penduduk

Perkembangan Penduduk di Banten


Tabel 3.1.1
Number of Population in Banten
Table
1961-2004

Kabupaten/Kota
1961 1971 1980 1990 2000 2004
Regency/Municipality

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab/Reg

1. Pandeglang 440.213 572.628 694.759 858.435 1.011.788 1.100.911

2. Lebak 427.802 546.364 682.868 873.646 1.030.040 1.132.899

3. Tangerang 643.647 789.870 1.131.199 1.843.755 2.781.428 3.194.282

4. Serang 648.115 766.410 968.358 1.244.755 1.652.763 1.834.514

Kota/Mun

5. Tangerang 206.743 276.825 397.825 921.848 1.325.854 1.488.666

6. Cilegon 72.054 93.057 140.828 226.083 294.936 331.872

Banten 2.438.574 3.045.154 4.015.837 5.967.907 8.096.809 9.083.144

Sumber : Sensus Penduduk 1961. 1971. 1980. 1990. 2000 dan Susenas 2004
Source : Population Census 1961,1971,1980,1990,2000 and Economy Social Surve y 2004

Banten Dalam Angka 2004 51


Bab III Penduduk

Laju Pertumbuhan Penduduk di Banten


Tabel 3.1.2 Population Growth Rate in Banten
Table 1961 –2004
(Persen/Percent)

Kabupaten/Kota
1961-1971 1971-1980 1980-1990 1990-2000 2000-2004
Regency/Municipality

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Kab/Reg

1. Pandeglang 2,66 2,17 2,14 1,71 2,33

2. Lebak 2,48 2,51 2,49 1,72 2,63

3. Tangerang 4,07 4,07 5,00 4,35 3,85

4. Serang 2,69 2,63 2,54 2,98 2,89

Kota/Mun

5. Tangerang 2,96 4,11 8,77 3,83 3,21

6. Cilegon 2,59 4,71 4,85 2,79 3,27

BANTEN 2,25 3,12 4,04 3,21 3,18

Sumber : Sensus Penduduk 1961. 1971. 1980. 1990. 2000, Susenas 2004
Source : Population Census 1961,1971,1980,1990,2000, Economy Social Survey 2004

Banten Dalam Angka 2004 52


Bab III Penduduk

Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk Menurut


Jenis Kelamin di Banten
Tabel 3.1.3
Number of Household and Population by Sex
Table
in Banten
2004

Penduduk/Population
Kabupaten/Kota Rumah Tangga
Regency/Municipality Household Laki-laki Perempuan Jumlah
Male Female Total
(1) (2) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang 260.496 567.045 533.866 1.100.911

2. Lebak 286.714 592.713 540.186 1.132.899

3. Tangerang 764.896 1.594.106 1.600.176 3.194.282

4. Serang 419.520 921.938 912.576 1.834.514

Kota/Mun

5. Tangerang 369.350 759.996 728.670 1.488.666

6. Cilegon 79.360 171.797 160.075 331.872

Banten 2.180.336 4.607.595 4.475.549 9.083.144

2003 1.987.422 4.563.563 4.392.666 8.956.229

2002 2.169.798 4.342.714| 4.187.085 8.529.799

2001 2.062.472 4.231.079 4.026.976 8.258.055


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 53


Bab III Penduduk

Penduduk Warga Negara Asing Cina dan Warga


Tabel 3.1.4 Negara Asing Lainnya di Banten
Table Number of Chinese and Other Aliens in Banten
2000

Warga Negara Asing


Warga Negara Asing Cina
Lainnya
Kabupaten/Kota Chinese Aliens Jumlah
Other Aliens
Regency/Municipality Total
Laki-laki Perempuan Laki -Laki Perempuan
Male Female Male Female
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab /Reg

1. Pandeglang 7 14 41 72 134

2. Lebak 68 55 19 18 160

3. Tangerang 2.248 2.153 1.194 801 6.396

4. Serang 10 8 6 6 30

Kota / Mun

5. Tangerang 3.565 3.900 1.241 1.215 9.921

6. Cilegon 66 47 91 26 230

2000 5.964 6.177 2.592 2.138 16.871

Sumber: Sensus Penduduk 2000, BPS


Source : Population Census 2000,BPS

Banten Dalam Angka 2004 54


Bab III Penduduk

Luas Wilayah, Rata-rata Penduduk Per Km2 dan per


Rumah Tangga di Banten
Tabel 3.1.5
Region Area, Population Average Per Square Km and
Table
Per Household in Banten
2004

Rata-rata Penduduk
Population Average
Luas Wilayah
Kabupaten/Kota
Region Area
Regency/Municipality
(Km2) Per Km2 Per Rumah Tangga
Per Sq Km Per Household

(1) (2) (3) (4)


Kab/Reg

1. Pandeglang 2.746,90 401 4,23

2. Lebak 2.859,96 396 3,95

3. Tangerang 1.110,38 2.877 4,18

4. Serang 1.724,09 1.064 4,37

Kota/Mun

5. Tangerang 184,00 8.091 4,03

6. Cilegon 175,50 1.891 4,18

Banten 8.800,83 1.032 4,17

2003 8.800,83 1.018 4,51

2002 8.800,83 969 3,93

2001 8.800.83 938 4.00


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 55


Bab III Penduduk

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur


Tabel 3.1.6 dan Jenis Kelamin di Banten
Table Number of Population by Age Group and Sex
2004

Kelompok
Laki-laki Perempuan Jumlah
Umur
Male Female Total
Age Group
(1) (2) (3) (4)
0-4 448,7 423,2 871,9
5 –9 555,5 529,3 1.084,8
10 –14 545,9 479,5 1.025,4
15 –19 491,7 454,4 946,1
20 –24 415,0 463,1 878,1
25 –29 370,2 460,4 830,6
30 –34 384,1 379,0 763,1
35 –39 377,5 352,2 729,7
40 –44 309,9 301,6 611,4
45 –49 220,0 210,4 430,4
50 –54 189,1 139,9 329,0
55 –59 99,9 85,8 185,7
60 –64 91,2 89,8 181,0
65 –69 49,0 50,6 99,6
70 –74 35,1 34,9 70,0
75 + 24,9 21,4 46,3
Jumlah
4.607,6 4.475,5 9.083,1
Total
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 56


Bab III Penduduk

Proyeksi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Banten


Tabel 3.1.7 Projection of Population by Age Group
Table 2005 –2008
(Ribu/Thousands)

Kelompok
Umur 2005 2006 2007 2008
Age Group
(1) (2) (3) (4) (5)
0 –4 936,4 934,4 928,1 943,5

5 –9 838,3 839,7 849,8 863,3

10 –14 849,9 846,6 832,4 839,6

15 –19 884,5 879,7 855,3 865,3

20 –24 1.007,4 1.005,6 1.002,5 1.019,1

25 –29 851,6 854,2 864,1 876,5

30 –34 768,7 776,4 788,1 795,5

35 –39 680,0 690,1 698,3 701,3

40 –44 604,2 614,4 616,7 616,8

45 –49 525,8 535,9 554,3 552,6

50 –54 424,8 434,1 463,2 459,0

55 –59 309,1 318,4 323,7 318,8

60 –64 241,2 247,0 249,6 244,9

65 –69 186,1 191,3 194,3 190,0

70 –74 132,8 141,6 147,9 144,3

75 + 111,3 114,9 118,2 115,1

Jumlah
9.352,3 9.424,3 9.486,6 9.545,7
Total
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 57


Bab III Penduduk

Proyeksi Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Banten


Projection of Population by Regency/Municipality in Banten
Tabel 3.1.8
2005 –2008
Table
(Ribu/Thousands)

Kabupaten/Kota
2005 2006 2007 2008
Regency/ Municipality

(1) (2) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang 1.116,0 1.124,6 1.132,1 1.140,7

2. Lebak 1.153,3 1.162,2 1.171,9 1.181,9

3. Tangerang 3.346,8 3.372,6 3.390,8 3.402,6

4. Serang 1.868,4 1.882,7 1.895,7 1.911,1

Kota/Mun

5. Tangerang 1.531,3 1.543,1 1.552,2 1.560,7

6. Cilegon 336,5 339,1 343,9 348,7

Banten 9.352,3 9.424,3 9.486,6 9.545,7

Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 58


Bab III Penduduk

Distribusi Persentase dan Kepadatan Penduduk Menurut


Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 3.1.9
Percentage Distribution and Population Density by
Table
Regency/Municipality in Banten
1990-2004

Kepadatan Penduduk per km2


Distribusi Persentase
Population Density per km2
Kabupaten/Kota Percentage Distribution
(orang/person)
Regency/Municipality

1990 2000 2004 1990 2000 2004

(1) (2) (3) (4) (6) (7) (8)

Kab/Reg

1. Pandeglang 14,38 12,50 12,12 313 368 401

2. Lebak 14,64 12,72 12,47 305 360 396

3. Tangerang 30,88 34,35 35,17 1.660 2.505 2.877

4. Serang 20,86 20,41 20,20 722 959 1.064

Kota/Mun

5. Tangerang 15,45 16,38 16,39 5.010 7.206 8.091

6. Cilegon 3,79 3,64 3,65 1.288 1.681 1.891

Banten 100,00 100,00 100,00 678 920 1.032


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 59


Bab III Penduduk

Rasio Jenis Kelamin Penduduk menurut


Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 3.1.10
Sex Ratio of Population by Regency/
Table
Municipality in Banten
1990- 2004

Rasio Jenis Kelamin/Sex Ratio


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality
1990 2000 2001 2002 2003 2004
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1..Pandeglang 102.23 105.26 107.75 105.16 104,85 106,21

2..Lebak 103.07 106.33 113.10 105.14 112,80 109,72

3..Tangerang 102.76 99.77 98.96 103.60 99,19 99,62

4. Serang 102.70 100.50 108.97 107.76 103,90 101,03

Kota/Mun

5. Tangerang - 99.35 105.67 97.31 107,00 104,30

6. Cilegon - 104.46 105.62 103.28 104,56 107,32

Banten 102.71 101.48 105.07 103.72 103,89 102,95


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 60


Bab III Penduduk

Rumah Tangga dan Rata-rata Besarnya Anggota Rumah


Tangga Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 3.1.11
Number of Households and Average Size of Household by
Table
Regency/Municipality in Banten
2001 - 2004

Rata-rata Besarnya Anggota


Rumah Tangga
Kabupaten/Kota Rumah Tangga
Household
Regency/ Average Size of Household
Municipality
2001 2002 2003 2004 2001 2002 2003 2004
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Kab/Reg

1..Pandeglang 237.344 263.906 235.873 260.496 4,32 3,94 4,59 4,23

2..Lebak 254.880 266.141 250.539 286.714 4,06 3,92 4,48 3,95

3..Tangerang 730.656 767.588 715.014 764.896 3,93 3,89 4,46 4,18

4..Serang 398.544 413.026 359.556 419.520 4,19 4,30 4,94 4,37

Kota/Mun

5. Tangerang 366.080 382.402 355.062 369.350 3,70 3,71 4,12 4,03

6. Cilegon 74.968 76.735 71.378 79.360 4,02 4,03 4,57 4,18

Banten 2.062.472 2.169.798 1.987.422 2.180.336 4,00 3,93 4,51 4,17


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 61


Bab III Penduduk

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Penduduk


Berumur 10 Tahun ke Atas
Tabel 3.2.1 Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Table Labor Force Participation Rate of Population Aged 10
Years and Over by Regency/Municipality in Banten
2000 –2004

Kabupaten /Kota 2004


2000 2001 2002 2003
Regency/Municipality
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab /Reg

1. Pandeglang 51,55 56,13 56,33 60,52 57,95

2. Lebak 49,92 50,90 55,43 58,19 58,62

3. Tangerang 48,47 51,30 51,51 53,21 53,51

4. Serang 48,79 50,63 47,82 55,41 56,62

Kota / Mun

5. Tangerang 50,81 57,07 51,62 53,37 52,65

6. Cilegon 50,86 48,75 44,28 51,79 53,43

Banten 49,52 52,57 51,56 55,07 55,11


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statitistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 62


Bab III Penduduk

Penduduk 10 Tahun Ke Atas yang Bekerja, Mencari


Pekerjaan dan Bukan Angkatan Kerja per
Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 3.2.2
Number of Population Aged 10 Years and Over Who
Table
Worked, Looked for Job and Not Economically Active
in Banten
2004

Angkatan Kerja Bukan Angkatan Penduduk


Kabupaten /Kota Economically Active Kerja ≥10Ta h un
Regency/Municapitaly Not Economically Population
Active ≥10 Years
Bekerja Mencari Kerja Jumlah
Working Finding Work Total

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab /Reg

1. Pandeglang 380.022 112.359 492.381 357.265 849.646

2. Lebak 422.429 93.975 516.404 364.566 880.970

3. Tangerang 1.083.072 267.086 1.350.158 1.173.162 2.523.320

4. Serang 618.386 155.504 773.890 592.854 1.366.744

Kota / Mun

5. Tangerang 545.708 107.598 653.306 587.476 1.240.782

6. Cilegon 112.353 29.225 141.578 123.406 264.984

Banten 3.161.970 765.747 3.927.717 3.198.729 7.126.446

2003 3.185.642 673.189 3.858.831 3.148.367 7.007.198

2002 3.111.286 358.028 3.469.314 3.258.940 6.728.254

2001 3.075.051 255.173 3.330.224 3.004.788 6.335.012


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 63


Bab III Penduduk

Penduduk 10 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Jenis


Pekerjaan Utama per Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 3.2.3
Population 10 Years of Age and Over Who Worked by Type
Table
of Primary Job in Banten
2004

Jenis Pekerjaan Utama


Type of Primary Job
Kabupaten/ Kota Tenaga Tenaga
Regency/Municipality Kepemimpinan/ Pejabat Tenaga Usaha Usaha
Profesional Tata Usaha/ Penjualan/ Jasa/
Managerial/ Administrasion Sale Service
Professional
(1) (2) (3) (4) (5)

Kab /Reg

1. Pandeglang 8.398 8.532 67.509 15.511

2. Lebak 12.286 7.793 56.661 10.063

3. Tangerang 65.734 91.238 214.256 111.890

4. Serang 16.820 20.132 120.718 25.174

Kota / Mun

5. Tangerang 39.498 56.750 108.960 53.118

6. Cilegon 9.188 6.609 27.509 11.358

Banten 151.924 191.054 595.613 227.114

2003 196.008 174.896 570.553 246.338

2002 197.010 216.290 606.221 225.434

2001 199.219 220.964 772.081 131.387

Banten Dalam Angka 2004 64


Bab III Penduduk

Lanjutan
Continued

Jenis Pekerjaan Utama


Type of Primary Job
Kabupaten/ Kota
Regency/Municipality Tenaga Usaha Tenaga TNI/Polri dan
Jumlah
Pertanian/ Produksi/ Pekerja lain/
Total
Agricultur Production Employee

(1) (6) (7) (7) (8)

Kab /Reg

1. Pandeglang 209.592 68.805 1.675 380.022

2. Lebak 257.171 74.205 4.250 422.429

3. Tangerang 105.672 478.446 15.836 1.083.072

4. Serang 230.370 200.600 4.572 618.386

Kota / Mun

5. Tangerang 454 274.216 12.712 545.708

6. Cilegon 8.713 46.933 2.043 112.353

Banten 811.972 1.143.205 40.634 3.161.970

2003 918.556 1.038.511 40.780 3.185.642

2002 839.404 989.765 36.744 3.111.286

2001 810.217 900.900 40.283 3.075.051


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 65


Bab III Penduduk

Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut


Kabupaten/Kota Dan Lapangan Usaha Utama
Tabel 3.2.4 Population 10 Years of Age and Over Who Worked by
Table Regency/Municipality and Main Industry
2004

Listrik. Gas
Pertambangan & Air
Kabupaten/ Kota dan Minum Konstruksi/
Pertanian Industri
Regency/Municipality Penggalian Electricity. Bangunan
Agriculture Industry
Mining and Gas and Construction
Quarrying Water
Drinking
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab /Reg

1. Pandeglang 209.592 1.392 26.364 1.828 9.006

2. Lebak 257.530 5.153 24.862 660 10.063

3. Tangerang 108.086 9.318 352.362 2.064 57.152

4. Serang 230.948 1.524 115.782 3.048 28.642

Kota / Mun

5. Tangerang 908 454 244.252 2.724 16.344

6. Cilegon 8.840 254 34.427 1.397 9.138

Banten 815.904 18.095 798.049 11.721 130.345

2003 936.600 16.071 730.199 11.855 102.619

2002 841.464 18.341 632.905 8.945 119.938

2001 780,217 13,546 704,183 8,753 141,607

Banten Dalam Angka 2004 66


Bab III Penduduk

Lanjutan
Continued

Transportasi
dan
Kabupaten/ Kota Perdaga- Komunikasi
Keuangan Jasa-jasa Jumlah
Regency/Municipality ngan Transpor-
Finance Services Total
Trading tation and
Commun-
ication
(1) (7) (8) (9) (10) (11)

Kab /Reg

1. Pandeglang 68,618 31,347 3,916 27,959 380,022

2. Lebak 57,379 37,601 1,320 27,861 422,429

3. Tangerang 237,986 101,268 29,608 185,228 1,083,072

4. Serang 132,122 55,548 2,786 47,986 618,386

Kota / Mun

5. Tangerang 126,666 36,774 27,694 89,892 545,708

6. Cilegon 28,006 12,103 2,352 15,836 112,353

Banten 650,777 274,641 67,676 394,762 3,161,970

2003 608.718 276.777 70.651 429.946 3.185.642

2002 687.577 289.212 104.226 408.678 3.111.286

2001 679,030 248,332 96,330 403,053 3,075,051


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 67


Bab III Penduduk

Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut


Kabupaten/Kota dan Status Pekerjaan Utama di Banten
Tabel 3.2.5
Population 10 Years Age and Over Who Worked by
Table
Regency/Municipality and Main Employment Status in Banten
2004

Status Pekerjaan Utama


Main Employment Status
Pe-
kerja
bebas
Kabupaten/ Ber- Dibantu Peker
non Pekerja
Kota usaha buruh Dibantu Buruh/ ja Jumlah
perta- tidak
Regency/ Sendiri/ tidak buruh Karya- Bebas Total
nian/ dibayar/
Municipality Self tetap/ tetap/ wan/ Perta-
Free Unpaid
Emplo- Self Emplo- Emplo nian/
lance Emplo-
yed Emplo- yer yer Free-
Non yer
yed lance
Agri-
cul-
ture
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Kab/Reg

1. Pandeglang 99.238 64.820 30.934 78.492 27.580 6.570 72.388 380.022

2. Lebak 68.301 129.737 22.755 80.747 28.720 15.390 76.779 422.429

3. Tangerang 291.926 42.052 42.040 632.884 21.762 15.522 36.886 1.083.072

4. Serang 175.050 93.698 14.820 203.234 35.996 29.744 65.844 618.386

Kota/Mun

5. Tangerang 100.334 8.172 20.430 403.152 - 11.350 2.270 545.708

6. Cilegon 22.246 10.160 4.848 62.079 3.059 4.986 4.975 112.353

Banten 757.095 348.639 135.827 1.460.588 117.117 83.562 259.142 3.161.970

2003 750.996 438.313 127.213 1.435.514 63.011 62.231 308.364 3.185.642

2002 709.304 435.011 81.961 1.435.345 87.498 38.724 323.443 3.111.286

2001 602.249 464.916 65.705 1.425.569 89.539 95.446 331.627 3.075.051


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 68


Bab III Penduduk

Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Yang Bekerja


Seminggu Yang Lalu Menurut Kabupaten/Kota dan
Jumlah Jam Kerja Seluruhnya di Banten
Tabel 3.2.6
Population 10 Years of Age and Over Who Worked During
Table
The Previous Week by Regency/Municipality and Total
Working Hours in Banten
2004

Kabupaten/ Jumlah Jam Kerja Seluruhnya


Kota Total Working Hours
Regency/ Jumlah
0*) 1-9 10 - 24 25 –
34 35 - 44 45 - 59 60+
Municipality Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab/Reg

1.
11.637 4.677 56.273 67.581 98.997 108.699 32.158 380.022
Pandeglang

2. Lebak 18.969 11.789 98.214 83.669 96.300 93.975 19.513 422.429

3. Tangerang 33.772 10.018 56.536 70.296 334.184 424.300 153.966 1.083.072

4. Serang 18.496 12.138 114.976 79.196 177.636 179.892 36.052 618.386

Kota/Mun

5. Tangerang 4.086 4.994 11.804 17.706 234.264 225.638 47.216 545.708

6. Cilegon 773 508 5.328 12.832 36.813 46.547 9.552 112.353

Banten 87.733 44.124 343.131 331.280 978.194 1.079.051 298.457 3.161.970

2003 41.841 11.587 127.489 220.988 695.783 928.699 257.701 2.284.088

2002 135.186 24.843 290.545 363.423 878.381 1.082.605 336.303 3.111.286

2001 59.428 59.844 369.156 360.838 900.886 988.137 336.762 3.075.051


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS
*)
Sementara tidak bekerja

Banten Dalam Angka 2004 69


Bab IV Sosial

Penjelasan Teknis Technical Notes

1. Masih Bersekolah adalah 1. Attending school are those


sedang mengikuti pendidikan who following education at
(formal) di pendidikan dasar, primary school, Junior High
menengah, atau tinggi. School, Senior High School
and undergraduate.
2. Tamat Sekolah adalah menye
lesaikan pelajaran pada kelas 2. Graduate is a classification for
atau tingkat terakhir suatu those who passed the highest
jenjang pendidikan di sekolah level of a particular school
negeri maupun swasta dengan with certificate or diploma
mendapatkan tanda tamat regardless of whether the
ijazah. Orang yang belum schools is government or
mengikuti pelajaran pada kelas privately managed. In
tertinggi tetapi telah mengikuti addition, a person who had
ujian dan lulus dianggap tamat taken find examination at the
sekolah. highest level and passed, is
regardless as graduated
3. Dapat Membaca dan Me eventhough the person had not
nulis adalah seseorang yang gone through the highest level.
dapat membaca dan menulis
surat/kalimat sederhana de
ngan suatu huruf, baik latin 3. Able to Read and Writte is a
dan atau lainnya. person has ability to read and
write a letter or a simple
4. Luas lantai adalah luas lantai sentence eventhough latin and
yang ditempati dan digunakan other.
untuk keperluan sehari-hari.
4. Floor Area is the total area
5. Air Leding adalah sumber air which is occupied and utilizied
minum yang berasal dari air daily.
yang telah diproses menjadi
jernih sebelum dialirkan 5. Pipe Water is prossed water
kepada konsu men melalui became steril and flowed to
instalasi berupa saluran air. consumen write instalation.
Sumber air ini biasanya Supported by establishment or
diusahakan oleh PAM/ PDAM.
PDAM/BPAM.

Banten Dalam Angka 2003 73


Bab IV Sosial

4.1. Pendidikan 4.1. Education

Pendidikan merupakan salah


satu aspek penting dalam kehi One of aspect is important
dupan serta diakui sebagai in life also need for basic people as
kebutuhan pokok manusia secara at all. High level education of
keseluruhan. Semakin tinggi society is good quality in resources.
tingkat pendidikan masyarakat,
In country of Indonesia is so many
semakin baik kualitas sumber
dayanya. Diakui atau tidak, dunia problems education. Eventhough
pendidikan di negeri ini terus ministry and orde changed, but
menimbun berbagai permasalahan. education have still classical
Meski telah berganti aparat birokrat problems like quality, distribution
dan orde pemerintahan serta
banyaknya kampanye tentang of education in society, good
pentingnya pendidikan, dunia behaviour of student, budgeting is
pendidikan tak kunjung lepas dari always lack from government, and
sejumlah permasalahan klasik baik interesting of student is very little.
menyangkut kualitas, daya jangkau
masyarakat terhadap pendidikan,
budi pekerti para siswa, minimnya
anggaran pendidikan yang
disediakan pemerintah, hingga
minat belajar para siswa. Development of education
in Indonesia should be focussed for
Pembangunan pendidikan di
Indonesia lebih difokuskan kepada aged 7 –24 year, firstly for aged is
penduduk usia 7–24 tahun, 7–15 year with compulsary
terutama bagi anak usia 7–15 tahun program of education 9 years. But
seiring dengan dicanangkannya the reality of education has
program wajib belajar pendidikan
dasar (Wajardikdas) 9 tahun. problem in application of society.
Namun realitasnya situasi Recently, education did not give by
pendidikan dini jangankan untuk aged 7 to up, but for aged pra
seluruh manusia, dengan titik sen school as like Garden School that
tral usia di atas saja segudang
go though to next level of
persoalan kerap menyertainya.
Saat ini, pendidikan tidak hanya di education.
peruntukkan bagi anak usia 7 tahun
ke atas, akan tetapi pendidikan usia
dini (pra-sekolah) seperti Taman
Kanak-kanak (TK) sebagai tahap
awal pendidikan anak untuk

Banten Dalam Angka 2003 74


Bab IV Sosial
masuki jenjang pendidikan Banten population aged 7
berikutnya pun menjadi penting. –24 years who are attending school
Jumlah penduduk Banten in 2004 is about 3.537.553 persons,
usia 7-24 tahun yang masih/sedang each man is 1.796.686 and woman
sekolah pada tahun 2004 tercatat is 1.740.867. Part of whole is aged
sekitar 3.537.553 orang yang terdiri 7 –12 years (37,53 percent), and
dari 1.796.686 laki-laki dan
aged 13–15 years (16,80 percent).
1.740.867 perempuan. Secara
persentase, sebagian besar adalah In fact that is population of
anak usia 7–12 tahun (37,53), schuling is low as primary school.
sementara anak usia 13–15 tahun
sebesar 16,80 persen. Jika di
konversikan ke dalam tingkat
pendidikan, penduduk yang
bersekolah kebanyakan masih se Opportunity equity of
tingkat SD. education depend of school
building, library, books, and
Pemerataan kesempatan pen
teachers that is enough. Primary
didikan sangat dipengaruhi oleh
tersedianya sarana dan prasarana school are 4.344 with pupils are
pendidikan seperti gedung sekolah, 1.288.612 and teachers are 38.218
perpustakaan dan buku-buku penun or ratio teacher of pupil is 33,72
jang pelajaran serta tenaga pendidik that mean 1 (one) of teacher to
(guru) yang memadai. Untuk
teach is about 33-34 pupils.
tingkat sekolah dasar ada sebanyak
4.344 buah SD dengan 1.288.612
siswa dan 38.218 guru, sehingga
terhitung rasio guru-murid sebesar
33,72 yang artinya setiap 1 (satu)
orang guru membimbing sekitar
33-34 orang siswa.

Pada tingkat Sekolah Building of Yunior School


Menengah/Lanjutan Pertama are 606 with capasity are 269.596
terdapat sebanyak 606 sekolah
pupils and teachers are 11.113 or
dengan kapasitas murid yang
mengikuti pendidikan sebanyak ratio is around 24,26 percent. Next
269.596 siswa dan tenaga pengajar a number of Senior High School
(guru) sebanyak 11.113 orang atau are 443 building with each 268
rasionya sekitar 24,26. Selanjutnya Senior High School (SMU) and 175
jumlah Sekolah Lanjutan Atas
terdapat 443 sekolah yang terdiri Senior High Vocational School
dari 268 SMU dan 175 SMK with amount of student are 186.224

Banten Dalam Angka 2003 75


Bab IV Sosial
(sekolah kejuruan) dengan jumlah that are 106.059 (56,95 percent)
siswa keseluruhan sebanyak pupils in Senior High school and
186.224 orang, meliputi mereka
yang sekolah di SMU sebanyak 80.165 (43,05 percent) pupils in
106.059 (56,95 persen) yang Senior Vocational School. Teachers
lainnya sebanyak 80.165 (43,05 are 11.078 respectively are 6.160
persen) bersekolah di SMK. (55,61 percent) for Senior High
Tenaga pendidik di kedua jenis
school and 4.918 (44,39 percent)
pendidikan tersebut sebanyak
11.078 orang terdiri atas guru SMU for Vocational School. As whole
sebanyak 6.160 orang (55,61 ratio teacher to student is 16,81 or
persen) dan 4.918 orang (44,39 each 1 (one) teacher to develop
persen) sebagai guru SMK. Secara around 16-17 pupils.
keseluruhan rasio guru-murid
sebesar 16,81 atau setiap 1 (satu)
orang guru mengajar sekitar 16-17
orang siswa.
Sektor pendidikan merupa- Education sector is
kan sektor yang dominan dalam
dominan in Human Development
pembangunan sumber daya manu
sia (SDM). Hal ini terlihat dari (SDM). In fact in several indicators
beberapa indikator yang terkait in human developent is very need
dengan pembangunan SDM atau for it or quality of life is always
kualitas hidup penduduk yang following with education
selalu memasukkan komponen
component in calculation. One of
pendidikan dalam penentuan/
penghitungannya. Salah satu indicator used as level of
indikator yang biasa digunakan education, literate and illiterate.
diantaranya tingkat pendidikan
yang ditamatkan, angka melek
huruf dan angka buta huruf.

Sampai dengan tahun 2004, Until year of 2004, level


tingkat pendidikan penduduk education finished by aged 10 to up
Banten usia 10 tahun ke atas years of Banten population are for
sebagian besar hanya tamat sekolah
both primary and not finish
dasar dan yang belum/tidak tamat
SD/Sederajat, yang besarnya primary school is around 59,02
sekitar 59,02 persen meliputi percent, respectively 32,18 percent
mereka yang tamat SD/Sederajat for primary and next 26,85 percent
sebanyak 32,18 persen dan yang for not finish primary school.
tidak/belum tamat SD/Sederajat
sebesar 26,85 persen.

Banten Dalam Angka 2003 76


Bab IV Sosial
Pada tingkat sekolah Level of education of Yunior
menengah/lanjutan, yang telah School finished 17,53 percent and
menamatkan pendidikan setingkat
SLTP sebesar 17,53 persen dan Senior School finished 19,73
yang tamat SLTA sebesar 19,73 percent. Level of undergraduated is
persen. Untuk jenjang pendidikan less that is only 3,71 percent as
tinggi porsinya lebih rendah lagi finished Diploma I till up
dimana hanya sekitar 3,71 persen
undergraduated. In circumtance is
yang berhasil menamatkan
pendidikan setingkat diploma I deeply sad because of those entry
sampai Sarjana. Kondisi ini cukup to manpower should be tirished
memprihatinkan dan kritis bila Senior High School. Crisis of
dikaitkan dengan kecenderungan education depend on man power
bergesernya tuntutan pasar kerja
(sektor formal) yang lebih supply, it that connect with entry to
mengutamakan pendidikan seren man power less than graduated
dah-rendahnya SLTA sebagai Senior High School to up, which is
prasyarat bagi angkatan kerja around 23,44 percent. Level of
dalam mengikuti kompetisi di
population education in the future
bursa pasar kerja. Krisis di dunia
pendidikan dikaitkan dengan pang will hope up for prefering to entry
sa pasar tenaga kerja dapat diamati man power as pracondition go to
dari relatif rendahnya tingkat man power supply with level of
pendidikan yang ditamatkan pada education is Senior High School to
jenjang SLTA ke atas (dengan
up as minimaze condition.
asumsi seandainya sebagian dari
mereka termasuk angkatan kerja)
yang besarnya baru sekitar 23,44
persen. Diharapkan tingkat
pendidikan penduduk di masa
mendatang dapat lebih ditingkatkan
dalam rangka mempersiapkan
tenaga kerja melalui pendidikan
setingkat SLTA ke atas sebagai
standar minimal. The other side, high of
education level increased literate
Pada sisi lain, dengan sema
kin meningkatnya pendidikan pen or less illiterate. Because of it one
duduk, efek multiplier-nya diharap of indicator make population smart
kan dapat meningkatkan angka because of those read and wrote
melek huruf atau sebaliknya which has opportunity to receipt
menurunkan banyaknya penduduk
yang buta huruf. Karena hal ini me- more knowledge and information.

Banten Dalam Angka 2003 77


Bab IV Sosial
rupakan salah satu indikator Now day in 2004 Banten
semakin cerdasnya penduduk sebab population illiterate is 376.300
dengan kemampuan membaca dan
menulis (melek huruf) akan (5,28 percent). This figure grow up
memperluas kesempatan menyerap if in calculation is not with literate
pengetahuan dan informasi lebih as Arab, Chinese and so on. So that
banyak. Sampai saat ini (tahun population of illiteration is 457.852
2004), di Banten terdapat sekitar
(6.42 percent) and around 81.552
376.300 (5,28 persen) penduduk
yang tidak bisa membaca dan (1,14 percent) is latin illiterate.
menulis (buta huruf). Angka ini Complete situation of education
sebenarnya dapat lebih besar between munipacility or regency
seandainya melek huruf dibatasi can see table 4.1.9.
hanya untuk mereka yang dapat
membaca dan menulis huruf latin
saja (tidak termasuk mereka yang
hanya dapat membaca dan menulis
huruf lainnya seperti Arab, China
dan sebagainya). Dari sini jumlah
penduduk yang buta huruf menjadi
sebanyak 457.852 orang (6,42
persen), sehubungan penduduk
yang hanya bisa membaca dan
menulis huruf lainnya tercatat
sekitar 81.552 orang (1,14 persen)
jugadi anggaps e ba
gai“ butah u ruf 4.2. Health and Family Planning.
lati
n ”.Se l
engk apnya pe t
as it
u asi
pendidikan di Banten dan disparitas Firstly Indonesia country
antar kabupaten/kota dapat dilihat concerned to increase health of
pada tabel 4.1.9.
people with the reason of humanity
and because it is big advantage if
4.2. Kesehatan dan Keluarga the society or individual has good
Berencana health that will hope society
Sejak awal negara sangat Government should be manage
memperhatikan dan berupaya me good helath for society and to serve
ningkatkan kesehatan warganya that people can get supporting fund
dengan alasan kemanusiaan dan without should be pay or less pay.
karena keuntungan yang besar
(positip) dari kesehatan baik bagi
individu masyarakat maupun tujuan
lain yang diinginkan masyarakat.

Banten Dalam Angka 2003 78


Bab IV Sosial
Memang sudah sewajarnya In fact, health develop-
pengurusan dalam bidang ment is still many problems even
kesehatan adalah tanggung jawab
negara terhadap rakyatnya dan government or society. because of
sudah sepantasnya apabila warga that health need seriously attention
negara mendapatkan pelayanan for all of us. Of course the
kesehatan tanpa harus mengeluar government rule is very important.
kan biaya atau menekan biaya
Health development involved all of
serendah-rendahnya.
aspect as infra and supra structure
Pada faktanya, pembangu- of health and can be reached by all
nan kesehatan masih banyak me of society even finance or
nyimpan setumpuk persoalan baik acceptability. Health infrastructure
bagi pemerintah maupun masya
rakat. Oleh karena itu kesehatan as Hospital, health center, health
perlu mendapatkan perhatian serius center assistant and others of
dari berbagai pihak. Tentu saja health services is determinant
dalam hal ini peran pemerintah factor to success in health
sangat menentukan. Peran peme
development.
rintah dalam pembangunan ke
sehatan menyangkut segala aspek
seperti menyediakan sarana dan
prasarana kesehatan yang memadai
dan dapat dijangkau oleh
masyarakat secara keseluruhan baik
dari segi finansial maupun
aksesbilitasnya (keberadaan
lokasinya). Sarana kesehatan
seperti rumah sakit, puskesmas,
pukesmas pembantu, tenaga
kesehatan dan pusat-pusat
pelayanan lainnya adalah faktor
yang akan menentukan berhasil
tidaknya pembangunan di bidang
kesehatan.
In 2004 year of Banten
Pada tahun 2004 di Banten
terdapat tidak kurang 24 buah Province is not less 24 hospital that
rumah sakit dengan kapasitas is capasity of bed is around 2.906.
tempat tidur sekitar 2.906. Sarana Infra structure other of healt can
kesehatan lain yang relatif mudah reach society around 172 health
dijangkau masyarakat adalah
Puskesmas terdapat sebanyak 172 center which is spreading in.

Banten Dalam Angka 2003 79


Bab IV Sosial
buah yang tersebar di seluruh Medical is very important to
kabupaten/kota. serve society health, as whole in
Petugas kesehatan yang 2004 is not less around 1.422
keberadaannya sangat vital sebagai persons which respectively is
pelayan kesehatan masyarakat around 602 public doctor,
seperti dokter, pada tahun 2004 specialist is abou 577 persons and
secara keseluruhan terdapat tidak
kurang dari 1.422 orang yang dentist is around 243 persons.
terdiri dari sekitar 602 dokter Medical health is nedd, is not only
umum, 577 dokter ahli (spesialis) doctor but assistant of medis like
dan 243 orang dokter gigi. Tentu paranormal even trained or not
saja tenaga kesehatan yang
trained which help birth become
dibutuhkan tidak terbatas hanya
tenaga dokter tetapi tenaga attention of health sector. Region in
selainnya seperti perawat, tenaga fact, birth proccess is much still
ahli farmasi bahkan keberadaan assistant by paranormal even
dukun melahirkan (paraji) baik tarined or not trained and other
terlatih maupun tidak terlatih yang
kerap dimanfaatkan masyarakat side those are use by paramedis.
harus diperhitungkan dan dijadikan
pusat perhatian di bidang
kesehatan. Adalah suatu kenyataan
di setiap wilayah, proses kelahiran
anak masih banyak yang dibantu
oleh dukun baik terlatih maupun The effort of increasing
tidak terlatih disamping adapula health level of population from
yang lebih mengutamakan tenaga since birth or child is very
medis. important with immunization. the
baby or children under 5 years got
Sebagai upaya mening-
katkan tingkat kesehatan penduduk complete imunization who those
sejak dini, maka kegiatan imunisasi will have strong depend on dease.
bayi atau balita sangat penting Because of it is need to give
dilakukan. Bayi dan balita yang immunization since baby as BCG,
mendapat imunisasi terlebih bagi
anak yang menerima imunisasi DPT-I till DPT-III, campak and
lengkap secara medis diakui akan Polio which is positive advantage
lebih kebal (tahan) dari serangan of children and society at the
penyakit yang umum menyerang future. Imunization of children is
bayi. Oleh karena pemberian
hoped for decreasing infant of
imunisasi pada anak sejak bayi
seperti BCG, DPT-I sampai DPT- mortlity level in Banten which
III, Campak dan Polio sangat

Banten Dalam Angka 2003 80


Bab IV Sosial
penting sehubungan dengan prediction is still high that is mean
keuntungan positip yang akan will increase level of health and
diperoleh anak dan masyarakat
pada masa-masa berikutnya. population as whole in 2004 the
Dengan pemberian imunisasi anak amount of baby received
diharapkan dapat menurunkan imunization BCG 214.594 and
tingkat kematian bayi yang sampai DPT-III 196.858; Campak 203.275
saat ini di Banten angkanya
and Polio IV 198.699 complete
disinyalir masih relatif tinggi, atau
dalam arti yang lebih luas lagi data see table 4.2.3.
dapat meningkatkan derajat
kesehatan anak dan penduduk Beside the availablelity of
secara keseluruhan. Pada tahun health facilities, the avaiblelity of
2004 sebanyak 214.594 bayi telah
menerima imunisasi BCG, 196.858 health redujices such as medicine
mendapat imunisasi DPT-III, trader also need a big concern. a
203.275 memperoleh imunisasi big medicine trader has a function
campak dan Polio-IV diberikan as a distributor of edicines (e.g.
kepada sekitar 198.699 anak (bayi).
drugstore). The number of big
Data selengkapnya dapat dilihat
pada tabel 4.2.3. medicine traders, in 2043 were 30 ,
16 in Tangerang regency, 7 in
Disamping ketersediaan sara Serang, 7 in Tangerang city. There
na kesehatan, ketersediaan prasa were 379 drugstores that spread in
rana kesehatan seperti pedagang
municipacility or regency. The
besar farmasi juga perlu mendapat
perhatian. Pedagang besar farmasi largest number was in Tangerang
yang berfungsi sebagai distributor regency (200) and Tangerang city
maupun penyalur obat-obatan (100) and the smallest number was
termasuk apotik sangat dibutuhkan. in Pandeglang regency (4). The
Jumlah pedagang besar farmasi
pada tahun 2004 terdapat sebanyak availablelity of medicine is
30 buah terbatas hanya di extremely infivenced by the
Kabupaten Tangerang (16 buah), development of health industry
Serang (7 buah) dan Kota whether it is in a big or small scale.
Tangerang (7 buah). Sedangkan
There were 25 health industries in
apotik terdapat sebanyak 379 buah
tersebar di setiap kabupaten/kota Banten, in 2004.
dengan jumlah terbesar terdapat di Based on Peraturan
Kabupaten Tangerang (200 buah) Pemerintah No. 27 tahun 1994
dan Kota Tangerang (100 buah), about the management of
adapun jumlah terkecil terdapat di
Kabupaten Pandeglang yaitu 4 de mogr af
y ’sde velopme ntthat
buah. Keberadaan dan ketersediaan

Banten Dalam Angka 2003 81


Bab IV Sosial
obat-obatan sangat dipengaruhi regulation stateel that te realitation
oleh keberadaan Industri farmasi it is to control the quantity of
baik dalam sekala besar maupun
kecil. Industri farmasi di Banten people. There must be erested a
pada tahun 2004 terdapat sebanyak balance between the quantity of
25 buah. people and enviromental support,
social economic condition and
Seperti yang dinyatakan dalam
social cultural condition. The
Peraturan Pemerinah No. 27 Tahun
1994 tentang Pengelolaan reduction of natality has an aim to
Perkembangan Kependudukan bah make a balance of population
wa pengelolaan kependudukan growth and to minimize it based on
salah satunya diwujudkan melalui our governme nt’si de alt arg et.To
pengendalian kuantitas penduduk.
Pengendalian kuantitas penduduk make it real, our government make
diarahkan pada terwujudnya kese a pr ogram c alled “ Upay a
rasian, keselarasan dan keseim Pembudayaan Norma Keluarga
bangan antara kuantitas, penduduk Ke cilBahagi a & Se jahtera”.I t
dengan daya dukung dan daya
contains many programs of
tampung lingkungan dan kondisi
perkembangan sosial ekonomi dan inr easing s ociety’s awar ene ssi n
sosial budaya. Penurunan angka wing contracepsy media or
kelahiran salah satunya ditujukan postponing the early marriage.
untuk mewujudkan pertumbuhan Family planning that made by our
penduduk yang seimbang menuju
government has brought many
dan serendah-rendahnya seperti
yang ditargetkan pemerintah. positive impacts in reducing
Untuk mewujudkan hal tersebut natality minimize the population
dilakukan upaya pembudayaan nor gr owt h,andi mpr oveours oc iety’
s
ma keluarga kecil bahagia dan welfare.
sejahtera, yang meliputi upaya
peningkatan kesadaran dan mendo Look at table 4.2.7 to
rong masyarakat diantaranya know further about Banten
melalui pemakaian alat kontrasepsi Pe ople’s partici
pat i
on i
n
(KB) dan pendewasaan usia per implementating family planning.
kawinan. Perlu diakui bahwa pro
There were 1.011.937 family
gram Keluarga Berencana yang
dicanangkan pemerintah telah pl annin g’sac ceptors,mos toft he m
membawa dampak positif dalam used injection (523.228; 51,71
menurunkan angka kelahiran dan percent), the others used pill
menekan laju pertumbuhan pendu
duk serta sedikit banyak telah
memberi andil dalam peningkatan
tingkat kesejahteraan rakyat.

Banten Dalam Angka 2003 82


Bab IV Sosial
Seberapa banyak partisipasi (254.658). Those kinds also
masyarakat Banten dalam program provided some others ways,
KB dapat dilihat pada tabel 4.2.7.
Pada tahun 2004 terdapat sekitar including using condom and ovag
1.011.937 akseptor KB yang se (short-term metod). Meanwhile, the
bagian besar menggunakan suntik acceptors who used long-term
sekitar 523.228 (51,71 persen) method were 230.439 (22,78
berikutnya sebanyak 254.658
percent).
memakai pil. Kedua jenis KB
tersebut termasuk yang meng
gunakan kondom dan ovag disebut 4.3. Other Social Aspects
KB metoda jangka pendek (Non
Metode Jangka Panjang). Nowadays, land certificate
Sementara akseptor yang that recated with an authority of
menggunakan Metoda Jangka ownership such as an authority of
Panjang (MJP) sebanyak 230.439 belongid an authority of the
atau sekitar 22,78 persen dari total
ventur e and b ui
lding’s us e, an
akseptor KB.
authority of use, not to mention a
4.3. Sosial Lainnya wakaf of land are extremely
important. Land as a source of
Saat ini sertifikasi tanah
ownership based on the example
yang menyangkut status hak
kepemilikan seperti hak milik, hak above, often makes a several news
guna usaha, hak guna bangunan, when there are some conflicts of
hak pakai, tidak terkecuali tanah dispute case. Among people a
wakaf semakin penting. Tanah group of people or a community of
sebagai sumber kepemilikan seperti
contoh status di atas, tidak jarang people, not to mention a conflict
mewarnai pemberitaan di media between people and government.
massa manakala muncul kasus- Because of that, the ownership of
kasus persengketaan bahkan land is badly needed expecially the
menjadi sumber konflik baik antar
ownership which has a formal
warga, kelompok atau komunitas
masyarakat sampai termasuk legalitation such as land
dengan negara sendiri. Karenanya certificate. the conflict of land
jaminan keamanan kepemilikan usually requires a land certificate
tanah atau status penguasaannya in itst roubles hooting’spr o
cc ess
.
yang legalisasinya lebih terjamin
melalui kepemilikan sertifikat When the conflict happens among
tanah atau dalam bentuk akta tanah people or government institution,
sangat dibutuhkan. Konflik seputar the government who has certificate
tanah biasanya dalam proses usually wins and vice versa.
penyelesaiannya akan menyertakan

Banten Dalam Angka 2003 83


Bab IV Sosial
sertifikat atau akta tanah. Ketika In 2003, production of
terjadi sengketa antar warga atau certifi
catein “Badan Pe rt
anaha n
yang melibatkan institusi/lembaga
bahkan negara pihak yang memiliki Nas ional”of Banten province was
sertifikat/akta biasanya akan meme made for 1,047,297 land with
nangkannya sebaliknya yang tidak 214,521.14 hectares of extent.
memiliki akan menjadi yang Production of certificate
dikalahkan.
considered from its quantity was
Pada tahun 2003 produksi made for an authority of proverty
sertifikat oleh Badan Pertanahan right status 629,112 (60.07
Nasional Propinsi Banten percent) and 107,395.26 hectare;
diperuntukan sebanyak 1.047.297 50.06 percent ( table 4.3).
bidang tanah dengan luas tanah
sekitar 214.521,14 hektar. Produksi
sertifikat dilihat dari sisi jumlah A sense of security as our
bidang dan luas sebagian besar peopl e dai l
yl if
e ’s ne e
dc an be
diperuntukan untuk tanah berstatus made as an indicator of our social
hak milik yaitu sebanyak 629.112
welfare. One of methode to
(60,07 persen) dan 107.395,26
hektar; 50,06 persen (tabel 4.3.1). me asur epe opl e’ss e nseofs ecuri
ty
isar esearc hofc rime ’svicti
m by
Rasa aman merupakan salah doing a survey or a report from the
satu kebutuhan hidup masyarakat instance itselft. If there are many
yang dapat dijadikan indikator
peopl ebe ingac rime ’
sv icti
m,i t
kesejahteraan masyarakat. Salah
satu cara untuk mengukur rasa me ans t he rei sn’ta s ense of
aman masyarakat adalah penelitian security and vice versa. Long
korban kejahatan baik melalui Ec onomi c’sc risis,f oodc r
isisand
survei maupun laporan instansi job lack of job opportunity in our
terkait. Semakin banyak anggota
masyarakat yang menjadi korban society has made a massive impact
kejahatan berarti makin rendah in increasing the number of
derajat keamanan yang mereka unemployment people. Other crisis
rasakan dan berlaku sebaliknya. also can improve the quantity of
Kesulitan ekonomi yang berke
crime in our society, it means there
panjangan pada masyarakat,
kesulitan memperoleh bahan pa isar educ t
ionofs ec urit
y’slevel.
ngan, kesulitan mencari pekerjaan
yang berdampak membengkaknya
angka pengangguran dan berbagai
kesulitan lainnya diduga dapat
meningkatkan tindak kejahatan
(kriminalitas) ditengah-tengah

Banten Dalam Angka 2003 84


Bab IV Sosial
masyarakat yang berarti pula With at hepol wilBanten’ s
menye babkan turunnya derajat report as a main source, in 2004,
keamanan.
there was found 1.106 kinds of
Dengan hanya bersumber dari crime with different motive. That
laporan Polisi Wilayah (Polwil) statistic increased, if we compare it
Banten, pada tahun 2004 to 2003 statistic that found 920
ditemukan sebanyak 1.106 tindak
cases or its decreased 20,22
kejahatan dengan berbagai motif.
Angka tersebut mengalami percent.
peningkatan dibanding tahun 2003
yang tercatat sebanyak 920 The numbe r of c r i
mi nal ’
s
kejadian atau mengalami case that got a first rank was a
penurunan sekitar 20,22 persen.
ve hicl
e’st heft(277c ases),s econd
Jumlah Tindak Pidana (JTP) was an heavy theft (262 cases).
yang menduduki peringkat pertama These cases are speculated to be
adalah kasus pencurian bermotor increased, if every motive of crime
(Curanmor) sebanyak 277 kasus,
is reported by people to the police
disusul kasus pencurian dengan
pemberatan (Curat) sebanyak 262
kasus. Hal ini diperkirakan akan From all criminal cases
lebih banyak lagi seandainya setiap that mentioned, the number of
bentuk kejahatan sekecil apapun troubles hooti
ng’
spr oc cess
in2004,
yang dialami masyarakat
just reached 577 cases or 52,17
dilaporkan kepada pihak berwajib.
percent.
Sementara dari seluruh
kejadian di atas, jumlah penye-
lesaian tindak pidananya pada
tahun 2004 hanya mencapai 577
untuk seluruh kasus atau sekitar
52,17 persen.

4.4. Perumahan dan Lingkungan 4.4. Housing and Environment


Bagaimanapun terbelakangnya
atau tradisionalnya tingkat kebu Although our society have
dayaan suatu masyarakat, a traditional life or culture, they
dipastikan membutuhkan tempat still need a good housing, a
tinggal baik itu yang bersifat permanent or not.
permanen maupun sementara.
Contoh jelas saat ini, sekalipun
menyandang sebutan tuna wisma

Banten Dalam Angka 2003 85


Bab IV Sosial
maupun gelandangan, pada For a clear example, although
dasarnya banyak diantara mereka a person is given a status as a
memiliki tempat tinggal, meskipun
dalam kapasitas tidak layak huni loiber er,i tdoe sn’tme ant ha tthey
atau tidak pantas disebut rumah. don’ thav ea hous e,theyh avei t
Karena itulah pemenuhan althoug hwec an’tc al
leditagood
kebutuhan akan rumah (tempat dwelling. Because of that, fulfilling
tinggal) yang muncul dalam
the need of housing –in economic
konteks teori atau ilmu ekonomi
termasuk kebutuhan dasar (Basic theory is a vital part of basic need,
need) disamping pangan dan not to mention food and clothing.
sandang. Dalam kehidupan sehari- In our daily life, house is our
hari rumah merupakan tempat shelter that protected us from many
berlindung dari berbagai macam
gangguan, baik yang datangnya k i
ndsofnat ur al’spr occesss uchas
dari alam seperti hujan, panas dan rain, hot or cold weather, or wild
rasa dingin maupun gangguan animal. The ideal house must has
binatang buas serta gangguan an area floor per capita at least 10
lainnya. Idealnya rata-rata luas
m2. So, if there are 4 –5 people, the
lantai per kapita minimal 10 m2.
Sehingga bila dalam satu rumah ideal house will provide an area
tinggal terdapat 4-5 anggota rumah floor, at least 50 m2.
tangga, idealnya rumah tangga
menempati luas lantai minimal
50m2.
According to Susenas 2004. It
Berdasarkan hasil Susenas
2004, terlihat bahwa sebagian besar appeared that many households
rumahtangga tinggal di rumah lived in a house with an area floor,
dengan luas lantai 50 –99 m2 yaitu 50-99 m2. The number of these
dihuni oleh sekitar 1.026.684 households were 1.026.684 (47,09
rumah tangga atau 47,09 persen
dari total rumah tangga yang percent) from the total of
jumlahnya 2.180.336. households, 2.180.336. Other
Kondisi perumahan secara households lived in a house with an
umum dapat diamati dari jenis atap, areas floor, under 50 m2.
lantai dan dinding rumah. Gam
baran kondisi perumahan seperti
indikator yang disebutkan di atas As usual, we can observe
dapat digunakan sebagai indikator the condition of housing from its
kualitas rumah tempat tinggal. roof, floor and wall. Those
Dengan menggunakan data hasil indicators can be used as the
Susenas 2004, kualitas rumah
sebagian besar menggunakan atap indicatorofh ousing’squalit
y.
genteng yang jumlahnya sekitar

Banten Dalam Angka 2003 86


Bab IV Sosial
1.877.875 rumah (86,13 Ac cor di
ngt o“Sus enas2004 ”,t he
persen), jenis lantai terluas adalah house that used tiled roof were
bukan tanah seperti tegel, keramik
atau plester sebesar 89,79 persen 1.877.875 houses (86,13 percent)
sementara yang lainnya sebesar used a floor except ground floor
10,20 persen masih berlantaikan such as tegel, ceramic or plester
tanah. Sedangkan jenis dinding were 89,79 percent. Other 10,20
terluas tembok terdapat pada
percent still used ground or natural
sekitar 1.659.357 (76,11 persen)
bangunan tempat tinggal. floor. The housing that used a good
Diantaranya pula masih ada yang quality of wall were 1.659.357
menggunakan dinding dengan (76,11 percent). The others used
kualitas lebih rendah seperti the wall below the standard, such
anyaman bambu oleh sekitar 19,02
persen bangunan tempat tinggal. as used bamboo wall 19,02
percent).
Selain dilihat dari gambaran
kualitas rumah, keberadaan fasilitas Beside the quality of
rumah seperti sumber penerangan,
house, we have the consider the
fasilitas air minum dan sumber air
minum adalah bagian yang tak availablelity of housing facilities
terpisahkan dengan kebutuhan ru such asni ght’ss our ce orwat er
mah tangga sehingga menjadi facility as a crucial part of or rain.
penting adanya. Sebanyak hous e hold’s.The rear e2. 039.647
2.039.647 (93,55 persen) rumah
(93,55 percent) households that
tangga telah menikmati penerangan
listrik PLN. Relatif tingginya hav ee njoyedt hePLN’ se lectrici
ty.
pemanfaatan listrik PLN tidak lain This hi gh l evel of e l
ec tr
ic i
ty’s
berkat keberhasilan program listrik consumption was caused by the
masuk desa. success of Listrik Masuk Desa
Fasilitas rumah lainnya yang program.
sangat vital berupa konsumsi air
bersih yang terkait erat dengan Other facilities such as good
kesehatan masyarakat. Sekitar water, has a strong relationships
59,19 persen rumah tangga withs ociety’she al th.5 9.
19p e rc ent
memiliki fasilitas air minum sendiri of households used this facility
dan yang lainnya memanfatkan
individually, while other 18,74
fasilitas bersama (18,74 persen),
dan fasilitas umum oleh sekitar percent used it together and 11,28
11,28 persen, akan tetapi masih use general facilities.
terdapat sebanyak 10,78 persen Unfortunately, 10.78 percent of
rumah tangga yang tidak memiliki themc oul
dn ’
tenj oyt hisfac il
ity .
fasilitas air minum.

Banten Dalam Angka 2003 87


Bab IV Sosial
Rumah tangga yang tidak So, they take water from
mempunyai fasilitas air minum ini its natural sources such as river,
ada kalanya masih memanfaatkan
air sungai, danau atau dari sumber lake or rain.
mata air bahkan air hujan.
Based on the criteria of good
Dilihat dari kualitas air minum water (for example packaged,
yang relatif memenuhi persyaratan
ledeng, pump water and well
sebagai air minum bersih dan sehat,
yang meliputi air kemasan, ledeng, (sumur), there are 13954.639
dan pompa dan sumur dikonsumsi (89,65 percent) households that
oleh sekitar 1.954.639 (89,65 consumed these kinds of water. A
persen) rumah tangga, yang lainnya rest of them (225.697; 10,35
sebanyak 225.697 (10,35 persen)
masih mengkonsumsi air minum percent) still consumed the water
yang diperkirakan tidak memenuhi below the standard. They consumed
standar air bersih (sehat) seperti air the water from unprotected water
yang berasal dari mata air, air source, river, rain and many more.
sungai, air hujan dan air lainnya.

Banten Dalam Angka 2003 88


Bab IV Sosial

Grafik 4.1. Penduduk Usia 7-24 Tahun Yang Masih Sekolah


Menurut Jenis Kelamin, 2004

700000

600000

500000

400000

300000

200000

100000

0
7-12 13-15 16-18 19-24
Laki-laki 688.458 306.192 305.883 496.153
Perempuan 639.285 288.200 273.794 539.588

Grafik 4.2. Rasio Murid-Guru Menurut Jenjang Pendidikan, 2004

35
33,72
30

25 24,26
16,81
20

15

10

0
SD SLTP SLTA

Banten Dalam Angka 2003 89


Bab IV Sosial
Grafik 4.3. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas
menurut Pendidikan yang Ditamatkan, 2004

D III-Sarjana
SLTA Tidak Tamat SD
3,03%
19,73% 26,85%

SLTP
D I/II
17,54% Tamat SD
0,68%
32,18%

Grafik 4.4. Banyaknya Tindak Kejahatan Yang Terjadi Menurut Jenis


Kejahatan Yang Dilaporkan Ke Polwil Banten, 2002 –2004

350

300

250

200

150

100

50

0
Curas Curat Curanmor Penganiayaan Penipuan Penggelapan Narkotika

2002 2003 2004

Banten Dalam Angka 2004 90


Bab IV Sosial

Penduduk Usia 7 - 24 Tahun yang Masih Sekolah


Menurut Jenis Kelamin di Banten
Tabel 4.1.1
Population Aged 7 –24 Years Attending School by Sex
Table
in Banten
2004

Jenis Kelamin/ Persentase


Jumlah
Kelompok Umur Percentage
Total
Sex/Group of Age (%)
(1) (2) (3)
Lak-laki/Male

7 - 12 688.458 38,32

13 - 15 306.192 17,04

16 - 18 305.883 17,02

19 - 24 496.153 27,62

Jumlah/Total 1.796.686 100,00

Perempuan/Female

7 - 12 639.285 36,72

13 - 15 288.200 16,55

16 - 18 273.794 15,73

19 - 24 539.588 31,00

Jumlah/Total 1.740.867 100,00

Lak-laki+Perempuan/Male+Female

7 - 12 1.327.743 37,53

13 - 15 594.392 16,80

16 - 18 579.677 16,39

19 - 24 1.035.741 29,28

Jumlah/Total 3.537.553 100,00


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 91


Bab IV Sosial

Jumlah Sekolah, Murid dan Guru


Taman Kanak-kanak di Banten
Tabel 4.1.2
Number of Kindergarten Schools,
Table
Students and Teacher in Banten
2004

Sekolah Murid Guru


Kabupaten/Kota School Student Teacher
Regency/Municipality Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
Public Private Public Private Public Private
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 1 140 200 4.828 11 617

2. Lebak 1 43 23 1.230 6 143

3. Tangerang 1 359 48 9.646 2 1.251

4. Serang 1 101 26 5.070 6 445

Kota/Mun

5. Tangerang 240 17.531 907

6. Cilegon 1 45 25 3.258 2 90

Banten 5 928 322 41.563 27 3.453

2003 4 954 297 54.802 16 4.896

2002 2 663 122 28.031 296 2.551


Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Banten
Source : National Education Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 92


Bab IV Sosial

Jumlah Sekolah, Murid dan Guru


Sekolah Dasar di Banten
Tabel 4.1.3
Number of Elementary Schools, Students and
Table
Teacher in Banten
2004

Sekolah Murid Guru


Kabupaten/Kota School Student Teacher
Regency/Municipality Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
Public Private Public Private Public Private
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 885 3 161.393 273 6.933 18

2. Lebak 779 3 161.357 426 6.375 56

3. Tangerang 986 106 353.938 33.802 7.822 3.291

4. Serang 931 10 380.080 3.065 7.842 169

Kota/Mun

5. Tangerang 393 87 124.861 23.654 2.855 1.048

6. Cilegon 148 13 40.607 5.186 1.633 176

Banten 4.122 222 1.222.236 66.406 33.460 4.758

2003/2004 4.129 1.014 1.079.689 284.556 26.309 13.536

2002/2003 4.167 955 1.091.250 184.578 24.712 5.304

2001/2002 4.179 254 1.114.218 68.136 25.286 4.478


Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Banten
Source : National Education Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 93


Bab IV Sosial

Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Lanjutan


Tingkat Pertama di Banten
Tabel 4.1.4
Number of Junior High Schools, Students and Teacher
Table
in Banten
2004

Sekolah Murid Guru


Kabupaten/Kota School Student Teacher
Regency/Municipality Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
Public Private Public Private Public Private
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 53 9 25.044 1.264 1.349 161

2. Lebak 59 13 25.445 2.184 921 171

3. Tangerang 44 151 49.560 47.130 1.088 1.585

4. Serang 68 47 42.188 9.215 1.853 779

Kota/Mun

5. Tangerang 21 113 25.631 30.641 810 1.786

6. Cilegon 8 20 6.079 5.215 294 316

Banten 253 353 173.947 95.649 6.315 4.798

2003/2004 266 867 157.299 310.278 6.333 10.168

2002/2003 262 757 180.282 168.183 5.614 5.685

2001/2002 235 474 175.869 119.751 6.678 5.952


Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Banten
Source : National Education Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 94


Bab IV Sosial

Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Lanjutan


Tingkat Atas di Banten
Tabel 4.1.5
Number of Senior High Schools, Students and Teacher
Table
in Banten
2004

Sekolah Murid Guru


Kabupaten/Kota School Student Teacher
Regency/Municipality
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
Public Private Public Private Public Private
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 12 8 7.996 1.067 390 50

2. Lebak 15 16 8.477 1.618 675 225

3. Tangerang 16 68 13.056 22.205 542 979

4. Serang 21 33 11.635 5.945 665 608

Kota/Mun

5. Tangerang 13 51 8.963 19.524 416 1.238

6. Cilegon 4 11 3.112 2.461 165 207

Banten 81 187 53.239 52.820 2.853 3.307

2003/2004 89 353 53.514 118.588 2.575 6.536

2002/2003 79 338 53.903 70.036 3.349 5.274

2001/2002 60 211 31.311 37.081 1.556 4.103


Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Banten
Source : National Education Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 95


Bab IV Sosial

Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Lanjutan


Tingkat Atas Kejuruan di Banten
Tabel 4.1.6
Number of Senior Vocational High Schools,
Table
Students and Teacher in Banten
2004

Sekolah Murid Guru


School Student Teacher
Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
Public Private Public Private Public Private
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 6 10 1.714 2.365 121 260

2. Lebak 2 7 1.618 2.684 119 233

3. Tangerang 1 63 760 26.357 25 1.523

4. Serang 3 22 2.362 9.958 185 613

Kota/Mun

5. Tangerang 4 47 4.130 22.987 300 1.238

6. Cilegon 2 8 910 4.320 73 228

Banten 18 157 11.494 68.671 823 4.095

2003/2004 13 146 9.760 119.184 834 5.665

2002/2003 12 138 9.895 63.758 699 3.694

2001/2002 11 228 9.840 60.286 776 2.876


Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Banten
Source : National Education Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 96


Bab IV Sosial

Jumlah Perguruan Tinggi di Banten


Tabel 4.1.7
Number of University in Banten
Table
2003

Univer-
Kabupaten/Kota Poli- Akademi/ Institut/ sitas/ Sekolah
Regency/Municipality teknik/ Academy Institute Univers- Tinggi/
ity

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Kab/Reg

1. Pandeglang - - - 1 1

2. Lebak - 1 - - 1

3. Tangerang - 3 3 4 7

4. Serang 1 2 - 1 7

Kota/Mun

5. Tangerang 1 8 - 1 9

6. Cilegon 1 1 - - 3

Banten 3 15 3 7 28
Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Banten
Source : National Education Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 97


Bab IV Sosial

Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas menurut Pendidikan


yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota
Tabel 4.1.8 di Banten
Table Population Aged 10 Years and Over by Educational
Attainment and Regency/Municipality in Banten
2004

Pendidikan Yang Ditamatkan


Kabupaten/Kota Educational Attainment
Regency/Municipality
< SD SD/Sederajat SLTP
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 270,099 389.976 104.493

2. Lebak 282,911 407.862 129.579

3. Tangerang 670,598 679.676 446.702

4. Serang 479,798 487.616 243.588

Kota/Mun

5. Tangerang 172,066 254.694 262.866

6. Cilegon 37,784 73.270 62.691

Banten 1,913,256 2.293.094 1.249.919


2003 1.977.693 2.328.375 1.146.367
2002 1.958.461 2.110.440 1.092.626
2001 2.130.671 1.905.305 920.856

Banten Dalam Angka 2004 98


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Pendidikan Yang Ditamatkan


Kabupaten/Kota Educational Attainment
Regency/Municipality
Jumlah
SLTA Dipl. I/II Dipl. III-Univ.
Total
(1) (5) (6) (7) (8)

Kab/Reg

1. Pandeglang 72.653 3.350 9.075 849.646

2. Lebak 53.369 3.590 3.659 880.970

3. Tangerang 597.604 22.378 106.362 2.523.320

4. Serang 135.872 4.468 15.402 1.366.744

Kota/Mun

5. Tangerang 470.344 11.804 69.008 1.240.782

6. Cilegon 76.082 2.562 12.595 264.984

Banten 1.405.924 48.152 216.101 7.126.446

2003 1.279.654 52.445 222.664 7.007.198

2002 1.212.880 46.152 307.695 6.728.254

2001 1.119.914 37.774 220.492 6.335.012


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 99


Bab IV Sosial

Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas Menurut Kepandaian


Membaca dan Menulis dan Kabupaten/Kota
Tabel 4.1.9 di Banten
Table Population Aged 10 Years and Over by Reading and
Writing Ability and Regency/Municipality in Banten
2004

Kemampuan Membaca dan Menulis


Kabupaten/Kota Reading and Writing Ability Jumlah
Regency/Municipality Total
Huruf Latin Huruf Lainnya Tidak Dapat
Latin Other Ca n’t
(1) (2) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang 798.769 11.484 39.393 849.646

2. Lebak 812.691 21.181 47.098 880.970

3. Tangerang 2.327.714 12.758 182.848 2.523.320

4. Serang 1.270.892 23.436 72.416 1.366.744

Kota/Mun

5. Tangerang 1.197.652 11.804 31.326 1.240.782

6. Cilegon 260.876 889 3.219 264.984

Banten 6.668.594 81.552 376.300 7.126.446

2003 6.534.370 94.192 378.636 7.007.198

2002 6.252.940 111.433 363.881 6.728.254

2001 5.761.970 95.445 477.597 6.335.012


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 100


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Sakit dan Puskesmas di Banten


Tabel 4.2.1
Number of Hospitals and Public Health Center
Table
2004

Rumah Sakit
Kabupaten/Kota Hospitals Puskesmas
Regency/Municipality Jumlah Tempat Tidur Public Health Center
Total Beds
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 1 121 29

2. Lebak 3 200 33

3. Tangerang 7 975 41

4. Serang 3 292 36

Kota/Mun

5. Tangerang 7 1.135 25

6. Cilegon 3 183 8

Banten 24 2.906 172

2003 24 1.096 172

2002 15 2.781 163

2001 15 2.781 163


Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Source : Health Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 101


Bab IV Sosial

Jumlah Dokter Rumah Sakit Umum dan Puskesmas


di Banten
Tabel 4.2.2
Number of Medical Doctors at Public Hospital and
Table
Health Center in Banten
2004

Dokter Umum Dokter Ahli


Kabupaten/Kota Dokter Gigi Jumlah
General Medical
Regency/Municipality Dentist Total
Practitioner Specialist

(1) (2) (3) (4) (5)


Kab/Reg

1. Pandeglang 70 12 21 103

2. Lebak 82 9 22 113

3. Tangerang 216 344 107 667

4. Serang 87 35 27 149

Kota/Mun 0

5. Tangerang 94 161 50 305

6. Cilegon 53 16 16 85

Banten 602 577 243 1.442

2003 368 125 169 662

2002 277 58 147 482

2001 303 366 138 807


Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Source : Health Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 102


Bab IV Sosial

Jumlah Penduduk Yang Diimunisasi Menurut Jenis


Imunisasi di Banten
Tabel 4.2.3 Number of Immunized People by Kind of Immunization
Table in Banten
2004

Kabupaten/ Imunisasi/Immunization
Kota Regency Campak
/Municipality BCG DPT-I DPT-II DPT-III Polio-I Polio -IV
Measles
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 26.255 24.029 21.849 21.051 22.899 27.773 22.372

2. Lebak 24.975 25.554 23.740 23.554 23.468 25.240 23.898

3. Tangerang 73.856 73.488 70.453 69.458 70.923 74.374 66.998

4. Serang 45.282 42.500 39.902 40.112 43.112 47.084 42.894

Kota/Mun

5. Tangerang 36.257 36.008 35.220 35.136 35.079 36.576 34.751

6. Cilegon 7.969 8.042 7.696 7.547 7.794 8.349 7.786

Banten 214.594 209.621 198.860 196.858 203.275 219.396 198.699

2003 216.234 205.864 197.104 192.763 198.599 213.599 195.293

2002 207.810 202.506 159.889 158.137 200.920 168.484 188.145

2001 209.595 209.661 195.856 195.046 199.868 213.079 196.463


Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Source : Health Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 103


Bab IV Sosial

Jumlah Persalinan Menurut Penolong Persalinan


di Banten
Tabel 4.2.4
Number of Birth by Kind of Personel in Charge in Banten
Table
2004

Kabupaten/Kota Tenaga Medis Dukun Terlatih


Regency/Municipality Medical Personel Trained Midwife

(1) (2) (3)


Kab/Reg

1. Pandeglang 14.834 14.646

2. Lebak 4.237 7.721

3. Tangerang 56.961 25.707

4. Serang 24.128 22.453

Kota/Mun

5. Tangerang 29.732 6.996

6. Cilegon 5.436 1.063

Banten 135.328 78.586

2003 123.526 13.850

2002 50.375 40.016

2001 50.375 40.016

2000 124.968 36.169


Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Source : Health Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 104


Bab IV Sosial

Jumlah Tenaga Kesehatan Selain Dokter di Puskesmas


dan Rumah Sakit Umum di Banten
Tabel 4.2.5 Number of Health Personnels OTher Than Dokter at
Table Public Health Center and Government Hospital in Banten
2004

Sarjana SKM/ AKPER/ Perawat/


Kabupaten/Kota
Farmasi/ Health School Nurse Nurse
Regency/Municipality
Pharmacy Academy
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 9 11 97 278

2. Lebak 12 20 48 307

3. Tangerang 140 18 595 1.087

4. Serang 12 4 120 544

Kota/Mun

5. Tangerang 73 180 4 80

6. Cilegon 5 5 57 60

Banten 251 238 921 2.356

2003 42 37 330 2.472

2002 38 8 44 596

2001 20 30 1 -

Banten Dalam Angka 2004 105


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Paramedis
Non Non Medis/
Kabupaten/Kota Bidan/ SPRG
Keperawatan Not
Regency/Municipality Midwife
/ Not Nurse Medical

(13) (6) (7) (8) (9)


Kab/Reg

1. Pandeglang 217 11 49 235

2. Lebak 204 14 19 227

3. Tangerang 564 20 28 244

4. Serang 317 26 24 400

Kota/Mun

5. Tangerang 102 13 16 99

6. Cilegon 70 7 5 78

Banten 1.474 91 141 1.283

2003 1.092 91 - 126

2002 915 - 93 -

2001 1411 13 576 611


Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Source : Health Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 106


Bab IV Sosial

Jumlah Penyalur Obat di Banten


Tabel 4.2.6
Number of Medicine Distributors in Banten
Table
2004

Pedagang
Industri
Kabupaten/ Industri Besar
Kecil Obat
Kota Farmasi Farmasi Apotik Jumlah
Lainnya
Regency/ Pharmaceuti Pharmaceuti Dispensaries Total
Other Drug
Municipality cal Industry cal Whole
Industry
Sale
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab/Reg

1. Pandeglang - - 4 - 4

2. Lebak - - 8 - 8

3. Tangerang 11 16 200 9 236

4. Serang 3 7 35 1 46

Kota/Mun 0

5. Tangerang 11 7 100 16 134

6. Cilegon - - 32 - 32

Banten 25 30 379 26 460

2003 25 30 297 26 378

2002 21 38 284 - -

2001 29 31 344 25 429


Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi Banten
Source : Health Services of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 107


Bab IV Sosial

Jumlah Akseptor Keluarga Berencana (Usia 15-49


Tahun Berstatus Kawin) Menurut Alat/Cara
Kontrasepsi Yang Digunakan
Tabel 4.2.7 di Banten
Table Number of Family Planning Acceptors by Method of
Contraception Based on The Result of Family
Registration in Banten
2004

Metode Jangka Panjang (MJP) / Long Term Method


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality IUD MOP MOW Susuk
IUD Vasectomy Tubectomy Implant
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 7.54 1.434 2.276 16.792

2. Lebak 5.381 2.512 1.550 16.064

3. Tangerang 67.305 9.050 6.691 19.363

4. Serang 11.069 2.613 3.635 12.878

Kota/Mun

5. Tangerang 28.037 1.674 4.389 4.119

6. Cilegon 3.164 136 1.087 1.866

Banten 122.310 17.419 19.628 71.082

2003 121.117 17.869 19.267 242.316

2002 118.191 17.897 19.506 89.278

2001 112.247 17.592 19.038 96.795

Banten Dalam Angka 2004 108


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Non Metode Jangka Panjang (Non MJP) /


Non Long Term Method Jumlah MJP
Kabupaten/Kota Tradisional dan Non MJP
Regency/Municipality Suntik Pil Kondom & Lainnya Total of MJP
Injection Pil Condom Traditional and Non MJP
& Others
(1) (6) (7) (8) (9) (10)
Kab/Reg

1. Pandeglang 70.859 22.668 96 - 121.479

2. Lebak 65.129 39.327 263 27 130.253

3. Tangerang 167.673 107.062 1.703 - 378.847

4. Serang 108.591 47.139 274 1 186.200

Kota/Mun

5. Tangerang 85.863 31.337 911 16 156.346

6. Cilegon 25.113 7.125 318 3 38.812

Banten 523.228 254.658 3.565 47 1.011.937

2003 508.755 255.599 3.160 18 1.168.101

2002 483.097 247.192 2.826 62 978.049


Sumber: Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Banten
Source : National Family Planning Coordinating Board of Banten

Banten Dalam Angka 2004 109


Bab IV Sosial

Jumlah Keluarga Pasangan Usia Subur


Tabel 4.2.8 Menurut Umur Isteri di Banten
Table Number of Potential Couple by Age of Wife in Banten
2004

Kabupaten/Kota Umur Isteri / Age of Wife Jumlah


Regency/Municipality Total
< 20 Tahun 20 –29 Tahun >29 Tahun
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 12.395 77.046 102.718 192.159

2. Lebak 18.035 85.288 99.027 202.350

3. Tangerang 29.063 255.982 327.180 612.225

4. Serang 15.561 118.378 168.362 302.301

Kota/Mun

5. Tangerang 3.756 72.459 141.224 217.439

6. Cilegon 1.393 18.663 37.197 57.253

Banten 80.203 627.816 875.708 1.583.727

2003 79.581 19.655 848.315 1.543.669

2002 76.988 593.429 813.781 1.484.198


Sumber : Sumber: Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Banten
Source : National Family Planning Coordinating Board of Banten

Banten Dalam Angka 2004 110


Bab IV Sosial

Jumlah Keluarga Sejahtera Menurut Tahapan


Keluarga Sejahtera di Banten
Tabel 4.2.9
Number of Prosperous Family by Level of Prosperous
Table
Family in Banten
2004
Keluarga Sejahtera Keluarga Sejahtera
Tahap Pra Sejahtera/ Tahap I/
Prosperous Family Prosperous Family
Step Prosperous Before Step I
Kabupaten/Kota Bukan Bukan
Regency/Municipality Alasan Alasan Alasan Alasan
Ekonomi/ Ekonomi/ Jumlah/ Ekonomi/ Ekonomi/ Jumlah/
Economy Not Total Economy Not Total
Reason Economy Reason Economy
Reason Reason
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 54.310 20.975 75.285 43.688 47.225 90.913

2. Lebak 43.002 16.852 59.854 59.912 40.587 100.499

3. Tangerang 69.052 36.483 105.535 75.698 87.993 163.691

4. Serang 30.379 20.357 50.736 65.844 85.466 151.310

Kota/Mun

5. Tangerang 11.743 6.079 17.822 19.317 41.334 60.651

6. Cilegon 4.044 947 4.991 4.508 6.108 10.616

Banten 212.530 101.693 314.223 268.967 308.713 577.680

2003 221.604 100.426 322.030 272.380 305.274 577.654

2002 221.857 95.733 317.590 264.797 306.168 570.965

Banten Dalam Angka 2004 111


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Keluarga
Keluarga Keluarga
Sejahtera
Sejahtera Sejahtera
Tahap III
Kabupaten/Kota Tahap II/ Tahap III/ Jumlah
Plus/
Regency/Municipality Prosperous Prosperous Total
Prosperous
Family Family
Family
Step II Step III
Step III Plus
(1) (8) (9) (10) (11)
Kab/Reg

1. Pandeglang 46.189 36.789 8.943 91.921

2. Lebak 66.664 32.468 5.476 104.608

3. Tangerang 249.971 138.977 64.883 453.831

4. Serang 118.185 65.470 13.334 196.989

Kota/Mun

5. Tangerang 73.702 81.799 25.383 180.884

6. Cilegon 19.629 27.185 7.092 53.906

Banten 574.340 382.688 125.111 1.082.139

2003 531.921 366.881 121.053 1.919.611

2002 489.461 358.330 111.890 1.848.236


Sumber: Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Banten
Source : National Family Planning Coordinating Board of Banten

Banten Dalam Angka 2004 112


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan


Luas Lantai Rumah di Banten
Tabel 4.3.1
Number of Household by Regency/Municipality and Area
Table
of House Floor in Banten
2004

Kabupaten/Kota Luas Lantai / Area of Floor Jumlah/


Regency/Municipality < 20 20 - 49 50 -99 100 - 149 150+ Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 7.861 90.498 136.152 25.160 825 260.496

2. Lebak 2.987 154.715 114.771 14.241 0 286.714

3. Tangerang 62.592 226.718 386.839 78.052 10.695 764.896

4. Serang 13.800 157.964 199.502 43.585 4.669 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 80.990 77.875 150.855 52.955 6.675 369.350

6. Cilegon 4.185 21.330 38.565 13.820 1.460 79.360

Banten 172.415 729.100 1.026.684 227.813 24.324 2.180.336

2003 119.154 655.596 934.217 177.209 101.246 1.987.422

2002 98.557 767.609 948.130 235.395 120.107 2.169.798


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 113


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota


dan Jenis Atap Terluas di Banten
Tabel 4.3.2
Number of Household by Regency/Municipality
Table
and The Widest of Ceiling Type in Banten
2004

Jenis Atap Terluas / The Widest of Ceiling Type


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Beton Genteng Sirap Seng
Concrete Roof Tile Shingle Zinc Roof
(1) (2) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang 1.808 202.367 15.339 354

2. Lebak 1.516 236.731 3.745 3.411

3. Tangerang 10.169 677.540 8.330 2.852

4. Serang 4.278 396.957 4.646 1.541

Kota/Mun

5. Tangerang 10.235 287.915 3.115 445

6. Cilegon 2.210 76.365 0 0

Banten 30.216 1.877.875 35.175 8.603

2003 57.232 1.715.318 16.931 4.760

2002 71.325 1.859.309 7.807 7.593

Banten Dalam Angka 2004 114


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Jenis Atap Terluas / The Widest of Ceiling Type


Kabupaten/Kota Jumlah/
Regency/Municipality Asbes Ijuk/Rumbia Total
Lainnya/Other
Asbestos Palm Fiber
(1) (6) (7) (8) (9)

Kab/Reg

1. Pandeglang 1.375 35.713 3.540 260.496

2. Lebak 379 39.795 1.137 286.714

3. Tangerang 57.375 6.904 1.726 764.896

4. Serang 575 10.373 1.150 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 65.860 1.780 0 369.350

6. Cilegon 520 130 135 79.360

Banten 126.084 94.695 7.688 2.180.336

2003 110.602 77.060 5.519 1.987.422

2002 92.157 115.309 16.298 2.169.798


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 115


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan


Jenis Lantai Terluas di Banten
Tabel 4.3.3
Number of Household by Regency/Municipality and The
Table
Widest of Floor Type in Banten
2004

Jenis Lantai Terluas


Kabupaten/Kota The Widest of Floor Type Jumlah
Regency/Municipality Bukan Tanah Tanah Total
Non Ground Ground
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 224.116 36.380 260.496

2. Lebak 270.841 15.873 286.714

3. Tangerang 678.709 86.187 764.896

4. Serang 365.493 54.027 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 342.650 26.700 369.350

6. Cilegon 76.100 3.260 79.360

Banten 1.957.909 222.427 2.180.336

2003 1.790.822 196.600 1.987.422

2002 1.953.047 216.751 2.169.798


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 116


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota


dan Jenis Dinding Terluas di Banten
Tabel 4.3.4
Number of Household by Regency/Municipality
Table
and The Widest of Wall Type in Banten
2004

Jenis Dinding Terluas / The Widest of Wall Type


Kabupaten/Kota Jumlah/
Regency/Municipality Tembok Kayu/ Bambu/ Lainnya/ Total
/Wall Wood Bambo Others
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Kab/Reg

1. Pandeglang 119.537 19.388 120.863 708 260.496

2. Lebak 128.119 29.292 128.545 758 286.714

3. Tangerang 641.111 28.668 90.539 4.578 764.896

4. Serang 339.250 7.705 69.115 3.450 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 355.110 8.455 5.340 445 369.350

6. Cilegon 76.230 2.600 395 135 79.360

Banten 1.659.357 96.108 414.797 10.074 2.180.336

2003 1.518.606 88.032 377.641 3.143 1.987.422

2002 1.612.870 94.006 445.221 17.701 2.169.798


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 117


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota


dan Sumber Penerangan di Banten
Tabel 4.3.5
Number of Household by Regency/Municipality
Table
and Source of Lights in Banten
2004

Kabupaten/ Sumber Penerangan / Source of Lights


Kota Jumlah/
Regency/ Listrik Pelita/ Total
Listrik Petromak/ Lainnya
Municipality Non Sentir/
PLN Aladin Other
PLN Obor
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 223.092 1.612 4.248 30.994 550 260.496

2. Lebak 233.654 - 379 50.786 1.895 286.714

3. Tangerang 741.558 2.439 6.078 14.821 - 764.896

4. Serang 396.313 966 - 19.941 2.300 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 368.015 - - 890 445 369.350

6. Cilegon 77.015 - 1.300 1.045 - 79.360

Banten 2.039.647 5.017 12.005 118.477 5.190 2.180.336

2003 1.817.717 22.898 7.396 127.736 11.675 1.987.422

2002 1.956.927 4.740 12.136 194.029 1.966 2.169.798


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 118


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota


dan Fasilitas Air Minum di Banten
Tabel 4.3.6
Number of Household by Regency/Municipality
Table
and Drinking Water Facility in Banten
2004

Fasilitas Air Minum / Drinking Water Facility


Kabupaten/Kota Jumlah/
Regency/Municipality Sendiri/ Bersama/ Umum/ Tidak Ada/ Total
Self Togetter Public Not there
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab/Reg

1. Pandeglang 125.991 49.001 62.418 23.086 260.496

2. Lebak 157.475 58.366 38.279 32.594 286.714

3. Tangerang 499.193 132.345 53.506 79.852 764.896

4. Serang 211.738 96.945 56.166 54.671 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 238.520 66.305 32.485 32.040 369.350

6. Cilegon 57.705 5.735 3.140 12.780 79.360

Banten 1.290.622 408.697 245.994 235.023 2.180.336

2003 1.173.413 407.486 201.237 205.286 1.987.422

2002 1.260.735 425.216 213.004 270.843 2.169.798


Sumber : Susenas 2004, BPS
Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 119


Bab IV Sosial

Jumlah Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota


dan Sumber Air Minum di Banten
Tabel 4.3.7
Number of Household by Regency/Municipality
Table
and Source of Drinking Water in Banten
2004

Sumber Air Minum / Source of Drinking Water


Kabupaten/Kota Air dalam
Regency/Municipality Lainnya Leding Pompa Sumur
Kemasan
Others ledeng Pump Well
Packaged
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kab/Reg

1. Pandeglang 2.045 - 17.012 21.114 168.053

2. Lebak 0 379 28.622 21.622 164.839

3. Tangerang 713 33.698 130.280 425.571 163.939

4. Serang 7.291 15.249 29.049 135.677 142.991

Kota/Mun

5. Tangerang 445 23.140 131.720 205.145 8.900

6. Cilegon 0 11.310 14.430 19.820 31.585

Banten 10.494 83.776 351.113 828.949 680.307

2003 11.933 74.960 272.461 599.559 785.499

2002 6.804 89.947 213.994 835.662 802.428

Banten Dalam Angka 2004 120


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Sumber Air Minum / Source of Drinking Water


Kabupaten/Kota
Mata Air Air Sungai Air Hujan Jumlah/ Total
Regency/Municipality
Springs River Rain
(1) (7) (8) (9) (10)

Kab/Reg

1. Pandeglang 39.882 12.036 354 260.496

2. Lebak 49.649 21.603 0 286.714

3. Tangerang 8.556 0 2.139 764.896

4. Serang 64.239 1.541 23.483 419.520

Kota/Mun

5. Tangerang 0 0 0 369.350

6. Cilegon 2.215 0 0 79.360

Banten 164.541 35.180 25.976 2.180.336

2003 196.559 24.934 21.517 1.987.422

2002 149263 - 32.097 2.169.798

Sumber : Susenas 2004, BPS


Source : Economy Social Survey2004, BPS

Banten Dalam Angka 2004 121


Bab IV Sosial

Rekapitulasi Produksi Sertifikat oleh Badan


Pertanahan Nasional di Banten
Tabel 4.4.1
Production of Sertificate by National Land Affair Board
Table
in Banten
Hingga/Until 2003

Hak Milik Hak Guna Usaha Hak Guna Bangunan/


Kabupaten/
Proprietary Rights Concession Used Right Building Used Right
Kota
Regency/ Luas Luas Luas
Municipality Bidang Bidang Bidang
Area Area Area
Field Field Field
(ha) (ha) (ha)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 60.498 27.280,45 25 3.888,98 3.669 770,90

2. Lebak 52.800 24.539,13 16 3.278,87 6.187 1.672,92

3. Tangerang 296.230 26.438,58 - 28,99 254.749 3.558,04

4. Serang 80.222 22.517,14 3 573,92 44.422 6.474,29

Kota/Mun

5. Tangerang 119.773 4.464,91 - - 89.635 4.381,06

6. Cilegon 19.591 2.155,06 - - 11.981 3.585,10

Banten 629.112 107.395,26 45 7.770,76 410.663 20.422,30

2002 602.133 10.384,63 44 6.516,73 375.060 20.382,84

Banten Dalam Angka 2004 122


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Hak Pengelolaan/Management
Hak Pakai/ Used Right
Right
Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Luas Luas
Bidang Bidang
Area Area
Field Field
(ha) (ha)
(1) (8) (9) (10) (11)
Kab/Reg

1. Pandeglang 380 2.406,25 2 5,00

2. Lebak 554 4.519,18 3 4,73

3. Tangerang 573 1.783,03 15 289,15

4. Serang 981 1.323,34 124 310,32

Kota/Mun

5. Tangerang 437 594,04 30 2.029,93

6. Cilegon 215 220,38 22 322,06

Banten 3.140 10.846,23 196 2.961,19

2002 3.000 10.845,90 194 2.961.19

Banten Dalam Angka 2004 123


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Hak Sarusun Tanah Wakaf


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Luas Luas
Bidang Bidang
Area Area
Field Field
(ha) (ha)
(1) (12) (13) (14) (15)
Kab/Reg

1. Pandeglang 543 98,94 101 26,54

2. Lebak - - 862 422,60

3. Tangerang 2.583 129 785,00

4. Serang 640 56,45 3.967 63.377,97

Kota/Mun

5. Tangerang 1.203 17,00 532 302,60

6. Cilegon - - 124 38,32

Banten 2.389 172,38 1.752 64.953,02

2002 1.525 172,38 1.752 64.953,02


Sumber: Badan Pertanahan Nasional Propinsi Banten
Source : National Land Board of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 124


Bab IV Sosial

Jumlah Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) dan


Penerbitan Akta di Banten
Tabel 4.4.2
Number of Land Certificate Legal Maker and Certificate
Table
Publishing in Banten
2004

Jumlah PPAT Jenis Akta/Produksi (Jumlah Akta)


Total PPAT Kind of Acta/ Production (Total Acta)
Wilayah Kerja
Pembagian
Kabupaten/Kota Pelepasan
PPAT PPAT Hak Tukar
Work Area Jual Beli Hibah Hak/
Sementara/ Notaris/ Bersama/ Menukar
Regency/City Purchasing Gift Right
Provisional Notary Right Exchange
Free
Division
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 24 61 3.185 292 164 4 1

2. Lebak 19 66 2.283 210 79 9 6

3. Tangerang 25 240 11.290 371 196 12 -

4. Serang 32 143 9.531 538 114 9 -

Kota/Mun

5. Tangerang 13 102 9.925 323 230 1 206

6. Cilegon 8 32 2.631 194 64 1 -

Banten 121 644 38.845 1.928 847 36 213

2002 118 346 12.230 437 634 3 -

Banten Dalam Angka 2004 125


Bab IV Sosial

Lanjutan
Continued

Wilayah Kerja Jenis Akta/Produksi (Jumlah Akta)


Kabupaten/Kota/ Kind of Acta/ Production(Total Acta)
Region
Work Area APHT SK.MHT Jumlah/ Total
Regency/City
(1) (9) (10) (11)
Kab/Reg

1. Pandeglang 311 435 4.392

2. Lebak 294 447 3.328

3. Tangerang 553 435 12.857

4. Serang 723 3.122 14.037

Kota/Mun

5. Tangerang 1.574 556 12.815

6. Cilegon 463 743 4.096

Banten 3.918 5.738 51.525

2002 1.265 195 14.764


Sumber: Badan Pertanahan Nasional Propinsi Banten
Source : National Land Board of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 126


Bab IV Sosial

Banyaknya Tindak Kejahatan Yang Terjadi


Tabel 4.4.3 Menurut Jenis Kejahatan di Banten
Table Number of Crimes Commited by Type of Crime in Banten
2004

Tindak Kejahatan/ Crime


Jenis Kejahatan
Type of Crime Penyelesaian Tindak
Tindak Pidana
Pidana
(1) (2) (3)
1. Pencurian dengan kekerasan (Curas) 94 46

2 . Pencurian dengan pemberatan (Curat) 262 211

3. Pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) 277 35

4. Penganiayaan/Torture 134 98

5. Penipuan/Cheated 189 71

6. Penggelapan/Fraud 83 40

7. Narkotika/Narcotics 67 76

Jumlah/Total 1.106 577

2003 920 552

2002 1001 568

2001 1.113 658

2000 1.029 607


Sumber : Polda Propinsi Banten
Source : Police Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 127


Bab IV Sosial

Jumlah Masjid, Mushola, Gereja, Pura/Kuil dan


Vihara Menurut Kabupaten/Kota
Tabel 4.4.4
Number of Mosque, Private Mosque,Churchand Temple
Table
by Municipality
2003

Mushola Gereja
Kabupaten/Kota Masjid Pura/Kuil
Private Churches Vihara
Regency/Municipality Mosque Temples
Mosque P K
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kab/Reg

1. Pandeglang 1492 2808 2 0 0 0

2. Lebak 1525 2818 31 1 0 2

3. Tangerang 1555 5792 116 15 2 24

4. Serang 1921 4305 6 1 0 1

Kota/Mun

5. Tangerang 492 1207 59 11 4 25

6. Cilegon 331 429 0 0 0 0

Banten 7316 17359 214 28 6 52

Sumer : Potensi Desa , ST 2003, BPS


Source : Village Potential, ST 2003, BPS

Banten Dalam Angka 2004 128


Bab IV Sosial

Jumlah Penduduk Menurut Agama di Banten


Tabel 4.4.5
Number of Population by Religion in Banten
Table
2004

Agama/ Religion Tidak


Kabupaten/Kota
Terjawab/
Regency/
Islam/ Protestan/ Katholik/ Hindu/ Budha/ Khonghucu/ Lainnya/ Not
Municipality
Moeslim Protestant Catholic Hindu Budhha Khonghucu Others Respon

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Kab/Reg

1. Pandeglang 1.111.878 772 243 47 237 9 15 9.695

2. Lebak 1.125.440 1.404 930 115 1.817 82 7.628 10.853

3. Tangerang 2.976.563 81.626 50.846 3.959 47.492 1.123 1.577 32.551

4. Serang 1.778.798 8.110 3.630 577 1.982 129 65 23.092

Kota/Mun

5. Tangerang 1.306.613 60.952 34.945 3.150 57.510 713 5.888 42.943

6. Cilegon 318.658 4.843 1.659 203 1.242 16 40 5.263

Banten 8.617.950 157.707 92.253 8.051 110.280 2.072 15.213 124.397


Sumber : Updating P4B, BPS (Angka Sementara)
Source : Updating P4B, BPS (Preliminary)

Banten Dalam Angka 2004 129


Bab IV Sosial

Jumlah Calon / Jamaah Haji dan Besarnya Biaya


Tabel 4.4.6 Musim Haji
Table Number of Aplicants / Pilgrims and cost to Mecca
2000-2004

Jemaah Haji Jemaah yang Besarnya ONH


Musim Haji Calon Jemaah Haji
Berangkat Batal (000 Rp)
Periode Applicant
Leaving Cancelling cost
(1) (2) (3) (4) (5)

2000 - - - 17.758.000

2001 - - - 63.000.000

800.000+US
2002 4.866 4.865 -
$2.677

967.500+US
2003 5.150 5.110 40
$2.675

967.500+US
2004 5.216 5.216 -
$2.675
Sumber : Kanwil Departemen Agama Prop. Banten
Source : Department of Religious, Regional Office of Banten

Banten Dalam Angka 2004 130


Bab IV Sosial

Jumlah Jamaah Haji Menurut Jenis Kelamin dan


Tabel 4.4.7 Kabupaten/Kota
Table Number of Aplicantsfor Pilgrims by Sex and Municipality
2004

Jenis Kelamin
Kabupaten/Kota Sex Jumlah
Regency/Municipality Laki-laki Perempuan Total
Male Female
(1) (3) (4) (5)

Kab/Reg

1. Pandeglang 283 327 610

2. Lebak 218 234 452

3. Tangerang 627 675 1302

4. Serang 512 584 1096

Kota/Mun

5. Tangerang 600 650 1250

6. Cilegon 240 266 506

Banten 2.480 2.736 5.216

2003 2.509 2.601 5.110

2002 2.263 2.603 4.865


Sumber : Kanwil Departemen Agama Prop. Banten
Source : Department of Religious, Regional Office of Banten

Banten Dalam Angka 2004 131


Bab IV Sosial

Tingkat Usia Jamaah Haji


Tabel 4.4.8
Number of Pilgrims by Age Group
Table
2004

Kelompok Umur
Kabupaten/Kota Jumlah
Age Group
Regency/Municipality Total
0 -30 31- 40 41- 50 51+
(1)
Kab/Reg

1. Pandeglang 59 136 166 249 610

2. Lebak 32 119 127 174 452

3. Tangerang 105 321 463 413 1.302

4. Serang 102 283 326 385 1.096

Kota/Mun

5. Tangerang 75 250 464 461 1.250

6. Cilegon 37 124 163 182 506

Banten 410 1.233 1.709 1.864 5.216

2003 437 1.317 1.839 1.517 5.110

2002 589 1178 1548 1.550 4.865


Sumber : Kanwil Departemen Agama Prop. Banten
Source : Department of Religious, Regional Office of Banten

Banten Dalam Angka 2004 132


Bab IV Sosial

Jumlah Korban Bencana Alam


Tabel 4.4.9 Menurut Kabupaten/Kota
Table Number of Natural Disaster Outcomes by Reg/Mun
2004

Jumlah Kepala Keluarga


Kabupaten/Kota Jumlah Jiwa
(KK)
Regency/Municipality Person
Family
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 389 -

2. Lebak 860 -

3. Tangerang 115 -

4. Serang 1.030 -

Kota/Mun

5. Tangerang 127 -

6. Cilegon 2.702 -

Banten 5.223 -

2003 14.207 71.035


Sumber : Dinas Sosial Propinsi Banten
Source : Social Official of Banten

Banten Dalam Angka 2004 133


Bab IV Sosial

Jumlah Lembaga Sosial/Panti Sosial


Tabel 4.4.10 Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Table Number of Social Placed byReg/Mun in Banten
2004

Kabupaten/Kota Panti Werda Panti Asuhan Lainnya


Regency/Municipality Home for Disabled Orphanages Other
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 1 15 5

2. Lebak 2 21 4

3. Tangerang 4 14 1

4. Serang 1 31 -

Kota/Mun

5. Tangerang 3 18 2

6. Cilegon - 9 -

Banten 11 - 12

2003 11 108 7
Sumber : Dinas Sosial Propinsi Banten
Source Social Official of Banten

Banten Dalam Angka 2004 134


Bab V Pertanian

5.1 Pertanian Tanaman Pangan 5. 1 Food Crops Agriculture

a. Padi dan Palawija a. Paddy and Palawija


Sejak propinsi Banten Since Banten Province has
terbentuk (2000) produksi padi been formed (2000), the production
Banten terus meningkat, pada tahun of paddy always increase, more
2004 ini, produksinya kembali over in 2004 the production
meningkat sebesar 7,13 % significant increase 7.13 %
dibanding tahun sebelumnya. compared to 2003 production. In
Produksi padi Banten pada tahun 2004, the productivity of paddy
2004, tercatat sebanyak 1.812.495 provides 1,812,495 tons (dry
ton (GKG) naik sebesar 120.572 unhusked paddy/DUP) or increase
ton dibanding produksi tahun 2003. 120,572 tons compared to 2003
Kenaikan ini dipengaruhi oleh production. This increasing is
naiknya luas panen dan influenced by increasing of
produktivitas masing-masing harvested area (4.79 %) and
sebesar 4,79 % dan 2,22 %. productivity (2.22 %).
Dari 6 (enam) jenis
komoditas kelompok palawija; Among 6 commodities of
hanya kacang hijau dan ubi jalar secondary crops, only production
yang produksinya sedikit of soybeans and mungbeans
mengalami penurunan masing- decrease 5.96% and 2.65%
masing sebesar 5,96 % dan 2,65 %, respectively, even the other
yang lainnya meningkat. Dari 4 increase. Among 4 commodities of
jenis palawija yang meningkat secondary crops, soybeans as a one
produksinya, kedelai menunjukkan of superior commodity in Banten
peningkatan yang paling besar significant increase both the
yaitu 41,79 %. Ini lebih disebabkan productivity and the production.
oleh meningkatnya luas panen yang The productivity of soybeans
mencapai 39,89 % disamping itu increases 1.36% and 41.79% in
produktivitasnya meningkat production. Increasing of soybeans
meskipun sedikit (1,36 %). Sentra production is affected by increasing
produksi kedelai hampir semuanya of harvested area (39.89%). The
(95 %) berada di Pandeglang. central of soybeans production is in
Lebih jauh melihat kontribusi Pandeglang (95%).
daerah Kabupaten/kota, seperti
ditampilkan mulai tabel 5.1.2 Based from Table 5.1.2 to
hingga 5.1.8 nampak bahwa 5.1.8, Regency of Pandeglang,
komoditas padi terbesar Serang and Lebak has the biggest
produksinya berasal dari contribution of paddy productivity.
Pandeglang disusul Serang dan It more than 80 % of production in
Lebak. Hampir 80 % produksi padi Banten comes from those
Banten berasal dari daerah ini. regencies.
Banten Dalam Angka 2004 137
Bab V Pertanian

b. Hortikultura b. Horticultures

Tanaman hortikultura We have effort to improve


yang terdiri dari tanaman sayuran, the data of horticultures such as
buah-buahan, obat-obatan dan vegetables, fruits, medicine crops
tanaman hias, untuk memenuhi and decoration plants. The data is
kebutuhan konsumen, tahun ini more complete than before.
datanya diupayakan lebih lengkap
dibanding tahun lalu. The biggest productions of
Untuk jenis tanaman seasonal vegetable crops in 2004
sayuran semusim, pada tahun 2004 are cucumber (50,838 tons), swamp
di Banten terdapat 3 (tiga) jenis cabbage (26,912 tons) and long
dengan produksi paling banyak beans (30,097 tons). Meanwhile,
yaitu ketimun, kangkung dan water melon (1.404 tons) is the
kacang panjang masing-masing biggest production of seasonal fruit
tercatat 50.838 ton, 26.912 ton dan crops.
30.097 ton. Sedangkan untuk buah-
buahan semusim yang terbanyak
adalah semangka dengan total
produksi 1.404 ton.
Potensi jenis tanaman The potential of annual
sayuran dan buah-buahan tahunan vegetables and fruit crops in
di Banten juga cukup besar. Durian Banten are big enough. In 2004,
misalnya yang merupakan jenis durian as a popular fruit and
makanan yang banyak disukai expensive enough has stated
masyarakat dan harganya production 19,604 tons. This crop
tergolong mahal pada tahun 2004 can be easily found in Regency of
produksinya tercatat sebesar 19.604 Serang, Lebak and Pandeglang.
ton. Populasi tanaman ini banyak
terdapat di Kabupaten Serang,
Lebak dan Pandeglang.
Emping melinjo yang Emping melinjo (fried
merupakan makanan khas Banten, chips made of Gnetum gnemon
populasinya memang cukup banyak fruit), another popular commodity,
terutama di Kabupaten Pandeglang, has been produced 47,652 tons in
Lebak dan Serang. Komoditas ini 2004. This commodity can absorb
mampu menyerap banyak tenaga so many labor forces in rural area.
kerja di pedesaan melalui usaha
industri emping melinjo yang pada
tahun 2004 produksinya tercatat
sebesar 47.652 ton.

Banten Dalam Angka 2004 138


Bab V Pertanian
Untuk kelompok tanaman obat- The number of medicine crops were
obatan terbanyak adalah Laos, laos (1,63 tons), turmeric (1,25
Kunyit dan Mengkudu masing- tons) and mengkudu (1,10 tons).
masing 1,63 ton , 1,25 ton dan 1,10 Among decorative plants orchid is
ton. Sementara tanaman hias, budi the most popular. In 2004, with
daya anggrek merupakan tanaman 28,23 hectare cultivated area that
yang terbanyak. Pada tahun 2004 plant produced 1,46 stalk of orchid.
dari luas areal 28,23 hektar Orchid can be easily found in
menghasilkan 1,46 juta tangkai. Regency of Tangerang.
Komoditas ini terbanyak di
kabupaten Tangerang.

5.2 Perkebunan
5.2 Estate Crops
Data perkebunan ini
dibagi dalam 3 (tiga) kelompok The estate data is
yaitu Perkebunan Besar Negara, classified in 3 group as National
Perkebunan Besar Swasta dan Large Estate, Private Estate and
Perkebunan Rakyat yang disajikan smallholder estate. These data is
ke dalam tabel 5.2.1 sampai dengan provided in Table 5.2.1 to 5.2.9.
5.2.9.
Perusahaan Besar Negara National Large Estates
selama ini mengusahakan tanaman Company has managed several
karet, kelapa dan kelapa sawit commodities such as rubber,
dengan mempergunakan total areal coconut and oil palm in Banten
seluas 8.796 hektar. Sementara with 8,796 hectare in wide total. In
Perusahaan Perkebunan Besar 2004, private estate companies
Swasta di Banten, mengusahakan stated the production of cocoa is
komoditas tanaman kakao, karet, 56,586 tons (in box), rubber is
dan kelapa yang tahun 2004 ketiga 320,114 tons (in sheet), and
jenis tanaman perkebunan tersebut coconut is 25 tons (in copra).
masing-masing mencatat produksi
sebesar 56.586 ton (bok), 320.114 The estate crops area
ton (sheet) dan 25 ton (kopra). managed by National Large Estates
Company is 1,479.33 hectares. In
Dari kelompok tanaman that area 1,092.18 hectares are
perkebunan rakyat, 3 (tiga) cultivated area with production is
komoditas utama yang merupakan 1,303.24 tons.
tumpuan perekonomian rakyat The important commo-
adalah kelapa, kelapa sawit dan dities of smallholder estate were
karet. coconut, oil palm and rubber.
These commodities give more
advantage of people mainly
economic sector.

Banten Dalam Angka 2004 139


Bab V Pertanian
Pada tahun 2004 ketiga In 2004 production of
komoditas ini mencatat produksi these commodities are 50,315 tons
kelapa 50.315 ton (kopra), kelapa (copra) of coconut, 37,970 tons
sawit 37.970 ton (TBS) dan karet (fresh fruit) of palm oil and 7,323
7.323 ton (sheet). Sementara tons (sheet) of rubber. In 2004 the
smallholder estates has produced
emping melinjo yang merupakan
8,799 tons (emping) of melinjo.
makanan khas Banten pada tahun That production comes from 5,669
2004 mencatat produksi sebesar hectares cultivated areas.
8.799 ton (emping). Produksi ini
berasal dari tanaman produktif
seluas 5.669 hektar.

5.3. Kehutanan 5.3. Forestry

Luas hutan produksi di The total area of


Banten pada tahun 2004 tercatat production forest stated 42,538
seluas 42.538 hektar dimana 27.845 hectares. About 65% or 27,845
hektar (65 persen) diantaranya hectares of that area is in
berada di kabupaten Pandeglang. Pandeglang. Meanwhile, the area
Sedangkan hutan lindung menurut of protection forest is 7,894
data dari Perum Perhutani KPH hectares. More over, the total area
Banten seluas 7.894 hektar. of national forest reached 80,190
Selanjutnya Tabel 5.4.2. hectares. That area spread in
menginformasikan bahwa total luas Pandeglang, Lebak and Serang.
kawasan hutan negara di Banten
tercatat sebesar 80.190 hektar. The kind of forest
Areal tersebut berada di kabupaten production can be recorded were
Pandeglang, Lebak dan Serang. teak wood and jungle wood. In
2004, production of teak wood
Sementara itu jenis reached 16,549 m3 with value more
produksi hutan Banten yang than Rp 27 billion. Production of
tercatat adalah kayu jati dan kayu jungle wood is 9,510 m3 or more
rimba. Kayu jati pada tahun 2004 than Rp 3.4 billion in value.
produksinya mencapai 16.549 m3
dengan nilai sebesar Rp. 27 milyar
lebih. Untuk jenis kayu rimba
tercatat sebesar 9.510 m3 dengan
nilai sebesar Rp 3,4 milyar. Lebih
jauh informasi tentang kehutanan
dapat disimak pada tabel 5.4.1
sampai dengan 5.4.3.

Banten Dalam Angka 2004 140


Bab V Pertanian

5.4 Peternakan 5. 4 Livestocks

Ternak merupakan salah Livestock was one of


satu sumber bahan makanan protein animal protein food material,
hewani, data perkembangannya growth data was shown at table
ditampilkan mulai Tabel 5.4.1. 5.4.1 to table 5. 4. 12. At those
hingga Tabel 5.4.12. Dari tabel- tables were shown as population,
tabel tersebut dapat disimak antara production and incoming/outgoing
lain populasi dan produksi serta livestock of Banten province by
ternak keluar/masuk Propinsi kind of livestock and fowl.
Banten dari masing-masing jenis
ternak dan unggas. In 2004, buffalo has a lot
Hingga tahun 2004 di of amount among large livestock in
Banten populasi ternak besar jenis Banten. In that year, population of
kerbau masih merupakan ternak buffalo is 204,457 and cattle are
terbanyak di antara ternak lainnya. 12,420. Number of cattle was
Pada tahun ini tercatat sebanyak slaughtered both in slaughterhouse
204.457 ekor, sedangkan sapi or not is 51,209. For fulfilling of
potong meskipun ternak jenis ini cattle it has came in Banten 47,775
banyak dipotong untuk memenuhi tail.
kebutuhan masyarakat, namun
jumlah populasinya masih kurang. There is no a big
Jumlah sapi potong tercatat difference of small livestock
sebanyak 12.420 ekor sementara population between sheep and
yang dipotong baik di RPH goat. The population of sheep is
maupun diluar RPH mencapai 595,953 and goat is 652,977.
51.209 ekor. Untuk memenuhi
kebutuhan akan sapi potong ini In 2004, the two biggest
telah dimasukan sebanyak 47.775 populations of poultry are native
ekor (tabel 5.5.2) poultry (10.2 million), layer (9.2
Untuk kelompok ternak million) and broiler (6.6 million).
kecil, domba dan kambing jumlah
populasinya relatif tidak berbeda
jauh. Kambing sebanyak 652.977
ekor sementara domba 595.953
ekor.
Ayam buras atau ayam
kampung pada tahun 2004 tercatat
sebanyak 10,2 juta ekor sedangkan
ayam ras petelur dan pedaging
masing-masing 9,2 juta dan 6,6 juta
ekor. Dua jenis unggas yang
terakhir ini terbanyak

Banten Dalam Angka 2004 141


Bab V Pertanian
dibudidayakan oleh peternak di
kabupaten Tangerang dan Serang.

5.5 Perikanan. 5. 5 Fishery

Tabel 5.5.1. sampai


In 2004, fishery
dengan Tabel 5.5.6. menunjukkan
production reached about 54.18
perkembangan data perikanan baik thousand tons where about 53.68
produksi ikan hasil usaha thousand tons (99.07%) comes
penangkapan maupun hasil
from marine fishery.
budidaya. Produksi perikanan pada
tahun 2004 yang berasal dari usaha
penangkapan tercatat sebesar 54,18 Meanwhile, production of
ribu ton dimana hampir seluruhnya fishery aquaculture is 76.32
atau 53,68 ribu ton ( 99,07 %) thousand tons. About 12.43% or
berasal dari penangkapan 9.42 thousand tons comes from
perikanan laut. Sementara itu brackish production.
produksi perikanan yang berasal
dari usahabudidaya tercatat The number of marine
sebanyak 76,32 ribu ton. Dari fishery boat is 4,804 units consists
jumlah tersebut terbanyak dari of 3,134 units of out board motor
usaha budidaya tambak yaitu boat, 1,122 units of in board motor
sebesar 9,42 ribu ton ( 12,43 %). boat and 141 units of small sailing
Adapun jumlah armada boat. Jukung as simple and
penangkapan ikan laut berjumlah traditional boat still applied by
4.804 buah yang terdiri dari 3.134 Banten fisherman is about 407
motor tempel, 1.122 kapal motor units.
dan perahu layar berbagai jenis
sebanyak 141 buah. Sementara
armada penangkapan ikan sangat
sederhana dan tradisional yaitu,
jukung masih cukup banyak
dipergunakan nelayan Banten yaitu
sebanyak 407 buah.

Banten Dalam Angka 2004 142


Bab V Pertanian

Grafik 5.1. Luas Panen Padi dan Palawija Menurut Kabupaten


di Banten Tahun 2004
(Hektar)
(Hektar)

120000
L
u 100000
a
s 80000

60000
P
a
40000
n
e
20000
n
0
Pandeglang Lebak T angerang Serang

Kabupaten

Grafik 5.2. Produktivitas Padi dan Palawija Menurut Kabupaten


di Banten Tahun 2004
(Kuintal/Hektar)
(Kuintal/Ha)
60
P
r
o
d
u
k
t 50
i
v
i
t
a
s
40
Pandeglang Lebak Tangerang Serang
Kabupaten

Banten Dalam Angka 2004 143


Bab V Pertanian

Grafik 5.3. Produksi Melinjo Menurut Kabupaten


di Banten Tahun 2004
(Ribu ton)

6000,00

5000,00
5.851,43
4000,00

3000,00

2000,00 1.267,13

1000,00 103,29

0,00
Pandeglang Lebak Tangerang

Grafik 5.4. Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya


Menurut Kab/Kota Tahun 2004
(Ton)

35000

30000
25000

20000 Budidaya
15000 Tangkap
10000
5000

0
Pandeglang

Serang
Lebak

Tangerang

Tangerang

Cilegon
Kota
Kota

Banten Dalam Angka 2004 144


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Palawija di Banten


Tabel 5.1.1 Harvested Area, Productivity and Production of Paddy
Table in Banten
2004

Januari –April/ Mei –Agustus/


January - April May - August

Jenis Tanaman/ Luas Hasil per Luas Hasil per


Produksi/ Produksi/
Crops Panen/ Ha Panen Ha/
Produc- Produc-
Harvested Yield per Harveste Yield per
tion tion
Area Ha d Area Ha
(Ha) (Ku/Ha) (Ton) (Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Padi Sawah
164.110 53,29 874.542 105.776 50,24 531.419
Wetland Paddy
Padi Ladang
36.772 28,87 106.161 417 28,25 1.178
Dryland Paddy
Padi (sawah+Ladang)
200.882 48,82 980.703 106.193 50,15 532.597
(Wetland+Dryland) Paddy
Jagung
4.643 29,75 13.813 1.990 26,50 5.274
Maize
Kedelai
1.163 13,24 1.540 1.701 13,11 2.230
Soybeans
Kacang Tanah
5.565 12,56 6.990 3.869 13,82 5.347
Peanuts
Kacang Hijau
440 9,23 406 1.202 8,92 1.072
Mungbeans
Ubi Kayu
4.691 135,86 63.732 4.323 137,92 59.623
Cassava
Ubi Jalar
1.290 113,04 14.582 1.198 114,24 13.686
Sweet Potatoes
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 145


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

September –Desember/
Jumlah/Total
September-December
Luas Hasil per Luas Hasil per
Jenis Tanaman/ Produksi/ Produksi/
Panen/ Ha/ Panen/ Ha/
Crops Produc- Produc-
Harveste Yield per Harveste Yield per
tion tion
d Area Ha d Area Ha
(Ha) (Ku/Ha) (Ton) (Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
Padi Sawah/
57.528 51,95 298.858 327.414 52,07 1.704.819
Wetland Paddy
Padi Ladang/
118 28,56 337 37.307 28,86 107.676
Dryland Paddy
Padi (Sawah+Ladang)/
57.646 51,90 299.195 364.721 49,70 1.812.495
(Wetland+Dryland) Paddy
Jagung/
2.115 27,51 5.818 8.748 28,47 24.905
Maize
Kedelai/
566 14,68 831 3.430 13,41 4.601
Soybeans
Kacang Tanah/
1.053 13,44 1.415 10.487 13,11 13.752
Peanuts
Kacang Hijau/
1.198 9,38 1.124 2.840 9,16 2.602
Mungbeans
Ubi Kayu/
2.908 138,31 40.221 11.922 137,21 163.576
Cassava
Ubi Jalar/
898 115,26 10.350 3.386 114,05 38.618
Sweet Potatoes
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 146


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Palawija


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.2
Harvested Area, Productivity and Production of Paddy by
Table
Regency in Banten
2004

Padi/Paddy(Wetland + Dryland)
Kabupaten Luas Panen Produktivitas Produksi
Regency Harvested Area Productivity Production
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 116.521 48,96 570.464

2. Lebak 89.108 47,83 426.229

3. Tangerang 69.243 51,92 359.512

4. Serang 85.074 50,66 431.004

Kota/Mun

5. Tangerang 1.862 51,68 9.622

6. Cilegon 2.913 53,77 15.664

Banten 364.721 49,70 1.812.495

2003 348.033 48,61 1.691.923

2002 338.666 43,37 1.468.765

Banten Dalam Angka 2004 147


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Padi Sawah/Wetland Paddy


Kabupaten Luas Panen Produktivitas Produksi
Regency Harvested Area Productivity Production
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (5) (6) (7)

Kab/Reg

1. Pandeglang 98.354 52,27 514.074

2. Lebak 74.421 52,06 387.410

3. Tangerang 68.267 52,32 357.160

4. Serang 81.663 51,56 421.085

Kota/Mun

5. Tangerang 1.859 51,71 9.612

6. Cilegon 2.850 54,31 15.478

Banten 327.414 52,07 1.704.819

2003 316.255 50,60 1.600.191

2002 311.171 45,38 1.411.977

Banten Dalam Angka 2004 148


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continue

Padi Ladang/Dryland Paddy


Kabupaten Luas Panen Produktivitas Produksi
Regency Harvested Area Productivity Production
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (8) (9) (10)

Kab/Reg

1. Pandeglang 18.167 31,04 56.390

2. Lebak 14.687 26,43 38.819

3. Tangerang 976 24,10 2.352

4. Serang 3.411 29,08 9.919

Kota/Mun

5. Tangerang 3 33,33 10

6. Cilegon 29,52 29,52 186

Banten 37.307 28,86 107.676

2003 31.778 28,87 91.732

2002 27.495 20,65 56.788


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 149


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Jagung


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.3
Harvested Area, Productivity and Production of Maize by
Table
Regency in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Kabupaten
Harvested Area Productivity Production
Regency
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 3.296 26,86 8.853

2. Lebak 3.474 27,75 9.642

3. Tangerang 98 25,51 250

4. Serang 1.753 32,61 5.717

Kota/Mun

5. Tangerang 23 36,09 83

6. Cilegon 174 32,01 557

Banten 8.818 28,47 25.102

2003 8.331 29.86 24875

2002 8.354 23,00 19.216


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 150


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Ubi Kayu


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.4
Harvested Area, Productivity and Production of Cassava
Table
by Regency in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Kabupaten
Harvested Area Productivity Production
Regency
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 3.166 137.07 43.397

2. Lebak 3.206 136,96 43.910

3. Tangerang 780 137,23 10.704

4. Serang 4.569 137,52 62.833

Kota/Mun

5. Tangerang 52 138,08 718

6. Cilegon 177 135,99 2.407

Banten 11.950 137,21 163.969

2003 11.321 137,60 155.776

2002 10.544 130,86 137.975


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 151


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kacang Tanah


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.5
Harvested Area, Productivity and Production of Peanuts
Table
by Regency in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Kabupaten
Harvested Area Productivity Production
Regency
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 933 13,69 1.277

2. Lebak 1.039 13,91 1.445

3. Tangerang 497 12,17 605

4. Serang 5.770 13,24 7.642

Kota/Mun

5. Tangerang 3 13,33 4

6. Cilegon 2.245 12,38 2.779

Banten 10.487 13,11 13.752

2003 9.668 12,68 12.256

2002 13.939 10,14 14.136

Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 152


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kacang


Kedelai Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.6
Harvested Area, Productivity and Production of Soybeans
Table
by Regency in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Kabupaten
Harvested Area Productivity Production
Regency
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 3.292 13.41 4.416

2. Lebak 131 13.44 176

3. Tangerang 3 13.33 4

4. Serang 3 13.33 4

Kota/Mun

5. Tangerang 1 10.00 1

6. Cilegon 0 0.00 0

Banten 3.430 13,41 4.601

2003 2.452 13,23 3245

2002 3.954 11,55 4.568

Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 153


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Ubi Jalar


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.7
Harvested Area, Productivity and Production of Sweet
Table
Potatoes by Regency in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Kabupaten
Harvested Area Productivity Production
Regency
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 729 114,85 8.373

2. Lebak 1.160 113,84 13.205

3. Tangerang 246 114,87 2.826

4. Serang 1.152 113,44 13.068

Kota/Mun

5. Tangerang 18 115,77 208

6. Cilegon 81 115,79 938

Banten 3.386 114,05 38.618

2003 3.443 115,22 39.669

2002 3.895 108,81 42.381


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 154


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kacang Hijau


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 5.1.8
Harvested Area, Productivity and Production of
Table
Mungbeans by Regency in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Kabupaten
Harvested Area Productivity Production
Regency
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 1.656 9,02 1.493

2. Lebak 463 9,57 443

3. Tangerang 10 9,00 9

4. Serang 633 9,29 588

Kota/Mun

5. Tangerang - - -

6. Cilegon 78 8,85 69

Banten 2.840 9,16 2.602

2003 2.813 9,84 2.767

2002 3.001 8,89 2.669


Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 155


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produksi dan Hasil per Hektar Sayuran


dan Buah-buahan Semusim di Banten
Tabel 5.1.9
Harvested area, Production and Yield Rate
Table
of Season Vegetables and Fruit in Banten
2004

Luas Panen/ Hasil per Ha/ Produksi/


Jenis Sayuran/
Harvested Area Yield per Ha Production
Vegetables
(Ha) (Ton/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)

Bawang Merah/Onions 48 46,25 222


Bawang Putih/Garlic - - -
Bawang Daun/Spring Onions 280 30,29 848
Kentang/Potatoes 1 160,00 16
Kubis/Cabbage 6 55,00 33
Petsai/Sawi/Mustard Green 2.280 74,44 16.972
Wortel/Carrots 91 12,20 111
Lobak/Radish 83 109.51 909
Kacang Merah/Red Beans 41 13,22 54
Kacang Panjang/ Long Beans 4.910 61,30 30.097
Cabe Besar/Large Chili 1.821 30,74 5.597
Cabe Rawit/Chili 536 57,67 3.091
Jamur/Mushroam 371 2,80 104
Tomat/Tomatoes 753 52,88 3.982
Terung/Eggplants 1580 74,17 11.719
Buncis/String Beans 317 48,04 1.523
Ketimun/Cucumber 5.649 89,99 50.838
Labu Siam/gourd 138 108,50 1.497
Kangkung/Swamp Cabbage 2.368 113,65 26.912
Bayam/Spinach 1.989 24,56 4.885
Melon/Melon - - -
Semangka/Water Melon 121 116,03 1.404
Blewah/Blewah 105 81,43 855
Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 156


Bab V Pertanian

Jumlah Pohon, Produktivitas dan Produksi Sayuran dan


Buah-buahan Tahunan Menurut Jenis di Banten
Tabel 5.1.10
Table Harvested area, Production and Yield Rate of Annual
Vegetables and Fruit by Kinds in Banten
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Jenis Buah-buahan
Harvested Area Productivity Production
Kind of Fuits
(Ha) (Ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4)
Alpukat/Avocado 22.614 0,57 1.294

Belimbing/Star 23.094 1,04 2.405

Duku/Langsat/Kokosan/Lanzon 49.893 0,92 4.593

Durian/Durian 219.628 0,89 19.604

Jambu Biji/Guava 310.457 0,52 16.276

Jambu air/Common Guava 49.153 1,18 5.805

Jeruk Siam/Siam Orange 18.462 0,44 812

Jeruk Besar/ Large Orange 7.996 0,53 427

Mangga/Mango 127.710 1,41 18.032

Manggis/Manggis 27.791 0,98 2.715

Nangka/Cempedak/Nangka 88.119 3,08 27.108

Nenas/Pineapple 62.871 0,10 630

Pepaya/Papaya 91.696 0,77 7.092

Pisang/Banana 7.185.403 0, 29 209.603

Rambutan/Rambutan 270.130 1,64 44.166

Salak/Salacia 428.839 0.08 3.353

Sawo/Sapodilla 31.505 0,71 2.240

Markisa/Konyal/Marcissa 317 0,35 11

Sirsak/Sirsak 51.990 0,30 1.567

Sukun/Sukun 11.143 1,47 1638


Melinjo/Melinjo 538.902 0,88 47.652
Petai/Petai 247.143 1,50 37.116
Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 157


Bab V Pertanian

Luas Panen, Produksi dan Hasil per Meter persegi


Tanaman Obat-obatan di Banten
Tabel 5.1.11
Table Harvested Area, Production and
Productivity of Medicine Plants by Kind
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Jenis Tanaman/
Harvested Area Productivity Production
Kind of Plants
(M2) (Kg/M2) (Kg)
(1) (2) (3) (4)

Jahe/Ginger 1.182.123 0,67 788.930

Laos/Lengkuas 769.409 2,16 1.633.314

Kencur 1.255.378 0,53 666.838

Kunyit/Tturmeric 986.019 1,27 1.252.105

Lempuyang 246.916 1,94 478.432

Temulawak 177.196 1,18 208.614

Temuireng 75.649 1,14 86.393

Kejibeling 35.723 0,30 10.760

Dlingo/Dringo 2.500 0,10 250

Kapolaga/Cardamom 269.958 0,80 216.051

Temukunci 77.749 1,40 108.521

Mengkudu/Pace 245.803 4,48 1.100.809

Sambiloto 39.182 0,78 30.442

Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten


Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 158


Bab V Pertanian

Luas Panen, Hasil per Meter persegi dan Produksi


Tanaman Hias di Banten
Tabel 5.1.12
Table Harvested Area, Production and
Productivity of Decorated Plants by Kind
2004

Luas Panen Produktivitas Produksi


Jenis Tanaman/ Harvested Area Productivity Production
Kind of Plants
(M2) (Kg/ M2) (Kg)
(1) (2) (3) (4)

Anggrek/ Orchid 282.291 5,19 1.464.742

Anthurium (kuping Gajah) 7.610 2,,60 19.773

Anyelir/ Carnation 122 2,30 281

Garbera (Hebras) 2.065 2,09 4.313

Gladiol 1.015 2,54 2.577

Heliconia (Pisang-pisangan) 10.385 2,22 23.084

Krisan 369 1,73 639

Mawar/ Rose 19.653 2,10 41.300

Sedap Malam 73.773 2,62 193.622

Dracaena 1.837 1,56 2.859

Melati / Jasmine 11.904 1,73 20.605

Palem / Palm 1) 167.758 1,01 169.145

Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten


Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

1)
Catatan /Note: Satuan luas dan produksi tanaman palm adalah pohon/
Unit of area harvested and production of palm is tree

Banten Dalam Angka 2004 159


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Perkebunan Besar Negara


Menurut Jenis Tanaman di Banten
Tabel 5.2.1
Area and Production of National Large Estate
Table
by Types of Crops in Banten
2004

Luas Areal (Ha) / Area (Ha) Produksi / Production

Jenis Tanaman Tanaman Tanaman Wujud


Crops Menghasilkan Jumlah
Muda Rusak Jumlah Produksi
Produced Quantity
Young Damage Total Type of
Crops (Ton/Tons)
Crops Crops Products
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1. Karet/Rubber 615 1.218 591 2.424 - -

2.Kelapa/Coconut 2 73 14 89 - -

3. Kelapa Sawit
1.226 5.057 - 6.283 - -
/Palm Oil

4. Teh/Tea - - - - - -

5. Kina/Cinchona - - - - - -

6. Kakao/Cacoa - - - - - -

7. Cengkeh/Clove - - - - - -

8. Tebu/Sugar Cane - - - - - -

Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten


Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 160


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Perkebunan Besar Swasta


Menurut Jenis Tanaman di Banten
Tabel 5.2.2
Area and Production of Private Large Estate by Types of
Table
Crops in Banten
2004

Luas Areal (Ha) / Area (Ha) Produksi / Production


Jenis Tanaman Tanaman Menghasil Tanaman Jumlah Wujud
Crops Muda kan Rusak Jumlah Quantity Produksi
Young Produced Damage Total (Ton/Ton Type of
Crops Crops Crops s) Products
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1. Akar Wangi - - - - - -

2. Cengkeh/Clave - - - - - -

3. Kakao/Cacoa - 1.048,00 826,00 1.874,00 56.586 BCK

4. Karet/Rubber 652,54 3.314,66 1.331,32 5.298,52 320.114 Sheet

5. Kelapa Dalam 2,00 73,00 14,00 89,00 25 Kopra

6. Kelapa Hibrida - - - - - -

7. Kelapa Sawit/Oil
- - - - - -
Palm

8. Kemiri/Candlenut - - - - - -

9. Kenanga - - - - - -

10. Kina/Cinchona - - - - - -

11. Kopi/Cofee - - - - - -

12. Serehwangi - - - - - -

13. Teh/Tea - - - - - -

14. Murbai - - - - - -
Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten
Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 161


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Perkebunan Rakyat Menurut


Jenis Tanaman di Banten
Tabel 5.2.3 Area and Production of Small Holders Private Plantation
Table by Types of Crops in Banten
2004

Luas Areal (Ha) / Area (Ha) Produksi / Production


Jenis Tanaman Tanaman Tanaman Jumlah Wujud
Menghasilkan
Crops Muda Rusak Jumlah Quantity Produksi
Produced
Young Damage Total (Ton/Tons Type of
Crops
Crops Crops ) Products
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1. Aren 674 864 187,5 1.725,5 1.224 Nira
2. Cengkeh/Clove 1.245 9.163 2.750 13.158 2.745 B. kering
3. Jahe/Ginger 2 353 0 355 1.144 -
4. Jambu Mete - - - - - -
5. Kakao/Cocoa 931 1.365,46 1.105,54 3.402 565,86 BCK
6. Kapuk/kapok - - - - - -
7.Kapulaga/Cardamom 62 92,50 82 236,50
8. Karet/Rubber 1.307,2 13.956,8 345 15.609 7.323,47 Sheet
9. Kayumanis - - - - - -
10. Kelapa Dalam 10.954,19 82.602,81 6.413 99.970 50.315 Kopra
11. Kelapa Hibrida - - - - - -
12. Kelapa Sawit 28 5.997 306 6.331 37.970 TBS
13. Kemiri/Candlenut - - - - - -
14. Kenanga - - - - - -
15. Kencur 6 43 5 54 276,42 Rimpang
16. Kina/Cinchona - - - - - -
17. Kopi/Cofee 1.640 6.206 1.059 8.905 1.095 B. Kering
18. Kumis Kucing - - - - - -
19. Kunyit 73,05 142 0,03 215,08
20. Lada/Pepper 331 369 30 730 143,73 L.Putih
21. Laos 12 170 0,00 182 394 Kimpang
22. Mendong - - - - - -
23. Pala/Nutmeg 5 24 6 35 5 Biji
24. Pandan 61 336 22 419 252 Tikar
25. Panili/Vanilla 6 92 11 109 15
26. Pinang/Areca nut - - - - - -
27. Serehwangi - - - - - -
28. Tebu/Sugar cane - - - - - -
29. Teh/tea - - - - - -
30. Tembakao/Tobacco - - - - - -
31. Akar Wangi - - - - - -
32. Melinjo 1.195 5.669 607 7.471 8.799 Emping
Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten
Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 162


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Tanaman Karet


Tabel 5.2.4 Menurut Kepemilikan di Banten
Table Area and Production of Rubber by Ownership in Banten
2004

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Besar Negara


Kabupaten/Kota Smallholder Private Estate National Estate
Regency/ Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi
Municipality Area Production Area Production Areal Production
(Ha) (Ton) (Ha) (Ton) (Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 5.189,00 2.682,44 - - - -

2. Lebak 13.127,25 5.201,64 4.602,99 585,64 257,20 19,13

3. Tangerang - - - - - -

4. Serang - - - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 18.316,25 7.884,08 4.602,99 585,64 257,20 19,13

2003 15.846,40 6.874,02 5.220,36 2.892,17 1.488,93 1.303,01

2002 15.835,50 6.949,21 5.285,04 2.688,95 3.087,82 2.698,75


Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten
Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 163


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Tanaman Kelapa


Tabel 5.2.5 Menurut Kepemilikandi Banten
Table Area and Production of Coconut by Ownership in Banten
2004

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Besar Negara


Kabupaten/Kota Smallholder Private Estate National Estate
Regency/ Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi
Municipality Area Production Area Production Area Production
(Ha) (Ton) (Ha) (Ton) (Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 41.707,00 25.080,89 89,00 53,50 - -

2. Lebak 19.295,00 10.366,73 - - 54,49 26,72

3. Tangerang - - - - - -

4. Serang 26.986,35 17.557,04 - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 87.988,35 53.004,66 89,00 53,50 54,49 26,72

2003 99.971,10 59.677,11 129,32 37,32 54,90 14.164,00

2002 99.521,36 40.869,18 - - 54,49 91.216,00

2001 99.521,36 40.869,18 - - 54,49 91.216,00


Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten
Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 164


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Tanaman Kopi


Tabel 5.2.6 Menurut Kepemilikan di Banten
Table Area and Production of Coffee by Ownership in Banten
2004

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Besar Negara


Kabupaten/Kota Smallholder Private Estate National Estate
Regency/Municip Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi
ality Area Production Area Production Area Production
(Ha) (Ton) (Ha) (Ton) (Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 2.911 1.417 - - - -

2. Lebak 1.709 481,92 - - - -

3. Tangerang - - - - - -

4. Serang 4,09 586,94 - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 4.624.,09 2.485,86

2003 8.889,50 2.192,69 - - - -

2002 8.790,50 2.102,97 - - - -

2001 8.790,50 2.102,97 - - - -


Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten
Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 165


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Tanaman Kakao


Tabel 5.2.7 Menurut Kepemilikan di Banten
Table Area and Production of Cacao by Ownership in Banten
2004

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Besar Negara


Kabupaten/Kota Smallholder Private Estate National Estate
Regency/ Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi
Municipality Area Production Area Production Area Production
(Ha) (Ton) (Ha) (Ton) (Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 1.241,00 341,62 733,10 - - -

2. Lebak 2.469,00 1.341,40 1.048,63 11.758,00 - -

3. Tangerang 3,00 1,00 - - - -

4. Serang - - - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 3.713,00 1.684,02 1.781,73 11.758,00 - -

Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten


Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 166


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Tanaman Aren


Tabel 5.2.8 Menurut Kepemilikan di Banten
Table Area and Production of Sugar Palm by Ownership in Banten
2004

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Besar Negara


Kabupaten/Kota Smallholder Private Estate National Estate
Regency/ Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi
Municipality Area Production Area Production Area Production
(Ha) (Ton) (Ha) (Ton) (Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 33.150 98.207 - - - -

2. Lebak 171.790 1.109.766 - - - -

3. Tangerang - - - - - -

4. Serang - - - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 204.940 1.207.973 - - - -

Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten


Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 167


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Produksi Tanaman Melinjo


Tabel 5.2.9 Menurut Kepemilikan di Banten
Table Area and Production of Melinjo by Ownership in Banten
2004

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Besar Negara


Kabupaten/Kota Smallholder Private Estate National Estate
Regency/ Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi Luas Areal Produksi
Municipality Area Production Area Production Area Production
(Ha) (Ton) (Ha) (Ton) (Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 3.182 5.851.428 - - - -

2. Lebak 1.637 1.267.130 - - - -

3. Tangerang 1.791 103.287 - - - -

4. Serang - - - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 6.610 7.221.845 - - - -

Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Banten


Source : Forest and Estate of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 168


Bab V Pertanian

Luas Hutan Negara Menurut Jenisnya di Banten


Tabel 5.3.1
National Forest Area by Kind
Table
2004

Jenis Hutan / Forest Kind


Hutan
Kabupaten/Kota Konversi
Produksi/ Lindung/ Produksi
Regency/Municipality PHPA/
Production Proctected Terbatas/
Convertion
(Ha) (Ha) Limited
(Ha)
(Ha)
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 27.845,30 - 2.715,30 7.841,57

2. Lebak 13.366,08 - 4.452,17 19.088,38

3. Tangerang - - - -

4. Serang 1.326,17 - 726,64 2.827,97

Kota/Mun

5. Tangerang - - - -

6. Cilegon - - - -

Banten 42.537,55 - 7.894,11 29.757,92

2003 53.533,60 - 25.116,01 -


Sumber : Perum Perhutani KPH Banten
Source : Forest Manifacture of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 169


Bab V Pertanian

Luas Kawasan Hutan Negara Menurut Status


Kenyataan dan BKPH di Banten
Tabel 5.3.2
National Forest Area by
Table
Reality Status and BKPH
2004

Kabupaten/Kota / BKPH Status/ State Kenyataan/ Reality


Regency/Municipality (Ha) (Ha)
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 38.402,17 38.402,17

2. Lebak 36.906,63 36.906,63

3. Tangerang - -

4. Serang 4.880,78 4.880,78

Kota/Mun

5. Tangerang - -

6. Cilegon - -

Banten 80.189,58 80.189,58

2003 78.649,68 78.649,68


Sumber : Perum Perhutani KPH Banten
Source : Forest Manifacture of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 170


Bab V Pertanian

Produksi dan Nilai Produksi Kayu Jati dan Rimba


Tabel 5.3.3 di Banten
Table Production and Value of Jati and Rimba Woods
2000 - 2004

Kayu Jati/ Jati Woods Kayu Rimba/ Rimba Woods


Tahun
Year Produksi Nilai Produksi Produksi Nilai Produksi
production value production value
(m3) (Rp) (m3) (Rp)
(1) (2) (3) (4) (5)

2000 2.863 2.066.806.363 10.431 1.385.023.245

2001 5.297 3.574.603.000 13.784 2.294.385.000

2002 6.485 5.673.793.000 8.248 2.243.483.000

2003 4.114 9.800.201.249 6.219 2.236.644.082

2004 16.549 27.174.651.770 9.510 3.448.852.032

Sumber : Perum Perhutani KPH Banten


Source : Forest Manifacture of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 171


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Menurut Jenis di Banten


Tabel 5.4.1 Number of Livestocks by Kind in Banten
Table 2004
(Ekor / Head)

Ternak / Livestock
Kabupaten/Kota Sapi
Sapi
Regency/Municipality Perah Kerbau Kuda Kambing Domba Babi
Potong
Milk Buffalo Horse Goat Sheep Pig
Cow
Cow
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 330 - 52.528 104 217.013 184.164 -

2. Lebak 885 - 64.134 - 262.793 223.255 -

3. Tangerang 7.981 41 50.049 - 68 81.815 -

4. Serang 2.859 5 36.113 88 154.060 98.033 10.078

Kota/Mun

5. Tangerang 89 - 314 - 7.163 2.085 2.595

6. Cilegon 276 - 1.319 - 11.880 6.601 -

Banten 12.420 46 204.457 192 652.977 595.953 12.673

2003 - - - - - - -

2002 9.936 37 163.564 153 522.380 476.762 10.138


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 172


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Yang Masuk ke Banten


Tabel 5.4.2 Number of Livestock Inflow to Banten
Table (Ekor / Head)
2004

Kabupaten/Kota Sapi Sapi


Kerbau Kambing Domba Babi
Regency/ Potong Perah
Buffalo Goat Sheep Pig
Municipality Cow Milk Cow

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Kab/Reg

1. Pandeglang 408 - 645 13.615 10.344 -

2. Lebak 603 - - - - -

3. Tangerang 14 - 554 858 6.116 5

4. Serang 12.649 - 920 8.181 - -

Kota/Mun

5. Tangerang 34.101 - 481 23.636 21.779 16.818

6. Cilegon - - - - -

Banten 47.775 - 2.600 46.290 38.239 16.823

Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten


Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 173


Bab V Pertanian

Jumlah Unggas dan Telur yang Masuk ke Banten


Tabel 5.4.3
Number of Poultries and Eggs Inflow to Banten
Table
2004

Ayam Ras Ayam Buras Itik


Improved Hen Native Chicken Ducks
Kabupaten/Kota Jumlah Jumlah
Telur Telur Jumlah Telur
Regency/Municipality Number Number
Egg Egg Number Egg
of of
(000 Butir (000 Butir (Ekor (000 Butir
(000 ekor/ (000 ekor
/Egg) /Egg) /Head) /Egg)
Head) / Head)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang 541 - 15.958 - 10 -

2. Lebak - - - - - -

3. Tangerang 1.065.581 - 41.235 - 303.795 -

4. Serang 63.951 - - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 1.130.073 - 57.193 - 303.805 -

2003 - - - - -

2002 1.336.626 - 45.754 - 250.536 -


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 174


Bab V Pertanian

Populasi Ternak Unggas Menurut Kabupaten/Kota


di Banten
Tabel 5.4.4
Population of Poultries in Banten
Table
2004
(Ekor/ Head)

Kabupaten/Kota Ayam Ras Ayam Ras


Ayam Buras Itik/ Manila
Regency/Municipality Petelur Pedaging
Native Chicken Duck
Layer Broiler
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 2.689.476 5.180 625 148.846

2. Lebak 2.334.081 500 5 99.553

3. Tangerang 2.151.866 4.494.568 3.709.449 724.011

4. Serang 2.689.476 4.708.064 2.814.125 449.480

Kota/Mun

5. Tangerang 195.796 - 105.665 26.919

6. Cilegon 151.291 2.731 5 16.439

Banten 10.211.986 9.211.043 6.629.874 1.465.248

2003 8.615.047 8.395.005 5.311.391 1.172.198

2002 7.763.643 5.572.905 6.459.534 1.014.365


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 175


Bab V Pertanian

Produksi Ternak Unggas Menurut Kabupaten/Kota


di Banten
Tabel 5.4.5
Production of Poultries in Banten
Table
2004
(Ton)

Kabupaten/Kota Ayam Buras Ayam Ras Ayam Ras


Itik/ Manila
Regency/Municipality Native Petelur Pedaging
Duck
Chicken Layer Broiler
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 2.174.708 - 1.533.604 39.738

2. Lebak 982.713 709.792 2.091.319 14.215

3. Tangerang 882.400 1.234.224 9.116.250 101.250

4. Serang - 1.137.896 10.240.800 114.788

Kota/Mun

5. Tangerang 19.264 3.360 127.207 22.208

6. Cilegon - - - -

Banten 4.059.085 3.085.272 23.109.180 292.199

2003 4.246.521 1.426.570 27.187.270 233.758

2002 4.353.219 1.477.615 27.402.429 226.563


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 176


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Yang Keluar dari Banten


Tabel 5.4.6 Number of Livestock Outflow from Banten
Table 2004
(Ekor / Head)

Sapi Sapi
Kabupaten/Kota Kerbau Kambing Domba Babi
Potong Perah
Regency/Municipality Buffalo Goat Sheep Pig
Cow Milk Cow
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang - - 1.191 11.168 5.968 -

2. Lebak - - 6.526 9.289 5.149 -

3. Tangerang 109 - 89 8.879 4.659 4.623

4. Serang 4.091 - 7.341 11.591 16.371 -

Kota/Mun

5. Tangerang 1.028 - 43 21.149 16.604 -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 5.228 - 15.190 62.076 48.751 4.623

2003 - - - - - -

2002 4.242 - 12.152 49.660 39.000 3.698


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 177


Bab V Pertanian

Jumlah Unggas dan Telur yang Keluar dari Banten


Tabel 5.4.7
Number of Poultries and Eggs Outflow from Banten
Table
2004

Ayam Ras Ayam Buras Itik


Improved Hen Native Chicken Ducks
Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Jumlah Telur Jumlah Telur Jumlah Telur
Number Egg Number Egg Number Egg
(000 ekor/ (000 Butir (Ekor (000 Butir (Ekor (000 Butir
Head) / Egg) /Head) / Egg) /Head) / Egg)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Kab/Reg

1. Pandeglang - - 57.020 - 20.355 -

2. Lebak - - - - - -

3. Tangerang 1.808.630 - 76.423 - 376.559 -

4. Serang 312.500 - 1.875 - 1.438 -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - -

6. Cilegon - - - - - -

Banten 2.121.130 - 135.318 - 398.352 -

2003 2.377.800 - 108.254 - 318.681 -


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 178


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Sapi Yang Dipotong Menurut Status


Tempat Pemotongan di Banten
Tabel 5.4.8 Number of Slaughtered Cows by Status of Place in
Table Banten
2004
(Ekor / Head)

Status Tempat Pemotongan Di Luar


Status of place Rumah
Kabupaten/Kota Jumlah
Potong
Regency/Municipality Pemerintah Swasta Total
Outside Teh
Government Private
Place
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 324 36 - 360

2. Lebak 883 89 - 972

3. Tangerang - 1.494 16.761 18.255

4. Serang 3.474 - - 3.474

Kota/Mun

5. Tangerang 25.380 2.768 - 28.148

6. Cilegon - - - -

Banten 30.061 4.386 16.761 51.209

2003 24.048 3.509 13.409 40.966


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 179


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Kerbau yang Dipotong Menurut


Status Tempat Pemotongan di Banten
Tabel 5.4.9 Number of Slaughtered Buffaloes by Status of Place
Table in Banten
2004
(Ekor / Head)

Status Tempat Pemotongan Di Luar


Status of place Rumah
Kabupaten/Kota Jumlah
Potong
Regency/Municipality Pemerintah Swasta Total
Outside Teh
Government Private
Place
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 1.501 481 2.903 4.885

2. Lebak 4.244 1.041 - 5.285

3. Tangerang - 278 2.543 2.821

4. Serang 1.316 - 156 1.472

Kota/Mun

5. Tangerang 375 40 - 415

6. Cilegon - - - -

Banten 7.436 1840 5.602 14.878

2003 - - - -

2002 5.949 1.472 4.481 11.902


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 180


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Kambing yang Dipotong Menurut


Status Tempat Pemotongan di Banten
Tabel 5.4.10 Number of Slaughtered Goats by Status of Place in
Table Banten
2004
(Ekor / Head)

Status Tempat Pemotongan


Di Luar
Status of place
rumah
Kabupaten/Kota Jumlah
Potong
Regency/Municipality Pemerintah Swasta Total
Outside
Government Private Teh Place
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 808 58.278 10.839 69.925

2. Lebak 5 18.940 - 18.945

3. Tangerang - 68.165 15 68.180

4. Serang - - 7.703 7.703

Kota/Mun

5. Tangerang 479 97.855 - 98.334

6. Cilegon - - - -

Banten 1.292 243.238 18.557 263.087

2003 - - -

2002 1.033 193.590 14.845 209.468


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 181


Bab V Pertanian

Jumlah Domba Yang Dipotong Menurut Status Tempat


Pemotongan di Banten
Tabel 5.4.11 Number of Slaughtered Sheep by Status of Place in
Table Banten
2004
(Ekor / Head)

Status Tempat Pemotongan Di Luar


Kabupaten/Kota Status of place rumah Potong Jumlah
Regency/Municipality Pemerintah Swasta Outside Teh Total
Government Private Place
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang 2.173 69.701 10.606 82.480

2. Lebak 10.314 51.569 - 61.883

3. Tangerang - 79.268 14.533 93.801

4. Serang - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang 1.380 7.529 - 8.909

6. Cilegon - - - -

Banten 13.867 208.067 25.139 247.073

2003 - - - -

2002 11.093 166.453 20.111 197.657


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 182


Bab V Pertanian

Jumlah Ternak Babi Yang Dipotong Menurut Status


Tempat Pemotongan di Banten
Tabel 5.4.12 Number of Slaughtered Pigs by Status of Place in
Table Banten
2004
(Ekor / Head)

Status Tempat Pemotongan Di Luar rumah


Kabupaten/Kota Status of place Potong Jumlah
Regency/Municipality Pemerintah Swasta Outside Teh Total
Government Private Place
(1) (2) (3) (4) (5)
Kab/Reg

1. Pandeglang - - - -

2. Lebak - - - -

3. Tangerang - 78 854 931

4. Serang - - - -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - -

6. Cilegon - - - -

Banten - 78 854 931

2003 - - - -

2002 - 62 683 745


Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten
Source : Agriculture and Livestock Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 183


Bab V Pertanian

Produksi Ikan Menurut Tempat Penangkapan dan


Pemeliharaan di Banten
Tabel 5.5.1 Fish Production by Type of Catching and Breeding
Table Facilities in Banten
2004
(Ton / Tons)

Perikanan Tangkap / Capture Fishery


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Perairan Umum
Laut Sub Jumlah
Inland Open Water
Marine Fishery Sub Total
Fisheries
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 25.354,70 - 25.354,70

2. Lebak 5.112,50 27,70 5.140,20

3. Tangerang 16.045,50 144,70 16.190,20

4. Serang 6.795,70 326,20 7.121,90

Kota/Mun 0,00

5. Tangerang - - 0,00

6. Cilegon 371,10 - 371,10

Banten 53.679,50 498,60 54.178,10

2003r) 52.867,30 449,50 53.316,80

2002r) 64.966,50 820,70 65.787,20

Banten Dalam Angka 2004 184


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Perikanan Budidaya / Aquaculture Fishery


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Tambak Kolam
Laut Sawah
Brackish Freshwater
Marine Paddy Field
Waterpond Pond
(1) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang - 556,80 1.542,30 3.404,10

2. Lebak - 36,70 669,90 1.556,20

3. Tangerang 2.858,00 7.286,00 1.790,80 7,80

4. Serang 1.544,60 463,10 122,40

Kota/Mun

5. Tangerang - 179,70 2,00

6. Cilegon - - -

Banten 2.858,00 9.424,10 4.645,80 5.092,50

2003r) 2.860,00 9.163,70 4.285,60 5.037,40

2002r) 2.760,00 9.386,60 4.348,14 4.781,96

Banten Dalam Angka 2004 185


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Perikanan Budidaya / Aquaculture Fishery


Kabupaten/Kota Jaring Jumlah
Regency/Municipality Karamba Terapung / Sub Jumlah Total
Cage Floating Cage Sub Total
Net
(1) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang - - 5.503,20 30.857,90

2. Lebak 24,10 - 2.286,90 7.427,10

3. Tangerang - 92,20 12.034,80 28.225,00

4. Serang - - 2.130,10 9.252,00

Kota/Mun 0,00 0,00

5. Tangerang 9,70 - 191,40 191,40

6. Cilegon - - 0,00 371,10

Banten 33,80 92,20 22.146,40 76.324,50

2003r) 21,20 196,00 21.563,90 74.880,70

2002r) 17,50 198,00 21.492,20 87.279,40


Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten
Source : Offices for Marine and Fisheries of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 186


Bab V Pertanian

Nilai Produksi Ikan Menurut Tempat


Penangkapan/Pemeliharaan di Banten
Tabel 5.5.2 Value of Fish Production by Type of Catching and
Table BreedingFacilities in Banten
2004
(Juta / Millions Rupiah)

Perikanan Tangkap / Capture Fishery


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Perairan Umum
Laut Sub Jumlah
Inland Open Water
Marine Fishery Sub Total
Fisheries
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 93.555 - 93.555

2. Lebak 9.748 728 10.476

3. Tangerang 153.190 894 154.084

4. Serang 29.755 1.870 31.625

Kota/Mun 0

5. Tangerang - - 0

6. Cilegon 2.149 - 2.149

Banten 288.397 3.492 291.889

2003r) 281.529 2.689 284.218

2002r) 341.381 4.669 346.050

Banten Dalam Angka 2004 187


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Perikanan Budidaya / Aquaculture Fishery


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Tambak Kolam
Laut Sawah
Brackish Freshwater
Marine Paddy Field
Waterpond Pond
(1) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang - 15.305 12.392 29.795

2. Lebak - 539 3.880 8.738

3. Tangerang 8.922 124.840 16.281 55

4. Serang - 18.485 3.280 986

Kota/Mun

5. Tangerang - - - -

6. Cilegon - - 1.438 78

Banten 8.922 159.169 37.269 39.651

2003r) 11.440 158.718 31.806 30.348

2002r) 11.372 168.367 33.394 27.131

Banten Dalam Angka 2004 188


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Perikanan Budidaya / Aquaculture Fishery


Kabupaten/Kota Jaring Jumlah
Regency/Municipality Karamba Terapung / Sub Jumlah Total
Cage Floating Cage Sub Total
Net
(1) (6) (7) (8) (9)
Kab/Reg

1. Pandeglang - - 57.492 151.047

2. Lebak 196 - 13.353 23.829

3. Tangerang - 944 151.042 305.126

4. Serang - 22.751 54.376

Kota/Mun

5. Tangerang - - - -

6. Cilegon 87 - 1.603 3.752

Banten 284 944 246.239 538.128

2003r) 159 944 233.415 517.633

2002r) 114 1.673 242.051 588.101


Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten
Source : Offices for Marine and Fisheries of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 189


Bab V Pertanian

Jumlah Unit Penangkapan Ikan


Menurut Jenis di Banten
Tabel 5.5.3
Number of Marine Fisheries Catching
Table
by Kind in Banten
2004

Jaring / Seine

Kabupaten/Kota Jaring Jaring


Jaring
Regency/Municipality Hanyut Klitik Insang Rampus Pukat Cincin
Lingkar
Drift Gill Tickle Gill Net Tramel Purse Sein
Circle Seine
Net Net
(1) (5) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 78 22 98 - - -

2. Lebak 116 - 665 121 - -

3. Tangerang 537 526 2 16 - -

4. Serang 198 113 - 74 - -

Kota/Mun

5. Tangerang

6. Cilegon 7 1 21 - -

Banten 936 662 786 211 - -

2003r) 878 636 737 189 - -

2002r) 801 858 809 2 - -

Banten Dalam Angka 2004 190


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Bukan Jaring /Not Seine

Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Payang Dogol Pukat Pantai Bagan Perahu
Large Net Danish Seine Coast Trap Baot Trap

(1) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 78 52 27 151

2. Lebak 8 - - 48

3. Tangerang 80 119 - -

4. Serang 356 - - 51

Kota/Mun

5. Tangerang - - - -

6. Cilegon - - 21

Banten 522 171 27 271

2003r) 501 171 27 286

2002r) 598 462 - 251

Banten Dalam Angka 2004 191


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Bukan Jaring /Not Seine


Jumlah
Kabupaten/Kota (Total)
Regency/Municipality Bagan Tancap Pancing Lainnya
Fixed Trap Hook & Line Otehrs

(1) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 200 111 - 817

2. Lebak - 201 185 1.344

3. Tangerang 36 401 50 1.767

4. Serang 76 423 - 1.291

Kota/Mun

5. Tangerang - - -

6. Cilegon 8 202 - 260

Banten 320 1.338 235 5.479

2003r) 246 1.338 235 5.244

2002r) 217 1.400 328 5.726


Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten
Source : Offices for Marine and Fisheries of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 192


Bab V Pertanian

Jumlah Perahu / Kapal Penangkapan Ikan Menurut


Tabel 5.5.4 Jenis di Banten
Table Number of Fisheries Boat by Kind in Banten
2004

Perahu Perahu Perahu Kapal


Motor
Jukung Layar Layar Layar Motor
Tempel
Kabupaten/Kota Unmoto Kecil Sedang Besar In Jumlah
Out
Regency/Municipality rized Small Medium Large Board Total
Board
Boat Sailing Sailing Sailing Motor
Motor
Boat Boat Boat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 71 72 - - 121 459 723

2. Lebak 271 - - - 268 270 809

3. Tangerang - - - - 1.757 89 1.846

4. Serang - - - - 882 229 1.111

Kota/Mun

5. Tangerang - - - - - - -

6. Cilegon 65 69 - - 106 75 315

Banten 407 141 - - 3.134 1.122 4.804

2003r) 336 141 - - 3.117 1.119 4.713

2002r) 554 293 29 29 2.969 1.255 5.129


Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten
Source : Offices for Marine and Fisheries of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 193


Bab V Pertanian

Luas Areal dan Jumlah Tempat Pemeliharaan


Tabel 5.5.5 Ikan di Banten
Table Area and Number of Fish Breeding Facilities in Banten
2004

Budidaya Budidaya
Budidaya
Tambak 1) Kolam 1)
Kabupaten/Kota Sawah 1) Jumlah
Brackish Water Fresh
Regency/Municipality Field WaterPond Total
Pond WaterPond
(Ha)
(Ha) (Ha)
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 590,00 650,00 4.090,00 5.330

2. Lebak 17,50 246,10 2.450,50 2.714

3. Tangerang 4.600,53 132,46 325,28 5.058

4. Serang 5.642,00 32,20 6,10 5.680

Kota/Mun

5. Tangerang - 220,00 200,00 420

6. Cilegon - - - -

Banten 10.850,03 1.280,76 7.071,88 19.203

2003r) 8.496,80 1.501,06 11.317,90 21.316

2002r) 8.764,80 1.553,06 22.900,90 33.219


Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten
Source : Offices for Marine and Fisheries of Banten Province

Catatan / Notes : 1). Luas Kotor / Gross Area

Banten Dalam Angka 2004 194


Bab V Pertanian

Jumlah Rumah Tangga Perikanan Menurut Jenis


Perikanan di Banten
Tabel 5.5.6
Number of Fishery Household by Type of Fishery in
Table
Banten
2004

Perikanan Tangkap / Capture Fishery


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Perairan Umum
Laut Sub Jumlah
Inland Open Water
Marine Fishery Sub Total
Fisheries
(1) (2) (3) (4)
Kab/Reg

1. Pandeglang 742 - 742

2. Lebak 681 310 991

3. Tangerang 1.844 155 1.999

4. Serang 1.025 - 1.025

Kota/Mun

5. Tangerang - - -

6. Cilegon 180 - 180

Banten 4.472 465 4.937

2003r) 4.481 370 4.851

2002r) 5.040 290 5.330

Banten Dalam Angka 2004 195


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Perikanan Budidaya / Aquaculture Fishery


Kabupaten/Kota
Regency/Municipality Tambak Kolam
Laut Sawah
Brackish Freshwater
Marine Paddy Field
Waterpond Pond
(1) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang - 98 4.080 7.525

2. Lebak - 48 4.513 9.185

3. Tangerang 283 823 3.409 72

4. Serang - 753 177 80

Kota/Mun

5. Tangerang - - 1.568 85

6. Cilegon - - - -

Banten 283 1.722 13.747 16.947

2003r) 283 2.193 11.205 16.970

2002r) 283 2.526 8.104 16.921

Banten Dalam Angka 2004 196


Bab V Pertanian

Lanjutan
Continued

Perikanan Budidaya / Aquaculture Fishery


Kabupaten/Kota Jaring Jumlah
Regency/Municipality Karamba Terapung / Sub Jumlah Total
Cage Floating Cage Sub Total
Net
(1) (6) (7) (8)
Kab/Reg

1. Pandeglang 150 8 11.861 12.603

2. Lebak 198 - 13.944 14.935

3. Tangerang - 39 4.626 6.625

4. Serang - - 1.010 2.035

Kota/Mun

5. Tangerang 20 - 1.673 1.673

6. Cilegon - - - 180

Banten 368 47 33.114 38.051

2003r) 373 17 31.041 35.892

2002r) 338 12 28.184 33.514


Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten
Source : Offices for Marine and Fisheries of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 197


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

6.1. Industri Pengolahan 6. 1. Manufacturing Industry

Sektor Industri Pengo Manufacturing industry


lahan dapat dibedakan menjadi sector can differenced become four
empat yaitu Industri Besar, Industri namely as large industry,
Sedang, Industri Kecil dan Industri moderate industry, small industry
Rumah tangga. Perbedaan ini dida and dwell industry. Variance basic
sarkan dari banyaknya tenaga kerja from job employee spare.
yang diserap.
Large industry was
Industri Besar adalah industry that spare employee about
industri yang menyerap tenaga 100 person or more, moderate
kerja 100 orang atau lebih, Industri industry that spare employee about
Sedang adalah yang menyerap 20 to 99 person, and small industry
tenaga kerja 20 sampai 99 orang, that spare between 5 to 19 person
Industri Kecil adalah tenaga kerja and dwell industry less than 5
antara 5 sampai 19 orang dan person employee.
Industri Rumah tangga kurang dari
5 orang tenaga kerjanya. Data about large
industry and moderate available at
Data mengenai Industri every year which collected
besar dan sedang tersedia setiap complete census. To basic survey
tahun yang dikumpulkan dengan result in year 2002 and 2003,
cara sensus lengkap. Berdasarkan record consecutive 1,663 and 1,576
hasil survei dari tahun 2002 dan unit company with spare employee
2003, berturut-turut tercatat 1.663 about 508,034 and 499,303 and
dan 1576 perusahaan dengan endow outcome by value add about
menyerap tenaga kerja sebanyak 30,30 billion rupiah and 3.,85
508.034 orang dan 499.303 orang billion rupiah Data show at year
dan memberikan hasil dengan nilai 2003 with amount decressing in
tambah sebesar Rp 30,30 trilyun year 2002 but nevertheless endow
pada tahun 2002 naik menjadi outcome and more spare
34,85 trilyun pada tahun 2003. employee.
Data ini menun jukkan bahwa pada
tahun 2003 walaupun jumlah
perusahaan menurun dibandingkan
dengan tahun 2002 namun
memberikan hasil yang lebih
banyak.

Banten Dalam Angka 2004 201


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Apabila dilihat per Go If shown in group of


longan Industri, dari tahun 2002 industry, from year 2002 to year
dan tahun 2003 perusahaan yang 2003, company in Banten province
ada di Propinsi Banten ternyata
didominasi oleh Industri karet, really dominatted by rubber, stuff
barang dari karet dan barang dari of rubber and stuff of bucket
plastik, Industri kimia dan barang- industr; Chemica, and stuff of
barang dari bahan kimia, Industri chemical wrapping, and machine;
Barang dari logam kecuali mesin stuff of nugget, except machine and
dan peralatannya dan Industri
makanan dan minuman masing- tool and Food and drinking
masing sebesar 204, 168, 160 dan industry about 204; 168; 160 and
159 perusahaan. 159 unit company.

Sedangkan dalam menye While at spare employee,


rap tenaga kerja, Industri kulit,
barang dari kulit dan alas kaki by Leather, stuff of leather and bed
karet, sangat dominan mencapai foot industry exceedings dominan-
108.652 orang atau 21,76 persen ted gain almost about 108.652
dari total tenaga kerja yang bekerja person or 21,76.% of total of labor
di perusahaan. force.
Industri kimia dan barang
dari bahan kimia, merupakan Rubber, stuff of rubber
industri yang memberikan Nilai and stuff of bucket industry are
tambah yang terbesar yaitu sebesar industry that give value add about
9,28 trilyun rupiah. 9,28 billion rupiahs
Dilihat dari analisis di
atas, ternyata di Propinsi Banten At shown above analysis,
kontribusi industri bervariasi, Chemical, and stuff of chemical
dengan Industri Kimia dan barang- wrapping industry give large value
barang dari bahan kimia
add and output and input value too,
memberikan nilai tambah yang
paling besar dan apabila dilihat but not large spare employee.
lebih lanjut golongan industri ini
memberikan nilai output dan input
yang besar pula, walaupun
penyerapan tenaga kerja golongan
industri ini tidak begitu besar.

Banten Dalam Angka 2004 202


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Dari tahun 2002 sampai At year 2002 to year 2003,


tahun 2003, dilihat per Kabu show by regency/ municipality
paten/Kota ternyata perusahaan evidently company that occur in
yang berada di Kota dan Kabupaten
Tangerang sangat mendominasi Tangerang regency and
konstribusinya baik dalam jumlah, municipality exceedings dominant
tenaga kerja yang diserap maupun to constribute in amount, spare
dalam memberikan nilai tambah employee and value add industry.
industri.

Jumlah perusahaan yang Amount company that in


ada di Kota Tangerang dan Tangerang regency and Tangerang
Kabupaten Tangerang masing-ma municipality almost gain half
sing hampir mencapai separuh amount aggregate of industry in
jumlah keseluruhan industri di Banten province about 727 and
Propinsi Banten yaitu sebesar 727
perusahaan dan 572 perusahaan. 572 unit company.

Sedangkan dalam penye While at spare employee,


rapan tenaga kerja, perusahaan company that in those Tangerang
yang ada di kabupaten dan kota regency and municipality gain
Tangerang mencapai 208.899 orang
dan 184.986 orang, dan 208,899 and 18,.986 person. that
memberikan nilai tambah yang give large value add about 12.31
cukup besar masing-masing billion rupiahs dan 12.16 billion
mencapai 12,31 trilyun rupiah dan rupiah and followed company in
12,16 trilyun rupiah, disusul Serang regency about sebesar 6.13
perusahaan yang ada di Kabupaten
Serang yaitu sebesar 6,13 trilyun billion rupiahs and Cilegon
rupiah dan kota Cilegon sebesar municipality about 4,01 billion
4,01 trilyun rupiah rupiahs.

Ini berarti bahwa This means industry


perusahaan industri yang ada di
Kabupaten Serang dan kota company in Serang regency are
Cilegon merupakan Industri yang industry that large output and
menghasilkan output yang besar value add although relative small
dan memberikan nilai tambah yang amount than Tangerang regency/
besar walaupun jumlahnya relatif municipality
lebih sedikit dibandingkan dengan
kabupaten/ kota Tangerang.

Banten Dalam Angka 2004 203


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

6.2 Penggalian 6. 2 Mining

Jenis bahan tambang atau Hybrid of wrapping field


galian yang banyak terdapat di or quarry in Banten is sand, breksi
Banten adalah pasir, breksi Tufaan Tufaan, and andesit with volume
dan andesit yang masing-masing for year 2004 about 1,11 million
volume penggalian untuk tahun ton and 50 thousand ton. Other
2004 sebesar 1,11 juta ton, 50 ribu Hybrid field also there failed land,
ton dan 42,44 ribu ton. Jenis charcoal, and limestone
tambang lainya juga terdapat Tanah
Urug, Batu bara dan Batu kapur. Amount acquire SIPD
Gubernur year 2004 about 57
Jumlah pemilik SIPD acquire to exploit
Gubernur tahun 2004 sebanyak 56
pemilik yang seluruhnya
merupakan penggalian eksploitasi.
6. 3 Electricity and Water Supply
6.3 Listrik dan Air Bersih
At shown from amount of customer
Dilihat dari jumlah pe that consumme electricity of PLN
langgan yang mengkonsumsi ener in 2004 about 565.861 customer,
gi listrik dari PLN tahun 2004 yang that succession first from aspect
mencapai 565.861 pelanggan, amount costumer be group of dwell
kelompok rumah tangga adalah about 95,26 percent. Posterior
kelompok pelanggan yang terbesar followed by group of social
yaitu mencapai 95,26 persen darai (2,63%), bussness (1,70%) and
seluruh pelanggan PLN. Kemudian officer (0,32%), that latter be
diikuti oleh kelompok Sosial group of industry sector (0,08%).
(2,63%), Bisnis (1,70%),
Pemerintah (0,32%) dan terakhir But although low at
adalah kelompok sektor industri amount customer, those group of
(0,08%). industry have acted as large
consumer from application of
Tetapi walaupun kecil electric energy by using
dalam jumlah pelanggan, kelompok contribution about 85,95 percent,
industri ini mempunyai peranan subsequently dwell by kontribution
sebagai konsumen terbesar dari about 10,98 percent.
seluruh penggunaan energi listrik
dengan kontribusi pemakaian sebe
sar 85,95 persen, berikutnya baru
rumah tangga dengan kontribusi
sebesar 10,98 persen.

Banten Dalam Angka 2004 204


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Data tentang perusahaan Data about drinking water


air minum didapat dari Survei company gived from Drinking
Perusahaan Air Minum yang dilaku Water Company Survey that
kan oleh Badan Pusat Statistik applied by BPS Statistics of Banten
Propinsi Banten. Data tersebut province . At year 2004 there 6
berasal dari 6 perusahaan air regency company to respon to BPS
minum baik perusahaan daerah Statistics of Lebak, Serang Regency
maupun perusahaan swasta yang and Cilegon Municipality
berada di semua kabupaten/kota di
propinsi Banten.

Dari data yang masuk total From that data,


produksi air minum sebesar productivity of drinking water
194.044 juta m3. Sedangkan about 194,044 million m3. While
jumlah pelanggan air minum yang amount of dringking water
paling besar adalah golongan customer are large as group of
rumah tangga, yang mencapai dwell about 129.640 customer with
129.640 pelanggan dari total total of customer to all group
pelanggan semua golongan sebesar 136.670 customer. While if shown
136.670 pelanggan. Sedangkan volume drinking water supply, part
jika dilihat dari volume air minum of large spared by customer from ,
yang dialirkan, sebagian besar industry, other customers,
diserap oleh pelanggan dari household, about 42.28 percent,
industri, pelanggan lainnya, serta 29.28 percent, and 24.36 percent of
rumah tangga yang masing-masing volume of water
mencapai 42,28 persen, 29,28
persen dan 24,36 persen dari total
volume air yang dialirkan.

Banten Dalam Angka 2004 205


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Klasifikasi Baku Lapangan Standart Classification of


Usaha Indonesia (KBLI) 2000 Indonesia Business Sector 2000

Sektor Industri Pengolahan Manufacturing Industry Sector

Code Descreption
Kode Uraian
15 Food and drinking
15 Industri makanan dan minuman
16 Tobbaco manufacture
16 Industri pengolahan tembakau
17 Textile
17 Industri tekstil
18 Garment
18 Industri pakaian jadi
19 Leather, stuff of leather and bed foot
19 Industri kulit, barang dari kulit dan
20 wood, stuff of wood (legible pertinent
alas kaki
20 Industri kayu, barang dari kayu (tidak furniture) and tress stuff of rattan,
termasuk furniture) dan barang wicker and other kind
anyaman dari rotan,bambu dan 21 paper, stuff of paper, and other kind
sejenisnya 22 publication, printing, and
21 Industri ketas, barang dari kertas, dan reproduction, recording
sejenisnya 23 cinder grindstone, explore of world
22 Industri penerbitan, percetakan, dan ayonnaise, manufacture of world
reproduksi media rekaman mayonnaise, stuff of outcome explore
23 Industri batu bara, pengilangan of world mayonnaise and grill
minyak bumi, pengolahan minyak gas wrapping of nuchlear
bumi, barang dari hasil pengilanagan
minyak bumi dan bahan bakar nuklir 24 Chemical, and stuff of chemical
24 Industri kimia dan barang-barang dari wrapping
bahan kimia 25 rubber, stuff of rubber and stuff of
25 Industri karet, barang dari karet dan bucket
barang dari plastik 26 stuff quarry not nugget
26 Industri barang galian bukan logam 27 intrinsic nugget
27 Industri logam dasar 28 stuff of nugget, except machine and
28 Industri barang dari logam, kecuali tool
mesin dan peralatannya 29 machine and tools
29 Industri mesin dan perlengkapannya 30 machine and agency tools,
30 Industri mesin dan peralatan kantor, accounting and data processing
akuntansi, dan pengolahan data 31 other electric machine, and tools
31 Industri mesin listrik lainnya, dan 32 radio, television, and communication
perlengkapannya
outfit, and tools
32 Industri radio, televisi, dan peralatan
komunikasi, serta perlengkapannya 33 doctoral outfit, shave tools, navigasi
33 Industri peralatan kedokteran, alat- outfit, optical outfit, clock and bell
alat cukur, peralatan navigasi, 34 motor vehicle
peralatan optik, jam dan lonceng 35 transport tools except motor vehicle
34 Industri kendaraan bermotor four wheel or dull
35 Industri alat angkutan selin kendaraan 36 furniture and other manufacture
bermotor roda empat atau lebih 37 repeat cycle
36 Industri furnitur dan industri
pengolahan lainnya
37 Daur ulang

Banten Dalam Angka 2004 206


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Grafik 6.1 Jumlah Perusahaan Industri Besar/Sedang di Banten


Tahun 2002 - 2003

800

700

600
500

400
300

200

100 2003
2002
0
Kab. Pandeglang Kab. Lebak Kab.Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cilegon

Grafik 6.2. Nilai Input dan Output Perusahaan Industri Menurut


Kab/Kota di Banten Tahun 2003

40.000

35.000

30.000
Pandeglang
25.000 Lebak
T angerang
20.000
Serang
15.000 Kota T angerang
Kota Cilegon
10.000

5.000

0
Input Output

Banten Dalam Angka 2004 207


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 6.1.1
Number of Manufacturing and ManPower of
Table
Establishment by Regency/Municipality in Banten
2003

Kabupaten/Kota Perusahaan Tenaga Kerja


Regency/Municipality Company Man Power
(1) (2) (3)

Kab/Reg

1. Pandeglang 11 2.190

2. Lebak 22 3.957

3. Tangerang 727 20.899

4. Serang 176 77.929

Kota/Mun

5. Tangerang 572 184.986

6. Cilegon 68 21.342

Banten 1.576 499.303

2002 1.638 508.034

2001 1.664 503.841

Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 207


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Nilai Input, Output dan Nilai Tambah Industri


Menurut Kabupaten/Kota
Tabel 6.1.2 di Banten
Table Input, Output and Value Added of Manufacturing by
Regency/Municipality in Banten
2003

Nilai Tambah
Kabupaten/Kota Input Output Value Added
Regency/Municipality Input Output (000 Rp/ Thousand
Rp)
(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1. Pandeglang 56.732.880 97.202.849 40.469.969

2. Lebak 212.421.439 416.933.912 204.512.473

3. Tangerang 21.794.032.281 34.100.565.636 12.306.533.355

4. Serang 11.696.136.183 17.821.907.382 6.125.771.199

Kota/Mun

5. Tangerang 23.403.796.621 35.564.255.978 12.160.459.357

6. Cilegon 14.603.690.719 18.611.357.535 4.007.666.816

Banten 71.766.810.123 106.612.223.292 34.845.413.169

2002 102.968.840.951 133.270.893.031 30.302.052.080

2001 72.623.029.039 101.943.591.899 29.230.562.860


Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 208


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri


Menurut Golongan Industri di Banten
Tabel 6.1.3
Number of Manufacturing and Man Power Establishment
Table
by Industrial Group in Banten
2003

Kode Golongan Industri Perusahaan Tenaga Kerja


Code Industrial Group Company Man Power
(1) (2) (3) (4)
15 Industri makanan dan minuman/ Food and drinking 159 24.280
17 Industri tekstil/ Textile 122 57.603
18 Industri pakaian jadi/ Garment 77 42.739
Industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki/ Leather,
19 85 108.652
stuff of leather and bed foot
Industri kayu, barang dari kayu (tidak termasuk
furniture) dan barang anyaman dari rotan,bambu dan
20 sejenisnya/ Wood, stuff of wood (legible pertinent 84 19.011
furniture) and tress stuff of rattan, wicker and other
kind
Industri ketas, barang dari kertas, dan sejenisnya/
21 62 18.404
Paper, stuff of paper, and other kind
Industri penerbitan, percetakan, dan reproduksi media
22 rekaman/ Publication, printing, and reproduction, 17 1.336
recording
Industri batu bara, pengilangan minyak bumi,
pengolahan minyak gas bumi, barang dari hasil
pengilanagan minyak bumi dan bahan bakar nuklir/
23 Cinder grindstone, explore of world ayonnaise, 7 496
manufacture of world mayonnaise, stuff of outcome
explore of world mayonnaise and grill wrapping of
nuchlear
Industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia/
24 168 36.432
Chemical, and stuff of chemical wrapping
Industri karet, barang dari karet dan barang dari
25 204 55.420
plastik/ Rubber, stuff of rubber and stuff of bucket
Industri barang galian bukan logam/ Stuff quarry not
26 80 24.747
nugget
27 Industri logam dasar/ Intrinsic nugget 36 12.664

Banten Dalam Angka 2004 209


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Lanjutan
Continued

Kode Golongan Industri Perusahaan Tenaga Kerja


Code Industrial Group Company Man Power

(1) (2) (3) (4)


Industri barang dari logam, kecuali mesin dan
28 peralatannya/ Stuff of nugget, except machine and 160 23.589
tool
Industri mesin dan perlengkapannya/ Machine and
29 64 11.119
tools
Industri mesin dan peralatan kantor, akuntansi, dan
30 pengolahan data/ Machine and agency tools, 1 80
accounting and data processing
Industri mesin listrik lainnya, dan
31 perlengkapannya/ Other electric machine, and 46 15.121
tools
Industri radio, televisi, dan peralatan komunikasi,
32 serta perlengkapannya/ Radio, television, and 9 9.477
communication outfit, and tools
Industri peralatan kedokteran, alat-alat cukur,
peralatan navigasi, peralatan optik, jam dan
33 5 596
lonceng/ Doctoral outfit, shave tools, navigasi
outfit, optical outfit, clock and bell
34 Industri kendaraan bermotor/ Motor vehicle 26 4.361
Industri alat angkutan selin kendaraan bermotor
35 roda empat atau lebih/ Transport tools except 35 8.393
motor vehicle four wheel or dull
Industri furnitur dan industri pengolahan
36 125 24.660
lainnya/Furniture and other manufacture
37 Daur ulang/ Repeat cycle 4 123

Banten 1.576 499.303

2002 1.638 508.034

2001 1.664 503.841


Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 210


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Nilai Input, Output dan Nilai Tambah Industri


Menurut Golongan Industri di Banten
Tabel 6.1.4
Input, Output and Value Added of Manufacturing by
Table
Industrial Group in Banten
2004

Kode Input Output Nilai Tambah


Code Input Output Value Added (000 Rp)
(1) (2) (3) (4)
15 3.399.461.767 4.690.932.475 1.291.470.708
17 9.447.301.862 12.626.736.026 3.179.434.164
18 2.233.913.413 3.614.328.197 1.380.414.784
19 6.182.365.598 10.125.109.325 3.942.743.727
20 1.518.305.019 2.328.309.962 810.004.943
21 4.004.418.833 5.666.112.183 1.661.693.350
22 51.355.062 81.919.371 30.564.309
23 40.770.839 85.441.244 44.670.405
24 14.443.411.000 23.720.601.821 9.277.190.821
25 4.889.634.150 7.355.557.371 2.465.923.221
26 959.908.900 2.100.312.317 1.140.703.417
27 12.235.363.055 15.100.147.052 2.864.783.997
28 2.715.921.336 4.165.266.831 1.449.345.495
29 1.088.327.379 1.672.084.448 583.757.069
30 589.910 1.884.003 1.294.093
31 3.227.370.842 4.584.074.866 1.356.704.024
32 2.319.971.700 3.771.771.389 1.451.799.689
33 17.064.151 28.551.494 11.487.343
34 338.255.194 549.573.302 211.318.108
35 1.349.779.371 2.321.168.801 971.389.430
36 1.286.665.716 2.002.376.464 715.710.748
37 16.655.026 19.664.350 3.009.324
Banten 71.766.810.123 106.612.223.292 34.845.413.169
2002 102.968.840.951 133.270.893.031 30.302.052.080
2001 72.623.029.039 101.943.591.899 29.320.562.860
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 211


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Produksi Bahan Galian Gol C Pada Perusahaan


Pemegang SIPD di Banten
Tabel 6.2.1
Production of Quarrying Items on Companies
Table
Holding SIPD in Banten
2000-2004
Jenis Bahan Galian 2000 2001 2002 2003 2004
Quarrying Items (Ton) (Ton) (Ton) (m3) (Ton )
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Andesit 162.879 2000 486.219 253.159 42.441
2. Batu Kapur - - 7.200 - 30.198
3. Batu 35.560
4. Batu Sela 0
5. Batubara 20.031
6. Batu Split 1.792
7. Batu Belah 2.250 0
8. Bentonit - 2520 3.620 1.400
9. Diatome/Kieselguhr - - -
10. Feldspar 235.959 38500 38.500
11. Fospat - - -
12. Gipsum - - -
13. Kaolin - - - 0
14.Makadam 6.667 0
15. Marmer - - - 0
16. Pasir 5.400 9440 1.070.433 2.320
17. Pasir Kuarsa - - 48.017 1.927 40.875
18. Pasir Laut 338.500 0
19. Pasir Endapan 1.000.000
20. Pasir Sungai 3.100 66.246
21. Pasir Batu (Sirtu) 600 1000 8.640 0
22. Tanah Liat 2.938 - 12.960 0
23. Tanah Urug - - - 43.061 66.420
24. Trass - - - 0
25. Zeolit 560 7.200 7.096 930
26. Yarosit - - - 0
27. Tokesi 0
28. Breksi Tufaan 50.000
29..Perak (kg) 322 0
30. Emas (kg) - - 318.012 1.299 0
Jumlah/Total *) 408.336 60.600 1.682.685 338.847.516 1.754.595
Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Banten
Source : Minning and Energy Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 212


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Produksi Bahan Galian Golongan C Menurut


Kabupaten/Kotamadya di Banten
Tabel 6.2.2 Production of Classification C Quarrying Items by
Table Regency/Municipality in Banten
(Ton/ton)
2004

Produksi/ Persentase/
Kabupaten/Kota
Production Percentage
Regency/Municipality
(Ton/Ton) (%)
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 9.566 0,56

2. Lebak (kg) 158.514 9,23

3. Tangerang 870 0,05

4. Serang 1.509.545 87,91

Kota/Mun

5. Tangerang -

6. Cilegon 76.100 2,25

Banten 1.754.595 100,00

2003 1) 338.847.516 100,00


Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Banten
Source : Minning and Energy Official of Banten Province

*) Catatan/Notes : Satuan produksi tahun 2003 masih dalam M3 /


Production measurement at 2003 still in M3

Banten Dalam Angka 2004 213


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD)


dan Luas Wilayah Penambangan
Tabel 6.2.3 per Jenis Bahan Galian di Banten
Table Number of SIPD and Area by Kind of
Quarrying Items in Banten
2004

Luas Wilayah/Region Area


SIPD
Jenis Bahan Galian (Ha)
Quarrying Items Eksploitasi Eksplorasi Eksploitasi Eksplorasi
Exploitation Exploration Exploitation Exploration
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Andesit 8 - 8,89 -

2. Batu Belah 2 - 0,00 -

3. Batubara 5 - 0,00 -

4. Breksi Tuffan 1 - 0,50 -

5. Feldsfar 2 - 0,00 -

6. Pasir 11 - 17,30 -

7. Pasir Batu 1 - 1,10 -

8. Pasir Kuarsa 13 - 3,00 -

9. Pasir Putih 4 - 1,45 -

10. Pasir Sungai 4 - 0,03 -

11. Tanah Merah 2 - 0,71 -

12. Tanah Pasir 1 - 0,50 -

13. Tanah Urug 2 - 0,84 -

Jumlah/Total 56 - 34,32 -

Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Banten


Source : Minning and Energy Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 214


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Surat Izin Penambangan Daerah (SIPD) dan


Luas Wilayah di Banten Menurut
Tabel 6.2.4
Kabupaten/Kotamadya
Table
Number of SIPD and Area by Regency/Municipality
2004

Luas Wilayah/Region Area


SIPD
Kabupaten/Kota (Ha)
Regency/Municipality Eksploitasi Eksplorasi Eksploitasi Eksplorasi
Exploitation Exploration Exploitation Exploration
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 8 - 1,33 -

2. Lebak 26 - 4,45 -

3. Tangerang 10 - 18,40 -

4. Serang 7 - 7,04 -

Kota/Mun

5. Tangerang - - - -

6. Cilegon 5 - 4,10 -

Banten 56 - 34,32 -

2003 61 6 280,59 118,273

2002 70 1 204,53 3,00

Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Banten


Source : Minning and Energy Official of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 215


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Pelanggan, Daya Tersambung Dan Energi


Listrik Terjual Menurut Jenis Tarif di Banten
Tabel 6.3.1
Table Number of Customers, Connected Power and Sold
Electrical Energy by Classification of Tariff in Banten
2004

Pendapatan
Jumlah Energi Terjual
Daya Tersambung Penjualan
Klasifikasi Pelanggan Sold Electrical
Connected Power (Juta Rp)
Classification Number of Energy
(Kva) Income
Customer (Kwh)
(Juta Rp)
(1) (2) (3) (4) (5)

1.Sosial/Public 14.897 13.957 22.631.667 10.560

2. Rumah Tangga/
539.061 342.590 607.176.424 29.400
Household

3. Bisnis/Bussines 9633 67.161 105.295.612 73.633

4. Industri/Industry 433 901.818 4.751.842.155


2.387.326
5. Pemerintahan/
1.837 13.309 41.688.142 30.335
Government

Jumlah/Total 565.861 1.338.836 5.528.633.999 2.805.029

2003 533.782 1.296.962 4.623.429.966 2.255.115

2002 50.4717 1.271.185 4.614.959.400 1.848.456

2001 476.432 1.215.953 4.314.292.831 -

2000 444.924 1.169.058 4.271.219.435 -


Sumber : Perusahaan Listrik Negara Cabang Banten
Source : National Electricity Official of Banten

Banten Dalam Angka 2004 216


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Transformator Distribusi Terpasang di Banten


Tabel 6.3.2
Number of Distribution Transformator in Banten
Table
2000 - 2004

1-50 KVA 51-100 KVA 101-200 KVA


Tahun
Year
Unit Daya Unit Daya Unit Daya
Unit Power Unit Power Unit Power

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

2000 1.756 70.600 413 42.850 300 52.500

2001 1.809 - 444 44.400 305 -

2002 1.942 73.325 370 37.000 238 41.160

2003 1.861 73.150 426 42.400 309 53.430

2004 2.359 95.400 419 41.900 257 440.40

Banten Dalam Angka 2004 217


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Lanjutan
Continued

Jumlah
201-500 KVA >500 KVA
Total
Tahun
Year
Unit Daya Unit Daya Unit Daya
Unit Power Unit Power Unit Power

(1) (8) (9) (10) (11) (12) (13)

2000 172 50.345 9 5.670 2.650 221.965

2001 172 50.345 9 5.670 2.739 100.415

2002 147 48.845 98 60.760 2.793 271.360

2003 175 51.145 9 5.670 2.780 225.795

2004 56 50.050 22 17.170 31.113 248.560

Sumber : Perusahaan Listrik Negara Cabang Banten


Source : National Electricity Official of Banten

Banten Dalam Angka 2004 218


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Penyediaan, Penjualan Dan Susut Energi Listrik


di Banten
Tabel 6.3.3
Stocked, Sold and Lost of Energy in Banten
Table
2000 - 2004
(Kwh)

Tahun Energi Siap Jual Penjualan Susut


Year Energy Ready to Sell Sold Lost

(1) (2) (3) (4)

2000 4.440.325.434 4.271.219.435 169.105.999

2001 4.556.744.769 4.314.292.831 242.451.938

2002 4.904.286.199 4.615.968.996 288.317.203

2003 5.217.390.930 4.623.429.966 593.960.964

2004 5.800.620.674 5.542.904.418 257.716.256

Sumber : Perusahaan Listrik Negara Cabang Banten


Source : National Electricity Official of Banten

Banten Dalam Angka 2004 219


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Banyaknya Desa Berlistrik, Jumlah Langganan, dan


Daya Tersambung di Banten
Tabel 6.3.4
Number of Villages, Customer and Connected Power
Table
2000 - 2004
(Kwh)

Tahun Desa Berlistrik Jumlah Langganan Daya Tersambung


Year Electred Village Number of Customer Connected Power

(1) (2) (3) (4)

2000 988 444.924 1.169.058.225

2001 1.015 1.215.953.285


476.432

2002 1.032 504.717 1.271.185.343

2003 1.054 533.782 1.296.962.103

2004 1.158 565.861 5.528.633.999

Sumber : Perusahaan Listrik Negara Cabang Banten


Source : National Electricity Official of Banten

Banten Dalam Angka 2004 220


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Perusahaan Air Minum, Kapasitas Produksi


dan Produksi Air Minum Menurut Sumber Air yang
Dipakai di Banten
Tabel 6.3.5
Number of Water supply Enterprises Production
Table
Capacity Water Production by Water Resources in
Banten
2001 - 2004

Uraian
2003 2004*)
Description
(1) (4)
Jumlah Perusahaan
6 6
Number of water supply Enterprises
Jumlah Kapasitas Produksi Potensial
(liter/detik) - -
Number of Potential Production Capacity
Jumlah Kapasitas Produksi Efektif (litar/detik)
- -
Number of Potential Effective Production Capacity
3
Produksi Air (m )
179.926.675 194.044.436
Water Production

Sumber Air / Water Resources (m3) - -

Sungai / River 170.363.310 183.698.496

Danau / Lake - -

Mata Air / Springs 6.116.724 6.116.724

Artesis / Artesian 666.205 807.062

Lainnya / Others 2.780.436 3.422.154


Sumber : Survei PAM, BPS
Source : PAM Survey, BPS

Banten Dalam Angka 2004 221


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Pekerja Teknis dan Administrasi PAM


Menurut Pendidikan yang Ditamatkan di Banten
Tabel 6.3.6
Number of Technical and Administration Worker Water
Table
Supply Enterprise by Educational Attainment in Banten
2001 - 2004

Uraian
2003 2004*)
Description
(1) (4)
Jumlah Pekerja Teknik
502 502
Number of Technical Worker
SD
84 84
Primary School
SLTP
41 41
Junior High School
SLTA
298 298
Senior High School
Akademi
23 23
Bachelor Degree
Universitas
58 58
University Graduate

Jumlah Pekerja Administrasi


663 663
Number of Administration Worker
SD
69 69
Primary School
SLTP
91 91
Junior High School
SLTA
387 387
Senior High School
Akademi
31 31
Bachelor Degree
Universitas
85 85
University Graduate
Sumber : Survei PAM, BPS
Source : PAM Survey, BPS

Banten Dalam Angka 2004 222


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Pelanggan, Volume dan Nilai


Air Minum yang Didistribusikan
Tabel 6.3.7 Menurut Jenis Konsumen di Banten
Table Number of Water Customer, Volume, and Value
by type of Customer Group in Banten
2004 *)

Volume Nilai
Uraian Palanggan Volume Value
Description Water Customer
(m3) (000 Rp)
(1) (2) (3) (4)
Rumah Tangga
129.640 32.946.312 78.462.694
Household

Niaga / Perdagangan
4.224 1.897.673 6.086.511
Trading and Industry

Industri
521 29.946.585 78.900.615
Industry

Badan Sosial
1.388 5.328.352 2.704.991
Social Institution

Instansi Pemerintah
617 806.946 1.899.163
Government Institution

Lainnya (termasuk penyusutan)


280 123.118.568 102.782.351
Others ect.

Jumlah / Total 136.670 194.044.436 270.836.326

2003 139.093 152.288.952 204.969.359

Sumber : Survei PAM, BPS


Source : PAM Survey, BPS

Banten Dalam Angka 2004 223


Bab VI Industri, Penggalian dan Energi

Jumlah Pelanggan, Volume dan Nilai


Air Minum yang Didistribusikan
Tabel 6.3.8 Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Table Number of Water Customer, Volume, and Value
by Regency/Municipality in Banten
2004 *)

Kabupaten/Kota Pelanggan Volume Nilai


Regency/Municipality Water Customer Volume (m3) Value (000)

(1) (2) (3) (4)

Kab/Reg

1)
1. Pandeglang 7.109 2.847.311 2.171.373

2. Lebak 6530 6.337.000 4.365.396

3. Tangerang 87.768 131.119.000 168.782.033

1)
4. Serang 22.783 9.288.781 7.266.140

Kota/Mun

5. Tangerang 12.480 8.935.545 13.388.455

6. Cilegon - 35.516.799 74.862.929

Banten 136.670 194.044.436 270.836.326

Sumber : Survei PAM, BPS


Source : PAM Survey, BPS

Catatan /Note: 1) Menggunakan data tahun 2003/ Used Data at 2003

Banten Dalam Angka 2004 224


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

7.1 Perdagangan 7.1 Trade


Volume ekspor menurut pela
buhan penting di Banten yaitu di According to Merak and
pelabuhan Merak dan Cigading pa cigading p art’s data in 2004
da tahun 2004 mencapai total export’s valume r
eached
1.398.685,835 ton atau meningkat 1,398,685.835 ton or increased
sebesar 9,73 persen dibandingkan 9,73 percent compared to 2003
tahun 2003 dengan nilai ekspor withine xport’
sv ol
umer e
achedUs
sebesar US $ 816.604.112 atau $ 816,604,112 (Increased 51.78
meningkat 51,78 persen . %).
Sedangkan volume impor pada
tahun 2004 mencapai total
10.199.948,760 ton, naik sebesar In2 004,import
’sv olume
58,28 persen dari tahun reached 10,199,948.760 ton. It
sebelumnya dengan nilai impor increased 58,28 % compare to the
sebesar US $ 3.581.975.185 (naik year of 2003, with an US $
97,18 persen). 3,581 ,
97 5,
18 5 i mpor
t’s v olume
Pada tahun 2004 Propinsi (increased 97.18 %)
Banten mengalami defisit devisa
sebesar US $ 2.765.371.073 atau In 2004, our province had
terjadi peningkatan defisit sebesar a deficit of income (US $
116,28 persen dibanding tahun 2,765,371,073 or increased
sebelumnya yang defisit sebesar 116.28% compare to 2003, US
US $ 1.278.611.476. Defisit ini $1,278,611,476). This Deficit cased
diperkirakan disebabkan oleh export Banten Province by another
adanya ekspor Propinsi Banten Port not include in Banten Port
melalui Pelabuhan diluar with an US $3,488,803,609..
Pelabuhan Banten yang nilainya
sebesar $ 3.488.803.609. In2 004 e xport
’sv alue of
Selama tahun 2004 nilai Banten Province by mounth, high
ekspor Propinsi Banten value in August with an US $
berdasarkan bulan, nilai tertinggi 113,645,893 and low value in
terjadi pada Bulan Agustus sebesar February 2004 with an US $
US $ 113.645.893 dan nilai 10,366,739.
terendah terjadi di Bulan Pebruari
2004 dengan nilai US $ For impor t
’sv al
ue of Banten
10.366.739. Province in 2004, high value in
Untuk nilai impor Propinsi December with an US $
Banten tahun 2004, nilai tertinggi 445,481.781 and low value in
terjadi pada Bulan Desember January with an US $ 184,467,242.
sebesar US $ 445.481.781 dan nilai
impor terendah terjadi pada Bulan
Januari senilai US $ 184.467.242

Banten Dalam Angka 2004 227


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

7.2 Hotel Dan Pariwisata 7.2. Hotel and Tourism

Hotel Hotel

Jumlah hotel di Banten According the last


menurut kab./kota pada keadaan condition of our regency/city in
terakhir tahun 2004 tercatat seba 2004 the number of hotel in Banten
nyak 150 hotel. Jumlah hotel secara were 150 hotels. There was an
keseluruhan pada tahun 2004 improvement (0.67%) compare to
mengalami peningkatan sebesar 2003.In 2004, the number of room
0,67 persen dibandingkan dengan hotels increase 34 rooms (0.68%)
keadaan tahun 2003. Sedangkan There were an improvement in the
jumlah kamar pada tahun 2004 number of bed (0.81% or increase
sebanyak 5.070 buah kamar, 69 beds).
jumlah ini mengalami peningkatan
sebanyak 34 buah kamar atau 0,68
persen dibandingkan tahun The number of labour that
sebelumnya. Sedangkan jumlah majored in tourism vocational
tempat tidur mengalami kenaikan school a nd wor k
edi n Ba nten’s
sebesar 0,81 persen atau bertambah hotel were 965 people increased
sebanyak 69 tempat tidur. 418 people or 76.42% compare to
Jumlah tenaga kerja yang 2003.The others that had a
berpendidikan sekolah kejuruan different education increased 368
hotel/pariwisata yang tertampung people or 13.50 % compare to
di perusahaan perhotelan di Banten 2003.
pada tahun 2004 sebanyak 965
orang, jumlah ini mengalami In 2004, number of local guest
kenaikan sebanyak 418 orang atau decreased 6.19 %. and foreign
76,42 persen dibanding tahun 2003. tourist incresed 66.86 % compare
Seperti tenaga kerja yang to 2003.
berpendidikan kejuruan hotel/pa
riwisata, tenaga kerja yang ber
pendidikan non hotel/pariwisata
mengalami kenaikan sebesar 13,50
persen atau sebanyak 368 orang
dibandingkan tahun 2003.
Banyaknya tamu nusan
tara yang datang menginap di hotel
tahun 2004 mengalami penurunan
sebesar 6,19 persen.

Banten Dalam Angka 2004 228


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

dan tamu mancanegara yang datang In 2004, local guest used


menginap mengalami peningkatan to stay for 1.46 days (in 2003;1,41
66,86 persen dibandingkan dengan days) and foreign guest used to stay
keadaan tahun 2003. for 4.12 days (in 2003 ; 4.99 days)
Pada tahun 2004 secara
keseluruhan rata-rata lama mengi In 2004, there were 58.64
nap tamu nusantara relatif stabil % of room that used. Comparing to
yaitu 1,46 hari dan tamu 2003, it increased 4.91 %.
mancanegara menurun dari 4,99
hari menjadi 4,12 hari. In 2004, there were 57.78
Tingkat penghunian kamar % of bed that used, comparing to
hotel pada tahun 2004 secara 2003 it increased 1.39 %
keseluruhan mencapai 58,64 per
sen. Hal ini berarti rata-rata 58,64
persen dari seluruh kamar hotel
yang tersedia dipakai selama tahun
2004. Jika dibandingkan tahun
2003 terjadi peningkatan sebesar
4,91 persen.
Sedangkan tingkat pema
kaian tempat tidur secara keselu
ruhan pada tahun 2004 sebesar
57,78 persen. Berarti terjadi pening
katan sebesar 1,39 persen
dibanding dengan tahun 2003.

Pariwisata Tourism

Jumlah objek wisata di There are 134 objects of


propinsi Banten ada sebanyak 134 tourism in Banten (ex. Marina
objek diantaranya wisata Pantai be ach,“ wi sataTi r
ta”,“ Wi sata
Marina, Wisata Tirta, Wisata Se jarah /Si jaras” and Nat ural
Sijaras (sejarah) dan suaka alam. asylum). There were 1,404,611
Jumlah pengunjung tempat vicitors in 2004 we got Rp.
rekreasi/ taman hiburan tahun 2004 781, 027,250 f rom t he t ick et
’s
sebanyak 1.404.611 orang dengan payment.
nilai penjualan karcis sebesar
Rp. 781.027.250.

Banten Dalam Angka 2004 229


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Grafik 7.1. Volume Ekspor dan Impor di Pelabuhan Cigading dan


Merak Tahun 2003 -2004
(Juta Ton)

6000
Ekspor

5000 Impor

4000

3000

2000

1000

0
Cigading 2003 Merak 2003 Cigading 2004 Merak 2004

Grafik 7.2. Nilai Ekspor dan Impor di Pelabuhan Cigading dan


Merak Tahun 2003- 2004
(Juta USD)
3000

2500
Ekspor
2000 Impor

1500

1000

500

0
Cigading 2003 Merak 2003 Cigading 2004 Merak 2004

Banten Dalam Angka 2004 230


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Volume dan Nilai Ekspor Menurut Pelabuhan-


pelabuhan Utama di Propinsi Banten
Tabel 7.1.1
Volume and Value of Export by Principal Ports
Table
2004

Volume Nilai
Pelabuhan Utama Volume Value
Principal Port (Berat Bersih/ (Nilai FOB /
Net Weight : kg) FOB Value : US $)
(1) (2) (3)

Cigading 494.610.526 232.387.563

Merak 904.075.309 584.216.549

Jumlah / Total 1.398.685.835 816.604.112

2003 1.274.643.801 538.013.148

2002 1.094.823.340 403.794.871

2001 791.504.976 292.343.135

2000 1.274.508.601 478.484.506

Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 231


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Volume dan Nilai Impor Menurut Pelabuhan-


pelabuhan Utama di Banten
Tabel 7.1.2
Volume and Value of Import by Principal Ports
Table
2004

Volume Nilai
Pelabuhan Utama Volume Value
Principal Port (Berat Bersih/ (Nilai FOB /
Net Weight : kg) FOB Value : US $)
(1) (2) (3)

Cigading 4.997.682.301 1.063.404.572

Merak 5.202.266.459 2.518.570.613

Jumlah / Total 10.199.948.760 3.581.975.185

2003 6.444.234.866 1.816.624.624

2002 6.731.350.136 1.597.846.899

2001 5.304.444.706 1.295.245.060

2000 8.072.921.756 1.898.631.812

Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten


Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 232


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Ekspor dan Impor Melalui Pelabuhan


Tabel 7.1.3 di Banten Menurut Bulan
Table Export dan Import of Banten Province by Month
2004

Ekspor/Export Impor/Import
Bulan
Nilai/ Berat Bersih/ Nilai/
Month Berat Bersih/
Value FOB Net Weight Value FOB
Net Weight (Kg)
(US $) (Kg) (US $)
(1) (2) (3) (4) (5)
Januari / January 119.523.349 39.881.738 668.218.263 184.467.242

Pebruari/ February 14.105.784 10.366.739 686.148.468 214.486.823

Maret / March 35.468.282 18.746.352 806.513.859 221.657.166

April / April 69.356.350 31.374.026 704.816.225 279.770.562

Mei / May 112.858.938 63.882.959 630.438.896 262.206.385

Juni / June 139.570.107 76.008.448 1.052.857.939 326.416.618

Juli / July 115.018.959 67.286.815 840.706.384 307.680.964

Agustus / August 196.659.781 113.645.893 942.181.133 332.886.434

September / September 144.822.561 96.556.325 985.910.607 353.081.139

Oktober / October 173.908.058 103.060.609 702.115.427 288.985.040

Nopember / November 142.140.559 99.409.485 1.088.512.530 364.855.031

Desember / December 135.253.107 96.384.723 1.091.529.029 445.481.781

Jumlah
1.398.685.835 816.604.112 10.199.948.760 3.581.975.185
Total
2003 1.274.643.801 538.013.148 6.444.234.866 1.816.624.624
Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 233


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Ekspor Melalui Pelabuhan di Banten


Tabel 7.1.4 Menurut Negara Tujuan
Table Export from Banten Port by Destination
2004
Negara Tujuan Berat Bersih/ Nilai/
Destination Net Weight (Kg) Value FOB (US $)
(1) (2) (3)
Japan 65.196.860 50.397.585
Hong Kong 34.841.874 27.520.251
Korea, Republic Of 20.273.146 13.177.043
Taiwan, Province Of China 91.803.181 44.552.839
China 424.458.730 251.590.534
Thailand 136.474.569 94.135.851
Singapore 71.566.040 28.884.476
Philippines 25.677.551 9.683.226
Malaysia 321.207.881 155.851.665
Viet Nam 59.985.278 39.667.174
India 21.591.705 15.874.525
Pakistan 90.000 74.700
Bangladesh 53.306 250.833
Iraq 5.456.091 6.557.814
Saudi Arabia 612.462 401.260
Jordan 325.000 63.000
Yemen 499.800 354.858
Oman 44.364 197.200
United Arab Emirates 6.398.385 5.882.098
Qatar 290.726 1.087.159
South Africa 1.083.926 1.506.362
Australia 9.896.386 9.336.291
United States 34.199.689 22.085.580
Canada 21.316.907 12.766.413
Mexico 100.800 125.788
Brazil 201.600 254.439
Netherlands 301.709 227.974
France 700.000 463.050
Germany,Fed. Rep. Of 336.920 1.107.001
Belgium 18.309.983 9.182.059
Italy 24.361.626 12.653.891
Spain 40.320 49.617
Bulgaria 548.840 329.304
Ukraine 236.540 141.924
Malta 123.000 67.650
Slovenia 80.640 102.678
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 234


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Impor Melalui Pelabuhan di Banten


Tabel 7.1.5 Menurut Negara Asal
Table Import from Banten by Source
2004

Negara Asal Berat Bersih/ Nilai/


Source Net Weight (Kg) Value FOB (US $)
(1) (2) (3)
Japan 267.455.733 188.116.591
Hong Kong 3.576.690 2.861.289
Korea,Dem. Peop. Rep. 501.759 476.669
Korea, Republic Of 187.592.254 136.652.409
Taiwan, Province Of China 77.038.724 57.522.666
China 228.461.497 95.100.104
Thailand 438.176.805 197.597.614
Singapore 1.159.033.185 788.334.037
Philippines 1.978.776 568.152
Malaysia 349.650.350 250.804.308
Brunei Darussalam 2.000.000 193.390
Viet Nam 414.054 837.232
India 611.172.649 227.987.492
Pakistan 19.559 28.904
Sri Lanka 328 366
Tidak Ada 14.230 33.182
Iran,Islamic Rep. Of 107.169.558 60.985.048
Saudi Arabia 603.805.320 290.650.644
Kuwait 58.832.257 53.889.155
Turkey 37.688 30.665
United Arab Emirates 354.100.042 164.842.348
Bahrain 287.504.348 77.587.237
Tidak Ada 203.652 152.781
Egypt 61.756 19.936
Lybian A. Jamahiriya 43.298.636 12.166.916
Morocco 302 399
Tunisia 900.243 463.949
Liberia 2.325.929 1.965.410
Cameroon 642 500
Sierra Leone 15 20
U.S. Virgin Islands 128 92
South Africa 25.358.141 14.823.745
Australia 1.433.441.623 53.830.882
New Zealand 609.469 260.473
United States 967.180.407 352.546.341
Canada 150.573.715 19.259.489

Banten Dalam Angka 2004 235


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Lanjutan
Continued

Negara Asal Berat Bersih/ Nilai/


Source Net Weight (Kg) Value FOB (US $)
(1) (2) (3)
Mexico 15.082 22.469
Panama 27.313.280 10.386.558
Chile 961.833.000 58.583.985
Venezuela 25.307.082 7.339.121
Argentina 616.550.677 156.763.905
Brazil 736.943.171 114.669.474
Colombia 39 71
Ecuador 21 17
Antigua And Barbuda 310 377
Dominica 92 68
Netherlands Antilles 8.969 8.510
United Kingdom 177.057.570 56.929.521
Netherlands 58.735.493 21.994.254
France 5.023.528 1.875.714
Germany,Fed. Rep. Of 4.301.699 4.113.219
Austria 30.893 132.638
Belgium 13.918.557 6.281.406
Switzerland 7.138.592 6.464.399
Luxembourg 228 400
Monaco 50.218 47.145
Denmark 21.678 27.318
Sweden 2.336.990 1.197.769
Finland 45.435 29.951
Italy 14.546.685 8.985.925
Spain 69.536 68.544
Portugal 312.460 339.870
Hungary 58 108
Poland 29.222 57.533
Romania 3.489 4.371
Yugoslavia 15 10
Ukraine 135.836.864 52.649.862
Georgia 4 5
Slovakia 350 367
Slovenia 1.155 1.611
Czech Republic 72.262 68.618
Russian Federation 49.953.592 22.339.637
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 236


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Ekspor Melalui Pelabuhan di Propinsi Banten


Tabel 7.1.6 Menurut Komoditi
Table Export from Banten by Commodity
2004

Berat Bersih/ Nilai/


Komoditi
Kode/ Net Weight Value FOB
Commodity
Code (Kg) (US $)
(1) (2) (3) (4)
03 Ikan dan udang, binatang lunak dan binatang air yang 4.031.437 2.672.857
tidak bertulang belakang/ Fish and crustaceans,
molluscs, and other aquatic invertebrates
09 Kopi, teh, mate, dan rempah-rempah/ Coffee, tea, mate, 2.399.985 4.974.314
and spices
10 Gandum-ganduman/ Cereals 14.400.025 2.947.006
15 Minyak dan lemak, malam hewani/nabati/ Fats and 1.931.000 1.238.091
oils, animal or vegetable waxes
19 Olahan dari gandum-ganduman, tepung, pati atau susu, 525.000 78.750
produk industri kue/ Preparations of cereals, flour,
starch or milk, pastrycooks products
24 Tembakau / Tobacco 5.650 18.474
25 Garam, belerang, tanah, dan batu, plester, kapur dan 7.661.387 107.576
semen/ Salt, sulphur, earth and stone, plastering
materials, lime and cements
27 Bahan bakar mineral, minyak mineral dan produk 14.760.000 4.679.100
sulingnya, bahan mengandung bitumen, malam
mineral/ Mineral fuels, mineral oils and products of
their distillation, bitumenous substances, mineral
waxes.
28 Bahan kimia anorganik / Inorganic chemicals 71.923.721 16.650.829
29 Bahan kimia organik/ Organic chemicals 541.365.489 385.059.544
34 Sabun, preparat pencuci, preparat pelumas, malam 39.152 45.800
tiruan, lilin/ Soap, washing preparations, lubricating
preparations, artificial waxes, candles
38 Aneka produk kimia/ Miscellanous chemical products 39.274.712 34.545.320
39 Plastik dan barang dari plastik/ Plastics and articles 7.307.447 6.783.960
thereof
40 Karet dan baranag dari karet/ Rubber and articles 3.596.943 4.191.555
thereof
44 Kayu dan barang dari kayu, arang kayu/ Wood and 8.640.547 7.999.137
articles thereof
47 Pulp dari kayu/ kertas / Pulp of wood/ paper 966.223 310.205
48 Kertas, barang dari pulp kertas / Paper, articles of 223.311.829 143.013.097
paper pulp
60 Kain rajutan / Knitted fabrics 5.540 36.320

Banten Dalam Angka 2004 237


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Lanjutan
Continued

Berat Bersih/ Nilai/


Komoditi
Kode/ Net Weight Value FOB
Commodity
Code (Kg) (US $)
(1) (2) (3) (4)
61 Barang dan perlengkapan pakaian, rajutan atau kaitan/ 321 12.060
Articles of apparel and cloting accessories, knitted and
62 crocheted
Barang dan perlengkapan pakaian tidak dirajut/ 2.454 95.323
Articles of apparel and cloting accessories, not knitted
70 Kaca dan barang dari kaca/ Glass and glassware 2.118.186 569.448
72 Besi dan baja/ Iron and steel 439.185.383 189.475.780
73 Barang dari besi atau baja/ Articles of iron or steel 8.048.668 4.396.613
78 Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam/ Lead 50.678 26.454
and aricles thereof
84 Reaktor nuklir, ketel uap, mesin dan pesawat mekanik, 420.000 904.665
bagiannya/ Nuclear reactor, boilers, machinery and
mechanical appliances, parts thereof
85 Mesin dan alat listrik, serta bagiannya, pesawat 295.938 1.238.559
perekam/ reproduksi suara, gambar dan suara untuk
televisi, dan bagiannya/ Electrical machinery and
equipment and parts thereof, sound recorders and
reproducers, television image and sound recorders and
reproduers, and parts
89 Kapal, bahtera dan bangunan terapung/ Ship, boats, 6.339.920 4.445.570
and floating structure
90 Alat dan aparat optik, fotografi, sinematografi, ukur, 68 1.000
peneliti, presisi, kedokteran dan bedah, bagian dan
perlengkapannya/ Optical, photographic,
sinematographic, measuring, checking, precision,
medical or surgical instruments and apparatus, parts
and accessories thereof
94 Perabot rumah, kasur tempat tidur, lampu dan 78.132 86.705
perlengkapan penerangan, isyarat iluminasi, papan
nama iluminasi, bangunan prefabrikasi/ Furniture,
bedding, mattresses, mattress suports, cushions and
similar stuffed furnishings, lamps and lighting fittings
not elsewhere specified or included, illuminated sign,
illuminated name plates and the like, prefabricated
buildings

Jumlah/Total 1.398.685.835 816.604.112

Banten Dalam Angka 2004 238


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Jumlah Restoran dan Rumah Makan di Banten


Tabel 7.1.7
Number of Restaurant in Banten
Table
2004

Kabupaten/Kota Rumah Makan


Restoran/ Restaurant
Regency/Munivipality /Cafe
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 10 54

2. Lebak 5 6

3. Tangerang *) 31 61

4. Serang 19 69

Kota/Mun

5. Tangerang *) 59 134

6. Cilegon 28 13

Banten 152 337

2003 146 358

2002 138 322

2001 119 296


Sumber: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Propinsi Banten
Souce : Tourism, Art and Culture Official of Banten Province

*) Catatan/Notes : Menggunakan data tahun 2002 / Used data in year 2002

Banten Dalam Angka 2004 239


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Jumlah Desa Yang Mempunyai Pasar di Banten


Tabel 7.1.8
Number of Vilages Which Have Market in Banten
Table
2003

Pasar Pasar Tanpa


Bangunan Bangunan Pasar
Kabupaten/Kota Permanen / Permanen/ Hewan/
Regency/Munivipality With Not With Animal
Permanent Permanent Market
Building Building
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 25 24 4

2. Lebak 30 30 5

3. Tangerang 60 36 5

4. Serang 45 30 2

Kota/Mun

5. Tangerang 30 26 5

6. Cilegon 7 4 1

Banten 197 150 22


Sumber: Podes ST-03, BPS
Souce : Villages Potential 03, BPS

Banten Dalam Angka 2004 240


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Banyaknya Hotel Berbintang dan Tidak Berbintang


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 7.2.1
Number of Classified and Non Classified Hotel by
Table
Regency/Municipality in Banten
2004

Hotel Tidak
Kabupaten/ Kota Hotel Berbintang Jumlah
Berbintang
Regency/Municipality Classified Total
Non Classified
(1) (2) (3)
Kab/Reg

1. Pandeglang 8 38 46

2. Lebak - 19 19

3. Tangerang 1 2 3

4. Serang 15 23 38

Kota/Mun 0

5. Tangerang 5 17 22

6. Cilegon 6 16 22

Banten 35 115 150

2003 27 122 149

2002 27 114 141

2001 27 108 135


Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 241


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Banyaknya Hotel, Kamar dan Tempat Tidur


Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 7.2.2
Number of Hotel, Rooms and Beds of Hotel by
Table
Regency/Municipality in Banten
2004

Kabupaten/ Kota Hotel Kamar Tempat Tidur


Regency/Municipality Hotel Rooms Beds

(1) (2) (3) (4)


Kab/Reg

1. Pandeglang 46 1.423 2.374

2. Lebak 19 292 587

3. Tangerang 3 268 393

4. Serang 38 1.493 2.569

Kota/Mun

5. Tangerang 22 783 1.260

6. Cilegon 22 811 1.413

Banten 150 5.070 8.596

2003 149 5.036 8.527

2002 141 4.811 8.140

2001 135 4.816 8.127

2000 132 4.771 8.011


Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Banten
Source : BPS Statistics of Banten Province

Banten Dalam Angka 2004 242


Bab VII Perdagangan, Hotel dan Pariwisata

Banyaknya Tenaga Kerja Kejuruan dan Non


Kejuruan Hotel/Pariwisata pada Hotel
Menurut Kabupaten/Kota di Banten
Tabel 7.2.3
Number of Hotel/Tourism Educational Workers and
Table
Non of Hotel by Regency/Municipality in Banten
2004
(Orang/Person)

Kabupaten/ Kota Tenaga Kerja Kejuruan Tenaga Kerja Non Kejuruan


Regency/Municipality Educational Workers Non Educational Workers

(1) (2) (3)


Kab/Reg

1. Pandeglang 68 625

2. Lebak 6 117

3. Tangerang 336 55

4. Serang 216 939

Kota/Mun

5. Tangerang 243 863

6. Cilegon 96 494

Banten 965 3.093

2003 547 2.725

2002 542 2.677

2001 537 2.569