Anda di halaman 1dari 7

Leverage

Dalam leverage ada pengelompokan:


1. Menghitung Degree of Operating Leverage ratio
Muhammad Yunus Langko (2010), Degree of Operating Leverage (DOL) yaitu rasio
untuk mengukur seberapa besar modal pinjaman yang digunakan untuk menghasil
kan tingkat penjulan.

DOL = CM : EBIT

Dol dapat diartikan , jika volume penjualan berubah (naik/turun) sebesar n% maka
EBIT akan berubah searan sebesar m% x DOL. Jadi DOL menunjuk kan tingkat
sensitivitas volume penjualan terhadap laba operasinya.

2. Menghitung Degree of Financial Leverage (DFL)


Qasim saleem dan Muhammad Akram Naseem (2012) financial leverage yaitu rasio
untuk mengukur seberapa banyak penggunaan hutang untuk pembiayaan perusahaan.
Financial leverage mengakibatkan timbul nya risiko keuangan.

DFL = EBIT : EBT

3. Menghitung Degree of Combined Leverage


Qasim Saleem dan Muhammad Akram Naseem (2012) menjelaskan bahwa degree of
combine leverage memperlihat kan total risiko perusahan karena penggunaan
leverage bersamaan.

DCL = DOL x DFL

4. Menghitung Profitabilitas
Qasim Saleem dan Muhammad Akram Naseem (2012) profitabilitas merupakan hasil
akhir dari berbagai keputusan dan kebijakan yang di jalankan oleh perusahaan.
Analisis profitabilitas memberikan penilaian tentang efektivitas suatu perusahaan.

1
Laporan laba rugi:

Penjualan
Variable cost
Constribution margin
Fixed cost
EBIT
Interest
EBT
Tax
EAT

Rumus:

.................. Equation J.5

........... Equation J.6

............ Equation J 7

Dari hasil penelitian dapat lihat bahwa DOL memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap perubahan ROE, ROA dan EPS. Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Qasim Saleem dan Muhammad Akram Naseem (2012) pada perusahaan
minyak dan gas di Pakistan yang menghasilkan bahwa DOL memperikan pengaruh yang
signifikan terhadap perubahan nilai ROE, ROA dan EPS. Hasil ini diperkuat juga dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh S. Chandrakumarmangalam dan P. Govindasamy (2010)
pada perusahaan semen di India yang terlihat memiliki hasil yang sama yaitu DOL
memberikan pengaruh signifikan positif terhadap perubahan nilai EPS untuk beberapa
perusahaan. DOL tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROI, hasil ini memiliki
hasil yang sama dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Riska Aprillia (2009) pada
perusahaan PT. Mitra Muda Distribindo.

Untuk nilai DFL dapat dilihat bahwa DFL tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap perubahan ROE, ROI, ROA dan EPS. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang
sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Qasim Saleem dan Muhammad Akram
Naseem (2012) pada perusahaan minyak dan gas di Pakistan. Hasil yang sama juga
didapatkan dari pene litian Eunjo Yoon dan SooCheong Jang (2005) ketika meneliti
mengenai pengaruh financial leverage terhadap perubahan profitabilitas. Penelitian milik S.
Chandra kumarmangalam dan P. Govindasamy (2010) juga memperkuat hasil penelitian yang
menyatakan bahwa DFL tidak selalu berpengaruh pada perubahan nilai EPS.

2
Struktur Modal

Pengertian Struktur Modal

Struktur modal merupakan suatu ukuran keuangan antara utang jangka pendek, utang jangka panjang
dan modal sendiri dalam melakukan kegiatan perusahaan. Struktur modal dapat menjadi masalah yang
penting untuk perusahaan karena baik atau buruknya struktur modal akan berpengaruh langsung pada
posisi finansial perusahaan.

Menurut Halim (2007:78), Struktur modal adalah perimbangan jumlah hutang jangka pendek yang
bersifat tetap, hutang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa. Dalam teori struktur modal
dinyatakan mengenai apakah perubahan struktur modal berpengaruh atau tidak terhadap nilai
perusahaan, dengan asumsi keputusan investasi dan kebijakan dividen tidak berubah. Apabila ada
pengaruhnya, berarti struktur modal yang terbaik, tetapi jika tidak ada pengaruhnya, berarti tidak ada
struktur modal yang terbaik.

Komponen Struktur Modal

Menurut Riyanto (2008:227) komponen struktur modal tersusun atas modal asing dan modal sendiri,
berikut ini penjelasan lengkapnya.

Modal Asing

Modal asing atau utang merupakan modal yang asalnya dari luar perusahaan yang bersifat sementara
bekerja pada perusahaan dan untuk perusahaan yang terkait modal tersebut adalah hutang yang hingga
waktu yang harus dibayar kembali.

Pada saat pengambilan keputusan akan pemakaian utang ini harus dipertimbangkan besarnya biaya
tetap yang timbul dari utang dalam bentuk bunga yang akan menyebabkan semakin tingginya leverage
keuangan dan semakin tidak pastinya tingkat pengembalian untuk para pemegang saham biasa. Modal
asing atau utang bisa dibedakan menjadi tiga jenis yakni berikut ini:

 Utang Jangka Pendek (Short-term Debt)


Utang jangka pendek merupakan modal asing yang pengembalian waktunya paling lama
adalah satu tahun. Beberapa besar utang jangka pendek terdiri atas kredit perdagangan yakni
kredit yang dibutuhkan untuk bisa terselengaranya perusahaan.
 Utang Jangkah Menengah (Intermediate-term Debt)
Utang jangka menengah adalah utang yang jangka pengembalian waktunya lebih dari satu
tahun atau kurang dari 10 tahun. Utang jangka menengah dibagi menjadi dua yakni Term
Loan dan Leasing Term Loan adalah kredit usaha dengan umur lebihd ari satu tahun dan
kurang dari 10 tahun.
Leasing adalah suatu alat atau cara untuk memperoleh servis dari sebuah aktiva tetap yang
pada dasarnya merupakan sama seperti halnya jika kita melakukan penjualan obligasi untuk
memperoleh servis dan hak milik atas aktiva tersebut, yang membedakan pada leasing tidak
diikuti dengan hak milik.
 Utang Jangka Panjang (Long-term Debt)
Utang jangka panjang adalah utang yang jangka waktu pengembaliannya adalah panjang,
biasanya lebih dari 10 tahun. Bentuk utang jangka panjang diantaranya pinjaman obligasi dan

3
pinjamam hipotek. Pinjaman obligasi adalah pinjaman dalam jangka waktu yang panjang,
untuk debitur menerbitkan surat pengakuan utang yang memiliki nominal tertentu.Pinjaman
hipotek adlaah pinjaman jangka panjang yang mana pemberi uang (kreditor) diberikan hak
hipotek di sebuah barang tidak bergerak, supaya jika pihak debitur tidak memenuhi
kewajibannya, barang tersebut bisa dijual dan dari hasi penjualan itu bisa dipakai untuk
menutup tagihannya.

Modal Sendiri

Modal sendiri atau ekuitas adalah modal yang asalnya dari pemilik perusahana dan ditanam dalam
perusahaann dalam jangka waktu yang tidak menentu lamanya. Modal sendiri diharapkan tetap berada
dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak mempunyai batas, sedangkan modal pinjaman
mempunyai jatuh tempo. Dalam suatu perusahaan modal sendiri bisa dibedakan dalam beberapa jenis,
antara lain:

Modal Saham

Modal saham merupakan tanda bukti pengembalian bagian atau peserta dalam sebuah perusahaan.
Terdapat jenis-jenis dari saham yakni saham biasa (common stock), saham preferen (prefed stock),
saham kumulatif (cummulative prefered stock) dan lain sebagainya.

Cadangan

Cadangan yang dimaksud disini adalah sebagai cadangan yang dibuat dari perolehan keuntungan yang
didapat oleh perusahaan selama rentang waktu yang lalu atau dari tahun yang berjalan. Cadangan
yang masuk dalam modal sendiri diantaranya cadangan ekspansi, cadangan modal kerja, cadangan
selisih kurs, cadangan untuk menampung hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang tidak diduga
sebelumnya (cadangan umum)

Laba Ditahan

Keuntungan yang didapat oleh sebuah perusahaan bisa beberapanya dibayarkan sebagai dividen dan
beberapanya ditahan oleh perusahaan. Jika perusahaan menahan keuntungan tersebut telah dengan
tujuan tertentu, maka dibuatlah cadangan sebagaimana yang sudah diuraikan. Jika perusahaan belum
memiliki tujuan tertentu tentang pemakaian keuntungan tersebut, maka keuntungan tersebut adlaah
keuntungan yang ditahan.

Teori Struktur Modal

Teori dalam struktur modal antara lain:

4
Pecking Order Theory

Penelitian ini memakai teori yang berhubungan dengan struktur modal yakni pecking order theory
karena perusahan yang ingin berkembang harus memiliki modal yang diperoleh dari utang. Tetapi,
perusahaan tidak mudah untuk mendapatkan pinjaman, karena harus menganalisa terlebih dahulu
apakah memang sudah tepat untuk berhutang.

Pecking order theory adalah urutan sumber pendanaan dari internal (laba ditahan) dan eksternal
(penerbitan ekuitas baru) (Wibowo, 2013:26). Menurut Myers dan Majluf (dalam Purba, 2014:13)
memberikan pernyataan:
Teori pecking order memiliki dasar dari dua asumsi yang menonjol.

 Pertama: Para manajer lebih tahu prospek perusahaan mereka sendir dibanding dengan
investor luar.
 Kedua: Manajer bertindak dalam kepentingan terbaik pemegang saham yang ada.

Dengan kondisi diatas, perusahaan kadang-kadang akan melupakan positif proyek net present value
apabila menerima mereka memaksa perusahaan untuk mengeluarkan saham undervalued untuk
investor baru. Secara khusus, teori pecking order memberikan prediksi bahwa perusahaan lebih
memilih untuk memakai dana internal jika tersedia dan memilih hutang atas ekuitas pada saat
pembiayaan eksternal dibutuhkan.

Signalling Theory

Menurut Arifin (dalam Naibaho, 2013:12) memberikan pernyataan:


Teori ini tersusun dari asumsi adanya asymmetric information antara manajer dan pemegang saham.
Karena terdapat asymmetric information maka manajer harus berupaya memberi sinyal kepadan
investor. Sinyal tersebut harus dalam bentuk sesuatu yang bisa dipercaya dan tidak mudah ditiru atau
mahal untuk menirunya. Dalam kebijakan struktur modal, sinyal yang diberikan adalah dalam bentuk
digunakannya porsi hutang yang lebih besar pada perusahaan.

Hanya perusahaan yang benar-benar kuat yang sangat berani menanggung risiko mendapatkan
kesulitan keuangan pada saat porsi hutang perusahaan tinggi. Maka porsi hutang yang tinggi
digunakan manajer sebagai sinyal bahwa perusahaan mempunyai kinerja yang handal.

Trade-Off Theory

Menurut Brigham dan Houston (2001:34) Trade off theory dari leverage menberikan pernyataan
bahwa perusahaan melakukan penyeimbangan antara manfaat dari pendanaan dengan utang
(perlakuan pajak perseorangan yang menguntungkan dari suku bunga dan biaya kebangkrutan dengan
tinggi.

Kenyataan bahwa bunga adalah beban yang bisa dikurangi sudan membuat utang lebih murah
dibanding saham biasa atau saham preferen. Dapat disebut utang memberikan kegunaan perlindungan
pajak. Sehingga, pemakaian utang akan menjadikan meningkatnya porsi laba operasi perusahaan
(EBIT) yang mengalir pad investor.

Agency Theory

5
Agency theory atau teori keagenan dibangun sebagai usaha untuk menyelesaikan memahami dan
memecahkan masalah yang timbul jika ada ketidak lengkapan informasi ketika melakukan kontrak
(perikatan). Teori keagenan berhubungan dengan menyelesaikan dua masalah yang bisa saja terjadi
dalam hubungan keagenan.

Modigliani-Miller (MM)

Teori Modigliani dan Miller (teori MM) merupaka teori yang memiliki pandangan bahwa struktur
modal tidak relevan dan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Adapun faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah sebagai berikut:

Struktur Aset

Menurut Weston dan Brigham (2005:175), struktur aset adalah perimbangan atau perbandingan antara
aset tetap dan total aset. Pengertian lain struktur aset yaitu perbandingan antara jumlah saham yang
dimiliki orang dalam dengan jumlah saham yang dimiliki oleh investor.

Modal Kerja

Modal kerja atau working capital adalah suatu aset lancar yang dipakai dalam operasional perusahaan,
yang membutuhkan suatu pengelolaan yang baik dari manajer perusahaan.

Pertumbuhan Aktiva

Aktiva adalah harta yang ada pada perusahaan yang memiliki peran dalam operasi perusahaan seperti
kas, persediaan, aktiva tetap, aktiva yang tidak berwujud, dan lain sebagainya. Semakin besar aktiva
diharapkan semakin besar hasil operasional yang diperoleh oleh perusahaan.

Risiko

Risiko bisnis adalah penggambaran ketidakpastian yang dihadapi perusahaan dalam melakukan
aktivitas bisnisnya (Meidina, 2007:10).

Likuiditas

Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya,


seperti melunasi hutang yang telah jatuh tempo dalam jangka pendek. (Astuti, 2004:31)

Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan perusahanan yang memiliki saham yang besar, dan masing-masing
penambahan lembar sahamnya hanya mempengaruhi sebagian kecil pada kemungkinan hilang kontrol
dari pihak dominan kepada perusahaan yang terkait. (Riyanto, 2001:299)

Profitabilitas

6
Profitabilitas merupakan hasil akhir dari beberapa kebijakan dan keputusan yang diambil perusahaan
(Brighman dan Houston, 2006).

Norma dalam mengukur struktur modal al:

1. EPS (earning pershare) atau laba perlembar saham


EAT : Jumlah lembar saham beredar
2. Rentabilitas modal sendiri:
EAT : Modal sendiri

Norma bila saham dan hutang digunakan bersama-sama dalam mencapai EBIT yang sama ,
maka dicari inddiferent ponint :

IF = (EBIT-C1) (1-T) = (EBIT-C2) (1-T)


Lembar saham 1 lembar saham2