Anda di halaman 1dari 109

BAHAN KULIAH : 1 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 1

PENDAHULUAN

Fisika kuantum atau mekanika kuantum mempelajari gerak benda-benda kecil


seperti elektron, dan sebagainya. Beberapa ide dasar yang mendasari teori ini
adalah

a)Radiasi Benda Hitam ( Max Planck )

Benda hitam adalah benda yang dapat menyerap cahaya secara sempurna dan
dapat pula memancarkan cahaya tersebut dengan baik. Di dalam benda hitam,
atom-atom berkelakuan sebagai osilator harmonik dan masing-masing mempunyai
frekwensi tertentu 𝜐 . Energi-energi yang berkaitan dengan frekwensi-frekwensi ini
adalah 𝐸𝑛 = 𝑛 ℎ 𝜐 , dalam hal ini 𝑛 = 1,2,3, . .. , ℎ = 6,62𝑥10−34 𝐽. 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 adalah
konstanta Planck, dan 𝜐 adalah frekensi yang bersangkutan.

Atom di dalam benda hitam dapat menyerap ( absorbsi ) atau melepaskan


(emisi) radiasi elektromagnetik. Dalam proses-proses ini atom akan menambah atau
mengurangi energinya sebesar ℎ𝜐. Proses inilah yang dikenal sebagai radiasi benda
hitam.

b)Efek Foto Listrik ( Albert Einstein )

Efek foto listrik adalah peristiwa terlepasnya elektron dari permukaan suatu
bahan jika bahan tersebut disinari cahaya dengan frekwensi tertentu 𝜐 . Di sini
berlaku

𝐾 = ℎ 𝜐 − ℎ 𝜐0 .

Dalam hal ini 𝐾 adalah energi kinetik elektron yang terlepas, ℎ adalah konstanta
Planck, 𝜐 adalah frekwensi penyinaran, dan 𝜐0 adalah frekwensi ambang bahan.
Kuantitas ℎ 𝜐0 biasanya disebut energi ambang bahan. Jadi, efek foto listrik dapat
terjadi jika 𝐾 > 0 atau 𝜐 > 𝜐0 .

c)Efek Compton ( Arthur Holy Compton )

Jika cahaya dengan panjang gelombang 𝜆 datang dan menumbuk suatu


elektron, maka setelah tumbukan panjamg gelombang cahaya tersebut akan
berubah menjadi 𝜆′ . Hal ini dikenal sebagai efek Compton. Di sini berlaku

𝜆′ − 𝜆 = 𝜆𝐶 (1 − cos 𝜃 ) .

Dalam hal ini 𝜆′ adalah panjang gelombang cahaya terhambur, 𝜆 adalah panjang
gelombang cahaya datang, 𝜆𝐶 = 2,42𝑥10−12 𝑚 adalah panjang gelombang Compton
untuk elektron dan 𝜃 adalah sudut yang dibentuk oleh cahaya terhambur terhadap
bidang datar ( cahaya datang ).

d)Teori Bohr ( Niels Bohr )

Menurut Bohr atom mempunyai energi-energi yang diskrit. Keadaan-keadaan


yang berkaitan dengan energi-energi ini disebut keadaan stasioner. Dalam keadaan
stasioner berlaku
1 𝑒2
𝐸 = 𝐾 + 𝑉 = 2 𝑚𝑣 2 − 4𝜋𝜖 ( untuk atom Hidrogen ).
0𝑟

Berdasarkan syarat kemantapan orbit berlaku

|𝐹⃗𝑠 | = |𝐹⃗𝐶 |

𝑚𝑣 2 𝑒2
= 4𝜋𝜖 2
𝑟 0𝑟

𝑒2
𝑚𝑣 2 = 4𝜋𝜖
0𝑟

1 𝑒2
𝑚𝑣 2 = 8𝜋𝜖 .
2 0𝑟

Karena itu energi total menjadi


𝑒2 𝑒2 𝑒2
𝐸= − =−
8𝜋𝜖0 𝑟 4𝜋𝜖0 𝑟 8𝜋𝜖0 𝑟

atau
𝑒2
𝐸𝑛 = − 8𝜋𝜖
0 𝑟𝑛

atau
𝑒2
𝐸𝑛 = − 8𝜋𝜖 2
.
0 𝑎0 𝑛

Di sini telah dimasukkan bahwa 𝑟𝑛 = 𝑎0 𝑛2 , dalam hal ini 𝑎0 = 0,53𝑥10−10 𝑚 adalah


jari-jari Bohr untuk atom Hidrogen dan 𝑛 = 1,2,3, . .. .Selanjutnya dengan substitusi
𝐶2
𝑒 = 1,6𝑥10−19 𝐶 adalah muatan elektron, 𝜋 = 3,14 , 𝜖0 = 8,85𝑥10−12 adalah
𝑁𝑚2
permitivitas ruang hampa, dan 𝑎0 = 0,53𝑥10−10 𝑚 , serta melakukan konversi bahwa
1 𝑒𝑉 = 1,6𝑥10−19 𝐽 , dapat diperoleh
13,6
𝐸𝑛 = − 𝑒𝑉 .
𝑛2

Hasil ini menyatakan tingkat-tingkat energi dari atom Hidrogen. Walaupun hasil
diperoleh dengan cara semi-klasik tetapi ternyata memberikan hasil yang sama
dengan perhitungan kuantum melalui persamaan Schrodinger ( Lihat Bab 5 Atom
Hidrogen ). Karena itu Bohr sering disebut sebagai Bapak Teori Kuantum.

e)Dualisme Cahaya – Partikel ( Louis de Broglie )

Dualisme cahaya adalah sifat menduanya cahaya yaitu sebagai partikel dan
sebagai gelombang.

-Sebagai partikel : mempunyai momentum 𝑃 dan energi 𝐸

-Sebagai gelombang : mempunyai panjang gelombang 𝜆 dan frekwensi 𝜐 .

Diperoleh hubungan partikel – gelombang :



𝜆=𝑃

dan
𝐸
𝜐=ℎ .

Menurut de Broglie, tidak hanya cahaya yang mempunyai sifat dualisme, tetapi
partikel juga. Partikel juga mempunyai sifat gelombang. Suatu partikel yang
mempunyai momentum 𝑃 jika dikaitkan dengan sifat gelombang akan memenuhi
hubungan

𝜆= .
𝑃

Dalam hal ini 𝜆 adalah panjang gelombang de Broglie untuk partikel.

Dalam hal gelombang ( paket gelombang ) ada 2 macam kecepatan yang dapat
ditinjau yaitu kecepatan fase dan kecepatan grup.

-Kecepatan fase

Di dalam paket gelombang, masing-masing komponen paket gelombang akan


bergerak dengan kecepatan fase.
2
𝜔 2𝜋𝜐 𝐸ℎ 𝐸 (𝑃 ⁄2𝑚) 𝑃 1
𝑣𝑓 = = 2𝜋⁄ = 𝜐𝜆 = = = = = 𝑣
𝑘 𝜆 ℎ𝑃 𝑃 𝑃 2𝑚 2

( Bukan kecepatan yang diharapkan ).

-Kecepatan grup

Selubung paket gelombang akan bergerak dengan kecepatan grup.


𝑑𝜔 𝑑𝜔 𝑑𝐸 𝑑𝜔 𝑑𝐸 𝑑𝑃 1 𝑑𝐸 𝑑𝐸 𝑑 2 2𝑃 𝑃
𝑣𝑔 = = = ( ) = (ћ) (𝑑𝑃) (ћ) = 𝑑𝑃 = 𝑑𝑃 (𝑃 ⁄2𝑚) = 2𝑚 = 𝑚 = 𝑣
𝑑𝑘 𝑑𝐸 𝑑𝑘 𝑑𝐸 𝑑𝑃 𝑑𝑘

(Kecepatan yang diharapkan ).


Jadi jika partikel dikaitkan dengan paket gelombang maka kecepatannya adalah
kecepatan grup.

f)Prinsip Ketidakpastian Heisenberg ( Werner Heisenberg )

Adalah tidak mungkin untuk mengetahui secara eksak posisi dan momentum
pada suatu saat yang sama. Ini dikenal sebagai prinsip ketidakpastian Heisenberg.
Berlaku
ћ
∆𝑥 ∆𝑃𝑥 ≥ 2 .

Analog dengan posisi dan momentum, maka untuk waktu dan energi akan berlaku
ћ
∆𝑡 ∆𝐸 ≥ 2 .

Catatan :

Hasil-hasil ini dapat juga ditunjukkan dengan mudah melalui ketidakpastian


gelombang klasik ( Lihat kembali bahan kuliah Fisika Modern ).

--------------------

BAHAN KULIAH : 6 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 2

FUNGSI GELOMBANG DAN OPERATOR

1.Fungsi Gelombang

Karena sifat gelombang dari partikel, maka keadaan partikel dapat digambarkan
oleh fungsi gelombang. Misalkan 𝜓(𝑥) adalah fungsi gelombang partikel, maka
peluang untuk menemukan partikel dalam selang 𝑑𝑥 di sekitar 𝑥 adalah

𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 ,

dalam hal ini 𝜓 ∗ (𝑥) adalah konjugat kompleks dari 𝜓(𝑥) dan 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥) = |𝜓(𝑥)|2
disebut sebagai rapat peluang. Peluang total adalah

∫−∞ 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 1 . (+)

Ungkapan ∫−∞ 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 1 menyatakan normalisasi fungsi gelombang dan
𝜓(𝑥) adalah fungsi gelombang yang ternormalisasi. Jadi fungsi gelombang yang
ternormalisasi akan memenuhi persamaan (+).

Contoh :

Tentukan faktor normalisasi 𝑁 untuk fungsi-fungsi berikut :

a)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥 ; 0≤𝑥≤𝑎


𝑛𝜋
b)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥 ; 0≤𝑥≤𝑎 .
𝑎

Penyelesaian :

a)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥

Untuk kasus ini


𝑎
∫0 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 1
𝑎
∫0 (𝑁𝑒 −𝑖𝑘𝑥 )(𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥 )𝑑𝑥 = 1
𝑎
𝑁 2 ∫0 𝑒 0 𝑑𝑥 = 1
𝑎
𝑁 2 ∫0 𝑑𝑥 = 1

𝑁 2 (𝑎 − 0) = 1

𝑁2𝑎 = 1
1
𝑁2 = 𝑎

1
𝑁 = √𝑎 .

Jadi fungsi gelombangnya adalah

1
𝜓(𝑥) = √ 𝑒 𝑖𝑘𝑥 .
𝑎

𝑛𝜋
b)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥
𝑎

Untuk kasus ini


𝑎
∫0 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 1

𝑎 𝑛𝜋 𝑛𝜋
∫0 (𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑎
𝑥) (𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑎
𝑥) 𝑑𝑥 = 1
𝑎 𝑛𝜋
𝑁 2 ∫0 𝑠𝑖𝑛2 𝑥𝑑𝑥 = 1 .
𝑎

Dari trigonometri

𝑐𝑜𝑠2𝛼 = 𝑐𝑜𝑠 2 𝛼 − 𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = (1 − 𝑠𝑖𝑛2 𝛼) − 𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = 1 − 2𝑠𝑖𝑛2 𝛼

karena itu

2𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = 1 − 𝑐𝑜𝑠2𝛼

atau
1 1
𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = 2 − 2 𝑐𝑜𝑠2𝛼 .

Selanjutnya diperoleh
𝑎 1 1 2𝑛𝜋
𝑁 2 ∫0 (2 − 2 𝑐𝑜𝑠 𝑥) 𝑑𝑥 = 1
𝑎

1 𝑎 1 𝑎 2𝑛𝜋
𝑁 2 [2 ∫0 𝑑𝑥 − 2 ∫0 𝑐𝑜𝑠 𝑥𝑑𝑥] = 1
𝑎

1 1 𝑎
𝑁 2 [2 (𝑎 − 0) − 2 2𝑛𝜋 (𝑠𝑖𝑛2𝑛𝜋 − 𝑠𝑖𝑛0)] = 1

1 𝑎
𝑁 2 [2 𝑎 − 4𝑛𝜋 (0 − 0)] = 1

1
𝑁2 𝑎 = 1
2

2
𝑁2 = 𝑎

2
𝑁 = √𝑎 .

Jadi fungsi gelombangnya adalah

2 𝑛𝜋
𝜓(𝑥) = √𝑎 𝑠𝑖𝑛 𝑥 .
𝑎

2.Operator

Operator adalah suatu besaran matematis. Secara umum jika suatu operator
dioperasikan pada suatu fungsi akan berlaku

𝐴̂ 𝜓(𝑥) = 𝜙(𝑥) .

Dalam hal ini 𝐴̂ adalah suatu operator, 𝜙(𝑥) adalah fungsi awal, dan 𝜙(𝑥) adalah
fungsi akhir.

Contoh:
𝑑
Selesaikan operasi dari operator 𝑑𝑥 pada fungsi-fungsi berikut :

a)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥
𝑛𝜋
b)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥.
𝑎

Penyelesaian :

a)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥

Untuk kasus ini


𝑑 𝑑
𝜓(𝑥) = (𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥 ) = 𝑖𝑘 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥 .
𝑑𝑥 𝑑𝑥

𝑛𝜋
b)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥
𝑎

Untuk kasus ini


𝑑 𝑑 𝑛𝜋 𝑛𝜋 𝑛𝜋
𝜓(𝑥) = 𝑑𝑥 (𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥) = 𝑁𝑐𝑜𝑠 𝑥 .
𝑑𝑥 𝑎 𝑎 𝑎

Berkaitan dengan operator, ada beberapa hal penting yang dapat didiskusikan
yaitu

a)Persamaan Harga Eigen

Persamaan harga eigen atau persamaan karakteristik adalah suatu persamaan


khusus yang memenuhi

𝐴̂ 𝜓(𝑥) = 𝑎 𝜓(𝑥) .

Dalam hal ini 𝐴̂ adalah operator eigen, 𝜓(𝑥) adalah fungsi eigen, dan 𝑎 adalah harga
atau nilai eigen dari operator yang bersangkutan.

Contoh :
𝑑
Periksa apakah operator memenuhi persamaan harga eigen untuk fungsi-fungsi
𝑑𝑥
berikut. Jika ya tentukan juga harga eigennya.

a)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥
𝑛𝜋
b)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥.
𝑎

Penyelesaian :

a)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥
𝑑 𝑑
𝜓(𝑥) = 𝑑𝑥 (𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥 ) = 𝑖𝑘 𝑁𝑒 𝑖𝑘𝑥 .
𝑑𝑥
Memenuhi persamaan harga eigen. Harga eigennya adalah 𝑖𝑘 .
𝑛𝜋
b)𝜓(𝑥) = 𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥
𝑎

𝑑 𝑑 𝑛𝜋 𝑛𝜋 𝑛𝜋
𝜓(𝑥) = 𝑑𝑥 (𝑁𝑠𝑖𝑛 𝑥) = 𝑁𝑐𝑜𝑠 𝑥 .
𝑑𝑥 𝑎 𝑎 𝑎

Tidak memenuhi persamaan harga eigen.

b)Komutator

Jika dua operator 𝐴̂ dan 𝐵̂ dioperasikan satu sama lain maka secara umum
berlaku

𝐴̂𝐵̂ ≠ 𝐵̂ 𝐴̂

atau

𝐴̂𝐵̂ − 𝐵̂ 𝐴̂ ≠ 0 .

Ungkapan 𝐴̂𝐵̂ − 𝐵̂ 𝐴̂ disebut sebagai komutator dari operator 𝐴̂ dan 𝐵̂, dan diberi
simbol [𝐴̂ , 𝐵̂ ] . Jika [𝐴̂ , 𝐵̂ ] = 0 maka kedua operator disebut komut satu sama lain.

Contoh :

Tentukan komutator-komutator berikut untuk sembarang 𝜓(𝑥) .


𝑑
a)[𝑥 , 𝑑𝑥]

𝑑2
b)[𝑥 , 𝑑𝑥 2 ] .

Penyelesaian :
𝑑
a)[𝑥 , 𝑑𝑥]

𝑑 𝑑𝜓 𝑑 𝑑𝜓 𝑑𝜓
[𝑥 , 𝑑𝑥] 𝜓(𝑥) = 𝑥 𝑑𝑥 − 𝑑𝑥 (𝑥𝜓) = 𝑥 𝑑𝑥 − {𝜓 + 𝑥 𝑑𝑥 } = −𝜓 .

Karena itu diperoleh


𝑑
[x ,𝑑𝑥] = −1 .

𝑑2
b)[𝑥 , 𝑑𝑥 2 ]

𝑑2 𝑑2 𝜓 𝑑2 𝑑2𝜓 𝑑 𝑑 𝑑2𝜓 𝑑 𝑑𝜓
[𝑥 , ] 𝜓(𝑥) = 𝑥 − (𝑥𝜓) = 𝑥 − { (𝑥𝜓)} = 𝑥 − {𝜓 + 𝑥 }
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 𝑑𝑥
𝑑2 𝜓 𝑑𝜓 𝑑𝜓 𝑑2𝜓 𝑑𝜓
=𝑥 2 −{ + + 𝑥 2 } = −2 .
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
Karena itu diperoleh
𝑑2 𝑑
[𝑥 , 𝑑𝑥 2 ] = −2 𝑑𝑥 .

-------------------

BAHAN KULIAH : 8 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 2

FUNGSI GELOMBANG DAN OPERATOR

2.Operator ( Lanjutan ! )

c)Harga Ekspektasi

Harga ekspektasi atau harga rata-rata adalah harga atau nilai dari besaran fisis.
Harga ekspektasi dapat diperoleh atau diturunkan dari persamaan harga eigen.
Mulai dari

𝐴̂ 𝜓(𝑥) = 𝑎 𝜓(𝑥) .

Kalikan dari sebelah kiri kedua suku persamaan ini dengan 𝜓 ∗ (𝑥) dan diintegralkan,
diperoleh

∫ 𝜓 ∗ (𝑥) ̂𝐴 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝜓 ∗ (𝑥) 𝑎 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝑎 ∫ 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .

Berarti
∫ 𝜓∗ (𝑥)𝐴̂ 𝜓(𝑥)𝑑𝑥
< 𝐴̂ > = 𝑎 = .
∫ 𝜓∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥

Hasil ini menyatakan harga ekspektasi.

Untuk fungsi yang ternormalisasi, harga ekspektasi adalah

< 𝐴̂ > = 𝑎 = ∫ 𝜓 ∗ (𝑥)𝐴̂ 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .

3.Operator Fisis
Salah satu ide dasar dalam perpindahan dari teori klasik ke teori kuantum
adalah mengubah besaran fisis / kuantitas fisis menjadi operator fisis / operator
kuantum, karena itu akan terdapat operator-operator fisis / operator-operator
kuantum berikut.

-Posisi

𝑟̂ = (𝑥 , 𝑦 , 𝑧 )

-Momentum Linier

𝑃̂ = −𝑖ћ ∇

atau dalam masing-masing arah


𝜕
𝑃̂𝑥 = −𝑖ћ 𝜕𝑥

𝜕
𝑃̂𝑦 = −𝑖ћ 𝜕𝑦

𝜕
𝑃̂𝑧 = −𝑖ћ 𝜕𝑧

-Momentum Sudut

𝐿̂ = 𝑟̂ 𝑥 𝑃̂ = −𝑖ћ (𝑟̂ 𝑥 ∇)

atau dalam masing-masing arah


𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = −𝑖ћ (𝑦 𝜕𝑧 − 𝑧 𝜕𝑦)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = −𝑖ћ (𝑧 𝜕𝑥 − 𝑥 𝜕𝑧)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ (𝑥 𝜕𝑦 − 𝑦 𝜕𝑥)

-Energi Kinetik
2
̂ = − ћ ∇2
𝐾 2𝑚

-Energi Total
2
̂ = − ћ ∇2 + 𝑉 .
𝐻 2𝑚

Contoh : Berkaitan dengan komutator

Tentukan komutator-komutator berikut untuk sembarang 𝜓(𝑥).

a)[𝑥 , 𝑃̂𝑥 ]
b)[𝑃̂𝑥 , 𝑥] .

Penyelesaian :

a)[𝑥 , 𝑃̂𝑥 ]
𝑑 𝑑
[𝑥 , 𝑃̂𝑥 ]𝜓(𝑥) = [𝑥 , −𝑖ћ 𝑑𝑥] 𝜓(𝑥) = −𝑖ћ [𝑥 , 𝑑𝑥]𝜓(𝑥) .

Di sini
𝑑 𝑑𝜓 𝑑 𝑑𝜓 𝑑𝜓
[𝑥 , 𝑑𝑥] 𝜓(𝑥) = 𝑥 𝑑𝑥 − 𝑑𝑥 (𝑥𝜓) = 𝑥 𝑑𝑥 − {𝜓 + 𝑥 𝑑𝑥 } = −𝜓 .

Karena itu diperoleh

[𝑥 , 𝑃̂𝑥 ]𝜓(𝑥) = (−𝑖ћ)(−𝜓) = 𝑖ℎ𝜓 .

Atau

[𝑥 , 𝑃̂𝑥 ] = 𝑖ћ .

b)[𝑃̂𝑥 , 𝑥]
𝑑 𝑑
[𝑃̂𝑥 , 𝑥]𝜓(𝑥) = [−𝑖ћ 𝑑𝑥 , 𝑥] 𝜓(𝑥) = −𝑖ћ[𝑑𝑥 , 𝑥]𝜓(𝑥) .

Di sini
𝑑 𝑑 𝑑𝜓 𝑑𝜓 𝑑𝜓
[𝑑𝑥 , 𝑥] 𝜓(𝑥) = 𝑑𝑥 (𝑥𝜓) − 𝑥 𝑑𝑥 = {𝜓 + 𝑥 𝑑𝑥 } − 𝑥 𝑑𝑥 = 𝜓 .

Karena itu diperoleh

[𝑃̂𝑥 , 𝑥]𝜓(𝑥) = (−𝑖ћ)(𝜓) = −𝑖ћ𝜓 .

Atau

[𝑃̂𝑥 , 𝑥] = −𝑖ћ .

Contoh : Berkaitan dengan harga ekspektasi

2 𝑛𝜋
Tentukan harga ekspektasi energi kinetik pada fungsi 𝜓(𝑥) = √𝑎 𝑠𝑖𝑛 𝑥.
𝑎

Penyelesaian :

Harga ekspektasi

< 𝐴̂ > = ∫ 𝜓 ∗ (𝑥)𝐴̂ 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .

Harga ekspektasi energi kinetik


2
̂ > = ∫ 𝜓 ∗ (𝑥) (− ћ ∇2 ) 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .
<𝐾 2𝑚

Dalam hal ini


𝜕2 𝜕2 𝜕2
∇2 = 𝜕𝑥 2 + 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2

atau untuk kasus 1-dimensi arah-x dapat dituliskan


𝑑2
∇2 = 𝑑𝑥 2 .

Dengan ini maka harga ekspektasi energi kinetik pada kasus yang ditinjau menjadi
𝑎 ћ2 𝑑2 ћ2 𝑎 𝑑2
̂ > = ∫ 𝜓 ∗ (𝑥) (−
<𝐾 ) 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = (− 2𝑚) ∫0 𝜓 ∗ (𝑥) 𝑑𝑥 2 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .
0 2𝑚 𝑑𝑥 2

Selanjutnya

𝑑2 𝑑 𝑑𝜓 𝑑 𝑑 2 𝑛𝜋 𝑑 𝑛𝜋 2 𝑛𝜋
2
𝜓(𝑥) = { }= { (√ 𝑠𝑖𝑛 𝑥)} = {( ) (√ 𝑐𝑜𝑠 𝑥)}
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑎 𝑎 𝑑𝑥 𝑎 𝑎 𝑎

𝑛𝜋 𝑛𝜋 2 𝑛𝜋 𝑛𝜋 2 𝑛𝜋 𝑛𝜋
=( ) ( ) √ (−𝑠𝑖𝑛 𝑥) = −( )2 √ 𝑠𝑖𝑛 𝑥 = −( )2 𝜓(𝑥) .
𝑎 𝑎 𝑎 𝑎 𝑎 𝑎 𝑎 𝑎

Sebagai akibatnya diperoleh


2 2 2 2 2
̂ > = (− ћ ) {−(𝑛𝜋)2 } ∫𝑎 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = ( ћ )(𝑛𝜋)2 = 𝑛 𝜋 ћ2
<𝐾 .
2𝑚 𝑎 0 2𝑚 𝑎 2𝑚𝑎

-------------------

BAHAN KULIAH : 13 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 2

FUNGSI GELOMBANG DAN OPERATOR

4.Operator dalam Bentuk Matriks ( Untuk fungsi-fungsi basis yang ortogonal )


Telah didefinisikan persamaan harga eigen

𝐴̂ 𝜓𝑛 (𝑥) = 𝑎 𝜓𝑛 (𝑥) ,

dalam hal ini 𝐴̂ adalah operator eigen, 𝜓𝑛 (𝑥) adalah fungsi eigen, dan 𝑎 adalah
harga atau nilai eigen.

Dalam hal fungsi eigen 𝜓𝑛 (𝑥) adalah kombinasi linier dari fungsi-fungsi basis, akan
dipenuhi

𝜓𝑛 (𝑥) = ∑𝑖 𝑐𝑖 𝜙𝑖 (𝑥) ,

dalam hal ini 𝑐𝑖 adalah koefisien kombinasi linier dan 𝜙𝑖 adalah fungsi-fungsi basis.
Dengan ini maka persamaan harga eigen menjadi

∑𝑖 𝑐𝑖 𝐴̂ 𝜙𝑖 (𝑥) = ∑𝑖 𝑐𝑖 𝑎 𝜙𝑖 .

Selanjutnya kalikan dari sebelah kiri kedua suku persamaan ini dengan 𝜙𝑗∗ (𝑥) dan
diintegralkan, diperoleh

∑𝑖 𝑐𝑖 ∫ 𝜙𝑗∗ (𝑥) 𝐴̂ 𝜙𝑖 (𝑥)𝑑𝑥 = ∑𝑖 𝑐𝑖 𝑎 ∫ 𝜙𝑗∗ (𝑥) 𝜙𝑖 (𝑥)𝑑𝑥 .

Di sini ∫ 𝜙𝑗∗ (𝑥) 𝐴̂ 𝜙𝑖 (𝑥)𝑑𝑥 = 𝐴̂𝑗𝑖 disebut sebagai elemen matriks dari operator 𝐴̂ .
Untuk fungsi-fungsi basis yang ortogonal berlaku

∫ 𝜙𝑗∗ (𝑥) 𝜙𝑖 (𝑥)𝑑𝑥 = 𝛿𝑗𝑖 .

Dengan demikian diperoleh

∑𝑖 𝑐𝑖 𝐴̂𝑗𝑖 = ∑𝑖 𝑐𝑖 𝑎 𝛿𝑗𝑖

atau

∑𝑖( 𝐴̂𝑗𝑖 − 𝑎 𝛿𝑗𝑖 ) 𝑐𝑖 = 0 . (*)

Dengan substitusi 𝑗 = 1, 𝑗 = 2, 𝑗 = 3, . . . , 𝑗 = 𝑁 akan diperoleh 𝑁 persamaan linier.

(𝐴11 − 𝑎)𝑐1 + 𝐴12 𝑐2 +. . . +𝐴1𝑁 𝑐𝑁 = 0

𝐴21 𝑐1 + (𝐴22 − 𝑎)𝑐2 + . . . +𝐴2𝑁 𝑐𝑁 = 0

𝐴𝑁1 𝑐1 + 𝐴𝑁2 𝑐2 + . . . +(𝐴𝑁𝑁 − 𝑎)𝑐𝑁 = 0 .

Persamaan-persamaan linier ini selanjutnya dapat diungkapkan dalam bentuk


matriks yaitu

𝐴11 − 𝑎 𝐴12 ... 𝐴1𝑁 𝑐1


( 𝐴. 21 𝐴22 − 𝑎 ... 𝐴2𝑁 ) ( 𝑐2 ) = 0 . (∗∗)
.. ... ... ... .
𝐴𝑁1 𝐴𝑁2 𝐴
. . . 𝑁𝑁 − 𝑎 𝑐 𝑁
Hasil ini disebut sebagai persamaan sekuler.

Solusi non-trivial dari persamaan sekuler ini adalah

𝐴11 − 𝑎 𝐴12 . . . 𝐴1𝑁


| 𝐴. 21
..
𝐴22 − 𝑎
...
. . . 𝐴2𝑁 | = 0
... ... , (+)
𝐴𝑁1 𝐴𝑁2 . . . 𝐴𝑁𝑁 − 𝑎

yang disebut sebagai determinan sekuler.

Dengan menyelesaikan persamaan (+) atau determinan sekuler akan diperoleh


harga-harga eigen bagi operator yang bersangkutan. Selanjutnya substitusi kembali
hasil-hasil ini ke persamaan (∗∗) atau persamaan sekuler dan ditambah syarat
normalisasi ( syarat kuantum ) akan diperoleh fungsi-fungsi eigennya.

Contoh :

2 1
Matriks dari suatu operator adalah 𝐴̂ = ( ) . Tentukan harga-harga eigen dan
1 2
fungsi-fungsi eigen dari operator ini.

Penyelesaian :

Mulai dari determinan sekuler

2−𝑎 1
| |=0
1 2−𝑎
(2 − 𝑎)(2 − 𝑎) − 1 . 1 = 0

(4 − 2𝑎 − 2𝑎 + 𝑎2 ) − 1 = 0

𝑎2 − 4𝑎 + 3 = 0

(𝑎 − 1)(𝑎 − 3) = 0 .

Karena itu

(𝑎 − 1) = 0 → 𝑎 = 1

atau

(𝑎 − 3) = 0 → 𝑎 = 3 .

Hasil-hasil ini disebut harga-harga eigen.

Fungsi-fungsi eigen

Harga eigen :

𝑎1 = 1
Persamaan sekulernya adalah

2−1 1 𝑐1
( ) (𝑐 ) = 0
1 2−1 2

1 1 𝑐1
( )( ) = 0
1 1 𝑐2
𝑐1 + 𝑐2 = 0 → 𝑐2 = −𝑐1 .

Syarat normalisasi :

𝑐12 + 𝑐22 = 1

𝑐12 + (−𝑐1 )2 = 1

𝑐12 + 𝑐12 = 1

2𝑐12 = 1
1
𝑐12 = 2

1
𝑐1 = .
√2

1
Karena itu 𝑐2 = − .
√2

Maka fungsi eigennya adalah


1 1 1
𝜓1 = 𝑐1 𝜙1 + 𝑐2 𝜙2 = 𝜙1 − 𝜙2 = (𝜙1 − 𝜙2 ) .
√2 √2 √2

Harga eigen :

𝑎2 = 3

Persamaan sekulernya adalah

2−3 1 𝑐1
( ) (𝑐 ) = 0
1 2−3 2

−1 1 𝑐1
( ) (𝑐 ) = 0
1 −1 2

−𝑐1 + 𝑐2 = 0 → 𝑐2 = 𝑐1 .

Syarat normalisasi :

𝑐12 + 𝑐22 = 1

𝑐12 + (𝑐1 )2 = 1

𝑐12 + 𝑐12 = 1
2𝑐12 = 1
1
𝑐12 = 2

1
𝑐1 = .
√2

1
Karena itu 𝑐2 = .
√2

Maka fungsi eigennya adalah


1 1 1
𝜓2 = 𝑐1 𝜙1 + 𝑐2 𝜙2 = 𝜙1 + 𝜙2 = (𝜙1 + 𝜙2 ) .
√2 √2 √2

5.Persamaan Schrodinger

Secara umum fungsi gelombang merupakan fungsi dari variabel ruang dan
variabel waktu. Untuk keadaan stasioner, fungsi gelombang hanya fungsi dari
variabel ruang saja, karena itu akan memenuhi persamaan harga eigen.

𝐴̂ 𝜓 = 𝑎 𝜓 .

Untuk energi total dipenuhi


2
̂𝜓=𝐸𝜓
𝐻 ̂ = − ћ ∇2 + 𝑉 .
; 𝐻 2𝑚

Berarti diperoleh
ћ2
(− 2𝑚 ∇2 + 𝑉) 𝜓 = 𝐸 𝜓

ћ2
− 2𝑚 ∇2 𝜓 + (𝑉 − 𝐸) 𝜓 = 0

atau
2𝑚
∇2 𝜓 + (𝐸 − 𝑉) 𝜓 = 0 .
ћ2

Hasil ini disebut persamaan Schrodinger tak bergantung waktu atau persamaan
Schrodinger. Persamaan Schrodinger ini pada dasarnya merupakan persamaan
diferensial orde-2 yang dapat diselesaikan jika diketahui energi potensial 𝑉 dan
syarat batasnya.

---------------------
BAHAN KULIAH : 15 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 2

FUNGSI GELOMBANG DAN OPERATOR

6.Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

Suatu fungsi gelombang partikel yang mempunyai energi yang tetap dapat
dikaitkan dengan frekwensi yang tetap. Karena itu fungsi gelombang secara umum
akan memenuhi
−𝑖𝐸𝑡⁄
𝜓(𝑥, 𝑡) = 𝜓(𝑥) 𝑒 ћ .

Turunan pertama terhadap waktu pada fungsi gelombang ini adalah


𝜕 −𝑖𝐸 −𝑖𝐸𝑡⁄ 𝐸 −𝑖𝐸𝑡⁄ 𝐸
𝜓(𝑥, 𝑡) = 𝜓(𝑥)𝑒 ћ = 𝜓(𝑥)𝑒 ћ = 𝜓(𝑥, 𝑡)
𝜕𝑡 ћ 𝑖ћ 𝑖ћ

atau
𝜕𝜓(𝑥,𝑡)
𝑖ћ = 𝐸 𝜓(𝑥, 𝑡) . (∗)
𝜕𝑡

Suku kanan persamaan (∗) dapat diuraikan lebih lanjut lagi.


−𝑖𝐸𝑡⁄
𝐸 𝜓(𝑥, 𝑡) = 𝐸 𝜓(𝑥) 𝑒 ћ .

Berdasarkan persamaan harga eigen berlaku

̂ 𝜓(𝑥) = 𝐸 𝜓(𝑥)
𝐻

karena itu diperoleh

̂ 𝜓(𝑥) 𝑒 −𝑖𝐸𝑡⁄ћ = 𝐻
𝐸 𝜓(𝑥, 𝑡) = 𝐻 ̂ 𝜓(𝑥, 𝑡) .

Kembali ke persamaan (∗) diperoleh


𝜕𝜓(𝑥,𝑡)
̂ 𝜓(𝑥, 𝑡) = 𝑖ћ
𝐻 .
𝜕𝑡

Hasil ini disebut persamaan Schrodinger bergantung waktu.


7.Persamaan Gerak Heisenberg

Telah didefinisikan harga rata-rata bagi suatu fungsi gelombang sebagai



< 𝐴̂ > = ∫−∞ 𝜓 ∗ (𝑥) 𝐴̂ 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .

Pada kenyataannya harga rata-rata ini dapat diperlakukan pada fungsi gelombang
secara umum dan memenuhi

< 𝐴̂ > = ∫−∞ 𝜓 ∗ (𝑥, 𝑡) 𝐴̂ 𝜓(𝑥, 𝑡)𝑑𝑥 .

Variasi terhadap waktu pada harga rata-rata ini memberikan

𝑑 < 𝐴̂ > 𝜕𝜓 ∗ 𝜕𝐴̂ 𝜕𝜓


= ∫{ 𝐴̂ 𝜓 + 𝜓 ∗ 𝜓 + 𝜓 ∗ 𝐴̂ } 𝑑𝑥
𝑑𝑡 𝜕𝑡 𝜕𝑡 𝜕𝑡
𝜕𝐴̂ ∗ ̂
𝜕𝜓 𝜕𝜓 ∗
= ∫{ 𝜓 ∗
𝜓+𝜓 𝐴 + 𝐴̂ 𝜓 } 𝑑𝑥 .
𝜕𝑡 𝜕𝑡 𝜕𝑡

Berdasarkan persamaan Schrodinger bergantung waktu berlaku


𝜕𝜓
̂ 𝜓 = 𝑖ћ
𝐻 𝜕𝑡

karena itu diperoleh


𝜕𝜓 1
̂𝜓
= 𝑖ћ 𝐻
𝑑𝑡

dan
𝜕𝜓∗ 1
̂ 𝜓)∗ .
= −𝑖ћ (𝐻
𝜕𝑡

Dengan demikian diperoleh


𝑑<𝐴̂> 𝜕𝐴̂ 1 1
= ∫{ 𝜓 ∗ 𝜕𝑡 𝜓 + 𝑖ћ 𝜓 ∗ 𝐴̂𝐻
̂ 𝜓 − (𝐻̂ 𝜓)∗ 𝐴̂𝜓 }𝑑𝑥 .
𝑑𝑡 𝑖ћ

Di sisi lain, berdasarkan sifat Hermitian berlaku

̂ 𝜓)∗ 𝜓𝑑𝑥 = ∫ 𝜓 ∗ 𝐻
∫(𝐻 ̂ 𝜓𝑑𝑥

karena itu diperoleh

𝑑 < 𝐴̂ > 𝜕𝐴̂ 1 1


= ∫ { 𝜓∗ 𝜓 + 𝜓 ∗ 𝐴̂𝐻 ̂𝜓 − 𝜓∗𝐻 ̂ 𝐴̂𝜓 } 𝑑𝑥
𝑑𝑡 𝜕𝑡 𝑖ћ 𝑖ћ
𝜕𝐴̂ 1
= ∫ { 𝜓∗ 𝜓 + 𝜓 ∗ (𝐴̂𝐻̂−𝐻 ̂ 𝐴̂)𝜓} 𝑑𝑥
𝜕𝑡 𝑖ћ
𝜕𝐴̂ 1
= ∫ { 𝜓∗ 𝜓 + 𝜓 ∗ [𝐴̂, 𝐻
̂ ]𝜓} 𝑑𝑥
𝜕𝑡 𝑖ћ
atau
𝑑<𝐴̂> 𝜕𝐴̂ 1
= ∫ 𝜓∗ { + 𝑖ћ [𝐴̂, 𝐻
̂ ] } 𝜓 𝑑𝑥 . (1)
𝑑𝑡 𝜕𝑡

Di sisi lain berlaku

𝑑<𝐴̂> ̂ ̂
𝜓 𝑑𝑥 = ∫ 𝜓 ∗ 𝐴̂̇ 𝜓 𝑑𝑥 .
𝑑𝐴 𝑑𝐴
=< > = ∫ 𝜓∗ (2)
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡

Dari persamaan (1) dan persamaan (2) diperoleh


𝜕𝐴̂
𝐴̂̇ = 𝜕𝑡 + 𝑖ћ [𝐴̂, 𝐻
1
̂] . (+)

𝜕𝐴̂
Dalam hal ini 𝐴̂̇ adalah operator turunan dan adalah turunan parsial terhadap
𝜕𝑡
waktu dari suatu operator. Persamaan (+) menyatakan persamaan gerak suatu
operator dan disebut persamaan gerak Heisenberg.

Contoh :

Untuk suatu partikel yang bergerak di sepanjang sumbu-x, operator posisi dan
operator momentum adalah tidak bergantung pada waktu secara eksplisit. Tentukan
operator turunan mereka berdasarkan persamaan gerak Heisenberg.

Penyelesaian :

a)Operator turunan posisi

Untuk operator turunan posisi berlaku


𝜕𝑥̂ 1
𝑥̇̂ = 𝜕𝑡 + 𝑖ћ [𝑥̂, 𝐻
̂] .

Karena operator ini tidak bergantung pada waktu secara eksplisit, selanjutnya
diperoleh
1
𝑥̇̂ = 𝑖ћ [𝑥̂, 𝐻
̂] .

Dalam hal ini


2 2 2 2
̂ ]𝜓(𝑥) = [𝑥, − ћ 𝑑 2 + 𝑉] 𝜓(𝑥) = − ћ [𝑥, 𝑑 2 ] 𝜓 + [𝑥, 𝑉]𝜓 .
[𝑥̂, 𝐻 2𝑚 𝑑𝑥 2𝑚 𝑑𝑥

Selanjutnya

Suku pertama :

𝑑2 𝑑2𝜓 𝑑2 𝑑2𝜓 𝑑 𝑑 𝑑2𝜓 𝑑 𝑑𝜓


[𝑥, 2 ] 𝜓 = 𝑥 2 − 2 (𝑥𝜓) = 𝑥 2 − { (𝑥𝜓} = 𝑥 2 − {𝜓 + 𝑥 }
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
2 2 2 2
𝑑 𝜓 𝑑𝜓 𝑑𝜓 𝑑 𝜓 𝑑 𝜓 𝑑𝜓 𝑑 𝜓 𝑑𝜓
=𝑥 2 −{ +( + 𝑥 2 )} = 𝑥 2 − {2 + 𝑥 2 } = −2 .
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
Suku kedua :

[𝑥, 𝑉]𝜓 = 𝑥𝑉𝜓 − 𝑉𝑥𝜓 = 0 .

Karena itu
2 2
̂ ]𝜓(𝑥) = (− ћ ) (−2 𝑑𝜓) + 0 = ћ
[𝑥̂, 𝐻
𝑑𝜓
2𝑚 𝑑𝑥 𝑚 𝑑𝑥

atau
ћ2 𝑑
̂] =
[𝑥̂, 𝐻 .
𝑚 𝑑𝑥

Maka diperoleh
1 ћ 𝑑 2 1 ћ 𝑑 1 𝑑 1
𝑥̇̂ = 𝑖ћ ( 𝑚 𝑑𝑥 ) = 𝑚 ( 𝑖 𝑑𝑥) = 𝑚 (−𝑖ћ 𝑑𝑥) = 𝑚 𝑃̂𝑥 = 𝑣̂𝑥 .

Jadi operator turunan posisi adalah operator kecepatan.

b)Operator turunan momentum

Untuk operator turunan momentum berlaku


𝜕𝑃̂
𝑃̂𝑥̇ = 𝜕𝑡𝑥 + 𝑖ℎ [𝑃̂𝑥 , 𝐻
1
̂] .

Karena operator ini tidak bergantung pada waktu secara eksplisit, selanjutnya
diperoleh

𝑃̂𝑥̇ = 𝑖ћ [𝑃̂𝑥 , 𝐻
1
̂] .

Dalam hal ini

𝑑 ћ2 𝑑 2
[𝑃̂𝑥 , 𝐻
̂ ]𝜓(𝑥) = [−𝑖ћ ,− + 𝑉] 𝜓(𝑥)
𝑑𝑥 2𝑚 𝑑𝑥 2
ћ2 𝑑 𝑑2 𝑑
= (−𝑖ћ) (− ) [ , 2 ] 𝜓 + (−𝑖ћ) [ , 𝑉] 𝜓
2𝑚 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
3 2
𝑖ћ 𝑑 𝑑 𝑑
= ( ) [ , 2 ] 𝜓 − 𝑖ћ [ , 𝑉] 𝜓 .
2𝑚 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥

Selanjutnya

Suku pertama :

𝑑 𝑑2 𝑑 𝑑2𝜓 𝑑2 𝑑𝜓 𝑑 3 𝜓 𝑑 𝑑 𝑑𝜓 𝑑3𝜓 𝑑 𝑑2𝜓


[ , 2] 𝜓 = ( 2) − 2 ( ) = − { ( )} = − ( )
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 3 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 3 𝑑𝑥 𝑑𝑥 2
𝑑3 𝜓 𝑑3𝜓
= − =0 .
𝑑𝑥 3 𝑑𝑥 3
Suku kedua :
𝑑 𝑑 𝑑𝜓 𝑑𝑉 𝑑𝜓 𝑑𝜓 𝑑𝑉
[𝑑𝑥 , 𝑉] 𝜓 = 𝑑𝑥 (𝑉𝜓) − 𝑉 𝑑𝑥 = {𝑑𝑥 𝜓 + 𝑉 𝑑𝑥 } − 𝑉 𝑑𝑥 = 𝜓 .
𝑑𝑥

Karena itu
3
̂ ]𝜓(𝑥) = (𝑖ћ ) (0) − 𝑖ћ (𝑑𝑉 𝜓) = −𝑖ћ 𝑑𝑉 𝜓
[𝑃̂𝑥 , 𝐻 2𝑚 𝑑𝑥 𝑑𝑥

atau

̂ ] = −𝑖ћ 𝑑𝑉 .
[𝑃̂𝑥 , 𝐻 𝑑𝑥

Maka diperoleh

𝑃̂𝑥̇ = 𝑖ћ (−𝑖ћ 𝑑𝑥 ) = − 𝑑𝑥 = 𝐹̂𝑥 .


1 𝑑𝑉 𝑑𝑉

Jadi operator turunan momentum adalah operator gaya.

------------------

BAHAN KULIAH : 20 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 3
APLIKASI PERSAMAAN SCHRODINGER

1.Sumur Potensial Tak Berhingga

Andaikan partikel / elektron terperangkap dalam sumur potensial tak berhingga


dengan keadaan berikut :

𝑉=0 ; 0<𝑥<𝑎

𝑉=∞ ; 𝑥≤0 𝑑𝑎𝑛 𝑥 ≥ 𝑎 .

Akan ditentukan energi dan fungsi gelombangnya.

-Untuk 𝑥 ≤ 0 𝑑𝑎𝑛 𝑥 ≥ 𝑎 ∶ 𝑉=∞

Karena 𝑉 = ∞ maka tidak ada peluang bagi partikel untuk masuk ke daerah
sebelah kiri 𝑥 = 0 dan sebelah kanan 𝑥 = 𝑎 . Berarti

𝜓 ∗ (𝑥) 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 0

karena itu diperoleh

𝜓(𝑥) = 0 .

-Untuk 0 < 𝑥 < 𝑎 ∶ 𝑉=0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓 2𝑚
+ 𝐸𝜓 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓 2𝑚𝐸
+ 𝑘2𝜓 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

karena itu solusi adalah

𝜓(𝑥) = 𝐴 𝑠𝑖𝑛𝑘𝑥 + 𝐵 𝑐𝑜𝑠𝑘𝑥 .

Konstanta-konstanta 𝐴 dan 𝐵 ditentukan berdasarkan syarat batas di 𝑥 = 0 dan di


𝑥=𝑎.

Pada 𝑥 = 0

0 = 𝐴 𝑠𝑖𝑛𝑘0 + 𝐵 𝑐𝑜𝑠𝑘0 → 𝐵=0

Solusi menjadi

𝜓(𝑥) = 𝐴 𝑠𝑖𝑛𝑘𝑥 .

Pada 𝑥 = 𝑎

0 = 𝐴 𝑠𝑖𝑛𝑘𝑎
0 = 𝑠𝑖𝑛𝑘𝑎

Selanjutnya diperoleh

sin 𝑛𝜋 = 𝑠𝑖𝑛𝑘𝑎

𝑛𝜋 = 𝑘𝑎

atau
𝑛𝜋
𝑘= ; 𝑛 = 1,2,3, . ..
𝑎

Maka diperoleh
𝑛𝜋
𝜓(𝑥) = 𝐴 𝑠𝑖𝑛 𝑥 .
𝑎

Energi

Berdasarkan hasil sebelumnya


2𝑚𝐸
𝑘2 = ћ2

karena itu
𝑛𝜋 2 2
𝑘 2 ћ2 (
𝑎
) ћ 𝑛2 𝜋 2 ћ2
𝐸= = =
2𝑚 2𝑚 2𝑚𝑎2

atau dalam bentuk yang lebih lengkap


𝑛2 𝜋 2 ћ2
𝐸𝑛 = .
2𝑚𝑎2

Fungsi Gelombang

Telah diperoleh fungsi gelombang dalam bentuk


𝑛𝜋
𝜓(𝑥) = 𝐴 𝑠𝑖𝑛 𝑥 .
𝑎

Dengan bentuk ini maka konstanta 𝐴 dapat disebut sebagai faktor normalisasi.
Faktor normalisasi 𝐴 ditentukan berdasarkan syarat normalisasi. Untuk kasus ini
akan dipenuhi
𝑎
∫0 𝜓 ∗ (𝑥)𝜓(𝑥)𝑑𝑥 = 1 .

Selanjutnya diperoleh
𝑎 𝑛𝜋
𝐴2 ∫0 𝑠𝑖𝑛2 𝑥𝑑𝑥 = 1 .
𝑎

Integral seperti ini lebih mudah diselesaikan dengan bantuan trigonometri. Dari
trigonometri diketahui
cos 2𝛼 = 𝑐𝑜𝑠 2 𝛼 − 𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = (1 − 𝑠𝑖𝑛2 𝛼) − 𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = 1 − 2𝑠𝑖𝑛2 𝛼

berarti

2𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = 1 − 𝑐𝑜𝑠2𝛼

atau
1 1
𝑠𝑖𝑛2 𝛼 = 2 − 2 𝑐𝑜𝑠2𝛼 .

Dari sini diperoleh


𝑎 1 1 2𝑛𝜋
𝐴2 ∫0 { 2 − 2 𝑐𝑜𝑠 𝑥 } 𝑑𝑥 = 1
𝑎

1 𝑎 1 𝑎 2𝑛𝜋
𝐴2 {2 ∫0 𝑑𝑥 − 2 ∫0 𝑐𝑜𝑠 𝑥𝑑𝑥 } = 1
𝑎

1 1 𝑎 2𝑛𝜋 2𝑛𝜋
𝐴2 { 2 (𝑎 − 0) − 2 2𝑛𝜋 (𝑠𝑖𝑛 𝑎 − 𝑠𝑖𝑛 0)} = 1
𝑎 𝑎

1 𝑎
𝐴2 { 2 𝑎 − 4𝑛𝜋 (0 − 0)} = 1

1
𝐴2 { 2 𝑎 − 0 } = 1

1
𝐴2 2 𝑎 = 1

2
𝐴2 = 𝑎

2
𝐴 = √𝑎 .

Jadi fungsi gelombangnya adalah

2 𝑛𝜋
𝜓𝑛 (𝑥) = √𝑎 𝑠𝑖𝑛 𝑥 .
𝑎

Catatan :

Kasus sumur potensial tak berhingga 1-dimensi dapat diperluas untuk 3-dimensi dan
hasilnya dikenal sebagai kasus partikel dalam kotak. Karena itu ada 2 keadaan yang
dapat ditinjau.

a)Partikel dalam kotak berbentuk balok dengan sisi-sisi 𝑎, 𝑏, 𝑑𝑎𝑛 𝑐

Diperoleh :

-Energi
2
𝜋 2 ћ2 𝑛2 𝑛𝑦 𝑛2
𝐸𝑛𝑥 𝑛𝑦 𝑛𝑧 = (𝑎𝑥2 + 𝑏2 + 𝑐 2𝑧 ) .
2𝑚
-Fungsi Gelombang

2 𝑛𝑥 𝜋 2 𝑛𝑦 𝜋 2 𝑛𝑧 𝜋
𝜓𝑛𝑥 𝑛𝑦 𝑛𝑧 = √𝑎 𝑠𝑖𝑛 𝑥 √𝑏 𝑠𝑖𝑛 𝑦 √𝑐 𝑠𝑖𝑛 𝑧 .
𝑎 𝑏 𝑐

b)Partikel dalam kotak berbentuk kubus dengan sisi-sisi 𝑎

Diperoleh :

-Energi
2
𝜋 2 ћ2 𝑛2 𝑛𝑦 𝑛2 𝜋 2 ћ2
𝐸𝑛𝑥 𝑛𝑦 𝑛𝑧 = (𝑎𝑥2 + 𝑎2 + 𝑎𝑧2 ) = 2𝑚𝑎2 (𝑛𝑥2 + 𝑛𝑦2 + 𝑛𝑧2 ) .
2𝑚

-Fungsi Gelombang

2 𝑛𝑥 𝜋 𝑛𝑦 𝜋 𝑛𝑧 𝜋
𝜓𝑛𝑥 𝑛𝑦 𝑛𝑧 = (√𝑎)3 𝑠𝑖𝑛 𝑥 𝑠𝑖𝑛 𝑦 𝑠𝑖𝑛 𝑧 .
𝑎 𝑎 𝑎

--------------------

BAHAN KULIAH : 22 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 3

APLIKASI PERSAMAAN SCHRODINGER

2.Step Potensial ( Potensial Tangga )

Misalkan partikel / elektron datang dari x-negatif menuju x-positif. Pada 𝑥 = 0


partikel mengalami potensial 𝑉 = 𝑉0 . Ini dikenal sebagai kasus step potensial atau
potensial tangga. Untuk kasus ini dipenuhi

Daerah I : 𝑉 = 0 ; 𝑥<0
Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 𝑥 ≥ 0 .

Secara umum, untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan potensial berhingga (𝑉 =


𝑉0 ) , penyelesaian harus dilakukan untuk 2 keadaan yang berbeda yaitu pada 𝐸 < 𝑉0
dan 𝐸 > 𝑉0 .

𝑬 < 𝑽𝟎

Daerah I : 𝑉 = 0 ; 𝑥<0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓1 2𝑚
+ 𝐸𝜓1 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓1 2𝑚𝐸
+ 𝑘 2 𝜓1 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :

𝜓1 = 𝐴 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .

Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 𝑥≥0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓2 2𝑚
+ (𝐸 − 𝑉0 )𝜓2 = 0 .
𝑑𝑥 2 ћ2

Perkenalkan kuantitas positif


2𝑚
𝛼2 = (𝑉0 − 𝐸) .
ћ2

Karena itu diperoleh


𝑑2 𝜓2
− 𝛼 2 𝜓2 = 0 .
𝑑𝑥 2

Solusi :

𝜓2 = 𝐶 𝑒 −𝛼𝑥 + 𝐷 𝑒 𝛼𝑥 .

Solusi yang diterima ( Karena adanya penurunan amplitudo gelombang ) adalah

𝜓2 = 𝐶 𝑒 −𝛼𝑥 .

Hubungan antara konstanta-konstanta 𝐴, 𝐵, 𝑑𝑎𝑛 𝐶 dapat ditentukan berdasarkan


syarat kontinuitas di 𝑥 = 0 .

𝜓1 = 𝜓2 → 𝐴+𝐵 =𝐶
𝑑𝜓1 𝑑𝜓2
= → 𝑖𝑘𝐴 − 𝑖𝑘𝐵 = −𝛼𝐶 .
𝑑𝑥 𝑑𝑥
Selanjutnya diperoleh

𝛼𝐴 + 𝛼𝐵 = 𝛼𝐶

𝑖𝑘𝐴 − 𝑖𝑘𝐵 = −𝛼𝐶

_____________ +

𝐴(𝑖𝑘 + 𝛼) − 𝐵(𝑖𝑘 − 𝛼) = 0 .

Maka
𝑖𝑘+𝛼
𝐵 = 𝑖𝑘−𝛼 𝐴

𝑖𝑘−𝛼 𝑖𝑘+𝛼 2𝑖𝑘


𝐶 = 𝐴 + 𝐵 = 𝑖𝑘−𝛼 𝐴 + 𝑖𝑘−𝛼 𝐴 = 𝑖𝑘−𝛼 𝐴 .

Sebagai akibatnya, fungsi-fungsi gelombangnya adalah


𝑖𝑘+𝛼
𝜓1 = 𝐴 (𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝑖𝑘−𝛼 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 )

2𝑖𝑘
𝜓2 = 𝑖𝑘−𝛼 𝐴 𝑒 −𝛼𝑥 .

𝑬 > 𝑽𝟎

Daerah I : 𝑉 = 0 ; 𝑥 < 0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓1 2𝑚
+ 𝐸𝜓1 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓1 2𝑚𝐸
+ 𝑘 2 𝜓1 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :

𝜓1 = 𝐴 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .

Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 𝑥 ≥ 0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓2 2𝑚
+ (𝐸 − 𝑉0 )𝜓2 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓2 2 2 2𝑚
+ 𝑘 ′ 𝜓2 = 0 ; 𝑘′ = (𝐸 − 𝑉0 )
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :
′𝑥 ′𝑥
𝜓2 = 𝐶 𝑒 𝑖𝑘 + 𝐷 𝑒 −𝑖𝑘 .
Solusi yang diterima ( Karena tidak adanya penurunan amplitudo gelombang )
adalah
′𝑥
𝜓2 = 𝐶 𝑒 𝑖𝑘 .

Hubungan antara konstanta-konstanta 𝐴, 𝐵, 𝑑𝑎𝑛 𝐶 dapat ditentukan berdasarkan


syarat kontinuitas di 𝑥 = 0 .

𝜓1 = 𝜓2 → 𝐴+𝐵 =𝐶
𝑑𝜓1 𝑑𝜓2
= → 𝑖𝑘𝐴 − 𝑖𝑘𝐵 = 𝑖𝑘 ′ 𝐶 .
𝑑𝑥 𝑑𝑥

Selanjutnya diperoleh

−𝑖𝑘 ′ 𝐴 − 𝑖𝑘 ′ 𝐵 = −𝑖𝑘 ′ 𝐶

𝑖𝑘𝐴 − 𝑖𝑘𝐵 = 𝑖𝑘 ′ 𝐶

________________ +

𝐴(𝑖𝑘 − 𝑖𝑘 ′ ) − 𝐵(𝑖𝑘 + 𝑖𝑘 ′ ) = 0 .

Maka
𝑖𝑘−𝑖𝑘 ′
𝐵 = 𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝐴

𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝑖𝑘−𝑖𝑘 ′ 2𝑖𝑘


𝐶 = 𝐴 + 𝐵 = 𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝐴 + 𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝐴 = 𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝐴 .

Sebagai akibatnya, fungsi-fungsi gelombangnya adalah


𝑖𝑘−𝑖𝑘 ′
𝜓1 = 𝐴 (𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 )

2𝑖𝑘 ′𝑥
𝜓2 = 𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ 𝐴 𝑒 𝑖𝑘 .

Contoh :

Untuk step potensial ( kasus 𝐸 > 𝑉0 ) tunjukkan bahwa berlaku

𝑅+𝑇 =1 ,

dalam hal ini 𝑅 adalah koefisien refleksi / pantul dan T adalah koefisien transmisi.

Penyelesaian :

-Koefisien refleksi
2
𝑓𝑙𝑢𝑘𝑠 𝑝𝑎𝑛𝑡𝑢𝑙 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 . 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑝𝑎𝑛𝑡𝑢𝑙 𝑣 |𝐵|2 (𝑖𝑘−𝑖𝑘 ′ ) 𝑘 2 −2𝑘𝑘 ′ +𝑘 ′
𝑅 = 𝑓𝑙𝑢𝑘𝑠 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 = 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 . = 𝑣|𝐴|2
= | (𝑖𝑘+𝑖𝑘 ′ ) |2 = 2 .
𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑘 2 +2𝑘𝑘 ′ +𝑘 ′
-Koefisien transmisi

𝑃 2
𝑓𝑙𝑢𝑘𝑠 𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑠𝑖 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 . 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑠𝑖 𝑣 ′ |𝐶|2 ( ⁄𝑚) |𝐶|
𝑇= = = =
𝑓𝑙𝑢𝑘𝑠 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 . 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑣|𝐴|2 (𝑃⁄𝑚)|𝐴|2
𝑃′ |𝐶|2 𝑘 ′ ћ |𝐶|2 𝑘 ′ |𝐶|2 𝑘 ′ 2𝑖𝑘 2
𝑘′ 4𝑘 2
= = = = |( )| = ( 2 )
𝑃 |𝐴|2 𝑘ћ |𝐴|2 𝑘 |𝐴|2 𝑘 𝑖𝑘 + 𝑖𝑘 ′ 𝑘 𝑘 + 2𝑘𝑘 ′ + 𝑘 ′2
4𝑘𝑘 ′
= 2 2 .
𝑘 + 2𝑘𝑘 ′ + 𝑘 ′
-Sebagai akibatnya diperoleh
2 2
𝑘 2 −2𝑘𝑘 ′ +𝑘 ′ 4𝑘𝑘 ′ 𝑘 2 +2𝑘𝑘 ′ +𝑘 ′
𝑅+𝑇 =( ′2
)+( ′2
)= 2 =1 .
𝑘 2 +2𝑘𝑘 ′ +𝑘 𝑘 2 +2𝑘𝑘 ′ +𝑘 𝑘 2 +2𝑘𝑘 ′ +𝑘 ′

Jadi hasil adalah seperti yang diharapkan ( 𝑅 + 𝑇 = 1) .

---------------------

BAHAN KULIAH : 27 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 3

APLIKASI PERSAMAAN SCHRODINGER

3.Barrier Potensial ( Potensial Penghalang )

Misalkan partikel / elektron datang dari x-negatif menuju x-positif dan mengalami
potensial dengan keadaan-keadaan berikut :

Daerah I : 𝑉 = 0 ; 𝑥<0

Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 0≤𝑥≤𝑎

Daerah III : 𝑉 = 0 ; 𝑥>𝑎 .

Ini dikenal sebagai kasus barrier potensial atau potensial penghalang.

Akan ditentukan energi dan fungsi gelombangnya untuk 𝐸 < 𝑉0 𝑑𝑎𝑛 𝐸 > 𝑉0 .

𝑬 < 𝑽𝟎

Daerah I : 𝑉 = 0 ; 𝑥<0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓1 2𝑚
+ 𝐸𝜓1 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓1 2𝑚𝐸
+ 𝑘 2 𝜓1 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :

𝜓1 = 𝐴 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .

Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 0≤𝑥≤𝑎

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓2 2𝑚
+ (𝐸 − 𝑉0 )𝜓2 = 0 .
𝑑𝑥 2 ћ2

Perkenalkan kuantitas positif


2𝑚
𝛼2 = (𝑉0 − 𝐸) .
ћ2

Karena itu diperoleh


𝑑2 𝜓2
− 𝛼 2 𝜓2 = 0 .
𝑑𝑥 2

Solusi :

𝜓2 = 𝐶 𝑒 −𝛼𝑥 + 𝐷𝑒 𝛼𝑥 .

Daerah III : 𝑉 = 0 ; 𝑥>𝑎

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓3 2𝑚
+ 𝐸𝜓3 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓3 2𝑚𝐸
+ 𝑘 2 𝜓3 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :

𝜓3 = 𝐺 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐻 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .

Solusi yang diterima ( Karena tidak adanya penurunan amplitudo gelombang )


adalah

𝜓3 = 𝐺 𝑒 𝑖𝑘𝑥 .

Dari hasil ini jelas terlihat bahwa 𝜓3 ≠ 0 . Secara kuantum, walaupun 𝐸 < 𝑉0 partikel
masih mempunyai peluang untuk menerobos penghalang. Efek di mana partikel
mempunyai peluang untuk menerobos penghalang disebut efek terobosan ( the
tunnelling effect ).
𝑬 > 𝑽𝟎

Daerah I : 𝑉 = 0 ; 𝑥<0

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓1 2𝑚
+ 𝐸𝜓1 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓1 2𝑚𝐸
+ 𝑘 2 𝜓1 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :

𝜓1 = 𝐴 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .

Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 0≤𝑥≤𝑎

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓2 2𝑚
+ (𝐸 − 𝑉0 )𝜓2 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓2 2 2 2𝑚
+ 𝑘 ′ 𝜓2 = 0 ; 𝑘′ = (𝐸 − 𝑉0 )
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :
′𝑥 ′𝑥
𝜓2 = 𝐶 𝑒 𝑖𝑘 + 𝐷 𝑒 −𝑖𝑘 .

Daerah III : 𝑉 = 0 ; 𝑥>𝑎

Persamaan Schrodinger
𝑑2 𝜓3 2𝑚
+ 𝐸𝜓3 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

𝑑2 𝜓3 2𝑚𝐸
+ 𝑘 2 𝜓3 = 0 ; 𝑘2 =
𝑑𝑥 2 ћ2

Solusi :

𝜓3 = 𝐺 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐻 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .

Solusi yang diterima ( Karena tidak adanya penurunan amplitudo gelombang )


adalah

𝜓3 = 𝐺 𝑒 𝑖𝑘𝑥 .

Catatan :

Kasus-kasus yang telah ditinjau ini secara umum dikenal sebagai kasus potensial
persegi. Selanjutnya akan diberikan beberapa contoh sederhana berkaitan dengan
hal ini.
Contoh :

Andaikan partikel / elektron terperangkap dalam sumur potensial berhingga dengan


keadaan-keadaan berikut :

Daerah I : 𝑉 = 𝑉0 ; 𝑥≤0

Daerah II : 𝑉 = 0 ; 0<𝑥<𝑎

Daerah III : 𝑉 = 𝑉0 ; 𝑥≥𝑎 .

Untuk kasus ini, tuliskan fungsi-fungsi gelombangnya.

Penyelesaian :

Diperoleh

𝜓1 = 𝐴 𝑒 −𝛼|𝑥|

𝜓2 = 𝐶 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐷 𝑒 −𝑖𝑘𝑥

𝜓3 = 𝐺 𝑒 −𝛼𝑥 .

Contoh :

Suatu partikel datang dari x-negatif menuju x-positif dan mengalami potensial
dengan keadaan-keadaan berikut :

Daerah I :𝑉=0 ; 𝑥<0

Daerah II : 𝑉 = 𝑉0 ; 0≤𝑥≤𝑎

Daerah III : 𝑉 = 0 ; 𝑎 < 𝑥 < 2𝑎

Daerah IV : 𝑉 = 𝑉0 ; 2𝑎 ≤ 𝑥 ≤ 3𝑎

Daerah V :𝑉=0 ; 𝑥 > 3𝑎 .

Tuliskan fungsi-fungsi gelombangnya untuk 𝐸 < 𝑉0 𝑑𝑎𝑛 𝐸 > 𝑉0 .

Penyelesaian :

a)𝐸 < 𝑉0

𝜓1 = 𝐴 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵 𝑒 −𝑖𝑘𝑥

𝜓2 = 𝐶 𝑒 −𝛼𝑥 + 𝐷 𝑒 𝛼𝑥

𝜓3 = 𝐺 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐻 𝑒 −𝑖𝑘𝑥

𝜓4 = 𝐼 𝑒 −𝛼𝑥 + 𝐽 𝑒 𝛼𝑥
𝜓5 = 𝑀 𝑒 𝑖𝑘𝑥

b)𝐸 > 𝑉0

𝜓1 = 𝐴 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵 𝑒 −𝑖𝑘𝑥
′𝑥 ′𝑥
𝜓2 = 𝐶 𝑒 𝑖𝑘 + 𝐷 𝑒 −𝑖𝑘

𝜓3 = 𝐺 𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐻 𝑒 −𝑖𝑘𝑥
′𝑘 ′𝑥
𝜓4 = 𝐼 𝑒 𝑖𝑘 + 𝐽 𝑒 −𝑖𝑘

𝜓5 = 𝑀 𝑒 𝑖𝑘𝑥

---------------------

BAHAN KULIAH : 29 September 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 3

APLIKASI PERSAMAAN SCHRODINGER

4.Osilator Harmonik

Potensial dari suatu partikel yang mengalami gaya pegas ( berkelakuan seperti
osilator harmonik ) 1-dimensi arah-x adalah
1 1
𝑉 = 2 𝑘𝑥 2 = 2 𝑚𝜔2 𝑥 2 .

Hasil ini telah memasukkan bahwa 𝑘 = 𝑚𝜔2 seperti dalam kasus pegas di mekanika
klasik.

Karena itu persamaan Schrodinger untuk kasus ini mengambil bentuk


𝑑2 𝜓 2𝑚 1
+ (𝐸 − 2 𝑚𝜔2 𝑥 2 ) 𝜓 = 0
𝑑𝑥 2 ћ2

atau
𝑑2 𝜓 2𝑚𝐸 𝑚2 𝜔 2 𝑥 2
+( − )𝜓 = 0 . (∗)
𝑑𝑥 2 ћ2 ћ2

Untuk penyederhanaan, dapat dilakukan transformasi dari 𝜓(𝑥) 𝑘𝑒 𝜓(𝑧) . Dengan ini
persamaan akan mengambil bentuk
𝑑2 𝜓
+ (𝑐 − 𝑧 2 )𝜓 = 0 . (+)
𝑑𝑧 2

Untuk menentukan konstanta 𝑐 dan hubungan antara 𝑧 𝑑𝑎𝑛 𝑥 , dapat dimisalkan


𝑧 = 𝑎𝑥 . Dalam hal ini
𝑑𝜓 𝑑𝑥 𝑑𝜓 1 𝑑𝜓
= (𝑑𝑧 ) ( 𝑑𝑥 ) = 𝑎 𝑑𝑥
𝑑𝑧

dan
𝑑2 𝜓 𝑑 𝑑𝜓 𝑑𝑥 𝑑 𝑑𝜓 1 𝑑 1 𝑑𝜓 1 𝑑2 𝜓
= 𝑑𝑧 ( 𝑑𝑧 ) = {(𝑑𝑧 ) (𝑑𝑥)} [ 𝑑𝑧 ] = {(𝑎) (𝑑𝑥)} [𝑎 𝑑𝑥 ] = 𝑎2 𝑑𝑥 2 .
𝑑𝑧 2

Dari sini persamaaan (+) menjadi


1 𝑑2 𝜓
+ (𝑐 − 𝑎2 𝑥 2 )𝜓 = 0
𝑎2 𝑑𝑥 2

atau
𝑑2 𝜓
+ (𝑎2 𝑐 − 𝑎4 𝑥 2 )𝜓 = 0 . (∗∗)
𝑑𝑥 2

Dengan membandingkan persamaan (∗) dan persamaan (∗∗) , diperoleh

𝑚2 𝜔 2 𝑚𝜔
𝑎4 = → 𝑎=√
ћ2 ћ

dan
2𝑚𝐸 2𝑚𝐸 1 2𝑚𝐸 ћ 2𝐸
𝑎2 𝑐 = → 𝑐= = = ћ𝜔 .
ћ2 ћ2 𝑎2 ћ2 𝑚𝜔

Dengan hasil-hasil ini maka persamaan (+) adalah telah berlaku atau valid.
Selanjutnya akan ditentukan solusi untuk persamaan (+) . Untuk itu dapat dilakukan
pendekatan berikut.

Untuk 𝑥 → ∞ , 𝑧 → ∞
1 1 𝑧2 1 ћ 1
𝑉 = 2 𝑚𝜔2 𝑥 2 = 2 𝑚𝜔2 𝑎2 = 2 𝑚𝜔2 𝑚𝜔 𝑧 2 = 2 ћ𝜔𝑧 2 = ∞

karena itu tidak ada peluang bagi partikel untuk masuk ke daerah ini. Sebagai
akibatnya diperoleh solusi dengan bentuk
1 2
𝜓 = 𝑒 −2 𝑧 ,

atau solusi yang lebih umum


1 2
𝜓 = 𝐻(𝑧)𝑒 −2𝑧 .

Selanjutnya solusi ini diuji dengan mensubstitusikannya ke persamaan (+) . Dalam


hal ini
1 2 1 2 1 2
𝑑𝜓 𝑑 𝑑𝐻
= 𝑑𝑧 {𝐻(𝑧)𝑒 −2𝑧 } = 𝑒 −2𝑧 − 𝑧𝐻𝑒 −2𝑧
𝑑𝑧 𝑑𝑧

dan

𝑑2 𝜓 𝑑 𝑑𝜓 𝑑 𝑑𝐻 −1𝑧 2 1
− 𝑧2
= ( ) = { 𝑒 2 − 𝑧𝐻𝑒 2 }
𝑑𝑧 2 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧
𝑑 2 𝐻 −1𝑧 2 𝑑𝐻 −1𝑧 2 1 2 𝑑𝐻 −1𝑧 2 1 2
=( 2 𝑒 2 −𝑧 𝑒 2 ) − (𝐻𝑒 −2𝑧 + 𝑧 𝑒 2 − 𝑧 2 𝐻𝑒 −2𝑧 )
𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧
2
𝑑 𝐻 𝑑𝐻 1 2
= { 2 − 2𝑧 + (𝑧 2 − 1)𝐻} 𝑒 −2𝑧 .
𝑑𝑧 𝑑𝑧

Dengan demikian diperoleh


1 2 1 2
𝑑2 𝐻 𝑑𝐻
{ 𝑑𝑧 2 − 2𝑧 𝑑𝑧 + (𝑧 2 − 1)𝐻} 𝑒 −2𝑧 + (𝑐 − 𝑧 2 )𝐻𝑒 −2𝑧 = 0

1 2
𝑑2 𝐻 𝑑𝐻
{ 𝑑𝑧 2 − 2𝑧 𝑑𝑧 + (𝑐 − 1)𝐻} 𝑒 −2𝑧 = 0

𝑑2 𝐻 𝑑𝐻
− 2𝑧 𝑑𝑧 + (𝑐 − 1)𝐻 = 0 . (1)
𝑑𝑧 2

Persamaan (1) ini pada dasarnya adalah mirip dengan persamaan diferensial
Hermite, yang mengambil bentuk
𝑑2 𝐻 𝑑𝐻
− 2𝑧 𝑑𝑧 + 2𝑛𝐻 = 0 (2)
𝑑𝑧 2

dengan solusi yang disebut polinom Hermite, yaitu


2 𝑑𝑛 2
𝐻𝑛 (𝑧) = (−1)𝑛 𝑒 𝑧 (𝑒 −𝑧 ) .
𝑑𝑧 𝑛

Sebagai contoh untuk persamaan diferensial Hermite dan polinom Hermite dapat
dilihat pada buku Penuntun Matematika : Murray Spiegel dan M.O. Tjia .

Berkaitan dengan polinom Hermite, ada beberapa sifat penting yang dapat ditinjau
yaitu

a)Sifat ortogonalitas
∞ 2 1⁄
∫−∞ 𝑒 −𝑧 𝐻𝑛 (𝑧)𝐻𝑚 (𝑧)𝑑𝑧 = 2𝑛 𝑛! 𝜋 2 𝛿𝑛𝑚

b)Sifat rekursif

𝐻𝑛+1 (𝑧) = 2𝑧 𝐻𝑛 (𝑧) − 2𝑛 𝐻𝑛−1 (𝑧)

dan
𝑑𝐻𝑛 (𝑧)
= 2𝑛 𝐻𝑛−1 (𝑧) .
𝑑𝑧
Energi

Dengan membandingkan persamaan (1) dan persamaan (2), diperoleh

𝑐 − 1 = 2𝑛

𝑐 = 2𝑛 + 1
2𝐸
= 2𝑛 + 1
ћ𝜔

2𝐸 = (2𝑛 + 1) ћ𝜔
1
𝐸 = (𝑛 + 2) ћ𝜔

atau dapat dituliskan


1
𝐸𝑛 = (𝑛 + 2) ћ𝜔 .

Di sini 𝑛 = 0,1,2, . .. dan hasil ini menyatakan tingkat-tingkat energi dari osilator
harmonik.

Fungsi Gelombang

Fungsi gelombang adalah


1 2
𝜓 = 𝐻(𝑧)𝑒 −2𝑧

atau
1 2
𝜓𝑛 = 𝐻𝑛 (𝑧)𝑒 −2𝑧

atau dalam bentuk yang lebih lengkap


1 2
𝜓𝑛 = 𝑁𝑛 𝐻𝑛 (𝑧)𝑒 −2𝑧 .

Faktor normalisasi 𝑁𝑛 dapat ditentukan berdasarkan syarat normalisasi dan


penyelesaiannya dibantu oleh sifat ortogonalitas. Di sini fungsi gelombang dapat
dinyatakan dalam variabel 𝑥 atau variabel 𝑧 .
1 2 2
a)Variabel 𝑥 : 𝜓𝑛 (𝑥) = 𝑁𝑛 𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝑒 −2𝑎 𝑥

Syarat normalisasi :

∫−∞ 𝜓𝑛∗ (𝑥)𝜓𝑛 (𝑥)𝑑𝑥 = 1
∞ 2 𝑥2
𝑁𝑛2 ∫−∞ 𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝑒 𝑎 𝑑𝑥 = 1

𝑁𝑛2 ∞ 2𝑥2
𝑎
∫−∞ 𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝑒 −𝑎 𝑑(𝑎𝑥) = 1
𝑁𝑛2 1⁄
(2𝑛 𝑛! 𝜋 2) =1
𝑎

𝑎
𝑁𝑛2 = 1
2𝑛 𝑛!𝜋 ⁄2

𝑎
𝑁𝑛 = √ 1 .
2𝑛 𝑛!𝜋 ⁄2

Jadi fungsi gelombangnya adalah


1 2 2
𝑎
𝜓𝑛 (𝑥) = √ 1 𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝑒 −2𝑎 𝑥
.
2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

1 2
b)Variabel z : 𝜓𝑛 (𝑧) = 𝑁𝑛 𝐻𝑛 (𝑧)𝑒 −2𝑧

Syarat normalisasi :

∫−∞ 𝜓𝑛∗ (𝑧)𝜓𝑛 (𝑧)𝑑𝑧 = 1
∞ 2
𝑁𝑛2 ∫−∞ 𝐻𝑛 (𝑧)𝐻𝑛 (𝑧)𝑒 −𝑧 𝑑𝑧 = 1

1⁄
𝑁𝑛2 (2𝑛 𝑛! 𝜋 2) =1

1
𝑁𝑛2 = 1
2𝑛 𝑛!𝜋 ⁄2

1
𝑁𝑛 = √ 1 .
2𝑛 𝑛!𝜋 ⁄2

Jadi fungsi gelombangnya adalah


1 2
1
𝜓𝑛 (𝑧) = √ 1 𝐻𝑛 (𝑧)𝑒 −2𝑧 .
2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

---------------------
BAHAN KULIAH : 4 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 3

APLIKASI PERSAMAAN SCHRODINGER

4.Osilator Harmonik ( Lanjutan ! )

Beberapa Contoh

Contoh : 1

Tentukan energi dan fungsi gelombang dari osilator harmonik untuk n=1 .

Penyelesaian :

a)Energi

Bentuk umum untuk energi


1
𝐸𝑛 = (𝑛 + 2)ћ𝜔 .

Untuk n=1 diperoleh


1 3
𝐸1 = (1 + 2) ћ𝜔 = 2 ћ𝜔 .

b)Fungsi Gelombang

Bentuk umum dari fungsi gelombang


1 2
1 2 𝑑𝑛 2
𝜓𝑛 (𝑧) = √ 1 𝐻𝑛 (𝑧)𝑒 −2𝑧 ; 𝐻𝑛 (𝑧) = (−1)𝑛 𝑒 𝑧 (𝑒 −𝑧 )
2𝑛 𝑛!𝜋 ⁄2 𝑑𝑧 𝑛

𝐻𝑛 (𝑧) adalah polinom Hermite.

Untuk n=1 diperoleh


1 2 1 2
1 1
𝜓1 (𝑧) = √ 1 𝐻1 (𝑧)𝑒 −2𝑧 = √ 1 𝐻1 (𝑧)𝑒 −2𝑧 .
21 1!𝜋 ⁄2 2𝜋 ⁄2

Dalam hal ini


2 𝑑 2 2 2
𝐻1 (𝑧) = (−1)1 𝑒 𝑧 (𝑒 −𝑧 ) = −𝑒 𝑧 {−2𝑧 𝑒 𝑧 } = 2𝑧 .
𝑑𝑧

Karena itu diperoleh


1 2 1 2
1 2
𝜓1 (𝑧) = √ 1 (2𝑧)𝑒 −2𝑧 = √ 1 𝑧 𝑒 −2 𝑧 .
2𝜋 ⁄2 𝜋 ⁄2

Contoh : 2

Tentukan harga ekspektasi energi potensial untuk osilator harmonik.

Penyelesaian :

Harga ekspektasi adalah

< 𝐴̂ > = ∫ 𝜓 ∗ (𝑥) 𝐴̂ 𝜓(𝑥)𝑑𝑥 .

Harga ekspektasi energi potensial untuk osilator harmonik


1
< 𝑉̂ > = ∫ 𝜓𝑛∗ (𝑥) (2 𝑚𝜔2 𝑥 2 ) 𝜓𝑛 (𝑥)𝑑𝑥 .

Selanjutnya diperoleh
1
< 𝑉̂ > = (2 𝑚𝜔2 ) ∫ 𝜓𝑛∗ (𝑥) 𝑥 2 𝜓𝑛 (𝑥)𝑑𝑥 .

Dalam hal ini

1
1 2 2 1 2 2
𝑥 2 𝜓𝑛 (𝑥) = 𝑥 {𝑥𝜓𝑛 (𝑥)} = 𝑥 {𝑥 (𝑁𝑛 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥
)} = 𝑥 { (𝑎𝑥) (𝑁𝑛 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 )}
𝑎
𝑥 1 2 2 𝑥 1 2 2
= {(𝑎𝑥) (𝑁𝑛 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 )} = {𝑁𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 (𝑎𝑥 𝐻𝑛 )} .
𝑎 𝑎

Berdasarkan sifat rekursif :

𝐻𝑛+1 (𝑎𝑥) = 2 𝑎𝑥 𝐻𝑛 (𝑎𝑥) − 2𝑛 𝐻𝑛−1 (𝑎𝑥) ,

karena itu diperoleh


1
(1)𝑎𝑥 𝐻𝑛 = 2 𝐻𝑛+1 + 𝑛 𝐻𝑛−1

1
(2)𝑎𝑥 𝐻𝑛+1 = 2 𝐻𝑛+2 + (𝑛 + 1)𝐻𝑛

1
(3)𝑎𝑥 𝐻𝑛−1 = 𝐻𝑛 + (𝑛 − 1)𝐻𝑛−2 .
2

Dengan ini maka diperoleh


𝑥 1 2 2 1 𝑥 1 1 2 2 1 2 2
𝑥 2 𝜓𝑛 (𝑥) = {𝑁𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 ( 𝐻𝑛+1 + 𝑛𝐻𝑛−1 )} = { 𝑁𝑛 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑎 𝑥 + 𝑛𝑁𝑛 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑎 𝑥 }
𝑎 2 𝑎 2
1 1 1 2 2 1 2 2
= 2 (𝑎𝑥) { 𝑁𝑛 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑎 𝑥 + 𝑛𝑁𝑛 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑎 𝑥 }
𝑎 2
1 1 1 2 2 1 2 2
= 2 { 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 (𝑎𝑥𝐻𝑛+1 ) + 𝑛𝑁𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 (𝑎𝑥𝐻𝑛−1 )}
𝑎 2
1 1 1 2 2 1
= 2 { 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 [ 𝐻𝑛+2 + (𝑛 + 1)𝐻𝑛 ]
𝑎 2 2
1 2 2 1
+ 𝑛𝑁𝑛 𝑒 −2𝑎 𝑥 { 𝐻𝑛 + (𝑛 − 1)𝐻𝑛−2 ]} .
2

Selanjutnya diperoleh

1 1 1
− 𝑎2 𝑥 2 1 1
− 𝑎2 𝑥 2 1 1
− 𝑎2 𝑥2
𝑥 2 𝜓𝑛 (𝑥) = { 𝑁 𝐻 𝑒 2 + (𝑛 + 1)𝑁 𝐻 𝑒 2 + 𝑛𝑁 𝐻 𝑒 2
𝑎2 4 𝑛 𝑛+2 2 𝑛 𝑛
2 𝑛 𝑛
1 2 2
+ 𝑛(𝑛 − 1)𝑁𝑛 𝐻𝑛−2 𝑒 −2𝑎 𝑥
}
1 1 1
− 𝑎2 𝑥2
= . . . 𝜓𝑛+2 + (𝑛 + ) 𝑁𝑛 𝐻 𝑛 𝑒 2 + . . . 𝜓𝑛−2
𝑎2 2
1
(𝑛 + 2)
= . . . 𝜓𝑛+2 + 𝜓𝑛 + . . . 𝜓𝑛−2 .
𝑎2
Sebagai akibatnya diperoleh

1
< 𝑉̂ > = ( 𝑚𝜔2 ) { . . . ∫ 𝜓𝑛∗ (𝑥)𝜓𝑛+2 (𝑥)𝑑𝑥
2
1
(𝑛 + 2) 1
+ ∫ 𝜓𝑛∗ (𝑥)𝜓𝑛 (𝑥)𝑑𝑥+ . . . ∫ 𝜓𝑛∗ (𝑥)𝜓𝑛−2 (𝑥)𝑑𝑥 = ( 𝑚𝜔2 ) { 0
𝑎2 2
1 1
(𝑛 + 2) 1 (𝑛 + 2) 1 1 ћ
2
+ 2
+ 0} = ( 𝑚𝜔 ) 2
= ( 𝑚𝜔2 ) (𝑛 + )
𝑎 2 𝑎 2 2 𝑚𝜔
1 1
= [(𝑛 + )] ћ𝜔 .
2 2
Catatan :

Untuk harga ekspektasi energi kinetik akan diperoleh

̂ > = 1 [(𝑛 + 1)] ћ𝜔 .


<𝐾 2 2

̂ > + < 𝑉̂ > .


Hasil ini mengingat bahwa 𝐸𝑛 =< 𝐾

Contoh : 3

Untuk osilator harmonik, tentukan syarat agar


∞ ∗ 𝑑
∫−∞ 𝜓𝑚 (𝑧) 𝜓𝑛 (𝑧)𝑑𝑧 ≠ 0 .
𝑑𝑧

Penyelesaian :

Mulai dari
∞ ∗ (𝑧) 𝑑
∫−∞ 𝜓𝑚 𝜓 (𝑧)𝑑𝑧 = . .. .
𝑑𝑧 𝑛

Dalam hal ini

𝑑 𝑑 1 2 𝑑 1 2 𝑑𝐻𝑛 −1𝑧 2 1 2
𝜓𝑛 (𝑧) = {𝑁𝑛 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 } = 𝑁𝑛 { (𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 )} = 𝑁𝑛 { 𝑒 2 − 𝑧 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 }
𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧
1 2 𝑑𝐻𝑛
= 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 { − 𝑧 𝐻𝑛 } .
𝑑𝑧

Berdasarkan sifat rekursif :


𝑑𝐻
(1) 𝑑𝑧𝑛 = 2𝑛 𝐻𝑛−1

1
(2)𝑧 𝐻𝑛 = 2 𝐻𝑛+1 + 𝑛 𝐻𝑛−1 .

Maka diperoleh

𝑑𝜓𝑛 (𝑧) 1 2 1 1 2 1
= 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 {2𝑛 𝐻𝑛−1 − ( 𝐻𝑛+1 + 𝑛𝐻𝑛−1 )} = 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 {𝑛 𝐻𝑛−1 − 𝐻𝑛+1 }
𝑑𝑧 2 2
1 2 1 1 2
= 𝑛𝑁𝑛 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 − 𝑁𝑛 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧 .
2
Di sisi lain, faktor normalisasi

1
a)𝑁𝑛 = √ 1
2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

1 1 1 𝑁𝑛
b)𝑁𝑛+1 = √ 1 =√ 1 √2(𝑛+1) = √2(𝑛+1)
2𝑛+1 (𝑛+1)! 𝜋 ⁄2 2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

atau

𝑁𝑛 = √2(𝑛 + 1) 𝑁𝑛+1

1 1
c)𝑁𝑛−1 = √ 1 =√ 1 √2𝑛 = √2𝑛 𝑁𝑛
2𝑛−1 (𝑛−1)! 𝜋 ⁄2 2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

atau
𝑁𝑛−1
𝑁𝑛 = .
√2𝑛

Dari sini
𝑑𝜓𝑛 (𝑧) 𝑁𝑛−1 1 2 1 1 2
=𝑛 ( ) 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 − √2(𝑛 + 1) 𝑁𝑛+1 𝐻𝑁+1 𝑒 −2𝑧
𝑑𝑧 √2𝑛 2
𝑛 1 2 𝑛+1 1 2
= √ 𝑁𝑛−1 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 − √ 𝑁𝑛+1 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧
2 2

𝑛 𝑛+1
= √ 𝜓𝑛−1 − √ 𝜓𝑛+1 .
2 2

Sebagai akibatnya

∞ ∗ (𝑧) 𝑑 𝑛 ∞ ∗ 𝑛+1 ∞ ∗
∫−∞ 𝜓𝑚 𝜓𝑛 (𝑧)𝑑𝑧 = √2 ∫−∞ 𝜓𝑚 𝜓𝑛−1 𝑑𝑧 − √ ∫−∞ 𝜓𝑚 𝜓𝑛+1 𝑑𝑧 .
𝑑𝑧 2

Maka syarat agar


∞ ∗ (𝑧) 𝑑
∫−∞ 𝜓𝑚 𝑑𝑧
𝜓𝑛 (𝑧)𝑑𝑧 ≠ 0

adalah

𝑚 =𝑛−1 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑚 =𝑛+1 .

--------------------

BAHAN KULIAH : 6 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 3

APLIKASI PERSAMAAN SCHRODINGER

4.Osilator Harmonik ( Lanjutan ! )

Operator Kreasi dan Operator Anihilasi

Dalam kaitannya dengan osilator harmonik, dikenal istilah operator kreasi dan
operator anihilasi. Untuk memahami kedua hal ini tinjau penjelasan berikut. Mulai
dari Hamiltonian untuk osilator harmonik 1-dimensi arah-x
2 2
̂ = − ћ 𝑑 2 + 1 𝑚𝜔2 𝑥 2 .
𝐻 2𝑚 𝑑𝑥 2

𝑚𝜔
Karena 𝑧 = 𝑎𝑥 = √ 𝑥 , maka Hamiltonian dapat juga diungkapkan dalam variabel
ћ

𝑧 . Dalam hal ini


𝑑2 𝑑 𝑑 𝑑𝑧 𝑑 𝑑𝑧 𝑑 𝑑 𝑑 𝑑2 𝑚𝜔 𝑑2
= 𝑑𝑥 (𝑑𝑥) = [(𝑑𝑥) (𝑑𝑧)] [(𝑑𝑥) (𝑑𝑧)] = [𝑎 (𝑑𝑧)] [𝑎 (𝑑𝑧)] = 𝑎2 𝑑𝑧 2 =
𝑑𝑥 2 ћ 𝑑𝑧 2

dan
𝑧2 ћ
𝑥 2 = 𝑎2 = 𝑚𝜔 𝑧 2 .

Karena itu diperoleh Hamiltonian


2 2 2
̂ = − ћ (𝑚𝜔 𝑑 2 ) + 1 𝑚𝜔2 ( ћ 𝑧 2 ) = − ћ𝜔 𝑑 2 + ћ𝜔 𝑧 2
𝐻 2𝑚 ћ 𝑑𝑧 2 𝑚𝜔 2 𝑑𝑧 2

atau
2
̂ = ћ𝜔 (− 𝑑 2 + 𝑧 2 ) .
𝐻 2 𝑑𝑧

Di sisi lain, secara matematika berlaku

𝑑 𝑑 𝑑 𝑑𝜓 𝑑𝜓 𝑑 𝑑2𝜓
(𝑧 − ) (𝑧 + ) 𝜓 = (𝑧 − ) (𝑧𝜓 + ) = {𝑧 2 𝜓 + 𝑧 − (𝑧𝜓) − 2 }
𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧
2 2
𝑑𝜓 𝑑𝜓 𝑑 𝜓 𝑑 𝜓
= {𝑧 2 𝜓 + 𝑧 − (𝜓 + 𝑧 ) − 2 } = {𝑧 2 𝜓 − 2 − 𝜓}
𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧
2
𝑑
= (𝑧 2 − 2 − 1) 𝜓 .
𝑑𝑧

atau
𝑑 𝑑 𝑑2
(𝑧 − 𝑑𝑧) (𝑧 + 𝑑𝑧) = (𝑧 2 − 𝑑𝑧 2 − 1) .

Karena itu diperoleh


𝑑2 𝑑 𝑑
(− 𝑑𝑧 2 + 𝑧 2 ) = (𝑧 − 𝑑𝑧) (𝑧 + 𝑑𝑧) + 1 .

Kembali ke Hamiltonian diperoleh

ћ𝜔 𝑑 𝑑 1 𝑑 𝑑 1
̂=
𝐻 [(𝑧 − ) (𝑧 + ) + 1] = ћ𝜔 [ (𝑧 − ) (𝑧 + ) + ]
2 𝑑𝑧 𝑑𝑧 2 𝑑𝑧 𝑑𝑧 2
1 𝑑 1 𝑑 1
= ћ𝜔[ (𝑧 − ) (𝑧 + ) + ]
√2 𝑑𝑧 √2 𝑑𝑧 2

atau
̂ = ћ𝜔[ 𝑎̂+ 𝑎̂ + 1 ] .
𝐻 2

1 𝑑 1 𝑑
Dalam hal ini 𝑎̂+ = (𝑧 − 𝑑𝑧) , dibaca 𝑎 dagger dan 𝑎̂ = (𝑧 + 𝑑𝑧) . Selanjutnya
√2 √2
akan dilakukan operasi dengan kedua operator ini.

̂+ dan Operator 𝒂
Operasi dengan Operator 𝒂 ̂:

a)Operasi dengan operator 𝑎̂+


1 𝑑 1 𝑑𝜓𝑛
𝑎̂+ 𝜓𝑛 = (𝑧 − 𝑑𝑧) 𝜓𝑛 = (𝑧𝜓𝑛 − ) .
√2 √2 𝑑𝑧

𝑑𝜓𝑛
Selanjutnya akan ditentukan 𝑧𝜓𝑛 𝑑𝑎𝑛 .
𝑑𝑧

𝒛𝝍𝒏 ∶
1 2 1 2
𝑧𝜓𝑛 = 𝑧 (𝑁𝑛 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 ) = 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 (𝑧𝐻𝑛 ) .

Dari sifat rekursif


1
𝐻𝑛+1 = 2𝑧𝐻𝑛 − 2𝑛𝐻𝑛−1 → 𝑧𝐻𝑛 = 2 𝐻𝑛+1 + 𝑛𝐻𝑛−1

karena itu
1 2 1 2 1 2
1 1
𝑧𝜓𝑛 = 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 [ 𝐻𝑛+1 + 𝑛𝐻𝑛−1 ] = 𝑁𝑛 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧 + 𝑛𝑁𝑛 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 .
2 2

Dari faktor normalisasi

1
𝑁𝑛 = √ 1
2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

diperoleh
𝑁𝑛
𝑁𝑛+1 = → 𝑁𝑛 = √2(𝑛 + 1) 𝑁𝑛+1
√2(𝑛+1)

𝑁𝑛−1
𝑁𝑛−1 = √2𝑛 𝑁𝑛 → 𝑁𝑛 = .
√2𝑛

Dari sini diperoleh

1 1 2 𝑁𝑛−1 1 2
𝑧𝜓𝑛 = (√2(𝑛 + 1) 𝑁𝑛+1 )𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧 + 𝑛 ( ) 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧
2 √2𝑛
𝑛+1 1 2 𝑛 1 2
=√ 𝑁𝑛+1 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧 + √ 𝑁𝑛−1 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧
2 2

𝑛+1 𝑛
=√ 𝜓𝑛+1 + √ 𝜓𝑛−1 .
2 2
𝐝𝛙𝐧

𝐝𝐳

𝑑𝜓𝑛 𝑑 1 2 𝑑 1 2 𝑑𝐻𝑛 −1𝑧 2 1 2


= (𝑁𝑛 𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 ) = 𝑁𝑛 (𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 ) = 𝑁𝑛 [ 𝑒 2 − 𝑧𝐻𝑛 𝑒 −2𝑧 ]
𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧 𝑑𝑧
1 2 𝑑𝐻𝑛
= 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 [ − 𝑧𝐻𝑛 ] .
𝑑𝑧
Dari sifat rekursif
𝑑𝐻𝑛
= 2𝑛𝐻𝑛−1
𝑑𝑧

dan
1
𝑧𝐻𝑛 = 2 𝐻𝑛+1 + 𝑛𝐻𝑛−1 .

karena itu

𝑑𝜓𝑛 1 2 1 1 2 1
= 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 {2𝑛𝐻𝑛−1 − [ 𝐻𝑛+1 + 𝑛𝐻𝑛−1 ]} = 𝑁𝑛 𝑒 −2𝑧 [𝑛𝐻𝑛−1 − 𝐻𝑛+1 ]
𝑑𝑧 2 2
1 2 1 1 2
= 𝑛𝑁𝑛 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 − 𝑁𝑛 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧 .
2
Dari faktor normalisasi diperoleh

1
𝑁𝑛 = √ 1
2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

𝑁𝑛
𝑁𝑛+1 = → 𝑁𝑛 = √2(𝑛 + 1) 𝑁𝑛+1
√2(𝑛+1)

𝑁𝑛−1
𝑁𝑛−1 = √2𝑛 𝑁𝑛 → 𝑁𝑛 = .
√2𝑛

Dari sini diperoleh

𝑑𝜓𝑛 𝑁𝑛−1 1 2 1 1 2
=𝑛 ( ) 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 − (√2(𝑛 + 1) 𝑁𝑛+1 ) 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧
𝑑𝑧 √2𝑛 2
𝑛 1 2 𝑛+1 1 2
= √ 𝑁𝑛−1 𝐻𝑛−1 𝑒 −2𝑧 − √ 𝑁𝑛+1 𝐻𝑛+1 𝑒 −2𝑧
2 2

𝑛 𝑛+1
= √ 𝜓𝑛−1 − √ 𝜓𝑛+1 .
2 2

Sebagai akibatnya diperoleh


1 𝑛+1 𝑛 𝑛 𝑛+1
𝑎̂+ 𝜓𝑛 = {(√ 𝜓𝑛+1 + √ 𝜓𝑛−1 ) − (√ 𝜓𝑛−1 − √ 𝜓𝑛+1 )}
√2 2 2 2 2

1 𝑛+1
= 2√ 𝜓𝑛+1 = √𝑛 + 1 𝜓𝑛+1 .
√2 2

Berarti operator 𝑎̂+ menambah 𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 1 .

b)Operasi dengan operator 𝑎̂

1 𝑑 1 𝑑𝜓𝑛
𝑎̂𝜓𝑛 = (𝑧 + ) 𝜓𝑛 = (𝑧𝜓𝑛 + )
√2 𝑑𝑧 √2 𝑑𝑧
1 𝑛+1 𝑛 𝑛 𝑛+1
= {(√ 𝜓𝑛+1 + √ 𝜓𝑛−1 ) + (√ 𝜓𝑛−1 − √ 𝜓𝑛+1 )}
√2 2 2 2 2

1 𝑛
= 2 √ 𝜓𝑛−1 = √𝑛 𝜓𝑛−1 .
√2 2

Berarti operator 𝑎̂ mengurangi 𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 1 .

Dalam proses-proses ini akan memberikan perbedaan energi ∆𝐸 = ћ𝜔 .

a)𝑎̂+ 𝜓𝑛 = √𝑛 + 1 𝜓𝑛+1

Energinya

𝐸𝑛 → 𝐸𝑛+1

Dalam hal ini


3 1
∆𝐸 = 𝐸𝑛+1 − 𝐸𝑛 = (𝑛 + 2) ћ𝜔 − (𝑛 + 2) ћ𝜔 = ћ𝜔 .

b)𝑎̂𝜓𝑛 = √𝑛 𝜓𝑛−1

Energinya

𝐸𝑛 → 𝐸𝑛−1

Dalam hal ini


1 1
∆𝐸 = 𝐸𝑛 − 𝐸𝑛−1 = (𝑛 + 2) ћ𝜔 − (𝑛 − 2) ћ𝜔 = ћ𝜔 .

Kuantitas ћ𝜔 adalah kuantum bunyi dan disebut sebagai fonon. Operator 𝑎̂+
menciptakan sebuah fonon karena itu disebut operator kreasi, sedangkan operator 𝑎̂
menghilangkan sebuah fonon karena itu disebut operator anihilasi.
------------------

BAHAN KULIAH : 11 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4

MOMENTUM SUDUT

1.Operator-Operator Momentum Sudut

Momentum sudut dari suatu partikel didefinisikan oleh

⃗⃗ = 𝑟⃗ 𝑥 𝑃⃗⃗ ,
𝐿 (∗)

dalam hal ini 𝑟⃗ adalah vektor posisi dan 𝑃⃗⃗ adalah momentum linier.

Suku kiri persamaan (∗) berdasarkan vektor basis adalah

⃗⃗ = 𝐿𝑥 𝑖̂ + 𝐿𝑦 𝑗̂ + 𝐿𝑧 𝑘̂ .
𝐿 (+)

Suku kanan persamaan (∗) berdasarkan perkalian silang antara dua vektor adalah

𝑖̂ 𝑗̂ 𝑘̂
⃗⃗
𝑟⃗ 𝑥 𝑃 = | 𝑥 𝑦 𝑧 | = (𝑦𝑃𝑧 − 𝑧𝑃𝑦 )𝑖̂ + (𝑧𝑃𝑥 − 𝑥𝑃𝑧 )𝑗̂ + (𝑥𝑃𝑦 − 𝑦𝑃𝑥 )𝑘̂ . (∗∗)
𝑃𝑥 𝑃𝑦 𝑃𝑧

Dengan membandingkan persamaan (+) dan persamaan (∗∗) diperoleh

𝐿𝑥 = (𝑦𝑃𝑧 − 𝑧𝑃𝑦 )
𝐿𝑦 = (𝑧𝑃𝑥 − 𝑥𝑃𝑧 )

𝐿𝑧 = (𝑥𝑃𝑦 − 𝑦𝑃𝑥 ) .

Atau dalam notasi kuantum adalah


𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = (𝑦𝑃̂𝑧 − 𝑧𝑃̂𝑦 ) = −𝑖ћ (𝑦 𝜕𝑧 − 𝑧 𝜕𝑦)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = (𝑧𝑃̂𝑥 − 𝑥𝑃̂𝑧 ) = −𝑖ћ (𝑧 𝜕𝑥 − 𝑥 𝜕𝑧)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = (𝑥𝑃̂𝑦 − 𝑦𝑃̂𝑥 ) = −𝑖ћ (𝑥 𝜕𝑦 − 𝑦 𝜕𝑥) .

Dalam hal ini 𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 , 𝑑𝑎𝑛 𝐿̂𝑧 disebut sebagai operator-operator momentum sudut. Di
samping itu didefinisikan juga 𝐿̂2 = 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧 sebagai operator momentum sudut.
Akan berlaku hubungan-hubungan komutasi

(i)[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 ] = 𝑖ћ 𝐿̂𝑧 , [𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 ] = 𝑖ћ 𝐿̂𝑥 , [𝐿̂𝑧 , 𝐿̂𝑥 ] = 𝑖ћ 𝐿̂𝑦

(𝑖𝑖)[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ] = 0 , [𝐿̂𝑦 , 𝐿̂2 ] = 0 , [𝐿̂𝑧 , 𝐿̂2 ] = 0 .

Contoh :

Tunjukkan bahwa berlaku

a)[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 ] = 𝑖ћ 𝐿̂𝑧

b)[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ] = 0 .

Penyelesaian :

a)[𝐿̂𝑥 . 𝐿̂𝑦 ] = 𝑖ћ 𝐿̂𝑧

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 ]𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 𝜓 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 𝜓 .

Dalam hal ini

𝜕 𝜕 𝜕𝜓 𝜕𝜓 𝜕 𝜕 𝜕𝜓 𝜕𝜓
𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 𝜓 = {−𝑖ћ (𝑦 − 𝑧 )} {−𝑖ћ (𝑧 − 𝑥 )} = −ћ2 {(𝑦 − 𝑧 ) (𝑧 − 𝑥 )}
𝜕𝑧 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑧
2 2 2 2
𝜕𝜓 𝜕 𝜓 𝜕 𝜓 𝜕 𝜓 𝜕 𝜓
= −ћ2 {(𝑦 + 𝑦𝑧 ) − 𝑦𝑥 2 − 𝑧 2 + 𝑧𝑥 } .
𝜕𝑥 𝜕𝑧𝜕𝑥 𝜕𝑧 𝜕𝑦𝜕𝑥 𝜕𝑦𝜕𝑧

Di sisi lain

𝜕 𝜕 𝜕𝜓 𝜕𝜓 𝜕 𝜕 𝜕𝜓 𝜕𝜓
𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 𝜓 = {−𝑖ћ (𝑧 − 𝑥 )} {−𝑖ћ (𝑦 − 𝑧 )} = −ћ2 {(𝑧 − 𝑥 ) (𝑦 − 𝑧 )}
𝜕𝑥 𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑦
2 2 2 2
𝜕 𝜓 𝜕 𝜓 𝜕 𝜓 𝜕𝜓 𝜕 𝜓
= −ћ2 {𝑧𝑦 − 𝑧2 − 𝑥𝑦 2 + (𝑥 + 𝑥𝑧 )} .
𝜕𝑥𝜕𝑧 𝜕𝑥𝜕𝑦 𝜕𝑧 𝜕𝑦 𝜕𝑧𝜕𝑦
Karena itu diperoleh

𝜕𝜓 𝜕𝜓 𝜕𝜓 𝜕𝜓 𝜕𝜓 𝜕𝜓
[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 ]𝜓 = −ћ2 (𝑦 − 𝑥 ) = ћ2 (𝑥 − 𝑦 ) = (𝑖ћ)(−𝑖ћ) (𝑥 −𝑦 )
𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑥
𝜕 𝜕
= (𝑖ћ)(−𝑖ћ) (𝑥 − 𝑦 ) 𝜓 = (𝑖ћ)(𝐿̂𝑧 )𝜓 .
𝜕𝑦 𝜕𝑥

atau

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 ] = 𝑖ћ 𝐿̂𝑧 .

b)[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ] = 0

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ]𝜓 = [𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧 ]𝜓 = [𝐿̂𝑥 . 𝐿̂2𝑥 ]𝜓 + [𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2𝑦 ]𝜓 + [𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2𝑧 ]𝜓 .

Di sini

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2𝑥 ]𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂2𝑥 𝜓 − 𝐿̂2𝑥 𝐿̂𝑥 𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑥 𝜓 − 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑥 𝜓 = 0

selanjutnya

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2𝑦 ]𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂2𝑦 𝜓 − 𝐿̂2𝑦 𝐿̂𝑥 𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑦 𝜓 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 𝜓 = (𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝑖ћ𝐿̂𝑧 )𝐿̂𝑦 𝜓 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 𝜓
= 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 𝜓 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 𝜓 + 𝑖ћ𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓 = 𝐿̂𝑦 (𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 )𝜓 + 𝑖ћ𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓
= 𝐿̂𝑦 (𝑖ћ𝐿̂𝑧 )𝜓 + 𝑖ћ𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓 = 𝑖ћ(𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 + 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 )𝜓 .

Selanjutnya

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2𝑧 ]𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂2𝑧 𝜓 − 𝐿̂2𝑧 𝐿̂𝑥 𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑧 𝜓 − 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑥 𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑧 𝜓 − 𝐿̂𝑧 (𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 + 𝑖ћ𝐿̂𝑦 )𝜓
= 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑧 𝜓 − 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 𝜓 − 𝑖ћ𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓 = (𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 − 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑥 )𝐿̂𝑧 𝜓 − 𝑖ћ𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓
= (−𝑖ћ𝐿̂𝑦 )𝐿̂𝑧 𝜓 − 𝑖ћ𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓 = −𝑖ћ(𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 + 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 )𝜓 .

Sebagai akibatnya diperoleh

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ]𝜓 = 0 + 𝑖ћ(𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 + 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 )𝜓 − 𝑖ћ(𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 + 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 )𝜓 = 0

atau

[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ] = 0 .

Selanjutnya didefinisikan juga operator-operator momentum sudut berikut

𝐿̂+ = 𝐿̂𝑥 + 𝑖 𝐿̂𝑦

𝐿̂− = 𝐿̂𝑥 − 𝑖 𝐿̂𝑦 .

Akan berlaku hubungan-hubungan komutasi

(𝑖)[𝐿̂+ , 𝐿̂− ] = 2ћ 𝐿̂𝑧


(𝑖𝑖)[𝐿̂𝑧 , 𝐿̂+ ] = ћ 𝐿̂+ , [𝐿̂𝑧 , 𝐿̂− ] = −ћ 𝐿̂−

(𝑖𝑖𝑖)[𝐿̂+ , 𝐿̂2 ] = 0 , [𝐿̂− , 𝐿̂2 ] = 0 .

Contoh :

Tunjukkan bahwa berlaku

a)[𝐿̂+ , 𝐿̂− ] = 2ћ 𝐿̂𝑧

b)[𝐿̂𝑧 , 𝐿̂+ ] = ћ 𝐿̂+

c)[𝐿̂+ , 𝐿̂2 ] = 0 .

Penyelesaian :

a)[𝐿̂+ , 𝐿̂− ] = 2ћ 𝐿̂𝑧

[𝐿̂+ , 𝐿̂− ]𝜓 = 𝐿̂+ 𝐿̂− 𝜓 − 𝐿̂− 𝐿̂+ 𝜓 .

Dalam hal ini

𝐿̂+ 𝐿̂− 𝜓 = (𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 ) (𝐿̂𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑦 )𝜓 = {𝐿̂2𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 + 𝑖𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝐿̂2𝑦 }𝜓
= {𝐿̂2𝑥 − 𝑖(𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 ) + 𝐿̂2𝑦 }𝜓 = {𝐿̂2𝑥 − 𝑖(𝑖ћ𝐿̂𝑧 ) + 𝐿̂2𝑦 }𝜓
= {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + ћ𝐿̂𝑧 }𝜓 .

Di sisi lain

[𝐿̂− , 𝐿̂+ ]𝜓 = (𝐿̂𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑦 ) (𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 )𝜓 = {𝐿̂2𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝑖𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝐿̂2𝑦 }𝜓
= {𝐿̂2𝑥 + 𝑖(𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 ) + 𝐿̂2𝑦 }𝜓 = {𝐿̂2𝑥 + 𝑖(𝑖ћ𝐿̂𝑧 ) + 𝐿̂2𝑦 }𝜓
= {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 − ћ𝐿̂𝑧 }𝜓 .

Sebagai akibatnya

[𝐿̂+ , 𝐿̂− ]𝜓 = {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + ћ𝐿̂𝑧 }𝜓 − {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 − ћ𝐿̂𝑧 }𝜓 = 2ћ 𝐿̂𝑧 𝜓

atau

[𝐿̂+ , 𝐿̂− ] = 2ћ 𝐿̂𝑧 .

b)[𝐿̂𝑧 , 𝐿̂+ ] = ћ 𝐿̂+

[𝐿̂𝑧 , 𝐿̂+ ]𝜓 = 𝐿̂𝑧 𝐿̂+ 𝜓 − 𝐿̂+ 𝐿̂𝑧 𝜓 .

Dalam hal ini

𝐿̂𝑧 𝐿̂+ 𝜓 = 𝐿̂𝑧 (𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 )𝜓 = 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑥 𝜓 + 𝑖𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓 .

Di sisi lain
𝐿̂+ 𝐿̂𝑧 𝜓 = (𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 )𝐿̂𝑧 𝜓 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 𝜓 + 𝑖𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 𝜓 .

Sebagai akibatnya

[𝐿̂𝑧 , 𝐿̂+ ] = (𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑥 𝜓 + 𝑖𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 𝜓) − (𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 𝜓 + 𝑖𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 𝜓)
= (𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑥 − 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑧 )𝜓 + 𝑖(𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑦 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑧 )𝜓 = (𝑖ћ𝐿̂𝑦 )𝜓 + 𝑖(−𝑖ћ𝐿̂𝑥 )𝜓
= (𝑖ћ𝐿̂𝑦 )𝜓 + (ћ𝐿̂𝑥 )𝜓 = ћ (𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 )𝜓 = ћ 𝐿̂+ 𝜓

atau

[𝐿̂𝑧 , 𝐿̂+ ] = ћ 𝐿̂+ .

c){𝐿̂+ , 𝐿̂2 ] = 0

[𝐿̂+ , 𝐿̂2 ]𝜓 = [𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 , 𝐿̂2 ]𝜓 = [𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ]𝜓 + 𝑖 [𝐿̂𝑦 , 𝐿̂2 ]𝜓 .

Dari hasil yang lalu telah diperoleh

{𝐿̂𝑥 , 𝐿̂2 ]𝜓 = 0

dan

[𝐿̂𝑦 , 𝐿̂2 ]𝜓 = 0 .

Sebagai akibatnya diperoleh

[𝐿̂+ , 𝐿̂2 ] = 0 + 𝑖 (0) = 0

atau

[𝐿̂+ , 𝐿̂2 ] = 0 .

---------------------
BAHAN KULIAH : 13 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4

MOMENTUM SUDUT

2.Operator dalam Koordinat Bola

Untuk mendapatkan operator dalam koordinat bola, perlu untuk melakukan


transformasi koordinat dari koordinat kartesian ke koordinat bola. Dalam hal ini
berlaku

𝑥 = 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 (1)

𝑦 = 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 (2)

𝑧 = 𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃 (3)

𝑟2 = 𝑥2 + 𝑦2 + 𝑧2 (4)
𝑧
𝑐𝑜𝑠𝜃 = 𝑟 (5)

𝑦
𝑡𝑔𝜑 = (6) .
𝑥

Mengingat bentuk dari operator 𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 , 𝑑𝑎𝑛 𝐿̂2 maka terlebih dahulu akan
𝜕 𝜕 𝜕
ditentukan , , 𝑑𝑎𝑛 𝜕𝑧 . Karena itu perlu untuk melakukan langkah-langkah
𝜕𝑥 𝜕𝑦
berikut.

-Diferensiasi persamaan (4)

𝜕𝑟 2 = 𝜕(𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 ) = 𝜕𝑥 2 + 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2 .

Selanjutnya diperoleh

2𝑟𝜕𝑟 = 2𝑥𝜕𝑥 + 2𝑦𝜕𝑦 + 2𝑧𝜕𝑧

atau
𝑥 𝑦 𝑧
𝜕𝑟 = 𝑟 𝜕𝑥 + 𝑟 𝜕𝑦 + 𝑟 𝜕𝑧 .

Karena itu
𝜕𝑟 𝑥 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑
=𝑟= = 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑
𝜕𝑥 𝑟

𝜕𝑟 𝑦 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑
= = = 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑
𝜕𝑦 𝑟 𝑟
𝜕𝑟 𝑧 𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃
=𝑟= = 𝑐𝑜𝑠𝜃 .
𝜕𝑧 𝑟

Hasil-hasil ini diperoleh setelah melakukan substitusi persamaan (1), persamaan (2),
dan persamaan (3).

-Diferensiasi persamaan (5)


𝑧
𝜕𝑐𝑜𝑠𝜃 = 𝜕 𝑟 .

Selanjutnya diperoleh
1 𝑧
−𝑠𝑖𝑛𝜃𝜕𝜃 = 𝑟 𝜕𝑧 − 𝑟 2 𝜕𝑟

atau
1 𝑧
𝜕𝜃 = − 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑧 + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑟 .

Karena itu
𝜕𝜃 1 𝜕𝑧 𝑧 𝜕𝑟 𝑧 𝜕𝑟 𝑟𝑐𝑜𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑
= − 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑥 + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑥 = 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑥 = 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑐𝑜𝑠𝜑 =
𝜕𝑥 𝑟

𝜕𝜃 1 𝜕𝑧 𝑧 𝜕𝑟 𝑧 𝜕𝑟 𝑟𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑


= − 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑦 + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑦 = 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑦 = 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑠𝑖𝑛𝜑 =
𝜕𝑦 𝑟

𝜕𝜃 1 𝜕𝑧 𝑧 𝜕𝑟 1 𝑧 𝜕𝑟 1 𝑟𝑐𝑜𝑠𝜃
=− + 2 =− + 2 =− + 2 𝑐𝑜𝑠𝜃
𝜕𝑧 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑧 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑧 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝑧 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃
1 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 −(𝑠𝑖𝑛2 𝜃 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃) + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜃
=− + = =− =− .
𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑟
Hasil-hasil ini diperoleh setelah melakukan substitusi persamaan (1), persamaan (2),
dan persamaan (3).

-Diferensiasi persamaan (6)


𝑦
𝜕𝑡𝑔𝜑 = 𝜑 𝑥 .

Selanjutnya diperoleh
1 1 𝑦
𝜕𝜑 = 𝑥 𝜕𝑦 − 𝑥 2 𝜕𝑥
𝑐𝑜𝑠2 𝜑

atau
𝑐𝑜𝑠2 𝜑 𝑦
𝜕𝜑 = 𝜕𝑦 − 𝑥 2 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑𝜕𝑥 .
𝑥

Karena itu
𝜕𝜑 𝑦 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑠𝑖𝑛𝜑
= − 𝑥 2 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 = − 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑐𝑜𝑠2 𝜑 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 = − 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃
𝜑𝑥
𝜕𝜑 𝑐𝑜𝑠2 𝜑 𝑐𝑜𝑠2 𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑
= = 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃𝑐𝑜𝑠𝜑 = 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃
𝜕𝑦 𝑥

𝜕𝜑
=0 .
𝜕𝑧

Hasil-hasil ini diperoleh setelah melakukan substitusi persamaan (1), persamaan (2),
dan persamaan (3).

Dalam transformasi koordinat dari koordinat kartesian ke koordinat bola berlaku


𝜕 𝜕𝑟 𝜕 𝜕𝜃 𝜕 𝜕𝜑 𝜕
= 𝜕𝑥 𝜕𝑟 + 𝜕𝑥 𝜕𝜃 + 𝜕𝑥 𝜕𝜑
𝜕𝑥

𝜕 𝜕𝑟 𝜕 𝜕𝜃 𝜕 𝜕𝜑 𝜕
= + +
𝜕𝑦 𝜕𝑦 𝜕𝑟 𝜕𝑦 𝜕𝜃 𝜕𝑦 𝜕𝜑

𝜕 𝜕𝑟 𝜕 𝜕𝜃 𝜕 𝜕𝜑 𝜕
= 𝜕𝑧 𝜕𝑟 + 𝜕𝑧 𝜕𝜃 + .
𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝜑

Karena itu
𝜕 𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕
= 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕𝑟 + − 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑
𝜕𝑥 𝑟 𝜕𝜃

𝜕 𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕


= 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕𝑟 + + 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑
𝜕𝑦 𝑟 𝜕𝜃

𝜕 𝜕 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕
= 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝜕𝑟 − .
𝜕𝑧 𝑟 𝜕𝜃

Dari hasil-hasil ini dapat ditentukan operator 𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 , 𝑑𝑎𝑛 𝐿̂2 dalam koordinat bola.

-Operator 𝑳̂𝒙
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = −𝑖ћ(𝑦 𝜕𝑧 − 𝑧 𝜕𝑦)

karena itu

𝜕 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕
𝐿̂𝑥 = −𝑖ћ {𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 [𝑐𝑜𝑠𝜃 − ]
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕
− 𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃 [𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 + + ]}
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑
𝜕𝑟 𝜕𝜃 𝜕𝑟
𝜕 𝜕
− 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 }
𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {−(𝑠𝑖𝑛2 𝜃 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃)𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 }
𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {−𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 } = 𝑖ћ (𝑠𝑖𝑛𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 ) .
𝜕𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑

Jadi dalam koordinat bola


𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = 𝑖ћ (𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕𝜃 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕𝜑) .

-Operator 𝑳̂𝒚

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = −𝑖ћ(𝑧 𝜕𝑥 − 𝑥 𝜕𝑧)

karena itu

𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕


𝐿̂𝑦 = −𝑖ћ {𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃 [𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 + − ]
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕
− 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 [𝑐𝑜𝑠𝜃 − ]}
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 − 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑
𝜕𝑟 𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕
− 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 }
𝜕𝑟 𝜕𝜃
𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {(𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃)𝑐𝑜𝑠𝜑 − 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 }
𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {𝑐𝑜𝑠𝜑 − 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 } = 𝑖ћ (−𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 ) .
𝜕𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑

Jadi dalam koordinat bola


𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = 𝑖ћ (−𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕𝜃 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕𝜑) .

-Operator 𝑳̂𝒛
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ(𝑥 𝜕𝑦 − 𝑦 𝜕𝑥)

karena itu

𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕


𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ {𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 [𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 + + ]
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕
− 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 [𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 + − ]}
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {𝑟 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑
𝜕𝑟 𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕
− 𝑟 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 − 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜑 }
𝜕𝑟 𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕
= −𝑖ћ {(𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜑) } = −𝑖ћ .
𝜕𝜑 𝜕𝜑

Jadi dalam koordinat bola


𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ 𝜕𝜑 .
-Operator 𝑳̂𝟐

𝐿̂2 = 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧

Diperoleh
𝜕 2 𝜕 1 2𝜕
𝐿̂2 = −ћ2 (𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2) .

Uraian lengkap untuk hasil ini akan diberikan pada pembahasan selanjutnya.

-------------------

BAHAN KULIAH : 18 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4

2.Operator dalam Koordinat Bola ( Lanjutan ! )

-Operator 𝑳̂𝟐

𝐿̂2 = 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧 .

Dalam hal ini


𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
𝐿̂2𝑥 = 𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑥 = {𝑖ћ (𝑠𝑖𝑛𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 )} {𝑖ћ (𝑠𝑖𝑛𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 )}
𝜕𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
= −ћ2 {(𝑠𝑖𝑛𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 ) (𝑠𝑖𝑛𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 )}
𝜕𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑
2
𝜕
= −ћ2 {𝑠𝑖𝑛2 𝜑 2
𝜕𝜃
1 𝜕 𝜕2
+ [(𝑠𝑖𝑛𝜑) (− ) 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 ]
𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃𝜕𝜑
𝜕 𝜕2
+ [𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 (𝑐𝑜𝑠𝜑) + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝑠𝑖𝑛𝜑 ]
𝜕𝜃 𝜕𝜑𝜕𝜃
𝜕 𝜕2
+ [𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 (−𝑠𝑖𝑛𝜑) + 𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 2 ]}
𝜕𝜑 𝜕𝜑
𝜕2 1 𝜕
= −ћ2 {𝑠𝑖𝑛2 𝜑 2 − [𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 ( 2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃)]
𝜕𝜃 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝜕𝜑
2
𝜕 2
𝜕 2 2
𝜕2
+ 2𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠 𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔 𝜃 𝑐𝑜𝑠 𝜑 2 } .
𝜕𝜃𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑

Selanjutnya

𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
𝐿̂2𝑦 = 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑦 = {𝑖ћ (−𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 )} {𝑖ћ (−𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 )}
𝜕𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
= −ћ2 {(−𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 ) (−𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 )}
𝜕𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑
2
𝜕
= −ћ2 {𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 2
𝜕𝜃
1 𝜕 𝜕2
+ [(−𝑐𝑜𝑠𝜑) (− ) 𝑠𝑖𝑛𝜑 − 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 ]
𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑 𝜕𝜃𝜕𝜑
𝜕 𝜕2
+ [𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑(𝑠𝑖𝑛𝜑) + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑(−𝑐𝑜𝑠𝜑) ]
𝜕𝜃 𝜕𝜑𝜕𝜃
𝜕 𝜕2
+ [𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑(𝑐𝑜𝑠𝜑) + 𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜑 2 ]}
𝜕𝜑 𝜕𝜑
2
𝜕 1 𝜕
= −ћ2 {𝑐𝑜𝑠 2 𝜑 2 + [𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 ( 2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃)]
𝜕𝜃 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝜕𝜑
2
𝜕 𝜕 𝜕2
− 2𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜑 2 } .
𝜕𝜃𝜕𝜑 𝜕𝜃 𝜕𝜑

Di sisi lain
𝜕 𝜕 2𝜕
𝐿̂2𝑧 = 𝐿̂𝑧 𝐿̂𝑧 = (−𝑖ћ 𝜕𝜑) (−𝑖ћ 𝜕𝜑) = −ћ2 𝜕𝜑2 .

Karena itu
𝜕2 𝜕
𝐿̂2 = −ћ2 {(𝑠𝑖2𝜑 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑) + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃(𝑠𝑖𝑛 2
𝜑 + 𝑐𝑜𝑠 2
𝜑)
𝜕𝜃 2 𝜕𝜃
2
𝜕
+ [𝑐𝑜𝑡𝑔2 𝜃(𝑠𝑖𝑛2 𝜑 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑) + 1] 2 }
𝜕𝜑
2
2
𝜕 𝜕 2
𝜕2
= −ћ { 2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 + [𝑐𝑜𝑡𝑔 𝜃 + 1] 2 }
𝜕𝜃 𝜕𝜃 𝜕𝜑
2
𝜕 𝜕 𝑐𝑜𝑠 𝜃 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝜕 2
2 2
= −ћ2 { 2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 +[ 2 + ] }
𝜕𝜃 𝜕𝜃 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑 2
𝜕2 𝜕 (𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃) 𝜕 2
= −ћ2 { 2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 +[ ] 2}
𝜕𝜃 𝜕𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑
2 2
𝜕 𝜕 1 𝜕
= −ћ2 { 2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 + } .
𝜕𝜃 𝜕𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑 2

Jadi dalam koodinat bola


𝜕 2
𝜕 1 𝜕 2
𝐿̂2 = −ћ2 (𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2) .

3.Operator 𝑳̂𝒛

Telah diperoleh operator 𝐿̂𝑧 dalam koordinat bola adalah


𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ 𝜕𝜑 .

Berarti operator 𝐿̂𝑧 hanya fungsi dari 𝜑 saja. Karena itu dapat didefinisikan suatu
fungsi 𝜙(𝜑). Berdasarkan persamaan harga eigen berlaku

𝐿̂𝑧 𝜙(𝜑) = 𝛼 𝜙(𝜑) .

Dalam hal ini 𝐿̂𝑧 adalah operator eigen, 𝜙(𝜑) adalah fungsi eigen, dan 𝛼 adalah
harga atau nilai eigen.

Selanjutnya akan ditentukan harga eigen dan fungsi eigennya.

Dari persamaan harga eigen diperoleh


𝜕𝜙
−𝑖ћ 𝜕𝜑 = 𝛼𝜙

𝜕𝜙 𝛼
= − 𝑖ћ 𝜕𝜑
𝜙

𝜕𝜙 𝑖𝛼
= 𝜕𝜑
𝜙 ћ

𝜕𝜙 𝑖𝛼
∫ =∫ 𝜕𝜑
𝜙 ћ

𝑖𝛼
ln 𝜙 = 𝜑 .
ћ
Dari tabel :

𝑒 ln 𝑥 = 𝑥 .

Karena itu diperoleh


𝑖𝛼𝜑⁄
𝑒 ln 𝜙 = 𝑒 ћ

atau
𝑖𝛼𝜑⁄
𝜙(𝜑) = 𝑒 ћ .

Harga Eigen

Dari sudut 𝜑 :

Diperoleh

𝜙(𝜑) = 𝜙(𝜑 + 2𝜋)

berarti
𝑖𝛼𝜑⁄ 𝑖𝛼 (𝛼+2𝜋)⁄
𝑒 ћ =𝑒 ћ

𝑖𝛼𝜑⁄ 𝑖𝛼𝜑⁄ 𝑖𝛼 2𝜋⁄


𝑒 ћ =𝑒 ℎ . 𝑒 ћ

karena itu
𝑖𝛼 2𝜋⁄
𝑒 ℎ =1 . (∗)

Di sisi lain, secara matematika berlaku

𝑒 𝑖𝜃 = 𝑐𝑜𝑠𝜃 + 𝑖 𝑠𝑖𝑛𝜃 .

Dalam hal 𝑒 𝑖𝜃 = 1 , haruslah 𝜃 = 0, ±2𝜋, ±4𝜋, . .. .

Karena itu dapat dituliskan

𝑒 𝑖 𝑚𝑙 2𝜋 = 1 . (∗∗) 𝐷𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑚𝑙 = 0, ±1, ±2, . ..

Maka dengan membandingkan persamaan (∗) dan persamaan (∗∗) diperoleh


𝛼
= 𝑚𝑙
ћ

atau

𝜶 = 𝒎𝒍 ћ .

Hasil ini disebut harga eigen dari operator 𝐿̂𝑧 . Di sini 𝑚𝑙 = 0, ±1, ±2, . .. disebut
bilangan kuantum magnetik orbital.
Fungsi Eigen

Dengan diperolehnya harga eigen 𝛼 , maka fungsi eigen adalah

𝜙(𝜑) = 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑

atau dalam bentuk yang lebih lengkap

𝜙(𝜑) = 𝑁 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 .

Faktor normalisasi 𝑁 diperoleh berdasarkan syarat normalisasi. Dalam hal ini


2𝜋
∫0 𝜙 ∗ (𝜑) 𝜙(𝜑)𝑑𝜑 = 1
2𝜋
𝑁 2 ∫0 (𝑒 −𝑖 𝑚𝑙 𝜑 ) (𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 )𝑑𝜑 = 1

2𝜋
𝑁 2 ∫0 𝑒 0 𝑑𝜑 = 1

2𝜋
𝑁 2 ∫0 𝑑𝜑 = 1

𝑁 2 (2𝜋 − 0) = 1

𝑁 2 2𝜋 = 1
1
𝑁 2 = 2𝜋

1
𝑁 = √2𝜋 .

Karena itu

1
𝜙(𝜑) = √2𝜋 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑

atau dapat dituliskan

𝟏
𝝓𝒎𝒍 (𝝋) = √𝟐𝝅 𝒆𝒊 𝒎𝒍 𝝋 .

Hasil ini disebut fungsi eigen dari operator 𝐿̂𝑧 .

--------------------
BAHAN KULIAH : 25 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4

MOMENTUM SUDUT

4.Operator 𝑳̂𝟐

Telah diperoleh operator 𝐿̂2 dalam koordinat bola adalah


𝜕 2 𝜕 1 𝜕 2
𝐿̂2 = −ћ2 (𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2) .

Berarti operator 𝐿̂2 fungsi dari 𝜃 𝑑𝑎𝑛 𝜑 . Karena itu dapat didefinisikan suatu fungsi
𝜓(𝜃, 𝜑) . Berdasarkan persamaan harga eigen berlaku

𝐿̂2 𝜓(𝜃, 𝜑) = 𝜎 𝜓(𝜃, 𝜑) ,

dalam hal ini 𝐿̂2 adalah operator eigen, 𝜓(𝜃, 𝜑) adalah fungsi eigen, dan 𝜎 adalah
harga atau nilai eigen.

Selanjutnya akan ditentukan harga eigen dan fungsi eigennya.

Dari persamaan harga eigen diperoleh


𝜕2 𝜓 𝜕𝜓 1 𝜕2 𝜓
−ћ2 ( 𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2 ) = 𝜎 𝜓

atau
𝜕2 𝜓 𝜕𝜓 1 𝜕2 𝜓 𝜎
+ 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2 = − ћ2 𝜓 . (∗)
𝜕𝜃2

Persamaan (∗) dapat diselesaikan dengan metode pemisahan variabel. Untuk itu
misalkan

𝜓(𝜃, 𝜑) = 𝛩(𝜃) 𝜙(𝜑) .

Dalam hal ini diperoleh


𝜕𝜓 𝜕 𝜕𝛩 𝜕𝜙 𝜕𝛩 𝜕𝛩
= 𝜕𝜃 ( 𝛩 𝜙) = 𝜕𝜃 𝜙 + 𝛩 𝜕𝜃 = 𝜕𝜃 𝜙 = 𝜙 𝜕𝜃 .
𝜕𝜃

𝜕2 𝜓 𝜕 𝜕𝜓 𝜕 𝜕𝛩 𝜕2 𝛩
= 𝜕𝜃 ( 𝜕𝜃 ) = 𝜕𝜃 (𝜙 𝜕𝜃 ) = 𝜙 𝜕𝜃2 .
𝜕𝜃2

𝜕𝜓 𝜕 𝜕𝛩 𝜕𝜙 𝜕𝜙
= 𝜕𝜑 (𝛩 𝜙) = 𝜕𝜑 𝜙 + 𝛩 𝜕𝜑 = 𝛩 𝜕𝜑 .
𝜕𝜑
𝜕2 𝜓 𝜕 𝜕𝜓 𝜕 𝜕𝜙 𝜕2 𝜙
= 𝜕𝜑 (𝜕𝜑) = 𝜕𝜑 (𝛩 𝜕𝜑) = 𝛩 𝜕𝜑2 .
𝜕𝜑 2

Kembali ke persamaan (∗) diperoleh


𝜕2 𝛩 𝜕𝛩 𝛩 𝜕2 𝜙 𝜎
𝜙 𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜙 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2 = − ћ2 𝛩𝜙

𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕2 𝛩 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝛩 1 𝜕2 𝜙 𝜎
+ 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜃 + 𝜙 𝜕𝜑2 = − ћ2 𝑠𝑖𝑛2 𝜃
𝛩 𝜕𝜃2 𝛩

atau
𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕2 𝛩 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝛩 𝜎 1 𝜕2 𝜙
+ + ћ2 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 = − 𝜙 𝜕𝜑2 . (∗∗)
𝛩 𝜕𝜃2 𝛩 𝜕𝜃

Dari sini terlihat

Suku kiri persamaan (∗∗) hanya bergantung pada 𝜃

Suku kanan persamaan (∗∗) hanya bergantung pada 𝜑 .

Secara umum ( secara matematika ), kedua suku persamaan seperti ini dapat
dianggap sama dengan suatu konstanta. Di sini konstantanya dipilih 𝑚𝑙2 . Dengan
hasil ini maka solusi dari persamaan (∗∗) dapat diperoleh.

Bagian 𝝋

Diperoleh
1 𝜕2 𝜙
− 𝜙 𝜕𝜑2 = 𝑚𝑙2

𝜕2 𝜙
= −𝑚𝑙2 𝜙
𝜕𝜑 2

𝜕2 𝜙
+ 𝑚𝑙2 𝜙 = 0 .
𝜕𝜑 2

Karena itu solusi adalah

1
𝜙(𝜑) = √2𝜋 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 .

Hasil ini tidak lain adalah fungsi eigen dari operator 𝐿̂𝑧 .

Bagian 𝜽

Diperoleh
𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕2 𝛩 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝛩 𝜎
+ + ћ2 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 = 𝑚𝑙2
𝛩 𝜕𝜃2 𝛩 𝜕𝜃

atau
𝜕2 𝛩 𝜕𝛩 𝜎 𝑚2
+ 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + [ћ2 − 𝑠𝑖𝑛2𝑙 𝜃] 𝛩 = 0 . (1)
𝜕𝜃2

Persamaan (1) ini pada dasarnya adalah mirip dengan persamaan diferensial
Legendre terasosiasi yang mengambil bentuk

𝜕2 𝛩 𝜕𝛩 𝑚2
+ 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑠𝑖𝑛2𝑙 𝜃] 𝛩 = 0 (2)
𝜕𝜃2

dan mempunyai solusi yang disebut fungsi Legendre terasosiasi yaitu

|𝑚𝑙 | |𝑚𝑙 |⁄ 𝑑|𝑚𝑙 |


𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = (𝑠𝑖𝑛2 𝜃) 2 𝑃𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃)
𝑑𝑐𝑜𝑠 |𝑚𝑙 |

dengan

1 𝑑𝑙
𝑃𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 2𝑙 𝑙! (−𝑠𝑖𝑛2 𝜃)𝑙
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃𝑙

adalah fungsi Legendre.

Fungsi Legendre terasosiasi mempunyai sifat ortogonalitas yaitu


𝜋 |𝑚𝑙 | 2 (𝑙+𝑚𝑙 ) !
∫0 {𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃)}2 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 = .
2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) !

Harga Eigen

Dengan membandingkan persamaan (1) dan persamaan (2) diperoleh


𝜎
= 𝑙(𝑙 + 1)
ћ2

atau

𝜎 = ћ2 𝑙(𝑙 + 1) .

Hasil ini disebut harga eigen dari operator 𝐿̂2 . Di sini 𝑙 = 0, 1, 2, . .. disebut bilangan
kuantum orbital.

Fungsi Eigen

Bagian 𝜽 :

Diperoleh
|𝑚𝑙 |
𝛩(𝜃) = 𝛩𝑙

atau fungsi yang lebih lengkap


|𝑚𝑙 |
𝛩(𝜃) = 𝑁 𝛩𝑙 .

Faktor normalisasi 𝑁 ditentukan berdasarkan syarat normalisasi dan


penyelesaiannya dibantu oleh sifat ortogonalitas.
𝜋
∫0 𝛩∗ (𝜃) 𝛩(𝜃)𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 = 1
𝜋 |𝑚𝑙 |
𝑁 2 ∫0 {𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃)}2 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 = 1

2 (𝑙+𝑚𝑙 ) !
𝑁 2 [2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) !
]=1

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) !
𝑁2 = [ (𝑙+𝑚𝑙 ) !
]
2

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) !
𝑁=√ (𝑙+𝑚𝑙 ) !
.
2

Jadi untuk bagian 𝜃 diperoleh

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) ! |𝑚𝑙 |


𝛩(𝜃) = √ (𝑙+𝑚𝑙 ) !
𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) .
2

Sebagai akibatnya diperoleh

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) ! |𝑚𝑙 | 1


𝜓(𝜃, 𝜑) = √ (𝑙+𝑚𝑙 ) !
𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃)√ 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑
2 2𝜋

atau

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 ) ! |𝑚𝑙 | 1


𝜓𝑙,𝑚𝑙 (𝜃, 𝜑) = √ (𝑙+𝑚𝑙 ) !
𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃)√ 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 .
2 2𝜋

Hasil ini disebut fungsi eigen dari operator 𝐿̂2 . Dan biasanya disebut fungsi
harmonik bola.

------------------
BAHAN KULIAH : 27 Oktober 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4

MOMENTUM SUDUT

5.Operator 𝑳̂𝒙 dan Operator 𝑳̂𝒚

Operator 𝐿̂𝑥 dan operator 𝐿̂𝑦 tidak mempunyai fungsi eigen. Karena itu
didefinisikan operator-operator pengganti yaitu

𝐿̂+ = 𝐿̂𝑥 + 𝑖 ̂𝐿𝑦

𝐿̂− = 𝐿̂𝑥 − 𝑖 𝐿̂𝑦 .

Selanjutnya akan ditentukan 𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 dan 𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 ( di sini 𝑚 = 𝑚𝑙 ) .

Menentukan 𝑳̂+ 𝝍𝒍,𝒎

Mulai dari

𝐿̂𝑧 𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐿̂+ 𝐿̂𝑧 𝜓𝑙,𝑚 + ћ𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐿̂+ (ћ𝑚)𝜓𝑙,𝑚 + ћ𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = (ћ𝑚)𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 + ћ𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚
= ћ(𝑚 + 1)𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚

atau diperoleh

𝐿̂𝑧 (𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 ) = ћ(𝑚 + 1)(𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 ) . (∗)

Di sisi lain

𝐿̂𝑧 𝜓𝑙,𝑚 = (ћ𝑚)𝜓𝑙,𝑚

𝐿̂𝑧 ( 𝜓𝑙,𝑚+1 ) = ћ(𝑚 + 1)( 𝜓𝑙,𝑚+1 ) . (∗∗)

Maka dengan membandingkan persamaan (∗) dan persamaan (∗∗) diperoleh

𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 ≈ 𝜓𝑙,𝑚+1

atau lebih tepatnya

𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐶 𝜓𝑙,𝑚+1 .

Menentukan 𝑳̂− 𝝍𝒍,𝒎

Mulai dari

𝐿̂𝑧 𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐿̂− 𝐿̂𝑧 𝜓𝑙,𝑚 − ћ𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐿̂− (ћ𝑚)𝜓𝑙,𝑚 − ћ𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = (ћ𝑚)𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 − ћ𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚
= ћ(𝑚 − 1)𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚
atau diperoleh

𝐿̂𝑧 (𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 ) = ћ(𝑚 − 1)(𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 ) . (+)

Di sisi lain

𝐿̂𝑧 𝜓𝑙,𝑚 = (ћ𝑚)𝜓𝑙,𝑚

𝐿̂𝑧 (𝜓𝑙,𝑚−1 ) = ћ(𝑚 − 1)(𝜓𝑙,𝑚−1 ) . (++)

Maka dengan membandingkan persamaan (+) dan persamaan (++) diperoleh

𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 ≈ 𝜓𝑙,𝑚−1

atau lebih tepatnya

𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐶 ′ 𝜓𝑙,𝑚−1 .

Selanjutnya akan ditentukan konstanta-konstanta 𝐶 dan 𝐶 ′ .

Menentukan Konstanta 𝑪

Mulai dari

𝐿̂− 𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐿̂− (𝐶 𝜓𝑙,𝑚+1 ) = 𝐶 (𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚+1 ) = 𝐶 (𝐶𝜓𝑙,𝑚 ) = 𝐶 2 𝜓𝑙,𝑚

atau dapat dituliskan

(𝐿̂− 𝐿̂+ ) 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐶 2 𝜓𝑙,𝑚 . (1)

Di sisi lain

𝐿̂− 𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = (𝐿̂𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑦 )(𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 )𝜓𝑙,𝑚 = {𝐿̂2𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝑖𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝐿̂2𝑦 }𝜓𝑙,𝑚
= {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝑖(𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 )}𝜓𝑙,𝑚 = {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝑖(𝑖ћ 𝐿̂𝑧 )}𝜓𝑙,𝑚
= {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 − ћ 𝐿̂𝑧 }𝜓𝑙,𝑚 = {(𝐿̂2 − 𝐿̂2𝑧 ) − ћ𝐿̂𝑧 }𝜓𝑙,𝑚 = {𝐿̂2 − 𝐿̂2𝑧 − ћ𝐿̂𝑧 }𝜓𝑙,𝑚
= {ћ2 𝑙(𝑙 + 1) − (ћ𝑚)2 − ћ(ћ𝑚)}𝜓𝑙,𝑚 = {ћ2 𝑙(𝑙 + 1) − ћ2 𝑚2 − ћ2 𝑚}𝜓𝑙,𝑚
= ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚2 − 𝑚]𝜓𝑙,𝑚 = ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1)]𝜓𝑙,𝑚

atau dapat dituliskan

(𝐿̂− 𝐿̂+ )𝜓𝑙,𝑚 = ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1)]𝜓𝑙,𝑚 . (2)

Maka dengan membandingkan persamaan (1) dan persamaan (2) diperoleh

𝐶 2 = ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1)]

atau

𝐶 = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1) .
Menentukan Konstanta 𝑪′

Mulai dari
2
𝐿̂+ 𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐿̂+ (𝐶 ′ 𝜓𝑙,𝑚−1 ) = 𝐶 ′ (𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚−1 ) = 𝐶 ′ (𝐶 ′ 𝜓𝑙,𝑚 ) = 𝐶 ′ 𝜓𝑙,𝑚

atau dapat dituliskan


2
(𝐿̂+ 𝐿̂− ) 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐶 ′ 𝜓𝑙,𝑚 . (3)

Di sisi lain

𝐿̂+ 𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = (𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦 )(𝐿̂𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑦 )𝜓𝑙,𝑚 = {𝐿̂2𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 + 𝑖𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝐿̂2𝑦 }𝜓𝑙,𝑚
= {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 − 𝑖(𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 )}𝜓𝑙,𝑚 = {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 − 𝑖(𝑖ћ 𝐿̂𝑧 )}𝜓𝑙,𝑚
= {𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + ћ𝐿̂𝑧 }𝜓𝑙,𝑚 = {(𝐿̂2 − 𝐿̂2𝑧 ) + ћ𝐿̂𝑧 }𝜓𝑙,𝑚 = {𝐿̂2 − 𝐿̂2𝑧 + ћ𝐿̂𝑧 }𝜓𝑙,𝑚
= {ћ2 𝑙(𝑙 + 1) − (ћ𝑚)2 + ћ(ћ𝑚)}𝜓𝑙,𝑚 = {ћ2 𝑙(𝑙 + 1) − ћ2 𝑚2 + ћ2 𝑚}𝜓𝑙,𝑚
= ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚2 + 𝑚]𝜓𝑙,𝑚 = ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 − 1)]𝜓𝑙,𝑚

atau dapat dituliskan

(𝐿̂+ 𝐿̂− ) 𝜓𝑙,𝑚 = ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 − 1)]𝜓𝑙,𝑚 . (4)

Maka dengan membandingkan persamaan (3) dan persamaan (4) diperoleh


2
𝐶 ′ = ћ2 [𝑙(𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 − 1)]

atau

𝐶 ′ = ћ √𝑙(𝑙 + 1 − 𝑚(𝑚 − 1) .

Sebagai akibatnya diperoleh

𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1) 𝜓𝑙,𝑚+1

𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 − 1) 𝜓𝑙,𝑚−1 .

Operator 𝐿̂+ menambah 𝑚 dengan 1 , sedangkan operator 𝐿̂− mengurangi 𝑚


dengan 1 . Karena itu operator 𝐿̂+ dan operator 𝐿̂− disebut sebagai operator tangga
(ladder operator).

Contoh :

Operasi dengan 𝐿̂+ dan 𝐿̂−

a)Operasi dengan 𝐿̂+

𝐿̂+ 𝜓0,0 = 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 . Karena tidak ada fungsi 𝜓0,1 .

𝐿̂+ 𝜓1,1 = 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 . Karena tidak ada fungsi 𝜓1,2 .


b)Operasi dengan 𝐿̂−

𝐿̂− 𝜓0,0 = 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 . Karena tidak ada fungsi 𝜓0,−1 .

𝐿̂− 𝜓1,1 = 𝑎𝑑𝑎 . Karena ada fungsi 𝜓1,0 .

Catatan :

Di sini 𝑙 adalah bilangan kuantum orbital, sedangkan 𝑚 adalah bilangan kuantum


magnetik orbital.

-------------------

BAHAN KULIAH : 1 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4

MOMENTUM SUDUT

6.Rangkuman

Hasil-hasil pada bagian sebelumnya dapat dirangkumkan sebagai berikut

a)Operator-operator Momentum Sudut

Diperoleh operator-operator momentum sudut adalah 𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 , 𝐿̂2 , 𝐿̂+ dan 𝐿̂− .

Dalam hal ini


𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = −𝑖ћ (𝑦 𝜕𝑧 − 𝑧 𝜕𝑦)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = −𝑖ћ (𝑧 𝜕𝑥 − 𝑥 𝜕𝑧)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ (𝑥 𝜕𝑦 − 𝑦 𝜕𝑥)

𝐿̂2 = 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧


𝐿̂+ = 𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦

𝐿̂− = 𝐿̂𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑦 .

b)Operator-operator dalam Koordinat Bola

Diperoleh operator-operator dalam koordinat bola untuk 𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 dan 𝐿̂2 .

Dalam hal ini


𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = 𝑖ћ (𝑠𝑖𝑛𝜑 𝜕𝜃 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 𝜕𝜑)

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = 𝑖ћ (−𝑐𝑜𝑠𝜑 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 )
𝜕𝜃 𝜕𝜑

𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ћ 𝜕𝜑

𝜕 2 𝜕 1 𝜕 2
𝐿̂2 = −ћ2 (𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2) .

c)Operator 𝐿̂𝑧 dan Operator 𝐿̂2

Operator 𝐿̂𝑧 dan operator 𝐿̂2 memenuhi persamaan harga eigen.

-Operator 𝑳̂𝒛

Berlaku

𝐿̂𝑧 𝜙𝑚𝑙 (𝜑) = 𝛼 𝜙𝑚𝑙 (𝜑) .

Dalam hal ini 𝐿̂𝑧 adalah operator eigen, 𝛼 adalah harga eigen, dan 𝜙𝑚𝑙 (𝜑) adalah
fungsi eigen.

Harga Eigen

𝛼 = 𝑚𝑙 ћ .

Dalam hal ini



𝑚𝑙 = 0, ±1, ±2, . .. disebut bilangan kuantum magnetik orbital dan ћ = 2𝜋 , di sini ℎ =
6,63𝑥10−34 𝐽. 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 adalah konstanta Planck.

Fungsi Eigen

1
𝜙𝑚𝑙 (𝜑) = √2𝜋 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 .

Fungsi eigen ini hanya bergantung pada 𝜑 .

-Operator 𝑳̂𝟐
Berlaku

𝐿̂2 𝜓𝑙,𝑚𝑙 (𝜃, 𝜑) = 𝜎 𝜓𝑙,𝑚𝑙 (𝜃, 𝜑) .

Dalam hal ini 𝐿̂2 adalah operator eigen, 𝜎 adalah harga eigen, dan 𝜓𝑙,𝑚𝑙 (𝜃, 𝜑) adalah
fungsi eigen.

Harga Eigen

𝜎 = ћ2 𝑙(𝑙 + 1) .

Dalam hal ini

𝑙 = 0, 1, 2, . .. disebut bilangan kuantum orbital.

Fungsi Eigen

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 )! |𝑚𝑙 | 1


𝜓𝑙,𝑚𝑙 (𝜃, 𝜑) = √ 𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) √ 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 .
2 (𝑙+𝑚𝑙 )! 2𝜋

Dalam hal ini

|𝑚𝑙 | |𝑚𝑙 |⁄ 𝑑|𝑚𝑙 |


𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = (𝑠𝑖𝑛2 𝜃) 2 𝑃𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃)
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃|𝑚𝑙 |

adalah fungsi Legendre terasosiasi, dan

1 𝑑𝑙
𝑃𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 2𝑙 𝑙! (−𝑠𝑖𝑛2 𝜃)𝑙
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃𝑙

adalah fungsi Legendre.

Fungsi eigen ini bergantung pada 𝜃 dan 𝜑 , dan biasanya disebut sebagai fungsi
harmonik bola.

d)Operator 𝐿̂𝑥 dan Operator 𝐿̂𝑦

Operator 𝐿̂𝑥 dan operator 𝐿̂𝑦 tidak memenuhi persamaan harga eigen. Karena
itu didefinisikan operator-operator pengganti yaitu operator 𝐿̂+ dan operator 𝐿̂− .

Dalam hal ini

𝐿̂+ = 𝐿̂𝑥 + 𝑖𝐿̂𝑦

𝐿̂− = 𝐿̂𝑥 − 𝑖𝐿̂𝑦 .

Walaupun demikian ternyata operator 𝐿̂+ dan operator 𝐿̂− juga tidak memenuhi
persamaan harga eigen.

-Operator 𝑳̂+
Berlaku

𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐶 𝜓𝑙,𝑚+1 .

Dalam hal ini 𝐶 adalah suatu konstanta dan 𝜓𝑙,𝑚+1 adalah suatu fungsi gelombang
yang baru.

Diperoleh

𝐶 = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1)

karena itu

𝐿̂+ 𝜓𝑙,𝑚 = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 + 1) 𝜓𝑙,𝑚+1 .

Operator 𝐿̂+ menambah 𝑚 dengan 1 ( di sini 𝑚 = 𝑚𝑙 adalah bilangan kuantum


magnetik orbital ).

-Operator 𝑳̂−

Berlaku

𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = 𝐶 ′ 𝜓𝑙,𝑚−1 .

Dalam hal ini 𝐶 ′ adalah suatu konstanta dan 𝜓𝑙,𝑚−1 adalah suatu fungsi gelombang
yang baru.

Diperoleh

𝐶 ′ = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 − 1)

karena itu

𝐿̂− 𝜓𝑙,𝑚 = ћ √𝑙 (𝑙 + 1) − 𝑚(𝑚 − 1) 𝜓𝑙,𝑚−1 .

Operator 𝐿̂− mengurangi 𝑚 dengan 1 ( di sini 𝑚 = 𝑚𝑙 adalah bilangan kuantum


magnetik orbital ).

Karena itu operator 𝐿̂+ dan operator 𝐿̂− disebut sebagai operator tangga.

------------------

BAHAN KULIAH : 3 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 4
MOMENTUM SUDUT

7.Beberapa Contoh

Contoh : 1

Fungsi eigen dari operator 𝐿̂𝑧 mengambil bentuk

1
𝜙𝑚𝑙 (𝜑) = √2𝜋 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 .

Tentukan fungsi eigen ini untuk

a)𝑚𝑙 = 0

b)𝑚𝑙 = 1

c)𝑚𝑙 = 2 .

Penyelesaian :

a)𝑚𝑙 = 0

Diperoleh

1 1 1 1
𝜙0 = √2𝜋 𝑒 𝑖 .0.𝜑 = √2𝜋 𝑒 0 = √2𝜋 . 1 = √2𝜋 .

b)𝑚𝑙 = 1

Diperoleh

1 1
𝜙1 = √2𝜋 𝑒 𝑖 .1. 𝜑
= √2𝜋 𝑒 𝑖 𝜑 .

c)𝑚𝑙 = 2

Diperoleh

1 1
𝜙2 = √2𝜋 𝑒 𝑖 .2. 𝜑
= √2𝜋 𝑒 2 𝑖 𝜑 .

Contoh : 2

Fungsi eigen dari operator 𝐿̂2 biasanya disebut fungsi harmonik bola dan mengambil
bentuk

2𝑙+1 (𝑙−𝑚𝑙 )! |𝑚𝑙 | 1


𝜓𝑙,𝑚𝑙 (𝜃, 𝜑) = √ 𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) √ 𝑒 𝑖 𝑚𝑙 𝜑 ,
2 (𝑙+𝑚𝑙 )! 2𝜋
|𝑚 |
dalam hal ini 𝛩𝑙 𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) disebut fungsi Legendre terasosiasi. Tentukan fungsi
harmonik bola ini untuk

a)𝑙 = 2 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑙 = 0

b)𝑙 = 2 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑙 = 1

c)𝑙 = 2 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑙 = 2 .

Penyelesaian :

a)𝑙 = 2 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑙 = 0

Diperoleh

2 .2+1 (2−0)! 1
𝜓2,0 = √ 𝛩20 (𝑐𝑜𝑠𝜃)√2𝜋 𝑒 𝑖 .0.𝜑 .
2 (2+0)!

Dalam hal ini

-Fungsi Legendre terasosiasi


0⁄ 𝑑0
𝛩20 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = (𝑠𝑖𝑛2 𝜃) 2 𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) .
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃0

-Fungsi Legendre

1 𝑑2 2 2
1 𝑑 𝑑
𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 2 (−𝑠𝑖𝑛 𝜃) = [ (𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1)2 ]
2 2! 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 2 4 . 2 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃
1 𝑑 𝑑 1 𝑑
= [ (𝑐𝑜𝑠 4 𝜃 − 2𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 + 1)] = [4𝑐𝑜𝑠 3 𝜃 − 4𝑐𝑜𝑠𝜃]
8 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 8 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃
1 1
= (12𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 4) = (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) .
8 2
Karena itu fungsi Legendre terasosiasi
1
𝛩20 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 2 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) .

Sebagai akibatnya

5 2 1 1 5
𝜓2,0 = √2 . 2 [2 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1)] √2𝜋 . 1 = √16𝜋 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) .

b)𝑙 = 2 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑙 = 1

Diperoleh

2 .2+1 (2−1)! 1
𝜓2,1 = √ 𝛩21 (𝑐𝑜𝑠𝜃) √2𝜋 𝑒 𝑖 .1.𝜑 .
2 (2+1)!

Dalam hal ini


-Fungsi Legendre terasosiasi
1⁄ 𝑑
𝛩21 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = (𝑠𝑖𝑛2 𝜃) 2 𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) .
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃

-Fungsi Legendre
1
𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 2 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) .

Karena itu fungsi Legendre terasosiasi


𝑑 1
𝛩21 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 𝑠𝑖𝑛𝜃 [2 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1)] = 𝑠𝑖𝑛𝜃 (3𝑐𝑜𝑠𝜃) = 3 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 .
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃

Sebagai akibatnya

5 1 1 15 15
𝜓2,1 = √2 . 6 (3 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃) √2𝜋 𝑒 𝑖 𝜑 = √8𝜋 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑒 𝑖 𝜑 = √32𝜋 𝑠𝑖𝑛2𝜃 𝑒 𝑖 𝜑 .

c)𝑙 = 2 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑙 = 2

Diperoleh

2 .2+1 (2−2)! 1
𝜓2,2 = √ . (2+2)! 𝛩22 (𝑐𝑜𝑠𝜃) √2𝜋 𝑒 𝑖 .2.𝜑 .
2

Dalam hal ini

-Fungsi Legendre terasosiasi


2⁄ 𝑑2
𝛩22 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = (𝑠𝑖𝑛2 𝜃) 2 𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) .
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃2

-Fungsi Legendre
1
𝑃2 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 2 (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1) .

Karena itu fungsi Legendre terasosiasi

𝑑 𝑑 1 𝑑
𝛩22 (𝑐𝑜𝑠𝜃) = 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 { [ (3𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1)]} = 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 (3𝑐𝑜𝑠𝜃)
𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 2 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃
= 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 . (3) = 3 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 .

Sebagai akibatnya

5 1 1 2𝑖𝜑 5 1 2𝑖𝜑
𝜓2,2 = √ . (3 𝑠𝑖𝑛2 𝜃)√ 𝑒 = √ (3 𝑠𝑖𝑛2 𝜃)√ 𝑒
2 24 2𝜋 48 2𝜋

5 15
=√ (3 𝑠𝑖𝑛2 𝜃)𝑒 2 𝑖 𝜑 = √ 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑒 2 𝑖 𝜑 .
96𝜋 32𝜋
-------------------

BAHAN KULIAH : 8 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 5

ATOM HIDROGEN

1.Energi dan Fungsi Gelombang

Dalam hal atom Hidrogen, energi potensial mengambil bentuk


𝑒2
𝑉 = − 4𝜋𝜖 ,
0𝑟

di sini 𝑒 adalah muatan elektron, 𝜋 = 3,14 adalah suatu konstanta matematis, 𝜖0


adalah permitivitas ruang hampa, dan 𝑟 adalah jarak dari elektron ke inti atom.

Berarti persamaan Schrodinger untuk kasus ini adalah


2𝑚 𝑒2
∇2 𝛹 + (𝐸 + 4𝜋𝜖 𝑟) 𝛹 = 0 .
ћ2 0

Melihat bentuk energi potensialnya, penyelesaian untuk ini akan lebih mudah
dilakukan dalam koordinat bola. Karena itu perlu mengetahui ∇2 dalam koordinat
bola yaitu

1 𝜕 2 𝜕 1 𝜕 𝜕 1 𝜕2
∇2 = (𝑟 ) + (𝑠𝑖𝑛𝜃 ) +
𝑟 2 𝜕𝑟 𝜕𝑟 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 𝜕𝜃 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑 2
1 𝜕 𝜕2 1 𝜕 𝜕2 1 𝜕2
= 2 [2𝑟 + 𝑟 2 2 ] + 2 [𝑐𝑜𝑠𝜃 + 𝑠𝑖𝑛𝜃 2 ] + 2 2
𝑟 𝜕𝑟 𝜕𝑟 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 𝜕𝜃 𝑟 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝜕𝜑 2
𝜕2 2 𝜕 1 𝜕2 𝜕 1 𝜕2
= 2+ + [ + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 + ] .
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝑟 𝑟 2 𝜕𝜃 2 𝜕𝜃 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑 2

Dari bab 4 momentum sudut, telah diperoleh


𝜕 2 𝜕 1 𝜕 2
𝐿̂2 = −ћ2 [𝜕𝜃2 + 𝑐𝑜𝑡𝑔𝜃 𝜕𝜃 + 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2 ]

karena itu
𝜕2 2 𝜕 𝐿̂2
∇2 = 𝜕𝑟 2 + 𝑟 𝜕𝑟 − ћ2 𝑟 2 .
Dengan hasil ini maka persamaan Schrodinger menjadi
𝜕2 2 𝜕 𝐿̂2 2𝑚 𝑒2
[𝜕𝑟 2 + 𝑟 𝜕𝑟 − ћ2 𝑟 2 ] 𝛹 + (𝐸 + 4𝜋𝜖 𝑟) 𝛹 = 0
ћ2 0

atau
𝜕2 𝛹 2 𝜕𝛹 2𝑚 𝑒2 𝐿̂2
+ 𝑟 𝜕𝑟 + (𝐸 + 4𝜋𝜖 − 2𝑚𝑟 2 ) 𝛹 = 0 . (∗)
𝜕𝑟 2 ћ2 0 𝑟

Persamaan (∗) dapat diselesaikan dengan metode pemisahan variabel. Untuk ini
misalkan

𝛹(𝑟, 𝜃, 𝜑) = 𝑅(𝑟) 𝜓(𝜃, 𝜑) .

Fungsi 𝜓(𝜃, 𝜑) ini tidak lain adalah fungsi yang telah diperoleh pada pembahasan di
bagian sebelumnya dan dikenal sebagai fungsi harmonik bola.

Dalam hal ini


𝜕𝛹 𝜕 𝜕𝑅 𝜕𝜓 𝜕𝑅
= 𝜕𝑟 (𝑅𝜓) = 𝜓 + 𝑅 𝜕𝑟 = 𝜓 𝜕𝑟
𝜕𝑟 𝜕𝑟

karena itu
𝜕2 𝛹 𝜕 𝜕𝛹 𝜕 𝜕𝑅 𝜕2 𝑅
= 𝜕𝑟 ( 𝜕𝑟 ) = 𝜕𝑟 (𝜓 𝜕𝑟 ) = 𝜓 𝜕𝑟 2 .
𝜕𝑟 2

Kembali ke persamaan (∗) diperoleh


𝜕2 𝑅 2 𝜕𝑅 2𝑚 𝑒2 𝐿̂2
𝜓 𝜕𝑟 2 + 𝑟 𝜓 𝜕𝑟 + (𝐸 + 4𝜋𝜖 − 2𝑚𝑟 2 ) 𝑅𝜓 = 0
ћ2 0 𝑟

𝜕2 𝑅 2 𝜕𝑅 2𝑚 𝑒2 𝑙(𝑙+1)ћ2
𝜓 𝜕𝑟 2 + 𝑟 𝜓 𝜕𝑟 + (𝐸 + 4𝜋𝜖 − ) 𝑅𝜓 = 0
ћ2 0 𝑟 2𝑚𝑟 2

atau
𝑑2 𝑅 2 𝑑𝑅 2𝑚 𝑒2 𝑙(𝑙+1)ћ2
+ 𝑟 𝑑𝑟 + [𝐸 + 4𝜋𝜖 − ]𝑅 = 0 . (∗∗)
𝑑𝑟 2 ћ2 0 𝑟 2𝑚𝑟 2

Terlihat bahwa persamaan ini hanya fungsi dari variabel 𝑟 saja.

Untuk penyederhanaan, dapat dilakukan transformasi dari 𝑅(𝑟) ke 𝑅(𝜌) . Dalam hal
ini definisikan
2𝑟
𝜌 = 𝑛𝑎
0

di sini
𝑒2
𝑛2 = 8𝜋𝜖
0 𝑎0 |𝐸|

dan
4𝜋𝜖0 ћ2
𝑎0 = = 0,53𝑥10−10 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 adalah jari-jari Bohr untuk atom Hidrogen.
𝑚𝑒 2

Dari sini diperoleh


𝑑𝑅 𝑑𝜌 𝑑𝑅 2 𝑑𝑅
= = 𝑛𝑎 .
𝑑𝑟 𝑑𝑟 𝑑𝜌 0 𝑑𝜌

𝑑2 𝑅 𝑑 𝑑𝑅 𝑑𝜌 𝑑 2 𝑑𝑅 2 𝑑 2 𝑑𝑅 4 𝑑2 𝑅
= 𝑑𝑟 ( 𝑑𝑟 ) = ( 𝑑𝑟 𝑑𝜌) (𝑛𝑎 ) = (𝑛𝑎 ) (𝑛𝑎 ) = 𝑛2 𝑎 2 .
𝑑𝑟 2 0 𝑑𝜌 0 𝑑𝜌 0 𝑑𝜌 0 𝑑𝜌2

Dengan ini maka persamaan (∗∗) menjadi

4 𝑑2 𝑅 2 2 𝑑𝑅
( 2 2 𝑑𝜌2 + 2 ( 𝑛𝑎 𝜌) ( 𝑛𝑎 ) 𝑑𝜌
)
𝑛 𝑎0 0 0
2𝑚 𝑒2 2𝑚 𝑒2 2 4
+ [( 2 ) (− ) + ( ) ( ) ( ) − 𝑙(𝑙 + 1) ( )] 𝑅
ћ 8𝜋𝜖0 𝑎0 𝑛2 ћ2 4𝜋𝜖0 𝑛𝑎0 𝜌 𝑛2 𝑎02 𝜌2
=0 .

𝑛2 𝑎02 𝑛2 𝑎0 4𝜋𝜖0 ћ2
Selanjutnya kalikan hasil ini dengan ( ) atau ( )( ) maka diperoleh
4 4 𝑚𝑒 2

𝑑2 𝑅 2 𝑑𝑅 2𝑚 𝑒2 𝑛 2 𝑎0 4𝜋𝜖0 ћ2
+ + {[( 2 ) (− )] [( )( )]
𝑑𝜌2 𝜌 𝑑𝜌 ћ 8𝜋𝜖0 𝑎0 𝑛2 4 𝑚𝑒 2
2𝑚 𝑒2 2 𝑛2 𝑎0 4𝜋𝜖0 ћ2
+ ( 2 )( )( ) [( )( )]
ћ 4𝜋𝜖0 𝑛𝑎0 𝜌 4 𝑚𝑒 2
4 𝑛2 𝑎02
− 𝑙(𝑙 + 1) ( 2 2 2 ) ( )} 𝑅 = 0
𝑛 𝑎0 𝜌 4

atau
𝑑2 𝑅 2 𝑑𝑅 1 𝑛 𝑙(𝑙+1)
+𝜌 + [− 4 + 𝜌 − ]𝑅 = 0 . (1)
𝑑𝜌2 𝑑𝜌 𝜌2

Selanjutnya akan ditentukan solusi dari persamaan (1) atau 𝑅(𝜌) .

Dalam menentukan solusi dapat dilakukan pendekatan berikut :

-Untuk 𝜌 yang sangat besar diperoleh


𝑑2 𝑅 1
− 4𝑅 = 0 .
𝑑𝜌2

Karena itu solusi dapat dipilih berbentuk


𝜌
⁄2
𝑅(𝜌) ≈ 𝑒 − .

-Untuk meliput 𝜌 yang lain, dapat dipilih solusi dengan bentuk yang lebih umum yaitu
𝜌
⁄2
𝑅(𝜌) = 𝜌𝑙 𝐿(𝜌) 𝑒 − . (2)
Solusi suku 𝜌𝑙 adalah solusi dari syarat bahwa ketika 𝜌 mendekati nol, 𝑅(𝜌) juga
mendekati nol ( Ini mengartikan bahwa tidak ada peluang bagi elektron untuk
mendekati inti ).

Selanjutnya akan diuji solusi [ persamaan (2)] ke persamaan diferensialnya


[persamaan (1)]. Penyelesaian untuk ini cukup panjang, karena itu akan diberikan
pada perkuliahan selanjutnya.

Catatan :

Dengan menguji persamaan (2) ke persamaan (1) akan diperoleh suatu persamaan
diferensial yang disebut persamaan diferensial Laguerre terasosiasi, dan
mempunyai solusi yang disebut polinom Laguerre terasosiasi 𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 (𝜌) .

-------------------

BAHAN KULIAH : 10 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 5

ATOM HIDROGEN

1.Energi dan Fungsi Gelombang ( Lanjutan ! )

Untuk penyederhanaan, dapat dilakukan transformasi dari 𝑅(𝑟) ke 𝑅(𝜌) .


Dengan melakukan ini diperoleh
𝑑2 𝑅 2 𝑑𝑅 1 𝑛 𝑙(𝑙+1)
+ 𝜌 𝑑𝜌 + [− 4 + 𝜌 − ]𝑅 = 0 . (1)
𝑑𝜌2 𝜌2

Solusi untuk ini mengambil bentuk


𝜌
⁄2
𝑅(𝜌) = 𝜌𝑙 𝐿(𝜌)𝑒 − . (2)

Selanjutnya akan diuji solusi ini [ persamaan (2) ] ke persamaan diferensial yang
telah diperoleh [ persamaan (1) ].

Dalam hal ini


𝑑𝑅 𝑑 𝜌 𝜌 𝑑𝐿 𝜌 1 𝜌
⁄2 ⁄2 ⁄2 ⁄2
= 𝑑𝜌 [𝜌𝑙 𝐿𝑒 − ] = 𝑙𝜌𝑙−1 𝐿𝑒 − + 𝜌𝑙 𝑑𝜌 𝑒 − − 2 𝜌𝑙 𝐿𝑒 −
𝑑𝜌
atau
𝑑𝑅 𝑑𝐿 1 𝜌
⁄2
= {𝜌𝑙 𝑑𝜌 + [𝑙𝜌𝑙−1 − 2 𝜌𝑙 ] 𝐿} 𝑒 − .
𝑑𝜌

Di sisi lain

𝑑2𝑅 𝜌 𝑑𝐿 −𝜌⁄ 1 𝜌
2
= [𝑙(𝑙 − 1)𝜌𝑙−2 𝐿𝑒 − ⁄2 + 𝑙𝜌𝑙−1 𝑒 2 − 𝑙𝜌𝑙−1 𝐿𝑒 − ⁄2 ]
𝑑𝜌 𝑑𝜌 2
2
𝑑𝐿 −𝜌⁄ 𝑑 𝐿 𝜌 1 𝑑𝐿 −𝜌⁄
+ [𝑙𝜌𝑙−1 𝑒 2 + 𝜌𝑙 2 𝑒 − ⁄2 − 𝜌𝑙 𝑒 2]
𝑑𝜌 𝑑𝜌 2 𝑑𝜌
1 𝜌 1 𝑑𝐿 −𝜌⁄ 1 𝜌
+ [− 𝑙𝜌𝑙−1 𝐿𝑒 − ⁄2 − 𝜌𝑙 𝑒 2 + 𝜌𝑙 𝐿𝑒 − ⁄2 }
2 2 𝑑𝜌 4
2
𝑑 𝐿 𝑑𝐿 1 𝜌
= {𝜌𝑙 2 + [2𝑙𝜌𝑙−1 − 𝜌𝑙 ] + [𝑙(𝑙 − 1)𝜌𝑙−2 − 𝑙𝜌𝑙−1 + 𝜌𝑙 ] 𝐿} 𝑒 − ⁄2 .
𝑑𝜌 𝑑𝜌 4

Karena itu persamaan (1) menjadi


𝑑2 𝐿 𝑑𝐿 1 𝜌 2 𝑑𝐿
⁄2
{𝜌𝑙 𝑑𝜌2 + [2𝑙𝜌𝑙−1 − 𝜌𝑙 ] 𝑑𝜌 + [𝑙(𝑙 − 1)𝜌𝑙−2 − 𝑙𝜌𝑙−1 + 4 𝜌𝑙 ] 𝐿} 𝑒 − + 𝜌 {𝜌𝑙 𝑑𝜌 +
1 𝜌 1 𝑛 𝑙(𝑙+1) 𝜌
⁄2 ⁄2
[𝑙𝜌𝑙−1 − 2 𝜌𝑙 ] 𝐿} 𝑒 − + {[− 4 + 𝜌 − ] [𝜌𝑙 𝐿𝑒 − ]} =0
𝜌2

𝑑2 𝐿 𝑑𝐿 1 𝜌 𝑑𝐿
⁄2
{𝜌𝑙 𝑑𝜌2 + [2𝑙𝜌𝑙−1 − 𝜌𝑙 ] 𝑑𝜌 + [𝑙(𝑙 − 1)𝜌𝑙−2 − 𝑙𝜌𝑙−1 + 4 𝜌𝑙 ] 𝐿} 𝑒 − + {2𝜌𝑙−1 𝑑𝜌 +
𝜌 1 𝜌
⁄2 ⁄2
[2𝑙𝜌𝑙−2 − 𝜌𝑙−1 ]𝐿} 𝑒 − + {− 4 𝜌𝑙 + 𝑛𝜌𝑙−1 − 𝑙(𝑙 + 1)𝜌𝑙−2 } 𝐿𝑒 − =0

𝑑2 𝐿 𝑑𝐿 𝜌
⁄2
{𝜌𝑙 𝑑𝜌2 + [2(𝑙 + 1)𝜌𝑙−1 − 𝜌𝑙 ] 𝑑𝜌 + [(𝑛 − 𝑙 − 1)𝜌𝑙−1 ]𝐿} 𝑒 − =0

𝑑2 𝐿 𝑑𝐿 𝜌
⁄2
{𝜌 𝑑𝜌2 + [2(𝑙 + 1) − 𝜌] + (𝑛 − 𝑙 − 1)𝐿} 𝑒 − =0
𝑑𝜌

atau
𝑑2 𝐿 𝑑𝐿
𝜌 𝑑𝜌2 + [2(𝑙 + 1) − 𝜌] 𝑑𝜌 + (𝑛 − 𝑙 − 1)𝐿 = 0 . (3)

Persamaan (3) ini pada dasarnya adalah persamaan diferensial Laguerre


terasosiasi dan mempunyai solusi yang disebut polinom Laguerre terasosiasi yaitu

𝑑2𝑙+1
𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 (𝜌) = (−1)
2𝑙+1
𝐿 (𝜌) ,
𝑑𝜌2𝑙+1 𝑛+𝑙

di sini

𝑑𝑛+𝑙
𝐿𝑛+𝑙 (𝜌) = 𝑒 𝜌 (𝜌𝑛+𝑙 𝑒 −𝜌 )
𝑑𝜌𝑛+𝑙

disebut polinom Laguerre.

Polinom Laguerre terasosiasi mempunyai sifat ortogonalitas


∞ 2𝑛 [(𝑛+𝑙)!]3
∫0 𝜌2𝑙+2 {𝐿2𝑙+1 2 −𝜌
𝑛+𝑙 (𝜌)} 𝑒 𝑑𝜌 = (𝑛−𝑙−1)!
.

Dengan hasil-hasil ini maka solusi adalah


𝜌
⁄2
𝑅(𝜌) = 𝜌𝑙 𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 (𝜌)𝑒

.

Atau solusi yang lebih lengkap adalah


𝜌
⁄2
𝑅(𝜌) = 𝑁 𝜌𝑙 𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 (𝜌) 𝑒

.

Atau dapat juga diungkapkan dalam 𝑅(𝑟) yaitu


2𝑟 𝑙 2𝑟 𝑟⁄
𝑅(𝑟) = 𝑁 [ ] 𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 ( )𝑒 − 𝑛𝑎0 . (4)
𝑛𝑎0 𝑛𝑎0

Faktor normalisasi 𝑁 dapat ditentukan berdasarkan syarat normalisasi dan


penyelesaiannya dibantu oleh sifat ortogonalitas. Berlaku

∫0 𝑅 ∗ (𝑟) 𝑅(𝑟) 𝑟 2 𝑑𝑟 = 1

Karena itu diperoleh


∞ 2𝑟 2 − 2𝑟 2𝑟⁄
𝑁 2 ∫0 [𝑛𝑎 ]2𝑙 {𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 (𝑛𝑎 )} 𝑒
𝑛𝑎0 𝑟 2 𝑑𝑟 =1
0 0

𝑛𝑎0 3 ∞ 2𝑟 2𝑙 2𝑙+1 2 −2𝑟⁄𝑛𝑎 2𝑟 2 2𝑟


𝑁2( ) ∫0 [𝑛𝑎 ] {𝐿𝑛+𝑙 } 𝑒 0[ ] 𝑑 [𝑛𝑎 ] =1
2 0 𝑛𝑎0 0

𝑛𝑎0 3 ∞ 2𝑟 2𝑙+2 2𝑙+1 2 −2𝑟⁄𝑛𝑎 2𝑟


𝑁2( ) ∫0 [𝑛𝑎 ] {𝐿𝑛+𝑙 } 𝑒 0𝑑 [ ] =1
2 0 𝑛𝑎0

𝑛𝑎0 3 2𝑛[(𝑛+𝑙)!]3
𝑁2( ) { (𝑛−𝑙−1)! } =1
2

2 (𝑛−𝑙−1)!
𝑁 2 = (𝑛𝑎 )3
0 2𝑛[(𝑛+𝑙)!]3

atau

2 (𝑛−𝑙−1)!
𝑁 = √(𝑛𝑎 )3 .
0 2𝑛[(𝑛+𝑙)!]3

Jadi solusi lengkapnya adalah

2 (𝑛−𝑙−1)! 2𝑟 2𝑟
− 𝑟⁄
𝑅𝑛𝑙 (𝑟) = √(𝑛𝑎 )3 [𝑛𝑎 ]𝑙 𝐿2𝑙+1
𝑛+𝑙 (𝑛𝑎 )𝑒
𝑛𝑎0 .
0 2𝑛[(𝑛+𝑙)!]3 0 0

Kembali ke atom Hidrogen :

Energi

Dari definisi
𝑒2
𝑛2 = − 8𝜋𝜖
0 𝑎0 |𝐸|

maka energi adalah


𝑒2
𝐸 = − 8𝜋𝜖 2
0 𝑎0 𝑛

atau secara lebih memadai


𝑒2 13,6
𝐸𝑛 = − 8𝜋𝜖 2 =− 𝑒𝑉 .
0 𝑎0 𝑛 𝑛2

Di sini telah memasukkan 𝑒 adalah muatan elektron, 𝜋 = 3,14 , 𝜖0 adalah


permitivitas ruang hampa, 𝑎0 adalah jari-jari Bohr untuk atom Hidrogen, dan satuan
energi telah dikonversi dari Joule ke 𝑒𝑉 ( 1 𝑒𝑉 = 1,6𝑥10−19 Joule ).

Hasil ini disebut energi total dari atom Hidrogen. Di sini 𝑛 = 1, 2, 3, . .. disebut bilangan
kuantum utama. Hasil adalah sama seperti yang telah diperoleh dalam teori Bohr di
Bab 1 .

Fungsi Gelombang

Fungsi gelombang total mengambil bentuk

𝛹(𝑟, 𝜃, 𝜑) = 𝑅(𝑟) 𝜓(𝜃, 𝜑)

atau

𝛹𝑛𝑙𝑚 (𝑟, 𝜃, 𝜑) = 𝑅𝑛𝑙 (𝑟) 𝜓𝑙𝑚 (𝜃, 𝜑) .

Karena itu diperoleh

𝛹𝑛𝑙𝑚 (𝑟, 𝜃, 𝜑)
2 3 (𝑛 − 𝑙 − 1)! 2𝑟 𝑙 2𝑙+1 2𝑟 −𝑟⁄𝑛𝑎0 2𝑙 + 1
(𝑙 − 𝑚)! |𝑚| 1 𝑖𝑚𝜑
= √( ) [ ] 𝐿𝑛+𝑙 ( ) 𝑒 √ 𝛩𝑙 (𝑐𝑜𝑠𝜃) √ 𝑒 .
𝑛𝑎0 2𝑛[(𝑛 + 𝑙)!]3 𝑛𝑎0 𝑛𝑎0 2 (𝑙 + 𝑚)! 2𝜋

Di sini 𝑚 = 𝑚𝑙 .

Hasil ini disebut fungsi gelombang total dari atom Hidrogen. Jadi fungsi gelombang
total dari atom Hidrogen dapat diperoleh dari rumusan ( hasil ) ini atau dapat juga
dilihat pada tabel [ Sebagai contoh : Lihat di buku “ Konsep Fisika Modern “ oleh
Arthur Beiser ] .

--------------------
BAHAN KULIAH : 15 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 5

ATOM HIDROGEN

2.Beberapa Contoh

Contoh : 1

Jika elektron dalam atom Hidrogen menempati fungsi keadaan


1 𝑟⁄
𝛹100 = 3⁄ 𝑒− 𝑎0 ,
√𝜋 𝑎0 2

dalam hal ini 𝑎0 adalah jar-jari Bohr, maka tentukan harga ekspektasi energi
potensial dari elektron untuk keadaan ini.

Penyelesaian :

Harga ekspektasi energi potensial dari elektron untuk kedaan ini


𝑒 2
< 𝑉̂ > = ∫ 𝛹100

(− 4𝜋𝜖 𝑟) 𝛹100 𝑑𝑉 .
0

Selanjutnya

𝑒2 1
< 𝑉̂ > = (− ∗
) ∫ 𝛹100 𝛹 𝑑𝑉
4𝜋𝜖0 𝑟 100

𝑒2 1 𝑟 1 1 𝑟
= (− )∭( 3 𝑒 − ⁄𝑎0 ) ( 3 𝑒 − ⁄𝑎0 ) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
4𝜋𝜖0 ⁄ 𝑟 ⁄
√𝜋 𝑎0 2 √𝜋 𝑎0 2
𝑒2 1 2𝑟
= (− ) ( 3 ) ∭ 𝑟 𝑒 − ⁄𝑎0 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
4𝜋𝜖0 𝜋𝑎0
2 ∞ 𝜋 2𝜋
𝑒 1 −2𝑟⁄𝑎0
= (− ) ( 3) ∫ 𝑟 𝑒 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑 .
4𝜋𝜖0 𝜋𝑎0 0 0 0

Dalam hal ini, misalkan


∞ 2𝑟⁄
𝐼 = ∫0 𝑟 𝑒 − 𝑎0 𝑑𝑟 .

Integral seperti ini lebih mudah diselesaikan dengan bantuan Fungsi Gamma atau
perluasannya.

Fungsi Gamma :

𝛤(𝑛 + 1) = ∫0 𝑥 𝑛 𝑒 −𝑥 𝑑𝑥 = 𝑛! .

Perluasannya :
∞ 𝑛!
∫0 𝑥 𝑛 𝑒 −𝑎𝑥 𝑑𝑥 = 𝑎𝑛+1 .

Karena itu
∞ 2𝑟⁄ 1! 1 1
𝐼 = ∫0 𝑟 𝑒 − 𝑎0 𝑑𝑟 = 2 = 2 = 4 𝑎02 .
( )1+1 ( )2
𝑎0 𝑎0

Di sisi lain
𝜋
𝐼𝐼 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑑𝜃 = −( 𝑐𝑜𝑠𝜋 − 𝑐𝑜𝑠0) = −(−1 − 1) = 2

dan
2𝜋
𝐼𝐼𝐼 = ∫0 𝑑𝜑 = (2𝜋 − 0) = 2𝜋 .

Sebagai akibatnya diperoleh


𝑒2 1 1 𝑒2
< 𝑉̂ > = (− 4𝜋𝜖 ) (𝜋𝑎3 ) (4 𝑎02 ) (2) (2𝜋) = − 4𝜋𝜖 = −27,2 𝑒𝑉 .
0 0 0 𝑎0

𝑒2
Di sini telah menggunakan − 8𝜋𝜖 = −13,6 𝑒𝑉 .
0 𝑎0

Hasil ini adalah harga ekspektasi energi potensial dari elektron pada keadaan dasar.

Contoh : 2

Jika elektron dalam atom Hidrogen menempati fungsi keadaan


1 𝑟⁄
𝛹100 = 3⁄ 𝑒− 𝑎0 ,
√𝜋 𝑎0 2

dalam hal ini 𝑎0 adalah jari-jari Bohr, maka tentukan harga ekspektasi energi kinetik
dari elektron untuk keadaan ini.

Penyelesaian :

Harga ekspektasi energi kinetik dari elektron untuk keadaan ini


ћ 2
̂ > = ∫ 𝛹100
<𝐾 ∗
(− 2𝑚 ∇2 ) 𝛹100 𝑑𝑉 .

Selanjutnya
ћ2
̂ > = (− ) ∫ 𝛹100
<𝐾 ∗
∇2 𝛹100 𝑑𝑉 .
2𝑚

Dalam koordinat bola


1 𝜕 𝜕 1 𝜕 𝜕 1 𝜕2
∇2 = 𝑟 2 𝜕𝑟 (𝑟 2 𝜕𝑟) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 (𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝜕𝜑2 .
𝜕𝜃

Dengan mempertimbangkan bentuk 𝛹100 yang hanya bergantung pada variabel 𝑟 ,


maka
1 𝜕 𝜕 1 𝜕 𝜕2 𝑑2 2 𝑑
∇2 ≈ 𝑟 2 𝜕𝑟 (𝑟 2 𝜕𝑟) = 𝑟 2 [2𝑟 𝜕𝑟 + 𝑟 2 𝜕𝑟 2 ] = 𝑑𝑟 2 + 𝑟 𝑑𝑟 .

Dalam hal ini

𝑑 𝑑 1 𝑟⁄ 1 1 𝑟⁄ 1
𝛹 = 𝑑𝑟 [ 𝑒− 𝑎0 ] = −𝑎 ( 𝑒− 𝑎0 ) = − 𝑎 𝛹100
𝑑𝑟 100 3⁄
𝑎0 2 0
3⁄
𝑎0 2 0
√𝜋 √𝜋

karena itu
2 𝑑 2
𝛹100 = − 𝑎 𝛹100 .
𝑟 𝑑𝑟 0𝑟

Di sisi lain

𝑑2 𝑑 𝑑𝛹100 𝑑 1 1 𝑟
2
𝛹100 = ( )= [− ( 3 𝑒 − ⁄𝑎0 )]
𝑑𝑟 𝑑𝑟 𝑑𝑟 𝑑𝑟 𝑎0 ⁄
√𝜋 𝑎0 2

1 1 1 𝑟 1 1 𝑟 1
= (− )[ − ( 3 𝑒 − ⁄𝑎0 )] = 2 ( 3 𝑒 − ⁄𝑎0 ) = 2 𝛹100 .
𝑎0 𝑎0 ⁄ 𝑎0 ⁄ 𝑎0
√𝜋 𝑎0 2 √𝜋 𝑎0 2

Maka diperoleh

ћ2 1 2
̂ > = (−
<𝐾 ∗
) ∫ 𝛹100 [ 2− ] 𝛹 𝑑𝑉
2𝑚 𝑎0 𝑎0 𝑟 100
ћ2 1 ∗
2 ∗
1
= (− ) [ 2 ∫ 𝛹100 𝛹100 𝑑𝑉 − ∫ 𝛹100 𝛹 𝑑𝑉] .
2𝑚 𝑎0 𝑎0 𝑟 100

Dalam hal ini



∫ 𝛹100 𝛹100 𝑑𝑉 = 1 .

Hasil ini diperoleh karena 𝛹100 adalah fungsi gelombang yang ternormalisasi.

Di sisi lain

1
∫ 𝛹100 𝛹 𝑑𝑉
𝑟 100
1 𝑟⁄ 1 1 𝑟
= ∭( 3⁄ 𝑒− 𝑎0 ) ( 3 𝑒 − ⁄𝑎0 ) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
𝑟 ⁄
√𝜋 𝑎0 2 √𝜋 𝑎0 2
∞ 𝜋 2𝜋
1 −2𝑟⁄𝑎0
= ∫ 𝑟 𝑒 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑 .
𝜋𝑎03 0 0 0

Di sini
∞ 2𝑟⁄ 1! 1
𝐼 = ∫0 𝑟 𝑒 − 𝑎0 𝑑𝑟 = 2 2 = 4 𝑎02
( )
𝑎0

𝜋
𝐼𝐼 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑑𝜃 = −( 𝑐𝑜𝑠𝜋 − 𝑐𝑜𝑠0) = −(−1 − 1) = 2

2𝜋
𝐼𝐼𝐼 = ∫0 𝑑𝜑 = (2𝜋 − 0) = 2𝜋 .

Maka

∗ 1 1 1 1
∫ 𝛹100 𝛹100 𝑑𝑉 = (𝜋𝑎3 ) (4 𝑎02 ) (2) (2𝜋) = 𝑎 .
𝑟 0 0

Sebagai akibatnya diperoleh

ћ2 1 2 1 ћ2 1 2 ћ2 1
̂ > = (−
<𝐾 ) [ 2 − ( )] = (− ) [ 2 − 2 ] = (− ) (− 2 )
2𝑚 𝑎0 𝑎0 𝑎0 2𝑚 𝑎0 𝑎0 2𝑚 𝑎0
ћ2 1 𝑚𝑒 2 𝑒2
= ( )( )( ) = = 13,6 𝑒𝑉 .
2𝑚 𝑎0 4𝜋𝜖0 ћ2 8𝜋𝜖0 𝑎0

4𝜋𝜖0 ћ2 𝑒2
Di sini telah memasukkan 𝑎0 = dan menggunakan − 8𝜋𝜖 = −13,6 𝑒𝑉 .
𝑚𝑒 2 0 𝑎0

Hasil ini adalah harga ekspektasi energi kinetik dari elektron pada keadaan dasar.

̂ > + < 𝑉̂ > = −13,6 𝑒𝑉 seperti yang diharapkan.


Catatan : Energi total : 𝐸1 = < 𝐾

-------------------

BAHAN KULIAH : 17 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 6

TEORI PERTURBASI
Perturbasi adalah gangguan kecil pada sistem yang stasioner. Secara umum
ada 2 macam perturbasi yang dapat ditinjau

a)Perturbasi tak bergantung waktu

b)Perturbasi yang bergantung waktu .

Dalam hal perturbasi tak bergantung waktu, dapat ditinjau untuk 3 keadaan yang
berbeda yaitu metode variasi, sistem tak berdegenerasi, dan sistem berdegenerasi.

Dalam perkuliahan ini hanya akan diberikan teori perturbasi tak bergantung waktu
khususnya metode variasi dan sistem tak berdegenerasi.

1.Metode Variasi

Metode variasi didasarkan pada harga ekspektasi. Untuk suatu sistem yang
̂ dan fungsi gelombang 𝜓 , energi sistem adalah
mempunyai Hamiltonian 𝐻
∫ 𝜓∗ 𝐻
̂ 𝜓 𝑑𝑉
𝐸= . (∗)
∫ 𝜓∗ 𝜓 𝑑𝑉

Dalam hal ini ψ adalah suatu fungsi gelombang yang ditebak atau fungsi gelombang
coba-coba. Fungsi gelombang ψ ini biasanya mempunyai parameter yang belum
diketahui. Energi minimum diperoleh dengan menvariasikan persamaan (∗)
terhadap parameter yang bersangkutan. Proses ini disebut sebagai minimisasi
energi. Jika hal ini dilakukan maka akan diperoleh nilai parameternya. Dengan
demikian diperoleh juga fungsi gelombang dan energinya ( fungsi gelombang dan
energi keadaan dasarnya ).

Contoh :

Dalam hal atom Hidrogen diketahui Hamiltonian adalah


2 2
̂ = − ћ ∇2 − 𝑒
𝐻 .
2𝑚 4𝜋𝜖 0𝑟

Untuk kasus ini dipilih fungsi coba-cobanya adalah 𝜓 = 𝑒 −𝛼 𝑟 , dalam hal ini 𝛼 adalah
suatu parameter. Dengan metode variasi, tentukan parameter 𝛼 , fungsi gelombang,
dan energi keadaan dasarnya.

Penyelesaian :

Energi sistem adalah


∫ 𝜓∗ 𝐻
̂ 𝜓 𝑑𝑉
𝐸= .
∫ 𝜓∗ 𝜓 𝑑𝑉

Untuk kemudahan, misalkan

̂ 𝜓 𝑑𝑉
𝐴 = ∫ 𝜓∗ 𝐻
dan

𝐵 = ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑉 .

Menentukan 𝑨

̂ 𝜓 𝑑𝑉 .
𝐴 = ∫ 𝜓∗ 𝐻

Dalam hal ini


2 2 2 2 2
̂ 𝜓 = (− ћ ∇2 − 𝑒 ) 𝜓 = {(− ћ ) [ 𝑑 2 + 2 𝑑 ] − 𝑒 } 𝜓 .
𝐻 2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 2𝑚 𝑑𝑟
0 𝑟 𝑑𝑟 4𝜋𝜖 𝑟 0

Di sini
𝑑𝜓 𝑑
= 𝑑𝑟 𝑒 −𝛼 𝑟 = −𝛼 𝑒 −𝛼 𝑟 = −𝛼 𝜓
𝑑𝑟

karena itu
2 𝑑𝜓 2 2𝛼
= 𝑟 (−𝛼 𝜓) = − 𝜓 .
𝑟 𝑑𝑟 𝑟

Di sisi lain
𝑑2 𝜓 𝑑 𝑑𝜓 𝑑
= 𝑑𝑟 ( 𝑑𝑟 ) = 𝑑𝑟 (−𝛼 𝑒 −𝛼 𝑟 ) = (−𝛼) (−𝛼 𝑒 −𝛼 𝑟 ) = 𝛼 2 𝑒 −𝛼 𝑟 = 𝛼 2 𝜓 .
𝑑𝑟 2

Karena itu diperoleh


2 2
̂ 𝜓 = {(− ћ ) [𝛼 2 − 2𝛼] − 𝑒
𝐻 }𝜓 .
2𝑚 𝑟 4𝜋𝜖 0𝑟

Maka

ћ2 2𝛼 𝑒2
𝐴 = ∫ 𝜓 ∗ {(− ) [𝛼 2 − ] − } 𝜓 𝑑𝑉
2𝑚 𝑟 4𝜋𝜖0 𝑟
ћ2
= (− ) 𝛼 2 ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑉
2𝑚
ћ2 ∗
1 𝑒2 1
+ (− ) (−2𝛼) ∫𝜓 𝜓 𝑑𝑉 − ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑉 .
2𝑚 𝑟 4𝜋𝜖0 𝑟

Dalam hal ini


∞ 𝜋 2𝜋
∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑉 = ∭ 𝑒 −2𝛼𝑟 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑 = ∫0 𝑟 2 𝑒 −2𝛼𝑟 𝑑𝑟 ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 ∫0 𝑑𝜑 .

Diperoleh
∞ 2! 2 1
𝐼1 = ∫0 𝑟 2 𝑒 −2𝛼𝑟 𝑑𝑟 = (2𝛼)3 = 8𝛼3 = 4𝛼3

𝜋
𝐼𝐼1 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 = − (𝑐𝑜𝑠𝜋 − 𝑐𝑜𝑠0) = −(−1 − 1) = 2
2𝜋
𝐼𝐼𝐼1 = ∫0 𝑑𝜑 = (2𝜋 − 0) = 2𝜋 .

Karena itu
1 𝜋
∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑉 = (4𝛼3 ) (2) (2𝜋) = 𝛼3 .

Selanjutnya
∞ 𝜋 2𝜋
1 ∗ −2𝛼𝑟
1 2 −2𝛼𝑟
∫𝜓 𝜓 𝑑𝑉 = ∭ 𝑒 𝑟 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑 = ∫ 𝑟𝑒 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑 .
𝑟 𝑟 0 0 0

Diperoleh
∞ 1 1
𝐼2 = ∫0 𝑟𝑒 −2𝛼𝑟 𝑑𝑟 = (2𝛼)2 = 4𝛼2

𝜋
𝐼𝐼2 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 = −( 𝑐𝑜𝑠𝜋 − 𝑐𝑜𝑠0) = −(−1 − 1) = 2

2𝜋
𝐼𝐼𝐼2 = ∫0 𝑑𝜑 = (2𝜋 − 0) = 2𝜋 .

Karena itu
1 1 𝜋
∫ 𝜓∗ 𝑟
𝜓 𝑑𝑉 = (4𝛼2 ) (2) (2𝜋) = 𝛼2 .

Dengan demikian

ћ2 2
𝜋 ћ2 𝜋 𝑒2 𝜋
𝐴 = (− ) 𝛼 ( 3 ) + (− ) (−2𝛼) ( 2 ) − ( 2)
2𝑚 𝛼 2𝑚 𝛼 4𝜋𝜖0 𝛼
2 2 2
ћ 𝜋 ћ 𝜋 𝑒 𝜋 ћ2 𝜋 𝑒2 𝜋
= (− ) ( )+( ) ( )− ( 2) = ( ) ( ) − ( ) ( 2) .
2𝑚 𝛼 𝑚 𝛼 4𝜋𝜖0 𝛼 2𝑚 𝛼 4𝜋𝜖0 𝛼

Menentukan 𝑩
𝜋
𝐵 = ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑉 = 𝛼3 ( Hasil ini diperoleh dengan mengambil hasil dari perhitungan
sebelumnya ).

Sebagai akibatnya diperoleh energi sistem adalah


ћ2 𝜋 𝑒2 𝜋
𝐴 ( ) ( )−( ) ( 2) ћ2 𝑒2
2𝑚 𝛼 4𝜋𝜖0 𝛼
𝐸=𝐵= 𝜋 = (2𝑚) 𝛼 2 − (4𝜋𝜖 ) 𝛼 .
( 3) 0
𝛼

Minimisasi energi memberikan


𝜕𝐸
=0
𝜕𝛼

ћ2 𝑒2
𝛼 − 4𝜋𝜖 = 0
𝑚 0
ћ2 𝑒2
𝛼 = 4𝜋𝜖
𝑚 0

𝑚𝑒 2 1
𝛼 = 4𝜋𝜖 2
=𝑎 .
0ћ 0

4𝜋𝜖0 ћ2
Di sini telah memasukkan 𝑎0 = .
𝑚𝑒 2

Diperoleh :
1
-Parameter : 𝛼 = 𝑎
0

𝑟⁄
-Fungsi Gelombang : 𝜓 = 𝑒 − 𝑎0

-Energi :

ћ2 1 𝑒2 1 ћ2 1 1 𝑒2
𝐸=( ) ( 2) − ( )( ) = ( ) ( ) ( ) −
2𝑚 𝑎0 4𝜋𝜖0 𝑎0 2𝑚 𝑎0 𝑎0 4𝜋𝜖0 𝑎0
2 2 2 2
ћ 1 𝑚𝑒 𝑒 𝑒 𝑒2
= ( )( )( )− = −
2𝑚 𝑎0 4𝜋𝜖0 ћ2 4𝜋𝜖0 𝑎0 8𝜋𝜖0 𝑎0 4𝜋𝜖0 𝑎0
𝑒2 2𝑒 2 𝑒2
= − =− = −13,6 𝑒𝑉 .
8𝜋𝜖0 𝑎0 8𝜋𝜖0 𝑎0 8𝜋𝜖0 𝑎0
𝑒2
Di sini telah menggunakan − 8𝜋𝜖 = −13,6 𝑒𝑉 .
0 𝑎0

-------------------

BAHAN KULIAH : 22 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 6

TEORI PERTURBASI

1.Metode Variasi ( Lanjutan ! )

Contoh : [ Lihat di buku “ Fisika Kuantum “ : Rustam E. Siregar, Bab 8, No. 4 ].

Dalam hal osilator harmonik ( 1-dimensi arah-x ) diketahui Hamiltonian adalah


2 2
̂ = − ћ 𝑑 2 + 1 𝑚𝜔2 𝑥 2 .
𝐻 2𝑚 𝑑𝑥 2

2
Untuk kasus ini dipilih fungsi coba-cobanya adalah 𝜓 = 𝑒 −𝛾𝑥 , dalam hal ini 𝛾
adalah suatu parameter. Dengan metode variasi, tentukan parameter 𝛾 , fungsi
gelombang, dan energi keadaan dasarnya.
Penyelesaian :

Energi sistem adalah


∫ 𝜓∗ 𝐻
̂ 𝜓 𝑑𝑉
𝐸= ∗ .
∫ 𝜓 𝜓 𝑑𝑉

Untuk kasus ini, energi sistem adalah


∫ 𝜓∗ 𝐻
̂ 𝜓 𝑑𝑥
𝐸= .
∫ 𝜓∗ 𝜓 𝑑𝑥

Untuk kemudahan dapat dimisalkan

̂ 𝜓 𝑑𝑥
𝐴 = ∫ 𝜓∗ 𝐻

dan

𝐵 = ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑥 .

Selanjutnya akan ditentukan 𝐴 dan 𝐵 .

Menentukan 𝑨

̂ 𝜓 𝑑𝑥 .
𝐴 = ∫ 𝜓∗ 𝐻

Dalam hal ini


2 2
̂ 𝜓 = [− ћ 𝑑 2 + 1 𝑚𝜔2 𝑥 2 ] 𝑒 −𝛾𝑥 2
𝐻 2𝑚 𝑑𝑥 2

di sini
𝑑 2 2
𝑒 −𝛾𝑥 = −2𝛾𝑥 𝑒 −𝛾𝑥 .
𝑑𝑥

𝑑2 −𝛾𝑥 2 𝑑 𝑑 −𝛾𝑥 2 𝑑 2 2 2
2
𝑒 = ( 𝑒 )= (−2𝛾𝑥 𝑒 −𝛾𝑥 ) = {−2𝛾𝑒 −𝛾𝑥 + (−2𝛾𝑥)[−2𝛾𝑥𝑒 −𝛾𝑥 ]}
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
−𝛾𝑥 2 2 2
= {−2𝛾𝑒 + 4𝛾 2 𝑥 2 𝑒 −𝛾𝑥 } = {−2𝛾 + 4𝛾 2 𝑥 2 } 𝑒 −𝛾𝑥
= (−2𝛾 + 4𝛾 2 𝑥 2 ) 𝜓 .

Maka

ћ2 1 2
̂ 𝜓 = {(−
𝐻 ) [−2𝛾 + 4𝛾 2 𝑥 2 ] + 𝑚𝜔2 𝑥 2 } 𝑒 −𝛾𝑥
2𝑚 2
2
ћ ћ2 1
= {(− ) (−2𝛾) + (− ) (4𝛾 2 𝑥 2 ) + 𝑚𝜔2 𝑥 2 } 𝜓
2𝑚 2𝑚 2
2 2 2 2
ћ 𝛾 2ћ 𝛾 𝑥 1
={ + (− + 𝑚𝜔2 𝑥 2 )} 𝜓
𝑚 𝑚 2
ћ2 𝛾 1 2ћ2 𝛾 2 2
={ + ( 𝑚𝜔2 − )𝑥 } 𝜓 .
𝑚 2 𝑚
Dengan hasil ini maka

ћ2 𝛾 1 2ћ2 𝛾 2 2 ћ2 1
𝐴 = ∫ 𝜓∗ { + ( 𝑚𝜔2 − ) 𝑥 } 𝜓 𝑑𝑥 = 𝛾 ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑥 + ( 𝑚𝜔2
𝑚 2 𝑚 𝑚 2
2
2ћ 2
− 𝛾 ) ∫ 𝜓 ∗ 𝑥 2 𝜓 𝑑𝑥 .
𝑚

Selanjutnya
∞ 2 2 ∞ 2
∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑥 = ∫−∞(𝑒 −𝛾𝑥 ) (𝑒 −𝛾𝑥 ) 𝑑𝑥 = ∫−∞ 𝑒 −2𝛾𝑥 𝑑𝑥 .

Integral seperti ini lebih mudah diselesaikan dengan bantuan fungsi Gamma atau
perluasannya.

Fungsi Gamma :

𝛤(𝑛 + 1) = ∫0 𝑥 𝑛 𝑒 −𝑥 𝑑𝑥 = 𝑛! .

Perluasannya :
∞ 𝑛!
∫0 𝑥 𝑛 𝑒 −𝑎𝑥 𝑑𝑥 = 𝑎𝑛+1 .

Untuk kasus ini, perluasan dari fungsi Gamma perlu diubah sedikit bentuknya
dengan menggantikan 𝑥 dengan 𝑡 2 . Diperoleh
∞ 2 𝑛!
∫0 (𝑡 2 )𝑛 𝑒 −𝑎𝑡 𝑑𝑡 2 = 𝑎𝑛+1

∞ 2 𝑛!
∫0 𝑡 2𝑛 𝑒 −𝑎𝑡 2𝑡 𝑑𝑡 = 𝑎𝑛+1

∞ 2 𝑛!
2 ∫0 𝑡 2𝑛+1 𝑒 −𝑎𝑡 𝑑𝑡 = 𝑎𝑛+1

atau
∞ 2 𝑛!
∫−∞ 𝑡 2𝑛+1 𝑒 −𝑎𝑡 𝑑𝑡 = 𝑎𝑛+1 .

Di sisi lain berlaku juga

𝑛! = 𝛤(𝑛 + 1) .

Maka hasil di atas dapat dituliskan sebagai


∞ 2 𝛤(𝑛+1)
∫−∞ 𝑡 2𝑛+1 𝑒 −𝑎𝑡 𝑑𝑡 = 𝑎𝑛+1
.

Dalam hal fungsi Gamma, untuk 𝑛 pecahan akan memenuhi juga hubungan

𝛤(𝑛 + 1) = 𝑛 𝛤(𝑛) .

Secara khusus diketahui bahwa


1
𝛤 (2) = √𝜋 .

Kembali ke hasil sebelumnya, maka


1 1
∞ 2 𝛤(− +1) 𝛤( ) √𝜋 𝜋
∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑥 = ∫−∞ 𝑒 −2𝛾𝑥 𝑑𝑥 = 1
2
− +1
= 2
1 =
√2𝛾
= √2𝛾 .
(2𝛾) 2 (2𝛾)2

Di sisi lain

1 3
∞ ∞ 𝛤(2 + 1) 𝛤(2)
−𝛾𝑥 2 −𝛾𝑥 2 −2𝛾𝑥 2
∫ 𝜓 ∗ 𝑥 2 𝜓 𝑑𝑥 = ∫ (𝑒 ) 𝑥 2 (𝑒 )𝑑𝑥 = ∫ 𝑥 2 𝑒 𝑑𝑥 = 1 = 3
−∞ −∞ (2𝛾)2+1 (2𝛾)2
1 1 1
𝛤(2)
= 2 = 2 √𝜋 = 1 𝜋
.
3 √
2𝛾 √2𝛾 4𝛾 2𝛾
(2𝛾) 2

Dengan demikian

ћ2 𝜋 1 2ћ2 1 𝜋
𝐴= 𝛾 (√2𝛾) + (2 𝑚𝜔2 − 𝛾 2 ) (4𝛾 √2𝛾) .
𝑚 𝑚

Menentukan 𝑩

𝐵 = ∫ 𝜓 ∗ 𝜓 𝑑𝑥 .

Dengan cara yang sama seperti sebelumnya


1
∞ 2 𝛤( ) √𝜋 𝜋

𝐵 = ∫ 𝜓 𝜓 𝑑𝑥 = ∫−∞ 𝑒 −2𝛾𝑥 𝑑𝑥 = 2
1 =
√2𝛾
= √2𝛾 .
(2𝛾)2

Sebagai akibatnya energi sistem adalah

ћ2 𝜋 1 2 2ћ2 2 1 𝜋
𝛾 ( ) + ( 𝑚𝜔 −
𝐴 𝑚 √ 2𝛾 2 𝑚 𝛾 ) (4𝛾 √2𝛾 ) ћ2 1 2ћ2 2 1
𝐸= = = 𝛾 + ( 𝑚𝜔2 − 𝛾 )
𝐵 𝜋 𝑚 2 𝑚 4𝛾
√2𝛾
ћ2 1 𝑚𝜔2 ћ2 ћ2 1 𝑚𝜔2
= 𝛾+ − 𝛾= 𝛾+ .
𝑚 8 𝛾 2𝑚 2𝑚 8 𝛾

Selanjutnya minimisasi energi memberikan


𝜕𝐸
=0 .
𝜕𝛾

Karena itu diperoleh


ћ2 1
+ 8 𝑚𝜔2 (−𝛾 −2 ) = 0
2𝑚
ћ2 1 𝑚𝜔 2
−8 =0
2𝑚 𝛾2

ћ2 1 𝑚𝜔 2
=8
2𝑚 𝛾2

1 𝑚2 𝜔 2
𝛾2 = 4 ћ2

atau
1 𝑚𝜔 1
𝛾=2 = 2 𝑎2 .
ћ

𝑚𝜔
Di sini telah digunakan 𝑎 = √ ( Lihat bahasan osilator harmonik di bab 3 ).
ћ

Sebagai akibatnya diperoleh


1 𝑚𝜔 1
-Nilai parameter : 𝛾 = 2 = 2 𝑎2
ћ

1 2 𝑥2
-Fungsi gelombang : 𝜓 = 𝑒 −2 𝑎

-Energi :
ћ2 1 𝑚𝜔 1 2ћ 1 1 1
𝐸 = 2𝑚 (2 ) + 8 𝑚𝜔2 (𝑚𝜔) = 4 ћ𝜔 + 4 ћ𝜔 = 2 ћ𝜔 .
ћ

Bandingkan : Teori kuantum osilator harmonik ( Bab 3 )

-Fungsi Gelombang
1 2
𝑎 𝑥2
𝜓𝑛 (𝑥) = √ 1 𝐻𝑛 (𝑎𝑥)𝑒 −2 𝑎 .
2𝑛 𝑛! 𝜋 ⁄2

Keadaan dasar : 𝑛 = 0
1 2 1
𝑎 𝑥2 𝑎 2 𝑥2
𝜓0 (𝑥) = √ 1 𝐻0 (𝑎𝑥)𝑒 −2 𝑎 =√ 1 𝑒 −2 𝑎 .
𝜋 ⁄2 𝜋 ⁄2

-Energi
1
𝐸𝑛 = (𝑛 + 2) ћ𝜔 .

Keadaan dasar : 𝑛 = 0
1 1
𝐸0 = (0 + 2) ћ𝜔 = 2 ћ𝜔 .
-------------------

BAHAN KULIAH : 24 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 6

TEORI PERTURBASI

2.Sistem Tak Berdegenerasi

̂ (0) dan mempunyai fungsi-


Andaikan pada keadaan awal Hamiltonian adalah 𝐻
(0)
fungsi eigen ortogonal yang telah diketahui {𝜓𝑛 } . Berlaku

̂ (0) 𝜓𝑛(0) = 𝐸𝑛(0) 𝜓𝑛(0)


𝐻
(0)∗ (0)
∫ 𝜓𝑛 𝜓𝑚 𝑑𝑉 = 𝛿𝑛𝑚 .

Oleh karena sesuatu hal Hamiltonian mengalami perubahan 𝐻 ̂ (1) dan ini disebut
̂ (1) ≪ 𝐻
sebagai gangguan pada sistem. Dalam aproksimasi ini 𝐻 ̂ (0) . Karena itu
Hamiltonian total adalah

̂=𝐻
𝐻 ̂ (0) + 𝜆 𝐻
̂ (1) .

Dalam hal ini 𝜆 adalah parameter ekspansi dan dapat dipergunakan untuk
menentukan orde koreksi.

̂ , maka berlaku
Andaikan 𝜓𝑛 adalah fungsi-fungsi eigen dari Hamiltonian total 𝐻

̂ 𝜓𝑛 = (𝐻
𝐻 ̂ (0) + 𝜆𝐻
̂ (1) )𝜓𝑛 = 𝐸𝑛 𝜓𝑛 . (∗)

̂ (1) , maka energi berubah dari 𝐸𝑛(0) ke 𝐸𝑛 dan fungsi


Dengan adanya gangguan 𝐻
(0)
gelombang berubah dari 𝜓𝑛 ke 𝜓𝑛 .
Untuk mendapatkan koreksi pada energi dan fungsi gelombang dapat dilakukan
ekspansi dengan cara berikut.
(0) (1) (2)
𝐸𝑛 = 𝐸𝑛 + 𝜆𝐸𝑛 + 𝜆2 𝐸𝑛 + . ..
(0) (1) (2)
𝜓𝑛 = 𝜓𝑛 + 𝜆𝜓𝑛 + 𝜆2 𝜓𝑛 + . .. . (∗∗)

Substitusi persamaan (∗∗) ke persamaan (∗) memberikan

̂ (1) ) (𝜓𝑛(0) + 𝜆𝜓𝑛(1) + 𝜆2 𝜓𝑛(2) + . . . )


̂ (0) + 𝜆𝐻
(𝐻
(0) (1) (2) (0) (1) (2)
= (𝐸𝑛 + 𝜆𝐸𝑛 + 𝜆2 𝐸𝑛 + . . . ) (𝜓𝑛 + 𝜆𝜓𝑛 + 𝜆2 𝜓𝑛 + . .. ) .

Diperoleh :

𝝀𝟎 ∶

̂ (0) 𝜓𝑛(0) = 𝐸𝑛(0) 𝜓𝑛(0)


𝐻 . → seperti yang diharapkan

𝝀𝟏 ∶

̂ (0) 𝜓𝑛(1) + 𝐻
𝐻 ̂ (1) 𝜓𝑛(0) = 𝐸𝑛(0) 𝜓𝑛(1) + 𝐸𝑛(1) 𝜓𝑛(0)

atau

̂ (0) − 𝐸𝑛(0) ]𝜓𝑛(1) = 𝐸𝑛(1) 𝜓𝑛(0) − 𝐻


[𝐻 ̂ (1) 𝜓𝑛(0) . (+)

𝝀𝟐 ∶

̂ (0) 𝜓𝑛(2) + 𝐻
𝐻 ̂ (1) 𝜓𝑛(1) = 𝐸𝑛(0) 𝜓𝑛(2) + 𝐸𝑛(1) 𝜓𝑛(1) + 𝐸𝑛(2) 𝜓𝑛(0) .

Dan seterusnya . . . ( sesuai dengan kebutuhan ).

Koreksi Orde-1

-Koreksi Orde-1 Energi


(0)∗
Kalikan dari sebelah kiri kedua suku persamaan (+) dengan 𝜓𝑛 dan diintegralkan,
diperoleh
(0)∗ ∗
̂ (0) − 𝐸𝑛(0) ] 𝜓𝑛(1) 𝑑𝑉 = 𝐸𝑛(1) ∫ 𝜓𝑛(0) 𝜓𝑛(0) 𝑑𝑉 − ∫ 𝜓𝑛(0) 𝐻

̂ (1) 𝜓𝑛(0) 𝑑𝑉 .
∫ 𝜓𝑛 [𝐻

Dalam hal ini


(0)∗ (0)
∫ 𝜓𝑛 𝜓𝑛 𝑑𝑉 = 𝛿𝑛𝑛 = 1
(0)∗ ̂ (1) 𝜓𝑛(0) 𝑑𝑉 = 𝐻 (1)
̂𝑛𝑛
∫ 𝜓𝑛 𝐻 .

Di sisi lain, berdasarkan sifat Hermitian berlaku


∫ 𝜓 ∗ 𝐴̂ 𝜓 𝑑𝑉 = ∫(𝐴𝜓)∗ 𝜓 𝑑𝑉 .

Karena itu suku kiri


(0)∗ ̂ (0) − 𝐸𝑛(0) ] 𝜓𝑛(1) 𝑑𝑉 = ∫{ [𝐻
̂ (0) − 𝐸𝑛(0) ] 𝜓𝑛(0) }∗ 𝜓𝑛(1) 𝑑𝑉 = 0 .
∫ 𝜓𝑛 [𝐻

Hasil ini oleh karena

̂ (0) − 𝐸𝑛(0) ] 𝜓𝑛(0) = 𝐻


[𝐻 ̂ (0) 𝜓𝑛(0) − 𝐸𝑛(0) 𝜓𝑛(0) = 0 .

Sebagai akibatnya diperoleh


(1) (1)
̂𝑛𝑛
0 = 𝐸𝑛 − 𝐻

atau
(1) (1)
̂𝑛𝑛
𝐸𝑛 = 𝐻 .
(1)
̂𝑛𝑛 = ∫ 𝜓𝑛 (0)∗ ̂ (1) 𝜓𝑛(0) 𝑑𝑉 .
Di sini 𝐻 𝐻

Hasil ini disebut koreksi orde-1 energi.

-Koreksi Orde-1 Fungsi


(1) (0)
Definisikan 𝜓𝑛 sebagai fungsi yang ortogonal terhadap semua 𝜓𝑚 ( di sini 𝑚 ≠ 𝑛 )
dan berlaku
(1) (0)
𝜓𝑛 = ∑𝑚≠𝑛 𝑐𝑛𝑚 𝜓𝑚 .

Dengan ini maka persamaan (+) menjadi

̂ (0) − 𝐸𝑛(0) ] 𝜓𝑚
∑𝑛≠𝑚 𝑐𝑛𝑚 [𝐻 (0) (1) (0)
= 𝐸𝑛 𝜓𝑛 − 𝐻̂ (1) 𝜓𝑛(0)

(0) (0) (0) (1) (0) ̂ (1) 𝜓𝑛(0) .


∑𝑛≠𝑚 𝑐𝑛𝑚 [𝐸𝑚 − 𝐸𝑛 ] 𝜓𝑚 = 𝐸𝑛 𝜓𝑛 − 𝐻 (++)

(0)∗
Kalikan dari sebelah kiri kedua suku persamaan (++) dengan 𝜓𝑘 ( di sini 𝑘 ≠ 𝑛 )
dan diintegralkan, diperoleh
(0) (0) (0) (0) (1) ∗
(0) (0) ∗
(0) ̂ (1) (0) ∗
∑𝑛≠𝑚 𝑐𝑛𝑚 [𝐸𝑚 − 𝐸𝑛 ] ∫ 𝜓𝑘 𝜓𝑚 𝑑𝑉 = 𝐸𝑛 ∫ 𝜓𝑘 𝜓𝑛 𝑑𝑉 − ∫ 𝜓𝑘 𝐻 𝜓𝑛 𝑑𝑉 .

Dalam hal ini


(0)∗ (0)
∫ 𝜓𝑘 𝜓𝑚 𝑑𝑉 = 𝛿𝑘𝑚

(0)∗ (0)
∫ 𝜓𝑘 𝜓𝑛 𝑑𝑉 = 𝛿𝑘𝑛 = 0

(0)∗ ̂ (1) 𝜓𝑛(0) 𝑑𝑉 = 𝐻 (1)


̂𝑘𝑛
∫ 𝜓𝑘 𝐻 .
Selanjutnya dipilih 𝑘 = 𝑚 dan diperoleh
(0) (0) (1)
̂𝑘𝑛
𝑐𝑛𝑘 [𝐸𝑘 − 𝐸𝑛 ] = −𝐻

berarti

−𝐻̂ (1)
𝑘𝑛
𝑐𝑛𝑘 = (0) (0)
𝐸𝑘 −𝐸𝑛

atau

𝐻̂ (1)
𝑘𝑛
𝑐𝑛𝑘 = (0) (0) .
𝐸𝑛 −𝐸𝑘

Indeks 𝑘 ≠ 𝑛 mencirikan sistem tak berdegenerasi.

Sebagai akibatnya diperoleh

(1) ̂ (1)
𝐻 (0)
𝑘𝑛
𝜓𝑛 = ∑𝑘≠𝑛 (0) (0) 𝜓𝑘 .
𝐸𝑛 −𝐸𝑘

(1) (0) ̂ (1) (0) ∗


̂𝑘𝑛
Di sini 𝐻 = ∫ 𝜓𝑘 𝐻 𝜓𝑛 𝑑𝑉 .

Hasil ini disebut koreksi orde-1 fungsi.

Jadi koreksi hingga orde-1 energi dan fungsi gelombang adalah


(0) ̂𝑛𝑛(1) (0) (1)
𝐸𝑛 = 𝐸𝑛 + 𝐸𝑛 = 𝐸𝑛 + 𝐻

(0) (1) (0) 𝐻̂ (1) (0)


𝑘𝑛
𝜓𝑛 = 𝜓𝑛 + 𝜓𝑛 = 𝜓𝑛 + ∑𝑘≠𝑛 (0) (0) 𝜓𝑘 .
𝐸𝑛 −𝐸𝑘

Di sini parameter ekspansi 𝜆 telah dipilih sama dengan 1 .

Contoh :

Diketahui energi dan fungsi gelombang dari suatu sistem tanpa gangguan adalah
(0) 1 (0) 3 (0) (0)
𝐸1 = 2 ћ𝜔, 𝐸2 = 2 ћ𝜔 dan 𝜓1 , 𝜓2 . Oleh karena sesuatu hal sistem mengalami
gangguan. Perubahan oleh karena gangguan dinyatakan dalam bentuk matriks yaitu
1 1
̂ (1) = (16
𝐻 8
1 1) ћ𝜔 . Tentukan tingkat-tingkat energi dan fungsi-fungsi gelombang
8 4
hingga koreksi orde-1.

Penyelesaian :

a)Tingkat-tingkat energi hingga koreksi orde-1

Energi tingkat satu


(0) (1) (0) (1) 1 1 9
𝐸1 = 𝐸1 + 𝐸1 ̂11
= 𝐸1 + 𝐻 = 2 ћ𝜔 + 16 ћ𝜔 = 16 ћ𝜔 .

Energi tingkat dua


(0) (1) (0) (1) 3 1 7
̂22
𝐸2 = 𝐸2 + 𝐸2 = 𝐸2 + 𝐻 = 2 ћ𝜔 + 4 ћ𝜔 = 4 ћ𝜔 .

b)Fungsi-fungsi gelombang hingga koreksi orde-1

Fungsi gelombang tingkat satu

(1) 1
𝜓1 =
(0)
𝜓1 +
(1)
𝜓1 =
(0)
𝜓1 +
̂21
𝐻 (0)
𝜓2 =
(0)
𝜓1 + 8 ћ𝜔 (0) (0) 1 (0)
𝜓2 = 𝜓1 − 𝜓2 .
(0)
𝐸1 −
(0)
𝐸2 1 3 8
ћ𝜔 − ћ𝜔
2 2
Fungsi gelombang tingkat dua

(1) 1
𝜓2 =
(0)
𝜓2 +
(1)
𝜓2 =
(0)
𝜓2 +
̂12
𝐻 (0)
𝜓1 =
(0)
𝜓2 + 8 ћ𝜔 (0) (0) 1 (0)
𝜓1 = 𝜓2 + 𝜓1 .
(0)
𝐸2 −
(0)
𝐸1 3 1 8
ћ𝜔 −
2 2 ћ𝜔

--------------------

BAHAN KULIAH : 29 Nopember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 6

TEORI PERTURBASI

2.Sistem Tak Berdegenerasi ( Lanjutan ! )

Contoh :
Pengaruh medan listrik statik pada tingkat-tingkat energi suatu atom disebut efek
Stark. Interaksi antara medan listrik dan elektron dianggap sebagai gangguan.
Dalam hal atom Hidrogen interaksi ini adalah

̂ (1) = 𝑒 𝐸 𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃 .
𝐻

Dalam hal ini 𝑒 adalah muatan elektron, 𝐸 adalah medan listrik, dan 𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃 adalah
arah medan listriknya ( sumbu-z ). Fungsi gelombang keadaan dasar atom Hidrogen
(0)
𝜓1𝑠 adalah tidak berdegenerasi dengan fungsi-fungsi keadaan yang lainnya.
Tentukan energi dan fungsi gelombang keadaan dasar atom Hidrogen hingga
koreksi orde-1 oleh karena gangguan ini.

Penyelesaian :

Koreksi hingga orde-1 energi dan fungsi gelombang keadaan dasar atom Hidrogen
adalah

-Energi
(0) (1) (0) (1)
̂11
𝐸1 = 𝐸1 + 𝐸1 = 𝐸1 + 𝐻 .
(1) (0) ̂ (1) (0) ∗
̂11
Di sini 𝐻 = ∫ 𝜓1𝑠 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉 .

-Fungsi Gelombang

(0) (1) (0) 𝐻̂ (1) (0)


𝑘1
𝜓1 = 𝜓1𝑠 + 𝜓1𝑠 = 𝜓1𝑠 + ∑𝑘≠1 (0) (0) 𝜓𝑘 .
𝐸1 −𝐸𝑘

(1) (0) ̂ (1) (0) ∗


̂𝑘1
Di sini 𝐻 = ∫ 𝜓𝑘 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉 .

Dalam kasus ini dibatasi 𝑘 = 2 , yang berarti gangguan hanya diberikan oleh fungsi-
fungsi gelombang satu tingkat di atas keadaan dasar. Karena itu diperoleh
(1) (1) (1)
̂2𝑝
(1)
̂2𝑠
𝐻 ̂2𝑝
𝐻 ̂2𝑝
𝐻 𝐻
(0) 1 (0) 𝑧1 (0) 𝑥1 (0) 𝑦1 (0)
𝜓1 = 𝜓1𝑠 + (0) (0)
𝜓2𝑠 + (0) (0)
𝜓2𝑝𝑧 + (0) (0)
𝜓2𝑝𝑥 + (0) (0)
𝜓2𝑝𝑦 .
𝐸1 − 𝐸2 𝐸1 − 𝐸2 𝐸1 − 𝐸2 𝐸1 − 𝐸2
(1) ̂ (1)
̂11 (1)
̂2𝑝 (1)
̂2𝑝 (1)
̂2𝑝
Karena itu akan ditentukan 𝐻 , 𝐻2𝑠 1 , 𝐻 𝑧1
,𝐻 𝑥1
, dan 𝐻 𝑦1
.

Untuk dapat melakukan perhitungan ini terlebih dahulu perlu mengetahui fungsi
gelombang keadaan dasar dan fungsi-fungsi gelombang satu tingkat di atas
keadaan dasar. Fungsi-fungsi gelombang ini dapat diperoleh dari rumusan pada
teori kuantum atom Hidrogen atau dapat juga dilihat dari tabel. Mereka adalah
(0) 1 𝑟⁄
𝜓1𝑠 = 3⁄ 𝑒− 𝑎0 = 𝛹100
√𝜋 𝑎0 2
(0) 1 𝑟 −𝑟⁄2𝑎
𝜓2𝑠 = 3⁄ (2 − 𝑎 ) 𝑒 0 = 𝛹200
4√2𝜋 𝑎0 2 0

(0) 1 𝑟 −𝑟⁄2𝑎
𝜓2𝑝𝑧 = 3⁄ 𝑒 0 𝑐𝑜𝑠𝜃 = 𝛹210
4√2𝜋 𝑎0 2 𝑎0

(0) 1 𝑟 −𝑟⁄2𝑎
𝜓2𝑝𝑥 = 3⁄ 𝑒 0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑
4√2𝜋 𝑎0 2 𝑎0

(0) 1 𝑟 −𝑟⁄2𝑎
𝜓2𝑝𝑦 = 3⁄ 𝑒 0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 .
4√2𝜋 𝑎0 2 𝑎0

̂ (𝟏)
𝑯 𝟏𝟏

(1) (0) ̂ (1) (0) ∗ 1 −2𝑟⁄𝑎0


̂11
𝐻 = ∫ 𝜓1𝑠 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉 = (𝑒𝐸𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
3 ∭𝑒
𝜋𝑎0
𝑒𝐸 ∞ 3 −2𝑟⁄𝑎 𝜋 2𝜋
= 3 ∫ 𝑟 𝑒 0 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑 .
𝜋𝑎0 0 0 0

Dalam hal ini


∞ 2𝑟⁄ 3! 6 3
𝐼 = ∫0 𝑟 3 𝑒 − 𝑎0 𝑑𝑟 = 2 = 16 𝑎04 = 8 𝑎04
( )4
𝑎0

𝜋 𝜋 1 1
𝐼𝐼 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃 cos 𝜃 𝑑𝜃 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑑𝑠𝑖𝑛𝜃 = 2 (𝑠𝑖𝑛2 𝜋 − 𝑠𝑖𝑛2 0) = 2 (0 − 0) = 0

2𝜋
𝐼𝐼𝐼 = ∫0 𝑑𝜑 = (2𝜋 − 0) = 2𝜋 .

Sebagai akibatnya
(1) 𝑒𝐸 3
̂11
𝐻 = 𝜋𝑎3 (8 𝑎04 ) (0) (2𝜋) = 0 .
0

̂ (𝟏)
𝑯 𝟐𝒔 𝟏

(1) (0) ̂ (1) (0) ∗ 1 −3𝑟⁄2𝑎


̂2𝑠
𝐻 1 = ∫ 𝜓2𝑠 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉 = [2 ∭ 𝑒 0 (𝑒𝐸𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
4√2 𝜋 𝑎03
1 −3𝑟
− ∭ 𝑒 ⁄2𝑎0 𝑟 (𝑒𝐸𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑]
𝑎0
∞ 𝜋 2𝜋
𝑒𝐸 3𝑟
3 − ⁄2𝑎0
= [2 ∫ 𝑟 𝑒 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑
4√2 𝜋𝑎03 0 0 0
1 ∞ −3𝑟
𝜋 𝜋
− ∫ 𝑟 4 𝑒 ⁄2𝑎0 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑] .
𝑎0 0 0 0

Dalam hal ini


∞ −3𝑟⁄2𝑎 3! 6 32
𝐼1 = ∫0 𝑟 3 𝑒 0 𝑑𝑟 = 3 4 = 81 16 𝑎04 = 27 𝑎04
( )
2𝑎0
𝜋
𝐼𝐼1 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝜃 = 0

2𝜋
𝐼𝐼𝐼1 = ∫0 𝑑𝜑 = 2𝜋

∞ −3𝑟⁄2𝑎 4! 24 256
𝐼2 = ∫0 𝑟 4 𝑒 0 𝑑𝑟 = 3 5 = 243 32 𝑎05 = 𝑎05
( ) 81
2𝑎0

𝜋
𝐼𝐼2 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃 𝑑𝜃 = 0

2𝜋
𝐼𝐼𝐼2 = ∫0 𝑑𝜑 = 2𝜋 .

Sebagai akibatnya

(1) 𝑒𝐸 32 1 256 5 𝑒𝐸
̂2𝑠
𝐻 1 = [2 ( 𝑎04 ) (0) (2𝜋) − ( 𝑎0 ) (0) (2𝜋)] = (0−0)
4√2 𝜋 𝑎03 27 𝑎0 81 4√2 𝜋 𝑎03
=0 .

̂ (𝟏)
𝑯 𝟐𝒑𝒛 𝟏

(1) (0) ̂ (0) ∗


̂2𝑝
𝐻 = ∫ 𝜓2𝑝𝑧 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉
𝑧1

1 −3𝑟⁄2𝑎
= ∭𝑒 0 𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃 (𝑒𝐸𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
4√2 𝜋 𝑎04
∞ 𝜋 2𝜋
𝑒𝐸 −3𝑟⁄2𝑎
= ∫ 𝑟 4𝑒 0 𝑑𝑟 ∫ 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 ∫ 𝑑𝜑 .
4√2 𝜋 𝑎04 0 0 0

Dalam hal ini


∞ −3𝑟⁄2𝑎 4! 24 256
𝐼 = ∫0 𝑟 4 𝑒 0 𝑑𝑟 = 3 5 = 243 32 𝑎05 = 𝑎05
( ) 81
2𝑎0

𝜋 𝜋 1 1 2
𝐼𝐼 = ∫0 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑑𝜃 = − ∫0 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 𝑑𝑐𝑜𝑠𝜃 = − 3 (𝑐𝑜𝑠 3 𝜋 − 𝑐𝑜𝑠 3 0) = − 3 (−1 − 1) = 3
2𝜋
𝐼𝐼𝐼 = ∫0 𝑑𝜑 = 2𝜋 .

Sebagai akibatnya
(1) 𝑒𝐸 256 2
̂2𝑝
𝐻 = 4√2 𝜋 𝑎4 ( 81 𝑎05 ) (3) (2𝜋) = 0,745 𝑒𝐸 𝑎0 .
𝑧1 0

̂ (𝟏)
𝑯 𝟐𝒑𝒙 𝟏
(1) ∗
(0) ̂ (1) (0)
̂2𝑝
𝐻 = ∫ 𝜓2𝑝𝑥 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉
𝑥1

1 −3𝑟⁄2𝑎
= ∭𝑒 0 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜑 (𝑒𝐸𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
4√2 𝜋 𝑎04
∞ 𝜋 2𝜋
𝑒𝐸 4 −3𝑟⁄2𝑎 2
= ∫ 𝑟 𝑒 0 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑑𝜃 ∫ 𝑐𝑜𝑠𝜑𝑑𝜑 .
4√2 𝜋 𝑎04 0 0 0

Dalam hal ini


∞ −3𝑟⁄2𝑎 4! 24 256
𝐼 = ∫0 𝑟 4 𝑒 0 𝑑𝑟 = 3 5 = 283 32 𝑎05 = 𝑎05
( ) 81
2𝑎0

𝜋 𝜋 1 1
𝐼𝐼 = ∫0 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑑𝜃 = ∫0 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑑𝑠𝑖𝑛𝜃 = 3 (𝑠𝑖𝑛3 𝜋 − 𝑠𝑖𝑛3 0) = 3 (0 − 0) = 0

2𝜋
𝐼𝐼𝐼 = ∫0 𝑐𝑜𝑠𝜑𝑑𝜑 = (𝑠𝑖𝑛2𝜋 − 𝑠𝑖𝑛0) = (0 − 0) = 0 .

Sebagai akibatnya
(1) 𝑒𝐸 256
̂2𝑝
𝐻 = 4√2 𝜋 𝑎4 ( 81 𝑎05 ) (0) (0) = 0 .
𝑥1 0

̂ (𝟏)
𝑯 𝟐𝒑𝒚 𝟏

(1) ∗
(0) ̂ (1) (0)
̂2𝑝
𝐻 = ∫ 𝜓2𝑝𝑦 𝐻 𝜓1𝑠 𝑑𝑉
𝑦1

1 −3𝑟⁄2𝑎
= ∭𝑒 0 𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝑠𝑖𝑛𝜑 (𝑒𝐸𝑟 𝑐𝑜𝑠𝜃) 𝑟 2 𝑑𝑟 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑑𝜃 𝑑𝜑
4√2 𝜋 𝑎04
∞ 𝜋 2𝜋
𝑒𝐸 −3𝑟⁄2𝑎
= ∫ 𝑟4 𝑒 0 𝑑𝑟 ∫ 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑑𝜃 ∫ 𝑠𝑖𝑛𝜑𝑑𝜑 .
4√2 𝜋 𝑎04 0 0 0

Dalam hal ini


∞ −3𝑟⁄2𝑎 256
𝐼 = ∫0 𝑟 4 𝑒 0 𝑑𝑟 = 𝑎05
81

𝜋
𝐼𝐼 = ∫0 𝑠𝑖𝑛2 𝜃 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑑𝜃 = 0

2𝜋
𝐼𝐼𝐼 = ∫0 𝑠𝑖𝑛𝜑𝑑𝜑 = −(𝑐𝑜𝑠2𝜋 − 𝑐𝑜𝑠0) = − (1 − 1) = 0 .

Sebagai akibatnya
(1) 𝑒𝐸 256
̂2𝑝
𝐻 = 4√2 𝜋 𝑎4 ( 81 𝑎05 ) (0) (0) = 0 .
𝑦1 0

Dengan hasil-hasil ini maka dapat diperoleh koreksi hingga orde-1 untuk energi dan
fungsi gelombang keadaan dasar.

-Koreksi hingga orde-1 energi ( Energi hingga koreksi orde-1 )


(0) (1)
̂11 (0) (0)
𝐸1 = 𝐸1 + 𝐻 = 𝐸1 + 0 = 𝐸1 .

Koreksi orde-1 belum memberikan pengaruh pada energi keadaan dasar.

-Koreksi hingga orde-1 fungsi gelombang (Fungsi gelombang hingga koreksi orde-1)
(1)
(0) ̂ (1)
𝐻 ̂2𝑝
𝐻 0,745 𝑒𝐸𝑎0
𝜓1 = 𝜓1𝑠 + ∑𝑘≠1 (0) (0) 𝜓𝑘(0)
𝑘1 (0)
= 𝜓1𝑠 + (0)
𝑧1
(0)
(0) (0)
𝜓2𝑝𝑧 = 𝜓1𝑠 + (0) (0)
(0)
𝜓2𝑝𝑧 .
𝐸1 −𝐸𝑘 𝐸1 −𝐸2 𝐸1 −𝐸2

Koreksi orde-1 sudah memberikan pengaruh pada fungsi gelombang keadaan dasar
(0)
dan kontribusi diberikan oleh fungsi gelombang 𝜓2𝑝𝑧 .

--------------------

BAHAN KULIAH : 1 Desember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 7

ATOM BANYAK ELEKTRON

1.Hamiltonian dan Fungsi Gelombang Sistem Banyak Elektron

a)Hamiltonian Sistem Banyak Elektron

Dalam sistem banyak elektron, elektron tidak hanya mengalami potensial dari
inti, tetapi juga mengalami potensial yang berasal dari elektron-elektron lainnya.
Karena itu Hamiltonian dari suatu elektron ke-𝜇 adalah
2
𝐻 ̂ 𝑐 (𝜇) + ∑𝜐≠𝜇 𝑒
̂ (𝜇) = 𝐻 . (∗)
4𝜋𝜖 𝑟 0 𝜇𝜐

2 2
̂ 𝑐 (𝜇) = − ћ ∇𝜇2 − 𝑧𝑒
Dalam hal ini 𝐻 adalah Hamiltonian dari elektron tunggal
2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 0 𝜇

untuk elektron ke-𝜇 [ Operator diferensial ∇𝜇2 hanya bekerja pada elektron ke-𝜇 ] dan
suku kedua sebelah kanan persamaan (∗) menyatakan potensial atau interaksi
antara elektron ke-𝜇 dan elektron ke-𝜐 ( elektron-elektron yang lainnya ).

Dengan demikian Hamiltonian total dari seluruh elektron adalah


2
𝐻 ̂ 𝑐 (𝜇) + 1 ∑𝜐≠𝜇 𝑒
̂ = ∑𝜇 [ 𝐻 ] .
2 4𝜋𝜖 𝑟 0 𝜇𝜐
1
Faktor dimunculkan untuk menghindari perhitungan dua kali dari setiap pasangan
2
𝜇 dan 𝜐 .

b)Fungsi Gelombang Sistem Banyak Elektron

Sebagai pendekatan, diasumsikan bahwa fungsi-fungsi gelombang elektron


tunggal dapat dikombinasikan secara bersama-sama untuk membangun fungsi
gelombang sistem banyak elektron. Misalkan 𝜓 adalah fungsi gelombang tersebut.

Karena elektron-elektron saling bebas satu sama lain, maka menurut Hartree
fungsi gelombang sistem N-elektron dapat diungkapkan sebagai perkalian dari
fungsi-fungsi gelombang elektron tunggal. Berarti

𝜓(1,2,3, . . . , 𝑁) = 𝜙1 (1)𝜙2 (2)𝜙3 (3) . . . 𝜙𝑁 (𝑁) .

Di sini 𝜙𝑗 adalah fungsi spin-orbital .

Karena elektron yang satu tidak dapat dibedakan dari elektron-elektron yang
lain, maka ada ungkapan lain untuk fungsi gelombang ini.

𝜓(1,2,3, . . . , 𝑁) = 𝜙1 (2)𝜙2 (1)𝜙3 (3) . . . 𝜙𝑁 (𝑁)

𝜓(1,2,3, . . . , 𝑁) = 𝜙1 (3)𝜙2 (2)𝜙3 (1) . . . 𝜙𝑁 (𝑁)

...

...

...

dan seterusnya.

Karena ada N-elektron dan N-fungsi spin-orbital maka ada 𝑁! fungsi gelombang
yang dapat dibangun.

Mengikuti statistik Fermi-Dirac, fungsi gelombang sistem banyak elektron


(fermion) harus bersifat antisimetrik terhadap pertukaran elektron. Karena itu Slater
mengusulkan fungsi gelombang sistem 2 elektron adalah
1
𝜓(1,2) = [𝜙1 (1)𝜙2 (2) − 𝜙1 (2)𝜙2 (1)] .
√2

Jika elektron 1 dan elektron 2 dipertukarkan akan diperoleh fungsi gelombang yang
lain
1
𝜓(2,1) = [𝜙1 (2)𝜙2 (1) − 𝜙1 (1)𝜙2 (2)] = −𝜓(1,2) .
√2

Jelas bahwa pertukaran elektron hanya menyebabkan perubahan tanda. Inilah ciri
dari fungsi gelombang yang bersifat antisimetrik terhadap pertukaran elektron.
Fungsi gelombang ini dapat juga disusun dalam bentuk determinan ( Selanjutnya
determinan ini disebut determinan Slater ) yaitu

1 𝜙 (1) 𝜙2 (1)
𝜓(1,2) = | 1 | .
√2 𝜙1 (2) 𝜙2 (2)

Dengan demikian fungsi gelombang sistem N-elektron adalah

𝜙1 (1) 𝜙2 (1) 𝜙3 (1) . . . 𝜙𝑁 (1)


𝜙 (2) 𝜙2 (2) 𝜙3 (2) .. .. .. 𝜙𝑁 (2)
𝜓(1,2,3, . . . , 𝑁) =
1 | 1 .. .. .. . . . .. | .
√𝑁! | . . . |
. . . .
𝜙1 (𝑁) 𝜙2 (𝑁) 𝜙3 (𝑁) . . . 𝜙 (𝑁)
𝑁

1
Faktor normalisasi dimasukkan karena fungsi-fungsi spin-orbital adalah fungsi-
√𝑁!
fungsi yang ortonormal ( ortogonal dan ternormalisasi ). Fungsi-fungsi spin-orbital ini
{𝜙𝑗 } disebut fungsi basis bagi pembentukan 𝜓 .

Menurut Pauli, setiap orbital dapat diduduki maksimum oleh 2 elektron dengan
spin 𝛼 dan spin 𝛽 . Karena itu fungsi spin-orbital dapat dituliskan sebagai

𝜙1 = 𝜑1 𝛼

𝜙2 = 𝜑1 𝛽

...

...

...

dan seterusnya.

Di sini 𝜑1 adalah fungsi ruang saja atau orbital atom.

Dengan ini fungsi gelombang sistem N-elektron adalah

𝜑1 (1)𝛼(1) 𝜑1 (1)𝛽(1) 𝜑2 (1)𝛼(1) . . . 𝜑𝑁⁄2 (1)𝛽(1)


| 𝜑1 (2)𝛼(2) 𝜑1 (2)𝛽(2) 𝜑2 (2)𝛼(2) .. .. .. 𝜑𝑁⁄ (2)𝛽(2) |
1 . . . 2
𝜓(1,2,3, . . . , 𝑁) = . .
√𝑁! . .. .. .. .. ..
| . .. |
𝜑1 (𝑁)𝛼(𝑁) 𝜑1 (𝑁)𝛽(𝑁) 𝜑2 (𝑁)𝛼(𝑁) . . .
𝜑𝑁⁄ (𝑁)𝛽(𝑁)
2

Pembentukan fungsi gelombang sistem banyak elektron dengan cara seperti ini
disebut sebagai determinan Slater dari seluruh fungsi spin-orbital elektron-elektron.

2.Atom Helium Keadaan Dasar

Pada keadaan dasar, kedua elektron pada atom Helium menduduki orbital atom
𝜑1𝑠 . Akan ditentukan Hamiltonian dan fungsi gelombang untuk atom ini.
a)Hamiltonian

Sesuai dengan bentuk umum rumusan Hamiltonian sistem banyak elektron yang
telah diberikan, maka untuk atom ini adalah
2
̂=𝐻
𝐻 ̂ 𝑐 (2) + 𝑒
̂ 𝑐 (1) + 𝐻 .
4𝜋𝜖 0 𝑟12

Di sini
2 2
̂ 𝑐 (1) = − ћ ∇12 − 2𝑒
𝐻 adalah Hamiltonian elektron tunggal untuk elektron ke-1
2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 0 1

2 2
̂ 𝑐 (2) = − ћ ∇22 − 2𝑒
𝐻 adalah Hamiltonian elektron tunggal untuk elektron ke-2
2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 0 2

𝑒2
adalah potensial interaksi antara elektron ke-1 dan elektron ke-2 .
4𝜋𝜖0 𝑟12

b)Fungsi Gelombang

Sesuai dengan bentuk umum rumusan fungsi gelombang sistem banyak elektron
yang telah diberikan, maka untuk atom ini adalah

1 𝜑 (1)𝛼(1) 𝜑1 (1)𝛽(1)
𝜓(1,2) = | 1 | .
√2 𝜑1 (2)𝛼(2) 𝜑1 (2)𝛽(2)

Atau secara lebih teliti

1 𝜑 (1)𝛼(1) 𝜑1𝑠 (1)𝛽(1)


𝜓(1,2) = | 1𝑠 |
√2 𝜑1𝑠 (2)𝛼(2) 𝜑1𝑠 (2)𝛽(2)
1
= [𝜑1𝑠 (1)𝛼(1)𝜑1𝑠 (2)𝛽(2) − 𝜑1𝑠 (1)𝛽(1)𝜑1𝑠 (2)𝛼(2)]
√2
1
= 𝜑1𝑠 (1)𝜑1𝑠 (2) [𝛼(1)𝛽(2) − 𝛽(1)𝛼(2)] .
√2

--------------------

BAHAN KULIAH : 6 Desember 2021

FISIKA KUANTUM

Bab 7

ATOM BANYAK ELEKTRON

3.Contoh
Contoh :

Tentukan Hamiltonian dan fungsi gelombang dari atom Litium pada keadaan dasar.

Penyelesaian :

Atom Litium adalah suatu atom yang mempunyai tiga elektron pada kulitnya. Pada
keadaan dasar atom ini, dua elektron menduduki orbital atom 𝜑1𝑠 dan satu elektron
lainnya menduduki orbital atom 𝜑2𝑠 . Selanjutnya dapat ditentukan Hamiltonian dan
fungsi gelombangnya.

a)Hamiltonian

Berdasarkan rumusan umum Hamiltonian sistem banyak elektron yang telah


diperoleh, maka Hamiltonian untuk atom ini adalah
2 𝑒2 𝑒2
̂=𝐻
𝐻 ̂ 𝑐 (1) + 𝐻 ̂ 𝑐 (3) + 𝑒
̂ 𝑐 (2) + 𝐻 + 4𝜋𝜖 + 4𝜋𝜖 .
4𝜋𝜖 0 𝑟12 0 𝑟13 0 𝑟23

Dalam hal ini


2 2
̂ 𝑐 (1) = − ћ ∇12 − 3𝑒
𝐻 adalah Hamiltonian elektron tunggal untuk elektron ke-1
2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 0 1

2 2
̂ 𝑐 (2) = − ћ ∇22 − 3𝑒
𝐻 adalah Hamiltonian elektron tunggal untuk elektron ke-2
2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 0 2

2 2
̂ 𝑐 (3) = − ћ ∇23 − 3𝑒
𝐻 adalah Hamiltonian elektron tunggal untuk elektron ke-3
2𝑚 4𝜋𝜖 𝑟 0 3

𝑒2
adalah potensial interaksi antara elektron ke-1 dan elektron ke-2
4𝜋𝜖0 𝑟12

𝑒2
adalah potensial interaksi antara elektron ke-1 dan elektron ke-3
4𝜋𝜖0 𝑟13

𝑒2
adalah potensial interaksi antara elektron ke-2 dan elektron ke-3 .
4𝜋𝜖0 𝑟23

b)Fungsi Gelombang

Berdasarkan rumusan umum fungsi gelombang sistem banyak elektron yang telah
diperoleh, maka fungsi gelombang untuk atom ini adalah

𝜑1 (1)𝛼(1) 𝜑1 (1)𝛽(1) 𝜑2 (1)𝛼(1)


1
𝜓(1,2,3) = |𝜑1 (2)𝛼(2) 𝜑1 (2)𝛽(2) 𝜑2 (2)𝛼(2)| =
√3!
𝜑1 (3)𝛼(3) 𝜑1 (3)𝛽(3) 𝜑2 (3)𝛼(3)
𝜑1 (1)𝛼(1) 𝜑1 (1)𝛽(1) 𝜑2 (1)𝛼(1)
1
|𝜑1 (2)𝛼(2) 𝜑1 (2)𝛽(2) 𝜑2 (2)𝛼(2)| .
√6
𝜑1 (3)𝛼(3) 𝜑1 (3)𝛽(3) 𝜑2 (3)𝛼(3)

Atau secara lebih teliti adalah


𝜑1𝑠 (1)𝛼(1) 𝜑1𝑠 (1)𝛽(1) 𝜑2𝑠 (1)𝛼(1)
1
𝜓(1,2,3) = |𝜑1𝑠 (2)𝛼(2) 𝜑1𝑠 (2)𝛽(2) 𝜑2𝑠 (2)𝛼(2)| .
√6
𝜑1𝑠 (3)𝛼(3) 𝜑1𝑠 (3)𝛽(3) 𝜑2𝑠 (3)𝛼(3)

Selanjutnya diperoleh

1
𝜓(1,2,3) = {[𝜑1𝑠 (1)𝛼(1)𝜑1𝑠 (2)𝛽(2)𝜑2𝑠 (3)𝛼(3)
√6
+ 𝜑1𝑠 (1)𝛽(1)𝜑1𝑠 (3)𝛼(3)𝜑2𝑠 (2)𝛼(2)
+ 𝜑1𝑠 (2)𝛼(2)𝜑1𝑠 (3)𝛽(3)𝜑2𝑠 (1)𝛼(1)]
− [𝜑1𝑠 (2)𝛽(2)𝜑1𝑠 (3)𝛼(3)𝜑2𝑠 (1)𝛼(1)
+ 𝜑1𝑠 (1)𝛼(1)𝜑1𝑠 (3)𝛽(3)𝜑2𝑠 (2)𝛼(2)
+ 𝜑1𝑠 (1)𝛽(1)𝜑1𝑠 (2)𝛼(2)𝜑2𝑠 (3)𝛼(3)]} .

--------------------

BAHAN KULIAH : 30 Agustus 2021

FISIKA KUANTUM

Referensi :

1.Fisika Kuantum : Rustam E. Siregar

2.Fundamental University Physics, Vol. III : Alonso – Finn

3.Introduction to Quantum Mechanics : Dicke – Wittke

4.Quantum Mechanics : Robert Scherrer

5.Quantum Mechanics : Leonard Schiff

Bahan-Bahan :

I.Pendahuluan

II.Fungsi Gelombang dan Operator

III.Aplikasi Persamaan Schrodinger

IV.Momentum Sudut

V.Atom Hidrogen

VI.Teori Perturbasi

VII.Atom Banyak Elektron


--------------------

Anda mungkin juga menyukai