Anda di halaman 1dari 15

Putaran Duniaku

Aku lagi-lagi membeku di depan pintu gymnasium, menjatuhkan nyaris semua map
kertas yang bertumpuk, membiarkannya berserakan di lantai. Tasku yang lebih berat dari
beban yang biasa dipakai para atlet angkat beban mulai meluncur perlahan dari
pundakku, nyaris terbanting keras ke lantai. Mulutku menganga dan kacamataku ikut
meluncur bebas, kalau saja tidak kutahan. Aku langsung sadar dan mengumpulkan
nyawa, lalu mulai membereskan map-map yang bertebaran di lantai, dan bergegas pulang.
Penyakit baruku lebih sering kambuh dari biasanya.
Bunyi alunan selo dengan lagu klasik kembali bergaung di lorong sekolah, membuat
badanku sedikit tertarik untuk kembali ke arah gymnasium, mengulang penyakitku yang
baru-baru ini timbul. Ya, berdiri dengan pose terkagum dan sedikit melamun, membuat
siapapun yang melihatnya dapat berpikiran bahwa aku mati berdiri. Satu-satunya alasan
mengapa itu bisa terjadi karena dia bermain selo. Ya, dia.
Dia adalah kakak kelasku di sekolah ini, sekolah yang fokus tentang musik. Aku
sendiri baru bersekolah di sini selama satu semester, sementara dia sudah berada di sini
nyaris dari sekolah dasar hingga menengah atas. Sekarang adalah tahun keduanya di
SMA, dan aku baru menemuinya nyaris tiga bulan yang lalu.
Kata mereka, para perempuan di kelas yang tidak pernah tertinggal berita, dia
termasuk golongan anak populer di sekolah ini. Bukan yang terpopuler, tapi cukup
banyak siswi yang mengalami penyakit yang mirip denganku, meski mereka lebih ke arah
“membuat keributan” dibanding “terdiam dan mati berdiri”. Meski keduanya adalah
gejala kagum berlebihan.
Dia, kata mereka, sangat jarang terdengar berbicara di luar kegiatannya atau kelasnya.
Di kelas, dia termasuk siswa yang rajin dan tekun meski terkadang pemalas. Sangat cuek
dan tidak peduli dengan sesuatu yang biasa diributkan remaja seumurannya. Dia disegani
teman-temannya, dikagumi sahabat laki-lakinya, dipuja teman perempuannya. Di klub
musik, dia tidak berbeda jauh dengan di kelas. Tetap tenang meski terkadang jahil,
berkarisma, cuek, dan sedikit dingin, namun total dengan minatnya. Dia memang bukan
tipe yang selalu hadir di setiap kesempatan, tapi dia adalah orang yang tidak pernah
membuang waktunya selain untuk yang dia sukai. Dalam kasus ini, dia tidak pernah

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 1


berhenti bermain selonya. Selain di klub dan kelas, dia benar-benar menjadi seseorang
yang diam, cuek, dan dingin. Meski populer, tidak banyak yang berani mendekatinya dan
tidak banyak yang didekatinya. Setidaknya itu yang kutangkap dari rumor sekitar.
Aku mengenalnya tidak lama setelah pindah ke sini. Alasan mengapa aku pindah
pun masih tidak jelas, antara pilihan orangtua atau keterpaksaan diri sendiri karena
alasan tidak ada lagi sekolah yang lebih dekat dari rumah selain sekolah ini. Orangtuaku
bahkan memaksaku untuk belajar alat musik sedari kecil, sehingga mereka memiliki
alasan untuk memasukkanku ke sekolah ini. Bukannya tidak tertarik dengan musik, tapi
aku masih merasa bahwa ada banyak hal yang jauh lebih mengasyikkan dari membaca
partitur setiap hari. Permainan musikku sendiri tidak bisa dikatakan jenius dan indah,
biasa-biasa saja.
Setelah masuk ke dalam sekolah ini, salah satu guru baruku menyarankan untuk
masuk ke klub musik yang sesuai dengan genre yang kusuka. Aku pun memilih klub
musik klasik dengan spesifikasi alat musik tiup, memainkan oboe. Hanya ada tiga pemain
oboe di sekolah ini, dan aku bergabung menjadi yang keempat. Di suatu kesempatan, aku
bersama seorang kakak kelas yang sama-sama bermain oboe harus mengantarkan kertas-
kertas partitur milik klub musik klasik biola, dan saat itulah aku melihat sosoknya. Sosok
dia, seorang siswa berbadan tinggi dan pandangan yang teduh, sedang menggesek selonya
dengan penuh rasa cinta. Sesaat aku merasa ada lagu latar surga yang biasa dimainkan di
film-film asing dan lagu latar tersebut berdengung di telingaku. Kakak kelas yang saat itu
bersamaku langsung menyadarkanku, dan mulai saat itulah penyakitku muncul, yaitu
mati berdiri dan terpesona. Ya, semua itu hanya karena permainan Marion, seorang siswa
dan kakak kelasku.
Dari melihatnya pertama kali, aku langsung menanyakan tentang dia kepada
beberapa kakak kelas anggota orkestra yang kebetulan sering bermain bersamanya.
Setelah mengumpulkan informasi, aku akhirnya mengetahui bahwa permainan selonya
berhasil mengetuk hati jutaan manusia sehingga ia diizinkan untuk tampil dan menggelar
banyak konser tunggal di berbagai daerah hingga internasional. Sayangnya, tahun ini
institusi yang banyak membiayai konser-konser mininya sedang dalam krisis keuangan.
Lagipula, dia berusaha mengurangi kadar konsernya agar bisa konsentrasi pada sekolah.
Sekolah yang secepatnya akan dia tinggalkan untuk beasiswa yang sudah ada di tanganya
sejak dua tahun yang lalu. Mungkin lebih cepat dari usahaku untuk melupakan sosoknya

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 2


dan akhirnya membuatku jauh lebih kecewa daripada melupakannya dahulu sebelum ia
pergi. Kedua pilihan itu sama-sama membuatku sakit.

***

“Tolong, Gaundhi!” Seorang kakak kelas yang sama-sama memegang oboe duduk di
depanku saat istirahat. Aku menyerngitkan dahi.
“Tapi, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kegiatan ini tidak akan mengganggu
persiapanmu?” tanyaku sedikit ketus sambil terus menghabiskan beberapa potong
kentang di piringku. Kantin begitu ramai, sehingga tidak ada satu pun yang sadar bahwa
ada seorang adik kelas dan kakak kelas sedang berbicara begitu dekat. Terlebih, sang
kakak kelas adalah seorang yang lebih dari jenius dan terkenal dengan keramahannya.
Aku tertawa membayangkan bila ada orang yang berpikiran aneh saat melihat kami
berdua, karena nyaris tidak mungkin ada siswa yang akan mengira seperti itu, di saat sang
adik kelas adalah aku, seseorang yang jauh dari terkenal.
“Aku sama sekali tidak tahu bahwa keberangkatanku dimajukan menjadi beberapa
bulan lagi! Dari kalian bertiga, hanya kau yang masih hijau, masih bisa dicekoki materi
orkestra. Ayolah, Gaundhi,” rayu Queri, sang kakak kelas legendaris yang baru saja
kudeskripsikan. Aku menatapnya dengan pandangan ragu. Ini bukan saatnya main-main,
dan kalaupun iya, aku benci main-main.
“Apa balasannya?” tanyaku sedikit memaksa. Bukan apa-apa, tapi menyuruhku untuk
menggantikan posisinya di orkestra sekolah itu adalah perbuatan yang jauh lebih ceroboh
daripada menyuruhku memasak. Aku suka penampilan orkestra yang membuat
merinding, tapi aku benci menjadi bagian di dalamnya. Bekerja di dalam kelompok yang
terlalu ramai terkadang hanya menambah tingkat kestresanku saja.
“Aku akan secara khusus mengenalkanmu pada salah satu guruku di sana, dan beliau
pasti mempertimbangkanmu untuk menjadi muridnya,” jawabnya penuh dengan
keyakinan. Aku tersentak. Menjadi anggota orkestra bukanlah hal mudah, namun dalam
kasus ini, Queri dengan santainya menyuruhku menggantikannya, di saat berpuluh anak
lainnya harus jatuh bangun untuk menjadi anggota orkestra.
“Bagaimana mungkin beliau akan mempertimbangkanku?” tanyaku lagi. Queri nyaris
tertawa.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 3


“Siapapun akan menarikmu kalau kau mengajukan diri, Gaundhi. Percaya diri lah
sedikit!” ujarnya menyemangati. Aku kembali menyerngit.
“Kau setuju? Oke, temui aku sepulang sekolah di ruang orkestra. Sampai nanti!”
Queri pun berlari meninggalkanku tanpa mendengar balasan yang akan kuberikan. Masa
bodoh, dia pun tidak akan mendengarkan penolakanku. Seluruh sekolah lebih
mendukung ide gilanya dibandingkan mendukungku yang benar-benar tidak mampu.
Karena takut, akhirnya aku datang ke ruang orkestra, menghadapi Queri yang
sumringah melihat kedatanganku serta beberapa anggota orkestra yang mungkin kukenal.
Tamara, Agnes, Joe, Terry, dan lain-lain. Mereka duduk di sana dan melihat
kedatanganku dengan cuek. Sial.
“Akhirnya kau datang! Mari kuperkenalkan. Semuanya, ini Gaundhi, murid kelas
satu yang akan menggantikanku mulai saat ini sebagai pemain oboe. Gaundhi, kau pasti
nyaris mengenal semuanya, bukan?” tanya Queri ramah. Aku hanya mengangguk kaku
dan membungkuk untuk memberi salam.
Tiba-tiba, rambutku diacak hingga aku nyaris tersungkur, dan seseorang menjitakku
dengan keras. Aku langsung berdiri dan nyaris berteriak, sebelum sadar bahwa semua
anggota orkestra yang menyambut kedatanganku sedang menjahiliku. Kepalaku terasa
sakit dan rasa kesalku memuncak. Aku pun mengejar mereka yang membawa oboe-ku,
tentunya dibawa oleh Queri. Sesaat sebelum aku berteriak, Queri melakukan hal yang
tidak pernah kusangka, lalu tersenyum jahil padaku.
“Ah, kau Gaundhi? Selamat bergabung di orkestra kami.” Suara berwibawa yang
selama ini terngiang di kepalaku. Seketika itu aku berdiri lesu dan hanya membeku
menatapnya. Ya, dia. Dia yang terus-menerus berputar di kepalaku.
“Terimakasih.” Hanya itu. Aku nyaris membenturkan kepalaku karena sebelum
ucapan terimakasih tersebut, aku nyaris mengatakan bahwa aku mengagumi dan
memimpikannya setiap saat. Kalau saja akal sehatku tidak berjalan wajar.
“Perkenalkan, aku Marion, pemain selo.”
Suara itu. Suara yang selama ini selalu terngiang di kepalaku, suara yang dia pakai
untuk berbicara dengan teman-temannya, suara yang hanya bisa kurekam tanpa pernah
bisa kuarahkan pada diriku sendiri. Suara yang kini berbicara padaku.
Dunia ini nyaris runtuh setelah suara itu menyapaku.
“Hei.”

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 4


Hei? Jawaban macam apa itu? Aku nyaris menyekik leherku dan menelan kembali
kata-kata abnormal bagi seseorang yang baru bertemu. Aku menyukaimu. Aku selalu
melihatmu. Aku ingin kau menyukaiku. Aku mengagumimu hingga aku nyaris
menyeburkan diri ke kolam karena rasa kagumku yang meluap.
Tenggelamkan aku saat ini juga.
***

Sudah nyaris tiga bulan sejak aku bergabung dengan klub orkestra dan tidak ada hari
yang lebih mengerikan dari hari-hari selama tiga bulan ini. Klub orkestra sekolahku akan
mengadakan penampilan tahunan mereka dalam waktu tiga bulan lagi, dan Queri
memaksaku untuk melahap semua materi yang akan ditampilkan sebanyak lima lagu.
Mungkin tidak terlalu banyak, tapi cara dia memaksaku untuk menerimanya dan
bermain sempurna itulah yang sedikit keterlaluan.
Semua pemain oboe di sekolah ini adalah anak-anak populer, kecuali aku. Ya, kalau
kami berempat sedang berjalan bersama menuju ruang latihan, sosokku seakan
menghilang terbakar aura yang mereka pancarkan. Queri yang terkenal dengan
keramahan dan sosoknya yang keren juga jenius, Rodetha yang anggun bak model dan
keibuan, serta Jamie yang cuek dan berantakan, namun terlihat memesona di mata para
siswi. Setiap kali ada yang menanyakan ada berapa jumlah pemain oboe dan dijawab
empat orang, sang penanya selalu melontarkan pertanyaan yang sama: “Siapa personil
yang keempat?” di depanku yang sejak ia menyapa kami sudah berdiri di sana. Awalnya,
ketiga kakak kelasku panik setiap kali ada yang bertanya seperti itu, takut aku merasa sakit
hati. Tapi, semakin hari pertanyaan itu sudah semakin sering terdengar, membuatku
merasa sangat biasa dan tidak sedih atau kecewa, sehingga mereka bertiga pun bisa
membalas pertanyaan itu dengan candaan.
Rasa muak yang memuncak karena harus mendengar lagu yang akan dimainkan
untuk konser tiga bulan depan berulang kali di music player membuatku tidak pernah
memutar lagu-lagu itu lagi di luar sekolah. Di luar sekolah, aku bebas mendengarkan lagu-
lagu zaman dahulu semacam Air Supply, Chaka Khan, George Benson, Peter Cetera, dan
penyanyi-penyanyi lama lainnya. Sekarang, hanya lagu-lagu gubahan Palchabel atau
Mozart yang harus kuputar setiap hari. Entah siapa yang salah, aku sebagai junior atau
Queri sebagai senior.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 5


“Hei.” Seseorang menepuk pundakku cukup keras. Aduh. Aku langsung menoleh ke
belakang dan mendapati Queri membawa tas oboe-nya. Aku langsung melepaskan headset
dan mengambil tas oboe-ku, mempersilahkannya duduk.
Hari ini kami berencana untuk bermain di taman kota, untuk melatih rasa
keberanianku. Ini pun merupakan pemaksaan dari Queri yang didukung oleh Rodetha
dan Jamie. Sebagai adik kelas yang tidak bereputasi apapun, aku merasa tertekan untuk
menolak.
Kami bermain nyaris selama dua jam. Untung saja ada banyak pohon di taman ini.
Setelah bermain selama dua jam, kami beristirahat sebentar dan aku mengeluarkan bekal
yang dibuat oleh ibuku untuk makan siang. Beliau sedang bersemangat dengan acara
masak-memasak di rumah, sehingga siapa pun yang berencana keluar rumah wajib
membawa bekal buatan beliau. Lumayan juga untuk penghematan.
“Mari makan,” ujar Queri membuka acara makan siang kami. Aku membiarkannya
mengambil makanan sebanyaknya. Menu ini dimasak oleh ibuku nyaris selama seminggu
ini dan aku muak dengan lauk yang sama selama seminggu. Biarlah Queri menikmatinya.
Selagi makan, aku pergi ke mesin minuman otomatis dan membeli minuman
untukku dan Queri. Tidak baik bagi tenggorokan untuk terlalu banyak meminum
minuman dingin. Tapi apa daya, hari ini terlalu panas. Keluar dari daerah bayang
pepohonan untuk membeli minum sebentar saja sudah mulai mengeluarkan keringat.
Aku langsung berlari kembali, mendapati Queri masih menikmati makan siang yang
sepertinya langsung berkurang setengah.
“Kau makan?” tanyanya. Aku mengangguk seraya membuka botol minuman dan
meneguknya.
“Sisakan saja sedikit.” Aku akhirnya mengambil sedikit nasi dan dua potong lauk,
memberikan sisa makanan pada Queri, dan melanjutkan ke makanan penutup, kue sisa
dari acara ulangtahun adikku kemarin. Di saat acara makan yang cukup tenang itu, Queri
membuka topik pembicaraan yang membuat semuanya kacau.
“Hei, kau suka Marion, bukan?” tanyanya santai. Aku nyaris melemparnya dengan
oboe. Wajahku memerah.
“Tidak kok!” ujarku menyela sambil meneguk minum. Aku yakin Queri bisa melihat
rona merah di telingaku. Dia terkekeh.
Selagi aku minum, sosok yang tidak asing itu muncul dari kejauhan bersama seorang
lagi yang tidak kukenal. Mereka berdua memakai topi, di punggung mereka ada sosok

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 6


berwarna hitam, dan mereka berjalan santai ke arahku dan Queri. Marion bersama
seseorang. Orang lain.
Sesaat aku linglung, syok melihatnya bersama seseorang. Di hari libur seperti ini,
dengan siapa dia menghabiskannya? Pacarnya? Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa
khawatirku. Queri terkekeh lagi.
“Tenang saja, itu juniornya. Seorang laki-laki. Beberapa bulan lagi dia akan pindah,
bukan? Kasusnya sama denganku, mencari junior untuk menggantikannya di orkestra,”
kata Queri menimpali perasaan khawatirku sambil berselonjor santai. Aku menatapnya
dengan tatapan kurang percaya, tapi ada rasa lega. Syukurlah.
Tapi, rasanya ada yang aneh.
“Ya, aku memintanya untuk berlatih bersama di sini dan dia setuju. Kau senang?”
tanya Queri dengan nada penasaran. Aku langsung memelototinya. Apalagi yang kurang
dari kenekatannya itu? Dia tahu aku tidak bisa konsentrasi kalau ada seseorang yang
kusukai. Aku langsung memukulnya dan nyaris mencekiknya, kalau saja Marion dan
juniornya—kalau tidak salah bernama Ary—sudah tiba di dekat kami.
“Wah, senangnya, Queri mesra sekali dengan juniornya!” ujar Marion dengan wajah
tersenyum. Aku langsung mendorong Queri dan memberi salam padanya. Telinga dan
pipiku terbakar rona merah maluku.
Setelah berbincang sebentar, kami memulai latihan bersama. Mulanya aku tidak
terlalu bisa konsentrasi. Mataku selalu berusaha melihat sosoknya yang sedang mengajar
Ary. Betapa aku merasa iri pada Ary yang bisa menanyakan apapun mengenai
permasalahan permainannya pada dia. Dia yang kukejar-kejar sosoknya.
Tapi, semakin sore, aku bahkan tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Queri,
instruksi yang ia berikan. Telinga, mata, pikiran, dan hatiku melihat ke arahnya.
“Konsentrasi!” ujar Queri sambil memukul kepalaku dengan kertas partitur. Sesaat
aku merasa sadar dan mulai bermain lagi. Di akhir latihan, Queri memintaku untuk
bermain beberapa lagu yang akan ditampilkan dan lagu kesukaanku.
Dia menontonku. Dia hanya melihatku. Aku bisa merasakan panas yang tiba-tiba
naik ke kepalaku, membakar pipi dan telingaku oleh rasa malu. Tanganku bergetar,
begitu juga oboe-ku. Sial.
Tenang. Dia hanya ingin melihatku bermain. Dia ingin mendengarku bermain.
Tenang.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 7


Saat itu juga aku merasa tidak berada di taman lagi. Kepalaku dingin dan akhirnya
aku bisa bermain. Kecuali beberapa saat mendekati akhir lagu, aku membuka mata dan
melihatnya menatapku dengan senyumannya yang menawan. Tiupan terakhir sangat
kacau dan oboe-ku nyaris jatuh.
Setelah bermain, kami juga menonton Ary bermain, dan pada akhirnya Marion. Dia
bermain selo di taman, di depanku, pada sore hari yang sangat tenang. Seandainya hanya
ada kami berdua dan dia hanya bermain untukku. Bukan untuk Queri, Ary, atau orang-
orang yang membeli tiket pertunjukannya. Hanya untukku.
Dari semua sosok yang ia tampilkan, sosoknya yang bermain selo lah yang selalu
membuatku terkena sindrom mati berdiri—dalam kasus ini, duduk. Betapa ekspresinya
yang lembut itu berhasil membuatku ingin menariknya dan pergi sejauh mungkin.
Berteriak padanya betapa aku menyukainya. Di dalam otakku bahkan terlintas angan-
angan bahwa setelah bermain selo, dia akan berdiri dan memegang tanganku,
menyatakan cinta terpendamnya padaku. Aku tersipu sambil terus melihat ke sosoknya
yang sedang menggesek selo dengan lembut, tanpa merasakan adanya pandangan
menusuk yang tertuju padaku.

***

Empat bulan berlalu dan tinggal dua bulan lagi dari penampilan perdanaku. Aku
semakin gila. Ya Tuhan, inikah yang dinamakan cinta tanpa pandang bulu? Aku bahkan
baru menjejaki masa SMA dan hal semacam ini sudah menyerangku. Ya, aku sudah gila.
Aku bisa melihatnya tanpa berkedip selama dia masih berada di pandanganku. Aku
tahu jenis parfum yang ia gunakan, merek selo yang ia sukai, makanan favoritnya, alamat
rumahnya, saudara yang ia miliki, guru favoritnya, hingga makanan yang ia benci.
Anehnya, dari semua kegilaan yang kulakukan, hanya Queri yang tahu dan
menertawakanku. Apa reaksiku kurang jelas di mata mereka, terlebih di mata orang-orang
ini?
Suatu hari, aku sedang berjalan ke arah kelas Queri, di saat salah satu temanku,
Anna, yang populer—bukan populer biasa, melainkan populer tingkat tinggi, pintar,
cantik, terkenal, dan punya lebih banyak teman dari segala kelas—mendatangiku bersama
sahabatnya. Bila dibandingkan denganku, tidak akan ada yang memilihku dibanding dia.
Dia membuka mulut.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 8


“Gaundhi, kau anak klub orkestra, bukan?” tanyanya dengan tatapan meyakinkan.
Aku mengangguk, sedikit bingung.
“Kau kenal dengannya, bukan? Sepertinya kalian cukup dekat,” tanyanya lagi dengan
tatapan penuh harap. Aku menaikkan alis. Queri?
“Maksudmu Queri? Ya, lumayan lah. Dia harus melatihku untuk menggantikan
posisinya, jadi…”
“Bukan dia yang kumaksud,” potongnya langsung seraya terkekeh. Sesaat aku
terdiam dan saat sadar, duniaku seakan runtuh. Jangan dia, kumohon.
“Yang kumaksud itu Marion,” balasnya sambil tersenyum, seakan memukulku lebih
keras dari pertanyaan pertamanya. Ya Tuhan, kumohon, jangan Anna! Aku menelan
ludah.
“Ah, iya. Kenapa? Kau suka padanya?” Tolong jawab tidak. Anna, tolong jawab tidak!
“Ya, begitulah, he he,” ujarnya tersenyum. Sahabatnya langsung menyenggolnya,
menggodanya yang bersikap seperti malu-malu atau entah apapun itu. Aku tidak bisa
fokus. Napasku terengah. Jangan dia, kumohon.
“Ah, begitu. Sejak kapan?” Tolong katakan baru-baru ini. Biar aku memiliki alasan
untuk merasa bangga akan perasaanku.
“Sudah sejak satu tahun yang lalu,” jawabnya santai. Dia merasa santai, tapi aku
tidak. Aku merasa seakan ada palu besar yang memukulku dengan kuat. Sakit. Dia lebih
lama menyadari sosoknya daripada aku.
“Hmm. Aku harus ke kelas Queri dulu. Sampai jumpa,” ujarku memutus percakapan
dan pamit pergi. Dia pun tersenyum, seakan mengirim telepati kepadaku untuk
menyampaikan salam pada Marion. Saat sosoknya sudah menghilang, aku langsung
berlari ke samping tangga, di mana ada sedikit cekungan yang cukup untuk satu orang.
Aku menghadap ke dinding, berusaha mengatur napas, sambil menepuk dadaku. Sakit.
Aku lebih memilih untuk dicekik daripada mendengarkan perkataan Anna tadi.
Menyakitkan.
Rasanya sakit. Menyakitkan sekali. Aku merasa tembok ini runtuh, menimpaku
sehingga aku tidak mampu berdiri, bahkan mendongak pun tidak. Rasanya berat dan
dadaku sesak. Sakit.
“Kenapa, Gaundhi?” Suara yang cukup familiar menyapaku. Queri. Aku langsung
menatapnya dan menggeleng, berusaha tersenyum. Meski bibirku bergetar tegang dan
takut.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 9


“Mengapa kau menangis?” tanyanya sambil menyeka airmataku. Menangis? Aku tidak
merasa sedang menangis. Saat suaraku nyaris keluar untuk membela diri, yang keluar
hanya isakan. Sakit.
“Rasanya sakit,” jawabku pelan, dan tiba-tiba airmataku mengalir. Aku bukan
penggemar sinetron atau acara-acara yang mengundang rasa jijik karena adegan yang
terlalu dibuat-buat. Aku juga bukan penggemar sinetron yang tidak pernah ada matinya
atau tokoh utama yang selalu menang. Tapi kenapa aku merasa seperti ini? Aku pernah
jatuh cinta, tapi tidak seperti ini. Bukan jatuh cinta yang terus-menerus hanya
membuatku terengah dan sesak. Ada apa denganku?

***
Dari semua orang, hanya Queri yang tahu bahwa aku menyukai dia. Dia yang
ternyata lebih dulu dikagumi Anna dibandingkan aku. Rasa sakit yang dulu kurasakan
saat mendengar pengakuan Anna meluas. Semua orang nyaris tahu tentang fakta bahwa
Anna menyukai Marion. Semua orang pun bertubi-tubi menitipkan salam Anna untuk
Marion. Semua orang mengenal Anna dan mereka menitipkan salamnya padaku. Aku
Di klub orkestra, aku selalu berusaha menghindarinya. Dadaku sesak setiap kali
melihatnya dan Queri tidak boleh mengetahui hal itu. Lalu tiba-tiba, musibah datang
bertubi padaku. Klub orkestra mengadakan acara menginap di luar kota sebagai upaya
mempererat hubungan anggotanya sebelum konser, dan Marion ikut. Beberapa hari
sebelum acara yang ditunggu, aku hanya bisa mendengar keluh kecewa Anna yang
digemakan oleh seluruh siswa angkatanku yang tahu akan rahasia umumnya. Semua
orang sibuk mengatakan betapa Anna kurang beruntung karena batal masuk klub
orkestra. Betapa ruginya dia tidak bisa melewatkan beberapa hari bersama Marion. Semua
perkataan itu digemakan di depanku yang hanya bisa tersenyum seakan ikut merasa
betapa ruginya Anna. Senyumku yang tidak pernah berhenti bergetar dan airmata yang
selalu kutahan. Cepat selesaikan perasaan ini. Aku tidak kuat lagi.
Selama perjalanan, Queri selalu berusaha menemaniku yang waktu itu sempat
goncang. Entah apa pandangan orang tentang betapa bodohnya aku untuk merasa
goncang karena masalah sepele seperti itu bila mereka tahu tentang hal yang sebenarnya,
dan aku tidak akan membiarkan hal itu bocor. Queri akhirnya secara sukarela menjadi
pendukungku, satu di antara ratusan pendukung Anna. Di saat yang bersamaan, aku
mulai mendengar rumor tidak benar mengenai hubunganku dan Queri, kembali

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 10


menghilangkan dukungan yang mungkin kudapat dengan tatapan tajam dari para siswi
yang iri dan kesal. Kalau mereka berada di posisiku, mungkin perasaan senang pun tidak
akan terlintas. Semua yang muncul hanya sedih dan kecewa.
Sialnya, dia pun merasa ada yang aneh padaku. Aku sudah mati-matian
menghindarinya. Bukannya semakin jauh, dia lebih sering menyapaku dari biasanya,
mengajakku mengobrol berdua, padahal biasanya kami bertiga bersama Queri, pergi
latihan bersama, seberapa pun besarnya usahaku menjauhinya. Mungkinkah di tengah
musibah ini, dia mulai menyadari kehadiranku? Betapa pun itu mungkin, aku tidak akan
pernah diterima oleh mereka yang mendukung Anna. Kecaman akan muncul dari segala
penjuru. Memikirkan itu saja sudah membuatku sakit.
Melihat upayanya yang terlihat seakan mendekatiku, aku akhirnya berusaha seperti
dulu lagi, berani dan mampu untuk berbicara padanya. Biarlah di sini.
Queri pun melihat sedikit perubahan baikku yang sementara ini. Meskipun mungkin
tidak ada satu pun yang sadar, di setiap senyumku dan perkataanku, semuanya masih
bergetar takut, badanku juga.
Meski aku sudah menetapkan diri untuk bersikap lebih biasa, aku semakin berusaha
menghindar. Setiap selesai berbicara, aku akan pergi lebih jauh, setiap melihat sosoknya,
aku akan melangkah lebih jauh, dan setiap mendengar suaranya, aku akan menoleh ke
arah yang berlawanan, menutup telinga.
Aku sendiri masih bingung kenapa bisa ada rasa sakit yang begitu menusuk hanya
dengan menyukainya. Padahal, itu wajar bila ada yang menyukainya selain aku. Wajar
kalau aku merasa cemburu. Wajar kalau aku berharap bahwa aku ingin bersama
dengannya dewasa nanti. Ini masa sekolahku. Wajar untuk berangan.
Tapi kenapa rasa kecewa dan cemburu itu sesakit ini? Apa karena aku tahu bahwa
ekspektasi lingkungan akan lebih condong ke Anna dibandingkan aku? Apa karena aku
tidak lebih baik dari Anna? Apa karena Marion jauh lebih cocok dengan Anna? Apa
karena Marion tidak cocok denganku? Apa karena Marion tidak menyukaiku? Ataukah
karena aku tahu bahwa Marion adalah sosok yang sulit untuk kuraih, sosok yang terlalu
jauh? Semuanya mungkin.
Meski aku berusaha untuk terlihat biasa, rasa sakit ini merongrongku lebih parah
dari sebelumnya. Terlebih pada mala mini, saat kami mengadakan acara musik di taman
rumah. Aku terus menatap sosoknya yang asyik bersosialisasi bersama Queri dan teman-
temannya, sementara aku duduk di kursi yang berada tidak jauh dari sana, menatap

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 11


dengan penuh perasaan posesif yang tidak masuk akal. Setelah itu, dia pun duduk tidak
jauh dariku, mulai bermain selo. Kepalaku berdenyut, sakit sekali. Aku meneriaki diriku
sendiri untuk tidak melakukan hal bodoh.
Jangan panggil dia.
“Hei, Marion.” Dia menoleh ke arahku.
Jangan tatap aku.
“Ajari aku bermain selo.”
Jangan berbicara padanya.
Jangan jawab aku.
Jangan tatap aku.
Berhenti melihatku.
“Tentu.”
Jangan tersenyum padaku.

***

Tinggal beberapa jam lagi sebelum penampilan perdanaku. Aku melirik ke luar tirai
panggung, melihat beratus-ratus orang duduk di gedung megah milik sekolahku ini. Rasa
tegang langsung memuncak ke kepalaku, menyebabkan reaksi pusing yang tiba-tiba. Aku
takut tidak siap.
Seseorang menepuk pundakku. Aku langsung menghela napas panjang, berusaha
mengatur diri.
“Banyak sekali penontonnya, Queri…” Kalimatku terpotong oleh sosoknya yang
memakai setelan tuksedo yang mewah. Dadaku langsung sesak dan pikiranku kacau. Aku
nyaris pingsan.
Marion bersama Queri yang berdiri di belakangnya mengagetkanku. Mereka berdua
tidak akan tampil hari ini, karena beberapa hari lagi mereka akan meninggalkan sekolah
untuk memenuhi beasiswa yang mereka dapatkan. Aku ingin mendapatkan beasiswa.
“Selamat berjuang,” ujarnya lembut dan tersenyum. Aku membalasnya dengan
senyuman tegang yang bergetar seperti biasanya. Aku tidak akan bisa tersenyum normal
di depannya. Dia pun meninggalkanku dan Queri. Queri menghela napas.
“Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau lalui, tapi kalau kau mau, aku bisa
menanyakan….” Aku langsung menutup mulutnya dan tersenyum.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 12


“Tidak, aku tidak menunggu jawaban. Aku kalah sebelum berperang. Aku kalah
dengan medan perangku sendiri,” jawabku pelan sambil tersenyum pilu. Begitu lah
adanya. Queri menunduk dan menampakkan ekspresi sedih yang jarang ia gunakan itu.
Aku tersenyum.
“Aku akan berusaha yang terbaik untuk membanggakanmu, Guru,” ucapku
tersenyum. Ia menatapku dengan tatapan yang masih sama.
“Lalu mengapa airmatamu mengalir?” tanyanya sambil menyeka airmataku. Aku
terkaget.
“Mengalir? Tidak, ini bukan airmata. Aku tidak menangis, aku hanya…” Kata-kataku
terputus dan diganti oleh isakan pelan yang diredam oleh pelukan Queri. Mengapa aku
harus mengalami perasaan seperti ini? Dia bukan seseorang yang patut kutangisi, tapi
sosoknya sendiri sudah cukup membuatku menangis, disertai kemungkinan-
kemungkinan pasti yang membuatku tidak mungkin bersamanya. Ini hanya kisah cinta
siswa pada masa sekolah biasa, tapi kenapa efeknya harus seperti ini? Kenapa aku harus
merasakan sesak dan sakit yang seperti ini?
Setelah itu, aku sibuk membenarkan dandananku dan memulai penampilan
perdanaku. Meski tak terlihat, aku kembali meneteskan airmata bahagia saat lagu terakhir
selesai. Perasaan bahagia yang meluap karena inilah penampilan perdanaku. Selesai
memberi salam, kami kembali diiringi dengan tepuk tangan yang bergemuruh. Di ujung
sana, aku melihat sosok Marion dan Queri yang tersenyum bangga. Sosok dia yang
tersenyum bahagia. Aku tersenyum, akhirnya tersenyum lepas dan tenang, lalu
menunduk, mulai meneteskan airmataku lagi.

***

Gedung orkestra kosong, bahkan tidak ada pekerja yang ada di dalamnya. Semua
sedang merayakan kebahagiaan mereka di restoran terdekat, dan aku kabur dari acara itu.
Menyelamatkan diri dari kerumunan orang-orang yang lega dan akan melepas kepergian
dia dan Queri.
Aku masih menggunakan pakaian dan sepatu konser, lalu mulai melepaskan
sepatuku di ujung panggung, dan berdiri di tengah bersama oboe-ku. Aku memandang
luas kursi-kursi yang tidak ditempati, lalu menarik napas panjang. Semua perasaan
bercampur jadi satu, rasa kagumku pada Marion, ketegangan saat pertama kali tampil,

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 13


kesedihan saat Marion dan Queri akan pergi, semua bergabung menjadi perasaan yang
memuncak. Aku menarik napas dan mulai meniup oboe, memainkan lagu Gabriel’s Oboe.
Alunan musiknya menggema ke seluruh penjuru gedung, seakan-akan memastikan
bahwa tidak ada siapapun di tempat itu. Nadanya yang pelan dan lembut, kembali
mengingatkanku dengan sosoknya yang bermain selo. Semua perasaan yang berat dan
menekan itu berkumpul jadi satu, terekspresikan dalam lagu ini. Tak terasa, airmataku
ikut mengalir seperti alunan lagu ini.
Selesai bermain oboe, aku menatap ke bawah. Melihat kakiku yang tidak beralaskan
apapun dan berkaca-kaca karena airmata yang perlahan menetes ke lantai. Aku menarik
dan menghembuskan napas perlahan.
Suara langkah kaki besar bergerak semakin dekat ke arahku, dan aku menoleh. Sosok
itu. Dia berjalan mendekatiku, lagi-lagi tersenyum, seperti biasa. Lalu, di saat kami sudah
bertatap, dia mengeluskan tangannya ke pipiku, mengulangi hal yang selalu ia lakukan
padaku.
“Gaundhi.” Suara Queri bergema pelan di telingaku. Aku hanya tersenyum tenang.
“Aku tahu besarnya rasa cintamu pada Marion. Betapa kerasnya kau bertahan meski
semua orang tidak akan mendukungmu bila mereka tahu yang sebenarnya. Betapa
kuatnya kau menahan diri untuk tidak mundur di saat ada sosoknya. Betapa kau
menahan rasa penasaran akan perasaannya juga. Aku menghargai keputusanmu dan aku
tidak akan menanyakan hal tersebut padanya,” katanya pelan. Aku melihatnya lagi, lebih
jelas sekarang.
“Aku tidak memintamu. Tapi aku menginginkanmu. Aku menawarkan padamu
untuk menunggu di sini, sampai aku datang, sampai aku pulang. Aku menawarkanmu
untuk berharap padaku. Aku menghargaimu dan perasaanmu untuk Marion, tapi aku
menawarimu. Tunggu aku pulang,” katanya lagi sambil melihatku, menerawang ke dalam
pikiranku.
Aku tersenyum sambil membiarkan airmataku jatuh perlahan. Biarlah aku berdiri di
sini, diam.
Mungkin dia, sosok yang kukagumi itu, tidak akan pernah tahu bahwa aku pernah
menyukainya hingga aku nyaris menyakiti diriku sendiri. Dia tidak tahu betapa aku
mengidolakannya dan tetap memujanya di tengah tekanan orang-orang yang mendukung
Anna. Dia tidak tahu betapa senyumku selalu mengembang setiap melihatnya, meski di
saat yang bersamaan, senyuman itu selalu bergetar karena tegang.

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 14


Tapi, aku akan memberitahukannya. Betapa aku pernah menyukainya,
mengidolakannya, mengaguminya, dan menginginkannya. Aku akan memberitahunya,
entah lima, sepuluh, atau lima belas tahun lagi. Aku pasti akan memberitahunya, tapi
tidak sekarang. Sekarang, aku ingin melepas genggaman perasaan ini, aku ingin mulai
meloncat ringan dan bebas. Aku ingin bisa menunggu Queri atau menunggu dia. Aku tak
ingin terikat namun aku ingin bisa menunggu. Aku ingin menunggu dengan bebas.
Entah sampai kapan. Tapi aku ingin bebas.
Aku kembali tersenyum dan lagi-lagi menangis. Aku mungkin bisa memilikinya, tapi
tidak sekarang. Aku mungkin bisa bersamanya, tapi tidak sekarang. Aku mungkin
pasangannya, mungkin juga tidak. Aku mungkin berpasangan dengan Queri, mungkin
juga tidak. Hanya saja, aku ingin bebas. Ikatan-ikatan itu mulai terlepas satu-persatu. Aku
mulai menerawang perasaan-perasaan dan pikiran yang mengikatku dan menahanku.
Kilasan-kilasan wajahnya mulai menghilang. Aku masih tersenyum, menyentuh tangan
Queri, dan membuka mata yang berkaca-kaca.
Selamat tinggal.

Bandung, 5 Mei 2011,


Dina Puspita Sari

© Dina Puspita Sari, 9th May 2011 15