Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Era reformasi membawa banyak perubahan di hampir segala bidang di republik indonesia.
Ada perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi ada juga yang negatif dan akan
merugikan bagi keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republic Indonesia. Suasana
keterbukaan pasca pemerintahan orde baru menyebabkan arus informasi dari segala penjuru
dunia seolah tidak terbendung. Berbagai ideologi, mulai dari ekstrim kiri sampai ke ekstrim
kanan, menarik perhatian bangsa kita, khususnya generasi muda, untuk dipelajari, dipahami dan
diterapkan dalam upaya mencari jati diri bangsa setelah selama lebih dari 30 tahun merasa
terbelenggu oleh sistem pemerintahan yang otoriter.

Salah satu dampak buruk dari reformasi adalah memudarnya semangat nasionalisme dan
kecintaan pada negara. perbedaan pendapat antar golongan atau ketidaksetujuan dengan
kebijakan pemerintah adalah suatu hal yang wajar dalam suatu sistem politik yang demokratis.
Namun berbagai tindakan anarkis, konflik sara dan separatisme yang sering terjadi dengan
mengatas namakan demokrasi menimbulkan kesan bahwa tidak ada lagi semangat kebersamaan
sebagai suatu bangsa. Kepentingan kelompok, bahkan kepentingan pribadi, telah menjadi tujuan
utama. Semangat untuk membela negara seolah telah memudar.

Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada tentara nasional
indonesia. Padahal berdasarkan pasal 30 UUD 1945, bela negara merupakan hak dan kewajiban
setiap warga Negara republik indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk
mempertahankan Republic Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.

1
B. Perumusan Masalah

a)      Apa yang dimaksut dengan bela negara ?


b)     Bagaimana peran mahasiswa dalam bela negara?
c)      Bagaimana sikap mahasiswa dalam bela Negara ?

C. Tujuan

a)   Menjelaskan pengertian bela negara


b)   Mengetahui peran mahasiswa dalam bela negara
Menjelaskan bagaimana sikap mahasiswa dalam bela negara

D. Manfaat

a)     Memberi wawasan tentang pengertian bela negara


b)     Memberi informasi tentang peran mahasiswa dalam bela negara
c)     Meningkatkan pengetahuan tentang arti penting bela negara.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. BELA NEGARA
Bela negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan
kepada negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam
menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pembelaan negara bukan semata-mata tugas
TNI, tetapi segenap warga negara sesuai kemampuan dan profesinya dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara..

Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada tentara nasional
indonesia. Padahal berdasarkan pasal 30 UUD 1945, bela negara merupakan hak dan kewajiban
setiap warga Negara republik indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk
mempertahankan Republic Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.

Konsep bela negara dapat diartikan secara fisik dan non-fisik, secara fisik dapat
didefinisikan dengan mengangkat senjata menghadapi serangan atau agresi musuh, secara non-
fisik dapat didefinisikan sebagai segala upaya untuk mempertahankan Negara dengan cara
meningkatkan rasa nasionalisme, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan
kecintaan terhadap tanah air, serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara.

Ada lima dasar bela negara yaitu:

1. Cinta tanah air

2. Kesadaran berbangsa dan bernegara

3. Yakin akan pancasila sebagai ideologi negara

4. Rela berkorban untuk bangsa dan negara

5. Memiliki kemampuan awal bela negara

3
B. DASAR HUKUM BELA NEGARA
Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara :

1) Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan Nasional.
2) Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3) Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4) Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5) Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6) Amandemen UUD '45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
7) Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

C. DEFINISI PEMUDA DAN MAHASISWA

1) Definisi Pemuda
Definisi yang pertama, Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang
mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional,
sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa
datang. Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya.
Secara internasional, WHO menyebut sebagai” young people” dengan batas usia 10-24
tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut ”adolescenea” atau remaja. International Youth
Year yang diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun
sebagai kelompok pemuda.
Definisi yang kedua, pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan
bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda
menghadapi masa perubahan sosial maupun kultural.
Sedangkan menurut draft RUU Kepemudaan, Pemuda adalah mereka yang berusia antara 18
hingga 35 tahun. Menilik dari sisi usia maka pemuda merupakan masa perkembangan secara
biologis dan psikologis. Oleh karenanya pemuda selalu memiliki aspirasi yang berbeda
dengan aspirasi masyarakat secara umum. Dalam makna yang positif aspirasi yang berbeda

4
ini disebut dengan semangat pembaharu.
Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan generasi muda dan
kaum muda. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki
definisi beragam. Definisi tentang pemuda di atas lebih pada definisi teknis berdasarkan
kategori usia sedangkan definisi lainnya lebih fleksibel. Dimana pemuda/ generasi
muda/kaum muda adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan progresif.
2) Definisi Mahasiswa
Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar
yang paling tinggi levelnya. Sebagai seorang pelajar tertinggi, tentu mahasiswa sudah
terpelajar, sebab mereka tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia
terpelajar yang paripurna.
Apakah yang diharapkan dari seorang mahasiswa ? Memang harapan ini terbagi pada
stratanya, yaitu untuk strata S1, seorang mahasiswa diharapkan mampu memahami suatu
konsep, dapat memetakan permasalahan dan memilih solusi terbaik untuk permasalahan
tersebut sesuai pemahaman mendalam konsep yang telah dipelajari. Untuk strata S2,
mahasiswa diharapkan mampu merumuskan sesuatu yang berguna atau bernilai lebih untuk
bidangnya. Sedangkan S3 diharapkan mampu menyumbang ilmu baru bagi bidangnya.
Dari semua strata ada hal yang harus terus secara konsisten diperlihatkan oleh mahasiswa.
Yaitu dalam menghadapi permasalahan, seorang mahasiswa harus melakukan analisa
terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan
tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan
pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu mempresentasikan solusi yang
dipilih ke orang lain untuk mempertanggung jawabkan pemilihan solusi tersbut.

D. PERAN MAHASISWA DALAM BELA NEGARA


Dalam sejarahnya mahasiswa merupakan kelompok dalam kelas menengah yang kritis
dan selalu mencoba memahami apa yang terjadi di masyarakat. Bahkan di zaman kolonial,
mahasiswa menjadi kelompok elite paling terdidik yang harus diakui kemudian telah mencetak
sejarah bahkan mengantarkan Indonseia ke gerbang kemerdekaannya.

5
Pergolakan dan perjalanan mahasiswa Indonesia telah tercatat dalam rentetan sejarah
yang panjang dalam perjuangan bangsa Indonesia, seperti gerakan mahasiswa dan pelajar tahun
1966 dan tahun 1998. Masih dapat kita ingat 8 tahun yang lalu gerakan mahasiswa Indonesia
yang didukung oleh semua lapisan masyarakat berhasil menjatuhkan suatu rezim tirani yaitu
ditandainya dengan berakhirnya rezim Soeharto.

Legenda perjuangan mahasiswa di Indonesia sendiri juga telah memberikan bukti yang
cukup nyata dalam rangka melakukan agenda perubahan tersebut. Tinta emas sejarahnya dapat
kita lihat dengan lahirnya angkatan ‘08, ‘28, ‘45, ‘66, ‘74, yang masing-masing memiliki
karakteristik tersendiri tetapi tetap pada konteks kepentingan wong cilik. Terakhir lahirlah
angkatan bungsu ‘98 tepatnya pada bulan Mei 1998 dengan gerakan REFORMASI yang telah
berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan dan selanjutnya menelurkan Visi
Reformasi yang sampai hari ini masih dipertanyakan sampai dimana telah dipenuhi.

Dengan demikian adalah sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk menjadi pelopor dalam
melakukan fungsi control terhadap jalannya roda pemerintahan sekarang. Bukan malah
sebaliknya.

Agenda reformasi adalah tanggung jawab kita semua yang masih merasa terpanggil
sebagai kaum intelektual, kaum yang kritis dan memiliki semangat yang kuat. Dan tanggung
jawab ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai rasa sosial yang tinggi. Bukan
orang-orang kerdil yang hanya memikirkan perut, golongannya dan tidak bertanggung jawab.
Hanya lobang-lobang kematianlah yang mampu menjadikan mereka untuk berpikir bertanggung
jawab. Jangan pikirkan mereka, mari pikirkan solusi untuk menghibur Ibu Pertiwi yang selalu
menangis dengan ulah-ulah anak bangsanya sendiri.

Kondisi tersebut tidak terlihat lagi pada masa kini, mahasiswa memiliki agenda dan garis
perjuangan yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Sekarang ini mahasiswa menghadapi
pluralitas gerakan yang sangat besar. Meski begitu, setidaknya mahasiswa masih memiliki
idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat di daerahnya masing-masing.

Mahasiswa sudah telanjur dikenal masyarakat sebagai agent of change, agent of


modernization, atau agen-agen yang lain. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada

6
mahasiswa untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan gelar yang disandangnya. Mahasiswa
harus tetap memiliki sikap kritis, dengan mencoba menelusuri permasalahan sampai ke akar-
akarnya.

Dengan adanya sikap kritis dalam diri mahasiswa diharapkan akan timbul sikap korektif
terhadap kondisi yang sedang berjalan. Pemikiran prospektif ke arah masa depan harus hinggap
dalam pola pikir setiap mahasiswa. Sebaliknya, pemikiran konservatif pro-status quoharus
dihindari.

Mahasiswa harus menyadari, ada banyak hal di negara ini yang harus diluruskan dan
diperbaiki. Kepedulian terhadap negara dan komitmen terhadap nasib bangsa di masa depan
harus diinterpretasikan oleh mahasiswa ke dalam hal-hal yang positif. Tidak bisa dimungkiri,
mahasiswa sebagai social control terkadang juga kurang mengontrol dirinya sendiri. Sehingga
mahasiswa harus menghindari tindakan dan sikap yang dapat merusak status yang disandangnya,
termasuk sikap hedonis-materialis yang banyak menghinggapi mahasiswa.

Karena itu, kepedulian dan nasionalisme terhadap bangsa dapat pula ditunjukkan dengan
keseriusan menimba ilmu di bangku kuliah. Mahasiswa dapat mengasah keahlian dan spesialisasi
pada bidang ilmu yang mereka pelajari di perguruan tinggi, agar dapat meluruskan berbagai
ketimpangan sosial ketika terjun di masyarakat kelak.

Peran dan fungsi mahasiswa dapat ditunjukkan secara santun tanpa mengurangi esensi
dan agenda yang diperjuangkan. Semangat mengawal dan mengawasi jalannya reformasi, harus
tetap tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa. Sikap kritis harus tetap ada dalam diri mahasiswa,
sebagai agen pengendali untuk mencegah berbagai penyelewengan yang terjadi terhadap
perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan begitu, mahasiswa tetap menebarkan bau
harum keadilan sosial dan solidaritas kerakyatan.

Peran Lembaga Kemahasiswaan cukup signifikan, baik untuk lingkup nasional, regional
maupun internal kampus itu sendiri. Ke depan, peran strategis ini seharusnya juga dimainkan
oleh lembaga-lembaga formal kampus lainnya seperti pers mahasiswa, atau kelompok studi
profesi.

7
Secara garis besar, menurut Sarlito Wirawan, ada sedikitnya tiga tipologi atau
karakteristik mahasiswa yaitu tipe pemimpin, aktivis, dan mahasiswa biasa.

Pertama, tipologi mahasiswa pemimpin, adalah individu mahasiswa yang mengaku pernah


memprakarsai, mengorganisasikan, dan mempergerakan aksi protes mahasiswa di perguruan
tingginya. Mereka itu umumnya memersepsikan mahasiswa sebagai kontrol sosial, moral
force dan dirinya leader tomorrow. Mereka cenderung untuk tidak lekas lulus, sebab perlu
mencari pengalaman yang cukup melalui kegiatan dan organisasi kemahasiswaan.

Kedua, tipologi aktivis ialah mahasiswa yang mengaku pernah aktif turut dalam gerakan atau
aksi protes mahasiswa di kampusnya beberapa kali (lebih dari satu kali). Mereka merasa
menyenangi kegiatan tersebut, untuk mencari pengalaman dan solider dengan teman-temannya.
Mahasiswa dari kelompok aktivis ini, juga cenderung tidak ingin cepat lulus, namun tidak ingin
terlalu lama. Mereka tidak terlalu memersepsikan diri sebagai leader tomorrow namun
pengalaman hidup perlu dicari di luar studi formalnya. Sudah barang tentu jumlah mereka itu
lebih banyak daripada kelompok pemimpin.

Ketiga, tipologi mahasiswa biasa adalah kelompok mahasiswa di luar kelompok pemimpin dan
aktivis yang jumlahnya paling besar lebih dari 90%. Sesungguhnya cenderung pada hura-hura
yaitu kegiatan yang dapat memberikan kepuasan pribadi, tidak memerlukan komitmen jangka
panjang dan dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama. Mereka ingin segera lulus,
bahkan tidak sedikit mahasiswa yang tidak segan-segan dengan cara menerabas (nyontek,
membuat skripsi "Aspal" dan lain-lain) agar segera lulus. Apakah hal ini merupakan indikator
kurangnya dorongan prestatif di kalangan mahasiswa, masih perlu diteliti.

Fakta membuktikan, dinamika kehidupan bangsa dan mahasiswa pada umumnya banyak
dimotori oleh tipe pemimpin dan aktivis ini. Meskipun secara kuantitas kecil tetapi mereka
mampu menjadi pendorong dan agen utama perubahan dan dinamika kehidupan kampus.
Sebagian mereka karena telah terlatih menjadi pemimpin dan aktivis, maka tidak sulit setelah
selesai pada akhirnya mereka juga menjadi pemimpin dan aktivis setelah terjun di masyarakat
dan pemerintahan.

8
E. SIKAP MAHASISWA DALAM BELA NEGARA

1) Menumbuhkan semangat dan sikap hidup lebih baik dan lebih maju. Sikap tersebut dapat
diwujudkan dengan cara giat belajar dan giat bekerja, optimis terhadap masa depan, tidak
boros dan tidak bergaya hidup mewah, serta menumbuhkan semangat gemar
menabung. mahasiswa  harus giat belajar demi meraih masa depan yang gemilang serta dapat
membantu kelangsungan pembangunan Negara .Ilmu yang melimpah dari para pelajar apabila di
amalkan kepada bangsa ini maka akan membawa perubahan yang besar.
2) Memiliki semangat dan sikap ingin berperan serta dalam usaha-usaha pembangunan.
Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan cara taat membayar pajak, taat hukum, ikut serta
dalam menjaga keamanan, serta menjaga kehormatan dan martabat bangsa di hadapan
dunia internasional.
3) Menumbuhkembangkan semangat dan sikap rela berkorban dalam masa pembangunan.
Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan cara sehat jasmani dan rohani, tahan derita dan
tahan uji, selalu tegar menghadapi masalah, cekatan dalam bertindak, berpendirian teguh,
siap menanggung risiko, bertanggung jawab, serta berani membela kebenaran dan
keadilan.
4) Memiliki semangat dan sikap untuk mengembangkan inovasi (pembaruan) dalam
berbagai hal. Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan cara terbuka terhadap perubahan,
menerima dengan selektif budaya asing, menolak tegas kebudayaan asing yang tidak
sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, mengubah pola hidup dan tingkah laku yang
tidak sesuai dengan sendi-sendi kehidupan yang baik, serta selalu bangga sebagai bangsa
dan warga negara Indonesia.
5) Melestarikan kebudayaan Indonesia baik di dalam negri maupun diluar negri. Budaya merupakan harta
suatu bangsa dan alangkah bagusnya apabila harta tak ternilai tersebut dilestarikan.

F. PEMUDA, MAHASISWA DAN PERUBAHAN

Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan “agent of change”. Kata-kata


perubahan selalunya menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang
juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya

9
harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di
negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga
kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan.
Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar
harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini.
Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi
sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa.
Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-
gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan
negara.
Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda khususnya mahasiswa
selalu berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di dunia selalu
identik dengan peran mahasiswa didalamnya.
Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo.
Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu “kemajuan yang selaras buat negeri dan
bangsa” ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan yang luar biasa positif
terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.Gerakan
kemahasiswaan lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya
organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di
Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan
Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar
dan mahasiswa di garda depan sebuah bangsa dengan misi utamanya “menumbuhkan
kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk
memperoleh kemerdekaan”.
Gerakan mahasiswa tidak berhenti sampai disitu, gerakannya berkembang semakin subur,
angkatan 1928 yang dimotori oleh beberapa tokoh mahasiswa diantaranya Soetomo
(Indonesische Studie-club),Soekarno (Algemeene Studie-club), hingga terbentuknya juga
Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan prototipe organisasi telah
menghimpun seluruh gerakan mahasiswa ditahun 1928, gerakan mahasiswa angkatan 1928
memunculkan sebuah idieologi dan semangat persatuan dan kesatuan diseluruh pelosok
Indonesia untuk meneriakkan dengan lantang dan menyimpannya didalam jiwa seluruh

10
komponen bangsa, kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah
darah Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa satu yaitu
bahasa Indonesia dan hingga kini kita kenal sebagai sumpah pemuda.
Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus
tumbuh dan berkembang, hinggalah gerakan perjuangan mahasiswa sampai pada terjadinya
peristiwa 10 tahun yang lalu yaitu tragedi trisakti mei 1998.
Lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan didalam perubahan terhadap negeri ini, gerakan
perjuangan ini menuntut reformasi perubahan untuk mengganti rezim orde baru yang
korupsi, kolusi, dan nepotisme serta tidak berpihak kepada rakyat dan memaksa turun
presiden soeharto dari kursi kekuasaannya yang telah digenggamnya selama hampir 32
tahun.
Gerakan perjuangan mahasiswa tidak semudah yang kita bayangkan, perubahan ini harus
dibayar mahal dengan meninggalnya empat mahasiswa universitas trisakti oleh timah petugas
aparat yang tidak mengharapkan perubahan itu terjadi.
Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya,
eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya mahasiswa dalam memberikan perubahan
dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan
dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam
melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi
penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai
generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan
juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan
penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum.
Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik
yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila
peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh
perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.
Gerakan perjuangan Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun ,gerakan
perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya dengan bergerak bersama-sama untuk
berdemonstrasi dan berorasi dijalan-jalan saja, akan tetapi wahai para “agent of change”,

11
cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian mu untuk
bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi
kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan bangsa
dan Negara Indonesia, sehingga seperti Hasan al Banna katakan “goreskanlah catatan
membanggakan bagi umat manusia”.

12
BAB II PENUTUP
KESIMPULAN

Mahasiswa adalah kaum yang intelektual, kaum yang kritis dan memiliki semangat yang
kuat dalam bela negara, Semangat mahasiswa tersebut adalah Semangat mengawal dan
mengawasi jalannya reformasi dalam, selalu tertanam dalam jiwa setiap mahasiswa. Sikap kritis
akan tetap ada dalam diri mahasiswa, sebagai agen pengendali untuk mencegah berbagai
penyelewengan yang terjadi terhadap perubahan yang telah mereka perjuangkan. Dengan begitu,
mahasiswa tetap menebarkan bau harum keadilan sosial dan solidaritas kerakyatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/93012698/Upaya-Mahasiswa-dalam-Bela-Negara

http://wahyudiputra26.blogspot.com/2012/10/makalah-bela-negara_3787.html

http://theguhengine.blogspot.com/2013/05/peran-mahasiswa-dalam-membela-negara.html

14