Anda di halaman 1dari 71

MODUL BELAJAR UKAI

by UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

DISUSUN OLEH : TIM UKAI SPIRIT


@ukai_spirit / @semangat_ukai
ukaispirit@gmail.com / 0882-1730-9350

©Copyright. Dilarang memperbanyak dan memperjualbelikan isi modul tanpa seizin pihak tim penyusun !!
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

CLINICAL SCIENCE (CS)


Materi Klinis
Blueprint UKAI
No Farmakoterapi Persentase
1 Sistem kardiovaskular 10-12 %
2 Infeksi 20-25 %
3 Sistem endokrin dan metabolic 5-10 %
4 Sistem pernafasan 5-10 %
5 Sistem gastrointestinal 10-15 %
6 Sistem renal, saluran kemih 5-8 %
7 Sistem syaraf dan kesehatan jiwa 8-10 %
8 Tulang dan persendian 8-10 %
9 Kulit 3-5 %
10 Mata, hidung, telinga, dan tenggorokan 3-5 %
11 Onkologi, imunologi, nutrisi, gawat darurat, vaksin, dan produk 8-10 %
biologi

Fokus untuk paham terkait :


 Mekanisme kerja obat
 First line dan Second line atau alternative terapi  terutama di UKAI September 2021 banyak keluar
second line
 Patofisiologi dasar pemilihan obat (riwayat penyakit)
 Pertimbangan bentuk dan rute sediaan
 Kondisi spesifik (bumil – anak, pasien gangguan ginjal, hati, lansia)
 Komunikasi informasi obat  Interaksi obat, waktu efektif meminum obat

Tips mengerjakan soal klinis, saat membaca soal :


a) Perhatikan usia pasien (anak, dewasa atau lansia) untuk pemilihan terapi yang tepat
b) Highlight gejala atau keluhan yang dialami pasien untuk diagnosa penyakit pasien
c) Jika diketahui data lab, lihat nilai atau parameter lab apa yang perlu diwaspadai atau perlu
diperbaiki terkait pertimbangan pemilihan obat
d) Perhatikan riwayat penyakit dan alergi pasien untuk menentukan kapan digunakan first, second
line atau terapi alternative
e) Jika ditanyakan kapan waktu minum obat terutama jika pasien mengalami komplikasi dan
mengonsumsi beberapa obat secara bersamaan maka perhatikan obat-obat yang sering berinteraksi
dengan obat lainnya agar diminum dengan jeda 2 jam dengan sebelum atau sesudah meminum obat
lainnya.
f) Rata-rata soal klinis bisa dihafalkan dan akan terbiasa bisa menjawab seiring dengan banyaknya
latihan soal yang dikerjakan, namun tetap harus paham juga kapan menggunakan obat A dan kapan
menggunakan obat B. Sehingga apabila pada saat UKAI soalnya dirubah atau dimodifikasi kalian
tetap tau dan bisa menjawabnya dengan benar.
g) Jangan anggap remeh/sepele dengan soal klinis, baca soal dengan teliti karna bisa jadi ada jebakan di
soal ataupun opsinya, jadi harus benar-benar fokus dan teliti.

1
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

1. SISTEM KARDIOVASKULAR (10 – 12%)


Outline :
 Hipertensi
 Penyakit Jantung
 Anemia
 Stroke / Cerebrovascular Attact (CVA)
 Dislipidemi

a. HIPERTENSI
Kategori menurut JNC 8 :
Kategori Tekanan Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal < 120 < 80
Tinggi 120 – 129 < 80
Hipertensi stage I 130 – 139 80 – 89
Hipertensi stage II ≥ 140 ≥ 90
Hipertensi stage III >180 >120

Target Tekanan Darah


Kondisi Target TD
Pasien ≥60 tahun tanpa penyakit penyerta <150/90 mmHg
Pasien < 60 tahun tanpa penyakit penyerta <140/90 mmHg
Pasien segala usia dengan penyakit penyerta DM dan CKD <140/90 mmHg

Tatalaksana

2
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Pemilihan Terapi Berdasarkan Kondisi Pasien


Kondisi pasien Pilihan Terapi Hindari
Gagal Jantung ACEI/ARB + BB + Diuretik +
-
Spironolakton
Post-Miokard Infark ACEI/ARB dan BB -
Jantung Koroner ACEI/ARB, BB, Diuretik, CCB -
Diabetes Melitus ACEI/ARB, CCB, Diuretik BB
Gagal Ginjal Kronis ACEI/ARB + loop diuretic HCT dan Spironolakton
Pencegahan Stroke ACEI, Diuretik (HCT)
BB dan CCB
Berulang
Hamil First line : Labetolol (trimester 3), Second
line : Metildopa (trimester 1-2), hidralazin, -
nifedipin (preeklamsia)
Asma ACEI/CCB non-dihidropiridin BB non selektif : propanolol dan
CCB dihidropiridin : amlodipine)

Penggolongan Obat Antihipertensi


Golongan Obat Contoh Obat Mekanisme Kerja Tambahan
Memblok reseptor alfa adrenergik yang Finasteride bekerja sebagai
ada pada otot polos pembuluh darah. selektif inhibitor dari isoform 5-a-
Non-selektif : fentolamin,
reduktase tipe 1 dan tipe 2
fenoksibenzamin.
Biasanya digunakan pada terapi BPH
α1 - selektif : prazosin,
Alfa Bloker (Benign Prostatic Hyperplasia) terutama
terazosin, Doksazosin
α1 – selektif dengan mekanisme
Inhibitor 5 alfa reduktase :
merelaksasi otot prostat sehingga
Finasteride
mengurangi hambatan keluarnya air
kencing
- Penggunaan metildopa atau
labetolol jika digunakan bukan
- Klonidin Sering untuk bumil harus dikombinasi
digunakan untuk HT dengan diuretic untuk
Menstimulasi reseptor alfa 2 sehingga
Agonis Alfa 2 yang resisten mencegah ketumpulan
menyebabkan vasodilatasi
- Metildopa dan terhadap efek hipertensi
Labetolol - Penghentian terapi secara
mendadak dapat menyebabkan
rebound hipertensi
- Lisinopril dapat meningkatkan
konsentrasi glimipiride
sehingga meningkatkan efek
Menghambat pembentukan Angiotensin glimipiride yang akan
Angiotensin Kaptopril, Enalapril,
II (menghambat Angiotensin I menjadi meningkatkan kemungkinan
Converting Benazepril, Fosinopril,
Angiotensin II) dan pada saat yang hipoglikemia
Enzyme Inhibitor Moexipril, Quianapril,
bersamaan meningkatkan jumlah - Jika timbul batuk kering dlm
(ACEI) Lisinopril
bradikinin. pengunaan ACEI diganti
ARB
- Bersifat teratogenik  hindari
pemberian pada bumil
- Kebanyakan ARB memiliki
waktu paruh panjang shngga
cukup 1x/hari
- Tidak boleh diberikan pada
BUMIL
Inhibitor kompetitif dari resptor
- Penggunaan Valsartan
Angiotensin II (tipe 1).
1x160mg  berfungsi sebagai
Angiotensin II Candesartan, Losartan,
maintenance kondisi ginjal
Reseptor Blocker Eprosartan, Irbesartan, ARB memiliki aktivitas nefroprotektif
pasien pada HT stage II dan
(ARB) Telmisartan , Zolosartan. melalui penghambatan aktivitas
GGK stage III  perlu
angiotensin yang menyebabkan
monitor kadar peningkatan
penurunan tekanan intraglomerular
BUN 17%, dan Kalium
(Hypercalemia (4-10%)
- Losartan dapat menurunkan
kadar asam urat sehingga perlu
monitor SCr pasien.

3
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

- BB kardioselektif  lebih
aman digunakan pada pasien
asma bronkospasme
- ESO Bisoprolol 
- selektif : bisosprolol, menyebabkan kecemasan dan
metoprolol, atenolol, disfungsi ereksi (ejakulasi dini)
asebutolol Reseptor β1 : Jantung dan Ginjal - Pengunaan propranolol pada
- non-selektif : nadolol, Reseptor β2 : paru2, liver pangkreas dan pasien gagal jantung dapat
propranolol, timolol otot halus arteri memicu terjadinya serangan
Beta Bloker
- aktivitas simpatomimetik asma
intrinsic : pindolol, Non-selektif : menurunkan curah jantung - β bloker yg tidak
acebutolol, carteolol dan menurunkan resistensi perifer mempengaruhi kadar serum
- gabungan alfa dan beta : lemak adalah labetolol dan
labetolol dan karvediol karvediol.
- Penggunaan B bloker tidak
boleh dihentikan mendadak krn
dpat terjadi Rebound
hipertensi
- Amlodipine dapat
meningkatkan kadar
Antagonis kalsium menghambat influks
simvastatin sehingga
- Dihidropiridin : kalsium pada sel otot polos pembuluh
berdampak pada peningkatan
amlodipin, nifedipin, darah dan miokard
Calcium Channel resiko terjadinya
isradipin dan felodipin
Bloker miopati/rhabdomiolisis
- Non dihidropiridin : Non dihidropiridin menurunkan
- Jika asma dan jantung =
diltiazem, verapamil denyut jantung dan kondusi nodal
berikan non-dihidro
atrivetrikuler
- Formulasi lepas lambat utk
cegah hipotensi ortostatik
- Thiazid  efektif menurunkan tekanan darah dengan Efek samping obat
digunakan pada pasien menghancurkan garam yang tersimpan di - Thiazid : Hipokalemi,
dengan GFR > 30 alam tubuh, pengurangan dari volume hipomagnesi, hiperkalsemia,
ml/menit. Contoh : darah total dan curah jantung. Ketika hiperglikemi dan disfungsi
hidroklorotiazid curah jantung kembali ke ambang normal seksual
(HCT), klortalidon dan resistensi pembuluh darah perifer juga - Diuretik kuat : hipokalemia,
indapamid berkurang. hipokalsemia
- Diuretik kuat  untuk - Diuretik hemat kalium :
pasien yang disertai Thiazid bekerja pada tubulus distal hiperkalemia jika digunakan
Diuretik dengan edema. Contoh dengan meningkatkan ekskresi Na+ dan pada pasien gangguan ginjal,
: Furosemid, Cl- diabetes dan pasien yang
torasemid, asam mendapatkan ARB,ACEI,
etakrinat dan Diuretik kuat bekerja di loop NSAID dan suplemen kalium.
bumetamid. henledengan menghambat kotranspor
- Diuretik hemat kalium : Na+, K+, Cl-, dan menghambat resorpsi Spironolakton menyebabkan
spironolakton, air dan elektrolit ginekomastia.
triamteren dan amilorid.
- Antagonis aldosteron Diuretik hemat kalium bekerja di
terbaru : eplerenon kolektifus
- Selalu dikombinasikan dengan
HCT. Dan merupakan pilihan
bagi yang tidak cocok dengan
B-Blocker
Bekerja meningkatkan cGMP otot polos - Hydralazine dan minoxidil
Vasodilator Hidralazin dan minoksidil
 relaksasi otot polos vaskular dapat menyebabkan refleks
takikardia dan retensi cairan
Biasanya membutuhkan terapi
tambahan diuretik + B-blocker

Pemilihan Terapi Berdasarkan Data Demografi Pasien1,2


Umum, Semua usia Usia < 55 tahun Usia > 55 tahun
First Line CCB atau diuretik ACE-I atau ARB3 atau CCB atau diuretik5
CCB atau diuretik4
Second Line ACE-I atau ARB3 atau vasodilating beta bloker6 Vasodilating beta-bloker6 ACE-I atau ARB atau
Vasodilating beta-bloker6

4
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Alternative Agonis alfa atau antagonis alfa7 Agonis alfa atau Agonis alfa atau antagonis alfa7
antagonis alfa
Resisten Reseptor aldosteron bloker Reseptor aldosteron Reseptor aldosteron bloker
bloker
Keterangan :
1
Indikasi kuat dapat mengubah pemilihan obat antihipertensi
2
Mulai dengan dosis penuh dari satu agen, atau dosis yang lebih rendah dari terapi kombinasi. Pada hipertensi stage 2,
pertimbangkan untuk memulai terapi dengan kombinasi dosis tetap
3
Wanita usia subur harus menghindari ACE-I dan ARB atau menghentikan segera setelah terdiagnosis hamil.
4
Efek metabolik yang merugikan dari diuretik thiazide dan beta blocker harus dipertimbangkan pada pasien yang lebih
muda tetapi mungkin kurang penting pada pasien yang lebih tua
5
Untuk pasien dengan gangguan ginjal yang signifikan, gunakan loop diuretik daripada thiazide
6
Ada keuntungan teoritis dalam penggunaan beta-blocker vasodilatasi seperti carvediol dan nebivolol
7
Antagonis alfa dapat memicu atau memperburuk hipotensi ortostatik pada orang tua

Hipertensi pada Kehamilan


Jenis Usia gestasional Tekanan Darah Proteinuria Kejang Terapi dan kategori
(mmHg) keamanan FDA
Hipertensi > 20 minggu > 140/90 Negatif Tidak  Metidopa, MgSO4 : B
Gestasional  Labetalol, Nifedipin dan
Pre-eklampsia > 20 minggu > 140/90 < 5 g/24 jam Tidak Hidralazin : C
ringan  ACE-I, ARB, Diuretik
Pre-eklampsia > 20 minggu > 160/110 > 5 g/24 jam Tidak dan Nitroprusid : D
berat (hindari)
Eklampsia > 20 minggu > 160/110 > 5 g/24 jam Ada  Oksitosin : X (tidak
Hipertensi < 20 minggu dan > 140/90 Negatif Tidak digunakan karena
Kronis sebelum pembuahan teratogenik)
Pre-eklampsia < 20 minggu > 140/90 Onset baru Tidak MgSO4 digunakan pada
Superimpose eklampsia untuk terapi
kejang. Jika terjadi
intoksikasi diberi antidotum
injeksi Ca-glukonas.

5
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

b. Penyakit Jantung

Berdasarkan kelainan struktural jantung Berdasarkan kapasitas fungsional (NYHA)


Stadium A Kelas I
Memiliki risiko tinggi untuk berkembang Tidak ada batasan aktivitas fisik. Aktivitas
menjadi gagal jantung. Tidak terdapat gangguan fisik sehari-hari tidak menimbulkan kelelahan,
struktural atau fugsional jantung, dan juga tidak berdebar atau sesak nafas.
tampak tanda atau gejala.

Stadium B Kelas II
Telah terbentuk kelainan pada struktur jantung Terdapat batasan aktivitas ringan. Tidak
yang berhubungan dengan perkembangan gagal terdapat keluhan saat istrahat, namun aktivitas
jantung tapi tidak terdapat tanda atau gejala. fisik sehari-hari menimbulkan kelelahan,
berdebar atau sesak nafas.
6
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Stadium C Kelas III


Gagal jantung yang simtomatik berhubungan Terdapat batasan aktivitas yang bermakna.
dengan penyakit struktural jantung yang Tidak terdapat keluhan saat istrahat, namun
mendasari. aktivitas fisik ringan menyebabkan kelelahan,
berdebar atau sesak nafas.
Stadium D Kelas IV
Penyakit jantung struktural lanjut serta gejala Tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa
gagal jantung yang sangat bermakna muncul saat keluhan. Terdapat gejala saat istrahat. Keluhan
istrahat walaupun sudah mendapat terapi meningkat saat melakukan aktivitas.
farmakologi maksimal (refrakter).

Tujuan tata laksana

7
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Terapi Farmakologi
Golongan Penggunaan Indikasi Kontraindikasi
ANGIOTENSIN- diberikan pada semua memperbaiki fungsi - Riwayat angioedema
CONVERTING pasien gagal jantung ventrikel dan kualitas hidup,
• Stenosis renal bilateral
ENZYME INHIBITORS simtomatik dan fraksi ejeksi mengurangi perawatan • Stenosis aorta berat
(ACE-I) ventrikel kiri ≤40% kecuali rumah sakit karena • Kadar kalium serum >5,5
ada kontraindikasi perburukan gagal jantung,mmol/L
dan meningkatkan angka • Serum kreatinin > 2,5
kelangsungan hidup mg/dL (relatif)
Penyekat reseptor β diberikan pada semua memperbaiki fungsi - asma berat
pasien gagal jantung ventrikel dan kualitas hidup,
- Blok AV (atrioventrikular)
simtomatik dan fraksi ejeksi mengurangi perawatan derajat 2 dan 3, sindrom
ventrikel kiri ≤40% kecuali rumah sakit karena sinus sakit (tanpa pacu
ada kontraindikasi perburukan gagal jantung,jantung permanen), sinus
dan menurunkan mortalitas.
bradikardia (nadi
<50x/menit)
ANTAGONIS penambahan obat antagonis dapat mengurangi frekuensi -Konsentrasi serum kalium
ALDOSTERON aldosteron dosis kecil harus perawatan rumah sakit > 5,5 mmol/L
dipertimbangkan pada karena perburukan gagal • Serum kreatinin > 2,5
semua pasien gagal jantung jantung dan meningkatkan mg/dL (relatif)
simtomatik berat (kelas angka kelangsungan hidup • Bersamaan dengan
fungsional IIIIV NYHA) diuretik hemat kalium atau
tanpa hiperkalemia dan suplemen kalium
gangguan fungsi ginjal • Kombinasi ACE-I dan
berat. ARB atau ARNI

8
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Obat-obat anti-iskemia
Nitrat
Nitrat menyebabkan vasodilatasi arteri dan vena, yang menjadi dasar perbaikan gejala angina. Nitrat bekerja dengan
komponen aktifnya NO, dan dengan menurunkan preload.
- Nitrat kerja cepat untuk angina akut. Nitrogliserin sublingual merupakan terapi inisial standard untuk angina. Ketika
gejala angina muncul, pasien harus duduk beristirahat (berdiri menyebabkan sinkop, berbaring meningkatkan aliran
balik vena dan kerja jantung) dan konsumsi nitrogliserin sublingual (0,3-0,6 mg) tiap 5 menit hingga nyeri hilang atau
maksimal 1,2 mg telah dikonsumsi dalam 15 menit.
- Nitrat kerja panjang untuk profilaksis angina. Nitrat kerja panjang tidak efektif secara terus menerus jika secara rutin
diberikan dalam periode waktu yang lama tanpa interval tanpa-nitrat atau interval rendah-nitrat sekitar 8-10 jam
(toleransi).
Β-blocker (Penyekat Beta)
Penyekat beta dapat bekerja secara langsung ke jantung untuk menurunkan laju jantung, kontraktilitas, konduksi
atrioventrikular dan aktivitas ektopik. Pemberian penyekat beta juga dapat meningkatkan perfusi area iskemia dengan
memperpanjang diastolik dan meningkatkan resistensi vaskular pada area non-iskemia.
Kombinasi terapi penyekat beta dengan verapamil dan diltiazem harus dihindari karena resiko bradikardi dan blok AV.
Nevibolol dan bisoprolol sebagian disekresikan oleh ginjal, sedangkan carvedilol dan metoprolol dimetabolisme oleh
hepar, sehingga lebih aman diberikan pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal.
Penyekat kanal kalsium (CCB)
CCB bekerja sebagai vasodilator dan untuk menurunkan resistensi vaskular perifer. CCB diklasifikasikan menjadi CCB
dihidropiridin (DHP) dan non-dihidropiridin (non-DHP).
- non DHP : Verapamil dapat digunakan untuk berbagai jenis angina (angina diinduksi aktivitas, vasospastik, dan
angina tidak stabil), takikardi supraventrikel, dan hipertensi. Diltiazem memiliki resiko efek samping yang rendah, dan
memiliki keunggulan dibandingkan dengan verapamil dalam penanganan angina. Seperti verapamil, diltiazem bekerja
sebagai vasodilator perifer, meredakan konstriksi koroner yang diinduksi aktivitas, memiliki efek inotropik negatif, dan
inhibisi nodus jantung. kombinasinya dengan penyekat beta juga tidak dianjurkan.
- DHP : Nifedipin kerja panjang merupakan vasodilator arteri kuat dengan beberapa efek samping. Pada uji ACTION
(uji klinis skala besar menggunakan plasebo sebagai kontrol), nifedipine jangka panjang dinyatakan aman untuk APS
dan mengurangi kebutuhan angiografi koronerdan intervensi kardiovaskular. Kontraindikasi nifedipine (stenosis aorta
berat, kardiomiopati obstruktif, gagal jantung) dan kombinasinya dengan penyekat beta dengan hati-hati, pada
umumnya aman.
Ivabradine
vabradine merupakan obat untuk menurunkan laju jantung, dan secara selektif menghambat aliran nodus sinus l(f)
pacemaker, sehingga mengurangi kebutuhan oksigen tanpa efek inotropik maupun efek pada tekanan darah. Ivabradine
dapat digunakan untuk pasien APS yang intoleran atau tidak cukup dikendalikan dengan penyekat beta, dan yang laju
jantungnya melebihi 60 kali per menit (irama sinus). Ivabradine sama efektifnya dengan atenolol dan amlodipine pada
pasien APS.
Nicorandil
Nicorandil merupakan nitrat derivat dari nicotinamide yang dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan jangka
panjang angina, dan dapat ditambahkan setelah pemberian penyekat beta dan CCB. Nicorandil mendilatasi arteri
koroner epikardium dan menstimulasi kanal Kalium sensitif-ATP pada otot polos pembuluh darah.
Trimetazidine
Trimetazidine merupakan modulator 9ropranol anti-iskemia dengan efikasi anti-anginal yang mirip dengan 9ropranolol
pada dosis 20 mg 3 kali sehari. Laju jantung dan puncak latihan tidak berubah pada kelompok uji trimetazidine,
sehingga trimetazidine dijelaskan memiliki kerja anti-iskemia non-mekanis.
Ranolizine
Ranolazine merupakan inhibitor selektif untuk aliran Natrium dengan efek metabolik dan anti-iskemia. Konsentrasi
ranolazine plasma meningkat dengan inhibitor sitokrom P3A (CYP3A), seperti diltiazem, verapamil, antibiotik
makrolida, jus anggur. Klirens ranolazine berkurang dengan gangguan ginjal dan hepar.
Allopurinol
Allopurinol merupakan inhibitor xantin oksidase yang menurunkan asam urat pada pasien dengan gout, dan juga
bersifat anti-angina.
Molsidomine
Molsidomine merupakan donor NO secara langsung, dan memiliki efek anti-iskemia yang mirip dengan isosorbid
dinitrat.
Pasien dengan hipotensi
Pasien dengan tekanan darah yang rendah dapat diberikan mulai dosis rendah, dengan preferensi penggunaan obat

9
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

yang terbatas efeknya pada tekanan darah, seperti ivabradine (pada ritme sinus), ranolazine atau trimetazidine.
Pasien dengan bradikardi
Pasien dengan laju jantung yang rendah harus diperlakukan berbeda. Obat-obatan penurun laju jantung (penyekat beta,
ivabradine, CCB) harus dihindari atau digunakan dengan berhati-hati, dan jika diperlukan dimulai pada dosis rendah.
Obat-obat anti-angina yang tidak memiliki efek menurunkan laju jantung lebih dipilih untuk digunakan pada pasien
kelompok ini.
Pencegahan
Antiplatelet
Antiplatelet menurunkan agregasi platelet dan dapat mencegah pembentukan trombus. Aspirin dosis rendah
merupakan pilihan dan Clopidogrel (CPG) dapat dipertimbangkan untuk beberapa pasien. Penggunaan antiplatelet
berhubungan dengan peningkatan resiko perdarahan.
1. Aspirin dosis rendah 75-150 mg/hari
2. Inhibitor P2Y12 : Inhibitor P2Y12, termasuk thienopyridine bekerja sebagai antagonis reseptor ADP, yaitu P2Y12,
sehingga menghambat agregasi platelet. Clopidogrel dianjurkan sebagai lini ke-2, khususnya untuk penderita yang
intoleran terhadap aspirin. Prasugrel dan ticagrelor merupakan antagonis P2Y12 yang memiliki efek inhibisi platelet
yang lebih besar dan berhubungan dengan penurunan kejadian kardiovaskuler dibandingkan dengan clopidogrel
pada penderita sindroma koroner akut,
3. Kombinasi antiplatelet : Pengobatan antiplatelet ganda yang mengkombinasikan aspirin dan thienopiridine
merupakan standar penatalaksanaan pasien dengan sindrom koroner akut, termasuk setelah fase akut, ketika pasien
telah stabil maupun pada pasien APS yang telah menjalani IKP.
4. Respon yang minimal terhadap antiplatelet : Respon terhadap anti-platelet bervariasi pada tiap individu, tergantung
pada kepatuhan akselerasi turnover platelet, interaksi obat, dan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, diabetes)
dan polimorfisme (sitokrom P450 2C19, ATP-binding cassette sub-family B member 1 untuk CPG).

Lipid Lowering Agent


Pasien dengan PJK dikelompokkan menjadi kelompok yang beresiko sangat tinggi dan harus diobati dengan statin,
dengan target LDL50% penurunan dari LDL sebelumnya, jika target < 70 mg/dL tidak tercapai.

Obat Penghambat Sistem Renin Angiotensin Aldosterone


Inhibitor renin angiotensin menurunkan mortalitas, kejadian infark miokard, stroke, dan gagal jantung, riwayat penyakit
vaskular, resiko tinggi diabetes. ACEI patut dipertimbangkan untuk diberikan pada pasien APS, khususnya dengan
tambahan faktor resiko hipertensi, fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤40%, penderita diabetes dan gagal ginjal, kecuali
dikontraindikasikan.

10
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Tata laksana Angina


Derajat Keterangan Tatalaksana
Keluhan terjadi saat aktivitas 1. Antiplatelet
1
berat yang lama 2. Statin
Keluhan terjadi saat aktivitas 3. Betabloker (bisoprolol/carvedilol/metoprolol – ivabradine
2 yang lebih berat dari aktivitas sehari- (jika pasien intoleran βblocker) - Tidak dapat digunakan untuk
hari angina vasospasme
Keluhan terjadi saat aktivitas 4. ISDN/Mononitrat (firstline serangan akut – pada angina
3
sehari-hari stabil/ profilaksis serangan), dikombinasikan bersama
Keluhan terjadi saat Istirahat βblocker/ CCB  efek samping kepala sakit pusing berat.
4
5. CCB – sebagai pengganti βblocker

Rangkuman :
1. Angina pectoris (iskemia)
- ISDN s.l. + aspirin dikunyah (orodispersible tablet)
- ISDN s.l. > ISDN i.v. > Morfin nitrat injeksi
- ISDN oral dapat diberikan bila sudah stbail 24 jam tanpa nyeri
- Stabilisasi = + betablocker selektif atau CCB nondihidropidin (bila tidak kuat B-Blocker)
2. Ateroskeloris = berikan Antiplatelet + statin
3. Stroke =
- Hemoragik / iskemik berikan epinefrin
- Kardiogenik berikan dobutamin/dopamin
4. Gol obat utk terapi supporting :
- Antitrombotik nama lainnya antiplatet = aspirin, clopidogrel, tiklodipin
- Antikoagulan = warfarin, heparin (UFH) dan enoxaparin (LMWH).
LMWH lebih baik digunakan karena BA bagus dan tanpa monitoring ketat dari INR.
- Fibrinolitik = alteplase (penggunaan 2 – 4 jam)
5. Pada bumil = ISDN + labetolol aja. Hindari : aspirin dan warfarin.
6. Pada DM berikan aspirin dan warfarin OK.
7. Angina + bradikardia = Amlodipin
8. Aritmia = Verapamil (non-dihidropiridin)

c. Anemia
Anemia
Klasifikasi Ketentuan
Makrositik Sel lebih besar daripada ukuran normal
Nilai MCV besar
Terapi : Sianokobalamin (Vitamin B12) dan Asam folat
Mikrositik Sel lebih kecil daripada ukuran normal
Nilai MCV rendah
Hb rendah
Terapi : Fe sulfat, Fe fumarat
Normositik Berkaitan dengan kehilangan jumlah darah dalam jumlah yang banyak karena penyakit
kronis
Terapi :
Jika Hb < 10 g/dl dan serum feritin <500 ng/ml = Eritropoietin
Jika Hb < 6 g/dl = Tranfusi darah atau RBC
Istilah yang digunakan dalam darah dan anemia
Hemoglobin Protein kaya zat besi dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke
seluruh tubuh
Hematokrit Konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam suatu volume sel darah merah
MCV Corpuscular volume menggambarkan ukuran/volume dari sel darah merah
MCH Mean corpuscular hemoglobin menunjukkan bobot hemoglobin dalam darah
MCHC Mean corpuscular hemoglobin consentration adalah konsentrasi rata-rata Hb dalam
suatu volume sel darah merah
Sumber : Dipiro 11th edition, Pionas

11
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

d. Stroke / Cerebrovascular Attact (CVA)


OBAT ANTIKOAGULAN, TROMBOLITIK, dan ANTITROMBOSIT
Jenis Contoh Mekanisme
1. Heparin: Antikoagulan yang bekerja langsung (IV)
2. Antikoagulan oral: Antikoagulan yang bekerja tidak
langsung
Mencegah pembekuan darah
a. Derivat 4 –Hidroksikumarin: Dikumoral (antagonis vit
menghambat pembentukan atau
Antikoagulan K), Warfarin
menghambat fungsi beberapa faktor
b. Derivat Indan-1,3-dion: Anisindion;
pembekuan darah
3. Antikoagulan bekerja mengikation Kalsium (faktor
pembekuan darah) contoh: Natrium sitrat, natrium
Edetat, Asam Oksalat
1. Streptokinase (Pengobatan fase dini emboli paru akut
dan infark miokard akut) Melarutkan Trombus yang sudah
2. Urokinase Urokinase + Heparin  insidens terbentuk. Digunakan pada saat
Perdarahan 45 % Heparin  insiden Perdarahan 27 % trombus sudah terbentuk. Obat ini
bekerja dengan cara berdifusi ke
Keracunan Akibat trombolitik: dalam bekuan darah dan
Trombolitik
- Asam aminokaproat mengaktifkan plasminogen yang
- Aprotinin - Asam Traneksamat dapat melawan aksi digunakan untuk menghancurkan
trombolitik (namun keamanan pemberian obat ini secara gumpalangumpalan pada kondisi
bersamaan belum didapatkan). seperti trombosis vena, emboli paru,
- Asam aminokaproat: Penghambat yang bersaing trombosis retina, juga infark miokard.
dengan aktivator plasminogen dan penghambat plasmin.

Obat yang menghambat agregasi


Aspirin, Sulfinpirazon, Dipiridamol dan Dekstran, trombosit terhambatnya
Antitrombosit
Prostaksiklin, PGI2 dan Tiklopidin pembentukan trombus yang terutama
sering ditemukan pada sistem arteri.

Menghambat pembentukan awal


gumpalan darah.
Menghambat adhesi dan agregasi
platelet dengan cara Menghambat
siklooksigenase (ASA). Menghambat
Aspirin, abciximab, clopidogrel, dipyridamole, reseptor glycoprotein IIb/IIIa
Antiplatelet
eptifibalide, Ticlopidine Tirofiban (abciximab, eptifibatide) Mengahmbat
agregasi platelet yang diinduksi
ADP (clopidogrel, ticlopidine,
prasugrel) Menghambat cyclic
ucleotide phosphodiesterase
(dipyridamole)

e. Dislipidemia
Total kolesterol LDL HDL
Normal : < 200 mg/dL Optimal : < 100 mg/dL Rendah : < 40 mg/dL
Diatas normal : 100 – 129 mg/dL
Batas tinggi : 200 – 239 mg/dL Batas tinggi : 130 – 159 mg/dL Normal : 40 – 59 mg/dL
Tinggi : 160 – 189 mg/dL
Tinggi : > 240 mg/dL Sangat tinggi : >190 mg/dL Tinggi : > 60 mg/dL

12
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Kondisi Pilihan terapi


LDL Tinggi 1. Statin
2. Ezetimibe (tunggal) dapat diberikan jika pasien tidak dapat
mentoleransi pemberian statin
TG Tinggi 1. Statin
2. Fibrat jika
-TG > 500 mg/dl
-TG > 200 mg/dl dan HDL < 40 mg/dl
Sumber : Pedoman Pegelolaan Dislipidimia Indonesia 2020

13
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Terapi Farmakologi
Statin (inhibitor HMG-coA reduktase)
Statin adalah obat penurun lipid pertama yang harus digunakan untuk menurunkan kolesterol LDL.
Dalam keadaan tidak toleran terhadap statin, direkomendasikan pemakaian ezetimibe, inhibitor PCSK9,
atau bile acid sequestrant monoterapi. Statin juga mempunyai efek meningkatkan kolesterol HDL dan
menurunkan TG.
Inhibitor absorpsi kolesterol
Ezetimibe merupakan obat penurun lipid pertama yang menghambat ambilan kolesterol dari diet dan
kolesterol empedu tanpa mempengaruhi absorpsi nutrisi yang larut dalam lemak. Kombinasi statin
dengan ezetimibe menurunkan kolesterol LDL lebih besar daripada menggandakan dosis statin.
Inhibitor PCSK9
Inhibitor PCSK9 merupakan obat penurun kolesterol LDL terbaru yang beberapa hasil penelitian
klinisnya telah dipublikasi. Saat ini, ada 3 inhibitor PCSK9 yang telah dievaluasi terhadap luaran
kardiovaskular yaitu alirocumab, bococicumab, dan evolocumab.
Bile acid sequestrant
Terdapat 3 jenis bile acid sequestrant yaitu kolestiramin, kolesevelam, dan kolestipol. Bile acid
sequestrant mengikat asam empedu (bukan kolesterol) di usus sehingga menghambat sirkulasi
enterohepatik dari asam empedu dan meningkatkan perubahan kolesterol menjadi asam empedu di hati.
Bile acid sequestrant tidak mempunyai efek terhadap kolesterol HDL sementara konsentrasi TG dapat
meningkat.
Fibrat
Fibrat adalah agonis dari PPAR-α. Melalui reseptor ini, fibrat menurunkan regulasi gen apoC-III serta
meningkatkan regulasi gen apoA-I dan A-II. Berkurangnya sintesis apoC-III menyebabkan peningkatan
katabolisme TG oleh lipoprotein lipase, berkurangnya pembentukan kolesterol VLDL, dan
meningkatnya pembersihan kilomikron. Peningkatan regulasi apoA-I dan apoA-II menyebabkan
meningkatnya konsentrasi kolesterol HDL.
Inhibitor CETP
Cholesteryl ester transfer protein berfungsi membantu transfer cholesteryl ester dari kolesterol HDL
kepada VLDL dan LDL yang selanjutnya akan dibersihkan dari sirkulasi melalui reseptor LDL di hepar.
Terapi dengan inhibitor CETP mempunyai efek ganda yaitu meningkatkan konsentrasi kolesterol HDL
dan menurunkan konsentrasi kolesterol LDL melalui reverse cholesterol transport.
PUFA omega 3
Mekanisme yang mendasari efek penurunan TG dari terapi PUFA omega 3 (EPA dan DHA)sebagian
disebabkan oleh kemampuannya berinteraksi dengan PPAR dan menurunkan sekresi apoB
Aferesis kolesterol LDL
terapi dengan inhibitor PCSK9 sangat menjanjikan bagi pasien dengan HeFH,83 tindakan aferesis
kolesterol LDL sebaiknya diindikasikan bagi pasien dislipidemia familial di mana terapi dengan inhibitor
PCSK9 gagal menurunkan konsentrasi kolesterol LDL.

14
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Golongan Contoh obat Efek terapi Efek samping Kontraindikasi


HMG CoA Reductase Simvastatin Efektif Menurunkan Miopati, Penyakit liver aktif
Inhibitor diminum malam hari** (Jika LDL dan meningkatkan enzim dan kronis
diberikan pada pasien trigliserida, hati
jantung berfungsi untuk menaikkan
mencegah kekambuhan HDL
PJK).
Lovastatin, Pitavastatin,
Rosuvastatin
Resin Asam Empedu Colestipol Coleselvam Menurunkan Kecenderungan Trigliserida > 400
Colestiramin LDL, perdarahan mg/dL
menaikkan meningkat karena
HDL hipoprotombenia yg
disertai devisit Vit K
Asam Nikotinat Asam Nikotinat Menurunkan Muka merah Penyakit liver kronis
LDL dan Hipoglikemi Gout parah
trigliserida, Hiperurisemia
menaikkan Hepatotoksis GI
HDL Upset
Asam Fibrat Gemfibrozil (dpt Menurunkan Dispepsia Batu Gangguan ginjal dan
menyebabkan LDL dan empedu Miopati hati parah
Gallstone/batu empedu) trigliserida,
Fenofibrat menaikkan
HDL
Statin : WARNING bila efek miopati terjadi ditandai dg meningkatnya kadar kreatin kinase (normal P (30-180 UI/L), PR
(25-150 UI/L)) sangat tajam lebih dari 5x lipat dari normal atau gangguan otot yg parah HENTIKAN STATIN
Interaksi : Simvastatin dng phenitoin Serius menurunkan efek dr simvastatin dg mempengaruhi enzim hati.
** Simvastatin bekerja dengan menghambat biosisntesis koesterol. Biosintesis kolestrol berlangsung paling banyak saat
malam hari.

2. INFEKSI (20 – 25%)


ANTIBIOTIK
Secara umum terdapat dua kelompok antibiotik berdasarkan sifat farmakokinetikanya, yaitu;
a. Time dependent killing. Lamanya antibiotik berada dalam darah dalam kadar di atas KHM sangat penting untuk
memperkirakan outcome klinik ataupun kesembuhan. Pada kelompok ini kadar antibiotik dalam darah di atas KHM
paling tidak selama 50% interval dosis. Contoh antibiotik yang tergolong time dependent killing antara lain penisilin,
sefalosporin, dan makrolida.
b. Concentration dependent. Semakin tinggi kadar antibiotika dalam darah melampaui KHM maka semakin tinggi pula daya
bunuhnya terhadap bakteri. Untuk kelompok ini diperlukan rasio kadar/KHM sekitar 10. Ini mengandung arti
bahwa rejimen dosis yang dipilih haruslah memiliki kadar dalam serum atau jaringan 10 kali lebih tinggi dari KHM.
Jika gagal mencapai kadar ini di tempat infeksi atau jaringan akan mengakibatkan kegagalan terapi. Situasi inilah yang
selanjutnya menjadi salah satu penyebab timbulnya resistensi.

15
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Prinsip Penggunaan Antibiotik untuk Terapi Empiris dan Definitif


 Penggunaan antibiotik untuk terapi empiris adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang belum diketahui
jenis bakteri penyebabnya. Tujuan pemberian antibiotik untuk terapi empiris adalah eradikasi atau penghambatan
pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi, sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Rute pemberian: antibiotik oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi. Pada infeksi sedang
sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral. Lama pemberian: antibiotik empiris
diberikan untuk jangka waktu 48-72 jam. Selanjutnya harus dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan
kondisi klinis pasien serta data penunjang lainnya.

 Penggunaan antibiotik untuk terapi definitif adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang sudah diketahui
jenis bakteri penyebab dan pola resistensinya. Tujuan pemberian antibiotik untuk terapi definitif adalah eradikasi
atau penghambatan pertumbuhan bakteri yang menjadi penyebab infeksi, berdasarkan hasil pemeriksaan
mikrobiologi. Rute pemberian: antibiotik oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi. Pada infeksi
sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral, Jika kondisi pasien memungkinkan,
pemberian antibiotik parenteral harus segera diganti dengan antibiotik per oral. Lama pemberian antibiotik definitif
berdasarkan pada efikasi klinis untuk eradikasi bakteri sesuai diagnosis awal yang telah dikonfirmasi. Selanjutnya
harus dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien serta data penunjang lainnya.
 Penggunaan antibiotik untuk profilaksis bedah bertujuan untuk Penurunan dan pencegahan kejadian Infeksi Luka
Operasi (ILO)., Penurunan morbiditas dan mortalitas pasca operasi., Penghambatan muncul flora normal resisten
dan Meminimalkan biaya pelayanan kesehatan. Gunakan sefalosporin generasi I – II untuk profilaksis bedah.
Pada kasus tertentu yang dicurigai melibatkan bakteri anaerob dapat ditambahkan metronidazol. Tidak
dianjurkan menggunakan sefalosporin generasi III dan IV, golongan karbapenem, dan golongan
kuinolon untuk profilaksis bedah.

Penggolongan Antibiotik
Mekanisme kerja Pembagian Sifat Golongan Contoh
Penisilin G, penisilin V,
penisilin resisten thd beta
penisilin laktamase (metisilin,
oksasilin), aminopenisilin
(ampisilin, amoksisilin)
Gen I : sefaleksin, sefazolin,
sefadroksil
Bakterisid, sebagian besar
Gen II : sefaklor,
Beta laktam efektif terhadap organisme
sefuroksim, sefoksitin
Menghambat Gram -positif dan negatif Sepalosporin
Gen III : sefotaksim,
Sintesis atau
seftriakson, seftazidim,
Merusak Dinding
sefiksim
Sel Bakteri
Gen IV : Sefepim, sefpirom
.
Monobaktam aztreonam
Meropenem, doripenem,
Karbapenem
imipenem
melindungi antibiotik beta- Asam klavulanat –
laktam dengan cara amoksisilin
Inhibitor beta menginaktivasi beta-laktamase Sulbaktam – ampisilin
laktamase Tazobaktam – piperasilin
Basitrasin
Vankomisin
16
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

menghambat bakteri aerob Streptomisin, neomisin,


Gram-negatif, indeks terapi gentamisin, kanamisin,
sempit, dengan toksisitas tobramisin, amikasin,
Aminoglikosida Aminoglikosida
serius pada ginjal dan netilmisin
pendengaran, khususnya pada
pasien anak dan usia lanjut
spektrum luas dan dapat tetrasiklin, doksisiklin,
menghambat berbagai bakteri oksitetrasiklin, minosiklin,
Gram-positif, Gram-negatif, dan klortetrasiklin
baik yang bersifat aerob
Tetrasiklin maupun anaerob, serta Tetrasiklin
mikroorganisme lain seperti
Ricketsia, Mikoplasma,
Klamidia, dan beberapa
spesies mikobakteria.
berspektrum luas, kloramfenikol
menghambat bakteri Gram-
positif dan negatif aerob dan
anaerob, Klamidia, Ricketsia,
Kloramfenikol dan Mikoplasma. Kloramfenikol
Kloramfenikol mencegah
sintesis protein dengan
Memodifikasi atau
berikatan pada subunit
Menghambat
ribosom 50S.
Sintesis Protein
aktif terhadap bakteri Gram- eritromisin, azitromisin,
positif, tetapi juga dapat klaritromisin, roksitromisin
Makrolida menghambat beberapa Makrolida
Enterococcus dan basil Gram-
positif
menghambat sebagian besar Klindamisin
kokus Gram-positif dan
sebagian besar bakteri
anaerob, tetapi tidak bisa
Klindamisin Klindamisin
menghambat bakteri Gram-
negatif aerob seperti
Haemophilus, Mycoplasma dan
Chlamydia.
obat topikal yang Mupirosin
menghambat bakteri Gram-
Mupirosin Mupirosin
positif dan beberapa Gram-
negatif.
obat alternatif untuk infeksi Spektinosin
gonokokus bila obat lini
Spektinosin pertama tidak dapat Spektinosin
digunakan, diberikan secara
intramuskular
Menghambat Sulfonamid bersifat Sulfametoksazol
Enzim-Enzim Sulfonamid dan bakteriostatik
Esensial dalam Trimetoprim
Metabolisme Folat
Asam nalidiksat menghambat
sebagian besar Asam nalidiksat
Enterobacteriaceae
digunakan untuk infeksi yang norfloksasin, siprofloksasin,
disebabkan oleh Gonokokus, ofloksasin, moksifloksasin,
Kuinolon
Shigella, E. coli, Salmonella, pefloksasin, levofloksasin
Mempengaruhi
Haemophilus, Moraxella Fluorokuinolon
Sintesis atau
catarrhalis serta
Metabolisme Asam
Enterobacteriaceae dan P.
Nukleat
aeruginosa
menghambat Gram-positif nitrofurantoin, furazolidin,
dan negatif. dan nitrofurazon.
Nitrofuran Absorpsi melalui saluran cerna Nitrofuran
94% dan tidak berubah
dengan adanya makanan.

17
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Tabel Interaksi Obat – Antibiotik


Golongan AB Obat Interaksi
Antasida Absorpsi sefaklor dan sefpodoksim dikurangi oleh antasida
Kemungkinan adanya peningkatan risiko nefrotoksisitas bila
Antibakteri
sefalosporin diberikan bersama aminoglikosida
Antikoagulan Sefalosporin mungkin meningkatkan efek antikoagulan kumarin
Sefalosporin
Ekskresi sefalosporin dikurangi oleh probenesid (peningkatan
Probenesid
kadar plasma)
Obat ulkus peptik Absorpsi sefpodoksim dikurangi oleh antagonis histamin H2
Vaksin Antibakteri menginaktivasi vaksin tifoid oral
Peningkatan risiko rash bila amoksi s i l i n atau ampisi l i n
Allopurinol
diberikan bersama allopurinol
Absorpsi fenoksimetilpenisilin dikurangi oleh neomisin; efek
Antibakteri
penisilin mungkin diantagonis oleh tetrasiklin
Pengalaman yang sering ditemui di klinik adalah bahwa INR bisa
diubah oleh pemberian rejimen penisilin spektrum luas seperti
Antikoagulan
ampisilin, walaupun studi tidak berhasil menunjukkan interaksi
dengan kumarin atau fenindion
Penisilin
Penisilin mengurangi ekskresi metotreksat (peningkatan risiko
Sitotoksik
toksisitas)
Piperasilin meningkatkan efek relaksan otot non-depolarisasi dan
Relaksan otot
suksametonium
Ekskresi penisilin dikurangi oleh probenesid (peningkatan kadar
Probenesid
plasma)
Sulfinpirazon Ekskresi penisilin dikurangi oleh sulfinpirazon
Vaksin Antibakteri menginaktivasi vaksin tifoid oral
Gentamisin mungkin menghambat efek agalsidase alfa dan beta
Agalsidase alfa dan beta (produsen agalsidase alfa dan beta menganjurkan untuk
menghindari pemberian secara bersamaan)
Kadar plasma amikasin dan gentamisin pada neonatus mungin
Analgesik
ditingkatkan oleh indometasin
Neomisin mengurangi absorpsi fenoksimetilpenisilin; peningkatan
risiko nefrotoksisitas bila aminoglikosida diberikan bersama
kolistin atau polimiksin; peningkatan risiko nefrotoksisitas dan
Antibakteri
ototoksisistas bila aminoglikosida diberikan bersama kapreomisin
atau vankomisin; kemungkinan peningkatan risiko nefrotoksisitas
bila aminoglikosida diberikan bersama sefalosporin
Pengalaman di klinik menunjukkan bahwa INR mungkin berubah
Antikoagulan bila neomisin (diberikan untuk kerja lokal di usus) diberikan
bersama kumarin atau fenindion
Neomisin mungkin meningkatkan efek hipoglikemik akarbosa,
Antidiabetika
juga keparahan efek gastrointestinalnya akan meningkat
Peningkatan risiko nefrotoksisitas bila aminoglikosida diberikan
Antijamur
bersama amfoterisin
Aminoglikosida
Peningkatan risiko hipokalsemia bila aminoglikosida diberikan
Bifosfonat
bersama bifosfonat
Neomisin mengurangi absorpsi digoksin; gentamisin mungkin
Glikosida jantung
meningkatkan kadar digoksin plasma
Peningkatan risiko nefrotoksisitas bila aminoglikosida diberikan
Siklosporin
bersama siklosporin
Neomisin mungkin mengurangi absorpsi metotreksat; neomisin
menurunkan bioavailabilitas sorafenib; peningkatan risiko
Sitotoksik
nefrotoksisitas dan mungkin juga ototoksisitas bila aminoglikosida
diberikan bersama senyawa platinum
Peningkatan risiko ototoksisitas bila aminoglikosida diberikan
Diuretika
bersama loop diuretic
Aminoglikosida meningkatkan efek relaksan otot non-depolarisasi
Relaksan otot
dan suksametonium
Parasimpatomimetik Aminoglikosida mengantagonis efek neostigmin dan piridostigmin
Peningkatan risiko nefrotoksisitas bila aminoglikosida diberikan
Takrolimus
bersama takrolimus
Vaksin Antibakteri menginaktivasi vaksin oral tifoid
Kemungkinan peningkatan risiko konvulsi bila kuinolon diberikan
Kuinolon Analgesik
bersama NSAID, produsen siprofloksasin memberi anjuran untuk

18
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

menghindari premedikasi dengan analgetika opioid (penurunan


kadar siprofloksasin plasma) bila siprofloksasin digunakan untuk
profilaksis bedah
Abso rpsi s i p r o f l o k sasi n , levofloksasin, moksifloksasin,
Antasida
norfloksasin, dan ofloksasin dikurangi oleh antasida
Peningkatan risiko aritmia ventrikel bila levofloksasin atau
moksifloksasin diberikan bersama amiodaron – hindari pemberian
Antiaritmia secara bersamaan; peningkatan risiko aritmia ventrikel bila
moksifloksasin diberikan bersama disopiramid – hindari
pemberian secara bersamaan
Peningkatan risiko artimia ventrikel bila moksifloksasin diberikan
bersama eritromisin parenteral – hindari pemberian secara
Antibakteri
bersamaan; efek asam nalidiksat mungkin diantagonis oleh
nitrofurantoin
Siprofloksasin, asam nalidiksat, norfloksasin, dan ofloksasin
Antikoagulan meningkatkan efek antikoagulan kumarin; levofloksasin mungkin
meningkatkan efek antikoagulan kumarin dan fenindion
Siprofloksasin menghambat metabolisme duloksetin – hindari
penggunaan secara bersamaan; produsen agomelatin
menganjurkan agar menghindari pemberian siprofloksasin;
Antidepresan
peningkatan risiko aritmia ventrikel bila moksifloksasin diberikan
bersama antidepresan trisiklik – hindari pemberian secara
bersamaan
Antidiabetik Norfloksasin mungkin meningkatkan efek glibenklamid
Siprofloksasin meningkatkan atau menurunan kadar fenitoin
Antiepilepsi
plasma
Peningkatan risiko aritmia ventrikel bila oksifloksasin diberikan
Antihistamin
bersama mizolastin – hindari penggunaan secara bersamaan
Produsen artemeter/lumefantrin menganjurkan agar menghindari
kuinolon; peningkatan risiko aritmia ventrikel bila oksifloksasin
Antimalaria
diberikan bersama klorokuin dan hidroksiklorokuin, meflokuin,
atau kuinin – hindari penggunaan secara bersama-sama
Peningkatan risiko aritmia ventrikel bila moksifloksasin diberikan
bersama benperidol – produsen benperidol menganjurkan agar
menghindari penggunaan secara bersamaan; peningkatan risiko
aritmia ventrikel bila moksifloksasin diberikan bersama
Antipsikosis
droperidol, haloperidol, fenotiazin, pimozid, atau zuklopentiksol –
hindari penggunaan secara bersamaan; siprofloksasin
meningkatkan kadar klozapin plasma; siprofloksasin mungkin
meningkatkan kadar olanzapin plasma
Peningkatan risiko aritmia ventrikel bila moksifloksasin diberikan
Atomoksetin
bersama atomoksetin
Peningkatan risiko aritmia ventrikel bila moksifloksasin diberikan
Beta bloker
bersama sotalol – hindari pemberian secara bersamaan
Garam kalsium Absorpsi siprofloksasin dikurangi oleh garam kalsium
Peningkatan risiko nefrotoksisitas bila kuinolon diberikan
Siklosporin
bersama siklosporin
Siprofloksasin mungkin menurunkan efek antitrombotik
Klopidogrel
klopidogrel
Asam nalidiksat meningkatkan risiko toksisitas melfalan;
siprofloksasin mungkin menurunkan ekskresi metotreksat
(peningkatan risiko toksisitas); siprofloksasin meningkatkan kadar
Sitotoksik
erlotinib plasma; peningkatan risiko aritmia ventrikel bila
levofloksasin atau moksifloksasin diberikan bersama arsenik
trioksida
Absorpsi siprofloksasin dan norfloksasin dikurangi oleh produk
Produk susu
susu
Siprofloksasin meningkatkan kadar rasagilin plasma;
siprofloksasin menghambat metabolisme ropinirol (peningkatan
Dopaminergik
kadar plasma). Agonis 5HT1: kuinolon mungkin menghambat
metabol isme zolmitriptan (menurunkan dosis zolmitriptan)
Abso rpsi s i p r o f l o k sasi n , levofloksasin, moksifloksasin,
Besi
norfloksasin, dan ofloksasin dikurangi oleh zat besi oral
Absorpsi kuinolon dikurangi oleh lanthanum (diberikan minimal 2
Lanthanum
jam sebelum atau 4 jam sesudah lanthanum)
Relaksan otot Norfloksasin mungkin meningkatkan kadar tizanidin plasma
19
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

(peningkatan risiko toksisitas); siprofloksasin meningkatkan kadar


tizanidin plasma (peningkatan risiko toksisitas) – hindari
penggunaan secara bersama-sama
Mikofenolat Mungkin menurunkan bioavailabilitas mikofenolat
Peningkatan risiko aritmia ventrikel bila moksifloksasin diberikan
Pentamidin isetionat bersama pentamidin isetionat – hindari penggunaan secara
bersamaan
Ekskresi siprofloksasin, asam nalidiksat, dan norfloksasin
Probenesid
diturunkan oleh probenesid (peningkatan kadar plasma)
Sevelamer Bioavailabilitas siprofloksasin dikurangi oleh sevelamer
Absorpsi kuinolon dikurangi oleh strontium ranelat (produsen
Strontium ranelat strontium ranelat menganjurkan untuk menghindari penggunaan
secara bersamaan)
Kemungkinan peningkatan risiko konvulsi bila kuinolon diberikan
Teofilin bersama teofilin; siprofloksasin dan norfloksasin meningkatkan
kadar teofilin plasma
Absorpsi siprofloksasin, levofloksasin, moksifloksasin,
Obat ulkus peptik
norfloksasin, dan ofloksasin dikurangi oleh sukralfat
Vaksin Antibakteri menginaktivasi vaksin tifoid oral
Absorpsi siprofloksasin, levofloksasin, moksifloksasin,
Zinc
norfloksasin, dan ofloksasin dikurangi oleh zinc

20
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

21
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

o Toxoplasma gondi Primetamin dan sulfadiazine (Utama) dan Spiramisin (Ibu Hamil)
o Demam Tifoid
Penyebab : Salmonella typhi atau Salmonella para typhi
Gejala : Demam dan gangguan saluran cerna (diare)
Lini pertama: kloramfenikol, ampicilin, amoxicillin, kotrimoksazol
Lini kedua : ceftriakson, cefixime, quinolon
Sumber : KMK No. 346 tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid
o Tuberkulosis
Kategori Terapi Keterangan
Kategori 1 2HRZE1 + 4H3R32 2HRZE digunakan 1x sehari
(Kasus baru) 1 : Fase intensif selama 2 bulan
2 : Fase lanjutan 4H3R3 =digunakan 3xseminggu
selama 4 bulan
Kategori 2 2HRZE1 + HRZE2 + 5H3R3E33 2HRZE digunakan 1x sehari
(Kasus lama: kambuhan, 1 : Fase intensif selama 2 bulan
pindahan, lalai, gagal, kronis) 2 : Fase sisipan HRZE digunakan 1x sehari selama
3 : Fase lanjutan 1 bulan
5H3R3E3 digunakan 3xseminggu
selama 5 bulan
TB ANAK 2HRZ/4HR 2HRZ digunakan 1x sehari selama
2 bulan

22
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

4HR digunakan 1x sehari selama 4


bulan
Nama obat Efek samping Peringatan
Isoniazid Neuritis perifer (kesemutan Gangguan fungsi hati
Penanganan: Vitamin
B6/piridoksin
Rifampisin Urine berwarna merah, tidak nafsu DM (interaksi dengan sulfunilorea)
makan
Pirazinamid Nyeri sendi, meningkatkan asam Sirosis hati/ hepatitis kronis
urat
Etambutol Gangguan penglihatan Gagal ginjal
Streptomisin Gangguan pendengaran dan Ibu hamil
keseimbangan (ototoksik) Gagal ginjal
Sumber: Permenkes no 67 tahun 2016 tentang penanggulangan TB

o Filariasis
Kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing. Beberapa jenis cacing yang dapat menyebabkan kecacingan
yaitu cacing kremi (Oxyuris vermicularis/Enterobius vermicularis/threadworm/pinworm), cacing gelang (Ascaris
lumbricoides/roundworm), cacing tambang/hookworm (Necator americanus, Ancylostoma duodenale), cacing cambuk (Trichuris
trichiura), dan cacing pita (Taenia saginata dan Taenia solium).
1) Cacing kremi
disebut juga Enterobiasis atau oksiuriasis. Cara penularan infeksi cacing ini adalah melalui telur yang tertelan, dapat
berasal dari makanan yang terkontaminasi atau tanah yang tercemar kotoran yang mengandung telur cacing. Setelah
tertelan, telur menetas dalam usus, kemudian larva menembus dan tumbuh dalam mukosa usus menjadi cacing dewasa.
Cacing dewasa akan bergerak ke daerah rektum dan bertelur. Gejala infeksi cacing kremi yang umum terjadi antara lain
gatal di sekitar dubur (terutama pada malam hari pada saat cacing betina meletakkan telurnya), gelisah dan sukar tidur.

Keterangan siklus hidup cacing kremi:


1. Telur cacing terletak pada lipatan perianal. Larva dalam telur berkembang dalam 4 sampai 6 jam.
2. Telur berembrio tertelan.
3. Larva menetas dalam usus halus.
4. Cacing dewasa hidup di lumen usus buntu.
5. Gravid betina bermigrasi ke area perianal pada malam hari untuk bertelur.
2) Cacing gelang
disebut juga askariasis. Penyakit ini ditularkan melalui telur matang yang tertelan. Dalam usus halus telur akan menetas,
dan keluar larva yang dapat menembus usus, mengikuti aliran darah menuju jantung kanan lalu ke paru. Larva
merangsang laring sehingga terjadi batuk dan dapat masuk ke saluran cerna melalui kerongkongan. Selanjutnya larva

23
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

akan menjadi cacing dewasa di dalam usus halus. Gejala infeksi cacing gelang pada umumnya yaitu rasa tidak enak pada
perut (gangguan lambung); kejang perut, diselingi diare; kehilangan berat badan; dan demam.

Keterangan siklus hidup cacing gelang:


1. cacing dewasa hidup di dinding usus halus. Cacing betina dapat menghasilkan sekitar 200.000 telur per hari, yang
keluar melalui feses.
2. Telur yang tidak dibuahi dapat tertelan namun tidak menyebabkan infeksi.
3. Telur yang dibuahi akan berembrionasi dan menjadi infektif setelah 18 hari hingga beberapa minggu, tergantung
kondisi lingkungan (optimum: lembap, hangat, tanah yang teduh).
4. Telur tertelan.
5. Larva menetas.
6. Larva menuju ke paru-paru.
7. Larva masuk ke saluran pencernaan
3) Cacing tambang
disebut juga nekatoriasis. Penyakit ini menular melalui larva cacing yang terdapat di tanah yang menembus kulit
(biasanya di antara jari kaki). Cacing ini akan berpindah ke paru kemudian ke tenggorokan dan akan tertelan masuk ke
saluran cerna. Gejala infeksi cacing tambang yang umum terjadi yaitu gangguan pencernaan berupa mual, muntah,
diare, dan nyeri ulu hati; pusing, nyeri kepala; lemas dan lelah; anemia; dan gatal di daerah masuknya cacing.

Keterangan siklus hidup cacing tambang:


1. Telur cacing terdapat pada tinja.
2. Larva Rhabditiform menetas.
3. Larva berkembang menjadi larva Filariform.
4. Larva filaform menembus kulit.
5. Cacing dewasa hidup di usus halus.

24
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

4) Cacing cambuk
disebut juga trikuriasis. Daur hidup cacing cambuk mirip dengan daur hidup cacing gelang, hanya saja pada cacing
cambuk tidak ada siklus masuk ke paru. Gejala infeksi cacing cambuk yang umum terjadi yaitu nyeri ulu hati,
kehilangan nafsu makan, diare, anemia.

Keterangan sikus hidup cacing cambuk:


1. Telur cacing yang belum berembrio keluar melalui tinja.
2. Telur berkembang menjadi tahap 2-sel.
3. Terjadi proses pembelahan lebih lanjut dalam telur.
4. Telur berembrio tertelan.
5. Telur menetas menjadi cacing dalam usus halus.
6. Cacing cambuk dewasa hidup di usus buntu.
5) Cacing pita
disebut juga Taeniasis, disebabkan oleh infeksi Taenia saginata yang dapat ditemukan pada usus manusia berupa cacing
dewasa maupun larvanya (Cysticercosis). Manusia dapat terinfeksi jenis cacing ini melalui makanan, yaitu memakan
daging yang mengandung larva atau telur cacing, yang dimasak tidak sempurna. Pada daging sapi ditemukan larva
cacing Cysticercosis bovis, dan pada daging babi ditemukan larva cacing Cysticercosis cellulosae. Gejala infeksi cacing pita pada
umumnya yaitu gangguan pencernaan berupa mual, konstipasi, diare; sakit perut; lemah; kehilangan nafsu makan; sakit
kepala; berat badan turun; dan beberapa gejala alergi yang disebabkan cacing dewasa yaitu urtikaria, pruritus dan
kelainan kulit lain.

25
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Keterangan siklus hidup cacing pita:


1. Telur cacing dari tinja dilepaskan ke lingkungan (tanah, rumput dsb)
2. Telur Taenia dapat termakan oleh sapi dan babi, menyebabkan hewan tersebut terinfeksi.
3. Onchosphere (embrio cacing) terlepas dari telur, menembus dinding usus dan beredar ke otot.
4. Manusia terinfeksi karena memakan makanan mentah atau setengah matang yang mengandung sistiserkus atau
telur Taenia.
5. Skoleks (kepala cacing pita) menempel di usus.
6. Cacing dewasa di usus halus.
Regimen Terapi
Jenis Cacing 1st 2nd
Enterobius-kremi Albendazole Ivermectin
Mebendazole 100 mg
Piperazin 2,25 gr/15 ml selama 7 hari
Ascariasis lumbricoides-gelang Albendazole 400 mg (dewasa) dan 200 mg Ivermectin
(anak < 2 tahun)
Mebendazole 500 mg dewasa dan anak > 2
tahun dan 200 mg anak usia 12-24 bulan.
Pirantel pamoat 10-11 mg/kgBB maksimal 1 gr
Ancylostoma-tambang Albendazole 400 mg (dewasa) dan 200 mg Pirantel pamoat
(anak < 2 tahun)
Mebendazole 2 x 100 mg/hari
Pirantel pamoat 11 mg/kgBB maks 1gr/hari
Mebendazole dan pirantel diberikan 3 hari
berturut
Trichuriasis-cambuk Albendazole 400 mg selama 3 hari atau Pirantel pamoat
mebendazol 100mg 2x sehari selama 3 hari
berturut-turut.
Filariasis Dietilkarbamazin Ivermectin
Taeniasis – pita Prazikuantel
Sumber : PMK No. 15 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan Cacingan
PIONAS

o HIV/AIDS
Indikasi mulai terapi
Dewasa
Terapi ARV harus diberikan kepada semua ODHA tanpa melihat stadium klinis dan nilai CD4 (sangat
direkomendasikan, kualitas bukti sedang).
Terapi ARV harus dimulai pada semua ODHA yang hamil dan menyusui, tanpa memandang stadium
klinis WHO dan nilai CD4 dan dilanjutkan seumur hidup (sangat direkomendasikan, kualitas bukti
sedang).
Remaja (10 – 18 tahun)
Terapi ARV harus diberikan pada seluruh remaja terinfeksi HIV tanpa melihat stadium klinis dan status
imunosupresi (rekomendasi sesuai kondisi, kualitas bukti rendah).
Anak (< 10 tahun)
Terapi ARV harus diberikan pada seluruh anak terinfeksi HIV tanpa melihat stadium klinis dan status
imunosupresi:
- Anak terinfeksi HIV yang didiagnosis sebelum usia 1 tahun (sangat direkomendasikan, kualitas
bukti tinggi).
- Anak terinfeksi HIV berusia lebih dari 1 tahun sampai dengan kurang dari 10 tahun (sangat
direkomendasikan, kualitas bukti sedang).

26
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Terapi lini pertama

27
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Lini Kedua

3. Sistem endokrin dan metabolic (5 – 10%)


Gangguan Tiroid
1. Hipertiroid: Tirotoksisitas, kelebihan hormon tiroid
2. Hipotiroid: kekurangan atau berhentinya hormon tiroid
3. Eutiroid: bentuk kelenjar tidak normal, tapi fungsi normal

Tanda dan Gejala Hipotiroid

28
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Tanda dan Gejala Hipertiroid

Diagnosis Gangguan Tiroid

Tatalaksana
Kondisi Gejala Tatalaksana
Hipotiroid Kelemahan, bradikardi, mudah Levotiroksin Penurunan Densitas mineral tulang
mengantuk, goiter, metabolisme Liothironin
menurun
Hipertiroid Gugup, cemas, takikardi, tremor 1= radioaktif iodin
(gejala tirotoksikosis), kelemahan 2= antitiroid : methimazole, PTU (parameter yg
otot, turun berat badan dipantau T3 dan T4) , tiamazol.
3= betabloker (tappering off) untuk gejala tremor
dan takikardi, palpitasi dan gelisah  Terapi
Adjuvant.
4= kortikosteroid (tappering off) untuk sindrom
graves
5= surgery (tiroidoktomi)
Keterangan:
• Ibu hamil aman menggunakan PTU pada trisemester pertama dan Methimazol(risiko embrionik)
pada trisemester kedua dan ketiga.
• Redioaktif iodin tatalaksana yang di prioritaskan untuk pasien dengan sindrom graves dan
toxic nodular goiter.
• betabloker digunakan untuk memperbaiki gejala tirotoksik seperti palpitasi, kecemasan, tremor, dan
intoleransi panas. betabloker biasanya digunakan sebagai terapi adjunctive (propanolol) dengan obat
antitiroid. Simpatolitik sentralisasi aksi (misalnya clonidine) dan antagonis saluran kalsium (misalnya,
diltiazem) mungkin berguna untuk pengendalian gejala saat kontraindikasi terhadap β-blokade.
- HT dngn Hipertiroid terapi pilihan adalah Betabloker (propanolol) jika tidak toleran maka CCB
(diltiazem) sedang kan untuk hipertiroidnya PTU

29
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik gula darah yang tinggi yang
terjadi karena kelainan produksi insulin, kerja insulin atau kedua - duanya.

Patogenesis Hiperglikemia (Egregious Eleven)


Patogenesis Keterangan
Kegagalan sel beta pancreas diagnosis DM tipe 2  fungsi sel beta pancreas sudah sangat berkurang.
OAD yg bekerja melalui jalur ini  sulfonylurea, meglitinid, GLP-1 dan DPP-4.
Disfungsi sel alfa pankreas Sel alfa berfungsi pada sintesis glucagon yang dalam keadaan puasa kadarnya di dalam
plasma akan meningkat.
OAD yg menghambat sekresi glucagon atau reseptor glucagon  agonis GLP-1,
DPP-4 dan amilin
Sel lemak Sel lemak yang resisten terhadap efek antilipolisis dari insulin, menyebabkan
peningkatan proses lipolisis dan kadar asam lemak bebas (FFA) dalam plasma. Jika
FFA meningkat akan merangsang glukoneogenesis, menyebabkan resistensi insulin di
hepar dan otot sehingga mengganggu sekresi insulin.
OAD yg bekerja di jalur ini  thiazolidindion
Otot DM tipe 2  gangguan kerja insulin di intramioselular akibat gangguan fosforilasi
tirosin sehingga terjadi gangguan transport glukosa dalam sel otot, penurunan sintesis
glikogen, dan penurunan oksidasi glukosa.
OAD yg bekerja di jalur ini  metformin dan thiazolidindion
Hepar DM tipe 2  resistensi insulin yang berat dan memicu glukoneogenesis sehingga
produksi glukosa dalam keadaan basal oleh hepar meningkat.
OAD yg bekerja di jalur ini  metformin (menekan proses glukoneogenesis)
Otak Asupan makanan meningkat akibat adanya resistensi insulin yg terjadi di otak.
OAD yg bekerja di jalur ini  agonis GLP-1, amilin dan bromokriptin
Kolon/mikrobiota Probiotik dan prebiotik merupakan mediator yang digunakan untuk menangani
keadaan hiperglikemia
Usus halus DM tipe 2  defisiensi GLP-1 dan resisten terhadap hormon GIP (gastric inhibitory
polypeptide). Saluran cerna berperan dalam penyerapan karbohidrat melalui kinerja
enzim alfa glukosidase yang akan memecah polisakarida menjadi monosakarida yang
kemudian diserap oleh usus sehingga mengakibatkan peningkatan glukosa darah
setelah makan.
OAD yg bekerja menghambat kinerja enzim alfa glukosidase  acarbose
Ginjal DM  peningkatan ekspresi gen SGLT-2 sehingga terjadi peningkatan reabsorbsi
glukosa dalam tubulus ginjal dan mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah.
OAD yg bekerja di jalur ini  penghambat SGLT-2 seperti dapaglifozin,
empaglifozin, canaglifozin
Lambung DM  penurunan kadar amilin yg menyebabkan percepatan pengosongan lambung
dan peningkatan absorpsi glukosa di usus halus yang berhubungan dengan
peningkatan kadar glukosa postprandial.
Sistem imun DM tipe 2  resistensi insulin perifer dan penurunan produksi insulin disertai
inflamasi kronik derajat rendah pada jaringan perifer seperti adipose, hepar dan otot.

30
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Perhitungan Kalori
Menghitung kebutuhan kalori basal yg besarnya 25 – 30 kal/kgBB ideal.
 Perhitungan BB ideal (BBI) menggunakan rumus Broca :
90% x (TB dalam cm – 100) x 1 kg
Pria TB < 160 cm dan wanita < 150 cm digunakan rumus :
(TB dalam cm – 100) x 1 kg
BB normal : BB ideal ± 10%
Kurus : kurang dari BB ideal – 10%
Gemuk : lebih dari BB ideal + 10%
 Perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT
IMT = BB (kg) / TB (m2)
Klasifikasi :
BB kurang < 18,5
BB normal 18,5 – 22,9
BB lebih ≥ 23,0
Dengan resiko 23,0 – 24,9
Obese I 25,0 – 29,9
Obese II ≥ 30
31
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Obat Antidiabetik Oral


Golongan Obat Mekanisme Efek samping Cara Minum
Glibenklamid
Sebelum makan
Glimipiride Meningkatkan sekresi BB naik
Sulfunilurea Atau 1 jam sebelum
Gliburid insulin Hiipoglikemia
makan (glibenklamid)
Glipizid
Meningkatkan sekresi BB naik
Glinid Repaglinide Sebelum makan
insulin Hipoglikemia
Menurunkan
Dispepsia
produksi glukosa hati Bersama/sesudah
Biguanide Metformin Diare
dan meningkatkan makan
Asiosis laktat
sensitivitas
Meningkatkan
Edema
Thiazolidinedione Pioglitazon sensitivitas terhadap Kapan saja
KI : Osteoporosis
insulin
Penghambat Menghambat absorbsi Bersama suapan
Acarbose Flatulen Tinja lembek
alfa glukosidase glukosa pertama
Meningkatkan sekresi
insulin dan
Sitagliptin
Penghambat menghambat sekresi
Linagliptin Sebah, muntah Kapan saja
DPP-4 glukagon
Vildagliptin
(berkaitan dengan
inkritin)
Menghambat
Penghambat Dafaglifosin Infeksi saluran kemih
reabsorbsi glukosa di Kapan saja
SGLT-2 Canaglifosin genital
tubulus ginjal
GI
Exenatide Glukagon like peptide
Agonis GLP-1 Denyut jantung -
Semaglutide 1 reseptor agonis
meningkat
Sumber : PERKENI 2019

Insulin
Kerja Insulin Contoh Penggunaan
Rapid Acting Insulin glulisine (Apidra®*)
Insulin aspart (Novo Rapid®*) 5-15 menit sebelum makan
Insulin lispro (Humalog®)
Short Acting Insulin Regullar (Actrapid®; Humulin R®) 30 menit sebelum makan
Intermediet NPH (Insulatard®, Humulin N®) Umumnya 1 x sehari
Long Acting Insulin glargine (Lantus®)
Ultralente* Umumnya 1 x sehari di waktu yang sama
Insulin detemir (Levemir®*)

32
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Tatalaksana Hipoglikemia
Untuk memenuhi kadar gula darah dalam otak agar tidak terjadi kerusakan irreversible tidak mengganggu regulasi DM

Rangkuman DM :
1. DM tipe 1 karena rusak sel beta pancreas (insulin) dan sel alpha (glucagon)
2. DM tipe 1 dan kondisi gestasional (kehamilan) berikan insulin).
3. Sulfonil urea = meningkatkan sekresi insulin. Cth : glibenklamid, glipizide, tolbutamid. KI = bumil – menyusui dan
Lansia. ES : Hipoglikemia dan GI effects
4. Biguanid = meningkatkan sensitifitas insulin (hambat
gluconeogenesis). ES : diare dan asidosis laktat. Pilihan utk obesitas dan DM.
5. Glitazon ES udem dan gagal jantung. Sifat spt Biguanid.
6. Glinid mekanisme dan ES spt SU.
7. Akarbose = menghambat alphaglukosidase
8. Vidagliptin = hambat glucagon
9. Exanitide = hambat GLP-1
10. SEMUA obat DM kecuali SU diminum a.c/d.c. khusus akarbose suapan pertama
11. Insulin diberikan jika HBA1C diatas 9. HBA1C 7-8 : 1 OHO. HBA1C 8 – 9 = 2 OHO.
12. Insulin diberikan dengan indikasi diabetic ketoasidosis dan punya gangguan fungsi hati dan ginjal berat.
13. Insulin kerja cepat (lispro aspart glulisin) = 3 x sehari terbagi menjadi 2/3 nya di pagi – siang dan 1/3 untuk malam
; kerja sedang (NPH) = sekali sehari ; long acting (glargin determir) = 1 x sehari)
14. OHO monitoring = glukosa 2PP, insulin short = glukosan sewaktu dan insulin long = glukosa basal (puasa)
15. Gangguan ginjal dan hati hindari biguanid dan akarbose. Rekomen : SU dan glitazon
16. Insulin tidak ada sedian oral karena insulin adalah protein  Protein terhidrolisis oleh enzim pencernaan
33
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

4. Sistem pernafasan (5 – 10%)


Asma
Asma merupakan suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran nafas yang menyebabkan hiperaktivitas
bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodic berulang berupa mengi, batuk, sesak nafas
dan rasa berat di dada terutama pada malam atau dini hari yang umumnya bersifat reversible baik dengan atau tanpa
pengobatan. Asma bersifat fluktuatif (hilang timbul) artinya dapat tanpa gejala tidak mengganggu aktivitas tetapi dapat
eksaserbasi dengan gejala ringan sampai berat bahkan dapat menimbulkan kematian.

Klasifikasi Asma

34
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Tatalaksana Asma
Kategori Tatalaksana
Asma akut (serangan) Bronkodilator : beta 2 agonis kerja cepat (inhalasi/sistemik) dan ipratropium
bromida, pada dewasa dapat diberikan kombinasi dengan teofilin/aminofilin
oral
Kortikosteroid sistemik
Asma jangka panjang Obat asma yg digunakan sebagai pengontrol :
Inhalasi kortikosteroid
Beta 2 agonis kerja panjang
Antileukotrien
Teofilin lepas lambat

35
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Jenis Obat Asma


Jenis Obat Golongan Nama generik Bentuk/kemasan obat
Pengontrol Steroid inhalasi Flutikason propionateIDT
(antiinflamasi) Budesonid IDT, turbuhaler
Antileukotrien Zafirlukast Oral (tabler)
Kortikosteroid sistemik Metilprednisolon Injeksi
Prednisone Oral
Agonis beta 2 kerja lama Prokaterol Oral
Formoterol Turbuhaler
Salmeterol IDT
Kombinasi steroid dan Flutikason + salmeterol
IDT
agonis beta 2 kerja lama Budesonid + formoterol
Turbuhaler
Pelega Agonis beta 2 kerja cepat Salbutamol Oral, IDT, rotacap solution
(bronkodilator) Terbutalin Oral, IDT, turbuhaler,
solution, ampul (injeksi)
Prokaterol IDT
Fenoterol IDT, solution
Antikolinergik Ipraptropium bromide IDT, solution
Metilsantin Teofilin Oral
Aminofilin Oral, injeksi
Teofilin lepas lambat Oral
Kortikosteroid sistemik Metilprednisolon Oral, inhaler
Prednisone Oral
IDT : inhalasi dosis terukur = Metered Dose Inhaler/MDI, dapat digunakan bersama dengan spacer
Solution : larutan untuk penggunaan nebulisasi dengan nebulizer
Oral : dapat berbentuk sirup dan tablet
Injeksi : dapat untuk penggunaan subkutan, intramuscular dan intravena

PPOK/COPD
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara di
saluran nafas yang tidak sepenuhnya reversible. Hambatan aliran udara ini bersifat progresif dan berhubungan dengan
respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun atau berbahaya.
Gejala PPOK :
- Batuk kronik  batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yg diberikan
- Berdahak kronik  dahak keluar terus menerus dengan atau tanpa disertai batuk
- Sesak nafas  terutama saat melakukan aktivitas

Klasifikasi PPOK :
Derajat Gejala Klinis Spirometri
Ringan Dengan atau tanpa batuk VEP1 ≥ 80% prediksi atau
Dengan atau tanpa produksi sputum VEP1/KVP < 70%
Sesak nafas dejat sesak 0 sampai 1
Sedang Dengan atau tanpa batuk VEP1/KVP < 70% atau
Dengan atau tanpa produksi sputum 50% < VEP1 < 80% prediksi
Sesak nafas dejat sesak 2
Berat Sesak nafas derajat sesak 3 dan 4 dengan gagal VEP1/KVP < 70%
nafas kronik VEP1 < 30% prediksi atau
Eksaserbasi lebih sering terjadi VEP1 > 30% dengan gagal nafas
Disertai komplikasi kor pulmonale atau gagal kronik
jantung kanan

36
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Tatalaksana PPOK
1. Bronkodilator
Dianjurkan penggunaan dalam bentuk inhalasi kecuali pada eksaserbasi digunakan oral atau sistemik
2. Antiinflamasi
Pilihan utama bentuk metilprednisolon atau prednisone. Untuk penggunaan jangka panjang pada PPOK stabil
hanya bila uji steroid positif. Pada eksaserbasi dapat digunakan dalam bentuk oral atau sistemik.
3. Antibiotik
Tidak dianjurkan penggunaan jangka panjang untuk pencegahan eksaserbasi. Pilihan antibiotik pada eksaserbasi
disesuaikan dengan pola kuman setempat.
4. Mukolitik
Tidak diberikan secara rutin. Hanya digunakan sebagai pengobatan simpatomimetik bila terdapat dahak yang
lengket dan kental.
5. Antitusif
Diberikan hanya bila terdapat batuk yang sangat mengganggu. Penggunaan secara rutin merupakan kontraindikasi.

Kelompok A
 Semua pasien diberikan terapi bronkodilator, bisa berupa bronkodilator kerja singkat (short acting beta2 agonis
(SABA) atau short acting antimuscarinic (SAMA)) atau kerja panjang (long acting beta2 agonis (LABA) atau long acting
antimuscarinic (LAMA)). Terapi dilanjutkan bila ditemukan manfaat perbaikan gejala.
Kelompok B
 Terapi awal menggunakan bronkodilator kerja panjang karena lebih unggul dibandingkan bronkodilator kerja
singkat. Pemilihan jenis obat bergantung pada persepsi pasien terhadap perbaikan gejala.
 Untuk sesak napas berat, dapat direkomendasikan terapi awal menggunakan 2 bronkodilator
 Jika penambahan bronkodilator kedua tidak memperbaiki gejala, sebaiknya diperiksa kemungkinan komorbiditas
(seperti penyakit kardiovaskular, dan kanker paru) yang dapat menambah gejala dan memengaruhi prognosis.
Kelompok C
 Terapi awal dengan bronkodilator kerja panjang tunggal (LAMA atau LABA). LAMA lebih unggul dibanding
LABA dalam mencegah eksaserbasi, sehingga LAMA lebih direkomendasikan untuk terapi awal kelompok ini.
Kelompok D
 Pada umumnya, terapi awal menggunakan LAMA yang memiliki efek pada sesak napas dan eksaserbasi
 Pada pasien dengan gejala yang lebih berat (skor CAT ≥20), khususnya dengan gejala sesak napas yang
memberat dan keterbatasan aktivitas, direkomendasikan terapi awal menggunakan kombinasi LABA dan LAMA.
Penelitian menunjukkan kombinasi tersebut lebih unggul dibandingkan obat tunggal.
 Pada beberapa pasien, pilihan pertama untuk terapi awal adalah kombinasi LABA dan ICS. Kombinasi ini
memiliki potensi terbesar menurunkan eksaserbasi pada pasien dengan nilai eosinofil darah ≥300 sel/μL.
Kombinasi LABA dan ICS juga merupakan pilihan pertama pada pasien PPOK dengan riwayat asma.

37
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

 ICS dapat menimbulkan efek samping seperti pneumonia, sehingga penggunaannya sebagai terapi awal hanya
jika manfaat lebih besar dibandingkan risikonya.
Pengobatan Lanjutan PPOK
1. Apabila respon baik dengan pengobatan awal, maka pengobatan dilanjutkan
2. Apabila tidak membaik:
 Pertimbangkan kebutuhan untuk mengatasi sesak napas/keterbatasan aktivitas atau mencegah` eksaserbasi lebih
lanjut. Gunakan algoritma eksaserbasi apabila target terapi adalah keduanya.
 Lakukan penilaian respon, sesuaikan dan review ulang
 Rekomendasi di bawah ini tidak bergantung pada penilaian ABCD saat diagnosis
Gejala eksaserbasi antara lain :
 Sesak bertambah
 Produksi sputum meningkat
 Perubahan warna sputum

Sesak napas
 Pasien yang mengalami sesak napas menetap atau keterbatasan aktivitas dengan bronkodilator kerja panjang
monoterapi, direkomendasikan menggunakan 2 bronkodilator. Apabila penambahan bronkodilator kerja
panjang kedua tidak memperbaiki gejala, direkomendasikan penggunaan bronkodilator monoterapi kembali (step
down). Penggantian alat inhaler atau jenis obat dapat dipertimbangkan.
 Pasien yang mengalami sesak napas menetap atau keterbatasan aktivitas dengan kombinasi LABA dan ICS, dapat
ditambahkan LAMA untuk eskalasi terapi (triple therapy). Sebagai alternatif, dapat dipertimbangkan penggantian
kombinasi LABA dan ICS dengan kombinasi LABA dan LAMA apabila terdapat ketidaktepatan indikasi
penggunaan ICS (sebagai contoh, ICS digunakan untuk mengatasi gejala tanpa adanya riwayat eksaserbasi,
kurangnya respon dari penggunaan ICS atau adanya efek samping ICS.)
 Pada kelompok manapun, adanya sesak napas karena penyebab lain (bukan PPOK) harus diinvestigasi dan
diobati dengan tepat. Teknik inhalasi dan kepatuhan pasien harus dipertimbangkan sebagai penyebab respon
terapi yang tidak adekuat.
Eksaserbasi
 Pasien yang mengalami eksaserbasi menetap dengan penggunaan bronkodilator kerja panjang monoterapi,
direkomendasikan eskalasi terapi ke kombinasi LABA dan LAMA atau LABA dan ICS. Kombinasi LABA dan
ICS dapat dipilih pada pasien dengan riwayat asma. Jumlah eosinofil darah dapat digunakan untuk
mengidentifikasi pasien dengan kemungkinan yang lebih besar berespon baik terhadap ICS. Pasien dengan
karakteristik 1 kali eksaserbasi per tahun dan jumlah eosinofil darah ≥300 sel/μL lebih cenderung merespon
terhadap kombinasi LABA dan ICS. Pada pasien dengan ≥2 kali eksaserbasi sedang per tahun atau sedikitnya

38
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

mengalami satu kali eksaserbasi berat yang membutuhkan rawat inap dalam tahun sebelumnya, kombinasi LABA
dan ICS dapat diberikan apabila jumlah eosinofil ≥100 sel/μL.
 Terdapat 2 rekomendasi alternatif pada pasien yang mengalami eksaserbasi lebih lanjut dengan penggunaan
kombinasi LABA dan LAMA, yaitu:
o Eskalasi terapi ke kombinasi LABA+LAMA+ICS. Respon yang baik dari penambahan ICS ditunjukkan
pada pasien dengan jumlah eosinofil ≥100 sel/μL.
o Tambahkan Roflumilast atau Azithromycin bila jumlah eosinofil <100 sel/μL.
 Pasien yang mengalami eksaserbasi lebih lanjut dengan penggunaan LABA dan ICS, direkomendasikan eskalasi
terapi ke kombinasi 3 macam obat dengan menambahkan LAMA. Sebagai alternatif, terapi dapat diubah menjadi
kombinasi LABA dan LAMA, apabila tidak ada respon yang baik dari ICS, atau adanya efek samping ICS.
 Pasien yang masih mengalami eksaserbasi dengan kombinasi LABA+LAMA+ICS:
o Penambahan Roflumilast dapat dipertimbangkan pada pasien dengan prediksi nilai FEV 1 <50% dan
bronkitis kronik, khususnya jika mengalami minimal sekali perawatan di rumah sakit untuk sekali
eksaserbasi dalam tahun sebelumnya.
o Penambahan makrolida. Pilihan terbaik adalah Azithromycin, terutama pada mereka yang saat ini bukan
perokok. Pertimbangkan juga perkembangan resistensi organisme.
o Penghentian terapi ICS. Hal ini dapat dipertimbangkan apabila terdapat kurangnya laporan efikasi dan
peningkatan risiko efek samping (termasuk pneumonia). Akan tetapi, pada pasien dengan jumlah eosinofil
darah ≥300 sel/μL. memiliki kecenderungan yang lebih besar mengalami eksaserbasi lebih lanjut setelah
penghentian ICS.

39
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

o Sinusitis
1st line terapi
Amoksisilin/amoksiklav,kotrimoksazole,
eritromisn, doksisiklin Penggunaan10-14 hari
2nd line terapi Sefalosporin 2, makrolida, quinolone
(levofloksasin)
Sumber: Pharmaceutical care untuk ISPA, Depkes RI

o Community aquired Pneumonia (CAP)


Kondisi 1st 2nd
Sehat dan tidak menggunakan Makrolida Doksisiklin
antibiotik sebelumnya (azitromisin, eritromisn,
klaritomisin)
Disertai penyakit penyerta DM, Floroquinolon Beta laktam + makrolida
Ginjal, Jantung/pernah
menggunakan antibiotik
sebelumnya 3 bulan terakhir
Anak-anak diatas 3 bulan Amoxicillin Ceftriakson
(secara umum)

o Hospital aquired Pneumonia (HAP)


Non ICU Fluoroquinolone ata beta laktam + makrolida
/tetrasiklin
ICU Piperacilin/meropenem/cefepime +
fluoroquinolone/Aminoglikosida/azitromisin

Rangkuman
1. ASMA AKUT = hanya PELEGA (inhaler)
2. ASMA KRONIK = PELEGA (inhaler) + PENGONTROL (inhaler/oral)
3. Pelega / reliever : SABA / LABA (beta agonist = relaksasi CAMP otot bronkus)
SABA = short acting = salbutamol dan albuterol
LABA = long acting = formoterol, terbutalin dan salmeterol = diberikan malam hari
4. Pengontrol
- Kortikoteroid inhaler = fluticasone, budesonide = turunkan inflamasi
- Metilxantin oral = teofilin, aminofilin = relaksasi otot bronkus
- Antikolinergik oral = ipratropium bromide
- Anti IgE = kromolin
- Anti sel mast = montelukast, zileuton
5. Asma intermiten = PELEGA (FEV > 80%)
6. Asma persisten ringan = PELEGA 1 + PENGONTROL 1 (FEV 60 – 80%)
7. Asma persisten sedang = PELEGA 1 + PENGONTOL 2 (FEV 40 – 60%)
8. Asma persisten berat = PELEGA 1 + PENGONTOL 3 (FEV < 40%)
9. PPOK obatnya sama seperti ASMA namun ada tambahan AB. Gol MAKROLIDA (eritro/azitro +
amox) selama 5 hari

ISPA
1. Otitis media = 6 hari = amox-kotrimox dan sefalosporin
2. Sinusitis = 10 – 14 hari = amox-kotrimox dan makrolida (eritro)
3. Faringitis = 10 hari = amox-penisilin dan klindamisin
4. Bronkitis = akut (5 hari), kronik (14 hari) = amox dan quinolone
5. CAP = 10 hari = makrolida dan doxisiklin/quinilone
6. Meningitis = 10 – 14 hari =
40
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

+ penisilin G, sefalosporin gol 3, vankomisin dan kloram (oleh bakteri P.A.)


+ HRZE (oleh bakteri TB)
+ Asiklofir (oleh virus)
7. SEMUA ISPA bila ada DM/GGK = SEFALOSPORIN (pilih yg betalaktam)
8. Agen mukolitik = NAC
9. Agen antiHist IgE = loratadin dan certrizin (gol 2 = tidak ngantuk)
10. Rhinitis = + Antihist dan PCT
11. Antivirus Flu = amandatin, rimantadin, oseltamifir
12. Flu perlu dokongestan + antiHist =
- Semua dekongestan oral KI Hipertensi, berikan dekongestan topical = oksimetazolin
13. Batuk = ekspektoran batuk berdahak (NAC, GG, Bromheksin) atau antitusif u/ batuk kering
(Dekstro Hbr dan Difenhidramin). Semua aman bagi Bumil kecuali Dekstro, ganti dengan Codein.

5. Sistem gastrointestinal (10-15%)


Saluran Cerna
Obat Efek samping
Antasida (Al) Konstipasi
Antasida (Mg) Diare
Omeprazole Sakit kepala
Simetidine Gynekomastia (payudara membesar untuk pria)
Bismuth Melena (feses berwarna hitam)
Metoklopamid Dyskinea/gangguan sistem saraf pusat/gerak tidak terkendali
Antasida secara umum Kejang perut, Milenium (feses berwarna putih)

Tukak Peptik (Helicobacter pylori)


Awal 14 hari PPI Amoksisilin Klaritomisin
Omeporazole (2x20 mg) 2 x 1000 mg 2 x 500 mg
Lansoprazole (2x30 mg)
Jika alergi atau PPI Metronidazole Klaritomisin
resisten Omeporazole (2x20 mg) 2 x 500 mg 2 x 500 mg
amoksisilin Lansoprazole (2x30 mg)
Jika alergi atau PPI Metronidazole Tetrasiklin Bismuth salisilat
resisten Omeporazole (2x20 mg) 2 x 500 mg 4 x 500 mg 4 x 525 mg
klaritomisin Lansoprazole (2x30 mg)
Penggunaan 10-14 hari
Sumber: Dipiro 11th edition

KONSTIPASI
1. 1st line semua populasi : bisakodil (stimulant otot polos usus)
2. Laksatif osmotic : laktulosa (utk lansia)
3. Antikonstipasi yang tidak di absorpsi adalah selulosa (bulking agent)
4. Turunan minyak mineral, castor oil sudah tidak digunakan lagi Teratogenic

6. Sistem renal, saluran kemih (5-8%)


ISK
1. Tanda ISK atas = sakit pinggul, demam, muntah
2. Tanda ISK bawah = susah berkemih, kemih berdarah, berkemih malam hari
3. Pilihan : TMP-SMX (1:5) > amox > klaritro > sefalosporin gol 2-3 > nitrofurantoin
4. Bumil – anak = amox / nitrofurantoin
5. Antiseptic = asam pipemidat

41
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

7. Sistem syaraf dan kesehatan jiwa (8-10%)


ANTIPARKINSON – SKIZOFRENIA
1. Parkinson = L-Dopa + Karbidopa (kombinasi mengurangi metabolism L-Dopa di perifer) > triheksifenidil (gol
antikolinergik) > selegilin
2. Skizofrenia =
- Tipikal = haloperidol, klorpromazin. ES tinggi gejala
ekstrapiramidal
- Atipikal = klozapin, risperidon. Minim ES.

ANTIDEPRESAN
1. Bumil aman hanya SSRI/SNRI
2. Semua cemas dan ansietas 1st line SSRI/SNRI (fenflaxin, duloxetine, flouksetin, sertraline), selain itu pilihan lain
MAOI (fenelzin, selegilin) > TCA (imipramine, amitriptilin) > Analog Gaba (gabapentin).
3. Insomnia = Zolpidem > TCA > Antihistamin
4. Buspropion = utk kecanduan rokok
5. Benzodiazepine = utk kecanduan alcohols

ANTIEPILEPSI
1. Kejang parsial = karbamazepin / fenitoin
2. Kejang umum =
- Absence = as valproate/ etosuksimid
- Myoclonic = as valproate
- Tonik-klonik = fenitoin / karbamazepin
3. Satu-satunya yang aman utk Bumil = lamotrigine bias juga
karbamazepin
4. ES fenitoin = facial cleft ; ES as valproate = spinda bifida = perlu suplemen As Volat

o Skizofrenia
Golongan Mekanisme Kerja Contoh Obat
Antipsikotik atipikal Memblokade serotonin (lebih utama) dan Klozapin,olanzapin, resperidone,
(Ekstrapiramidal dopamin tipe 2 quetiapin
rendah)
Antipsikotik tipikal Memblokade reseptor dopamin tipe2 Haloperidol, klorpromazin
(Ekstrapiramidal
tinggi)
Secara urutan
1st. Atipikal (Olanzapine, risperidone, quetiapin), jika tidak ada respon
2nd. Tipikal (Haloperidol), jika masih tidak ada respon
3nd. Clozapine
Sumber: Dipiro 11th edition, 2020

o Epilepsi
Kondisi Dewasa Anak-anak
Kejang fokal atau Partial seizures Fenitoin Karbamazepin
Karbamazepin Natrium valproat
Fenobarbital
Natrium valproat
Tonik klonik atau Grand mal Fenobarbital Fenobarbital
Fenitoin Natrium valproat
Karbamazepin
Natrium valproat
Absence seizures atau petit mal Natrium valproat Natrium valproat
Etosuksimid Etosuksimid
Mioklonik Fenobarbital Fenobarbital
Natrium valproat Natrium valproat
Benzodiazepine Benzodiazepine
Atonik Fenitoin Fenobarbital
Natrium valproat Natrium valproat
Lamotrigine dapat digunakan untuk ibu hamil
Sumber: Kenya National Guidelines For The Management Of Epilepsy

42
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Jenis – jenis Syok


1. Syok Sepsis
Syok yang terjadi akibat adanya sepsis atau peradangan di tubuh.
Terapi : Cairan kristaloid + obat vasopresor/inotropik. Infeksi diatasi dengan pemberian antibiotik yang
sesuai dengan hasil kultur.
2. Syok Kardiogenik
Syok akibat disfungsi kardiak misalnya obstruksi sirkulasi sehingga organ mengalami kekurangan suplai
darah.
Terapi : obat yang dapat meningkatkan perfusi ke perifer seperti epinefrin, norepinefrin, dobutamin.
3. Syok Hipovolemik
Kondisi syok akibat perfusi darah tidak adekuat ke organ-organ yang disebabkan karena kehilangan banyak
darah.
Terapi : cairan + PRC (pack red cell) bila kondisi pasien kehilangan banyak darah

8. Tulang dan persendian (8-10%)


OSTEOPOROSIS (OP)
Menurut WHO, Osteoporosis merupakan penurunan lebih dari -2,5 standar deviasi dari nilai rata-rata densitas mineral
tulang (bone mineral density, BMD) pada orang dewasa muda sehat (BMD T-score ≤ 2,5 SD).
Obat-Obatan yang dapat menurunkan kepadatan tulang :
- Androgen Deprivation Therapy (ADT)  GnRHS menurunkan kepadatan tulang 2-5% pada 1 tahun pertama
penggunaan
- Aromatase Inhibitor (AIs)  pada wanita menurunkan 2,5% kepadatan tulang dan 1-2% pada wanita menopause
- Glukokortikoid  meningkatkan terjadinya resiko fraktur (patah tulang) terutama penggunaan prednisone 10 mg
per hari selama 90 hari
- SSRI  tergantung dosis dan durasi terapi SSRI dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang
- Tiazolidindion  menurunkan proses pembentukan tulang dengan merusak diferensiasi precursor osteoblas dan
menungkatkan resorpsinya yang menyebabkan penurunan kepadatan tulang

Tatalaksana OP
1. Nilai T < -2,5 = osteopenia/ rakhitis = berikan suplementasi vit D (kalsitriol)
2. Nilai T > -2,5 = osteoporosis = berikan bifosfonat > raloksifen > teriparatide
3. Gol bifosfonat berikan arahan minum 30 – 60 menit a.c. dan tidak tidur dalam waktu dekat karena akan mengiritasi
lambung
Kategori Tscore Terapi
Tscore ≥ -1 Pertahankan
Tscore -1,1 (–) -2,4 Kalsium dan vitamin D
Tscore ≤ 2,4 Kalsium dan vitamin D
Terapi
1st. Alendronate, risedronate, asam zoledronic
Alternatip terapi
Ibandronate, raloxofen atau teriparatide (jika Tscore ≤ 3)
Last line
Intranasal calcitonin
Aturan Minum Obat
Alendronate, risedronate, asam Dengan air 180 ml, 30 menit sebelum makan dan tetap dalam posisi duduk/tegak
zoledronic selama sekurang-kurangnya 30 menit
Ibandronate Dengan air 180 ml, 60 menit sebelum makan dan tetap dalam posisi duduk/tegak
selama sekurang-kurangnya 30 menit
Sumber: Dipiro 11th edition dan MIMS
Obat yang digunakan pada terapi osteoporosis
Obat Indikasi dan Dosis Aturan Pakai ESO
Alendronat Wanita post menopause : 10 mg per Dikonsumsi setelah puasa Gejala GIT, gangguan usus,
haru atau 70 mg satu kali seminggu semalaman dan setidaknya 30 sakit kepala dan nyeri otot
(po) menit sebelum makan pagi
Pria : 10 mg per hari (peroral) sebelum mengonsumsi obat
Pencegahan OP post menopause : 5 atau suplemen lainnya. Obat
mg per hari secara oral diminum dengan segelas air
Pencegahan dan tatalaksana OP yg 200 ml dengan posisi
diinduksi glukokortikoid : 5 mg per duduk/berdiri dan tidak boleh
hari (oral) berbaring selama 30 menit
setelah minum obat

43
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Ibandronat OP wanita post menopause dan Sama seperti alendronat, Po  sama seperti
memiliki peningkatan resiko fraktur : jumlah air (180-240 ml) dan alendronat
150 mg satu kali per bulan (po) atau 3 tidak boleh berbaring selama 1 iv  muncul gejala seperti
mg setiap 3 bulan (iv) jam setelah minum obat. influenza (pada injeksi
pertama)
Risedronat OP wanita post menopause dan Sama seperti alendronat, Sama seperti alendronat
memiliki peningkatan resiko fraktur : 5 jumlah air (120 ml)
mg per hari atau 35 mg satu kali per
minggu (po)
Asam 5 mg satu kali per tahun (iv) Diberikan secara iv minimal Sama seperti ESO iv
zoledronat dalam waktu 15 menit ibandronat dan gejala GIT
o Osteoarthritis
1st line Parasetamol
2nd line Oral NSAID, jika GI bisa topikal NSAID atau NSAID selektif
3rd line Opioid
Sumber: Dipiro 11th edition 2020

o Gout Akut
Kategori Terapi
Ringan – -NSAID (ibuprofen, indometasin, piroxicam, ketoprofen, naproxen, selekoksib)
sedang -Kolkisin
-Kortikosteroid (Prednison, metilprednisolon, triamsinolon)
Berat -Kolkisin + NSAID
-Kolkisin + kortikosteroid
Terapi Gout kronis/hiperuresemia
First line : Allopurinol, Febuxostat
Alternative : Probenesid (jika alergi allppurinol dan untuk ibu hamil
Keterangan
Urikostatik Menurunkan kadar urat dalam serum dengan menghambat enzim xantine oksidase
Contoh: Allopurinol
Urikosurik Meningkatkan ekskresi urat di ginjal dengan menghambat reabsorbsi pada proksimal
tubule
Sumber: Dipiro 11th edition 2020
o Rheumatoid Artritis
Secara umum RA ditangani dengan Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARD) yang memiliki
potensi untuk mengurangi kerusakan sendir, mempertahankan integritas dan fungsi sendi dan pada
akhirnya mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan produktivitas pasien AR. Obat-obat DMARD
yang sering digunakan adalah :
Methotrexate (ESO : Mata kabur, + asam folat)
Sulfasalazin
Leflunomide
Hidroksiklorokuin
Siklosporin
Azatioprin
Alternatif terapi jika DMARD tidak berfungsi dengan baik
TNF alpha inhibitor seperti infliximab, adalimumab, etanercept
Sumber :
Dipiro 11th edition
Rekomendasi Perhimpunan Rheumatologi Indonesia untuk Diagnosis dan Pengelolaan artritis
reumatoid, 2014

44
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

9. Kulit (3-5%)
KULIT
1. AB = P. Acnes = benzoil peroksida, klindamisin dan tetrasiklin (topical)
2. Agen peeling / keratolitik = resorsinol, asam salisilat
3. Antisebum = isoretinon, kontra indikasi pada ibu hamil karena menyebabkan teratogenik
4. Antiinflamasi = kortikosteroid

10.Mata, hidung, telinga, dan tenggorokan (3-5%)


o Mata
Terapi Glaukoma
Terapi Golongan Mekanisme Contoh
Pilihan Beta bloker non selektif Menurunkan produksi cairan mata Timolol, metoprolol
pertama beta 1 dan beta 2
Pilihan Analog prostaglandin Meningkatkan aliran keluar Latanoprost,
kedua uveoscleral dengan mempengaruhi bimatoprost
aliran akous melalui jalur
konvensional trabekulo-kanalikur
Pilihan Kolinergik Kontraksi pupil Pilokarpin
ketiga
Pilihan Karbonik anhidrasi Berhubungan dengan produksi caira Azetolamida,
terakhir akuos terutama melalui sekresi aktif metazolamida
bikarbonat
Keterangan
Timolol kontraindikasi pada kondisi asma
Pilokarpin kontraindikasi pada kondisi hiprtensi
Sumber : Dipiro 9th edition

o Batuk
Kriteria Batuk Solusi Contoh obat
Batuk tidak berdahak Antitusif (menekan batuk) Noskapin, dekstrometorphan, kodein,
Batuk kering yg sulit Ekspektoran (merangsang Amonium klorida, guaifenesin, terpin hidrat
mengeluarkan dahak pengeluaran dahak)
Batuk berdahak Mukolitik (pengencer dahak) Ambroksol, bromheksin, asetilsistein

11. Onkologi, imunologi, nutrisi, gawat darurat, vaksin, dan produk biologi (8-10%)
o Onkologi
Pedoman Teknis Pelayanan Paliatif Kanker Kemenkes 2013 bagian tata laksana nyeri
Skala VAS Kategori Analgesik Obat Pilihan Obat lain
STEP 1 Nyeri Non-opioid NSAID (Ibuprofen, Parasetamol
Ringan ± adjuvant naproxen)
1-3
STEP 2 Nyeri tetap Opioid Codein, Tramadol Adjuvant :
Sedang atau lemah ± Amitriptilin, gabapentin,
4-6 meningkat Non-opioid imipramin
± adjuvant
STEP 3 Nyeri tetap Opioid Kuat Morfin, oxycodone Fentanyl
Berat atau ± Non- Adjuvant :
7-10 meningkat opioid ± Amitriptilin, gabpentin,
adjuvant imipramin, petidine, mepiridine

45
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

ANTIDOTUM PADA KASUS KERACUNAN


Senyawa Antidotum
Alkohol/wiski Benzodizepin
Metanol, etilen glikol Etanol, fomepizole
Susu Arang aktif
Fenobarbital Natrium bicarbonat
Parasetamol N-asetilsistein
Logam berat (As, Hg, Cu) BAL/Dimecaprol/British Anti-lewesite
Logam berat (Pb) EDTA
Ferri Diferoksamin
Opioid dan dekstromethorpan Nalokson, Benzodiazepin, Naltexone
Insektisida Atropin, Pralidoksim
Peptisida Atropin, Skopolamin
Beta bloker (atenolol, propranolol) Adrenalin, isoprenalin, glukagon
Benzodiazepin Flumazenil
Anti depresan trisiklik (amitriptiline) Diazepam
Warfarin, Kuamarin Vitamin K
Heparin Protamin
Digoksin Fenitoin, MgSO4, Atropin
Isoniazid Piridoksin
Nitrit Metilen Blue
Karbonmonoksida Oksigen
Natrium decusonate/tetes telinga Minum susu, minum air putih yang banyak
Nikotin Bupropion

FARMAKOKINETIKA

𝑅 𝐴𝑈𝐶 𝑝𝑜
Loading dose = atau Css x Vd Klirens (Cl) = Vd x Ke F=
𝑘 𝐴𝑈𝐶 𝑖𝑣

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑡𝑒𝑠


Jumlah tetes permenit =
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑗𝑎𝑚)𝑥 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

(140 − 𝑢𝑚𝑢𝑟) 𝑥 𝐵𝐵 (𝑘𝑔) (140 − 𝑢𝑚𝑢𝑟) 𝑥 𝐵𝐵 (𝑘𝑔)


CrCl (laki – laki) = CrCl (wanita) = 0,85 𝑥
72 𝑥 𝑆𝑐𝑟 72 𝑥 𝑆𝑐𝑟

𝐹 𝑥 𝐷𝑜 𝑅 𝑅 𝐹.𝐷𝑜
Css =  τ = interval (jam) Css =
𝐶𝑙
atau
𝐾𝑒 𝑥 𝑉𝑑
Css =
𝑉𝑑 𝑥 𝑘 𝑥 𝜏 𝑉𝑑.𝑘𝜏

Perhitungan dosis Young Dosis intake sehari


𝑛 % Dosis maksimal = x 100%
Dosis = 𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑑𝑒𝑤𝑎𝑠𝑎 dosis teoritis sehari
𝑛+12

t½ k eliminasi
Waktu untuk mencapai Css : 2 jam 0,346
o 90% kadar = 3,32 x t ½ 3 jam 0,231
o 95% kadar = 4,32 x t ½ 4 jam 0,173
6 jam 0,116
o 99% kadar = 6,64 x t ½ Vd =
𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠
atau
𝐶𝑙
8 jam 0,087
𝐶𝑜 𝐾𝑒
12 jam 0,058
24 jam 0,029
48 jam 0,014
72 jam 0,010

46
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

FARMAKOKINETIKA

Kadar Obat pada waktu tertentu


Orde 0 Orde 1
C = C0 – k.t ln Cp = ln C0 – k.t

𝟎,𝟓 𝒙 𝑪𝟎 0,693
t½= t½=
𝒌 𝑘

𝟎,𝟏 𝒙 𝑪𝟎 0,105
t 90 = t½=
𝒌 𝑘

47
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

SOCIAL BEHAVIOUR ADMINISTRATION (SBA)


Materi Manajemen Kefarmasian

 Peraturan Perundang-Undangan Kefarmasian


 Daftar Obat Wajib Apotek
 Farmakoekonomi

1. Peraturan Perundang-Undangan Kefarmasian


Tugas pokok dan fungsi apoteker - Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan
- PP Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan
Kefarmasian
- Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang
Tenaga Kesehatan
- PP Nomor 20 Tahun 1962 Tentang Lafal Sumpah Janji
Apoteker
- Lafal sumpah apoteker Indonesia
Regulasi terkait administrasi Apoteker - Permenkes RI Nomor 889 Tahun 2011 Tentang
Registrasi, Izin Praktek danIzin Kerja Tenaga
Kefarmasian.
STRA dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN)
dan STRTTK oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
- Permenkes RI Nomor 31 Tahun 2016 Tentang
Perubahan Atas Permenkes Nomor 889 Tahun 2011
Tentang Registrasi, Izin Praktik,dan Izin Kerja Tenaga
Kefarmasian
SIPA diajukan ke Dinkes Kabupaten/Kota
SERKOM dikeluarkan oleh IAI
- Peraturan Organisasi PO.006/PP.IAI/1418/V/2015
Tentang MutasiAnggota Ikatan
Mutasi antar provinsi  membutuhkan surat lolos butuh
yang diajukan ke Dinkes Provinsi
Regulasi Standar Pelayanan Kefarmasian di - Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit Rumah Sakit
Akreditasi setiap 3 tahun sekali
- Permenkes 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi dan
Perizinan Rumah Sakit
Kelas A (>500 bed) = 15 Apoteker
Kelas B (200-500 bed) = 13 Apoteker
Kelas C (100-200 bed) = 8 Apoteker
Kelas D (50-100 bed) = 3 Apoteker
- Permenkes Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Rasio standar apoteker di rawat inap adalah 1 apoteker
untuk 30 pasien, sedangkan di rawat jalan adalah 1 apoteker
untuk 50 pasien.
Regulasi Standar Pelayanan Kefarmasian di - Permenkes No 9 Tahun 2017 tentang Apotek
Apotek - Kepmenkes RI Nomor 1332 Tahun 2002 Tentang
Perubahan Atas PermenkesRI Nomor 922 Tahun 1993
Tentang Izin Apotek
Surat Izin Apotek (SIA) ditujukan kepada Dinkes
Kabupaten/Kota
- Permenkes Nomor 73 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan KefarmasianDi Apotek
Regulasi Standar Pelayanan Kefarmasian di - Permenkes No 44 Tahun 2016 Tentang Pedoman
Puskesmas Manajemen Puskesmas
- Permenkes No 74 Tahun 2016 tentang standar
pelayanan kefarmasian di Puskesmas
- Permenkes No 36 Tahun 2016 tentang Perubahan atas
peraturan menteri kesehatan no 30 tahun 2014 tetang
standar pelayanan kefarmasian di puskesmas.

48
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Pemberian Izin Edar Obat


Instansi Pemberi Izin Peraturan terkait
Industri Farmasi Kemenkes PMK 1799 tahun 2010 tentang Industri
Farmasi
Industri Obat Kemenkes PMK 006 tahun 2012 tentang Industri dan
Tradisional/IEBA Usaha Obat Tradisional
Usaha Kecil Obat Dinas Kesehatan Provinsi PMK 006 tahun 2012 tentang Industri dan
Tradisional (UKOT) Usaha Obat Tradisional
Usaha Mikro Obat Dinas Kesehatan PMK 006 tahun 2012 tentang Industri dan
Tradisional (UMOT) Kab/kota Usaha Obat Tradisional
Industri Kosmetik Kemenkes PMK 1175 tahun 2010 tentang Izin Produksi
Kosmetika
PBF Kemenkes PMK 1148 tahun 2011 tentang PBF
PBF Cabang Dinas Kesehatan Provinsi PMK 1148 tahun 2011 tentang PBF
Apotek Pemerintah Kab/Kota PMK 9 tahun 2017 tentang Apotek

Nomor Registrasi Obat Jadi


No registrasi obat jadi yang beredar di Indonesia terdiri atas 15 digit.
Keterangan :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

DIGIT 1: Menunjukkan nama obat jadi


D : Nama Dagang
G : Nama Generik
DIGIT 2 : Menunjukkan golongan obat
N : Golongan Obat Narkotik
P : Golongan Obat Psikotropika
K : Golongan Obat Keras
T : Golongan Obat Bebas Terbatas
B : Golongan Obat Bebaas
DIGIT 3: Menunjukkan jenis produksi
I : Obat jadi impor
E : Obat jadi untuk keperluan ekspor
L : Obat jadi produksi dalam negeri/lokal
X : Obat jadi untuk keperluan khusus (misalnya untuk keperluan donasi bencana tsunami)
J : Obat jadi terjangkau (diproduksi oleh Kimia Farma)
S : Obat jadi siaga (diprosukdi oleh Indo Farma)
DIGIT 4 dan 5: Menunjukkan tahun persetujuan obat jadi
86 : Obat jadi yang telah di setujui pada priode 1986
08 : Obat jadi yang telah di setujui pada priode 2008
KOTAK 6,7 dan 8: Menunjukkan nomor urut pabrik, (jumlah pabrik 100 < X < 1000)
X = nomor urut pabrik
KOTAK 9,10, dan 11: Menunjukkan nomor urut obat jadi yang disetujui untuk masing-
masing pabrik (jumlah obat jadi untuk tiap pabrik ada yang lebih dari 100 dan diperkirakan
tidak lebih dari 1000)
KOTAK 12 dan 13: Menunjukkan bentuk sediaan obat jadi.
Macam sediaan yang ada > 26 macam
KOTAK 14: Menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi
A : Menunjukkan kekuatan obat jadi yang pertama di setujui
B : Menunjukkan kekuatan obat jadi yang kedua di setujui
49
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

C : Menunjukkan kekuatan obat jadi yang ketiga di setujui, dst.


KOTAK 15: Menunjukkan kemasan berbeda untuk tiap nama, kekuatan dan bentuk sediaan
obat jadi (untuk satu nama, kekuatan, dan bentuk sediaan obat jadi diperkirakan tidak lebih
dari 10 kemasan)
1 : Menunjukkan kemasan utama
2 : Menunjukkan beda kemasan yang pertama
3 : Menunjukkan beda kemasan yang kedua, dst.

2. Daftar Obat Wajib Apotek


DOWA Contoh Jumlah Maksimal
1 Kontrasepsi 1 siklus
Tunggal : Linestrenol
Kombinasi:
Etinodiol diasetat – mestranol
Norgestrel – etinil estradiol
Linestrenol – etinil estradiol
Levonorgestrel – etinil estradiol
Norethindrone – mestranol
Desogestrel – etinil estradiol
Papaverin/Hiosin butil-bromide /Altropin SO4/ekstrak beladon 20 tablet
(Kejang saluran pencernaan)
(Kejang saluran cerna +nyeri Hebat) 20 tablet
• Metamizole, Fenpiverinium bromide
• Hyoscine N-butilbromide, dipyrone
•Methampyrone, beladona, papaverin HCl
• Pramiverin, metarnizole
• Tremonium metil sulfat,sodium noramidopyrin
methane sulphonate
Metoklopramid HCl 20 tablet
Bisakodil Supp. 3 suppo
Triamcinolone acetonide 1 tube
(Obat Asma)
Ketotifen 10tab/1botol
Terbutalin SO4 20tab/1botol
Sabutamol 20 tab/1botol/ 1 inhaler
(Sekretolitik, Mukolitik)
Karbosistein 20 tab/1 botol
Asetilsistein 20 dus
Oksalamin sitrat 1 botol
(Analgetik, Antipiretik)
1. Metampiron 20 tab/1tbl
2. Asam mefenamat 20 tab/1tbl
(Antihistamin)
1. Dimethinden maleat
2. Astemizol
3. Oxomenazin
4. Dexchlorpheniramine/CTM 20 tablet
(Antibiotik Topikal) jika pasien membeli AB
topikal diberi dg jmlah tertentu krn termasuk OWA
Tetrasiklin/Oksitetrasiklin 1 tube
Kloramfenikol 1 tube
Framisetina SO4 2 tube
Neomisin SO4  luka rongga mulut 1 tube
Gentamisin SO4 1 tube
Eritromisin 1 tube
(Kortikosteroid topikal)
Hidrokortison
Flupredniliden
Triamsinolon 1 tube
Betametason
Fluokortolon/Duflukortolon
Desoksimetason
(Antiseptik lokal)  Heksaklorofene 1 tube

50
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

(Anti fungi Topikal)


Mikonazol nitrat
1 tube
Nistatin
Ekonazol
(Anestesi lokal)  Lidokain HCl 1 tube
(Enzim antiradang topikal Kombinasi)
Heparinoid/Heparin Na dgn. Hialuronidase ester 1 tube
Nikotinat
2 Albendazol 200mg/ 6tab
400mg/3tab
Bacitracin 1 tube
Benorilate 1 tube
Bismuth subcitrate 10 tablet
Carbinoxamin 10 tablet
Clindamicin 1 tube
Dexametason 1 tube
Dexpanthenol 10 tablet
Diclofenac 10 tablet
Diponium 10 tablet
Fenoterol 1 tabung
Flumetason 1 tube
Hydrocortison butyrat 1 tube
Ibuprofen 400mg/10 tab
600mg/10tab
Isoconazol 1 tube
Ketokonazole <2%, 1 tube
Methylprednisolon 1 tube
Niclosamide 500mg/ 3tab
Noretisteron 1 siklus
Omeprazole 7 tablet
Piroxicam 1 tube
Prednisolon 1 tube
Scopolamine 1 tube
Sucralfat 20 tablet
Sulfasalazine 20 tablet
3 Famotidin 20mg/40mg
10 tab
Ranitidin 150mg/10 tab
Asam Azeleat 1 tube
Asam fusidat 1 tube
Motretinida 1 tube
Tolsiklat 1 tube
Tretinoin 1 tube
(Antiinfeksi Umum)
Kategori (2HRZE/4H3R3)
Kombipak II
- Isoniazid 300 mg
- Rifampisin 450 mg
- Pirazinamid 1500 mg
- Etambutol 750 mg
Kombipak III  Fase lanjutan
- Isoniazid 600 mg
- Rifampisin 450 mg
Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
1 paket
Kombipak II  Fase awal
- Isoniazid 300 mg
- Rifampisin 450 mg
- Pirazinamid 1500 mg
- Etambutol 750 mg
- Streptomisin 0,75 mg
Kombiak IV  Fase lanjutan
- Isoniazid 600 mg
- Rifampisin 450 mg
- Etambutol 1250 mg
Kategori III (2HRZ/4H3R3)

51
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Kombipak I  Fase awal


- Isoniazid 300 mg
- Rifampisin 450 mg
- Pirazinamid 1500 mg
Kombipak III  Fase lanjutan
- Isoniazid 600 mg
- Rifampisin 450 mg
Allopurinol 100mg/10 tab
Diklofenak natrium 25 mg/ 10 tab
Piroxicam 10mg/10 tab
Klemastin 10 tab
Mequitazin 10tab/ 1btl
Orsiprenalin 1 inhaler
Prometazin teoklaat 10tab/ 1btl
Setirizin 10 tab
Siproheptadine 10 tab
Getamisin 1tube/1 btl 5ml
Kloramfenikol TM 1tube/1 btl 5ml
Kloramfenikol TT 1 btl 5ml

Surat Pesanan
Jenis Ketentuan SP Contoh obat Rangkap
Regular 1 SP bisa semua Parasetamol, ibuprofen Minimal 2
Obat-obat 1 SP bisa semua Tramadol, amitriptilin, klorpromazin, triheksifenidil, Minimal 3
tertentu dextrometorphan, haloperidol
(OOT)
Prekursor 1 SP bisa semua Kalium permanganate, ergotamine, pseudoefedrin, Minimal 3
ergometrin, norepinefrin, efedrin, fenilpropanolamin
Psikotropika 1 SP bisa semua Alprazolam, klordiazepoksida Minimal 3
Narkotika 1 SP hanya untuk 1 Kodein, metadon Minimal 3
sediaan

Bahasa latin resep


Tulisan resep Artinya
Urutan pengerjaan resep
1 PIM (Periculum in mora) Berbahaya jika ditunda
2 urgent Sangat penting
3 statim Penting
4 cito
Segera
Aturan minum obat
a.c (ante coenam) Sebelum makan
d.c (durante coenam) Pada saat makan
p.c (post coenam) Sesudah makan
a.p (ante prandium) Sebelum sarapan pagi
h.v/n (hora vespertina/nocte) Malam hari
h.s (hora somni) Waktu tidur
h.m (hora matutina) Pagi hari
s.dd (semet de die) 1x1 sehari
b.dd (bis de die) 2x1 sehari
t.dd (ter de die) 3x1 sehari
q.dd (quarter de die) 4x1 sehari
s.o.s/s.n.s/ (si necesse sit/si opus) Bila perlu
s. prn (signa pro re nata) Bila perlu
u.p (usus propius) Untuk dipakai sendiri
u.c (usus cognitus) Pemakaian telah diketahui
i.m.m (in manus medici) Serahkan kepada dokter
gtt (guttae) tetes
C (cochlear) Sendok makan (15 ml)
c.p (cochlear parvum) Sendok bubur (8 ml)
Cth (cochlear theae) Sendok the (5 ml)
52
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Etika
Jenis Etika Pengertian dan Contoh
Veracity Mengatakan atau menyampaikan kebenaran (kejujuran) Contoh: seorang pasien berhak
(to tell the truth) mengetahui diagnosis penyakitnya.
Non-maleficence Prinsip ini menyediakan satu analisis pertanyaan dari berbagai keputusan. Pertanyaan itu adalah
(to do no harm) “apakah tindakan saya akan makin memperburuk pasien?” Contoh: seorang pasien yang kesulitan
untuk menelan obat maka sebagai apoteker hendaklah meminimalisir penggunaan oral untuk
pasien tsb.
Beneficence Bentuk lain dari prinsip menghindari menyakiti orang lain namun lebih proaktif.
(to do good) Contoh: seorang pasien yang sudah mendapatkan pengobatan lalu diberikan konseling dan juga
dilakukan monitoring berkala terhadap penyakit nya.
Confidentiality Menghormati privasi orang lain dengan tetap menjaga kerahasiaan informasi. (Kerahasiaan)
(to respect privacy) Contoh: seorang wanita datang ke apotek membeli vaginal douch dan ingin mendapatkan
konseling cara pemakaian. Kemudian di apotek tersebut ada pria yang sedang menebus resep.
Maka apoteker hendaklah melakukan konseling terhadap wanita tsb di ruang khusus.
Fairness Adil dan bertanggung jawab. Saling menghormati setiap individu dan masyarakat agar keputusan
(to be fair yang diambil adalah keputusan yang adilbagi semua pihak. Contoh: melayani pasien sesuai dengan
andsocially antrian (jika tidak ada yang membutuhkan penanganan gawat darurat)
responsible)
Autonomy Mengahargai hak pasien dalam membuat keputusan mengenai perawatan dirinya.
Fidelity Loyalitas/ketaatan  komitmen menepati janji

Metode Perencanaan Obat


Metode Perencanaan Perencanaan berdasarkan
Konsumsi Data penggunaan sebelumnya
Epidemiologi Prevalensi penyakit
Memesan obat jika ada yang membutuhkan saja karena pertimbangan obat yang mahal dan
Just in Time
minimnya pemakaian
Metode/tata cara pembelian obat secara elektronik berdasarkan e-Catalog. Sistem dilakukan
E-Purcashing
secara online pada e-Catalogue.
E-Catalogue Sistem Informasi elektrik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis, harga obat
Hanya dilakukan untuk rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan punya riwayat yang baik
Tender Tertutup (a.l.: pelayanannya baik, MoU-nya mudah dan bila ada obat yang kadaluarsa
dapatdikembalikan).
Berlaku untuk semua rekanan yg terdaftar dan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan,
Tender Terbuka dan disetujui oleh RS, biasanya pengumumannya lewat media cetak maupun elektronik.
Biasanya dilakukan oleh PUSKESMAS
Pembeli melakukan pendekatan pada beberapa supplier (biasanya 3 atau lebih) untuk
Negosiasi menentukan harga. Pembeli juga dapat melakukan tawar-menawar dengan para supplier untuk
memperoleh harga atau pelayanan tertentu.

Sistem Distribusi Obat


Sistem distribusi Keterangan
Sentralisasi Sistem pendistribusian perbekalan farmasi yang dipusatkan pada satu tempat yaitu instalasi
farmasi. Pada sistem ini seluruh kebutuhan perbekalan farmasi setiap unit pemakai baik
inividu maupun kebutuhan barang dasar ruang disuplai langsung dari pusat pelayanan
farmasi tersebut
contoh: digunakan untuk RS kelas D atau jika Tenaga Kefarmasiannya kurang
Desentralisasi Sistem pendistribusiam perbekalan farmasi yang mempunyai cabang di dekat unit
pelayanan. Cabang ini dikenal dengan istilah depo farmasi atau satelit farmasi
contoh: yang paling sering dipakai
Individual Praecribing Resep yang ditujukan kepada pasien, dan pasien akan menyerahkannya ke depo farmasi atau
satelit farmasi yang bersangkutan
Floor stock Persediaan lengkap diruangan
UDD Unit dose dispensing
Penyiapan obat yang dilakukan per sekali pakai
Guna meningkatkan kepatuhan pasien
ODD One daily dose
Penyiapan obat satu hari pakai
Jarang digunakan karena tertutupi dengan UDD

53
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

3. Farmakoekonomi
Analisis Diagram VEN-ABC digunakan untuk melakukan pengurangan obat
A B C
V VA VB VC
E EA EB EC
N NA NB NC
o NC  prioritas pertama untuk dikurangi atau dihilangkan dari rencana kebutuhan
o NB  prioritas kedua untuk dikurangi apabila dana masih kurang
o NA  prioritas ketiga untuk dikurangi
ANALISIS PARETO/ ABC
Kategori % Persediaan % dana yang digunakan
A ± 20 70
B ± 30 20
C ± 50 10
Petunjuk Teknis PMK 72 tahun 2016 ttg Standar Yanfar di RS

ANALISIS VEN Keterangan Contoh


Vital Yang mampu menyelamatkan jiwa (life saving) Obat emergensi, Cairan,
Albumin
Esensial Kelompok obat yang bekerja pada sumber penyebab Anti hipertensi, Anti
penyakit dan paling dibutuhkan untuk pelayanan diabetic, Analgesik
kesehatan.
Non Esensial Obat yang kerjanya ringan dan biasa dipergunakan Suplemen, Vitamin
untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk
mengatasi keluhan ringan
Petunjuk Teknis PMK 72 tahun 2016 ttg Standar Yanfar di RS

Analisis Farmakoekonomi Fungsi


Cost Minimization Analysis (CMA) Hanya melihat harga saja karena indikasi dan efek obat
sama
Cost Effective Analysis (CEA) Melihat harga dan efektivitas terapi yang mana paling
baik
Cost Utility Analysis (CUA) Melihat harga dan kualitas hidup pasien (QALY)
Cost Benefit Analysis (CBA) Membandingkan 2 program kesehatan

Rumus Pengadaan Obat


Kebutuhan obat = (kebutuhan 1 tahun + stok pengaman) – sisa stok

Stok pengaman (Safety stock) = Lead time x rata-rata penggunaan

Quantity Order = pemakaian rata-rata x (lead time + periode pemesanan) + Safety Stock – sisa stok

A = (B + C + D) – E
A = Rencana Kebutuhan
B = Stok Kerja (Pemakaian rata-rata x 12 bulan)
C = Buffer stock
D = Lead Time Stock (Lead time x pemakaian rata-rata)
E = Sisa stok
54
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Contoh :
Selama tahun 2018 (Januari–Desember) pemakaian Natrium Diklofenak 50 mg sebanyak 300.000 tablet. Sisa stok per
31 Desember 2018 adalah 10.000 tablet.
a. Stok Kerja (B) = Pemakaian rata-rata x 12 bulan. Pemakaian rata-rata Natrium Diklofenat 50 mg perbulan selama
tahun 2018 adalah 300.000 tab. Jadi stok kerja = 25.000 tab x 12 bulan = 300.000 tablet.
b. Misalkan buffer stock (C) diperkirakan 20% = 20% x 300.000 tab = 60.000 tablet.
c. Jika pengadaan obat dilakukan melalui E-Purchasing dengan sistem ECatalouge diketahui waktu tunggu (lead time)
diperkirakan 1(satu) bulan. Jumlah kebutuhan obat saat lead time = 1 x 25.000 tablet = 25.000 tablet. Maka Lead time
stock (D) adalah 1 bulan x 25.000 tablet = 25.000 tablet.
d. Sehingga jumlah kebutuhan Natrium Diklofenat 50 mg tahun 2019 adalah: Stok Kerja + Buffer stock + Lead time
stok = B + C + D, yaitu: 300.000 tablet + 60.000 tablet + 25.000 tablet = 385.000 tablet.
e. Jika sisa stok (E) adalah 10.000 tablet, maka Rencana Kebutuhan (A) Natrium Diklofenat 50 mg untuk tahun 2019
adalah: A=(B+C+D)-E = 385.000 tablet – 10.000 tablet = 375.000 tablet.

Jika pernah terjadi kekosongan obat, maka perhitungan pemakaian rata-rata adalah total pemakaian dibagi jumlah
periode pelayanan dimana obat tersedia.

Contoh:
Jika terjadi kekosongan Natrium Diklofenat 50 mg selama 20 hari dalam satu tahun, dan diketahui pemakaian rata-rata
Natrium Diklofenak 50 mg setahun adalah 300.000 tablet, maka:
- pemakaian rata-rata perhari adalah 300.000 tablet ÷ (365 hari-20 hari) = 870 tablet
- pemakaian rata-rata Natrium Diklofenat 50 mg perbulan adalah 870 tablet x 30 hari = 26.000 tablet
Jadi kebutuhan riil Natrium Diklofenat 50 mg selama setahun adalah 26.000 tablet x 12 = 312.000 tablet.

9 Stars Pharmacist

Jenis Biaya Pengobatan


- Direct medical cost = biaya langsung untuk berobat = rawat inap, resep obat, tindakan medis
- Direct non medical cost = biaya langsung yang tidak berhub dengan proses pengobatan = transportasi
- Indirect medical cost = biaya yang hilang karena sakit = tidak bekerja, unpaid leave
- Intangible cost = biaya yang tidak diukur dengan unit moneter = rasa sakit
- Opportunity cost = biaya kesempatan untuk melakukan suatu hal = kehilangan kesempatan kerja

55
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Peringatan obat bebas terbatas


- P1 = baca aturan pakai
- P2 = kumur, jangan ditelan
- P3 = hanya utk bagian luar
- P4 = hanya utk dibakar
- P5 = tidak boleh ditelan
- P6 = obat wasir jangan ditelan

Beyond Use Date (BUD)


Sediaan BUD Racikan
Non aqueous dan solid formation 6 bulan atau 25% dari kadaluarsa (pilih yang paling cepat)
Topikal atau semisolid 30 hari
Tetes mata/ telinga 28 hari
Tetes mata minidose 3 hari
Sirup kering 7-14 hari (jika ada 2 pilihan maka pilih 14 hari)
Injeksi insulin multidose 28 hari disuhu ruang dan 60 hari di suhu dingin
Oralit 24 jam
Inhaler 3 bulan
TPN (Secara umum) 30 jam

Penanganan Limbah obat dan peralatan medis di Rumah Sakit

Imunisasi Dasar
Imunisasi Jumlah Waktu Pemberian BUD Kondisi
Pemberian Penyimpanan
Hepatitis B 4 Usia 0-24 jam, bulan ke-2, bulan 4 minggu 2-8 0C
ke-3, bulan ke-4
BCG 1 Usia Bulan ke-1 2-8 0C
3 jam
Polio 4 Usia Bulan ke-1,2,3,4 -15 sd -250C
2 minggu
IPV 2-8 0C
DPT 3 Usia Bulan ke-2,3,4 4 minggu 2-8 0C
Hib 3 Usia Bulan ke-2,3,4 4 minggu 2-8 0C
Campak 1 Bulan ke-9 6 jam 2-8 0C
Sumber: Permenkes no 12 tahun 2017 tentang penyelenggaran imunisasi

56
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

FARMAKOEKONOMI
𝑙𝑎𝑏𝑎𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
o ROI (Return of Investment) = x 100%
𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙
Laba bersih = Penjualan – Harga obat - seluruh biaya lain (biaya produksi)
𝑙𝑎𝑏𝑎𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
o ROE (Retun of Equity) = x 100%
𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠
𝑙𝑎𝑏𝑎𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
o ROA = x 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
Laba bersih = Laba kotor – biaya lain (pajak)
Laba kotor = penjualan - HPP
(𝑆𝑡𝑜𝑘 𝑎𝑤𝑎𝑙+𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑛)−𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
o HPP (Harga Pokok Penjualan) = x 100%
𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
HPP = Persediaan awal + pembelian bersih – persediaan akhir
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 (𝐻𝑃𝑃)
o TOR (Turn Over Ratio) =
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
o ROP (Reorder Point) = (Lead time x pemakaian rata-rata) + stok pengaman
𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
o BEP (Break Even Point) rupiah = 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
1−
𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
o BEP unit =
𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡−𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
o HNA (Harga Netto Apotek) = harga obat – PPN
o HJA (Harga Jual Apotek) = (HNA + PPN) x margin
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎𝑗𝑢𝑎𝑙
o Margin =
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎𝑏𝑒𝑙𝑖
𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑠 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔
o ACER (Average Cost Effective Ratio) =
𝑜𝑢𝑡𝑐𝑜𝑚𝑒 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑝𝑖
𝑠𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑠 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔
o ICER =
𝑠𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑜𝑢𝑡𝑐𝑜𝑚𝑒 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑝𝑖
o QALY = Survival x Utility
o Stok minimum = (pemakaian rata-rata x lead time) + safety stock
2 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑙𝑖 𝑥 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑠𝑎𝑛
o EOQ = √
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑥 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛

57
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

ATURAN KONSUMSI PIL KB


Pil KB Hormonal berisa estrogen dan progestin
Estrogen seperti( etinil estradiol, mestranol, estradiol valerate)
Progestin seperti (levonogastrel, desogastreal, linesterol, norethindrone)
Aturan minum Pil KB
Pil KB 21 seluruhnya berisi Diminuum saat haid berakhir
hormon
Pil KB 28 (21 berisi Diminum saat pertama kali menstruasi (placebo)
hormon, 7 berisi placebo)
Jika Lupa
Jika lupa < 24 jam segera minum pil KB
Jika lupa 24 - <48 jam minum 1 pil yang terlupa, minum 1 pil lagi pada jam biasa menggunakan
pil (pasien mungkin akan menggunakan 2 pil dalam sehari)
Jika lupa ≥ 48 jam (≥ 2 minum 1 pil ketika ingat an 1 pil pada jam biasa menggunakan obat.
hari) Pasien harus menggunakan kontrasepsi lain (kondom dll) atau
menghindari hubungan seksual hingga pil diminum teratur dalam 7 hari
Sumber: Recomended Actions After Late or Missed Combined Oral Contraceptives, 2013

LASA (Look Alike Sound Alike)


Contoh (cara penulisanya yang hurufnya sama ditulis kecil yang Beda ditulis Kapital):
CIPRofloksasin 500 mg dengan LEVofloksasin 500 mg
FORtibi dengan SANtibi
DOBUTamine dengan DOPamine
Cara penyusunan: Disusun tidak boleh bersebelahn harus diberi jarak antar LASA dan Diberi
Tanda Stiker (Tulisan Merah Beground Putih) kalau High Alert (Tulisan Putih Beground
Merah).

High Alert
 Narkotika
 Psikotropika
 OAD dan insulin
 Epinefrin dan norepinefrin injeksi
 Propranolol tab dan efedrin HCl injeksi
 Ketamin inj, propofol inj, bupivacain inj
 Lidocain inj, amiodaron inj dan tab, pehacain inj dan perdipin inj
 Heparin inj
 Elektrolit konsentrat : NaCl 3%, KCl 7,46%, Dekstrose 40%, Meylon, MgSO4 20% dan
40%, manitol 20%, kalsium glukonas inj
 Oksitosin : sintosinon inj
 Nutrisi parenteral : aminofluid, clinimix, futrolit
 Inotropik : digoksin inj dan tab, dopamine inj, dobutamin inj

58
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

PHARMACEUTICAL SCIENCE (PS)


Materi Industri

Validasi

• Untuk alat dengan 1 satuan ukur : thermometer,


Kalibrasi timbangan, stopwatch

• a. Design = saat akan order alat baru

Kualifikasi •

b. Instalasi = verifikasi design (ukuran, tata letak)
c. Operasional = verifikasi prosedur operasional, perawatan, pembersihan
• d. Kinerja = verifikasi operasi alat yang sesuai dengan rentang spesifikasi

• a. Validasi prospektif = 3 batch = produk batch yang belum dipasarkan,


untuk keperluan registrasi baru
Validasi Proses • b. Validasi konkuren = 3 batch = produk eksisting, sudah berjalan dengan
baik dan terjadi perubahan pada komposisi (bahan aktif, kemasan), proses,
Produksi metode, ukuran batch, untuk keperluan registrasi ulang dan variasi
• c. Validasi retrospektif = 10-30 batch = produk terdahulu, tidak
mengalami perubahan dalam waktu lama.

• Validasi yang dilakukan dalam QC untuk menguji kesesuaian metode uji


• kualitatif/kuantitatif. Parameter nya:
• a. Akurasi = ketepatan = %recovery / % perolehan kembali
• b. Presesi = keterulangan = %CV / RSD (rerata simpangan baku)

Validasi Metode •

c. Linieritas = perbandingan kesesuaian = R2 ≈ 1
d. Spesifitas / selektifitas = membedakan =
Analisis •

- LOD = limit deteksi (kualitatif) = Rf, Resolusi
- LOQ = limit kuantifikasi (kuantitatif)
• e. Jika suatu metode diambil dari Compendial (FI, BP, USP) cukup
dilakukan verifikasi
• (akurasi-presisi). Jika tidak ada dalam Compendial harus dilakukan validasi
(point a-d).

Validasi Pembersihan • Validasi dalam proses pencucian/sterilisasi ada 2 metode =


Rinse (air bilasan terkahir) dan Swap (usap).

Kategori
Keterangan
temuan
Critical Temuan yang sifatnya membahayakan nyawa manusia dan mempengaruhi kulitas produk
Temuan yang berdampak terhadap Kualitas Produk.
Major Contoh : evaluasi terhadap hasil inspeksi diri tidak dilakukan dengan prosedur yang
ditentukkan
Temuan yang sifatnya tidak mempengaruhi kualitas produk secara langsung namun dapat
Minor
menjadi temuan major jika temuan terus berulang

Standar yang digunakan dalam penetapan kadar


Jenis Fungsi
Standar
Standar Sampel dan standar merupakan zat yang sama. Standar dibuat dalam berbagai macam
Eksternal konsentrasi pada labu yang berbeda dari sampel. Dibuat plot regresi linear.
Standar Adisi Sampel dan standar yang digunakan zat yang sama. Standar dengan volume berbeda-
beda ditambahkan ke dalam sampel pada labu yang sama dan volume yang sama
Standar Sampel dan standar berbeda, tetapi memiliki kemiripan bentuk struktur atau
Internal mempunyao sifat fisika dan kimia yang mirip

59
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Ekstraksi Bahan Alam


Jenis Fungsi Kriteria
Ekstraksi
Maserasi Penyarian dengan merendam serbuk simplisia dengan pelarut Mudah, murah, Tidak tahan
organik selama beberapa waktu pada suhu kamar panas
Perkolasi Penyarian dengan mengalirkan penyari secara terus menerus Alat khusus, boros pelarut,
pada serbuk simplisia dengan alat prekolator Tidak tahan panas
Infusa Penyarian menggunakan air mendidih suhu kurang lebih 90 Mudah, murah, Zat harus tahan
derajat selama 15 menit panas
Dekokta Penyarian menggunakan air mendidih suhu kurang lebih 90 Mudah, murah, Zat harus tahan
derajat selama 30 menit panas
Destilasi Untuk menyari simplisia yang memiliki tingkat volatilitas tinggi
Cengkeh, eugenol, terpenoid,
menthol oil, minyak kayu putih.
Refluks Penyarian menggunakan titik didih pelarut menggunakan Untuk zat yang tahan panas dan
pendingin balik bentuknya keras (akar, batang,
biji)
Sokletasi Penyarian secara berulang, menggunakan alt sokletasi sehingga Untuk zat yang tahan terhadap
seperti menggunakan pelarut baru pemanasan

Jenis Kromatografi untuk uji bahan obat/obat


Kromatografi Fungsi
Kromatografi Lapis Metode yang paling cepat dan sederhana untuk melakukan identifikasi
Tipis (KLT) kandungan BKO di dalam jamu. Prinsip yg digunakan berdasarkan adsorbsi dan
partisi
Contoh: BKO jamu
Kromatografi Gas Untuk pemisahan senyawa yang mudah menguap. Dapat berupa senyawa
minyak atsiri. Bila susah menguap, dilakukan derivitasi senyawa
Contoh : eugenol, terpenoid, menthol oil, minyak kayu putih.
Kromatografi Kolom Proses pemisahan dilakukan menggunakan kolom. Pelarut mengalir secara
kontinyu melewati kolom
Kromatografi Cair -Prinsip kurang lebih sama dengan KLT
Kinerja Tinggi -Lebih rumit tapi hasilnya sangat detail
-Bisa melakukan uji kualitatif (nilai Rf) dan kuantitatif (lebar puncak)
-Bisa memisahkan senyawa dalam banyak campuran
-Bisa digunakan untuk residu
Contoh: campuran tablet

Bagian AHU
Bagian Fungsi
Ductus/ducting Hanya saluran udara, baik udara masuk atau keluar
Cooling coil Mengatur suhu agar dingin
Heater Mengatur kelembapan
Filter Menyaring partikel udara
Dumper Mengatur pendistribusian udara/debit ke ruang produksi masing-masing
Sumber: Petunjuk Teknis CPOB 2012

60
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Sistem Klasifikasi Biofarmasi (BCS)


BCS Permeabilitas Kelarutan Solusi
Kelas I Baik Baik -
Kelas II Baik Buruk - Meningkatkan laju kelarutan
- Memperkecil ukuran partikel
- Pembentukan garam
- Pembentukan kompleks dengan siklodekstrin
Kelas III Buruk Baik Meningkatkan lipofilitas
Ex menggunakan metode (etosom, liposom, transfosom)
Kelas IV Buruk Buruk -

PERMASALAHAN DALAM FORMULASI SEDIAAN PADAT


Masalah Solusi
Keragaman bobot/keseragaman Tambahkan atau tingkatkan konsentrasi glidan atau pengisi
kandungan
Kekerasan tablet Tambahkan atau tingkatkan konsentrasi bahan pengikat
Kerapuhan Tambahkan atau tingkatkan konsentrasi bahan pengikat
Waktu hancur Tambahkan atau tingkatkan konsentrasi bahan penghancur
Sifat alir Tambahkan atau tingkatkan konsentrasi glidan atau pengisi

PERMASALAHAN PADA PENCETAKAN TABLET


Masalah Kondisi Solusi
Capping Bagian atas tablet memisah Reformulasi penambahan pengikat, tingkatkan fines
dengan bagian utamanya granul, kurangi volume bulk granul, tekanan punch
Lamination Pemisahan tablet menjadi dua diturunkan
bagian atau lebih
Chipping Rusaknya bagian tepi tablet
Picking Tablet nempel pada punch Reformulasi penambahan Antaherent, lubrikan,
Sticking Tablet nempel pada die suhu dan waktu pengeringan granul ditingkatkan
Binding Granul nempel di ruang cetak
Motling Warna tablet tidak merata Larutkan zat pewarna ke dalam larutan pengikat,
gunakan pelarut organik (alcohol), kecepatan panci
penyalut diturunkan.
Double Kesan ganda pada permukaan Gunakan alat pengatur antiturning untuk mencegah
Impression tablet yang menggunakan punch free rotation
berlogo

KLASIFIKASI RUANG PRODUKSI


Kelas Sebutan Suhu (oC) Kelembapan (% RH) Keterangan
A Under 16-25 45-55 -Pengelolaan aseptis
LAF -Pengisian salep mata dan suspensi steril
B Steril 16-25 45-55 -Lingkungan latar belakang kelas A
C Steril 16-25 45-55 -Pembuatan larutan bila ada resiko
-Pengisian produk
non-aseptis

61
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

D Bersih 20-27 40-60 -Pembuatan obat steril dengan sterilisasi akhir


E Umum 20-27 Maks 70 -Ruang pengolahan dan pengemasan non
steril
Keterangan:
White area: kelas A,B,C
Grey area: Kelas D
Black area: Kelas E
Kelas A-D Steril
Kelas A digunakan untuk teknik aseptis
Kelas D digunakan untuk ruang pencucian
Kelas E digunakan untuk pengemasan

Tekanan
- beda antar kelas : 5 - 15 Pa
- Beta lactam koridor positif
- Solid  koridor positif
- Koridor (+) = koridor bersihpartikel produksi tidak keluar
- Semisolid, liquid  koridor negative
- Steril  koridor negative
- Koridor (-) = koridor kotor jumlah partikel ruang produksi harus rendah

62
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

PENAMPAK NODA PADA IDENTIFIKASI SENYAWA


Golongan Pereaksi Penampak Bercak
Alkaloid Ninhidrin
Buchardat
Dragendrof
Flavonoid Sitoborat
Terpen Asam fosfomolibdat
Fenol FeCl3
Pereaksi Umum Uap iodium, H2SO4, Vanilin sulfat

BAHAN KIMIA OBAT PADA JAMU :


Sildenafil : Obat kuat
Sibutramin : pelangsing
Siproheptadin : penggemuk badan
Deksametason : antinyeri
Metamizol : antinyeri

EKSIPIEN
Jenis Eksipien Contoh
Basis salep Hidrokarbon : Parafin, vaselin album, vaselin flavum, cera alba,
beeswax
Basis serap/anhidrat: Lanolin, adeps lanae, (w/o)
Basis dapat dicuci air: Vanishing cream, hydrofilik oitment (o/w)
Basis larut air: PEG
Basis suppo PEG, Oleum cacao, PPG, Carbowax, macro gol, gelatin, gliserol,
Catatan ; Oleum cacao disimpan di suhu dingin, PEG suhu ruang bisa
Antioksidan Butylated hyroxyaniasole (BHA), Butylated hydroxy toluena (BHT),
propil galat dan tokoferol
Pengawet/preservatif Oral: Nipagin/metil praben, nipasol/propil paraben, kitosan, natrium
benzoat, asam benzoat, asam sorbat
Parenteral: Amonium kuartener/benzalkonium klorida, klorobutanol,
kresol
Topikal: Formaldehid
Surfaktan Anionik: Natrium lauril sulfat, Natrium stearat, Natrium cetyl sulfate,
natrium mersolate
Kationik: Benzalkonium klorida, Laurylpyridinium klorida, Zehiran
klorida
Non ionik: -Lipofil : Setil alkohol, Span
-Hidrofil : Tween
Amfoter: Albumin, asam amino, lesetin, NH4 Kwartener
Suspending agent CMC, GOM, tragakan, povidone, polisorbat, span
Emulgator w/o: Lanolin, span (sorbitan ester)
o/w: tween(polisorbat), metil selulosa, tragakan
Gelling agent Karbomer (paling sering), tragakan, alginat, pectin, gelatin, povidone,
metilselulosa
Enhancer/peningkat penetrasi PEG, PPG, DMSO, Isopropil miristat, gliserin, mentol
Buffer/pengatur Ph Trietanolamin (TEA), sitrar, fosfat
Chelating agent EDTA
Wettiing agent Gliserin, PEG, PPG, setil alkohol
Thickening agent Propilen, amilum
Softener/pelembut Parafin
Anti capsloking agent/cegah Sorbitol, gliserin, PPG
kristalisasi gula di tutup botol
Pengisotonis Nacl 0,9%, Glukosa 5%

63
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Uji Evaluasi tablet


- Disolusi
S1 = 6 tab ; tidak satupun kurang dari Q + 5%
S2 = S1 + 6 tab ; tidak satupun kurang dari Q – 15%
S3 = S3 + 12 tab ; tidak ada 2 kurang dari Q – 15% atau satupun kurang dari Q – 25%
- Media disolusi
Tipe 1 (basket/keranjang) ; 100 rpm = kapsul dan suppo
Tipe 2 (paddle/dayung) ; 50 rpm = tablet, kaplet, pil
Media buffer 3 pH 1,2 (hcl) ; 4,5 (asetat) ; 6,8 (fosfat) @ 900 ml
- Laju alir (granul) : Dinyatakan baik bila 10 gram granul mengalir dalam 1 detik
- Kompresibilitas (granul) : <10 % = sangat baik, 10 – 15 % = baik, 15 – 25 % = sedang, > 40% =
buruk
- Kekerasan (hardness tester) ; 10 tab = 10 – 12 N
- Kerapuhan (friability) = < 1 %
- Ukuran (diameter) = diameter tablet tidak boleh > 3x dan tidak < 1/3 tebal tablet
- Disintegrasi = 12 tab harus hancur (jika gagal tambahan sampel 18 tab) :
Dalam air biasa < 15 min (tab non salut)
Dalam air biasa < 30 min (tab salut gula/film)
Dalam buffer asam > 60 min (salut enteric) dan seketika hancur dalam buffer basa

Sistem Suspensi
- Flokulasi = reversible, endapan terbentuk cepat
- Deflokulasi = irreversible, endapan terbentuk lambat

Permasalahan sediaan liquid


- Creamingreversible, terbentuk 2 lapisan, lapisan minyak diatas
- Koalesensi dan Crackingirreversible, globul minyak pecah
- BreakingCreaming yang irreversible
- CakingEndapan emulgator/suspending agent di bawah, irreversible.
- Inversi fasafase O/W W/O atau sebaliknya.

METODE STERILISASI
1. Panas basah = 1210C selama 15 menit , untuk zat tahan panas dan lembab, punya pelarut air. Cth :
ringer laktat, digoxin inj.
2. Panas kering = 180-2000C sealama 2-4 jam, untuk zat aktif tahan panas tanpa pelarut air. Cth : inj.
kering.
3. Filtrasi = membrane 0,22 mikron untuk zat aktif tidak tahan panas. Cth : inj. vit C, krim/salep mata
steril
4. Gas = etilen dioksida dan Bahan kimia serta radiasi sinar gamma untuk alat kesehatan steril keperluan
operasi.

UJI KLINIK – BA/BE


1. Ada 4 tahapan dalam uji klinik =
- Tahap 1 = utk menentukan keamanan /safety
- Tahap 2 = menentukan efikasi/efek terapi
- Tahap 3 = menentukan dosing (populasi sakit lebih besar)
- Tahap 4 = post market, farmakovigilans
2. BE (BIO EKIVALENSI) = UDT (UJI DISOLUSI TERBANDING)
3. BE dilakukan terhadap obat copy dengan parameter similaritas (kemiripan F2 = 50 – 100)
4. Syarat disolusi yang baik adalah kadar obat >85% melarut dalam 100 ml media dan dalam waktu < 15
menit.
5. Istilah Ekivalensi =
- Alternative Farmasetik = zat aktif sama, beda bentuk garamnya
- Ekivalen Farmasetik = ZA sama, garamnya sama
- Alternative terapetik = ZA beda, indikasi beda

64
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

ALUR PROSES PRODUKSI


1. Tablet kempa langsung
Penimbangan pengayakan pencampuran pengempaan pengemasan
2. Tablet granulasi basah
Penimbangan pengayakan pencampuran penambahan pengikat granulasi basah pengayakan
pengeringan (oven) pengayakan pengempaan pengemasan
3. Tablet granulasi kering
Penimbangan pengayakan pencampuran slugging pengayakan pengempaan pengemasan
4. Suspensi/emulsi/liquid
Penimbangan pencampuran penghalusan (colloid mill) pencampuran akhir (mixing) filling
labelling
5. Semisolid
Penimbangan pembuatan basis pencampuran filling Labeling

TIPE – TIPE ALIRAN


1. Plastis = Krim / Salep
2. Pseudoplastis = Suspensi
3. Dilatan = Pasta
4. Tiksotropik = Gel

KIMIA ANALISIS
1. Prinsip analisis terbagi menjadi 2 :
- kualitatif : organoleptis, nyala, kelarutan dsb
- kuantitatif : kadar, ppm, Rf dsb
2. Secara metode, analisis terbagi menjadi 2 : analisis volumetric (sederhana) dan analisis instrumental
(modern)
3. Analisis volumetric, memiliki prinsip kuantitatif antara lain :
- Gravimetrik, prinsip selisih berat sample sebelum/sesudah proses pengabuan, untuk menentukan
kadar abu dan susut pengeringan
- Titrasi antara lain :
a. Asidi alkalimetri, prinsip netralisasi asam-basa, untuk analisis
asam dan basa kuat.
b. Bebas air, prinsip netralisasi asam-basa, untuk analisis asam
dan basa lemah.
c. Kompleksometri, prinsip pembentukan kompleks oleh EDTA, untuk analisis logam gol IA, IIA, IIIA.
d. Pengendapan/Argentometri, prinsip perbedaan kelarutan (Ksp) antar senyawa, untuk logam golongan
VIIA = F, Cl, Br, I.
e. Redoks, prinsip perbedaan bilangan oksidasi antar senyawa,
untuk analisis vitamin.
65
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

f. Nitrimeteri, prinsip reaksi diazotasi, untuk analisis NSAID,


antibiotic, senyawa dengan gugus fungsi Nitrogen
4. Metode Pengenceran Sampel
- Kurva Kalibrasi / Eksternal Standar = metode Regresi Linier
y = ax + b
- Standar Adisi = variasi conc. sampel ditambahkan pada standar yang tetap conc. Nya.
- Internal Standar = variasi conc. standar ditambahkan pada conc. sample yang tetap. Standar yang
digunakan adalah yang mirip secara struktur dan sifat fisikokimia.
Analisis Instrumental dengan prinsip kuantitatif dan kualitatif
- Spektrofotometer UV/VIS
a. Prinsip : absorbansi spectrum maksimum pada lamda 200 nm (UV) atau 200 – 800 (Vis)
b. Kegunaan untuk analisis senyawa tunggal cth tab ibuprofen 500 mg
c. Parameter = lambda max (kualitatif) dan absorbansi max
(kuantitatif)
- Spektrofotometer FTIR
a. Prinsip = energy rotasi, vibrasi dan translasi dari gugus fungsi senyawa.
b. Kegunaan untuk menentukan gugus fungsi suatu senyawa (kualitatif)

66
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Interpretasi Spektrum IR

Hidrokarbon

67
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

Karbonil

Asam Karboksilat

Amina

Amina primer dan sekunder : pelebaran pita serapan karena ikatan hidrogen
Amida : serupa amina, ditambah C=O
68
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

- Spektrofotometer Serapan Atom (AAS/AES)


a. Prinsip : intensitas radiasi dan eskitasi logam
b. Kegunaan untuk analisis logam tunggal cth NaCl infus
(kuantitatif)
- KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi)/ HPLC
a. Prinsip : polaritas senyawa dan ikatan fase gerak
b. Kegunaan untuk analisis senyawa kompleks lebih dari 2
senyawa cth tab Rhinos, ekstrak jamu dsb
c. Parameter = resolusi (kualitatif) dan luas area dibawah kurva
AUC (kuantitatif)
- Kromatografi Gas
a. Prinsip : perbedaan titik didih dan volatilitas senyawa
b. Kegunaan untuk analisis kuantitatif senyawa yang mudah
menguap cth minyak atsiri, alcohol, eter.
- Kromatografi Lapis Tipis
a. Prinsip : sama seperti KCKT
b. Kegunaan untuk analisis kuantitatif (mencari Rf) pada senyawa
- Elektroforesis
a. Prinsip : pemisahan berdasarkan muatan listrik molekul
b. Kegunaan untuk analisis asam amino dan protein
FARMASI BAHAN ALAM
1. Uji Warna
- Alkaloid = mayer (endapan putih), dragendorf (endapan coklat), bouchardat (endapan orange)
- Tanin = FeCl3 (endapan hitam/ungu)
- Flavanoid = AlCl3 (endapan merah)
- Terpenoid/steroid = Liebermand (endapan biru-hijau)
2. Metode Ekstraksi
- Cara dingin, utk senyawa termolabil = maserasi (direndam dalam pelarut) dan perkolaso (dialirkan oleh
pelarut)
- Cara panas, untuk senyawa yang termostabil = reflux (kondensasi pelarut), destilasi (untuk senyawa
yang volatile), sokletasi (penyaringan berulang).

Metode Analisis Senyawa


Metode Prinsip Keterangan
Gravimetri Perbedaan bobot tetap saat ditimbang Umumnya pada analisis kadar abu dan
susut pengeringan
Titrasi bebas air Reaksi asam basa yang dapat diganggu Analisis asam dan basa lemah
oleh adanya air basa kuat dg asam lemah atau asam
kuat(HclO4/asam perporat dg basa lemah (tiamin
hcl/B1)
Nitrimetri Reaksi diazotasi menimbulkan Analisis nitrit dan senyawa turunan
perubahan warna baku sekunder NaNo2 ( snya sulfanilamid
amin primer cth kloramfenicol INH, Sulfa)
Kompleksometri Reaksi kompleks antara EDTA sehingga Analisis logam valensi 2 dan 3
menimbulkan warna Baku senkunder Na2 EDTA CaCl2 dalam Ringer laktat
(snywa : logam kalisum laktat).
Redoks Reaksi redoks dalam larutan Analisis serimetri (Ce),
Iodi: langsung dititrasi I2 permanganometri, iodo-iodimetri
Iodo:tak langsung kelebihan dititrasi Na2S2O3
Titrasi pengendapan Kelarutan senyawa hasil reaksi yang mudah Analisis argentometri untuk kadar
mengendap NaCl
Aside-alkalimetri Reaksi asam basa yang tidak diganggu Analisis basa dan asam kuat
Air penetralan asam basa
Argentometri Ada 4 metode;
Mort
Volhard
Ag NO3 senywa garam2 yang memliki Hcl (tamin Hcl)
69
MODUL BELAJAR
UKAI SPIRIT
SEMANGAT UKAI 2022

KUMPULAN RUMUS PHARMACEUTICAL INDUSTRI

𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 Berat awal − Berat setelah diuji


Rendemen Ekstrak = 𝑥 100% % Kerapuhan = x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 Berat awal

ρ zat lain 3 𝑥 𝑆𝐷
Rumus BJ = LOD = % Kompresibilitas =
Vol awal − vol setelah diketuk
x 100%
ρair 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑙𝑜𝑝𝑒 (𝑏) volume setelah diketuk

𝐴𝑈𝐶 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑖𝑣 Berat granul basah − Berat granul kering


Bioavailabilitas absolut = % kadar air = x 100%
𝐴𝑈𝐶 𝑖𝑣 𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 Berat granul basah

Konsentrasi Garam
𝑝𝐻 𝑑𝑎𝑝𝑎𝑟 = 𝑝𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 Berat granul basah − Berat granul kering
Konsentrasi Asam % MC = x 100%
Berat granul kering

dial reading (dyne)


𝛾= x 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖
2 x keliling cincin Ekivalensi NaCl = [0,9% x Vol (ml)] – (W x E)
W = bobot zat aktif
100 E = ekivalensi zat thd NaCl
% terionisasi =
1+10^(pKa – pH)
0,52−(𝑃𝑇𝐵 𝑧𝑎𝑡 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑓 𝑥 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 (%𝑏/𝑣)
HLB % PTB =
0,58
(B1 x HLB1) + (B2 X HLB2) = (Bcam x HLBcam)
Hukum Lambert Beer :
Resolusi : R =
2 (𝑡𝑅2−𝑡𝑅1)
KLT : Rf =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎 (𝑐𝑚) A=εbc
(𝑊1+𝑊2) 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 (𝑐𝑚) Keterangan :
A = Absorbansi atau nilai serapan
Kadar Titrasi ε = koefisien ekstingsi molar (M-1 cm-1)
𝑁 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑉 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀𝑟 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
b = tebal kuvet (cm)
% kadar = 𝑥 100% c = konsentrasi zat (M)
1000 𝑥 𝑉 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛


Indeks polaritas = 𝑥 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑝𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛

𝑅𝑜𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑂𝑝𝑡𝑖𝑠 1 𝑀𝑆𝐷 𝑥 10^6 𝑚𝑔


Rotasi Jenis = MACO = x
𝑆𝐹 𝑀𝐷𝐷 𝑘𝑔
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑥 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖
Keterangan :
SF = Safety Factor
Perhitungan kadar menggunakan spektro UV/Vis MSD = Minimum Single Dose dari produk yang
Konsentrasi =
Absorban sampel
x konsentrasi x Faktor pengenceran harus dihilangkan
absorban baku MDD = Maximum Daily Dose dari produk
berikutnya x berat unit dosis dalam mg
106 = faktor konversi (mg → kg)

Jumlah koloni bakteri ALT


𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑛𝑖 Penentuan jumlah sampling
N= (0,1 o Pola n = 1 + √N
((1 𝑥 𝑛1)+ 𝑥 𝑛2))𝑥 𝑑
Keterangan Sampel diperkirakan
n1 : jumlah cawan pada pengenceran pertama yang dihitung homogen dan pemasok
n2 : jumlah cawan pada pengenceran kedua yang dihitung disetujui, pembuatan kebawah
d : pengenceran pertama yang dihitung o Pola p = 0,4 √ N
Syarat: yang dapat dihitung cawan yang mengandung 30-300 koloni saja
Untuk pengujian identitas,
pembulatan keatas
o Pola r = 1,5 √N
Sampel tidak homogen,
pemasok tidak terkualifikasi,
biasanya digunakan untuk
sampel bahan alam
70