Anda di halaman 1dari 56

BAB 1

INSTALASI PENERANGAN LISTRIK (IPL)


MENURUT PERATURAN UMUM INSTALASI LISTRIK (PUIL)

A. Keselamatan Kerja
Pemasangan instalasi listrik, biasanya rawan terhadap terjadinya kecelakaan.
Kecelakaan bisa timbul akibat adanya sentuh langsung dengan penghantar beraliran arus
atau kesalahan dalam prosedur pemasangan instalasi. Oleh karena itu perlu diperhatikan
hal-hal yang berkaitan dengan bahaya listrik serta tindakan keselamatan kerja. Bebrapa
penyebab terjadinya kecelakaan listrik diantaranya:
? Kabel atau hantaran pada instalasi listrik terbuka dan apabila tersentuh akan
menimbulkan bahaya kejut.
? Jaringan dengan hantaran telanjang
? Peralatan listrik yang rusak
? Kebocoran lsitrik pada peralatan listrik dengan rangka dari logam, apabila terjadi
kebocoran arus dapat menimbulkan tegangan pada rangka atau body
? Peralatan atau hubungan listrik yang dibiarkan terbuka
? Penggantian kawat sekring yang tidak sesuai dengan kapasitasnya sehingga dapat
menimbulkan bahaya kebakaran
? Penyambungan peralatan listrik pada kotak kontak (stop kontak) dengan kontak
tusuk lebih dari satu (bertumpuk).

Contoh langkah-langkah keselamatan kerja berhubungan dengan peralatan listrik,


tempat kerja, dan cara-cara melakukan pekerjaan pemasangan instalasi lisrik dapat diikuti
pentunjuk berikut:
1. Menurut PUIL ayat 920 B6, beberapa ketentuan peralatan listrik diantaranya :
a) Peralatan yang rusak harus segera diganti dan diperbaiki. Untuk peralatan
rumah tangga seperti sakelar, fiting, kotak-kontak, setrika listrik, pompa
listrik yang dapat mengakibatkan kecelakaan listrik.
b) Tidak diperbolehkan:
? Mengganti pengaman arus lebih dengan kapasitas yang lebih besar
? Mengganti kawat pengaman lebur dengan kawat yang kapasitasnya
lebih besar
? Memasang kawat tambahan pada pengaman lebur untuk menambah daya
c) Bagian yang berteganagan harus ditutup dan tidak boleh disentuh seperti
terminal-terminal sambungan kabel, dan lain-lain
d) Peralatan listrik yang rangkaiannya terbuat dari logam harus ditanahkan

2. Menurut PUIL ayat 920 A1, tentang keselamatan kerja berkaitan dengan tempat
kerja, diantaranya :
a) Ruangan yang didalamnya terdapat peralatan lsitrik terbuka, harus diberi
tanda peringatan “ AWAS BERBAHAYA”
b) Berhati-hatilah bekerja dibawah jaringan listrik
c) Perlu digunakan perelatan pelindung bila bekerja di daerah yang rawan
bahaya listrik
3. Pelaksanaan pekerjaaan instalasi listrik yang mendukung pada keselamatan
kerja, antara lain :
a) Pekerja instalasi listrik harus memiliki pengetahuan yang telah ditetapkan
oleh PLN (AKLI)
b) Pekerja harus dilengkapi dengan peralatan pelindung seperti : Baju
pengaman (lengan panjang, tidak mengandung logam, kuat dan tahan
terahadap gesekan), Sepatu, Helm, Sarung tangan.
c) Peralatan (komponen) listrik dan cara pemasangan instalasinya harsus
sesuai dengan PUIL.
d) Bekerja dengan menggunakan peralatan yang baik
e) Tidak memasang tusuk kontak secara bertumpuk
f) Tidak boleh melepas tusuk kontak dengan cara menarik kabelnya, tetapi
dengan cara memegang dan menarik tusuk kontak tersebut.

B. Peraturan
Sistem penyaluran dan cara pemasangan instalasi listrik di Indonesian harus
mengikuti aturan yang ditetapkan oleh PUIL (Peraturan umum Instalasi Listrik) yang
diterbitkan tahun 1977, kemudian direvisi tahun 1987 dan terakhir tahun 2000. Tujuan dari
Peraturan umum Instalasi Listrik di Indonesia adalah:
? Melindungi manusia terhadap bahaya sentuhan dan kejutan arus listrik.
? Keamanan instalasi dan peralatan listrik.
? Menjaga gedung serta isinya dari bahaya kebakaran akibat gangguan listrik.
? Menjaga ketenagaan listrik yang aman dan efisien.

Agar energi listrik dapat dimanfaatkan secara aman dan efisien, maka ada syarat-
syarat yang harus dipatuhi oleh pengguna energi listrik. Peraturan instalasi listrik terdapat
dalam buku Peraturan Umum Instalasi Listrik atau yang seing disingkat dengan PUIL. Di
mulai dari tahun 2000, kemudian direviri tahun 1987, dan direvisi lagi tahun 2000 dan
terakhir direvisi tahun 2011. Sistem instalasi listrik yang dimulai dari sumber listrik
(tegangan, frekwensi), peralatan listrik, cara pemasangan, pemeliharaan dan keamanan,
sudah diataur dalam PUIL. Jadi setiap perencana instalasi listrik, instalatir (pelaksana),
Operator, pemeriksa dan pemakai jasa listrik wajib mengetahui dan memahami Peraturan
Umum Instalasi listrik (PUIL).

PUIL tidak berlaku bagi beberapa sistem intalasi listrik tertentu seperti :
? Bagian instalasi tegangan rendah untuk menyalurkan berita atau isyarat.
? Instalasi untuk keperluan telekomunikasi dan instalasi kereta rel listrik.
? Instalasi dalam kapal laut, kapal terbang, kereta rel listrik, dan kendaraan yang
digerakan secara mekanis.
? Instalasi listrik pertambangan di bawah tanah.
? Instalasi tegangan rendah tidak melebihi 25 V dan daya kurang dari 100 W.
? Instalasi khusus yang diawasi oleh instansi yang berwenang (misalnya :
instalasi untuk telekomunikasi, pengawasan, pembangkitan, transmisi, distribusi
tenaga listrik untuk daerah wewenang instansi kelistrikan tersebut).

Pada ayat 103 A1 dari PUIL merupakan peraturan lain yang berkaitan dengan
instalasi listrik, yakni :
1. Undang-Undang No. 1 tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja.
2. Peraturan Bangunan Nasional.
3. Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1972, tentang Perusahaan Listrik Negara.
4. Peraturan lainnya mengenai kelistrikan yang tidak bertentangan dengan PUIL.

Suatu peralatan listrik boleh dipergunakan untuk instalasi apabila :


? Memenuhi ketentuan-ketentuan PUIL 2000.
? Telah mendapat pengesahan atau izin dari instansi yang berwenang (ayat 202 A2)

Berdasarkan ketentuan PUIL 2000 ayat 202 B: semua instalasi yang selesai dipasang
sebelum dipergunakan harus diperiksa dan diuji lebih dahulu. Menurut ayat 110 T16,
tegangan dibagi menjadi :
1. Tegangan rendah (sampai 1000 V)
2. Tegangan Menengah (1000 V – 20 kV)
3. Tegangan Tinggi (di atas 20 kV)

C. Pengujian Peralatan Listrik


Di negara kita semua peralatan listrik sebelum digunakan oleh konsumen harus
melalaui uji kelayakan. Menurut ayat 202 A2 semua peralatan listrik yang akan
dipergunakan instalasi harus memenuhi ketentuan PUIL. Di Indonesia peralatan listrik
diuji oleh suatu lembaga dari Perusahaan Umum Listrik Negara, yaitu Lembaga Masalah
Kelistrikan disingkat LMK.

Gambar 1.1 Tanda Persetujuan Pengujiam dari LMK


Peralatan listrik yang mutunya diawasi oleh LMK dan disetujui, diizinkan untuk
memakai tanda LMK. Bahan yang berselubung bahan termoplastik, misalnya berselubung
PVC, tanda ini dibuat timbul dan diletakan pada selubung luar kabel. Lambang persetujuan
ini dipasang pada kabel yang berselubung PVC, misalnya kabel NYM. Sedangkan unruk
kabel yang kcelil seperti NYA, lambang persetujuan dari LMK berupa kartu yang
ditunjukan pada gambar 1.2.

Gambar 1.2 Tanda Persetujuan Pengujiam dari LMK


Di negara kita peralatan listrik yang telah diawasi mutu produksinya oleh LMK
baru kabel-kabel buatan dalam negeri.

D. Syarat Pemasangan Instalasi Rumah/Gedung


Selain menguasai peraturan dan memiliki pengetahuan tentang peralatan instalasi,
seorang ahli listrik juga harus mahir membaca gambar instalasi. Denah ruangan yang akan
dilengkapi dengan instalasi pada umumnya digambar dengan skala 1 : 100 atau 1 : 50. Pada
denah ini gambar instalasi yang akan dipasang menggunakan lambang yang berlaku.
Pemasangan instalasi listrik penerangan dan tenaga untuk rumah/gedung terlebih
dahulu harus melihat gambar-gambar rencana instalasi yang sudah dibuat oleh perencana
berdasarkan denah rumah/bangunan dimana instalasinya akan dipasang. Selain itu juga
spesifikasi dan syarat-syarat pekerjaan yang diterima dari pemilik bangunan/rumah, dan
syarat tersebut tidak terlepas dari peraturan yang harus dipenuhi dari yang berwajib ialah
yang mengeluarkan peraturan yaitu PLN setempat.

1. Syarat-syarat pekerjaan instalasi rumah /gedung


a. Gambar situasi untuk menyatakan letak bangunan, dimana instalasinya akan
dipasang serta rencana penyambungannya dengan jaringan PLN.
b. Gambar instalasi
Rencana penempatan semua peralatan listrik yang akan dipasang dan sarana
pelayanannya, misalnya titik lampu, saklar dan kotak kontak, panel hubung bagi,
data teknis yang penting dari setiap peralatan listrik yang akan dipasang
c. Rekapitulasi
Rekapitulasi atau perhitungan jumlah dari komponen yang diperlukan antara lain:
? Rekapitulasi material dan harga
? Rekapitulasi daya atau skema bagan arusnya
? Rekapitulasi tenaga dan biaya
BAB II

DASAR-DASAR INSTALASI LISTRIK

A. Pendahuluan
Dari masa ke masa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan
teknologi, manusia menghendaki kehidupan yang lebih nyaman. Bagi masyarakat modern,
energi listrik merupakan kebutuhan primer. Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-
hari energi listrik bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga, antara lain penerangan
lampu, pompa air, pendingin lemari es / freezer, pengkondisi udara dingin, kompor listrik,
mesin kopi panas, dispenser, setrika listrik, TV, dan sebagainya.
Hampir setiap bangunan membutuhkan energi listrik seperti sekolah / kampus,
perkantoran, rumah sakit, hotel, restoran, mall, supermarket, terminal, stasiun, pelabuhan,
bandara, stadion, Industri, dan sebagainya. Namun, akibat listrik juga dapat
membahayakan manusia maupun lingkungannya seperti tersengat listrik atau kebakaran
karena listrik. Di Indonesia, penyedia energi listrik dikelola pengusaha ketenagalistrikan
(PT. PLN), dan pelaksana instalasinya dikerjakan oleh instalatir.
Energi listrik dari pembangkit sampai ke pemakai / konsumen listrik disalurkan
melalui saluran transmisi dan distribusi yang disebut instalasi penyedia listrik. Sedangkan
saluran dari alat pembatas dan pengukur (APP) sampai ke beban disebut instalasi
pemanfaatan tenaga listrik.
Agar pemakai / konsumen listrik dapat memanfaatkan energi listrik dengan aman,
nyaman dan kontinyu, maka diperlukan instalasi listrik yang perencanaan maupun
pelaksanaannya memenuhi standar berdasarkan peraturan yang berlaku.

B. Sejarah Penyediaan Tenaga Listrik


Energi listrik adalah salah satu bentuk energi yang dapat berubah ke bentuk energi
lainnya. Sejarah tenaga listrik berawal pada januari 1882, ketika beroperasinya pusat
tenaga listrik yang pertama di London Inggris. Kemudian pada tahun yang sama, bulan
September juga beroperasi pusat tenaga listrik di New York city, Amerika. Keduanya
menggunakan arus searah tegangan rendah, sehingga belum dapat mencukupi kebutuhan
kedua kota besar tersebut, dan dicari sistem yang lebih memadai.
Pada tahun 1885 seorang dari prancis bernama Lucian Gauland dan John Gibbs dari
Inggris menjual hak patent generator arus bolak-balik kepada seorang pengusaha bernama
George Westinghouse. Selanjutnya dikembangan generator arus bolak-balik dengan
tegangan tetap, pembuatan transformator dan akhirnya diperoleh sistem jaringan arus
bolak-balik sebagai transmisi dari pembangkit ke beban/pemakai. Sejarah penyediaan
tenaga listrik di
Indonesia dimulai dengan selesai dibangunnya pusat tenaga listrik di Gambir, Jakarta
(Mei 1897), kemudian di Medan (1899), Surakarta (1902), Bandung (1906), Surabaya
(1912), dan Banjarmasin (1922).
Pusat-pusat tenaga listrik ini pada awalnya menggunakan tenaga thermis. Kemudian
disusul dengan pembuatan pusat-pusat listrik tenaga air : PLTA Giringan di Madiun
(1917), PLTA Tes di Bengkulu (1920), PLTA Plengan di Priangan (1922), PLTA Bengkok
dan PLTA Dago di Bandung (1923). Sebelum perang dunia ke-2, pada umumnya
pengusahaan listrik di Indonesia diolah oleh perusahaanperusahaan swasta, diantaranya
yang terbesar adalah NIGEM (Nederlands Indische Gas en Electriciteits Maatschappij)
yang kemudian menjelma menjadi OGEM (Overzese Gas en Electriciteits Maatschappij),
ANIEM (Algemene Nederlands Indhische Electriciteits Maatschappij), dan GEBEO
(Gemeen Schappelijk Electriciteits Bedrijk Bandung en Omsheken).

C. Tahapan Penyaluran Energi Listrik


Perjalanan energi listrik dari sumber yang dikelola oleh PLN hingga ke konsumen
dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahapan ini berguna untuk meredukasi tegangan
sehingga tegangan yang diterima oleh Instalasi Listrik konsumen sesuai dengan kebutuhan.
Perjalanan energi listrik disalurkan melalui saluran transmisi dan distribusi yang disebut
instalasi penyedia listrik. Agar sampai ke beban, listrik disalurkanmelalui APP (Alat
Pengukur dan Pembatas) yang disebut instalasi pemanfaatan tenaga listrik.

Gambar 2.1 Saluran Energi Listrik dari Pembangkit Kepemakai (Konsumen)


Keterangan :
G : Generator TT : Jaringan tegangan tinggi
GI : Gardu Induk TM : Jaringan tegangan
GH : Gardu Hubung menengah
GD : Gardu Distribusi TR : Jaringan tegangan rendah
APP : Alat Pengukur dan
Pembatas

Dari gambar 2.1 bahwa lisrik yang dibangkitkan melalui pembangkit listrik tenaga
air atau uap sebagai sumber energ mekanik berfungsi untuk memutar Generator (G)
sehingga menghasilkan listrik. Generator sebagai pembangkit umumnya relatif rendah,
yaitu 6 kV – 24 kV. Dari generator ini kemudian disalurkan kembali ke Gardu Induk (GI).
Di GI tegangan dinaikan menggunakan trafo Step Up menjadi 30 kV – 500 kV. Selain
bertujuan untuk memperbesar daya hantar saluran, peningkatan tegangan ini juga dapat
memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran. Melalui jaringan Tegangan Tinggi
(TT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) listrik disalurkan dari GI
menuju GI berikutnya. Di GI terjadi penurunan tegangan mengunakan trafo step down
yaitu dari 500 kV diturunkan ke 150 kV atau 150 kV ke 75 kV. Dari GI, listrik kembali
disalurkan melalui Tegangan Menengah (TM) atau Jaringan Tegangan Menengah (JTM)
atau bisa langsung ke Gardu Distribusi (GD) dengan kapasitas daya listrik sebesar 150 kV
diturunkan ke 20 kV atau 70 kV diturunkan ke 20 kV. Dari GD ini lah listrik dapat
disalurkan kekonsumen rumah tangga melalui Tegangan Rendah (TR) atau Jaringan
Tegangan Rendag (JTR). Dari TR atau JTRlistrik masuk ke konsumen melalui Alat
Pengukur dan Pembatas (APP) seanjutnya menujuke beban.
Gambar 2.2 Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik
Keterangan :
G = Generator / Pembangkit Tenaga Listrik
GI = Gardu Induk
GH = Gardu Hubung
GD = Gardu Distribusi
TT = Jaringan Tegangan Tinggi
TM = Jaringan Tegangan Menengah
TR = Jaringan Tegangan Rendah
APP = Alat Pengukur dan Pembatas
Instalasi dari pembangkitan sampai dengan Alat Pengukur dan Pembatas (APP) disebut
Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik.
Dari mulai APP sampai titik akhir beban disebut Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik.
Standarisasi daya tersambung yang disediakan oleh pengusaha ketenagalistrikan (PT.
PLN) berupa daftar penyeragaman pembatasan dan pengukuran dengan daya tersedia untuk
tarif S-2, S-3, R-1, R-2, R-4, U-1, U-2, G-1, I-1, I-2, I-3, H-1 dan H-2 pada jaringan
distribusi tegangan rendah. Sedangkan daya tersambung pada tegangan menengah, dengan
pembatas untuk tarif S-4, SS-4, I-4, U-3, H-3 dan G-2 adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Golongan daya Listrik PLN
Golongan Sistem
No Penjelasan Batas Daya
Tarif Tegangan
1. S–1 Pemakai sangat kecil TR s/d 200 VA
2. S–2 Badan sosial kecil TR 250 VA s/d 2200VA
3. S–3 Badan sosial sedang TR 2201 VA s/d 200 kVA
4. S–4 Badan sosial besar TM 201 Kva KEATAS
Badan sosial besar dikelola
5. S–4 TM 201 Kva KEATAS
swasta untuk komersial
6. R–1 Rumah tangga kecil TR 250 VA s/d 500 VA
7. R–2 Rumah tangga sedang TR 501 VA s/d 2200 VA
8. R–3 Rumah tangga menengah TR 2201 VA s/d 6600 VA
9. R–4 Rumah tangga besar TR 6601 VA KEATAS
10. U–1 Usaha Kecil TR 250 VA s/d 2200 VA
11. U–2 Usaha Sedang TR 2201 VA s/d 200 kVA
12. U–3 Usaha Besar TM 201 kVA keatas
13. U–4 Sambungan Sementara TR
14. H–1 Perhotelan Kecil TR 250 VA s/d 99 kVA
15. H–2 Perhotelan Sedang TR 100 kVA s/d 200 kVA
16. H–3 Perhotelan Besar TM 201 kVA keatas
17. I–1 Industri Rumah Tangga TR 450 VA s/d 2200 VA
18. I–2 Industri Kecil TR 2201 VA s/d 13,9 kVA
19. I–3 Industri Sedang TR 14 kVA s/d 200 kVA
20. I–4 Industri Menengah TM 201 Kva KEATAS
21. I–5 Industri Besar TT 30.000 kVA keatas
Gedung Pemerintahan
22. G–1 TR 250 VA s/d 200 kVA
kecil/sedang
23. G–2 Gedung Pemerintahan Besar TM 201 Kva KEATAS
24. J Penerangan Umum TR

Selain oleh PLN, listrik juga dapat dibangkitkan menggunakan Genset. Genset
umumnya digunakan jika listrik dari PLN mengalami ganguan. Listrik yang dibangkitkan
oleh genset kemudian dialirkan ke panel listrik, lalu ke setiap titik – titik energi dalam
bangunan seperti kotak kontak dan fiting lampu. Dilihat dari cara instalasinya, sistem
jaringan listrik AC terbagi menjadi dua bagian diantaranya adalah Jaringan Listrik 1 fasa
dan Jaringan Listrik 3 fasa. Instalasi listrik pada rumah tinggal adalah suatu
sistem/rangkaian yang digunakan untuk menyalurkan daya listrik ke lampu atau alat-alat
listrik yang lain sebagai penunjang aktivitas rumah tangga sehari-hari. Instalasi listrik
dibagi menjadi dua bagian, yaitu.
1. Instalasi Penerangan listrik adalah seluruh instalasi yang digunakan untuk
memberi daya listrik pada lampu. Daya listrik/tenaga ini diubah menjadi cahaya.
2. Instalasi Tenaga listrik adalah instalasi listrik yang digunakan untuk
menjalankan alat-alat elektrik selain lampu seperti mesin cuci, setrika, televisi, dan
lain-lain.

D. Peranan Listrik Bagi Konsumen


Dari sumber yang dikelola oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara), listrik dapat
dinikmati oleh konsumennya. Konsumen listrik di Indonesia dengan sumber dari PLN atau
Perusahaan swasta lainnya dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Konsumen Rumah Tangga
Kebutuhan daya listrik untuk rumah tangga antara 450VA s.d. 4400VA, secara
umum menggunakan sistem 1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V dan
jumlahnya sangat banyak.
2. Penerangan Jalan Umum (PJU)
Pada kota-kota besar penerangan jalan umum sangat diperlukan oleh karena
bebannya berupa lampu dengan masing-masing daya tiap lampu/tiang antara 50VA
s.d. 250VA bergantung pada jenis jalan yang diterangi, maka sistem yang digunakan
1 fasa dengan tegangan rendah 220V / 380V.
3. Konsumen Pabrik
Jumlahnya tidak sebanyak konsumen rumah tangga, tetapi masing-masing pabrik
dayanya dalam orde kVA. Penggunaannya untuk pabrik yang kecil masih
menggunakan sistem 1 fasa tegangan rendah (220V / 380V), namun untuk pabrik-
pabrik yang besar menggunakan sistem 3 fasa dan saluran masuknya dengan jaringan
tegangan menengah 20kV.
4. Konsumen Komersial
Yang dimaksud konsumen komersial antara lain stasiun, terminal, KRL (Kereta Rel
Listrik), hotel-hotel berbintang, rumah sakit besar, kampus, stadion olahraga, mall,
hypermarket, apartemen. Rata-rata menggunakan sistem 3 fasa, untuk yang
kapasitasnya kecil dengan tegangan rendah, sedangkan yang berkapasitas besar
dengan tegangan menengah.
BAB III

KOMPONEN INSTALASI LISTRIK

Akhiir dari saluran transmisi adalah saluran masuk pelayan ke dalam suatu gedung atau
bangunan. Gedung atau bangunan tersebut merupakan penguna listrik. Adapun komponen
atau peralatan utama kelistrikan pada gedung atau bangunan terdiri dari APP, PHB,
Komponen Instalasi dan Beban.

Gambar 3.1 Diagram satu garis sambungan tenaga listrik tegangan menengah

A. Alat Pengukur dan Pembatas (APP)


Untuk mengetahui besarnya tenaga listrik yang digunakan oleh pemakai / pelanggan
listrik (untuk keperluan rumah tangga, sosial, usaha/bangunan komersial, gedung
pemerintah dan instansi), maka perlu dilakukan pengukuran dan pembatasan daya listrik
(APP). APP merupakan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab pengusaha
ketenagalistrikan (PT. PLN), sebagai dasar dalam pembuatan rekening listrik. Adapun alat
ukur / instrumen yang digunakan adalah alat pengukur : Kwh, KVARh, KVA maksimum,
arus listrik dan tegangan listrik. Dengan sistem pengukurannya ada dua macam, yaitu :
? Pengukuran primer atau juga disebut pengukuran langsung, terdiri dari pengukuran
primer satu fasa untuk pelanggan dengan daya dibawah 6.600VA pada tegangan
220V / 380V, dan pengukuran primer tiga fasa untuk pelanggan dengan daya diatas
6.600V sampai dengan 33.000VA pada tegangan 220V / 380V.
? Pengukuran sekunder tiga fasa atau disebut juga pengukuran tak langsung
(menggunakan trafo arus) digunakan pada pelanggan dengan daya 53KVA sampai
dengan 197KVA.
Sedangkan yang dimaksud dengan pembatasan adalah pembatasan untuk menentukan
batas pemakaian daya sesuai dengan daya tersambung. Alat pembatas yang digunakan
adalah:
? Pada sistem tegangan rendah sampai dengan 100A digunakan MCB dan diatas
100A digunakan MCCB; pelebur tegangan rendah; NFB yang bisa disetel.
? Pada sistem tegangan menengah biasanya digunakan pelebur tegangan menengah
atau rele.
Gambar 3.2 Kwh meter satu fasa analog dan digital

Penyambungan dengan Code 1010 atau 1010-00 berarti :


(1) : penghitung dengan daya nyata arus bolak-balik
satu fasa
(2) : tanpa bagian tambahan
(3) : untuk sambungan dengan trafo arus
(4) : tanpa bagian tambahan pada penghitung daya
maksimum dengan piringan putar
Gambar 3.3 Rangkaian Kwh meter satu fasa dengan trafo arus

Penyambungan dengan Code 2000 atau 2000-00 berarti :


(2) : penghitung daya nyata arus bolak-balik dua fasa
(0) : tanpa bagian tambahan
(0) : untuk sambungan tetap
(0) : tanpa bagian tambahan pada penghitung
daya maksimum dengan piringan putar

Gambar 3.4 Rangkaian Kwh dua fasa dengan sambungan tetap

Gambar 3.5 Kwh meter tiga fasa analog dan digital

Gambar 3.6 Rangkaian Kwh tiga fasa dengan trafo arus dan trafo tegangan
Penyambungan dengan Code 3020 atau 3020-00 berarti :
(3) : penghitung daya nyata arus bolak-balik tiga fasa
(0) : tanpa bagian tambahan
(2) : untuk sambungan dengan trafo arus dan trafo tegangan
(0) : tanpa bagian tambahan pada penghitung daya maksimum dengan piringan putar

Tabel 3.1 Standar Daya PLN


Langganan tegangan rendah sistem 220V/380V
220 Volt satu fasa
380 Volt tiga fasa
Daya Tersambung Pembatas Arus
Pengukuran
(VA) (A)
450 1x2 Alat ukur kwh meter satu fasa
900 1x4 220V dua kawat
1.300 1x6
2.200 1 x 10
3.500 1 x 16
4.400 1 x 20
3.900 3x6
6.600 3 x 10
10.600 3 x 16
13.200 3 x 20
16.500 3 x 25
23.000 3 x 35
33.000 3 x 50
41.500 3 x 63
53.000 3 x 80 Alat ukur kwh meter tiga fasa
66.000 3 x 100 380V empat kawat
82.000 3 x 125
105.000 3 x 160 Alat ukur kwh meter tiga fasa
131.000 3 x 200 380V empat kawat dengan
147.000 3 x 225 trafo arus tegangan rendah
164.000 3 x 250
197.000 3 x 300
233.000 3 x 353
279.000 3 x 425 Tarif tegangan rendah diatas
329.000 3 x 500 200kVA hanya disediakan
414.000 3 x 630 untuk tarif R-4
526.000 3 x 800
630.000 3 x 1.000

Konsumen listrik tidak diperbolehkan mengambil listrik secara langsung tanpa


melalui APP. PENGAMBILAN TANPA MELALUI APP TERMASUK
PELANGARAN HUKUM (PENCURIAN LISTRIK). Selain itu, Pencurian listrik ini
juga berbahaya karena kekuatan daya listrik sebelum direduksi oleh APP sangatlah tinggi
sehingga membuat seseorang bisa kehilangan nyawanya jika tersengat daya listrik ini.

B. Panel Hubung Bagi (PHB)


PHB adalah panel hubung bagi / papan hubung bagi / panel berbentuk lemari
(cubicle), yang dapat dibedakan sebagai :
? Panel Utama / MDP : Main Distribution Panel
? Panel Cabang / SDP : Sub Distribution Panel
? Panel Beban / SSDP : Sub-sub Distribution Panel
Untuk PHB sistem tegangan rendah, hantaran utamanya merupakan kabel feeder dan
biasanya menggunakan NYFGby.
Di dalam panel biasanya busbar / rel dibagi menjadi dua segmen yang saling berhubungan
dengan saklar pemisah, yang satu mendapat saluran masuk dari APP (pengusaha
ketenagalistrikan) dan satunya lagi dari sumber listrik sendiri (genset). Dari kedua busbar
didistribusikan ke beban secara langsung atau melalui SDP dan atau SSDP. Tujuan busbar
dibagi menjadi dua segmen ini adalah jika sumber listrik dari PLN mati akibat gangguan
ataupun karena pemeliharaan, maka suplai ke beban tidak akan terganggu dengan adanya
sumber listrik sendiri (genset) sebagai cadangan.
Peralatan pengaman arus listrik untuk penghubung dan pemutus terdiri dari :
1. Circuit Breaker (CB)
? MCB (Miniatur Circuit Breaker)
? MCCB (Mold Case Circuit Breaker)
? NFB (No Fuse Circuit Breaker)
? ACB (Air Circuit Breaker)
? OCB (Oil Circuit Breaker)
? VCB (Vacuum Circuit Breaker)
? SF6CB (Sulfur Circuit Breaker)
2. Sekering dan pemisah
? Switch dan Disconnecting Switch (DS)
3. Peralatan tambahan dalam PHB antara lain :
? Rele proteksi
? trafo tegangan, trafo arus
? alat-alat ukur besaran listrik : amperemeter, voltmeter, frekuensi meter, cos ij meter
? lampu-lampu tanda
? dll
Untuk PHB sistem tegangan menengah, terdiri dari tiga cubicle yaitu satu cubicle
incoming dan cubicle outgoing. Hantaran masuk merupakan kabel tegangan menengah dan
biasanya dengan kabel XLPE atau NZXSBY. Saluran daya tegangan menengah ditransfer
melalui trafo distribusi ke LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel). Pengaman
arus listriknya terdiri dari sekering dan LBS (Load Break Switch).

Gambar 3.7 Cubcicle


Gambar 3.8 Diagram satu garis instalasi listrik pada bangunan / gedung Tegangan Rendah

C. Komponen Pokok Instalasi Listrik


Komponen instalasi listrik merupakan perlengkapan yang paling pokok dalam suatu
rangkaian instalasi listrik. Dalam pemasangan instalasi listrik banyak macamnya, untuk
memudahkan bagi siswa / instalatir komponen tersebut dikelompokan :
1. Bahan Penghantar
2. Pengaman
3. Saklar
4. Kotak Kontak
5. Fiting Lampu
6. Lampu Penerangan
7. Peralatan Pelindung Hantaran Listrik
Komponen instalasi listrik yang akan dipasang pada instalasi listrik , harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
? Keandalan, menjamin kelangsungan kerja instalasi listrik pada kondisi normal.
? Keamanan, komponen instalasi yang dipasang dapat menjamin keamanan system
instalasi listrik.
? Kontinuitas, komponren dapat bekerja secara terus menerus pada kondisi normal.

1. Bahan Penghantar
Kawat penghantar digunakan untuk menghubungkan sumber tegangan dengan beban.
Kawat penghantar yang baik umumnya terbuat dari logam. Dalam instalasi listrik ada
berbagai macam jenis kabel yang digunakan sesuai dengan kebutuhan daya dari
kegunaannya. Macam – macam kabel tersebut diantaranya:
a. Kabel NYA
Jenis kabel Nya bentuknya berinti tunggal dari bahan tembaga sebagai inti,
berisolasi PVC. Pemasangannya tidak boleh menempel didinding/tembok, tetapi harus
menggunakan rol isolator atau pipa instalasi listrik. Kabel NYA tidak boleh dipasang
pada tempat yang terbuka atau dibawah tanah. Gambar dibawah adalah gambar kabel
NYA:

Gambar 3.9 Kabel NYA


NYA: berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk instalasi luar / kabel
udara. Kode warna isolasi ada warna abu-abu, hitam, coklat dan biru. Kabel tipe ini
umum dipergunakan di perumahan karena harganya yang relatif murah. Lapisan
isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel
udara) dan mudah digigit tikus.
Instalasi kabel listrik dipasang dalam bangunan gedung selalu mempertimbangkan
factor keamanan. Agar aman memakai kabel tipe ini, persyaratan yang haris dipenuhi
dalam pemasangan diantaranya adalah: kabel harus dipasang dalam pipa/conduit jenis
PVC atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan
apabila ada isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang secara
langsung.
Tabel 3.2 Kode huruf komponen kabel NYA

b. Kabel NYM
Jenis kabel NYM ini digunakan untuk kabel instalasi listrik rumah atau gedung dan
system tenaga. Kabel NYM: memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau
abu-abu), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua lapis,
sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal dari
NYA). Kabel ini dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak
boleh ditanam.

Gambar 3.10 Kabel NYM


Tabel 3.3 Kode huruf komponen kabel NYM

c. Kabel NYY
Kabel NYY memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna hitam), ada yang berinti
2, 3 atau 4.Kabel biasanya dieprgunakan untuk instalasi tertanam (kabel tanah), dan
memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya lebih mahal dari
NYM). Kabel NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai tikus.

Gambar 3.11 Kabel NYY

d. Kabel NYFGby.
Jenis kabel NYFGby, kabel berinti tembaga, berisolasi PVC, kabel ini mempunyai
inti lebih dari satu dan mempunyai kekuatan mekanik tinggi. Gambar dibawah ini
merupakan jenis kabel NYMFGby dan gambar penampangnya.

Gambar 3.12 Kontruksi Kabel NYMFGby


e. Tanda Warna Kabel
Instalasi listrik dalam bangunan gedung perlu memperhatikan warna kabel yang
digunakan dalam instalasi tersebut, masing-masing warna kabel memiliki makna
sebagai berikut.
Menurut Puil 2000 Merah / Kuning / Hitam = Fasa R, Fasa S, Fasa T
Biru = Netral
Hijau – Kuning = Ground
Menurut Puil 2011 Abu-abu / Hitam / Coklat = Fasa R, Fasa S, Fasa T
Biru = Netral
Hijau – Kuning = Ground

2. Pengaman
Pengaman adalah suatu alat yang digunakan untuk melindungi sistem instalasi dari
beban arus yang melebihi kemampuannya. Biasanya arus yang mengalir pada suatu
penghantar akan menimbulkan panas, baik pada saluran penghantar maupun pada alat
listriknya sendiri. Untuk mencegahnya digunakan pengaman lebur dan pengaman
otomat. Alat ini digunakan untuk:
? Mengamankan system instalasi listrik (hantaran, perlengkapan listrik dan alat/
pesawat yang menggunakan listrik)
? Melindungi/membatasi arus lebih yang disebabkan oleh pemakaian beban yang
berlebihan dan akibat hubung singkat antara fasa dengan fasa, fasa dengan netral
atau fasa dengan badan (body).
? Melindungi hubung singkat dengan badan mesin atau perlengkapan lainnya.

a. Pengaman Lebur
Pengaman lebur berfungsi untuk mengamankan rangkaian listrik dari gangguan
arus hubung singkat, pemasangannya pada hantaran fasa dihubungkan seri terhadap
beban.

Gambar 3.13 Pengaman Lebur dan simbolnya


Pengaman jenis ini bekerja dengan cara memutuskan kawat leburnya apabila pada
sistem terjadi kenaikan arus diluar batas nominalnya. Kenaikan arus ini disebabkan
oleh beban lebih atau hubung singkat. Berkaitan dengan aptron lebur memiliki kawat
lebur dari jenis bahan perak dengan campuran beberapa logam lain, seperti timbel,
seng, dan tembaga. Untuk kawat lebur digunakan perak, karena logam ini hampir tidak
berkarat dan daya hantar listriknya tinggi. Jadi diameter kawat leburnya bisa sekecil
mungkin untuk menghidari timbulnya uap bila kawatnya melebur.
Diameter luar ujung patron lebur berbeda-beda tergantung arus nominalnya, yaitu
makin tinggi arus nominal makin besar diameter ujung patronnya. Warna patron yang
digunakan untuk menandai patron lebur dan pengepas patron, berasal dari warna-warna
perangko Jerman, antara lain:
2A : merah muda
4A : cokelat
6A : hijau
10A : merah
16A : kelabu
E 16 dan E 27
20A : biru
25A : kunig
35A : hitam
60A : putih
65A : warna tembaga

b. Miniatur Circuit Breaker (MCB)


MCB adalah suatu rangkaian pengaman yang dilengkapi dengan komponen thermis
(bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relay elektromagnetik
untuk pengaman hubung singkat. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit satu
fasa dan tiga fasa. Keuntungan menggunakan MCB, yaitu :
1) Dapat memutuskan rangkaian tiga fasa walaupun terjadi hubung singkat pada
salah satu fasanya.
2) Dapat digunakan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat
atau beban lebih.
3) Mempunyai respon yang baik apabila terjadi hubung singkat atau beban lebih.
Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu secara thermis dan elektromagnetis,
pengaman termis berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan
pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung
singkat.
Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload
yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal), pengamanan
secara thermis memiliki kelambatan, ini bergantung pada besarnya arus yang haru
Pengaman thermis pada MCB memiliki prinsip yang sama dengan thermal overload
yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal), pengamanan secara
thermis memiliki kelambatan, ini bergantung pada besarnya arus yang harus
diamankan, sedangkan pengaman elektromagnetik menggunakan sebuah kumparan
yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak.
MCB dibuat hanya memiliki satu kutub untuk pengaman satu fasa, sedangkan
untuk pengaman tiga fasa biasanya memiliki tiga kutub dengan tuas yang disatukan,
sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang lainnya juga
akan ikut terputus. Berdasarkan penggunaan dan daerah kerjanya, MCB dapat
digolongkan menjadi 5 jenis ciri yaitu :
? Tipe Z (rating dan breaking capacity kecil)
Digunakan untuk pengaman rangkaian semikonduktor dan trafo-trafo yang sensitif
terhadap tegangan.
? Tipe K (rating dan breaking capacity kecil)
Digunakan untuk mengamankan alat-alat rumah tangga.
? Tipe G (rating besar) untuk pengaman motor.
? Tipe L (rating besar) untuk pengaman kabel atau jaringan.
? Tipe H untuk pengaman instalasi penerangan bangunan
(a) MCB 1 fasa (b) MCB 3 fasa (c) Simbol MCB
Gambar 3.14 MCB (Miniatur Circuit Breaker)
3. Saklar
Saklar merupakan alat untuk menghubungkan dan memutuskan hubungan listrik.
Saklar banyak macam dan jenisnya, misalnya untuk kebutuhan instalasi penerangan,
instalasi tenaga dan banyak lagi jenisnya, yang sering kita jumpai pada kehidupan sehari
– hari dirumah maupun dimana saja. Ada saklar yang dipasang dalam tembok (inbow)
dan diluar tembok (out bow)
Instalasi penerangan umumnya menggunakan saklar untuk menyalakan dan mematikan
lampu. Saklar menurut fungsinya dibedakan menjadi :
a. SaklarTunggal
Secara umum, fungsi saklar adalah untuk menghubungkan dan memutuskan arus
listrik. Pada instalasi listrik penerangan, saklar tunggal berfungsi untuk menghidupkan
dan mematikan sebuah dan sekelompok lampu (beban listrik) dari suatu tempat.
Saklar tunggal banyak digunakan didalam kamar atau suatu ruangan yang memilki
ukuran kecil dan hanya mempunyai satu buah pintu. Contoh ruangan: kamar tidur,
kamar mandi, ruang makan ,dll.

Gambar 3.15 Simbol dan Pengawatan Saklar Tunggal


b. Saklar Seri
Saklar seri berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan dua buah lampu dari
suatu tempat secara bergantian atau bersamaan. Saklar seri biasanya digunakan pada
ruangan yang luas tetapi hanya mempunyai satu pintu. Contoh pada ruang pertemuan,
toko, dll.

Gambar 3.16 Simbol dan Pengawatan Saklar Seri


c. Saklar Tukar
Saklar tukar berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan sebuah lampu (beban
listrik) dari dua tempat. Saklar tukar disebut juga saklar hotel, karena banyak
digunakan di hotel. Untuk mengoperasikan sebuah lampu dari dua tempat diperlukan 2
saklar tukar, yang pemasangannya sebuah saklar tukar dan sebuah lampu pada kamar
tamu sedangkan satu saklar tukar yang lain dipasang pada ruang operator.

Gambar 3.17 Simbol dan Pengawatan Saklar Tukar


d. Saklar Silang
Saklar silang befungsi untuk menghidupkan dan mematikan sebuah (sekelompok)
lampu (beban listrik) dari minimal tiga tempat, penggunaannya dibantu dengan dua
buah saklar tukar. Saklar silang digunakan pada ruangan yang panjang atau bertingkat.
Contohnya pada; rumah tingkat/tangga, lorong-lorong, ruang yang luas dan panjang
yang mempunyai tiga pintu.

Gambar 3.18 Simbol dan Pengawatan Saklar Tukar

4. Kotak Kontak / Stop Kontak


Kotak Kontak/ Stop kontak berfungsi sebagai penyedia tenaga listrik (catu daya)
yang banyak digunakan untuk menghubungkan peralatan listrik misalnya; radio, tape, tv,
lampu, seterika, kipas angin, kulkas, pompa air, dan beban listrik lainnya.

Gambar 3.19 Simbol dan Pengawatan Kotak Kontak/ Stop Kontak

5. Fiting Lampu

Gambar 3.20 Jenis-jenis fiting lampu


Fitting berfungsi sebagai tempat dudukan lampu. Pada instalasi listrik penerangan
dirumah, gedung, biasa digunakan fitting duduk (menempel ditembok atau papan), fitting
gantung (menggantung pada plafon atau langit), dan fitting kedap air atau WD (water
dift).
6. Lampu Penerangan
Lampu busur termasuk lampu listrik, namun tidak dikembangkan karena
penggunaannya terbatas (hanya cocok digunakan diluar ruangan). Untuk sementara ini
berdasarkan prinsip kerjanya, lampu listrik dibedakan menjadi dua macam, yaitu lampu
pijar dan lampu tabung / neon sign. Cahaya dari lampu pijar merupakan pemijaran dari
filament pada bohlam. Macam-macam lampu pijar merupakan GLS (General Lamp
Service) yang terdiri dari:
1) Bohlam Bening
2) Bohlam Buram
3) Bohlam berbentuk lilin
4) Lampu Argenta
5) Lampu Superlux
6) Lampu Luster
7) Lampu Halogen
Sedangkan lampu tabung cahaya yang dihasilkan berbeda dengan filamen lampu
pijar, tetapi melalui proses eksitasi gas atau uap logam yang terkandung dalam tabung
lampu yang terletak diantara 2 elektroda yang bertegangan cukup tinggi. Macam-macam
lampu tabung antara lain :
1) Neon Sign (Lampu Tabung)
? TL
? Lampu Hemat Energi
? Lampu Reklame
2) Lampu Merkuri
? Fluoresen
? Reflector
? Blended
? Halide
3) Lampu Sodium
? SOX
? SON

7. Peralatan Pelindung Hantaran Listrik


a. Pipa
Pipa instalasi digunakan untuk pemasangan kabel listrik yang dihubungkan dengan
sakelar, kotak-kontak, kotak hubung bagi dan sambungan listrik lainya, serta untuk
melindungi bahaya listrik terhadap sentuhan langsung dengan manusia. Dengan pipa
pemasangan hantaran atau kabel lebih rapi. Pipa yang digunakan biasanya jenis pipa
union atau bisa juga pipa PVC dengan ukuran 5/8”.
Pipa instalasi berfungsi untuk melindungi kabel dari gangguan luar, misalnya;
benturan, terikan, goresan. Pipa pvc digunakan pada: ruang lembab, ruang panas, ruang
dengan bahaya mekanis yang tinggi.
Gambar 3.21 Pipa PVC
b. Klem Pipa
Sengkang atau klem adalah suatu bahan yang dipakai untuk menahan pipa agar
dapat dipasang pada dinding atau langit-langit. Sengkang dibuat dari pelat besi, serupa
dengan bahan pipa. Besar atau ukurannya disesuaikan dengan ukuran pipanya.
Sengkang dipasang dengan disekerupkan pada tempat menggunakan sekrup kayu.
Sengkang dipasang sebagai penahan kotak penyambung atau pencabangan, potongan
penyambung, sakelar, kotak-kontak, dan sebagainya dengan jarak 10 cm sampai 80 cm
dari benda tersebut. Untuk meninggikan pemasangan pipa dipakai pelana, misalnya
dekat kotak sekering, terkadang pada kotak penyambungan atau pencabangan dan
tempat lain yang diperlukan.
Bentuk sengkang ada beberapa macam, yaitu : sengkang setengah, sengkang ganda,
sengkang majemuk, dan sebagainya. Pembuatan berbagai macam sengkang disesuaikan
dengan keperluan pemakaiannya, seperti :
? Sengkang setengah, dipakai pada tempat yang sempit
? Sengkang ganda, untuk dua pipa sejajar, dan
? Sengkang majemuk, untuk pemasangan beberapa pipa yang sejajar.

Gambar 3.22 Jenis-jenis Klem Pipa

c. Kotak Sambung
Penyambungan kabel atau kawat dalam instalasi listrik harus dilakukan dalam
kotak sambung dan tidak boleh dilakukan dalam pipa, sebab dikhawatirkan akan
mengalami putus akibat penarikan, selain itu sambungan listrik dalam pipa pelat akan
memudahkan terjadi kontak listrik dengan pipa sehingga berbahaya bagi manusia.
Tujuan penyambungan kawat ada beberapa macam, seperti sambungan lurus,
pencabangan atau penyekatan. Banyaknya pencabanganpun bermacam-macam
sehingga perlu disediakan beberapa jenis kotak sambung.
1) Kotak sambung cabang dua digunakan untuk menyambung lurus.
2) Kotak sambung cabang tiga (T-Dos) digunakan untuk percabangan-percabangan,
misalnya terdapat pemakaian saklar, stop kontak.
3) Kotak sambung cabang empat (Cross Dos) Pemakaian sama dengan T-Dos hanya
percabangan bukan tiga tapi empat.

Gambar 3.23 macam-macam kotak sambung


d. Rol Isolator
Rol isolator fungsinya tempat menempelkan/meletakan kabel instalasi jenis NYA
atau NGA, dan rol ini dipasang di dalam flafon (langit-langit) bangunan rumah tinggal,
gedung dan sejenisnya. Pemasangan kawat hantaran diatas plafon tanpa menggunakan
pipa digunakan rol isolator. Jarak antara rol satu dengan yang lain 50 cm dan antar
hantaran jaraknya 5 cm. Rol isolator dibuat dari keramik atau plastic dan kekuatannya
disesuaikan dengan besar hantaran dan tegangan kerja untuk kepentingan peletakan
besar hantaran dan tegangan kerja untuk kepentingan peletakan hantaran pada instalasi
penerangan rumah.

Gambar 3.24 Rol Isolator


D. Beban
Menurut sifatnya, beban listrik terdiri dari :
1. Resistor (R) yang bersifat resistif
2. Induktor (L) yang bersifat induktif
3. Capasitor (C) yang bersifat capasitif
Beban listrik adalah piranti / peralatan yang menggunakan / mengkonsumsi energi
listrik. Jenis beban listrik yang akan di bahas secara garis besar adalah sebagai berikut :
? Untuk penerangan dengan lampu-lampu pijar, pemanas listrik yang bersifat resistif.
? Untuk peralatan yang menggunakan motor-motor listrik (pompa air, alat
pendingin/AC/Freezer/kulkas, peralatan laboratorium), penerangan dengan lampu
tabung yang menggunakan balast/trafo bersifat induktif (lampu TL, sodium,
merkuri, komputer, TV, dll).
Jika beban resistif diaktifkan (dinyalakan), maka arus listrik pada beban ini segera
mengalir dengan cepatnya sampai pada nilai tertentu (sebesar nilai arus nominal beban)
dan dengan nilai yang tetap hingga tidak diaktifkan (dimatikan). Lain halnya dengan
beban induktif, misalnya pada motor listrik. Begitu motor diaktifkan (digerakkan), maka
saat awal (start) menarik arus listrik yang besar (3 sampai 5 kali nilai arus nominal),
kemudian turun kembali ke arus nominal.

Gambar 3.25 Rangkaian Macam-macam beban sistem 3 fasa 4 kawat


BAB IV

PERENCANAAN INSTALASI LISTRIK

Instalasi listrik adalah suatu bagian penting yang terdapat dalam sebuah bangunan
gedung, yang berfungsi sebagai penunjang kenyamanan penghuninya. Di Indonesia dalam
dunia teknik listrik aturan yang ada antar lain PUIL (Persyaratan Umum Instalasi Listrik).
Dalam suatu perancangan, produk yang dihasilkan adalah gambar dan analisa. Gambar
adalah bahasa teknik yang diwujudkan dalam kesepakatan simbol. Gambar ini dapat
berupa gambar sket, gambar perspektif, gambar proyeksi, gambar denah serta gambar
situasi. Gambar denah ruangan atau bangunan rumah (gedung) yang kan dipasang instalasi
digambar dengan menggunakan lambang-lambang (simbol-simbol) yang berlaku untuk
instalasi listrik. Ada beberapa jenis gambar yang harus dikerjakan dalam tahap
perancangan suatu proyek pemasangan instalasi listrik penerangan dan tenaga yang baku
menurut PUIL 2000/ revisi 2011.

A. Gambar Situasi
Gambar situasi adalah gambar yang menunjukan posisi gedung / bangunan yang akan
dipasang instalasi listriknya terhadap saluran / jaringan listrik terdekat. Data yang perlu
ditulis pada gambar situasi ini adalah alamat lengkap, jarak terhadap sumber listrik terdekat
(tiang listrik / bangunan yang sudah berlistrik) untuk daerah yang sudah ada jaringan
listriknya. Bila belum ada jaringan listriknya, perlu digambarkan rencana pemasangan
tiang-tiang listrik.

Gambar 4.1 Situasi


Keterangan :
A : Lokasi bangunan
B : Jarak bangunan ke tiang
C : Kode tiang / transformator
U : Menunjukkan arah utara
Jadi gambar situasi adalah gambar yang menunjukkan dengan jelas letak bangunan
instalasi tersebut akan dipasang dan rencana penyambungannya dengan jaringan listrik
PLN.
B. Gambar Instalasi
Gambar instalasi terdiri dari saluran masuk langsung ke APP yang biasanya terletak
didepan / bagian yang mudah dilihat dari luar. Dari APP ke PHB utama melalui kabel
toefoer, yang biasanya berjarak pendek, dan posisinya ada didalam bangunan. Pada PHB
ini energi listrik didistribusikan ke beban menjadi beberapa group / kelompok :
? Untuk konsumen domestik / bangunan kecil, dari PHB dibagi menjadi beberapa
group dan langsung ke beban. Biasanya dengan sistem satu fasa.
? Untuk konsumen industri karena areanya luas, sehingga jarak ke beban jauh dari
PHB utama dibagi menjadi beberapa group cabang / Sub Distribution Panel baru
disalurkan ke beban.

Gambar 4.2 Gambar Instalasi


Gambar instalasi meliputi:
1) Rancangan tata letak yang menunjukkan dengan jelas tata letak perlengkapan listrik
beserta sarana pelayanannya (kendalinya), seperti titik lampu, saklar, kotak kontak,
motor listrik, panel hubung bagi dan lain-lain.
2) Rancangan hubungan peralatan atau pesawat listrik dengan pengendalinya
3) Gambar hubungan antara bagian-bagian dari rangkaian akhir, serta pemberian tanda
yang jelas mengenai setiap peralatan atau pesawat listrik.

C. Gambar Garis Tunggal


Gambar garis tunggal adalah gambar yang menunjukan diagram satu garis dari APP
ke PHB utama yang di distribusikan ke beberapa group langsung ke beban (untuk
bangunan berkapasitas kecil) dan melalui panel cabang (SDP) maupun sub panel cabang
(SSDP) baru ke beban.
Pada diagram garis tunggal ini selain pembagian group pada PHB utama / cabang /
sub cabang juga menginformasikan jenis beban, ukuran dan jenis penghantar, ukuran dan
jenis pengaman arusnya, dan sistem pembumian / pertanahannya.
Gambar 4.3 diagram garis tunggal serta perhitungan bebannya
Data yang tercantum dalam diagram garis tunggal ini meliputi:
1) Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran nominal
komponennya.
2) Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan pembaginya.
3) Ukuran dan besar penghantar yang dipakai.
4) Sistem pembumiannya.

D. Gambar Rinci
Gambar rinci terdiri dari:
1. Ukuran fisik PHB
2. Cara pemasangan perlengkapan listrik
3. Cara pemasangan kabel / penghantar
4. Cara kerja rangkaian kendali, dan
5. Informasi / data yang diperlukan sebagai pelengkap.
Selain gambar-gambar diatas, dalam merancang atau menggambar instalasi listrik
penerangan dan tenaga, juga dilengkapi dengan analisa data perhitungan teknis
mengenai susut tegangan, beban terpasang dan kebutuhan beban maksimum, arus
hubung singkat dan daya hubung singkat. Disamping itu juga dilengkapi dengan daftar
kebutuhan bahan instalasi, dan uraian teknis sebagai pelengkap yang meliputi
penjelasan tentang cara pemasangan peralatan/bahan, cara pengujian serta rencana
waktu pelaksanaan, rencana anggaran biaya dan lama waktu pengerjaan.
Bangunan gedung baik untuk rumah tinggal, kantor, sekolahan yang dilengkapi
sarana pendukung listrik dalam membangun agar dapat berfungsi dan dihuni dengan baik,
nyaman serta memenuhi keselamatan memerlukan perencanaan gambar instalasi listrik
yang cermat dengan mengacu pada aturan-aturan yang ditetapkan dalam dunia teknik
listrik.
Gambar instalasi listrik memegang peranan yang sangat vital dan menentukan dalam
suatu perencanaan instalasi, karena hanya dengan bantuan gambar suatu pekerjaan
pemasangan instalasi dapat dilaksanakan. Untuk instalasi penerangan yang kecil dengan
nilai daya pasang 450 VA, disebut instalasi listrik penerangan 1 phase, 1 group dengan
pengaman arus (MCB) 2 Ampere. Pelayanan tenaga listrik dari tiang jaringan listrik ke
APP (kwh + MCB) merupakan tugas dari PLN sedangkan dari PHB (kotak sekering)
sampai ke pemasangan titik nyala (lampu dan kotak kontak) dan satu unit grounding
(pentanahan) merupakan tugas Biro Teknik Listrik (BTL).
Penempatan Saklar dan Kotak Kontak Penempatan saklar dekat pintu dan mudah
dicapai oleh tangan, arah tuas (kutub) saklar harus sama baik saat di-on-kan maupun di-off-
kan, sedangkan pemasangan dan penempatan kotak kontak disesuaikan dengan beban yang
akan disambung. Tinggi penempatan saklar dan kotak kontak 150 cm diatas lantai.
Gambar 4.4 Notasi Untuk Keterangan Gambar Instalasi Listrik
Di dalam menggambar instalasi listrik penerangan, lampu penerangan merupakan bagian
yang sangat penting, pemilihan lampu disesuaikan dengan penggunaan ruang, perhitungan
iluminasi yang teliti tidak terlalu diperlukan dalam penerangan rumah (gedung), namun.
Tabel sangat membantu dalam menentukan tata letak pemasangan lampu yang tidak
menyilaukan.
Tabel 4.1 Lumen/M2

Sebelum menggambar terlebih dahulu mengukur denah gambar sesuai lokasi/situasi


dimana rencana bangunan atau gedung akan dipasang instalasi listriknya. Dalam gambar
rencana kita buat gambar denah ruangan, gambar pengawatan secara lengkap serta gambar
skema beban listrik berikut kelengkapan perhitungan material (komponen) dan tafsiran
harga, bila perlu dilengkapi dengan tenaga dan biaya.
BAB V

PENERANGAN JALAN UMUM

A. Pendahuluan
Lampu penerangan jalan adalah bagian dari bangunan pelengkap jalan yang dapat
diletakkan atau dipasang di kiri atau kanan jalan dan atau di tengah (di bagian
median jalan) yang digunakan untuk menerangi jalan maupun lingkungan di sekitar
jalan yang diperlukan termasuk persimpangan jalan ( intersection ), jalan layang
(interchange, overpass, fly over), jembatan dan jalan di bawah tanah (underpass,
terowongan).
Lampu penerangan yang dimaksud adalah suatu unit lengkap yang terdiri dari
sumber cahaya (lampu/ luminer), elemen – elemen optic (pemantul/reflector, pembias/
refractor, penyebar/ diffuser), Elemen – elemen elektrik ( konektor ke sumber
tenaga/ power supply dan lain - lain ), struktur penopang yang terdiri dari lengan
penopang, tiang penopang vertikal dan pondasi tiang lampu.
Penerangan jalan di kawasan perkotaan mempunyai fungsi antara lain :
1. Menghasilkan kekontrasan antara obyek dan permukaan jalan;
2. Sebagai alat bantu navigasi pengguna jalan;
3. Meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, khususnya
pada malam hari;
4. Mendukung keamanan lingkungan;
5. Memberikan keindahan lingkungan jalan.
Gambar 5.1 PJU dan bagian-bagian dari PJU
B. Komponen-komponen Instalasi Penerangan Jalan Umum
Komponen yang diperlukan dalam perakitan Instalasi Penerangan Jalan Umum
adalah sebagai berikut:
1. Tiang Lampu
Tiang merupakan komponen yang digunakan untuk menopang lampu.
Berdasarkan bentuk tiang lampu PJU antar lain oktagonal (8 sisi), heksagonal (6
sisi), bulat, dan dekoratif. Tiang tersebut terbuat dari plat besi roll, dilas dan dicelup
ke dalam timah galvanis. Berdasarkan jenis lengannya (stang ornament), tiang lampu
jalan dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Tiang lampu dengan lengan tunggal
Tiang lampu ini pada umumnya diletakkan pada sisi kiri atau kanan jalan.
Tipikal bentuk dan struktur tiang lampu dengan lengan tunggal seperti ini
diilustrasikan pada gambar berikut.
Gambar 5.2 Tiang lampu dengan lengan tunggal
b. Tiang lampu dengan lengan ganda
Tiang lampu ini khususnya diletakkan pada bagian tengah atau median jalan.
Tipikal bentuk dan struktur tiang lampulengan ganda seperti diilustrasikan pada
gambar.

Gambar 5.3 Tiang lampu dengan lengan ganda

c. Tiang lampu tegak tanpa lengan


Tiang lampu ini terutama diperlukan untuk menopang lampu menara, yang
pada umumnya ditempatkan di persimpangan – persimpangan jalan ataupun
tempat – tempat yang luas seperti taman, jenis tiang lampu ini sangat tinggi
sehingga sistem penggantian atau perbaikan lampu dilakukan di bawah dengan
menurunkan dan menaikan lampu tersebut menggunakan kabel suspensi.

Gambar 5.4 Tiang lampu tegak tanpa lengan

2. Rumah Lampu PJU


Rumah lampu penerangan (lantern) berfungsi untuk melindungi lampu beserta
komponen lainnya pelindung terhadap air, debu dan benda lainnya. Berikut ini
klasifikasi rumah lampu menurut tingkat Perlindungan terhadap debu dan air. Hal ini
dapat diindikasikan dengan istilah IP (Index of Protection) atau indek perlindungan,
yang memiliki 2 (dua) angka, angka pertama menyatakan indek perlindungan
terhadap debu/benda, dan angka kedua menyatakan indek perlindungan terhadap air.
Sistem IP merupakan penggolongan yang lebih awal terhadap penggunaan peralatan
yang tahan hujan dan sebagainnya, dan ditandai dengan lambang. Semakin tinggi
indek perlindungan (IP), semakin baik standar perlindungannya. Ringkasan
pengkodean IP mengikuti tabel (A Manal of Road Lighting in Developing Countries).
Pada umumnya indek perlindungan (IP) yang sering dipakai untuk klasifikasi lampu
penerangan adalah : IP 23, IP 24, IP 25, IP 54, IP 55, IP 64, IP 65, dan IP 66.

Gambar 5.5 Rumah Lampu PJU


Tabel 5.1 IP (Index of Protection) atau indek perlindungan pemasangan instalasi
penerangan jalan umum
3. Lampu
a. Lampu HPM ( High Pressure Mercury )
Pada jenis lampu merkuri tekanan tinggi, pembatas arus pelepasan
menggunakan ballast, karena itu factor dayanya relatif rendah yaitu 0,5. dalam
terbuat dari gelas keras sehingga mampu digunakan pada temperatur relatif tinggi.
Cara kerja lampu merkuri terdiri dari 3 tahapan yaitu pengapian, proses
pencapaian stabil dan stabil. Pada saat suplai tegangan diberikan terjadi medan
listrik antara elektroda kerja awal dengan salah satu elektroda utama. Hal ini
menyebabkan pelepasan muatan kedua elektroda dan memanaskan merkuri yang
ada disekelilingnya. Untuk menguapkan merkuri tersebut diperlukan waktu 4
hingga 8 menit. Setelah semua merkuri menjadi gas, resistansi elektroda kerja
awal naik karena panas dan arus mengalir antar elektroda utama melalui gas.
Warna kerja awal kemerahan dan setelah kerja normal sinar yang dihasilkan
berwarna putih. Kelemahan lampu HPM adalah semakin sering pensaklaran (
switching ) akan memperpendek umur lampu karena pada awal penyalaan terjadi
panas yang melebihi normal.
Contoh :
Lampu HPL – N
Spesifikasi :
? Efficacy : 50 - 60 lumens / Watt
? Indeks Perubahan Warna : 3
? Suhu Warna : Menengah
? Umur Lampu : 16.000 – 24.000 jam, perawatan lumen Buruk.
? Gir pengendali alat elektroda ketiga lebih sederhana dan lebih mudah dibuat.
? Tabung pemancar mengandung 100 mg gas merkuri dan argon.
Pembungkusnya adalah pasir kwarsa.
? Tidak terdapat pemanas awal katoda, elektroda ketiga dengan celah yang
lebih pendek untuk memulai pelepasan.
? Bola lampu bagian luar dilapisi fospor. Hal ini akan memberi cahaya merah
tambahan dengan menggunakan UV, untuk mengkoreksi bias pelepasan
merkuri.
? Pembungkus kaca bagian luar mencegah lepasnya radiasi UV.

Gambar 5.6 Lampu HPL - N


b. Lampu HPS ( High Pressure Sodium )
Lampu HPS lebih kecil dan mengandung unsur tambahan seperti raksa, dan
menghasilkan cahaya oranye kemerah-merahan. Beberapa bola lampu juga
menghasilkan cahaya putih kebiruan. Ini mungkin dari cahaya raksa sebelum
natrium menguap sempurna. Jalur D natrium adalah sumber cahaya utama dari
lampu HPS, dan spektrum sempit ini dilebarkan oleh natrium tekanan tinggi
dalam lampu, karena pelebaran ini dan pancaran dari raksa, warna benda yang
diterangi dapat dibedakan. Ini membuatnya digunakan di tempat yang diinginkan
pembedaan warna yang baik. Lampu HPS disukai untuk penyinaran tumbuhan
dalam ruang karena lebarnya spektrum suhu warna yang dihasilkan dan
efisiensinya yang relatif tinggi.
Contoh :
Lampu SON – T
Ciri – ciri :
? Efficacy : 50 - 90 lumens/Watt (CRI lebih baik, Efficacy lebih rendah)
? Indeks Perubahan Warna : 1 – 2
? Suhu Warna : Hangat
? Umur Lampu : 24.000 jam, perawatan lumen yang luar biasa
? Pemanasan : 10 menit, pencapaian panas : dalam waktu 60 detik
? Mengoperasikan sodium pada suhu dan tekanan yang lebih tinggi
menjadikan sangat reaktif.
? Mengandung 1 - 6 mg sodium dan 20mg merkuri.
? Gas pengisinya adalah Xenon. Dengan meningkatkan jumlah gas akan
menurunkan merkuri, namun membuat lampu jadi sulit dinyalakan.
? Arc tube (tabung pemacar cahaya) didalam bola lampu mempunyai lapisan
pendifusi untuk mengurangi silau.
? Makin tinggi tekanannya, panjang gelombangnya lebih luas, dan CRI nya
lebih baik, efficacy nya lebih rendah.

Gambar 5.7 SON - T


c. Lampu Metal Halide
Lampu discharge dimana sebagian besar dari cahaya dihasilkan oleh radiasi
dari campuran uap logam (misalnya: air raksa) dan penguraian (dissosiasi) halide
(halide thallium, indium atau natrium)
Contoh :
Lampu HPI – T
Ciri – cirri :
? Efficacy : 80 lumens / Watt
? Indeks Perubahan Warna : 1A – 2 tergantung pada campuran halide
? Suhu Warna : 3.000K – 6.000K
? Umur Lampu : 6.000 – 20.000 jam, perawatan lumen buruk
? Pemanasan : 2 – 3 menit, pencapaian panas : dalam waktu 10 – 20 menit.
? Jenis ini merupakan versi yang dikembangkan dari dua lampu pelepas dengan
intensitas tinggi, dan cenderung memiliki efficacy yang lebih baik.
? Dengan menambahkan logam lain ke merkuri, spektrum yang berbeda dapat
dipancarkan.
Gambar 5.8 Lampu HPI – T
d. Lampu LED ( Light Emitting Diode )
LED didefinisikan sebagai salah satu semikonduktor yang mengubah energi
listrik menjadi cahaya. Sebagaimana dioda lainnya LED terdiri dari bahan
semikonduktor P dan N. Bila sumber diberikan pada LED kutub negatif
dihubungkan dengan N dan kutub positif dengan P maka lubang (hole) akan
mengalir kearah N dan elektron mengalir kearah P. LED merupakan perangkat
keras dan padat (solid-state component) sehingga unggul dalam hal ketahanan
(durability). Umur Lampu LED dapat mencapai 50.000 jam, hal ini dikarenakan
tegangan kerja arus searah (VDC) konstan, meskipun di suplai dari arus AC,
namun di dalam LED terdapat stabiliser yang menstabilkan suplai arus AC
tersebut.

Gambar 5.9 Lampu LED


e. Komponen Pendukung Lampu
1) Ballast
Ballast sebagai komponen penting pada sistem penyalaan lampu pelepas gas
(gas discharge) berfungsi untuk membatasi arus melalui lampu yang
dilayani. Ballast induktif (inductive ballast) yang berfungsi sebagai pembatas
arus. Konstruksi harus sedemikian hingga dapat terkunci pada dudukan
komponen dan mudah dirakit/proses penyambungan. Pada tiap ballast harus
diengkapi dengan marking petunjuk wiring, merk, model, arus nominal.
Ballast dilengkapi dengan perlindungan terhadap panas (heat) berlebih yang
dapat mencegah terbakarnya sirkuit.
Gambar 5.10 Ballast
2) Ignitor
Digunakan pada sistem tegangan 220 V - 50 Hz dengan toleransi tegangan
+/- l0% untuk keperluan lampu pelepas gas seperti Sodium, tegangan pulsa
awal antara 2.8 – 5 KV. Fungsi ignitor adalah sebagai super posisi dari satu
atau lebih tegangan pulsa yang diberikan pada suatu lampu dengan tegangan
beban nol sebelum lampu tersebut bekerja/menyala. Untuk lampu dengan
katode dingin maka penyalaannya (ignitor) setelah tegangan pulsa terjadi.
Untuk lampu dengan katoda panas bila lampu telah menyala dan kemudian
tiba-tiba kehilangan daya listrik makalampuakan padam, selanjutnya
percepatan penyalaan (ignitor) akan terjadi setelah lampu menjadi dingin.
Jarak pemasangan ignitor dengan lampu harus dekat dan dipasang dekat
pemegang lampu (lamp holder)

Gambar 5.11 Ignitor


3) Kapasitor
Kapasitor berfungsi sebagai perbaikan faktor daya listrik yang disebabkan
oleh ballast. Digunakan pada sistem tegangan maksimal 400 V Bahan
pembungkus terbuat dari aluminium atau plastik. Frekuensi nominal 50Hz
batas toleransi nominal +/- l0%. Besar dan jumlah kapasitansi kapasitor tidak
ditentukan selama dapat menghasilkan cos-phi minimal 0.85 dalam suatu
rangkaian listrik luminer.
Gambar 5.12 Kapasitor
Komponen pendukung lampu tersebut diatas dipasang pada rumah lampu
dengan rangkaian sebagai berikut:

Gambar 5.13 Rangkaian cara pemasangan Komponen pendukung PJU


4. Komponen –komponen PHB Instalasi Penerangan Jalan Umum
a. Box Panel
Box panel adalah bagian luar dari panel yang berfungsi sebagai tempat dari
rangkaian-rangkaian panel itu sendiri. Box panel ini terbuat dari bahan logam,
oleh karena itu dalam rangkaian panel diberi ground agar aman bagi pengguna

Gambar 5.14 Jenis-jenis Box Panel


b. Busbar
Busbar merupakan komponen penghantar listrik yang dapat melayani arus dan
tegangan listrik kapasitas besar. Busbar memang sudah lazim dipakai untuk
perakitan panel terbuat dari tembaga, dipilih tembaga karena tembaga memiliki
tingkat korosi yang sangat kecil atau bahkan 0% korosi, akan tetapi ada yang
lebih baik dari tembaga yaitu emas. Emas merupakan penghantar yang paling
bagus karena tingkat karat yang lebih rendah atau sama sekali tidak memiliki
tingkatan karat.

Gambar 5.15 Jenis-jenis Busbar


c. Kontaktor
Kontaktor adalah jenis saklar yang bekerja secara magnetik yaitu kontak
bekerja apabila kumparan diberi tegangan, kontaktor dirancang untuk
menyambung dan membuka rangkaian daya listrik tanpa merusak beban-
beban tersebut. Sebuah kontaktor terdiri dari koil, beberapa kontak Normally
Open (NO) dan beberapa Normally Close (NC).

Gambar 5.16 Jenis-jenis Kontaktor

d. Timmer listrik
Timmer listrik berfungsi untuk mengatur waktu bagi peralatan yang
dikendalikan. Timer ini dimaksudkan untuk mengatur waktu hidup atau mati
dari kontaktor atau untuk merubah sistem dalam delay waktu tertentu.

Gambar 5.17 Timmer listrik

e. KWh meter
KWh meter pada PJU berfungsi untuk mengetahui atau menghitung besar
pemakaian daya listrik.

f. MCB
Fungsi MCB pada PJU adalah sebagai peralatan pengaman terhadap gangguan
hubung singkat dan beban lebih yang mana akan memutskan secara otomatis
apabila melebihi dari arus nominalnya, dan MCB biasanya dipakai PLN untuk
pembatas daya pada pelanggan.

g. Sensor cahaya (Photocell)


Photocell merupakan sejenis rangkaian elektronik yang berisi komponen
LDR (Light Dependent Resistor) di dalamnya, berfungsi sebagai saklar
otomatis yang akan ON dan OFF disetting secara otomatis berdasarkan
sensor cahaya. Sensor ini bekerja dengan cara mendeteksi cahaya.

Gambar 5.18 photocell


Cara kerja Photocell menggunakan prinsip kerja resistor dengan sensitivitas
cahaya atau LDR. Apabila kondisi gelap maka nilai resistansi akan menjadi
rendah sehingga arus mengalir dan lampu akan menyala. Sebaliknya pada
kondisi terang, nilai resistansi menjadi tinggi sehingga arus tidak dapat
mengalir dan lampu akan mati.
5. Kabel Pada Penerangan Jalan Umum
Jenis – jenis kabel yang digunakan pada Penerangan Jalan Umum
a. Kabel LVTC / AAAC
Kabel ini terbuat dari aluminium – magnesium – silicon campuran logam.
Keterhantaran elektris tinggi yangberisi magnesium silicide, untuk member
sifat yang lebih baik. Kabel ini biasanya dibuat dari paduan aluminium 6201.
AAAC mempunyai bahan anti karat dan kekuatan yang baik, sehingga daya
hantar lebih baik.
Gambar 5.19 Kabel LVTC / AAAC

b. Kabel NYM
Kabel jenis ini hanya direkomendasikan khusus untuk instalasi tetap di dalam
bangunan yang dimana penempatannya biasa di luar atau di dalam tembok
ataupun di dalam pipa (conduit).

c. Kabel NYY
Kabel ini dirancang untuk instalasi tetap di dalam tanah yang dimana harus
tetap diberikan perlindungan khusus (misalnya : subduct, pipa PVC atau pipa
besi).

C. Prosedur K3 dalam Pemasangan Instalasi PJU


Pekerjaan pemasangan instalasi PJU dilakukan dengan tahap-tahap sebagai
berikut:
1. Penggalian
Galian untuk pondasi ini dibuat dititik dimana tiang PJU ditempatkan. Pada
lokasi2 tertentu dibuat galian kabel untuk pemasangan kabel bawah tanah. Galian
kabel tersebut ada yang dibuat langsung dipermukaan tanah, tetapi ada pula yang
dibuat dipermukaan jalan beraspal sehingga perlu dilakukan perusakan permukaan
aspal sebelum digali dan kelak harus diperbaiki kembali setelah kabel terpasang.
Tabel 5.2 Proses dan Bahaya Pengalian Tiang PJU

Jenis Kecelakaan Resiko Langkah Pencegahan

Terkena benda tajam Cidera Ringan Pastikan benda tajam diberi tanda atau
diletakkan di wadah yang aman dan
menggunakan APD
Kejatuhan Alat Cidera Ringan Pastikan peralatan kerja tidak
diletakkan di tempat yang aman
Jatuh/terpeleset/tersan Cidera Ringan Menggunakan APD
dung
Mengantuk Tidak konsentrasi Pastikan tidak bekerja sendirian dan
lapor kepada keuta tim jika mengantuk
Bising Penurunan fungsi Menggunakan APD (ear plug)
dengar
Ergonomi/manual Back Pain Pastikan posisi tubuh dengan benar
handling saat bekerja
Cuaca ekstrim Dehidrasi Banyak minum air

Lingkungan berdebu Gangguan Menggunakan APD (kacamata safety)


penglihatan
Tertabrak kendaraan Cidera berat Buat tanda "Hati-Hati ada pekerjaan"
diletakkan 100M sebelum lokasi kerja
Daerah galian terdapat Tersetrum/Ledakan Pastikan area galian tidak berada
kabel atau pipa gas diarea kabel/pipa gas
Tanah/area yang akan   Mengggunakan alat yang kuat dan
digali keras tajam
Material berceceran Area kerja kotor Housekeeping dengan rapi dan
memberi papan pelindung disekitar
area penggalian untuk menghindari
material yang berserakan dijalan raya
Kondisi alat kerja Kerusakan pada alat Pengecekan rutin, penggunaan APD,
rusak kerja penggunaan alat dengan benar sesuai
fungsinya

2. Pengecoran pondasi
Pondasi ditetapkan menggunakan pondasi pracetak yang telah dilengkapi dengan
tulangan untuk menahan beban vertikal dan beban momen tiang lampu.
Tabel 5.3 Proses dan Bahaya Pengecoran Tiang PJU

Jenis Kecelakaan Resiko Langkah Pencegahan

Terkena benda tajam Cidera Ringan Pastikan benda tajam diberi tanda atau
diletakkan di wadah yang aman dan
menggunakan APD
Kejatuhan Alat Cidera Ringan Pastikan peralatan kerja tidak
diletakkan di tempat yang aman
Jatuh/terpeleset/tersan Cidera Ringan Menggunakan APD
dung
Mengantuk Tidak konsentrasi Pastikan tidak bekerja sendirian dan
lapor kepada keuta tim jika mengantuk
Bising Penurunan fungsi Menggunakan APD (ear plug)
dengar
Ergonomi/manual Back Pain Pastikan posisi tubuh dengan benar
handling saat bekerja
Cuaca ekstrim Dehidrasi Banyak minum air
Lingkungan berdebu Gangguan Menggunakan APD (kacamata safety)
penglihatan
Tertabrak kendaraan Cidera berat Buat tanda "Hati-Hati ada pekerjaan"
diletakkan 100M sebelum lokasi kerja
Kemasan bekas Area kerja kotor Housekeeping dengan rapi dan
material/sisa adonan mengumpulkan sisa material pada
semen tempat yang telah disediakan
Kondisi alat kerja Kerusakan pada alat Pengecekan rutin, penggunaan APD,
rusak kerja penggunaan alat dengan benar sesuai
fungsinya

3. Pendirian tiang
Tiang PJU dapat dipasang sebagai tiang pembantu sehingga tidak diperlukan
stang. Selain itu tiang dapat ditetapkan sebagai tiang utama sehingga perlu
dipasang stang sesuai perencanaan.
Tabel 5.4 Proses dan Bahaya Pendirian Tiang PJU

Jenis Kecelakaan Resiko Langkah Pencegahan

Kejatuhan Alat/tiang Cidera sedang Pastikan tidak ada pekerja dibawah tiang
saat tiang akan diberdirikan
Jatuh/terpeleset/tersan Cidera Ringan Menggunakan APD
dung
Mengantuk Tidak konsentrasi Pastikan tidak bekerja sendirian dan
lapor kepada keuta tim jika mengantuk
Bising Penurunan fungsi Menggunakan APD (ear plug)
dengar
Ergonomi/manual Back Pain Pastikan posisi tubuh dengan benar saat
handling bekerja
Cuaca ekstrim Dehidrasi Banyak minum air
Lingkungan berdebu Gangguan Menggunakan APD (kacamata safety)
penglihatan
Tertabrak kendaraan Cidera berat Buat tanda "Hati-Hati ada pekerjaan"
diletakkan 100M sebelum lokasi kerja
Penempatan material Area kerja kotor Housekeeping dengan rapi
yang tidak rapi
Terjatuh Kerusakan pada alat Pastikan ikatan saat pole
kerja erektiondilakukan dengan benar
Kondisi alat kerja Kerusakan pada alat Pengecekan rutin, penggunaan APD,
rusak kerja penggunaan alat dengan benar sesuai
fungsinya

4. Pemasangan kabel
Setelah tiang lampu PJU terpasang maka dilakukan penarikan kabel udara yang
pada setiap tiang dilakukan pengikatan pada kedua arahnya. Beberapa asesoris
dan bahan pembantu diperlukan untuk penyambungan dan pengikatan kabel.
Penarikan kabel tersebut dilakukan sesuai dengan jaringan kabel yang telah
direncanakan . Untuk penarikan kabel tanah dilakukan setelah galian kabel selesai
dan dibeberapa lokasi setelah tiang terpasang. Kabel tanah dilindungi dengan pipa
PVC sesuai spesifikasi. Setelah kabel tanah terpasang maka pekerjaan
penimbunan dan perbaikan aspal (jika ada) harus segera dilakukan untuk
menghindari kehilangan dan gangguan terhadap lingkungan.
Tabel 5.5 Proses dan Bahaya Pendirian Tiang PJU

Jenis Kecelakaan Resiko Langkah Pengendalian

Kejatuhan Alat/tiang Cidera sedang Pastikan tidak ada pekerja dibawah tiang
saat tiang akan diberdirikan
Jatuh/terpeleset/tersan Cidera Ringan Menggunakan APD
dung
Mengantuk Tidak konsentrasi Pastikan tidak bekerja sendirian dan lapor
kepada keuta tim jika mengantuk
Bising Penurunan fungsi Menggunakan APD (ear plug)
dengar
Ergonomi/manual Back Pain Pastikan posisi tubuh dengan benar saat
handling bekerja
Cuaca ekstrim Dehidrasi Banyak minum air
Lingkungan berdebu Gangguan Menggunakan APD (kacamata safety)
penglihatan
Tertabrak kendaraan Cidera berat Buat tanda "Hati-Hati ada pekerjaan"
diletakkan 100M sebelum lokasi kerja
Penempatan material Area kerja kotor Housekeeping dengan rapi
yang tidak rapi
Terjatuh Kerusakan pada alat Pastikan ikatan saat pole
kerja erektiondilakukan dengan benar
Kondisi alat kerja Kerusakan pada alat Pengecekan rutin, penggunaan APD,
rusak kerja penggunaan alat dengan benar sesuai
fungsinya

5. Pemasangan lampu
Setelah semua tiang dan kabel terpasang maka dilakukan pemasangan lampu
PJU.
Tabel 5.6 Proses dan Bahaya Pemasangan Lampu PJU

Jenis Kecelakaan Resiko Langkah Pengendalian


Terkena benda tajam Cidera Ringan Pastikan benda tajam diberi tanda atau
diletakkan di wadah yang aman dan
menggunakan APD
Kejatuhan Alat Cidera Ringan Pastikan peralatan kerja tidak diletakkan
di tempat yang aman
Jatuh/terpeleset/tersan Cidera Ringan Menggunakan APD
dung
Kesetrum Luka berat Pastikan alirran listrik padam saat
bertugas memasang kabel
Pastikan kondisi kabel dalam kondisi baik
Menggunakan APD
Pusing Terjatuh Pastikan kondisi sehat saat akan bekerja
diketinggian
Terjatuh Luka berat Pastikan menggunakan Full Body
Harness dan pastikan hook terkait dengan
benar
Mengantuk Tidak konsentrasi Pastikan tidak bekerja sendirian dan lapor
kepada keuta tim jika mengantuk
Bising Penurunan fungsi Menggunakan APD (ear plug)
dengar
Ergonomi/manual Back Pain Pastikan posisi tubuh dengan benar saat
handling bekerja
Cuaca ekstrim Dehidrasi Banyak minum air

Lingkungan berdebu Gangguan Menggunakan APD (kacamata safety)


penglihatan
Tertabrak kendaraan Cidera berat Buat tanda "Hati-Hati ada pekerjaan"
diletakkan 100M sebelum lokasi kerja
Kemasan bekas Area kerja kotor Housekeeping dengan rapi dan
material/Sisa kemasan mengumpulkan sisa material pada tempat
lampu yang telah disediakan
Kondisi alat kerja Kerusakan pada alat Pengecekan rutin, penggunaan APD,
rusak kerja penggunaan alat dengan benar sesuai
fungsinya

6. Pemasangan box panel


Box panel digunakan sebagai APP (Alat Pengukur dan Pembatas) dan sekaligus
sebagai pengendali otomatis lampu PJU. Box panel PJU terdiri dari KWH meter
dan MCB dari PLN, timmer listrik, kontaktor, terminal kabel, MCB distribusi,
dan terminal pentanahan

D. Perakitan Instalasi PJU


Agar lampu penerangan jalan umum bekerja secara otomatis yaitu lampu akan
menyala di malam hari atau jika cahaya di luar sudah mulai gelap dan lampu akan
padam dengan sendirinya saat pagi hari cahaya diluar sudah mulai terang diperlukan
komponen photocell dan timmer.
1. Perakitan Instalasi PJU dengan Photocell
Photocell adalah sebuah alat elektronik yang bekerja berdasarkan sensor intensitas
cahaya yang diterimanya. Saat photocell tersebut terkena cahaya yang cukup terang,
maka secara otomatis alat tersebut akan memutuskan sumber listrik yang menuju
lampu penerangan, sehingga lampu akan padam dengan sendirinya. Saat photocell
tersebut mendapatkan cahaya gelap, maka secara otomatis alat tersebut akan
terhubung dan mengalirkan sumber listrik yang menuju lampu penerangan, sehingga
lampu akan menyala dengan sendirinya.
a. Pemasangan photocell pada Instalasi Penerangan Jalan Umum tanpa box panel
sebagai berikut:

Gambar 5.20 Pemasangan Photocell pada PJU


b. Pemasangan photocell pada Instalasi Penerangan Jalan Umum dengan box
panel sebagai berikut:
Gambar 5.21 Pemasangan Photocell pada PJU
Beberapa hal yang harus kita perhatikan untuk memastikan posisi pemasangan
photocell yang benar, antara lain:
1) Pasang photocell pada posisi yang terkena cahaya matahari langsung.
2) Pastikan tidak ada benda lain yang menutupi photocell), sehingga dapat
menghalangi cahaya matahari. (jangan memasang photocell di bawah
pohon, atap, atau benda lainnya)
3) Pasang photocell pada posisi yang terhindar dari cahaya lampu. Jangan
memasang photocell dibawah lampu atau disamping lampu.
4) Pastikan posisi photocell sudah benar atau tidak terbalik.
5) Photocell sudah dirancang sedemikian rupa agar dapat terhindar dari
masuknya air (Kedap air), namun jika pemasangannya terbalik, dapat
menyebabkan air masuk kedalam sensor tersebut dan mengakibatkan
sensor rusak (short circuit).

2. Perakitan Instalasi PJU dengan Timmer Listrik


Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai rangkaian lampu penerangan jalan
dengan menggunakan Timmer Listrik, dan Kontaktor magnet.
Gambar 5.22 Pemasangan Timmer Listrik pada PJU
Timmer listrik adalah alat yang digunakan untuk menyalakan dan mematikan
beban listrik secara otomatis. Pemakaian timmer untuk lampu penerangan jalan umum
dilakukan dengan menyetel timmer listrik yaitu ketika menjelang malam lampu
hidup dan ketika pagi lampu akan mati.
Cara setting timmer listrik ini berbeda dengan timmer kontrol seperti TDR. Selain
mempunyai kontak-kontak NO dan NC , timmer listrik ini juga dilengkapi dengan
jam dan sirip-sirip yang digunakan untuk mengatur perpindahan kontak-kontak NO
dan NC.
Cara setting timmer listrik:

Keterangan:
1. Pengatur kontak NO dan NC
2. Petunjuk no. 1
3. Petunjuk nomor terminal kontak NO dan
NC
4. Sirip-sirip
5. Pengatur jam
6. Penyetelan otomatis

Gambar 5.23 Prosedur pengaturan Timmer Listrik


Posisi awal adalah semua sirip-sirip dalam keadaan terbuka. Aturlah sirip-sirip
sesuai dengan waktu yang diharapkan, yaitu dengan menekan ke dalam. Sebagai
contoh, lampu penerangan jalan umum akan menyala pada pukul 18.00 dan akan mati
pada pukul 06.00 pagi, maka dilakukan pengaturan dengan cara menekan ke dalam
sirip-sirip pada angka no.4, sehingga banyaknya sirip yang ditekan ke dalam dimulai
dari pukul 18.00 dan berakhir pada posisi 06.00 dan sisa sirip-sirip yang lain
dibiarkan terbuka. Angka no 6 pada posisi Auto.

Gambar 5.24 Instalasi Timmer Listrik pada PJU


BAB VI

SMART BUILDING

A. KONSEP SMART BUILDING


Pernahkah kalian membayangkan suatu bangunan yang segala peralatan di
dalamnya bekerja secara otomatis? Bahkan lebih canggih lagi, bangunan tersebut
mempunyai “otak” yang dapat mengambil keputusan bagaimana peralatan-peralatan di
dalamnya bekerja agar penggunaan energi menjadi efisien? Konsep seperti itu nyata dan
terus dikembangkan, dikenal dengan istilah smart building.
Smart building adalah sebuah konsep yang memadupadankan desain arsitektur,
desain interior dan mekanikal elektrikal agar dapat memberi kecepatan gerak/mobilitas
serta kemudahan kontrol juga akses dari arah mana pun dan waktu kapanpun dalam hal
otomatisasi dimana semua aktifitas yang terjadi pada sebuah bangunan atau gedung
dapat terjadi tanpa adanya interverensi manusia didalamnya, dalam artian biarpun tidak
ada orang didalamnya maka bangunan ini akan menjalankan perintah sesuai dengan
program yang telah kita buat dan kita tanamkan pada otak bangunan itu.
Dari data yang di lansir dari halaman IBM Smarter Buildings Overview Dewan
Sains dan Teknologi Nasional Amerika Serikat memperkirakan bahwa bangunan
komersial dan residensial mengkonsumsi sepertiga energi di dunia. Di Amerika Utara
misalnya, 72 persen dari pembangkit listrik, 12 persen dari penggunaan air, dan 60
persen dari limbah non-industri. Jika trend energi digunakan di seluruh dunia terus
menerus, sebuah bangunan akan menjadi konsumen terbesar energi global pada tahun
2025 ke atas.
Terdapat 9 sektor energi yang akan di jadikan target efisiensi dari sistem
manajemen smart building yaitu: energi, penerangan, pengamanan kebakaran,
monitoring, charging, penggunaan air, tata udara, elevator, dan keamanan. Sembilan
sektor energi tersebut yang sebenarnya bisa dihubungkan satu sama lain menjadi suatu
bentuk sistem bangunan pintar merupakan satu hal yang belum banyak di pikirkan pada
konsep bangunan yang ada di negara indonesia.
Sebagai contoh, konsep ini mengoptimalkan sebuah bangunan dengan
penggunaan teknologi modern tingkat tinggi seperti menggunakan PLC (programmable
logic controllers) yang kemudian dihubungkan pada beberapa komponen lain (sensor)
yang digunakan untuk mengendalikan hampir semua bagian dari rumah. Walaupun
harganya terbilang cukup mahal, banyak manfaat yang dapat diperoleh para penghuni
rumah dengan menggunakan dan mengaplikasikan konsep smart building ini.
Hal ini disebabkan oleh sebagian besar kegiatan penghuni rumah akan bisa
dilakukan secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Contoh yang paling mudah
adalah menghidupkan lampu rumah pada malam hari, pembayaran tagihan listrik secara
otomatis, mematikan beberapa sumber listrik yang tidak terpakai, dan pengoptimalan
penggunaan kamera untuk mengawasi kondisi semua ruangan di suatu hunian. Ini tentu
sesuai dengan prinsip dan tujuan dari smart building itu sendiri, yaitu mengupayakan
sebuah hunian yang terjaga akan kemudahan, kenyamanan, keamanan, dan juga
penghematannya. Cakupan dari smart building yang sangat luas ini dapat kalian pelajari
dari yang paling sederhana, sebagaimana pembelajaran yang dibahas modul ini yaitu
otomatisasi atau sistem kendali penerangan.

Gambar 6.1 Smart building


Untuk membuat suatu sistem kendali penerangan, kalian membutuhkan
komponen utama yaitu: sensor, pengendali, dan komponen penerangan. Komponen
penerangannya sudah jelas yaitu lampu yang akan kita kendalikan. Sensor-sensor yang
berhubungan dengan sistem pengendalian penerangan yaitu LDR dan PIR. Sedangkan
pengendalinya dapat digunakan misalnya pengendali elektronik, mikrokontroler, dan
PLC. Untuk kendali penerangan yang sangat sederhana bisa digunakan pengendali
elektronik atau lebih praktis lagi dalam bentuk modul yang banyak di pasaran.

B. SENSOR
Seperti yang sudah dibahas pada pembahasan sebelumnya, sensor-sensor yang
berhubungan dengan sistem pengendalian penerangan yaitu LDR dan PIR. Mari kita
bahas kedua sensor tersebut.
1. Light Dependent Resistor (LDR)
LDR merupakan sebuah resistor yang nilai resistansinya berubah seiring
perubahan initensitas cahaya yang mengenainya. Dalam kondisi gelap, resistansi
LDR sekitar 10 MΩ, tapi dalam kondisi terang resistansi LDR menurun hingga 1
KΩ atau bahkan lebih kecil lagi.
LDR terbuat dari sebuah cakram semikonduktor seperti kadmium sulfida dengan
dua buah elektroda pada permukaannya. Pada saat intensitas cahaya yang mengenai
LDR sedikit, bahan dari cakram LDR tersebut menghasilkan elektron bebas dengan
jumlah yang relatif kecil. Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk mengangkut
muatan elektrik. Artinya saat intensitas cahaya yang mengenai LDR sedikit maka
LDR akan memiliki resistansi yang besar.
Sedangkan pada saat kondisi terang, maka intensitas yang mengenai LDR
banyak. Maka energi cahaya yang diserap akan membuat elektron bergerak cepat
sehingga lepas dari atom bahan semikonduktor tersebut. Dengan banyaknya elektron
bebas, maka muatan listrik lebih mudah untuk dialirkan. Artinya saat intensitas
cahaya yang mengenai LDR banyak maka LDR akan memiliki resistansi yang kecil
dan menjadi konduktor yang baik.

Gambar 6.2 LDR


Untuk membuat lampu otomatis, setidaknya kita butuh 5 komponen sebagai
berikut:
1) LDR, berfungsi untuk mendeteksi cahaya. Rencananya: jika siang maka
lampu mati, jika malam lampu menyala.
2) Potensiometer, berfungsi untuk kalibrasi intensitas cahaya untuk menyalakan
atau mematikan lampu.
3) Transistor jenis NPN, berfungsi sebagai sakelar elektrik untuk menghidupkan
relay.
4) Resistor, sebagai pengaman arus yang masuk ke transistor.
5) Relay, berfungsi sebagai sakelar untuk mengubah nilai tegangan dari sensor
menjadi sesuai dengan tegangan input PLC
Berikut skema lengkap dari sensor cahaya tersebut:

Gambar 6.3 Skema Penerapan LDR


Cara kerja skema sakelar cahaya di atas yaitu: ketika cahaya terang, maka
resistansi pada LDR akan berkurang sehingga tegangan antara basis dan emitor yang
diwakili oleh resistor 330, sebagian resistansi VR, dan resistansi LDR lebih kecil
daripada resistansi pada VR sebelah atas (antara basis ke positif). Sehingga
transistor dalam keadaan tidak bekerja dan relay dalam kondisi terbuka.
Tapi ketika cahaya berkurang, maka resistansi meningkat dan sekaligus
meningkat pula tegangan antara basis dan emitor. Kondisi ini membuat transistor
aktif dan mengalirkan arus dari kolektor ke emitor. Karena arus yang mengalir
melalui kolektor di seri dengan relay, maka relay akan ikut aktif.

2. Passive Infrared Receiver (PIR)


PIR merupakan sebuah sensor berbasiskan infrared di dalamnya terdapat
pyroelectric sensor. Akan tetapi, tidak seperti sensor infrared kebanyakan yang
terdiri dari IR LED dan fototransistor. PIR tidak memancarkan apapun seperti IR
LED. Sesuai dengan namanya ‘Passive’, sensor ini hanya merespon energi dari
pancaran sinar inframerah pasif yang dimiliki oleh setiap benda yang terdeteksi
olehnya. Benda yang bisa dideteksi oleh sensor ini biasanya adalah tubuh manusia.

Gambar 6.4 PIR


Di dalam sensor PIR ini terdapat bagian-bagian yang mempunyai perannya
masing-masing, yaitu Fresnel Lens, IR Filter, Pyroelectric sensor, amplifier, dan
comparator.

Gambar 6.5 Blok Diagram Penerapan PIR


Sensor PIR ini bekerja dengan menangkap energi panas yang dihasilkan dari
pancaran sinar inframerah pasif yang dimiliki setiap benda dengan suhu benda
diatas nol mutlak. Seperti tubuh manusia yang memiliki suhu tubuh kira-kira 32
derajat celcius, yang merupakan suhu panas yang khas yang terdapat pada
lingkungan. Pancaran sinar inframerah inilah yang kemudian ditangkap oleh
Pyroelectric sensor yang merupakan inti dari sensor PIR ini sehingga menyebabkan
Pyroelectic sensor yang terdiri dari galium nitrida, caesium nitrat dan litium
tantalate menghasilkan arus listrik. Mengapa bisa menghasilkan arus listrik? Karena
pancaran sinar inframerah pasif ini membawa energi panas. Prosesnya hampir sama
seperti arus listrik yang mterbentuk ketika sinar matahari mengenai solar cell.
Mengapa sensor PIR hanya bereaksi pada tubuh manusia saja? Hal ini
disebabkan karena adanya IR Filter yang menyaring panjang gelombang sinar
inframerah pasif. IR Filter dimodul sensor PIR ini mampu menyaring panjang
gelombang sinar inframerah pasif antara 8 sampai 14 mikrometer, sehingga panjang
gelombang yang dihasilkan dari tubuh manusia yang berkisar antara 9 sampai 10
mikrometer ini saja yang dapat dideteksi oleh sensor.
Jadi, ketika seseorang berjalan melewati sensor, sensor akan menangkap
pancaran sinar inframerah pasif yang dipancarkan oleh tubuh manusia yang
memiliki suhu yang berbeda dari lingkungan sehingga menyebabkan material
pyroelectric bereaksi menghasilkan arus listrik karena adanya energi panas yang
dibawa oleh sinar inframerah pasif tersebut. Kemudian sebuah sirkuit amplifier yang
ada menguatkan arus tersebut yang kemudian dibandingkan oleh comparator
sehingga menghasilkan output.
Ketika manusia berada di depan sensor PIR dengan kondisi diam, maka sensor
PIR akan menghitung panjang gelombang yang dihasilkan oleh tubuh manusia
tersebut. Panjang gelombang yang konstan ini menyebabkan energi panas yang
dihasilkan dapat digambarkan hampir sama pada kondisi lingkungan disekitarnya.
Ketika manusia itu melakukan gerakan, maka tubuh manusia itu akan menghasilkam
pancaran sinar inframerah pasif dengan panjang gelombang yang bervariasi
sehingga menghasilkan panas berbeda yang menyebabkan sensor merespon dengan
cara menghasilkan arus pada material Pyroelectricnya dengan besaran yang berbeda
beda. Karena besaran yang berbeda inilah comparator menghasilkan output.
Jadi sensor PIR tidak akan menghasilkan output apabila sensor ini dihadapkan
dengan benda panas yang tidak memiliki panjang gelombang inframerah antar 8
sampai 14 mikrometer dan benda yang diam seperti sinar lampu yang sangat terang
yang mampu menghasilkan panas, pantulan objek benda dari cermin dan suhu panas
ketika musim panas. Untuk jarak jangkau dari sensor PIR sendiri bisa disetting
sesuai kebutuhan, akan tetapi jarak maksimalnya hanya +/- 10 meter dan minimal
+/- 30 cm.
C. Sistem Kendali Penerangan
Penggunaan sensor untuk sistem kendali instalasi penerangan, pada kenyataannya
banyak dijumpai dipasaran sudah dalam bentuk modul, sehingga penggunaanya menjadi
praktis.
1. Photocell
Photocell merupakan sejenis rangkaian elektronik yang berisi komponen LDR
(Light Dependent Resistor) di dalamnya, berfungsi sebagai saklar otomatis yang
akan ON dan OFF disetting secara otomatis berdasarkan sensor cahaya. Sensor ini
bekerja dengan cara mendeteksi cahaya.

Gambar 6.6 photocell


Cara kerja Photocell menggunakan prinsip kerja resistor dengan sensitivitas
cahaya atau LDR. Apabila kondisi gelap maka nilai resistansi akan menjadi rendah
sehingga arus mengalir dan lampu akan menyala. Sebaliknya pada kondisi terang,
nilai resistansi menjadi tinggi sehingga arus tidak dapat mengalir dan lampu akan
mati.
Photocell digunakan pada instalasi penerangan lampu jalan, mercusuar,
instalasi penerangan out door untuk lampu halaman/lampu taman atau lampu-lampu
yang membutuhkan otomatisasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan Photocell yaitu
harus diperhatikan spesifikasinya, misalnya parameter Tegangan (Volt/V) dan Arus
(Ampere/A) harus disesuaikan dengan kebutuhan. Salah satu contoh data spesifikasi
Photocell seperti terlihat pada gambar berikut
Gambar 6.7 Spesifikasi Photocell

Setelah mempelajari pengertian dan spesifikasi Photocell, maka selanjutnya kita


pelajari tentang cara pemasangannya. Sedangkan cara pemasangan sensor Photocell
sesuai standar/petunjuk pemasangan yang benar dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 6.8 Instalasi/Pemasangan Photocell


Salah satu aplikasi sensor cahaya/Photocell digunakan pada lampu teras rumah
seperti pada gambar berikut:

Gambar 6.9 Penerapan Photocell pada lampu teras

2. Passive Infra Red (PIR)


Sensor ini bekerja dengan cara mendeteksi gerakan (motion) benda yang ada di
sekitarnya.
Gambar 6.10 sensor PIR

Sensor PIR (Passive Infra Red/Pyroelectric/IR Motion) dimanfaatkan sebagai


sensor gerak untuk instalasi penerangan untuk tangga atau lorong bangunan/gedung.
Sedangkan cara pemasangan sensor IR Motion dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 6.11 Instalasi sensor PIR

Salah satu aplikasi sensor IR Motion digunakan pada lampu tangga rumah seperti
pada gambar berikut:

Gambar 6.12 Penerapan Sensor PIR

Anda mungkin juga menyukai