Anda di halaman 1dari 4

UAS PELAPORAN KORPORAT

DOSEN : GINE DAS PRENA.S.E.,Ak.,M.Si

NAMA : ANDRIAN JONATHAN


NIM : 1.15.2.10199
FAK/JUR : FEB/AKUNTANSI
KELAS :B

1. Apa saja ruang lingkup pembahasan PSAK 10 (pengaruh perubahan kurs


valuta asing) ?
a. Akuntansi transaksi dan saldo dalam mata uang asing, kecuali transaksi dan
saldo derivative (PSAK 55)
b. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang
termasuk dalam laoran keuangan entitas secara konsolidasi, proporsional
atau metode ekuitas
c. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang
penyajian
d. Derivatif mata uang asing, kecuali derivative yang tidak termasuk lingkup
PSAK 55 misal derivative yang melekat pada kontrak lain.
e. Akuntansi lindung nilai mata uang asing termasuk lindung nilai investasi di LN
f. Penyajian laporan arus kas yang timbul dari transaksi mata uang asing atau
penjabaran arus kas dari kegiatan usaha LN

2. Apa yang menjadi latar belakang pembahasan PSAK 24 tentang imbalan


kerja ?
Yaitu adalah Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK) Nomor 13 Tahun
2003 mengatur secara umum mengenai tatacara pemberian imbalan-imbalan di
perusahaan, mulai dari imbalan istirahat panjang sampai dengan imbalan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Imbalan-imbalan di UUK tersebut dapat
diatur lebih lanjut di Peraturan Perusaaan (PP) atau di Perjanjian Kerja Bersama
(PKB) antara Perusahaan dan Serikat Pekerja dan tentu saja merujuk kepada
ketentuan di UUK. Dengan berlakunya UUK ini mengakibatkan perusahaan akan
dibebani dengan jumlah pembayaran pesangon yang tinggi terutama untuk
perusahaan yang memiliki jumlah karyawan ribuan orang. Oleh karena itu, untuk
mengantisipasi kemungkinan terganggunya cash flow perusahaan akibat dari
ketentuan dalam UU No. 13 tahun 2003 tersebut, maka PSAK No. 24
mengharuskan perusahaan untuk membukukan pencadangan atas kewajiban
pembayaran pesangon/imbalan kerja dalam laporan keuangannya. Pernyataan
ini mengharuskan pemberi kerja (entitas) untuk mengakui:
a. Liabilitas, jika pekerja telah memberikan jasanya dan berhak memperoleh
imbalah kerja yang akan dibayarkan di masa depan; dan
b. Beban, jika entitas menikmati manfaat ekonomis yang dihasilkan dari jasa
yang diberikan oleh pekerja yang berhak memperoleh imbalan kerja.

3. Jelaskan apa yang menjadi pokok permasalahan PSAK 50 tentang


penyajian instrument keuangan ?
Yang menjadi pokok permasalahan PSAK 50 tentang penyajian instrumen
keuangan yaitu Instrumen keuangan diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas
jika:
a. Tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk menyerahkan aset keuangan, atau
mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas keuangan yang berpotensi tidak
menguntungkan; dan
b. Jika diselesaikan dengan instrumen ekuitas entitas, instrumen keuangan
tersebut merupakan nonderivatif dengan kewajiban untuk menyerahkan
instrumen ekuitas dengan jumlah bervariasi, atau derivatif yang diselesaikan
dengan instrumen ekuitas entitas (termasuk termasuk rights, opsi, dan waran
pro rata kepada semua pemilik, tetapi tidak termasuk kontrak untuk menerima
atau menyerahkan instrumen ekuitas entitas di masa depan, puttable
instruments, dan kontrak untuk menyerahkan bagian pro rata aset neto saat
likuidasi).

4. Jelaskan apa yang menjadi pembahasan pokok PSAK 55 tentang


pengakuan dan pengukuran instrument keuangan ?
Yang menjadi pembahasan pokok PSAK 55 tetang pengakuan dan
pengukuran instrument keuangan antara lain :
a. Pengukuran Awal
Pada saat pengakuan awal, entitas pada umumnya mengukur aset keuangan
menggunakan akuntansi tanggal transaksi pada nilai wajar ditambah biaya
transaksi (fair value plus transaction costs), kecuali aset keuangan yang diukur
pada nilai wajar melalui laba rugi. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi pada awalnya hanya  diakui pada nilai wajar (fair value).
Biaya transaksi (transaction costs) adalah biaya-biaya tambahan, seperti biaya
pendaftaran dan komisi lain yang ditetapkan, biaya yang dibayarkan kepada
penasehat hukum, akuntan, dan penasehat profesional lain, biaya percetakan
dan meterai.
Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen
(termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent),
konsultan, perantara efek dan pedagang efek; pungutan wajib yang dilakukan
oleh pihak regulator dan bursa efek, serta pajak dan bea yang dikenakan atas
transfer yang dilakukan. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau
diskonto utang, biaya pendanaan (financing costs), biaya administrasi internal,
atau biaya penyimpanan (holding costs).
Jurnal untuk mencatat biaya transaksi yang dibayar tunai dan berkaitan dengan
instrumen keuangan yang  diukur pada nilai wajar (fair value) adalah:

Biaya Transaksi                                             xxx

Kas                                                                  xxx

b. Pengukuran Berikutnya
Setelah pengakuan awal, aset keuangan dan liabilitas keuangan diukur pada
nilai wajar, biaya perolehan diamortisasi atau biaya perolehan tergantung
klasifikasi apakah nilai wajar dapat ditentukan dengan andal. Pengukuran awal
(initial measurement) dan pengukuran berikutnya (subsequent measurement)
atas instrumen keuangan dan perlakuan akuntansi atas perubahan nilai wajar 
(keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum direalisasi – unrealized
holding gain or loss) diklasifikasikan sebagai berikut :

Catatan :

1. Nilai pada awal juga disesuaikan dengan biaya transaksi, kecuali aset atau
liabilitas pada nilai wajar melalui laba rugi
2. Investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar
aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal, serta derivatif yang
terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang
tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut, diukur pada biaya
perolehan.

Setelah pengakuan awal, aset keuangan dan liabilitas keuangan diukur dengan
menggunakan salah satu dari tiga atribut pengukuran berikut.

a. Biaya  perolehan
Biaya perolehan adalah jumlah aset yang diperoleh atau liabilitas yang
diselesaikan, termasuk biaya transaksi (misalnya komisi atau fee yang
dibayar).
Setelah perolehan awal, hanya satu tipe instrumen keuangan yang diukur
pada biaya perolehan yaitu investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak
memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur
secara andal, serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui
penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar
aktif tersebut, diukur pada biaya perolehan.
b. Biaya perolehan diamortisasi
Setelah pengukuran awal, kategori aset keuangan dan liabilitas keuangan
ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode
suku bunga efektif di laporan posisi keuangan:

1. Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo;


2. Pinjaman yang diberikan dan piutang; dan
3. Liabilitas keuangan lainnya.

Biaya  perolehan diamortisasi (amortized cost) adalah biaya perolehan dari


aset atau liabilitas setelah disesuaikan, jika layak, untuk mencapai suatu
suku bunga efektif yang konstan selama umur aset atau liabilitas (misalnya,
pendapatan bunga yang konstan atau beban bunga yang konstan sebagai
suatu persentase jumlah tercatat dari aset keuangan atau liabilitas
keuangan). Dengan kata lain, biaya perolehan diamortisasi dari aset
keuangan atau liabilitas keuangan adalah jumlah pada pengakuan awal aset
keuangan atau liabilitas keuangan dikurangi pembayaran pokok, ditambah
atau dikurangi dengan akumulasi amortisasi berdasarkan metode suku
bunga efektif dan dikurangi penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat
ditagih.

c. Nilai wajar
Nilai wajar (fair value) adalah nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan
atau suatu liabilitas diselesaikan antara pihak yang memahami dan
berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.
Kategori aset keuangan dan liabilitas keuangan pada umumnya diukur pada
nilai wajar di laporan posisi keuangan:

1. Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi;


2. Aset keuangan tersedia untuk dijual; dan
3. Liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi.