Anda di halaman 1dari 58

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi

Modul 3A: Fisiologi Kerja


Kelompok 6

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberhasilan kerja dipengaruhi oleh salah satu faktor diantaranyaa dalah faktor kerja
fisik (otot). Kerja fisik ( beban kerja) mengakibatkan pengeluaran energi, sehingga
berpengaruh pada kemampuan kerja manusia.Dengan kerja fisik seseorang akan mengeluarka
energi karena pekerjaan yang dilakukannya tersebut. Untuk mengoptimalkan kemampuan
kerja, perlu diperhatikan pengeluaran energi pemulihan energi selama proses kerja
berlangsung. Faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran energi selama bekerja antara
lain adalah cara pelaksanaan kerja, kecepatan kerja, sikap kerja dan kondisi lingkungan kerja.
Faktor yang mempengaruhi pemulihan energi antara lain adalah lamanya waktu istirahat,
periode istirahat, dan frekuensi istirahat.
Faktor pemulihan energi sangat penting diperhatikan karena selama proses kerja
terjadi kelelahan. Hal ini diakibatkan oleh dua hal yaitu kelelahan fisiologis dan kelelahan
psikologis. Yang dimaksud kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang timbul karena adanya
perubahan faal tubuh. Perubahan faal tubuh dari kondisi segar menjadi letih akan
mempengaruhi keoptimalan kinerja pekerja. Pemulihan kondisi faal tubuh untuk kembali
pada kondisi segar selama beraktivitas merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan energi adalah istirahat. Pekerja yang bekerja
dengan beban kerja berat tentunya membutuhkan periode dan frekuensi yang berbeda dengan
pekerja yang bekerja dengan beban kerja ringan. Apabila lamanya waktu istirahat tidak sesuai
dengan beban kerja yang diberikan akan menyebabkan pekerja berada dalam kondisi yang
tidak optimal. Kondisi yang demikian dapat menyebabkan dampak yang negatif, seperti
waktu pengerjaan yang lebih lama, terjadinya produk cacat, timbulnya kecelakaan kerja dan
sebagainya.
1.2 Tujuan Praktikum
Dari Praktikum ini, praktikan diharapkan:
1. Mampu membuat grafik yang menghubungkan antara intensitas beban kerja
(berlari di treat mill) dengna heart rate dan lama waktu pemulihan (recovery
period)
2. Mampu mneghitung lama waktu istirahat total (total rest time)

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 1
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

3. Mampu menghitung besar energi expenditure pada suatu pekerjaan tertentu


berdasarkan intensitas heart rate
4. Mampu mengklasifikasikan besar beban kerja untuk pekerjaan tertentu

1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan dari uraian latar belakang permasalahan yang telah dijabarkan
sebelumnya, maka pembatasan masalah dapat disimpulkan mengenai bagaimana cara
menghitung konsumsi energi saat bekerja dan waktu istirahat yang diperlukan operator agar
bisa mencapai produktivitas optimal. Dalam praktikum ini, dibahas mengenai fisiologi kerja
operator saat melakukan treat mill dengan menggunakan tiga kecepatan berbeda yang
mempengaruhi konsumsi energinya saat berlari di treat mill tersebut. Tingkat kebutuhan
konsumsi energi ini nantinya yang akan digunakan untuk menentukan berapa lama waktu
istirahat yang seharusnya diberikan untuk operator agar mencapai produktivitas yang optimal.
1.4 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisi tentang latar belakang masalah, tujuan praktikum, pembatasan
masalah serta sistematika penulisan laporan yang digunakan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi mengenai teori-teori yang sesuai dan berhubungandengan praktikum yang akan
dilaksanakan. Tinjauan pustaka ini berisi tentang teori-teori “fisiologi kerja”
BAB III PENGUMPULAN DATA
Berisi mengenai data-data hasil praktikum yang meliputi data denyut jantung saat
melakukan pekerjaan untuk kecepatan 1,3,dan 6 serta data denyut jantung pada saat
waktu pemulihan atau istirahat.
BAB IV PENGOLAHAN DATA
Berisi tentang pengolahan data yang berasal dari data praktikum, meliputi perhitungan
konsumsi energi,penentuan waktu istirahat,% CVL dan % HR untuk tiap-tiap beban
kerja. Pada pengolahan data juga berisi grafik denyut jantung terhadap waktu saat
melakukan kerja dan saat periode pemulihan
BAB V ANALISIS
Berisi tentang analisa perbandingan denyut jantung untuk tiap pembebanan saat
melakukan kerja dan saat periode pemulihan, analisa heart reserve, dan perbedaan

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 2
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

yang terjadi pada konsumsi energi maupun lamanya periode pemulihan dan kaitannya
dengan prestasi total rest time serta siklus kerja fisiologinya.
BAB IV PENUTUP
Dalam bab ini akan berisi kesimpulan dan saran-saran yang diperoleh dari hasil
percobaan.
1.5 Metodologi Praktikum

Gambar 1.1 Metodologi Praktikum

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 3
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

2.1 Pengertian Fisiologi Kerja


Fisiologi Kerjaadalah Ilmu yang mempelajar ifungsi/faal tubuh
manusia pada saat bekerja. Merupakan dasar berkembangnya ergonomi. Bisa
dikatakan juga fisiologi kerja adalah focus dengan respon tubuh terhadap kebutuhan
metabolism pada saat kerja dengan mengukur aktivitas dari cardiovaskular
respiratory dan system otot pada saat kerja kita bias mendapatkan informasi untuk
mencegah kelelahan.
Dengan diketahuinya fisiologi kerja diharapkan mampu meringankan beban
kerja seorang pekerja dan meningkatkan produktivitas kerja. Pengetahuan dasar
mengenai fisiologi kerja memungkinkan untuk dapat dievaluasi suatu sistem kerja
secara efektif. Diupayakan evaluasi kerja semaksimal mungkin bersifat objektif dan
kuantitatif. Penilaian secara kualitatif misalnya adanya kelelahan kerja, hal ini
memerlukan analisis lebih lanjut mengingat kemampuan individual yang berbeda.

2.2 Kerja Fisik dan Mental


2.2.1 Kerja Fisik
Kerja fisik adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai
sumber tenaganya (power). Kerja fisik disebut juga „manual operation‟ dimana
performans kerja sepenuhnya akan tergantung pada manusia yang berfungsi
sebagai sumber tenaga (power) ataupun pengendali kerja. Kerja fisik juga dapat
dikonotasikan dengan kerja berat atau kerja kasar karena kegiatan tersebut
memerlukan usaha fisik manusia yang kuat selama periode kerja
berlangsung.Dalam kerja fisik konsumsi energi merupakan factor utama yang
dijadikan tolak ukur penentu berat / ringannya suatu pekerjaan. Secara garis besar,
kegiatan-kegiatan manusia dapat digolongkan menjadi kerja fisik dan kerja mental.
Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapatnya
hubungan yang erat antar satu dengan lainnya. Kerja fisik akan mengakibatkan
perubahan fungsi pada alat-alat tubuh, yang dapat dideteksi melalui :

1. Konsumsi oksigen
2. Denyut jantung
3. Peredaran udara dalam paru-paru
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 4
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

4. Temperatur tubuh
5. Konsentrasi asam laktat dalam darah
6. Komposisi kimia dalam darah dan air seni
7. Tingkat penguapan
8. Faktor lainnya

Kerja fisik akan mengeluarkan energi yang berhubungan erat dengan


konsumsi energi. Konsumsi energi pada waktu kerja biasanya ditentukan dengan
cara tidak langsung, yaitu dengan pengukuran :

1. Kecepatan denyut jantung


2. Konsumsi Oksigen

Pengeluaran energi relatif yang banyak dan pada jenis tersebut dapat
dibedakan dalam beberapa kerja sesuai fisik yaitu:
a. Kerja Statis, yaitu:
1. Tidak menghasilkan gerak.
2. Kontraksi otot bersifat isometris (tegang otot bertambah sementara tegangan
otot tetap).
3. Kelelahan lebih cepat terjadi.
b. Kerja Dinamis, yaitu:
1. Menghasilkan gerak.
2. Kontraksi otot bersifat isotonis (panjang otot berubah sementara tegangan
otot tetap).
3. Kontraksi otot bersifat ritmis (kontraksi dan relaksasi secara bergantian).
4. Kelelahan relatif agak lama terjadi.

2.2.2 Kerja Mental


kerja mental merupakan kerja yang melibatkan proses berpikir dari otak
kita. Pekerjaan ini akan mengakibatkan kelelahan mental bila kerja tersebut
dalam kondisi yang lama, bukan diakibatkan oleh aktivitas fisik secara
langsung melainkan akibat kerja otak kita.
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 5
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Kecepatan denyut jantung memiliki hubungan yang sangat erat


dengan aktivitas faali lainnya.

1. Tekanan Darah Kecepatan Denyut


2. Aliran Darah Jantung
3. Komposisi Kimia dalamr Darah
4. Temperatur Tubuh
5. Tingkat Penguapan
6. Jumlah udara yang
dikeluarkan oleh paru-paru Hubunga
n

Gambar 2.1 Hubungan kecepatan denyut jantung dengan aktivitas faali

Pengeluaran energi relatif lebih sedikit dan cukup sulit untuk mengukur
kelelahannya. Hasil kerja (performasi kerja) manusia dipengaruhi oleh berbagai
faktor, adalah sebagai berikut:
a. Faktor diri (individu), meliputi sikap, fisik, minat, motivasi, jenis kelamin,
pendidikan, pengalaman, dan keterampilan.
b. Faktor situasional, meliputi lingkungan fisik, mesin, peralatan, metode kerja,
dan lain-lain.

Kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa


pengaruh pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja dalam
kehidupan sehari-hari:

1. Kriteria Faal
Meliputi kecepatan denyut jantung, konsumsi oksigen, tekanan darah,
tingkatbenguapan, temperatur tubuh, komposisi kimia dalam air seni, dan
lain-lain.Tujuannya adalah untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat
tubuh selama bekerja.

2. Kriteria Kejiwaan
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 6
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Meliputi kejenuhan atau kejemuan, emosi, motivasi, sikap, dan lain-lain.


Tujuannya adalah mengetahui perubahan kejiwaan yang timbul selama
bekerja.

3. Kriteria Hasil Kerja


Meliputi pengukuran hasil kerja yang diperoleh dari pekerja selama bekerja.
Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi kerja dengan melalui
hasil kerja yang diperoleh dari pekerja.
Rumus yang berhubungan dengan konsumsi energi dengan kecepatan bekerja
dan denyut jantung pada saat bekerja adalah sebagai berikut:
Y = 1,80411 – 0,0229038 X + 4,71733.10-4 .X2
KE = Et – Ei

Keterangan:
Y = Energi (kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)
KE = Konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu (Kkal)
Et = Pengeluaran energi pada saat kerja (Kkal)
Ei = Pengeluaran energi pada saat istirahat (Kkal)

2.3 Pengukuran Kerja Dengan Metode Fisiologi


Dalam suatu kerja fisik, manusia akan menghasilkan perubahan dalam
konsumsi Oksigen, Heart Rate, Temperatur tubuh dan perubahan senyawa kimia
dalam tubuh.
Kerja fisik ini dikelompokkan oleh Davis dan Miller :
1. Kerja total seluruh tubuh, yang menngunakan sebagian besar otot biasanya
melibatkan dua per tiga atau tiga seperempat otot tubuh.
2. Kerja otot yang membutuhkan energi Expenditure karena otot yang digunakan
lebih sedikit.
3. Kerja otot statis, otot digunakan untuk menghasilkan gaya tetapi tanpa kerja
mekanik membutuhkan kontraksi sebagian otot

Metode Pengukuran kerja fisik dilakukan dengan menggunakan standar :


Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 7
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

1. Konsep Horse-Power oleh Taylor, tetapi tidak memuaskan.


2. Tingkat konsumsi energi untuk mengukur pengeluaran energi.
3. Perubahan tingkat kerja jantung dan konsumsi Oksigen.

Studi Pengukuran fisiologis ditujukan untuk mengatasi :


1. Pengetahuan baru tentang performans manusia
2. Lebih memantau perilaku / sifat para atlit juara.
3. Membantu kendala fisik seseorang

Tiffin mengemukakan kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui


pengaruh pekerjaan terhadap manusia dalam suatu sistem kerja, yaitu : Kriteria Faali,
kriteria kejiwaan dan kriteria hasil kerja.
Kriteria Faali meliputi: Kecepatan denyut jantung, konsumsi Oksigen,
Tekanan darah, Tingkat penguapan, Temperatur tubuh, komposisi kimiawi dalam
darah dan air seni. Kriteria ini digunakan untuk mengetahui perubahan fungsi alat-alat
tubuh.

Kejiwaan yang timbul selama bekerja.


Kriteria Kejiwaan meliputi: pengujian tingkat kejiwaan pekerja, seperti tingkat
kejenuhan, emosi, motivasi, sikap dan lain-lain. Kriteria kejiwaan digunakan untuk
mengetahui perubahan Kriteria Hasil Kerja meliputi: hasil kerja yang diperoleh dari
pekerja. Kriteria ini digunakan untuk mengetahui pengaruh seluruh kondisi kerja
dengan melihat hasil kerja yang diperoleh dari pekerja tersebut.

2.4 Manifestasi Kerja Berat


Dengan bertambah kompleksnya aktivitas otot, maka beberapa hal yang patut
dijadikan pokok bahasan dan analisa terhadap manifestasi kerja berat tersebut antara
lain :
Denyut Jantung ( heart rate )
Tekanan darah ( blood pressure )
Cardiac Output ( Keluaran paru dengan satuan liter per menit )
Komposisi kimia darah ( kandungan asam laktat )
Temperatur darah ( body temperature )
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 8
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Kecepatan berkeringat ( Sweating rate )


Pulmonary vebtilation ( kecepatan membuka atau menutupnya vebtilasi paru
dengan satuan liter per menit )
Konsumsi energi

Selain dimanfaatkan untuk evaluasi dan perancangan tata cara kerja, hasil
pengukuran energi yang dikonsumsi untuk kerja juga bisa diaplikasikan untuk
beberapa alasan yang berkaitan dengan permasalahanpermasalahansebagai berikut :
Keselamatan (safety)
Pengaturan jadwal istirahat (scheduling breaks)
Spesifikasi jabatan (job spesification) dan seleksi personil
Evaluasi jabatan (job evaluation)
Tekanan dari faktor lingkungan (environment stress)

( Sritomo Wignjosoebroto,Ergonomi : Studi Gerak dan Waktu, 1995)

2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja


Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas kerja seharihari.
Adanya massa otot yang bobotnya hampir lebih dari separuh barat tubuh,
memungkinkan kita untuk dapat menggerakkan tubuh dan melakukan pekerjaan.
Pekerjaan disatu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan
prestasi. Di pihak lain , dengan pekerjaan berarti tubuh akan menerima beban dari luar
tubuhnya. Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang
bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental. Dari
sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja diterima oleh seseorang harus sesuai atau
seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan
manusia yang menerima beban tersebut. Menurut Suma’mur (1984) bahwa
kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan
sangat tergantung dari tingkatan keterampilan, kesegaran jasmani, keadaan gizi, jenis
kelamin, usia dan ukuran tubuh dari pekerjaan yang bersangkutan.
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 9
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Menurut Rodahl (1989), Adiputro (2000) dan Manuaba (2000) bahwa secara
umum sehubungan dengan beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang sangat kompleks, baik faktor eksternal dan internal.

2.5.1 Beban Kerja Karena Faktor Eksternal


Faktor eksternal adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja,
yang termasuk beban kerja eksternal adalah tugas (task) itu sendiri, organisasi dan
lingkungan kerja. Ketiga faktor tersebut disebut stressor.

1. Tugas (Task)
a. Bersifat fisik seperti stasiun kerja, kondisi, medan, atau sikap kerja.
b. Bersifat mental seperti tingkat kesulitan kerja yang mempengaruhi tingkat
emosi pekerja, atau kompleksitas pekerjaan.
Tugas-tugas yang (tasks) yang dilakukan baik yang bersifat fisik, seperti
stasiun kerja, kondisi atau medan, sikap kerja, dll. Sedangkan tugas-tuigas
yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, atau tingkat kesulitan
pekerjaann yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja, tanggung pekerja, dll.

2. Organisasi Kerja
Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti lamanya
waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan,
sistem keerja, musik kerja, pelimpahan dan wewenang kerja, dll

3. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja fisik seperti : mikroklimat, intensitas kebisinga, intensitas
cahaya, vibrasi mekanis, dan tekanan udara
Lingkungan kerja kimiawi seperti debu, gas-gas pencemar udara, dll
Lingkungan kerja biologis, seperti bakteri, virus, parasit, dll.
Lingkungan kerja fisiologis seperti penempatan dan pemiliha karyawan,
hubungan sesame pekerja, pekerja dengan atasan,pekerja dengan
lingkungan sosial, dll.

2.5.2 Beban Kerja Karena Faktor Internal


Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 10
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh
itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi
tersebut disebut strain, besar-kecilnya strain dapat dinilai baik secara obyekstif
maupun subyektif. Secara obyektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis,
secara subyekstif dapat melalui perubahan fisiologis dan perubahan perilaku.
Secara singkat faktor internal meliputi :
Faktor somatic (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan,
kondisi kesehatan)
Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan, dll)

2.6 Penilaian Beban kerja Fisik


Menurut Astrand & Rodahl (1977) dan Rodahl (1989) bahwa penilaian beban
fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif , yaitu penelitian secara
langsung dan metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu dengan
mengukur oksigen yang dikeluarkan (energyexpenditure) melalui asupan energi
selama bekerja. Semakin berat kerja semakin banyak energi yang dikeluarkan.
Meskipun metode denganmenggunakan asupan oksigen lebih akurat, namun hanya
mengukur secara singkat dan peralatan yang diperlukan sangat mahal. Lebih lanjut
Christensen (1991) dan Grandjean (1993) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan
untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menghitung nadi kerja,
konsumsi energi, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Pada batas tertentu
ventilasi paru, denyut jantung, dan suhu tubuh mempunyai hubungan yang linear
dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang dilakukan. Kemudian Konz (1996)
mengemukakan bahwa denyut jantung adalah suatu alat estimasi laju metabolisme
yang baik, kecuali dalam keadaan emosi dan konsodilatasi. Kategori berat ringannya
beban kerja didasarkan pada metabolisme respirasi, suhu tubuh, dan denyut jantung
menurut Christensen, dapat dilihat pada table di berikut ini :

Tabel 2.1Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada


metabolisme respirasi, suhu tubuh, dan denyut jantung
Kategori Konsumsi Temperatu Energi Denyut Lung Ventilation
Oksigen r Rectal Kkal/ Jantung Liter / menit

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 11
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

o
( liter/ menit ) C Menit
Sangat 0.25 – 0.3 37.5 < 2.5 < 60 6–7
Ringan
Ringan 0.5 - 1 37.5 2.5-5.0 60 – 100 11 - 20
Moderat 1.0 - 1.5 37.5 – 38 5.0-7.5 100 – 125 20 – 31
Berat 1.5 - 2.0 38 – 38.5 7.5-10.00 125 – 150 31 - 43
Sangat Berat 2.0 – 2.5 38.5 – 39 10.00- 150 – 175 43 - 56
12.5
Berat Ekstrim > 2.5 > 39 > 12.5 > 175 60 - 100

( Sumber : Christensen, 1964 )

Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat
digunakan untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan
aktivitas kerjanya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan.
Di mana semakin berat beban kerja, maka akan semakin pendek waktu seseorang
untuk bekerja tanpa kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau sebaliknya.
Kerja fisik dikelompokkan oleh David dan Miller :
a. Kerja total seluruh tubuh, yang mempergunakan sebagian besar otot biasanya
melibatkan dua pertiga atau tiga perempat oleh otot tubuh.
b. Kerja sebagian otot, yang membutuhkan lebih sedikit energi expenditure karena
otot yang dipergunakan lebih sedikit.
c. Kerja otot statis, yaitu otot yang dipergunakan untuk menghasilkan gaya, tetapi
tanpa kerja mekanik membutuhkan kontraksi sebagian otot.
Namun, sampai saat ini metode pengukuran fisik dilakukan dengan
menggunakan standar :
1. Konsep Horse – Power (Foot-Pounds of Work Per Minute) oleh Taylor, tapi tidak
memuaskan.
2. Tingkat konsumsi energi untuk mengukur pengeluaran energi.
3. Perubahan tingkat kerja jantung dan konsumsi oksigen (dengan metode terbaru).

( Sritomo Wignjosoebroto,Ergonomi : Studi Gerak dan Waktu, 1995 )

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 12
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Menurut Astrand and Rodhal (1977) dalam Tarwaka, dkk bahwa penilaian
beban kerja dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu metode
penilaian langsung dan metode penilaian tidak langsung.

2.6.1. Metode Penilaian Langsung


Metode pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang
dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja.
Semakin berat beban kerja akan semakin banyak energi yang diperlukan untuk
dikonsumsi. Meskipun metode pengukuran asupan oksigen lebih akurat,
namun hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dandiperlukan
peralatan yang mahal.
Berikut adalah kategori beban kerja yang didasarkan pada
metabolisme, respirasi suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen
(1991) pada tabel berikut:

Tabel 2.2kategori beban kerja yang didasarkan pada metabolisme,


respirasi suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen (1991)

Tabel 2.3 Konsumsi Oksigen Maksimum (VO2 max) mL/(Kg-min)

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 13
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk


hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan
regresi kuadratis sebagai berikut:

Y = 1.80411 - 0.0229038 + 4.70733 x 10-4X2

Dimana:
E = Energi (Kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung/nadi (denyut/menit)

2.6.2. Metode Penilaian Tidak Langsung


Metode penilaian tidak langsung adalah dengan menghitung denyut
nadi selama bekerja. Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan
suatu metode untuk menilai cardiovasculair strain dengan metode 10 denyut
(Kilbon, 1992) dimana dengan metode ini dapat dihitung denyut nadi kerja
sebagai berikut:

Denyut Jantung (Denyut/Menit) =

Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja


mempunyai beberapa keuntungan, selain mudah, cepat, sangkil dan murah
juga tidak diperlukan peraltan yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel
dan tidak menganggu ataupun menyakiti orang yang diperiksa.
Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari
beberapa jenis yaitu:
1. Denyut Nadi Istirahat (DNI) adalah rerata denyut nadi
sebelumpekerjaan dimulai
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 14
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

2. Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama bekerja
3. Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi istirahat dengan
denyut nadi kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peranan yang sangat penting
didalam peningkatan cardiat output dari istirahat sampai kerja maksimum.
Peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja
maksimum oleh Rodahl (1989) dalam Tarwaka, dkk (2004:101) didefinisikan
sebagai Heart Rate Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan dalam
presentase yang dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.

% HR Reserve =
DNK − DNI
× 100
DNmaks − DNI

Denyut Nadi Maksimum (DNMax) adalah: (220 – umur) untuk laki-


laki dan (200 – umur) untuk perempuan. Lebih lanjut untuk menentukan
klasifikasi beban kerja bedasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang
dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler
(cardiovasculair load = % CVL) dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut.

% CVL=
DNK − DNI
× 100
DNmaks − DNI

Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian di bandingkan


dengan klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut:

Tabel 2.4 Klasifikasi Berat Ringan Beban Kerja Berdasar % CVL

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 15
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Selain cara tersebut diatas cardivasculair strain dapat diestimasi


menguunakan denyut nadi pemulihan (heart rate recovery) atau dikenal
dengan Metode Brouba. Keuntungan metode ini adalah sama sekali tidak
menganggu atau menghentikan pekerjaan, karena pengukuran
dilakukansetelah subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung
pada akhir 30 detik menit pertama, kedua dan ketiga (P1, P2, P3). Rerata dari
ketiga nilai tersebut dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan
sebagai berikut:
 Jika P1 – P3 ≥ 10, atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal
 Jika rata-rata P1 tercatat ≤ 110, dan P1 – P3 ≥ 10, maka beban kerja tifak
berlebihan
 Jika P1 – P3< 10, dan jika P3> 90 perlu redesain pekerjaan

Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolute denyut


nadi pada ketergantungguan pekerjaan (the interruption of work), tingkat
kebugaran (individual fitness), dan pemaparan panas lingkungan. Jika nadi
pemulihan tidak segera tercapai maka diperluakan redesain pekerjaan untuk
mengurangi tekanan fisik. Redesain tersebut dapat berupa variabel tunggal
maupun keseluruhan dari variabel bebas (tasks, organisasai kerja, dan
lingkungan kerja) yang menyebabkan beban tugas tambahan.

(Tarwaka, Solichul, H.A Bakri, 2004)

2.7 Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Jumlah Kebutuhan Kalori

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 16
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Salah satu kebutuhan utama dalam pergerakkan otot adalah kebutuhan akan
oksigen yang dibawa oleh darh ke otot untuk pembakaran zat dalam menghasilkan
energi. Sehingga jumlah oksigen yang dipergunakan oleh tubuh merupakan salah satu
indikator pembebanan selama bekerja. Dengan demikian setiap aktivitas pekerjaan
memerlukan energi yang dihasilkan dari proses pembakaran. Berdasarkan hal tersebut
maka kebutuhan kalori dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan besar
ringannya beban kerja. Berdasarkan hal tersebut mentri tenaga kerja, melalui
keputusan no 51 tahun 1999 menetapkan kebutuhan kalori untuk menentukan berat
ringannya pekerjaan.
Beban kerja ringan : 100-200 Kilo kalori/jam
Beban kerja sedang : > 200-350 Kilo kalori/ jam
Beban kerja berat : > 350-500 Kilo kalori/ jam
Kebutuhan kalori dapat dinyatakan dalam kalori yang dapat diukur secara
tidak langsung dengan menentukan kebutuhan oksigen. Setiap kebutuhan oksigen
sebanyak 1 liter akan memberikan 4.8 kilo kalori (Suma’mun, 1989)Sebagai dasar
perhitungan dalam menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan oleh seseorang dalam
melakukan aktivitas pekerjannya, dapat dilakukan melalui pendekatan atau taksiran
kebutuhan kalori menurut aktivitasnya.
Menurut Grandjean (1993) bahwa kebutuhan kalori seorang pekerja selama 24
jam ditentukan oleh tiga hal :
 Kebutuhan kalori untuk metabolisme basal, dipengaruhi oleh jenis kelamin dan
usia.
 Kebutuhan kalori untuk kerja, kebutuhan kalori sangat ditentukan dengan jenis
aktivitasnya, berat atau ringan.
 Kebutuhan kalori untuk aktivitas lain-lain di luar jam kerja.

2.8 Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi Kerja


Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu metode untuk
menilai cardiovasculair strain. Derajat beban kerja hanya tergantung pada jumlah
kalori yang dikonsumsi, akan tetapi juga bergantung pada pembebanan otot statis.
Sejumlah konsumsi energi tertentu akan lebih berat jika hanya ditunjang oleh
sejumlah kecil otot relative terhadap sejumlah besar otot. Beberapa hal yang berkaitan
dengen pengukuran denyut jantung adalah sebagai berikut :
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 17
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

1. Astrand dan Christensen meneliti pengeluaran energi dari tingkat denyut jantung
dan menemukan adanya hubungan langsung antara keduanya. Tingkat pulsa dan
denyut jantung permenit dapat digunakan untuk menghitung pengeluaran energi.

2. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan denyut jantung dan
pernapasan dipengaruhi oleh tekanan fisiologis, tekanan oleh lingkungan, atau
tekanan akibat kerja keras, di mana ketiga faktor tersebut memberikan pengaruh
yang sama besar. Pengukuran berdasarkan criteria fisiologis ini bisa digunakan
apabila faktor-faktor yang berpengaruh tersebut dapat diabaikan atau situasi
kegiatan dalam keadaan normal.
( Retno Megawati, 2003 )
Pengukuran denyut jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
1. Merasakan denyut jantung yang ada pada arteri radial pada pergelangan
tangan.
2. Mendengarkan denyut jantung dengan stethoscope.
3. Menggunakan ECG ( Electrocardiograph ), yaitu mengukur signal elektrik
yang diukur dari otot jantung pada permukaan kulit dada.
Salah satu yang dapat digunakan untuk menghitung denyut jantung adalah
telemetri dengan menggunakan rangsangan ElectroardioGraph (ECG). Apabila
peralatan tersebut tidak tersedia dapat memakai stopwatch dengan metode 10
denyut (Kilbon, 1992). Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja
sebagai berikut

Denyut Jantung (Denyut/Menit) =

Selain metode denyut jantung tersebut, dapat juga dilakuakan penghitungan


denyut nadi dengan menggunakan metode 15 atau 30 detik. Penggunaan nadi kerja
untuk menilai berat ringanya beban kerja memiliki beberapa keuntungam. Selain
mudah, cepat, dan murah juga tidak memerlukan peralatan yang mahal, tidak
menggangu aktivitas pekerja yang dilakukan pengukuran. Kepekaan denyut nadi
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 18
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

akan segera berubah dengan perubahan pembebanan, baik yang berasal dari
pembebanan mekanik, fisika, maupun kimiawi. Denyut nadi untuk mengestimasi
index beban kerja terdiri dari beberapa jenis, Muller ( 1962 ) Memberikan definisi
sebagai berikut :
a. Denyut jantung pada saat istirahat ( resting pulse ) adalah rata-rata denyut
jantung sebelum suatu pekerjaan dimulai.
b. Denyut jantung selama bekerja ( working pulse ) adalah rata-rata denyut
jantung pada saat seseorang bekerja.
c. Denyut jantung untuk bekerja ( work pulse ) adalah selisish antara senyut
jantung selama bekerja dan selama istirahat.
d. Denyut jantung selama istirahat total ( recovery cost or recovery cost ) adalah
jumlah aljabar denyut jantung dan berhentinya denyut pada suatu pekerjaan
selesai dikerjakannya sampai dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya.
e. Denyut kerja total ( Total work pulse or cardiac cost ) adalah jumlah denyut
jantung dari mulainya suatu pekerjaan samapi dengan denyut berada pada
kondisi istirahatnya ( resting level ).
( Nurmianto, 1998 )

Denyut jantung pada berbagai macam kondisi kerja dapat dilihat dengan
grafik antara hubungan denyut jantung dengan waktu sebagai berikut :

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 19
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Gambar 2.2Denyut jantung pada berbagai macam kondisi kerja

Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa seseorang dalam “keadaan


normal”
a. Waktu sebelum kerja (rest) kecepatan denyut jantung dalam keadaan
konstan / stabil walaupun ada perubahan kecepatan denyutnya tetapi tidak
terlalu jauh perbedaannya.
b. Waktu selama bekerja (work) kecepatan denyut jantung dalam keadaan
cenderung naik.Semakin lama waktu kerja yang dilakukan maka makin
banyak energi yang keluar sehingga kecepatan denyut jantung bertambah
cepat naik.
c. Waktu setelah bekerja / waktu pemulihan / recovery kecepatan denyut
jantung dalam keadaan cenderung turun. Kondisi kerja yang lama maka
perlu dibutuhkan waktu istirahat yang digunakan untuk memulihkan energi
kita terkumpul kembali setelah mencapai titik puncak kelelahan.

Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di


dalam peningkatan cardio output dari istirahat samapi kerja maksimumk,
peningkatan tersebut oleh Rodahl (1989) didefinikan sebagai heart rate
reserve (HR reserve). HR reserve tersebut diekspresikan dalam presentase
yang dihitung dengan menggunakan rumus :

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 20
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

% HR Reserve =
Denyut nadi ker ja − Denyut nadi istirahat
× 100
Denyut nadi maksimum − Denyut nadi istirahat

...... 1.2

Lebih lanjut Manuaba & Vanwonterghem (1996) menentukan


klasifikasi beban kerja berdasakan peningkatan denyut nadi kerja yang
dibandingkan dengan denyut nadi maskimum karena beban kardiovaskuler
(cardiovasiculair = %CVL) yang dihitung berdasarkan rumus di bawah ini :

100 × ( Denyut nadi ker ja − Denyut Nadi Istirahat)


%CVL = × 100 .................... 1.3
Denyut nadi maksimum− Denyut nadi istirahat

Di mana denyut nadi maskimum adalah (220-umur) untuk laki-laki dan


(200-umur) untuk wanita.
Dari perhitungan % CVL kemudian akan dibandingkan dengan
klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut :
 < 30% = Tidak terjadi
kelelahan

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 21
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

 0-<60% = Diperlukan
perbaikan
 60-<80 = Kerja dalam
waktu singkat
 80-<100% = Diperlukan
tindakan segera
 >100% = Tidak
diperbolehkan beraktivitas
Selain cara-cara tersebut di atas, Kilbon (1992) mengusulkan
bahwa cardiovasculair strain dapat diestimasi denjgan menggunakan denyut
nadi pemulihan (hearth rate recover) atau dikenal dengan metode ‘Brouba’.
Keuntungan dari metode ini adalah sama sekali tidaj mengganggu atau
menghentikan aktivitas kegiatan selama bekerja. Denyut nadi pemulihan (P)
dihitung pada akhir 30 detik pada menit pertama, ke dua, dan ke tiga. P 1, 2, 3
adalah rata-rata dari ketiga nilai tersebut dan dihubungkan dengan total
cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut :
 Jika P1 – P3 ≥ 10, atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal
 Jika rata-rata P1 tercatat ≤ 110, dan P1 – P3 ≥ 10, maka beban kerja tifak
berlebihan
 Jika P1 – P3< 10, dan jika P3> 90 perlu redesain pekerjaan
Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolute denyut
nadi pada ketergantungguan pekerjaan (the interruption of work), tingkat
kebugaran (individual fitness), dan pemaparan panas lingkungan. Jika nadi
pemulihan tidak segera tercapai maka diperluakan redesain pekerjaan untuk
mengurangi tekanan fisik. Redesain tersebut dapat berupa variabel tunggal
maupun keseluruhan dari variabel bebas (tasks, organisasai kerja, dan
lingkungan kerja) yang menyebabkan beban tugas tambahan.

(Tarwaka, Solichul, H.A Bakri, 2004)


Jika denyut jantung dipantau selama istirahat, maka waktu
pemulihan untuk beristirahat meningkat sejalan dengan beban kerja. Dalam
keadaan yang ekstrim, pekerja tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 22
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

sehingga mengalami kelelahan yang kronis. Formulasi untuk menentukan


waktu istirahat sebagai kompensasi dari pekerjaan fisik :

R =
 W −S 
T x %
 W − 1,5 

Dimana :
R = Waktu istirahat yang dibutuhkan dalam menit
T = Total waktu kerja dalam menit
W = Konsumsi energi rata–rata untuk bekerja dalam kilokalori / menit
S = Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan dalam
kilokalori / menit (biasanya 4 atau 5 kkal / menit)

Bentuk regresi hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung


secara umum adalah regresi kuadratis dengan persamaan :

Y = 1.80411 - 0.0229038 + 4.70733 x .............................................. 1.5


10-4X2

Dimana :
Y : Energi (kilokalori per menit)
X : kecepatan denyut jantung (denyut per menit)

Setelah besaran kecepatan denyut jantung disetarakan dalam bentuk


energi, maka konsumsi energi untuk kegiatan kerja tertentu dapat dituliskan
dalam bentuk energi, maka konsumsi energi untuk kegiatan kerja tertentu
dapat dituliskan dalam bentuk sebagai berikut :
................................................................ 1.6
KE = Et – Ei

Dimana :
KE = Konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu (kilokalori / menit
Et = Pengeluaran energi pada saat waku kerja tertentu (kilokalori / menit)

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 23
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Ei = Pengeluaran energi pada saat waktu istirahat (kilokalori / menit)

Untuk menghindari kerugian pengukuran pekerja ketika bekerja, dapat


digunakan perubahan tingkat denyut selama pemulihan. Kurva pemulihan
tingkat denyut jantung menunjukkan :
• Tekanan fisiologis
• Aptitude fisik dari subjek
• Keberadaan kelelahan fisiologis
• Kelelahan fisiologis saat rangkaian periode kerja diamati

Dengan melakukan pengukuran pada titik dapat ditunjukkan bahwa :


a. Untuk melakukan pemulihan normal : pengukuran dari denyut pertama
ke denyut ketiga sama atau lebih besar dari 10 denyut per menit. Ketiga
denyut nadi sama atau lebih kecil dari 90 per menit.
b. Tanpa pemulihan : penurunan dari denyut pertama ke denyut ketiga atau
lebih kecil dari 10 denyut / menit. Denyut nadi ketiga di atas 90 denyut/
menit.

1.9 Beban Kerja Mental


Selain beban kerja fisik, beban kerja mental harus pula dinilai. Namun
demikian penilaian beban kerja mental tidak semudah peniali terhadap beban kerja
fisik. Perubahan bersifat mental sulit diukur bedasarkan fungsi faal tubuh. Secara
fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu pekerjaan ringan, sehingga
kebutuhan kalori untuk aktivitas mental juga lebih rendah. Namun secara moral dan
tanggung jawab, aktivitas lebih berat daripada aktivitas fisik, karena melibatkan kerja
otak (white collar) dari kerja otot (blue collar). Menurut Grandjean (1993) setiap
aktivitas mental selalu melibatkan unsure persepsi, interupsi dan proses mental dari
suatu informasi yang diterima oleh organ sensoris untuk diambil suatu keputusan tau
proses mengingat informasi yang lampau. Yang menjadi masalah pada manusia
adalah kemampuan mengingat kembali, di mana semakin bertambahnya umur akan
mengurangi kemampuan otak dalam mengingat.

1.9.1 Pengukuran Beban Psikologis


Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 24
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Aspek psikologi dalam suatu pekerjaan dapat berubah setiap saat.


Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan psikologi tersebut.
Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam diri pekerja (internal) atau dari
luar diri pekerja/lingkungan (eksternal). Baik faktor internal maupun eksternal
sulit untuk dilihat secara kasat mata, sehingga dalam pengamatan hanya
dilihat dari hasil pekerjaan atau faktor yang dapat diukur secara objektif, atau
pun dari tingkah laku dan penuturan pekerja sendiri yang dapat
identifikasikan.

Pengukuran beban psikologi dapat dilakukan dengan :

1. Pengukuran beban psikologi secara objektif


a. Pengukuran denyut jantung
Secara umum, peningkatan denyut jantung berkaitan
dengan meningkatnya levelpembebanan kerja.
b. Pengukuran waktu kedipan mata
Secara umum, pekerjaan yang membutuhkan atensi visual
berasosiasi dengan kedipan mata yang lebih sedikit, dan durasi
kedipan lebih pendek.
c. Pengukuran dengan metoda lain
Pengukuran dilakukan dengan alat flicker, berupa alat
yang memiliki sumber cahayayang berkedip makin lama makin
cepat hingga pada suatu saat sukar untuk diikuti oleh mata biasa.

2. Pengukuran beban psikologi secara subjektif


Pengukuran beban kerja psikologis secara subjektif dapat
dilakukan dengan beberapametode, yaitu :
- NASA TLX
- SWAT
- Modified Cooper Harper Scaling (MCH)
- Dll
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 25
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Dari beberapa metode tersebut metode yang paling banyak


digunakan dan terbuktimemberikan hasil yang cukup baik adalah
NASA TLX dan SWAT.

2.9.2 NASA TLX


Dalam pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan metode
NASA TLX,langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
Penjelasan indikator beban mental yang akan diukur Indikator
tersebutadalah
Tabel 2.5 NASA TLX

SKALA RATING KETERANGAN

MENTAL Rendah,Tinggi Seberapabesaraktivitas mental dan

DEMAND (MD) perceptual yang dibutuhkanuntuk

melihat, mengingatdanmencari.

Apakahpekerjaantsbmudahatausulit,

sederhanaataukompleks, longgaratau

ketat .
PHYSICAL Rendah, Tinggi Jumlahaktivitasfisik yang dibutuhkan

DEMAND (PD) (mis.mendorong, menarik, mengontrol

putaran, dll)

Lanjutan Tabel 2.5 NASA TLX

TEMPORAL Rendah, tinggi Jumlahtekanan yang berkaitandengan

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 26
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

DEMAND (TD) waktu yang dirasakanselamaelemen

pekerjaanberlangsung. Apakah

pekerjaanperlahanatausantaiatau

cepatdanmelelahkan
PERFORMANCE Tidaktepat, Seberapabesarkeberhasilanseseorang

(OP) Sempurna di dalampekerjaannyadanseberapa

puasdenganhasilkerjanya
FRUSTATION Rendah,tinggi Seberapatidakaman, putusasa,

LEVEL (FR) tersinggung, terganggu, dibandingkan

denganperasaanaman, puas, nyaman,

dankepuasandiri yang dirasakan.


EFFORT (EF) Rendah, tinggi Seberapakeraskerja mental danfisik

yang dibutuhkanuntukmenyelesaikan

pekerjaan.

Sebagai contoh beban kerja mental seperti yang terjadi pilot pesawat
terbang.Saat seorang pilot harus bertempur di udara (dogfight), kelincahan
pesawat adalah faktor penentu hidup atau mati.. Ia harus bisa dengan cepat dan
leluasa mengangkat hidung pesawat (pitching), memutar ke samping (yawing),
dan melakukan gerakan berguling (rolling). Manuver sering kali harus
dilakukan pada sudut serang yang tinggi (high angle of attack), yaitu posisi
pesawat yang menengadah dengan hidung pesawat berada tinggi di atas pilot.
Pilot adalah aset yang sangat berharga. Dengan sendirinya pesawat akan
melakukan gerakan berguling. Gerakan ini bukan atas keinginan pilot,
melainkan justru harus dilawan oleh pilot dengan menggerakkan tungkai-
tungkai kemudi. Celakanya, dalam kasus yang parah, pada saat pesawat mulai
berguling, efektivitas kemudi telah berkurang dengan drastis. Udara yang
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 27
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

kacau dari pecahnya pusaran bisa menerpa dan menyelimuti bidang-bidang


ekor vertikal, sehingga efektivitas kendalinya menjadi sangat berkurang.
Biasanya ada suatu prosedur untuk pilot dalam menangani situasi
seperti ini, yaitu untuk kembali mendapatkan kendali secara penuh.. Dapat
dibayangkan seperti apa tekanan mental yang dialami pilot. Ia berada di dalam
pesawatnya yang sulit dikendalikan, bergerak jatuh mendekati permukaan
bumi dengan cepatnya,. Ia harus mengambil keputusan, apakah akan bail-out
dengan kursi loncat, atau tetap berusaha selamat bersama pesawat sampai
detik-detik terakhir. Semua masalah- masalah yang terjadi hanya dikendalikan
dengan tombol- tombol yang ada didepan atas tempat duduk pilot. Kesalahan
penekanan tombol tersebut dapat mengakibatkan bahaya dan mematikan.
Tekanan inilah yang menjadi beban mental seorang pilot dalam
mengendalikan pesawat.

2.10 Pemulihan Energi Saat Istirahat


Irama antara konsumsi energi dan pembayaran kembalinya, atau pergantian
antara bekerja dan pemulihannya berlaku sama bagi semua fungsi tubuh. Ia
diperlukan bagi keseluruhan orang maupun jantung atau otot. Waktu istirahat
merupakan kebutuhan Fisiologis yang tidak dapat ditawar demi untuk
mempertahankan kapasitas kerja. Waktu istirahat dibutuhkan tidak hanya bagi kerja
fisik, tetapi juga oleh jabatan yang menimbulkan tegangan mental dan saraf. Istirahat
juga dibutuhkan untuk mempertahankan ketangkasan digital, ketajaman indera serta
ketekunan konsentrasi mental.
Menurut Suma’mur (1982) bahwa bekerja adalah anabolisme yakni
mengurangi atau menggunakan bagian-bagian yang telah dibangun sebelumnya.
Dalam keadaan demikian, sistem syaraf utama yang berfungsi adalah komponen
simpatis. Maka pada kondisi seperti itu, aktivitas tidak dapat dilakukan terus-menerus,
melainkan harus diselingi istirahat untukmemberi kesempatan tubuh melakukan
pemulihan. Pada saat istirahat tersebut, maka tubuh mempunyai kesempatan
membangun kembali tenaga yang telah digunakan (katabolisme).
Grandjean (1993) menjelaskan bahwa setiap fungsi tubuh manusia dapat
dilihat sebagai keseimbangan ritmis antara kebutuhan energi (kerja) dengan
penggantian kembali sejumlah energi yang telah digunakan (istirahat). Kedua proses
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 28
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

tersebut merupakan bagian integral dari kerja otot, kerja jantung dan keseluruhan
fungsi biologis tubuh. Dengan demikian jelas bahwa untuk memelihara performansi
dan efisiensi kerja, waktu istirahat harus diberikan secukupnya, baik antara waktu
kerja maupun di luar jam kerja (istirahat pada malam hari).

2.10.1 Periode Istirahat


Dalam buku Sastrowinoto (1985), menyebutkan bahwa dengan studi
kerja kita mengetahui bahwa orang yang bekerja diselipi oleh istirahat dengan
berbagai jalan. Ada 4 tipe istirahat yang dapat dibedakan :
a.Spontan
Istirahat spontan jelas merupakan istirahat yang diselipkan oleh
pekerja sendiri untuk mengaso. Meski tidak akan memakan waktu lama
meskipun sering dilakukan, terutama pada pekerjaan yang berat.

b. Tersembunyi
Ialah melakukan pekerjaan yang tidak perlu bagi tugas yang
sedang Ia tangani. Banyak juga tempat-tempat yang memungkinkan
waktu mengaso jenis itu, misalnya membersihkan komponen mesin
membenahi bangku kerja, duduk yang enak dan lain-lain.

c. Kondisi pekerja
Istirahat kondisi kerja terdiri atas segala tipe waktu tunggu,
tergantung pada pengaturan pekerja atau gerakan dari mesin. Seringkali
waktu tunggu semacam itu terjadi ketika operasi mesin telah selesai,
perkakas harus didinginkan, menanti datangnya komponen, atau
operasi perawatan mesin.

d. Telah ditentukan
Istirahat telah ditentukan dibuat berdasarkan studi kerja. Kalau
ditentukan banyaknya waktu istirahat pendek yang diselipkan selama
bekerja, maka ternyata bahwa mengaso tersembunyi dan mengaso
spontan akan berkurang jumlahnya.
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 29
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

2.10.2 Pengaruh Waktu Kerja dan Waktu Istirahat


Pengaturan waktu istirahat harus disesuaikan dengan sifat, jenis
pekerjaan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti lingkungan
kerja panas, dingin, bising dan berdebu. Namun demikian secara umum, di
Indonesia telah ditentukan lamanya waktu kerja sehari maksimum adalah 8
jam kerja dan selebihnya adalah waktu istirahat. Memperpanjang waktu kerja
lebih dari itu hanya akan menurunkan efisiensi kerja, meningkatkan kelelahan,
kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Dalam hal lamanya waktu kerja melebihi ketentuan yang telah
ditetapkan (8 jam per hari atau 40 jam seminggu), maka perlu diatur
waktuwaktu istirahat khusus agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani
tetap dapat dipertahankan dalam batas-batas toleransi. Pemberian waktu
istirahat tersebut secara umum dimaksudkan untuk:
a. Mencegah terjadinya kelelahan yang berakibat kepada penurunan
kemampuan fisik dan mental serta kehilangan efisiensi kerja.
b. Memberi kesempatan tubuh untuk melakukan pemulihan atau
penyegaran.
c. Memberikan kesempatan waktu untuk melakukan kontak sosial.

2.10.3 Penentuan Waktu Istirahat Dengan Menggunakan Pendekatan Fisiologis


Dalam penentuan konsumsi energi biasanya digunakan suatu bentuk
hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung yaitu sebuah persamaan
regresi kuadratis sebagai berikut:

Y = 1,80411 – 0,0229038 X + 4,71733.10-4 .X2


KE = Et – Ei
Keterangan:
Y = Energi (kkal/menit)
X = Kecepatan denyut jantung (denyut/menit)
KE = Konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu (Kkal)
Et = Pengeluaran energi pada saat kerja (Kkal)
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 30
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Ei = Pengeluaran energi pada saat istirahat (Kkal)

Selanjutnya konsumsi energi dikonversikan kedalam kebutuhan waktu


istirahat dengan menggunakan persamaan Murrel (Pullat, 1992) sbb:
Rt = 0 , untuk K< S

Rt = k/ s1 x T ( KS ) M / B , Untuk S <K <2S


2

R = T (KS)KBMx 1,11 ,untuk K>2S

Dimana :
Rt = Waktu istirahat
K = Energi yang dikeluarka selama bekerja
S = Standar energi yang dikeluarkan (pria= 5 kkal/menit, Wanita
kkal/menit)
BM = Metabolisme basal (pria = 1,7 kkal/menit, Wanita = 1,4
kkal/menit)
T = Lamanya bekerja (menit)

2.11 Fatigue / Kelelahan


Fatigue adalah kelelahan yang terjadi pada syaraf dan otot-otot manusia
sehingga tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Makin berat beban yang
dikerjakan dan semakin tidak teraturnya pergerakan, maka timbulnya fatigue akan
semakin cepat. Jika seseorang bekerja pada tingkat energi diatas 5,2 kcal per menit ,
maka pada saat itu timbul rasa lelah. Menurut Murrel (1965) kita masih mempunyai
cadangan sebesar 25 kcal sebelum munculnya asam laktat sebagai tanda saat
dimulainya waktu istirahat. Cadangan energi akan hilang jika kita bekerja lebih dari
5,0 kcal per menit. Selama periode istirahat, cadangan energi tersebut dibentuk
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 31
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

kembali. Timbulnya Fatigue ini perlu dipelajari untuk menentukan kekuatan otot
manusia, sehingga kerja yang akan dilakukan atau dibebankan dapat disesuaikan
dengan kemempuan otot tersebut.
Ralph M Barnes (1980) menggolongkan kelelahan ke dalam 3 golongan
tergantung dari mana hal ini dilihat yaitu: 1) Merasa lelah, 2) Kelelahan karena
perubahan fisiologi dalam tubuh, dan 3) Menurunkan kemampuan kerja. Ketiga
tersebut pada dasarnya berkesimpulan sama yaitu bahwa kelelahan terjadi jika
kemampuan otot telah berkurang dan lebih lanjut lagi mengalami puncaknya bila otot
tersebut sudah tidak mampu lagi bergerak (kelelahan sempurna).

2.11.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Fatigue :


Pada hakekatnya kekuatan dan daya tahan tubuh ini tidak hanya
dipengaruhi oleh otot saja tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
subyektif antara lain :
1. Besarnya tenaga yang diperlukan
2. Kecepatan
3. Cara dan sikap melakukan aktivitas
4. Jenis Olah Raga
5. Jenis Kelamin
6. Umur

2.11.2 Cara mengukur fatigue :


a) Mengukur kecepatan denyut jantung dan pernafasan.
b) Mengukur tekanan darah, peredaran udara dalam paru-paru, jumlah
oksigen yang dipakai, jumlah CO2 yang dihasilkan, Temperatur
badan, Komposisi kimia dalam urine dan darah.
c) Menggunakan alat penguji kelelahan Riken Fatigue Indikator dengan
ketentuan pengukuran elektroda logam melalui tes variasi perubahan
air liur (saliva) karena lelah.

2.12 Kurva Pemulihan

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 32
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Untuk menghindari kerugian pengukuran pekerja ketika bekerja, dapat


digunakan perubahan tingkat denyut selama pemulihan. Kurva pemulihan tingkat
denyut jantung menunjukkan :
 Tekanan fisiologis
 Aptitude fisik dari subjek
 Keberadaan kelelahan fisiologis
 Kelelahan fisiologis saat rangkaian periode kerja diamati

Dengan melakukan pengukuran pada titik dapat ditunjukkan bahwa :
Untuk melakukan pemulihan normal : pengukuran dari denyut pertama
ke denyut ketiga sama atau lebih besar dari 10 denyut per menit. Ketiga denyut nadi
sama atau lebih kecil dari 90 per menit.
Tanpa pemulihan : penurunan dari denyut pertama ke denyut ketiga atau lebih
kecil dari 10 denyut / menit. Denyut nadi ketiga di atas 90 denyut/ menit.

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 33
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

BAB III

PENGUMPULAN DATA

3.1 Data DenyutNadiSebelumdanPadasaatMelakukanKerja

a. Kecepatan 1 (20 menit)

Denyutnadiawalsebelummelakukankerja (resting pulse) : 84 denyut/menit

Tabel 3.1 Denyut nadi saat melakukan kerja (Kecepatan 1 (20 menit)

menitke working pulse

1 107

2 107

3 116

4 111

5 114

6 115

7 110

8 110

9 110

10 113

11 109

12 112

13 109

14 108

15 110

16 117
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 34
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

17 109

18 111

19 110

20 112

Jumlah 2220

rata-rata 111

b. Kecepatan 3 (5 menit)

Denyutnadiawalsebelummelakukankerja (resting pulse) : 84 denyut/menit

Denyutnadisaatmelakukankerja (Working Pulse)

Tabel 3.2Denyut nadi saat melakukan kerja (Kecepatan 3 (5menit)

Menitke working pulse

1 113

2 119

3 119

4 122

5 126

jumlah 599

rata-rata 119,8

c. Kecepatan 6 (5 menit)

Denyutnadiawalsebelummelakukankerja (resting pulse) : 84 denyut/menit

Denyutnadisaatmelakukankerja (Working Pulse)

Tabel 3.3Denyutnadisaatmelakukankerja (Kecepatan 6 (5menit))


Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 35
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

working
menitke
pulse

1 129

2 149

3 161

4 173

5 153

jumlah 765

rata-rata 153

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 36
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

3.2 Data DenyutNadiPadaSaatPeriodePemulihan

a. Kecepatan 1 (20 menit)

Denyutnadiawalsebelummelakukankerja (resting pulse) : 84 denyut/menit

Tabel 3.4 DenyutnadiPadaSaatPeriodePemulihan (Kecepatan 1 (20 menit))

Menitke recovery pulse

1 81

2 93

3 89

4 94

5 78

6 88

7 86

8 98

9 85

10 80

11 87

12 86

13 85

14 101

15 90

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 37
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

16 85

17 81

18 93

19 80

20 85

jumlah 1745

rata-rata 87,25

b. Kecepatan 3 ( 5Menit)

Denyutnadiawalsebelummelakukankerja (resting pulse) : 84 denyut/menit

Tabel 3.5DenyutnadiPadaSaatPeriodePemulihan (Kecepatan3 (5menit))

recovery
menitke
pulse

1 93

2 90

3 100

4 85

5 87

Jumlah 455

rata-rata 91

c. Kecepatan 6 (5 Menit)

Denyutnadiawalsebelummelakukankerja (resting pulse) : 84 denyut/menit

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 38
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Tabel 3.6DenyutnadiPadaSaatPeriodePemulihan (Kecepatan6 (5menit))

Menitke recovery pulse

1 124

2 116

3 110

4 118

5 110

Jumlah 578

rata-rata 115,6

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 39
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

BAB IV
PENGOLAHAN DATA

4.1 Perhitungan Konsumsi Energi, Penentuan Waktu Istirahat dan % CVL untuk tiap-
tiap Beban Kerja
4.1.1 Beban Kerja Kecepatan 1
• Konsumsi Energi
Diketahui :
Rata-rata saat melakukan kerja
( x) = 111
Rata-rata pada periode pemulihan
( x) = 87,25
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
VO2 : Konsumsi oksigen (L/menit)
HR : Denyut jantung (denyut / menit)
h : Tinggi badan (cm)
w : berat badan (kg)
a : usia (tahun)0
KE : Konsumsi energi (kkal/ menit)
Et : Pengeluaran energi saat melakukan kerja (kkal/menit)
Ei : Pengeluaran energi saat istirahat (kkal/menit)
Konsumsi oksigen pada saat melakukan kerja
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
= 0.019 (111) – 0.024 (167) + 0.016 (61) + 0.045 (20) + 1.15
= 1,127 L/menit
Et = 5 x VO2
= 5 x 1,127
=5,635 kkal/menit
Konsumsi oksigen pada saat pemulihan
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 40
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

= 0.019 (84) – 0.024(167) + 0.016 (61)+ 0.045 (20) + 1.15


= 0,614 L/menit
Ei = 5 x VO2
= 5 x 0,614
= 3,070 kkal/menit

Persamaan Konsumsi Energi :


KE = Et – Ei
= 5,635 – 3,070
= 2,565 Kkal/menit

• Penentuan Waktu Istirahat

RT = 0 untuk K < S
RT =KS-1×100+T(K-S)K-BM2 untuk S ≤ K < 2S
RT =T(K-S)K-BM×1,11 untuk K ≥ 2S

Dimana :
Rt = Waktu istirahat
K = Energi yang dikeluarka selama bekerja
S = Standar energi yang dikeluarkan (pria= 5 kkal/menit, Wanita
kkal/menit)
BM = Metabolisme basal (pria = 1,7 kkal/menit, Wanita = 1,4
kkal/menit)
T = Lamanya bekerja (menit)

K= 2,565
Rt = 0

• % HR
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 41
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di dalam


peningkatan cardiac output dari istirahat sampai kerja maksimum. Peningkatan
yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum tersebut
oleh Rodahl (1989) didefinisikan sebagai Heart Rate Reserve (HR Reserve). HR
Reserve tersebut diekspresikan dalam presentase yang dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

%HRR=HRave-HRrestHRmax-HRrestx 100%

Dimana,

HRave : Denyut nadi rata-rata saat melakukan pekerjaan (denyut/menit)

HRmax : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

HRrest : Denyut nadi rata-rata saat pemulihan (denyut/menit)

% HR = 100 x (HRave-HRrest)HRmax-HRrest

% HR = 100 x (111-84)200-84 = 23,28 %

• % CVL
%CVL=100(Denyut Nadi Kerja-Denyut Nadi Istirahat)(Denyut
Nadi Maksimum-Denyut Nadi Istirahat)

Denyut nadi maksimum = 220 – umur (Astrand and Rodahl, 1977)


Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan
klasifikasi sebagai berikut :
- X ≤ 30 % = tidak terjadi kelelahan
- 30 < X ≤ 60 % = diperlukan perbaikan
- 60 < X ≤ 80 % = kerja dalam waktu singkat
- 80 < X ≤ 100 % = diperlukan tindakan segera
- X > 100 % = tidak diperbolehkan beraktivitas

% CVL = 100 x (DNK-DNI)DN Max-DNI

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 42
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

% CVL = 100 x (111-84)200-84 = 23,28 %

Dimana :
DNI = Denyut Nadi Istirahat
DNK =Denyut Nadi Kerja

4.1.2 Beban Kerja Kecepatan 3


• Konsumsi Energi
Diketahui :
Rata-rata saat melakukan kerja
( x ) = 119,8
Rata-rata pada periode pemulihan
( x ) = 91
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
VO2 : Konsumsi oksigen (L/menit)
HR : Denyut jantung (denyut / menit)
h : Tinggi badan (cm)
w : berat badan (kg)
a : usia (tahun)
KE : Konsumsi energi (kkal/ menit)
Et : Pengeluaran energi saat melakukan kerja (kkal/menit)
Ei : Pengeluaran energi saat istirahat (kkal/menit)
Konsumsi oksigen pada saat melakukan kerja
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
= 0.019(119,8) – 0.024(167) + 0.016(61) + 0.045(20) + 1.15
= 1,294 L/menit
Et = 5 x VO2
= 5 x 1,294
= 6,471 kkal/menit
Konsumsi oksigen pada saat pemulihan
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 43
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

= 0.019(84) – 0.024(167) + 0.016(61) + 0.045(20) + 1.15


= 0,614 L/menit
Ei = 5 x VO2
= 5 x 0,614
= 3,401 kkal/menit

Persamaan Konsumsi Energi :


KE = Et – Ei
= 6,471– 3,070
= 3,401 Kkal/menit

• Penentuan Waktu Istirahat


RT = 0 untuk K < S
RT =KS-1×100+T(K-S)K-BM2 untuk S ≤ K < 2S
RT =T(K-S)K-BM×1,11 untuk K ≥ 2S

Dimana :
Rt = Waktu istirahat
K = Energi yang dikeluarka selama bekerja
S = Standar energi yang dikeluarkan (pria= 5 kkal/menit, Wanita
kkal/menit)
BM = Metabolisme basal (pria = 1,7 kkal/menit, Wanita = 1,4
kkal/menit)
T = Lamanya bekerja (menit)

K= 3,401
Rt = 0

• % HR
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di
dalam peningkatan cardiac output dari istirahat sampai kerja maksimum.
Peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja
maksimum tersebut oleh Rodahl (1989) didefinisikan sebagai Heart Rate
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 44
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Reserve (HR Reserve). HR Reserve tersebut diekspresikan dalam


presentase yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

%HRR=HRave-HRrestHRmax-HRrestx 100%

Dimana,

HRave : Denyut nadi rata-rata saat melakukan pekerjaan (denyut/menit)

HRmax : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

HRrest : Denyut nadi rata-rata saat pemulihan (denyut/menit)

% HR = 100 x (HRave-HRrest)HRmax-HRrest

% HR = 100 x (119,8-84)200-84 = 30,86 %

• %CVL
%CVL=100(Denyut Nadi Kerja-Denyut Nadi Istirahat)(Denyut
Nadi Maksimum-Denyut Nadi Istirahat)

Denyut nadi maksimum = 220 – umur (Astrand and Rodahl, 1977)


Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan
klasifikasi sebagai berikut :
- X ≤ 30 % = tidak terjadi kelelahan
- 30 < X ≤ 60 % = diperlukan perbaikan
- 60 < X ≤ 80 % = kerja dalam waktu singkat
- 80 < X ≤ 100 % = diperlukan tindakan segera
- X > 100 % = tidak diperbolehkan beraktivitas

% CVL
% CVL = 100 x (DNK-DNI)DN Max-DNI

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 45
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

% CVL = 100 x (119,8-84)200-84 = 30,86 %

4.1.3 Beban Kerja Kecepatan 6


• Konsumsi Energi
Diketahui :
Rata-rata saat melakukan kerja
( x ) = 153
Rata-rata pada periode pemulihan
( x ) = 115,6
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
VO2 : Konsumsi oksigen (L/menit)
HR : Denyut jantung (denyut / menit)
h : Tinggi badan (cm)
w : berat badan (kg)
a : usia (tahun)
KE : Konsumsi energi (kkal/ menit)
Et : Pengeluaran energi saat melakukan kerja (kkal/menit)
Ei : Pengeluaran energi saat istirahat (kkal/menit)
Konsumsi oksigen pada saat melakukan kerja
VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
= 0.019(153) – 0.024(167) + 0.016(61) + 0.045(20) + 1.15
= 1,925 L/menit
Et = 5 x VO2
= 5 x 1,925
= 9,625 kkal/menit

Konsumsi oksigen pada saat pemulihan


VO2 = 0.019HR – 0.024h + 0.016w + 0.045a + 1.15
= 0.019(84) – 0.024(167) + 0.016(61) + 0.045(20) + 1.15
= 0,614 L/menit
Ei = 5 x VO2
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 46
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

= 5 x 0,614
= 3,070 kkal/menit

Persamaan Konsumsi Energi :


KE = Et – Ei
= 9,625– 3,070
= 6,555 Kkal/menit

• Penentuan Waktu Istirahat


RT = 0 untuk K < S
RT =KS-1×100+T(K-S)K-BM2 untuk S ≤ K < 2S
RT =T(K-S)K-BM×1,11 untuk K ≥ 2S

Dimana :
Rt = Waktu istirahat
K = Energi yang dikeluarka selama bekerja
S = Standar energi yang dikeluarkan (pria= 5 kkal/menit, Wanita
kkal/menit)
BM = Metabolisme basal (pria = 1,7 kkal/menit, Wanita = 1,4 kkal/menit)
T = Lamanya bekerja (menit)

karena nilai K= 6,555 S<K<2S, maka

RT =KS-1×100+T(K-S)K-BM2
RT =6,5555-1×100+5(6,555-1)6,555-1,72 = 16,819 menit

• % HR
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat
penting di dalam peningkatan cardiac output dari istirahat
sampai kerja maksimum. Peningkatan yang potensial dalam
denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum tersebut oleh
Rodahl (1989) didefinisikan sebagai Heart Rate Reserve (HR
Reserve). HR Reserve tersebut diekspresikan dalam presentase

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 47
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai


berikut :

%HRR=HRave-HRrestHRmax-HRrestx 100%

Dimana,

HRave : Denyut nadi rata-rata saat melakukan pekerjaan


(denyut/menit)

HRmax : Denyut nadi maksimum (denyut/menit)

HRrest : Denyut nadi rata-rata saat pemulihan (denyut/menit)

% HR = 100 x (HRave-HRrest)HRmax-HRrest

% HR = 100 x (153-84)200-84 = 59,48 %

• % CVL
%CVL=100(Denyut Nadi Kerja-Denyut Nadi Istirahat)(Denyut
Nadi Maksimum-Denyut Nadi Istirahat)

Denyut nadi maksimum = 220 – umur (Astrand and Rodahl, 1977)


Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan
klasifikasi sebagai berikut :
- X ≤ 30 % = tidak terjadi kelelahan
- 30 < X ≤ 60 % = diperlukan perbaikan
- 60 < X ≤ 80 % = kerja dalam waktu singkat
- 80 < X ≤ 100 % = diperlukan tindakan segera
- X > 100 % = tidak diperbolehkan beraktivitas

% CVL = 100 x (DNK-DNI)DN Max-DNI

% CVL = 100 x (153-84)200-84 = 59,48 %

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 48
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

4.2 Grafik Heart Rate Terhadap Waktu pada Saat Kerja untuk 2 Jenis
Pembebanan (kecepatan 3 dan 6)

Gambar 4.1 Grafik Heart Rate TerhadapWaktupadaSaatKerjauntuk 2 JenisPembebanan (kecepatan 3


dan 6)

4.3 Grafik Heart Rate Terhadap Waktu pada Saat Kerja kecepatan 1

Gambar 4.2Grafik Heart Rate TerhadapWaktupadaSaatKerjakecepatan 1

4.4 Grafik Heart Rate terhadap Waktu pada saat periode pemulihan untuk
semua kecepatan

a. Percobaan 1 ( beban kerja kecepatan 3 dan 6)

Gambar 4.3 Grafik Heart Rate TerhadapWaktupadasaatperiodepemulihanPercobaan 1


(bebankerjakecepatan 3 dan 6)
b. Percoban 2 ( beban kerja kecepatan 1)

Gambar 4.4Grafik Heart Rate TerhadapWaktupadasaatperiodepemulihanPercobaan 2


(bebankerjakecepatan1)

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 49
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

BAB V
ANALISIS

5.1 Analisis Grafik dari Hasil Percobaan Fisiologi


5.1.1 Analisis Grafik Heart Rate Terhadap Waktu pada Saat Kerja untuk 2 Jenis
Pembebanan dari Data Percobaan 1 (Kecepatan 3 & 6)

Gambar 5.1 Grafik Kerja Kecepatan 3 dan 6

Pada grafikdiatasdapat diketahui perbandingan2 pekerjaan yang dilakukan


operator pada saatmelakukanpekerjaanmenggunakan treat mill dengankecepatan 3
dankecepatan 6. Pada grafikkecepatan 3 terlihatgarisgrafikcenderungkonstan. Hal
tersebut karenakecepatan treat mill masih bisa diimbangi oleh kondisi operator
saat itu.Sedangkan padagrafikkecepatan 6 menunjukkan garisgrafiktidak konstan
atau cenderungnaik. Hal tersebut karenapadakecepatan 6 tingkatbeban / kesulitan
yang dihadapi operator lebihberatdaripada kecepatan 1 dan kecepatan 3. Namun
pada menit ke lima grafik kecepatan 6 menurun, karena operator sudah mulai
terbiasa atau sudah menyesuaikan diri sehingga bisa mengontrol pernafasan yang
dibutuhkan.

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 50
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

5.1.2 Analisis Grafik Heart Rate Terhadap Waktu pada Saat Kerja untuk dari
Data Kecepatan 1

Gambar 5.2 Grafik Kerja Kecepatan 1

Padagrafik di atas dapat diketahui bahwa denyut nadi oprator saat


melakukan pekerjaan tidak stabil. Hal tersebut karena operator pada saat
melakukan pekerjaan, banyak melakukan hal-hal yang dapat mempengaruhi
kecepatan denyutnadi tersebut, contohnya operator berbicara dengan rekan
sekelompok serta ada perasaan gugup saat melakukan pekerjaan sehingga
berpengaruh terhadap pernafasan yang di lakukan yang mengakibatkan naiknya
kecepatan denyut nadi.

5.1.3 Analisis Grafik Heart Rate Terhadap Waktu pada Saat Periode Pemulihan
untuk Semua Kecepatan

• Kecepatan 3 dan 6

Gambar 5.3 Periode Pemulihan Kecepatan 3 dan 6

Padagrafik di atasmenunjukanperbandingan denyut nadi pada saat


operator telah selesai melakukan pekerjaan /istirahat padakecepatan 3
dankecepatan 6, padagrafikkecepatan 3 denyut nadi terlihatturun dengan stabil,

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 51
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

namunpadamenit ke tiga, denyut nadi kembali naik. Hal tersebut karena pada saat
operator sedang istirahat, operator melakukan kegiatan lain yaitu bercanda dengan
teman sekelompok. Dan pada grafikkecepatan 6 terlihatbahwa denyut nadi
perlahan turun dengan stabil. Hal tersebut karena operator sudah lebih santai
dengan pekerjaan yang dilakukan. Sudah tidak ada rasa gugup sehingga denyut
nadi lebih mudah kembali ke kondisi normal.

• Kecepatan 1

Gambar 5.4 Periode Pemulihan Kecepatan 1

Padagrafikdi atas, denyut nadi pada saat operator telah selesai melakukan
pekerjaan dengan kecepatan 1menunjukankecepatandenyutnadicenderungstabil,
yaitu diantara 80 – 100. Hal tersebut karenapadasaat operator
melakukanpekerjaanmasihmemilikikondisi yang baiknamun karena tangan
diletakkan diatas meja, dan meja tersebut kadang bergerak membuat denyut nadi
menjadi naik kembali.

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 52
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

5.2 Analisis Penentuan Beban Kerja (Berisi Rekap KE)

Tabel 5.1 Perhitungan Konsumsi Energi


Heart Rate Heart Rate
Kecepata
Rata-Rata SaatPemuliha KE S T R
n
SaatKerja n

1 111 87,25 2,565 5 20 0

3 119,8 91 3,401 5 5 0

6 153 115,6 6,555 5 5 16,819

Dari tabel di atas, dapat diketahui informasi yang didapat dari pekerjaan yang
dilakukan operator bahwa jumlah rata-rata denyut jantung pada beban kerja kecepatan 1
adalah 111/menit sedangkan jumlah rata-rata denyut jantung saat pemulihannya adalah
87,25/menit. Dengan Jumlah denyut jantung pada saat operator belum melakukan pekerjaan
atau aktivitasadalah 84 denyut/menit. Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan,
diperoleh konsumsi energi untuk beban kerja kecepatan 1 adalah sebesar 2,565 Kkal/menit,
dan diperoleh pula penentuan waktu istirahatnya sebesar 0, karena nilai Konsumsi energinya
kurang dari nilai pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (S). Hal ini
menunjukkan bahwa pada beban kerja Treat mill kecepatan 1, operator tidak memerlukan
istirahat. Hal tersebut karena beban kerja yang dilakukan tidak memerlukan energi yang
besar.
Sedangkan pada beban kerja kecepatan 3, jumlah rata-rata denyut jantung pada saat
kerja adalah 119,8 denyut/menit sedangkan jumlah rata-rata denyut jantung saat
pemulihannya adalah 91/menit. Dengan Jumlah denyut jantung pada saat operator belum
melakukan pekerjaan atau aktivitasadalah 84 denyut/menit. Dan dilakukan pengolahan data,
maka diperoleh nilai konsumsi energinya sebesar 3,401 Kkal/menit. Nilai ini juga masih
kurang dari nilai pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (S), sehingga operator
tidak memerlukan istirahat setelah melakukan kerja dengan beban kerja Treat mill kecepatan
3.
Untuk Beban Kerja kecepatan 6, jumlah rata-rata denyut jantung pada saat kerja
adalah 153 denyut/menit dan jumlah rata-rata denyut jantung saat pemulihannya adalah 115,6
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 53
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

denyut/menit. Dengan Jumlah denyut jantung pada saat operator belum melakukan pekerjaan
atau aktivitasadalah 84 denyut/menit. Ddan setelah melakukan pengolahan data, diperoleh
nilai konsumsi energi yang diperlukan operator adalah sebesar 6,555 Kkal/menit. Nilai ini
kurang dari dua kali nilai pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (S) dan lebih
besar dari nilai S itu sendiri, sehingga dapat dipeoleh penentuan waktu istirahatnya adalah
sebesar 16,819 menit. Hal ini menunjukkan bahwa untuk beban kerja dengan kecepatan 6 ini,
operator membutuhkan waktu istirahat sebesar -183.64 menit.

Tabel 5.2 Klasifikasi Beban Kerja dan Reaksi Fisiologis

Energi Detak Jantung Konsumsi Energi


Tingkat Pekerjaan
Kkal/menit Kkal/8jam (detak / menit) Liter/menit
Undully Heavy >12,5 >6000 >175 >2,5
Very Heavy 10,00 – 12,5 4800 – 6000 150 – 175 2,0 – 2,5
Heavy 7,5 – 10,00 3600 – 4800 125 -150 1,5 – 2,0
Moderate 5,0 – 7,5 2400 – 3600 125 – 150 1,0 – 1,5
Light 2,5 – 5,0 1200 – 2400 60 – 100 0,5 – 1,0
Very Light <2,5 <1200 <60 <0,5

Kecepatan 1 :

Konsumsi Energi (KE) = 2,565kkal / menit


Percobaan dengan kecepatan 1 diklasifikasikan kepada tingkat pekerjaan Light karena
KE = 2,565 kkal/menit. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan tersebut
tidak berat dan juga tidak terlalu ringan namun tingkat pekerjaannya tetap di bawah
rata-rata serta reaksi fisiologis berupa konsumsi energi sebesar 0.5-1.0 liter/menit.
Program Studi Teknik Industri
Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 54
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

Kecepatan 3 :

Konsumsi Energi (KE) = 3,401 kkal / menit


Percobaan dengan kecepatan 1 diklasifikasikan kepada tingkat pekerjaan Light karena
KE = 3,401kkal/menit. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan tersebut
tidak berat dan juga tidak terlalu ringan namun tingkat pekerjaannya tetap di bawah
rata-rata serta reaksi fisiologis berupa konsumsi energi sebesar 0.5-1.0 liter/menit.
Kecepatan 6 :

Konsumsi Energi (KE) = 6,555 kkal / menit


Percobaan dengan kecepatan 1 diklasifikasikan kepada tingkat pekerjaan Moderate
karena KE = 6,555 kkal/menit. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan
tersebut adalah pekerjaan rata-rata serta reaksi fisiologis berupa konsumsi energi
sebesar 1.0-1.5 liter/menit.

5.3 Analisis Heart Reserve

Tabel 5.3 Perhitungan Heart Reserve


kecepata
n HR
23,28
1 %
30,86
3 %
59,48
6 %

a. Kecepatan 1
Hasil perhitungan %HRR untuk kecepatan 1 adalah 23,28%. Persensi tersebut
menunjukkan bahwa peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat
sampai kerja maksimum pada kecepatan 1 adalah sebesar 23,28%.

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 55
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

b. Kecepatan 3

Hasil perhitungan %HRR untuk kecepatan 3 adalah 30,86%. Persensi tersebut


menunjukkan bahwa peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat
sampai kerja maksimum pada kecepatan 3 adalah sebesar 30,86%.

c. Kecepatan 6
Hasil perhitungan %HRR untuk kecepatan 6 adalah 59,48%. Persensi tersebut
menunjukkan bahwa peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat
sampai kerja maksimum pada kecepatan 6 adalah sebesar 59,48%.

5.4 Perbedaan yang Terjadi pada Konsumsi Energi Maupun Lamanya Periode
Pemulihan dan Kaitannya dengan Prestasi Total Rest Time Serta Siklus Kerja
Fisiologinya
Tabel 5.4 Perhitungan Konsumsi Energi Dan Waktu Istirahat
Heart Rate Heart Rate
Kecepata
Rata-Rata SaatPemuliha KE S T R
n
SaatKerja n

1 111 87,25 2,565 5 20 0

3 119,8 91 3,401 5 5 0

6 153 115,6 6,555 5 5 16,819

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk kecepatan 1 dan kecepatan 3 didapatkan
waktu istirahat sebesar 0 menit atau tidak memerlukan waktu istirahat. Hal ini menunjukan
pekerjaan yang dilakukan oleh operator tergolong ringan sehingga tidak memerlukan waktu
istirahat. Konsumsi energi yang dibutuhkan operator berpengaruh terhadap waktu istirahat,
semakin kecil konsumsi operator waktu istirahat yang dibutuhkan juga semakin sedikit
bahkan tidak membutuhkan waktu istirahat. Untuk tingkat konsumsi energi sebesar 87,25 dan
91 kal/menit waktu istirahat yang dibutuhkan operator adalah 0 menit dan untuk konsumsi

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 56
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

energi 115,6 kal/menit waktu istirahat yang dibutuhkan operator sebesar 16,819 menit atau
sekitar 17 menit.

5.5 Manfaat Perhitungan Istirahat Total dengan Perancangan Kerja


Manfaat dariperhitungan istirah total dalam perancangan kerja sangatlah penting.
Karena dengan diketahuinya istirahat total yang diperlukan, bisa mengantisipasi dan menjaga
kinerja karyawan mengingat bahwa karyawan adalah aset yang sangat berharga yang dimiliki
oleh setiap perusahaan agar bisa tercapainya tingkat produktifitas yang maksimal.
Perhitungan standar waktu istirahat total dilakukan agar karyawan/pegawai tidak mengalami
cedera yang diakibatkan oleh pekerjaan yang mereka lakukan. Dan juga pekerjaan yang
dilakukan itu dapat lebih efisien dan efektif sehingga menguntungkan perusahaan dan tidak
memberatkan pada karyawan/pegawainya.

5.6 Analisis Hubungan antara Beban Kerja, Tingkat Konsumsi Energi, dan Lamanya
Waktu Istirahat beserta Aplikasi Dunia Nyata
Setelah dilakukannya pengolahan data, dapat diketahui bahwa hubungan antara
variabel data yang satu dengan yang lainnya saling terkait. Variabel-variabel yang diolah
antara lain beban kerja, konsumsi energi dan lamanya waktu istirahat. Hubungan diantara
ketiganya adalah semakin besar beban kerja yang dilakukan oleh operator maka semakin
besar pula konsumsi energi yang diperlukan. Hal tersebut pula yang akan mempengaruhi
lamanya waktu istirahat yang diperlukan oleh operator.
Dalam keseharian, hal tersebut dapat kita jumpai pada bengkel kapal tanker yang
melaksanakan pengelasan logam yang sangat besar. Ketika para pegawai mulai melakukan
aktifitas pekerjaannya, yaitu mengangkat logam – logam besar dan membutuhkan banyak
energi yang cukup besar dalam pekerjaannya. Maka para pegawai tersebut harus disesuaikan
waktu istirahatnya. Agar kondisi para pegawai tidak mudah sakit dan dapat meminimalisir
kecelakaan kerja. Karena mereka berhubungan langsung dengan kegiatan fisik. Secara
otomatis, tingkat konsumsi energi yang dipakai akan lebih besar dan waktu istirahat yang
diperlukan akan lebih lama.

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 57
Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja Dan Ergonomi
Modul 3A: Fisiologi Kerja
Kelompok 6

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1. Secara teori beban kerja, konsumsi energi, dan lamanya waktu pemulihan adalah
berbanding lurus. Makin besar beban kerja, maka konsumsi energi dan lamanya waktu
pemulihan juga makin besar. Hal ini sesuai dengan hasil praktikum yang didapatkan
data sebagai berikut:
Tabel 6.1 Perhitungan Konsumsi Energi Dan Waktu Istirahat
Heart Rate Heart Rate
Kecepata
Rata-Rata SaatPemuliha KE S T R
n
SaatKerja n

1 111 87,25 2,565 5 20 0

3 119,8 91 3,401 5 5 0

6 153 115,6 6,555 5 5 16,819

2. Fatique dan konsumsi energi semakin besar jika periode kerja yang dilakukan
semakin lama, sehingga dibutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama.
3. Adanya perancangan suatu sistem kerja yang baik, sehingga akan meningkatkan
produktifitas kerja. Dalam merancang sistem kerja antara lain, kita dapat menentukan
waktu kerja dan waktu istirahat yang tepat dan sesuai dengan jenis pekerjaan yang
dilakukan operator.
6.2 Saran
1. Dalam melakukan penghitungan denyut jantung peralatan otomatis memang
seharusnya digunakan sehingga jumlah denyut nadi per menit dapat diketahui dengan
tepat.
2. Operator yang melaksanakan kerja sebaiknya dipilih yang memiliki kondisi stabil.
3. Pada saat melakukan kerja, sebaiknya operator fokus pada pekerjannya, agar tidak
mengganggu proses kerjanya yang bisa berakibat juga pada perubahan denyut
nadi/menitnya.

Program Studi Teknik Industri


Universitas Diponegoro
Tahun Ajaran 2010/2011 58