Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

EMOSI, STRESS DAN ADAPTASI

Disusun Oleh:

KELOMPOK 5

SHINTIA LEGA UTAMI 1914301053

BERLIANA OKTAVIA 1914301080

NOVITA AJI RAHAYU 1914301081

KEMENTRIAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES TANJUNG KARANG

JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNG KARANG

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

TAHUN AKADEMIK 2020/2021


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan seluruh alam semesta, atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami sebagai penyusun makalah yang berjudul “EMOSI, STRESS DAN
ADAPTASI” dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Di dalam pembuatan makalah ini selain berkat bantuan dan tuntunan Allah Swt, tetapi juga
bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah
ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat dengan mudah dimengerti,
dapat menjadi sarana memperoleh ilmu serta mampu memberikan manfaat bagi para
pembacanya. Kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah ini
terdapat banyak kesalahan serta perkataan yang tidak berkenan di hati.

Lampung, 12 Februari 2021

KELOMPOK 5

ii
DAFTAR ISI

Kata pengantar.......................................................................................................ii

Daftar isi ..............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................1
1.3 Tujuan.........................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Emosi .....................................................................................................2


2.2 Stress .....................................................................................................5
2.3 Adaptasi .................................................................................................9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan..........................................................................................16
3.2 Saran ...................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesehatan bagi manusia merupakan aset untuk menjadi seorang yang potensial
diberbagai sektor. Artinya, salah satu aspek yang menandakan seseorang memiliki
kualitas hidup yang baik adalah kesehatan (Corrigan, Druss, & Perlick, 2014).
World Health Organization mengartikan sehat merupakan keadaan yang sejahtera
baik secara fisik, mental, maupun sosial (WHO, 2005).
Individu yang mampu mengelola emosi negatif atau hal yang menyakitkan ini
sangat penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang.
Namun, kesejahteraan psikologis dapat terganggu apabila emosi negatif sudah
ekstrim atau berlangsung dalam waktu yang lama dan mengganggu individu untuk
berfungsi seutuhnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari (Huppert, 2009).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah Yang dimaksud dengan emosi ?
2. Apakah Yang dimaksud dengan Stress ?
3. Apakah Yang dimaksud dengan Adaptasi ?

1.3. Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami materi emosi .
2. Mahasiswa mampu memahami materi stress.
3. Mahasiswa mampu memahami materi adaptasi .

1
BAB II

PEMBAHASAAN

2.1. Emosi
2.1.1 Definisi
Secara etimologis emosi berasal dari kata Prancis emotion, yang berasal lagi
dari emouvoir, ‘exicte’ yang berdasarkan kata Latin emovere, artinya keluar.
Dengan demikian secara etimologis emosi berati “bergerak keluar”. Emosi
adalah suatu konsep yang sangat majemuk sehingga tidak dapat satu pun
definisi yang diterima secara universal. Emosi sebagai reaksi penilaian(positif
atau negatif) yang kompleks dari sistem saraf seseorang terhadap rangsangan
dari luar atau dari dalam diri sendiri.
Menurut para tokoh definisi emosi yaitu :
1. Diungkap Prezz (1999) seorang EQ organizational consultant dan pengajar
senior di Potchefstroom University, Afrika Selatan, secara tegas mengatakan
emosi adalah suatu reaksi tubuh menghadapi situasi tertentu. Sifat dan
intensitas emosi biasanya terkait erat dengan aktivitas kognitif (berpikir)
manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi. Emosi adalah hasil reaksi
kognitif terhadap situasi spesifik.
2. Hathersall (1985) merumuskan pengertian emosi sebagai suatu psikologis
yang merupakan pengalaman subyektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah
dan tubuh. Misalnya seorang remaja yang sedang marah memperlihatkan
muka merah, wajah seram, dan postur tubuh menegang, bertingkah laku
menendang atau menyerang, serta jantung berdenyut cepat.
3. Selanjutnya Keleinginna and Keleinginan (1981) berpendapat bahwa emosi
seringkali berhubungan dengan tujuan tingkah laku. Emosi sering
didefinisikan dalam istilah perasaan (feeling), misalnya pengalaman-
pengalaman afektif, kenikmatan atau ketidaknikmatan, marah, takut bahagia,
sedih dan jijik.
4. Sedangkan menurut William James (dalam DR. Nyayu Khodijah)
mendefinisikan emosi sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan
dirinya dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh.

2
2.1.2 Faktor emosi
1. Faktor Internal
Umumnya emosi seseorang muncul berkaitan erat dengan apa yang dirasakan
seseorang secara individu. Mereka merasa tidak puas, benci terhadap diri
sendiri dan tidak bahagia. Adapun gangguan emosi yang mereka alami antara
lain adalah:
a. Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak sehingga
timbul ketidakpuasan, kecemasan dan kebencian terhadap apa yang
mereka alami.
b. Merasa dibenci, disia-siakan, tidak mengerti dan tidak diterima oleh
siapapun termasuk orang tua mereka.
c. Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina serta dipatahkan dari
pada disokong, disayangi dan ditanggapi, khususnya ide-ide mereka.
d. Merasa tidak mampu atau bodoh.
e. Merasa tidak menyenangi kehidupan keluarga mereka yang tidak
harmonis seperti sering bertengkar, kasar, pemarah, cerewet dan
bercerai.
f. Merasa menderita karena iri terhadap saudara karena disikapi dan
dibedakan secara tidak adil.

2. Faktor eksternal
Menurut Hurlock (1980) dan Cole (1963) faktor yang mempengaruhi emosi
negatif adalah berikut ini.
a. Orang tua atau guru memperlakukan mereka seperti anak kecil yang
membuat harga diri mereka dilecehkan.
b. Apabila dirintangi, anak membina keakraban dengan lawan jenis.
c. Terlalu banyak dirintangi dari pada disokong, misalnya mereka lebih
banyak disalahkan, dikritik oleh orang tua atau guru, akan cenderung
menjadi marah dan mengekspresikannya dengan cara menentang
keinginan orang tua, mencaci maki guru, atau masuk geng dan bertindak
merusak (destruktif).
d. Disikapi secara tidak adil oleh orang tua, misalnya dengan cara
membandingkan dengan saudaranya yang lebih berprestasi dan lainnya.

3
e. Merasa kebutuhan tidak dipenuhi oleh orang tua padahal orang tua
mampu.
f. Merasa disikapi secara otoriter, seperti dituntut untuk patuh, banyak
dicela, dihukum dan dihina.

2.1.3 Bentuk reaksi emosi


Menurut Goleman (2009), bentuk-bentuk emosi pada seseorang adalah sebagai
berikut:
a. Amarah, yaitu: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal
hati, terganggu, tersinggung, bermusuhan, hingga tindakan kekerasan dan
kebencian patologis.
b. Kesedihan, yaitu: pedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri,
kesedihan, ditolak, dan depresi berat.
c. Rasa takut, yaitu: takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali,
waspada, tidak senang, ngeri, takut sekali, fobia dan panik.
d. Kenikmatan, yaitu: bahagia, gembira, puas, terhibur, bangga, takjub,
terpesona, senang sekali dan manis.
e. Cinta, yaitu: persahabatan, penerimaan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa
dekat, bakti, hormat.
f. Terkejut, yaitu: terpana dan takjub.
g. Jengkel, yaitu: hina, jijik, muak, benci.
h. Malu, yaitu rasa bersalah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati
hancur lebur.

2.1.4 Keseimbangan Emosi


Dalam kamus Psikologi, keseimbangan emosi disebut dengan emotional
stabilty, karakteristik seseorang yang memiliki kontrol emosional yang baik.
Terkadang diistilahkan juga dengan emotional maturity (kedewasaan
emosional), yaitu satu keadaan mencapai tingkat kedewasaan dari
perkembangan emosional.
Sebaliknya, emosi yang tidak seimbang dapat mengakibatkan kecemasan
(anxiety), kegelisahan (nerveus), kekawatiran yang berlebih dan sikap tak
bertanggung jawab. Kondisi semacam ini bisa menghambat sistem kerja otak

4
menalar setiap masalah secara optimal. Sehingga dapat menyebabkan
kebimbangan yang berlarut.

2.2. Stess
2.2.1. Pengertian
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan
pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang
dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan
penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum
rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif,
karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan
potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa
beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif
yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan
dari pekerjaan mereka.
Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres
tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi
sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam
mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan
baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki
banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

2.2.2. Faktor penyebab


1. Faktor pribadi

Stress terjadi dapat terjadi di dalam pemikiran kita saja, jadi terkadang apa
yang ada di pikiran kita dapat membuat stress kita sendiri. Misalnya kita
akan berkenalan dengan cewek, tapi tiba-tiba saja ada kata-kata yang muncul
dipikiran kita, "bagaimana kalo cewek itu sudah punya cowok" atau "wajah
gue kan jelek", atau "gimana kalo nanti gue ditolak". Nah karena pemikiran-
pemikiran negatif kita sendiri itulah yang malah membuat kita menjadi stress
sendiri.

5
Faktor pribadi yang menyebabkan stress lainnya adalah kehilangan harta atau
jabatan atau kematian. Banyak juga bukan para calon-calon Bupati dan
Gubernur yang stress karena mereka tidak terpilih. Padahal mereka sudah
melakukan apapun untuk menjadi terpilih. Selain itu faktor kematian atau
ditinggal pergi oleh orang yang sangat kita sayangi juga bisa menyebabkan
stress, misalnya bapak Habibie yang ditinggal pergi Istrinya.

2. Faktor Sosial

Banyak sekali faktor-faktor sosial yang bisa menimbulkan stress. Misalnya


aja di lingkungan pekerjaan, beban kerja yang berat serta waktu yang mepet
ditambah rekan kerja yang tidak menyenangkan bisa membuat kita menjadi
stress. Selain itu letak atau tempat pekerjaan elo yang deket dengan bengkel
servis motor misalnya yang setiap hari harus mendengar suara-suara bising
bisa juga menambah tingkat ke stress-an.

2.2.3. Gejala Stress

Hardjana (1994) mengemukakan bahwa terdapat kriteria-kriteria gejala-gejala


stress, antara lain:

a. Gejala fisikal:
Sakit kepala, pusing, pening. tidur tidak teratur, insomania atau susah tidur,
bangun terlalu awal, sakit punggung, terutama bagian bawah ,mencret-
mencret dan radang usus besar, sulit buang air besar, sembelit. gatal – gatal
pada kulit. urat-urat tegang terutama leher dan bahu, keringat berlebih,
terganggu pencernaan atau bisulan, tekanan darah tinggi atau serangan
jantung, berubah selera makan, lelah atau kehilangan daya energy,
bertambah banyak melakukan kekeliruan dan kesalahan dalam kerja dan
hidup.
b. Gejala Emosional

6
Gelisah dan cemas, sedih, depresi, mudah menangis, merasa jiwa dan hati
atau mood berubah-ubah dengan cepat, mudah panas dan marah, gugup,
rasa harga diri menurun dan merasa tidak aman, rasa harga diri menurun
dan merasa tidak aman, marah-marah, gampang menyerang orang dan
bersikap bermusuhan, emosi mengering kehabisan sumber dayamental
(burn out).
c. Gejala Kognitf
Susah berkonsentrasi dan memusatkan pikiran, sulit mengambil keputusan,
mudah terlupa, pikiran kacau, daya ingat menurun, melamun secara
berlebihan, pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja, kehilangan rasa humor
yang sehat, produktifitas atau prestasi kerja menurun, mutu kerja yang
rendah.

d. Gejala Interpersonal
Kehilangan kepercayaan terhadap orang lain., mudah mempermasalahkan
orang lain., mudah membatalkan janji atau tidak memenuhi perjanjian, suka
mencari – cari kesalahan orang lain atau menyerang orang dengan kata-
kata, mengambil sikap terlalu membentengi dan mempertahankan diri,
membiarkan orang lain.

2.2.4. Respon Individu Terhadap Stress

1. Respon Psikologis Terhadap stress

Reaksi psikologis terhadap stres dapat meliputi, (Sarafino, 2007) :

1. Kognisi
Stres dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif.
Stresor berupa kebisingan dapat menyebabkan defisit kognitif pada anak-
anak. Kognisi juga dapat berpengaruh dalam stres.

2. Emosi

Emosi cenderung terkait dengan stres. Individu sering menggunakan


keadaan emosionalnya untuk mengevaluasi stres. Proses penilaian kognitif
dapat mempengaruhi stres dan pengalaman emosional. Reaksi emosional

7
terhadap stres yaitu rasa takut, fobia, kecemasan, depresi, perasaan sedih
dan rasa marah.

3. Perilaku Sosial

Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Individu


dapat berperilaku menjadi positif maupun negatif. Bencana alam dapat
membuat individu berperilaku lebih kooperatif, dalam situasi lain,
individu dapat mengembangkan sikap bermusuhan. Stres yang diikuti
dengan rasa marah menyebabkan perilaku sosial negatif cenderung
meningkat sehingga dapat menimbulkan perilaku agresif. Stres juga
dapat mempengaruhi perilaku membantu pada individu.

2. Reaksi Psikologis Terhadap Stres

a. Kecemasan

Respons yang paling umum merupakan tanda bahaya yang menyatakan


diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan adalah
emosi yang tidak menyenangkan dengan istilah kuatir, tegang, prihatin,
takut seperti jantung berdebar-debar, keluar keringan dingin, mulut kering,
tekanan darah tinggi dan susah tidur.
b. Kemarahan dan agresi

Perasaan jengkel sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan


sebagai ancaman. Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stres yang
mungkin dapat menyebabkan agresi.
c. Depresi

Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat.Terkadang


disertai rasa sedih.

8
2.3. Adaptasi
2.3.1. Definisi

Ada beberapa pengertian tentang adaptasi, antara lain :

1. W.A.Gerungan (1996) menybutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah mengubah


diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan
sesuai dengan keadaan (keinginan diri)”. Mengubah diri sesuai dengan
keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis), misalnya seorang bidan desa
harus dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma dan nilai-nilai yang
dianut masyarakat desa tempat ia bertugas.
Sebaliknya, apabila individu berusaha untuk mengubah lingkungan sesuai
dengan keinginan diri, sifatnya adalah aktif (alloplastis), misalnya seorang
bidan desa ingin mengubah perilaku ibu-ibu di desa untuk meneteki bayi
sesuai dengan manajemen laktasi.
2. Menurut Heerdjan (1987), “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang
tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan”. Adaptasi merupakan
pertahanan yang di dapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari
pengalaman untuk mengatasi stress. Cara mengatasi stress dapat berupa
membatasi tempat terjadinya stress, mengurangi, atau menetralisasi
pengaruhnya.

2.3.2. Jenis – Jenis Adaptasi

Adaptasi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :

B. Adaptasi fisiologis

Indikator adaptasi ini bisa terjadi secara lokal atau umum. Lebih mudah
diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun demikian,
indikator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang

9
mengalami stress, dan indikator tersebut bervariasi menurut individunya.
Tanda vital biasanya meningkat dan klien mungkin tampak gelisah dan tidak
mampu untuk beristirahat serta berkonsentrasi. Indikator ini dapat timbul
sepanjang tahap stress.

Contoh :

 Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang berat


dan tidak merasa mengalami gangguan apa-apa pada organ tubuh.
 Seseorang yang mampu mengatasi stress, wajahnya tidak pucat,
tangannya tidak berkeringat dan tidak gemetar.

C. Adaptasi psikologis

Adaptasi secara psikologis dapat dibagi menjadi dua yaitu:

1. LAS (Local adaptation syndroma) adalah apabila kejadiannya atau


proses adaptasi bersifat lokal contoh: seperti ketika kulit terinfeksi maka
akan terjadi disekitar kulit tersebut kemerahan, bengkak, nyeri, panas dll
yang sifatnya lokal atau pada daerah sekitar yang terkena.
2. GAS ( general adaptation syndroma) adalah apabila reaksi lokal tidak
dapat diaktifitasi maka dapat menyebabkan gangguan dan secara
sistemik tubuh akan melakukan proses penyesuaian diri seperti panas di
seluruh tubuh, berkeringat.

Adaptasi psikologis bisa terjadi secara :

a. Sadar, individu mencoba memecahkan atau menyesuaikan diri dengan


masalah
b. Tidak sadar , menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence
mechanism)
c. Menggunakan gejala fisik atau psikofisiologik/psikosomatik.

10
D. Adaptasi Perkembangan

Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk


menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan,
seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan
karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang
berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran
menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem,
stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan.

E. Adaptasi Sosial Budaya

Mengkaji stressor dan sumber koping dalam dimensi sosial mencakup


penggalian bersama klien tentang besarnya, tipe, dan kualitas dari interaksi
sosial yang ada. Stresor pada keluarga dapat menimbulkan efek disfungsi
yang mempengaruhi klien atau keluarga secara keseluruhan (Reis &
Heppner, 1993). Perawat juga harus waspada tentang perbedaan cultural
dalam respon stress atau mekanisme koping. Misalnya klien dari suku
Afrika-Amerika mungkin lebih menyukai mendapatkan dukungan sosial dari
anggota keluarga ketimbang dari bantuan professional (Murata, 1994).

F. Adaptasi Spiritual

Orang menggunakan sumber spiritual untuk mengadaptasi stress dalam


banyak cara, tetapi stress dapat juga bermanifestasi dalam dimensi spiritual.
Stress yang berat dapat mengakibatkan kemarahan pada Tuhan, atau individu
mungkin memandang stressor sebagai hukuman. Stresor seperti penyakit
akut atau kematian dari orang yang disayangi dapat mengganggu makna
hidup seseorang dan dapat menyebabkan depresi. Ketika perawatan pada
klien yang mengalami gangguan spiritual, perawat tidak boleh menilai
kesesuaian perasaan atau praktik keagamaan klien tetapi harus memeriksa
bagaimana keyakinan dan nilai telah berubah.

2.3.3. Tahap – tahap Proses Adaptasi


Langkah pertama yang kita mulai dalam proses penyesuaian diri yang baik
yakni pemahaman (inisight) dan pengetahuan tentang diri sendiri (self-

11
knowledge). Dengan insight dan self-knowledge terhadap diri sendiri, maka kita
dapat mengetahui kapabilitas dan kekurangan diri kita sendiri dan kita dapat
menangani secara efektif masalah-masalah penyesuaian diri. Pengetahuan
tentang diri sendiri memerlukan perincian yang baik tentang kekuatan dan
kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan itu, sekurang-kurangnya
kita berusaha untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh- pengaruhnya
terhadap kehidupan-kehidupan kita. Dan sebaliknya, dengan mengetahui
kekuatan kita sendiri, maka kita berada pada posisi yang lebih baik. Untuk
menggunakannya demi pertumbuhan pribadi. Perbaikan diri dimulai dengan
keberanian dan kepastian untuk menghadapi kebenaran tentang diri sendiri.

Kemudian langkah selanjutnya yakni pengendalian diri sendiri yang berarti


orang- orang mengatur implus-implus, pikiran-pikiran, kebiasaan-keibiasaan,
emosi-emosi dan tingkahlaku berkaitan dengan prinsip-prinsip yang dikenakan
pada diri sendiri atau tuntunan-tuntunan yang dikenakan oleh masyarakat.
Dengan demikian individu yang komfulsif, histris atau obsesif, atau orang yang
menjadi korban kehawatiran, sifat yang terlalu berhati- hati, ledakan amarah,
kebiasaan gugup, merasa sulit atau tidak mungkin menanggulangi dengan baik
tugas-tugas dan masalah sehari-sehari.

Pengendalian diri adalah dasar bagi integrasi pribadi yang merupaka salah satu
kualitas yang penting dari orang yang dapat menyesuaiakan diri dengan baik
dan salah satu standar yang baik dalam menentukan tingkat penyesuaian diri.
Selanjutnya dalam mengembangkan pengendalian dan integrasi, pembentukan
“kebiasaan-kebiasan yang bermanfaat” adalah penting karena banyak
penyesuaian diri individu tiap saat diakibatkan oleh tingkah laku menurut
kebiasaan (habitual behavior) dan biasanya penyesuaian diri yang baik tidak
dapat dirusak oleh sistem-sistem yang tidak efisien atau tidak sempurna.

12
SOAL

1. Respon tubuh terhadap keadaan yang mengancam baik jasmani maupun


emosionaldisebut....
a. Stressor
b. Stress
c. Adaptasi
d. Model stress
e. Respons stress

2. Respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya
merupakan definisi stress menurut...
a. Ivancevich dan Matteson
b. Kreitner
c. Hans seyle
d. Jenita DT donsu
e. Kozier

3. Stress dapat didefinisikan sebagai respon adaptif, dipengaruhi oleh karakteristikindividu


dan atau proses psikologis merupakan definisi stress menurut...
a. Ivancevich dan Matteson
b. Kreitner
c. Hans seyle
d. Perry potter
e. Kozier

13
4. Apabila reaksi lokal tidak dapat diaktifitasi maka dapat menyebabkan gangguan dan
secara sistemik tubuh akan melakukan proses penyesuaian diri seperti panas di seluruh
tubuh, berkeringat. Pernyataan tersebut merupakan .....
a. Local Adaftation Syndroma
b. General Adaftation Syndroma
c. Adaptasi Perkembangan
d. Adaptasi Sosial Budaya
e. Adaptasi Fisiologis
5. Suatu psikologis yang merupakan pengalaman subyektif yang dapat dilihat dari reaksi
wajah dan tubuh merupakan definisi dari....
a. Stress
b. Adaptasi
c. Emosi
d. Marah
e. Depresi

6. Susah berkonsentrasi dan memusatkan pikiran, sulit mengambil keputusan, mudah


terlupa, pikiran kacau, daya ingat menurun, melamun secara berlebihan, pikiran dipenuhi
oleh satu pikiran saja, kehilangan rasa humor yang sehat, produktifitas atau prestasi kerja
menurun, mutu kerja yang rendah. Pernyataan diatas merupakan gejala stress bersifat.....
a. Interpersonal
b. Kognitif
c. Fisikal
d. Emosional
e. Personal

7. Dibawah ini yang merupakan faktor emosi yang berasal dari faktor internal adalah.....
a. Apabila dirintangi, anak membina keakraban dengan lawan jenis.
b. Terlalu banyak dirintangi dari pada disokong.
c. Disikapi secara tidak adil oleh orang tua, misalnya dengan cara membandingkan
dengan saudaranya yang lebih berprestasi dan lainnya.
d. Merasa kebutuhan tidak dipenuhi oleh orang tua padahal orang tua mampu.
e. Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak sehingga timbul
ketidakpuasan, kecemasan dan kebencian terhadap apa yang mereka alami.

14
8. “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan
hambatan”. Pernyataan diatas merupakan definisi adaptasi yang dikemukakan oleh....
a. Hathersall (1985)
b. William James (dalam DR. Nyayu Khodijah)
c. Goleman (2009)
d. Heerdjan (1987)
e. W.A.Gerungan (1996)

9. Amarah, Kesedihan, Rasa takut, Kenikmatan , Cinta, Terkejut, Jengkel, Malu.


Merupakan bentuk emosi menurut....
a. Hathersall (1985)
b. William James (dalam DR. Nyayu Khodijah)
c. Goleman (2009)
d. Heerdjan (1987)
e. W.A.Gerungan (1996)

10. Berikut reaksi psikologis terhadap stress yaitu....


a. Kecemasan
b. Kognitif
c. Perilaku sosial
d. Perilaku budaya
e. Emosi

15
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Emosi adalah suatu perasaan dengan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis
dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi sebagai gejala
kejiwaan berhubungan dengan gejala kejasmanian. Apabila individu mengalami
emosi, dalam diri individu itu akan terdapat perubahan-perubahan dalam kejasmanian.
Sedangkan stress yang terjadi pada setiap individu berbeda-beda tergantung pada
masalah yang dihadapi dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut. Jika
masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka individu tersebut akan senang,
sedangkan jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik dapat
menyebabkan individu tersebut marah-marah, frustasi hingga depresi. Adaptasi adalah
proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap
stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, promosi kesehatan sering
difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau komunitas terhadap stress. Ada
banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan homeostasis fisiologis.
Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa dalam dimensi psikososial dan
dimensi lainnya. Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal
dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan
demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal.

3.2. Saran

Kesehatan merupakan harta yang paling berharga bagi manusia, oleh karena itu
jagalah kesehatan sebagaimana mestinya. Stress dapat dikatakan sebagai salah satu tes

16
mental bagi jiwa manusia walaupun tidak dapat dipungkiri stress juga berdampak
pada fisik manusia. Untuk menghindari stress dapat dilakukan dengan menjaga
kondisi tubuh antara input dan output agar tetap seimbang (homeostatis). Sebagai
manusia terapi psikologis juga diperlukan untuk membangun spirit hidup, terapi
psikologis yang paling sederhana dapat dilakukan dengan cara selalu berpikir positif.
Berpikir positif akan selalu membawa manusia kepada hal-hal yang menjurus kepada
keberhasilan dan sikap optimisme, selain itu berpikir positif juga dapat mengurangi
dampak stress pada diri seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Davis,M., Eshelman, E.R.,& Mc Kay,M . The relatifision and stress reduction workbook
(third ed). 1988. California New Hanbinger Publition,Inc

Drs. Sunaryo, M.Kes (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

Dalami Ernawati.S.Kp.2009.Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan jiwa.jakarta:TIM

Kozier,B.,Erb.G & Bufalino.P.M . Introdution of nursing California Addision. 1989. Wessley


Publising Company.

Rasmun.,SKp.,M.Kep. Stress, Koping dan Adaptasi. 2004. Jakarta:Sagung Seto.

Suliswati, Yenni Sianturi, dkk (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta :
EGC

S, kadir ABD.2010. Psikologi Keperawatan.Palembang Pieter, heri zan.2102. Pengantar


Psikologi dalam Keperawatan.Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Stuart G.W dan Laraia.M.T.(1998).Principle and practice of pschiatric nursing.Edisi 8 St


Louis.Mosby year Book.

https://acehmillano.wordpress.com/2016/03/03/stress-dan-adaptasi/

http://adamakalahlengkap.blogspot.co.id/2016/03/stress-dan-adaptasi.html

http://etheses.uin-malang.ac.id/1867/6/09410010_Bab_2.pdf
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/153/jtptunimus-gdl-marisalael-7626-3-babii.pdf

17
18