Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

KOMUNIKASI TERAPEUTIK

DOSEN PENGAJAR
MERAH BANGSAWAN, SKM. M.KES

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN TANJUNG KARANG
TA 2019/2020
2
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji dan syukur kita haturkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
perlindungannya yang telah memberikan kekuatan lahir maupun batin sehingga
penulisan makalah ini dapat terselesaikan.
Tak lupa salawat beriringkan salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa umatnya dari zaman yang tidak berilmu pengetahuan ke zaman yang
berilmu pengetahuan seperti pada saat ini.
Adapun penulisan makalah ini berjudul “KOMUNIKASI TERAPEUTIK”.
Rasa dan terima kasih kami sampaikan kepada pihak yang telah membantu dalam
penulisan makalah ini. Makalah ini mempunyai banyakkekurangan. Untuk itu kami
meminta kritik dan saran agar makalah ini menjadi lebih baik dan dapat digunakan
sebagaimana fungsinya. Akhir kata kami mengucapakan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandar lampung, Juli 2019-07-24

Penulis

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................i


DAFTAR ISI.......................................................................................................ii

BAB I Pendahuluan
Latar Belakang..............................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Komunikasi Terapeutik.....................................................................................2
Tujuan Komunikasi Terapeutik.............................................................................................2
Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik................................................................................4
Karakterristik Helper Yang Memfasiltasi Tumbuhnya Hubungan Terapeutik..5
Keberhasilan Komunikasi.........................................................................................................6
Perbedaan Hubungan Sosial Dengan Hubungan Terapeutik....................................7
Teknik Komunikasi Teraupetik..............................................................................................7
Teknik Komunikasi Yang Kurang Tepat............................................................................11

BAB III PENUTUP


Kesimpulan....................................................................................................................................12
Lampiran........................................................................................................................................13

4
BAB I
LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mungkin lepas dari berkomunikasi.


Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar
manusia. Salah satu kajian ilmu komunikasi adalah komunikasi kesehatan yang merupakan
hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia masa lalu dan masa sekarang dengan
derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari
pengetahuan tersebut atau partisipasi profesional dalam program-program yang bertujuan
memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan
timbal balik melalui perubahan tingkah laku sehat ke arah yang diyakini akan meningkatkan
kesehatan yang lebih baik.
Pada profesi keperawatan, komunikasi menjadi lebih bermakna karena
merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan. Pengalaman
ilmu untuk menolong sesama memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang
lebih besar (Abdalati, 1989). Oleh karena hal tersebut, perawat membutuhkan kemampuan
khusus dan kepedulian sosial yang mencakup kemampuan intelektual, teknikal, dan
interpersonal yang tercermin dari perilaku kasih sayang dan cinta dalam berkomunikasi
dengan orang lain (Johnson, 1989).
Seorang perawat penting sekali untuk menguasai kemampuan komunikasi
terapeutik. Komunikasi terapeutik jika dikuasai dengan baik oleh seorang perawat, maka ia
akan lebih mudah menjalin hubungan saling percaya dengan pasien. Tak hanya hal itu saja,
dengan kemampuan komunikasi terapeutik yang baik maka perawat dapat mengatasi masalah
legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan, dan meningkatkan
Komunikasi yang baik dari seorang perawat, khususnya komunikasi terapeutik,
dapat memberikan kepercayaan diri pasien. Dalam hal ini ditekankan bahwa seorang perawat
harus mampu berbicara banyak serta bisa menunjukkan kesan low profile pada pasiennya.
Dalam tulisan ini, kami membahas mengenai komunikasi terapeutik yang meliputi
pengertian, tahapan/fase-fase dalam komunikasi terapeutik, serta tekniknya.

5
BAB II

KOMUNIKASI TERAPEUTIK
A. PENGERTIAN TERAPEUTIK
 Northouse (1998): Komunikasi terapeutik adalah kemampuan perawat dalam membantu
klien untuk dapat beradaptasi dengan stress yang dialaminya. Serta mengatasi gangguan
psikologis, dan belajar untuk berhubungan baik dengan orang lain.
 Stuart G.W (1998): komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara 
perawat dan pasiennya. Dimana dalam hubungan ini, perawat dan klien bersama-sama
belajar untuk memperbaiki pengalaman emosional klien.
 Sundeen (1990): hubungan terapeutik merupakan sebuah hubungan kerjasama.
Hubungan ini ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman
antara perawat dan pasien untuk membina hubungan intim yang terapeutik
 Mahmud Machfoedz (2009): Komunikasi Terapeurik merupakan pengalaman interaktif
antara perawat dan pasien ya ng didapatkan secara bersama melalui komunikasi.
Komunikasi disini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang pasien hadapi.
 Wahyu Purwaningsih dan Ina Karlina (2010): komunikasi terapeutik berfokus pada
klien dalam memenuhi kebutuhan klien, serta memiliki tujuan spesifik, dan batas waktu
yang ditetapkan bersama. Merupakan hubungan timbal balik saling berbagi perasaan
yang berorientasi pada masa sekarang.
 Hibdon,S. (2000) menyatakan bahwa pendekatan konseling yang memungkinkan klien
menemukan siapa dirinya merupakan fokus dari komunikasi terapeutik dalam
mempelajar.
 Potter-Perry (2000) proses dimana ners menggunakan pendekatan terencana dalam
mempelajari klien.

B. TUJUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


Menurut Suryani ( 2005 ) komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi
klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang
meliputi :
a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan kesadaran dan penghargaan diri.
Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran

6
mempertahankan kekuatan egonya. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi
perubahan dalam klien.
b. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisal dan saling
bergantung dengan orang lain dan mandiri. Membantu mengambil tindakan yang
efektif untuk mengubah situasi yang ada.
c. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai
tujuan yang realistis. Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan terlalu tinggi
tanpa mengukur kemampuannya.
d. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
Menurut Effendy (2002) :
a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri. Melaui
komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan pada diri klien.
b. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling
bergantung dengan orang-orang lain. Melalui komunikasi terapeutik, pasien
diharapkan mau menerima dan diterima oleh orang lain.
c. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai
tujuan yang realistis. Terkadang klien menetapkan ideal diri atu tujuan yang terlalu
tingg tanpa mengukur kemampuannya.
d. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri identitas personal
disini termasuk status, peran, jenis, dan jenis kelamin.
e. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya
pada hal yang di perlukan.
f. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan
mempertahankan kekuatan egonya.
g. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Menurut (Indrawati, 2003 48).
a. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu
mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
b. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi
oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini,
hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak
terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa.

7
C. PRINSIP DASAR KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Menurut Suryani (2005), komunikasi terapeutik dalam keperawatan mengandung prinsip-
prinsip sebagai berikut:

a. Melihat permasalahan dari sudut pandang pasien

Untuk dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi pasien, perawat harus
memandang masalah tersebu dari sudut pandang klien. Perawat hendaknya mendengarkan
secara aktif dan sabar apa yang dikomunikasikan oleh pasien.

b. Tidak mudah dipengaruhi masa lalu pasien dan masalalu perawat sendiri

Seseorang tidak akan mampu berbuat yang terbaik saat ini, jika dia masih dihantui oleh
penyesalan masa lalunya. Perawat yang memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan
dalam hidupnya, akan sulit untuk dapat membantu pasien, sebelum dia sendiri menyelesaikan
masalah pribadinya tersebut.

c. Empati bukan simpati

dengan sikap empati, perawat akan mampu merasakan dan memikirkan masalah yang dialami
pasien dari sudut pandang klien. Namun perawat tidak larut dalam masalah tersebut, sehingga
dapat melihat masalah secara objektif dan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah.

d. Menerima apa adanya

Penerimaan yang tulus dari perawat akan membuat pasien merasa aman dan nyaman,
sehingga hubungan terapeutik dapat berjalan dengan baik. Perawat hendaknya tidak
memberikan penilaian atau kritik terhadap pasien, karna itu menunjukkan bahwa perawat
tidak menerima pasien apa adanya.

Prinsip Lainnya:

 Kejujuran:  untuk dapat membina hubungan saling percaya, diperlukan kejujuran.


Pasien akan jujur dan terbuka hanya jika dia yakin perawat juga jujur sehingga dapat
dipercaya.

8
 Ekspresif, tidak membingungkan: perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang
mudah dimengerti dan didukung oleh komunikasi nonverbal.
 Bersikap positif: perawat hendaknya bersikap hangat, penuh pernghargaan dan
perhatian yang tulus terhadap pasien.
 Sensitif terhadap perasaan pasien: perawat harus mampu untuk peka akan perasaan
yang dialami pasien,. Ini sangat penting agar perawat tidak melakukan pelanggaran batas,
privasi, atau menyinggung perasaan pasien.

D. KARAKTERISTIK HELPER YANG MEMFASILITASI TUMBUHNYA


HUBUNGAN TERAPEUTIK
Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai
berikut: (Arwani, 2003 : 54).
1. Ikhlas (Genuiness)
Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan pendekatan
individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk
mengkomunikasikan kondisinya secara tepat.
2. Empati (Empathy)
Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Obyektif dalam memberikan
penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.
3. Hangat (Warmth)
Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan
mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya
lebih mendalam.
Menurut Roger. Karakteristik tersebut antara lain :
a. Kejujuran (trustworthy). Kejujuran merupakan modal utama agar dapat melakukan
komunikasi yang bernilai terapeutik,tanpa kejujuran mustahil dpat membina hubungan
saling percaya.
b. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat
menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh pasien.
c. Bersikap positif.
d. Empati bukan simpati.
e. Mampu melihat permasalahan pasien dari kacamata pasien.
f. Menerima pasien apa adanya.Sensitif terhadap perasaan klien.
g. Sensitif terhadap perasaan pasien.

9
h. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri.

E. KEBERHASILAN KOMUNIKASI
Sebuah frame komunikasi, setidaknya ada 3 hal dari elemen tersebut yang harus ada
dalam sebuah frame komunikasi yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu peristiwa
komunikasi tersebut yaitu komunikator, pesan dan komunikan.
Karakteristik tersebut adalah (Hamid, 1998)
a. Memiliki kesadaran diri tinggi
b. Mampu melakukan klarifikasi nilai
c. Mampu mengeksplorasi perasaan
d. Mampu untuk menjadi model peran
e. Motivasi altruistik
f. Rasa tanggung jawab yang etik

Elemen “pesan” yang dapat menentukan keberhasilan komunikasi, juga harus memenuhi
syarat sebagai berikut : Effendy (2000:41)

a. Pesan harus direncanakan


b. Pesan menggunakan bahasa yang dapat di mengerti kedua belah pihak
c. Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima
d. Pesan harus berisi hal hal yang mudah di pahami
e. Pesan yang di sampaikan tidak samar samar

Hal hal yang dapat menjadi kendala dalam mencapi tujuan ini kadang muncul dari perawat
itu sendiri, di antaranya adalah

a. Tingkah laku perawat


b. Perawat yang berorientasi rumah sakit
c. Perawat kurang tanggap terhadap kebutuhan, keluhan keluhan, serta kurang
memperhatikan apa yang dirasakan oleh klien sehingga menghambat hubungan baik

10
F. PERBEDAAN HUBUNGAN SOSIAL DENGAN HUBUNGAN TERAPEUTIK

Komponen Hubungan Hubungan Sosial Hubungan Terapeutik


Saling membuka diri Bervariasi Klien; membuka diri

Perawat; membuka diri


dalam rangka menanggapi
saja
Fokus percakapan Tidak dikenal oleh partisipan Dikenal oleh perawat dan
klien
Topik yang tepat Sosial, bisnis, umum dan Pribadi dan berhubungan
tidak pribadi dengan perawat dan klien
Hubungan pengalaman Tidak terkait dan Ada keterlibatan dan
dengan dengan topik menggunakan pengetahuan menggunakan pengetahuan
percakapan yang tidak berhubungan yang berkaitan
Orientasi waktu Masa lalu yang mendatang Sekarang

Pengungkapan perasaan Ungkapan perasaan di Ungkapan perasaan didorong


hindari oleh perawat
Pengangkatan harkat Tidak diakui Sangat diakui
individu

G. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK


Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi efektif yang terapeutik, yaitu:
1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun
penerima pesan
2. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukaan lebih dahulu
sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.

Tehnik komunikasi berikut ini, terutama pengguna referensi dari Shives (1994), Stuart
& Sundeen (1950) dan Wilson & Kneisl (1920), Yaitu :

11
1. Mendengarkan (Listening), merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik.
Mendengarkan mempunyai arti : konsentrasi aktif dan perepsi terhadap pesan orang
lain yang menggunakan semua indra (Lindberg et al, 1998).
2. Bertanya (question) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk
mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
a. Pertanyaan fasilitatif (facilitative question) terjadi jika pada saat bertanya perawat
sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan
masalah klien.
b. Pertanyaan terbuka dan tertutup (open question), digunakan apabila perawat
membutuhkan jawaban yang banyak dari klien.
c. Inapropriate quantity question, yaitu pertanyaan yang kurang baik dari sisi jumlah
pertanyaan, yang mengakibatkan klien bingung dalam menjawab.
d. Inappropiate quality quastion, yaitu pertanyaan yang tidak baik diberikan pada klien
dan biasanya dimulai dengan kata “why”(mengapa).

3. Penerimaan, yaitu mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang
menunjuukkan ketertarikan dan tidak menilai. Menerima berarti bersedia untuk
mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju.

Sikap perawat yang menunjukkan penerimaan:

1. Mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.


2. Menyediakan umpan balik yang menunjukkan penerimaan.
3. Memastikan bahwa tanda nonverbal sesuai dengan verbal.
4. Menghindarkan mendebat, mengekspresikan keraguan atau usaha untuk merubah pikiran
klien.

Sikap perawat yang menunjukkan tidak ada penerimaan:

1. Memutar mata keatas


2. Menggelengkan kepala
3. Memandang dengan muka masam
4. Mengulang (restating), yaitu menggulang pokok pikiran yang diungkapkan klien
masuknya adalah mengulang pokok pikirang yang diungkapkan klien dengan
menggunakan kata-kata sendiri.

12
5. Klarifikasi (clarification), adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak
jelaskan atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya. Gunakan teknik
ini adalah untuk kejelasan dan kesamaan pengertian, perasaan dan persepsi perawat dan
klien.
6. Refleksi (reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, dan isi pembicaraan
kepada klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang
diucapkan klien dan menekankan empati, minat, dan penghargaan terhadap klien (Antai-
Otong dalam suryani,2005.
7. Memfokuskan (focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas
masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart, G.W
dalam Suryani,2005). Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan
pembicaraan sehingga pembahasan masalah lebih spesifik dan dimengerti dan
mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan. Contohnya: “Hal ini
nampaknya penting, nanti kita bicarakan lebih dalam lagi”.
8. Diam (silence) tehnik diam digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien
sebelum menjawab pertanyaan perawat. Diam akan memberikan kesempatan kepada
perawat dan klien untuk mengorganisasikan pikiran masing-masing (Stuart&Sundeen,
dalam Suryani,2005)
9. Memberikan informasi (informing) memberikan informasi tambahan kesehatan untuk
klien. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada
klien tentang aspek-aspek yang relavan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien.
Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat perlu mengklarifikasikan
alasanya.
10. Menyimpulkan (summerizing) menyimpulkan adalah tehnik komunikasi yang membantu
klien mengeksplorasi point penting dari interaksi perawat klient. Tehnik ini membantu
perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan.
Contohnya; “selama berapa jam, anda dan saya telah membicarakan...”
11. Mengubah cara pandang (reframing) tehnik ini digunakan untuk memberikan cara
pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu masalah dari aspek negatifnya saja
(Geldard, dalam Suryani,2005. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien
memandang sesuatu masalah dari sisi negatifnya saja. Misalnya: “sebenarnya apa yang
anda pikirkan tidak seburuk itu kejadianya”.
12. Eksplorasi tehnik ini bertujuan untuk mencari atau menggali lebih dalam masalah yang
dialami klien (Antai-Otong, dalam Suryani, 2005) supaya tersebut bisa diatasi. Tehnik ini

13
bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah
yang dialami klien.
13. Membagi persepsi (sharing perception) Stuart G.W., (1998) dalam Suryani menyatakan
membagi persepsi (sharilah perseption) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang
perawat rasakan atau pikirkan. Teknik ini digunakan ketika perawat merasakan atau
melihat ada perbedaan antara respon verbal dan respon non verbal klien. Contoh: perawat
tersenyum ketika mendengar cerita pasienya .
14. Identifikasi tema perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan
harus mampu menangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. Contohnya: “ saya
perhatikan sejak awal pertemuan sampai sekarang, kamu banyak bercerita tentang
kekecewaanmu karena cintamu ditolak. Apakah menurut ini hal penting yang akan kita
diskusikan?”
15. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan teknik ini menganjurkan klien untuk
mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengindikasikan bahwa klien sedang
mengikuti apa yang sedang di bicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan
selanjutnya.
Contoh:
 “...teruskan...!”
 “...dan kemudian...?”
16. Humor menurut Florence Nightingale dalam Anonymous ( 1999 ) suatu pengalaman pahit
sangat baik ditangani dengan humor. Dugan ( 1989 ) mengatakan bahwa tertawa
membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stress. Sullivan
dan Deane (1989) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan
hormon yang menimbulkan perasaan sehat, dan meningkatkan toleransi terhadap rasa
sakit.
17. Memberikan pujian merupakan keuntungan psikologis klien yang didapatkan dari
perawat dan berguna juga untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien.
Contoh :
“Selamat pagi Ibu Sri”
“ Saya perhatikan ibu sudah menyisir rambut Ibu”

14
H. TEKNIK KOMUNIKASI YANG KURANG TEPAT
1. Memberikan jaminan : memberikan informasi yang belum pasti
2. Memberikan penilaian : membuat klien merasa diabaikan perasaannya oleh
perawat
3. Memberi komentar klise : memberi komentar itu-itu saya atau umum
4. Memberi saran
5. Mengubah pokok pembicaraan : mebuat klien merasa kita tidak tertarik dengan
pembicaraannya
6. Defensif

15
BAB III
KESIMPULAN

  Komunikasi terapeutik adalah komunikasi secara sadar yang dilakukan oleh seorang perawat
untuk kesembukan pasien.
  Tujuan dilakukannya komunikasi terapeutik:
         Membantu klien/pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien pecaya pada hal
yang diperlukan.
         Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif
dan    mempertahankan kekuatan egonya.
         Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
  Tahapan dalam komunikasi terapeutik:
         Fase prainteraksi
         Fase orientasi
         Fase kerja
         Fase terminasi
  Teknik-teknik komunikasi terapeutik:
         Mendengarkan dengan penuh perhatian
         Menunjukkan penerimaan
         Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
         Mengulang ucapan klien dengan kata-kata sendiri
         Klarifikasi
         Focusing
         Menyampaikan hasil observasi
         Menawarkan informasi
         Diam
         Meringkas
         Memberi penguatan
         Menawarkan diri
         Memberi kesempatan klien untuk memulai pembicaraan

16