Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KESEHATAN JIWA KEPADA MASYARAKAT DI


PUSKESMAS DENPASAR SELATAN II

OLEH:

1. CARMELITA GUSMAO DA SILVA (2114901114)


2. LUH ADE ALIT JUWITA ANJANI (2114901118)
3. I MADE WIKA PURNANDA (2114901137)
4. PUTU LANANG PAYANA (2114901153)
5. NI MADE SETYANINGSIH (2114901222)
6. ENDANG AYU PUTRI KERMANA (2114901073)

FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
2021/2022
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
KESEHATAN JIWA KEPADA MASYARAKAT DI
PUSKESMAS DENPASAR SELATAN II

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan Jiwa merupakan keadaan jiwa yang sehat menurut ilmu
kedokteran sebagai unsur kesehatan, yang dalam penjelasan Kesehatan Jiwa
adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan
emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras
dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang
harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan
manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain. Kesehatan jiwa adalah
bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi yang memungkinkan
perkembangan fisik, mental dan sosial individu secara optimal, dan yang
selaras dengan perkembangan orang lain (Kemenkes, 2016).
Orang yang mengalami gangguan Jiwa di Dunia ini sudah banyak dan
bahkan di Indonesia pun banyak penderita gangguan Jiwa baik dari kalangan
remaja, dewasa, anak-anak sampai orangtua atau lansia mengalami gangguan
tersebut. Menurut (Videbeck dalam Prabowo, 2014) berpendapat bahwa
gangguan Jiwa adalah keadaan emosi, psikologis, dan sosial yang terpandang
dari hubungan komunikasi antar dua orang yang tidak terpenuhi tindakan dan
pertahanan yang baik, sesuatu yang dapat dipahami dalam diri yang baik dan
keseimbangan emosi yang dalam. Selain masalah gangguan jiwa ada juga
masalah psikososial yang biasa terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.
Masalah psikososial merupakan masalah yang banyak terjadi dimasyarakat.
psikososial adalah suatu kondisi yang terjadi pada individu yang mencakup
aspek psikis dan sosial atau sebaliknya. psikososial berarti menyinggung relasi
sosial yang mencakup faktor-faktor psikologi. Dari defenisi diatas masalah
psikososial adalah masalah yang terjadi pada kejiwaaan dan sosialnya.
Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi,
60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta
terkena dimensia. Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis
dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka jumlah kasus gangguan
jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan
penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Data Riskesdas 2018
memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan
dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas
mencapai sekitar 6.1% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi
gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau
sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Menurut National Alliance of Mental Illness
(NAMI) berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2013, di
perkirakan 61.5 juta penduduk yang berusia lebih dari 18 tahun mengalami
gangguan jiwa, 13,6 juta diantaranya mengalami gangguan jiwa berat seperti
skizofrenia, gangguan bipolar. Jumlah penderita gangguan jiwa dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan
permasalahan kesehatan jiwa yang ada di negara-negara berkembang. Tujuan
dari pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah untuk
meningkatkan pengetahuan masyaraakat umumnya dan keluarga yang menjadi
binaan khususnya tentang bagaimana cara perawatan dan menjaga kesehatan
jiwa setiap masyarakat serta merawat anggota masyarakat yang mengalami
gangguan jiwa.
Berdasarkan data Riskesdas (2018) diatas, diketahui data penderita
gangguan jiwa berat yang cukup banyak di wilayah Indonesia dan sebagian
besar tersebar di masyarakat dibandingkan yang menjalani perawatan di rumah
sakit, sehingga diperlukan peran serta masyarakat dalam penanggulangan
gangguan jiwa. Peran masyarakat dalam penanggulangan gangguan jiwa akan
dapat terbangun jika masyarakat memahami tentang peran dan
tanggungjawabnya dalam penanggulangan gangguan jiwa di masyarakat.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan sasaran mengerti mengenai identifikasi
kesehatan jiwa dan dapat mengaplikasikan mengenai cara mengontrol
kecemasan dan perawatan pasien gangguan jiwa di rumah.

2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan pengertian sehat
b. Menjelaskan pengertian sehat jiwa
c. Menjelaskan pengertian stress (penyebab, ciri-ciri, penanganan, latihan
napas dalam)
d. Menjelaskan pengertian gangguan jiwa (Pengertian, penyebab, jenis
gangguan jiwa)
e. Menjelaskan pengertian cemas
f. Menjelaskan pengertian gangguan depresi
g. Menjelaskan pengertian gangguan psikotik
h. Menjelaskan penanganan gangguan jiwa

B. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Topik : Memberikan health education kepada masyarakat tentang
kesehatan jiwa
2. Sasaran : Masyarakat Puskesmas Densel II
3. Metoda : Ceramah dan diskusi
4. Media : Leaflet
5. Waktu Tempat : Di Ruang Tunggu Loket Puskesmas Densel II
6. Pengorganisasian
a. Moderator : Melita
b. Pemateri : Anjani
c. Fasilitator : Putri, Setyaningsih, Lanang, Wika
d. Uraian Tugas
1) Moderator
a) Membuka acara
b) Memperkenalkan mahasiswa dan dosen pembimbing
c) Menjelaskan tujuan dan topik
d) Menjelaskan kontrak waktu
e) Menjelaskan jalannya penyuluhan pada pemateri
f) Mengarahkan alur diskusi
g) Memimpin jalannya diskusi
h) Menutup acara

2) Pemateri
Mempresentasikan materi untuk penyuluhan.

7. Setting tempat

Penyaji

Peserta Peserta Peserta Peserta


C. KEGIATAN PENYULUHAN

Langkah-
No Waktu Kegiatan penyuluh Kegiatan sasaran
Langkah
1 Pendahuluan 3 menit - Salam Pembukaan Sasaran antusias
- Perkenalan Diri atas kedatangan
- Penyampaian Tujuan perawat
- Kontrak Waktu Sasaran menjawab
salam
2 Penyajian 15 menit Pemberian Materi : Sasaran mau
1. Pengertian sehat mendengarkan
2. Pengertian sehat jiwa dengan seksama
dan aktif
3. Pengertian stress
memberikan
(penyebab, ciri-ciri, pertanyaan
penanganan, latihan
napas dalam)
4. Pengertian gangguan
jiwa (Pengertian,
penyebab, jenis
gangguan jiwa)
5. Pengertian cemas
6. Pengertian gangguan
depresi
7. Pengertian gangguan
psikotik
8.Penanganan
gangguan jiwa
4 Evaluasi 5 menit - Memberikan Sasaran mampu
pertanyaan seputar menjawab semua
materi yang telah pertanyaan dengan
disampaikan baik dan benar
5 Penutup 2 menit - Ucapan Terima Sasaran berterima
Kasih kasih atas
- Salam Penutup kedatangan penyaji
D. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Laporan telah dikoordinasi sesuai rencana
b. 60% peserta mengikuti penyuluhan
c. Tempat dan media serta alat penyuluhan sesuai rencana
2. Evaluasi Proses
a. Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
b. Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan
c. 70% peserta aktif dan tidak meninggalkan ruangan selama penyuluhan
3. Evaluasi Hasil
Peserta mampu :
a. Menjelaskan pengertian sehat
b. Menjelaskan pengertian sehat jiwa
c. Menjelaskan pengertian stress (penyebab, ciri-ciri, penanganan,
latihan napas dalam)
d. Menjelaskan pengertian gangguan jiwa (Pengertian, penyebab, jenis
gangguan jiwa)
e. Menjelaskan pengertian cemas
f. Menjelaskan pengertian gangguan depresi
g. Menjelaskan pengertian gangguan psikotik
h. Menjelaskan penanganan gangguan jiwa
PENGERTIAN SEHAT
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehat adalah dalam keadaan
bugar dan nyaman seluruh tubuh dan bagian-bagiannya. Bugar dan nyaman
adalah relatif, karena bersifat subjektif sesuai orang yang mendefinisikan dan
merasakan (Yusuf, 2015). Menurut Kemenkes 2018 Sehat adalah suatu
keadaan yang meliputi sehat fisik, sehat jiwa dan sehat sosial. Sehat fisik
yaitu memiliki badan yang sehat dan bugar. Sehat sosial yaitu mampu
menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Karl Menninger
mendefinisikan orang yang sehat jiwanya adalah orang yang mempunyai
kemampuan untuk menyesuaikan diri pada lingkungan, serta berintegrasi dan
berinteraksi dengan baik, tepat, dan bahagia. Michael Kirk Patrick
mendefinisikan orang yang sehat jiwa adalah orang yang bebas dari gejala
gangguan psikis, serta dapat berfungsi optimal sesuai apa yang ada padanya.
Clausen mengatakan bahwa orang yang sehat jiwa adalah orang yang dapat
mencegah gangguan mental akibat berbagai stresor, serta dipengaruhi oleh
besar kecilnya stresor, intensitas, makna, budaya, kepercayaan, agama, dan
sebagainya (Yusuf, 2015).
A. PENGERTIAN SEHAT JIWA
Sehat jiwa merupakan yang mana seseorang memiliki perasaan senang
dan bahagia, mampu menyesuaikan diri dengan keadaan hidup sehari-hari,
dapat menerima kelebihan dan kekurangan dalam diri sendiri, melakukan
kegiatan yang bermanfaat, aktif menyumbangkan tenaga, pikiran dan
kepedulian kepada keluarga dan masyarakat sekitar (Kemenkes, 2018).
Menurut Kemenkes 2016 Seseorang yang “sehat jiwa” mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut:
1. Merasa senang terhadap dirinya serta
 Mampu menghadapi situasi?
 Mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup
 Puas dengan kehidupannya sehari-hari
 Mempunyai harga diri yang wajar
 Menilai dirinya secara realistis, tidak berlebihan dan tidak pula
merendahkan

2. Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta


 Mampu mencintai orang lain
 Mempunyai hubungan pribadi yang tetap
 Dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda
 Merasa bagian dari suatu kelompok
 Tidak “mengakali” orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain
“mengakah” dirinya

3. Mampu memenuhi tuntutan hidup serta


 Menetapkan tujuan hidup yang realistis
 Mampu mengambil keputusan
 Mampu menerima tanggungjawab?
 Mampu merancang masa depan
 Dapat menerima ide dan pengalaman baru
 Puas dengan pekerjaannya
B. PENGERTIAN STRESS
Stress adalah reaksi seseorag baik secara fisik maupun secara psikis
apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang
menyesuaikan diri. Stres juga dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang
membuat seseorang merasa putus asa, gugup, marah, atau bersemangat.
1. Penyebab Stres
Contoh penyebab stres:
 Saat remaja menghadapi ujian
 Saat seorang ibu menghadapi anaknya yang sakit
 Saat ayah memiliki beban pekerjaan yang berat

Penyebab-penyebab stress di atas tentu tidak akan langsung


membuat sesorang menjadi stress, hal tersebut dikarenakan
setiap orang berbeda dalam menyikapi setiap masalah yang
dihadapi.

2. Gejala-gejala stres
Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gejala depresi, sebab stres dan
depresi berkaitan erat. Ada beberapa gejala yang dapat dilihat melalui fisik
akibat stres yang berlangsung dalam jangka lama, diantaranya:
o Reaksi fisik:
 Jantung berdebar-debar
 Keringat berlebihan
 Otot tegang
 Sakit kepala
 Sakit perut
 Nafsu makan berkurang atau berlebihan
 Sulit tidur
o Reaksi psikis:
 Cemas, khwatir berlebihan
 Mudah tersinggung
 Sulit memusatkan perhatian
3. Cara Mengatasi stres
 penenangan pikiran : meditasi
 olahraga/aktivitas fisik teratur
 memikirkan hal positive
 makan bergizi seimbang
 berbicara dengan seseorang yang bias di percaya
 kebangkan hoby
 lakukan kegiatan sesuai minat dan kemampuan
4. Latihan nafas dalam
 Duduk dengan posisi santai dan nyaman, bayangkan hal yang
menyenangkan dengan mata terpejam
 Tarik nafas dari hidung dalam 3 detik, lalu hembuskan napas dari
mulut dalam 3 detik, sambil membayankan seolah-olah beban
pikiran dilepaskan tahan selama 3 detik sebelum ambil napas lagi.
Ulangi 5-10 menit.
 Mensyukuri nikmat tuhan YME, ikhlas dan sabar

C. GANGGUAN JIWA
Gangguan jiwa adalah kumpulan gejala dari gangguan pikiran, gangguan
perasaan dan gangguan tingkah laku yang menimbulkan penderita dan
terganggunya fungsi sehari-hari dari orang tersebut.
1. Gangguang jiwa yang sering ditemukan di masyarakat
 Gangguan cemas
 Gangguan depresi
 Gangguan jiwa berat
2. Penyebab gangguan jiwa
a. Biologis
- Keturunan
- Ketidakseimbangan zat di otak akibat cedera otak, penyakit
pada otak dan penyalahgunaan narkoba
b. Psikologis : tidak bias menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi di lingkungan
c. Social : adanya masalah yang tidak dapat diatasi, dukungan yang
kurang dari keluarga dan lingkungan.

D. PENGERTIAN CEMAS
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena
ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respon (penyebab tidak
spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Perasaan takut dan tidak menentu
sebagai sinyal yang menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya akan
datang dan memperkuat individu mengambil tindakan menghadapi ancaman.
Kejadian dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta
bencana dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologi.
Salah satu contoh dampak psikologis adalah timbulnya kecemasan atau
ansietas.
Rentang respon tingkat kecemasan terdiri atas:
1. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan
sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan
meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas menumbuhkan motivasi
belajar serta menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2. Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memutuskan
perhatian pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain,
sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif tetapi dapat
melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3. Ansietas berat sangan mengurangi lahan persepsi seseorang. Adanya
kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan
spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku
ditunjukkan untuk mengurangi ketergantungan. Orang tersebut
memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu
area lain.
4. Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan ketakutan dan
merasa diteror, serta tidak mampu melakukan apapun walaupun
dengan pengarahan. Panik meningkatkan aktivitas motorik,
menurunkan kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi
menyimpang, serta kehilangan pemikiran rasional (Yusuf, dkk., 2015)

E. PENGERTIAN GANGGUAN DEPRESI


Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah
masyarakat. Berawal dari stress yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh
ke fase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang
sendiri tanpa pengobatan. Orang yang mengalami depresi umumnya
mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan
gerakan tingkah laku serta kognisi. Depresi sebagai suatu gangguan mood
yang dicirikan taka da harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang
berlebihan, tak mampu konsentrasi, tak punya semangat hidup, selalu tegang,
dan mencoba bunuh diri.
Gejala depresi antara lain:
a. Gejala fisik
1. Gangguan pola tidur. Misalnya, sulit tidur, terlalu banyak atauterlalu
sedikit tidur.
2. Menurunnya tingkat aktivitas. Pada umumnya, orang yang mengalami
depresi menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang
tidak melibatkan orang lain seperti menonton TV, makan, tidur.
3. Menurunnya efisensi kerja. Penyebabnya jelas, orang yang terkena
depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal,
atau pekerjaan. Sehingga mereka juga akan sulit memfokuskan energy
pada hal-hal yang prioritas.
4. Mudah merasa letih dan sakit. Jelas saja, depresi itu sendiri adalah
perasaan negatif, jika seseorang menyimpan perasaan negatif, maka
jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan.

b. Gejala psikis
1. Kehilangan rasa percaya diri, penyebabnya, orang yang mengalami
depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif,
termasuk menilai diri sendiri.
2. Sensitive, orang yang mengalami depresi senang sekali mengaitkan
segala sesuatu dengan dirinya, perasaannnya sesitif sekali, sehingga
sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang
berbeda oleh mereka.
3. Merasa diri tidak berguna, perasaan tidak berguna ini muncul karena
mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau
dilingkungan yang seharunya mereka kuasai.
4. Perasaan bersalah, perasaan bersalah terkadang timbul dalam pikiran
orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian
yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari
kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya
dikerjakan (Lumongga, 2016).

F. PENGERTIAN GANGGUAN PSIKOTIK


Psikosis adalah gangguan jiwa yang ditandai oleh gangguan menilai
realitas. Psikosis terdiri dari beragam jenis antara lain skizofrenia,
skizoafektif, gangguan waham menetap, bipolar dengan ciri psikotik, depresi
dengan ciri psikotik. Psikotik akut dan sementara juga merupakan gangguan
yang sama, tetapi merupakan gangguan yang akut dan mempunyai prognosis
lebih baik. Gangguan ini mempunyai prevalensi yang kecil dibandingkan
gangguan jiwa lainnya bahkan dengan penyakit fisik, tetapi mempunyai
beban penyakit yang cukup tinggi dengan perhitungan years of life lost to
disability (YLD) (Idaiani, Dkk, 2019).
Tanda dan gejala dari gangguan ini adalah:
a) Halusinasi
Gangguan persepsi panca indra, mendengar suara suara
bisikan, melihat bayangan, mencium bau-bau an, merasa ada
sesuatu di kulit dan di lidah, yang semuanya tidak ada
sumbernya.
b) Delusi/ Waham
Keyakinan/pikiran/ persepsi yang salah terhadap sesuatu
hal yang tidak sesuai dengan kenyataan, seperti: merasa ada
yang mengejar ngejar, memperhatikan, berniat jahat, merasa
diomongin dan dijauhi oleh teman teman, atau merasa punya
kekuatan/kehebatan yang sebenarnya tidak sesuai dengan
kenyataannya.
c) Gangguan perilaku
Menarik diri dari lingkungan sosial, gangguan tidur dan
makan, sulit mengerjakan hal-hal yang sebelumnya mudah
dilakukan, gerakan jadi lambat atau sebaliknya terlihat gelisah.
d) Perubahan mood
Cemas, sedih, khawatir yang berlebihan.
e) Pikiran
Sering curiga, sulit fokus dan berkonsentrasi, banyak
bengong.
f) Pembicaraan
Berbicara berulang ulang, malas bicara, ngomong tidak
nyambung
Penyebab dari gangguan psikosis adalah adanya gangguan
keseimbangan zat kimia di dalam saraf otak. Gangguan keseimbangan
ini bisa terjadi bila ada kelelahan fisik dan psikis disertai kapasitas
mental yang kurang baik:
a) Faktor genetik, mereka yg memiliki anggota keluarga yang
memiliki masalah/ gangguan jiwa lebih rentan atau berisiko
untuk terkena psikosis.
b) Terdapat stres yang berat dalam kehidupan sehari hari,
masalah kehidupan, konflik yang tak terselesaikan,
keinginan yang tidak tercapai, kekecewaan, kehilangan
seseorang yang disayang, kemarahan yang terpendam, dll.
c) penggunaan narkoba/napza.
d) Benturan di kepala.
e) Perubahan hormon pada wanita yang mengandung dan
melahirkan (Kembaren, 2017).

G. PENANGANAN GANGGUAN JIWA


Bila terdapat keluarga atau kerabat yang mengalami gangguan jiwa,
maka hal yang dapat dilakukan adalah:
1. Melaporkan pada kader kesehatan atau tenaga kesehatan di fasilitas
pelayanan kesehatan terdekat.
2. Memberikan informasi pada keluarga untuk membawa kerabat yang
mengalami gangguan jiwa ke pelayanan kesehatan setempat.
3. Mendukung keluarga atau kerabat yang mengalami gangguan jiwa
untuk kontrol dan mengingatkan minum obat yang teratur dan
melibatkan ke kegiatan sosial jika kondisinya telah membaik.
4. Menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat diobati sama dengan
penyakit medis lainnya.
Jika menemukan penderita gangguan jiwa menggelandang, maka segera
laporkan ke kader kesehatan atau tokoh masyarakat untuk ditindaklanjuti
menghubungi dinas pekerja sosial masyarakat yang ada di wilayah
setempat. Opsi lain dengan langsung menghubungi dinas sosial yang
bekerja sama dengan satpol PP/kepolisian setempat.

DAFTAR PUSTAKA

Idaniani, dkk. (2019). Prevalensi psikosis di Indonesia berdasarkan riset kesehatan dasar
2018. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, 3(1). Doi:
10.22435.
Indarjo, S. (2009). Kesehatan jiwa remaja. KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(1).
Kembaren, Lahargo. (2017). Ganggguan psikosis: sulit membedakan mana yang nyata
dan khayalan. Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM): Bogor.
Kementrian Kesehatan Direktorat Promosi Kesehatan Dan Pemerdayaan Masyarakat.
(2016). Sehat Jiwa. https://promkes.kemkes.go.id/content/?p=7385
Livana, P. H., Ayuwatini, S., Ardiyanti, Y., & Suryani, U. (2019). Gambaran Kesehatan
Jiwa Masyarakat. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional
Indonesia, 6(1), 60-63.
Lumongga, D. N. (2016). Depresi: tinjauan psikologis. Kencana.
Maulana, I., Suryani, S., Sriati, A., Sutini, T., Widianti, E., Rafiah, I., ... & Senjaya, S.
(2019). Penyuluhan Kesehatan Jiwa untuk Meningkatkan Pengetahuan
Masyarakat tentang Masalah Kesehatan Jiwa di Lingkungan Sekitarnya. Media
Karya Kesehatan, 2(2).
Yusuf, Ah., Rizky, F, F, P, K., & Nihayati, H, E. (2015). Buku ajar kesehatan jiwa.
Jakarta Selatan : Selemba medika.