Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

GANGGUAN REAKSI OKSIDASI BIOLOGI

Disusun oleh:
Kelompok 2
1. Anastaya Cahya Lestari (1914301061)
2. Herma Yanti (1914301062)
3. Mala Sari (1914301063)
4. Devi Fitriyani (1914301064)
5. Sindi Artika (1914301065)
6. Alfiaturahmi (1914301066)
7. Rheinabila (1914301067)
8. Mustika Ayu Pitaloka (1914301068)
9. Marisa Yusro Asri (1914301069)
10. Rely Alfina (1914301070)

KEMENTRIAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES TANJUNG KARANG
JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNG KARANG
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami selaku penulis dapat menyusun
makalah ini yang berjudul "Gangguan Reaksi Oksidasi Biologi" tepat pada
waktunya.

Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam
pembuatan makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah.

Bandar Lampung, 06 Februari 2020


Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Oksidasi Biologi................................................................................3
2.2 Proses Reaksi Oksidasi Biologi.........................................................3
2.3 Fungsi Reaksi Oksidasi Biologi Dan Peran
Enzim/Ko-Enzim Dalam Oksidasi Biologis......................................4
2.4 Sumber Utama Dalam Reaksi Oksidasi Biologi................................6
2.5 Faktor Penyebab Gangguan Reaksi Oksidasi Biologi.......................6
2.6 Contoh Penyakit................................................................................6
2.7 Asuhan Keperawatan.........................................................................7

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan......................................................................................14
3.2 Saran................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.l Latar Belakang


Seperti yang telah diketahui bahwa makhluk hidup memerlukan energi yang
digunakan untuk pergerakan, pertumbuhan, sintesis biomolekul serta transport
ion melintasi membrane sel. Organisme akan menggunakan energi tersebut
secara efisien untuk proses hidup. Dalam rangka untuk menghasilkan energi,
karbohidrat, lipid, asam amino dengan melalui jalur metabolisme yang berbeda
akan dipecah dan menghasilkan sejumlah molekul pembawa energi yang
selanjutnya melalui proses oksidasi biologi.
Senyawa pembawa energi digolongkan menjadi 2, yaitu low energi
phosphates-ADP, AMP, glukosa-1 phosphate- yang bertugas menangkap
energi bebas dan high energi phosphates (HEP)–kreatin fosfat, ATP, karbamoil
fosfat, GTP, fosfoenol piruvat dan CTP- yang membawa energi tinggi untuk
diberikan kepada reaksi biokimia. Terdapat tiga sumber utama senyawa HEP
dalam konsevasi energi yaitu dari proses glikolisis, siklus asam sitrat, dan
fosforilasi oksidatif. NADH yang merupakan hasil dari siklus Krebs yang
terjadi dalam mitokondria akan digunakan dalam reaksi reduksi untuk
menghasilkan ATP yang merupakan molekul pembawa energi melalui proses
fosforilasi oksidatif. Banyak manifestasi berkaitan dengan adanya radikal
bebas yang merupakan hasil dari proses oksidasi biologi seperti penuaan dini,
namun mekanisme perjalanan penyakit tersebut masih sulit untuk dijelaskan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan oksidasi biologi?
2. Bagaimana proses reaksi oksidasi biologi?
3. Bagaimana fungsi reaksi oksidasi biologi dan peran Enzim/Ko-enzim
dalam Oksidasi Biologi?
4. Apa saja yang menjadi sumber utama dalam reaksi oksidasi biologi?
5. Apa saja faktor penyebab gangguan reaksi oksidasi biologi?

1
6. Apa contoh penyakit yang disebabkan dari faktor penyebab gangguan
reaksi oksidasi?
7. Bagaimana asuhan keperawatan untuk penyakit yang telah dijabarkan
sebelumnya?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan oksidasi biologi.
2. Untuk mengetahui proses reaksi oksidasi biologi.
3. Untuk mengetahui bagaimana fungsi reaksi oksidasi biologi dan peran
Enzim/Ko-enzim dalam Oksidasi Biologi.
4. Untuk mengetahui sumber utama dalam reaksi oksidasi biologi.
5. Untuk mengetahui faktor penyebab gangguan reaksi oksidasi biologi.
6. Untuk mengetahui contoh penyakit yang disebabkan dari faktor penyebab
gangguan reaksi oksidasi.
7. Untuk menegtahui proses asuhan keperawatan untuk penyakit yang telah
dijabarkan sebelumnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Oksidasi Biologi


Reaksi Oksidasi dapat didefinisikan sebagai peristiwa kehilangan elektron atau
kehilangan hydrogen, sehingga disebut juga reaksi dehidrogenasi. Bila suatu
senyawa dioksidasi maka harus ada senyawa lain yang direduksi, yaitu akan
memperoleh elektron atau memperoleh hydrogen.

Secara kimiawi, oksidasi di definisikan sebagai pengeluaran electron dan


reduksi sebagai penangkapan electron, sebagaimana di lukiskan oleh oksidasi
ion fero menjadi feri e (elektron) Fe2+ Fe3+. Dengan demikian, oksidasi selalu
disertai reduksi aseptor elektron. Prinsip ini osidasi – reduksi ini berlaku pada
berbagai sistem biokimia dan merupakan konsep penting yang melandasi
pemahaman sifat oksidasi biologi. Kita ketahui bahwa banyak oksidasi biologi
dapat berlangsung tanpa peran serta molekul oksigen, misalnya dehidrogenasi.

2.2 Proses Reaksi Oksidasi Biologi


Reaksi oksidasi biologi selalu diikuti reaksi reduksi. Oksidasi tidak selalu
menggunakan oksigen, misalnya Dehidrogenasi.
1. Oksidasi adalah proses pengeluaran electron lawannya reduksi yaitu
proses penerimaan electron. Contoh: ion feri dioksidasi menjadi ion fero
2. Reaksi redoks (reduksi & oksidasi) memerlukan enzim Oksidoreduktase.
3. Oksidasi biologi pada makhluk hidup tingkat tinggi mutlak memerlukan
adanya oksigen. Pada makhluk tertentu (bakteri anaerob) mampu
melakukan oksidasi biologi tanpa Oksigen bebas.
4. Kemampuan suatu senyawaan melakukan pertukaran electron (memberi
atau menerima electron) disebut sebagai potensial redoks (dinyatakan
dalam satuan volt)
5. Enzim/Ko-enzim dan Logam yang berperan dalam oksidasi biologi
adalah.

3
ENZIM / KO-ENZIM LOGAM

1. OKSIDASE Mg, Fe, Cu, Mo

2. DEHIDROGENASE

3. HIDROPEROKSIDASE

4. OKSIGENASE

Oksidasi biologis adalah pembakaran makanan dalam tubuh oleh oksigen.


Oksidasi biologis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Zat makanan + O2  Karbondioksida + air + energi
Atau
Zat tepung + O2  CO2 + H2O + energi
Atau
Glukosa + O2  CO2 + H2O + energi
Atau
C6H12O6 + O2  CO2 + H2O + energi

2.3 Fungsi Reaksi Oksidasi Biologi Dan Peran Enzim/Ko-Enzim Dalam


Oksidasi Biologis
Di dalam system biologi sel makhluk hidup, reaksi oksidasi reduksi berperan
dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi. Contohnya pada oksidasi
glukosa menjadi CO2, air dan energi.
Proses oksidasi reduksi ini dapat berlangsung secara anaerob maupun aerob.
Pada keadaan aerob reaksi berlangsung tanpa adanya oksigen sebagai penerima
akhir elektron atau hydrogen.

Oksidasi biologi berbeda dengan oksidasi yang terjadi dalam system bukan
biologi, tidak berlangsung secara sekaligus tanpa kendali, tetapi secara
bertahap. Untuk itu diperlukan sejumlah enzim yang bekerja sama dalam
memindahkan elektron atau hydrogen. sebuah sel memperoleh energy dari
molekul gula atau protein dengan membiarkan atom-atom karbon dan

4
hidrogennya bersenyawa dengan oksigen membentuk CO2 dan H2O. Oksidasi
sel berlangsung secara bertahap. proses itu dipecah menjadi sejumlah reaksi
dan hanya sebagian kecil saja yang secara langsung melibatkan penambahan
oksigen.

Katalisator protein yang sangat spesifik atau enzim bergabung dalam molekul-
molekul biologi sedemikian rupa sehingga bahan tersebut mengurangi  energi
aktifasi reaksi-reaksi tertentu yang harus dijalani oleh molekul-molekul
tersebut.  Sebagian energi yang dilepaskan dalam reaksi oksidasi dimanfaatkan
dalam pembentukan ATP. ATP berfungsi sebagai media penyimpan energi
yang baik untuk menggerakkan berbagai reaksi kimia yang dibutuhkan oleh
sel. Didalam sel yang sedang bernafas secara aerobik oksidasi menjadi aseti co
enzim A dan CO2. Oksidasi dalam tahap ini memerlukan 3 kelompok enzim:
1. Kelompok piruvat dehidrogenase meng-oksidasi dan mengadakan
dekarboksilasi oksidatif menjadi suatu bentuk asetat yaitu tioester asetil
CoA
2. Daur krebs asam trikarboksilat mengoksidasi  karbon menjadi CO2 dan
membentuk NADH dan FADH2
3. Rantai pernafasan dari enzim pemindah elektron mengoksidasi
kembali ko enzim NADH dan FADH2 yang telah diproduksi oleh reaksi-
reaksi dehidrogenase dari katabolisme. Pada pernafasan elektron dan
proton yang semula diturunkan dari molekul-molekul makanan, akhirnya
bereaksi dengan O2 untuk menghasilkan H2O. Rantai pernafasan enzim
terletak di membran mitokondria dalam dan akseptor elektron akhiran
adalah oksigen.

Enzim/Ko-enzim yang terlibat dan berperan dalam proses oksidasi biologis


yaitu:
1. Enzim oksidase
2. Enzim dehidrogenase
3. Enzim Hidroperoksidase
4. Enzim Oksigenase

5
2.4 Sumber Utama Dalam Reaksi Oksidasi Biologi
Ada 3 sumber utama yang berperan dalam konservasi atau penangkapan energi
antara lain:
a) Fosforilasi oksidatif. Fosforilasi oksidatif adalah sumber terbesar dalam
organisme aerobik. Energi bebas untuk menggerakkan, proses ini berasal
dari oksidasi rantai respirasi di dalam mitokondria dengan menggunakan
oksigen.
b) Glikolisis terjadi pembentukan netto dua yang terjadi akibat pembentukan
laktat.
c) Siklus asam sitrat atau siklus krebs.

2.5 Faktor Penyebab Gangguan Reaksi Oksidasi Biologi


Reaksi oksidasi yang sedang dibahas di sini adalah reaksi oksidasi biologis
yang merupakan reaksi metabolisme dalam tubuh. Karena di dalam tubuh
manusia ada yang namanya siklus krebs, dimana siklus krebs itu sendiri
merupakan reaksi oksidasi molekul asetil-CoA. Tujuan utama dari proses
siklus krebs ini adalah untuk memanen energi yang lebih besar dari molekul
asetil-CoA. Pada siklus krebs tersebut tentu saja diperlukan peran oksigen
untuk keberlangsungan proses siklus krebs.
Hal-hal yang menjadi gangguan dalam proses ini tentu saja jika jumlah oksigen
dalam tubuh tidak cukup untuk berlangsungnya proses ini. Berikut ini adalah
penyebab gangguan reaksi oksidasi biologi pada manusia.
1. Kurangnya enzim atau vitamin yang dibutuhkan untuk reaksi kimia
dalam tubuh.
2. Kelainan pada organ yang penting dalam proses metabolisme (seperti
hati, pancreas, kelenjar endokrin, dan lain-lain).
3. Kurangnya kadar nutrisi dalam tubuh.

2.6 Contoh Penyakit


Dari faktor-faktor penyebab gangguan reaksi oksidasi biologi yang telah
disebutkan di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa telah terjadi gangguan
metabolisme. Disebut gangguan metabolisme karena enzim yang berperan

6
dalam proses metabolisme sel hilang atau rusak. Ketika seseorang menalami
gangguan metabolik maka proses metabolisme di dalam tubuhnya terganggu,
sehingga produksi energi yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai fungsi
tuubuh juga terganggu.
Nutrisi yang merupakan sumber energy atau kalori adalah karbohidrat atau
gula, protein, dan lemak. Jadi gangguan metabolik adalah semua penyakit yang
menyebabkan gangguan pada metabilisme karboohidrat, protein, dan lemak.
Salah satu contoh penyakit metabolik yang paling terkenal adalah diabetes.
Namun yang akan dibahas adalah gangguan kebutuhan nutrisi.

2.7 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Konsep asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan kebutuhan
nutrisi meliputi pengkajian fokus, diagnosa keperawatan, dan perencanaan
keperawatan. Pengkajian Fokus:
a. Riwayat keperawatan dan diet.
1) Anggaran makan, makanan kesukaan, waktu makan.
2) Apakah ada diet yang dilakukan secara khusus.
3) Adakah penurunan dan peningkatan berat badan dan berapa lama
periode waktunya?
4) Adakah status fisik pasien yang dapat meningkatkan diet seperti luka
bakar dan demam?
5) Adakah toleransi makanan atau minumam tertentu?
b. Faktor yang memengaruhi diet
1) Status kesehatan
2) Kultur dan kepercayaan
3) Status sosial ekonomi.
4) Faktor psikologis
5) Informasi yang salah tentang makanan dan cara berdiet.
c. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan fisik: apatis, lesu
2) Berat badan: obesitas, kurus (underweight).

7
3) Otot: flaksia / lemah, tonus kurang, tenderness, tidak mampu
bekerja.
4) Sistem saraf: bigung, rasa terbakar, parestbesia, reflek menurun.
5) Fungsi gastrointestinal: anoreksia, konstipasi, diare, pembesaran
liver.
6) Kardiovaskuler: denyut nadi lebih dari 100 x/menit, irama abnormal,
tekanan darah  rendah/tinggi.
7) Rambut: kusam, kering, pudar, kemerahan, tipis, pecah/patah-patah.
8) Kulit: kering, pucat, iritasi, petekhie, lemak di subkutan tidak ada.
9) Bibir: kering, pecah-pecah, bengkak, lesi, stomatitis, membran
mukosa pucat.
10) Gusi: perdarahan, peradangan.
11) Lidah: edema, hiperemasis.
12) Gigi: karies, nyeri, kotor.
13) Mata: konjungtiva pucat,kering,exotalmus,tanda-tanda infeksi.
14) Kuku: mudah patah.
15) Pengukuran antopometri:
 Berat badan ideal: (TB ̶ 100) ± 10%
BB (kg)
 BMI (Body Mass Index):
TB × TB (m)
 Lingkar pergelangan tangan
 Lingkar lengan atas (MAC):
Nilai normal Wanita : 28,5 cm
Pria : 28,3 cm
Lipatan kulit pada otot trisep (TSF)
Nilai normal Wanita : 16,5 ─ 18 cm
Pria : 12,5 ─ 16,5 cm

d. Laboratorium
1) Albumin (N: 4─ 5,5 mg/100ml)
2) Transferin (N:170 ─ 25 mg/100 ml)
3) Hb (N: 12 mg %)

8
4) BUN (N:10 ─ 20 mg/100ml)
5) Ekskresi kreatinin untuk 24 jam (N: laki-lak: 0,6 ─ 1,3 mg/100 ml,
wanita: 0,5 ─ 1,0 mg/100 ml) (Tarwoto & Wartonah, 2006)

2. Diagnosa
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
metabolic
Batasan Karakteristik:
1) Berat badan 20% atau lebih dibawah rentang berat badan ideal
2) Bising usus hiperaktif
3) Cepat kenyang setelah makan
4) Diare Gangguan sensasi rasa
5) Kehilangan rambut berlebihanKelemahan otot pengunyah
6) Kelemahan otot untuk menelan
7) Kerapuhan kapiler
8) Kesalahan informasi
9) Kesalahan persepsi
10) Ketidakmampuan memakan makanan
11) Kram abdomen
12) Kurang informasi
13) Kurang minat pada makanan
14) Membran mukosa pucat Nyeri abdomen
15) Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat
16) Sariawan rongga mulut
17) Tonus otot menurun

Faktor yang berhubungan:


1) Faktor biologis
2) Faktor ekonomi
3) Gangguan psikososial
4) Ketidakmampuan makan

9
5) Ketidakmampuan mencerna makanan
6) Ketidakmampuan mengabsorpsi makanan
7) Kurang asupan makanan
(NANDA International, 2015)

b. Ketidakseimbangan Nutrisi: Lebih dari Kebutuhan Tubuh


Definisi: Intake nutrisi melebihi kebutuhan metabolik tubuh.
Batasan Karakterisitik:
1) Lipatan kulit tricep lebih dari 25 mm untuk wanita dan 15 mm
untuk pria
2) BB diatas 20 % diatas tubuh ideal untuk tinggi dan kerangka
tubuh ideal
3) Makan dengan respon eksternal (misalnya: situasi sosial,
sepanjang hari)
4) Dilaporkan atau diobservasi adanya disfungsi pola makan
(misalnya: memasangkan makanan dengan aktivitas yang lain)
5) Tingkat aktivitas yang menetap
6) Konsentrasi intake makanan yang menjelang malam
Faktor yang berhubungan:
Intake yang berlebihan dalam hubungannya dengan kebutuhan
metabolisme tubuh.
(NANDA International, 2010)

3. Intervensi
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan yang diharapkan:
1) Terjadi peningkatan berat badan sesuai batasan waktu
2) Peningkatan status nutrisi
Rencana Tindakan (Tarwoto & Wartonah, 2010):
Intervensi Rasional
1. Tingkatkan intake makanan 1. Cara khusus untuk
melalui: meningkatkan nafsu
a. Mengurangi gangguan makan

10
dari lingkungan seperti
berisik, dan lain-lain.
b. Jaga privasi pasien
c. Jaga kebersihan ruangan
(barang-barang seperti
sputum pot, urinal tidak
berada dekat dengan
tempat tidur)
d. Berikan obat sebelum
makan jika ada indikasi
2. Jaga kebersihan mulut pasien 2. Mulut yang bersih
meningkatkan nafsu
makan
3. Bantu pasien makan jika tidak 3. Membantu pasien makan
mampu
4. Sajikan makanan yang mudah 4. Meningkatkan selera
dicerna, dalam keadaan makan dan intake makan
hangat, tertutup, dan berikan
sedikit-sedikit tapi sering
5. Selingi makan dengan minum 5. Memudahkan makanan
masuk
6. Hindari makanan yang 6. Mengurangi rasa nyaman
banyak mengandung gas
7. Ukur intake makanan dan 7. Observasi kebutuhan
timbang berat badan nutrisi
8. Lakukan latihan pasif dan 8. Menambah nafsu makan
aktif
9. Kaji tanda vital, sensori, 9. Membantu mengkaji
bising usus keadaan pasien
10. Monitor hasil lab, seperti 10. Monitor status nutrisi
glukosa, elektrolit, albumin,
hemoglobin, kolaborasi
dengan dokter

b. Ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh

11
Kriteria Hasil:
1) Teridentifikasi kebutuhan nutrisi dan berat badan yang terkontrol
2) Perencanaan kontrol berat badan untuk yang akan dating
3) Tidak terjadinya penurunan berat badan yang berlebihan
Rencana Tindakan (Tarwoto & Wartonah, 2010):
Intervensi Rasional
1. Lakukan pengkajian 1. Informasi dasar untuk
kembali pola makan perencanaan awal dan
pasien validasi data
2. Diskusikan dengan pasien 2. Membantu mencapai tujuan
dengan kelebihan makan
3. Diskusikan motivasi untuk 3. Membantu memecahkan
menurunkan berat badan masalah
4. Kolaborasi dengan ahli 4. Menentukan makanan yang
diet yang tepat sesuai dengan pasien
5. Ukur intake makanan 5. Mengetahui jumlah kalori
dalam 24 jam yang masuk
6. Buat program latihan 6. Meningkatkan kebutuhan
untuk olahraga energi
7. Hindari makanan yang 7. Makanan berlemak banyak
banyak mengandung menghasilkan energy.
lemak
8. Berikan pengetahuan 8. Memberikan informasi dan
kesehatan tentang: mengurangi komplikasi
a. Program diet yang
benar
b. Akibat yang mungkin
timbul akibat
kelebihan berat badan

4. Implementasi
Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang
telah ditentukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara
optimal. Pelaksanaan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah di susun pada tahap pencanaan.

12
Dari intervensi di atas, implementasi yang dapat dilakukan misalnya:
1. Melaksanakan program diet pada pasien.
2. Melakukan oral hygiene pada pasien.
3. Mengkaji tanda-tanda vital klien setiap 8 jam sekali.
4. Memonitor hasil lab, seperti glukosa, elektrolit, albumin, dan
hemoglobin pasien.

5. Evaluasi
S (subjektif) : Klien mengatakan badannya sudah tidak lemas.

O (objektif) : Klien tampak bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang

berat seperti biasanya saat klien sehat, berat badan klien

juga terhitung normal.

A (assessment) : masalah sebagian mulai teratasi.

P (plan) : intervensi dilanjutkan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Reaksi oksidasi biologi terjadi pada manusia diantaranya melali siklus kreb
yaitu proses metabolisme dalam tubuh. Siklus krebs bertujuan untuk

13
menghasilkan energi. Sedangkan dalam rumus reaksi oksidasi biologi sendiri
untuk menghasilkan suatu energi maka dibutuhkan zat makanan. Zat makann
yang tersedia haruslah bernutrisi baik. Oleh karena itu pada pasien yang
mengalami gangguan kebutuhan nutrisi perlu dilakukan asuhan keperawatan
yang tepat seperti yang telah dijelaskan dalam makalah ini.

3.2 Saran
Mahasiswa mampu memahami materi tentang gangguan reaksi oksidasi biologi
baik melalui makalah ini maupun melalui sumber-sumber referensi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.alodokter.com/jika-tubuh-kelebihan-asam-laktat
https://www.google.com/search?
q=tujuan+siklus+krebs+adalah&oq=tujuan+siklus+krebs+adalah+&aqs=chrome..
69i57.5239j0j1&sourceid=chrome&ie=UTF-8

14
https://mikrobio.net/fisiologi-mikrob/siklus-krebs-lengkap.html
https://dosenbiologi.com/makhluk-hidup/siklus-krebs
https://lingkarankata.blogspot.com/2014/12/siklus-krebs.html
https://www.pelajaran.co.id/2017/08/pengertian-fungsi-tahapan-dan-hasil-siklus-
krebs.html
https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/faktor-yang-mempengaruhi-
metabolisme/
https://brainly.co.id/tugas/12100220#readmore
https://www.alodokter.com/gangguan-metabolik
https://hellosehat.com/hidup-sehat/nutrisi/gangguan-metabolisme-tubuh/
https://www.quipper.com/id/blog/mapel/kimia/materi-siklus-krebs/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5508465/

15