Anda di halaman 1dari 9

Ringkasan Penulap

Literatur mempelajari dan menganalisasi model Single-effect thermal vapor-compression


(TVC) untuk proses desalinasi air laut.

Single-effect thermal vapor-compression (TVC) proses desalinasi air laut merupakan


bentuk yang paling sederhana yang diilustrasikan secara skematis pada Gambar 1. Komponen
utama terdiri dari evaporator, jet-ejetor uap, dan feed heater atau kondensor. Evaporator terdiri
dari evaporator / kondensor heat exchanger, ruang uap, sistem distribusi air, dan kabut
eliminator. Jet-ejector uap terdiri dari uap nozel, ruang isap, nozel pencampur, dan diffuser.
Pemanas umpan atau pendingin biasanya merupakan kondensor countercurrent dimana gas
yang tidak terkondensasi keluar pada suhu mendekati suhu umpan. Hal ini membuat
pendinginan gas yang tidak dapat terkondensasi ke suhu yang sehingga meminimalkan jumlah
uap itu dapat keluar dengan gas dan menurunkan volume gas yang dipompa. Selain itu,
dimungkinkan untuk mengoperasikan kondensor arus berlawanan sehingga air keluar ada di
dalam 3 ± 5 K dari suhu kondensasi jenuh uap air. Ini meningkatkan kinerja termal unit dan
meminimalkan laju aliran massa air pendingin.
Massa air laut (Mcw + Mf ) pada temperature Tcw dan konsentrasi garam X f masuk
ke bagian tube kondensor, temperature akan meningkat ke Tf. Air pendingin Mcw
dikembalikan ke laut. Fungsi sirkulasi air pendingin di dalam kondensor adalah untuk
menghilangkan kelebihan panas yang ditambahkan ke sistem berupa uap yang diperlukan
untuk menggerakkan jet-ejector uap. Evaporator tidak mengonsumsi panas yang diberikan,
bahkan hal itu dapat menguragi kualitasnya. Pemanasan air laut umpan dari suu Tcw ke suhu
Tf dapat meningkatkan kinerja proses.
Panas yang dibutuhkan untuk menghangatkan air laut di dalam kondensor disuplai
dengan mengembunkan sebagian uap yang terbentuk dari proses boiling di evaporator Md.
Suhu kondensasi uap dan tekanan di ruang uap untuk evaporator dan kondensor dikendalikan
oleh laju alir cooling water (Mcw), temperature awal umpan (Tf), luas perpindahan panas di
condenser (Ac), dan koefisien perpindahan panas keseluruhan (Uc).
Kondensor memiliki tiga fungsi: (1) melepas kelebihan panas dari sistem, (2)
meningkatkan proses rasio kinerja, dan (3) menyesuaikan temperature didih di dalam
evaporator.
Umpan air laut, Mf, diolah secara kimiawi terlebih dahulu dan dideaerasi sebelum
dipompa ke evaporator hal ini untuk mencegah pembentukan foam dan kecenderungan
pembentukan kerak di evaporator.
Di dalam evaporator, air umpan dengan suhu Tf disemprotkan di bagian atas, kemudian
jatuh ke bawah tabung secara horizontal. Suhu air umpan dinaikkan dari Tf sampai di titik didih
T1. Suhu ini ditentukan dengan mengatur tekanan uap dalam evaporator. Uap terbentuk dengan
cara mendidihkan Md bebas garam. Suhu uap yang dihasilkan (Tv1) lebih kecil dari titik didih
T1 dengan elevasi titik didih (BPE). Uap yang dihasilkan dialirkan melalui pemisah embun
yang dikenal sebagai wire mesh demister untuk menghilangkan bagian yang tertahan tetesan
air garam. Uapnya harus benar-benar bersih dari tetesan air garam untuk mencegah
kontaminasi. Suhu saturasi uap yang meninggalkan demister lebih rendah dari TV1 karena
penurunan suhu akibat kehilangan tekanan gesekan di demister. Uap mengalir dari demister ke
kondensor, di mana ia terbagi menjadi dua bagian: bagian pertama, Md, mengembun di luar
tabung kondensor, sedangkan sisanya diangkut oleh jet-ejector uap.
Gas yang tidak terkondensasi terakumulasi di ruang uap kondensor harus dibuang untuk
menghindari penurunan kapasitas perpindahan panas kondensor. Jika kondensor beroperasi
pada tekanan kurang dari tekanan atmosfer, ejektor atau pompa vakum diperlukan untuk
mengeluarkan gas ventilasi dari sistem.
Diagram enthalpy-entropy (H-S) untuk jet-termokompresor uap dengan variasi
kecepatan dan tekanan ditunjukkan pada Gambar 2. Ejektor digunakan untuk meningkatkan
tekanan yang uap, Mev, dari tekanan Pc ke tekanan yang relatif lebih tinggi P2. Proses ini
berlangsung melalui konversi energi tekanan uap, Ms, untuk mem-vakum dan meng-kompres
entrained vapor ke tekanan yang diinginkan. Saat Ms terekspansi di nosel dari kondisi 1 ke
kondisi 3, energi tekanan statisnya diubah menjadi energi kinetik. Entrained vapor, Mev,
masuk ruang hisap pada tekanan P3, tempat bercampur dengan uap pada point 4. Kedua aliran
bercampur kemudian melewati bagian konvergen diffuser venturi (dari poin 4 ke poin 5).
Aliran campuran dikompresi sendiri melalui bagian divergen dari diffuser venturi, dimana luas
penampang meningkat dan kecepatan menurun, mengubah energi kinetic campuran menjadi
energi tekanan statis. Campuran meninggalkan ejektor pada tekanan P2 yaitu perantara antara
tekana awal (Ps) dan hisap (Pc).
Jet-ejector harus dirancang dan dioperasikan pada kondisi kritis agar operasi normal
dan stabil. Jika ejector dirancang untuk beroperasi dengan jangkauan yang stabil, maka laju air
massa aliran uap akan konstan untuk tekanan discharge yang berbeda saat kondisi hulu tetap
konstan. Saat rasio kompresi ejector lebih besar dari atau sama dengan rasio tekanan isap uap
kritik . Untuk uap air ini rasionya adalah 1,81. Tekanan isap harus lebih kecil dari 0,55 kali
dari tekana discharge untuk mendapatkan kondisi kritik atau stabil dalam jet-ejector uap.
Pembahasan :
Koefisien perpindahan panas di evaporator lebih tinggi dari kondensor, hal ini
disebabkan karena adanya uap kondensasi di dalam tube serta garam mendidih di luar tabung.
Nilai koefisien perpindahan panas umpan air laut dalam tabung lebih rendah dari lapisan tipis
garam, jadi koefisien keseluruhan perpindahan panas pada evaporator lebih tinggi. Lapisan
cairan kondensasi memiliki ketahanan termal yang lebih rendah pada suhu yang lebih tinggi.
Pada titik didih yang lebih tinggi suhu ketahanan termal dari dinding logam lebih rendah karena
peningkatan konduktivitas termalnya.
Nilai kinerja asio yang lebih tinggi diperoleh saat titik didih rendah, rasio kompresi
rendah, dan tekanan uap motif tinggi. Pada temperature titik didih yang rendah, jumlah uap
motif yang dikonsumsi untuk mengkompres uap yang tertahan juga rendah hal ini karena
peningkatan tekanan uap pada suhu rendah. Contoh, tekanan uap antara 55 dan 60 C meningkat
dari 15,8 menjadi 19,9 kPa. Sedangkan antara 90 dan 95 C, tekanan uap meningkat dari 70,14
menjadi 84,55 kPa.
Pada rasio kompresi yang rendah, jumlah steam yang dikonsumsi untuk kompresi
entrained vapor kecil, sehingga rasio kinerjanya lebih tinggi. Kapasitas kalor spesifik menurun
secara drastis jika titik didih meningkat, hal ini terjadi karena kenaikan koefisien perpindahan
panas keseluruhan di evaporator dan di kondensor pada titik titik didih yang tinggi. Sehingga
luas untuk perpindahan panas akan menurun.
Luas perpindahan panas spesifik tidak terlalu berpengaruh terhadap perubahan tekanan
uap motif karena keterbatasan variasi pada koefisien perpindahan panas di evaporator dan
condenser. Laju alir spesifik cooling water dipengaruhi oleh perubahan titik didih dan rasio
kinerja, namun kurang berpengaruh terhadap perubahan tekanan uap.
Jadi, rasio kinerja berkurang dengan peningkatan titik didih dan rasio kompresi. Hal in
karena peningkatan konsumsi uap. Pengingkatan ini dibutuhkan untuk mencapai level yang
diinginkan dari kompresi uap. Rasio kinerja meningkat tetapi dengan batasan setelah
peningkatan tekanan uap. Hal ini karena adanya sedikit peningkatan pada jumlah uap yang
masuk pada tekanan uap yang lebih tinggi, hal ini mengurangi jumlah uap yang dikonsumsi.
Area perpindahan panas spesifik dan laju alir cooling water spesifik menurun dengan
meningkatnya suhu didih dan rasio kompresi. Ini karena adanya peningkatan dalam koefisien
perpindahan panas keseluruhan di evaporator dan kondensor, yang menyebabkan peningkatan
besar pada laju perpindahan panas.
Unit efek tunggal desalinasi kompresi-uap direkomendasikan dioperasikan pada nilai
titik didih pada rentang 70 – 80o C, dan rasio kompresi rendah, yaitu mendekati 2. Rasio kinerja
harus mendekati atau lebih tinggi dari 1,5. Biaya pengoperasian akan lebih rendah sebagai
akibat dari pengurangan energi yang diperlukan untuk mengoperasikan unit pompa air laut.
AMCl Manuf

Salah satu kegunaan amonium klorida adalah dapat digunakan untuk keuntungan
agronomi. Selain dapat digunakan sebagai pupuk pada beras, amonium klorida sudah dites dan
sukses penggunaannya pada berbagai macam tanaman seperti, gandum, jelai, tebu, jagung,
tanaman berserat, dan sorgum pada berbagai kondisi iklim. Selain kelebihan, kekurangan dari
amonium klorida adalah memiliki kandungan asam yang tinggi yang sama seperti amonium
sulfat, per unit N, yang mana akan merugikan pada beberapa tanaman. Walaupun seperti itu,
penggunaan pupuk amonium klorida. Untuk membuat amonium klorida, dapat digunakan
beberapa metode, yaitu proses dual-salt yang menggunakan NaCl dan anhydrous ammonia
sebagai bahan mentah, direct neutralization yang menggunakan ammonium anhydrous dan
asam klorida (HCl) sebagai bahan mentah, dan bermacam-macam metode lain.

1. Proses Dual-Salt
Proses dual-salt adalah proses Solvay termodifikasi, dimana amonium klorida
digaramkan dengan penambahan padatan, washed natrium klorida daripada metode
dekomposisi dengan menggunakan lime liquor untuk pemulihan amonia.

Pada proses Solvay, larutan amonia dicampur dengan karbondioksida di dalam


menara absorber untuk membentuk amonium karbonat. Berikut adalah rangkaian
reaksi untuk menghasilkan amonium klorida :
2NH3 +H2 O+CO2 →(NH4 )2 CO3

(NH4 )2 CO3 +CO2 +H2 O→2NH4 HCO3

NH4 HCO3 +NaCl→NaHCO3 +NH4 Cl

Pada proses Solvay, produk yang tidak dapat diambil direaksikan dengan lime
liquor untuk dapat digunakan kembali.

NH4 Cl+Ca(OH)2 →CaCl2 +2NH3 +2H2 O

Pada proses dual-salt, mother liquor yang tersisa setelah pemisahan dari natrium
bikarbonat, didinginkan sampai 15 oC, kemudian digaramkan dengan penambahan
padatan natrium klorida. Kristal yang terbentuk dapat digranulasi dengan
pemadatan gulungan atau digunakan dalam pupuk majemuk. Bubur yang terbentuk
dari crystallizer disentrifugasi, dicuci, dan dikeringkan dalam rotary drier pada
suhu 105oc.

2. Metode Direct-Neutralization
Amonium klorida dengan kemurnian yang tinggi dihasilkan dengan mereaksikan
anhydrous ammonia dan asam klorida dengan mengikuti persamaan reaksi :
NH3(g) +HCl(g) →NH4 Cl
Reaksi ini bersifat eksotermik. Asam klorida terkonsentrasi akan dilewatkan
melalui sebuah aspirator, yang mana nantinya akan dicampur dengan air kira-kira
sampai konsentrasi 20% dan memasuki bejana reaksi dengan tabung penyembur
vertikal. Menurut beberapa preferensi, gas amonia akan dimasukkan ke dalam
bejana reaksi dengan penyembur kedua atau nozel tangensial pada bawah bejana
reaksi.

3. Macam-Macam Proses
Amonium klorida juga dapat dibuat dari amonium sulfat dan natrium klorida
menurut reaksi:
(NH4 )2 SO4 +2NaCl→Na2 SO4 +2NH4 Cl
Metode yang lain yang dapat digunakan adalah penggunaan SO2 , natrium klorida,
dan amonia berdasarkan reaksi :
SO2 +2NH3 +H2 O+2NaCl→2NH4 Cl+Na2 SO3

Namun, kedua reaksi bersifat mahal dan hanya dapat digunakan pada skala yang
kecil. Selain kedua reaksi di atas, amonium klorida juga dapat dihasilkan dengan
memanfaatkan kalium klorida, menurut reaksi :

NH4 NO3 +KCl→NH4 Cl+KNO3

(NH4 )2 SO4 +2KCl→2NH4 Cl+K2 SO4


Evaporator : A Wastewater Treatment Alternative

Evaporasi dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk menangani limbah air yang semakin
banyak. Evaporasi secara efektif dapat memekatkan atau memisahkan garam, logam berat, dan
berbagai material berbahaya dari larutan. Juga, evaporasi dapat digunakan untuk mendapatkan
produk samping yang berguna dari larutan, atau memekatkan produk limbah cair untuk
diproses lebih lanjut. Proses evaporasi dimana larutan dipekatkan dengan cara menguapkan
pelarut, yang biasanya adalah air, dan meninggalkan padatan terlarut. Proses evaporasi dapat
dilakukan secara natural dengan solar evaporation pond atau dengan evaporasi yang dibuat
secara komersial.

Desain dan Operasi

Proses evaporasi dijalankan dengan menggunakan steam untuk menguapkan pelarut dan
mengakibatkan peningkatan konsentrasi larutan. Evaporator yang sederhana memiliki satu
ruang evaporasi. Multiple effect system menggunakan uap dari ruang pertama sebagai sumber
uap. Jadi, steam digunakan secara daur ulang. Namun, semakin ke stage akhir, steam akan
semakin memiliki suhu yang rendah yang mengakibatkan pelarut yang teruapkan pun semakin
sedikit. Selain susuan ruang penguapan, evaporator secara mekanikal juga ditambahkan
beberapa alat seperti kompresi uap, dan kompresor mekanikal lain yang bertujuan untuk
mengurangi energi input. Bila memungkinkan waste heat dari proses lain pun dapat digunakan
untuk mengurangi biaya evaporasi.

Tipe-Tipe Evaporator

Vertical tube falling film : resirkulasi liquid dialirkan dari atas tabung vertikal dan jatuh ke
sebuah film tipis di dalam tabung. Liquid tersebut menyerap panas dari steam di luar tabung
dan air pada liquid akan menguap. Tipe evaporator ini biasanya digunakan pada cairan dengan
viskositas yang tinggi.

Horizontal tube spray film : liquor resirkulasi dipanaskan dan disemprot ke luar tabung
horizontal yang membawa uap bertekanan rendah. Uap dari ruang evaporator dapat digunakan
sebagai steam atau dikompres secara mekanik dan digunakan kembali.

Forced circulation : resirkulasi liquor dipompa melalui heat exchanger di bawah tekanan untuk
mencegah boiling dan skala selanjutnya terbentuk dalam tabung. Liquor kemudian memasuki
ruang separator pada keadaan tekanan sedikit lebih rendah, yang menyebabkan penguapan air.
Combined and hybrid systems : Evaporator dengan menggabungkan beberapa tipe evaporator
atau menggabungkan nya dengan proses lain untuk mengurangi biaya operasi.

Aplikasi Evaporator

Zero liquid discharge : Evaporator dapat digunakan dalam proses dengan RO dan kristalisasi
untuk mendapatkan kondisi zero liquid discharge, yaitu untuk dapat mencapai tujuan
mengurangi pembuangan air limbah seminimal mungkin.

Water reuse : pada aplikasi ini evaporator memiliki beberapa keuntungan daripada proses yang
menggunakan fisik-kimia konvensional untuk menggunakan kembali air yang telah digunakan.

Metal finishing

Anda mungkin juga menyukai