Anda di halaman 1dari 7

Analisis Sintesis Tindakan Pemberian Terapi O2 Nasal Kanul Pada Tn.

S
Dalam Mengurangi Ketidakefektifan Pola Nafas Pada Kasus
Penyakti Paro Obstrukti Krinik Diruang Kenanga
RSUD Waras Wiris Boyolali

Muhammad Rais Prasetyo


SN201176

PROGRAM STUDI PROFESI NERS PROGRAM PROFESI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN 2021/2022
Analisis Sintesis Tindakan Pemberian Terapi O2 Nasal Kanul Pada Tn. S
Dalam Mengurangi Ketidakefektifan Pola Nafas Pada Kasus
Penyakti Paro Obstrukti Krinik Diruang Kenanga
RSUD Waras Wiris Boyolali

Hari : Jumat
Tanggal : 5 Maret 2021
Jam : 16.00

A. Keluhan Utama
Ny. M mengatakan sesek

B. Diagnosis medis
Penyakit Paru Obstruktif Kronik

C. Diagnosis keperawatan
Ketidakefektifan pola nafas b.d dtd pasien mengatakan sesak nafas, ada
retraksi dinding dada, penggunaan otot bantu nafas, takipnea, fase expirasi
memanjang

D. Data yang mendukung diagnosis keperawatan


DS : Tn.S mengatakan merasa sesek berkurang
DO : RR: 28x/menit TD:134/84 N:90x/menit S:36,5oC
Sudah terpasang nasal kanul 3 lpm

E. Dasar pemikiran
PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) ataupun COPD adalah klasifikasi
luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema
dan asma. PPOM merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan
dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-
paru. (Bruner & Suddarth, 2010). PPOK merupakan suatu istilah yang sering
digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan
ditandai dengan peningkatan retensi terhadap aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya yang merupakan bentuk kesatuan dari penyakit
bronkitis kronis dan emfisema paru ataupun asma bronkial. (Sylvia A. Price ,
2012).
Masalah keperawatan yang muncuk akibat dari PPOK yaitu sesak
nafas sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pasien. Untuk mengatasi
masalah tersebu salah satunya yaitu dengan diberikannya terapi oksigen untuk
menyuplai kebutuhan oksigen yang diperlukan tubuh.
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling
mendasar yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh,
mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ dan sel tubuh
(Andarmoyo, 2012). Terapi oksigen adalah pemberian oksigen pada
konsentrasi yang lebih tinggi dari udara bebas untuk mencegah terjadinya
hipoksemia dan hipoksia yang akan mengakibatkan kematian sel (Patria &
Fairuz, 2012). Pemberian oksigen pada pasien dapat dilakukan melalui : nasal
kanul, masker (simple face mask, rebreathing mask dan non rebreathing
mask).

F. Prinsip tindakan keperawatan (Tool universitas kususma husada


surakarta)
1. Fase pra interaksi
a. Melihat program terapi pasien
b. Mengecek urutan prosedur
c. Menyiapkan peralatan
2. Fase orientasi
a. Mencuci tangan
b. Memperkenalkan diri
c. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
d. Memastikan identitas (cek gelang pasien)
e. Menanyakan kesediaan
f. Mempertahankan privasi
3. Fase kerja
a. Menyiapkan sumber oksigen
b. Mengisi aquabidest pada tabung humidifier sesuai batas
c. Mengatur posisi semi fowler
d. Membuka flowmeter dengan ukuran 3 lpm
e. Memastikan ada aliran udara dengan punggung tangan
f. Memasang kanul pada hidung pasien dengan benar
g. Melakukan fiksasi selang kanul dengan benar
4. Fase terminasi
a. Mengevaluasi respon passien
b. Membereskan alat dan cuci tangan
c. Melakukan dokumentasi

G. Analisa tindakan
Menurut Bahtiar (2015) klien dengan gangguan system pernapasan
tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen secara normal, oksigen sangat
berperan dalam pernafasan, oksigen berperan didalam tubuh dalam proses
pembentukam metabolisme sel sehingga jika kekurangan oksigen maka akan
berdampak buruk bagi tubuh, sehingga diperlukan terapi tambahan untuk
pasien yang mengalami gangguan oksigenasi.
Pemberian oksigen memiliki peran yang penting dalam mengatasi
hambatan pertukaran gas. Dengan pemberian tambahan oksigen, maka dapat
meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokardium guna melawan
efek hipoksia/iskemia, memberikan transport oksigen yang adekuat dalam
darah sambil menurunkan upaya bernafas dan mengurangi stress pada
miokardium, meringankan beban kerja jantung, menurunkan dyspnea, untuk
meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas, dan perfusi
oksigen yang adekuat (Samsi, 2018).
Kanul nasal termasuk dalam sistem pemberian aliran rendah. Kanula
nasal adalah sebuah alat yang digunakan untuk memberikan oksigen dalam
konsentrasi yang semakin meningkat, yaitu dari konsentrasi rendah ke
menengah. Kanula memiliki dua slang pendek yang pas terpasang ke lubang
hidung. Alat ini dapat memberika oksigen engan konsentrasi 24% hingga
44% pada laju aliran 1 hingga 6 liter per menit (Rosdahl, 2015).

H. Bahaya dilakukan tindakan


Berdasarkan hasilpenelitian, adanya bakteri pada pengggunaan nasal
kanul dapat menyebabkan infeksi nosokomial khuususnya di ruang ICU. Bila
daya tahan tubuh lemah maka bakteri-bakteri (seperti: staphylococcus aureus,
mocrocuccus varians, staphylococcus epidermidis, klebsiella pneumonia,
Eschericia coli, streptococcus sp, bacillus sp, enterobacter sp, dan seeatia sp)
yang sifatnya patogen dapat menimbulkan penyakit atau bersifat oportunis
(pertiwi 2015). Pemakaian nasal kanul yang lebih dari 48 jam sebaiknya tidak
dilakukan mengingat bahwwa potensi tmbuhnya bakteri pada alat ini sangat
besar apabila digunakan lebih dari 48 jam. Disinfeksi menjadi sangat penting
dilakukan untuk mencegah penularan infeksi nosokomial khususnya di ruang
ICU (pertiwi 2015). Kanula nasal merupakan peralatan yang sederhana dan
nyaman. Kedua kanula, dengan panjang sekitar 1,5 cm muncul dari bagian
tengah selang sekali pakai dan diinsersikan ke dalam hidung. Kecepatan
aliran lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan karena efek yang
ditimbulkannya, yakni menyebabkan mukosa kering dan juga karena jumlah
oksigen yang diberikan relative sedikit lebih besar. Perawat juga harus
mewaspadai kerusakan kulit di atas telinga dan di hidung akibat pemasangan
nasal kanula yang terlalu ketat (Samsi, 2018).

I. Tindakan keperawatan lain yang dilakukan


monitor kecepatan aliras oksigen dan kolaborasi penentu dosis oksigen (SIKI,
2018)

J. Hasil yang didapat setelah dilakukan tindakan


S : Tn.S mengatakan sesak sudah berkurang
O : KU: sedang, TD/130/90, S:36,5oC, N:90x/menit, RR:26x/menit
Terpasang O2 nasal kanul 3 lpm
A : masalah gangguan pertukaran gas teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi monitor kecepatan aliras oksigen dan
kolaborasi penentu dosis oksigen

K. Evaluasi diri
Dalam memberikan pemberian oksigen nasal kanul mahasiswa praktik
hanya melanjutkan terapi dari intervensi sebelumnya saja sambil melakukan
pemantauan.

L. Daftar pustaka /referensi


Andarmoyo, Sulistyo. (2012). Kebutuhan Dasar Manusia (Oksigenasi).
Yogyakarta: Graha Ilmu

Bachtiar, A, dkk. (2015). Pelaksanaan pemberian terapi oksigen pada pasien


gangguan sistem pernafasan. Jurnal keperawatan terapan volume 1
nomor 2. Diperoleh dari www.jurnal.poltekkesmalang.ac.id/berkas/
d96f-48-42.pdf

Black, J dan Hwks, J. (2014). Keperawatan medikal bedah: manajemen


klinis untuk hasil yang diharapkan. Edisi 8. Jakarta: Salemba medika

Muttaqin, Arif. (2009). Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien dengan


Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: Salemba
Medika

Patria & Fairuz. (2012). Terapi Oksigen Aplikasi Klinis. Jakarta: EGC

Pertiwi, Bulan Putri. (2015). Dentifikasi variasi bakteri pada nasal kanul di
ruang ICU RSUD UNDATA tahun 2015. Jurnal ilmiah kedokteran
volume 2 no.3 Medika tadulako

Samsi, Bariyatun & Susilo, Catur Budi. (2018). Penerapan pemberian oksigen
pada pasien congestive heart failure (CHF) dengan gangguan
kebutuhan oksigenasi di RSUD Wates Kulon Progo. Poltekkes
kemenkes yogjakarta. https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_
sdt=0%2C5&q=o2+nasal+kanul%2Bsesak+nafas
%2Bchf&btnG=#d=gs_qabs&u=%23%3DPrl2LnuAnPsJ
Tim Pokja SIKI DPP . (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
DPP PPNI. Jakarta Selatan. PPNI,

Rosdahl,CB dan Mary T. Kowalski. (2015). Buku ajar keperawatan Dasar.


Jakarta: EGC