Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pesatnya persaingan dunia kerja menuntut tingginya kebutuhan tenaga
kerja yang terampil dan kompeten pada bidang tertentu. Usaha yang dilakukan
dalam rangka menghasilkan tenaga kerja yang kompeten serta memiliki
pengalaman kerja dan keterampilan kerja di bidang yang ditekuni diperlukan
fasilitas yang dapat mengakomodasi semua kebutuhan mahasiswa akan
pengalaman kerja dan keprofesian. Terhitung semenjak diterimanya sebagai
mahasiswa di perguruan tinggi sampai menjelang akhir studi, mahasiswa lebih
banyak memperoleh pengetahuan teori dan keterampilan melalui mendengar,
melihat dan praktik disertai diskusi. Tingkat penguasaannya mungkin belum
seperti apa yang diharapkan, artinya belum dapat menerapkan atau
mempraktekkan pengetahuan yang sudah didapat selama perkuliahan. Ini
terjadi karena dunia kerja masih terasa asing bagi mahasiswa.

Menyikapi hal tersebut, Universitas Negeri Malang ( UM ) sebagai salah


satu perguruan tinggi negeri di Indonesia berupaya untuk selalu
mengembangkan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi guna
menunjang pembangunan profesi. Usaha yang dilakukan oleh Program Studi
Pendidikan Teknik Elektro guna menunjang hal tersebut adalah dengan
mewajibkan mahasiswanya untuk melaksanakan praktik industri sebagai
kelengkapan teori yang diperlajari di bangku kuliah. Praktik industri ini wajib
ditempuh oleh mahasiswa guna menyelesaikan tahap sarjana strata 1.

Praktik industri merupakan kegiatan akademik yang dilakukan oleh


mahasiswa dengan melakukan praktik kerja secara langsung di perusahaan
yang relevan dengan pendidikan yang diambil mahasiswa dalam perkuliahan.
Praktik industri yang dilakukan oleh mahasiswa dapat mengenal dunia kerja,
sehingga seluruh mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu
pengetahuan teknologi dan informasi semata, namun yang lebih penting adalah
mahasiswa memiliki keterampilan dan kemampuan untuk menerapkan ilmu
yang dimilikinya. Praktik Industri ini juga sabagai langkah praktis dalam

1
mempersiapkan mahasiswa untuk dapat tangkas, ahli, bertanggung jawab dan
terampil dalam kehidupannya pada dunia kerja.

Praktik Industri ini disamping memiliki tujuan mempersiapkan mahasiswa


agar menjadi pribadi yang terampil dan siap terjun kedalam dunia kerja namun
juga mahasiswa dituntut mengembangkan pengalamannya untuk dapat
disampaikan kepada siswa ketika menjadi pengajar atau guru pada keahlian
kelistrikan. Persiapan yang dilukukan ini bertujuan agar terdapat
kesinambungan dengan program studi yang ditempuh oleh mahasiswa yang
melaksanakan Praktik Industri yaitu Program Studi Pendidikan Teknik Elektro.

PT. Industri Gula Glenmore merupakan salah satu industri yang bergerak
dibidang pembuatan gula yang bekerjasama dengan Universitas Negeri Malang
dalam program praktik industri. PT. Industri Gula Glenmore memiliki 6 stasiun
pemrosesan dalam pengoperasiannya. Salah satu stasiun pemrosesan adalah
stasiun gilingan, dimana terdapat sebuah motor bernama HDHS (Heavy Duty
Hammer Stayder) yang berfungsi sebagai penggerus tebu. Motor HDHS
tersebut, merupakan motor dengan kapasitas daya dan tegangan besar, dengan
putaran motor yang besar dan sistem sinkronisasi yang cukup unik.

1.2 Tujuan Praktik Industri


Tujuan umum dalam pelaksanaan praktik industri di PT. Industri Gula
Glenmore adalah sebagai berikut:

1. Memenuhi beban satuan kredit semester (SKS) yang harus dilaksanakan


sebagai persyaratan menempuh gelar sarjana strata 1
2. Memperdalam pengetahuan mahasiswa dengan mengenal dan mempelajari
secara langsung aplikasi bidang Teknik Elektro terutama pada bidang
Pembangkit dan Distribusi Tenaga Listrik di PT. Industri Gula Glenmore.
3. Mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan dan kemampuan profesi
melalui penerapan ilmu, latihan kerja dan pengamatan teknik yang
diterapkan di PT. Industri Gula Glenmore.
Tujuan khusus dalam pelaksanaan praktik industri di PT. Industri Gula
Glenmore adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui perancangan instalasi motor listrik HDHS pada PT. IGG

2
2. Melakukan kegiatan perawatan dan perbaikan motor listrik di PT. IGG
3. Mengetahui sistem pengoperasian motor listrik di PT. IGG
1.3 Manfaat
Secara detail, manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kerja praktik di PT.
Industri Gula Glenmore untuk berbagai pihak adalah sebagai berikut:
1. Untuk mahasiswa praktik industri :
- Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri dalam kondisi
kerja sesungguhnya serta membangun etos kerja dan sikap
profesional, serta mendapat gambaran dunia kerja.
- Mampu mengaplikasikan dan mengembangkan pengetahuan di
bidang analisa kegagalan dengan kondisi operasional.
- Memenuhi satuan kredit semester (SKS) Mata Kuliah Praktik Industri
yang diwajibkan oleh Program Studi Pendidikan Teknik Elektro
sebagai prasyarat program sarjana strata 1.

2. Untuk Universitas Negeri Malang ( UM ):


- Menjalankan tugas pokok UM sebagai instansi pendidikan dan
pengembangan teknologi nasional.
- Membangun dan menjalankan hubungan baik antara perguruan tinggi
dengan instansi swasta.
3. Untuk PT. Industri Gula Glenmore:
- Mensukseskan tujuan pendidikan nasional dalam rangka peningkatan
kualitas sumber daya manusia melalui Program Praktik Industri.
- Memberikan kesempatan bagi mahasiswa Universitas Negeri Malang
untuk mengembangkan diri, mengasah kemampuan akademik, etos
kerja, dan sikap profesional.
- Membangun hubungan yang sinergis antara PT. Industri Gula
Glenmore sebagai lembaga industri, pengembangan dan pemanfaatan
ilmu pengetahuan dengan Universitas Negeri Malang sebagai pelaku
bidang riset dan akademik.

3
BAB II
KEGIATAN UMUM

Pada bab 2 ini, membahas mengenai perusahaan PT. Industri Gula Glenmore
secara umum. Dimulai dari identitas perusahaan, struktur organisasi yang sedang
diterapkan pada masa praktik industri, personalia dan uraian tugas, manajemen
produksi dari tebu hingga menjadi gula, serta keselamatan dan kesehatan kerja yang
dilaksanakan di industri.
2.1 Identitas Perusahaan
PT Industri Gula Glenmore (PT IGG), merupakan Anak Perusahaan yang
sahamnya dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) 99,5% dan PT
Perkebunan Nusantara XI (Persero) 0,5%, dibentuk berdasarkan Surat Menteri
BUMN No. S-684/MBU/2012, tanggal 28 Nopember 2012, dan No. S -
491/MBU/2013, tanggal 31 Juli 2013, yang dituangkan dalam Akte Notaris Aryanti
Artisari, SH.MKn., Nomor 07, tanggal 3 Desember 2012, disahkan dengan Surat
Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU- 00727.AH.01.01. Tahun
2013., tanggal 4 Januari 2013, dan terakhir diubah dengan Akte Notaris Nur
Muhammad Dipo Nusantara Pua Upa, SH.,M.Kn. Nomor 06, tanggal 19 Agustus
2013 dikukuhkan dengan Surat Menteri Hukum dan HAM dengan Nomor AHU-
0081568.AH.01.09 Tahun 2013, tanggal 29 Agustus 2013.

Gambar 2.1 Logo PT. Industri Gula Glenmore

Tugas utama PT IGG adalah melaksanakan pembangunan dan pengelolaan


Pabrik Gula Terpadu Glenmore berkapasitas 6.000 TCD (expandible 8.000 TCD)
di atas sebagian lahan PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) seluas 102,4 Ha,

4
yang di-inbreng-kan kepada PT IGG berlokasi di Desa Karang Harjo, Kecamatan
Glenmore, Kabupaten Banyuwangi.
Kapasitas Proyek : 6.000 TTH s/d 8.000 TTH
Lama Hari Giling : ≤ 150 hari
Kebutuhan Tebu : 900.000 ton s/d 1.200.000 ton
Kebutuhan lahan : 9.000 ha s/d 10.000 ha
Produk utama : gula putih premium
Produk tambahan : bioethanol, pupuk organic, ekses power, pakan ternak

Gambar 2.2 Lokasi Pabrik Gula Terpadu Glenmore dan Kebun Tebu PTPN XII

Bahan baku tebu akan dipasok sepenuhnya oleh Kebun-kebun penanam tebu
PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) yang ada di wilayah Kabupaten
Banyuwangi. Dari pabrik gula terpadu ini akan diproduksi gula putih premium,
daya listrik, bio-ethanol, pupuk organik dan pakan ternak.
Pabrik gula terpadu dimana yang berfungsi selama 24 bulan, selama 150 hari
mengelolah bahan baku tebu, menggunakan proses DRC (Defecation Remelt
Carbonatation) dan menghasilkan gula Kristal putih (GKP) kualitas premium
warna ICUMSA 80-100. Kebutuhan daya listrik didalam pabrik gula disuplai dari
pembangkit listrik menggunakan boiler 45 bar dengan bahan bakar ampas tebu
(bagasse). Pabrik gula terpadu ini juga dirancang mampu untuk menghasilkan
kelebihan listrik yang akan dijual ke PLN pada musim giling. Selain produksi gula
di atas, setelah Pabrik gula terpadu beroperasi maka akan diintegrasikan juga suatu
Unit Produksi Ethanol. Lingkup kerja calon kontraktor dalam membangun pabrik

5
gula terpadu tersebut meliputi pekerjaan rancang bangun (engineering), pengadaan
(procurement), dan pembangunan (construction), pengujian (testing), trial
operation dan penyerahan (commissioning). Dimana pekerjaan EPC yang dimaksud
di atas juga termasuk training personil yang akan mengoperasikan pabrik gula
terpadu tersebut. Proses pengadaan barang dan jasa ini bersifat turn
key - fixed price dan peserta yang diundang adalah peserta perusahaan dan peserta
konsorsium (KSO) yang bonafid, mempunyai pengalaman, memiliki kemampuan
finasial yang memadai. Peserta perusahaan atau pemimpin (lead) dari peserta
konsorsium wajib dari perusahaan nasional Indonesia dengan memaksimalkan
penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Gambar 2.3 Kantor Direksi PT. Industri Gula Glenmore

Adapun tujuan strategis kedepannya PT. industri Gula Glemore untuk mencapai
kesuksesan besar diintegrasikan menjadi visi dan misi perusahaan sebagai berikut:
Visi PT. Industri Gula Glemore, “Menjadi perusahaan industri gula modern
terpadu” dan diimbangi dengan Misi yang dijalankan sampai sekarang, yaitu :
1. Memproduksi gula dan produk turunannya dengan mutu tinggi.
2. Membangun perusahaan yang tumbuh dan kuat sehingga lebih bermakna
dan mampu memberikan nilai tambah bagi shareholder dan stakeholder.
3. Berkomitmen menjalankan bisnis dengan mengutamakan kelestarian
lingkungan.
4. Menumbuh-kembangkan budaya usaha tani tebu yang berkualitas di
kawasan Banyuwangi.
Landasan nilai PT. Industri Gula Glenmore adalah sebagai berikut:

6
a. Integrity : Bekerja atas landasan kejujuran, tanpa pamrih dan berkomitmen
tinggi terutama untuk pelayanna konsumen.
b. Growth : Selalu berusaha untuk tumbuh, baik secara korporasi, setiap
induvidu yang terlibat, maupun dilingkngan perusahaan sendiri.
c. Green : Selalu menjaga dan melestarikan kelestarian lingkungan dan
mewujudkannya dalam setiap proses bisnis dan tindakan.

7
2.2 Struktur Organisasi
STRUKTUR ORGANISASI UMUM
PT. INDUSTRI GULA GLENMORE BANYUWANGI

8
STRUKTUR ORGANISASI DIVISI OPERASIONAL
PT. INDUSTRI GULA GLENMORE BANYUWANGI

9
2.3 Personalia dan Uraian Tugas
Pembagaian tugas kerja memerlukan adanya struktur organisasi yang
digunakan unuk melaksanakan tugas perusahaan, struktur organisasi adalah
kerangka dan susunan perwujudan pola hubungan diantara fungsi, bagian, dan
orang-orang yang menunjukkan kedudukan tugas, wewenang dan tanggungjawab
yang berbeda-beda dalam suatu perusahaan atau organisasi. Bagan organisasi akan
memperlihatkan dengan jelas bagaimana informasi mengalir dari satuan organisasi
ke satuan organisasi lainnya. Bahan organisasi juga memberikan petunjuk tentang
pembagian, tugas, luasnya rentangan kendali, wewenang dan tanggung jawab.
Setiap karyawan harus memahami struktur organisasi di tempat kerja. Bentuk
struktur organisasi yang digunakan oleh PT. Industri Gula Glenmore adalah bentuk
garis (line), yaitu pelimpahan tanggung jawab dan pendelegasian tugas disusun
dalam aliran kerja yang teratur dari level paling atas hingga pada tingkat karyawan.
Tugas pokok dan fungsi personalia pada bagian-bagian kerja yang ada di PT.
Industri Gula Glenmore antara lain :
1. Pemegang Saham
Tugas pokok dan fungsi pemegang saham adalah sebagai pemegang saham
tertinggi dalam industri.
2. Dewan Direksi
Tugas pokok dan fungsi dewan direksi adalah membuat daftar pemegang
saham, daftar khusus, risalah RUPS dan risalah rapat direksi, membuat laporan
tahunan dan dokumen keuangan perseroan, memlihara seluruh daftar, risalah
dan dokumen keuangan perseroan.
3. Dewan Komisaris
Tugas pokok dan fungsi dewan komisaris adalah wajib melakukan pengawasan
terhadap kebijakan direksi dalam melaksanakan perseroan serta memberi
nasihat kepada direksi. Fungsi pengawasan dapat dilakukan oleh masing –
masing anggota komisaris namun keputusan pemberian nasihat
mengatasnamakan komisaris dilakukan secara kolektif. Fungsi pengawasan
bersifat kontinyu atau berkelanjutan, oleh karena itu komisaris wajib
berkomitmen tinggi untuk menyediakan waktu dan melaksanakan seluruh
tugas komisaris secara bertanggung jawab.

10
4. General Manajemen Operasional
Tugas pokok dan fungsi dari general manager operasional adalah mengatur dan
mengkoordinasi semua kegiatan operasional termasuk rancangan strategis
bagian pabrik dan tanaman.
5. General Manajemen Komersil
Tugas pokok dan fungsi dari general manajer komersil adalah mengatur dan
mengkoordinasi bagian keuangan, pengadaan dan SDM umum.
6. Manajer Pengembangan
a. Merencanakan, Mengembangkan dan Mengimplementasikan strategi
pengembangan organisasi (mencangkup bidang-bidang tertentu yang
relevan dengan struktur organisasi dan lainnya).
b. Menetapkan dan memelihara sistem yang sesuai unutk mengukur aspek –
aspek penting kinerja organisasi.
c. Memonitor, mengukur dan melaporkan tentang rencana-rencana
pengembangan organisasi dan pencapaiannya dalam bentuk, format dan
rentang waktu yang telah disetujui.
d. Melakukan pengaturan kerja bawahan langsung (yang melakukan daily
report kepadanya)
e. Mengelola dan mengendalikan pembelanjaan perdepartemen sesuai
anggaran-anggaran yang telah disetujui.
f. Bertindak sebagai penghubung dengan para manajer fungsional/ manajer
departemen yang lain agar memahami semua aspek penting dalam
pengembangan organisasi danmemastikan tiap departemen mendapatkan
informasi yang cukup dan tepat mengenai sasaran, tujuan dan pencapaian-
pencapaian dari pengembangan organisasi.
7. Manajer Pabrik Gula
Tugas pokok dan fungsi manajer pabrik mencangkup tanggung jawab dan
pertanggungjawabnnya sebagia manajer pabrik terhadap perkerjaan
bawahannya. Tugas manajer pabrik yang lain adalah mengatur operasional
perusahaan atau pabrik.

11
8. Manajer keuangan dan Logistik
a. Bekerjasama dengan manajer lain, bertugas merencanakan dan meramalkan
beberapa aspek dalam perusahaan termasuk perencanaan umum keuangan
perusahaan.
b. Bertugas mengambil keputusan penting investasi dan berbagai pembiayaan
serta semua hal yang berkaitan dengan keputusan tersebut.
c. Bertugas menjalankan dan mengoperasikan roda kehidupan perusahaan
seefisien mungkin dengan menjalin kerjasama dengan manajer lainnya.
d. Bertugas sebagai penghubung antara perusahaan dengan pasar keuangan
sehingga bisa mendapatkan dana-dana hasil produksi perusahaan maupun
surat berharga perusahaan.
9. Manajer Pengadaan dan Pemasaran
a. Bertanggung jawab terhadap manajemen bagian pemasaran.
b. Bertanggung jawab terhadap perolehan hasil penjualan dan penggunaan
dana promosi.
c. Bertanggung jawab sebagai koordinator manajer produk dan manajer
penjualan.
d. Membina bagian pemasaran dan membimbing seluruh karyawan bagian
pemasaran.
e. Membuat laporan pemasaran yang ditujukan untuk direksi.
10. Manajer Sumber Daya Manusia dan Umum
a. Merencanakan dan mengkoordinasikan tenaga kerja perusahaan dan hanya
mempekerjakan karyawan berbakat.
b. Menjadi penghubung antara manajemen dengan karyawan.
c. Melakukan pelayanan karyawan.
d. Memberi masukan kepada manajer mengenai kebijakan perusahaan.
e. Mengkoordinir dan mengawasi pekerjaan para pegawai khusus dan staf
pendukung.
f. Mengawasi proses perekrutan, wawancara kerja, seleksi dan penempatan
karyawan baru.
g. Menangani isu-isu ketenagakerjaan.

12
2.4 Manajemen Produksi
1. Bahan Baku
Industri makanan menggunakan beberapa tanaman sebagai penghasil gula
kristal yang sering dikonsumsi yakni tebu, buah bit, jagung, dan aren. Di
Indonesia tanaman yang paling umum dan mayoritas digunakan sebagai
penghasil gula konsumsi adalah tebu. Tebu (Saccharum Officinarum) adalah
jenis tanaman berserabut sesaudara dengan alang-alang yang dapat tumbuh di
daerah tropis dan sub-tropis. Tebu (Saccharum Officinarum) diketahui sejak
8.000 tahun S.M dari habitat aslinya di New Guinea menyebar ke kepulauan
Solomon dan New Hebrides serta New Caledonia, kemudian ke Barat Daya
seperti Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Vietnam, dan indiasejak sekitar 6.000
tahun S.M. Baru setelah itu menyebar ke pulau-pulau di Pasifik dan Hawai
serta bagian lain dari Oceania.
Tebu sudah sejak beratus-ratus tahun digunakan sebagai bahan baku
pembuat gula kristal, dapat diperoleh dengan menanamnya secara kultur tehnis
yang baik di sawah atau di ladang. Di Indonesia balai penelitian khusus untuk
tanaman tebu adalah Pusata Penelitian Perusahaan Gula Indonesia (P3GI) di
Pasuruan yang didirikan oleh asosiasi perusahaan-perusahaan Belanda pada
zaman pendudukan dahulu dengan nama “Proefstation Oos Java”, disingkat
dengan “POJ”.
Sejak permulaan abad ke 20 beberapa varietas atau jenis tebu unggul telah
ditemukan. Proefstation Oos Java di Pasuruan yang sekarang P3GI, juga
terkenal dengan hasil penemuan (Hasil Persilangan) jenis tebu unggul yang
diakui oleh dunia internasional, seperti POJ-2878, POJ-2967, POJ-3016 dan
sebagainya. Jenis tebu unggul adalah tebu yang dapat menghasilkan kadar gula
atau rendemen tinggi, ialah antara 12% -15%. Selain itu tiap hektar tanaman
dapat menghasilkan tebu rata-rata ≥ 100 ton. Jadi rendemen atau kadar gula
dalam tebu itu dibentuk di kebun, bukan dipabrik gula. Pabrik gula tugasnya
adalah mengekstraksi gula dari dalam tebu dan menghindari kehilangan gula
sebanyak-banyaknya.
Secara fisik perkiraan tebu yang baik ditandai dengan batang yang kuat,
tegak dan besar, sekitar 30 - 40 mm diameternya, berdaun lebar-lebar dan tinggi

13
batangnya sekitar 3-4 meter, bahkan ada yang lebih tinggi lagi. Secara garis
besar komposisi bahan baku (tebu) itu adalah terdiri dari 2 kelompok:
- Air yang jumlahnya berkisar antara 73 - 76%.
- Zat-zat padat yang jumlahnya berkisaran antara 24 - 27%.
Zat-zat padatnya sendiri terdiri dari zat-zat padat yang dapat larut sekitar
10-16% dan zat padat yang tak dapat larut, ialah sabut yang berkisar antara
11-16%. Jadi nira tebu atau sering disebut nira itu merupakan campuran dari
air dan zat-zat padat yang larut. Zatzat padat yang dapat larut itu umumnya
dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Zat-zat padat yang larut pada tebu
Golongan zat-zat padat Nama zat padat Persen massa (%)
Zat-zat gula Sachrosa (Sucrose) 70-88
Glukosa (Glucose) 2-4
Frukosa (Fructose) 2-4
Zat-zat garam Asam non-organik 1,5-4,5
Asam organik 1,0-3,0
Zat-zat organic Zat-zat asam carboxylic
Zat-zat asam amino
Zat-zat organic (bukan gula) Protein
Starch (Kanji)
Gums (Getah)
Wax (Lilin)
Fats (Lemak), dsb
Zat-zat mineral Potassium
Sulfat
Zat-zat mineral Calsium
Magnesium
Silika
Phrosphat
Besi
Carbonat, dsb
Sumber: Soemohandaojo, 2009

14
2. Proses Produksi
PT. Industri Gula Glenmore memiliki area pabrik yang terbagi menjadi
beberapa bagian yang ditunjukkan oleh denah berikut:

Gambar 2.4 Denah Pabrik Industri Gula Glenmore


Proses pembuatan gula di PT. Industri Gula Glenmore terbagi dalam
beberapa stasiun-stasiun. Stasiun tersebut berurutan antara lain:
1. Stasiun Gilingan

Gambar 2.5 Stasiun Gilingan (Mill)

15
Stasiun gilingan ini diawali dengan pengangkutan tebu dari perkebunan
yang diangkat menggunakan truk. Truk yang menampung tebu tersebut
masuk ke pabrik melewati core sampler untuk diambil sampel dan
pengecekan nilai rendemen.
Kemudian truk pengangkut tersebut menuju truck trippler yang berfungsi
untuk memasukkan tebu yang ada pada truk menuju side carrier. Tebu yang
telah masuk side carrier menuju ke leveller untuk memotong atau meratakan
permukaan atas tebu. Selanjutnya tebu akan dipotong-potong dengan cane
knifes dan masuk ke main carier atau konveyor utama untuk kemudian
ditumbuk dengan HDHS (Heavy Duty Hammer Shredder) yang berfungsi
untuk membuka pori-pori tebu agar lebih mudah dalam proses pemerasannya.
Kemudian tebu akan menuju ke cane elevator yang berfungsi untuk
mengantar tebu ke proses pemerasan. Penggilingan atau pemerasan tebu ini
melalui beberapa proses yang berkesinambungan, yaitu:
a. Tahap Pemerahan (Mill) I
Penggilingan ini berfungsi merusak struktur tebu sehingga ekstrasi nira
mudah dan efektif, serta meningkatkan kapasitas gilingan. Ampas dari
mill I digunakan sebagai umpan pada mill II, sedangkan hasil pemerasan
pada mill I dialirkan ke tanki penampungan nira (Unscreened Juice
Tank). Proses pemerasan di mill I menggukanan enam buah roll.
b. Tahap Pemerahan (Mill) II
Ampas dari mill I dimasukkan ke mill II dengan Intermediate Carrier I
setelah mendapat sisa ampas dari Rotary Drum Screen. Hasil dari
pemerahan nira pada mill II ditampung pada tanki yang menjadi satu
degan tanki yang menampung nira pada mill I. hasil dari pemerahan nira
pada mill I dan II ini kemudian dipompa menuju Rotary Drum Screen.
Mill II menggunakan empat buah roll yang permukaannya kasar.
c. Tahap Pemerahan (Mill) III
Ampas dari mill II dimasukkan ke mill III dengan Intermediate Carrier
II dan akan dicampur dengan air imbibisi dari Imbibition Tank, setelah
itu akan dilakukan proses pemerahan menggunakan empat buah roll yang

16
permukaannya bergerigi. Hasil dari pemerahan nira pada mill III akan
ditampung pada Miceration Tank.
d. Tahap Pemerahan (Mill) IV
Sisa ampas dari mill III dimasukkan ke mill IV dengan Intermediate
Carrier III dan akan dicampur kembali dengan air imbibisi, kemudian
dilakukan proses pemerahan dengan empat buah roll. Hasil pemerahan
nira akan ditampung pada Maceration Tank, yang kemudian akan
menuju Rotary Drum Screen untuk proses penyaringan antara nira dan
ampasnya. Hasil nira yang siap dimasak akan dikumpulkan pada
Screened Juice Tank. Dan dipompa menuju Weigh Juice Tank.
Berikut parameter standar performance stasiun gilingan (Mill):
1. PI (Preparation Index) : ≥ 85% (ideal ≥ 90%)
2. % pol ampas : ≤ 2,0% (ideal ≤ 2,5%)
3. Imbibisi % tebu : ≥ 25 % (ideal ≥ 30%)
4. Suhu air imbibisi : 70˚C – 90˚C
5. Zat kering ampas : ≥ 49,0% (kadar air ampas : ≤ 51,0%).
2. Stasiun Pemurnian Nira

Gambar 2.6 Stasiun Proses


Setelah melalui proses pemerahan dan penyaringan nira, maka
dilanjutkan dengan tahan pamurnian nira. Prosesnya antara lain:
a. Dari Weigh Juice Tank akan dipompakan menuju Juice Heater 1A/1B.
Pada Juice Heater ini dilakukan pemanasan menggunakan uap bekas.

17
Juice Heater 1A suhu diatur sesuai yang dikehendaki, sedangkan pada
Juice Heater kedua, suhu yang diperbolehakan sebesar 75oC.
b. Setelah dipanaskan maka nira akan dialirkan menuju Static Mixer untuk
dilakukan pencampuran dengan air kapur agar nira dapat mncapai PH
7,2-7,6.
c. Nira yang telah dicampur dengan air kapur akan dialirkan menuju Limed
Juice Tank untuk ditampung sementara dan akan diaduk agar nira
tercampur sempurna dengan kapur.
d. Kemudian nira akan dipompa menuju Juice Heater 2 dengan pemanasan
pada suhu maksimum 105-110oC.
e. Nira akan dialirkan pada Flash Tank untuk ditabrakkan pada lempengan
yang akan memecah gelembung yang terdapat pada nira. Tujuannya
untuk menghilagkan udara-udara yang terjebak pada nira.
f. Nira dialirkan menuju Single Tray Clarifier untuk diberi larutan
Floculant yang berfungsi mengikat kotoran yang mengendap kebawah
dan akan dialirkan menuju Mud Tank. Sementara nira yang bersih akan
dialirkan menuju Juice Screen untuk memisahkan kotoran yang masih
terbawa pada nira. Kemudian nira yang telah tersaring akan ditampung
sementara pada Clear Juice Tank.
g. Nira akan dipompa menuju Juice Heater 3, untuk dilakukan pemanasan
menggunakan uap bekas seperti pada proses sebelumnya. Suhu maksimal
pada Juice Heater 3 sebesar 110oC. Nira yang telah dipanaskan akan
dialirkan menuju statiun penguapan (Evapotaror).
3. Stasiun Penguapan
Evaporator berfungsi untuk menguapkan air yang terkandung dalam nira
encer sampai ± 80% agar menjadi kental. Faktor yang mempengaruhi
kecepatan penguapan adalah suhu, tekanan, badan dan jumlah luas pemanas.
Selama proses penguapan akan terjadi perubahan, yaitu nira kental berwarna
agak keruh dan coklat kehitaman sebagai akibat suhu panas. Namun agar nira
kental tidak hangus maka suhu dan tekanan permukaan vakum harus dijaga.
Bagian penguapan nira encer mengalami proses pemekatan secara bertahap
dengan tahap yang berbeda. Proses vakum atau proses yang menggunakan

18
tekanan dibawah tekanan atmosfer mampu mempercepat proses penguapan
dan mampu menghindari terjadinya pengentalan atau karamelisasi pada
larutan gula pekat.
PT. Industri Gula Glenmore memiliki 5 buah badan penguapan
(Evaporator) yang menggunakan sistem quintuple effect. Uap bekas
dimasukkan pada badan evaporator 1. Uap yang mengembun dibuang
sebagai kondensat. Nira dari Clear Juice Tank mulai naik pada dinding pipa
kalendria dan mengalir kebawah menuju badan evaporator 2.
Uap bekas yang dihasilkan oleh badan evaporator 1 akan dimasukkan ke
badan evaporator 2 dan begitu seterusnya hingga badan evaporator 5. Nira
jernih mengalami pemanasan pada evaporator dengan suhu sekitar 100 –
112oC. kemudian dari proses tersebut nira dipompa menuju masing-masing
badan penguapan.
Suhu pada proses penguapan ini lebih rendah dibandaing suhu pada proses
pemurnian. Hal ini dikarenakan pada proses penguapan disertai dengan
penambahan tekanan vakum yang bertujuan agar suhu proses tidak terlalu
tinggi dan membutuhkan waktu penguapan yang lebih cepat. Maka dari itu,
untuk mendapatkan waktu penguapan yang lebih cepat, tekanan pada badan
penguap divakum agar suhu dapat turun.
4. Stasiun Pemasakan
Nira yang berasal dari evaporatorakan turun ke syrup tank, yang mana
disini nira sudah menjadi kental dan akan dipompakan lagi ke syrup head tank
untuk dilakukan pembibitan dengan cara dipanaskan di boiling/vacuum pan
agar terbentuk bibit gula. Setelah gula sudah dirasa cukup bentuknya
kemudian akan dimasukkan ke Receiver Tank (penampungan gula dan
molasses).
5. Stasiun Putaran
Pada stasiun ini sirup akan dikirim ke Feed Mixer untuk mempersiapkan
proses selanjutnya di centrifugal untuk memisahkan Kristal gula dan
molasses. Kemudian Kristal gula dimasukkan ke Sugar Conveyor, sedangkan
molasses akan dimasukkan ke Tank Final Molasses. Kristal gula akan masuk
ke Sugar Dryer untuk dikeringkan dan masuk ke Sugar Cooler untuk proses

19
pendinginan gula. Kemudian Kristal gula akan dimasukkan kedalam
Vibrating Screen yang berfungsi unuk memisahkan produk yang telah
didinginkan atau yang biasa disebut sizing.
6. Stasiun Penyelesaian (Finishing)
Gula yang telah melalui proses sizing dan gula yang didinginkan akan
masuk ke Sugar Elevator untuk dikirimkan ke Sugar Bin, disini gula akan
dikemas dalam plastik dan karung. Setiap karung berisi 50kg gula dan akan
dijahit kemudian akan disimpan ke Warehouse.
Dari stasiun-stasiun tersebut ada beberapa stasiun pendukung lainnya,
yaitu:
a. Stasiun Boiler
Stasiun boiler merupakan salah satu stasiun penting untuk membantu
proses pembuatan gula. Pada stasiun boiler terjadi proses pemanasan air
menjadi steam. Steam ini yang akan dikirim menuju STG (Steam Turbine
Generator) untuk menghasilkan daya listrik yang akan dialirkan ke semua
proses. Proses pertama dari stasiun boiler ini adalah air dari BFW (Boiler
Feed Water Tank) dipompakan menuju ke daerah deaerator untuk
menghilangkan gelembung. Kemudian air akan dimasukkan ke dalam
economizer untuk dipanaskan sebelum masuk steam drum. Air yang masuk
ke steam drum akan dipanaskan kembali hingga menghasilkan uap dan
tekanan yang diinginkan. Steam (uap dengan tekanan tinggi) akan dikirim
menuju STG untuk membangkitkan listrik. Steam bekas akan dikirim menuju
Process House untuk membantu proses pembuatan gula. Bahan bakar yang
digunakan oleh boiler adalah biomassa terutama bagasse (ampas tebu kering)
ynag memiliki kadar kekeringan minimum 50%.
Boiler pada PT. Industri Gula Glenmore memiliki kapasitas 2 x 1000 ton
dengan merek John Thompson. Tekanan boiler adalah 47 bar dengan suhu
mencapai 450oC. boiler ini akan mensuplai STG berkapasitas 2 x 10 MW
(Mega Watt) dengan merek Shinko / Nishisiba dengan menggunakan tipe
back pressure turbine.

20
b. Stasiun Water Treatment Plant (WTP)
Proses pembuatan gula membutuhkan air untuk pembuatan steam. Air
yang digunakan adalah air bersih yang telah tersterilisasi di WTP. Proses ynag
berjalan pada WTP adalah air sungai yang dipompa dan ditampung pada
tangki. Air yang akan ditreatment diberi bahan kimia yang berfungsi untuk
menghilangkan kadar mineral yang terkandung didalam air serta mengatur ph
sesuai dengan kadar ynag diperlukan. Jik aspesifikasi air sudah sesuai dengan
operasional boiler maka air akna dikirim menuju BWF.
c. Stasiun Waste Water Treatment Plant (WWTP)
Proses pembuatan gula akan menghasilkan berbagai macam limbah, salah
satunya adalah limbah cair. PT. Industri Gula Glenmore memiliki stasiun
tersendiri untuk mengelolah limbah cair tersebut, yaitu stasiun Waste Water
Treatment Plant (WWTP). Limbah cair akan ditampung pada tangki
penampungan (Water Pond) dengan diberi bakteri yang berfungsi untuk
mengurai limbah cair dengan cara memakan limbah yang terkandung dalam
air. Proses ini akan mendiamkan limbah selama beberapa hari kemudian akan
dilakukan pengecekan BOD dan COD. Jika sudah sesuai standar maka air
akan dikirim kembali ke stasiun proses untuk dijadikan air injeksi pada proses
pembuatan gula, sebagian air juga dibuang ke sungai.
3. Pemasaran dan Keluaran Produk
PT. Industri Gula Glenmore menghasilkan beberapa jenis produk yang akan
dijual ke pasaran melalui sistem perlelengan dengan batas minimum dan
maksium penawaran yang telah ditentukan. Beberapa produk tersebut adalah:
a. Gula
Gula yang dihasilkan PT. Industri Gula Glenmore merupakan gula
dengan jenis premium atau GKP (Gula Kristal Putih) dengan kadar insulin
55%. Gula yang dihasilkan tersebut akan dijual dengan sistem cash
maupun sistem bagi hasil. Sistem cash merupakan salah satu cara transaksi
yang digunakan dalam SPT (Sistem Pembelian Tebu) dengan cara tebu
dibeli dengan harga Rp. 50.000 – Rp. 65.000 per kilogram. Rentang harga
tersebut bergantung pada jarak yang akan ditempuh oleh truk pengangkut
tebu dari kebun sampai PT. Industri Gula Glenmore gula. Kesepakatan

21
harga antara pihak PT. Industri Gula Glenmore dengan petani didapatkan
dengan cara tawar menawar dan persaingan lelang dengan pabrik gula lain
yang akan mengambil hasil kebun tersebut. Hasil gula yang didapatkan
dari proses produksi seluruhnya menjadi milik PT.Industri Gula Glenmore
apabila menggunakan sistem cash ini.
Sistem bagi hasil adalah cara lain yang digunakan PT. Industri Gula
Glenmore dalam melakukan SPT. Sistem ini memiliki tiga ketentuan dan
presentase bagi hasil antara petani dan PT. Industri Gula Glenmore yang
dipengaruhi oleh nilai rendemen tebu. Sistem ini menggunakan bagi hasil
dengan nilai sebagai berikut:
Tabel 2.2 Presentase Sistem Bagi Hasil
Rentang Nilai Presentase yang Presentase yag Didapat
Rendemen Didapat Petani PT. IGG
0–6 66% 34%
6–8 70% 30%
8< 75% 25%
b. Blotong
Blotong merupakan salah satu sisa-sisa produksi dari proses
pengolahan tetes menjadi bibit gula. Blotong didapatkan sebagai kotoran
yang tercampur dalam tetes karena selama proses penggilingan, tebu tidak
selalu dalam kondisi yang bersih sehingga akan didapatkan kotoran berupa
tanah, endapan halus, serat-serat tebu dan ampas selain itu blotong juga
didapatkan sebagai olahan air nira yang tidak dapat diproses menjadi gula
dan berasal dari proses pemisahan air nira dengan kotorannya. Blotong ini
tidak dapat lagi diproses untuk diambil kandungan gulanya namun blotong
ini sangat bermanfaat sebagai bahan organik campuran pupuk alami.
Proses pembuatan pupuk yang juga menjadi salah satu rangkaian produksi
di PT. Industri Gula Glenmore dan menjadi salah satu komoditas
perusahaan. Komoditas pupuk ini masih belum dapat dipasarkan ke pasar
umum karena belum adanya merek dagang pupuk dan ijin yang diberikan
dari pihak pemerintah.

22
c. Abu Ketel dan Pasir
Abu ketel dan pasir merupakan salah satu sampah yang bersifat organik
dihasilkan dari proses pembakaran ketel uap di boiler. Abu ketel dan pasir
ini berasal dari ampas tebu dari proses penggilingan atau yang sering
disebut sebagai bagasse dan kayu-kayu kering yang dibakar sebagai
pemanas boiler. Abu hasil pembakaran akan disaring agar tidak terbuang
ke udara luar dan kemudian diendapakan dalam air. Endapan dari abu ketel
dan pasir ini akan dicampur dengan blotong untuk diproses menjadi pupuk
organik. Pemasaran pupuk ini masih terbatas pada penggunaan pupuk
untuk kebutuhan kebun PTPN IX dan masyarakat sekitar.
d. Tetes
Tetes adalah hasil olahan air nira dengan kelas hasil olahan yang paling
rendah. Tetes memiliki kadar bibit gula yang rendah sehingga kurang
menguntungkan apabila diproses kembali untuk diammbil bibit gulanya.
Sehingga tetes akan dijual sebagai hasil keluaran secara tersendiri. Tetes
memiliki fungsi yang berbeda karena tidak lagi diambil bibit gulanya,
namun tetes dapat diproses sebagai bahan pembuatan ethanol, penyedap
rasa, pupuk dan berbagai keperluan lain.
e. Gula Sisan
Gula sisan adalah salah satu hasil keluaran produk yang hanya bisa
didapatkan pada saat musim off-giling. Musim off-giling ini dimanfaatkan
oleh perusahaan sebagai waktu pembersihan dan perawatan ala-alat
produksi. Proses pembersihan alat produsi terutama pada stasiun proses,
sering didapatkan bibit-bibit gula yang menggumpal dan mengerak di sela-
sela atau yang menempel di dinding tabung-tabung dan alat-alat pembuat
bibit gula. Gula-gula ini disebut gula sisan dan dapat diambil untuk dijual
kembali dengan harga yang murah.
2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu hal yang
mutlak dan sifatnya wajib ada disuatu perusahaan. PT. Industri Gula Glenmore
memiliki beberapa ketentuan dalam pelaksanaan Prosedur Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang dinaungi oleh departemen HSE IGG (Health Safety and

23
Environment Industri Gula Glenmore). Ketentuan-ketentuan ini disampaikan
kepada seluruh karyawan maupun pengunjung dari luar pabrik dengan maksud
studi atau pekerjaan yang telah ditentukan dan dilakukan konfirmasi kepada
perusahaan. Ketentuan-ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja
yang ada diperusahaan disamapaikan melalui Safety Induction. Safety
induction yang dasar adalah safety induction yang diperuntukkan untuk visitor
atau tamu yaitu wajibnya penggunaan APD atau alat pelindung diri berupa
helm safety di sekitar areal pabrik. Pihak HSE juga memberikan informasi
mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan
darurat dan prosedur evakuasinya.
Prosedur yang lain adalah Safety Induction yan diperuntukkan kepada
karyawan, salah satunya adalah penggunaan baju kerja dan sepatu safety selain
itu juga ada beberapa peralatan khusus pada pekerjaan tertentu seperti body
harness yang digunakan untuk pekerjaan ketinggian kemudian appron,
kacamata las dan penutup wajah untuk digunakan pada pekerjaan pengelasan,
sarung tangan dengan bahan tertentu yang digunakan pada pekerjaan tertentu.
Pengenalan terhadap alat yang digunakan pada kondisi darurat juga turut
dikenalkan kepada karyawan seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan
Hydrant yang digunakan pada saat kondisi darurat api atau kebakaran.
Karyawan juga dituntut untuk mengerti bagaimana penggunakan sirine darurat
agar bisa mengoperasikannya apabila terjadi kondisi darurat seperti bencana
alam, kebakaran dll. Jalur evakuasi yang diberi tanda dengan jelas juga harus
dapat dipahami oleh setiap karyawan. Hal-hal diatas masih dalam tahap
sosialisasi secara bertahap mengingat masih belum lama departemen HSE ini
berdiri dan segala hal berkaitan K3 masih dalam tahap sosialisasi dan
pengembangan.
Program departemen HSE dalam upaya meningkatkan kualitas K3 terus
dikembangkan sebagai cara untuk menekan angka kecelakaan kerja ada
beberapa diantaranya adalah :
a. Safety Induction.
b. Pemaparan SOP (Standart Operational Procedure).
c. Pemaparan peraturan karyawan.

24
d. Pelatihan P3K (Pertolongan dan Perawatan Pertama pada Kecelakaan)
e. Pelatihan Damkar (Pemadam Kebakaran).
f. P2K3 ( Pelatihan Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
g. Pelatihan HIV-AIDS.
h. Pelatihan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif).
Program lain yang dilakukan oleh pihak HSE sebagai tindak monitoring
atau pemantauan terhadap kinerja dan kegiatan – kegiatan departemen dikemas
dalam bentuk laporan tiap pekan atau weekly report. Laporan ini berfungsi
sebagai lembar pemantauan dan bentuk tertulis atas kegiatan dan rekapitulasi
K3 dalam satu pekan. Lembar lain yang dapat digunakan sebagai bahan laporan
adalah JSA (Job Safety Analysis) yang diperuntukkan karyawan sebagai
langkah awal deteksi kemungkinan-kemungkinan bahaya yang dapat terjadi
pada suatu pekerjaan. Keberadaan JSA sangat membantu dalam upaya
menanggulangi potensi kecelakaan kerja untuk karyawan pabrik atau pekerjaan
yang dilakukan oleh orang luar selain karyawan perusahaan atas ijin yang
diberikan oleh perusahaan melalui work permit.
Peralatan tambahan yang bersifat pencegahan terhadap potensi bahaya dan
kecelakaan seperti adanya APAR, Hydrant, marka K3, kotak P3K dan daftar
stok APD oleh departemen HSE juga diperhatikan keberadaan dan
kelayakannya. Hal ini diselaraskan oleh departemen dengan diadakannya
pengecekan setiap periode tertentu guna menjaga kualitas dan kuantitas dari
peralatan tersebut. Pengecekan tidak hanya berlaku pada peralatan lama yang
telah terpasang namun juga dilakukan pada peralatan baru yang akan dipasang.

25
BAB III
KEGIATAN KHUSUS

Pada bab ini dibahas mengenai kegiatan yang dilakukan pada saat praktik
indutri khususnya untuk motor HDHS. Kegiatan khusus tersebut meliputi
penjelasan motor HDHS secara umum, konstruksi motor, perancangan motor
HDHS, sistem starting, perawatan dan perbaikan, dan sistem pengoperasian.
3.1 Motor Heavy Duty Hammer Shredder (HDHS) atau Cane Shredder
Motor Heavy Duty Hammer Shredder (HDHS) atau Cane Shredder
merupakan salah satu motor besar yang berada pada stasiun gilingan (Mill) di
PT. Industri Gula Glenmore. Shredder sendiri dalam bahasa Inggris berarti
pengoyak. Motor HDHS atau cane shredder ini adalah motor yang digunakan
untuk menggerus atau mencabik tebu agar pori-pori atau serat tebu dapat
terbuka (Soemohandojo, 2006). Tebu yang telah digerus tersebut akan
memudahkan dalam proses pemerahan, sehingga nira dapat dihasilkan dengan
maksimal. Motor HDHS terletak setelah Leveller 1 dan Leveller 2 serta
sebelum proses Mill 1 atau pemerahan. Cane Shredder sendiri merupakan
sebuah bejana besar berbentuk balok yang mana pada tengahnya terdapat baja
penggerus berbentuk silindris yang memiliki gerigi untuk menggerus tebu pada
dinding balok atau grid frame assembly.

Gambar 3.1 Bentuk Mesin Cane Shredder / HDHS

26
Tebu yang telah dicacah pada Leveller 1 dan kembali dicacah menjadi
ukuran yang lebih kecil pada Leveller 2 dibawa oleh main carier menuju ke
Cane Shredder. Tebu yang telah tiba di area Cane Shredder dijatuhkan pada
balok tempat penggerusan dan akan dicabik hingga serat tebu terbuka
maksimal. Tebu yang telah digerus kemudian menuju area mill untuk diperah
sari-sari tebu atau niranya.
Cane Shredder memiliki dinding atau frame berbentuk grid sebagai
permukaan jalan tebu ketika dilakukan penggerusan. Grid Frame tersebut
terbuat dari plat besi dengan bentuk bersirip dan memiliki ruang untuk tempat
tebu tergerus.

Gambar 3.2 Grid Frame Assembly pada Cane Shredder


Sumber : Allied Tek. Project Proposal
Palu yang digunakan untuk menggerus tebu bergerak memutar pada tengah
grid frame. Palu yang digunakan terbuat dari besi dengan kekuatan tinggi yang
telah dipanaskan agar mampu tahan dalam beban berat untuk menggerus tebu.

Gambar 3.3. Konstruksi Palu pada Cane Shredder


Sumber : Allied Tek. Project Proposal

27
Tabel 3.1 Spesifikasi Mekanik Cane Shredder
Cane Shredder Allied-Tek Model SD 1822-8
Desaign and Type 5-Grid Bars Design
8-row Swing Hammer
Diameter x Width mm 1.830 x 2.242
Nominal Speed 1/min 980
Number of Hammers 88 EA

Casing:
Cane Inlet, witdh x length mm 450 x 2.242
Inside walls protection against wear Replaceable Wear Plates
Material, high strength steel plate to EN 10025 grade S355JR
Grid Frame and Bars:
Inlet Top Part Replacable wear plate
Inlet Buttom Part Replaceable wear block
Grid Bar, Width x Length x Thickness mm 180 x 600 x 25
Material, high strength steel plate to EN 10025 S355JR
Rotor:
Shaft Material, forged steel to EN 10250-2 28Mn6 + QT
Shaft diameter, mm 400
Material for Discs and Spacers, S355JR
High strength steel plate to EN 10025
Hammer eye diameter, mm 76,20
Hammer bal material, stainless steel to AISI 410
Hammer material, high strength steel to EN10025 S355JR
Hammer supply, Allied-Tek
Drive:
Motor, AC Slip Ring motor 6-P; 3,3kV, 50 Hz, kW 2.500
Coupling, Gear Type, Siemens/Flender Zapex ZWN465
Bearing, Spherical Roller, 23160
Internal Radial Clearance class – C3
Bearing Lubrication Oil Circulation bu gravitu
flow with head tank and
pump
Sumber: Allied-Tek Project Proposal

28
Gambar 3.4 Bentuk Palu pada Cane Shredder
Motor HDHS termasuk dalam motor induksi tiga fasa. Motor induksi atau
disebut dengan motor asinkron, pada prinsipnya adalah jenis motor listrik AC
yang bekerja berdasarkan induksi pada medan magnet yang berada di antara
rotor dan stator.
Dikatakan sebagai motor induksi karena motor baru bisa bekerja bila
konduktor rotor terinduksi oleh medan putar magnet pada stator. Dikatakan
motor asinkron karena motor ini bekerja berdasarkan adanya perbedaan antara
putaran medan stator (Ns) dan putaran rotor (Nr). Motor dikatakan mengalami
slip karena pada motor asinkron 3 phase Ns > Nr, slip sendiri adalah besarnya
perbedaan antara Ns dan Nr. Motor induksi / motor asinkron 3 phase di-supply
dengan tegangan 3 fase ( R, S, T).
Konstruksi motor asinkron 3 fasa terdiri atas dua bagian yaitu bagian rotor
dan bagian stator.

Gambar 3.5 Kontruksi Motor Asinkron


Stator adalah bagian dari mesin yang tidak berputar dan biasanya terletak
mengelilingi rotor. Stator bisa berupa gulungan kawat tembaga yang
berinteraksi dengan jangkar dan membentuk medan magnet untuk mengatur
perputaran rotor. Stator inilah yang dihubungkan langsung ke sumber tegangan
3 fasa.

29
Rotor adalah bagian dari motor listrik yang berputar pada sumbu rotor.
Bagian ini terdiri dari inti rotor, kumparan rotor dan alur rotor. Perputaran rotor
di sebabkan karena adanya medan magnet dan lilitan kawat email pada rotor.
Sedangkan torsi dari perputaran rotor di tentukan oleh banyaknya lilitan kawat
dan juga diameternya.
Motor asinkron 3 phase biasa juga disebut dengan motor induksi 3 phase,
berfungsi mengubah energi listrik 3 phase menjadi sebuah energi mekanik. Ada
beberapa prinsip kerja motor asinkron antara lain:
1. Apabila sumber tegangan tiga fase dipasang pada kumparan stator,
maka akan timbul medan putar dengan kecepatan ns = 120 f/p.
2. Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada
rotor, akibatnya pada kumparan rotor timbul tegangan induksi (GGL).
3. Karena kumparan rotor merupakan rangkaian yang tertutup, maka ggl
(E) akan menghasilkan arus (I).
4. Adanya arus (I) di dalam medan magnet menimbulkan gaya (F) pada
rotor.
5. Bila torsi mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor yang cukup
besar untuk mengikuti torsi beban, maka rotor akan berputar searah
dengan medan putar stator.
6. Seperti dijelaskan pada no. 2 bahwa tegangan induksi timbul karena
terpotongnya batang konduktor rotor oleh medan putar stator.
Maksudnya agar tegangan terinduksi diperlukan adanya perbedaan
relatif antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan
berputar rotor (nr).
7. Perbedaan kecepatan antara ns dan nr disebut dengan slip (S). Dapat
dinyatakan dengan persamaan:
(𝑛𝑠 − 𝑛𝑟)
𝑆= × 100%
𝑛𝑠
8. Bila nr = ns, maka tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak
mengalir pada kumparan jangkar rotor. Dengan demikian tidak
dihasilkan torsi. Torsi motor akan ditimbulkan apabila nr lebih kecil dari
ns.

30
9. Dilihat dari cara kerjanya, motor asinkron disebut juga dengan motor
induksi. Mengenai prinsip rotor bisa berputar karena adanya induksi dari
stator diperjelas melalui skema berikut:

Gambar 3.6 Skema Kerja Motor Induksi


Pada gambar 3.6 dapat dijelaskan bahwa ketika waktu t1, kabel dari R
bernilai negatif begitu juga R’ merupakan kebalikannya yaitu bernilai positif.
Begitu juga dengan kabel S dan T. (lihat gambar) (nilai positif dan negatif
dilihat dari grafik sinus cosinus kabel R S T). Ketika waktu t2, kabel R bernilai
negatif dan seterusnya (lihat gambar). Ketika waktu t3, kabel R bernilai negatif
dan seterusnya (lihat gambar). Kita bisa lihat dari t1 hingga t3 medan kutub
berputar kearah kanan (searah jarum jam).
Motor HDHS berfungsi sebagai penggerak Cane Shredder. Motor HDHS
mendapat suplai tegangan dari generator melalui sistem Soft Starting dengan
menggunakan inverter yang akan dilakukan sinkronisasi frekuensi dari inverter
motor dan output generator. Frekuensi kerja motor HDHS harus sama dengan
frekuensi dari generator yaitu sebesar 50 – 50,1 Hz, untuk kemudian kontaktor
by-pass dapat aktif. Setelah kontaktor by-pass aktif, motor HDHS dapat
berputar konstan pada putaran penuhnya dan siap digunakan untuk menggerus
tebu.

31
3.2 Perancangan Motor pada Stasiun Gilingan/ Mill (Motor HDHS)
1. Spesifikasi motor
Nama : Heavy Duty Hammer Shredder/ Cane Shredder
Merk Motor : SIEMENS
Type : 3~MOT.1LA4 636-6CN90-Z
No : N-F1230723010001/2015
Model : ALLIED-TEK SO 1822
Tegangan Kerja : 3300 V
Frekuensi : 50 Hz
Arus Maks : 500 A
Daya : 2500 kW
Cosφ : 0,90
Kecepatan : 996 Rpm
IP : 55

Gambar 3.7 Nameplate Motor HDHS


Motor HDHS mendapat suplai tegangan dari generator dengan daya
10.000 kW/12.500 kVA dan tegangan 6,3 kV yang kemudian dengan
transformator diturunkan menjadi 3,3 kV. Motor HDHS ini terletak pada
feeder atau busbar pada area mill dan setara dengan motor-motor di area
gilingan atau mill lainnya.

32
Gambar 3.8 Single Line Diagram Sumber Motor HDHS
2. Pemilihan penghantar dan breaker
Kemampuan penghantar dan pengaman pada motor HDHS penting
diketahui dalam perencanaan atau perancangan pemasangan motor sesuai
dengan beban maksimum yang akan dialami oleh motor HDHS. Kesalahan
dalam penentuan penghantar dan pengaman dapat berakibat pada
kegagalan isolasi sehingga dapat mengakibatkan munculnya kebakaran
dari bunga api maupun kerusakan lainnya. Faktor yang harus diperhatikan
dalam memilih penghantar adalah:
a. Ukuran penampang penghantar (A)
Ukuran yang dipilih untuk melayani suatu instalasi motor listrik
minimal penghantar tersebut harus mampu dialiri oleh arus sebesar
125% dari arus kerja pada beban penuh suatu motor tersebut.
Sedangkan untuk penampang penghantar pencabangan atau pengisi
ukuran penampangnya harus mampu dialiri arus sebesar 125% arus
beban penuh dari motor tersebut ditambah arus beban penuh motor-
motor lainnya.
b. Ukuran panjang penghantar
Ukuran panjang penghantar yang dipilih harus disesuaikan dengan
kemampuan hantar arus dan tegangan yang akan mengalir pada
penghantar. Mengingat rugi tegangan yang diizinkan untuk instalasi
tenaga listrik hanya sebesar 5%, maka panjang kabel atau penghantar

33
harus disesuaikan agar tidak lebih dari rugi tegangan yang telah
ditetapkan.
c. Kapasitas arus beban
Nilai kapasitas atau besarnya arus beban memperngaruhi jenis
penghantar yang akan digunakan, agar ketika motor telah diberi beban
secara maksimal, penghantar atau kabel tetap mampu menyalurkan arus
listrik.
Besarnya kemampuan sebuah penghantar untuk menghantarkan arus
maksimal dapat dihitung dengan persamaan:
𝐾𝐻𝐴 = 125% × 𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑚𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑚𝑜𝑡𝑜𝑟
𝐾𝐻𝐴 (𝐻𝐷𝐻𝑆) = 125% × 500 𝐴 = 625 𝐴 (𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑚𝑎𝑘𝑠. )
Berikut adalah data penghantar yang digunakan pada motor HDHS:
Tagname : 201-ME-013
Quantity : 1 pcs
I : 547 A
V : 3300 V
P : 2500 Watt
Type : NA2XSY 2 x 3c x 300mm2; 7,2 kV
Tarikan : 2/fasa, dengan total 6 tarikan
Panjang : 150 m/ tarikan, dengan total 900 m
Tabel 3.2 Spesifikasi Kabel NA2XSY
Luas Resistansi di KHA Special Features Konstruksi Kabel
Penampang 90o C (A) (dalam – luar)
(mm2) (Ω/km)
25 1,539 120 Oil Resistance Aluminuim
35 1,113 147 UV Resistance Conductor
50 0.822 176 Flame Retardant Conductor Screen
70 0,568 222 Cat A, B, C XLPE Insulation
95 0,411 271 Flame Retardant Copper Tape
120 0,325 313 Non Category Screen
150 0,265 355 Anti Ternite Non-hygroscopic
185 0,211 412 Anti Rodent Tape
240 0,162 489 Low Smoke PVC Sheath
300 0,130 563 Zero halogen
400 0,102 665 Nylon Coated
500 0,081 774
630 0,064 914
Sumber: Datasheet NA2XSY KMI

34
Sistem proteksi yang digunakan pada motor HDHS meliputi
beberapa perangkat, antara lain:
a. Mains Under Voltage dengan batas tegangan 80% dari tegangan
nominal panel Drive Start atau rangkaian kerja. Proteksi untuk
tegangan dibawah tegangan nominal ini menggunakan Under
Voltage Relay (UVR) dengan delay sebesar 0,2 hingga 10 detik.
b. Mains Over Voltage dengan batas tegangan sebesar 115% dari
tegangan nominal panel Drive Start atau rankaian kerja. Proteksi
untuk tegangan lebih ini menggunakan Over Voltage Relay (OVR)
dengan range kerja 0,2 – 10 detik.
c. Proteksi untuk tegangan kurang dan tegangan lebih pada motor
yang menggunakan Under Voltage Relay (UVR) dan Over Voltage
Relay (OVR) dengan delay antara 1 – 60 detik. Batas tegangan
untuk UVR adalah 50% dan untuk OVR sebesar 180% dari
tegangan nominal motor.
d. Proteksi untuk arus yang tidak seimbang atau tidak stabil dengan
batas 15% pada masing-masing fasa menggunakan proteksi
Unbalance Current dengan range 1 – 60 detik kerja.
e. Proteksi untuk beban lebih dan hubung singkat dengan Vacum
Circuit Breaker (VCB).
f. Proteksi untuk kerusakan pembumian atau isolasi dengan Ground
Fault Level yang dikontrol dengan Ground Fault Relay.
g. Proteksi untuk kekurangan daya dan kekurangan faktor data.

35
Gambar 3.9 Display Pengaman pada Panel Cane Shredder
3. Sistem Starting
Motor HDHS menggunakan sistem starting yang berbeda dengan
motor-motor lain pada PT. Industri Gula Glenmore. Sistem starting yang
digunakan adalah soft starting dengan inverter yang disebut Drive Start.
Sistem starting ini digunakan karena arus nominal dari motor HDHS
mencapai 500 A, dimana ketika menggunakan sistem starting Direct On
Line (DOL) motor akan mengalami lonjakan arus starting yang cukup
besar, mencapai tujuh kali arus nominal atau lebih. Hal tersebut dapat
membebani kapasitas sumber listrik dari STG dan pada busbar atau
switchgear. Lonjakan arus starting tersebut juga dapat menyebabkan
kerusakan pada bagian mekanik motor seperti gear, bearing dll. Sehingga
motor HDHS tidak bisa tersambung langsung dengan beban menggunakan
sistem DOL.
Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mereduksi
lonjakan arus starting pada motor induksi tiga fasa, yaitu:
a. Rangkaian Star-Delta.
b. Reactor dan Autotransformers.
c. Electronic Soft Starter.
Rangkaian Star-Delta membutuhkan tiga buah kontaktor yang mana
apabila diaplikasikan pada motor HDHS akan memerlukan jenis kontaktor

36
dengan kapasitas arus yang besar, seingga kurang efisien. Dan arus
lonjakan starting untuk rangkaian star-delta masih cukup besar untuk arus
nominal pada motor HDHS. Begitupula dengan rangkaian
Autotransformers. Sehingga, motor HDHS menggunakan model starting
Soft Starter dengan inverter. Model starting ini diawali dengan frekuensi
dan tegangan yang rendah untuk kemudian ditambah perlahan hingga
mencapai nominal yang diharapkan, agar dapat menjalankan motor dengan
lonjakan arus yang lebih kecil dari arus nominal. Model starting yang
digunakan pada motor HDHS ini menggunakan panel dengan merek
Solcon.
Keuntungan dari metode staring Drive Start dari Solcon ini antara
lain:
a. Mampu mereduksi lonjakan arus start motor secara signifikan.
b. Mengurangi arus motor yang tidak diberi beban atau beban nol
hingga 10% dari arus nominal.
c. Mampu mengurangi arus motor pada saat diberi beban hingga lebih
rendah dari arus nominal.
d. Mampu menghilangkan drop tegangan.
e. Mampu menghaluskan penambahan beban secara berkala, dan
mengurangi dampak kerusakan dari tingginya kapasitas beban
motor.
f. Mampu memperpanjang usia dari komponen mekanik motor, seperi
mengurangi dampak kerusakan pada gearbox.
g. Memperpajang usia motor secara elektrik.
h. Mampu mengurangi atau mempermudah perawatan dan biaya
operasi dari motor.
Metode Drive Start menggunakan variabel frekuensi dan variabel
tegangan untuk mengurangi lonjakan arus dan lonjakan tegangan starting
dari motor pada tegangan menengah. Drive Start mampu digunakan pada
motor-motor dengan tegangan 2,3 kV; 3,3 kV; 4,16 kV; dan 6,6 kV.
Metode Drive Start ini telah memenuhi standar perancangan dan
pembangunan dari IEC, EN, DIN VDE, NEMA, UL/CUL dan IEEE.

37
Gambar 3.10 Panel Drive Start
Metode starting dengan Drive Start ini berdasarkan pada perputaran
amplitudo konstan dari medan magnet saat kecepatannya bertambah
secara bertahap. Hal tersebut dicapai dengan menggunakan metode V/f
control scalar, yaitu penambahan amplitudo dan frekuensi dari tegangan
motor dimulai dengan nilai yang rendah (beberapa % dari nilai nominal)
hingga mencapai nominal yang tertera pada nameplate.
Komponen aktif utama yang dipakai pada metode Drive Start ini
adalah Insulated Gate Bipolar Transistors (IGBTs). Transistor ini adalah
semikonduktor yang mampu melakukan switching dengan cepat pada
kondisi arus yang besar hingga 1.200 A dan tegangan hingga 6.500 V.
sehingga cocok digunakan pada motor HDHS yang memiliki nominal arus
sebesar 500 A dan tegangan 3.300 V.
Komponen utama lain dari Drive Start adalah:
a. Rectifying Bridge.
b. Medium Voltage DC Bus, yang mencakup dua buah kapasitor
tegangan tinggi untuk menciptakan Three-Lecel Inverter.
c. Inverter dengan tipe Medium Voltage, Voltage Source, Three Level,
Neutral Point Clamped (NPC).

38
d. Inverter Cabinet yang terdiri atas: Line, Output, Bypass, R-Jumper
(R untuk kapasitor yang belum di charge).
e. Mekanisme Sinkronisasi:
- Closed Transition Type
- Dari keluaran Inverter ke output utama dengan kontaktor
bypass pada proses starting.
- Dari output bypass kembali ke inverter untuk proses stoping.
f. Pengaman atau breaker.
g. Inverter dengan IGBTs, dioda Flywheel (berada pada modul IGBTs)
dan dioda NPC.

Gambar 3.11 Single Line Diaram Starting Cane Shredder


Metode starting dengan Drive Start ini terdiri dari beberapa modul
diantaranya:
a. Sumber atau Power Section yang terdiri dari semacam 3 tingkat fasa
mencakup:
- Rectifier Bridge 6 or 12 Pulse
- Low inductance laminated bus bar (busbar dengan laminasi
induktansi yang rendah)

39
- Modul IGBTs
- Modul dioda Natural Point Clamp (NPC)
- Individual Gate Drive Card untuk masing-masing IGBT
- Isolated Power Supply Card untuk masing-masing Gate Drive
- Main Phase Power Supply
- Sensor Temperature Heat Sink dan Interface Circuit
- Sensor arus yang diletakkan diluar motor
- Pendeteksi arus Bypass
- Measurement Interface Card
- Connection yang mencakup kabel copper dan fiber optik
b. Modul kontrol, merupakan otak pengendali dari Drive Start yang
terdiri dari:
- Main DSP CPU.
- IGBT commands and feedback via the fiber optic interface.
- Rangkaian alat ukur analog untuk mengukur tegangan utama,
tegangan DC dari kapasitor, serta tegangan dan arus motor.
- Fast voltage and current protection circuits.
- Electronic Potential Transformer Receiver (EPT-Rx)
- 24 DC dicrete inputs.
- Relays
- Analog input.
- Analog output.
- Resistor Temperature Device (RTD)
- Heat sink
- Kabel Fiber Optic
- Lebih dari 60 LED (untuk dicrete input, discrete output, IGBT
control and feedback, communication, power supplies, dll)
c. Power supply ekstenal dan transformer
d. Transmitter dan receiver yang tediri dari EPT-Tx dan EPT-Rx

40
Gambar 3.12 Skema Starting Drive Start
3.3 Perawatan dan Perbaikan Motor HDHS
Motor HDHS memerlukan maintenance yang baik dalam masa luar giling
sesudah masa giling agar ketika masa giling selanjutnya motor tidak
mengalami kerusakan yang akan menghambat proses produksi. Menurut
Assauri (1999), maintenance merupakan kegiatan memelihara atau menjaga
fasilitas atau peralatan pabrik dengan mengadakan perbaikan atau
penyesuaian/penggantian yang diperlukan supaya terdapat suatu keadaan
operasional produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Gambar 3.13 Motor HDHS


Maintenance terhadap mesin yang digunakan dalam PT. Industri Gula
Glenmore dalam proses produksi dapat dilakukan dengen berbagai tahap
perawatan perbaikan. Perawatan dan perbaikan yang dilakukan pada motor
HDHS mencakup berbagai jenis, yaitu perawatan perbaikan secara preventif,
korektif dan prediktif.

41
1. Jenis perawatan dan perbaikan
a. Preventif
Menurut Ebeling (1997), preventive maintenance adalah
pemeliharaan yang dilakukan secara terjadwal. Umumnya dilakukan
secara periodik, dengan sejumlah kegiatan seperti inspeksi dan
perbaikan apabila terdapat kerusakan, penggantian, pembersihan,
pelumasan, peyesuaian dan penyamaan. Dengan adanya penjadwalan
rutin maintenance mesin, maka availability komponen mesin dapat
diestimasikan. Ketika mengetahui hal tersebut, maka proses produksi
dapat diestimasikan sesuai dengan availability mesin.
Perawatan preventif pada motor HDHS dilakukan selama masa luar
giling yang meliputi pembersihan dari sisa-sisa tebu maupun kotoran
yang ada, kemudian dilakukan merger test, solo run test, alignment test
dan running test. Semua jenis tes yang dilakukan bertujuan untuk
mengecek kondisi motor dan mencegah terjadinya masalah atau
kerusakan yang terjadi pada saat masa giling selanjutnya.
b. Korektif
Korektif merupakan perawatan yang dilakukan dengan cara
memperbaiki dari peralatan (mengganti, menyetel) untuk memenuhi
kondisi standar dari peralatan tersebut. Perawatan korektif adalah jenis
perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan
kondisi fasilitas/peralatan sehingga mendapat standar yang diterima.
Dalam perbaikan dapat dilakukan perubahan/modifikasi rancangan
agar peralatan lebih baik (Angky, 2017). Perawatan korektif ini
dilakukan setelah melakukan perawatan preventif, yaitu apabila
terdapat kerusakan atau permasalahan tidak sesuai standar dari
pengecekan yang telah dilakukan pada perawatan sebelumnya.
c. Prediktif
Perawatan prediktif merupakan perawatan yang dilakukan dalam
jangka waktu tertentu sesuai jadwal dengan antisipasi kapan perangkat
maupun komponen pada motor layak dirawat atau diperbaiki.
Perawatan prediktif dilakukan untuk mengetahui terjadinya perubahan

42
atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem peralatan
yang mana dalam hal ini adalah motor HDHS. Perawatan prediktif
biasanya dilakukan dengan bantuan panca indera atau alat monitor yang
canggih maupun instrument ukur.
Motor HDHS dilakukan perawatan prediktif salah satunya adalah
dengan pengecekan getaran motor menggunakan alat vibrating test
untuk mengetahui besar getaran maupun perubahan posisi dari mesin
mulai dari ujung kipas motor, bearing hingga kopling penghubung alat
penggerus. Vibrating test pada motor HDHS dilakukan pada saat
general steam test sebelum masa giling selanjutnya setelah pengetesan
dan perawatan lain, yaitu ketika Steam Turbine Generator beroperasi
untuk pengetesan dan motor-motor besar dioperasikan dengan running
test. Apabila didapat hasil vibrating test dan diagnosa alat bahwa
getaran dari motor melebihi standar yang diharapkan, maka akan
dilakukan perbaikan secara korektif hingga breakdown atau overhaul.
2. Proses Perawatan dan Perbaikan
a. Merger test
Merger test adalah salah satu proses perawatan dan perbaikan motor
HDHS dalam tahap perawatan preventif yang dilakukan diluar masa
giling atau pada saat maintenance. Merger test merupakan pengetesan
tahanan isolasi dari motor HDHS menggunakan instrumen ukur
megger. Megger adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur atau
menguji tahanan isolasi suatu kabel atau penghantar, yang mana pada
motor HDHS adalah tahanan isolasi kumparan pada masing-masing
belitan motor. Secara prinsip, megger terdiri dari dua buah probe yang
mengalirkan tegangan yang akan diukur untuk kemudian dibaca nilai
tahanannya.
Merger test dilakukan dengan mengukur nilai tahanan pada masing-
masing fasa dan fasa ke ground/netral. Nilai yang diharapkan dari
pengukuran ini sesuai dengan berapa nominal tegangan yang dihasilkan
oleh megger dan disesuaikan dengan range serta tegangan pada motor.
Hasil pengukuran yang diharapkan menunjukkan over limit atau OL,

43
yang berarti nilai tahanan isolasi dari kumparan belitan motor tersebut
telah mampu mencukupi nominal tegangan untuk menghindari
kerusakan maupun gagguan arus bocor. Range tegangan dan nilai
tahanan yang diharapkan sesuai IEEE No. 43 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Standar Tahanan Isolasi
Jenis Perangkat Tegangan Kerja (V) Nilai Hambatan Ideal (Ω)
0,4 k 5M
Motor
11 k 100 M
0,4 k 50 M
Generator
6k 1G
0,4 k 100 M
Transformator
6,6 k 200 M
Tes yang dilakukan selanjutnya adalah mengukur nilai DAR
(Dielectric Absorpsion Ratio) menggunakan instrumen megger. Nilai
DAR tersebut diperoleh dengan menghubungkan probe merah ke fasa
dan probe hitam ke ground, kemudian ditunggu hingga satu menit. Nilai
yang diharapkan adalah konstan atau tidak kurang dari 1. Hal tersebut
menunjukkan kontinuitas tahanan penghantar yang tidak berubah
dalam jangka waktu tersebut, yaitu 15 detik pertama pengukuran
disbanding dengan 1 menit pertama pengukuran. Minimum tahanan
isolasi yang diterapkan di PT. Industri Gula Glenmore untuk semua
jenis motor yang dipasang sesuai dengan persamaan dibawah ini:
𝑡𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
min 𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑖𝑠𝑜𝑙𝑎𝑠𝑖 = +1
1000
Setelah dilakukan merger test dan memperoleh nilai yang
dihatapkan maka dapat dikatakan bahwa motor tersebut layak untuk
dioperasikan. Apabila terdapat ketidaksesuaian nilai tahanan isolasi
yang diharapkan dengan range tegangan kerja motor, maka perlu
dilakukan pengecekan kumparan hingga dilakukan rewinding atau
penggulungan ulang untuk memperolah tahanan isolasi yang sesuai.
b. Solo Run Test
Solo run test merupakan tahapan preventif maintenance selanjutnya
setelah merger test. Motor HDHS yang telah diukur nilai tahanan isolasi
selanjutnya dioperasikan tanpa beban atau beban nol untuk diukur nilai
arus, arah putar, tegangan, dan suhu pada bearing motor depan dan

44
belakang. Pengecekan arus dan tagangan dapat dilakukan dengan
menggunakan instrumen ukur tang ampere atau clamp meter.
Sedangkan untuk mengukur nilai suhu digunakan alat ukur thermogun.
Solo run test digunakan untuk mengantisipasi mupun mengecek kondisi
motor, apakah nilai parameter yang terjadi telah sesuai dengan nilai
pada nameplate atau apakah terjadi perubahan nilai secara signifikan
yang diluar range toleransi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
terjadinya masalah atau kerusakan pada saat operasi atau musim giling
selanjutnya.
c. Alignment Test
Setelah melakukan sol run test, maka motor HDHS siap dipasang
pada beban. Pemasangan motor dengan beban menggunakan kopling
berjenis gendang. Kopling gendang merupakan sambungan atau
penghubung antara motor dengan alat penggerus menggunakan pipa
besi yang dikaitkan dengan baut. Sebelum proses penyambungan
kopling dengan motor maupun alat pengegerus dilakukan alignment
test.

Gambar 3.14 Kopling pada Motor HDHS


Alignment adalah proses mensimetriskan dua sumbu poros yang
bergerak dengan yang diam atau digerakkan dengan dua tumpuan yang
saling berkaiatan, dengan toleransi 0,03 - 0,05 mm.

Gambar 3.15 Kondisi Alignment antara Motor dan Alat yang Digerakkan

45
Kerugian dari misalignment antara lain:
1. Konsumsi energi (listrik, bahan bakar, stem dll) meningkat sekitar
5-0%.
2. Beban yang diderita mesin bertambah.
3. Kerusakan pada bearing, poros, seal, kopling dll.
4. Temperature tinggi pada casing, bearing, dan minyak lubrikasi.
5. Kebocoran pada seal.
6. Kopling menjadi panas dan cepat rusak.
7. Baut kopling mudah kendor.
8. Vibrasi tinggi kearah radial dan axial.
Alignment test pada motor HDHS dilakukan metode memutar satu
poros (Reverse Dial Indicator). Metode ini sangat popular dan mampu
memperoleh hasil yang cukup akurat, sehingga sumbu putaran dari
motor dan kopling untuk penghubung alat penggerus segaris satu
dengan yang lain, terutama saat dioperasikan dan diberi beban. Hal-hal
yang menyebabkan alignment berubah antara lain:
1. Faktor internal: tekanan/kecepatan cairan dalam motor maupun
pompa, perubahan suhu akibat panas mesin yang terjadi.
2. Faktor ekstenal: panas matahari, pipe strain, cable strain,
perubahan base plate/pondasi.
3. Gerakan motor yang bersifat axial, radial dan horizontal.
Nilai axial merupakan nilai perbedaan sudut kemiringan permukaan
atas dan bawah maupun kanan dan kiri antara motor dengan alat yang
digerakkan sebelum pemasangan kopling. Nilai radial merupakan nilai
selisih jarak permukaan samping kanan dan kiri maupun atas dan
bawah antara motor dengan alat yang digerakkan sebelum pemasangan
kopling. Alat yang digunakan sebagai alat ukur antara radial dan axial
di perusahaan ini adalah feeler gauge sebagai alat mengukur jarak atau
celah antara benda yang diukur dan dikombinasikan dengan penggaris
siku. Dua alat tersebut adalah alat pertama yang digunakan untuk
mengukur nilai radial dan axial dengan nilai toleransi yang cukup besar
namun dapat mempersingkat waktu pengukuran. Alat berikutnya yang

46
akan digunakan adalah dial indicator, alat yang memiliki ketelitian
hingga 0,01 milimeter ini digunakan untuk mengukur nilai axial dan
radial dengan nilai toleransi yang lebih kecil.

Gambar 3.16 Gambaran Pengaruh Misalignment


Hasil pembacaan pada nilai radial maupun axial harus mengikuti
ketentuan nilai toleransi yang ada pada lembar pengukuran. Titik yang
diukur berjumlah 4 titik untuk radial dan 4 titik untuk axial dan masing
masing berada diposisi yang berbeda dan biasanya diterjemahkan
dengan tanda huruf, angka atau symbol yang diletakkan secara
melingkar dengan jarak masing – masing titik 900.

Gambar 3.17 Pengukuran Nilai Axial dan Radial


Alignment motor HDHS pada periode luar masa giling tahun 2019
dilakukan pada tanggal 3 Mei 2019 dengan nilai radial pada titik atas
0,00 mm, titik kanan 0,05 mm, titik kiri 0,05 mm dan titik bawah 0,05
mm. Setelah melakukan alignment test maka motor siap dipasang pada
kopling untuk menghubungkan antara motor dengan alat yang

47
digerakkan, atau dalam hal ini motor HDHS dengan shaft alat
penggerus.
d. Running Test
Running test dilakukan setelah semua pengecakan maupun
maintenance telah dilakukan. Running test merupakan pengecekan
kondisi motor dalam kondisi telah dipasang pada attachment atau alat
yang akan digerakkan. Running test pada motor HDHS dilakukan
ketika motor telah terpasang kopling dan alat penggerus. Running test
dianggap normal ketika motor mencapai beban 30% dari besar nilai
arus nominal. Sehingga pada motor HDHS dianggap normal ketika
motor telah mencapai arus sebesar 150 A atau maksimal 250 A (50%
dari beban maksimal). Pengecekan yang dilakukan merupakan
pengetesan nilai arus, tegangan, dan suhu pada bearing. Nilai arus
diukur merupakan nilai arus antar fasa dan fasa ke ground. Kemudian
pengecekan over current dan sistem breaking. Nilai suhu diukur pada
motor, bearing maupun alat penggerus menggunakan thermogun. Suhu
pada bearing yang diharapkan maksimal 60oC agar performa bearing
dapat maksimal dan tahan lama.
3.4 Sistem pengoperasian motor HDHS
1. Sistem Kontrol
a. Digital Control System (DCS)
Sistem pengoperasian atau kontrol menggunakan DCS atau Digital
Control System ini merupakan mode remote dari pengoperasian motor
HDHS secara umum. Mode remote atau DCS ini merupakan mode
dimana pengontrolan maupun monitoring kerja dari cane shredder
dapat dilihat menggunakan PC pada ruang operator DCS. Ruang
operastor DCS pada PT. Industri Gula Glenmore terdapat pada stasiun
mill, stasiun proses dan stasiun boiler. Motor HDHS dapat dikontrol
melalui ruang kontrol operator DCS pada stasiun mill. Berikut adalah
tampilan DCS dari stasiun mill atau gilingan:

48
Gambar 3.18 Tampilan Digital Control System
b. Local Control System (LCS)
Sistem kontrol menggunakan Local Control System merupakan
mode pengoperasian secara manual menggunakan tombol pada daerah
sekitar motor. Mode manual ini dioperasikan oleh operator jaga pada
area cane shredder. LCS terdiri dari tombol start, stop dan emergency
namun tanpa terdapat monitoring kerja dari cane shredder.

Gambar 3.19 Local Control System

49
2. Pengoperasian motor HDHS
Prosedur starting motor Heavy Duty Hammer Shredder tersebut antara
lain:
a. Close VCB pada MV2 Switchgear No 3, ditandai dengan menyalanya
lampu hijau indikator “Ready”.

Gambar 3.20 Indikator VCB pada Panel HDHS


b. Pastikan lampu hijau indikator “Bypass Circuit Breaker Ready”
menyala.

Gambar 3.21 Indikator Bypass Circuit Breaker


c. Pastikan lampu merah indikator “Main Switch Close” menyala.
d. Pastikan bahwa pembebanan STG tidak melebihi 6 MW. Menghindari
kekurangan suplai pada STG, maka generator 1 dan 2 harus
disinkronisasi terlebih dahulu (paralel).
e. Stabilkan frekuensi sistem agar frekuensinya berada pada range 49,95-
50,05 Hz agar sinkronisasi soft starter motor dan sumber STG berjalan
lancar.
f. HDHS dapat di aktifkan.Saat menyalakan motor HDHS, pastikan
sumber kontrol 1 fasa 220 V di panel MDB No 3 dan No 4 telah masuk,
ditandai dengan indikator.
g. Jangan buka panel HDHS apabila motor berjalan, karena motor dan
panel terjadi interlock.

50
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari perancangan, perawatan dan perbaikan,
serta pengoperasian motor Heavy Duty Hammer Shredder pada PT. Industri
Gula Glenmore ini adalah:
1. Motor HDHS merupakan salah satu motor pada area gilingan atau mill
dengan kapasitas arus besar dan putaran per menit yang tinggi sekitar 996
rpm yang berfungsi sebagai penggerak dari Cane Shredder, yaitu alat
penggerus tebu.
2. Metode penyalaan yang digunakan pada motor HDHS adalah dengan sistem
starting menggunakan soft starting dengan inverter atau yang disebut Drive
Start. Metode Drive Start ini menggunakan inverter dan IGBTs untuk
mengubah tegangan dan frekuensi secara perlahan hingga nominal frekuensi
motor sama dengan frekuensi pada pembangkit STG.
3. Perawatan dan perbaikan yang dilakukan pada motor HDHS ini antara lain
adalah dengan perawatan preventif meliputi merger test, dan alignment test.
4. Perawatan prediktif yang dilakukan adalah melakukan solo run hingga
running test.
5. Perawatan korektif juga dilakukan pada motor HDHS yaitu ketika dalam
masa giling atau ketika motor beroperasi dan mengalami kerusakan.
6. Pengoperasian motor HDHS menggunakan dua macam kontrol yaitu
dengan Digital Control System dan Local Control Syetem. Pengoperasian
motor HDHS pada saat starting melalui panel Drive Start dengan beberapa
prosedur untuk menyamakan frekuensi motor dan frekuensi STG.
4.2 Saran
1. Terdapat beberapa saran dari pekerja maupun supervisor untuk mengganti
motor HDHS menjadi menggunakan turbin agar menghemat penggunaan
energi listrik serta menambah efektif dan efisiensi dalam pengoperasiannya.
2. Sebaiknya meminimalisir batu maupun kotoran yang berasal dari tebu agar
kondisi hammer maupun grid frame pada motor dapat bertahan lebih lama.

51
DAFTAR RUJUKAN

Allied-Tek. (2013). Project Proposal Cane Preparation and Milling Equipment.


Bangkok, Thailand.
Assauri, S. (1999). Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta.
Fakultas ekonomi. Universitas Indonesia
Ebeling, C.E. (1997). An Introduction to Reliability and Maintainability
Engineering. Singapura. The McGraw-Hill Company.
Puspawan, Angky. (2017). Corrective Maintenance Bearing on Rolling Machine.
Bengkulu. Fakultas Teknik. Universitas Bengkulu.
Soemohandojo, Toat. (2006). Pengantar Injiniring Pabrik Gula. Surabaya.
Penerbit Bintang
Solcon. (2015). Drive Start Medium Voltage IGBT Based Soft Starter.

52