Anda di halaman 1dari 2

Gausah Sok Peduli Pada Kakek Dan Nenek Yang Jualan

Kondisi sosial yang orang-orang pandang kurang layak atau memprihatinkan, saya
rasa itu hanya fenomena pergeseran cara pandang (mungkin watak juga) yang justru
melemah, bukan kondisinya.

Di media sosial, misalnya, sering kali saya temui di beranda Facebook atau
Instagram postingan yang berisi foto/video seorang nenek atau kakek tengah
menjajakan dagangannya, atau sedang istirahat di pinggir jalan sebagai drvier ojol,
ataupun pekerja jasa lainnya (jadi badut penghibur, misalnya). Lalu sang pembuat
postingan dengan rasa belas kasihan dan kemuliaannya yang tak terhitung itu,
membubuhi postingannya dengan caption persuasi agar teman medsosnya menolong
kakek/nenek itu, misalnya mengajak untuk membeli dagangannya. Tentu dalam
caption tersebut tak luput emoticon menangis atau sedih dengan maksud agar orang
tahu bahwa ia sunguh peduli pada kakek/nenek penjual yang dagangannya sepi itu.
Padahal dulu banyak juga nenek atau kakek yang masih bekerja, dan itu biasa. Itu
yang saya maksud fenomena pergeseran cara pandang dan watak yang melemah.
Kenyataannya, kita, dalam memandang atau menilai sesuatu, sering kali berdasarkan
perbandingan. Dan perbandingan yang digunakan acap kali dengan apa yang kita
rasakan. Penilaian subjektif, yang kemudian diaktualisasikan, terkadang membuat
kita menjadi jumawa. Apalagi yang diambil adalah sesuatu yang kita anggap lebih
unggul, mulia, aman, dan bahagia. Dengan demikian, tanpa sadar kita kerap
merendahkan sesuatu dengan mudahnya.

Saat saya masih anak-anak, cukup sering pedagang yang usianya tak jauh berbeda
dengan yang ada di postingan itu lewat di depan rumah saya. Misalnya pedagang
rumbah semanggen, getuk, krawu, gula lilit, sayuran atau yang menawarkan jasa
servis payung, termos, tutup panci, dan pekerjaan lainnya. Apalagi menilik ke zaman
ibu saya waktu kecil dulu, misalnya.

Saya melihat, kita (milenial) agaknya cukup lemah dalam memahami kehidupan dan
mungkin terlalu lebay. Nenek atau kakek tersebut hanya melakukan apa yang dapat
dilakukannya untuk bertahan hidup, tidak berbeda dengan ibu-ibu atau bapak-bapak
yang bekerja dalam usia relatif muda, yang juga bekerja untuk menyambung hidup.
Karena referensi jenis pekerjaan atau cara bekerja mereka mungkin dari zaman
dulu, jadi wajar saja mereka seperti itu, dan itu sah-sah saja. Lalu kenapa yang
banyak disorot hanya seorang kakek/nenek, jika niatnya memang untuk membantu
orang? Apakah mereka terlalu lemah untuk bekerja? Jika demikian, maka bisa saja
dikatakan kita merendahkan mereka. Kalau pun mereka sudah tidak mampu lagi
untuk bekerja, mereka juga tidak akan bekerja. Mereka masih bekerja karena
masih mampu bekerja. Hemat saya, mereka tak perlu dibantu-bantu amat. Biasa
saja. Toh, katanya rezeki sudah ada yang mengatur.

Begini deh, kalau orang-orang yang membagikan postingan-postingan tersebut


benar-benar peduli, saya rasa tidak cukup hanya mengajak membeli dagangannya
saja. Mereka pun pasti menyadari mengapa mereka merasa kasihan, salah satunya
karena dagangan sang kakek/nenek kurang laku; apapun penyebabnya. Maka,
alangkah bijaknya sang peduli itu jika ia tidak mengajak orang-orang untuk membeli
dagangan sang kakek/nenek. Karena gerakan tersebut tidak dapat memutus
ketidaktercukupan mereka, justru semakin menambah semangat mereka bekerja
sebagai penjual sesuatu yang tingkat lakunya rendah itu. Tetapi mencarikan mereka
pekerjaan lain yang cukup "oke" menurut sang peduli, atau paling tidak ya memberi
inovasi terkait dagangannya, saya rasa itu sudah cukup bijak. Kalau tidak juga, ya
mending biarkan saja berjalan seperti biasanya, biar Yang Maha Kaya yang
mencukupi kebutuhan mereka.