Anda di halaman 1dari 3

Khawatir Salah Pilih Jodoh dan Mudah Bilang Putus atau Cerai, Padahal Jodoh

Bisa Dibangun

Sebagian dari kita pasti memiliki rasa kekhawatiran tentang masa depan, termasuk dalam hal
jodoh. Yang bahwa jodoh itu misteri yang unik. Banyak orang ingin memecahkan misteri itu.
Ada yang berhasil memecahkannya, adapula yang gagal. Dan keajaiban bagi kita adalah saat
sang pujaan hati menjadi solusi pemecahan atas ke-misteri-an jodoh. Kita kerap
membayangkan seseorang yang kita idamkan duduk bersanding dengan kita di pelaminan dan
hidup bahagia dengannya hingga akhir hayat. Tentu ini menjadi harapan bagi kita semua.
Namun ternyata jodoh tidak sesederhana yang kita halusinasikan. Atau misalnya kita selalu
ingin berdekatan dengan kekasih kita; bergembira saat mendengar namanya; orang lain menilai
bahwa wajah kita mirip; kita merasa ada kecocokan dalam segala hal; bahkan beberapa orang
menilai pasangan mereka cocok dilandasi dengan latar belakang pendidikan, keturunan atau
ekonomi. Lantas dengan beberapa indikator tersebut, bolehkah kita menyebut bahwa ‘dia’
adalah jodoh kita? Boleh aja deh. Apa sih yang ngga boleh buat kamu? Hehe ….

Kenyataannya, dari semua hipotesis itu, kita yang sudah memiliki pasangan namun
belum menikah pastinya semakin yakin bahwa “dia” adalah jodoh kita. Kontras dengan kita
yang sudah melanggengkan hubungan ke jenjang pernikahan, sering kali terdapat perasaan
tidak bahagia, tidak lagi cocok, pernah terbesit “jangan-jangan dia bukan jodohku”, atau bahkan
sampai berpisah dan beranggapan bahwa kita salah memilih seseorang untuk dijadikan jodoh.
Ini tidak semua pasangan, tetapi banyak juga yang berpikiran demikian.

Begini, boleh jadi pengertian kita tentang cinta dan jodoh itu keliru. Semua hipotesis
awal tadi adalah bukan cinta, melainkan manifestasi dari jatuh cinta yang dalam pengertian
sederhana, jatuh cinta itu “sejuta rasanya.” Dan jatuh cinta itu tidak akan bertahan lama. Jika
sudah mengetahui luar dalam (apalagi yang tidak kita kehendaki) dari sang kekasih, rasa itu
akan memudar, menguap, bahkan nyaris menghilang. Ini hal yang wajar. Dan saat itulah,
sebagai pasangan kita harus segera melangkah ke fase cinta. Memang pengertian cinta itu
beragam, bahkan adapula yang berargumen cinta itu tidak bisa didefinisikan karena maknanya
dalam sekali. Aduh. Tetapi secara garis besar cinta itu terdiri dari tiga komponen: kedekatan
emosi, gairah seksual, dan komitmen.

Tiga komponen cinta itu tidak bisa dipisahkan. Jika salah satunya runtuh, runtuh pula
keutuhan cinta. Kedekatan emosi dan gairah seksual, tidak dapat dimungkiri bahwa kedua
komponen itu juga terdapat pada fase jatuh cinta. Perbedaannya adalah pada komponen ke
tiga, yakni komitmen. Apa yang ditawarkan komitmen dalam bangunan cinta? Komitmen bukan
hanya soal perjanjian dan tanggungjawab. Lebih dari itu, komitmen dalam hubungan berperan
penting agar dua orang bisa saling melengkapi. Jadi, jika ketiga komponen itu dipegang
bersama, maka jalinan hubungan akan relatif langgeng.

Kemudian perihal jodoh. Dalam hal memilih, tentunya kita dituntut untuk selalu selektif.
Tetapi pernahkah kita menyesal, kecewa, atau merasa bersalah pada sebuah pilihan ketika kita
sudah menentukannya? Padahal pilihan itu sudah kita pertimbangkan secara matang. Jika
pernah, apa yang kita lakukan? Sebagian dari kita mungkin akan menerima dengan lapang
dada. Sebagian yang lain menerima namun mengabaikan dan menyesalinya seumur hidup. Ada
pula yang menukar, bahkan membuangnya lalu mencari pilihan yang lain. Nah, bagaimana jika
pilihan itu adalah perihal mencari jodoh?

Jodoh itu bisa dibangun atau didesain oleh kita sendiri. Selain harus memahami
pengertian cinta dan jodoh, sebagai upaya lainnya adalah dengan mengubah diri kita menjadi
pribadi idaman kita. Kata orang, jodoh itu adalah cerminan dari diri kita. Maka, jika belum
punya pasangan, kita dapat membangun jodoh idaman kita dengan membangun diri sendiri
sebelum bertemu jodoh yang sesungguhnya. Tetapi bagaimana dengan orang yang memiliki
perangai “buruk” menikah dan hidup bahagia dengan orang baik? Atau bagaimana jika
keduanya orang baik, tetapi berpisah di tengah jalan? Nah, itulah kenapa jodoh dikatakan
sebagai misteri yang unik. Dan itu mengindikasikan bahwa jodoh bisa dibangun dan bisa pula
dirobohkan.

Yang perlu kita garisbawahi adalah jodoh bukan semata-mata “dia cocok/tidak cocok
dengan saya”, tetapi bagaimana kita harus mampu mencocokkan diri pada pasangan kita.
Jodoh kita itu juga manusia selayaknya kita. Tentu “dia” pernah berbuat kesalahan, memiliki
keterbatasan dan kekurangan. Dan sebagaimana burung merpati, kedua sayap harus mengepak
bersamaan agar mampu membawanya terbang ke udara. Artinya, kita harus selalu melengkapi
kekurangan jodoh kita. Jika dia belum sempurna, maka kitalah yang menyempurnakannya. Dan
jika kita ingin dia menjadi jodoh yang baik untuk kita, maka kita juga harus mampu menjadi
jodoh yang baik untuk dia.

Temanku, seperti yang disebutkan di atas bahwa kehidupan di masa depan masih
menjadi misteri. Rezeki, jodoh, dan kematian adalah misteri. Tentu kita mengharapkan masa
depan yang terbaik. Dan kesemuanya itu bisa kita siasati. Perihal jodoh, jika kita belum
mempunyai pasangan, kita harus banyak berdoa dan berusaha, mantapkan pilihan, dan
teguhkan langkah kita. Adapun jika kita sudah mempunyai pasangan, apalagi sudah berumah
tangga, yakinkan bahwa pasangan kita adalah jodoh kita, serta berusahalah menjadikan diri kita
sebagai jodoh yang cocok dan terbaik untuk pasangan kita. Maka, dengan itu semuam
kekhawatiran-kekhawatiran tentang jodoh dapat kita ubah menjadi keyakinan yang kuat.