Anda di halaman 1dari 3

Muda yang Baperan Vs Tua yang Menyebalkan

Fase kehidupan manusia di dunia tentu dimulai dari bayi, anak-anak, remaja,

dewasa, kemudian lansia. Pada fase bayi dan anak-anak, mungkin kita akan

memberikan toleransi kewajaran jika mereka melakukan penyimpangan, karena

memang pada fase itu mereka belum banyak pemahaman tentang sesuatu dan juga

fase mereka bereksplorasi tentang banyak hal. Remaja? Tingkat kewajarannya lebih

diturunkan lagi dong ya. Nah, untuk manusia dewasa dan lansia, apakah kita

memberikan sikap yang serupa? Apalagi si dewasa itu ‘baperan’ dan si lansia

‘menyebalkan’. Eits! Santai, Bro. Pikirannya jangan suuzon ke teman, kerabat, orang

tua, mertua, atau tetangga kita dulu, Bro. Siapa tau mereka bukan yang dimaksud

baperan atau menyebalkan dalam tulisan ini. Atau mungkin iya. Wkwk… Atau jangan-

jangan kita juga termasuk. Wiuwiuwiuwiuwiuw…

Untuk selajutnya saya akan menyebut si dewasa dengan sebutan si muda, dan

si lansia akan saya sebut si tua. Karena kalau saya memakai kata dewasa, nanti

bertebaran deh quotes-quotes bahwa dewasa itu bukan soal usia, tapi bla bla bla.

It’s okay. Fine! Atur bae secara adat. Dan untuk kriteria usia keduanya, kita ambil

saja pendangan umum perihal angka dari usia muda (pemuda) dan tua.

Saya mulai dari si muda yang baperan. Ada beberapa ciri si muda yang

baperan yang saya amati, di antaranya; (1) Sulit menerima perubahan mendadak. (2)

Seringkali melihat sesuatu dari satu sudut pandang. Kayaknya pemahaman atau

pengetahuan juga menentukan deh. (3) Secara emosional lebih reaktif saat

menghadapi situasi tertentu, biasanya cepat marah, grasah-grusuh, dan tidak

tenang. (4) Suka menghindari kritik. (5) Terlalu memikirkan perakataan/perbuatan

orang lain yang seolah-olah melukainya. Sederhananya dia mudah tersinggung. Dan

(6) rentan terkena kecemasan dan depresi. Ini disebabkan oleh pikirannya yang
terlalu sempit itu. Dari poin-poin tersebut, kira-kira kita termasuk baperan nggak

ya? Heuheu.

Selanjutnya si tua yang menyebalkan. Predikat si tua yang menyebalkan

biasanya disematkan oleh kaum muda. Dan penyematan semacam itu tentu tidak

asal-asalan, yang pasti ada penyebabnya dong. Berikut adalah penyebab atau ciri-ciri

si tua yang menyebalkan. (1) Selalu merasa benar. (2) Tidak mau kalo usulan atau

perkataannya dikritik. (3) Merasa tua, merasa banyak pengalaman. (4) Bersifat

mengendalikan. (5) Tidak menerima masukan. Kadang ada pula yang menolak

perubahan dan keukeuh dengan nilai konservatifnya. (6) Terkesan memojokkan. (7)

Tidak memberi kesempatan kepada orang lain, kadang berbicara seolah-olah

memberi kesempatan padahal aslinya hanya ingin mengkritisi dan memutus. Nah,

coba cek “orang tua” di sekitar kita, ada tidak yang termasuk menyebalkan? Atau

jangan-jangan kita memiliki potensi menjadi tua yang menyebalkan juga? Wirrrr…

kiwir.. kiwir.. kiwir …

Setelah mengetahui bagaimana cara si muda baperan dan si tua menyebalkan

itu hidup, paling tidak kita punya gambaran bahwa keduanya itu berhubungan. Jika

saat muda kita baperan, maka di masa tua nanti kemungkinan besar kita akan

menjadi tua yang menyebalkan. Apalagi dilihat dari ciri-cirinya kurang lebih sama.

Dan itu sungguh tidak menyenangkan.

Menghadapi si muda baperan dan si tua menyebalkan ternyata tidaklah susah,

kecuali kita juga baperan atau menyebalkan. Bayangkan jika keduanya bertemu

dalam suatu masalah, masalah sekecil apapun bisa menjadi sangat besar loh. Dan jika

itu terjadi, tentu akan menjadi tontonan yang seru dan menghibur.
Saran saya untuk si muda yang baperan, kalau bisa, segeralah sadar bahwa

kamu itu baperan dan gak asik, setelah itu belajarlah open minded agar satu circle-

mu menerima dengan senang hati. Dan untuk Anda si tua yang menyebalkan. Anda

juga segera sadar kalau Anda itu menyebalkan. Sebagaimana di saat muda dulu Anda

melihat orang tua yang menyebalkan, dan Anda tidak menyukainya. Masa Anda mau

melanjutkan rantai menyebalkan tersebut. Enggak dong ya. Bijak ya bijak, misal

dalam menentukan sesuatu, tapi bijak juga dong dalam memahami sudut pandang

orang lain. Tetapi, kalau mereka (si baperan dan si menyebalkan) nyaman dengan

sikap seperti itu dan memang memilih menjadi seperti itu, ya manga-mangga bae.

Cuma imbasnya ya begitu. Itu sekadar saran aja sih. Nggak ditanggepin juga nggak

masalah. Selebihnya saya beli melu-melu. Yawis.

***