Anda di halaman 1dari 3

OKNUM.. OH.. OKNUM.. ASTAGH(FI)RULLAH ....

Kata oknum tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, bukan. Nah, saat

mendengar atau membaca kata itu, apa sih yang terlintas di pikiran kita? Apa kita

merasa lega karena sang pelaku hanya oknum? Atau kita merasa terusik dengan

penyebutan kata itu. Jujur saja, kalau saya pribadi sudah muak dengan kata itu.

Kenapa? Jawabannya akan saya uraikan di bawah ini.

Beberapa tahun ke belakangan banyak instansi menggunakan kata “oknum”

saat ada anggotanya melakukan tidakan tidak terpuji, baik dari kepolisian, TNI,

perguruan tinggi, sekolah, pesantren, rumah sakit, bank, PDAM, dan instansi-

instansi lainnya. Sebetulnya apa sih arti dari oknum itu? Apakah oknum hanya

digunakan untuk tindakan negatif saja?

Dalam KBBI, oknum/ok·num/ (n) memiliki beberapa makna, antara lain; (1)

penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik; pribadi: kesatuan antara Bapak, Anak,

dan Roh Kudus sebagai tiga -- keesaan Tuhan; (2) orang seorang; perseorangan; (3)

orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik): -- yang bertindak

sewenang-wenang itu sudah ditahan.

Namun, jika menilik pada translater Google (Bahasa Inggris), kata “oknum”

berarti person. Tentu kita paham apa itu person? Person artinya orang atau pribadi.

Dari sini saya menyimpulkan bahwa kata oknum adalah kata yang menunjukkan

perseorangan atau pribadi, tetapi kemudian terjadi pergeseran makna asli ke makna

yang lebih buruk atau istilahnya adalah peyorasi. Hingga kemudian, kata “oknum”

bermakna orang yang melakukan tindakan tidak terpuji. Dan sepertinya itu sudah di

terima khalayak.
Adapun alasan instansi sering menggunakan kata oknum saat ada anggota atau

pegawainya melakukan tindakan buruk adalah sebagai upaya penyucian nama baik,

bahwa yang melakukan tindakan itu atas nama pribadi/perseorangan/oknum, bukan

atas nama instansi. Dengan demikian, nama baik instansi tidak tercoreng. Konon,

jeh.

Banyak kasus tindakan asusila/amoral/tidak terpuji yang pelakunya dilabeli

dengan sebutan oknum, misalnya yang baru-baru ini heboh; seorang polisi hamili

mahasiswi, paksa aborsi, dan ada kabar bahwa korban bukan bunuh diri, melainkan

dibunuh, dia disebut OKNUM. Sering juga terjadi tindakan represif polisi, disebut

OKNUM. Kegiatan pungli, OKNUM. Pelecehan seksual oleh dosen terhadap

mahasiswi, OKNUM. Dokter di rumah sakit ini melakukan ini, OKNUM. Ustaz cabuli

santriwati, OKNUM. Guru lecehkan murid, OKNUM. polisi banting mahasiswa,

OKNUM. Kapolsek perkosa anak tersangka, OKNUM. OKNUM. OKNUM. OKNUM.

OKNUM TA*.

Lalu kenapa saya begitu muak dengan kata “oknum”? Itu karena suatu instansi

menggunakan kata itu untuk berlindung dari citra buruk. Padahal mau ditutup-tutupi

seperti apapun, buruk ya buruk saja. Tidak usah kaken lewa dan gaya. Tinggal bilang

saja itu anggota kami, tanpa embel-embel oknum. coba saja, jika satu kata itu masih

digunakan, mereka (orang-orang yang suka mengklarifikasi tindakan rekannya

dengan sebutan oknum) akan terus merasa tenang dan kekurangan beban moral.

Akibatnya, suatu kejadian tertentu bukan menjadi cambukan, melainkan menjadi

suatu kewajaran.

Jadi kesimpulannya, ya begtulah. Tetapi, terlepas dari hal itu, saya pun sering

heran, mengapa saya begitu peduli dengan satu kata itu. Namun, saya juga
mempunyai satu kata yang mampu meredam gejolak kemuakan saya terhadap banyak

hal, yaitu “KOSONG”.