Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PENDAHULUAN

“DM”

Dosen Pembimbing :Ns. Dyah Ika K.,S.Kep,Si.Ked.

Disusun Oleh :

Hasbunal Nalarsyah

2018.49.021

Akademi keperawatan dharma husada Kediri

Tahun 2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS

A. Konsep Diabetes Melitus


1. Pengertian
Diabetes Melitus adalah gangguan kronis metabolisme karbohidrat, lemak, dan
protein. Infusiensi relatif atau absolut dalam respon sekretorik insulin, yang
diterjemahkan menjadi gangguan pemakaian karbohidrat [ CITATION Guy07 \l
1033 ].
Diabetes Melitus adalah Penyakit sistemik, kronis, dan multifaktor. Diabetes
Melitus atau DM merupakan gangguan metabolik yang ditandai oleh
hiperglikemia atau kenaikan kadar glukosa serum akibat kurangnya hormon
insulin, menurunya efek insulin atau keduanya [ CITATION Kow112 \l 1033 ].
Dari beberapa pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Diabetes
Melitus atau orang awam menyebutnya kencing manis adalah penyakit metabolik
yang dicirikan dengan hiperglikemia yang diakibatkan oleh terganggunya
metabolisme insulin dalam tubuh.
2. Etiologi Diabetes Melitus
Menurut Nurarif & Kusuma (2013), faktor- fakor resiko diabetes melitus antara
lain :
1) Genetik : Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes itu sendiri, tetapi mewarisi
suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes.
Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen
HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang
bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainya. Sembilan
puluh lima persen pasien berkulit putih (caucasian) dengan diabetes
memperlihatkan tipe HLA yang spesifik (DR3 atau DR4). Resiko terjadi diabetes
meningkat tiga hingga lima kali lipat pada individu yang memiliki salah satu dari
kedua tipe HLA ini. Resiko tersebut meningkat sampai 10 hingga 20 kali lipat
pada individu yang memiliki tipe HLA DR3 maupun DR4 (jika dibandingkan
dengan populasi umum).
2) Imunologi : Pada penderita diabetes melitus terdapat bukti adanya suatu respon
autoimun. Respon ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada
jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang
dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Autoantibody terhadap sel-sel
pulau langerhans dan insulin endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosis dan
bahkan beberapa tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis.
3) Orang dengan Riwayat Diabetes Dalam Keluarga. Sekitar 50% pasien Diabetes
Melittus tipe 2 mempunyai orang tua yang juga mengidap diabetes dan lebih dari
sepertiga pasien diabetes mempunyai saudara yang mengidap diabetes. Bila
saudara identical twins memungkinkan terkena diabetes tipe 2 90% (Hans
Tandra,2008).
4) Usia : Orang berusia 45 tahun keatas. Peningkatan diabetes risiko diabetes seiring
dengan umur, khususnya pada usia lebih dari 40 tahun, disebabkan karena pada
usia tersebut mulai terjadi peningkatan intoleransi glukosa. Adanya proses
penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel B pankreas dalam
memproduksi insulin. Selain itu pada individu yang berusia lebih tua terdapat
penurunan aktifitas mitokondria di sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan
dengan peningkatan kadar lemak di otot sebesar 30% dan memicu terjadinya
resistensi insulin.
5) Orang yang berat badanya berlebih. Diabetes Melitus tipe 2 sangat erat kaitanya
dengan obesitas. Bila BMI (Body Mass Index) seseorang yang mengalami obesitas
mencapai 30, dia akan 30 kali lebih muda terkena diabetes tipe 2 dari pada orang
dengan berat badan normal atau BMI (Body Mass Index) sebesar 22. Bila BMI
(Body Mass Index) sama dengan 35, kemungkinan terkena diabetes menjadi 90
kali lipat.
6) Orang yang tidak berolahraga secara teratur. Olahraga bisa benar-benar membantu
mengendalikan kadar glukosa darah. Olahraga menekan produksi insulin dan juga
mendorong sel-sel otot skelet untuk mengambil lebih banyak glukosa dari aliran
darah. Deangan lebih banyak glukosa dalam sel-sel otot,kita bisa menghasilkan
lebih banyak energi sehingga tetap bisa bekerja.
7) Kelompok ras dan suku tertentu (Afrika-Amerika, Hispanik-Amerika, Asia-
Amerika, penghuni pulau pasifik, dan Indian-Amerika). Orang Asia, termasuk
didalamnya orang cina, India, Jepang, Vietnam, Pakistan, dan Indonesia adalah
ras yang mudah terkena diabetes.

Sedangkan menurut Nurarif & Kusuma (2013), ada beberapa faktor yang dapat
dimodifikasi dari Diabetes Melitus, yakni:
1) Pola Makan : Mengetahui jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi merupakan
hal yang penting. Memakan-makanan porsi sedang 3 kali sehari lebih baik dari
pada memakan makanan dengan porsi besar sebanyak 1 atau 2 kali per hari.
Selama menerapkan pola makan yang baik, resiko terkena diabetes dapat
dihindari.
2) Obesitas : Hampir 80% orang terkena diabetes melitus mengalami obesitas dan
jika mengalami kegemukan, produksi insulin dari pankreas menjadi kurang efektif
atau disebut resistensi insulin.
3) Aktifitas fisik : Aktifitas fisik dapat mengontrol gula darah. Glukosa akan diubah
menjadi energi pada saat beraktivitas fisik. Aktivitas fisik mengakibatkan insulin
semakin meningkat sehingga kadar gula dalam darah akan berkurang. Pada orang
yang jarang berolahraga, zat makanan yang masuk kedalam tubuh tidak dibakar
tetapi ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan gula. Jika insulin tidak mencukupi
untuk mengubah gukosa mejadi energi maka akan timbul DM (Kemenkes
RI,2010).
4) Gaya Hidup : Menjaga pola makan dengan menu seimbang dalam kebutuhan
sehari-hari baik menurut jumlahnya (kuantitas) maupun jenisnya (kualitas).
Berolahraga teratur, mencangkup kualitas (gerakan) dan kuantitas dalam arti
frekuensi dan waktu yang digunakan untuk olahraga, tidak merokok dan tidak
mengkonsumsi kopi, alkohol.
5) Stress : Mengendalikan stress karna berdampak pada penderita Diabetes Melitus
dapat meningkatkan kadar gula dalam darah tetapi hal itu juga meningkatkan
resistensi insulin.
3. Patofisiologi Diabetes Mellitus
Pada individu yang secara genetik rentan terhadap diabetes tipe 1, kejadian
pemicu, yakni kemungkinan infeksi virus, akan menimbulkan produksi
autoantibody terhadap sel-sel beta pancreas. Destruksi sel beta yang diakibatkan
menyebabkan penurunan sekresi insulin dan akhirnya kekurangan hormon insulin.
Defisiensi insulin mengakibatkan keadaan hiperglikemia, penigkatan liolisis
(penguraian lemak) dan katabolisme protein. Karakteristik ini terjadi ketika sel-sel
beta yang mengalami deskruksi melebihi 90%.
Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan satu atau lebih
faktor berikut ini : Sekresi insulin, produksi glukosa yang tidak tepat didalam hati,
atau penurunan sensitivitas reseptor insulin perifer. Faktor genetik merupakan hal
yang signifikan, dan awitan diabetes diperepat oleh obesitas serta gaya hidup
(sering duduk). Sekali lagi, stress tambahan dapat menjadi faktor penting.
Manifestasi DM adalah polidipsia, poliuria, polifagia, kelemahan, penurunan berat
badan, kulit yang kering dan ketoasidosis. Diabetes tipe 2 secara khas berjalan
lambat dengan awitan yang insidius dan biasanya tidak disertai gejala (Kowalak,
2011). Dampak dari Diabetes Melitus jika tidak ditangani yaitu Gangguan fungsi
ginjal, Gangguan jantung, dan gangguan penglihatan [ CITATION Wij13 \l 1033 ].
4. Klasifikasi Diabetes Melitus
Menurut Guyton (2008), terdapat dua tipe utama Diabetes Melitus, yaitu:
1) DM tipe 1: Kerusakan sel beta pancreas atau penyakit-penyakit yang menganggu
produksi insulin dapat menyeabkan timbulnya Diabetes Melitus tipe 1. Infeksi
virus atau kelainan autoimun dapat menyebabkan kerusakan sel beta pancreas
pada banyak pasien Diabetes Melitus tipe 1, meskipun faktor herediter juga
berperan penting untuk menentukan kerentangan sel-sel beta terhadap gangguan
tersebut. Pada beberapa kasus, kecenderunagan faktor herediter dapat
menyebabkan degenerasi sel beta, bahkan tanpa adanya infeksi virus atau kelainan
autoimun. Onset Diabetes Melitus tipe 1 biasanya dimulai pada umur 14 tahun,
oleh sebab itu diabetes ini sering disebut Diabetes Mellitus juvensilf. Diabets
Melitus tipe 1 dapat timbul tiba-tiba dalam waktu beberapa hari atau minggu,
dengan tiga gejala siasa yang utama: naiknya kadar glukosa darah, peningkatan
penggunaan lemak sebagai sumber energi dan untuk pembentukan kolesterol oleh
hati, dan berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.
2) DM Tipe 2 : Diabetes Melitus tipe 2 lebih sering dijumpai dari Diabetes Mellitus
tipe 1, dan kira-kira diemukan sebanyak 90 persen dari seluruhk kasus. Pada
kebanyakan kasus, onset Diabetes Melitus tipe 2 terjadi diatas umur 30 tahun,
sering kali diantara umur 50 dan 60 tahun, dan penyakit ini timbul secara
perlahan-lahan. Oleh karna itu, sindrom ini sering disebut sebagai Diabetes onset
dewasa. Akan tetapi, akhir-akhir ini dijumpai peningkatan kasus yang terjadi pada
individu yang lebih muda, sebagian berusia kurang dari 20 tahun dengan Diabetes
Melitus tipe 2. Trend tersebut agaknya berkaitan terutama dengan peningkatan
prevalensi obesitas, yaitu faktor resiko terpenting untuk Diabetes Melitus tipe 2,
Diabetes Melitus tipe 2 bebeda dengan Diabetes Mellitus tipe 1, dikaitkan dengan
peningkatan insulin plasma (hiperinsulinemia). Hal ini terjadi sebagai upaya
kompensasi oleh sel beta pancreas terhadap penurunan sensitivitas jaringan
terhadap efek metabolisme insulin, yaitu suatu kondisi yang dikenal sebagai
resistensi insulin. Penurunan sensitivitas insulin mengaggu penggunaan dan
penyimpanan karbohidrat, yang akan meningkatkan sekresi insulin sebagai upaya
kompenasasi.
3) Diabetes Tipe Gestasional : Diabetes gestasional dikenali pertama kali selama
kehamilan dan mempemgaruhi 4% dari semua kehamilan. Faktor resiko terjadinya
diabetes gestasional adalah usia, entik, obesitas, multiparitas, riwayat keluarga,
dan riwayat diabetes melitus terdahulu. Diabetes gestasional ini diakibatkan oleh
peningkatan sekresi hormon yang mempunyai efek metabolik terhadap toleransi
glukosa, maka kehamilan adalah suatu keadaan diabotogenik. Pasien yang
mempunyai predisposisi diabetik secara genetik mungkin akan memperlihatkan
intoleransi glukosa atau manifestasi klinis diabetes pada kehamilan. Kriteria
diagnosis biokimia diabetes kehamilan yang dianjurkan adalah kriteria yang
diusulkan oleh Andra Saferi Wijaya. Menurut kriteria ini diabetes gestasional
terjadi apabila dua atau lebih dari nilai berikut ini ditemukan atau dilampaui
sesudah pemberian 75 g glukosa oral: puasa, 105 mg/dl; 1 jam, 190 mg/dl; 2 jam,
165 mg/dl; 3 jam, 145 mg/dl. Pengenalan diabetes seperti ini penting karena
penderita beresiko tinggi terhadap morbiditas pernatal dan mempunyai frekuensi
kematian janin variabel lebih tinggi. Kebanyakan perempuan hamil harus
menjalani panapisan untuk diabetes selama usia kehamilan 24 sampai 28 minggu [
CITATION Iri15 \l 1033 ].

5. Manfiestasi Klinis
Menurut Kowalak (2011), beberapa tanda dan gejala yang perlu mendapat
perhatian adalah : 1) Poliuria dan polidipsia yang disebabkan oleh osmolalitas
serum yang tinggi akibat kadar gula serum yang tinggi, 2) Anoreksia (Sering
terjadi) atau polifagia (kadang-kadang terjadi), 3) Penurunan berat badan
(biasanya sebesar 10% hingga 30%; penyandang diabetes tipe 1 secara khas tidak
memiliki lemak pada tubuhnya saat diagnosis ditegakkan) karena tidak terdapat
metabolisme karbohidrat,lemak, dan protein yang normal sebagai akibat fungsi
insulin yang rusak atau tidak ada, 4) Sakit kepala, rasa cepat lelah, mengantuk,
tenaga yang berkurang, dan gangguan pada kinerja sekolah serta pekerjaan.
Semua ini disebabkan oleh kadar glukosa intra sel yang rendah, 5) Kram otot,
iritabilitasi, dan emosi yang labil akibat ketidak seimbangan elektrolit, 6)
Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur, akibat pembengkakan yang
disebabkan glukosa, 7) patirasa (blaal) dan kesemutan akibat kerusakan jaringan
syaraf, 8) Gangguan rasa nyaman nyeri dan nyeri pada abdomen akibat neuropati
otonom yang menimbulkan gastroparesis dan konstipasi, 9) Mual, diare, atau
konstipasi akibat dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit atau pun neuropati
otonom, 10) Infeksi kandida yang rekuren pada vagina atau anus.

6. Penatalaksanaan Diabetes Melitus


A. Farmakologis
Menurut Wijaya (2013), obat dalam terapi Diabetes Mellitus sebagai berikut:
1) Obat Hiperglikemik Oral atau OHO : Berdasarkan cara kerjanya dibagi
menjadi empat golongan, yaitu pemicu sekresi insulin, atau insulin
secretagogue= sulfonylurea danglinid, penambahan sensiivitas terhadap insulin
= metformin, tiazolidindin, absorbsi glukosa = penghambat glukosidae alfa.
2) Insulin : pemberian insulin diperlukan pada keadaan: Penurunan berat badan
yang cepat, hiperglikemi berat yang disertai ketosis diabetik, hiperglikemia
hiperosmolar non ketotik, hiperglikemia dengan asidosis lakta, gagal dengan
kombinasi OHO dosis hampir maksimal, stress berat seperti infeksi sistemik,
operasi besar, IMA atau Infark Miokard Akut, stroke, kehamilan dengan
Diabetes Mellitus gestasional yang telah terkendali dengan perencanaan
makan, gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat, kontraindikasi dan atau
alergi terhadap OHO.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat hipoglikemia oral :
dimulai dengan dosis rendah, lalu dinaikan secara bertahap, harus diketahui
bentuk, bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek samping obat tertentu, bila
memberikanya bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya interaksi obat,
pada kegagal sekunder terhadap obat hipoglikemia oral golongan lain, bila
gagal, baru beralih pada insulin, uasahakan agar harga obat terjangkau.

B. Non Farmokologis
Menurut Wijaya (2013), terapi non farmakologi yang dapat diberikan yaitu :
1) Memantau Kadar Glukosa Darah
Tindakan ini perlu karena untuk mengetahui glukosa darah sudah berubah dari
hari ke hari, membantu menyesuaikan pengobatan, rencana makan, dan
olahraga rutin yang kita lakukan.
2) Berolahraga Secara Teratur
Olahraga bisa benar-benar membantu mengendalikan kadar glukosa darah.
Olahraga menekan produksi insulin dan juga mendorong sel-sel otot skelet
untuk mengambil lebih banyak glukosa dari aliran darah. Dengan lebih banyak
glukosa dalam sel otot, bisa menghasilkan lebih banyak energi sehingga otot
akan bisa tetap bekerja.
Selain membantu mengendalikan kadar gula darah, olahraga memperbaiki
sistem kardiovaskuler (sehingga menurunkan resiko penyakit jantung), dan
juga mendorong penurunan berat badan, yang bisa bermanfaat besar bagi
pengidap diabetes.
3) Mematuhi Rencana Makan Pribadi
Patuhi rencana yang akan membantu kadar glukosa normal, membantu
melindungi dari penyakit jantung dan kenaikan berat badan, serta tidak
membuat merasa kurang gizi. Penurunan berat badan pada penderita Diabetes
Melitus juga memiliki manfaat untuk menurunkan produksi glukosa endogen,
meningkatkan penyerapan glukosa perifer yang diperantarai insulin,
meningkatkan pelepasan insulin, dan membaiknya sensitivitas insulin.
4) Perencanaan Diet.
Regimen diet biasanya dihitung perindividu, bergantung kebutuhan
pertumbuhan berat badan yang diinginkan biasanya untuk Diabetes Meitus tipe
2, dan tingkat aktivitas, pembagian kalori biasanya 50 sampai 60% dari
karbohidrat kompeks, 20% dari protein, dan 30% dari lemak. Diet juga
mencakup serabut vitamin, dan mineral. Peencanaan diet terutama panting
untuk anak-anak pengidap Diabetes Melitus tipe 1 untuk mamasok kalori dan
mineral yang adekuat untuk menjamin perubahan yang optimal [ CITATION
Cor09 \l 1033 ].

5) Gaya Hidup.
Menjaga pola makan dengan menu seimbang dalam kebutuhan sehari-hari baik
menurut jumlahnya (kuantitas) maupun jenisnya (kualitas). Berolahraga
teratur, mencagkup kualitas gerakan dan kuantitas dalam arti frekuensi dan
waktu yang digunakan untuk olahraga, tidak merokok dan tidak mengkonsumsi
kopi ataupun alkohol.
Pathway DM dalam Kehamilan

Genetik, virus, pengerusakan insulin dari sebelum


kehamilan atau muncul pada saat kehamilan

Kerusakan sel beta

Ketidakseimbangan produksi insulin dan


kerja insulin terganggu dan ↓

Gula dalam darah tidak dapat dibawa


masuk ke dalam sel

Hiperglikemi pada ibu


Glukosa diplasma ↑ Glukosuria pada Ibu

Anabolisme
↑ osmolalitas plasma dan Pengambilan glukosa sirkulasi plasenta ↑ Kehilangan kalori protein menurun
cairan dalam tubulus ginjal

Sel kekurangan bahan


Kerusakan pada antibodi
untuk metabolisme

Glukosuria Estrogen, kotisol, HPL ↑


Protein dari lemak Kekebalan tubuh menurun
dibakar
Glukosa masuk ke
plasenta dan ↑
Kehilangan kalori Berat badan menurun Resiko infeksi

Bayi kelebihan nutrisi


(hiperglikemia) Keletihan
Merangsang
hipotalamus
Risiko cidera janin Makrosomia (bb bayi
> 4000 gr)

Pusat lapar dan


haus Indikasi dilakukan
persalinan SC

Polidipsia

Polifagia Ansietas

Defisit pengetahuan
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
A. Konsep Diagnosa Keperawatan
Resiko Infeksi
1. Definisi Masalah Keperawatan
Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik
2. Faktor Resiko
a. Penyakit krois (mis. diabetes mellitus)
b. Efek prosedur invasive
c. Malnutrisi
d. Peningkatan paparan organisme pathogen lingkungan
e. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer :
1) Gangguan peristaltic
2) Kerusakan integritas kulit
3) Perubahan sekresi pH
4) Penurua kerja siliaris
5) Ketuban pecah lama
6) Ketuban pecah sebelum waktunya
7) Merokok
8) Statis cairan tubuh
f. Keridakadekuatan pertahanan tubuh sekunder :
1) Penurunan hemoglobin
2) Imununosupresi
3) Leukopenia
4) Supresi respon inflamasi
5) Vaksinasi tidak adekuat
3. Kondisi Klinis Terkait
a. AIDS
b. Luka bakar
c. Penyakit paru obstruktif kronis
d. Diabetes mellitus
e. Tindakan invasive
f. Kondisi penggunaan terapi steroid
g. Penyalahgunaan obat
h. Ketuban pecah sebelum waktunya
i. Kanker
j. Gagal ginjal
k. Imunosupresi
l. Lymphedema
m. Leukositopenia
n. Gangguan fungsi hati
4. Tujuan dan Kriteria Hasil
a. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapakan tingkat infeksi menurun.
b. Kriteria Hasil
Tingkat Infeksi
1) Definisi
Derajat infeksi berdasarkan observasi atau sumber informasi.
2) Ekspetasi
Menurun
3) Kriteria hasil
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat
Menurun Meningkat
Kebersihan tangan 1 2 3 4 5
Kebersihan badan 1 2 3 4 5
Napsu makan 1 2 3 4 5
Meningka Cukup Sedang Cukup Menurun
t Meningkat Menurun
Demam 1 2 3 4 5
Kemerahan 1 2 3 4 5
Nyeri 1 2 3 4 5
Bengkak 1 2 3 4 5
Vesikal 1 2 3 4 5
Cairan berbau busuk 1 2 3 4 5
Sputum berwarna hijau 1 2 3 4 5
Drainase purulem 1 2 3 4 5
Pinua 1 2 3 4 5
Periode malaise 1 2 3 4 5
Periode menggigil 1 2 3 4 5
Latergi 1 2 3 4 5
Gangguan kognitif 1 2 3 4 5

Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik


Memburu Membaik
k
Kadar sel darah putih 1 2 3 4 5
Kultur darah 1 2 3 4 5
Kultur urine 1 2 3 4 5
Kultur sputum 1 2 3 4 5
Kultur area luka 1 2 3 4 5
Kultur feses 1 2 3 4 5
Kadar sel darah putih 1 2 3 4 5

5. Intervensi
Pencegahan Infeksi
a. Observasi
1) Monitor tanda dan gejala infeksi local dan sistemik
b. Terapeutik
1) Batasi jumlah pengunjung
2) Berikan perawatan kulit pada area edema
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkunga pasien
4) Pertahankan teknik aseptic pada pasien beresiko tinggi
c. Edukasi
1) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
2) Ajarkan cara mencucui tangan dengan benar
3) Ajarkan etika batuk
4) Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka oprasi
5) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
6) Anjurkan meningkatkan asupan cairan
d. Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian imunisasi

Defisit Nutrisi
SDKI : Defisit Nutrisi
Definis : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
Penyebab :
a. Ketidak mampuan menelan makanan
b. Ketidak mampuan mencerna makanan
c. Ketidak mampuan mengabsorsi nutrient
d. Peningkatan kebutuhan metabolisme
Gejala dan tanda mayor :

Subjektif Objektif
1. berat badan menurun minimal 10% di
bawah rentang ideal

Gejala dan tanda minor

Subjektif Objektif
1. Kram nyeri abdomen 1. Otot penelan lemah
2. Nafsu makan menurun 2.Otot penguyah lemah

Kondisi klinis terkait

1. Kerusakan neuromuskuler

2. Infeksi

1. Siki
Definisi : Mengidentifikasi dan mengelola asupan nutrisi yang seimbang
Tindakan :
a.Identifikasi status nutrisi
b. Identifikasi makanan yang di sukai
c.Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogatik
d. Monitor asupan makanan

Terapeutik

a. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi


b. Berikan makanan tinggi kalori dan protein
c. Berikan suplemen makanan, jika perlu
d. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai

Edukasi

a.Anjurkan posisi duduk jika mampu


Kolaborasi

a.Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan


b.Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient

2. SLKI
Definisi : Keadekuatan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
Ekspentasi Membaik
Kriteria Hasil

Menuru Cukup Sedan Cukup Meningka


n menuru g meningka t
n t
Kekuatan 1 2 3 4 5
otot
pengunyah
Kekuatan 1 2 3 4 5
otot
menelan
Porsi 1 2 3 4 5
makanan
yang di
habiskan
Verbelisasi 1 2 3 4 5
keinginana
n untuk
peningkata
n nutrisi

Meningka Cukup Sedang Cukup Menurun


t meningkat menurun
Perasaan 1 2 3 4 5
cepat
kenyang
Nyeri 1 2 3 4 5
abdomen
Memburu Cukup Sedan Cukup Membai
k memburu g membai k
k k
Berat 1 2 3 4 5
badan
Indeks 1 2 3 4 5
massa
tubuh
Frekuens 1 2 3 4 5
i makan
Nafsu 1 2 3 4 5
makan
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku patofisiologi Ed. 3. Jakarta: EGC.


Hall, G. &. (2007). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Irianto, K. (2015). Memahami Berbagai Penyakit. Bandung: Alfabeta.
Kowalak, J. P. (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
McPhee, S. J. (2010). Patofisiologi Penyakit : Pengantar Menuju Kedokteran Klinis. Jakarta:
EGC.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Media Action.
Wijaya, A. S. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Yogyakarta: Nuha Medika.

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI

JL. PENANGGUNGAN 41 A KEDIRI TELP../FAX : (0358) 772628

FORMAT PENGKAJIAN

KEPERAWATAN MATERNITAS

NAMA MAHASISWA : hasbunal nalarsyah

RUANG : Dahlia

TANGGAL PENGKAJIAN : 31 maret 2021


1. BIODATA
Nama Pasien : Ny. A
Nama Panggilan : Ny. A
Umur : 27 tahun
Agama : islam
Pendidikan : SMA
Diagnosis Medis : DM pada kehamilan
Tanggal MRS : 30 MARET 2021
Alamat : Ds. Pojok, kediri
Pekerjaan : ibu tumah tangga
Penghasilan :-
Golongan Darah :-

Nama Suami : Tn. B


Nama Panggilan : Tn. B
Umur : 30 tahun
Pendidikan : SMA
Agama : islam
Alamat : ds. Pojok, kediri

Pekerjaan : Karyawan Swasta


Penghasilan : <3.000.000

2. KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan nyeri pada bagian perut keluar nanah

3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Px sedang hamil dibawa ke poli kandungan dengan keluhan ada benjolan pada pusarnya
membesar sejak 1 minggu yang lal, awalnya lukanya kecil lalu membesar sebesar telur ayam
yang saat dipegang rasanya timbul nyeri, skala nyeri 3.
P : px mengatakan nyeri di bagian abdomen saat di tekan keluar nanah
Q :px mengatakan nyeri terasa sengkring sengkring
R : luka di bagian abdomen sebelah kanan sebesar telur ayam
S:skala3
T : px mengatakan nyeri muncul sekitar 1 minggu yang lalu

4. RIWAYAT PENYAKIT MASA LALU


Px tidak mempunyai riwayat penyakit yang lalu

5. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Px mengatakan mempunyai riwayat penyakit dm di keluarganya

6. GENOGRAM
Keterangan :

: Laki laki

: Perempuan

: Perempuan yang meninggal


X

: Laki laki yang meninggal


X

: Klien
: Tinggal satu rumah

7. DATA PSIKO SOSIAL SPIRITUAL


Saat pasien sakit, pasien tidak menjalankan kewajiban sholat 5 waktu

8. POLA SEHARI-HARI (RUMAH DAN RUMAH SAKIT)


a. NUTRISI

Di Rumah Di Rumah Sakit

Makan 3x sehari dihabiskan Makn 3x sehari dihabiskan

Jenis: lauk pauk, sayur, dan nasi Jenis : lauk-pauk, sayur, nasi

b. ISTIRAHAT TIDUR
Di Rumah Di Rumah Sakit

Tidur siang selama 2 jam Tidur siang 1 jam

Tidur malam selama 8 jam (21.00- Tidur malam selama 8 jm (21.00-


05.00) 05.00)

c. ELIMINASI
 BAB

Di Rumah Di Rumah Sakit

2x sehari 1x

Konsistensi: warna kuning dan Konsistensi: warna kuning dan lembek


lembek

 BAK
Di Rumah Di Rumah Sakit

5-9x sehari Terpasang Kateter

(berwarna kuning dan tidak berbau)


d. KEBERSIHAN DIRI DAN SEKSUAL

Di Rumah Di Rumah Sakit

Mandi 2x sehari Diseka 2x sehari

Gosok gigi 2x sehari Gosok gigi 2x sehari

Keramas 2x seminggu Belum kramas sama sekali

9. KEADAAN / PENAMPILAN UMUM PASIEN


Pasien terlihat lemas dan kusut

10. TANDA-TANDA VITAL

Suhu Tubuh : 36.2 C


Denyut Nadi : 88x/menit
Tekana Darah : 120/90 mmHg
Pernafasan : 20x/menit
TB/BB : 160cm/81kg

11. PEMERIKSAAN FISIK


a. Pemeriksaan Kepala Dan Leher
Kepala simetris, tidak ada lesi

b. Pemeriksaan Integumen/Kulit dan Kuku


Kulit tampak pucat, tidak ada sianosis

c. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak (bila diperlukan)


Normal, tidak ada benjolan pada payudara maupun ketiak
d. Pemeriksaan Thorak/dada
 THORAK
Berbentuk simetris,

 PARU
Tidak adanya suara tambahan, pola nafas teratur, sonor,

 JANTUNG
Bunyi jantung teratur, tidak ada nyeri tekan.

e. Pemeriksaan Abdomen
Adanya luka di bagian kanan abdomen sebesar telur ayam keluar nanah dengan skala
nyeri 3

f. Pemeriksaan kelamin dan Sekitarnya (bila diperlukan)


 GENETALIA
Tidak terkaji

 ANUS
Tidak terkaji

g. Punggung
Normal, tidak ada benjolan

h. Ekstremitas
Normal tidak ada gerakan terbatas

12. PENGKAJIAN STATUS OBSTETRIK


a. Menarche : umur 12 tahun
b. Lama Haid : 4-6 hari
c. Siklus Haid : teratur (30 hari)
d. HPHT : 6 agustus 2020 (30-31minggu)
e. Kelainan Haid : tidak ada
f. Menopause :-

g. Riwayat persalinan terdahulu


JENIS
No KEHAMILAN PERSALINA PENOLONG KETERANGAN
N

Hamil anak Normal Bidan


1. pertama
h. Riwayat Kehamilan/Gravidarum
G2P1

13. PEMERIKSAAN KEHAMILAN

14. PENGKAJIAN POST NATAL


a. Involusi

b. Laktasi

c. Perineum

15. DATA KELUARGA BERENCANA

16. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI


Infus RL 20tpm
Rawat luka
Injeksi Cefo

17. DISCHARGE PLANNING


Klien ingin janin yang dikandungnya dalam keadaan sehat

ANALISA DATA
NAMA PASIEN : Ny. A
DIAGNOSA MEDIS : DM pada kehamilan

KEMUNGKINAN
NO KELOMPOK DATA MASALAH
PEYEBAB

1. Ds: pasien mengeluh nyeri pada NYERI AKUT


daerah abdomen skala nyeri 3 ,
keluar nanah Gangguan fungsi
P : px mengatakan nyeri di imun
bagian abdomen saat di tekan

Infeksi gangguan
penyembuhan
luka
keluar nanah
Q :px mengatakan nyeri
terasa sengkring sengkring
R : luka di bagian abdomen
sebelah kanan sebesar telur
ayam
S:skala3
T : px mengatakan nyeri
muncul sekitar 1 minggu
yang lalu
Do :
 Tampak mengiris
 Gelisah
 Frekuensi nadi meningkat
88x/menit menjadi
90x/menit
 Tekanan darah meningkat
120/90 mmHg menjadi
130/100mmHg
 Bersikap protektif
menghindari nyeri
Ds : px menanyakan penyakit
yang di hadapinya saat ini px
tidak tahu kenapa tiba tiba
muncul luka di bagian abdomen
DEFISIT
2. Informasi tidak
Do : PENGETAHUAN
tepat
 Menunjukkan perilaku
tidaksesuai anjuran
 Menunjukkan persepsi
yang keliru terhadap DEFISIT
masalah PENGETAHUAN

DAFTAR PRIORITAS MASALAH

NAMA PASIEN : Ny. A


DIAGNOSA MEDIS : DM pada kehamilan

NO DIAGNOSA TANGGAL TANGGAL TANDA


URUT KEPERAWATAN MUNCUL TERATASI TANGAN

1. Nyeri akut b.d agen 30 maret 2021


pecedera fisiologis d.d
tampak meringis, gelisah,

Deficit pengetahuan 30 maret 2021


tentang kehamilan dan
persalinan b.d kurang
2.
terpapar informasi d.d
menunjukkan perilaku
tidak sesuai anjuran
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NAMA PASIEN : Ny. A
DIAGNOSA MEDIS : DM kehamilan

DIAGNOSA TANDA
NO LUARAN INTERVENSI TINDAKAN (OTEK)
KEPERAWATAN TANGAN

1. Nyeri akut b.d agen pecedera Setelah dilakukan tindakan Managemen nyeri Observasi
fisiologis d.d tampak keperawatan 2x24 jam - Identifikasi lokasi,
meringis, gelisah, diharapkan nyeri akut
karakteristik, durasi,
membaik dengan KH :
1. Keluhan nyeri menurun frekuensi, kualitas,
2. Sikap protektif menurun intensitas nyeri
3. Gelisah menurun
- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi respon
nyeri non verbal
- Identifikasi factor yang
memperberat dan
memperingan nyeri
- Identifikasi pengaruh
budaya terhadap reson
nyeri
- Identifikasi pengaruh
nyeri pada kualitas
hidup
- Monitor keberhasilan
terapi komplementer
yang sudah diberikan
- Monitor efek samping
penggunaan analgesik

Terapeutik

- Berikan teknik non


farmakoogis untuk
memurangi nyeri (mis.
Tens, hypnosis,
akupresur, terapi
music, biofeedback,
terapi jidat,
aromaterapi, teknik
imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
- Control lingknan yang
memperberat rasa nyeri
(mis. Suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan)
- Fasiliasi istirahat dan
tidur
- Pertimbangkan jenis
dan sumber nyeri
dalam pemilihan
strategi meredakan
nyeri

Edukasi

- Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
- Jelaskan strategi
meredaka nyeri
- Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat
- Ajarkan teknik
nonfarmakologs untuk
mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian
analgeti, jika perlu

2. Deficit pengetahuan tentang Setelah dilakukan kunjungan Edukasi Kesehatan Observasi


kehamilan dan persalinan b.d selama 2x24 jam diharapkan
kurang terpapar informasi d.d - Identifikasi kesiapan
tingkat tingkat pengetahuan
menunjukkan perilaku tidak dan kemampuan
sesuai anjuran membaik dengan kriteria hasil
menerima informasi
:
- Identifikasi faktor-faktor
- Perilaku sesuai anjuran : yang dapat meningkatkan
meningkat (skala 5) dan menurunkan motivasi
- Kemampuan menjelaskan perilaku hidup bersih dan
pengetahuan tentang sehat
suatu topik : meningkat Terapeutik
- Perilaku sesuai dengan
- Sediakan materi dan
pengetahuan : meningkat
media pendidikan
- Pertanyaan tentang
kesehatan
masalah yang dihadapi :
menurun - Jadwalkan pendidikan
- Persepsi yang keliru kesehatan sesuai
terhadap masalah : kesepakatan
menurun - Berikan kesempatan untuk
- Menjalani pemeriksaan bertanya
yang tidak tepat : Edukasi
menurun
- Jelaskan faktor risiko
yang dapat mempengaruhi
kesehatan
- Ajarkan perilaku hidup
bersih dan sehat
- Ajarkan strategi yang
dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku
hidup bersih dan sehat
CATATAN TINDAKAN KEPERAWATAN
NAMA PASIEN : Ny. A
DIAGNOSA MEDIS : DM kehamilan

NO TGL TANDA
NO JENIS TINDAKAN
DIAGNOSA PELAKSANAAN TANGAN

Nyeri akut 31 maret 2020 - Identifikasi lokasi,


b.d agen 10.00 WIB karakteristik, durasi,
pecedera
frekuensi, kualitas,
fisiologis d.d
tampak intensitas nyeri
meringis, - Identifikasi skala nyeri
gelisah
- Identifikasi respon nyeri
1. non verbal
- Identifikasi factor yang
memperberat dan
memperingan nyeri
- Melakukan relaksasi
nafas dalam

2. Deficit 01 april 2021 1. Mengidentifikasi


pengetahuan 16.00 WIB kesiapan dan
tentang
kemampuan menerima
kehamilan
dan informasi
persalinan 2. Menyediakan materi
b.d kurang
dan media pendidikan
terpapar
informasi d.d kesehatan tentang
menunjukkan penyebab abortus
perilaku tidak
3. Menjadwalkan
sesuai
anjuran pendidikan kesehatan
sesuai kesepakatan
4. Memberikan
kesempatan untuk
bertanya
5. Menjelaskan faktor
risiko yang dapat
mempengaruhi
kesehatan

CATATAN PERKEMBANGAN
NAMA PASIEN : Ny. A
DIAGNOSA MEDIS : DM kehamilan

NO TGL TANDA
NO CATATAN PERKEMBANGAN
DIAG. /JAM TANGAN

S : pasien mengeluh nyeri pada daerah


perut karena ada benjolan diatas pusar

O : Tampak meringis
‐ Tampak meringis
‐ Gelisah
‐ Skala nyeri 3
‐ Frekuensi nadi meningkat
31 maret 88x/menit menjadi 90x/menit
1. 1
2021 ‐ Tekanan darah meningkat 120/90
mmHg menjadi 130/100mmHg
‐ Bersikap protektif menghindari
nyeri

A : masalah belum teratasi

P : intervensi dilanjutkan
- Rawat luka
- Injeksi Cefo

2. 2 01 april S : Klien sering menanyakan masalah


2021 yang dihadapi
O:

 Klien terlihat berperilaku tidak sesuai


anjuran
 Klien terlihat menunjukkan persepsi
yang keliru terhadap masalah

A : Masalah belum teratasi


P : intervensi dilanjutkan
- Edukasi tentang penyakit dm