Anda di halaman 1dari 62

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

TINJAUAN TERHADAP PENGGUNAAN KLAUSULA EKSONERASI


OLEH PELAKU USAHA SMS PREMIUM BERLANGGANAN DALAM
KAITANNYA DENGAN PERMENKOMINFO NO.1 TAHUN 2009

BIDANG KEGIATAN
PKM-GT

Diusulkan Oleh :
Nama Ketua : Muhammad Nur Udpa (B111 07173/ 2007)
Nama Anggota : Istihanah Marwan (B111 07172/2007)
A.Dewi Vitasary.P (B111 07 200/2007)

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010
HALAMAN PENGESAHAN
PKM-GT
1. Judul Kegiatan : Tinjauan Terhadap Penggunaan Klausula
Eksonerasi oleh Pelaku Usaha Sms
Premium Berlangganan dalam Kaitannya
dengan Permekominfo No.1 Tahun 2009
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI ( √ ) PKM-GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Muhammad Nur Udpa
b. N I M : B 111 07 173
c. Jurusan : Ilmu Hukum
d. Universitas : Universitas Hasanuddin Makassar
e. Alamat rumah dan No.Tel/HP : Jl.Pampang 4 No.50/085255391161
f. Alamat email : muhammadnur@yahoo.com
4. Anggota pelaksana kegiatan : 3 Orang
5. Dosen Pendamping :
a. Nama Lengkap dan Gelar : DR.Oky D.Burhamzah,S.H.,M.H
b. N I P : 19650906 199002 2007
c. Alamat rumah dan No.Tel/HP : -
Makassar, 27 Februari 2010
Menyetujui
Pembantu Dekan III Fak.Hukum Ketua Pelaksana

DR.Farida Patittingi,S.H.,M.Hum Muhammad Nur Udpa


NIP. 1967 1231 1191032.002 NIM B 111 07 173

Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Dosen Pendamping


Universitas Hasanuddin

Ir. Nasaruddin Salam, S.T., M.T Dr.Oky D.Burhamzah,S.H,M.H


NIP. 131 570 852 NIP.19650906 199002 2007
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan tepat waktu.
Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada Rasulullah SAW yang telah
mengeluarkan manusia dari lembah kebodohan menuju zaman peradaban.

Dalam ajang Program Kreatifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis ini kami


mengambil judul “Tinjauan Penggunaan Klausula Eksonerasi oleh Pelaku Usaha
Sms Premium Berlangganan dalam kaitannya dengan Permenkominfo No.1
Tahun 2009”.Teknologi informasi menjadi kebutuhan yang mendasar bagi kita
pada saat ini,baik dalam lingkup sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan budaya.
Pada saat ini, kebutuhan akan informasi dari seluruh belahan dunia dengan mudah
didapatkan. Kecanggihan alat-alat komunikasi ini tentu tak lepas dari peran
penyedia layanan komunikasi. Salah satu alat komunikasi yang telah akrab di
telinga kita yaitu telepon genggam.
Namun seringkali terjadi hal-hal yang merugikan bagi konsumen dan parahnya,
konsumen tersebut tidak mengetahui kepada siapa ia dapat meminta
pertanggungjawaban atas kerugian yang dideritanya.

Oleh karena itu, diperlukan adanya jaminan yang dapat memberikan kedudukan
yang lebih kuat bagi konsumen dan perlindungan terhadap hak konsumen dan
kewajiban bagi pelaku usaha.Salah satunya yaitu kerugian yang timbul dari “sms
premium berlangganan” yang lagi marak di kalangan masyarakat

Kami sadar karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami
senantiasa membuka ruang kritik dan saran membangun untuk mengupas tuntas
segala kekurangan sehingga karya tulis ini menjadi lebih sempurna. Akhir kata,
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dalam penyusunan karya tulis ini.

1. Rektor dan segenap jajaran Pembantu Rektor Universitas Hasanuddin


2. Dekan Fakultas Hukum Unhas
3. Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Unhas DR.Farida
Patittingi,S.H.,M.Hum.
4. Orang tua kami tercinta atas segala pengorbanan, kasih sayang, dan doanya
5. Para Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin atas dukungan dan
bimbingannya
6. DR.Oky D.Burhamzah,S.H,M.H,selaku pembimbing
7. Para Pegawai Administratif Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
8. Rey Pratama atas bantuan dan dukungannya
9. Kawan – kawan Ekstradisi O7
10. Rekan-rekan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Unhas, Asian Law
Students’ Association (ALSA) Lembaga Penelitian dan Penalaran Karya Tulis
Ilmiah (LP2KI),LPMH(Lembaga Pers Mahasiswa),Gojukai.
11. Semua pihak yang telah membantu yang tidak sempat kami sebutkan satu
demi satu

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang setimpal atas segala
bantuan dan perhatiannya kepada kami dengan limpahan rahmat-Nya. Amin yaa
Rabbal Alamin.
Makassar,Februari 2010

Tim Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul .............................................................................................. i


Lembar Pengesahan....................................................................................... ii
Kata Pengantar............................................................................................... iii
Daftar isi......................................................................................................... v
Ringkasan....................................................................................................... vi
A.PENDAHULUAN..................................................................................... 1
 Tujuan Penulisan................................................................................. 2
 Manfaat Penulisan.............................................................................. 2
B.GAGASAN……………………………………………………………… 2
 Hak konsumen dan kewajiban bagi pelaku usaha(UUPK dan
Permenkominfo No.1 tahun 2009)..................................................... 2
 Eksistensi Permenkominfo No.1 tahun 2009 dalam mengatur jasa
penyelenggara sms premium berlangganan....................................... 7
 Penyelesaian sengketa berdasarkan UU No.8 tahun 1999 tentang
perlindungan konsumen..................................................................... 9
C.KESIMPULAN…………………………………………………………. 11
Daftar Bagan
 Bagan 1 (Biaya/Tarif)………………………………………………. 4
 Bagan 2 (Alasan-alasan dirugikan)…………………………………. 5
 Bagan 3 (Pengaduan keluhan)………………………………………. 6
 Bagan 4 (Yang pernah mengadukan)………………………………. 6
 Bagan 5 (Alasan tidak mengadukn)………………………………… 7
 Bagan 6 (Alur penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK)….. 13
Daftar Pustaka
Daftar Riwayat Hidup
Lampiran
RINGKASAN
Karya Tulis yang berjudul “Tinjauan penggunaan klausula eksonerasi oleh pelaku usaha
sms premium berlangganan dalam kaitannya dengan Permekominfo No.1 Tahun 2009”
karya Muhammad Nur Udpa (B 111 07 173 ), Istihanah Marwan(B 111 07 172), dan
A.Dewi Vitasary.P(B 111 07 200)

Adapun hal yang melatarbelakangi penulisan karya tulis ini yaitu untuk menjelaskan
penggunaan klausula eksonerasi oleh pelaku usaha sms premium berlangganan dalam
kaitannya dengan Permenkominfo No.1 Tahun 2009.Oleh karena itu,tujuan dari
penulisan karya tulis ini untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya hak dari konsumen
dan kewajiban bagi pelaku usaha, berdasarkan UUPK dan Permenkominfo No.1/2009
serta untuk mengetahui andil pemerintah dalam menangani dan menanggulangi kerugian
yang dialami konsumen.

Hal ini berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat,saat ini dikenal adanya sms
premium berlangganan, awalnya layanan ini hanya digunakan untuk voting saja, namun
layanan ini terus berkembang dengan konten-konten yang sangat menarik. Sampai saat
ini, sebagian besar pengguna telepon seluler di Indonesia menggunakan layanan ini.
Namun,menurut hasil survei yang dilakukan oleh penulis, lebih dari 60% konsumen
menjawab bahwa pelaku usaha/penyelenggara sms premium berlangganan melakukan
wanprestasi dalam mengiklankan jasa sms premium berlangganan tersebut karena tidak
sesuai dengan pesan yang disampaikan dalam bentuk iklan.Meskipun telah secara jelas
telah diatur dalam Permenkominfo No.1/2009, implementasinya pada iklan-iklan yang
menawarkan sms berlangganan masih bisa menimbulkan kerugian pada konsumen.Oleh
karena itu,diperlukan tindakan nyata dari pemerintah untuk memberi perlindungan
kepada konsumen dan mengadili para pelaku usaha yang telah merugikan konsumen.

Dalam karya tulis ini,penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui metode
penelitian kepustakaan melalui buku-buku, media massa, serta situs internet yang sesuai
dengan masalah yang dibahas,selain itu penulis juga melakukan pembagian kuisioner
kepada responden. Sementara data-data yang penulis peroleh diolah dengan teknik
content analysis untuk menghasilkan kesimpulan.

Berdasarkan analisis terhadap data-data diperoleh hasil sebagai berikut:(1)Melihat


permasalahan yang terjadi di masyarakat terkait dengan SMS Premium berlangganan,
maka sebaiknya masyarakat dapat menggunakan layanan SMS Premium berlangganan
sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.(2) Kode etik IMOCA dirasakan lebih
spesifik jika dibandingkan dengan Permenkominfo No.1/2009. Diharapkan kedepannya
kode etik IMOCA dapat menjadi standar baku terhadap penyedia/penyelenggara sms
berlangganan.Jika Permenkominfo No.1/2009 direvisi dengan menambahkan beberapa
klausula yang terdapat pada IMOCA yang mengatur tentang tata cara promosi sms
berlangganan dan hal-hal tidak dibolehkan dalam konten sms berlangganan. Maka
kerugian konsumen dapat diminimalisasi baik sebelum dan setelah melakukan aktivasi
sms berlangganan. (3)Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang BPSK menyebabkan
sedikitnya masyarakat yang mengadu. Suatu hal yang perlu menjadi sorotan pula, yakni
kewenangan BPSK yang dirasakan belum dilaksanakan secara maksimal.Adapun saran
yang kami rekomendasikan dalam penulisan ini, yaitu Sebagai alternative dalam
menstimulus masyarakat untuk lebih memperhatikan pemenuhan haknya maka
pemerintah dapat mengadakan sebuah small court yang dibawahi oleh Pengadilan
negeri setempat, namun dalam prosesnya hanya terbatas di tingkat pertama saja.
Keberadaan small court dapat pula menjadi salah satu solusi untuk menutupi
kekurangan eksistensi BPSK.
A. PENDAHULUAN

Pembangunan dan modernisasi akan senantiasa menyertai kehidupan manusia. Suatu hal
yang wajar dari sebuah peradaban manusia yang selalu menginginkan adanya inovasi dan
kemudahan dalam menjalankan kehidupan. Konsekuensi yang terjadi adalah semakin
kompleksnya kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Salah satu bagian dari
pembangunan dan modernisasi itu terjadi dibidang komunikasi.

Salah satu fungsi komunikasi yaitu sebagai alat untuk menyampaikan suatu ide, gagasan,
maupun informasi kepada orang lain. Komunikasi bisa terjadi secara langsung maupun
tidak langsung, dalam hal ini komunikasi tak langsung memerlukan alat bantu dalam
proses pelaksanaannya. Perkembangan alat bantu dalam berkomunikasi ini terus
mengalami perkembangan dari masa kemasa, hal tersebut dapat dilihat dari kecanggihan
dan kekompleksan komunikasi yang telah ada.

Pada saat ini, kebutuhan akan informasi dari seluruh belahan dunia dengan mudah
didapatkan. Hal tersebut ditunjang oleh kecanggihan alat-alat komunikasi yang telah
ada. Kecanggihan alat-alat komunikasi tentu tak lepas dari peran penyedia layanan
komunikasi. Salah satu alat komunikasi yang telah akrab di telinga kita yaitu telepon
genggam (www.wikipedia.com). Meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam
mendapatkan informasi yang lebih efektif dan efisien, melalui ketersediaan alat-alat
komunikasi, memacu perusahaan telepon genggam berlomba-lomba dalam mengeluarkan
berbagai jenis tipe telepon genggam dengan keunggulannya masing-masing.

Tidak jauh berbeda dengan para pelaku usaha telepon genggam, operator jaringan seluler,
turut serta berlomba-lomba dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen
yang membutuhkan informasi yang efektif dan efisien. Upaya memperbesar pasar
operator jaringan seluler dapat dilihat dengan banyaknya inovasi yang dilakukan oleh
pelaku usaha, misalnya maraknya pelaku usaha menawarkan layanan sms maupun
telepon gratis serta berbagai kemudahan dalam melakukan pengisian pulsa.

Sekarang ini, telepon genggam tidak hanya sekedar digunakan untuk melakukan
komunikasi lisan (panggilan suara). Namun, komunikasi tulis yang lebih akrab dengan
short message servis (SMS). Saat ini kebanyakan pengguna telepon genggam dapat
dikatakan menggunakan layanan suara dan sms. Berbagai produk dan fitur yang menarik,
menyebabkan beberapa kalangan tertentu melihat peluang bisnis yang menjanjikan.

Salah satunya yaitu menyediakan jasa sms premium perlangganan (www.wikipedia.com).


Hadirnya sms premium berlangganan ini mulai menjamur di karenakan para pelaku usaha
menggunakan gaya komunikasi yang persuasif dalam mempromosikan jasa yang mereka
tawarkan, sehingga menarik minat para konsumen. Salah satu teknik jitu pelaku usaha
untuk menggait konsumen yaitu dengan menampilkan orang-orang yang populer atau
menampilkan komunikator yang populer dikalangan masyarakat dalam bentuk promosi
berupa iklan yang ditayangkan di media elektronik. Penyampaian iklan tersebut kepada
masyarakat merupakan suatu proses komunikasi dimana iklan menjadi pesan yang
disampaikan kepada masyarakat dan memberikan efek tertentu kepada masyarakat,
dengan kata lain menarik minat beli dari pihak konsumen.

Namun, sangat disayangkan ketika konsumen mulai merasa dirugikan dengan adanya
misrepresentatif terhadap pelaku usaha penyedia jasa sms premium berlangganan yang
dipromosikan melalui iklan. Kerugian tersebut dialami konsumen di Indonesia
disebabkan karena tergiur oleh iklan sms premium berlangganan yang dipromosikan
dalam bentuk iklan dan brosur, sedangkan iklan atau brosur tersebut tidak selamanya
memuat informasi yang benar, karena pada umumnya menonjolkan kelebihan produk
yang diinformasikan sebaliknya kelemahan produk tersebut ditutup-tutupi.

Dari data yang dimiliki BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia), pengaduan
terbanyak dari masyarakat sepanjang 2009 adalah mengenal banyaknya nomor SMS,
yakni 150 pengaduan. Laporan kedua adalah kesulitan konsumen untuk berhenti
berlangganan atas layanan konten SMS berlangganan yang disediakan penyelenggara
konten, yakni 80-an pengaduan. Ketiga dan keempat adalah mengenal jaringan operator
yang kurang bagus, serta promosi yang tidak sesuai dengan kenyataan atau promo
operator seluler yang menutupi kelemahannya. Namun, yang ketiga dan keempat tidak
dominan. Pengaduan yang dominan mengenal SMS penipuan dan kesulitan unreg atau
berhenti berlangganan layanan dari penyedia konten data berlangganan
(www.bataviase.co.id).

Informasi yang diperoleh konsumen melalui brosur atau iklan dapat menjadi alat bukti
yang dipertimbangkan oleh hakim dalam gugatan konsumen terhadap para pelaku usaha.
Bahkan tindakan pelaku usaha yang berupa penyampaian informasi melalui iklan, secara
tidak benar yang merugikan konsumen, dikategorikan sebagai wanprestasi. Karena, iklan
dianggap sebagai penawaran dan janji janji yang bersifat perjanjian, sehingga isi iklan
tersebut dianggap diperjanjikan dalam ikatan jual-beli meskipun tidak dinyatakan secara
tegas (Ahmadi Miru & Sutarman Yodo.Hal 55.Hukum perlindungan konsumen.
Keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 103/Pdt.G/1997/PN.Jak-Sel). Atas
dasar itulah iklan sms premium berlangganan dapat disebut sebagai suatu perjanjian jual
beli antara pengirim sms, selaku konsumen, dengan penyelenggara sms, selaku pelaku
usaha.

Tujuan dan Manfaat Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
a. Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya hak dari konsumen dan kewajiban
bagi pelaku usaha, berdasarkan UUPK dan Permenkominfo No.1/2009.
b. Untuk mengetahui andil pemerintah dalam menangani dan menanggulangi
kerugian yang dialami konsumen.

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:


a. Hasil penulisan ini diharapkan mampu menggambarkan terpenuhi atau tidaknya
hak dari konsumen dan kewajiban bagi pelaku usaha, berdasarkan UUPK dan
Permenkominfo No.1/2009.
b. Hasil penulisan ini pula diharapkan memberi kontribusi kepada kepemerintah,
dalam hal ini kerugian yang dialami konsumen pengguna sms premium
berlangganan.
B. GAGASAN

Hak konsumen dan kewajiban bagi pelaku usaha (berdasarkan Undang Undang
Perlindungan Konsumen (UUPK) dan Permenkominfo No.1/2009)

Layanan SMS Premium Berlangganan dapat terselenggara dengan adanya kerja sama
antara operator telekomunikasi dengan fixed wireless dan seluler dengan content
provider. SMS Premium Berlangganan mulai berkembang pesat seiring dengan
perkembangan teknologi SMS. Perlahan tetapi pasti, layanan ini mulai menggeser
layanan lainnya yaitu premium call yang dulunya membanjiri pasar. SMS Premium
Berlangganan mulai dikenal oleh masyarakat ketika acara realitas membanjiri
pertelevisian. Awalnya layanan ini hanya digunakan untuk voting saja, namun layanan ini
terus berkembang dengan konten-konten yang sangat menarik. Sampai saat ini, sebagian
besar pengguna telepon seluler di Indonesia menggunakan layanan ini.

Jika dihitung-hitung berapa pemasukan operator dari layanan konten ini, hingga tahun
2010 diperkirakan industri ini di Indonesia akan melonjak 100% dengan market ravenue
mencapai angka triliunan. Jika dibandingkan dengan jumlah konten provider yang
menyediakan layanan ini di Korea dan Jepang yang mencapai angka 10 ribu tentunya
jumlah konten provider penyelenggara layanan ini di Indonesia yang berkisar 200-500
masih belum seberapa, namun jelas masih menunjukkan potensi perkembangan layanan
ini.

Untuk menggunakan layanan ini, konsumen harus memiliki short number yang biasanya
terdiri dari 4 digit atau dikenal juga dengan sebutan Abbreviated Dialling Number
(ADN). Secara umum, tipe layanan berbasis SMS ini dikelompokan menjadi dua yaitu:

1. SMS Pull adalah layanan SMS berbasis request, jadi hanya ketika diminta maka
informasi via SMS tersebut akan dikirim ke pengguna ponsel. Layanan yang
biasa menggunakan model ini seperti ini adalah kuis, polling, atau information on
demand.
2. SMS Push, adalah layanan berbasis langganan dengan cara pendaftaran terlebih
dahulu. Biasanya layanan ini di dahulukan dengan kata ‘REG’. Selanjutnya
selanjutnya secara rutin penyelenggara konten akan mengirimkan SMS secara
rutin ke pelanggan tersebut. Dan baru akan berhenti ketika pelanggan mengirim
permohonan yang biasanya diawali dengan kata ‘UNREG’(www.bataviase.co.id)

Layaknya berbagai pelaku usaha yang mengiklankan berbagai produk unggulannya, sms
premium berlangganan juga turut serta dalam meramaikan dunia periklanan. Iklan tidak
akan ada tanpa adanya pesan. Tanpa pesan, iklan tidak akan berwujud. Pesan yang
disampaikan oleh sebuah iklan, dapat berbentuk perpaduan antara pesan verbal (pesan
yang disampaikan secara lisan maupun tulisan) dan pesan non verbal.

Di mata hukum, iklan dapat pula menjadi salah satu alat bukti yang dipertimbangkan oleh
hakim dalam gugatan konsumen terhadap pelaku usaha, dengan dasar tuntutan
wanprestasi. Iklan dianggap sebagai penawaran dan janji-janji yang bersifat perjanjian,
sehingga isi iklan tersebut dianggap diperjanjikan dalam ikatan jual beli meskipun tidak
dinyatakan secara tegas (Ahmadi Miru & Sutarman Yodo.Hal 56.Hukum perlindungan
konsumen. Keputusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 502/PDT.G/1991/PN.SBY).
Namun, sangat disayangkan ketika iklan yang ditanyangkan dalam media cetak maupun
elektronik terkadang tidak sesuai dengan kenyataan dalam penggunaan kesehariannya.
Salah satu contoh yang sering terlihat yaitu, sms premium berlangganan terkadang
menampilkan biaya yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh penulis, lebih dari 60% konsumen menjawab
bahwa pelaku usaha/penyelenggara sms premium berlangganan melakukan wanprestasi
dalam mengiklankan jasa sms premium berlangganan tersebut karena tidak sesuai dengan
pesan yang disampaikan dalam bentuk iklan. Jika representasi tentang fakta dalam iklan
adalah salah, yang diharapkan untuk membujuk pembelian barang yang diiklankan, dan
bujukan pembelian tersebut merugikan pembeli, serta dibuat atas dasar tindakan
kecurangan dan penipuan sering disebut dengan false advertising.

Berdasarkan UUPK Pasal 12, yang menyatakan bahwa, “Pelaku usaha dilarang
menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan suatu barang dan/atau jasa dengan
harga atau tarif khusus dalam waktu dan jumlah tertentu, jika pelaku usaha tersebut tidak
bermaksud untuk melaksanakannya sesuai dengan waktu dan jumlah yang ditawarkan,
dipromosikan, atau diiklankan.”

Pelaku usaha dilarang melakukan hal tersebut, untuk menghindari kekacauan tertib
perdagangan dan iklim usaha yang tidak sehat, disamping melindungi konsumen dari
kegiatan menyesatkan. Atas perilaku yang tidak benar seperti itu, dengan sendirinya
dikualifikasi sebagai perbuatan melawan hukum, disamping dapat juga dituntut
melakukan wanprestasi.

Biaya/tarif
tidak sesuai
(61%)

sesuai (19%)

tidak menjwb
(21%)

Jika dilihat secara terperinci, metode yang digunakan sebagian besar pelaku usaha sms
premium berlangganan dalam prosedur pembuatan perjanjian adalah secara sepihak yang
lebih dikenal dengan sebutan klausula baku. Menurut Undang Undang Perlindungan
Konsumen (UUPK) Pasal 1 angka 10, klausula baku adalah:

Klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat syarat yang telah
dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha
yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan
wajib dipenuhi oleh konsumen.

Dalam penggunaan kontrak baku/klausula baku, kebebasan untuk melakukan kontrak


serta pemberian kesepakatan terhadap kontrak tersebut tidak dilakukan sebebas dengan
perjanjian yang dilakukan secara langsung dengan melibatkan para pihak dalam
menegosiasikan klausula perjanjian.

Kebebasan pelaku usaha dalam menetapkan secara sepihak perjanjian yang akan
disepakati oleh kedua belah pihak (pelaku usaha - konsumen), terkadang dimanfaatkan
oleh pelaku usaha untuk melalaikan atau mengalfakan dirinya dalam menunaikan
kewajibannya sebagai pelaku usaha. Perbuatan tersebut lebih dikenal sebagai klausula
eksonerasi dimana salah satu pihak menghindarkan diri untuk memenuhi kewajibannya
membayar ganti rugi seluruhnya atau terbatas, yang terjadi karena ingkar janji atau
perbuatan melanggar hukum. (Ahmadi Miru & Sutarman Yodo.Hal 114. Hukum
perlindungan konsumen. Mariam Darus Badrulzaman. Aneka Hukum Bisnis)

Penyelenggara sms premium berlangganan merupakan salah satu contoh nyata yang
menggunakan klausa eksonerasi. Dapat dibuktikan dari banyaknya konsumen yang
merasa dirugikan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil survei penulis.

70
60
50
40
30
20
10
0
li t
ka eli an tia
n
at
u tb tifk n Ya
is eli ak r he
r rb n be Tidak
da be no m
ih ya e- pe Tidak menjawab
m
leb rn lit da
n
an edu su n
r im os ra
ng
i pr aft
a
pe end
ap
b iay
n
naa
n ge
pe

Berdasarkan data tersebut dapat kita lihat bahwa terjadi pelanggaran hukum berdasarkan
Permenkominfo Nomor 1/2009.
Pada pasal 14 yang berbunyi:
Dalam hal pengguna meminta untuk berhenti berlangganan (deaktivasi) jasa
pesan premium, penyelenggara jasa pesan premium wajib menghentikan
layanannya segera setelah permintaan berhenti berlangganan
(deregistrasi/deaktivasi) diterima dengan lengkap.
Sebanyak 54% responden, menyatakan bahwa sms premium berlangganan yang mereka
ikuti sangat sulit untuk diberhentikan walaupun konsumen telah mengirim sms
pemberhentian (deregistrasi/deaktivasi) secara tepat.

Terlebih pula, jika saja konsumen mengirimkan pembatalan secara tidak tepat, pelaku
usaha seharusnya memberikan informasi melalui sms atau mms mengenai cara
pemberhentian secara tepat tanpa dikenakan biaya berdasarkan Permenkominfo Nomor
1/2009. Sedangkan 53% responden, menyatakan sebaliknya, mereka merasa
penyelenggara sms premium berlangganan menyulitkan konsumen untuk
memberhentikan langganan tersebut.
Pasal 15 yang berbunyi:
Penyelenggara jasa pesan premium dilarang mengenakan biaya pendaftaran
(registrasi/aktivasi) berlangganan.
Sedangkan sebanyak 37% konsumen, menyatakan bahwa sms premium berlangganan
yang mereka ikuti membebankan biaya pendaftaran berlangganan.
Berdasarkan UUPK pasal 4, konsumen selayaknya memiliki kurang lebih delapan macam
hak, salah satunya yaitu mengenai hak untuk memperoleh informasi, hak untuk
mendapatkan barang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan, dan hak untuk didengar.

Namun, sebagian besar penyelenggara sms premium berlangganan memberikan informasi


secara tidak tepat dengan tidak mencantumkan hal-hal apa saja yang seharusnya
konsumen ketahui. Seperti halnya, tarif dan proses pemberhentian layanan yang telah
dipaparkan sebelumnya. Padahal tidak memadainya informasi yang didapatkan konsumen
merupakan salah satu bentuk cacat produk, yaitu yang dikenal dengan cacat intruksi atau
cacat karena informasi yang tidak memadai.

Selain itu pula sebagian besar penyelenggara sms premium berlangganan tidak
mencantumkan call center/customer care atau layanan pengaduan yang dapat digunakan
oleh konsumen yang membutuhkan. Hal tersebut dapat dilihat dari 67% responden
menyatakan tidak mengetahui secara pasti lembaga yang menaungi pengaduan keluhan
konsumen terhadap sms premium berlangganan. Padahal penyediaan call
center/customer care atau layanan pengaduan dapat digunakan konsumen untuk
menghindarkan diri dari kerugian. Hak ini pula dapat berupa pertanyaan pertanyaan
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila informasi
yang diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, ataukah berupa pengaduan atas
adanya kerugian yang telah dialami akibat penggunaan suatu produk, atau yang berupa
pernyataan/pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
kepentingan konsumen.

pengaduhan keluhan
mengadu
tidak mengadu

Kurangnya call center/customer care atau layanan pengaduan yang disediakan oleh
penyelenggara menyebabkan 73% responden pengguna sms premium berlangganan
menyatakan tidak pernah mengadukan ataupun menanyakan perihal sms premium
berlangganan yang mereka ikuti.
yang pernah mengadukan

ya
tidak

60
alasan tidak mengadukan
50
40
30
20
10
0

Eksistensi Permenkominfo No.1/2009 dalam mengatur jasa penyelenggara sms


premium berlangganan

Regulasi terhadap aturan penyelenggaraan sms berlangganan yang dituangkan dalam


Permenkominfo No.1/2009 merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk menjaga
kesinambungan industri telekomunikasi. Namun tetap memperhatikan perlindungan
konsumen mengingat era broadband sudah di depan mata dan posisi konten akan menjadi
signifikan. Selain adanya kode etik yang dimiliki oleh Indonesia Mobile Content and
Online Content Provider Association (IMOCA) dan perjanjian kerjasama (PKS) antara
penyelenggara sms berlangganan dengan para operator.

Implementasi dari Permenkominfo No.1/2009 diserahkan sepenuhnya kepada Badan


Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk mengawasi dan memberikan sanksi
administratif berupa pencabutan izin dan larangan untuk menyelenggarakan jasa sms
premium berlangganan terhadap pelanggaran terhadap Permenkominfo No. 1/2009. Hal
ini berbeda dengan praktik sebelum diberlakukannya Permenkominfo No. 1/2009 dimana
izin untuk penyelenggaraan sms berlangganan diberikan oleh para operator sehingga
BRTI hanya bisa mengeluarkan peringatan dan meminta operator mencabut kode akses
para penyelenggara konten tersebut.
Berdasrakan data BRTI, pengaduan terbanyak dari masyarakat pengguna seluler adalah
SMS penipuan dan kesulitan deaktivasi (unreg) atau berhenti berlangganan layanan dari
penyedia konten data berlangganan (http://bataviase.co.id). Menanggapi kesulitan dalam
deaktivasi sms berlangganan sudah sepatutnya para penyelenggara memberikan
pendidikan konsumen tentang prosedur berlangganan melalui iklan-iklan yang
menawarkan konten-konten sms berlangganan.

Iklan sebagai salah satu bentuk informasi, merupakan alat bagi penyelenggara sms
premium berlangganan untuk memperkenalkan konten-kontennya serta mempengaruhi
masyarakat untuk melakukan aktivasi berlangganan. Namun timbul masalah ketika iklan
tersebut tidak selamanya memberikan informasi yang benar atau lengkap tentang sms
berlangganan tersebut, sehingga masyarakat selaku konsumen dapat saja dirugikan.
Sebuaah iklan sms premium berlangganan seharusnya menyebutkan secara jelas tentang
besaran tarif, layanan, cara deaktivasi, dan nomor call center.

Meskipun telah secara jelas telah diatur dalam Permenkominfo No.1/2009,


implementasinya pada iklan-iklan yang menawarkan sms berlangganan masih bisa
menimbulkan kerugian pada konsumen. Sebab keterangan mengenai biaya per konten,
frekuensi pengiriman konten, cara deaktivasi dan akses call centre yang belum cukup
jelas. Terbukti dengan informasi mengenai hal-hal tersebut sangat kecil dan sulit untuk
dibaca oleh masyarakat sehingga yang ditampilkan hanyalah kelebihan-kelebihan dari
konten-konten yang ditawarkan oleh penyelenggara sedangkan prosedur yang
ditampilkan kurang lengkap sehingga dapat menyesatkan.

Ikatan Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile (Hal ini tercakup pula pelaku usaha
sms premium berlangganan) dalam kode etiknya mengatur tentang prosedur iklan yang
harus ditaati oleh para anggotanya guna menjaga persaingan usaha yang sehat antara
penyedia layanan konten mobile dan pemenuhan perlindungan konsumen. Dalam salah
satu klausulanya disebutkan bahwa informasi tentang prosedur berlangganan dalam
sebuah iklan layanan konten harus 30 persen atau lebih dari iklan yang ditayangkan.
Namun ketentuan tersebut hanya berlaku terhadap anggota IMOCA saja, sedangkan
masih banyak penyedia konten yang belum menjadi anggota IMOCA.

Kode etik IMOCA dirasakan lebih spesifik jika dibandingkan dengan Permenkominfo
No.1/2009. Diharapkan kedepannya kode etik IMOCA dapat menjadi standar baku
terhadap penyedia/penyelenggara sms berlangganan. Jika Permenkominfo No.1/2009
direvisi dengan menambahkan beberapa klausula yang terdapat pada IMOCA yang
mengatur tentang tata cara promosi sms berlangganan dan hal-hal tidak dibolehkan dalam
konten sms berlangganan. Maka kerugian konsumen dapat diminimalisasi baik sebelum
dan setelah melakukan aktivasi sms berlangganan.

Kandungan aturan dalam IMOCA menetapkan bahwa layanan konten mobile


berlangganan, pada reply konfirmasi berlangganan mewajibkan pencantuman informasi
tarif layanan, frekuensi pengiriman, akses customer care, dan cara berhenti berlangganan.
Selain itu IMOCA telah membatasi pengiriman konten melebihi dari Rp. 5,000 per hari
atau maksimum 5 kali push konten untuk masing-masing jenis Layanan Konten Mobile
Berlangganan. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, sebanyak 54% responden yang
menyatakan bahwa penyelenggara sms premium berlangganan menyulitkan para
konsumen untuk memberhentikan layanan yang mereka ikuti akibat meminta keyword
yang tepat untuk memberhentikan layanan tersebut. Banyaknya keluhan tersebutlah yang
mungkin membuat IMOCA, mencantumkan beberapa aturan yang memudahkan
konsumen untuk memberhentikan layanan tersebut.
Aturan-aturan tersebut mencakup mengenai prosedur berhenti. Layanan konten mobile
berlangganan harus dapat dilakukan oleh Konsumen dengan metode yang mudah dan
disediakan melalui cara otomatis maupun manual, bila konsumen mengirimkan sms berisi
pesan STOP (ataupun STOP yg diikuti dengan keyword lain), maka harus menghentikan
pengiriman semua layanan konten mobile berlangganan yang terdaftar pada Perusahaan
penyedia layanan konten mobile terkait kepada konsumen tersebut, perusahaan penyedia
layanan konten mobile berkewajiban memonitor pesan-pesan yang masuk dari konsumen,
bila terdapat  pesan yang berisi indikasi untuk menghentikan layanan, maka Perusahaan
penyedia layanan konten mobile berkewajiban secara proaktif menghentikan semua
layanan konten mobile berlangganan kepada konsumen tersebut selambatnya dalam  5
hari kerja.

Oleh sebab itulah, ditinjau dari kelebihan dari aturan yang dimiliki oleh kode etik
IMOCA jika dibandingkan dengan Permenkominfo No.1 2009, menurut penulis, merasa
pentingnya penerbitan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal-hal
yang berkaitan dengan perlindungan konsumen, dalam hal ini pengguna sms premium
berlangganan, secara spesifik.

Penyelesaian Sengketa Berdasarkan Undang Undang No.8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen (UUPK)

Selain kurangnya pasal-pasal yang mengatur mengenai proses layaknya penyediaan jasa
sms premium berlangganan dalam Permenkominfo No.1 2009, terdapat pula kelemahan
lainnya yaitu mengenai penyelesaian sengketa terhadap kerugian yang dialami oleh
konsumen pengguna jasa sms premium berlangganan yang tidak dituangkan secara jelas
dalam aturan tersebut.

Jika dikaitkan dalam penyelesaian sengketa dengan menggunakan Undang Undang No.8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). UUPK memberi dua macam
ruang untuk penyelesaian sengketa konsumen yaitu penyelesaian sengketa melalui diluar
pengadilan dan penyelesaian didalam pengadilan. Berdasarkan pemaparan pasal 45 ayat
(1) UUPK, penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dapat ditempuh dengan
dua cara yaitu penyelesaian tuntutan ganti kerugian seketika dan penyelesaian ganti
kerugian melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

Tahapan penyelesaian perkara mengenai sms premium berlangganan, berdasarkan


UUPK, diawali dengan penyelesaian sengketa diluar pengadilan dan jika tidak menemui
titik temu dapat diselesaikan didalam pengadilan. Adapun tahapan diluar pengadilan
diawali melalui ganti kerugian seketika, dimana konsumen yang merasa dirugikan dapat
menuntut secara langsung penggantian kerugian kepada pelaku usaha dan pelaku usaha
harus memberi tanggapan dan atau penyelesaian dalam jangka waktu tujuh hari setelah
transaksi berlangsung. Jika tahap ini tidak dapat menemukan titik temu maka dilakukan
langkah-langkah pelimpahan kepada BPSK. Dari bagan alur penyelesaian sengketa
konsumen melalui BPSK, ada 3 cara yang dilakukan dalam menindaklanjuti penyelesaian
sengketa konsumen. (Lihat Bagan I. Hal 14)

Pertama konsiliasi dimana bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan, supaya kedua


belah pihak dapat melewati perselisihan tersebut. Karena proses konsiliasi
memperbolehkan kedua belah pihak yang berselisih untuk membicarakan masalah
mereka, maka ini memungkinkan bagi salah satu pihak untuk mendapatkan pengertian
yang lebih baik atas pihak yang lain. Ini dapat membantu menghilangkan salah
pengertian yang dikarenakan prasangka atau informasi yang tidak benar untuk mencapai
perubahan sikap yang nyata. Semua informasi yang didapatkan dalam proses konsiliasi
akan dijaga kerahasiaannya dan tidak akan dibuat sebagai bagian dari proses peradilan.
Pertemuan konsiliasi adalah pertemuan suka rela. Jika pihak yang bersangkutan mencapai
perdamaian, maka perjanjian perdamaian yang ditandatangani oleh pihak yang
bersangkutan merupakan kontrak yang mengikat secara hukum. Perdamaian dalam
pertemuan konsiliasi dapat berupa permintaan maaf, perubahan kebijaksanaan dan
kebiasaan, memeriksa kembali prosedur kerja, memperkerjakan kembali, ganti rugi uang,
dsb.

Kedua, Mediasi adalah proses negosiasi penyelesaian masalah (sengketa) dimana suatu
pihak luar, tidak memihak, netral, tidak bekerja dengan para pihak yang bersengketa,
membantu mereka (yang bersengketa) mencapai suatu kesepakatan hasil negosiasi yang
memuaskan, penyelesaian sengketa melalui proses ini dibantu oleh yang di sebut sebagai
mediator. Ketiga, penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK dilakukan dalam
bentuk majelis. Bentuk majelis artinya sengketa konsumen diperiksa dan diputuskan
sekurang kurangnya tiga anggota BPSK sebagai majelis dan dibantu seorang panitera.
Sehingga pemeriksaan perkara konsumen mirip seperti pemeriksaan oleh hakim
dipengadilan. Oleh sebab itu, BPSK dapat disebut peradilan semu.

Pemeriksaan tersebut dilakukan sesegara mungkin dan dalam waktu 21 hari kerja
terhitung sejak gugatan dimasukkan, majelis BPSK sudah harus memberikan
keputusannya. Putusan yang diberikan sudah bersifat final (in kracht fan gewijsde),
langsung mengikat dan tidak dapat dibanding lagi. Segera setelah putusan diucapkan,
maka dimintalah penempatan eksekusinya kepada pengadilan negeri ditempat tergugat
berkediaman. Hal ini tentu diperlukan mengingat BPSK tidak mempunyai lembaga
eksekusi. Namun demikian, jika salah satu pihak merasa tidak puas terhadap putusan
yang telah ditetapkan oleh BPSK maka para pihak diberikan kemungkinan untuk
mengajukan keberatannya kepada pengadilan negeri setempat paling lambat 14 hari kerja
setelah ia menerima putusan tersebut. Masuknya perkara kepengadilan negeri
mengartikan bahwa putusan yang dihasilkan oleh BPSK tidak selamanya bersifat final (in
kracht fan gewijsde) sesuai dengan pasal 54 ayat (3) UUPK. Hal inilah yang menjadi
kelemahan bagi BPSK tersebut.

Selain itu, masyarakat sebagai konsumen seharusnya diberikan pendidikan tentang cara
pengaduan terhadap kerugian yang dialami. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
BPSK menyebabkan sedikitnya masyarakat yang mengadu. Suatu hal yang perlu menjadi
sorotan pula, yakni kewenangan BPSK yang dirasakan belum dilaksanakan secara
maksimal. Sedangkan jika dilakukan melalui pengadilan seperti yang telah diketahui
bersama bahwa biaya perkara pada pengadilan negeri sangat mahal dan berbelit-belit
sedangkan kerugian yang dialami konsumen tidak akan sebanding dengan biaya perkara
yang akan dikeluarkan jika tuntutan ganti tersebut dilayangkan pada pengadilan negeri.

Sebagai alternative dalam menstimulus masyarakat untuk lebih memperhatikan


pemenuhan haknya maka pemerintah dapat mengadakan sebuah small court (pengadilan
kecil) yang dipimpin oleh seorang hakim yang berkompeten untuk menangani pengaduan
konsumen terhadap kerugian yang dialami. Sehingga perkara-perkara yang kerugiannya
kurang dari sepuluh juta rupiah tetap dapat disidangkan dengan dan undang-undang
perlindungan konsumen beserta sanksi-sanksinya benar-benar terealisasi dalam
masyarakat bukan hanya untuk kalangan tertentu saja atau bahkan menjadi undang-
undang yang berlaku dalam tataran normatif saja namun sangat berbeda dengan faktanya.
Small court, terdiri dari seorang hakim tunggal dimana hakim bersifat menunggu dan
pasif. Prakarsa untuk mengajukan gugatan atau tuntutan hak diserahkan sepenuhnya
kepada yang berkepentingan. Jadi, manakala tak ada tuntutan hak atau gugatan, maka
tidak akan ada small court tersebut. Dengan kata lain, hakim bersifat menunggu
datangnya tuntutan hak yang diajukan kepadanya. Hakim bersifat pasif, dimana ruang
lingkup/hal pokok sengketa yang diajukan kepada hakim untuk diperiksa pada asasnya
ditentukan oleh pihak-pihak yang berperkara dan bukan oleh hakim. Akan tetapi hal ini
tidak berarti bahwa hakim sama sekali tidak aktif. karena hakim selaku pemimpin sidang
harus aktif, memimpin pemeriksaan perkara. Small court memiliki tahap layaknya BPSK
pula yaitu melalui tahap mediasi.

Proses persidangannya berasas cepat, tepat, dan biaya murah. Asas tersebut penting bagi
mereka yang berperkara di small court karena perkara yang telah masuk tidak akan
tertumpuk serta tidak berlarut-larut penyelesaiannya. Seandainya banyak perkara yang
tertumpuk, maka akan memakan waktu yang lama dan akhirnya dari lamanya waktu
tersebut mengakibatkan biaya tidak sedikit.

Small court ini dibawahi oleh Pengadilan negeri setempat, namun dalam prosesnya hanya
terbatas di tingkat pertama saja. Hal ini disesuaikan dengan besar kerugian yang dialami
konsumen sebab jika proses persidangan dilanjutkan hingga ketingkat dua apalagi hingga
ke Mahkamah Agung, kiranya dapat memakan biaya lebih besar dibanding kerugian yang
dialami oleh konsumen. Semua putusan small court harus memuat alasan dan dasar,
memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau
sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Alasan-alasan yang
dimaksud itu adalah sebagai pertanggungjawaban hukum kepada rakyat, karena hal
tersebut memiliki nilai obyektif.

Keberadaan small court memunculkan banyak kemudahan yang dapat dirasakan oleh
masyarakat terutama masyarakat yang banyak dirugikan oleh provider content yang tidak
bertanggung jawab, small court akan berjalan sebagaimana mestinya jika pemerintah ikut
aktif dalam mempublikasikan keberadaan dari small court tersebut. Sehingga masyarakat
mengetahui kemana mereka harus mengadukan atau menuntut keadilan yang seadil-
adilnya. Keberadaan small court dapat pula menjadi salah satu solusi untuk menutupi
kekurangan eksistensi BPSK.
C. KESIMPULAN

Iklan sebagai salah satu bentuk informasi, merupakan alat bagi penyelenggara sms
premium berlangganan untuk memperkenalkan konten-kontennya serta mempengaruhi
masyarakat untuk melakukan aktivasi berlangganan. Namun timbul masalah ketika iklan
tersebut tidak selamanya memberikan informasi yang benar atau lengkap tentang sms
berlangganan tersebut, sehingga masyarakat selaku konsumen dapat saja dirugikan.
Sebuaah iklan sms premium berlangganan seharusnya menyebutkan secara jelas tentang
besaran tarif, layanan, cara deaktivasi, dan nomor call center.

Meskipun telah secara jelas telah diatur dalam Permenkominfo No.1/2009,


implementasinya pada iklan-iklan yang menawarkan sms berlangganan masih bisa
menimbulkan kerugian pada konsumen. Sebab keterangan mengenai biaya per konten,
frekuensi pengiriman konten, cara deaktivasi dan akses call centre yang belum cukup
jelas. Terbukti dengan informasi mengenai hal-hal tersebut sangat kecil dan sulit untuk
dibaca oleh masyarakat sehingga yang ditampilkan hanyalah kelebihan-kelebihan dari
konten-konten yang ditawarkan oleh penyelenggara sedangkan prosedur yang
ditampilkan kurang lengkap sehingga dapat menyesatkan.

Kode etik IMOCA dirasakan lebih spesifik jika dibandingkan dengan Permenkominfo
No.1/2009. Diharapkan kedepannya kode etik IMOCA dapat menjadi standar baku
terhadap penyedia/penyelenggara sms berlangganan. Jika Permenkominfo No.1/2009
direvisi dengan menambahkan beberapa klausula yang terdapat pada IMOCA yang
mengatur tentang tata cara promosi sms berlangganan dan hal-hal tidak dibolehkan dalam
konten sms berlangganan. Maka kerugian konsumen dapat diminimalisasi baik sebelum
dan setelah melakukan aktivasi sms berlangganan.

Tahapan penyelesaian perkara mengenai sms premium berlangganan, berdasarkan


UUPK, diawali dengan penyelesaian sengketa diluar pengadilan dan jika tidak menemui
titik temu dapat diselesaikan didalam pengadilan. Adapun tahapan diluar pengadilan
diawali melalui ganti kerugian seketika, dimana konsumen yang merasa dirugikan dapat
menuntut secara langsung penggantian kerugian kepada pelaku usaha dan pelaku usaha
harus memberi tanggapan dan atau penyelesaian dalam jangka waktu tujuh hari setelah
transaksi berlangsung. Jika tahap ini tidak dapat menemukan titik temu maka dilakukan
langkah-langkah pelimpahan kepada BPSK. Dari bagan alur penyelesaian sengketa
konsumen melalui BPSK, ada 3 cara yang dilakukan dalam menindaklanjuti penyelesaian
sengketa konsumen yaitu mediasi, konsiliasi, dan penyelesaian sengketa dalam bentuk
majelis.

Bentuk majelis artinya sengketa konsumen diperiksa dan diputuskan sekurang kurangnya
tiga anggota BPSK sebagai majelis dan dibantu seorang panitera. Sehingga pemeriksaan
perkara konsumen mirip seperti pemeriksaan oleh hakim dipengadilan. Oleh sebab itu,
BPSK dapat disebut peradilan semu. Pemeriksaan tersebut dilakukan sesegara mungkin
dan dalam waktu 21 hari kerja terhitung sejak gugatan dimasukkan, majelis BPSK sudah
harus memberikan keputusannya. Putusan yang diberikan sudah bersifat final (in kracht
fan gewijsde), langsung mengikat dan tidak dapat dibanding lagi. Segera setelah putusan
diucapkan, maka dimintalah penempatan eksekusinya kepada pengadilan negeri ditempat
tergugat berkediaman. Hal ini tentu diperlukan mengingat BPSK tidak mempunyai
lembaga eksekusi.

Namun demikian, jika tidak puas terhadap putusan yang telah ditetapkan oleh BPSK
maka para pihak diberikan kemungkinan untuk mengajukan keberatannya kepada
pengadilan negeri setempat paling lambat 14 hari kerja setelah ia menerima putusan
tersebut. Masuknya perkara kepengadilan negeri mengartikan bahwa putusan yang
dihasilkan oleh BPSK tidak selamanya bersifat final (in kracht fan gewijsde) sesuai
dengan pasal 54 ayat (3) UUPK. Hal inilah yang menjadi kelemahan bagi BPSK tersebut.

Selain itu, masyarakat sebagai konsumen seharusnya diberikan pendidikan tentang cara
pengaduan terhadap kerugian yang dialami. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
BPSK menyebabkan sedikitnya masyarakat yang mengadu. Suatu hal yang perlu menjadi
sorotan pula, yakni kewenangan BPSK yang dirasakan belum dilaksanakan secara
maksimal. Sedangkan jika dilakukan melalui pengadilan seperti yang telah diketahui
bersama bahwa biaya perkara pada pengadilan negeri sangat mahal dan berbelit-belit
sedangkan kerugian yang dialami konsumen tidak akan sebanding dengan biaya perkara
yang akan dikeluarkan jika tuntutan ganti tersebut dilayangkan pada pengadilan negeri.

Sebagai alternative dalam menstimulus masyarakat untuk lebih memperhatikan


pemenuhan haknya maka pemerintah dapat mengadakan sebuah small court (pengadilan
kecil) yang dipimpin oleh seorang hakim yang berkompeten untuk menangani pengaduan
konsumen terhadap kerugian yang dialami. Sehingga perkara-perkara yang kerugiannya
kurang dari sepuluh juta rupiah tetap dapat disidangkan dengan dan undang-undang
perlindungan konsumen beserta sanksi-sanksinya benar-benar terealisasi dalam
masyarakat bukan hanya untuk kalangan tertentu saja atau bahkan menjadi undang-
undang yang berlaku dalam tataran normatif saja namun sangat berbeda dengan faktanya.
Small court ini dibawahi oleh Pengadilan negeri setempat, namun dalam prosesnya hanya
terbatas di tingkat pertama saja. Keberadaan small court dapat pula menjadi salah satu
solusi untuk menutupi kekurangan eksistensi BPSK.
ALUR PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN MELALUI BPSK

Pengajuan Pengajuan ke
Pengaduan PN

Pengaduan
Konsumen Ke BPSK Putusan PN
UUPK.Ps.58 ayat 2

Konsiliasi Mediasi Arbitrase

Pengajuan
Kasasi ke MA
Sepakat

BPSK memberikan Putusan MA


keputusan (UUPK Ps.54
ayat 3)

Pengaduan
Putusan Selesai di
BPSK Tangani

Para Pihak Wajib


Melaksanakan Putusan

Pelaksanaan
Putusan

Tidak dilaksanakan BPSK Meminta


Bantuan
Penyidikan
Pengaduan Selesai Ditangani Kriminalisasi
UUPK Ps.56
ayat 4
DAFTAR PUSTAKA

Ali ahmad.2008.Menguak Tabir Hukum.Bogor:Ghalia Indonesia


Amiruddin.Zainal.2003.Pengantar Metode Penelittian Hukum.Mataram:Raja
Grafindo Persada.
Miru ahmadi.Sutarman.2004.Hukum Perlindungan Konsumen.Jakarta:Raja
Grafindo Persada.
Subekti.2008.Hukum Perjanjian.Jakarta:Intermasa
www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 24 Februari 2010. Pukul 02.00
www.bataviase.co.id. Diakses pada tanggal 20 Februari 2010. Pukul 13.30
http://bataviase.co.id .Diakses pada tanggal 20 Februari 2010.Pukul 14.00
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Nama : MUHAMMAD NUR UDPA


NIM : B 111 07 173
Jurusan : Ilmu Hukum
Universitas : Hasanuddin
Alamat : Jl.Pampang 4 No.50 Makassar
Telepon : 085255391161
Tempat Tanggal Lahir : Pinrang,19 Desember 1989

Pendidikan Formal :

SD : SD Sudirman 1 Makassar 1998 - 2001


SMP : SLTPN 02 Makassar 2001 – 2004
SMU : SMAN 01 Makassar 2004 - 2007
PT : Fakultas Hukum UNHAS 2007 – Sekarang

Pendidikan NonFormal :
English Course in Briton
Pengalaman Organisasi :
Gojukai FH-UH
Prestasi yang pernah diraih :
2. Nama : ISTIHANAH MARWAN
NIM : B 1 1 1 0 7 172
Jurusan : Ilmu Hukum
Universitas : Hasanuddin
Alamat : Jl.Monemmysaelan 3 graha.H.Permai blok D No.9
Tlp : 08991576888
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta,27 Juli 1988

Pendidikan Formal :

SD : SD Tabaringan 05 Makassar 1998-2001


SMP : SMP 07 Makassar 2001-2004
SMA : SMA 04 Makassar 2004-2007
PT :Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin 2007-sekarang

Pendidikan Non Formal :


1. English course in Excellent
2. English course in ELC
3. Pelatihan Kepemimpinan Dasar di SMAN 04 Makassar

Pengalaman Organisasi :
1. Osis SMPN 07 Makassar
2. Osis SMAN 04 Makassar
3. Paduan suara SMAN 04 Makassar

Prestasi :
1. Juara 1 cerdas cermat Matematika tingkat SD se-kecematan Ujung
Tanah
2. Peserta Lomba mading tingkat SMP ikip
3. Juara 1 cerdas cermat agama tingkat SD se-kecematan
4. Peserta olimpiade matematika tingkat SMA Makassar
5. Juara 1 lomba bahasa inggris acara telkomsel di SMK 4 Makassar
6. Peserta PKM kewirausahaan
3. Nama : A.DEWI VITASARY.P.
NIM :B11107200
Jurusan : Ilmu Hukum
Universitas : Hasanuddin
Alamat : Jl.Toa Daeng III No 70 Makassar
Tlp : 08124263780
Tempat/tanggal lahir : Makassar, 8 Juni 1989

Pendidikan Formal :
SD : SD NEGERI BATUA II MAKASSAR 1998-2001
SMP : SMP NEGERI 8 MAKASSAR 2001-2004
SMA : SMA NEGERI 5 MAKASSAR 2004-2007
PT : Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin 2007-sekarang

Pendidikan Nonformal :

1. Basic Study Skill Hasanuddin University


2. English course in AKBA

Pengalaman Organisasi :
1. PASKIBRA SMAN 5 Makassar
2. ALSA ( Asian Law Student Association )
3. Unit Kegiatan Bola Fakultas Hukum Unhas ( UKM Bola FH-UH )
4. IMPS ( Ikatan Mahasiswa Pelajar SOPPENG)
Lampiran

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA


REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
NOMOR: 01 /PER/M.KOMINFO/01/2009
TENTANG
PENYELENGGARAAN JASA PESAN PREMIUM DAN PENGIRIMAN JASA
PESANSINGKAT (SHORT MESSAGING SERVICE/SMS) KE BANYAK
TUJUAN (BROADCAST)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA,
Menimbang a. bahwa perkembangan teknologi telekomunikasi dan diversifikasi
penyelenggaraan jasa telekomunikasi mengakibatkan timbulnya
jenis jasa telekomunikasi baru, yaitu penyelenggaraan jasa pesan
premium yang terdiri atas jasa pesan singkat (short messaging
service/sms) dan jasa pesan multimedia (multimedia messaging
service/mms) yang diselenggarakan dengan pengenaan tarif
premium, serta pengiriman jasa pesan singkat (short messaging
service/sms) ke banyak tujuan (broadcast),
b. bahwa untuk keperluan perlindungan terhadap pelanggan,
penyelenggaraan jasa pesan premium dan pengiriman jasa pesan
singkat (short messaging service/sms) ke banyak tujuan
(broadcast)
perlu diatur penyelenggaraannya;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan huruf b, dipandang perlu ditetapkan Peraturan
Menteri
Komunikasi dan Informatika tentang Penyelenggaraan Jasa Pesan
Premium dan Pengiriman Jasa Pesan Singkat (Short Messaging
Service/SMS) ke Banyak Tujuan (Broadcast)
Mengingat 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 36 Tahun 1999
tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3881);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4843);
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 52 Tahun 2000
tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran
NegaraRepublik Indonesia Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3980);
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 53 Tahun 2000
tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3981);
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor; 9 Tahun 2005
tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi, Susunan Organisasi, dan
Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor: 20
Tahun 2008;
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 10 Tahun 2005
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara
Republik Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor: 21 Tahun 2008;
7. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM.20 Tahun 2001
tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunisasi sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan
Informatika Nomor: 30/Per/M.KOMINFO/10/2008;
8. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM,21 Tahun 2001
tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan
Informatika Nomor: 31/Per/M.KOMINFO/10/2008;
9. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor:
03/P/M.Kominfo/5/2005 tentang Penyesuaian Kata Sebutan pada
Beberapa Keputusan/Peraturan Menteri Perhubungan yang
Mengatur Materi Muatan Khusus di Bidang Pos dan
TelekomuniKasi;
10.Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor:
25/P/M.KOMINFO/07/2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Komunikasi dan Informatika;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
TENTANG PENYELENGGARAAN JASA PESAN PREMIUM.
BABI
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :
1. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman dan atau penerimaan
dari
setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, ¡syarat, tulisan, gambar, suara, dan
bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya;
2. Jasa telekomunikasi adalah layanan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan
bertelekomunikasi dengan menggunakan jaringan telekomunikasi;
3 Jaringan telekomunikasi adalah rangkaian perangkat telekomunikasi dan
kelengkapannya yang digunakan dalam rangka bertelekomunikasi;
4. Penyelenggara telekomunikasi adalah perseorangan, koperasi, badan usaha
milik
daerah, badan usaha milik negara, badan usaha swasta, instansi pemerintah, dan
instansi pertahanan keamanan negara;
5. Penyelenggaraan telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan pelayanan
telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi;
6. Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan atau
pelayanan jaringan telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya
telekomunikasi;
7. Penyelenggaraan jasa telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan atau
pelayanan jasa telekomunikasi yang memungkinkan terselenggaranya
telekomunikasi;
8. Penyelenggaraan jasa teleponi dasar adalah penyelenggaraan jasa telepon yang
menggunakan teknologi circuit-switched yaitu telepon, faksimu, teleks dan
telegraf;
9. Penyelenggaraan jasa pesan singkat (short messaging service/sms) adalah
penyelenggaraan jasa telekomunikasi berupa pengiriman dan atau penerimaan
pesan singkat berupa teks melalui jaringan telekomunikasi;
10. Penyelenggaraan jasa pesan multimedia (multimedia messaging service/mms)
adalah penyelenggaraan jasa telekomunikasi berupa pengiriman dan atau
penerimaan pesan berbasis teknologi informasi antara lain berupa animasi, citra,
audio dan video melalui jaringan telekomunikasi;
11. Penyelenggaraan jasa pesan premium adalah penyelenggaraan jasa sms dan
atau
mms yang diselenggarakan melalui mekanisme berlangganan dan atau tidak
berlangganan, dengan tarif yang lebih tinggi daripada tarif penyelenggaraan jasa
sms dan atau mms;
12. Pengguna adalah perseorangan, badan hukum, instansi pemerintah yang
menggunakan jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi, baik
berdasarkan kontrak maupun tidak;.
13. Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang
telekomunikasi;
14. BRTI adalah Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia
BAB
PENYELENGGARAAN JASA PESAN PREMIUM
Bagian Pertama
Persyaratan
Pasal 2
(1) Penyelenggaraan jasa pesan premium diselenggarakan setelah mendapat izin.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa pendaftaran penyelenggaraan
jasa pesan premium kepada BRTI.
(3) Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dengan
menggunakan formulir pendaftaran dan melampirkan surat pernyataan
sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I dan Lampiran II Peraturan ini.
Pasal 3
(1) Jasa pesan premium diselenggarakan oleh penyelenggara jasa pesan premium
berdasarkan kerjasama dengan penyelenggara jaringan telekomunikasi yang
menyelenggarakan jasa teleponi dasar.
(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dituangkan dalam
bentuk
perjanjian kerjasama tertulis yang sekurang-kurangnya memuat:
a. Lingkup kerjasama;
b. Hak dan kewajiban masing-masing pihak;
c. Jenis dan layanan yang ditawarkan;
d. Nomor akses (access number) yang digunakan:
e. Besaran tarif;
f. Pembagian pendapatan masing-masing pihak; dan
g Jangka waktu perjanjian kerjasama;
Pasal 4
(1) Penyelenggaraan jasa pesan premium dilaksanakan dengan menggunakan
nomor
akses (access number) tertentu.
(2) Nomor akses (access number) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dalam perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Penyelenggara
jasa pesan premium dilarang menyediakan jasa pesan premium yang isinya
bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedua
Biaya Hak Penyelenggaraan Telekomunikasi
Pasal 6
(1) Penyelenggara jasa pesan premium wajib membayar Biaya Hak
Penyelenggaraan
Telekomunikasi.
(2) Tarif Biaya Hak Penyelenggaraan Telekomunikasi sebagaimana dimaksud
pada
ayat (1) ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Mekanisme Penyelenggaraan
Pasal 7
Penyelenggaraan jasa pesan premium diselenggarakan melalui mekanisme:
a. berlangganan;
b. tidak berlangganan.
Mekanisme berlangganan sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 huruf a merupakan
mekanisme di mana:
a pesan dikirimkan kepada pengguna setelah pengguna melakukan pendaftaran
(aktivasi/registrasi) terlebih dahulu; dan
b pengguna akan menerima pesan yang dikirim oleh penyelenggara jasa pesan
premium secara berkala.
Mekanisme tidak berlangganan sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 huruf b
merupakan mekanisme di mana:
a. pesan dikirimkan kepada pengguna setelah pengguna menyampaikan
permintaan
tanpa melakukan pendaftaran {aktivasi/registrasi) terlebih dahulu; dan atau
b. pengguna akan menerima pesan yang dikirim oleh penyelenggara jasa pesan
premium tidak secara berkala.
Pasal 10
(1) Mekanisme tidak berlangganan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b
dapat diselenggarakan antara lain melalui layanan jasa pesan premium yang
diselenggarakan berdasarkan kegiatan undian/promosi.
(2) Jasa pesan premium yang diselenggarakan berdasarkan kegiatan
undian/promosi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin dari instansi yang
ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang kegiatan undian/promosi.
Pasal 11
Penyelenggara ]asa pesan premium wajib menyediakan:
a. Pusat Panggilan (Call Center) dengan nomor khusus yang dapat dihubungi
setiap
saat selama 24 (duapuluh empat) jam per hari

b. Pusat Panggilan sebagaimana dimaksud pada huruf a wajib menyediakan


fasilitas
dukungan layanan (first line support) yang berfungsi untuk menangani
pertanyaan,
keluhan dan permintaan pengguna melalui pusat panggilan.
Bagian Keempat
Penyelenggaraan Jasa Pesan Premium Melalui Mekanisme Berlangganan
Pasal 12
(1) Penyelenggara jasa pesan premium melalui mekanisme berlangganan wajib
memberikan informasi keaktifan pengguna dalam layanan berlangganan dengan
tarif tertentu serta informasi mengenai cara berhenti berlangganan
(deregistrasi/deaktivasi).
(2) Dalam hal pengguna melakukan pendaftaran (registrasi/aktivasi) berlangganan
jasa pesan premium, penyelenggara jasa pesan premium wajib memberikan
informasi bahwa pengguna telah dapat memanfaatkan jasa pesan premium serta
informasi tentang besaran tarif, layanan, cara deaktivasi, dan nomor call center.
(3) Dalam hal pengguna meminta untuk berhenti berlangganan (deaktivasi) jasa
pesan
premium, penyelenggara jasa pesan premium wajib menghentikan layanannya
segera setelah permintaan berhenti berlangganan (deregistrasi/deaktivasi) diterima
dengan lengkap.
(1) Penyelenggara jasa pesan premium dilarang mengenakan biaya pendaftaran
(registrasi/aktivasi) berlangganan.
(2) Setelah pendaftaran (registrasi/aktivasi) dilakukan, penyelenggara jasa pesan
premium wajib memberikan informasi kepada pengguna sekurang-kurangnya:
a. pendaftaran (registrasi/aktivasi) telah berhasil;
b. layanan telah dapat digunakan;
c. identitas penyelenggara jasa pesan premium;
d. tarif yang akan dikenakan kepada pengguna,
e. cara penghentian berlangganan (deregistrasi/deaktivasi);
f. periode waktu berlangganan
g. Pusat Panggilan (Cali Centre) yang dapat dihubungi.
(1) Permintaan berhenti berlangganan (deregistrasi/deaktivasi) dapat dilakukan
sekurang-kurangnya melalui sms, mms atau melalui call centre.
(2) Dalam hal pengguna menggunakan sms atau mms untuk berhenti
berlangganan
(deregistrasi/deaktivasi) tanpa menyebutkan jenis layanan, penyelenggara jasa
pesan premium wajib menginformasikan melalui sms atau mms tanpa dikenakan
biaya mengenai cara yang benar untuk berhenti berlangganan disertai informasi
tentang jenis layanan yang pernah didaftarkan oleh pengguna dan nomor call
centre yang dapat dihubungi
(3) Setelah permintaan berhenti berlangganan (deregistrasi/deaktivasi) diterima
dengan lengkap, penyelenggara jasa pesan premium wajib mengirimkan
pemberitahuan melalui sms atau mms tanpa dikenakan biaya bahwa proses
permintaan berhenti berlangganan (deregistrasi/deaktivasi) telah
berhasildilakukan.
GANTI RUGI
Pasal 15
(1) Pengguna berhak mengajukan ganti rugi kepada penyelenggara pesan
premium
atas kesalahan dan atau kelalaian penyelenggara jasa pesan premium yang
menimbulkan kerugian pada pengguna,.
(2) Penyelenggara jasa pesan premium wajib memberikan ganti rugi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), kecuali penyelenggara pesan premium dapat
membuktikan bahwa kerugian tersebut bukan diakibatkan oleh kesalahan dan atau
kelalaiannya.
(3) Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terbatas kepada kerugian
langsung yang diderita atas kesalahan dan atau kelalaian penyelenggara pesan
premium.
Pasal 16
(1) Penyelesaian ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dapat
dilaksanakan melalui proses pengadilan atau di luar pengadilan.
(2) Tata cara pengajuan dan penyelesaian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
PENGIRIMAN JASA PESAN SINGKAT (SHORT MESSAGING
SERVICE/SMS)
KE BANYAK TUJUAN (BROADCAST)

Pasal 17
Pengirim jasa pesan singkat (short messaging service/sms) ke banyak tujuan
(broadcast) dilarang mengirimkan pesan yang bertentangan dengan kepentingan
umum, kesusilaan, keamanan dan atau ketertiban umum.
Pasal 18
Pengirim jasa pesan singkat (short messaging service/sms) ke banyak tujuan
(broadcast) wajib menyediakan fasilitas kepada penerima pesan untuk menolak
pengiriman pesan berikutnya.

Pasal 19
Setelah penerima pesan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 menolak
pengiriman
pesan berikutnya, pengirim jasa pesan singkat (short messaging service/sms) ke
banyak tujuan (broadcast) dilarang melakukan pengiriman pesan berikutnya.

Pasal 20
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan ini dikenakan sanksi
administrasi dan atau sanksi pidana sesuai ketentuan perundang-undangan yang
berlaku. t
(2) Penyelenggara jasa pesan premium yang melanggar ketentuan dalam Peraturan
ini dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan izin dan larangan untuk
menyelenggarakan jasa pesan premium.
(3) Pencabutan izin dan larangan untuk menyelenggarakan jasa pesan premium
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah penyelenggara jasa pesan
premium diberikan peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut, di
mana
masing-masing peringatan tertulis berlangsung selama 7 (tujuh) hari kerja.

BAB VI
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Pasal 21
(1) Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan Peraturan ini dilakukan oleh
BRTI.
(2) BRTI dapat menetapkan ketentuan teknis dalam rangka pengawasan dan
pengendalian atas pelaksanaan Peraturan ini.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 22
Dengan berlakunya Peraturan ini, penyelenggara jasa pesan premium dan
pengirim jasa pesan singkat (short messaging service/sms) ke banyak tujuan
(broadcast) tetap dapat melakukan kegiatannya, dengan ketentuan selambat-
lambatnya 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak berlakunya Peraturan ini wajib
menyesuaikan dengan
Peraturan ini.

BAB VIM
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 23
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan
Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal: 8 Januari 2009
Lampiran

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 8 TAHUN 1999
TENTANG
PERLINDUNGAN KONSUMEN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat
adil dan makmur yang merata
materiil dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945;
b. bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus dapat
mendukung tumbuhnya dunia
usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka barang dan/atau jasa
yangmemiliki kandungan teknologi yang
dapat menjngkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan
kepastian atas barang
dan/atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian
konsumen;
c. bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi
ekonomi harus tetap menjamin
peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian atas mutu, jumlah, dan
keamanan barang dan/atau jasa
yang diperolehnya di pasar.
d. bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan
kesadaran, pengetahuan,
kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya
serta menumbuhkembangkan
sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab;
e. bahwa ketetentuan hukum yang melindungi kepentingan konsumen di
Indonesia belum memadai;
f. bahwa berdasarkan pertjmbangan tersebut di atas diperlukan perangkat
peraturan perundang-undangan untuk
mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku
usaha sehingga tercipta
perekonomian yang sehat;
g. bahwa untuk itu perlu dibentuk Undang-undang tentang Perlindungan
Konsumen;
Mengingat :
Pasal 5 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar
1945;
Dengan persetujuan
DEWAN PERW AKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal l
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi
perlindungan kepada konsumen.
2. Konsumen adalah setiap orang pemakai harang dan/atau jasa yang tersedia
dalam masyarakat, haik hagi
kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan
tidak untuk diperdagangkan.
3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau hadan usaha, haik yang
berbentuk hadan hukum maupun
hukan hadan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan keglatan
dalam wilayah hukum negara
Repuhlik Indonesia, haik sendiri maupun bersama-samamelalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha
dalam berbagai hidang ekonomi.
4. Barang adalah setiap benda haik berwujud maupun tidak berwujud, haik :-!:
bergerak maupun tidak hergerak,
dapat dihahiskan maupun tidak dapat dihahiskan, yang dapat untuk
diperdagangkan, dipakai, dipergunakan,
ataudimanfaatkan oleh konsumen.
5. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang
disediakan bagi masyarakat untuk
dimanfaatkan oleh konsumen.
6. Promosi adalah kegiatan pengenalan atau penyeharluasan informasi suatu
harang dan/atau jasa untuk menarik
minat beli konsumen terhadap harang dan/atau jasa yang akan dan sedang
diperdagangkan.
7. Impor barang adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean.
8. Impor jasa adalah kegiatan penyediaan jasaasing untuk digunakan di dalam
wilayah Republik Indonesia.
9. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah lemhaga non-
Pemerintah yang terdaftar dan
diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan
konsumen.
10. Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang
telah dipersiapkaan dan ditetapkan
terlehih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu
dokumen dan/atau perjanjian
yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen-
11. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen adalah badan yang bertugas
menangani dan menyelesaikan sengketa
antara pelaku usaha dan konsumen.
12. Badan Perlindungan Konsumen Nasional adalah badan yang dibentuk untuk
membantu upaya pengemhangan
perlindungan konsumen.
13. Menteri adalah menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggungjawabnya
meliputi hidang perdagangan.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan
dan keselamatan konsumen, serta
kepastian hukum.
Pasal 3
Perlindungan konsumen bertujuan :
a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;
b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya
dari ekses negatif pemakaian
barang dan/atau jasa;
c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai
konsumen;
d. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan
informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sik.ap
yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
f. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa,
kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
BAB III
HAK DAN KEW AJIBAN
Bagian Pertama
Hak dan Kewajiban Konsumen
Pasal 4
Hak konsumen adalah :
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai
tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen
secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/ataujasa yang diterima
tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Pasal 5
Kewajiban konsumen adalah :
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa.
demi keamanan dan keselamatan;
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara
patut.
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
Pasal 6
Hak pelaku usaha adalah :
a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar barang
dan/atau jasa yang diperdagangkan;
b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad tidak baik;
c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan
oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
e. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Pasal 7
Kewajiban pelaku usaha adalah :
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar .jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta
memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan;
c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar
mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji. dan/atau mencoba
barang dan/atau jasa tertentu serta
memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang
diperdagangkan;
f. memberi kompensasi. ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan. pemakaian dan
pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
g. memberi kompensasi. ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan atau
jasa yang diterima atau
dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

BAB IV
PERBUATAN YANG DILARANG
BAGI PELAKU USAHA
Pasal 8
(1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang
dan/atau jasa yang :
a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundangundangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam
hitungan sebagaimana yang
dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut;
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan.jumlah dalam hitungan menurut
ukuran yang sebenamya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan. keistimewaan atau kemanjuran
sebagaimana dinyatakan dalam label,
etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
e. tidak sesuaj dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya,
mode, atau penggunaan tertentu
sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa
tersebut;
f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan
atau promosi penjualan
barang dan/atau jasa tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu
penggunaan/pemanfaatan yang paling baik
atas barang tertentu;
h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pemyataan
"halal' yang dicantumkan
dalam label;
i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih
atau netto, komposisi, aturan pakai. tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama
dan alamat pelaku usaha
serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus
dipasang/dibuat;
j. tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai
dengan ketentuan perundang -undangan yang berlaku.
(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas,
dan tercemar tanpa memberikan
informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.
(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang
rusak, cacat atau bekas dan
tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar .
(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang
dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran.
Pasal 9
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, memproduksikan, mengiklankan suatu
barang dan/atau jasa secara tidak
benar, dan/atau seolah-olah :
a. barang tersebut telah memenuhi dan/atau memiliki potongan harga, harga
khusus, standar mutu tertentu,
gaya atau mode tertentu. karakteristik tertentu, sejarah atau guna tertentu;
b. barang tersebut dalam keadaan baik dan/atau baru;
c. barang dan/atau jasa tersebut telah mendapatkan dan/atau memiliki sponsor,
persetujuan, perlengkapan
tertentu, keuntungan tertentu, ciri-ciri kerja atau aksesori tertentu;
d. barang dan/atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan yang mempunyai sponsor,
persetujuan atau afiliasi;
e. barang dan/atau jasa tersebut tersedia;
f. barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;
g. barang tersebut merupakan kelengkapan dari barang tertentu;
h. barang tersebut berasal dari daerah tertentu;
i. secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain;
j. menggunakan kata-kata yang berlebihan, seperti aman, tidak berbahaya, tidak
mengandung risiko atau efek
sampingan tanpa keterangan yang lengkap;
k. menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.
(2) Barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk
diperdagangkan.
(3) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dilarang
melanjutkan penawaran, promosi, dan
pengiklanan barang dan/atau jasa tersebut.
Pasal 10
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dilarang menawarkan,
mempromosikan, mengiklankan atau memb uat pemyataan yang tidak benar atau
menyesatkan mengenai :
a. harga atau tarif suatu barang dan/atau jasa;
b. kegunaan suatu barang dan/atau jasa;
c. kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu barang dan/atau
jasa;
d. tawaran potongan harga atau hadiah menarik yang ditawarkan;
e. bahaya penggunaan barang dan/atau jasa.
Pasal 11
Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang,
dilarang mengelabui/menyesatkan
konsumen dengan :
a. menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah-olah telah memenuhi standar
mutu tertentu;
b. menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah-olah tidak mengandung cacat
tersembunyi;
c. tidak bemiat untuk menjual barang yang ditawarkan melainkan dengan maksud
untuk menjual barang lain;
d. tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu dan/atau jumlah yang cukup
dengan maksud menjual barang
yang lain;
e. tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup
dengan maksud menjual jasa yang
lain;
f. menaikkan harga atau tarif barang dan/atau jasa sebelum melakukan obral.
Pasal 12
Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan suatu
barang dan/atau jasa dengan harga
atau tarif khusus dalam waktu dan jumlah tertentu, jika pelaku usaha tersebut
tidak bermaksud untuk
melaksanakannya sesuai dengan waktu dan jumlah yang ditawarkan,
dipromosikan, atau diiklankan.
Pasal 13
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan
suatu barang dan/atau jasa dengan
cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau jasa lain secara cuma-
cuma dengan maksud tidak
memberikannya atau memberikan tidak sebagaimana yang dijanjikannya.
(2) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan obat,
obat tradisional, suplemen
makanan, alat kesehatan, dan jasa pelayanan kesehatan dengan cara menjanjikan
pemberian hadiah berupa
barang dan atau jasa lain.
Pasal 14
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dengan memberikan
hadiah melalui cara undian. Dilarang untuk :
a. tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan;
b. mengumumkan hasilnya tidak melalui media massa;
c. memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;
d. mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.
Pasal 15
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang melakukan dengan
cara pemaksaan atau cara lain
yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen.
Pasal 16
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa melalui pesanan dilarang
untuk :
a. tidak menepati pesanan dan/atau kesepakatan waktu penyelesaian sesuai dengan
yang dijanjikan;
b. tidak menepati janji atas suatu pelayanan dan/atau prestasi.
Pasal 17
(1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang :
a. mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan dan harga
barang dan/atau tarif jasa
serta ketepatan waktu penerimaan barang dan/atau jasa;
b. mengelabui jaminan/garansi terhadap barang dan/atau jasa;
c. memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang dan/atau
jasa;
d. tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaianbarang dan/atau jasa;
e. mengeksploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau
persetujuan yang
bersangkutan;
f. melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undanngan mengenai
periklanan.
(2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah
melanggar ketentuan pada ayat (1).
BAB V
KETENTUAN PENCANTUMAN KLAUSULA BAKU
Pasal 18
(1) Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dilarang membuat
atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian
apabila :
a. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;
b. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang
yang dibeli konsumen;
c. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang
yang dibayarkan atas barang
dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;
d. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara
langsung maupun tidak
langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang
yang dibeli oleh
konsumen secara angsuran;
e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan
jasa yang dibeli oleh
konsumen;
f. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan
konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa;
g. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,
tambahan, lanjutan dan/atau
pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usahadalam masa konsumen
memanfaatkan jasa yang
dibelinya;
h. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk
pembebanan hak tanggungan,
hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara
angsuran.
(2) Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya
sulit terlihat atau tidak dapat
dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti.
(3) Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen
atau perjanjian yang memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi
hukum.
(4) Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan
Undang-undang ini.
BAB VI
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA
Pasal 19
(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian
konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian
uang atau penggantian barang
dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya. atau perawatan kesehatan dan/atau
pemberian santunan yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghapuskan kemungkinan
adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya
unsur kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku
apabila pelaku usaha dapat
membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Pasal 20
Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala
akibat yang ditimbulkan oleh
ikatan tersebut.
Pasal 21
(1) Importir barang bertanggungjawab sebagai pembuat barang yang diimpor
apabila importasi barang tersebut
tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri.
(2) Importir jasa bertanggung jawab sebagai penyedia jasa asing apabila
penyediaan jasa asing tersebut tidak
dilakukan oleh agen atau perwakilan penyedia jasa asing.
Pasal 22
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(4), Pasal 20. dan Pasal 21 merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha
tanpa menutup kemungkinan bagi
jaksa untuk melakukan pembuktian.
Pasal 23
Pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak
memenuhi ganti rugi atas tuntutan
konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan
ayat (4), dapat digugat melalui
badan penyelesaian sengketa konsumen atau mengajukan ke badan peradilan di
tempat kedudukan konsumen.
Pasal 24
(1) Pelaku usaha yang menjual barang dan/atau jasa kepada pelaku usaha lain
bertanggung jawab atas tuntutan
ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila :
a. pelaku usaha lain menjual kepada konsumen tanpa melakukan perubahan apa
pun atas barang dan/atau jasa
tersebut;
b. pelaku usaha lain, di dalam transaksi jual beli tidak mengetahui adanya
perubahan barang dan/atau jasa
yang dilakukan oleh pelaku usaha atau tidak sesuai dengan contoh, mutu, dan
komposisi.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebaskan dari tanggung
jawab atas tuntutan ganti rugi
dan/atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha lain yang membeli barang
dan/atau jasa menjual kembali
kepada konsumen dengan melakukan perubahan atas barang dan/atau jasa
tersebut.
Pasal 25
(1) Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan
dalam batas waktu sekurangkurangnya
1 (satu) tahun wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas puma jual dan
wajib memenuhi
jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggungjawab atas
tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan
konsumen apabila pelaku usaha tersebut :
a. tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas
perbaikan;
b. tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan.
Pasal 26
Pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau
garansi yang disepakati dan/atau yang
diperjanjikan.
Pasal 27
Pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas
kerugian yang diderita konsumen,
apabila :
a. barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan
untuk diedarkan;
b. cacat barang timbul pada kemudian hari;
c. cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kualifikasi barang;
d. kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen;
e. lewatnya jangka waktu penuntutan 4 (empat) tahun sejak barang dibeli atau
lewatnya jangka waktu yang
diperjanjikan.
Pasal 28
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19,
Pasal 22, dan Pasal 23 merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Pertama
Pembinaan
Pasal 29
(1) Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan
konsumen yang menjamin
diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban
konsumen dan pelaku usaha.
(2) Pembinaan oleh pemerintah atas penyelenggaraan perlindungan konsumen
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh Menteri dan/atau menteri teknis terkait.
(3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melakukan koordinasi atas
penyelenggaraan perlindungan
konsumen.
(4) Pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) meliputi upaya
untuk:
a. terciptanya iklim usaha dan tumbuhnya hubungan yang sehat antara pelaku
usaha dan konsumen;
b. berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;
c. meningkatnya kualitas sumber daya manusia serta meningkatnya kegiatan
penelitian dan pengembangan di
bidang perlindungan konsumen.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan penyelenggaraan perlindungan
konsumen diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Bagian Kedua
Pengawasan
Pasal 30
(1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta
penerapan ketentuan peraturan
perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan
lembaga perlindungan konsumen
swadaya masyarakat.
(2) Pengawasan oleh pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh Menteri dan/atau menteri
teknis terkait.
(3) Pengawasan oJehmasyarakat dan lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat diJakukan terhadap
barang dan/atau jasa yang beredar di pasar .
(4) Apabila hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) temyata
menyimpang dari peraturan perundangundangan
yang berlaku dan membahayakan konsumen, Menteri dan/atau menteri teknis
mengambil tindakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Hasil pengawasan yang diselenggarakan masyarakat dan lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat
dapat disebarluaskan kepada masyarakat dan dapat disampaikan kepada Menteri
dan menteri teknis.
(6) Ketentuan pelaksanaan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat
( 1 ), ayat (2), dan ayat (3)
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
BAB VIII
BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL
Bagian Pertama
Nama, Kedudukan, Fungsi, dan Togas
Pasal 31
Dalam rangka mengembangkan upaya perlindungan konsumen dibentuk Badan
Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 32
Badan Perlindungan Konsumen Nasional berkedudukan di Ibu Kota Negara
Republik Indonesia dan bertanggung
jawab kepada Presiden.
Pasal 33
Badan Perlindungan Konsumen Nasional mempunyai fungsi memberikan saran
dan pertimbangan kepada
pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.
Pasal 34
(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksurl dalam Pasal 33, Badan
Perlindungan Konsumen Nasional
mempunyai tugas :
a. memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka
penyusunan kebijaksanaan di bidang
perlindungan konsumen;
b. melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan
yang berlaku di bidang
perlindungan konsumen;
c. melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut
keselamatan konsumen;
d. mendorong berkembangnyalembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat;
e. menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen
dan memasyarakatkan sikap
keberpihakan kepada konsumen;
f. menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, lembaga
perlindungan konsumen
swadaya masyarakat, atau pelaku usaha;
g. melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen.
(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan
Perlindungan Konsumen Nasional
dapat bekerjasama dengan organisasi konsumen intemasional.
Bagian Kedua
Susunan Organisasi dan Keanggotaan
Pasal 35
(1) Badan Perlindungan Konsumen Nasional terdiri atas seorang ketua merangkap
anggota, seorang wakil ketua
merangkap anggota, serta sekurang-kurangnya 15 (lima belas) orang dan
sebanyak-banyaknya 25 (dua puluh
lima) orang anggota yang mewakili semua unsur.
(2) Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional diangkat dan diberhentikan
oleh Presiden atas usul Menteri,
setelah dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indoesia.
(3) Masajabatan ketua, wakil ketua, dan anggotaBadan Perlindungan Konsumen
Nasional selama 3 (tiga) tahun dan
dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.
(4) Ketua dan wakil ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional dipilih oleh
anggota.
Pasal 36
Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional terdiri atas unsur :
a. pemerintah;
b. pelaku usaha;
c. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;
d. akademisi; dan
e. tenaga ahli.
Pasal 37
Persyaratan keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional adalah :
a. warga negara Republik Indonesia;
b. berbadan sehat;
c. berkelakuan baik;
d. tidak pemah dihukum karena kejahatan;
e. memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen; dan
f. berusaha sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.
Pasal 38
Keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasiona1 berhenti karena :
a. meningga1 dunia;
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
c. bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia;
d. sakit secara terus menerus;
e. berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau
f. diberhentikan.
Pasal 39
(1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas, Badan Perlindungan Konsumen Nasional
dibantu oleh sekretariat.
(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang
sekretaris yang diangkat oleh Ketua
Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
(3) Fungsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dalam keputusan Ketua
Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 40
(1) Apabila diperlukan Badan Perlindungan Konsumen Nasional dapat
membentuk perwakilan di Ibu Kota Daerah
Tingkat I untuk membantu pelaksanaan tugasnya.
(2) Pembentukan perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
lebih lanjut dengan keputusan Ketua
Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 41
Dalam pelaksanaan tugas, Badan Perlindungan Konsumen Nasional bekerja
berdasarkan tata kerja yang diatur
dengan keputusan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 42
Biaya untuk pelaksanaan tugas Badan Perlindungan Konsumen Nasional
dibebankan kepada anggaran pendapatan
dan belanja negara dan sumber lain yang sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pasal 43
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Badan Perlindungan Konsumen
Nasional diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
BAB IX
LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN
SWADAYA MASYARAKAT
Pasal 44
(1) Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat
yang memenuhi syarat.
(2) Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan
untuk berperan aktif dalam
mewujudkan perlindungan konsumen.
(3) Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi
kegiatan :
a. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan
kewajiban dan kehati-hatian
konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya;
c. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan
konsumen;
d. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima
keluhan atau pengaduan
konsumen;
e. melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap
pelaksanaan perlindungan
konsumen.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas lembaga perlindungan konsumen
swadaya masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB X
PENYELESAIANSENGKETA
Bagian Pertama
Umum
Pasal 45
(1) Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui
lembaga yang bertugas menyelesaikan
sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di
lingkungan peradilan umum.
(2) Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di
luar pengadilan berdasarkan
pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
(3) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak menghilangkan tanggung
jawab pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang.
(4) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar
pengadilan, gugatan melalui pengadilan
hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah
satu pihak atau oleh para
pihak yang bersengketa.
Pasa146
(1) Gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh :
a. seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;
b. sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama;
c. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat,
yaitu berbentuk badan
hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasamya menyebutkan dengan tegas
bahwa tujuan didirikannya
organisasi tersebut adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan telah
melaksanakan kegiatan
sesuai dengan anggaran dasamya;
d. pemerintah dan/atau instansi terkait apabila barang dan/atau jasa yang
dikonsumsi atau dimanfaatkan
mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.
(2) Gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen, lembaga perlindungan
konsumen swadaya masyarakat atau
pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, atau huruf d
diajukan kepada peradilan
umum.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian materi yang besar dan/atau korban
yang tidak sedikit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa di luar Pengadilan
Pasal 47
Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan diselenggarakan untuk
mencapai kesepakatan mengenai bentuk
dan besamya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin
tidak akan terjadi kembali atau tidak
akan terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen.
Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan
Pasal 48
Penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan
tentang peradilan umum yang berlaku
dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 45
BAB XI
BADAN PENYELESAIAN SENGKET A KONSUMEN
Pasal 49
(1) Pemerintah membentuk hadan penyelesaian sengketa konsumen di Daerah
Tingkat II untuk penyelesaian
sengketa konsumen di luar pengadilan.
(2) Untuk dapat diangkat menjadi anggota hadan penyelesaian sengketa
konsumen, seseorang harus memenuhi
syarat sehagai berikut :
a. warga negara Republik Indonesia;
g. berhadan sehat;
b. berkelakuan haik;
c. tidak pemah dihukum karena kejahatan;
d. memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen;
e. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.
(3) Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur pemerintah,
unsur konsumen, dan unsur pelaku
usaha.
(4) Anggota setiap unsur sehagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah sedikit-
dikitnya 3 (tiga) orang, dan
sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang.
(5) Pengangkatan dan pemberhentian anggota hadan penyelesaian sengketa
konsumen ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 50
Badan penyelesaian sengketa konsumen sehagaimana dimaksud dalam Pasa149
ayat ( 1) terdiri atas :
a. ketua merangkap anggota;
b. wakil ketua merangkap anggota;
c. anggota.
Pasal 51
(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen dalam menjalankan tugasnya dibantu
oleh sekretariat.
(2) Sekretariat badan penyelesaian sengketa konsumen terdiri atas kepala
sekretariat dan anggota sekretariat.
(3) Pengangkatan dan pemherhentian kepala sekretariat dan anggota sekretariat
badan penyelesaian sengketa
konsumen ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 52
Tugas dan wewenang badan penyelesaian sengketa konsumen meliputi :
a. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara
melalui mediasi atau arbitrase
atau konsiliasi;
b. memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan
dalam Undang-undang ini;
e. menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang
terjadinya pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen;
f. melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen;
h. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang
dianggap mengetahui pelanggaran
terhadap Undang-undang ini;
i. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli,
atau setiap orang sebagaimana
dimaksud pada huruf 9 dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan
badan penyelesaian sengketa
konsumen;
j. mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain
guna penyelidikan dan/atau
pemeriksaan;
k. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak
konsumen;
l. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen;
m. menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan Undang-undang ini.
Pasal 53
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang badan
penyelesaian sengketa konsumen Daerah
Tingkat II diatur dalam surat keputusan menteri.
Pasal 54
(1) Untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen, badan penyelesaian
sengketa konsumen membentuk
majelis.
(2) Jumlah anggota majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ganjil dan
sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang
yang mewakili semua unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasa149 ayat (3), serta
dibantu oleh seorang
panitera.
(3) Putusan majelis bersifat final dan mengikat.
(4) Ketentuan teknis lebih lanjut mengenai pelaksanaan lugas majelis diatur dalam
surat keputusan menteri.
Pasal 55
Badan penyelesaian sengketa konsumen wajib mengeluarkan putusan paling
lambat dalam waktu 21 (dua puluh
satu) hari kerja setelah gugatan diterima.
Pasal 56
(1) Dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak menerima putusan badan
penyelesaian sengketa konsumen
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 pelaku usaha wajib melaksanakan putusan
tersebut.
(2) Para pihak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri paling
lambat 14 (empat belas) hari
kerjasetelah menerima pemberitahuan putusan tersebut.
(3) Pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dianggap menerima putusan badan penyelesaian sengketa konsumen.
(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tidak
dijalankan oleh pelaku usaha, badan
penyelesaian sengketa konsumen menyerahkan putusan tersebutkepada penyidik
untuk melakukan penyidikan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Putusan badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) merupakan bukti
permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan.
Pasal 57
Putusan majelis sebagaimana dimaksud da1am Pasal 54 ayat (3) dimintakan
penetapan eksekusinya kepada
Pengadilan Negeri di tempat konsumen yang dirugikan.
Pasal 58
(1) Pengadilan Negeri wajib mengeluarkan putusan atas keberatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2)
dalam waktu paling lambat 21 ( dua puluh satu) hari sejak diterimanya keberatan.
(2) Terhadap putusan Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
para pihak dalam waktu paling lama
14 ( empat belas ) hari dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik
Indonesia.
(3) Mahkamah Agung Republik Indonesia wajib mengeluarkan putusan dalam
waktu paling lambat 30 (tiga puluh)
hari sejak menerima permohonan kasasi.
BAB XII
PENYIDIKAN
Pasal 59
(1) Selain Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil
tertentu di lingkungan instansi
pemerintah yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang perlindungan
konsumen juga diberi wewenang
khusus sehagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum
Acara Pidana yang berlaku.
(2) Penyidik Pejahat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berwenang :
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan
dengan tindak pidana di bidang
perlindungan konsumen;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga
melakukan tindak pidana di bidang
perlindungan konsumen;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan peristiwa tindak
pidana di bidang perlindungan konsumen;
d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain .berkenaan
dengan tindak pidana di
bidang perlindungan konsumen;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti
serta melakukan penyitaan
terhadap barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara
tindak pidana di bidang
perlindungan konsumen;
f. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana
di bidang perlindungan
konsumen.
(3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberitahukan dimulainya
penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polri Negara
Republik Indonesia.
(4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menyampaikan hasil penyidikan
kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik
Indonesia.
BAB XIII
SANKSI
Bagian Pertama
Sanksi Administratif
Pasal 60
(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen berwenang menjatuhkan sanksi
administratif terhadap pelaku usaba
yang melanggar Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20, Pasal 25, dan Pasal 26.
(2) Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(3) Tata cara penetapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur lebih lanjut dalam
peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Sanksi Pidana
Pasal 61
Penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya.
Pasal 62
(1) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8,
Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat
(2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2), dan
Pasal 18 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp
2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
(2) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1),
Pasal 14, Pasal 16, dan Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf f dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
(3) Terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat, sakit berat, cacat tetap
atau kematian diberlakukan
ketentuan pidana yang berlaku.
Pasal 63
Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat di jatuhkan
hukuman tambahan, berupa :
a. perampasan barang tertentu;
b. pengumuman keputusan hakim;
c. pembayaran ganti rugi;
d. perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian
konsumen;
e. kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
f. pencabutan izin usaha.

BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 64
Segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertujuan melindungi
konsumen yang telah ada pada saat
Undang-undang ini diundangkan, dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak diatur
secara khusus dan/atau tidak
bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini.

BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 65
Undang-undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang
ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 20 April 1999
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 April1999
MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
ttd.
AKBAR TANDJUNG
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 42
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 8 TAHUN 1999
Lampiran

KODE ETIK LAYANAN KONTEN MOBILE


IMOCA
(Indonesian Mobile and Online Content Association)

1.          Ruang Lingkup

1.1.       Kode Etik Layanan Kontent Mobile diterbitkan oleh IMOCA (Indonesian
Mobile and Online Content Association)  menyangkut hubungan antara
Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile dengan Konsumen di lain pihak,
dan juga antara Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile satu sama lain.
Kode Etik ini bertujuan memberikan kepuasan dan perlindungan kepada semua
pihak yang berkepentingan, memajukan kompetisi yang sehat dalam rangka
memupuk, mengembangkan potensi industri konten dan peningkatan citra umum
dari layanan konten mobile di Indonesia.

2.          Daftar Istilah

2.1.       Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile, adalah perusahaan yang


bergerak dalam bidang penyediaan jasa nilai tambah konten yang didistribusikan
melalui media telepon seluler (mobile) bekerja sama dengan penyelenggara
jaringan dan infrastruktur telekomunikasi bergerak (Operator)

2.2.       Operator adalah perusahaan penyedia jaringan infrastruktur


telekomunikasi bergerak, termasuk voice, video, sms, data maupun layanan lain
yang dimungkinkan oleh teknologi. Dalam hal ini Operator merupakan mitra kerja
Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile dalam hal menyelenggarakan
infrastruktur jaringan, penagihan/pemotongan pembayaran, maupun promosi.

2.3.       Layanan Konten Mobile adalah layanan nilai tambah bagi pengguna
telepon selular dalam bentuk aneka konten berupa informasi, hiburan, permainan,
personalisasi, download ataupun layanan lain yang dimungkinkan oleh teknologi
yang disediakan oleh Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile bersama
dengan Operator.

2.4.       Layanan Konten Mobile Berlangganan adalah bagian dari Layanan


Konten Mobile yang didapatkan oleh Konsumen dengan cara berlangganan, di
mana Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile dapat melakukan
push/pengiriman konten secara otomatis sesuai dengan persetujuan sebelumnya
oleh Konsumen.
2.5.       Layanan Mobile Quiz adalah bagian dari Layanan Konten Mobile yang
berupa trivia ataupun permainan baik ketangkasan, keterampilan maupun
pengetahuan Konsumen yang menggunakan fasilitas jaringan dan infrastruktur
telekomunikasi bergerak.

2.6.       Konsumen adalah pengguna layanan nilai tambah yang disediakan oleh
Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile secara umum.

3.          Perusahaan

3.1.       Setiap perusahaan anggota IMOCA berjanji akan menaati Kode Etik
sebagai syarat diterima menjadi dan dipertahankan sebagai anggota IMOCA.
Setiap Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile harus berbentuk Badan
Hukum (Perseroan Terbatas) dan wajib memiliki Izin Usaha sebagaimana diatur
oleh Pemerintah dan tidak menjalankan usaha melebihi izin yang berlaku.

4.          Pengaturan Diri Sendiri

4.1.       Kode Etik ini adalah alat untuk mengatur diri sendiri dalam industri
konten mobile di Indonesia. Kode Etik ini bukan undang-undang, dan kewajiban-
kewajiban yang dibebankannya menuntut suatu tingkat perilaku etis yang
melampaui tuntutan persyaratan hukum yang berlaku. Tidak menaatinya tidak
menimbulkan tanggung jawab di hadapan hukum perdata. Dengan penghentian
keanggotaannya dari IMOCA, perusahaan tidak lagi terikat oleh Kode Etik ini
tetapi ketentuan-ketentuannya masih akan tetap berlaku pada peristiwa atau
transaksi-transaksi yang terjadi selama perusahaan itu menjadi anggota IMOCA.

5.          Hukum

5.1.       Perusahaan- Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile dianggap telah


menaati persyaratan-persyaratan hukum dan oleh karenanya Kode Etik ini tidak
menyebutkan semua kewajiban-kewajiban hukum yang ada.

6.          Standar

6.1.       Kode Etik ini memuat standar perilaku etis bagi Perusahaan Penyedia
Layanan Konten Mobile. IMOCA dapat mengubah standar ini asalkan substansi
Kode Etik tetap terpelihara atau tetap seperti yang dipersyaratkan oleh hukum
nasional. Dianjurkan agar Kode Etik ini digunakan sebagai patokan dari standar
etika industri konten mobile Indonesia.

7.          Praktek-Praktek Terlarang

7.1.       Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile dilarang secara tidak etis
menarik/ mengumpulkan uang dari konsumen, menjanjikan kompensasi yang
tidak wajar dan melakukan praktek-praktek penjualan yang menyesatkan,
mengecoh atau tidak pantas.
8.          Jaminan dan Layanan Purna Jual

8.1.       Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile harus memberikan jaminan


atas pengiriman terhadap konten yang dijual dan menyediakan layanan purna jual
termasuk penyediaan customer care dan technical support.

8.2.       Atas pengiriman konten yang terjadi atas kesalahan Perusahaan Penyedia
Layanan Konten Mobile atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan, bila terbukti,
maka Konsumen dalam waktu 7 hari kerja sejak transaksi terjadi bisa
mendapatkan penggantian, penukaran maupun pengembalian uang.

9.          Privasi & Hormat Pada Hak Pribadi

9.1.       Kontak terhadap Konsumen harus dilakukan dengan memperhatikan dan


menghormati privasi dan hak-hak pribadi. Pengiriman konten harus dilakukan
dengan cara dan pada jam-jam yang wajar agar tidak mengganggu Konsumen,
kecuali bila sesuai dengan program yang berlaku dan atas permintaan Konsumen.

9.2.       Pengiriman konten maupun kegiatan promosi wajib dihentikan bilamana


dianggap mengganggu dan diminta oleh Konsumen yang bersangkutan.

10.       Kewajaran

10.1.     Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile tidak boleh


menyalahgunakan kepercayaan Konsumen, harus menyadari kurangnya
pengalaman para Konsumen dan tidak akan memanfaatkan kelemahan, kurangnya
pengertian ataupun pendidikan seorang konsumen.

11.       Panduan Umum Materi Layanan Konten Mobile

11.1.     Layanan Konten Mobile tidak boleh bertentangan dengan perundang-


undangan yang umum berlaku di Indonesia: pidana, perdata dan hak atas
kekayaan inteletual (HaKI).

11.2.     Layanan Konten Mobile tidak berisikan ancaman, tidak mengandung


pornografi/ pornoaksi, tidak mengandung kekerasan, tidak berisikan hal-hal yang
dipalsukan, dan tidak berisikan hinaan.

11.3.     Layanan Konten Mobile tidak berisikan hasutan, apalagi yang


memprovokasi ketegangan SARA.

11.4.     Layanan Konten Mobile tidak berisikan kata-kata kasar/bahasa yang


ofensif bagi kebanyakan orang.

11.5.     Layanan Konten Mobile yang berhubungan dengan chatting antar orang,
maka isi chatting diluar tanggung jawab Perusahaan Penyedia Layanan Konten
Mobile.
11.6.     Layanan Konten Mobile yang disediakan harus sesuai tidak boleh diubah
dari konteks yang ditawarkan dan tidak boleh bersifat mengelabui.

11.7.     Layanan Konten Mobile untuk anak-anak harus disesuaikan dengan


kebutuhannya.

11.8.     Layanan Konten Mobile yang ditawarkan untuk anak-anak, tidak boleh
berisi materi untuk orang dewasa.

12.       Layanan Konten Mobile Berlangganan

12.1.     Pada Layanan Konten Mobile Berlangganan, pada reply konfirmasi


berlangganan harus mencantumkan informasi :

1. Tarif layanan,
2. Frekwensi pengiriman,
3. Akses customer care,
4. Cara berhenti berlangganan.

12.2.     Layanan Konten Mobile Berlangganan tidak boleh melakukan pengiriman


konten lebih dari Rp. 5,000 per hari atau maksimum 5 kali push konten untuk
masing-masing jenis Layanan Konten Mobile Berlangganan.

12.3.     Prosedur berhenti Layanan Konten Mobile Berlangganan harus dapat


dilakukan oleh Konsumen dengan metode yang mudah dan disediakan melalui
cara otomatis maupun manual.

12.4.     Bila Konsumen mengirimkan sms berisi pesan STOP (ataupun STOP yg
diikuti dengan keyword lain), maka harus menghentikan pengiriman semua
Layanan Konten Mobile Berlangganan yang terdaftar pada Perusanaan Penyedia
Layanan Konten Mobile terkait kepada Konsumen tersebut.

12.5.     Bila Konsumen mengirimkan sms berisi pesan UNREG (ataupun UNREG
yg diikuti dengan keyword yang tidak terdaftar), maka Perusanaan Penyedia
Layanan Konten Mobile harus:

a.     memberikan reply dengan pesan berisi jenis layanan apa saja yang diikuti
pelanggan tersebut dan cara UNREG masing-masing layanan ditambah dengan
pemberitahuan bahwa STOP bisa menghentikan pengiriman semua layanan, atau

b.    langsung menghentikan pengiriman semua layanan kepada Konsumen


tersebut.

12.6.     Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile berkewajiban memonitor


pesan-pesan yang masuk dari Konsumen. Bila terdapat  pesan yang berisi indikasi
untuk menghentikan layanan, maka Perusanaan Penyedia Layanan Konten Mobile
berkewajiban secara proaktif menghentikan semua Layanan Konten Mobile
Berlangganan kepada Konsumen tersebut selambatnya dalam  5 hari kerja.
13.       Layanan Mobile Quiz dan/atau Promo dengan Menawarkan Hadiah

13.1. Layanan Mobile Quiz dan/atau Layanan Konten Mobile yang dipromosikan
dengan menawarkan hadiah haruslah memperhatikan aturan main yang telah
ditetapkan bersama oleh operator & undang2 yg berlaku.

13.2. Layanan Mobile Quiz dan/atau Layanan Konten Mobile yang dipromosikan
dengan menawarkan hadiah harus memiliki term kondisi yg lengkap dan
dipublikasikan melalui media yang dapat diakses publik.

13.3.     Layanan Mobile Quiz dan/atau Layanan Konten Mobile yang


dipromosikan dengan menawarkan hadiah, pada akhir program harus melakukan
pengumuman nama pemenang melalui media yang dapat diakses publik.

14.       Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten

14.1.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten harus sopan/layak/patut, jujur
dan apa adanya.

14.2.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten harus disiapkan dengan
perasaan bertanggung jawab kepada Konsumen dan publik.

14.3.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten harus menghargai prinsip
berkompetisi yang adil secara umum.

14.4.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten tidak boleh menyebabkan
permasalahan SARA.

14.5.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten tidak boleh menjebak atau
mengeksploitasi Konsumen yang tidak berpengalaman.

14.6.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten tidak boleh bersifat
mengelabui baik dengan ketidakakuratan, membingungkan, membesar-besarkan,
atau kurangnya informasi.

14.7.     Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten pada media yang dikonsumsi
anak-anak haruslah digunakan secara bertanggungjawab dan menghindari materi
yang tidak berkaitan dengan anak-anak.

14.8.     Iklan Layanan Konten Mobile Berlangganan harus dengan jelas


menyebutkan :

a.     Biaya per konten,

b.    Frekwensi pengiriman konten,

c.     Cara berhenti berlangganan & akses Customer Service yang cukup jelas,
dimana ukuran huruf petunjuk cara berhenti berlangganan dan akses customer
care minimal harus 30% dari ukuran huruf informasi text cara berlangganan
(misal : REG). Jika ukuran huruf cara berlanggana (misal : REG) kecil, maka
petunjuk cara berhenti berlangganan (misal: UNREG) dan akses customer care
harus tetap bisa terbaca (bisa jadi harus lebih besar dari 30%).

14.9. Iklan tentang downloadable contents berlangganan harus dengan jelas


menyebutkan biaya langganan/membership, keuntungan member, serta bagaimana
cara berhenti berlangganan, no. cust service (ukuran huruf minimal harus 30%
dari ukuran huruf REG). Jika ukuran huruf REGnya kecil, maka petunjuk
UNREG harus tetap terbaca (bisa jadi harus lebih besar dari 30%).

14.10.  Bilamana Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten Berlangganan


dilakukan pada media running text pada media TV, maka text ukuran petunjuk
cara berhenti berlangganan (misal : UNREG) dan informasi akses customer care
harus memiliki ukuran yang sama besar dengan text petunjuk cara berlangganan
(misal : REG).

14.11.  Di TV (graphic template) ukuran huruf petunjuk UNREG, biaya, no. cust
service minimal harus 30% dari ukuran huruf REG. Jika ukuran huruf REGnya
kecil, maka petunjuk UNREG harus tetap terbaca (bisa jadi harus lebih besar dari
30%). Durasi petunjuk UNREG harus sama dengan REG

14.12.  Iklan dan Promosi Layanan Mobile Konten melalui media sms broadcast
harus dengan jelas menyebutkan biaya per konten.

15.         Hubungan Antar Anggota IMOCA

15.1. Sesama anggota IMOCA tidak boleh saling mendiskreditkan baik ke dalam
maupun ke luar. Jika terbukti seorang anggota IMOCA melakukan
pendiskreditan, maka sebuah Surat Teguran akan diberikan kepadanya.

15.2. Pelanggaran anggota IMOCA hanya boleh dilaporkan oleh anggota lainnya
ke IMOCA sendiri, bukannya ke institusi lain.

16.         Tindakan

16.1.       Tindakan yang akan diambil oleh IMOCA terhadap suatu pengaduan
atas pelanggaran Kode Etik dapat meliputi teguran lisan, teguran tertulis,
pengembalian uang kepada Konsumen atau tindakan lain yang sesuai, peringatan
tertulis, denda administasi, hingga pemberhentian dan pengucilan dari
keanggotaan IMOCA. Setiap tindakan yang diambil dapat dipublikasikan oleh
IMOCA.

17.         Penanganan

17.1.       IMOCA  dan Perusahaan Penyedia Layanan Konten Mobile harus


menentukan tatacara penanganan pengaduan dan memastikan agar diterimanya
sesuatu pengaduan dikonfirmasikan dalam waktu singkat dan keputusan diambil
dalam waktu yang masuk akal.

17.2.       Penanganan dan penyelesaian suatu kasus pelanggaran Kode Etik harus
diselesaikan oleh IMOCA atau lembaga ombudsmen yang independen/bebas.
IMOCA menentukan tata cara/prosedur penanganan dan pembentukan lembaga
ombudsmen tersebut.

18.         Publikasi

18.1.       IMOCA harus menerbitkan naskah Kode Etik ini dan menyebar
luaskannya seluas mungkin. Cetakan salinan naskah itu harus disediakan secara
cuma-cuma untuk masyarakat.

19.         Penutup

19.1.       Kode Etik Layanan Konten Mobile ini berlaku sejak tanggal ditetapkan,
yaitu sejak hari Sabtu, tanggal 15 Desember 2007

Indonesian Mobile and Online Content Association

Tanggal, 15 Desember 2007

A. Haryawirasma                                               Sapto Anggoro

Ketua Umum                                                 Sekretaris Jendral

 
Lampiran
Nama :
Umur :
Pekerjaan :
1. Apakah anda pernah mendengar atau mengetahui ”sms premium berlangganan/iklan reg”?
a. Ya,dimana……………………………………………………………………………………
…………………………
b. Tidak
2. Apakah anda pernah mengikuti ”sms premium berlangganan/ iklan reg”?
a. Ya,Alasan……………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………….
b. Tidak(tidak perlu menjawan pertanyaan berikutnya)
3. Jenis ”sms premium berlangganan/ iklan reg”apa yang pernah anda ikuti?
a. Zodiak,Horoskop,Ramalan
b. Religi
c. Percintaan,Karier,Keuangan
d. Game,Wallpaper,Ringtone
e. dll,sebutkan…………………………………………………………………………………
………………………….
4. Apakah anda merasa”sms premium berlangganan/ iklan reg” memberi manfaat?
a. Ya, …………………………………………………………………………………
...
………………………………………………………………………………………………
………………………..
b. Tidak,Alasan,............................................................................................................................
......................
5. Setelah mengikuti”sms premium berlangganan/ iklan reg”,apakah pelayanan dari provider
sudah sesuai dengan yang anda harapkan?
a. Ya,Jelaskan................................................................................................................................
.....................
b. Tidak
 Apakah Tarif Tidak sesuai dengan yang di iklanlan?(Ya/Tidak)
 Apakah Sms berlangganan di kirim lebih dari 1 kali/hari?(Ya/Tidak)
 Apakah Prosedurnya berbelit-belit?(Ya/Tidak)
 Apakah anda Sulit menon-aktifkan sms berlangganan tersebut ?(Ya/Tidak)
 Apakah setelah pemberhentian berlangganan dikirim,penyelenggara jasa ”sms premium
berlangganan/ iklan reg” mengirimkan pemberitahuan melalui sms tanpa dikenakan
biaya? (Ya/Tidak)
 Yang
lain.......................................................................................................................................
...........
6. Apakah anda mengetahui lembaga yang menaungi pangaduan keluhan konsumen terhadap
”sms premium berlangganan/ iklan reg” ?
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah anda pernah mengadukan kerugian yang ditimbulkan dari ”sms premium
berlangganan/ iklan reg”?
a. Ya,Dimana.................................................................................................................................
....................
b. Tidak,Alasan.............................................................................................................................
......................
8. Bagaimana cara anda agar berhenti dari ”sms premium berlangganan/ iklan reg”tersebut?
 Mengganti Kartu
 Mencoba dengan berbagai keyword
 Mengadukan pada call centre
 Yang
lain.......................................................................................................................................
.........
9. Apakah penyelenggara ”sms premium berlangganan/ iklan reg”menyediakan pusat
panggilan(call centre)dengan nomor hukum yang dapat dihubungi setiap saat selama 24 jam
sehari?
a. Ya
b. Tidak
10. Untuk kedepannya,Apa yang anda harapkaan dari pemerintah untuk mengatasi masalah yang
timbul dari ”sms premium berlangganan/ iklan reg” ini?
Jawab ..............................................................................................................................................
.........................................................................................................................................................
..........................................................................
Nb: berikan tanda silang untuk jawaban yang anda pilih

Anda mungkin juga menyukai