Anda di halaman 1dari 6

SHOLAT JUM’AT

Pengertian
Shalat Jum'at adalah ibadah shalat yang dikerjakan di hari jum'at dua rakaat secara
berjamaah dan dilaksanakan setelah khutbah. Shalah Jum'at memiliki hukum wajib 'ain bagi
setiap muslim laki-laki atau pria dewasa beragama islam, merdeka sudah mukallaf, sehat
badan serta muqaim (bukan dalam keadaan mussafir) dan menetap di dalam negeri atau
tempat tertentu.

A. Sholat Jum’at
Shalat jum’at merupakan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki yang telah
dewasa, yang waktunya tepat pada waktu zhuhur. Shalat jum’at pelaksanaannya harus
dengan berjama’ah bersama sejumlah kaum muslimin di suatu tempat. pada hakikatnya salat
jum’at ini merupakan pengganti salat zhuhur, sehingga seseorang melakukan shalat jum’at
di masjid ia tidak perlu lagi melakukan shalat zhuhur.Dibawah ini ada beberapa syarat :

B. Hukum Shalat Jum’at


Hukum shalat jum’at Fardhu ‘Ain, artinya kewajiban individu mukallaf  (muslim,
baligh, berakal) kecuali 6 golongan:
1.      Hamba sahaya (budak belian)
2.      Perempuan
3.      Anak kecil (yang belum baligh)
4.      Orang sakit yang tidak dapat menghadiri Jumat
5.      Musafir, yakni orang yang sedang dalam perjalanan jauh
6.      Orang yang udzur jum’at, seperi ada bencana alam atau bahaya.
Pengecualian ini ditetapkan oleh sabda Nabi SAW:

‫(ص"حيح علي‬.‫يض‬ َ ‫ َو‬,ٌ‫"رأَة‬


ٌ ‫ َو َم" ِر‬,‫ص"بِ ٌّي‬ َ ‫ َواِ ْم‬,ٌ‫ َم ْملُ""وك‬:ً‫س"لِ ٍم فِي َج َماعَ" ٍة إِاَّل أَ ْربَ َع"ة‬
ْ ‫ب َعلَى ُك ِّل ُم‬ ٌّ ‫ا ْل ُج ُم َعةُ َح‬
ٌ ‫ق َوا ِج‬
)‫شرطي البخا ري ومسلم‬
Artunya :“Jum'at itu hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjama'ah
kecuali empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit."
Adapun bagi musafir, dan ada yang udzur, karena perbuatan Rasulullah SAW,
apabila mengadakan perjalanan jauh, dan sampai hari jum’at beliau dan para sahabatnya
tidak menunaikan shalat jum’at, melainkan hanya shalat Zuhur, demikian pula ketika
kejadian badai hari jum’at dikota madinah, Beliau menganjurkan para sahabatnya shalat
masing-masimg di rumah mereka.
C.    Kewajiban Mengerjakan Shalat Jum’at
Para ulama sependapat bahwa hukum shalat jum’at adalah fardhu ‘Ain dan jumlah
rakaatnya dua. Hal ini berdasarkan firman AllahSWT.

‫س َع ْوااِل َى ِذ ْك ِرهللاِ َو َذ ُر ْوالبَ ْي ِع َذالِ ُك ْم َخ ْي ُرلَّ ُك ْم انْ ُك ْنتُ ْم تَ ْعلَ ُم ْون‬


ْ ‫الج ُم َعةُ فَا‬
ُ ‫صاَل ِة ِمنْ يَ ْو ِم‬ َ ‫يَا اَيٌّ َها الّ ِذيْنَ ا َمنُ ْوااِ َذا نُ ْو ِد‬            
َّ ‫ي لِل‬
Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Dari ayat di atas, para ulama menyimpulkan bahwa :
a.    Shalat Jum’at Wajib‘Aini bagi yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Orang yang meniggalkannya tanpa udzur adalah dosa besar.
b.    Bila sudah dikumandangkan adzan jum’at, wajib segera untuk mendengar khutbah dan
menunaikan shalat jum’at.
c.   Sesudah adzan jum’at berkumandang haram hukumnya bagi yang wajib jum’at
melakukan kegiatan yang bersifat duniawi seperti jual beli atau pekerjaan lainnya.

Kewajiban shalat jum’at ditetapkan oleh Al-Qur’an dan dikuatkan oleh hadis Nabi SAW,
salah satunya dengan ancaman bagi orang yang meninggalkan jum’at tanpa udzur.
a.   Nabi SAW, bercita-cita menyuruh orang mencari kayu bakar dan yang lainnya
mengumandangkan adzan, lalu Beliau akan membakar rumah orang yang tidak pergi
jum’at.
b.    Nabi SAW, bersabda dari mimbarnya, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti
meninggalkan jum’at atau Allah kunci hati-hati mereka dan mereka dijadikan orang-
orang yang lalai.”
c.    Barang siapa meninggalkan tiga jum’at karena menyepelekannya maka Allah akan
menutup hatinya.

D.  Syarat Menunaikan Shalat Jum’at

   Dibawah ini ada beberapa syarat shalat jum’at yaitu sebagai berikut :
a.       Syarat Wajib Jum’at
1.      Islam, bagi orang kafir tidak wajib berjum’at.
2.      Laki-laki, tidak diwajibkan bagi kaum perempuan.
3.      Baligh, (dewasa), tidak wajib bagi anak-anak.
4.      Aqil (berakal), tidak wajib bagi orang gila.
5.      Sehat, tidak wajib bagi orang sakit atau berhalangan berjum’at.
6.      Merdeka (bukan hamba sanaya).
7.      Muqim (diam atau tinggal dalam negeri) bukan orang musyafir. 
b.      Sunat Jum’at  
1.      Mandi ( membersihkan tubuh) dan memotong kuku.
2.      Berpakaian yang putih dan bersih.
3.      Berpakaian yang rapi.
4.      Memakai wangi-wangian.
5.      Menyegerakan datang ke masjid.
6.      Memperbanyak dzikir dan shalawat.
7.      Memperbanyak baca Al-Qur’an.
8.      Memperhatikan segala maksud khutbah yang dibacakan oleh khatib.

c.       Syarat Sahnya Shalat Jum’at


Adapun syarat-syarat sahnya jum’at menurut madzhab syafi’i antara lain :
1.    Dua raka’at shalat jum’at dan dua khutbahnya harus masih masuk waktu shalat juhur.
2.   Dilaksanakan disuatu perkampungan atau perkotaan (maksudnya apabila yang shalat
jum’at itu semuanya musafir maka shalat jum’atnya tidak sah).
3.    Minimal mendapati satu raka’at (dengan berjama’ah) dari dua raka’at shalat jum’at,
maka jika seorang makmum shalat jum’at tidak mendapati satu raka’at shalat jum’at
bersama imam, maka ia tetap niat shalat jumat tetapi perakteknya shalat juhur empat
raka’at.
4.   Jumlah makmum yang shalat jum’at minimal 40 orang dari penduduk setempat atau
penduduk asli (mustauthin) yang telah wajib jum’at.
5.   Shalat jum’atnya tidak berbarengan atau didahului oleh shalat jum’at dimasjid lain yang
masih satu perkampungan. Artinya tidak boleh ada dua jum’at atau lebih dalam satu
kampung atau satu tempat yang sama.
6.  Harus didahului dua khutbah.
Rosulullah SAW. bersabda :
‫ق واجب علي ك ّل مسلم اال أربعة عبد مملوك أوامرأة أو صب ّي أومريض‬
ّ ‫الجمعة ح‬ 
Artinya : Shalat jum’at adalah hak yang wajib atas setiap muslim kecuali empat
golongan yaitu  budak belian, wanita, anak-anak, orang sakit. (HR. Abu Dawud).

E. Waktu Shalat Jum’at


Golongan mayoritas dari kalangan sahabat dan tabi’in sepakat bahwa waktu shalat
jum’at itu adalah waktu shalat zuhur, berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Bukhari, Abu
Dawud, Tirmidzi, dan Baihaqi dari Anas r.a., Rosulullah bersabda :
)‫س (رواه بخارى‬ َّ ‫صلِّى ا ْل ُج ُم َعةَ ِحيْنَ تَز ُْو ُل ال‬
ِ ‫ش ْم‬ َ ٌ‫سلَّ َم ي‬
َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ‫َكانَ النَّبِ ُّي‬
Artinya : Rasulullah SAW. melaksanakan shalat Jum’at ketika matahari tergelincir. (H.R.
Bukhari).
ْ َ‫س ثُ َّم نَ ْر ِج ُع فَنَ ْتبَ ُع ا ْلفَ ْي َء ا‬
‫ي ِظ َّل الحيطان‬ ِ ‫ش ْم‬ ِ َ‫سلَّ َم ا ْل ُج ُم ِعةَ اِ َذا َزال‬
َّ ‫ت ال‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫صلِّى َم َع َر‬
َ ِ‫س ْو ِل هللا‬ َ ُ‫ُكنَّا ن‬
Artinya : Kami shalat dengan Rasulullah SAW ketika matahari tergelincir, kemudian kami
pulang dengan mengikuti bayang-bayang tembok. (H.R. Muslim).
Bukhari mengatakan, “waktu shalat jum’at ialah apabila matahari telah tergelincir.”
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Umar, Ali, Nu’man bin Basyri, dan dari Umar bin
Huraits. Syafi’I mengatakan, “Nabi SAW., Abu Bakar, Umar, Utsman, dan imam-imam
lainnya mengerjakan shalat jum’at setelah tergelincirnya matahari.”

F. Tempat Penyelenggaraan Shalat Jum’at


Ditulis leh pengarang buku ar-Raudhah Naddiyyah bahwa shalat jum’at itu sah
dilakukan, baik dikota maupun di desa, didalam masjid, didalam bangunan, maupun
dilapangan yang terdapat disekelilingnya, sebagaimana juga sah dilakukan ditempat-tempat
lainnya. Umar r.a. pernah mengirim surat kepada penduduk Bahrain yang isinya,
“Lakukanlah shalat jum’at dimana saja kalian berada.”(HR. Ibnu Abu Syaibah dan menurut
Ahmad sanadnya baik)

Hadis ini menunjukkan bolehnya mengerjakan shalat di perkotaan maupun di pedesaan atau
ditempat manapun yang sekiranya sah dan bisa dilaksanakannya shalat

G. Khutbah
Khutbah jum’at adalah perkataan yang mengandung mau’izah dan tuntunan ibadah
yang diucapkan oleh khotib dengan syarat yang telah ditentukan syara’ dan menjadi rukun.
Untuk memberikan pengertian kepada hadirin menurut rukun dari shalat jum’at. khutbah
jum’at terbagi menjdi dua, yang antara keduanya diadakan waktu istirahat yang pendek, dan
khutbah ini dilakukan sebelum shalat jum’at.
Beberapa hal yang menjadi keharusan sebagai syarat sah khutbah jum’at, antara
lain sebgai berikut :
1.      Khutbah harus dilakukan sebelum shalat.
2.      Khatib harus suci dari hadas, najis, dan menutup aurat.
3.      Khutbah disampaikan diwaktu jum’at dihadapan jama’ah yang menjadikan
terlaksananya shalt jum’at, dan harus dengan suara lantang demi tercapainya faedah
khutbah.
4.      Antara khutbah dan shalat jum’at tidak terpisah dengan jarak yang kira-kira dapat
digunakan untuk makan karena hal itu dianggap sebagai pemisah yang memotong shalat.
(Maksudnya antara khutbah dengan shalat jum’at jarak waktunya tidak terpotong terlalu
lama sehingga setelah khutbah harus langsung dilaksanakan shalat jum’at).
5.      Khutbah harus disampaikan dengan bahasa Arab kecuali jika memang tidak mampu.
Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang berlawanan dengan pendapat kalangan ulama
madzab Hanafi yang memperbolehkan khutbah dengan bahasa Arab. Namun mereka
(ulama madzahb Hanafi) tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakana maupun
dasar yang dapat diikuti.
6.      Dilakukan dengan berdiri bagi yang mampu. Ini adalah pendapat mayoritas ahli Fiqh,
merujuk hadis narasi Ibnu Umar bahwasanya Nabi SAW., berkhutbah pada hari jum’at
kemudian duduk kemudian berdiri, lalu berkhutbah sebagaimana yang kalian lakukan
hari ini.(Mutttafaq ‘alaih). Juga merujuk pada hadis narasi Jabir bin Samura, ia berkata:
Nabi SAW., menyampaikan dua khutbah dimana beliau duduk diantara keduanya,
membaca al-Qur’an, dan mengingatkan manusia.

Dibawah ini adalah beberapa rukun khutbah :

1) Memuji Allah pada tiap-tiap permulaan dua khutbah, sekurang-kurangnya membaca


hamdalah.
2) Mengucapkan shalawat atas Rasulullah SAW dalam kedua khutbah itu, sekurang-
kurangnya, ‫صالَةُ َعلَى ال َّرسُوْ ِل‬
َّ ‫وال‬ ,
َ artinya “Dan shalawat atas Rasulullah SAW”.
3) Membaca syahadatain (dua kalimat syahadat).
4) Berwasiat taqwa, yakni menganjurkan agar taqwa kepada Allah pada tiap-tiap
khutbah, sekurang-kurangnya  ‫اتّقوهللا‬ yang artinya “bertakwalah kalian semua kepada
Allah.”
5) Membaca ayat Al-Qur’an walaupun satu ayat di salah satu kedua khutbah itu dan
lebih utama di dalam khutbah yang pertama.
6) Memohonkan ampunan bagi kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan
mukminat.

Dibawah ini ada beberapa sunnah-sunnah khutbah :

1) Khutbah diucapkan di atas mimbar yang ditempatkan di sebelah kanan mihrab.


2) Khatib hendaknya mengucapkan salam setelah berdiri  di atas mimbar.
3) Khatib hendaknya duduk sewaktu adzan di kumandangkan oleh bilal.
4) Khatib hendaknya memegang tongkat dengan tangan kirinya.
5) Khatib hendaknya menyampaikan khutbahnya dengan suara yang baik, sehingga
mudah di pahami dan diambil manfaatnya oleh para hadirin.
6) Khatib hendaknya tidak memperpanjang khutbahnya.
7) Khatib hendaknya mengeraskan suaranya melebihi dari yang wajib.
Ada pula dibawah ini beberapa syarat mendirikan shalat jum’at yaitu :

1) Didirikan pada suatu tempat, yaitu kota atau desa yang didiami orang banyak.
2) Berjama’ah sekurang-kurangnya (sedikitnya) ada 40 orang laki-laki ahli jum’at.
3) Dikerjakan dalam waktu zhuhur, di hari jum’at.
4) Berkhutbah dahulu dua kali sebelum bersembayang jum’at.

Dan ada pula beberapa mengenai syarat dua khutbah

1) Memulai khutbah itu sesudah tergelincir matahari.


2) Berdiri jika kuasa pada waktu berkhutbah.
3) Khatib hendaklah duduk di antara kedua khutbah, sekurang-kurangnya berhenti
sebentar.
4) Hendaknya dengan suara yang keras kira-kira terdengar oleh bilangan yang sah
jum’at dengan merdeka.
5) Hendaklah berturut-turut, baik rukun, jarak keduanya, maupun antara keduanya
dengan shalat.
6) Khatib hendaklah suci dari hadast dab najis.
7) Khatib hendaklah menutup auratnya.
Ada beberapa uzur-uzur jum’at jama’ah setengahnya :

1) Hujan yang membasahi pakaian.


2) Lumpur jalanan.
3) Bersengatan panas.
4) Bersengatan dingin.
5) Sakit yang memuderati jum’at.
6) Tidak ada pakaian yang layak untuk mendirikan shalat jum’at.
7) Menunggu orang sakit.
8) Bersengatan mengantuk.
9) Bersengatan lapar dan dahaga.
10) Orang buta yang tidak ada orang yang membawanya ketempat dilaksanakannya
shalat jum’at.

H. Hikmah Shalat Jum’at


Adapun terdapat beberapa hikmah mengerjakan shalat jum’at yaitu :
1.   Simbol persatuan sesama umat Islam dengan berkumpul bersama, beribadah bersama
dengan barisan shaf  yang rapat dan rapi.
2.    Untuk menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar sesama manusia. Semua sama
antara yang miskin, kaya, tua, muda, pintar, bodoh, dan lain sebagainya.
3.   Menurut hadis, do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT. akan di kabulkan.
4.   Sebagai syiar Isla