Anda di halaman 1dari 8

F2: Upaya Kesehatan Lingkungan  Penyuluhan Wabah DBD dan Pencegahannya

Tanggal: 8 Oktober 2021

Judul: Penyuluhan Wabah DBD dan Pencegahannya

Latar belakang

Kasus demam berdarah terjadi karena dua faktor utama; musim dan perilaku hidup masyarakat
yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat
menyebabkan kondisi kegawatdaruratan hingga kematian, oleh karena dibutuhkan kesadaran
oleh masyarakat mengenai DBD secara umum dan tindakan pencegahannya. Berbagai upaya
dilakukan untuk mencegah merebaknya wabah DBD. Salah satu caranya adalah dengan
melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M.

Permasalahan

Wabah DBD pada umumnya meningkat ketika musim hujan, hal ini disebabkan oleh semakin
bertambahnya tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk karena meningkatnya curah hujan.
Tidak heran jika hampir setiap tahunnya, wabah DBD digolongkan dalam kejadian luar biasa
(KLB).

Masyarakat diharapkan cukup berperan dalam hal ini. Oleh karena itu, langkah pencegahan yang
dapat dilakukan adalah upaya pencegahan DBD dengan 3M Plus.

Perencanaan dan pemilihan intervensi

Kegiatan: Penyuluhan Wabah DBD dan Pencegahannya

Sasaran: 20-30 peserta >12 tahun hingga lansia yang datang ke poli umum

Tujuan umum:

 Menurunkan angka kejadian DBD di wilayah kelurahan Kalisari

Tujuan khusus:

 Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit DBD dan pencegahannya


Metode: Penyampaian informasi secara langsung antara pemberi materi dan penerima materi
dalam pelayanan poli umum.

Penanggung jawab : Peserta PIDI

Pelaksanaan

Dilakukan penyuluhan 3M Plus;

1. Menguras, merupakan kegiatan membersihkan/menguras tempat yang sering menjadi


penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum dan tempat penampungan air lainnya.
Dinding bak maupun penampungan air juga harus digosok untuk membersihkan dan membuang
telur nyamuk yang menempel erat pada dinding tersebut. Saat musim hujan maupun pancaroba,
kegiatan ini harus dilakukan setiap hari untuk memutus siklus hidup nyamuk yang dapat
bertahan di tempat kering selama 6 bulan.

2. Menutup, merupakan kegiatan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak
mandi maupun drum. Menutup juga dapat diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas di
dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan dapat berpotensi menjadi sarang
nyamuk.

3. Memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), kita juga
disarankan untuk memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang-barang bekas yang
berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.

“Plus” yang dimaksud disini antara lain kegiatan yang dapat menunjang PSN, diantaranya;

 Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk


 Menggunakan obat anti nyamuk
 Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
 Gotong Royong membersihkan lingkungan

Monitoring dan Evaluasi

Koordinasi dengan kader setempat untuk pemantauan lingkungan sekitar RT/RW yang masih
memiliki potensi sebagai sarang nyamuk serta dilakukan evaluasi secara rutin mengenai kasus
DBD setiap bulannya terutama ketika musim hujan.
F2: Upaya Kesehatan Lingkungan  Penyuluhan Mengenai Skabies dan Pencegahannya
Tanggal: 30 September 2021

Judul: Penyuluhan Mengenai Skabies dan Pencegahannya

Latar Belakang

Skabies merupakan penyakit parasitik yang menjadi tantangan dalam kesehatan lingkungan
sacara umum. Hal ini disebabkan oleh karena diagnosisnya yang cenderung terlambat dan
penularannya yang cukup cepat. Ditambah lagi, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor
sanitasi lingkungan (ventilasi, pencahayaan, suhu, kelembaban dan tempat penyediaan air bersih)
berhubungan dengan angka kejadian dan penularan skabies. Pemahaman masyarakat mengenai
scabies dan kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan skabies menjadi poin penting untuk
mencapai penyeleasian penyakit skabies di wilayah Kalisari.

Permasalahan

 Meningkatnya angka kasus skabies di wilayah Kalisari


 Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai bagaimana cara untuk mengobati penyakit
skabies dan kesehatan lingkungan yang berhubungan untuk mencegah penularan skabies.

Perencanaan dan pemilihan intervensi

Kegiatan: Penyuluhan Mengenai Skabies dan Pencegahannya

Sasaran: 20-30 peserta >12 tahun hingga lansia yang datang ke poli umum

Tujuan umum:

 Menurunkan angka kejadian skabies di wilayah kelurahan Kalisari

Tujuan khusus:

 Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit skabies dan pencegahan


penularannya.

Metode: Penyampaian informasi secara langsung antara pemberi materi dan penerima materi
dalam pelayanan poli umum.
Penanggung jawab : Peserta PIDI

Pelaksanaan

Dilakukan penyuluhan kesehatan lingkungan dalam penanganan Skabies:

1. Cuci Semua Pakaian.

Bila kamu menduga banyak tungau di dalam kamar, cobalah untuk mencuci semua pakaian dan
sprei tempat tidur. Gunakan air panas dan sabun. Bila perlu direbus untuk membunuh tungau
yang masih tertinggal.

2. Bersihkan Seluruh Ruangan di Rumah.

Bersihkan dengan menggunakan mesin penyedot debu. Selain itu, bersihkan pula semua karpet
dan furnitur yang ada di dalam rumah.

3. Hindari Kontak.

Karena bisa menular lewat kontak fisik, maka cara menghindari kudis bisa dengan menyingkir
dari kontak erat dengan pengidap kudis. Jangan lupa untuk menghindari kebiasaan menggunakan
barang-barang pribadi seperti handuk.

4. Buang Barang-Barang.

Bungkus dengan plastik benda yang dicurigai terkontaminasi tungau, namun tak bisa dicuci.
Kemudian, letakkan barang tersebut di tempat yang jauh dari jangkauan. Tungau tersebut akan
mati dalam beberapa hari.

Monitoring dan Evaluasi

Koordinasi dengan kader setempat untuk pelacakan kasus skabies dan kontaknya, serta dilakukan
evaluasi secara rutin mengenai kasus skabies setiap triwulan di wilayah Kalisari.
F2: Upaya Kesehatan Lingkungan  Investigasi Kontak TB dan Edukasi Kesehatan
Lingkungan terkait TB

Tanggal: 13 Oktober 2021

Judul: Investigasi Kontak TB dan Edukasi Kesehatan Lingkungan terkait TB

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu dari negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. WHO
memperkirakan insiden tahun 2018 sebesar 843.000 atau 319 per 100.000 penduduk sedangkan
TBC-HIV sebesar 36.000 kasus per tahun atau 14 per 100.000 penduduk. Kematian karena TBC
diperkirakan sebesar 107.000 atau 40 per 100.000 penduduk, dan kematian TBC-HIV sebesar
9.400 atau 3,6 per 100.000 penduduk. Dengan insiden sebesar 843.000 kasus per tahun dan
notifikasi kasus TBC sebesar 570.289 kasus maka masih ada sekitar 32% kasus yang belum
ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh
program (detected, un-notified). Mereka yang belum ditemukan menjadi sumber penularan TBC
di masyarakat. Keadaan ini merupakan tantangan besar bagi program penanggulangan TBC di
Indonesia, diperberat dengan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi
seperti koinfeksi TBC-HIV, TBC resistan obat (TBC-RO), TBC kormobid, TBC pada anak dan
tantangan lainnya. Berdasarkan hal tersebut di atas, Program Penanggulangan TB mergubah
strategi penemuan pasien TBC tidak hanya “secara pasif dengan aktif promotif” tetapi juga
melalui “penemuan aktif secara intensif dan masif berbasis keluarga dan masyarakat “, dengan
tetap memperhatikan dan mempertahankan layanan yang bermutu sesuai standar.

Permasalahan

 Angka kasus baru TB di wilayah Kalisari yang tidak kunjung turun.


 Pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan lingkungan terkait TB yang kurang

Perencanaan dan pemilihan intervensi

Kegiatan: Investigasi Kontak TB dan Edukasi Kesehatan Lingkungan terkait TB

Sasaran: Tiga pasien TB, anggota keluarga serumah, rumah sekitar penderita TB
Tujuan umum:

 Menurunkan angka kasus baru TB di wilayah kelurahan Kalisari

Tujuan khusus:

 Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit TB dan kesehatan lingkungan


terkait TB
 Follow up pengobatan pada pasien TB

Metode: Koordinasi dan kunjungan langsung bersama kader TB. Evaluasi lingkungan sekitar
rumah pasien TB dan anggota keluarga serumah, serta memberikan formulir cek dahak untuk
kontak erat atau suspek TB. Evaluasi pengetetahuan mengenai kesehatan lingkungan terkait TB
dan melakukan edukasi.

Penanggung jawab : Tim TB Puskesmas Kalisari

Pelaksanaan

1. Berangkat bersama kader TB dari puskesmas Kalisari.


2. Pertemuan dengan ketua RT untuk menginformasikan mengenai kegiatan investigasi
kontak.
3. Menuju rumah-rumah pasien TB untuk evaluasi pengobatan, evaluasi lingkungan, dan
evaluasi pengetahuan mengenai kesehatan lingkungan terkait TB.
4. Edukasi mengenai pentingnya berjemur, membuka jendela untuk memastikan cahaya
masuk, dan etika batuk.
5. Pemberian pot dahak untuk kontak erat atau suspek TB untuk pemeriksaan TCM.
6. Foto bersama, lalu kembali ke puskesmas Kalisari.

Monitoring dan Evaluasi

Koordinasi dengan kader setempat untuk kasus baru TB dan suspek TB. Evaluasi secara rutin
mengenai kasus TB setiap triwulan di wilayah Kalisari.
F2: Upaya Kesehatan Lingkungan  Investigasi Jentik pada Wilayah Temuan Kasus DBD

Tanggal: 13 Oktober 2021

Judul: Investigasi Jentik pada Wilayah Temuan Kasus DBD

Latar Belakang

Penyakit DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat, umumnya terjadi di daerah perkotaan
namun saat ini juga sudah menyebar sampai daerah pedesaan, dengan sirkulasi serotype virus
beragam dan endemik khususnya di negara-negara tropis dan subtropis seperti Indonesia. Hampir
semua wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, sebab baik virus
dengue penyebab penyakit maupun nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularnya sudah
tersebar luas di perumahan penduduk maupun fasilitas umum di seluruh Indonesia

Dalam satu minggu terakhir ditemukan dua kasus DBD baru di wilayah Kalisari. Oleh karena itu,
perlu dilakukan investigasi jentik untuk melihat apakah ada sumber pengembangbiakan jentik di
wilayah terkait.

Permasalahan

 Ditemukannya kasus DBD baru di wilayah Kalisari.


 Investigasi jentik yang dahulu rutin menjadi tertunda karena pandemi.

Perencanaan dan pemilihan intervensi

Kegiatan: Penyuluhan Wabah DBD dan Pencegahannya

Sasaran: RW 3

Tujuan umum:

 Menurunkan angka kejadian DBD di wilayah kelurahan Kalisari

Tujuan khusus:

 Membasmi sumber pengembangbiakan jentik di wilayah Kalisari.


 Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit DBD dan pencegahannya
Metode: Koordinasi dan kunjungan langsung bersama kader jemantik untuk mengevaluasi
lingkungan sekitar RW 3 untuk kemungkinan terdapatnya sumber pengembangbiakan jentik
nyamuk.

Penanggung jawab : Tim Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kalisari

Pelaksanaan

1. Berangkat bersama kader jemantik dari puskesmas Kalisari


2. Pertemuan dengan ketua RW dan tim RT di lapangan.
3. Evaluasi lingkungan sekitar RW 3 untuk kemungkinan sumber pengembangbiakan jentik
nyamuk
4. Evaluasi rumah pasien dengan kasus baru DBD untuk kemungkinan sumber
pengembangbiakan jentik nyamuk
5. Mendiskusikan rencana fogging wilayah apabila memang diperlukan

Monitoring dan Evaluasi

Koordinasi dengan kader jemantik apakah dalam 1-2 minggu kedepan sumber jentik nyamuk
sudah dikuras. Evaluasi kasus DBD setiap triwulan.

Anda mungkin juga menyukai