Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN SEMENTARA

DASAR-DASAR AGRONOMI
ACARA V
PEMECAHAN DORMANSI DAN PENGHAMBAT
PERKECAMBAHAN BIJI

Disusun Oleh:

Arta Kusumaningrum / 11082 / PKP


Gol/Kel: A1 / II
Asisten: Oktaviani

LABORATORIUM MANAGEMEN DAN PRODUKSI TANAMAN


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2008
TUJUAN

Mengetahui penyebab terjadinya dormansi biji, Mengetahui pengaruh perlakuan


mekanis dan khemis terhadap perkecambahan biji berkulit keras, serta mengetahui
pengaruh cairan buah terhadap perkecambahan biji.

TINJAUAN PUSTAKA

Istilah dormansi mempunyai aplikasi yang luas dalam fisiologi tanaman yang mengacu
pada ketidakadaan pertumbuhan di dalam bagian tanaman yang dipengaruhi faktor dalam dan
luar. Dormansi pada biji merupakan salah satu penyebab gagalnya perkecambahan walaupun
biji dapat menyerap air dan berada pada temperatur dan tingkat oksigen yang baik. Jika biji
dapat segera berkecambah setelah menyerap air tanpa adanya penghalang dalam
perkecambahan , embrio dikatakan tidak dorman (Hartmann dan Dale, 1975).

Biji akan bekecambah setelah mengalami masa dorman yang disebabkan berbagai faktor
internal , seperti embrio masih berbentuk rudiment atau belum masak (dari segi fisiologis) ,
kulit biji yang tahan atau impermeabel , atau adanya penghambat tumbuh (Hidayat, 1995).

Kekerasan kulit biji merupakan hambatan fisik terhadap perkembangan embrio sehingga
menyebabkan embrio kurang mampu menyerap air dan oksien serta karbon dioksida tidak
dapat keluar secara baik yang berakibat proses respirasi tidak sempurna. Berbagai cara untuk
memperpendek dormansi dapat dilakukan dengan meretakkan kulit biji , perendaman dalam
zat kimia seperti kalium nitrat pada konsentrasi tertentu atau dengan pemanasan. Setelah kulit
biji retak , biji menjadi permiabel terhadap air dan udara disekelilingnya , sehingga
memudahkan masukknya air yang sangat dibutuhkan biji untuk berkecambah (Siregar dan
Utami, 1994).

Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman,


sebelum berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman. Perkecambahan ditandai dengan
munculnya radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih , terus ke bawah dan
membentuk sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini
proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar
dapat dilarutkan , hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut
dipindah ke jaringan meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan
energi kinetik (Edmond et al., 1975).

Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel dapat
dirangsang dengan skarifikasi , yaitu pengubahan kulit biji untuk membuatnya menjadi
permeabel terhadap gas-gas dan air. Cara mekanik seperti pengamplasan merupakan cara
yang paling umum yang biasa dilakukan (Harjadi, 1986).

Pengaruh kotiledon terhadap perkecambahan biji adalah kotiledon akan


mempengaruhi tumbuhnya tumbuhan tersebut. bila kotiledon dikotil diambil satu jelas tidak
akan tumbuh , karena awal dikotil ini tumbuh bijinya harus tetap menyatu tidak fungsi
kotiledon bagi prkembangan biji sangatlah penting , yaitu sebagai sumber cadangan makanan
yang digunakan untuk proses pertumbuhan dari terbentuknya kecambah sampai tumbuhan
tersebut dapat membuat makanannya sendiri yang ditandai dengan terbentuknya daun yang
sempurna dan kotiledonnya mulai rontok/mengecil. Selama biji berkecambah , energi yang
digunakan untuk proses tersebut berasal dari kotiledon dan ketika telah terbentuk daun maka
cadangan makanan dari kotiledon telah habis terpakai sehingga kotiledonnya akan mengecil
dan rontok. Setelah itu fungsi kotiledon digantikan daun , yaitu sebagai sumber energi melalui
fotosintesis. Tumbuhan dikotil apabila kotiledonnya diambil 1 , masih bisa tumbuh tetapi
mungkin pertumbuhannya tidak secepat tumbuhan yang memiliki 2 kotiledon (zoom ,2007).
Untuk memperpendek dormansi biji dapat dilakukan dengan berbagai cara , yaitu
dengan meretakkan kulit biji , perendaman dengan zat kimia seperti Kalium Nitrat pada
konsentrasi tertentu atau dengan pemanasan (Hanson, 1981 cit. Hartutiningsih et al.,1994).

Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperpendek dormansi adalah dengan
perendaman. Pada padi , perendaman gabah bertujuan memberikan keleluasaan gabah untuk
menghisap air secukupnya. Masuknya air ke dalam biji akan diatur oleh kulit gabah. Gabah
akan berkecambah sepanjang 1-2 mm sesudah 2 malam , kecambah ini paling baik untuk
disemai , karena kecambah yang lebih panjang menyukarkan penebaran benih. Akarnya akan
berkait-kaitan satu sama lain dan dapat patah (Soemartono et al., 1981).

METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman Jurusan
Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada , pada tanggal 24 Maret
2008. Dengan menggunakan bahan dan alat-alat sebagai berikut , untuk perlakuan khemis
pada biji berkulit menggunakan bahan seperti: biji saga ( Abrus precatorius ) , H2SO4 pekat ,
kertas filter , dan aquades. Sedang untuk alat menggunakan beaker glass , corong penyaring
kaca , dan petridish. Pelakuan mekanis pada biji berkulit keras menggunakan bahan-bahan
seperti : biji saga ( Abrus precatorius ) , kertas filter , dan aquadesh. Serta alat yang di
gunakan adalah amplas dan petridish.Untuk pengaruh cairan bahan yang di butuhkan adalah
biji padi ( Oryza sativa ) , kertas filter , coumarin 0 , 25 , 50 , dan 100 %. Alat – alat yang di
pakai antara lain petridish dan pinset.

Cara kerja dalam perlakuan khemis pada bij berkulit keras adalah 100 biji saga diambil ,
kemudian direndam dalam H2SO4 50% v/v selama 1 , 3 , dan 6 menit dalam air sebagai
kontrol masing-masing. Biji saga dicuci setelah diberi perlakuan tersebut dengan
menggunakan air bersih. Biji yang telah diperlakukan ke dalam larutan NaHCO3 selama
beberapa menit , untuk menetralisir asam sulfat. Biji saga dicuci yang telah diperlakukan
tersebut dengan air sampai bersih , lalu dikecambahkan pada petridish yang telah diberi alas
kertas filter basah. Biji diamati dan dihitung berkecambahannya setiap hari selama 10 hari dan
biji yang sudah berkecambah atau berjamur dapat dibuang , jika perlu media perkecambahan
dapat diganti. Gaya berkecambahan dan indeks vigor dihitung. Dibuat grafik gaya
berkecambah dan indeks vigor pda berbagai hari pengamatan.

Untuk cara kerja pada perlakuann mekanis pada biji berkulit keras diambil bij saga , dan
diamplas bagian tepinya. Biji dikecambahkan pada petridish yang telah dialasi sehelai kertas
filter basah. Biji dikecambahkan pula dengan tidak diberi perlakuan dalam jumlah yang sama
sebagai kontrol. Biji yang berkecambah diamati dan dihitung setiap hari selama 10 hari , yang
sudah dihitung dan yang berjamur dapat dibuang, jika perlu media dapat diganti. Dibuat
grafik gaya berkecambah dan indeks vigor pada berbagai hari pengamatan.

Sedangkan untuk pengaruh cairan daging buah disiapkan 100 biji padi. Biji
dikecambahkan pada 4 petridish masing-masing 25 biji dengan alas kertas saring yang
dibasahi dengan coumarin 0, 25, 50, dan 100%. Perkecambahan biji diamati dan dihitung
setiap hari selama 10 hari , yang sudah dihitung dan yang berjamur dapat dibuang , bila media
berjamur diganti sesuai perlakuan. Perlakuan kontrol (coumarin 0 % ) diamati , bila biji sudah
berkecambah lebih dari 50% maka seluruh biji dari perlakuan lain dicuci dan diganti
medianya dengan air biasa. Pengamatan dilanjutkan hingga hari kesepuluh. Gaya
perkecambahan dan indeks vigor dihitung. Dibuat grafik gaya berkecambah dan indeks vigor
pada berbagai hari pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA
Edmond, J. B., T. L. Senn dan F. S. Andrews. 1957. Fundamentals of Horticulture.
Mc Grown – Hill Book Company. New York. 476 p

Harjadi, S. S. 1986. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. 191 p

Hartmann, H.T. dan Dale E.K. 1975. Plant Propagation Principles and Practices.
Prentice-Hall, Inc., New Jersey

Hartutiningsih, M. Siregar dan N. W. Utami. 1994. Perkecambahan biji kenari babi


(Canarium decumanum gaerth). Buletin Kebun Raya Bogor 8 (1) : 25 –
29

Hidayat, E.B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB Bandung, Bandung

Siregar, H.M. dan N.W. Utami. 1994. Perkecambahan Biji Kenari Babi (Canarium
decumanum Gaertn). Buletin Kebun Raya Indonesia 8 (1): 25-29

Soemartono, S. Somad. dan R. Harjono. 1981. Bercocok Tanam Padi. Yasa Guna.
Jakarta. 228 p

Zoom, Anas . 2007 . Pengaruh Kotiledon Terhadap Biji . http : // www.Agriculture


super Camp.com . Diakses tanggal 27 Maret 2008 .
LAPORAN SEMENTARA
DASAR-DASAR AGRONOMI
ACARA V
PEMECAHAN DORMANSI DAN PENGHAMBAT
PERKECAMBAHAN BIJI

Disusun Oleh:

Farida Umi Inayati / 11024 / Sosek


Gol/Kel: A1 / IV
Asisten: Eliezha Heni

LABORATORIUM MANAGEMEN DAN PRODUKSI TANAMAN


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2008