Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

KISTA GINJAL

Untuk Menyelesaikan Tugas Profesi Keperawatan Medikal Bedah


Program Profesi Ners

Disusun Oleh:
Muji Palhadad, S.Kep
11194692010076

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2020
LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL KASUS : Kista Ginjal


NAMA MAHASISWA : Muji Palhadad, S.Kep
NIM : 11194692010076

Banjarmasin, Februari 2021

Menyetujui,

RSUD Ulin Banjarmasin Program Studi Profesi Ners


Preseptor Klinik (PK) Preseptor Akademik (PA)

…………………………………. …………………………………….
NIK. NIK.
A. Anatomi Fisiologi Ginjal
Anatomi ginjal menurut Price dan Wilson (2018) dan Smletzer dan Bare
(2018), ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak pada
kedua sisi kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan
ginjal kiri karena tekanan ke bawah oleh hati. Katub atasnya terletak setinggi
iga kedua belas. Sedangkan katub atas ginjal kiri terletak setinggi iga
kesebelas. Ginjal dipertahankan oleh bantalan lemak yang tebal agar
terlindung dari trauma langsung, disebelah posterior dilindungi oleh iga dan
otot-otot yang meliputi iga, sedangkan anterior dilindungi oleh bantalan usus
yang tebal. Ginjal kiri yang berukuran normal biasanya tidak teraba pada
waktu pemeriksaan fisik karena dua pertiga atas permukaan anterior ginjal
tertutup oleh limfa, namun katub bawah ginjal kanan yang berukuran normal
dapat diraba secara bimanual.

Gambar 1. Anatomi Ginjal

Ginjal terbungkus oleh jaringan ikat tipis yang dikenal sebagai kapsula
renis. Disebelah anterior ginjal dipisahkan dari kavum abdomen dan isinya
oleh lapisan peritoneum. Disebelah posterior organ tersebut dilindungi oleh
dinding toraks bawah. Darah dialirkan kedalam setiap ginjal melalui arteri
renalis dan keluar dari dalam ginjal melalui vena renalis. Arteri renalis berasal
dari aorta abdominalis dan vena renalis membawa darah kembali kedalam
vena kava inferior.
Pada orang dewasa panjang ginjal adalah sekitar 12 sampai 13 cm (4,7-
5,1 inci) lebarnya 6 cm (2,4 inci) tebalnya 2,5 cm (1 inci) dan beratnya sekitar
150 gram. Permukaan anterior dan posterior katub atas dan bawah serta tepi
lateral ginjal berbentuk cembung sedangkan tepi lateral ginjal berbentk
cekung karena adanya hilus.
Apabila dilihat melalui potongan longitudinal, ginjal terbagi menjadi dua
bagian yaitu korteks bagian luar dan medulla di bagian dalam. Medulla
terbagibagi menjadi biji segitiga yang disebut piramid, piranid-piramid tersebut
diselingi oleh bagian korteks yang disebut kolumna bertini. Piramid-piramid
tersebut tampak bercorak karena tersusun oleh segmen-segmen tubulus dan
duktus pengumpul nefron. Papilla (apeks) dari piramid membentuk duktus
papilaris bellini dan masukke dalam perluasan ujung pelvis ginjal yang disebut
kaliks minor dan bersatu membentuk kaliks mayor, selanjutnya membentuk
pelvis ginjal.
Ginjal tersusun dari beberapa nefron. Struktur halus ginjal terdiri atas
banyak nefron yang merupakan satuan fungsional ginjal, jumlahnya sekitar
satu juta pada setiap ginjal yang pada dasarnya mempunyai struktur dan
fungsi yang sama. Setiap nefron terdiri dari kapsula bowmen yang mengintari
rumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan
tubulus kontortus distal yang mengosongkan diri ke duktus pengumpul.
Kapsula bowman merupakan suatu invaginasi dari tubulus proksimal.
Terdapat ruang yang mengandung urine antara rumbai kapiler dan kapsula
bowman dan ruang yang mengandung urine ini dikenal dengan nama ruang
bowmen atau ruang kapsular. Kapsula bowman dilapisi oleh sel-sel epitel. Sel
epitel parielalis berbentuk gepeng dan membentuk bagian terluar dari kapsula,
sel epitel veseralis jauh lebih besar dan membentuk bagian dalam kapsula
dan juga melapisi bagian luar dari rumbai kapiler. Sel viseral membentuk
tonjolan tonjolan atau kaki-kaki yang dikenal sebagai pedosit, yang
bersinggungan dengan membrana basalis pada jarak-jarak tertentu sehingga
terdapat daerah daerah yang bebas dari kontak antar sel epitel. Daerah-
daerah yang terdapat diantara pedosit biasanya disebut celah pori-pori.
Vaskilari ginjal terdiri dari arteri renalis dan vena renalis. Setiap arteri
renalis bercabang waktu masuk kedalam hilus ginjal. Cabang tersebut
menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara pyramid dan selanjutnya
membentuk arteri arkuata yang melengkung melintasi basis piramid-piramid
ginjal. Arteri arkuata kemudian membentuk arteriola-arteriola interlobaris yang
tersusun oleh parallel dalam korteks, arteri ini selanjutnya membentuk
arteriola aferen dan berakhir pada rumbai-rumbai kapiler yaitu glomerolus.
Rumbai-rumbai kapiler atau glomeruli bersatu membentuk arteriola eferen
yang bercabangcabang membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi
tubulus dan kapiler peritubular. Darah yang mengalir melalui sistem portal
akan dialirkan ke dalam jalinan vena menuju vena intelobaris dan vena renalis
selanjutnya mencapai vena kava inferior. Ginjal dilalui oleh darah sekitar
1.200 ml permenit atau 20%-25% curah jantung (1.500 ml/menit).
Menurut Price dan Wilson (2013), ginjal mempunyai berbagai macam
fungsi yaitu ekskresi dan fungsi non-ekskresi. Fungsi ekskresi diantaranya
adalah :
1. Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 mOsmol dengan
mengubah-ubah ekskresi air.
2. Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang
normal.
3. Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan
H+ dan membentuk kembali HCO3
4. Mengekresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein, terutama
urea, asam urat dan kreatinin.
Sedangkan fungsi non-ekresi ginjal adalah :
1. Menghasilkan rennin yang penting untuk pengaturan tekanan darah.
2. Menghasilkan eritropoetin sebagai faktor penting dalam stimulasi produksi
sel darah merah oleh sumsum tulang.
3. Metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya.
4. Degradasi insulin.
5. Menghasilkan prostaglandin.

Gambar 2. Penampang
Ginjal

B. Definisi
Kista ginjal adalah gangguan pada ginjal yang disebabkan munculnya
kantung berisi cairan atau material semisolid di dalam jaringan ginjal, baik
pada salah satu ginjal ataupun keduanya (Alam, 2017). Kista Ginjal adalah
suatu penyakit keturunan dimana pada kedua ginjal ditemukan suatu kantung
tertutup yang dilapisi jaringan epitel dan berisi cairan atau bahan setengah
padat. Ginjal menjadi lebih besar tetapi memiliki sedikit jaringan ginjal yang
masih berfungsi.
Kista Ginjal adalah suatu penyakit ginjal yang akan ditandai dengan
tumbuhnya gelembung-gelembung balon berisi cairan yang dapat merusak
ginjal (M. Yusuf, 2019). Kista Ginjal adalah adanya suatu rongga yang
berdinding epitel dan berisi cairan atau material semisolid pada ginjal baik
hanya pada satu ginjal maupun pada kedua ginjal, baik korteks maupun pada
medulla.

C. Etiologi
Penyebab utama dari terjadinya kista ginjal sampai saat ini belum diketahui
namun terdapat beberapa faktor predisposisi yang menjadi penyebab
munculnya penyakit kista. Adapun beberapa faktor tersebut antara lain:
1. Genetik
Penyakit ginjal bawaan ini bisa saja muncul karena faktor keturunan.
Kelainan genetik yang menyebabkan penyakit ini bisa bersifat dominan
atau resesif, artinya bisa memiliki 1 gen dominan dari salah satu orang
tuanya (autosomal dominant) atau 2 gen resesif dari kedua orang tuanya
(autosomal resessive). Penderita yang memiliki gen resesif biasanya baru
menunjukkan gejala pada masa dewasa. Penderita yang memiliki gen
dominan biasanya menunjukkan penyakit yang berat pada masa kanak-
kanak.
2. Usia
Angka kejadian penyakit Kista Ginjal meningkat sesuai usia. Sekitar 20 %
pada usia di atas 40 tahun dan 30 % pada usia 60 tahun, namun secara
umum Kista Ginjal lebih banyak diderita pada usia 30-40 tahun.
3. Jenis Kelamin
Penyakit Kista Ginjal ini sering ditemukan pada pria dibanding wanita.

D. Klasifikasi
1. Ginjal Polikistik Resesif Autosomal (Autosomal Resesif Polycystic
Kidney/ARPKD)
Disebabkan oleh mutasi suatu gen yang belum teridentifikasi pada
kromosom. Manifestasi serius biasanya sudah ada sejak lahir, dan bayi
cepat meninggal akibat gagal ginjal. Ginjal memperlihat banyak kista kecil
dikorteks dan medulla sehingga ginjal tampak seperti spons
2. Ginjal Polikistik dominan autosomal (Autosomal Dominant Polycytstic
Kidney/ADPKD)
Diperkirakan  karena kegagalan fungsi antara glomerulus dan tubulus
sehingga terjadi pengumpulan cairan pada saluran buntu tersebut. Kista
yang semakin besar akan menekan parenkim ginjal sehingga terjadi
iskemia dan secara perlahan fungsi ginjal akan menurun. Hipertensi dapat
terjadi karena iskemia jaringan ginjal yang menyebabkan peningkatan
rennin angiotensin (Alam, 2017).

E. Manifestasi Klinik
1. Perut terasa kembung
2. Urin keluar dalam jumlah banyak
3. Adanya gumpalan besar pada bagian kanan atau kiri panggul
4. Nyeri pinggang
5. Penurunan atau peningkatan berat badan (Alam, 2017).

F. Patofisiologi
Banyak teori menjelaskan tentang mekanisme terjadinya Kista Ginjal. Diantara
teori-teori tersebut adalah :
1. Terjadi kegagalan proses penyatuan nefron dengan duktus kolekting
(saluran pengumpul).
2. Kegagalan involusi dan pembentukkan kista oleh nefron generasi pertama.
3. Defek pada membrane basal tubulus (tubular basement membrane).
4. Obstruksi nefron oleh karena proliferasi epitel papila.
5. Perubahan metabolisme yang merangsang terjadinya kista.
Kedua ginjal menjadi tidak normal, walaupun salah satu mungkin lebih
besar daripada yang lain. Didalamnya terdapat kista-kista yang difus, dengan
ukuran yang bervariasi antara beberapa 1 cm sampai 10 cm.
Apabila di dalam ginjal seseorang terdapat suatu massa seperti kista
yang jika dibiarkan maka kista ini akan menekan ginjal. Secara perlahan ini
akan mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi ginjal. Untuk
mempertahankan homeostasis maka tubuh melakukan suatu kompensasi
dengan meningkatkan aktivasi hormon renin yang diubah menjadi
angiostensin I yang kemudian diubah menjadi angiostensin II, yaitu senyawa
vasokontriktor paling kuat. Vasokonstriksi dapat meningkatkan tekanan darah.
Aldosteron disekresikan oleh kortek adrenal sebagai reaksi terhadap stimulasi
oleh kelenjar hipofisis dan pelepasan Adeno (ACTH) sebagai reaksi terhadap
perfusi yang jelek atau peningkatan osmolalitas serum. Akibatnya terjadi
peningkatan tekanan darah.
Selain itu penurunan fungsi ginjal juga berdampak pada terjadinya
penimbunan sisa-sisa hasil kemih (azotemia) yang mengakibatkan terjadinya
penurunan glomerolus filtrasi rate (GFR), sehingga terjadi peningkatan ureum
kreatinin dalam darah. Salah satu organ yang mengalami dampak ini adalah
saluran GI, terjadinya gangguan metabolisme protein dalam usus serta
asidosis metabolik yang berakhir pada gejala nausea dan anoreksia
(Smeltzer, 2013).
Pada kondisi lain edema pada pasien Kista Ginjal disebabkan rendahnya
kadar albumin serum yang mengakibatkan rendahnya tekanan osmotik
plasma, kemudian akan diikuti peningkatan transudasi cairan dan kapiler ke
ruang interstitial sesuai dengan hukum Starling. Akibatnya volume darah yang
beredar akan berkurang (underfilling) yang selanjutnya mengakibatkan
perangsangan sekunder sistem renin-angiostensin-aldosteron yang meretensi
natrium dan air pada tubulus distalis. Hipotesis ini menempatkan albumin dan
volume plasma berperan penting pada proses terjadinya edema  (Aru W.
Sudoyo, dkk, 2019).
Jika kista yang tumbuh  pada ginjal terutama daerah korteks maka
peregangan kapsula renalis sehingga jaringan ginjal membengkak. Hal inilah
yang menyebabkan rasa nyeri pada daerah pinggang sampai ke bahu.
G. Pathway

Genetik Usia Jenis Kelamin

Kedua ginjal atau


slah satu ginjal
terdapat kista

Terjadi
iritasi/infeksi

Kista

Ginjal

Perut membesar Peningkatan jaringan parut

Terganggunya Obstruksi saluran kemih


perkembangan paru

Suplai O2 tidak Menyebabkan luka/ Iritasi


adekuat
Ekspansi paru

Kematian sel
Kelelahan
Pola Nafas tidak
Efektif
Nyeri akut

Intoleransi aktivitas

Kesulitan Berkemih

Gangguan Eliminasi
Urin
H. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada kista ginjal antara lain (Alam, 2017).:
1. Kista pecah
2. Infeksi pada kista
3. Gangguan buang air kecil
4. Gagal ginjal
5. Hipertensi

I. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan kasus ini adalah konservatif, dengan evaluasi rutin
menggunakan USG. Apabila kista sedemikian besar, sehingga menimbulkan
rasa nyeri atau muncul obstruksi, dapat dilakukan tindakan bedah. Tindakan
bedah yang dapat dilakukan pada kista adalah:
1. Bedah terbuka
a. Eksisi
b. Eksisi dengan cauterisasi segmen yang menempel ke parenkim.
c. Drainase dengan eksisi seluruh segmen eksternal kista.
d. Heminefrektomi
2. Laparoskopi
Prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan
kecil di dinding perut (Alam, 2007).

J. Penatalaksanaan Keperawatan
Asuhan Keperawatan pada Klien Kista Ginjal
1. Pengkajian
a. Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengeluh kencing berwarna
seperti cucian daging, bengkak pada seluruh tubuh. Tidak nafsu
makan.
b. Pengkajian fisik
c. Pengkajian Per pola
1) Pernafasan
Adanya edema paru maka pada inspeksi terlihat retraksi dada,
penggunaan otot bantu napas, auskultasi terdengar rales dan
krekels , pasien mengeluh sesak, frekuensi napas meningkat.
Kelebihan beban sirkulasi dapat menyebabkan pembesaran jantung
(Dispnea, ortopnea dan pasien terlihat lemah), anemia dan
hipertensi yang juga disebabkan oleh spasme pembuluh darah.
2) Sirkulasi
Dalam perawatan klien perlu istirahat karena adanya kelainan
jantung dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu dan mobilisasi
duduk dimulai bila tekanan darah sudah normal selama 1 minggu.
Hipertensi yang menetap dapat menyebabkan gagal jantung.
Hipertensi ensefalopati merupakan gejala serebrum karena
hipertensi dengan gejala penglihatan kabur, pusing, muntah, dan
kejang-kejang.
3) Pola nutrisi dan metabolik:
Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi
natrium dan air, edema pada seluruh tubuh. Pasien mudah
mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya
mual dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat
sehingga menyebabkan terjadinya penurunan berat badan. Selain
itu berat badan dapat  meningkat karena adanya edema. Perlukaan
pada kulit dapat terjadi karena uremia.
4) Pola eliminasi :
Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi uri : gangguan pada
glomerulus menyebakan sisa-sisa metabolisme tidak dapat
diekskresi dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada
tubulus yang mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria
sampai anuria, hematuria.
5) Pola Aktifitas dan latihan :
Pada pasien dengan malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus
karena telah terjadi anemia.
6) Pola tidur dan istirahat :
Pasien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena
adanya uremia. keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot dan
kehilangan tonus.
7) Integritas kulit
Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan
rasa gatal.
8) Kognitif & perseptual
Gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi ensefalopati
hipertensi. Hipertermi ditemukan bila ada infeksi karena inumnitas
yang menurun.
9) Persepsi diri :
Pasien cemas dan takut karena urinenya berwarna merah, edema
dan perawatan lama.
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedra Fisiologis (inflamasi)
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan Pembesaran perut
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan Ketidakseimbangan suplai O2
d. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan Iritasi Kandung kemih
3. Rencana Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI
1. Nyeri Akut b.d Agen Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (I.08238)
Pencedra Fisiologis keperawatan selama 1x12 Observasi:
jam diharapkan Tingkat nyeri 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
(inflamasi) (D.0077)
Menurun dengan kriteria durasi, frekuensi, kualitas,
hasil: intensitas nyeri
Tingkat Nyeri (L.08066) 2. Identifikasi skala nyeri
1. Keluhan nyeri menurun 3. Identifikasi respon nyeri non
(5) verbal
2. Meringis menurun (5)
4. Identifikasi faktor yang
3. Gelisah menurun (5).
memperberat dan
4. Ketegangan otot
memperingan nyeri
menurun (5)
5. Identifikasi pengetahuan dan
5. Frekuensi nadi
keyakinan tentang nyeri
membaik (5)
6. Identifikasi pengaruh budaya
6. Pola nafas membaik
terhadap respon nyeri
(dari 2 (5)
7. TD meningkat (5) 7. Identifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah
diberikan
9. Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik

1. Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hypnosis, akupresur,
terapi musik, biofeedback,
terapi pijat, aroma terapi,
teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin, terapi
bermain)
2. Control lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri

Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
3. Anjurkan memonitor nyri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
5. Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu
2. Pola Nafas Tidak Efektif b.d Setelah dilakukan Pemantauan Respirasi (I.01014)
Pembesaran perut (D.0005) keperawatan selama 3x24 Observasi:
jam diharapkan Pola Nafas 1. Monitor frekuensi, irama,
Membaik dengan kriteria kedalaman dan upaya nafas
hasil: 2. Monitor pola nafas
Pola Nafas (L.01004) 3. Monitor kemampuan batuk
1. Dyspnea menurun (5) efektif
4. Monitor adanya sputum
2. Penggunaan otot bantu
5. Monitor adanya sumbatan jalan
nafas menurun (5) nafas
3. Frekuensi nafas membaik 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi
(5) paru
4. Kedalaman nafas 7. Auskultasi bunyi nafas
membaik (5) 8. Monitor saturasi oksigen
9. Monitor nilai AGD
10. Monitor hasil x-ray toraks
Teraupetik:
1. Atur interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
2. Informasikan hasil pemantuan,
jika perlu
3. Intoleransi Aktivitas b.d Setelah dilakukan tindakan Manajemen energi (i. 05178)
keperawatan selama 3x24 Observasi
Ketidakseimbangan suplai
jam diharapkan Toleransi 1. Identifkasi gangguan fungsi
O2 (D.0056) tubuh yang mengakibatkan
Aktifitas Meningkat dengan
kelelahan
kriteria hasil:
2. Monitor kelelahan fisik dan
Toleransi aktifitas (L.05047)
emosional
1. Frekuensi nadi 3. Monitor pola dan jam tidur
membaik (5) 4. Monitor lokasi dan
ketidaknyamanan selama
2. Keluhan lelah menurun melakukan aktivitas
Terapeutik
(5)
1. Sediakan lingkungan nyaman
3. Warna kulit membaik dan rendah stimulus (mis.
cahaya, suara, kunjungan)
(5)
2. Lakukan rentang gerak pasif
4. Kemudahan dalam dan/atau aktif
melakukan aktifitas 3. Berikan aktivitas distraksi yang
menyenangkan
sehari-hari membaik (5) 4. Fasilitas duduk di sisi tempat
tidur, jika tidak dapat berpindah
atau berjalan
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan aktivitas
secara bertahap
3. Anjurkan menghubungi perawat
jika tanda dan gejala kelelahan
tidak berkurang
4. Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan makanan

4. Gangguan Eliminasi Urin b.d Setelah dilakukan Manajemen Eliminasi Urin


Iritasi Kandung kemih keperawatan selama 3x24 (I.04152)
jam diharapkan Eliminasi Urin Observasi:
(D.0040)
Membaik dengan kriteria 1. Identifikasi tanda dan gejala
hasil: retensi atau inkontinensia urin
Eliminasi Urin (L.04034) 2. Identifikasi faktor yang
1. Sensasi berkemih menyebabkan retensi atau
meningkat (5) inkontinensia urin
3. Monitor eliminasi urin
2. Anuria menurun (5)
Teraupetik:
3. Frekuensi BAK membaik 1. Catat waktu-waktu dan haluaran
(5) berkemih
4. Karakteristik urin Edukasi:
membaik (5) 1. Ajarkantanda dan gejala infeksi
saluran kemih
2. Ajarkan mengukur asupan cairan
dan haluarn urin
3. Anjurkan minum yang cukup

Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian obat
supositoria uretra, jika perlu

Daftar Pustaka
Alam, S dan Iwan, H. 2007. Gagal Ginjal. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Aru W, Sudoyo. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, edisi V. Jakarta:
Interna Publishing.
Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi. III. Jakarta: Media
Aeuscualpius.
PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
Price, S.A., Wilson, L.M. 2013. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses.
Penyakit. Edisi VI. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, edisi 8. Jakarta : EGC.