Anda di halaman 1dari 11

Prosiding

Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008


Universitas Lampung, 17-18 November 2008

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS KLOR DAN OZON SEBAGAI


DESINFEKTAN PADA SAMPEL AIR DARI UNIT FILTRASI INSTALASI
PDAM KOTA BANDUNG

Moh. Rangga Sururi, Rachmawati S.Dj, Matina Solihah

Program studi Teknik Lingkungan ITENAS, JL. PHH.Mustafa 23, Bandung


Email:1 rangsoer@yahoo.com

ABSTRAK

Desinfeksi merupakan proses dalam pengolahan air minum yang bertujuan untuk
membunuh bakteri patogen dalam air. Desinfektan yang umum digunakan adalah klorin, namun
desinfeksi dengan klor dapat membentuk Trihalometan (THM) yang disebabkan oleh adanya
reaksi antara senyawa organik dalam air baku dengan klor. Ozon merupakan alternatif yang
menarik, dikarenakan ozon merupakan oksidan yang reaktif dan dianggap dapat membunuh
bakteri patogen serta tidak memproduksi THM ketika digunakan sebagai desinfektan. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui efektifitas klor dan ozon sebagai desinfektan dalam
menyisihkan bakteri. Efektifitas klor dan ozon sebagai desinfektan dipengaruhi oleh kualitas air
dan nilai Konsentrasi sisa desinfektan dikali waktu kontak (CT). Sampel air yang digunakan
berasal dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Dago pakar milik PDAM kota Bandung,
sampling dilakukan secara sesaat pada saluran setelah unit filtrasi. Percobaan desinfeksi dengan
ozon dilakukan secara batch, sedangkan proses desinfeksi dengan ozon dilakukan secara semi
batch. Nilai CT pada desinfeksi dengan klor adalah 3 mg.min/L. Sedangkan nilai CT yang
efektif untuk desinfeksi dengan ozon adalah 0.124 mg.min/L. Ozon memiliki nilai CT yang
rendah namun akan terdekomposisi secara cepat, sehingga tidak cocok untuk diterapkan pada
proses postdesinfeksi.

Kata kunci : desinfeksi, , nilai CT, penyisihan bakteri, produk sampingan

1. PENDAHULUAN

Hasil survei dari Subdit Diare Departemen Kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa
angka penderita diare yang merupakan penyakit bawaan air (waterborne disease) pada tahun
2000 adalah 301 per 1000 penduduk dan meningkat pada tahun 2003 menjadi 374 per 1000
penduduk. Adanya penyakit bawaan air disebabkan perilaku masyarakat yang tidak higenis dan
adanya kehadiran mikroorganisme patogen dalam air. Untuk menanggulangi kasus tersebut
diperlukan upaya pendidikan higine serta upaya pengolahan air, sehingga air yang dikonsumsi
masyarakat memenuhi persyaratan kualitas air minum yang telah disyaratkan.
Desinfeksi merupakan salah satu proses dalam pengolahan air minum yang bertujuan
untuk membunuh mikroorganisme patogen yang terdapat dalam air. Metode desinfeksi yang
umumnya digunakan selama ini ada lima, yaitu klorin, kombinasi klorin, ozon, klorin dioksida
dan ultraviolet. Namun metode desinfeksi yang paling umum digunakan saat ini di Indonesia

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-175


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

adalah dengan menggunakan klorin. Efektivitas klor sebagai desinfektan sejauh ini cukup
efektif dan terjangkau dari segi ekonomi, tetapi menurut penelitian desinfeksi dengan klor
berpotensi menghasilkan Trihalometan (THMs) yang disebabkan oleh adanya reaksi antara
senyawa-senyawa organik berhalogen dalam air baku dengan klor. Trihalomentan merupakan
senyawa yang bersifat karsinogenik dan mutagenik, sehingga diperlukan alternatif lain dalam
penggunaan desinfektan.
Ozon merupakan alternatif yang menarik, dikarenakan ozon merupakan oksidan yang
reaktif dan dianggap dapat membunuh bakteri patogen serta tidak menghasilkan THMs ketika
digunakan sebagai desinfektan (USEPA ,1999). Keunikan dari ozone adalah dekomposisinya
dapat membentuk OH radikal yang merupakan oksidator terkuat dalam air. Ozone merupakan
oksidator yang selektif sedangkan OH radikal oksidator yang tidak selektif, karena itu jika ada
bahan yang tahan terhadap ozon maka akan dioksidasi oleh OH radikal (von Gunten, 2003).
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektifitas klor dan
ozon sebagai desinfektan melalui deteksi mikroorganisme indikator yaitu E.Coli serta pengaruh
kualitas air terhadap proses desinfeksi dengan menggunakan klor dan ozon. Sedangkan tujuan
dari penelitian ini adalah Mengetahui nilai CT ( konsentrasi sisa desinfektan x waktu kontak )
dalam menyisihkan bakteri koliform pada sampel air pada proses desinfeksi dengan klor dan
ozon.

2. METODE PENELITIAN
2.1. STUDI LITERATUR
Studi Literatur diperlukan untuk mendukung, memahami rumusan teoritis yang
diperlukan pada penelitian ini. Studi Literatur bersumber dari berbagai media, seperti : buku,
jurnal, dan internet.

2.2. PERSIAPAN ALAT-ALAT DAN BAHAN


2.2.1. Persiapan Alat
Alat-alat yang digunakan terdiri dari :
ƒ Peralatan analisis laboratorium untuk mengukur kualitas air,
ƒ Alat untuk mengozonisasi sampel air yang akan diuji berupa aerator, ozon
generator, ozon kontaktor dan ozon dekomposer.
ƒ Alat untuk melakukan desinfeksi dengan klor
ƒ Alat untuk mengukur coliform.
2.2.2. Persiapan Bahan
Bahan yang digunakan pada saat pengujian adalah :

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-176


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

ƒ Sampel air yang akan di uji, yaitu sampel air dari unit filtrasi Instalasi pengolahan
Air Minum Dago Pakar milik PDAM Kota Bandung. Pengambilan sampel
dilakukan secara grab pada 11 April 2008.
ƒ Larutan kaporit yang digunakan berbentuk powder serta tablet DPD(N, N Diethyl-p-
phenylenediamine), untuk menentukan konsentrasi sisa klor dalam air.
ƒ Media laktosa ganda dan tunggal ditambah BCP, merupakan media yang digunakan
dalam uji bakteri koliform & E.coli.
ƒ Media EMBA, merupakan media digunakan dalam uji bakteri E.coli.

2.3. Pengukuran Kualitas Sampel Air

Parameter kualitas air yang mempengaruhi proses desinfeksi diperiksa pada penelitian
ini diantaranya: kekeruhan, alkalinitas, Fe2+, Mn2+, dan UV254. Sedangkan untuk mengetahui
efektifitas dari desinfeksi dilakukan pengukuran bakteri coli. Metode pengukuran yang
dilakukan dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Parameter yang diukur beserta Metode yang digunakan


No Parameter Metode
1 Kekeruhan Turbidimeter Helliege
2 Alkalinitas Titrasi Asam basa
3 Fe2+ Spektrofotometri
4 Mn2+ Calorimetri dengan persulfat
5 Bakteri E.coli Jumlah Pendekatan Terdekat
Sumber : Laboratorium Lingkungan, 2008

2.4. Desinfeksi dengan Klor


Desinfeksi dengan klor dilakukan secara bacth. Sampel air diklorinasi dengan
menggunakan klor dalam bentuk kaporit (Ca (OCl)2) pada berbagai variasi dosis dan waktu
kontak. Konsentrasi sisa klor diukur pada waktu 10 menit, 20 menit dan 30 menit dengan dosis
awal klor 1 mg/L, 2 mg/L, 3 mg/L, dan 4 mg/L. Dimana pengukuran konsentrasi sisa klor
diukur dengan tablet DPD menggunakan alat komparator.

2.5. Desinfeksi dengan Ozon


Gas ozon dihasilkan dari ozon generator sanyo, suplai udara dilakukan dengan aerator.
Berbeda dengan percobaan pada proses desinfeksi dengan klor yang bersifat batch, pada proses
desinfeksi dengan ozon sistem yang digunakan adalah semi batch, dengan menggunakan
kontaktor batch yang diisi sampel air bervolume 7 liter, suplai gas ozon dari ozon generator
dilakukan secara kontinu. Sedangkan Pengukuran konsentrasi sisa ozon dilakukan sesuai
standar methode 4500-O3-B.

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-177


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Gambar 1. Skema proses ozonisasi

2.6. Pengukuran bakteri E.Coli

Pemeriksaan bakteri E.coli terdiri dari uji penduga, uji ketetapan dan uji kelengkapan.
Pada penelitian ini dilakukan sampai dengan uji kelengkapan. Metode yang digunakan untuk
mengetahui jumlah bakteri adalah metoda MPN (Most Probable Number) atau JPT (Jumlah
Perkiraan Terdekat). Tabel JPT dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri koliform
& E.coli dalam 100 ml sampel air. Pembacaan hasil uji dilihat dari berapa tabung uji yang
menghasilkan gas dan asam (3 seri pertama, kedua dan ketiga), hasil yang positif asam dan gas
dibandingkan dengan tabel MPN/JPT.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Data Karakteristik Sampel Air
Hasil pengukuran karakteristik sampel air dari unit filtrasi , dapat dilihat pada Tabel 2
dibawah ini.
Tabel 2. Karakteristik fisik dan kimia sampel
Sampel Air Setelah
No Parameter
Unit Filtrasi
1 pH 7,22
2 Temperatur (oC) 24
3 Kekeruhan 3,07
4 Alkalinitas (mg/L CaCO3) 46.23
5 Mangan -
6 Fe(mg/L) -
7 Kekeruhan (NTU) 1,5
8 UV 254 (abs) 0,012
9 Coliform (JPT/100 mL) > 460 per 100 ml

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-178


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

ƒ pH dan Suhu
Kondisi pH pada penelitian ini adalah netral dan suhu pada kondisi ruang. pH dan suhu
dapat mempengaruhi proses desinfeksi, karena ketahanan hidup bakteri dalam air tergantung
pada kondisi pH dan suhu air. Menurut teori, pH yang efektif dalam membunuh bakteri adalah
pada kondisi netral atau bersifat asam lemah. Sedangkan suhu yang efektif untuk desinfeksi
adalah pada suhu lebih rendah dari suhu ruang.
ƒ Kekeruhan
Walaupun kekeruhan tidak memiliki dampak secara langsung pada kesehatan, tapi
kekeruhan dapat berdampak pada segi estetika dan menjadi indikasi kehadiran bakteri dalam air.
Parameter kekeruhan dapat mempengaruhi proses desinfeksi, karena dapat menyembunyikan
kehadiran bakteri yang ada dalam air. Nilai konsentrasi kekeruhan pada sampel air sebesar 3.07
NTU, data tersebut menunjukan sampel air dari unit ini siap untuk didesinfeksi .
ƒ Alkalinitas
Dengan nilai alkalinitas sebesar 46,23 mg/L CaCO3 maka ozon tidak akan
terdekomposisi dengan cepat karena karbonat dan bikarbonat berperan sebagai inhibitor reaksi
berantai, menurut reaksi (von Gunten,2003):
OH* + CO3ÆCO3* + OH-
OH* + HCO3 Æ CO3* + H2O
Dari reaksi diatas, jika karbonat atau bikarbonat bereaksi dengan OH radikal akan
terbentuk karbonat radikal yang tidak akan bereaksi kembali dengan ozon.
ƒ Fe2+ dan Mn2+
Kehadiran Fe2+ dan Mn2+ dalam sampel air mempengaruhi reaksi klor dan ozon dalam
proses desinfeksi. Hal ini dikarenakan sebelum klor dan ozon aktif dalam membunuh bakteri,
terlebih dahulu klor dan ozon bereaksi dengan zat-zat reduktor, seperti Fe2+ dan Mn2+. Sehingga
semakin besar nilai konsentrasi Fe2+ dan Mn2+ dalam air, maka semakin lama waktu kontak dan
dosis desinfektan yang dibutuhkan dalam proses desinfeksi.
Berdasarkan Tabel 2, dengan tidak terkandungnya Fe dan Mn pada sampel air,
memperkuat dugaan bahwa kualitas air dari unit ini sudah siap untuk didesinfeksi .
ƒ Senyawa Organik
Bahan organik seperti lignin, humus dan senyawa aromatik, pada umumnya dapat
diserap oleh radiasi UV (standard methode, Westerhoff,1999). Panjang gelombang yang
digunakan untuk menyerap bahan organic tersebut biasanya 254 nm (standard methode,
Westerhoff,1999). UV 254 dapat menyatakan kuantitas bahan organik aromatik dan senyawa
tak jenuh dalam air, sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan keberadaan precursor
dalam air (Beltrand, J Fernando, 1995).

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-179


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Pada sample air memiliki nilai UV 254 sebesar 0.012, menunjukan bahwa sampel air
masih mengandung bahan organik yang merupakan precursor pembentukan hasil samping
desinfeksi.

ƒ Bakteri E.Coli
Bakteri yang diteliti pada penelitian ini adalah bakteri E. coli. Bakteri E.coli merupakan
mikroorganisme indikator adanya mikroorganisme patogen. Berdasarkan Tabel 2, jumlah
bakteri E.Coli pada sampel air unit filtrasi sebesar 460 JPT/100 ml. Hal ini disebabkan belum
ada proses sebelumnya yang dapat menyisihkan bakteri pathogen secara signifikan, sehingga
proses desinfeksi mutlak diperlukan untuk membunuh mikroorganisme patogen.

3.2. Hubungan Konsentrasi Sisa Desinfektan Terhadap Waktu Kontak


Desinfeksi dengan Klor
Desinfeksi dengan klor pada sampel air dari unit filtrasi dimaksudkan untuk mengetahui
konsentrasi sisa klor yang efektif untuk mengatasi pertumbuhan bakteri salama air berada dalam
sistem distribusi. Hasil pengukuran konsentrasi sisa klor pada berbagai waktu kontak dan
konsentrasi klor dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 2.
Tabel 3 Nilai Konsentrasi Sisa Klor Pada Konsentrasi klor dan Waktu Kontak
Tertentu Pada Sampel Air dari Unit Filtrasi
Konsentasi Klor Waktu (menit)
No
(mg/L) 10 20 30
1 1 0.2 0.1 0.1
2 2 0.2 0.1 0.1
3 3 0.3 0.3 0.2
4 4 0.4 0.4 0.3

Gambar 2 Grafik Konsentrasi Sisa Klor terhadap berbagai Waktu Kontak

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-180


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Tabel 3 dan Gambar 2 menunjukan bahwa konsentrasi sisa klor menurun seiring dengan
waktu, akibat terjadinya proses peluruhan pada klor. Peluruhan klor terjadi karena dosis klor
yang ditambahkan pada sampel air digunakan untuk mereduksi zat-zat reduktor, sebelum
membunuh bakteri dalam air.

3.3. Desinfeksi dengan Ozon


Hasil pengukuran konsentrasi sisa ozon pada berbagai waktu kontak dapat dilihat pada Tabel 4
dan Gambar 3.

Tabel 4. Konsentrasi Sisa Ozon pada Sampel Air dari Unit Filtrasi
Waktu Konsentasi Sisa Ozon
No
(menit) (mg O3/L)
1 0 0
2 1 0.016
3 2 0.021
4 3 0.026
5 4 0.031
6 5 0.036
7 10 0.061

Grafik pada Gambar 3 menunjukan bahwa konsentrasi sisa ozon terus meningkat
seiring dengan meningkatnya waktu kontak. Hal ini dikarenakan suplai ozon dilakukan secara
kontinue pada sistem batch, sehingga konsentrasi sisa ozon terus bertambah seiring dengan
waktu kontak.

0.07
Konsentasi Sisa Ozon

0.06
0.05
(mg O3/L)

0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 2 4 6 8 10 12
Waktu (menit)

Gambar 3. Grafik Konsentrasi Sisa Ozon terhadap Waktu Kontak

Tingkat dekomposisi ozon dipengaruhi oleh nilai alkalinitas dalam sampel air, dimana
CO3 dan HCO3 merupakan inhibitor reaksi berantai pada reaksi ozon dalam air.

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-181


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

3.4. Pengaruh Nilai CT (KONSENTRASI SISA DESINFEKSI x WAKTU KONTAK)


Terhadap Penyisihan Bakteri Coli
Konsep CT seperti yang telah dijelaskan oleh USEPA (1991) mengacu pada konsentrasi
sisa desinfektan (C) dan waktu kontak desinfeksi (T). Dengan mengetahui nilai CT, maka dapat
diketahui tingkat penyisihan bakteri E.Coli pada proses desinfeksi dengan klor dan ozon.
A. Desinfeksi dengan Klor

Nilai CT untuk menyisihkan bakteri koliform dan E.Coli dapat ditentukan dengan
membuat kurva antara Nilai CT (konsentrasi sisa klor x waktu kontak) terhadap efisiensi
penyisihan bakteri koliform dan E.Coli. Pada gambar dibawah ini dapat dilihat hubungan CT
dan efisiensi penyisihan pada berbagai variasi waktu kontak dan konsentrasi awal klor.

100.00
90.00
80.00
70.00
Efisiensi (%)

60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
2 2 3 4
CT (m g.m enit/L)

Gambar 4. Grafik Nilai CT Klor terhadap Penyisihan Bakteri E.Coli (t=10 menit)

100.00
90.00
80.00
70.00
Efisiensi (%)

60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
2 2 4 4
CT (m g.m enit/L)

Gambar 5. Grafik Nilai CT Klor terhadap Penyisihan Bakteri E.Coli (t=20 menit)

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-182


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

100.00
90.00
80.00
70.00

Efisiensi (%)
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
3 3 6 9
CT (m g.m enit/L)

Gambar 6. Grafik Nilai CT Klor terhadap Penyisihan Bakteri E.Coli (t=30 menit)

Gambar 4,5 dan 6 menunjukan bahwa nilai CT dapat mempengaruhi penyisihan bakteri
E.coli. Efisiensi penyisihkan E.Coli mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya nilai CT.
Semakin lama waktu kontak maka nilai CT akan semakin tinggi, namun sisa klor semakin
sedikit, sehingga efisiensi pada waktu kontak 30 menit dengan nilai CT 3 mg.menit/L, memiliki
efisiensi yang tidak jauh berbeda dengan nilai CT 2 mg.menit/L pada waktu kontak 20 menit.
Reaksi pada proses desinfeksi sampel air dari unit filtrasi secara umum adalah:
Ca(OCl)2(kaporit) + 2 H2O ↔ 2HOCl + Ca(OH)2 (1)
Ca(OCl)2(kaporit) + Mikroorganisme → proses desinfeksi (2)

Berdasarkan Gambar 4,5 dan 6, nilai CT yang efektif untuk menyisihkan bakteri E.Coli
pada sampel air dari unit filtrasi adalah 2 mg.min/L pada konsentrasi klor awal 2 mg/L dan t=20
menit, serta CT sebesar 3 mg.min/L masing –masing pada konsentrasi klor awal 3 mg/L dan
t=10, serta konsentrasi awal 2 mg/L dengan t=30 menit.

B. Desinfeksi dengan Ozon

Penentuan nilai CT (konsentrasi sisa ozon x waktu kontak) pada sampel air dari unit filtrasi
dimaksudkan untuk mengetahui jumlah penyisihan bakteri E.Coli pada proses desinfeksi dengan
ozon. Jumlah penyisihan bakteri E.Coli terhadap konsentrasi sisa klor dan waktu kontak (CT)
dapat dilihat pada Gambar 7 dibawah ini.

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-183


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

100
90

Efisiensi Penyisihan (%)


80
70
60
50
40
30
20
10
0
0.016 0.042 0.078 0.124 0.18 0.61
CT (m g.m enit/L)

Gambar 7. Grafik Nilai CT Ozon terhadap Penyisihan Bakteri E.Coli

Berdasarkan grafik pada Gambar 7 pada CT 0,042 mg.menit/L efisiensi penyisihan E.


Coli oleh ozon sebesar 47,82%, lalu pada CT 0,078 mg.menit/L efisiensi meningkat menjadi
91,52 %, hingga akhirnya mencapai 100% pada CT 0,124 mg.menit/L. Nilai CT yang efektif
dalam menyisihkan bakteri E.Coli adalah 0.124 mg.min/L, karena efisiensi penyisihan bakteri
E.Coli mencapai 100 %.
Kemungkinan yang dapat menjelaskan hal tersebut yaitu adanya kompetisi reaksi ketika
ozon terlarut dalam air serta adanya proses dekomposisi ozon dan mudahnya ozon lepas ke-
udara bebas, sehinga sebelum dapat bereaksi dengan mikroorganisme untuk proses desinfeksi,
ozon mengoksidasi bahan organik yang terkandung dalam air. Secara singkat hal tersebut
dijelaskan dalam reaksi sebagai berikut(Hoigne, at all 1983) :
Ozon(g) → Ozon (aq) (3)
Ozon(aq) + bakteri → proses desinfeksi (4)
Ozon(aq) + senyawa organik → Pembentukan Lower Molecular Weight (5)

4. KESIMPULAN dan SARAN

1. Desinfeksi dengan klor memiliki nilai CT yang lebih besar dibandingkan nilai CT pada
desinfeksi dengan ozon,
2. Pada proses desinfeksi dengan klor, klor tidak akan terdekomposisi secara cepat, sisa klor
yang dihasilkan dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme patogen. Sedangkan
pada proses desinfeksi dengan ozon, proses transfer gas ozon ke larutan harus dilakukan
secara lebih efektif karena ozon akan terdekomposisi secara cepat, sehingga suply gas ozon
dilakukan secara kontinu.

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-184


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

3. Karakteristik air akan mempengaruhi proses desinfeksi, baik dengan mengunakan


desinfektan klor maupun ozon.
Saran
1. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan mengenai efektifitas desinfeksi dengan
ozon, dan kemungkinan terjadinya produk samping desinfeksi dengan ozon,
2. Berdasarkan konverensi Stockholm tentang tidak diperbolehkan lagi desinfeksi
dengan klor, maka diperlukan adanya penelitian lebih lanjut guna menemukan
desinfektan yang lebih efektif dan tidak membentuk produk sampingan.

UCAPAN TERIMAKASIH

• Terimakasih kepada Dikti dengan program A-2 yang menjadi sponsor penelitian ini
• Rekan-rekan di Jurusan Teknik Lingkungan-Itenas
• Ir. Tardan dan staf direktur teknik PDAM kota Bandung
• Semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini

DAFTAR PUSTAKA

Porter., Philip, (2003),A comparison of ozonitation system with respect to desinfection by-
product formation and microbial inactivation, Civil Engineering University of Toronto,
Toronto.

Von Gunten, (2003), Ozonation of Dringking Water: Part I. Oxidation Kinetics and Product
Formation, Water Research 37, 1443-1467.

Hoigne , Bader., (1983)., Rate constants of reaction of ozone with organic and inorganic
compound in water-I non- dissociating organic compounds, WaterResearch,
17,173- 183.

APHA.,AWWA.,(1998), Standard methode for the examination of water and waste water 21th
edition, American water works association.

USEPA, (1999), Alternative disinfectants and oxidants guidance manual,


EPA, 815-R-99-014

Capucino,James.,Sherman.,(1983), Microbiology a laboratory manual,


Addision- wesley Publishing company.

Sururi, Rangga. 2008. “Pembentukan Lower Molecular Weight (LMW) organik: Aldehid
sebagai Hasil Sampingan proses desinfeksi dengan Ozon”. Tesis Magister Depatemen
Teknik Lingkungan ITB, Bandung.

ISBN : 978-979-1165-74-7 III-185