Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

CARSINOMA MAMMAE
DI RUANG KEMOTERAPI RSUD ULIN

Untuk Menyelesaikan Tugas Profesi Keperawatan Medikal Bedah


Program Profesi Ners

Disusun Oleh:
Kadek Dian Purwata, S.Kep
11194692010074

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2021
LEMBAR PERSETUJUAN
JUDUL KASUS : CARSINOMA MAMMAE
NAMA MAHASISWA : Kadek Dian Purwata, S. Kep
NIM : 11194692010074

Banjarmasin, Januari 2021

Menyetujui,

RSUD Ulin Banjarmasin Program Studi Profesi Ners


Preseptor Klinik (PK) Preseptor Akademik (PA)

Indra Budi, Ns., M.Kep M. Sobirin Mochtar, Ns., M.Kep


NIP. 19800703 199903 1 001 NIK. 1166052918124

LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL KASUS : CARSINOMA MAMMAE
NAMA MAHASISWA : Kadek Dian Purwata, S. Kep
NIM : 11194692010074

Banjarmasin, Januari 2021

Menyetujui,

RSUD Ulin Banjarmasin Program Studi Profesi Ners


Preseptor Klinik (PK) Preseptor Akademik (PA)

Indra Budi, Ns., M.Kep M. Sobirin Mochtar, Ns., M.Kep


NIP. 19800703 199903 1 001 NIK. 1166052918124

Mengetahui,
Ketua Jurusan Program Studi Profesi Ners

Mohammad Basit, S. Kep., Ns., MM


NIK. 1166102012053
LAPORAN PENDAHULUAN
KARSINOMA MAMAE

A. ANATOMI FISIOLOGI
Payudara adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit dan di atas
otot dada, tepatnya pada hemithoraks kanan dan kiri, payudara manusia
berbentuk kerucut tapi seringkali berukuran tidak sama, payudara
dewasa beratnya kira-kira 200 gram, yang umumnya lebih besar dari
yang kanan. Pada waktu hamil payudara membesar mencapai 600 gram
pada waktu menyusui mencapai 800 gram.
1. Korpus Mammae
Badan payudara seutuhnya, didalamnya berisi jaringan ikat,
kelenjar lemak, saraf, pembuluh darah, kelenjar getah bening, kelenjar
payudara yang berisi sel-sel dan kelenjar ini dipengaruhi oleh hormon.
2. Areola
Area yang gelap yang mengelilingi puting susu, warnanya ini
disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada kulit.
Parubahan warna pada aerola tergantung pada warna kulit dan adanya
kehamilan. Selama kehamilan warna aerola akan menjadi lebih gelap dan
menetap. Pada daerah ini didapatkan kelenjar keringat, kelenjar lemak
dari montgomery yang akan membesar selama kehamilan, kelenjar ini
akan mengeluarkan suatu bahan yang dapat melicinkan areola selama
menyusui. Pada areola terdapat duktus laktiferus yang merupakan tempat
penampungan air susu.

3. Papilla Mammae
Letaknya bervariasi sesuai ukuran payudara, terdapat lubang-
lubang kecil di puting yang merupakan muara dari duktus laktiferus
(tempat penampungan ASI). Pada puting juga didapatkan ujung-ujung
saraf dan pembuluh darah

Diantara areola dan puting terdapat serat-serat otot polos yang


tersusun melingkar, sehingga apabila ada kontraksi ketika bayi
menghisap, maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebebkan
puting susu yang merupakan muara ASI bekerja, serta-serat otot polos
yang tersusun sejajar akan menarik kembali puting susu (Anik Puji
Rahayu, 2016).
Payudara mengalami 3 tahap perubahan yang dipengaruhi hormone
yaitu:
1. Diantara areola dan puting terdapat serat-serat otot polos yang
tersusun melingkar, sehingga apabila ada kontraksi ketika bayi
menghisap, maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebebkan
puting susu yang merupakan muara ASI bekerja, serta-serat otot
polos yang tersusun sejajar akan menarik kembali puting susu (Anik
Puji Rahayu, 2016).
2. Perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan
menstruasi, payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari
sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal, 12
kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama
beberapa hari menjelang menstruasi, payudara menjadi tegang dan
nyeri, begitu menstruasi mulai semuanya berkurang.
3. Pada kehamilan, payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul,
duktus alveolus berploliferasi dan hipofise anterior memicu laktasi. Air
susu di produksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian
dikeluarkan melalui duktus ke puting susu (Anik Puji Rahayu, 2016).

B. PENGERTIAN
Kanker payudara merupakan penyakit keganasan yang paling banyak
menyerang wanita. Penyakit ini disebabkan karena terjadinya pembelahan
sel-sel tubuh secara tidak teratur sehingga pertumbuhan sel tidak dapat
dikendalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor (kanker) (Wijaya &
Putri, 2013).
Payudara memiliki jaringan yang mencakup jaringan kelenjar
memproduksi dan mengeluarkan susu sebagai makanan bayi. Apabila sel-
sel yang ada didalam kelenjar susu membelah diri dan berkembang secara
tidak terkendali maka sel-sel tersebut akan berkembang menjadi tumor jinak
atau ganas. Kanker payudara iyalah tumor ganas yang berkembang didalam
payudara (WHO, 2018).

C. STADIUM
Untuk menentukan suatu stadium kanker akan menggunakan metode yang
disebut stage grouping. Ada 5 stadium pengelompokkan pada kanker
payudara (Kementrian Kesehatan RI, 2014), yaitu :
1. Stadium 0
Pada stadium 0 sel kanker pada payudara belum berkembang dan belum
menyebar ke bagian yang lain.
2. Stadium 1
Pada stadium 1 sel kanker pada payudara berada pada tahap berisiko
untuk menyebar. Ukuran kanker biasanya berukuran 2 cm dan belum
sampai di kelenjar getah bening. Stadium 1 pada kanker payudara dibagi
menjadi dua kategori, yaitu :
a. Stadium 1A
Pada stadium 1A ini kanker payudara akan muncul tumor lebih dari 2
cm dan belum menyebar ke area luar payudara.
b. Stadium 1B
Pada stadium 1B ini kanker payudara ukuran tumor tidak lebih dari 2
cm dan sel kanker ada di kelenjar getah bening.

3. Stadium 2
Pada stadium 2 sel kanker pada payudara memiliki tumor dengan ukuran
2 sampai 5 cm dan sel kanker sudah menyebar ke bagian kelenjar getah
bening. Stadium 2 pada kanker payudara dibagi menjadi dua kategori,
yaitu:
a. Stadium 2A
Pada stadium 2A sel kanker ada di kelenjar getah bening atau tumor
berukuran kurang dari 5 cm.
b. Stadium 2B
Pada stadium 2B sel kanker memiliki tumor lebih kecil dari 5 cm dan
ditemukan di kelenjar getah bening atau sel kanker berukuran lebih
dari 5 cm tapi sel kanker belum menyerang kelenjar getah bening.
4. Stadium 3
Pada stadium 3 kanker payudara bisa disebut dengan stadium lanjut.
Pada stadium ini tumor memiliki ukuran berdiameter 5 cmlebih dan
menyebar ke area kelenjar getah bening dan jaringan di area payudara.
Pada stadium ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
a. Stadium 3 A
1) Tidak ada tumor yang muncul tetapi akan ditemukan dibagian
kelenjar getah bening ketiak atau di dekat tulang payudara
2) Akan ditemukan tumor berukuran lebih dari 2 cm dan sel kanker
pun telah menyebar ke bagian kelenjar getah bening atau di
dekat tulang payudara
3) Akan ditemukan tumor berukuran 2 cm sampai 4 cm dan sel
kanker pun telah menyebar kekelenjar getah bening atau di
dekat tulang payudara
4) Akan ditemukan tumor yang berukuran lebih besar dari 5 cm sel
kanker pun telah mneyebar kebagian kelenjar getah bening atau
di dekat tulang payudara
b. Stadium 3B
1) Sel kanker sudah menyebar ke bagian dinding dada atau bagian
kulit payudara
2) Sel kanker telah menyebar kebagian kelenjar getah bening atau
di dekat tulang payudara dan bagian lainnya
3) Kanker telah menyebar ke bagian kulit payudara
c. Stadium 3C
1) Tanda kanker pada payudara tidak terlihat atau adanya tumor
dengan bermacam-macam ukuran dan sel kanker menyebar ke
dinding dada atau kulit payudara
2) Ditemukannya sel kanker pada kelenjar getah bening di bagian
atas atau bawah tulang selangka
3) Sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau
kelenjar getah bening di dekat tulang dada
5. Stadium 4
Pada stadium 4 kanker payudara atau disebut dengan kanker payudara
mestastasis, pada stadium ini kanker telah menyebar kebagian luar area
payudara, ketiak, kelenjar getah bening, tulang, otak paru-paru dan hati
bahkan sel kanker sudah menyebar ke organ tubuh lainnya.

D. ETIOLOGI
Ada beberapa penyebab yang mempengaruhi penyakit kanker payudara
(Yayan Kanker Payudara Indonesia,2018) yaitu :
1. Usia
Kasus terbanyak kanker payudara terjadi pada perempuan yang berusia
diatas 50 tahun dan dapat juga terjadi pada usia mulai 15 tahun.
2. Faktor Genetik
Penyebab kanker payudara bisa juga disebabkan oleh mutasi gen yang
diturunkan dari anggota keluarga. Adapun dari mutasi gen yang tidak
diturunkan dari anggota keluarga yang disebut dengan Human Epidermal
Growth Factor Receptor 2 (HER2).
3. Kontrasepsi Oral
Digunakaannya kontrasepsi oral yang berturut- turut atau kumulatif juga
memiliki risiko terjadinya kanker payudara.
4. Menstruasi Dini
Wanita yang mengalami menstruasi pertama di bawah usia 12 tahun
mempunyai risiko besar menderita kanker payudara. Peningkatan risiko
ini dikarenakan meningkatnya jumlah esterogen dalam tubuh. Esterogen
memiliki maitan dengan terjadinya kanker payudara dikarenakan bisa
menciptakan sel kanker bagi tubuh penderita.

5. Riwayat Penyakit
Ketika penderita pernah terkena kanker payudara pada bagian payudara
sebelahnya maka ada risiko bagian sebelahnya lagi akan terkena kanker
payudara.
6. Kehamilan Pertama di Usia Tua
Kehamilan di atas usia 35 tahun akan meningkatkan risiko terkena kanker
payudara.
7. Menopause Usia Lanjut
Risiko terkena penyakit kanker payudara akan meingkat pada menopause
diatas usia 50 tahun keatas.
8. Pola Hidup Tidak Sehat
Pola hidup yang tidak sehat sangat berpengaruh bagi peningkatan risiko
kanker payudara, terlalu banyak makan makanan cepat saji,
mengkonsumsi alcohol berlebihan, jarang berolahraga dan pola tidur tidak
teratur menjadi suatu masalah yang menjadi awal terbentuknya kanker
payudara.
9. Tidak Menyusui, Tidak Menikah, Tidak Punya Anak
Perempuan yang tidak pernah hamil, melahirkan dan menyusui, sangat
berisiko terkena kanker payudara

E. PATOFISIOLOGI
Proses terjadinya kanker payudara yang diawali dari penyebab antara
lain obesitas, radiasi, hiperplasia, optik, riwayat keluarga dengan
mengkonsumsi zat-zat karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan
epitel payudara dan dapat menyebabkan kanker payudara . Kanker
payudara berasal dari jaringan epithelial, dan paling sering terjadi pada
sistem duktal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel dengan perkembangan
sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan
menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh
dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk
dapat diraba ( kirakira berdiameter 1 cm ). Pada ukuran itu, kira- kira
seperempat dari kanker payudara telah bermetastase. Kebanyakan dari
kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri. Gejala
kedua yang paling sering terjadi adalah cairan yang keluar dari muara duktus
satu payudara, dan mungkin berdarah. (Price, 2006 ).

Karsinoma payudara bermetastase dengan penyebaran langsung


kejaringan sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah.
Bedah dapat mendatangkan stress karena terdapat ancaman terhadap
tubuh, integritas dan terhadap jiwa seseorang. Rasa nyeri sering menyertai
upaya tersebut pengalaman operatif di bagi dalam tiga tahap yaitu
preoperatif, intra operatif dan pos operatif. Operasi ini merupakan stressor
kepada tubuh dan memicu respon neuron endokrine respon terdiri dari
system saraf simpati yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera.
Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan banyak darah,
maka mekanisme kompensasi dari tubuh terlalu banyak beban dan syock
akan terjadi. Anestesi tertentu yang di pakai dapat menimbulkan terjadinya
syok. Respon metabolisme juga terjadi. Karbohidrat dan lemak di
metabolisme untuk memproduksi energi. Protein tubuh pecah untuk
menyajikan suplai asam amino yang di pakai untuk membangun jaringan
baru. Intake protein yang di perlukan guna mengisi kebutuhan protein untuk
keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal.
Kanker payudara tersebut menimbulkan metastase dapat ke organ yang
deket maupun yang jauh antara lain limfogen yang menjalar ke kelenjar limfe
aksilasis dan terjadi benjolan, dari sel epidermis penting menjadi invasi
timbul krusta pada organ pulmo mengakibatkan ekspansi paru tidak optimal.
Usia, Faktor Genetik, Kontrasepsi Oral, Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron Menopause Usia Lanjut, Pola Hidup Tidak
Menstruasi Dini, Riwayat Penyakit Sehat, Tidak Menyusui, Tidak Menikah,
Kehamilan Pertama di Usia Tua, Tidak Punya Anak
Mempengaruhi epitel payudara

Reseptor hormon berinteraksi dengan transforming growth


faktor dan pertumbuhan fibroblast

Mempengaruhi mekanisme autokrin perkembangan tumor

CA Mammae Memerlukan O2 dan nutrisi


untuk perkembangan tumor

Penyebaran melalui limfe Infiltrasi pada


dan pembuluh darah membran basal Hipermetabolik

Metastase ke organ sekitar Pembengkakan Hiperplasia sel-sel Pemecahan sumber energi


kelenjar getah berlebih terutama protein
bening di aksila Tumor membesar
Ke paru-paru
Penurunan Albumin
Aliran limfe tersumbat
Infiltrasi tumor ke paru di ekstremitas atas
Peningkatan Mendesak ujung Mendesak Penurunan Input Nutrisi
konsistensi saraf bebas pembuluh darah
Gangguan ekspansi paru Edema pada lengan mammae kulit payudara
Nutrisi tidak terpenuhi
Nyeri hingga
Kesulitan bergerak Ukuran bertahun-tahun Perfusi disekitar
Adaptasi tubuh:
mammae payudara Penurunan Berat badan
hiperventilasi
abnormal
Nyeri Kronis
Gangguan Defisit Nutrisi
Pola Nafas Tidak Mobilitas Fisik Penurunan
Mammae
Efektif asimetrik perfusi ke kulit
sekitar payudara Penurunan zat-zat
pembentuk antibodi
Pembedahan Gangguan Citra Ulkus
Tubuh
Kemoterapi
Rasa malu dan tidak Luka terbuka Penurunan Sistem imun
percaya diri
Pre Kemo Kerusakan Integritas Risiko Infeksi
Menyalahkan jaringan
diri sendiri
Kurangnya paparan
informasi tentang Merasa tidak
Pelaksanaan Kemoterapi berguna

Harga diri rendah


Takut akan situasional
kondisi diri

Ansietas Post Kemo

Intra Kemo Pengaruh obat Pengaruh obat


kemoterapi kemoterapi
Alergi terhadap obat
yang diberikan
Iritasi lambung Pencernaan tidak
stabil
Muncul reaksi
hipersensitifitas
Pelepasan neuro
transmiter BAB abnormal dan
Pelebaran PD disertai dehidrasi

Merangsang saraf pusat Peningkatan ouput


Aliran Darah balik cairan
menurun

Nausea Penurunan input cairan


Tekanan darah

Resiko Hipovolemia
Resiko Syok
Anafilaksis
F. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis awal kanker payudara dengan munculnya tanda-tanda
seperti menebalnya suatu jaringan di area payudara wanita bahkan
terkadang ditemui
1. benjolan,
2. adanya rasa sakit di ketiak saat tidak dalam masa menstruasi,
3. kulit payudara memerah,
4. puting mengelupas atau keluarnya darah dari putting, dan
5. perubahan bentuk payudara (Yayasan Kanker Payudara Indonesia,
2018). Penyakit kanker payudara mudah dikenali dengan mengetahui
kriteria Operabilitas Haagensen seperti
1. adanya edema yang luas pada area kulit payudara (lebih dari 1/3 area
kulit payudara),
2. adanya nodul pada kulit area payudara,
3. edema pada lengan, e
4. dema kulit pada area payudara,
5. kelenjar getah bening aksila lebih dari 2,5 cm dan kelenjar getah bening
saling berlekatan antara yang lain (Brunicardi, et al. 2010).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Non invasif
a. Mamografi
Yaitu radiogram jaringan lunak sebagai pemeriksaan tambahan yang
penting. Mamografi dapat mendeteksi massa yang terlalu kecil untuk
dapat diraba. Dalam beberapa keadaan dapat memberikan dugaan
ada tidaknya sifat keganasan dari massa yang teraba. Mamografi
dapat digunakan sebagai pemeriksaan penyaring pada wanita-wanita
yang asimptomatis dan memberikan keterangan untuk menuntun
diagnosis suatu kelainan.
b. Radiologi (foto roentgen thorak)
c. USG
Teknik pemeriksaan ini banyak digunakan untuk membedakan antara
massa yang solit dengan massa yang kistik. Disamping itu dapat
menginterpretasikan hasil mammografi terhadap lokasi massa pada
jaringan patudar yang tebal/padat.
d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan ini menggunakan bahan kontras/radiopaque melaui
intra vena, bahan ini akan diabsorbsi oleh massa kanker dari massa
tumor. Kerugian pemeriksaan ini biayanya sangat mahal.
e. Positive Emission Tomografi (PET)
Pemeriksaan ini untuk mendeteksi ca mamae terutama untuk
mengetahui metastase ke sisi lain. Menggunakan bahan radioaktif
mengandung molekul glukosa, pemeriksaan ini mahal dan jarang
digunakan.
2. Invasif
a. Biopsi
Pemeriksaan ini dengan mengangkat jaringan dari massa payudara
untuk pemeriksaan histology untuk memastikan keganasannya. Ada 4
tipe biopsy, 2 tindakan menggunakan jarum dan 2 tindakan
menggunakan insisi pemmbedahan.
b. Aspirasi biopsy
Dengan aspirasi jarum halus sifat massa dapat dibedakan antara kistik
atau padat, kista akan mengempis jika semua cairan dibuang. Jika
hasil mammogram normal dan tidak terjadi kekambuhan pembentukan
massa srlama 2-3 minggu, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut.
Jika massa menetap/terbentuk kembali atau jika cairan spinal
mengandung darah,maka ini merupakan indikasi untuk dilakukan
biopsy pembedahan.
c. Tru-Cut atau Core biopsy
Biopsi dilakukan dengan menggunakan perlengkapan stereotactic
biopsy mammografi dan computer untuk memndu jarum pada
massa/lesi tersebut. Pemeriksaan ini lebih baik oleh ahli bedah
ataupun pasien karena lebih cepat, tidak menimbulkan nyeri yang
berlebihan dan biaya tidak mahal.
d. Insisi biopsy
Sebagian massa dibuang
e. Eksisi biopsy
Seluruh massa diangkat, hasil biopsy dapat digunakan selama 36 jam
untuk dilakukan pemeriksaan histologik secara frozen section.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi utama dari cancer payudara adalah metastase jaringan
sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-
organ lain. Tempat yang sering untuk metastase jauh adalah paru-paru,
pleura, tulang dan hati. Metastase ke tulang kemungkinan mengakibatkan
fraktur patologis, nyeri kronik dan hipercalsemia. Metastase ke paru-paru
akan mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru dan metastase ke otak
mengalami gangguan persepsi sensori (Nuratif, 2015).

I. PENATALAKSANAAN
Ada beberapa macam tindakan pengobatan untuk penyakit kanker
diantaranya :
1. Pembedahan
Pembedahan akan dilakukan bisanya pada stadium awal dari
pertumbuhan sel kanker. Pembedahan merupakan suatu tindakan infasif
dengan memotong dan mengangkat tumor ganas yang belum
berkembang. Pada penyakit kanker payudara ada beberapa jenis
pembedahan menurut (Kamaladewi, 2017), yaitu :
a. Pembedahan lompektomi, yaitu pembedahan yang hanya dilakukan
dengan mengangkat kankernya saja.
b. Pembedahan quadrantektomi, yaitu pembedahan yang dilakukan
dengan mengangkat seperempat bagian dari payudara.
c. Pembedahan mastektomi, yaitu pembedahan yang dilakukan untuk
mengangkat seluruh bagian payudara serta kelenjar getah bening.
2. Radioterapi
Radioterapi merupakan suatu tindakan yang bertujuan untuk membunuh
sel kanker tanpa merusak jaringan yang normal disekitarnya. Pemberian
radioterapi pada stadium awal memiliki tujuan kuratif dan pada stadium
lanjut memiliki tujuan paliatif (Smeltzer & Bare, 2012).
3. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan suatu tindakan pengobatan dengan pemberian
obat anti-kanker pada penderita kanker stadium lanjut maupun pada
penderita yang sel kankernya telah menyebar. Pemberian obat anti-
kanker ini diberikan melalui oral dan dengan intrathecal.
J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
b. Keluhan utama ada benjolan pada payudara dan lain-lain keluhan
serta sejak kapan riwayat penyakit (perjalanan penyakit, pengobatan
yang telah diberikan) faktor etiologi/risiko.
c. Konsep diri mengalami perubahan pada sebagian besar klien dengan
kanker mammae.
d. Pemeriksaan klinis
Mencari benjolan karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor
hormone antara lain esterogen dan progesterone, maka sebaiknya
pemerikasaan ini dilakukan saat pengaruh hormonal ini seminimal
mungkin/setelah menstruasi ± 1 minggu dari akhir menstruasi.
e. Inspeksi
- Simetri mammae kanan-kiri
- Kelainan papilla. Letak dan bentuk, adakah putting susu, kelainan
kulit, tanda radang, peaue d’orange, dimpling, ulserasi, dan lain-
lain. Inspeksi ini juga dilakukan dalam keadaan kedua lengan
diangkat keatas untuk melihat apakah ada bayangan tumor di
bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah bagian yang
tertinggal, dimpling dan lain-lain.
f. Palpasi
1) Klien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata atas
lapangan dada, jika perlu punggung diganjal bantal kecil.
2) Konsistensi, banyak, lokasi, infiltrasi, besar, batas, dan
operabilitas.
3) Pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar aksila)
4) Adakah metastase nudus (regional) atau organ jauh
5) Stadium kanker (sistem TNM UIIC, 1987)
g. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang klinis
1) Pemeriksaan radiologis
a) Mammografi/USG mammae
b) X-foto thorax
c) Kalau perlu
(1) Galktografi
(2) Tulang-tulang
(3) USG abdomen
(4) Bone scan
(5) CT scan

2) Pemeriksaan laboratorium
a) Rutin, darah lengkap, urine
b) Gula darah puasa dan 2 jam pp
c) Enzyme alkali sposphate, LDH
d) CEA, MCA, AFP
e) Hormon reseptor ER, PR
f) Aktivitas estrogen/vaginal smear
3) Pemeriksaan sitologis
a) FNA dari tumor
b) Cairan kista dan pleura effusion
c) Secret putting susu
4) Pemeriksaan sitologis/patologis
a) Durante oprasi vries coupe
b) Pasca operasi dari specimen operasi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri kronis b/d infiltrasi tumor
b. Pola napas tidak efektif b/d infiltrasi tumor ke jaringan paru
c. Defisit nutrisi b/d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient
d. Gangguan mobilitas fisik
e. Gangguan integritas jaringan b/d perubahan sirkulasi
f. Ansietas b/d krisis situasional
g. Nausea b/d iritasi lambung
h. Gangguan citra tubuh b/d perubahan bentuk dan fungsi tubuh
i. Harga Diri rendah situasional b/d perubahan pada citra tubuh
j. Risiko infeksi dengan faktor risiko: penyakit kronis
k. Resiko hipovolemia
l. Resiko syok anafilaksis
3. Intervensi Keperawatan
SDKI SLKI SIKI
Nyeri Kronis b/d Setalah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (I.08238)
infiltrasi tumor keperawatan dalam 1x24 jam Observasi
(D. 0078) diharapkan Nyeri dapat terkontrol - Identifikasi lokasi, karakteristik,
dengan kriteria hasil: durasi, frekuensi, kualitas dan
Tingkat Nyeri (L.08066) intensitas nyeri
 Keluhan nyeri, dari sedang (3) - Identifikasi respon non verbal
ke menurun (5) - Identifikasi faktor yang memperberat
 Meringis, dari sedang (3) ke dan memperingan nyeri
menurun (5) - Monitor keberhasilan terapi yang
 Gelisah, dari sedang (3) ke sudah dilakukan
menurun (5) Terapeutik
 Pola tidur, dari cukup buruk - Berikan tehnik non farmakologis
(2) ke cukup membaik (4) dalam melakukan penanganan nyeri
- Kontrol lingkungan yang
memperberat nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, priode dan
pemicu nyeri
- Ajarkan strategi meredakan nyeri
- Mengajarkan dan menganjurkan
untuk memonitor nyeri secara
mandiri
- Mengajarkan tehnik non farmakologis
yang tepat
Kolaborasi
- Kolaborasi dalam pemberian
analgetik jika perlu
Pola napas tidak Setelah dilakukan Tindakan Manajemen Jalan Napas
efektif b/d infiltrasi keperawatan selama 1x8 jam (I.01011)
tumor ke jaringan diharapkan pola napas tidak efektif Observasi
paru teratasi dengan kriteria hasil: - Monitor pola napas
(D.0005) - Monitor bunyi napas tambahan
Pola Napas (L.01004) - Monitor sputum
- Dispnea , dari sedang (3) ke Terapeutik
menurun (5) - Pertahankan kepatenan jalan napas
- Penggunaan otot bantu napas, dengan head-tilt dan chifn-tilt
dari sedang (3) ke menurun - Posisikan semi-fowler atau fowler
(5) - Berikan minum hangat
- Frekuensi napas, dari sedang - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
(3) ke membaik (5) - Lakukan penghisapan lendir, jika perlu
- Kedalaman napas, dari sedang Edukasi
(3) ke membaik (5) - Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hr,
jika tidak terkontraindikasi
- Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik, jika perlu

Defisit Nutrisi Status Nutrisi Manajemen Nutrisi


diharapkan Defisit Nutrisi yang Observasi
dialami pasien dapat menurun Identifikasi status nutrisi
dengan kriteria hasil: Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
-Nafsu makan meningkat Monitor asupan makanan
-Frekuensi makanmeingkat Monitor berat badan
-Porsi makan yang dihabiskan Terapeutik
meningkat Sajikan makanan secara menarik dan
-Kekuatan otot menelan meningkat suhu yang sesuai
Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi
protein
Berikan suplemen makanan, jika perlu
Edukasi
Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian medikasi sebelum
makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik),
jika perlu
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrient yang dibutuhkan, jika perlu
Gangguan Standar Luaran : Dukungan mobilisasi (1.05173)
mobilitas fisik Mobilitas Fisik (L.05042) Observasi :
 Pergerakan ekstremitas dari 1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan
(D.0054)
skala 2 (cukup menurun) fisik lainnya
menjadi skala 5 (meningkat) 2. Identifikasi toleransi fisik melakukan
 Nyeri dari skala 3 (sedang) pergerakan
menjadi skala 5 (menurun) 3. Monitor frekuensi jantung dan
1. Gerakan terbatas dari skala 2 tekanan darah sebelum memulai
(cukup) menjadi skala 5 mobilisasi
(menurun) Terapeutik
1. Fasilitasi klien dalam melakukan
mobilisasi
2. Libatkan keluarga dalam membantu
mobilisasi klien
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur
mobilisasi
2. Ajarkan mobilisasi sederhana yang
harus dilakukan (mis; duduk ditempat
tidur, )
Gangguan Standar Luaran : Perawatan Luka (I.14564)
Integritas kulit Integritas Kulit dan Jaringan Observasi
(L.14125) 1. Monitor karakteristik luka
 Kerusakan jaringan dari skala 2 2. Monitor tanda-tanda infeksi
(cukup meningkat) menjadi Terapeutik
skala 5 (menurun) 1. Lepaskan balutan dan plaster secara
 Kerusakan lapisan kulit dari perlahan
skala 2 (cukup meningkat) 2. Bersihkan dengan cairan Nacl
menjadi skala 5 (menurun) 3. Bersihkan jaringan nekrotik
 Nyeri dari skala 3 (sedang) 4. Berikan salep yang sesuai dengan
menjadi skala 5 (menurun) kulit/luka
5. Pasang balutan sesuai jenis luka
Edukasi
1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
2. Anjurkan mengkonsumsi makanan
tinggi kalori dan protein
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian antibiotik

Gangguan citra Citra Tubuh Promosi Citra Tubuh


tubuh b/d Setelah dilakukan tindakan Observasi
perubahan bentuk keperawatan, diharapkan citra Identifikasi harapan citra tubuh
dan fungsi tubuh tubuh klien meningkat dengan berdasarkan tahap perkembangan
kriteria hasil : Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin,
-Kemampuan melihat bagian tubuh dan umur terkait citra tubuh
meningkat Identifikasi perubahan citra tubuh yang
-Verbalisasi kecacatan bagian menyebabkan isolasi sosial
tubuh meningkat Monitor frekuensi terhadap kritik pada diri
-Verbalisasi perasaan negative sendiri
tentang perubahan tubuh menurun Monitor apakah pasien bisa melihat
-Klien tidak menyembunyikan bagian tubuh yang berubah
bagian tubuh berlebihan Terapeutik
Diskusikan perubahan tubuh dan
-Verbalisasi kekhawatiran pada
fungsinya
penolakan/reaksi orang lain
Diskusikan perbedaan penampilan fisik
menurun
terhadap harga diri
Diskusikan kondisi stress yang
mempengaruhi citra tubuh
Diskusikan cara mengembangkan
harapan citra tubuh secara realistis
Diskusikan persepsi pasien dan keluarga
tentang perubahan citra tubuh
Edukasi
Jelaskan kepada keluarga tentang
perawatan perubahan citra tubuh
Anjurkan mengungkapkan gambaran diri
terhadap citra tubuh
Latih fungsi tubuh yang dimiliki
Latih peningkatan penampilan diri (mis.
Berdandan)
Latih pengungkapan kemampuan diri
kepada orang lain maupun kelompok

Resiko Infeksi Tingkat infeksi menurun (l. Pencegahan Infeksi (I.14539)


(D.0142) 14137)
Setelah dilakukan asuhan Observasi
keperawatan selama 3x 24 jam
diharapakan Tingkat Infeksi 1. Monitor tanda gejala infeksi lokal
Menurun, dengan kriteria hasil:
1. Demam menurun
2. Nyeri menurun Terapeutik
3. Kadar sel darah putih
membaik 1. Batasi jumlah pengunjung
2. Berikan perawatan kulit disekitar
edema

Edukasi

1. Jelaskan tanda gejala infeksi


2. Anjurkan menignkatkan asupan
nutrisi
3. Anjurkan menignkatkan asupan
cairan

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian vaksin, jika


diperlukan

PRE KEMOTERAPI
Ansietas b.d Standar Luaran Reduksi Anxietas (I.09314)
kurang terpapar
Tingkat Ansietas (L.09093)
informasi   Observasi
(D.0080)  Verbalisasi khawatir akibat
kondisi yang dihadapi dari 1. Identifikasi saat tingkat anxietas
berubah (mis. Kondisi, waktu,
skala 2 cukup meningkat
stressor)
menjadi skala 4 cukup 2. Identifikasi kemampuan mengambil
keputusan
menurun
 Perilaku gelisah dari skala 3. Monitor tanda anxietas (verbal dan
non verbal)
2 cukup meningkat
menjadi skala 4 cukup Terapeutik
menurun
1. Ciptakan suasana  terapeutik untuk
 Perilaku tegang dari skala
menumbuhkan kepercayaan
2 cukup meningkat 2. Temani pasien untuk mengurangi
kecemasan , jika memungkinkan
menjadi skala 4 cukup
3. Pahami situasi yang membuat
menurun anxietas
4. Dengarkan dengan penuh perhatian
 Pucat dari skala 2 cukup
5. Gunakan pedekatan yang tenang
meningkat menjadi skala 3 dan meyakinkan
6. Motivasi mengidentifikasi situasi
sedang
yang memicu kecemasan
 TTV dari sekala 2 cukup 7. Diskusikan perencanaan  realistis
memburuk menjadi sekala tentang peristiwa yang akan datang
4 cukup membaik
Edukasi

1. Jelaskan prosedur, termasuk


sensasi yang mungkin dialami
2. Informasikan secara factual
mengenai diagnosis, pengobatan,
dan prognosis
3. Anjurkan keluarga untuk tetap
bersama pasien, jika perlu
4. Anjurkan melakukan kegiatan yang
tidak kompetitif, sesuai kebutuhan
5. Anjurkan mengungkapkan perasaan
dan persepsi
6. Latih kegiatan pengalihan, untuk
mengurangi ketegangan
7. Latih penggunaan mekanisme
pertahanan diri yang tepat
8. Latih teknik relaksasi

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian obat anti anxietas,


jika perlu
POST KEMOTERAPI
Nausea Tingkat Nausea Manajemen Mual
Diharapkan setelah diberikan Observasi
tindakan keperawatan selama 1x8 -Identifikasi pengalaman mual
jam, tingkat nausea menurun -Identifikasi isyarat nonverbal
dengan kriteria hasil : ketidaknyamanan
-Nafsu makan meningkat -Identifikasi dampak mual terhadap
-Tidak ada keluhan mual kualitas hidup
-Tidak ada perasaan ingin muntah -Identifikasi faktor penyebab mual
-Identifikasi antiemetic untuk mencegah
-Klien tidak pucat mual
-Monitor mual
-Monitor asupan nutrisi dan kalori
Terapeutik
-Kendalikan faktor lingkungan penyebab
mual
-Kurangi atau hilangkan keadaan
penyebab mual
-Berikan makanan dalam jumlah kecil dan
menarik
-Berikan makanan dingin, cairan bening,
tidak berbau dan tidak berwarna jika perlu
Edukasi
-Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
-Anjurkan sering membersihkan mulut,
kecuali jika merangsang mual
-Anjurkan makanan tinggi karbohidrat dan
rendah lemak
-Anjurkan penggunaan teknik
nonfarmakologis untuk mengatasi mual
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian antiemetic jika
perlu

Manajemen Muntah
Observasi
-Identifikasi karakteristik muntah
-Periksa volume muntah
-Identifikasi riwayat diet
-Identifikasi faktor penyebab muntah
-Identifikasi kerusakan esophagus dan
faring posterior jika muntah terlalu lama
-Monitor efek manajemen muntah secara
menyeluruh
-Monitor keseimbangan cairan dan
elektrolit
Terapeutik
-Kontrol faktor lingkungan penyebab
muntah
-Kurangi atau hilangkan penyebab
muntah
-Atur posisi untuk mencegah aspirasi
-Pertahankan kepatenan jalan nafas
-Bersihkan mulut dan hidung
-Berikan dukungan fisik saat muntah
-Berikan kenyamanan selama muntah
-Berikan cairan yang tidak mengandung
karbonasi minimal 20 menit setelah
muntah
Edukasi
-Anjurkan membawa kantong plastic
untuk menampung muntah
-Anjurkan memperbanyak istirahat
-Anjurkan penggunaan teknik
nonfarmakologis untuk mengelola muntah
Kolaborasi
-Kolaborasi pemberian antiemetic jika
perlu

Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8,
Jakarta: EGC.

Carpenito, (2001). Buku saku diagnosa keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges et. al (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, Jakarta : EGC.

PPNI (2018). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator

Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:Definisi dan kriteria hasil

keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:Definisi dan tindakan

keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

Price SA., Wilson L.M., 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses

Penyakit, Buku I, Edisi 4, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta