Anda di halaman 1dari 14

KEPERAWATAN KESEHATAN KERJA

KELOMPOK 3 :
DINA FITRIANI
ERNA LEVIS
KUSMIADI
NORASIAH
NUR HAYANI
SAROJA
SYAFRINI
RUSTIAH

PRODI S1 KEPERAWATAN PROGRAM B ROHIL

STIKes PAYUNG NEGERI

PEKANBARU

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala Rahmad dan Karunia-NYA,
sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah keperawatan komunitas ini
dengan judul “Keperawatan Kesehatan Kerja”.

Kami selaku penulis menyadari penulisan makalah ini banyak kekurangannya dan jauh dari
kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan waktu dan kemampuan pengetahuan yang
kami miliki. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan masukan dan kritikan dari semua
pihak yang sifatnya senantiasa membangun dan melengkapi kesempurnaan makalah ini.

Dengan selesainya makalah ini, tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari semua pihak
oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati kami selaku penulis makalah menyampaikan
ucapan terimah kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya Semoga segala kebaikan dan
bantuan yang telah diberikan kepada kami selaku penulis bernilai ibadah dan mendapat imbalan
serta limpahan rahmad dan karunia Allah SWT, Aamiin.

Akhir kata kiranya tersusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca
terutama dalam menambah wawasan dan pengetahuan serta perkembangan ilmu keperawatan di
masa mendatang.

Rantau Bais, November 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2
DAFTAR ISI...................................................................................................................................3
BAB I...............................................................................................................................................3
PENDAHULUAN...........................................................................................................................3
A. Latar belakang...................................................................................................................4
B. Rumusan masalah.............................................................................................................4
BAB II.............................................................................................................................................4
PEMBAHASAN..............................................................................................................................4
A. Pengertian kesja, hyperkes dan keperawatan kesehatan kerja..........................................5
B. Kebijakan dan aspek legalitas ssistem manajemen K3 (SMK3).......................................6
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesja..........................................................................7
D. Sasaran-sasaran kesehatan kerja.......................................................................................8
E. Trend dan issue masalah kesehatan: penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja..9
F. Perencanaan keselamatan kesehatan kerja dan peran fungsi perawat dalam kesja.........11
BAB III..........................................................................................................................................12
KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................................................12
A. Kesimpulan.....................................................................................................................13
B. Saran................................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................13
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Tujuan utama dari Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) adalah
menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif melalui pemeliharaan dan peningkatan
derajat kesehatan serta penyelarasan pekerjaan dengan pekerja, dan pekerja terhadap
teknologi dan pekerjaannya.
Untuk itu diperlukan peningkatan keterampilan teknis dan keahlian semua pihak yang
terkait dengan penanganan masalah lingkungan dan hiperkes seiring dengan kemajuan
teknologi. Dalam rangka hal itu, maka penyelenggaraan pelatihan dan penataran bagi
peningkatan kemampuan bagi sumber daya manusia dalam hiperkes dilaksanakan, baik
melalui pendidikan formal maupun non formal, misalnya pelatihan terhadap personil
pelaksana hiperkes seperti dokter perusahaan, atau perawat / paramedis perusahaan.
Kewajiban pelatihan bagi tenaga-tenaga yang bergerak di bidang ini ditegaskan dalam
peraturan Menteri Tenaga Kerja, Peraturan No. PER –01/MEN/1976, tentang kewajiban
pelatihan hiperkes bagi dokter perusahaan dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-
01/MEN/1979 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi perawat / paramedis.
B. Rumusan masalah
1. Pengertian kesehatan kerja, hiperkes dan keperawatan kesehatan kerja
2. Mengetahui kebijakan dan aspek legalitas sistem manajemen K3 (SMK3)
3. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kesja
4. Mengetahui sasaran-sasaran kesehatan kerja
5. Trend dan issue masalah kesehatan: penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja
6. Mengetahui peran fungsi perawat dalam kesja
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian kesja, hyperkes dan keperawatan kesehatan kerja


1. Pengertian kesehatan kerja
Menurut Sumakmur (1988) kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/masyarakat
pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau
mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-
penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan
lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum.
Kesehatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
a. Sasarannya adalah manusia
b. Bersifat medis.
2. Tujuan Keselamatan Kerja
Tujuan keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk
kesejahteraan hidup & meningkatan produksi & produktivitas nasional.
b. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
c. Sumber produksi dipelihara & dipergunakan secara aman & efisien
3. Pengertian hiperkes
Hiperkes pada dasarnya merupakan penggabungan dua disiplin ilmu yang berbeda
yaitu medis dan teknis yang menjadi satu kesatuan sehingga mempunyai tujuan yang
sama yaitu menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Istilah Hiperkes menurut
Undang – Undang tentang ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja yaitu lapangan
kesehatan yang ditujukan kepada pemeliharaan-pemeliharaan dan mempertinggi derajat
kesehatan tenaga kerja,dilakukan dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan
tenaga kerja yangsakit, mengatur persediaan tempat, cara-cara dan syarat yang memenuhi
norma-norma hiperkes untuk mencegah penyakit baik sebagai akibat pekerjaan, maupun
penyakitumum serta menetapkan syarat-syarat kesehatan bagi tenaga kerja.
4. Fungsi hiperkes
Fungsi seorang perawat hiperkes sangat tergantung kepada kebijaksanaan
perusahaan dalam hal luasnya ruang lingkup usaha kesehatan, susunan dan jumlah tenaga
kesehatan yang dipekerjakan dalam perusahaan. Dokter perusahaan biasanya memegang
tanggung-jawab dalam menyelenggarakan kesehatan perusahaan, namun kita ketahui
sekarang ini bahwa tidak semua perusahaan mempekerjakan dokter secara full time.
Dalam kondisi seperti ini, maka perawat yang menjadi lebih banyak melayani aktivitas
kesehatan di perusahaan.
5. Ruang lingkup Hiperkes
Ruang lingkup hyperkes dapat dijelaskan sebagai berikut (Rachman, 1990) :
a. Kesehatan dan keselamatan kerja diterapkan di semua tempat kerja yang di dalamnya
melibatkan aspek manusia sebagai tenaga kerja, bahaya akibat kerja dan usaha yang
dikerjakan.
b. Aspek perlindungan dalam hyperkes meliputi :
1) Tenaga kerja dari semua jenis dan jenjang keahlian
2) Peralatan dan bahan yang dipergunaka
3) Faktor-faktor lingkungan fisik, biologi, kimiawi, maupun social
4) Proses produksi
5) Karakteristik dan sifat pekerjaan
6) Teknologi dan metodologi kerja
c. Penerapan Hyperkes dilaksanakan secara holistik sejak perencanaan hingga perolehan
hasil dari kegiatan industri barang maupun jasa.
d. Semua pihak yang terlibat dalam proses industri/ perusahaan ikut bertanggung jawab
atas keberhasilan usaha hyperkes.

B. Kebijakan dan aspek legalitas ssistem manajemen K3 (SMK3)


Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) meliputi struktur
organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya
yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan
kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan
dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih
dan/atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan
produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran,
pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3.
Langkah awal untuk mengimplementasikan SMK3 adalah dengan menunjukkan
komitmen serta kebijakan K3, yaitu suatu pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh
pengusaha dan atau pengurus yang memuat keseluruhan visi dan tujuan perusahaan,
komitmen dan tekad melaksanakan K3, kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan
perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan/atau operasional.
Kebijakan K3 dibuat melalui proses konsultasi antara pengurus dan wakil tenaga
kerja yang kemudian harus dijelaskan dan disebarluaskan kepada semua tenaga kerja,
pemasok dan pelanggan. Kebijakan K3 bersifat dinamik dan selalu ditinjau ulang dalam
rangka peningkatan kinerja K3.
Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa dasar hukum
pelaksanaan. Di antaranya ialah:
1. UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja :
a. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
b. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
c. Adanya bahaya kerja di tempat itu.
2. Permenaker No 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3 :
Setiap perusahaan yang memperkerjakan seratus tenaga kerja atau lebih dan atau
yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan
produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran,
pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).
3. Permenaker No 4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (P2K3) :
a. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memperkerjakan 100 orang atau lebih.
b. Tempat kerja dimana pengusaha memperkerjakan kurang dari seratus orang tetapi
menggunakan bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya
peledakan, kebakaran, keracunan dan pencemaran radioaktif.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesja
1. Lingkungan
a. Faktor Fisik antara lain : Suara (Kebisingan), Radiasi, Suhu (Panas/dingin), Vibrasi
(Getaran), Tekanan Udara (Hiperbarik/Hipobarik), Pencahayaan.
Bahaya atau gangguan kesehatan yang dapat timbul dari faktor lingkungan ini :
1) Tuli permanen akibat kebisingan (misalnya ruang Generator, bengkel reparasi
alat, dll)
2) Heat stress, (misalnya ruang Generator, dapur, laundry, dll)
3) Raynaud’s syndrom karena getaran (Generator, bengkel dll)
4) Leukemi akibat radiasi (X-ray, Radioterapi dll)
5) Kelelahan mata karena pencahayaan yang kurang,
6) Kecelakaan misalnya : boiler meledak, jatuh ditangga, tersekap di lift, dll
b. Faktor Kimia. Yang termasuk dalam lingkup kerja kimiawi adalah semua bahan
kimia yang digunakan dalam proses kerja di lingkungan kerja yang berbentuk :
1) Debu (asbes,berilium,biji timah putih,dll)
2) Uap (Uap logam)
3) Gas (Sianida, gas asam sulfida,CO,dll)
c. Larutan (asam kuat atau basa kuat)
Bahaya bahan kimia dapat berasal dari :
1) Desinfektans pensuci hama (misalnya ruang Bedah, Obsgyn, dll) dapat
menyebabkan gangguan pernafasan, dermatitis
2) Uap zat anaestesi (misalnya ruang Operasi) dapat menimbulkan
gangguanpernafasan
3) Mercuri (Tensimeter pecah, termometer dll) dapat menyebabkan kecelakaan
misalnya luka.
4) Debu zat kimia (Gudang obat, desinfektan dll) dapat menyebabkan Gangguan
Pernafasan yang dapat menjadi Kanker paru-paru dalam jangka panjang
5) Keracunan (zat desinfektan, Insektisida)
6) Ledakan /kebakaran oleh zat kimia/gas O2, dll.
d. Faktor Biologi
1) BAKTERI. Penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri, misalnya: penyakit
antraks, Penyakit TBC,dll
2) VIRUS. Penyakit yang dpt disebabkan oleh virus,misalnya : Hepatitis (nakes di
RS), Rabies (petugas laboratorium), dll
3) JAMUR,misalnya : Dermatofitosis terdapat pada pemulung, tukang cuci, dll.
4) PARASIT, misalnya : Ankilostomiasis, tripanosomiasis yang biasanya diderita
oleh pekerja diperkebunan,pertanian, kehutanan, dll
e. Faktor Faal ergonomic
Biasanya disebabkan oleh peralatan kerja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh
atau anggota badan (tidak ergonomik). Hal ini dapat menimbulkan kelelahan secara
fisik dan adanya keluhan-keluhan dan gangguan kesehatan, misalnya : Carpal tunnel
syndrome, tendinitis, tenosynovitis, dan lain sebagainya.
Faktor Psikologi Yaitu suasana kerja yang tidak harmonis misalnya pekerjaan
monoton, upah yg kurang, hubungan atasan-bawahan yg kurang baik, dll. Hal
tersebut Dapat menimbulkan stres kerja dengan gejala psikosomatis berupa mual,
muntah, sakit kepala, nyeri ulu hati, jantung berdebar-debar, dll.
2. Perilaku Pekerja
a. Di pengaruhi antara lain oleh pendidikan, pengetahuan, kebiasaan-
kebiasaan&fasilitas yang tersedia. Jadi erat kaitannya dengan faktor-faktor ekonomi,
sosial &budaya.
b. Perilaku kerja akan mempengaruhi kapasitas kerja, beban kerja serta cara
melaksanakan pekerjaan.
3. Pelayanan Kesehatan Kerja
Program Pelayanan Kesehatan Kerja, meliputi :
a. Pelayanan promotif
b. Pelayanan preventif
c. Pelayanan kuratif
d. Pelayanan rehabilitatif.
e. Faktor Genetik (Herediter)
Dibandingkan dengan Ketiga faktor lainnya faktor genetik ini sangat kecil
peranannya terhadap status kesehatan seorang pekerja. Namun faktor genetik
seseorang dpt menyebabkan seorang pekerja lebih rentan terkena suatu penyakit. Ok,
sahabat K3 untuk pembahasan singkat tentang prinsip dasar kesehatan kerja cukup
sekian dulu. Semoga Bermanfaat, sampai ketemu di postingan materi selanjutnya

D. Sasaran-sasaran kesehatan kerja


Tujuan kesehatan kerja adalah:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan
pekerjaan ketingkat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun kesehatan sosial.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh
tindakan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaanya dari kemungkinan bahaya
yang disebabkan olek faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan
lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi, antara lain: metode
bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan,
penyakit ataupun perubahan dari kesehatan seseorang. Pada hakekatnya ilmu kesehatan kerja
mempelajari dinamika, akibat dan problematika yang ditimbulkan akibat hubungan interaktif
tiga komponen utama yang mempengaruhi seseorang bila bekerja yaitu:
1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain.
2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain:bising, panas, debu,
parasit, dan lain-lain.

E. Trend dan issue masalah kesehatan: penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja
Beberapa penyebab terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit-penyakit akibat kerja:
1. Penyebab Langsung (Immediate Causes)
Penyebab langsung Kecelakaan Adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat
dan di rasakan langsung, yang di bagi 2 kelompok:
a. Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu Perbuatan berbahaya dari dari
manusia yang dalam beberapa hal dapat dilatar belakangi antara lain:
1) Cacat tubuh yang tidak kentara (bodilly defect)
2) Keletihan dan kelesuan (fatigiue and boredom)
3) Sikap dan tingka laku yang tidak aman
4) Pengetahuan
b. Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) yaitu keadaan yang akan menyebababkan
kecelakaan, terdiri dari:
1) Mesin, peralatan, bahan.
2) Lingkungan
3) Proses pekerjaan
4) Sifat pekerjaan
5) Cara kerja

2. Penyebab Dasar (Basic causes)


Penyebab Dasar (Basic Causes), terdiri dari 2 faktor yaitu:
a. Faktor manusia/personal (personal factor)
1) Kurang kemampuan fisik, mental dan psikologi
2) Kurangnya /lemahnya pengetahuan dan skill
3) Stres
4) Motivasi yang tidak cukup/salah
b. Faktor kerja/lingkungan kerja (job work enviroment factor)
1) Factor fisik yaitu, kebisingan, radiasi, penerangan, iklim dll.
2) Factor kimia yaitu debu, uap logam, asap, gas dst
3) Factor biologi yaitu bakteri,virus, parasit, serangga
4) Ergonomi dan psikososial

Beberapa pendapat para ahli mengenai penyebab kecelakaan:


1. Menurut Henrich faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor Tindakan-
tindakan tidak aman (unsafe acts) 80 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe
condition) 20%.
2. Menurut Suma’mur faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor Tindakan-
tindakan tidak aman (unsafe acts) 85 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe
condition) 15 %.
3. Menurut Hastuti dan Adiatma faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor
Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) 85 % dan Kondisi yang tidak aman
(unsafe condition) 10% dan faktor alam (act of god) 5%.
4. Menurut Phoon (1988), penyebab kecelakaan sangat banyak, beraneka ragam, dan
kompleks

Faktor utama yang menyebabkan kecelakaan adalah:


1. Lingkungan kerja
2. Metode kerja
3. Pekerja sendiri
Namun pada akhirnya semua kecelakaan baik langsung maupun tidak langsung, di
akibatkan kesalahan manusia.
Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada SETIAP PROSES/
AKTIFITAS pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun
kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini
mungkin, kecelakaan/potensi kecelakaan kerja harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-
tidaknya dikurangi dampaknya.
Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus
dilakukan secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial
dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Salah satu bentuk
keseriusan itu adalah resourcing, baik itu finansial dan MSDM.
Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut:
1. Kelelahan (fatigue)
2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe
working condition)
3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya
(pre-cause) adalah kurangnya training
4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.
Hubungan antara karakter pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan
yang cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced
work), pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work),
pekerjaan-pekerjaan yang harus diawali dengan “pemanasan prosedural”, beban kerja
(workload), dan lamanya sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa
karakteristik pekerjaan yang dimaksud.
Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam
sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain).

F. Perencanaan keselamatan kesehatan kerja dan peran fungsi perawat dalam kesja
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi
baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka
menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula
meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam
mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya.
Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka
disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang
selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh
mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja,
moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai
agama. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan
perundangan-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti
peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai
sudah tidak memadai menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.
1. Peran perawat dalam meningkatkan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
Fungsi seorang perawat hiperkes sangat tergantung kepada kebijaksanaan
perusahaan dalam hal luasnya ruang lingkup usaha kesehatan, susunan dan jumlah tenaga
kesehatan yang dipekerjakan dalam perusahaan.
Perawat merupakan satu-satunya tenaga kesehatan yang full time di perusahaan,
maka fungsinya adalah :
a. Membantu dokter perusahaan dalam menyusun rencana kerja hiperkes di perusahaan
b. Melaksanakan program kerja yang telah digariskan, termasuk administrasi kesehatan
kerja.
c. Memelihara dan mempertinggi mutu pelayanan perawatan dan pengobatan
d. Memelihara alat-alat perawatan, obat-obatan dan fasilitas kesehatan perusahaan.
e. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan sesuai cara-cara yang telah disetujui.
f. Ikut membantu menentukan kasus-kasus penderita, serta berusaha menindaklanjuti
sesuai wewenang yang diberikan kepadanya.
g. Ikut menilai keadaan kesehatan tenaga kerja dihubungkan dengan faktor pekerjaan
dan melaporkan kepada dokter perusahaan.
h. Membantu usaha perbaikan kesehatan lingkungan dan perusahaan sesuai kemampuan
yang ada.
i. Ikut mengambil peranan dalam usaha-usaha kemasyarakatan : UKS.
j. Membantu, merencanakan dan atau melaksanakan sendiri kunjungan rumah sebagai
salah satu dari segi kegiatannya.
k. Menyelenggarakan pendidikan hiperkes kepada tenaga kerja yang dilayani.
l. Turut ambil bagian dalam usaha keselamatan kerja.
m. Mengumpulkan data-data dan membuat laporan untuk statistic dan evaluasi.
n. Turut membantu dalam usaha penyelidikan kesehatan tenaga kerja
o. Memelihara hubungan yang harmonis dalam perusahaan
p. Memberikan penyuluhan dalam bidang kesehatan
q. Bila lebih dari satu paramedis hiperkes dalam satu perusahaan, maka pimpinan
paramedis hiperkes harus mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan semua usaha
perawatan hiperkes.
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Perawat adalah suatu profesi yang mulia, karena memerlukan kesabaran dan
ketenangan dalam melayani pasien yang sedang menderita sakit. Seorang perawat harus
dapat melayani pasien dengan sepenuh hati. Sebagai seorang perawat harus dapat memahami
masalah yang dihadapi oleh klien, selain itu seorang perawat dapat berpenampilan menarik.
Untuk itu seorang perawat memerlukan kemampuan untuk memperhatikan orang lain,
ketrampilan intelektual, teknikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku perawat.
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/ kedokteran beserta
prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/ masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-
usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/ gangguan-gangguan kesehatan yang
diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit
umum.
B. Saran
Makalah ini membahas tentang keperawatan komunitas yang membahas komunitas
perawat pada sector perusahaan dengan berfokuskan pada tenaga kerja. Sehingga dengan
pembahasan ini sudah semestinya setiap mahasiswa mendapatkan gambaran akan system K3
ini, sehingga menjadikan mahasiswa tidak memandang sempit keprofesiannya nanti.
DAFTAR PUSTAKA

Dedi. 2014. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Kerja Diakses. Diunduh dari
http://dedikun.blogspot.com/2014/09/makalah-konsep-dasar-keperawatan.html pada
tanggal 7 November 2020

http://nahrowy.wordpress.com/2013/01/31/makalah-kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3-fungsi-
dan-tugas-perawat-dalam-k3/

http://k3rs.blogspot.com/2012/04/prinsip-dasar-k3.html

http://fx-kerja.blogspot.com/2012/03/penyebab-kecelakaan-kerja.html

http://10menit.wordpress.com/tugas-kuliah/kesehatan-kerja-dan-keselamatan-kerjaperburuhan/