Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PREEKLAMSIA

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4:

KARIMAN

KUSMIADI

MURTI WAHYUNI

NILAM ARIENSIH

NORASIAH

NUR HAYANI

PRODI S1 KEPERAWATAN PROGRAM B ROHIL

STIKes PAYUNG NEGERI

PEKANBARU

2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-NYA sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Segala daya upaya penulis curahkan dalam pembuatan makalah ini karena
penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari dalam
penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan, pengarahan, bimbingan
secara moril maupun materil dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis
mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah membantu dalam pembuatan
makalah ini.

Semoga semua pihak yang telah membantu mendapat imbalan pahala dari
Allah SWT. Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini masih jauh kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

Akhir kata semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Rokan Hilir, November 2020

Penulis
Kelompok 4

2
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR...................................................................................................2
DAFTAR ISI.................................................................................................................3
BAB I.............................................................................................................................6
PENDAHULUAN.........................................................................................................6
A. Latar Belakang................................................................................................6
B. Tujuan.............................................................................................................6
C. Manfaat...........................................................................................................7
BAB II...........................................................................................................................8
TINJAUAN TEORI.......................................................................................................8
A. Defenisi...........................................................................................................8
B. Etiologi............................................................................................................9
C. Patofisiologi....................................................................................................9
D. Klasifikasi.....................................................................................................10
E. Maninfestasi Klinis.......................................................................................10
F. Faktor Pengaruh Preeklamsi..........................................................................11
G. Penanganan Preeklampsia Ringan dan Berat................................................12
H. Pencegahan...................................................................................................14
I. Pemeriksaan Penunjang.................................................................................15
J. Penatalaksanaan............................................................................................16
K. Komplikasi....................................................................................................18
BAB III........................................................................................................................19
ASKEP IBU HAMIL PADA PREEKLAMSI.............................................................19
A. Pengumpulan Data........................................................................................19
B. Pengelompokan Data....................................................................................24
C. Analisa Data..................................................................................................25
D. Rumusan Diagnosa.......................................................................................26
E. Intervensi (Perencanaan)...............................................................................27
F. Implementasi.................................................................................................30
G. Evaluasi.........................................................................................................30
BAB IV........................................................................................................................31
PENUTUP...................................................................................................................31
A. Simpulan.......................................................................................................31
B. Saran.............................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................32

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap tahun diperkirakan 529.000 wanita di dunia meninggal sebagai akibat
komplikasi yang timbul dari kehamilan dan persalinan, sehingga diperkirakan
terdapat angka kematian maternal sebesar 400 per 100.000 kelahiran hidup
(estimasi kematian maternal dari WHO/ UNICEF/ UNFPA tahun 2011). Hal ini
memiliki arti bahwa satu orang wanita di belahan dunia akan meninggal setiap
menitnya.
Di indonesia, masalah kematian dan kesakitan ibu merupakan masalah besar.
Pada tahun 2006, angka kematian ibu (AKI) masih menduduki urutan tertinggi di
negara ASEAN yaitu 307/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian
bayi (AKB) sebesar 37/1000 kelahiran hidup (Depkes, 2007).
Setiap wanita hamil mempunyai potensi resiko komplikasi persalinan dengan
dampak ketidaknyamanan, ketidakpuasan, bahkan kematian. Preeklampsia
merupakan suatu penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan yang
hingga kini penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti, yang ditandai
dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi, edema dan proteinuria yang masih
merupakan sebab utama kematian ibu dan sebab kematian perinatal yang tinggi ,
untuk mendeteksi preeklamsia sedini mungkin dengan melalui pemeriksaan
kehamilan secara teratur mulai trimester I sampai trimester III dalam upaya
mencegah preeklampsia menjadi lebih berat. ( Wiknjosastro, 2008).
Preeklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung
disebabkan oleh kehamilan. Pre-eklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri
dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera
setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila
terjadi.Preeklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada
nullipara.Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu
pada remaja belasan tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menganalisa hubungan antara beberapa faktor risiko terhadap terjadinya pre-
eklampsia pada saat kehamilan
2. Tujuan Khusus
1) Mengukur besar risiko faktor umur ibu hamil terhadap terjadinya
preeklampsia berat

4
2) Mengukur besar risiko paritas terhadap terjadinya preeklampsia berat.
3) Mengukur besar risiko jarak kehamilan terhadap terjadinya preeklampsia
berat
4) Mengukur besar risiko kehamilan ganda terhadap terjadinya preeklampsia
berat.

C. Manfaat
Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta tambahan
pengalaman yang sangat berharga dalam penerapan manajemen asuhan
keperawatan, khususnya pada kasus preeklampsia.

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Defenisi
Preeklamsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan bagaiman hypertensi
terjadi setelah kehamilan ke-20 minggu pada wanita sebelum memiliki tekanan
darah normal ( Prawira hardjo,2008). Preeklamsia merupakan suatu penyakit
vasospatik, yang melibatkan banyak system dan ditandai oleh hemokonsentrasi,
hipertensi dan proteinuria. Diagnosis preeklamsia secara tradisional didasarkan
pada adanya hipertensi disertai proteinuria dan edema ( Willis,Blanco,1990).
Hipertensi didefinisikan sebagai pningkatan tekanan sistolik dan diastolic
melebihi 140/90 mmhg. Jika tekanan darah itu pada trismester 1 diketahui, maka
angka tersebut dipakai sebagai patokan dasar tekanan darah ibu. Dengan
informasi tersebut definisi hipertensi ialah kenaikan nilai tekanan sistolik sebesar
30mmhg atau lebih, tekanan diastolic sebesra 15mmhg diatas nilai tekanan darah
dasar ibu. Peningkatan tekanan darahharus terjadi sekurang kurangnya dalam 2x
pemeriksaan dengan jarak 4-6 jam ( Fairlie,Sibai,1993 ).
Proteinuria ditandai dengan ditemukannya protein dalam urin 24jam kadarnya
melebihi 0,3gr/L, atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan lebih dari 2 atau 1g/L
atau lebih dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter yang diambil minimal 2x
dengan jarak waktu 6 jam. Umunya protein uria timbul lebih lambat, sehingga
harus dianggap tanda yang serius.
Udema tidak lagi perlu menjadi dasar diagnosis preeklamsia ( Sibai,
Rodriguez,1992 ). Jika ada edema merupakan suatu akumulasi cairan interstisial
umumnya setelah 12 jam tirah baring atau peningkatan BB 2kg per minggu. Pada
keadaan tersebut ada hipertensi atau protein uria, edema harus dievalusi sebagai
refleksi edema organ akhir dan kemungkinan hipoksia organ.
Preeklampsia atau toksemia umumnya terjadi pada trimester ketiga.
Persentasenya adalah 5-10% kehamilan. Kecenderungannya meningkat pada
faktor genetis. Berbeda dengan tekanan darah tinggi menahun, preeklampsia
ialah kondisi peningkatan tekanan darah yang terjadi ketika hamil.
Preeklampsia lebih sering terjadi pada ibu yang mengalami kehamilan yang
pertama kali (7%). Wanita yang hamil berusia 35 tahun, hamil kembar,
menderita diabetes, tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal juga
mempunyai risiko menderita preeklampsia. Sejauh ini, penyebab gangguan
ini belum diketahui secara pasti. Diduga penyebab preeklampsia adalah
penyempitan pembuluh darah yang unik (Indiarti, 2009).

6
B. Etiologi
Etiologi preeklampsia sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Banyak
teori dikemukakan, tetapi belum ada yang mampu memberi jawaban yang
memuaskan. Oleh karena itu, preeklampsia sering disebut sebagai “the disease of
theory”. Teori yang dapat diterima harus dapat menerangkan hal-hal berikut:

1. Peningkatan angka kejadian preeklampsia pada primigravida, kehamilan


ganda, hidramnion, dan mola hidatidosa
2. Peningkatan angka kejadian preeklampsia seiring bertambahnya usia
kehamilan
3. Perbaikan keadaan pasien dengan kematian janin dalam uterus
4. Penurunan angka kejadian preeklampsia pada kehamilan-kehamilan
berikutnya
5. Mekanisme terjadinya tanda-tanda preeklampsia, seperti hipertensi, edema,
proteinuria, kejang dan koma

Sedikitnya terdapat empat hipotesis mengenai etiologi preeklampsia hingga


saat ini, yaitu :
1. Iskemia plasenta, yaitu invasi trofoblas yang tidak normal terhadap arteri
spiralis sehingga menyebabkan berkurangnya sirkulasi uteroplasenta yang
dapat berkembang menjadi iskemia plasenta.
2. Peningkatan toksisitas very low density lipoprotein (VLDL).
3. Maladaptasi imunologi, yang menyebabkan gangguan invasi arteri spiralis
oleh sel-sel sinsitiotrofoblas dan disfungsi sel endotel yang diperantarai oleh
peningkatan pelepasan sitokin, enzim proteolitik dan radikal bebas.
4. Genetik.Teori yang paling diterima saat ini adalah teori iskemia plasenta.
Namun, banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan di antara faktor-
faktor yang ditemukan tersebut seringkali sukar ditentukan apakah faktor
penyebab atau merupakan akibat.

C. Patofisiologi
Pada pre eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi
peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke
organ, termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari
timbulnya proses pre eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi
aliran darah dan timbulnya hipertensi arterial.Vasospasme dapat diakibatkan
karena adanya peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Pre eklampsia
yang berat dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan

7
perfusi plasenta dapat sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta
sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.

D. Klasifikasi
Dibagai dalam 2 golongan :
1. Preeklamsi ringan :
a. Tekanan darah 140/90 mmhg atau lebih diukur dengan posisi rebah
terlentang atau posisi baring, kenaikan diastolic 15mmhg dan diastolic
30mmhg atau lebih. Cara pengukuran sekurang kurangnya pada 2x
pemeriksaan dengan jarak periksa satu jam ( sebaiknya 6 jam )
b. Edema umumnya pada kaki, jari tangan, dan muka atau kenaikan BB 1 kg
lebih perminggu
c. Protein uria kwantitatif 0,3gr atau lebih perliter, kwalitatif 1 atau 2+ pada
urin kateter atau midstream ( Ida Bgus 1998 )
2. Preeklamsi berat
a. Tekanan darah 160/110 mmhg atau lebih
b. Proteinuria 5gr atau lebih/L
c. Oliguria jumlah urin< dari 500cc per 24 jam
d. Keluhan subjektif :
1. Nyeri di epigastrium
2. Gangguan penglihatan ( skotoma )
3. Nyeri kepala
4. Edema paru dan sianosis
e. Pemeriksaan :
1. Kadar enzim hati meningkat disertai ikterus
2. Perdarahan pada retina
3. Trombosit kurang dari 100.000/mm ( Ida Bagus.1998)

E. Maninfestasi Klinis
1. Penambahan berat badan yang berlebihan, terjadi kenaikan 1 kg seminggu
beberapa kali.
2. Edema terjadi peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan
muka.
3. Hipertensi (di ukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit)
a. TD > 140/90 mmHg atau Tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg
Diastolik>15 mmHg
b. tekanan diastolic pada trimester ke II yang >85 mmHg patut di curigai
sebagai preeklamsi

8
4. Proteinuria
a. Terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam urin 24 jam atau pemeriksaan
kuwalitatif  +1 /  +2.
b. Kadar protein > 1 g/l dalam urine yang di keluarkan dengan kateter atau
urine porsi tengah, di ambil 2 kali dalam waktu 6 jam.

F. Faktor Pengaruh Preeklamsi


Karakteristik ibu hamil memengaruhi terjadinya preeklampsia antara lain
sebagai berikut :

1. Umur
Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada
wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali
lebih tinggi dari pada kematin maternal yang terjadi pada usia 20-29
tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun
(Wiknjosastro, 2007). Usia juga memengaruhi tingkat pengetahuan
seseorang karena semakin bertambahnya usia maka lebih banyak
mendapatkan informasi dan pengalaman sehingga secara tidak langsung
tingkat pengetahuan terutama tentang kehamilan lebih tinggi daripada
usia muda (Notoatmodjo, 2005).
2. Pekerjaan
Menurut Newburn (2003) ibu yang bekerja ketika hamil
meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Wanita hamil yang bekerja
perlu menggurangi stress akibat kerja yang mereka alami. Kondisi di
tempat kerja sangat rawan memicu stress yang dapat mengakibatkan
tekanan darah tinggi. Preeklampsia terjadi jika tekanan darah wanita hamil
naik sangat tinggi. Akibatnya dapat terjadi komplikasi seperti terhambatnya
aliran darah serta memicu terjadinya eklampsia. Jika itu terjadi, ibu hamil
dapat mengalami kekejangan yang sangat berbahaya.
3. Paritas
Paritas merupakan jumlah persalinan yang pernah dialami ibu.
Banyaknya anak yang pernah dilahirkan seorang ibu akan mempengaruhi
kesehatan ibu. Paritas dikelompokkan menjadi 4 golongan yaitu :
1. Golongan nullipara adalah golongan ibu yang belum pernah
melahirkan anak hidup.
2. Golongan primipara adalah golongan ibu dengan paritas 1
3. Golongan multipara adalah golongan ibu dengan paritas 2-5
4. Golongan grande adalah golongan ibu dengan paritas diatas 5
9
Preeklampsia sering terjadi dalam kehamilan anak yang pertama, apalagi
berusia lebih dari 35 tahun dan jarang terjadi pada kehamilan berikutnya,
kecuali pada ibu yang mempunyai kelebihan berat badan, diabetes mellitus
dan hipertensi esensial atau kehamilan kembar. Kasus preeklampsia yang
paling banyak terjadi pada ibu yang melahirkan anak pertama, dimana
persalinan yang pertama biasanya mempunyai risiko relatif tinggi dan akan
menurun pada paritas 2 dan 3 (Geoffrey, 1994).
4. Usia Kehamilan
Kasus preeklampsia dapat timbul pada usia kehamilan 20 minggu.
Tetapi sebagian besar kasus preeklampsia terjadi pada usia kehamilan lebih
dari 37 minggu dan makin tua kehamilan, maka makin besar kemungkinan
timbulnya preeklampsia (Mey, 1998).
5. Riwayat Hipertensi
Angka kejadian preeklampsia/eklampsia akan meningkat pada
hipertensi kronis, karena pembuluh darah plasenta sudah mengalami
gangguan. Faktor predisposisi terjadinya preeklampsia adalah hipertensi
kronik dan riwayat keluarga dengan preeklampsia/eklampsia. Bila ibu
sebelumnya sudah menderita hipertensi maka keadaan ini akan memperberat
keadaan ibu. Status kesehatan wanita sebelum dan selama kehamilan
adalah faktor penting yang memengaruhi timbul dan
berkembangnya komplikasi. Riwayat penyakit hipertensi merupakan salah
satu faktor yang dihubungkan dengan pre eklampsia (Wiknjosastro,
1994). Wanita yang lebih tua, yang memperlihatkan peningkatan insiden
hipertensi kronik seiring dengan pertambahan usia, berisiko lebih besar
mengalami preeklampsia pada hipertensi kronik. Dengan demikian, wanita di
kedua ujung usia reproduksi dianggap lebih rentan (Cuningham, 2006).

6. Pendidikan

Tingkat pendidikan sangat memengaruhi bagaimana seseorang untuk


bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang
berpendidikan tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu
orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru
(Notoatmodjo,2003).

G. Penanganan Preeklampsia Ringan dan Berat


1. Penanganan Preeklamsi Ringan (140/90 mmHg)
a. Jika tekanan darah diastolik berkisar 80-90 mmHg atau naik kurang dari 15
mmHg dan tidak ditemukan proteinuria, wanita tersebut diizinkan untuk

10
tinggal di rumah dan dianjurkan untuk beristirahat sebanyak mungkin.
Pada setiap kunjungan:
1) Memeriksa tekanan darah.
2) Memeriksa urine untuk menemukan adanya protein.
3) Menimbang berat badan pasien.
4) Memeriksa untuk menemukan adanya edema.
5) Meminimalkan gejala-gejala pre-ekalmpsia berat.
6) Memantau pertumbuhan janin, tanyakan pada ibu tentang gerakan
janin
7) Memeriksa denyut jantung janin.

Perawatan dilakukan di rumah sakit bila :


1) Tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih atau meningkat lebih
dari 15 mmHg, jika ada gejala preeklampsia berat, atau jika
ditemukan adanya pertumbuhan buruk pada janin, wanita tersebut
harus masuk ke rumah sakit untuk diobservasi dan diberikan
penatalaksanaan.
2) Di rumah sakit, dilakukan penanganan :
a. Wanita beristirahat di ruang yang tenang.
b. Memeriksa tekanan darah setiap 4 jam (setiap 2 jam bila
keadaannya sangat parah).
c. Melakukan pemeriksaan protein urine dua kali sehari
d. Memantau frekuensi jantung janin dua kali sehari.
e. Menimbang berat badan wanita tersebut dua kai seminggu jika
mungkin.
f. Memberikan sedasi (misanya: diazepam- dosis intravena 10 mg
diazepam. Kemudian berikan dosis intravena ulangan 10
mg, setiap 4-6 jam, maksimum 100 mg per 24 jam)
g. Memerikan obat antihipertensi hanya jika tekanan diastoliknya
110 mmHg atau lebih dan harus sesuai dengan perintah dokter.

Menurut Widyastuti (2002) penanganan preeklampsia, jika


kehamilan < 37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan
penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan:
a. Memantau tekanan darah, proteinuria, refleks, dan kondisi janin.
b. Lebih banyak istirahat
c. Diet biasa.
d. Tidak memerlukan obat-obatan

11
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit: diet
biasa, memantau tekanan darah 2x sehari, proteinuria 1 sehari, tidak
memerlukan obat-obatan, tidak memerlukan diuretik, kecuali jika terdapat
edema paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut. Jika tekanan
diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan. Melakukan
istirahat dan memperhatikan tanda-tanda pre-eklampsia berat, kontrol 2
kali seminggu, jika tekanan diastolik naik lagi maka rawat kembali.

2. Penanganan Preeklamsi Berat


Menurut Saifuddin (2007), penanganan preeklampsia berat dan
eklampsia (160/110 mmHg dan preeklampsia disertai kejang).
Penatalaksanaan pre-eklampsia berat sama dengan eklampsia. Dengan
tujuan utama menghentikan berulangnya serangan konvulsi dan
mengakhiri kehamilan secepatnnya digunakan cara yang aman setelah
keadaan ibu mengizinkan.
Penanganan kejang:
a. Memberikan obat antikonvulsan.
b. Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker
oksigen, oksigen).
c. Melindungi pasien dari kemungkinan trauma. d) Aspirasi mulut dan
tenggorokan
d. Membaringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk
mengurangi risiko aspirasi.
e. Memberikan O2 4-6 liter/ menit.

H. Pencegahan
Menurut Wiknjosastro (2005) kepatuhan ibu hamil dalam pencegahan
pre- eklampsia meliputi :
1. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan munculnya
faktor predisposisi pada ibu dan wanita usia produktif terhadap faktor
risiko terjadinya keracunan kehamilan. Pencegahan ini dapat dilakukan
dengan menjaga berat badan ibu hamil agar tetap ideal, mengatur pola
makan sehat dan menghindari stress serta istirahat yang cukup.
2. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya awal sebelum seseorang
menderita penyakit atau upaya untuk mempertahankan orang sehat agar
tetap sehat. Dilakukan

12
a. Istirahat, diet rendah garam, lemak serta karbohidrat dan tinggi
protein, juga menjaga kenaikan berat badan.
b. Waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklampsia dan
eklampsia bila ada faktor prediposisi.
c. Pemeriksaan antenatal care secara teratur yaitu minimal 4 kali
kunjungan yaitu masing-masing 1 kali pada trimester I dan II , serta 2
kali pada trimester III.
3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan upaya mencegah orang yang
telah sakit agar tidak menjadi parah, dengan menghambat progresifitas
penyakit dan menghindarkan komplikasi. Dilakukan dengan cara
mendeteksi penyakit secara dini serta mengadakan pengobatan yang
cepat dan tepat. Upaya pencegahan ini dilakukan dengan :
a. Pemeriksaan antenatal yang teratur, bermutu dan teliti mangenali
tanda-tanda sedini mungkin, lalu diberikan pengobatan yang sesuai
agar penyakit tidak menjadi berat.
b. Terapi preeklampsia ringan di rumah yaitu istirahat ditempat tidur,
berbaring pada sisi kiri dan bergantian ke sisi kanan bila perlu, dengan
istirahat biasanya edema dan hipertensi bisa berkurang.
c. Memberikan suntikan sulfamagnesium 8 gr intramuskuler untuk
mencegah kejang.
d. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya 37 minggu ke atas,
apabila setelah dirawat inap tanda-tanda preeklampsia berat tidak
berkurang.
4. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier merupakan upaya mencegah terjadinya
komplikasi yang lebih berat atau membatasi kecacatan yang terjadi serta
melakukan tindakan rehabilitasi. Pencegahan dapat dilakukan dengan :

a. Pemeriksaan tekanan darah setelah melahirkan setiap 4 jam selama 48


jam.
b. Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum.
c. Melakukan pemantauan jumlah urine.

I. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah

13
1) Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal
hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% )

2) Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol% )

3) Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3 )

b. Urinalisis : Ditemukan protein dalam urine.

c. Pemeriksaan Fungsi hati

1) Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl )

2) LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat

3) Aspartat aminomtransferase ( AST ) > 60 ul.

4) Serum Glutamat pirufat transaminase ( SGPT ) meningkat ( N= 15-


45 u/ml

5) Serum glutamat oxaloacetic trasaminase ( SGOT ) meningkat ( N=


<31 u/l )

6) Total protein serum menurun ( N= 6,7-8,7 g/dl )

d. Tes kimia darah: Asam urat meningkat ( N= 2,4-2,7 mg/dl )

2. Radiologi

a. Ultrasonografi: Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus.


Pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan
ketuban sedikit.

b. Kardiotografi: Diketahui denyut jantung janin lemah.

J. Penatalaksanaan
Prinsip Penatalaksanaan Pre-Eklampsia
1. Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah
2. Mencegah progresifitas penyakit menjadi eklampsia
3. Mengatasi atau menurunkan risiko janin (solusio plasenta, pertumbuhan
janin terhambat, hipoksia sampai kematian janin)
4. Melahirkan janin dengan cara yang paling aman dan cepat sesegera
mungkin setelah matur, atau imatur jika diketahui bahwa risiko janin atau
ibu akan lebih berat jika persalinan ditunda lebih lama.

1. Penatalaksanaan Pre-Eklampsia Ringan

14
a. Dapat dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin
b. Tidak perlu segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya,
tidak perlu dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman
140-150/90-100 mmhg).
c. Istirahat yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang
hari dan minimal 8 jam pada malam hari)
d. Pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur
e. Pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari. Bila tekanan
darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat antihipertensi :
metildopa 3 x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau nifedipin 3-8 x
5-10 mg/hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari, atau pindolol 1-3
x 5 mg/hari (max.30 mg/hari).
f. Diet rendah garam dan diuretik tidak perlu
g. Jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1
minggu
h. Indikasi rawat : jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun setelah
2 minggu rawat jalan, peningkatan berat badan melebihi 1 kg/minggu
2 kali berturut-turut, atau pasien menunjukkan tanda-tanda pre-
eklampsia berat. Berikan juga obat antihipertensi.
i. Jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-
eklampsia berat. Jika perbaikan, lanjutkan rawat jalan
j. Pengakhiran kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali
ditemukan pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, solusio
plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi lainnya. Minimal usia 38
minggu, janin sudah dinyatakan matur.
k. Persalinan pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau
dengan bantuan ekstraksi untuk mempercepat kala II.

2. Penatalaksanaan Pre-Eklampsia Berat
Dapat ditangani secara aktif atau konservatif.  Aktif berarti :
kehamilan diakhiri / diterminasi bersama dengan pengobatan medisinal.
Konservatif berarti : kehamilan dipertahankan bersama dengan
pengobatan medisinal. Prinsip : Tetap pemantauan janin dengan klinis,
USG, kardiotokografi.
a. Penanganan aktif.
Penderita harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di ruang khusus di
daerah kamar bersalin.Tidak harus ruangan gelap.Penderita ditangani
aktif bila ada satu atau lebih kriteria ini.
1) Ada tanda-tanda impending eklampsia

15
2) Ada hellp syndrome
3) Ada kegagalan penanganan konservatif
4) Ada tanda-tanda gawat janin atau iugr         
5) Usia kehamilan 35 minggu atau lebih
b. Penanganan konservatif
Pada kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda
impending eclampsia dengan keadaan janin baik, dilakukan
penanganan konservatif.Medisinal : sama dengan pada penanganan
aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda pre-
eklampsia ringan, selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah 24
jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai
kegagalan pengobatan dan harus segera dilakukan terminasi. jangan
lupa : oksigen dengan nasal kanul, 4-6 l / menit, obstetrik :
pemantauan ketat keadaan ibu dan janin. bila ada indikasi, langsung
terminasi.

K. Komplikasi
Tergantung pada derajat preeklampsi yang dialami. Namun yang termasuk
komplikasi antara lain:
1. Pada Ibu
a) Eklampsia
b) Solusio plasenta
c) Pendarahan subkapsula hepar
d) Kelainan pembekuan darah ( DIC ), Sindrom HELPP ( hemolisis,
elevated, liver,enzymes dan low platelet count )
e) Ablasio retina
f) Gagal jantung hingga syok dan kematian.
2. Pada Janin
a) Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
b) Prematur
c) Asfiksia neonatorum
d) Kematian dalam uterus
e) Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal

16
BAB III

ASKEP IBU HAMIL PADA PREEKLAMSI

A. Pengumpulan Data
1. Pengkajian:
a. Biodata mencakup identitas klien :
1) Nama yang jelas dan lengkap: Nama klien dan suami untuk
mengetahui identitas klein dan suami sebagai orang yang
bertanggung jawab.
2) Umur dicatat dalam hitungan tahun, karena umur ibu termasuk
sebagai faktor resiko preeklamsi, kemungkinan faktor umur yang
menyebabkan terjadinya preeklamsi.
3) Alamat ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan bila
diperlukan keadaan mendesak. Dengan mengetahui alamat, bidan
juga dapat mengetahui tempat tinggal dan lingkungannya.
4) Pekerjaan klien ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh
pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan pasien. Pekerjaan orang
tua bila pasien anak balita.
5) Agama ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan
pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan klien Dengan
diketahui agama klien akan memudahkan bidan melakukan
pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan.
6) Pendidikan klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat
intelektualnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku
kesehatan seseorang.
b. Alasan datang ke klinik
Merupakan alasan utama klien datang ke BPS atau RS untuk bersalin apa
periksa.
c. Keluhan Utama

17
Untuk mengetahui alasan atau keluhan utama yang membuat pasien
datang berhubungan dengan kehamilannya. Apabila Ibu mengatakan
bengkak pada tangan dan kaki, sakit kepala dan juga nyeri pada ulu hati,
kemungkinan ibu mengalami preeklamsi.
d. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Menanyakan kepada ibu apakah sekarang menderita penyakit
jantung, asma, tuberculosis, ginjal, diabetes militus, malaria, HIV /
AIDS, hipertensi, hepatitis, gondok. Apabila ibu mengatakan
mempunyai hipertensi maka patut dicurigai ibu akan mengalami
preeklamsi
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Menanyakan kepada ibu apakah dahulu pernah menderita
penyakit jantung, asma, tuberculosis, ginjal, diabetes militus,
malaria, HIV / AIDS, hipertensi, hepatitis, gondok. Apabila ibu
mengatakan ibu dahulu pernah mempunyai riwayat hipertensi maka
dicurigai kemungkinan ibu dengan kehamilannya sekarang akan
mengalami hipertensi juga.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Menanyakan kepada keluarga apakah dahulu pernah
menderita penyakit jantung, asma, tuberculosis, ginjal, diabetes
militus, malaria, HIV / AIDS, hipertensi, hepatitis, gondok,
kelainan kembar, kelainan bawaan. Apabila ibu mengatakan
dalam keluarga ada yang mempunyai riwayat hipertensi
kemungkinan ibu akan mengalami hipertensi juga.
e. Riwayat Pernikahan : Untuk mengetahui status perkawinan klien
dan lama pernikahan.

f. Riwayat Obstetri
1) Riwayat Menstruasi
Hal yang perlu ditanyakan : menarche, siklus menstruasi, teratur
atau tidak, lama menstruasi, jumlah banyaknya darah yang
keluar, bau, saat mentruasi adakah dismenorhe, dan flour
albus ( keputihan).
2) Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu\
Riwayat Kehamilan yang lalu : apakah klien pernah mengalami
kehamilan dengan hipertensi atau preeklamsi pada saat hamil
sebelumnya.

18
Riwayat Persalinan yang lalu:berapa jarak antara persalinan
yang lalu dan sekarang, usia kehamilan ibu saat persalinan yang
lalu aterm atau tidak, bagaimana persalinan yang lalu (normal atau
seksio sesaria),adakah penyulit atau tidak saat persalinan yang lalu,
siapa penolong persalinan, dimana tempat bersalin, jenis kelamin laki
– laki atau perempuan.
Riwayat nifas yang lalu : bagaimana nifas yang lalu normal atau
tidak.
g. Riwayat Kehamilan Sekarang
Hamil yang ke berapa G (Gravida)…P (Paritas)…A (Abortus)
…….
1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)…..
2) HPL (Hari Perkiraan Lahir)……….
3) Berat badan sebelum hamil, Berat badan sekarang
4) Periksa ANC (Ante Natal Care) sebelumnya dimana? berapa kali
periksa pada TM (Trimester) I, TM (Trimester) II, dan TM
(Trimester) III?
5) Keluhan pada TM (Trimester) I, TM (Trimester) II, TM (Trimester)
III
6) Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) berapa kali? kapan? tanggal
imunisasi TT (Tetanus Toxoid) 1 …, iminisasi TT (Tetanus Toxoid)
2.., imunisasi TT (Tetanus Toxoid) 3…
7) Apakah obat - obat yang pernah dikonsumsi….
8) Gerakan janin pertama…..bulan, gerakan janin sekarang…(
kuat/lemah).
9) Kebiasaan ibu / keluarga yang berpengaruh negative
…..terhadap kehamilanya ( merokok, narkoba, alkohol, minum
jamu).
h. Riwayat Keluarga Berencana
1) Kontrasepsi yang pernah dipakai………
2) Lamanya memakai kontrasepsi………...
3) Alasan berhenti…………
4) Rencana yang akan datang setelah melahirkan…..
i. Pola Kebutuhan sehari – hari
Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan pasien sehari-hari
dalam menjaga kebersihan dirinya dan bagaimana pola makanan sehari-
hari apakah terpenuhi gizinya atau tidak.
1) Pola Nutrisi
Makan : berapa kali, porsi, jenis dan keluhan

19
Minum : berapa kali, jenis dan keluhan
Karena preeklamsi bisa terjadi karena pola nutrisi ibu yang kurang
baik, maka ibu harus diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak
dan garam.
2) Pola Eliminasi
BAB berapa kali, konsistensi, warna dan keluhan. BAK berapa kali,
warna dan keluhan.
Ibu hamil dengan preeklmasi urin minimal 30ml/jam dalam 4
jam terakhir atau 0,5ml/kgBB/jam karena sebagai salah satu syarat
pemberian MgSO4
3) Pola istirahat
Tidur siang : lamanya dan keluhan
Tidur malam : lamanya dan keluhan
4) Pola Aktivitas
Aktivitas ibu sehari-hari selama hamil
a) Aktivitas
Gejala :biasanya pada pre eklamsi terjadi kelemahan,
penambahan berat badan atau penurunan BB, reflek fisiologis
+/+, reflek patologis -/-.
Tanda : pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka
b) Sirkulasi: Gejala :biasanya terjadi penurunan oksegen.
c) Abdomen: Gejala :
Inspeksi :biasanya Perut membuncit sesuai usia kehamilan aterm,
apakah adanya sikatrik bekas operasi atau tidak  ( - ) Palpasi :
(1) Leopold I : biasanya teraba fundus uteri 3 jari di bawah proc.
Xyphoideus teraba massa besar, lunak, noduler
(2) Leopold II : teraba tahanan terbesar di sebelah kiri, bagian –
bagian kecil janin di sebelah kanan.
(3) Leopold III : biasanya teraba masa keras, terfiksir
(4) Leopold IV : biasanya pada  bagian terbawah janin telah
masuk pintu atas panggul
Auskultasi : biasanya terdengar BJA 142 x/1’ regular
d) Eliminasi
Gejala :biasanya proteinuria + ≥ 5 g/24 jam atau ≥ 3 pada tes
celup, oliguria
e) Makanan / cairan
Gejala :biasanya terjadi peningkatan berat badan dan penurunan ,
muntah-muntah . Tanda :biasanya nyeri epigastrium,
f) Integritas ego

20
Gejala : perasaan takut.. Tanda : cemas.
g) Neurosensori
Gejala :biasanya terjadi hipertensi. Tanda :biasanya terjadi
kejang atau koma
h) Nyeri / kenyamanan
Gejala :biasanya nyeri epigastrium, nyeri kepala, sakit kepala,
ikterus, gangguan penglihatan. Tanda :biasanya klien gelisah,
i) Pernafasan
Gejala :biasanya terjadi suara nafas antara vesikuler, Rhonki,
Whezing, sonor. Tanda :biasanya ada irama teratur atau tidak,
apakah ada bising atau tidak.
j) Keamanan
Gejala :apakah adanya gangguan pengihatan, perdarahan
spontan.
k) Seksualitas . Gejala : Status Obstetrikus
j. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : baik, cukup, lemah
2) Kesadaran : Composmentis (e = 4, v = 5, m = 6)
3) Pemeriksaan Fisik (Persistem)
a) Sistem pernafasan
Pemeriksaan pernapasan, biasanya pernapasan mungkin kurang,
kurang dari 14x/menit, klien biasanya mengalami sesak sehabis
melakukan aktifitas,  krekes mungkin ada, adanya edema paru
hiper refleksia klonus pada kaki.
b) Sistem cardiovaskuler
(1) Inspeksi : apakah Adanya sianosis, kulit pucat, konjungtiva
anemis.
(2) Palpasi  : Tekanan darah : biasanya pada preeklamsia terjadi
peningkatan TD, melebihi tingkat dasar setetah 20 minggu
kehamilan,
Nadi       : biasanyanadi meningkat atau menurun
Leher      :apakah ada bendungan atau
tidak  padaPemeriksaan Vena Jugularis, jika ada bendungan
menandakan bahwa jantung ibu mengalami gangguan.
Edema periorbital yang tidak hilang dalam kurun waktu 24
jam Suhu dingin
(3) Auskultasi :untuk mendengarkan detak jantung janin untuk
mengetahui adanya fotal distress, bunyi jantung janin yang
tidak teratur gerakan janin melemah.

21
c) System reproduksi
(1) Dada. Payudara : Dikaji apakah ada massa abnormal, nyeri
tekan pada payudara.
(2) Genetalia
Inspeksi adakah pengeluaran pervaginam berupa lendir
bercampur darah, adakah pembesaran kelenjar bartholini /
tidak.
(3) Abdomen
Palpasi : untuk mengetahui tinggi fundus uteri, letak janin,
lokasi edema, periksa bagian uterus biasanya terdapat
kontraksi uterus
d) Sistem integument perkemihan
(1) Periksa vitting udem biasanya terdapat edema pada
ekstermitas akibat gangguan filtrasi glomelurus yang
meretensi garam dan natrium, (Fungsi ginjal menurun).
(2) Oliguria
(3) Proteinuria
e) Sistem persarafan: Biasanya hiperrefleksi, klonus pada kaki
f) Sistem Pencernaan
(1) Palpasi:Abdomen adanya nyeri tekan daerah
epigastrium(kuadran II kiri atas), anoreksia, mual dan muntah.

B. Pengelompokan Data
1. Data Subyektif

a. Biasanya ibu mengeluh Panas


b. Biasanya  ibu mengeluh sakit kepala
c. biasanya ibu mengeluh nyeri kepala
d. biasanya ibu mengeluh nyeri perut akibat fotal distress pada janin
e. biasanya ibu mengeluh tegang pada perutnya
f. Biasanya mengeluh nyeri, skala nyeri (2-4)
g. klien biasanya mengatakan kurang nafsu makan
h. klien biasanya  sering mual muntah
i. klien biasanya sering mengungkapkan kecemasan
2. Data Obyektif

a. Biasanya teraba panas


b. Biasanya tampak wajah ibu meringis kesakitan
c. Biasanya ibu tampak kejang, tampak lemah, penglihatan ibu kabur

22
d. biasanya klien tampak cemas, gelisah
e. Biasanya klien tampak kurus,
f. biasanya klien tampak lemah, konjungtiva anemis.
g. Tonus otot perut tampa tegang
h. Biasanya ibu tampak meringis kesakitan
i. Biasanya DJJ bayi cepat >160
j. aktivitas janin menurun

C. Analisa Data

No Syptom Etiologi Problem


1 DS : -proses cardiac output Resiko tinggi
-Biasanya ibu mengeluh menurun terjadinya kejang
Panas -Merangsang medulla pada ibu
-Biasanya  ibu mengeluh sakit oblongata & system syaraf
kepala -penurunan fungsi organ
DO : -Vaso spasme dan
-Biasanya teraba panas peningkatan tekanan darah
-Biasanya tampak wajah ibu perfusi jaringan
meringis kesakitan
- Biasanya ibu tampak kejang
-Biasanya ibu tampak lemah
-Biasanya penglihatan ibu
kabur

2 DS : -Kontraksi uterus dan Gangguan rasa


pembekuan jalan lahir nyaman nyeri
-biasanya ibu mengeluh nyeri
-Vaso spasma
kepala
pembuluh darah
-biasanya ibu mengeluh nyeri -Proses cardiaoutput
perut akibat fotal distress pada menurun
janin

DO :

-Bisanya ibu tampak meringis


kesakitan

- biasanya ibu tampak cemas

-Bianyasa skala nyeri  4 =

23
nyeri berat (skala nyeri 1-5)

-   aktivitas janin menurun

3 DS : Proses perpindahan cairan Resiko tinggi


         -biasanya ibu mengeluh karena perbedaan tekanan, terjadinya foetal 
tegang pada perutnya perubahan pada plasenta.

- Biasanya mengeluh nyeri

          skala nyeri (2-4)


DO :
-Tonus otot perut tampa
tegang
- Biasanya ibu tampak
meringis kesakitan
- Biasanya tamapa cemas
-  Biasanya DJJ bayi cepat
>160
4 DS: HCL meningkat peristaltic Gangguan
- klien biasanya mengatakan turunKetidakmampuan pemenuhan
kurang nafsu makan dalam nutrisi kurang
- klien biasanya  sering mual memasukkan/mencerna dari kebutuhan
muntah makanan karena faktor tubuh 
DO : biologi
-Biasanya klien tampak kurus,
- biasanya klien tampak lemah,
konjungtiva anemis.
- BB menurun

D. Rumusan Diagnosa
1. Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan proses cardiac
output menurun, merangsang medulla oblongata dan system syaraf,
penurunan fungsi organ, vaso spasme dan peningkatan tekanan darah,
perubahan perfusi jaringan.
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan Vaso Spasme pada
pembuluh darah, proses cardiac output menurun, merangsang medulla
oblongata dan system syaraf, Kompresi saraf simpatis gangguan irama
jantung, aliran tumbulensi emboli kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir,
kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir di tandai dengan biasanya ibu
mengeluh nyeri kepala, biasanya ibu mengeluh nyeri perut akibat fotal distress
24
pada janin, Bisanya ibu tampak meringis kesakitan, biasanya ibu tampak
cemas, Bianyasa skala nyeri  4 = nyeri berat (skala nyeri 1-5), aktivitas janin
menurun, DJJ meningkat >160
3. Resiko tinggi terjadinya foetal proses perpindahan cairan karena perbedaan
tekanan, perubahan pada plasenta.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan HCL meningkat peristaltic turunKetidakmampuan dalam
memasukkan/mencerna makanan karena faktor biologi di tandai dengan klien
biasanya mengatakan kurang nafsu makan, klien biasanya  sering mual
muntah, Biasanya klien tampak kurus, biasanya klien tampak lemah,
konjungtiva anemis, BB menurun.

E. Intervensi (Perencanaan)
1. Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan
fungsi organ ( vasospasme  dan peningkatan tekanan darah

Tujuan: Tidak terjadi kejang pada ibu

Kriteria Hasil:

a. Kesadaran : compos mentis, GCS : 15 ( 4-5-6 )

b. Tanda vital : Tekanan Darah         : 100-120/70-80 mmHg,          Suhu: 36-


37 C, Nadi : 60-80 x/mnt, RR : 16-20 x/mnt.

Intervensi Rasional

1. Monitor tekanan darah tiap 4 1.   Tekanan diastole > 110 mmHg dan
jam sistole 160 atau lebih merupkan
indikasi dari PIH

2.   Penurunan kesadaran sebagai


2. Catat tingkat kesadaran pasien
indikasi penurunan aliran darah otak
3. Kaji adanya tanda-tanda
eklampsia ( hiperaktif, reflek 3.   Gejala tersebut merupakan

patella dalam, penurunan manifestasi dari perubahan pada  otak,


nadi,dan respirasi, nyeri ginjal, jantung dan paru yang

epigastrium dan oliguria ) mendahului status kejang

4. Monitor adanya tanda-tanda dan 4.   Kejang akan meningkatkan


gejala persalinan atau adanya kepekaan uterus yang akan
kontraksi uterus memungkinkan terjadinya persalinan.

5.   Anti hipertensi untuk menurunkan

25
5. Kolaborasi dengan tim medis tekanan darah dan SM untuk
dalam pemberian anti hipertensi mencegah terjadinya kejang
dan SM

2. Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan


perubahan pada plasenta

Tujuan: Tidak terjadi foetal distress pada janin

Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

1. Monitor DJJ sesuai indikasi 1.   Peningkatan DJJ sebagai indikasi


terjadinya hipoxia, prematur dan
solusio plasenta

2.   Penurunan fungsi plasenta


2. Kaji tentang pertumbuhan janin mungkin diakibatkan karena hipertensi
sehingga timbul IUGR

3.   Ibu dapat mengetahui tanda dan


gejala solutio plasenta dan tahu akibat
3. Jelaskan adanya tanda-tanda
hipoxia bagi janin
solutio plasenta ( nyeri
perut, perdarahan, rahim 4.   Reaksi terapi dapat menurunkan
tegang, aktifitas janin turun ) pernafasan janin dan fungsi jantung
serta aktifitas janin, Anti hipertensi
untuk menurunkan tekanan darah dan
4. Kaji respon janin pada ibu yang SM untuk mencegah terjadinya kejang
diberi SM
5. USG dan NST untuk mengetahui

5. Kolaborasi dengan medis dalam keadaan/kesejahteraan janin


pemeriksaan USG dan NST

3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan


pembukaan jalan lahir

Tujuan: Tidak terjadi nyeri atau ibu dapat mengantisipasi nyerinya

Kriteria Hasil:

a. Ibu mengerti penyebab nyerinya

26
b. Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya

Intervensi Rasional

1. Kaji tingkat intensitas nyeri 1.  Ambang nyeri setiap orang berbeda


pasien ,dengan demikian akan dapat
menentukan tindakan perawatan yang
sesuai dengan respon pasien terhadap
nyerinya.

2. Ibu dapat memahami penyebab

2. Jelaskan penyebab nyerinya nyerinya sehingga bisa kooperatif

3. Dengan nafas dalam otot-otot dapat


berelaksasi , terjadi vasodilatasi
3. Ajarkan ibu mengantisipasi
pembuluh darah, expansi paru optimal
nyeri dengan nafas dalam bila
sehingga kebutuhan 02 pada jaringan
HIS timbul
terpenuhi

4. Untuk mengalihkan perhatian


pasien

4. Bantu ibu dengan


mengusap/massage pada bagian
yang nyeri

4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan Ketidakmampuan dalam memasukkan/mencerna makanan karena
faktor biologi.

Tujuan: nafsu makan meningkat atu normal

Kriteria hasil

a. BB meningkat atau normal

b. tidal ada tanda-tanda mal nutrisi

c. kekuatan menggenggan

Intervensi Rasional

1. Kaji adanya alergi makanan 1. Untuk mengetahui apakah pasien ada


alergi makanan

27
2. Anjurkan pasien untuk 2. Intake fe dapat meningkatkan
meningkatkan intake Fe kekuatan tulang

3. Substansi gula dapat meningkatkan


energi pasien
3. Berikan substansi gula

4. Berikan makanan yang terpilih


4. Untuk memenuhi status gizi pasien
(sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi)

5. Ajarkan pasien bagaimana membuat 5. Catatan harian makanan dapat


catatan makanan harian mengetahui asupan nutrisi pasien

F. Implementasi
Setelah rencana keperawatan ditetapkan maka langkah selanjutnya
diterapkan dalam bentuk tindakan nyata.Implementasi merupakan pelaksanaan
perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien.hal-hal yang harus diperhatikan
ketika melakukan implementasi adalah intervensi yang dilakukan sesuai dengan
rencana setelah dilakukan validasi., penguasaan keterampilan interpersonal,
intelektual dan teknikal. Intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien
pada waktu dan situasi yang tepat.Keamanan fisik dan psikologis harus dilindungi
dan didokumentasikan dalam dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan
pelaporan. (La Ode Jumadi Gaffar, 1995: 64)

Ada 3 fase dalam melaksanakan implementasi keperawatan, yaitu:

1. Fase persiapan
Meliputi pengetahuan tentang rencana, validasi, rencana, pengetahuan dan
keterampilan. Mengimplementasikan rencana, persiapan dan lingkungan.
2. Fase operasional
Merupakan puncak implementasi dengan berorientasi pada tujuan. pada fase
ini, implementasi dapat dilakukan secara independen, dependent dan
interdependent. Selanjutnya perawat akan melakukan pengumpulan data yang
berhubungan dengan reaksi klien terhadap fisik, psikologis, sosial dan
spritual.
3. Fase Terminasi
Merupakan terminasi perawat dengan klien setelah implementasi dilakukan.

28
G. Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari pemberian asuhan keperawatan pada anak
dengan physical abuse antara lain :

1. Anak mengenali perlunya atau mencari perlindungan untuk mencegah dan


mengatasi physical abuse.

2. Keluarga berpartisipasi sebagai fungsi modal peran sebagai orang tua yang
positif dan efektif.

3. Keluarga mampu menjaga situasi yang dapat menimbulkan stress.

4. Keluarga dan anak mampu mengembangkan strategi pemecahan masalah.

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan. Preeklampsia adalah merupakan
hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan. Preeklampsia adalah penyakit yang
disebabkan oleh tekanan darah  toksemia  tinggiyang terkait dengan kondisi
diawal kehamilan.

Preeklampsia adalah penyakit multisistem, yang bisa melibatkan otak,


hati, ginjal, dan plasenta.Komplikasi-komplikasi maternal mencakup eklampsia,
stroke, gagal hati dan gagal ginjal, dan koagulopati.

B. Saran
Lebih meningkatkan lagi penyuluhan tentang preeklamsia oleh tim medis
dan para medis kepada masyarakat banyak, khusus nya yang ada di daerah
terpencil agar masyarakat lebih cepat mengetahui tanda-tanda dan gejala dari pre
eklamsi terutama pada ibu-ibu,agar dapat di atasi dengan cepat

29
DAFTAR PUSTAKA

Atiyah.2012. Preeklamsi ringan. Diakses 15 November 2020. Dari


http://atiyah27.blogspot.co.id/2012/09/pre-eklamsi-ringan.html

Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta :EGC hal 629-648

Hamilton,Persis Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas Edisi 6.


Jakarta:EGC

Mariam Siti. 2013. Makalah preeklamsi. Diakses 15 November 2020. Dari


http://sitimaryamhsb.makalah-pre-eklamsi-html

Purwaningsih W, Fatimah S. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogyakarta:


Nuha Medika

Sri Widari.2013.Askep Preeklamsi. pdf. Diakses 15 November 2020. Dari


http://Widari.askep-preeklamsi.html

30