Anda di halaman 1dari 106

LAPORAN PENELITIAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

“CAPACITY BUILDING PADA KOMUNITAS DIFABIKE


MELALUI MEDIA SOSIAL ”

Kecamatan Wirobrajan, Daerah Istimewa Yogyakarta”

Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Pengembangan Masyarakat

Dosen Pengampu Dr. Sulistyaningsih S.Sos. M.Si

Disusun Oleh :
Luviana Safitri 16720002
Sutariyanti 16720004
Witdayat Umar 16720008
A.Mauhiburrahman 16720018
Deyana Tasya 16720027
Aji Nur Avianto 16720045

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKATA
2019
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang sudah memberikan karuniaNya pada kelompok kami dalam
melaksanakan tugas Pengembangan Masyarakat .

Sehingga akhirnya tersusunlah materi laporan kegiatan yang


sistematis. Hal ini kami lakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengembangan Masyarakat. Walaupun waktunya cukup singkat, tapi kegiatan
ini menghasilkan sesuatu yang berharga dalam mengaplikasikan ilmu sosial
dari perkuliahan yang sedang kami jalani melalui praktik dalam dunia yang
nyata.

Dengan selesainya laporan kegiatan pengembangan masyarakat secara


resmi ini, maka tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua orang
yang sudah membantu kelompok kami. dan terima kasih juga untuk para
pihak yang sudah terlibat langsung. khususnya kami ucapkan kepada :

1. Ibu Sulistyaningsih, selaku dosen mata kuliah Pengembangan Masyarakat

2. Kepada mas Triyono, selaku ketua difa bike yang menjadi tempat kegiatan
ini dilakukan.

3. Kominfo yang telah memfasilitasi dan membantu dalam tercapainya


kegiatan pelatihan yang kami lakukan.

4. Orang Tua kami atas doa dan dukungannya sehingga tugas Pengembangan
Masyarakat ini berjalan lancar.

I
5. Seluruh anggota kelompok yang sudah saling bahu membahu demi
terlaksananya tugas praktikum yang kami kerjakan ini.

Tak ada yang bisa penulis berikan selain doa dan rasa terima kasih
yang tulus kepada para pendukung. Namun tidak lupa juga masukan yang
berguna seperti saran atau kritik dari para pembaca sangat diharapkan oleh
penulis. kami sangat berharap bahwa laporan penelitian ini akan sangat
bermanfaat bagi siapa saja yang membaca dan menambah pengetahuan bagi
kita semua. Terima kasih.

Yogyakarta 20 Mei 2019

II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... I


DAFTAR ISI ............................................................... Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK ................................................................................................................... V
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ............................................................................................. 5
E. Tinjauan Pustaka ................................................................................................ 6
F. Landasan Teori ................................................................................................. 12
G. Metode Penelitian............................................................................................. 21
H. Program Kerja .................................................................................................. 26
BAB II ......................................................................................................................... 30
SETTING DAN LOKASI PENELITIAN .................................................................. 30
A. Kondisi Umum Dusun ..................................................................................... 30
B. Kondisi Demografi ........................................................................................... 31
C. Kondisi Sosial Ekonomi................................................................................... 32
D. Kondisi Sosial Budaya ..................................................................................... 33
E. Profil Difa Bike ................................................................................................ 35
F. Profil Informan ................................................................................................. 39
BAB III ....................................................................................................................... 43
PELAKSANAAN PROGRAM .................................................................................. 43
A. Proses Awal Membangun Program Kerja ........................................................ 43
B. Proses Pelaksanaan Program Kerja .................................................................. 47
BAB IV ....................................................................................................................... 62

III
BAB V ......................................................................................................................... 69
PENUTUP ............................................................................................................... 69
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 69
B. Rekomendasi .................................................................................................... 71
LAMPIRAN ................................................................................................................ 74
A. Catatan Harian .................................................................................................. 74
C. Transkip Wawancara ........................................................................................ 84
D. Foto- Foto ......................................................................................................... 89
F. Data Diri ........................................................................................................... 95

IV
ABSTRAK

Komunitas difabike adalah salah satu komunitas yang terdapat di Yogyakarta.


Dimana komunitas ini sangat berperan dalam membantu para penyandang disabilitas
sebagai difa city tour, travel and transport, memberikan pelayanan public untuk
semua kalangan dengan fasilitas sarana transportasi roda tiga yang di desain khusus
sesuai kebutuhan.

Dalam penelitian ini kami menggunakan teori kemampuan (capacity


building), Dalam pemberdayaan komunitas difa bike melalui media social “you tube”.
Adapun metode yang kami gunakan penelitian kualitatif deskriptif. Data
dikumpulkan melalui penelusuran dokumen tertulis baik berupa artikel ataupun
jurnal, serta melalui pengamatan (observasi), FGD, wawancara, dan dokumentasi.
Pengelolahan data mengikuti prosedur ilmiah dengan cara pengklasifikasian data,
analisis data, dan akhirnya penarikan kesimpulan.

Berdasarkan penelitian dan pengelolaan data di lapangan didapatkan hasil


bahwasannya, pemberdayaan komunitas difabike melalui media social “you tube”
adalah sebagai salah satu bentuk edukasi komunitas difabike dalam mengenalkan
komunitas difabike ke masyarakat umum, selain itu adalah edukasi agar komunitas
difabike ini dapat diterima oleh masyarakat. dan bertujuan agar setiap lingkungan di
kota Yogyakarta ramah terhadap penyandang disabilitas.

Kata kunci : pemberdayaan, komunitas difa bike, media social “youtube”

V
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakikatnya Manusia sehat fisiknya juga terkadang masih memiliki

kekurangan, begitupun dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan

terkadang juga memiliki kelebihan yang tidak di miliki oleh orang yang sehat

jasmaninya. Pada dasarnya manusia normal (dalam artian sehat fisik tidak

cacat) memiliki kesempatan menjadi seorang yang tidak normal dalam artian

cacat dan sebagainya. Perlindungan dan jaminan hak asasi tidak hanya untuk

orang-orang yang dapat dibilang normal dalam artian sehat fisik, tetapi juga

untuk orang-orang yang dapat dikatakan memiliki keterbatasan pada fisik,

mental, intelektual maupun sensoriknya. 1

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata cacat sendiri adalah

kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang baik atau kurang

sempurna (yang terdapat pada badan, benda, batin, atau akhlak). Dalam

majalah kentingan edisi September 2011 disebutkan bahwa pada tahun 1999,

istilah “penyandang cacat” diganti dengan “difabel” (different ability).

Penggantian istilah ini dimaksud untuk memberikan makna yang lebih halus

1
Auliya Tri Anggraini, “Inovasi pelayanan public bidang transportasi untuk penyanda ng
disabilitas oleh difa city tour Yogyakarta”. 2016. Yogyakarta

1
2
serta lebih memanusiakan kaum kebutuhan khusus. Difabel bukan hanya

merupakan orang penyandang cacat sejak lahir melainkan juga korban

bencana alam atau perang yang mendapatkan kecacatan ditengah-tengah

hidupnya maupun para penderita penyakit yang mengalami gangguan

melakukan aktivitas secara selayaknya baik gangguan fisik maupun mental. 3

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun


2016 Tentang Penyandang Disabilitas Bab 1 pasal 1, dalam undang-
undang ini yang dimaksud dengan penyandang disbilitas adalah setiap
orang yang mengalami keterbatasan fisik intelektual, mental, dan/atau
sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam interaksi dengan
lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk
berpartisispasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya
berdasarkan kesamaan hak.4

Oleh karena itu perlu adanya perhatian khusus bagi para penyandang

disabilitas, mengingat ruang gerak para penyandang disabilitas sangat

terbatas. Minimnya peluang pekerjaan dan seringnya terjadi penolakan yang

dialami oleh penyandang disabilitas tak jarang membuat putus asa. Maka dari

itu diperlukan adanya suatu komunitas yang bisa mewadahi para penyandang

disabilitas agar bisa berinteraksi dan menuangkan aspirasinya. 5 Dewasa ini

berangkat dari pengalaman pribadi seorang disabilitas, mengantarkan niat

2
Rima Setyaningsih Dan A. Gutama, “Pengembangan Kemandirian Bagi Kaum Difabel”.
Jurnal Sosiologi DILEMA, Vol. 31, No 1 Tahun 2016.
3
Sugi Rahayu, Utami Dewi. “Pelayanan Public Bagi Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas Di
Kota Yogyakarta”. September 2013, Vol. 10 No. 2, Hal 108-119. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. Universitas
Negeri Yogyakarta
4
Presiden RI, UU. No 8 tahun 2016.
5
Azmi Anti Mutiah. “Peran Komunitas Sahabat Difabel Dalam Pemenuhan Hak
Ketenagakerjaan Penyandang Difabel Kota Semarang”. Ilmu Pemerintahan FISIP UNDIP. Semarang.

2
untuk membuat sebuah komunitas sebagai sarana mobilisasi bagi orang-

orang penyandang disabilitas lainnya. Dalam penelitian ini, kami melakukan

penelitian pada komunitas difabike.

Difabike adalah komunitas yang terdapat di Yogyakarta, yang

memberikan fasilitas berupa transportasi untuk para penyandang disabilitas.

Para pengemudi dari difabike ini sendiri adalah para penyandang disabilitas

ringan. Dalam kategori disabilitas terdapat tipe kategori yaitu ringan, berat

dan sedang. Ojek difabel ini merupakan satu-satunya ojek yang dikelola dan

ditujukan bagi difabel di dunia, Difa Bike berlokasi di Yogyakarta. Sebuah

layanan ojek yang dirintis di Yogyakarta untuk menyediakan sarana

transportasi yang nyaman untuk para difabel. 6

Difa Bike resmi berdiri pada 03 Desember 2015 dengan anggota awal

hanya memiliki tiga pengemudi. Peresmian Difa Bike dilakukan di Balai

Kota Yogyakarta tepat saat adanya peringatan Hari Disabilitas Internasional

2015. Difa bike didirikan oleh Triyono, dengan tujuan untuk memfasilitasi

para penyandang disabilitas dalam hal transportasi, dan memberikan lapangan

pekerjaan bagi penyandang disabilitas ringan.

Pada awal mula Difa Bike dibentuk, masyarakat sekitar kantor Difa

Bike masih belum bisa menerima keberadaan mereka dengan baik. Komunitas

yang semua anggotanya merupakan difabel dipandang aneh oleh masyarakat,

6
http://www.bcc.com/indonesia/majalah/2016/08/160829_majalah_ojek_difabel

3
hal ini karena masyarakat merasa difabel ini berbeda dengan masyarakat

sekitar sehingga komunitas difa bike ini belum diterima oleh masyarakat

sekitar. Namun seiring berkembangnya komunitas difa bike ini, masyarakat

sekitar mulai terbuka dan menerima atas keberadaan komunitas difa bike.

Dewasa ini sosial media adalah pusat dari semua informasi. Oleh

karena itu komunitas difa bike menggunakan social media sebagai bentuk

pengenalan komunitas difa bike sebagai komunitas yang memberikan

pelayanan transportasi, selain itu juga memperkenalkan bahwa komunitas

tersebut adalah komunitas yang didirikan oleh penyandang disabilitas dan

untuk penyandang disabilitas.

Komunitas difabike menjalin kerjasama dalam pelatihan-pelatihan

dengan memanfaatkan sosial media, sebagai alat untuk pemasaran produk-

produk anggota difabike. Sosial media digunakan selain untuk pengenalan

komunitas difabike kepada masyarakat umum, juga sebagai media untuk

berwirausaha. Dengan begitu peluang anggota difabike dalam mendapatkan

penghasilan untuk sehari-hari lebih optimal. Pelatihan yang dilakukan

Bersama kominfo DIY dalam memanfaatkan sosial media berjalan selama

satu bulan dengan dua kali pertemuan. Kegiatan tersebut berlangsung di

kantor kominfo DIY.

4
B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka fokus penelitian ini adalah:

Bagaimana Pemberdayaan Anggota Komunitas Difabike Melalui Sosial

Media Di Kelurahan Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu:Mengetahui lebih jelas

pemanfaatan sosial media “youtube” pada komunitas difabike, selain itu

memberikan peluang dalam berwirausaha bagi komunitas difabike

D. Manfaat Penelitian

Manfat yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis, penelitian ini dapat dijadikan suatu bahan studi

perbandingan selanjutnya bagi pengembangan Sosiologi disabilitas

yang berkaitan dengan pemberdayan penyandang disabilitas maupun

fokus lain mengenai penyandang disabilitas.

2. Secara praktis, diharapkan dapat dijadikan bahan referensi atau

masukan bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian dengan

tema yang sama dan juga bagi pemerintah dalam memberdayakan

penyandang disabilitas.

5
E. Tinjauan Pustaka

Pertama penelitian oleh Iffatus Sholehah yang berjudul “Pemberdayaan

Difable Melalui Asset Based Approach”. Penelitian ini berfokus pada strategi

pembangunan difabel dalam meningkatkan keterampilan dan kemandirian.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pemberdayaan yang

diberikan kepada difabel, dalam hal ini pada Rehabilitasi Terpadu

Penyandang Disabilitas (RTPD) di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul.

Penelitian ini menggunakan teori Capacity Building, yaitu sebagai upaya

pemberdayaan difabel dengan berbagai pelatihan-pelatihan guna

meningkatkan keterampilan dan kemandirian. Penelitian ini menggunakan

metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah dengan adanya

pemberdayaan yang dilakukan oleh RTPD, mampu meningkatkan potensi

para difabel dengan adanya pelatihan-pelatihan yang diberikan seperti:

pelatihan massage, desain grafis, komputer, elektronika, kerajinan perak,

kerajinan kulit, menjahit, payet dan bordir 7.

Kedua, penelitian oleh Shahnatria Putri Kinasih yang berjudul “Self-

Dsclosure Difabel Dalam Media Sosial”. Fokus penelitian ini adalah

kedalaman Self-Dsclosure penyandang disabilitas dalam bekomunikasi dan

menyampaikan aspirasinya di media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah

7
Iffatus Sholehah, Pemberdayaan Difable Melalui Asset Based Approach. Jurnal
Pemberdayaan Masyarakat , Vol. 1 No 1 (2017), ISSN: 2580-863X. Staff Administration Of Finance
Swasta Pendidikan Dan Pelatihan Edukasia, Yogyakarta.

6
untuk mengetahui bagaimana kedalaman self disclosure difabel dalam media

sosial facebook. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori self

disclosure dengan klasifikasi informan yakni klise, fakta, opini, dan perasaan.

Jenis penelitan yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan

deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah Kedalaman self disclosure

penyadang difabel berbeda-beda. Terdapat penyandang difabel sudah

melakukan self disclosure sampai ke tahap lingkaran konsentris yang ketiga

belum sampai ke dalam lingkaran yang paling mendalam. Terdapat

penyandang difabel yang percaya diri dalam media sosial facebook,

kedalaman self disclosure mereka sudah memasuki lingkaran konsentris yang

paling dalam. Kebutuhan kedalaman self disclosure difabel tergantung kepada

pengaruh media sosial yang mereka mainkan. Tidak semua penyandang

difabel minder dengan kondisi fisik mereka. Media sosial Facebook hanya

menjadi sarana komunikasi penting bagi penyandang difabel dalam

melakukan self disclosure.8

Ketiga , penelitian oleh Azmi Anti Mutiah, dengan judul penelitian “Peran

Komunitas Sahabat Difabel Dalam Pemenuhan Hak Ketenagakerjaan

Penyandang Difabel Kota Semarang”. Penelitian ini bertujuan untuk

mengidentifikasi peran komunitas sahabat difabel sebagai community based

organization dalam pemenuhan hak ketenagakerjaan penyandang disabilitas.

8
Shahnatria Putri Kinasih, Self-Dsclosure Difabel Dalam Media Sosial. Program Study Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Dan Informatika. Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2017.

7
Dengan menggunakan teori peran komunitas. Tipe penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif analitis melalui

pendekatan kualitatif. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive

sampling Hasil penelitian ini yaitu penelitian menemukan peran yang berhasil

dijalankan oleh komunitas sahabat difabel adalah mengadakan peltihan kerja

yang bekerjasama dengan pemerintah, menjadi penyalur informasi lowongan

kerja dan fasilitator perekrutan tenaga kerja difabel dengan perusahaan,

memebri fasilitas pemasaran produk penyandang disabilitas dengan

membentuk UMKM. 9

Keempat, penelitian oleh Sugi Rahayu, Utami Dewi, Marita Ahdiyana

dengan judul penelitian ”Pelayanan Publik Bidang Transportasi Bagi Difabel

di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Penelitian ini bertujuan menganalisis

penyediaan pelayanan publik khususnya bidang transportasi bagi kaum

difabel dan mengidentifikasi alternatif solusi yang dapat diterapkan dalam

pemberian pelayanan bidang transportasi yang adil dan pro difabel. Penelitian

ini menggunakan teori pelayanan. Penelitian kualitatif dengan metode

wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan mengguakan Hasil penelitian

menunjukkan bahwa penyediaan pelayanan perhubungan untuk memenuhi

kebutuhan kaum disabilitas belum optimal, pemerintah kota Yogyakarta

menyediakan fasilitas perhubungan ramah difabel, sleman menyediakan

9
Azmi Anti Mutiah. “Peran Komunitas Sahabat Difabel Dalam Pemenuhan Hak
Ketegakerjaan Penyandang Difabel Kota Semarang”. Ilmu Pemerintah Fisip UNDIP, Semarang.

8
trotoar ramah difabel khususnya di sekitar komplek perkantoran pemerintah

daerah.tiga kabupaten lain belum optimal dengan penyediaan fasilitas. 10

Kelima, penelitian dari Aulia Dwi Nastiti. Dengan judul penelitian

“Identitas Kelompok Disabilitas Dalam Media Komunikasi Online”. Studi ini

berkontribusi pada pemahaman yang lebih tentang identitas penyandang cacat

dan kelompok minoritas pada konteks yang lebih luasdengan menggunakan

kerangka komunitas online. Teori yang digunakan yaitu teori identitas.

Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas kelompok adalah

subjek yang dinamis dan pembentukan identitas kelompok orang-orang

penyandang disabilitas adalah proses bertahap identitas pribadi, identitas

komunitas, dan identitas pribadi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan

kualitatif dengan menggunkan metode wawancara mendalam dan observasi

semi partisipatif di masyarakat Temuan penelitian juga menunjukkan

pembentukan identitas di media komunitas tersebut terjadi melalui proses

konstruksi yang melibatkan berbagai internai dan factor eksternal yang

membentuk komunitas.11

Keenam, penelitian dari M. Jacky dengan judul penelitian “Pemberdayaan

Difabel dalam Blogosphere Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk

10
Sugi Rahayu, Utami Dewi. “Pelayanan Public Bagi Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas Di
Kota Yogyakarta”. September 2013, Vol. 10 No. 2, Hal 108-119. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. Universitas
Negeri Yogyakarta.
11
Aulia Dwi Nastiti. “Identitas Kelompok Disabilitas Dalam Media Komunitas Online”. Dept.
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Desember 2012.

9
mengetahui bagaimana solidaritas antar difabel dibangun dalam ruang public

virtual mampu memberdayakan difabel. Teori yang digunakan dalam

penrlitian ini adalah teori blogosphere: transformasi ruang public virtual.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.

Berdasarkan temuan data yang diperoleh 3 jargon yang membangun virtual

yaitu jargon file persaudaraan, diskriminasi dan we are subjek. Solidaritas

yang terbentuk maka menimbulkan pemberdayaan untuk para difabel

sehingga memunculkan produktifitas difabel. 12

Ketujuh, penelitian dari Rosa Delima dengan judul penelitian “Penguatan

kapasitas anggota disablitas person organisasi mitra sejahtera dengan

pelatihan computer dan internet”. Penelitian ini bertujuan untuk

menumbuhkan kemampuan penggunaan computer dan internet untuk

mendukung kegiatan organisasi dan aktifitas difabel dalam kehidupan sehari-

hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif

dengan pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan dokumentasi.

Sedangkan teori yang digunakan yaitu capacity building sebagai mana fokus

penelitian ini yaitu Penguatan kapasitas anggota disablitas person organisasi

mitra sejahtera dengan pelatihan computer dan internet. Dengan hasil

penelitian yaitu ada kesenjangan yang cukup besar antara materi computer

dasar peserta, penjajakan kebutuhan awal peserta kurang spesifik dan profil

12
M. Jacky. “Pemberdayaan Difabel Dalam Blogosphere Di Indonesia” Prody Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial UNS. 2013

10
peserta kurang dikomunikasikan sehingga materi yang diberikan belum

menjawab kebutuhan para peserta. 13

Kedelapan, penelitian dari Heri Sudarsono. Dengan judul penelitian

“pelatihan internet marketing untuk komunitas difabel LSM CIQAL di desa

Trihanggo Gamping Sleman Yogyakarta”. Tujuan penelitian ini yaitu

penyandang disabilitas mengetahui manfaat internet sebagai media yang bisa

digunakan untuk meningkatkan daya jual barang dan jasa. Selain itu juga

mampu memasarkan produk atau karya yang dimiliki. Metode yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu kuanlitatif deskriptif, dimana peneliti

menggambarkan secara umum data yang didapat di lapangan dengan

menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Dengan

menggunakan teori pemberdayaan atau capacity building yaitu sebagai upaya

untuk peningkatan kemampuan disabilitas dalam mengakses internet. Hasil

dari penelitian ini yaitu pelatihan internet marketing bermanfaat bagi

penyandang disabilitas untuk mengatasi masalah-masalah pemasaran dan

sebagainya. Selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan disabilitas dalam

mengakses internet sesuai dengan kebutuhan pemasaran produk mapun

sebaginya. 14

13
Rosa Delima, “Penguatan kapasitas anggota disablitas person organisasi mitra sejahtera
dengan pelatihan computer dan internet”. Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat ISSN 2541-559X.
14
Heri Sudarsono. “Pelatihan Internet Marketing Untuk Komunitas Difabel LSM CIQAL Di
Desa Trihanggo Gamping Sleman Yogyakarta”. Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. ISSN
2303-2472.

11
Berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang telah dipaparkan

diatas, maka dapat diketahui persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini.

Persamaannya terdapat pada metode dan teori yang digunakan, yaitu metode

pendekatan kualitatatif dengan cara pengumpulan data yaitu wawancara,

observasi, FGD, dan dokumnetasi, serta teori yang digunakan yaitu capacity

building. Sedangkan perbedaannya terletak pada sasaran dan lokasi penelitian

yaitu pada komunitas difabike. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian

ini bersifat melengkapi penelitian terdahulu, yakni melengkapi dari sisi lokasi

penelitian, serta sasaran penelitian. Dalam penelitian ini lokasi yang dimaksud

adalah Kelurahan Patangpuluhan Kec. Wirobrajan DIY. Sedangkan sasaran

penelitian ini yaitu anggota komunitas difabike dalam menggunakan media

sosial.

F. Landasan Teori

Menurut Brown, Capacity building adalah sebagai suatu proses yang

dapat meningkatkan kemampuan seseorang, suatu organisasi dan suatu sistem

untuk mencapai tujuan yang di cita-citakan. Merupakan proses untuk

mencapai suatu tujuan dari organisasi yang perlu memiliki kemampuan yang

12
dibutuhkan sehingga dapat menghasilkan energi yang maksimal dengan

runtutan proses yang matang.15

Janet L. Finn & Barry Checksoway secara eksplisit menjelaskan

definisi Capacity Building yang artinya “sampai seberapa jauh staff mampu

menunjukkan kontribusi yang nyata terhadap pengembangan personal,

organisasi dan masyarakat.“Kapasitas adalah kemampuan individu,

organisasi atau sistem untuk menjalankan fungsi sebagaimana mestinya

secara efisien, efektif, dan terus menerus 16

Dengan adanya capacity building maka seseorang atau organisasi

mampu memperbaiki sistem untuk menghadirkan suatu perubahan dalam

lingkungan ataupun masyarakat. maka dalam hal ini, sangat diperlukannya

peningkatan sumber daya manusia agar mampu menjalankan fungsi sesuai

dengan yang seharusnya.

Dalam pencapaiaan tingkatan capacity building tidak hanya sebagai

proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan organisasi dimana

15
Imam Radianto Anwar Setia Putra Dan Dida Suhada Iskandar; Peningkatan Kapasitas
Organisasi
Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Kementerian dalam Negeri.
16
Warsito, 2003:4 dalam Syifa Dwihastari; Analisis Pengembangan Kapasitas Kelembagaan
Pada Badan Kepegawaian, Pendidikan, Dan Pelatihan Kota Semarang.

13
pada penerapannya dapat diukur sesuai dengan tingkat pencapaian yang

diinginkan dan ditentukan untuk jangka panjang atau jangka pendek. 17

Dalam capacity building yang perlu diperhatikan dalam suatu

organisasi adalah pengu atan organisasi agar mampu mencapai

keberhasilan dengan menghadirkan perubahan yang sesuai dengan tujuan dan

cita-cita yang telah di susun oleh organisasi. Penguatan ini bertumpu pada

kerjasama dan solidaritas anggota organisasi dalam melakukan kegiatan yang

telah tersusun yang sebelumnya telah melakukan pengembangan kapasitas

pada organisasi.

Capacity buliding memiliki kaitannya dengan struktur organisasi,

dimana capacity buliding merupakan sebuah proses pembelajaran yang

berkesinambungan untuk melakukan pengembangan kapasitas, maka dari itu

agar dapat berjalan, diperlukannya sebuah frame dalam skala kecil sesuai

dengan kondisi organisasi yang berdasar pada struktur organisasi. 18

Dalam pengembangan kapasitas memiliki dimensi, fokus dan tipe

kegiatan. Dimensi, fokus dan tipe kegiatan tersebut menurut Grindle adalah:

1. Dimensi pengembangan SDM, dengan fokus: personel yang


profesional dan kemampuan teknis serta tipe kegiatan seperti: training,
praktek langsung, kondisi iklim kerja, dan rekrutmen

17
Annisa Mustika Rachmawati; Capacity Building Organisasi dalam Pelayanan Kesehatan di
Puskesmas Pucang Sewu Kota Surabaya.
18
Ibid

14
2. Dimensi penguatan organisasi, dengan fokus:tata manajemen untuk
mening-katkan keberhasilan peran dan fungsi, serta tipe kegiatan
seperti: sistem insentif, perlengkapan personil, kepemimpinan, buda-
ya organisasi, komunikasi, struktur manaje-rial,Reformasi
kelembagaan, dengan fokus: kelembagaan dan sistem serta makro
struktur, dengan tipe kegiatan: aturan main ekonomi dan politik,
perubahan kebijakan dan regulasi, dan reformasi konstitusi.19

Sejalan dengan itu, Grindle menyatakan bahwa apabila capacity building:

menjadi serangkaian strategi yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi,

efektivitas dan responsivitas, maka capacity building tersebut harus

memusatkan perhatian kepada dimensi

(I) pengembangan sumber daya manusia,

(2) penguatan organisasi, dan

(3) reformasi kelembagaan.20

Pengembangan kapasitas mengacu kepada proses dimana individu,

kelompok, organisasi, kelembagaan, dan masyarakat mengembangkan

kemampuannya baik secara individual maupun kolektif untuk melaksakan

fungsi mereka, menyelesaikan masalah mereka, mencapai tujuan-tujuan

mereka secara mandiri.21

19
Andi Samsu Alam dan Ashar Prawitno; Pengembangan Kapasitas Organisasi dalam
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bone.
20
Siti Taqwimah; Manajemen Capacity Building Dalam Sistem Satu Atap Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan
21
Erwin Indrioko dan Ulfa Rhomaisha Basar; Pengembangan Kapasitas (Capacity Building)
Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

15
Pengembangan organisasi meliputi memperkenalkan perubahan

aktivitas yang luas yang dapat ditargetkan pada individu,kelompok atau

seluruh organisasi. Sasaran dari pengembangan organisasi adalah untuk

memudahkan organisasi dalam melakukan pembaharuan, menghindarkan

organisasi dari keruntuhan , keusangan dan kekakuan22

Tentu saja, dalam melakukan pengembangan dalam kapasitasnya,

organisasi perlu memperhatikan berbagai faktor agar kemampuan dan

organisasi mampu meningkat. Dimulai dari kemampuan pemimpin, dan

anggota, perancangan dan startegi serta komunikasi dalam organisasi tersebut.

Pemimpin dalam organisasi memiliki pengaruh yang besar bagi sistem

organisasi maupun anggota organisasi. Hal ini karena pemimpin yang

memegang alih dan kendali utama dalam organisasi. Maka dari itu,

perkembangan dan kinerja organisasi bergantung pada peran dan kinerja

seorang pemimpin.

Seorang pemimpin harus mampu mengarahkan bawahannya untuk


23
memiliki kompetensi dalam bekerja. Hal ini karena dengan adanya

kompentensi dalam bekerja, anggota organisasi secara otomatis dapat

meningkatkan kualitas kinerja organisasi tersebut. Dalam meningkatkan

22
Indriyo Gitosudarmo dan Nyoman Sudita ; Perilaku Keorganisasian, 2014 (Hal 282)
23
Irham fahmi; Perilaku Organisasi Teori, Aplikasi dan kasus , tahun 2014 ( hal 88)

16
pengembangan kapasitas pemimpin harus memiliki sifat yang demokratis agar

tercapainya keadilan bagi anggota .

Pemimpin harus memberi arahan pada proses pembenahan dengan

memberi pengaruh pada anggota organisasi, sehingga adanya kesediaan dari

anggota untuk melakukan pembenahan yang mampu mencapai tujuan

organisasi. Kecapaian pemimpin dalam melakukan pengembangan kapasitas

ini tergantung pada kebijakan efektifnya dan dasar kepemimpinannya.

Untuk mencapai pengembangan ini, pemimpin dituntut untuk

mengajarkan kepada anggotanya untuk memiliki etos kerja. Dalam hal ini,

mereka harus memiliki sifat disiplin, jujur, dan kerja keras.maka, pemimpin

harus membangun kondisi kerja yang mengutamakan kepentingan organisasi

sesuai dengan visi dan misi organisasi. Dengan adanya keberhasilan yang

telah dicapai oleh pemimpin, maka mampu meningkatkan kemampuan

sumber daya manusia anggota kelompok yang dimana akan meningkatkan

kinerja pada organisasi agar fokus pada pengembangan yang berkelanjutan

sesuai tujuan yang telah di rencanakan. Namun dalam pengembangan

kapasitas ini, tidak melulu menyangkut dengan keberhasilan kepemimpinan

yang ada didalam organisasi. Partisipasi dari seluruh pihak mulai dari

pemimpin hingga anggota juga mempengaruhi adanya pengembangan pada

capacity building pada organisasi.

17
Partisipasi yang menyeluruh ini sangat dibutuhkan bagi organisasi

untuk menjalankan program yang telah direncanakan dengan menekankan

pada komunikasi organisasi dan inisiatif dari orang-orang yang berada

didalam organisasi. Dengan begitu, kinerja pada organisasi pun akan berjalan

sesuai rencana. Dalam meningkatkan partisipasi, pemimpin diperlukan

melakukan pelatihan keterampilan bagi anggotanya. Hal ini dilakukan agar

dalam kinerjanya menjalankan program akan sesuai dengan minat dan bakat

dari para anggota, sehingga pemimpin mampu merancang trategi dan rencana

aksi yang berkelanjutan. Maka, dengan diadakannya pelatihan oleh pemimpin

disuatu organisasi ini, tingkatan sumber daya dan kemampuan pada anggota

organisasi akan secara bertahap meningkat. hal ini tentu saja akan membuat

organisasi mengalami penguatan dan pengembangan.

Pelatihan ini juga membuat anggota akan semakin menyerap banyak

pengetahuan, sehingga dapat mememicu adanya inovasi terhadap ide, rencana,

dan strategi dalam program yang akan dijalankan maupun sedang dijalankan.

Dengan adanya pelatihan pada anggota juga ditujukan agar anggota organisasi

berkompeten.

Sebelum melakukan pelatihan kemampuan, anggota organisasi akan

melalui tahap pelatihan kepekaan. ini ditujukan agara anggota organisasi

mampu membangun komunikasi yang baik terhadap orang lain. Tak hanya

18
itu,pelatihan kepekaan ini digunakan agara anggota kelompok memiliki

kepekaan diri terhadap orang disekitarnya.

Proses pelatihan kepekaan dilakukan dengan mengadakan pertemuan

dalam bentuk kelompok tertentu disuatu tempat di luar tempat pekerjaan.

Kelompok tersebut melakukan diskusi yang tidak terstruktur tanpa ada agenda

di bawah arahan pelatih. Tujuannya adalah menghasilkan pengalaman belajar


24
sendiri. Pelatihan kepekaan juga bertujuan untuk membuatb anggota

organisasi memiliki kemaampuan dalam bekerja tim. Karena jika anggota

tidak memiliki kemampuan bekerja tim organisasi tersebut akam mengalami

kelemahan bahkan kemunduran.Ketidakmampuan bekerja dalam suatu tim

dan hanya mampu bekerja sendirian ini sering disebut sebagai

ketidakmampuan beradaptasi dengan kelompok. Padahal masyarakat bisa

maju jika berkelompok bukan sendiri-sendiri. Ibarat sapu lidi akan menjadi

sulit untuk dipatahkan jika disatukan dan diikat dalam satu ikatan maka ini

sulit untuk dipatahkan 25

Setelah para anggota organisasi memiliki kemampuan kepkeaan diri

terhadap orang lain, mereka akan dilatih sesuai dengan minat dan bakannya

melalui pelatihan-pelatihan kemampuan yang diadakan organisasi. Pelatihan

ini dilakukan dengan pertemuan organiosasi dalam acara seminar-seminar

24
Indriyo Gitosudarmo dan Nyoman Sudita ; Perilaku Keorganisasian, 2014 (Hal 305)
25
Irham fahmi.; Perilaku Organisasi Teori, Aplikasi dan kasus , tahun 2014 ( hal 296)

19
dan diskusi umum. Dengan melalui pertemuan ini, organisasi mampu secara

terbuka membangun komuikasi yang berguna untuk membangun. Hal ini,

pertemuan organisasi melalui seminar dan diskusi umum dapat memancing

adanya ide, inovasi dan kreativitas anggota yang dimana mampu

mengembangkan kompentensi diri anggota organisasi. Pengembangan

kapasitas tentu tidak hanya berorientasi pada kemampuan manusia, namun

mencakup keseluruhan lingkup organisasi atau sering dikenal dengan sistem

manajemen, kebijakan target capaian, strategi pencapaian, dan peraturan

organisasi. Lingkup demikian mengisyaratkan adanya tingkat pengembangan

kapasitas dari capacity.26

Maka dari itu, dalam pengembangan kapasitas organisasi sistem dan

kebijakan organisasi juga perlu diperhatikan. Sehingga tidak hanya

memfokuskan pada kualitas SDM anggota organisasi saja. Organisasi tentu

harus membuat sebuah sistem yang mengarah ke perubahan berkelanjutan

guna mencapai tujuannya. Pada setiap kebijakan yang dikeluarkan organisasi

mampu mempengaruhi kinerja organisasi, maka dari itu oraganisasi harus

memiliki kebijakan yang jelas sesuai dengan prosedur yang diterapkan.

Dengan begitu, sistem kerja organisasi akan sesuai dengan tujuan

organisasi.Tidak hanya itu, konsistensi pada pelaksanaan program pun perlu

diperhatikan dalam pengembangan kapasitas organisasi. Hal ini dapat

26
http://bpsdm.kemenkuham.go.id/id/artikel-bpsdm/35-capacity-building-dan-strategi-
peningkatan-kualitas-sdm-organisasi ditulis oleh Eka Ari Wibawa; diakses pada 16 mei 2019

20
membuat kinerja organisasi jelas menurun, karena tidak adanya fokus pada

keprograman di organisasi yang menyangkut pada sistem dan kebijakan

organisasi.

Tanpa adanya konsistensi ini akan berdampak pada ketidakadanya

komitmen yang dibangun di organisasi. Tanpa adanya komitmen, organisasi akan

dipastikan mengalami perpecahan. Hal ini karena anggota mulai tidak memiliki

kepercayaan pada organisasi tersebut sehingga memutuskan memisahkan diri dari

organisasi.

Jika hal ini terjadi, organisasi perlu melakukan perbaikan agar mampu

mengembangkan kapasitasnya. Perlu dilakukannya evaluasi didalam organisasi

agar setiap masalah atau kekurangan dapat teratasi secara bersama dan

menyeluruh. Maka dari itu, perpecahan organisasi pun dapat terhindarkan serta

penguatan organisasi dapat tercapai.

G. Metode Penelitian

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang sifatnya lebih kepada

deskriptif. Dalam penelitian kualitatif, ada beragam metode penelitian antara

pendididkan dan pengabdian atau pengembangan masyarakat. biasanya jenis

penelitian ini disebut dengan penelitian particypathory action research. Dimana

21
peneliti tidak hanya bersikap sebagai peneliti tetapi juga sebagai fasilitator di

tengah masyarakat, seperti halnya pemberian fasilitas, adanya kesadaran dan

tanggung jawab diri yang kritis, saling berbagi informasi dan gagasan antar

peneliti dan informan..

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang peneliti pilih adalah Kelurahan Patangpuluhan,

Kecamatan Wirobrajan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penulis memilih lokasi

tempat ini di karenakan banyaknya media yang mengangkat komunitas difabike

ini sebagai komunitas yang unik karena sebagai komunitas satu-satunya di

Yogyakarta dengan anggota komunitas yang juga sebagai orang penyandang

disabilitas. Selain itu melihat bagaimana penguatan komunitas difabike ini

memberikan pelayanan sesuai kebutuhan para penyandang disabilitas dan bentuk

keperdulian laiinya yang diberikan oleh komunitas difabike untuk para

penyandang disabilitas.

3. Sasaran penelitian

Subjek dari penelitian yang peneliti lakukan adalah anggota komunitas

difabike. Alasan mengapa peneliti memilih orang-orang pada komunitas difabike

sendiri, bukan masyarakat yang ada di sekitar komunitas difabike, karena dalam

penelitian ini peneliti membuat pelatihan bersama difabike dalam

mengembangkan difabike diranah media sosial.

22
4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga metode

yaitu:

a. Observasi

Teknik observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data dengan

cara mengamati langsung terhadap subjek penelitian. Peneliti

melakukan pengamatan secara langsung terhadap komunitas difabike.

Penulis melakukan observasi dari tanggal 20 Maret 2019. Alasan

peneliti menggunakan metode observasi adalah untuk memdapatkan

gambaran secara nyata tentang difabike penelitian. Dengan observasi

semua aktivitas komunitas difabike dapat dilihat, didengar, dirasa

secara langsung sehingga data yang dihasilkan adalah real atau nyata,

sehingga peneliti dapat mengamati secar langsung dan jelas terkait

kegiatan komunita difabike di Kelurahan Patangpuluhan, Kecamatan

Wirobrajan, Daerah Istimewa Yogyakarta.

b. Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara

mengajukan pertanyaan yang telah kita susun terlebih dahulu baru

diajukan kepada informan. Akan tetapi bias jadi pertanyaan yang

diajukan berkembang pada saat wawancara dilakukan. Peneliti

melakukan wawancara kepada pimpinan komunitas difabike, yakni

mas Triyono pada tanggal 5 April 2019 dengan tujuan untuk menggali

23
informasi lebih dalam lagi sehingga peneliti dapat menemukan

jawaban atas rumusan masalah yang ada. Selain itu peneliti juga

mewawancarai salah satu anggota komunitas difabike, guna menggali

data lebih dalam sebagai pendukung.

c. FGD (Focus Group Discussion)

FGD adalah salah satu pengumpulan suatu masalah tertentu dimana

pewawancara bertanya kepada anggota kelompok yang sangat khusus

dengan topik sesudah hasil penelitian sementara dilakukan. Peneliti

melakukan FGD (Focus Group Discussion) pada tanggal 16 April

2019 bersama pengurus difabike yakni mas Triyono beserta anggota

komunitas difabike membahas mengenai kegiatan pelatihan media

sosial Youtube yang dimana didalamnya membahas mengenai konsep

dan rancangan kegiatan.

5. Metode Analisis Data

Analisis data adalah proses menyusun data agar dapat ditafsirkan dan

diketahui maknanya. Adapun analisis data yang dilakukan dalam penelitian

ini adalah menurut Miles dan Huberman (1984), mereka mengemukakan

bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secar interaktif dan

berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh.

Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau

24
informasi baru. 27 Analisis Data Kualitatif Model Miles Dan Hubermas

terdapat tiga tahap:

a. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan,

penyerdahanaan dan abstraksi. Mereduksi data dapat dilakukan

dengan merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada

hal-hal yang penting, di cari tema dan polanya. Tahap ini

dilakukan agar kita mengetahui relevan tidaknya antara data

dengan tujuan penelitian.

b. Penyajian data

Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun sehingga

kita dapat menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Pada

tahap ini peneliti berupaya mengklasikasikan dan menyajikan data

sesuai denagn pokok permasalahan yang diawali dengan

pengkodean pada setiap subpokok permasalahan

c. Penarikan kesimpulan dan verifikasi

Tahap ini dimaksudkan untuk mencari makna data yang

dikumpulkan untuk mencari makna data yang dikumpulkan

dengan mencari hubungan, persamaan dan perbedaan. Kesimpulan

ditarik dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali sambal

melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang tepat.

27
Rahmad said, “Analisis Data Kualitatif Model Miles Dan Hubermas”. Pasca UMS.2011.

25
H. Program Kerja

Program kegiatan penelitian ini tersusun dalam tabel berikut :

No Jenis Kegiatan Peserta Waktu

1 Observasi pertama Mahasiswa dan 20 Maret 2019

Masyarakat

2 Pembuatan proposal Mahasiswa 25-31 Maret 2019

3 Kulo nuwun/ observasi kedua (dengan Mahasiswa dan 5 April 2019

tokoh masyarakat, agama, pemuda) dan masyarakat

pengurusan surat

4 Assesment dan perumusan agenda Mahasiswa 15 April 2019

bersama di masing-masing kelompok

(FGD)

5 FGD kedua bersama tokoh masyarakat, Mahasiswa dan 16 April 2019

agama dan pemuda Masyarakat

26
6 Pelaksanaan kegiatan pengembangan Mahasiswa dan 19 April2019

masyarakat pertama bersama difabike dan Masyarakat

keminfo ke-1

7 Pelaksanaan kegiatan pengembangan Mahasiswa dan 23 April 2019

kedua bersama difabike dan keminfo ke- Masyarakat

8 Pelaksanaan kegiatan pengembangan Mahasiswa dan 30 April 2019

masyarakat ketiga pengambilan video masyarakat

vlog bersama difabike

9 Pelaksanaan kegiatan pengembangan Mahasiswa dan 25 April 2019

masyarakat keempat melakukan bazar masyarakat

bersama UMKM

10 Persiapan kegiatan pelatihan conten Mahasiswa dan 9 Mei 2019

creator dan buka bersama dengan masyarakat

difabike

11 Pelaksanaan kegiatan pengembangan Mahasiswa dan 11 Mei 201

masyarakat keempat pelatiham bersama masyarakat

27
Difabike dan vloger youtube

12 Evaluasi bersama masyarakat Mahasiswa dan 12 Mei 2019

Masyarakat

13 Pembuatan laporan PAR Mahasiswa 13-17 Mei 2019

14 Pamitan ke lokasi PAR Mahasiswa, aparat 13 Mei 2019

desa, dan perwakilan

kelompok

Adapun dana yang digunakan peneliti dan donasi yang didapatkan dalam

melaksanakan kegiatan Pengembangan masyarakat ini adalah sebagai berikut:

1. Pendapatan (budget)

No Jenis pemasukan Jumlah

1 Iuran kelompok Rp. 150.000X6 Rp. 900.000

Donasi atau bantuan yang kami dapat dari mitra yaitu fasilitas tempat dari

Kominfo, pemateri dan makan siang bagi peserta sejumlah 30 porsi. Kemudian dari

pihak difa bike membantu memfailitasi tempat, peralatan seperti proyektor, speaker

dan juga takjil untuk acara buka puasa bersama.

28
2. Pengeluaran

No Jenis pengeluaran Jumlah

1 Konsumsi Rp. 241.000

2 Perlengkapan Rp. 123.000

3 Pemateri RP. 300.000

4 Sertifikat Rp. 150.000

Total Rp. 814.000

29
BAB II

SETTING DAN LOKASI PENELITIAN

A. Kondisi Umum Dusun

Patangpuluhan adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan

Wirobrajan, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Patangpuluhan

secara geografis terletak sekitar 3 km di sebelah barat daya pusat kota

Yogyakarta.

Foto 1.1 Dusun Patangpuluhan

Sumber: Wikipedia Diakses pada 20 Mei 2019 Pukul 14:00 WIB

Kelurahan Patangpuluhan memiliki jumlah penduduk 2.496 kepala

keluarga.Batas kelurahan sebelah Timur : Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron,

Yogyakarta. Barat: Desa Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Utara : Kelurahan

30
Wirobrajan, Wirobrajan, Yogyakarta. Selatan : Desa Ngestiharjo, Kasihan,

Bantul.28

Mayoritas masyarakat Kelurahan Patangpuluhan bekerja sebagai pegawai

kantor untuk bapak-bapak, sedangkan untuk para ibu hanya sedikit yang bekerja

di sektor perkantoran dan lebih banyak di sektor informal seperti warung sembako

dan warung makan.29

B. Kondisi Demografi

Penduduk kelurahan Patangpuluhan sesuai wajib KTP untuk laki-laki

berjumlah 2.718 jiwa, sedangkan perempuan mencapai 2.979 jiwa, sehingga

jumlah keseluruhan mencapai 5.697 jiwa. Sedangkan penduduk yang mengalami

disabilitas di kelurahan patangpuluhan mencapai 45 jiwa, laki-laki 24 jiwa dan

perempuan 21 jiwa. Penduduk difabel kelurahan patangpuluhan ada beberapa

jenis difabel, seperti difabel fisik yang berjumlah 10 jiwa, tuna rungu/wicara 11

jiwa, mental 13 jiwa, fisik dan mental 2 jiwa, dan lainnya 9 jiwa. 30

Mayoritas penduduk di Kelurahan Patangpuluhan masih dalam usia kerja

atau produktif. Jenis pekerjaan dominan pada ibu rumah tangga. Pekerjaan rumah

tangga menjadi pilihan karena kondisi lingkungan tempat tinggal yang dekat dari

28
www.kependudukan.jogjaprov.go.id diakses pada 22 desember 2018.
29
Hasil wawancara dengan Bapak Pee sebagai staff Difa Bike, 12 Oktober 2018.
30
www.kependudukan.jogjaprov.go.id diakses pada 22 desember 2018.

31
kota, perumahan sudah semakin banyak dan lahan persawahan yang semakin

sempit.

Dalam sektor pendidikan, masyarakat Kelurahan Patangpuluhan tergolong

memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya

lulusan sarjana, yaitu mencapai 1.174 jiwa. 31 Dengan hal ini dapat dikatakan

bahwa masyarakat Kelurahan Patangpuluhan sadar terhadap pentingnya

pendidikan.

C. Kondisi Sosial Ekonomi

Secara garis besar kondisi ekonomi masyarakat Kelurahan Patangpuluhan

temasuk masyarakat menengah ke atas. Dibuktikan dengan mampunya untuk

menyekolahkan anak ke pendidikan yang lebih tinggi seperti diploma atau sarjana

Sektor informal diminati oleh masyarakat Kelurahan Patangpuluhan.

Banyak toko sembako atau warung makan yang di buka dan disediakan di

sepanjang jalan. Karena hanya berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Yogyakarta

membuat jalan menjadi ramai dilintasi oleh pengemudi dan tidak jarang

pengemudi beristirahat untuk membeli makanan disekitar jalan. Itu sedikit

gambaran mengenai perekonomian masyarakat Kelurahan Patangpuluhan. 32

31
Ibid
32
Hasil wawancara dengan Bapak Pee sebagai staff Difa Bike, 12 Oktober 2018.

32
Warung makan Mie & Bakso

(Sumber : Luvi, 23 April 2019)

D. Kondisi Sosial Budaya

Mengenai budaya, masyarakat Patangpuluhan cukup aktif dalam

menjalankannya. Banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat Patangpuluhan

secara beramai-ramai, semisal bermain bola voli, sepakbola, dan kegiatan

olahraga yang lain.33 Kegiatan rutin yang dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu

seperti pengajian dan juga ronda menjadi sarana untuk mempererat solidaritas

masyarakat sekitar. Dengan diadakannya kegiatan tersebut diharapkan masyarakat

Patangpuluhan dapat hidup rkun dan tentram.

33
www.kependudukan.jogjaprov.go.id diakses pada 22 desember 2018

33
Kegiatan jaga pos ronda di kampong Patangpuluhan

(Sumber : Muhib, 11 Mei 2019)

34
E. Profil Difa Bike

Difa Bike resmi berdiri pada 03 Desember 2015 dengan anggota awal

hanya memiliki tiga pengemudi. Peresmian Difa Bike dilakukan di Balai Kota

Yogyakarta tepat saat adanya peringatan Hari Disabilitas Internasional 2015.

Foto 1.2 Kator Difa Bike

Sumber: Luviana Safitri 15 April 2019

“Diresmikannya Difa Bike tepat pada tanggal 3 Desember 2015. Saat itu

kan ada peringatan Hari Disabilitas Internasional, jadi saya minta waktu sekitar

lima menit dan diberikan waktu diakhir acara.” Ungkap Triyono sebagai pendiri

Difa Bike.34

34
Wawancara Bapak Triyono sebagai kepala Difa Bike, 12 Oktober 2018.

35
Awal mula pembiayaan Difa Bike berasal dari uang pribadinya yang

berjumlah 10 juta. Kemudian setelah berjalan beberapa saat, Difa Bike mulai

mendapatkan pembiayaan dari para donatur. Akan tetapi hal tersebut sangat miris,

karena donatur kebanyakan berasal dari luar negeri seperti China dan Vietnam.

Model kendaraan Difabike

(Sumber : Muhib, 24 April 2019)

36
Ide munculnya Difa Bike yaitu karena keresahan dan keprihatinan Triyono

saat melihat difabel hendak berpergian dengan transportasi umum, hampir semua

transportasi umum tidak mau berhenti dan menerima penumpang difabel. Hal

tersebut karena pemerintah tidak dapat menyediakan transportasi umum yang

layak untuk menunjang mobilitas para difabel, kebanyakan transportasi umum

yang beroperasi di jalan tidak mendukung para difabel untuk dapat naik. Karena

masalah itulah Triyono berpikir untuk membangun Difa Bike. 35

Pamflet penawaran Difa City Tour

(Sumber : https://www.google.com diakses 21 Mei 2019)

35
Ibid.

37
Selain untuk transportasi ojek, Difa Bike juga menawarkan jasa kargo dan

paket wisata. Untuk ojek, penumpang hanya tinggal mengisi lokasi penjemputan

dan driver ojek akan menuju ke lokasi yang telah ditentukan. Aplikasi ojek

tersebut bernama Difa Bike, dapat diunduh secara gratis melalui AppStore dan

PlayStore. Sedangkan kargo dapat digunakan untuk mengangkut barang dengan

jumlah yang cukup banyak, seperti belanjaan atau yang ingin pindah kosan.

Untuk wisata, mereka menawarkan paket wisata budaya Jogja serta tour guide.

38
F. Profil Informan

Ada dua informan yang peneliti dapatkan, yaitu pak Triyono sebagai ketua

komunitas Difa Bike, serta pak Teno Sidjabat sebagai salah satu anggota yang

bertugas mengelola media sosial Difa Bike.

Pertama, pak Triyono, beliau lahir di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah,

21 Juni 1981. Riwayat Pendidikan : SD Mancasan 2, Baki, Sukoharjo; SMP 1

Baki, Sukoharjo; SMA 3 Sukoharjo; S-1 Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian,

Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Mendapatkan penghargaan Finalis

Wirausaha Muda Mandiri 2010.36

Foto 1.3 Pak Triyono

Sumber: Instagram Difa city tour diambil pada 20 Mei 2019 pukul 14:33 WIB

36
Ibid.

39
Penyakit Polio yang dideritannya sempat membuat ia minder. Namun

semangatnya tidak lenyap begitu saja, itu semua karena ayah dan ibunya

membiasakan dia dengan anak-anak kecil lainnya. Putra dari pasangan Priyono

dan Marinah ini selalu yakin, berpikir positif, dan pantang menerah.

Triyono selalu aktif berorganisasi dan wirausaha bahkan sampai ke

jenjang perkuliahan. Triyono pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral

Mahasiswa dan Menteri Luar Negeri di Badan Eksekutif Mahasiswa UNS.

Setahun menjadi aktivis kampus, Triyono bergabung dengan Yayasan

Penyandang Cacat Pelangi Hati dan sempat menjadi ketua II.

Triyono sudah merintis bisnis sejak di bangku perkuliahan, tepanya pada

tahun 2006. Usahanya di bidang agribisnis, yaitu bisnis bebek potong. Di awal

tahun 2007, Triyono mulai memfokuskna pada bisnis agro dibandingkan dengan

usaha yang lain (juga menjalankan bisnis konveksi). Pernah mengajukan proposal

Wirausaha Membangun Desa, kepada Kementrian Pertanian. Dari proposal

tersebut Triyono berhasil menndapat 320 juta untuk membangun bisnisnya. Uang

digunakan untuk membeli 40 ekor sapi dan membangun kandang permanen.

Dengan berjalannya waktu, jumlah sapi Triyono bertambah menjadi 90

ekor. Pada saat itu Triyono cukup memanfaatkan uang investor, atas pencapaian

itu Triyono mendapatkan Penghargaan Wirausaha Mandiri 2010. Dengan modal

20 juta ia fokus membangun usahanya dengan bendera CV Tri Aurum Multifarm.

Bisnisnya merupakan bisnis terpadu di bidang multi-agrari. Mulai dari usaha

40
bebek, ayam potong, peternakan sapi, dan penjualan pupuk. Dengan usaha,

keseriusan dan dedikasi, Triyono total mampu menghasilkan 50 juta perbulan

dan terus berkembang. Akan tetapi, pada saat ini Triyono lebih berfokus pada

kegatan sosial. Keprihatinan Triyono terhadapat mobilitas para disabilitas

membuat Triyono sadar akan pentingnya transportasi bagi disabilitas. Oleh karena

itu, Triyono mendirikan Difa City Tour dan Transport yang ditujukan untuk

mempermudah mobilitas para disabilitas disekitar wilayah Yogyakarta.

Kedua, pak Teno Sidjabat, Pak Teno Sidjabat lahir di Tanjung Balai

Karimun, Kepulauan Riau. Pak Teno merupakan salah satu anggota yang

bergabung dengan Difa Bike sejak awal didirikan.37

37
Wawancra dengan Ppak Teno Sidjabat pada 17 Mei 2019 pukul 12:46 WIB

41
Foto 1.4 Pak Teno Sidjaba

aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh Difa Bike,

bersama dengan mas Triyono sebagai ketua Difa Bike, pak Teno memiliki

pengaruh besar dalam perkembangan komunitas Difa Bike. Beliau merupakan

anggota yang mengelola media sosial Difa Bike. Selain ikut menelola komunitas

Difabike pak Teno juga sebagai ketua komunitas UMKM . Beliau memiliki

gagasan besar terhadap kemajuan UMKM di Yogyakarta. Dibawah naungannya

UMKM bisa aktif dan berkembang dengan pesat.

42
BAB III

PELAKSANAAN PROGRAM

A. Proses Awal Membangun Program Kerja

Program kerja merupakan salah satu aspek penting dalam sebuah kegiatan,

tanpa sebuah program kerja suatu kegiatan seperti tidak bernilai apa-apa.

Tentunya merumuskan program kerja harus melalui proses yang panjang agar

program kerja yang dihasilkan bisa bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan

masyarakat yang diteliti. Begitupun dengan kegiatan yang kami lakukan di Dusun

Patangpuluhan, yang membahas tentang pengetahuan bagi penyandang

disabilitas. Dalam melakukan kegiatan ini terlebih dahulu kami melakukan

serangaki kegiatan diskusi baik itu diskusi dengan teman kelompok maupun

dengan dosen pengampu Mata Kuliah. Kami juga melakukan serangkaian

kujungan lapangan untuk mencari data, terhitung sudah beberapa kali kami terjun

kelapangan untuk mencari data. Ada kalanya peremuan ini terkait dengan

wawancara pencarian data, konfirmasi tempat, dan sebagainya.

43
Pertemuan dengan Ketua UMKM Difabike

Sumber : Sutariyanti, 20 April 2019

Pertemuan dengan Ketua Komunitas Difabike

Sumber : Sutariyanti 20 Maret 2019

44
Pertemuan Pertama kami mengunjungi kantor Difa Bike di Daerah

Bugisan pada tanggal 20 Maret 2019 dan bertemu dengan kepala komunitas Difa

Bike untuk meminta izin sekaligus mencari data terkait kegiatan dan

permasalahan yang di hadapi dalam komunitas Difa Bike tersebut. Kemudian

dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya kami mewawancarai Bapak Triyono

selaku ketua komunitas Difa Bike untuk konfirmasi kegiatan yang akan kami

lakukan. Dalam pertemuan ini disimpulkan bahwa dalam komunitas Difa Bike

mengalami kegelisahan terkait dengan kemajuan teknologi yang sudah

berkembang pesat pada zaman sekarang ini. Komunitas Difa Bike memerlukan

bantuan pendampingan guna melatih mereka dalam mengenal dan menggunakan

media sosial. Oleh karena itu memalui diskusi yang panjang diputuskan jika kami

harus melakukan kegiatan pemberdayaan anggota komunitas Difa Bike melalui

media sosial khususnya Youtube, Akhirnya pada pertenuan selanjutnya kita

mensosialisasikan kegiatan kami kepada anggota Difa Bike dan juga teman-teman

mahasiswa yang lain.

45
Foto dengan ketua komunitas Difabike

(Sumber : Budi, 20 Maret 2019)

Sasaran kami dalam penelitian ini yaitu semua anggota komunitas Difa

Bike diaman mereka memiliki keterbatasan pengetahuan tentang media sosial

yang berkembang pada saat ini. Kami menganggap dengan sasaran kegiatan

pemberdayaan komunitas Difa Bike Melalui media soaial ini sangat tepat untuk

diterapkan. Karena hal ini dapat memeberikan pengetahuan dan membantu

mereka dalam menggunkan aplikasi Youtube. Youtube dapat dijadikan sebagai

ladang penghasilan bagi mereka. Untuk itu kita melakukan kegiatan yang

memiliki manfaat dan dapat dirasakan secara langsung oleh penyandang

Disabilitas.

46
Pelatihan yang kami lakukan adalah membangun penguatan organisasi

yang ada dalam komunitas difa bike. Untuk membentuk hal itu, kami

bekerjasama dengan Kominfo dan Youtuber untuk melakukan pelatihan melaui

media online. Kegiatan yang kami lakukan adalah pelatihan pemasaran melalui

media online seperti Instagram dan Whatshapp serta pelatihan pembuatan video

dan akun Youtube. Dalam kegitan pelatihan pembuatan video dan akun youtube

ini kami bersama difa bike, selain dilakukan untuk memperkuat komunitas difa

bike melalui akun youtube juga untuk memberikan wawasan kepada anggota difa

bike bahwa mereka juga bias berkarya melalui video dengan konten-konten yang

menarik yang bias mereka buat. Kami berpartisipasi dalam kegiatan yang telah

mereka rencanakan, yakni pembuatan chanel youtube untuk komunitas difa bike.

B. Proses Pelaksanaan Program Kerja

Program kerja kami yang pertama yaitu mengadakan workshop bersama

KOMINFO dengan tema Pemberdayaan komunitas difabel melalui media online.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19 April 2019 di kantor Kominfo.

Diadakannya workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para

disabilitas tentang media online. Sosial media merupakan sebuah media online di

mana pengunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, membuat konten

atau tulisan. Di era digital seperti saat ini, mulai dari anak kecil sampai orang

dewasa mempunyai media sosial. Hal ini tentu memudahkan untuk berbagi

informasi dengan berbagai orang. Sosial media juga sebagai sarana

47
berkomunikasi dan berinteraksi secara online untuk melakukan pemasaran produk

maupun bisnis.

Acara dibuka oleh kepala dinas Kominfo DIY bapak Ir.Roni Primanto

Hari, M.T. Dalam sambutannya beliau menyampaikan tentang maksud dan

tujuandi selenggrakannya workshop peningkatan kapasitas difabel, adalah untuk

menignkatkankemampuan kemandirian dan life skill teman-teman difabel

disamping itu, dinas Kominfo DIY juga menyediakan co working space yang

ramah difabel dan peruntukkannya memang untuk memberikan kemudahan akses

bagi teman-teman difabel. Narasumber dalam acara tersebut adalah bapak

Whyudi, ST yang menyampaikan materi tentang penelola media sosial dan

pemasaran digital bagi komunitas difabel. Beliau memberikan pelatihan praktis

dan harapannya teman-teman difabelbisa mengembangkan diri melalui media

sosial yang dewasa ini sedang tren dengan: digital marketing

Materi yang disampaikan dalam workshop ini yaitu pemasaran produk

melalui media online seperti instagram. Workshop dilakukan selama 2 kali

pertemuan. Hal ini dilakukan agar peserta dapat menyerap materi secara

mendalam. Jumlah peserta yang ikut dalam workshop pemberdayaan komunitas

difabel melalui media online ada 15 orang. Dalam mengikuti workshop ini peserta

sangat antusias dan muncul berbagai pertanyaan dari mereka mengenai media

online. Melalui pelatihan ini penyandang disabilitas diharapkan mampu untuk

mengembangkan potenisi yang mereka meiliki melalui pengolahan media.

48
Dengan media online para penyandang disabilitas khususnya yang bekerja dalam

indutri rumahan dapat mempromosikan dan memasarkan hasil produksi mereka

melalui media online

Foto 1.2 Workshop Pemberdayaan Komunitas Difabel

(Sumber : Sutariyanti, 19 April 2019)

Foto 1.3 Peserta Workshop pemberdayaan komunitas difabel melalui media online

49
(Sumber : Sutariyanti, 19 April 2019)

50
Foto 1.4 Materi yang disampaikan dalam workshop

(Sumber : Sutariyanti, 19 April 2019)

Program kerja yang kedua yaitu mengadakan bazar produk UMKM di

titik nol km Yogyakarta. Kegiatan dilakukan selama 3 hari dari hari Jum’at

hingga hari Minggu. Bazar ini menyediakan berbagai jenis produk makanan

hasil produksi rumahan dari anggota UMKM. Ada 10 stand yang mengikuti

bazar dengan berbagai macam produk, ada yang menjual bakpia, yangko,

kripik singkong, minuman, kue dan sebaginya. Bazar ini cukup ramai

dikunjungi pembeli, mereka tertarik untuk mencoba hasil produksi hasil

UMKM ini.

51
Pameran atau bazar adalah kegiatan yang tidak asing bagu pelaku

UMKM, di kota-kota besar, kegiatan pameran UKM hampir diselenggarakan

setiap hari di berbagai tempat. Sampai saat ini, bazar atau pameran merupakan

salah satu cara yang efektif dalam pemasaran untuk menjaring banyak

konsumen. Bazar adalah sarana pemasaran yang tepat untuk mengenalkan

produk atau menjualnya kepada konsumen yang datang ke bazar. UMKM

sebagai sebuah bisnis tentunya tidak ingin melewatkan pameran atau bazar

yang sedang diadakan, termasuk difa bike. Banyaknya orang yang datang di

dalam pameran yang diadakan selama tiga hari tidak boleh diabaikan, buat

mereka tertarik mengunjungi stand serta memberikan sedikit pengenalan

mengenai produk yang dimiliki. Selain berguna sebagai pemasaran produk,

bazar juga dapat berguna sebagai survey pasar terkait dengan seberapa besar

peluang diterimanya produk oleh konsumen. Hal tersebut dapat terlihat

dengan seberapa banyak pengunjung yang datang untuk melihaat dan tertarik

dengan stand produk.

52
Foto 1.5 Bazar UMKM di Nol KM

(Sumber: Suariyanti, 25 April 2019)

Stand Bazar UMKM Difabike

(Sumber : Sutariyanti, 25 April 2019)

53
Program kerja yang ketiga yaitu pembuatan konten Youtube.

Pembuatan konten youtube ini kami lakukan dengan Difa Bike. Kami

bersama Difa Bike berusaha mengembangkan dan mempromosikan Difa Bike

melalui Youtube. Disini kami sudah membuat video yang akan dijadikan

konten dalam Youtube, akan tetapi video-video yang kami buat belum bisa

diupoad dalam chanel youtube yang sudah dibuat karena menunggu video

opening dari pimpinan komunitas Difa Bike. Dimana opening dari chanel

Youtube akan diambil di negara London pada tanggal 16 Mei 2019.

Foto 1.3 Proses pembuatan konten Youtube

(Ahfas, 30 April 2019)

54
Foto 1.4 Pembuatan konten Youtube

(Sumber : Umar, 30 April 2019)

Program kerja kami yang keempat yaitu pelatihan pembuatan konten

Youtube. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 11 Mei 2019 di kantor

komunitas Difa Bike. Pelatihan ini diikuti oleh 20 anggota komunitas Difa

Bike. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan konten yang sudah dibuat

agar lebih berkembang dan menarik. Kegiatan pembuatan konten video di

Yotube ini akan terus berjalan dan tidak hanya berhenti sampai dilaporan

pendampingan masyarakat. Akan tetapi akan terus terus berjalan dan akan

kami kembangkan.

55
Pembuatan Video Vlog di Universitas Respati Yogyakarta

(Sumber : Umar, 11 Mei 2019)

Setelah kegiatan pelatihan conten creator youtube yang dilakukan,

kami bersama difa bike belajar untuk membuat video “Vlog” yang pertama

kali dilakukan pada saat ketua difa bike ada kegiatan sebagai dosen kuliah

umum di Universitas Respati Yogyakarta. Yang selanjutnya kegiatan vlog di

akun youtube akan di lanjutkan oleh ketua difa bike sebagai actor utamanya

dan pasti akan ada pembagian tugas dalam komunitas difa bike untuk

pembuatan video tersebut.

Kegiatan pelatihan pembuatan konten Youtube ini dijadikan juga

sebagai ajang silaturahmi antar keluarga anggota Difabike. Setelah pelatihan

selesai dilanjutkan dengan buka bersama. Hal ini dilakukan untuk mempererat

56
tali persaudaraan diantara mereka. Untuk memeriahkan acara ini juga dihadiri

anggota akustik dari Al-Mizan UIN Sunan Kalijaga. Acara ini sangat berkesan

dan mereka merespon dengan sangat baik. Mereka ikut bernyanyi dalam

setiap lagu. Kegiatan silaturahmi ini diharapkan akan terus berlanjut dengan

kemasan kegiatan yang berbeda.

Foto 1.6 Perserta pelatihan pembuatan konten Yotube

(Sumber : Muhib, 11 Mei 2019)

57
Foto 1.7 Sambutan ketua komunitas Difabike

(Sumber : Muhib, 11 Mei 2019)

Pada pelatihan pembuatan konten Youtube Mas Triyono sebagai ketua

komunitas Difabike memberikan sambutan. Beliau menyampaikan bahwa pelatihan

pembuatan konten youtube ini sangat diperlukan dan dikenalkan oleh teman-teman

disabilitas. Karena mereka juga harus mengetahui tentang media sosial dan harus

mampu mengikuti arah perkembangan zaman yang serba modern. Sehingga, dengan

diadakannya pelatihan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan

teman-teman disabilitas tentang media sosial.

58
Foto 1.8 Penyampaian materi terkait konten Yotube

(Sumber : Muhib, 11 Mei 2019)

Dalam pelatihan konten Youtube yang kami lakukan, kami

bekerjasama dengan Youtuber yang sudah berpengalaman. Youtuber asal

Magelang yang mempunyai Chanel Youtube Danang Giri Sadewa dan telah

memiliki 59.122 Subscribber. Dalam pelatihan ini Mas Danang

menyampaikan matei terkait ikon-ikon yang ada di Youtube. Hal ini

dilakukan untuk memperkenalkan dahulu tentang fungsi fitur yang ada di

Youtube. Setelah itu beliau menyampaikan bahwa media sosial yotube bias

dijadikan sebagai sumber penghasilan. Belaiu juga menyampaikan cara-cara

untuk menjadi Youtber yang baik dan professional.

59
Foto 1.9 Penampilan Akustik

(Sumber : Muhib, 11 Mei 2019)

Kegiatan pelatihan pembuatan konten youtube ini juga diisi oleh grup akustik

dari UMKM Al-Mizan UIN Sunan Klijaga. Dalam kegiatan ini mereka menyanyikan

lagu-lagu religi dalam dua waktu. Pertama, mereka mengisi akustik pada waktu

sebelum kegiatan pelatihan dimulai. Sambil menunggu peserta yang lain dan pemateri

dating, mereka mengisi dengan lagu-lagu. Kedua, pada waktu menjelang buka puasa.

Lebih tepatnya setelah pelatihan selesai, sambil menunggu waktu buka puasa mereka

mengisi akustik juga. Pada saat itu para peserta merespon dengan sangat baik.

Mereka ikut terhanyut dalam lantunan lagu-lagu religi. Bahkan mereka tidak sungkan

untuk ikut bernyanyi.

60
Foto 1.10 Buka Bersama

(Sumber : Muhib, 11 Mei 2019)

Kegiatan yang kami laksanakan pada tanggal 11 Mei 2019, tidak hanya

merupakan pelatihan pembuatan konten youtube saja, akan tetapi juga dilanjutkan

dengan kegiatan buka bersama dengan anggota komunitas Difabike. Dalam acara ini

setiap anggota Difabike membawa anggota keluarganya sehingga tambah

meramaikan suasana buka bersama yang kami adakan. Kegiatan ini dapat dijadikan

sebagai ajang silaturahmi antar keluarga anggota komunitas Difabike.

61
BAB IV

ANALISIS PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Berdasarkan hasil penelitian di atas, media social sangat berpengaruh

penting dalam kemajuan komunitas Difa Bike. Pesatnya pertumbuhan sosial

media sesuai dengan optimisme bagi para pelaku pasar internet atau biasa

disebut dengan istilah internet marketers. Sosial media kini bukan hanya situs

internet saja, namun melebihi hal tersebut. Sosial media saat ini sudah

menjadi ruang publik. Sosial media telah menjadi salah satu strategi digital

marketing yang ampuh. Ratusan juta orang mengaksesnya setiap hari. Sosial

media membuat proses pengenalan dengan konsumen menjadi lebih mudah

dibandingkan dengan biasanya. Dengan sosial media yang ada, difa bike dapat

mengetahui dengan jelas mengenai siapa saja konsumen mereka. Informasi ini

dapat memudahkan dalam proses branding dan promosi kepada target yang

tepat. Berdasarkan data per januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia

telah mencapai 79 juta jiwa dengan peningkatan 10% jika dibandingkan

dengan tahun 2018. 38 Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa

pemasaran melalui sosial media mampu menjangkau pasar yang luas namun

dengan biaya yang terjangkau, yaitu hanya dengan menggunakan akses

intenet.

38
UN, US, Census Bureau: APJII, Facebook, Intelligence

62
Untuk mengikuti perkembangan zaman dan melakukan alternatif yang

dapat dilakukan oleh anggota difa bike, kami memberikan pelatihan media

sosial untuk kemajuan anggotanya. Adanya pelatihan melalui media sosial ini

mengarah kepada perubahan, yaitu mampu memperkuat kemampuan

sumberdaya manusia pada komunitas difa bike. Pelatihan yang dilakukan di

harapkan mampu memperkuat komunitas difa bike dalam mengikuti

perkembangan zaman.

Dapat dikatakan bahwa, capacity building ini mampu membuat

adanya pengembangan dalam potensi kemampuan sumberdaya manusia yang

ada dalam komunitas difa bike, serta memberikan kekuatan organisasi dalam

komunitas difa bike. Kemampuan yang dimaksudkan disini adalah

kemampuan dalam memperbaiki sistem pemerintah yang tidak sesuai dan

perlu adanya perbaikan kebijakan. Tidak hanya itu, pengembangan capacity

building dalam kegiatan pelatihan media sosial ini dapat membantu mereka

dalam menghadapi perubahan lingkungan dan perkembangan jaman yang bisa

meruntuhkan tujuan yang telah di bentuk oleh komunitas difa bike.

Capacity Building memiliki kaitan dengan penguatan struktur

organisasi, Capacity Building merupakan sebuah proses pembelajaran yang

berkesinambungan untuk untuk melakukan pengembagan organisasi. Dalam

pengembangan komunitas Difa Bike, terdapat berbagai program yang

63
mendukung untuk terbentuknya Capacity Building, seperti pelatihan

pembuatan akun Youtube atau konten creator serta program bazar UKM.

Pelatihan yang kami lakukan adalah membangun penguatan organisasi

yang ada dalam komunitas difa bike. Untuk membentuk hal itu, kami

bekerjasama dengan Kominfo dan Youtuber untuk melakukan pelatihan

melaui media online. Kegiatan yang kami lakukan adalah pelatihan pemasaran

melalui media online seperti Instagram dan Whatshapp serta pelatihan

pembuatan video dan akun Youtube. Dalam kegitan pelatihan pembuatan

video dan akun youtube ini kami bersama difa bike, selain dilakukan untuk

memperkuat komunitas difa bike melalui akun youtube juga untuk

memberikan wawasan kepada anggota difa bike bahwa mereka juga bias

berkarya melalui video dengan konten-konten yang menarik yang bias mereka

buat. Kami berpartisipasi dalam kegiatan yang telah mereka rencanakan,

yakni pembuatan chanel youtube untuk komunitas difa bike.

Dalam capacity building yang perlu diperhatikan dalam suatu

organisasi adalah penguatan organisasi agar mampu mencapai keberhasilan

dengan menghadirkan perubahan yang sesuai dengan tujuan dan cita-cita yang

telah di susun oleh organisasi. Melalui social media Youtube diharap bisa

menghadirkan perubahan kerah positif untuk memerkuat organisasi difa bike.

Partisipasi yang menyeluruh sangat dibutuhkan bagi organisasi untuk

menjalankan program yang telah direncanakan dengan menekankan pada

64
komunikasi organisasi dan inisiatif dari orang-orang yang berada didalam

organisasi. Dengan begitu, kinerja pada organisasi pun akan berjalan sesuai

rencana. Dalam meningkatkan partisipasi, pemimpin diperlukan melakukan

pelatihan keterampilan bagi anggotanya.

Dapat disimpulkan bahwa, wawasan serta pelatihan untuk mengikuti

perkembangan jaman merupakan hal yang penting untuk membentuk

kekuatan organisasi dalam komunitas difa bike. Sosial media seperti Youtube

dapat membantu mengenalkan difa bike pada masyarakat luas, selain itu dapat

memancing konsumen baru yang sebelumnya tidak tahu mengenai difa bike.

Oleh karena itu, pembuatan chanel Youtube sebagai sarana informasi kepada

masyarakat penting untuk segera dilakukan sehingga dapat memperluas target

pasar serta dapat mengedukasi masyarakat mengenai disabilitas. Proses

tersebut terbentukpada tahap kegiatan yang dimulai dari perencanaan visi,

misi, dan strategi hingga pelaksanaan pembuatan akun Youtube serta

Instagram untuk berdagang. Penguatan organisasi ini di lakukan dengan

menggunakan konsep capacity building yang bertujuan untuk meningkatkan

kemampuan komunitas difa bike dalam menghadirkan perubahan system dan

lingkungan serta mengikuti perkembangan zaman.

Maka dapat dikatakan bahwa capacity building yang dijalankan

melalui kegiatan-kegiatan tersebut,mampu membuat adanya perkembangan

bagi komunitas difabike. Hal ini karena, dengan adananya pelatihan konten

65
kreator, komunitas difa bike dapat memperluas pasar penjualannya dari segi

promosi di media sosial youtube. pelatihan konten kreator media sosial

youtube ini, komunitas difabike mampu membuat adanya pengembangan

komunitas. Hal ini karena, pelatihan ini, selain membuat kapasitas sumber

daya manusia anggota komunitas meningkat namun juga membuat adanya

pembaharuan aktivitas komunitas yang bertumpu pada individu. Pembaharuan

kegiatan ini membuat kinerja komunitas bisa naik. Hal ini karena, mereka mencoba

melakukan membuka luas pasar melalui media yang belum pernah dijajah

sebelumnya yakni youtube. Dengan begitu, kekreativan, ide dan inovasi ini akan

hadir di dalam anggota komunitas difa bike.

Konten kreatif adalah kunci keberhasilan dalam menggunakan media

sosial sebagai metode marketing ataupun penyebaran informasi. Cara terbaik

yang dapat kami lakkan bersama difa bike untuk menarik perhatian konsumen

atau audience adalah dengan memberikan konten yang unik dan berbeda.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan antara lain, yaitu:

1) Membuat perencanaan. Mengenali konten apa yang akan

diunggah pada akun youtube, rencana yang dilakukan akan

dapat membantu melihat lebih jauh dan dapat mempersiapkan

berbagai keadaan.

66
2) Mengenali konsumen atau audience. Dengan mengetahui siapa

sasaran yang menjadi tujuan, hal tersebut akan memudahkan

kita untuk membuat konten.

3) Bekerja sesuai dengan bidang atau keahlian. konten yang akan

kami berikan tidak lepas dari proses edukasi masyarakat

mengenai disabilitas, pada saat ini masih terdapat banyak

diskriminasi yang terjadi terhadap disabilitas. Dengan adanya

konten tersebut diharapkan masyarakat luas mengetahui apa itu

disabilitas serta diskriminasi terhadap disabilitas dapat

dihilangkan.

Pameran atau bazar adalah kegiatan yang tidak asing bagu pelaku

UMKM, di kota-kota besar, kegiatan pameran UKM hampir diselenggarakan

setiap hari di berbagai tempat. Sampai saat ini, bazar atau pameran merupakan

salah satu cara yang efektif dalam pemasaran untuk menjaring banyak

konsumen. Bazar adalah sarana pemasaran yang tepat untuk mengenalkan

produk atau menjualnya kepada konsumen yang datang ke bazar. UMKM

sebagai sebuah bisnis tentunya tidak ingin melewatkan pameran atau bazar

yang sedang diadakan, termasuk difa bike. Banyaknya orang yang datang di

dalam pameran yang diadakan selama tiga hari tidak boleh diabaikan, buat

mereka tertarik mengunjungi stand serta memberikan sedikit pengenalan

mengenai produk yang dimiliki. Selain berguna sebagai pemasaran produk,

67
bazar juga dapat berguna sebagai survey pasar terkait dengan seberapa besar

peluang diterimanya produk oleh konsumen. Hal tersebut dapat terlihat

dengan seberapa banyak pengunjung yang datang untuk melihaat dan tertarik

dengan stand produk.

Maka dengan begitu, dapat dikatakan bahwa pelatihan dan bazar oleh

difabike dan UMKM ini mampu membuat kompetensi diri individu

meningkat. Kinerja, dan fikiran mereka diasah dengan adanya pembaharuan

yang menghindarkan keusangan komunitas atau organisasi. Dengan begitu,

pengembangan kapasitas organisasi atau capacity building mereka mampu

tercapai dengan didukung adanya kepemimpinan yang cakap, system dan

kebijakan yang sesuai serta kualitas SDM yang memadai,

68
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Media sosial tidak pernah lepas dari tangan orang-orang pada zaman

sekarang. Hal ini membuat semua masyarakat di semua lapisan mendapatkan

akses yang sama terhadap segala informasi yang ada. Di sisi lain, media sosial

mengubah juga cara masyarakat berinteraksi serta berdagang atau bertransaksi

jual beli. Media sosial yang hadir di tengah masyarakat menciptakan sistem

berdagang yang baru yaitu, online shop, sebuah sistem transaksi yang dilakukan

melalui media sosial. Sistem ini sangat mudah digunakan sehingga semua orang

dapat menggunakan sistem ini. Meskipun demikian, pengguna media sosial masih

banyak yang belum tahu bagaimana cara memulai sebuah usaha dengan

menggunakan sistem ini. Masyarakat pada umumnya masih harus memerlukan

pelatihan. Termasuk anggota dari komunitas difabike yang belum menguasai

media sosial dengan maksimal.

Maka, kami mengadakan pelatihan pemasaran melalui media sosial.

Kegiatan tersebut sebagai salah satu cara pemberdayaan bagi komunitas difabike.

Dalam kegiatan tersebut kami bekerjasama dengan KOMINFO. Hari pertama

69
membahas penggunaan Whatsapp dan hari kedua membahas Instagram yang

dapatpula digunakan sebagai media online shop.

Pemberdayaan komunitas difabike melalui media sosial, kami lakukan

juga dengan mengadakan pelatihan youtube bagi anggota komunitas difabike.

Dalam kegiatan tersebut kami mengundang seorang youtuber untuk mengisi

materi di pelatihan tersebut Kebetulan, difabike menginginkan adanya Channel

Youtube. Jadi, kami bekerjasama dengan difabike untuk membantu mengisi

konten Youtube.

Di sisi lain pelatihan YouTube dapat menjadi media mereka berbagi,

promosi, serta mengedukasi orang, serta menginspirasi orang lain. Tujuan akhir

dari pelatihan agar kreativitas mereka naik.

Kami mempunyai kegiatan tambahan yaitu Kegiatan bazar bersama

UMKM. Kegiatan bazar UMKM yang kami lakukan bersama mereka juga salah

satu cara pemberdayaan tambahan. Karena penjualan secara online terkadang

membutuhkan penjualan secara offline pula.

70
B. Rekomendasi

Untuk pengembangan lebih lanjut, maka peneliti memberikan

rekomendasi kepada anggota komunitas Difa Bike agar dapat menggunakan

Youtube untuk konten edukasi, serta dapat pula digunakan sebagai media promosi

ojek Difa Bike. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan kepada komunitas

Difa Bike untuk mengoptimalkan penggunaan Chanel Youtube mereka.

Komunitas difabike ini unik. Harapan kami mereka dapat menunjukkan keunikan

menjadi keunggulan tersendiri dalam media sosial Youtube.

71
DAFTAR PUSTAKA

Alam, Andi Samsu dan Ashar Prawitno; Pengembangan Kapasitas Organisasi dalam
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten Bone

Anggraini, Auliya Tri , “Inovasi pelayanan public bidang transportasi untuk


penyandang disabilitas oleh difa city tour Yogyakarta”. 2016. Yogyakarta
Dewi, Sugi Rahayu, Utami . “Pelayanan Public Bagi Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas
Di Kota Yogyakarta”. September 2013, Vol. 10 No. 2, Hal 108-119. Jurnal
Ilmu-Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta
Fahmi, Irham ; Perilaku Organisasi Teori, Aplikasi dan kasus , tahun 2014

Gitosudarmo, Indriyo dan Nyoman Sudita ; Perilaku Keorganisasian, 2014


Haryanto, Mohammad Tri , Pemanfaatan Media Internet oleh Anak Penyandang
Disabilitas Netra di SLB-YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Buta) di Kota
Surabaya.
Ignatius,,Hargyo Tri Nugroho . “Meta Analisis Platform Media Digital Ramah
Penyandang Disabilitas”. Jurnal Lugas Vol. 2 No. 2 Desember 2018.
Indrioko, Erwin dan Ulfa Rhomaisha Basar; Pengembangan Kapasitas (Capacity
Building) Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Kinasih, Shahnatria Putri , Self-Dsclosure Difabel Dalam Media Sosial. Program
Study Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Dan Informatika.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2017.
Mutiah, Azmi Anti “Peran Komunitas Sahabat Difabel Dalam Pemenuhan Hak
Ketegakerjaan Penyandang Difabel Kota Semarang”. Ilmu Pemerintah Fisip
UNDIP, Semarang.
Nastiti, Aulia Dwi “Identitas Kelompok Disabilitas Dalam Media Komunitas
Online”. Dept. Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.
Desember 2012.
Presiden RI, UU. No 8 tahun 2016.

Putra, Imam Radianto Anwar Setia Dan Dida Suhada Iskandar; Peningkatan
Kapasitas Organisasi Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP)
Kementerian dalam Negeri.

72
Rachmawati, Annisa Mustika ; Capacity Building Organisasi dalam Pelayanan
Kesehatan di Puskesmas Pucang Sewu Kota Surabaya.
Said, Rahmad , “Analisis Data Kualitatif Model Miles Dan Hubermas”. Pasca
UMS.2011.
Setyaningsih, Setyaningsih Dan Th. A. Gutama, “Pengembangan Kemandirian Bagi
Kaum Difabel”. Jurnal Sosiologi DILEMA, Vol. 31, No 1 Tahun 2016.
Sholehah, Iffatus, Pemberdayaan Difable Melalui Asset Based Approach. Jurnal
Pemberdayaan Masyarakat , Vol. 1 No 1 (2017), ISSN: 2580-863X. Staff
Administration Of Finance Swasta Pendidikan Dan Pelatihan Edukasia,
Yogyakarta.
Taqwiyah, Siti ; Manajemen Capacity Building Dalam Sistem Satu Atap Untuk
Peningkatan Mutu Pendidikan.
UN, US, Census Bureau: APJII, Facebook, Intelligence

Warsito, 2003:4 dalam Syifa Dwihastari; Analisis Pengembangan Kapasitas


Kelembagaan Pada Badan Kepegawaian, Pendidikan, Dan Pelatihan Kota
Semarang.
www.kependudukan.jogjaprov.go.id diakses pada 22 desember 2018

http://www.bcc.com/indonesia/majalah/2016/08/160829_majalah_ojek_difabel

http://bpsdm.kemenkuham.go.id/id/artikel-bpsdm/35-capacity-building-dan-strategi-

peningkatan-kualitas-sdm-organisasi ditulis oleh Eka Ari Wibawa; diakses pada 16

mei 2019

Wawancara Bapak Triyono sebagai kepala Difa Bike, 12 Oktober 2018.

wawancara dengan Bapak Pee sebagai staff Difa Bike, 12 Oktober 2018.

73
LAMPIRAN

A. Catatan Harian

Observasi ke-1

Observasi pertama kami ke difa bike untuk melakukan kegiatan


pengembangan masyarakat ini adalah pada Tanggal 20 Maret 2019, sebenarnya ini
bukan kali pertama kami observasi ke difabik. Karena sebelum kegiatan ini kami
sudah pernah melakukan kegiatan di difa bike. Observasi pertama ini salah satu
anggota kelompok kami tidak bisa datang, yaitu Aji. Dikarenakan dia ada kegiatan
yang tidak bisa di tinggalkan dan hanya Dheyana, Umar, Tari Muhib dan luvi yang
bisa datang. Seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, sebelum kita kekantor difabike
kita menghubungi mas tri untuk memberi tau kalau kami mau kekantor. Pada pukul
13:00 kami samapai di kantor, dan tentu saja sudah di tunggu oleh mas Tri karena
kita sudah janjian. Observasi pertama ini bukan pertemuan pertama kami dengan mas
Tri, jadi kami tidak perlu lagi memperkenalkan diri. Pada observasi pertama ini kami
hanya berbincang-bincang soal rencana mas Tri ingin membuat Akun Youtube untuk
difabike.

Observasi ke-2

Observasi kedua pada tanggal 5 April 2019 kami datang ke kantor difa bike
pada pukul 13:00 WIB. Di hari kedua ini kami mengantar surat dari Fakultas untuk
ijin melakukan kegiatan Pengembangan Masyarakat. Di observasi ke dua ini Aji dan
Muhib berhalangan hadir. Seperti yang sudah-sudah Mas Tri sebagai ketua difabike
selalu welcome dengan kegiatan yang akan kami lakukan. Sebelum kami datang yang
keduakalinya untuk melakukan kegiatan ini, kami sudah menentukan untuk
melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh difabike. Kami
langsung bebicara dengan mas tri untuk meminta pendapat serta saran tentang

74
kegiatan yang akan kami lakukan yaitu pelatihan media online. Tanggapan mas Tri
disini sangat setuju dengan kegiatan yang akan kami lakukan. Bahkkan dia juga
banyak memberikan saran-saran terutama kerjasama dengan KOMINFO. Setelah
dirasa perbincangan kami cukup dan ijin kegiatan yang akan kami lakukan di terima
dengan baik. Kami langsung pamit untuk pulang.

Obsevasi ke-3

Di observasi ketiga ini semua anggota kelompok kami bisa hadir. Kami
datang pada pukul 09:00 untuk melakukan FGD. Kami datang tepat waktu sesuai
perjanjian deng mas Tri. Disana kami ternyata sudah di tunggu oleh Mas Tri,
pengurus difabike dan beberapa anggota. dalam observasi ketiga kali ini kami
melakukan FGD dengan pengurus dan anggota difa bike untuk memastikan program
kerja yang sudah kami bicarakan dengan mas Tri pada saat observasi sebelumnya.
Kami langsung saja menyampaikan kegiatan_kegiatan yang akan di lakukan. Tentu
saja kami hasrus menerima banyak saran agar kegiatan yang kami lakukan dapat
bermanfaat, tidak sia-sia dan menjadi formalitas saja. Di karenakan sebelumnya
sudah ada keinginan dari mas Tri untuk membuat Akun Youtube yang sudah di
sampaikannya kepada kami sebelum ada kegaiatan ini. Maka kami sepakat salah satu
kegiatan yang akan kami lakukan adalah pelatihan tentang Youtube.

Setelah kami mengobrol dengan pengurus dan anggota difa bike. Ternyata
dari sebagian aggota difabike, istri atau keluarganya mempunyai produk buatan
sendiri. Produk produk yang mereka buat berupa kerajinan tangan dan makanan.
Setelah meminta pendapat kami sepakat untuk memberikan pelatihan kepada anggota
difabike dan keluarganya tentang pemasaran melalui media online. Dikarenakan
ternyata mereka belum bisa untuk melakukan penjualan secara online. Dalam
kegiatan ini kami ingin melibatkan KOMINFO seperti saran yang kami dapat dari
Mas Tri.

75
Setelah mendapat kesepakatan tentang kegiatan yang akan dilakukan kami
bersama pengurus dan anggota difabike langsunng merumuskan kapan kegiatan itu
akann di lakukan. Pada pukul 13:00 kami pamitan untuk pulang.

Observasi ke-4

Di observsi ke empat ini kami datang untuk melakukan pendataan tentang


jumlah anggota yang akan ikut kegiatan. Baik itu kegiatan dengan kominfo ataupun
kegiatan pelatihan Youtube. Setelah kami mendapatkan data peserta yang akan
mmengikuti pelatihan, di karenakan pelatihan Youtube akan diadakan tanggal 11 mei
dan bertepatan dengan bulan puasa. Maka setelah kegiatan pelatihan Youtube kami
bersama difa bike juga melakukan kegiatan buka bersama.

Observasi kali ini kami juga membahas tentang kerja sama dengan
KOMINFO, yang ternyata Mas Tri sudah sering melakukan kerja sama dengan
Lembaga ini. Kita dapat kemudahan untuk melakukan kerja sama dengan
KOMINFO. Karena dari pihak difa bike hanya perlu menghubungi mereka ketika
ingin melakukan kerja sama. Sehingga kami tidak perlu membuat proposal tentang
kegiatan yang akan kami lakukan. Saat itu juga Mas tri langsung menghubungi pihak
KOMINFO untuk menyampaikan kegiatan yang akan kami lakukan dengan difbike.
Allhamdulillah saat itu juga pihak KOMINFO menerima dengan baik dan mau
bekerja sama untuk melakukan kegiatan pelatihan media online untuk pemasaran
produk-produk orang disabilitas ini. Setelah mendapatkan tanggal dari KOMINFO
kita meminta bantuan dari pihak difa bike untuk memberi informasi kepada peserta.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB, seperti biasa di karenakan


maksud dan tujuan kami sudah tersampaikan dan sudah mendapatkan kepastian
tentang kegiatan yang akan dilakukan. Kami pamit untuk pulang.

Observasi ke-5

76
Di observasi ke lima ini adalah hari kegiatan kami bersama kominfo dan
difabike. Keggiatan tangga 19 April 2019 kasinya yaitu di kantor KOMINFO
Yogyakarta. Pelatihan bersama kominfo ini di mulai pukul 09:00 WIB. Sesuai
dengan instruksi dari musyawarah sebelumnya kami datang lebih awal untuk
membantu perisapan yaitu jam 08:30 dan anggota difabike menjemput peserta untuk
datang ke tempat pelatihan dengan pembagian yang sudah di instruksikan oleh mas
Tri. Saat kami datang dengan niatan untuk membantu persiapan ternyata tempat
untuk pelatihan sudah tertata dengan rapi dan siap untuk di gunakan. Jumlah peserta
pelatihan kali ini sekitar 20 orang akan tetapi yang datang lebih dari 20 orang. Di
karenakan kegiatan pelatihan kali ini tidak hanya di peruntukan bagi anggota difabike
dan keluarganya saja. akan tetapi penyandang disabilitas lainya di perbolehkan ikut.

Pukul 08;50 peserta sudah mulai berdatangan. Kami ikut membantu mereka
untuk menuju ke tempat pelatihan. Dikarenakan sebagian dari mereka menggukan
kursi roda dan ada juga yang tidak bisa melihat. Pelatihan kali ini adalah tentang
media online Whatshapp. Dan pelatihan di mulai sesuai jadwal.

Kegiatan yang dilakukan kali ini kami sangat terbantu oleh KOMINFO.
Dikarenakan tempat. Fasilitas dan makanan sudah di sediakan semua oleh
KOMINFO. Bahkan kami tidak mengetahui sebelumnya kalau peserta pelatihan ini
mendapatkan uang sebesar Rp. 50.000 setiap orangnya dari pihak KOMINFO. Acara
berlajalan dengan lancar dan selesai pada pukul 12:00 WIB. Kami dan semua peserta
pun pamit pulang.

Observasi ke-6

Ini adalah kegiatan kedua kami bersama kominfo dan difabike. Tanggal 23
April untuk pelatihan kedua ini masih melanjutkan pelatihan sebelumnya, yaitu
tentang pemasaran produk melalui media online. Masih sama dengan jadwal
sebelumnya yaitu pelatihan di mulai pukul 09:00. Untuk pelatihan kali ini kami
datang tepat waktu yaitu sebelum acara dimulai. Media online untuk pemasaran yang

77
diajarkan kali ini adalah tentang Instgram.dimana mereka diajarkan untuk membuat
akun olshop khusus untuk produk mereka sendiri, yang kemudian di sangkutkan
dengan whatshapp sebagai alat komunikasi yang sudah diajarkan pada pelatihan
pertama.

Peserta sangat berantusias dalam kegiatan pelatihan ini. Namun di karenakan


masih banyak dari mereka yang belum mengetahui Instagram. Maka banyak yang
kebingungan untuk membuat akun. Namun semua itu dapat teratasi dengan bantuan
dari pihak KOMINFO dan dari anggota kami yang ikut membantu.

Tapi di pelatihan kali ini ada yang berbeda karena mas Tri sedang ada liputan
dari SCTV. Jadi di ruang kegiatan ada kru dari SCTV yang meliput kegiatan maas Tri
sebagai ketua difabike untuk SCTV AWARD. Pelatihan kali ini sama dengan pelatihan
sebelumnya. Kami dan peserta mendapat makan nasi kotak dari KOMINFO dan juga
uang sebesar Rp.50.000.

Pukul 11:30 kegiatan pelatihan sudah selesai. Namun kerja sama dengan
KOMINFO akan tetap di lanjukan dengan tujuan nantinya bisa membentuk UMKM
untuk para penyandang disabilitas ini. Akan tetapi di kegiata atau pelatihan
selanjutnya kami tidak berperan penuh. Melainkan sudah di lanjukan oleh difabike
dan KOmminfo sendiri. Namun setiap kegiatan yang akan di lakukan nanti dengan
kominfo kami pasti akan di beritau dan kami masih bisa ikut berperan di dalamnya.

Obsevasi ke-7

Kali ini kegiatan yang kami lakukan adalah membantu pembuatan video
untuk akun youtube difabike. Dikarenakan mas Tri mendapat undangan menjadi
dosen umum di Universitas Respati Yogyakarta kami bersama mas tri sepakat untuk
membuat video sebagai cadangan untuk di uploud nantinya setelah akun youtubenya
jadi.

78
Dalam pembuatan video ini hanya muhib dan temannya yang bisa datang
untuk membuat video bersama Mas Tri. Di karenakan muhib dan temannya yang
paham tentang pembuatan video dan teman-teman yang lain juga kebetulan sedang
ada kegiatan.

Hari itu muhib dan temannya datang lebih awal untuk menggambil video
terlebih dahulu di kampus 2 fakultas ilmu kesehatan. Pada pukul 08;45 mas tri datang
bersama dosen UNIRYO menggunakan mobil kampus. Disitu kami langsung
membuat vlog dari awal mas Ti datang kemudian pada saat perkuliahan berlangsung
dan sampai mas Tri naik mobil lagi untuk berangkat pulang.

Disitu mas Tri langsung meminta ijin kepada osen yang mengundang dia
untuk membuat video vlog. Tenyata tanggapannya sangat baik, kita di perbolehkan
untuk membuat video dari awal sampai selesai. Kegiatan perkuliahan saat itu mas tri
sebagai narasumber atau dosen umum juga menampilkan video yang pernah kami
buat saat kegaiatan bakti sosial pada kegiatan PAR sbelumnya. Disitu mas tri
mengajak mahasiswa untuk juga ikut serta dalam kegiatan bakti sosial yang akan di
lanjutkan selanjutnya.

Kegiatan perkuliahan saat itu juga di isi hiburan musik setelah penyampaian
materi selesai. Tentu saja kami tidak lupa mengabadikan moment saat bernyanyi
bersama untuk dokumentasi video di youtube. Kemudian kegiatan ditutup dengan
sesi foto bersama.

Setelah acara selesai kami tetap membuat video vlog sebagai penutup juga
untuk video yang akan kami buat. Pukul 12:00 acara selesai kami dan mas Tri pamit
pulang dan ternyata kami di kasih nasi kotak oleh pihak kampus.saat pulang kami
tidak ikut dengan mas Tri, karena kami membawa sepeda motor sendiri dan mas Tri
diantar dengan mobil oleh pihak kampus UNIRYO.

Obsevasi ke-8

79
Pada tanggal 25 April 2019 kami dengan UMKM melakukan bazar untuk
mempromosikan hasil produksi rumahan mereka. Kegiatan bazar ini dilakukan di
daerah Nol KM Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan dalam tiga hari yaitu dari hari
Jum’at hingga hari Minggu. Kegiatan bazar ini berjalan dengan lancar. Menu yang
tersedia berupa produksi rumahan seperti minuman, kue brownis, bakpia, yangko,
dan sebagainya.

Kegiatan bazar ini dimulai dari jam 08.00 hingga jam 17.00. Untuk persiapan
alat-alat yang dibutuhkan seperti stand, sound sistem, tenda sudah dipersiapkan oleh
komunitas UMKM. Pada hari minggu kami datang pada pukul 11.00. Sesampainya
disana kami dismbut baik oleh Pak Teno selaku ketua UMKM. Disana kita
membantu memproposikan dangangan mereka. Kami juga banyak berbincang tentang
pemeberdayaan UMKM khususnya untuk penyandang disabilitas.

Dalam kegiatan bazar ini tidak sepenuhnya yang membuka stand dari anggota
disabilitas saja akan tetapi kebanyakan yang membuka stand dari kalangan orang
yang normal. Hal ini terjadi karena penyandang disabilitas itu memiliki kemampuan
fisik yang terbatas. Sehingga jika untuk berdiri dan membuka stand yang lama
kondisi fisik mereka kurang memungkinkan. Mereka hanya bisa membuka stand dari
pukul 08.00 hingga pukul 12.00.

Observasi ke-9

Pada tanggal 9 mei 2019 kami datang ke kantor difabike untuk membahas dan
memperisiapkan kegaiatan pelatihan content creator youtube dan buka bersama.
Semua nggota kami bisa datang saat itu. Kami datang pada pukul 09:00 WIB dan
seperti biasa sudah di tunggu oleh Mas Tri.

Saat itu kami langsung saja ke pembahasan tentang acara yang akan di
lakukan. Dikarenakan ada kegiatan buka bersama maka kami sepakat memasak
sendiri. setelah musyawarah kami mendapat kesepakatan yaitu pelatihan conten
creator Youtube ini akan ada sertifikat baik untuk peserta, panitia dan pemateri.

80
Kamudian acara akan dimulai pada pukul 15:00 WIB dan selesai pada pukul 17;00
WIB. Kemudian kegiatan akan dilanjutkan dengan hiburan musik akustik sambal
menunggu waktu buka puasa. Setelah di rasa persiapan sudah beres kami pamit
pulang pada pukul 13:00 WIB.

Observasi ke-10

Observasi kali ini kami datang hanya dua orang yaitu Muhib dan Tari, di
karenakan keperluan kali ini hany meminta tanda tangan mas Tri di sertifikat. Kami
datang pada pukul 15:00 setelah perkuliahan di kampus selesai. Setelah meminta
tanda tangan ternyata mas tri dan muhib sudah ada janji untuk menginstal aplikasi
edit video yaitu Adobe Premier Pro cc 2016 yang nantinya akan di gunakan oleh
anggota difabike untuk mengedit video yang akan mereka buat.

Setelah selesai menginstal aplikasi kami sedikit membahas tentang opening


youtube difabike yang rencananya akan di buat di London oleh mas Tri. Isi video
opening tersebut rencananya akan membandingkan tentang perbdaan transportasi
ramah difabel di London dan Indonesia. Jadi video yang kami buat sebelumnya
tentang kuliah umum kameren akan di uploud setelah video opening di London ini
jadi.

Observasi ke-11

Pada hari sabtu tanggal 11 Mei 2019. Pada hari ini kami mengadakan kegiatan
pelatihan pembuatan konten Youtube di kantor Difabike. Kita berangkat ke lokasi
pelatihan dari pukul 11.00. akan tetapi sebelum kita berangkat, kita belanja kebutuhan
yang diperlukan seperti kertas sertifikat dan juga bahan untuk buka bersama. Karena
kegitan hari ini tidak hanya pelatihan saja melainkan dilanjutkan dengan buka
bersama. Setelah bahan sudah terkumpul pukul 11.00 kita berangkat ke kantor
Difabike. Kita sampai dikantor Difabike sekitar pukul 12.00, kita langsung menemui
Mas Tri untuk arahan kegiatan ini.

81
Setelah berdiskusi ringan dengan Mas Tri dan juga pengurus lainnya,
kelompok kita membagi tugas. Ada yang bertugas untuk menyiapkan makanan buka
puasa dan ada yang mempersiapkan tempat pelatihan. Untuk lokasi memasak ada
dirumah Deyana, jarak kantor Difabike ke rumah Deyana memerlukan waktu sekitar
15 menit. Disini yang mempersiapkan makanan Tari dan Deyana. Untuk kelompok
kita yang lainnya bertugas untuk mempersiapkan setting lokasi pelatihan.

Pada pukul 15.30 sudah banyak peserta pelatihan yang hadir. Dalam pelatihan
ini kami mengundang 20 peserta, akan tetapi pada kenyataannya ada 35 orang yang
hadir. Hal ini dikarenakan mereka sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan ini.
Sebelum kegiatan dimulai dan sambil menunggu pemateri datang, kekosongan ini
diisi oleh akustik dari Al-Mizan. Mereka membawakan lagu-lagu religi sesuai dengan
bulan Ramadhan. Lantunan irama lagu yang dibawakan mereka diikuti oleh peserta
pelatihan mereka menunjukkan wajah baghagia dengan mengikuti setiap lirik lahu
yang diucapkan.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 ini menunjukkan bahwa kegiatan sudah


akan dimulai. Pemateri juga sudah datang dan mempersiapkan diri. Sebelum
pembicara menyampaikan materinya, terlebih dahulu ada sambutan dari ketua
komunitas Difabike. Setelah itu baru dilanjut dengan penyampaian materi tentang
pembuatan konten Youtube. Disini pemateri menyampaikan materi selama 30 menit.
Dan untuk sesi tanya jawab 30 menit juga. Akan tetapi, sesi tanya jawab dengan
diberi waktu 30 saja kurang, karena banyak dari anggota Difabike yang bertanya
tentang konten di Yotube. Mereka sangat berkesan dengan pelatihan ini dan meminta
untuk diadakan pelatihan lagi. Bahkan mereka meminta langsung kepada pemateri
untuk dilatih membuat Vlog yang baik.

Sesi pelatiah ini berakir pada pukul 17.20. Sambil mempersiapkan hidangan
buka puasa acara ini diisi lagi dengan lagu-lagu akustik dari Al-Mizan. Dalam
mempersiapakan hidangan buka puasa juga dibantu dari anggota komunitas Difabike.

82
Setelah tiba waktunya berbuka puasa kita duduk bebarangen serambi menyantap
hidangan buka puasa. Disini sangat terasa hangatnya kekeluargaan dan silaturahmi
yang kuat.

Observasi ke-12

Tanggal 13 Mei 2019 kami datang lagi ke kantor Difabike. Hari itu kami
datang untuk berpamitan. Kami datang datang lengkap satu kelompok pada pukul
13;25. Waktu itu kami sudah menghubungi mas Triono bahwa kami mau datang
pukul satu. Sesampainya disana kami sudah di tunggu oleh mas Tri dan kami
langsung di persilahkan masuk. Tanpa basa-basi yang lama seperti biasanya, kami
langsung menyampaikan maksud kedatangan kami waktu itu yaitu berpamitan.
Ucapan terimakasih dan maaf kami kepada semua anggota selama kegiatan sangat di
terima dengan baik.

Hari itu niat kami untuk berpamitan berahir dengan perbincangan yang tidak
begitu formal. Pada pukul 15:00 kami berpamitan untuk pulang, namun sebelum
pulang kami sempat mendapat pesan dari mas Tri dan anggota difabike untuk jangan
lupa mampir / main ke tempat mereka lagi lain waktu.

B. Interviw Guide (Pedoman Wawancara)


1. Bagaimana keadaan komunitas Difa Bike di Dusun Patangpuluhan?
2. Bagaimana keadaan masyarakat di sekitar kantor Difa Bike?
3. Bagaimana struktur pada komunitas Difa Bike?
4. Apa saja kontribusi komunitas?
5. Apa metode yang digunakan dalam kegiatan di komunitas Difa Bike?
6. Apa saja program yang dilaksanakan oleh komunitas Difa Bike?
7. Siapa saja yang mendukung kegiatan di komunitas?
8. Bagaimana peraturan yang ada di komunitas Difa Bike?
9. Kapan kegiatan komunitas melibatkan masyarakat di dalamnya?

83
10. Apakah komunitas Difa Bike sering kekurangan tenaga kontribusi dalam
melaksanakan kegiatan?

C. Transkip Wawancara
A = mas Tri

B = Kami/ Luvi

Chat Whatsapp

B: Assalamualaikum, selamat pagi mas Tri. Aku sama temen-temen mau ketemu
mas, mas ada waktu kapan ya?

A: Aku ada waktu besok …, Gimana?

B: Oh, Ok mas, kira-kira jam berapa ya mas?

A: Jam satuan.

B: Ok Mas makasih

Di kantor difabike

B: Assalamualaikun, (di depan pintu)

A: waalaikumsalam, ayo masuk-masuk.

B: Iya mas, misi

A: Ada apa nih, Tumben kemari? Gimana kabarnya nih?

B: Kami cuma mau silaturahmi, baik mas alhamdulilah.

A: Ayo, ngomong aja, kalian ada keperluan apa?

B: Sebenernya, kami ada tugas lagi dari kampus mas, ya masih ada hubungannya
sama yang kemarin. Tapi, untuk apa yang mau kami lakukan bersama difabike
sebaiknya, kita diskusikan pertemuan selanjutnya aja mas.

84
A: Gambaran umumnya dulu kalo gitu.

B: Gini mas, kita bahas aja tentang rencana mas Tri soal akun youtube buat difabike.

(1 jam kemudian)

B: Ya, kita pamit dulu mas, maaf telah mengganggu waktunya, soal kegiatan apa
yang akan kami lakukan, kita akan bahas lebih detail di pertemuan kita selanjutnya.
Kira-kira mas selo lagi kapan?

A: O ya sudah, kalo gitu kalian hati-hati ya! Nanti kita kontak-kontakan lewat
Whatsapp dulu aja

B:, oh ok, terima kasih mas, Assalamualaikum

A: Waalaikumsalam

Wawancara berikutnya

B: Assalamualaikum, permisi mas.

A: Waalaikumsalam, ayo silakan duduk-duduk, itu aqua jangan lupa diminum.


Gimana? Muhib dimana?

B: Iya mas, makasih. Muhib lagi berhalangan mas, jadi nggak bisa ikut. Gini mas
menyambung obrolan kita sebelumnya soal tugas dari kampus yang mau kami
lakukan. Kami punya ide gimana kalua kita adain pelatihan media online. Gimana
menurut mas? Kami masih butuh masukan

A: Bagus ide kalian, soalnya itu yang difabike butuhin, apa lagi, kalian tahu sendiri
ada rencana soal Youtube difabike. Biar lebih mantap gimana kalau kalian kerjasama
dengan KOMINFO?

85
B: Kerjasama dengan KOMINFO mas, hem boleh juga tapi gimana caranya mas?
Kayaknya susah mas buat nyari koneksinya.

A: Tenang, aku ada ada koneksi di sana.

B: Ok mas, makasih. Ini surat izinnya mas, sekalian kami pamit dulu ya mas.
Assalamualaikum

A: Waalaikumsalam, Ok ku terima ya suratnya, hati-hati ya kalian.

86
Wawancara saat FGD

A = Mas Tri

B = Kami

C = Anggota difabike

B: Assalamualaikum, permisi mas Tri. Sesuai dengan janjian kita di Whatsapp, hari
ini kita akan melakukan FGD

A: Waalaikumsalam, kalian duduk dulu, sambil nunggu driver-drivernya dateng, itu


baru beberapa di belakang.

B: iya mas makasih. (sambal duduk)

(Beberapa driver masuk)

C: Permisi mas, maaf baru dateng, mba-mba sama mas-mas mahasiswanya udah
dateng?

A: Nggak papa, itu mereka (nunjuk ke arah kami) (waktu itu kami duduk di sudut
ruangan yang agak tersembunyi dari depan.

B: Eh Mas (ngangguk senyum)

C: Mas, Mba, Apa kabar? Lama nggak ketemu.

B: Baik mas, masnya gimana?

C: Apik mas (baik mas)

A: Kita tunggu yang lain lagi ya,

B: Iya mas.

87
(15 Menit kemudian) Acara dimulai dengan sambutan dari mas Tri. Kemudian mas tri
mempersilahkan kami)

A; Silahkan sekarang giliran kalian ngomong.

B: Baik mas, makasih. Sebelumnya assalamualaikum wr.wb apa kabar semuanya.


Oke langsung saja maksud kedatangan kami ke sini pagi ini adalah melakukan FGD,
kami ada tugas lagi dari kampus tapi agak beda yang kemarin. Kalo yang kemarin itu
PAR. Sekarang pengembangan masyarakat, intinya sama sih, harus membuat
masyarakat itu berpartisipasi dan kegiatan yang nantinya dilakukan bisa berguna
untuk kalian kami memilih di sini lagi supaya gampang.

C: Oh ya mas terima kasih masih mengingat kami. Kira-kira kegiatan apa yang akan
kita lakukan?

B: Berdasarkan, yang kami bicarakan sama mas Tri sebelumnya, kami ada ide buat
melakukan kegiatan pelatihan media social agar media social digunakan untuk
produktivitas. Tapi kami masih membuka berbagai saran dari kalian mas.

A: gimana kalau pembuatan akun youtube juga dimasukan? Untuk kegiatan kalian.

B: Boleh mas, jadi kami akan melakukan pelatihan tentang Youtube di sini.

C: Usul mas- mba,

B: Silahkan Mas. Malah bagus mas.

C: Jadi gini beberapa istri dari anggota difabike itu punya usaha kerajinan tangan dan
makanan kecil- kecilan, tapi belum banyak yang beli. Kira-kira mas-mas, dan mba-
mba bisa bantu gimana penjualannya.

B: Usul yang menarik mas, gimana kalau pemasarannya melalui media online saja
mas

C: Tapi mba, kami kurang menguasai media social.

88
A: Gimana kalau kalian kerjasama sama KOMINFO?

B: Boleh mas.

A: Sebenernya aku sering kerjasama dengan KOMINFO, Tenang.

B: Alhamdulillah.

(Perbincangan berlanjut, setelah dirasa sudah cukup kami berpamitan)

D. Foto- Foto

89
(Acara dengan KOMINFO)

90
(Acara di Universitas Respati)

91
92
93
(Acara Pelatihan Youtube)

94
F. Data Diri

Nama Witdayat Umar


TTL pekanbaru, 18
Januari 1998
Alamat Ds. kandangan, kec.
Purwodadi, kab.
Grobogan

Riwayat SD N 1 kandangan
Pendidikan SD Pagaruyung,
MTS Asy-Syarifah
Man Purwodadi
UIN Sunan
Kalijaga
Organisasi
Hobbi Read Manga
Read Light Novel
Watch Anime
Motto Aku akan menjadi
raja bajak laut

95
Nama Deyana Tasya
Aulia
TTL yogyakarta 4
mei 1998
Alamat karangjati,
tamantirto,
kasihan bantul
Riwayat SD
Pendidikan Muh.Tegalrejo
MTsN 1
yogyakarta,
SMA Negeri 1
Gamping
UIN Suka
Organisasi
Hobbi Olahraga
Motto Semangat
meraih ilmu

96
Nama Sutariyanti
TTL Gunungkidul, 26
November 1997
Alamat karambil, Girisekar,
Panggang,
Gunungkidul
Riwayat SD NEGERI Girikarto
Pendidikan SMP Negeri 2
Panggang
SMA Negeri 1
Panggang
UIN SUKA
Organisasi IMG ( IKATAN
MAHASISWA
GUNUNGKIDUL)
KNPI (Komite
Nasional Pemuda
Indonesia)
HMI (Himpunan
Mahasiswa Islam)

Hobbi Makan
Motto Waktu adalah Ilmu

97
Nama A. Mauhiburrohman

TTL Magelang, 01 September


1998
Alamat Gejagan, Sidorejo,
Tegalrejo, Magelang
Riwayat Mi Yakti Sidorejo
Pendidikan Mts Yakti Tegalrejo
MAN 1 Magelang
Organisasi KARISMA ( Keluarga
Besar Mahasiswa
Magelang )
KAMMAKARTA
( Keluarga Mahasiswa
Magelang seYogyakarta )
HMPS ( Himpunan
Mahasiswa Program Studi )
Al-Mizan UIN Sunan
Kalijaga.
Hobbi Photography &
Videography
Motto Jika kau tak mampu
bahagikan orang lain maka
bahagiakanlah dirimu sendri

98
Nama Luviana Safitri

TTL Tugu Papak, 20 Juni


1998
Alamat Sukajaya, Kecamatan
Semaka, Kabupaten
Tanggamus, Prov.
Lampung
Riwayat TK Nurul Hidayah
Pendidikan Tugupapak, Lampung
SDN 1 Tugupapak,
Lampung
SMP N 1 Sukaraja,
Lampung,
MA Al- Ma’ruf
Margodadi, Lampung
Organisasi OSIS
HMPS
HMI
Hobbi Membaca
Motto Berdamailah dengan
diri sendiri, setelah itu
akan damai hidupmu

99
Nama Aji Nur Avianto
TTL Sleman, 07 Juni 1996
Alamat Karanglo,
Pondokrejo, Tempel,
Sleman
Riwayat SD Negeri
Pendidikan Glagahombo 1
SMP N 3 Tempel
SMA N 1 Sleman
Organisasi PPDI Tempel

Hobbi Nonton Kamen Rider


Belajar Bahasa Asing
Nonton Anime
Motto Mendobrak dunia
dengan pengetahuan.

100