Anda di halaman 1dari 2

Tatalaksana

Hiperkalemia di
Instalasi Gawat
Darurat
Kondisi hiperkalemia adalah kegawatdaruratan medik yang
harus mendapat perhatian khusus dokter Instalasi Gawat
Darurat. Hiperkalemia berpotensi menyebabkan mortalitas
karena berhubungan dengan komplikasi aritmia dan henti
jantung.
Pada hiperkalemia jika diterapi dngan adekuat akan sembuh. Pada
pasien dengan kadar kalium mencapai 7-8 meq/L memiliki risko menjadi
fibrilasi ventrikel sampai 5%, sedangkan jika kadar kalium 10 meq/L risiko
menjadi fibrilasi ventrikel meningkat hingga 90%. Pada kasus berat risiko
mortalitas sebesar 67%.

1. Pengobatan penyebab dasar


2. Pembatasan asupan kalium: menghindari makanan yang mengandung
kalium tinggi
3. Pengecekan ulang kadar kalium 1-2 jam setelah terapi untuk menilai
keefektifan terapi dan diulang rutin sesuai kadar kalium awal dan gejala
klinis
4. Akut: rapid correction
o Kalsium glukonat intravena: untuk menstabilkan otot jantung
akibat hiperkalemia, mencegah aritmia. Dosis: 1-2 ampul, bolus
pelan 20-20 menit
o Glukosa dan insulin intravena: untuk memindahkan kalium ke
dalam sel, dengan efek penurunan kalium kira-kira 6 jam. Dosis:
insulin 10 unit dalam glukosa 40%, 50 ml bolus intravena, lalu
diikuti dengan infuse Dekstrosa 5% untuk mencegah hiperkalemia.
Cek kadar kalium 1 jam kemudian.
5. Pemberian B2 agonis albuterol: untuk memindahkan kalium ke dalam
sel, mendukung efek insulin. Dosis 10-20 mg secara inhalasi maupun
tetesan intravena.
6. Furosemid: untuk meningkatkan ekskresi kalium lewat ginjal.
Mengurangi total body kalium. Dosis: 20-40 mg iv.
7. Dialisis: untuk membuang kalium dari tubuh paling efektif.