Anda di halaman 1dari 5

Tatalaksana

Emergency
Hipoglikemia Untuk
Dokter Umum
Salah satu komplikasi diabetes melitus baik tipe 1 maupun
tipe 2 adalah koma diabetikum, atau dalam nama lain
disebut ketoasidosis diabetikum. Komplikasi ini merupakan
sebuah gawat darurat dan harus segera ditangani di unit
gawat darurat.

Ketoasidosis diabetikum dapat menyebabkan koma, pasien


tidak sadarkan diri, dan menyebabkan pasien meregang
nyawa. Terdapat juga kondisi lain yang lebih ringan akibat
hiperglikemia yang disebut hiperglikemia hyperosmolar non
ketotik. Sedangkan komplikasi lain dari diabetes melitus
adalah kondisi hipoglikemia yang juga dapat menyebabkan
gawat darurat serta penurunan kesadaran.
Kedua kondisi ini harus ditangani dengan segera karena
dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas. Diabetes
melitus merupakan penyakit metabolik yang paling banyak
diderita masyarakat Indonesia. Oleh karena itu penanganan
kegawatdaruratan ini harus dapat dilakukan dengan cepat
dan tepat karena banyaknya jumlah kasus.

Diagnosis juga harus dibuat dengan cepat dan tepat karena


sekilas kedua gejala penyakit ini mirip dan memiliki
anamnesis yang serupa.

Hipoglikemia adalah keadaan di saat glukosa darah


mencapai level tertentu. Terdapat dua definisi dari
hipoglikemia, definisi tersebut adalah
1. Glukosa darah berada di tingkat < 60 mg/dl

atau
2. Glukosa darah berada di tingkat < 80 mg/dl dengan adanya gejala klinis.

Hipoglikemia rentan terjadi pada pasien diabetes melitus


atau pasien geriatri. Keadaan ini dapat terjadi akibat tidak
adekuatnya asupan makanan, dan diperparah dengan
konsumsi obat diabetes yang menyebabkan tingkat glukosa
pasien menjadi sangat rendah. Penyebab lain adalah adanya
kelebihan dosis obat, terutama jika pasien menggunakan
obat yang memang rentan hipoglikemia seperti insulin, atau
sulfonilura.
Pada pemeriksaan subyektif pasien hipoglikemia didapatkan
berbagai macam gejala seperti gemetar, lapar, pusing,
keringat dingin, jantung berdebar, dan gelisah. Pada tahap
yang lanjut dapat ditemukan koma atau penurunan
kesadaran.

Perlu ditanyakan juga mengenai riwayat diabetes, riwayat


pengobatan terhadap diabetes, pemakaian terakhir dari
obat tersebut, perubahan dosis, waktu makan terakhir,
jumlah asupan makanan, dan aktivitas fisik yang dilakukan.

Pada pemeriksaan obyektif ditemukan, adanya pucat,


keringat dingin, tekanan darah menurun, dengan nadi yang
meningkat, penurunan kesadaran, dan pada beberapa kasus
dapat ditemukan defisit neurolgois fokal, yaitu reflek
patologis yang positif pada satu sisi tubuh.

Penegakan diagnosis pada hipoglikemia ditegakkan melalui


trias whipple. Untuk menegakkan diagnosis hipoglikemia,
lakukan pemeriksaan dengan stick glucose atau
pemeriksaan serupa yang dapat mengidentifikasi gula darah
secara cepat. Krirteria diagnosis hipoglikemia yang disebut
trias whipple adalah
1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia (seperti yang sudah
disebutkan di atas)
2. Kadar glukosa plasma yang rendah
3. Setelah pemerberian glukosa, kadar glukosa plasma kemudian
meningkat
Untuk tatalaksana pada hipoglikemia, ada beberapa cara
yang dapat dilakukan.
1. Jika pasien sadar, lakukan pemberian gula murni sebanyak 30 gram (dua
sendok makan) atau sirup/permen atau gula murni. Pastikan yang
diberikan bukan pengganti gula, atau gula diabetes, atau makanan yang
mengandung karbohidrat.
2. Hentikan pemberian obat diabetes atau yang menyebabkan
hipoglikemia, dan periksa gula darah tiap 1-2 jam
3. Pertahankan glukosa darah tetap 200 mg/dl, dan cari penyebab
hipoglikemia

Jika pasien datang dengan tidak sadar, berikan


1. Berikan larutan dekstrose 40% sebanyak 50 ml berikan bolus IV
2. Berikan cairan dekstrose 10% per 6 jam/kolf
3. Periksa gula darah sewaktu tiap satu jam setelah bolus dekstrosa 40%,
Bila gula darah < 50 mg/dl berikan 50 ml dekstrosa 40%, jika < 100
mg/dl berikan dekstrosa 40% sebanyak 25 ml
4. Jika gula darah sudah di atas 100 mg/dl sebanyak 3 kali pemeriksaan,
ganti cairan dekstrosa dengan natrium klorida, dan protocol
hipoglikemia dapat dihentikan.

Terapi awal tersebut dilakukan sambil mempersiapkan


perujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut yang memiliki
dokter spesialis penyakit dalam. Kompetensi penyakit ini
adalah 3B yang menunjukkan bahwa perujukan harus
dilaksanakan untuk penanganan lebih lanjut.

Perujukan juga perlu dilakukan untuk dilakukan edukasi


serta pengaturan ulang dari dosis obat diabetes untuk
mencegah kejadian ini berulang di masa depan.
Pada pasien yang telah lama menderita diabetes juga
kemungkinan didapatkan gagal ginjal kronik, yang dapat
menyebabkan insulin tersirkulasi pada darah sehingga terus
menerus menurunkan glukosa darah.

Hal lain yang juga dapat menyebabkan hipoglikemia adalah


aktivitas fisik yang berlebihan. Kondisi ini perlu dicurigai
pada pasien diabetes melitus yang menjalani diet dan
olahraga yang berlebihan.