Anda di halaman 1dari 13

Klinis Krisis

Hiperglikemia:
Bagaimana
Membedakan
Ketoasidosis
Diabetik dan Status
Hiperglikemia
Hiperosmolar?
Krisis hiperglikemia mencakup ketoasidosis diabetik (KAD) dan status
hiperglikemia hipersolar (SHH), merupakan komplikasi metabolik akut
paling serius pada pasien diabetes melitus. Krisis hiperglikemia terjadi
akibat defisiensi insulin dan peningkatan hormon counterregulatory
(glukagon, katekolamin, kortisol dan growth hormone).

SHH terjadi ketika defisiensi insulin yang relatif (terhadap


kebutuhan insulin) menimbulkan hiperglikemia berat dan
dehidrasi dan akhirnya menyebabkan kondisi
hiperosmolaritas.

KAD terjadi bila defisiensi insulin yang berat tidak saja


menimbulkan hiperglikemia dan dehidrasi, tapi juga
mengakibatkan produksi keton meningkat serta asidosis
metabolik. Spektrum kedua kondisi ini dapat saling ovelap.

Tips dan trik membedakan antara KAD dan SHH bermanfaat


untuk membuat planning terapi gawat darurat krisis
hiperglikemia yang sesuai. Namun, prinsip-prinsip
penatalaksanaan krisis hiperglikemia harus dikuasai terlebih
dahulu.

PENDEKATAN
DIAGNOSIS
Pasien dengan KAD dan SHH memiliki karakteristik klinis
yang sering overlap, sehingga membutuhkan "kecerdikan"
untuk membedakan dua kondisi tersebut.Pendekatan
diagnosis klinis yang baik sebaiknya dilakukan untuk
membedakan diagnosis KAD dan SHH, terutama oleh dokter
di PPK 1 dengan fasilitas kesehatan terbatas.
Ketoasidosis Diabetik

1. Anamnesis
Hasil anamnesis pasien KAD bisa memunculkan keluhan yang bervariasi
diataranya mual/muntah, haus/poliuria, nyeri perut, sesak napas; gejala
berkembang dalam waktu < 24 jam. Faktor presipitasi meliputi riwayat
pemberian insulin inadekuat, infeksi (pneumonia, infeksi saluran kemih,
infeksi intraabdominal, sepsis), infark (serebral, koroner, mesenterika,
perifer), obat (kokain), kehamilan.
2. Pemeriksaan Fisik
Gambaran pemeriksaan fisik yang didapatkan diantaranya adala
takikardia, dehidrasi, hipotensi, takipnea, pernapasan Kussmaul, distres
pernapasan, napas bau beton, nyeri tekan perut (menyerupai
pankreatitis akut), letargi atau koma.
3. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis KAD ditegakkan bila ditemukan hiperglikemia (>250
mg/dL), ketonemia dan/atau ketonuria dan asidosis metabolik (HCO3
< 18) dengan anion gap meningkat.

1. Anamnesis
Hasil anamnesis pasien SHH biasanya menunjukkan "kondisi dehidrasi"
yang lebih dominan yaitu riwayat poliuria, berat badan turun, dan
berkurangnya asupan oral yang terjadi dalam beberapaa minggu dan
akhirnya terjadi letargi/koma. Faktor presipitasi meliputi infark miokard,
stroke, sepsis, pneumonia, infeksi berat lainnya, keadaan seperti riwayat
stoke sebelumnya atau dimensia atau situasi sosial yang menyebabkan
asupan air berkurang.
2. Pemeriksaan Fisik
Gambaran pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan yaitu tanda-tanda
dehidrasi, hipotensi, takikardia, perubahan status mental
3. Pemeriksaan Penunjang
Hiperglikemia (dapat >600 mg/dL), hiperosmolalitas (>350
mOsmol/L) azotemia prerenal. Asidosis dan ketonemia tidak ada atau
ringan. pH > 7,3 dan bikarbonat > 18 mEq/L.

BAGAIMANA MEMBEDAKAN
KETOASIDOSIS DIABETIK DAN
STATUS HIPERGLIKEMIA
HIPEROSMOLAR?
KAD dan SHH adalah kondisi krisis hiperglikemia yang
terkadang memiliki gambaran klinis yang tumpang tindih.
Perbedaan mendasar dari dua kondisi ini adalah kadar
insulin yang ada di sirkulasi. KAD terjadi karena adanya
defisiensi insulin absolut yang sering memicu ketosis.
Sedangkan kadar insulin pada SHH relatif "masih cukup
banyak" untuk mempertahankan agar produksi keton oleh
jaringan tidak berlebihan.

Gambar yang kami ambil dari medscape ini mungkin dapat


meberikan gambaran bagaimana membedakan KAD dan
SHH secara klinis:
PENATALAKSANAAN KRISIS
HIPERGLIKEMIA
Terapi Cairan

Terapi cairan yang adekuat adalah kunci dari strategi


penatalaksanaan krisis hiperglikemia (KAD dan SHH). Dokter
boleh "terlambat" memberikan terapi insulin, namun jangan
sampai "terlambat" memberikan tatalaksana cairan pada
pasien dengan krisis hiperglikemia.

Pada pasien dengan krisis hiperglikemia (sebelum tahu


apakah pasien KAD ata SHH), periksa status dehidrasi pasien
dan perhatian khusus diberikan jika pasien mengalami syok
kardiogenik. Pada beberapa pasien, KAD dapat disertai
dengan sindroma koroner akut yang tidak jarang diperberat
dengan gagal jantung akut. Jangan ragu konsul dokter
spesialis penyakit dalam atau jantung dalam kondisi seperti
ini.

Pastikan status dehidrasi pasien, apakah termasuk status


dehidrasi sedang-berat atau ringan. Jika menemukan ada
tanda-tanda syok hipovolemik, berikan terapi cairan yang
adekuat (jika perlu "grojok" hingga kondisi hemodinamik
pasien stabil. Jika didapatkan pasien mengalami dehidrasi
ringan, sesuaikan terapi cairan dengan kadar natrium serum
dari hasil pemeriksaan serum elektrolit.
Koreksi Kalium

Pemeriksaan Serum Elektrolit penting untuk mengukur


kadar kalium serum. Waspadai jika pasien jatuh dalam
kondisi hipokalemia, lakukan pemeriksaan fungsi ginjal.
Pemberian insulin pada pasien dengan hipokalemia akan
memperberat penyakit pasien karena insulin akan
menginduksi kaium serum "masuk" ke intraseluler. Kadar
kalium dipertahankan dalam rentang 4-5 mEq/L
Terapi Insulin

Terapi insulin adalah upaya spesifik untuk menurunkan


kadar gula darah pasien krisis hiperglikemia. Ada banyak
metode yang digunakan untuk memberikan terapi insulin
ini. Di Surabaya, dikenal metode RCI (Regulasi Cepat Insulin).
Metode RCI, menurut admin subyektif, bagus bila
diterapkan di fasilitas kesehatan terbatas. Namun, tidak
banyak center di Indonesia yang menganut RCI.

Dalam artikel ini akan dijelaskan metode terapi insulin yang


merujuk pada PPK Penanatalaksanaan dari PAPDI (Gambar
di atas).
Bikarbonat

Bikarbonat diberikan pada pasien yang mengalami asidosis


metabolik. Jika pH vena < 6,9 berikan 100 mmol natrium
bikarbonat dalam 400 ml sterile water ditambah 20 mEq KCl
diberikan selama 2 jam. Jika pH masih <7, ulangi setiap 2
jam sampai pH > 7. Periksan kadar kalium serum setiap 2
jam. Jika pH vena ≥ 6.9, tidak perlu diberikan natrium
bikarbonat

Monitoring, Komplikasi dan Prognosis Krisis


Hiperglikemia
Pada pasien dengan krisis hiperglikemia pantau tekanan
darah, nadi, napas, status mental, asupan cairan dan urin
tiap 1-4 jam. Waspadai berbagai komplikasi yang mungkin
muncul, diantaranya renjatan hipovolemik, trombosis vena,
perdarahan saluran cerna atas, dan sindrom distres
pernapasan akut. Komplikasi pengobatan diantaranya
adalah hipoglikemia, hipokalemia, over load edema serebral.
KAD memiliki angka kematian 2% untuk usia < 65 tahun dan
22% untuk usia > 65 tahun. SHH memiliki angka mortalitas
20-30%.