Anda di halaman 1dari 12

MEMPERJUANGKAN PLURALISME:

(Menata Peta-Jalan Arsitektural Masyarakat Pluralis)1


Oleh Airlangga Pribadi2

Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika gubahan Empu Tantular itu dimaksudkan sebagai pengakuan
positif kepada keanekaragaman orientasi keagamaan dalam masyarakat, karena hakekat dan
tujuan semua itu satu dan sama, yaitu berbakti kepada Yang Maha Esa dan berbuat baik kepada
sesama makhluk.

Nurcholish Madjid, Indonesia Kita 2003

I. Pendahuluan
Genap sewindu perjalanan reformasi, terasa mendesak bagi kita untuk merefleksikan visi guru
bangsa mendiang Nurcholish Madjid akan pentingnya sikap pluralisme dalam kehidupan
berbangsa kini. Kebutuhan tersebut terutama berkaitan dengan maraknya sikap-sikap
intoleransi, anti keragaman, dan menguatnya sikap absolutisme dan penghalalan terhadap
kekerasan sebagai penyelesaian masalah.

Pada awalnya kita menduga munculnya anasir intoleransi adalah sebuah hal yang biasa ditengah
periode transisi setelah kungkungan rezimotoritarianisme yang begitu lama. Histeria kebebasan
memunculkan luapan-luapan ekspresi komunal dan politik identitas yang ekstrem. Namun
setelah sewindu reformasi bergulir di negeri kita, jangan-jangan anasir-anasir negatif dalam
kehidupan berdemokrasi ini tengah terbentuk menjadi bagian dari karakter bangsa. Ketika
karakter anti pluralisme dan kecenderungan mempergunakan kekerasan menjadi kultur dan
gagasan hegemonik dalam ruang publik berbangsa dan bernegara, maka eksistensi demokrasi
terancam dan hanya akan menjadi instrument bagi pemenuhan tujuan-tujuan yang bertentangan
dengan nilai-nilai keadaban melalui legitimasi tirani mayoritas.

Fenomena fanatisme, penolakan terhadap kemajemukan, dan tindakan teror kekerasan tersebut
menunjukkan bahwa demokrasi dan partisipasi politik berjalan tanpa kualitas diskursus
demokrasi yang tinggi. Krisis ini terjadi di saat meluruhnya kesadaran akan keragaman dan
hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas
dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya
pengukuhan tirani mayoritas dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan
pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara, pelecehan terhadap supremasi hukum (Fareed
Zakaria; 2003).

Dengan menimbang ancaman-ancaman dalam kehidupan berbangsa, maka tumbuhnya kesadaran


terhadap pluralisme dalam kehidupan berbangsa menjadi sebuah keharusan. Hadirnya
masyarakat pluralis memerlukan desain fondasi arsitektural (bangunan dasarnya) yang kompleks.
Keberhasilan pembentukannya akan sangat ditentukan oleh keberhasilan pembangunan tekstur
dasar yang dapat menopang perkembangan masyarakat yang menghargai nilai-nilai keragaman.
Untuk itu menjadi salah satu tugas kaum intelektual untuk memikirkan kembali bagaimana
memikirkan desain transformatif untuk merealisasikan konfigurasi masyarakat pluralis.

Salah seorang sosiolog pembangunan asal Jerman penganut mazhab kritis yaitu Dieter Senghaas
(1997) dalam “The Clash within Civilization: Coming to terms with cultural conflict”
menguraikan secara jernih, bahwa penghormatan terhadap pluralisme bukanlah sesuatu yang
tumbuh dari langit ataupun sesuatu yang secara esensial merupakan karakter kultural yang
dimiliki secara eksklusif oleh peradaban tertentu. Sebagai manifestasi dari karakter peradaban
yang tinggi (madani), pembentukan masyarakat pluralis dan penghargaan terhadap civic virtue
(nilai-nilai keadaban) tumbuh ditengah kerja-kerja desain transformatif pembentukan modern
nation-state, law enforcement, democratic participation, penemuan kerangka manajemen

1
Makalah ini disampaikan dalam acara Nurcholish Madjid Memorial Lecture di FISIP-Universitas
Airlangga pada tanggal 28 Juni 2006.
2
Staf Pengajar Ilmu Politik, Peneliti di PsaTS (Pusat Kajian Transformasi Sosial) Universitas
Airlangga, Peneliti Divisi Politik di Soegeng Sarjadi Syndicated Jakarta.

1
konflik berbasis pada prinsip anti-kekerasan dan komitmen bersama dalam diskusi di ruang
publik untuk merealisasikan keadilan dan fairness untuk tiap-tiap orang.

Sebaliknya kegagalan eksperimentasi desain modern nation-state akan berujung pada krisis
pluralisme di masyarakat. Hal ini terjadi karena masyarakat yang hidup dalam krisis
pembangunan nation-states merasa kehilangan pijakan ditengah runtuhnya landasan masyarakat
terdahulu sementara landasan tatanan baru belum kunjung terbangun dengan baik. Dalam
kondisi seperti ini masyarakat cenderung mencari pijakan pasti dan sering menjebak mereka
kedalam sikap fanatis dan ekstrem. Dinamika perubahan yang begitu cepat dan ketidakpastian di
era kebebasan membuat masyarakat cenderung bersikap lari dari kebebasan (escape from
freedom). Mereka cenderung membangun kultur defensif dan bersikap eksklusif dan merasa
aman untuk berpijak dalam tempurung budayanya yang terbatas sambil bersikap curiga terhadap
“the other” sebagai sesuatu yang mengancam.

Tulisan ini mencoba menawarkan pemikiran bahwa rancang bangun pembentukan masyarakat
pluralis sebagai tujuan dari proses demokrasi yang tengah kita lalui, amat bergantung pada
keberhasilan pembangunan unit politik liberal yang memiliki landasan tebal dan kuat untuk
menangkal tantangan anasir-anasir tribalisme, xenophobic dan anti pluralitas (Jack Snyder
2000). Keberhasilan pembangunan unit politik tersebut dapat diterjemahkan dalam tiga hal
penting yang sebenarnya tengah menjadi fokus perhatian utama proses reformasi yang tengah
bergulir di Indonesia yaitu; Pertama, penemuan kembali aktualitas cita-cita kebangsaan kita
melalui pembacaan kritis terhadap narasi histories dimasa lalu. Kedua, keberhasilan proses
konsolidasi demokrasi. Ketiga, memikirkan kembali wacana pembangunan sebagai perjuangan
untuk merealisasikan kemerdekaan untuk rakyat.

II. Aktualitas Cita-cita Kebangsaan


Kita hendak mendirikan suatu negara ”semua buat semua. Bukan buat satu
orang, bukan satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang
kaya-tetapi semua buat semua

Ir. Soekarno dalam Pidato ”Lahirnya Panca-Sila” tanggal 1 Juni 1945

Filsuf perempuan Jerman legendaris Hannah Arendt pada tahun 1961dalam karyanya Between
Past and Future menguraikan kesadaran aktif kita untuk menguak memori di masa lalu sangat
mempengaruhi upaya kita membangun perubahan bermakna di hari ini dan masa mendatang. Hal
ini bukanlah berarti bahwa kita terjebak pada romantisisme sejarah atau berusaha
memperjuangkan masa lalu yang dimitologisasikan sebagai arahan kita di masa depan. Arendt
menguraikan bahwa mengingat menjadi amat penting agar kita dapat menyelamatkan elemen-
elemen di masa lalu yang masih berguna untuk mencerahkan kehidupan kita saat ini dan di masa
mendatang. Tanpa pemahaman kritis terhadap masa lalu maka pengalaman kita akan kehilangan
pijakan dan identitas diri kita menjadi rapuh tanpa pegangan dan tujuan (Maurizio Passerin
d’Enteves 1994).

Hannah Arendt merefleksikan hubungan antara masa lalu, kini dan esok dalam suasana dan
konteks sosial peradaban Eropa modern pada waktu itu yang telah menghadapi ancaman
absolutisme-totalitarian Fasis Hitler dan Stalinisme. Ditengah krisis peradaban yang berlangsung
di Eropa pada waktu itu kemudian Arendt mengingatkan masyarakat Eropa untuk menelusuri
kembali perjalanan histories arus modernitas Barat, untuk mencari elemen-elemen kearifan di
masa lalu guna menerangi jalan modernitas yang terancam mengalami krisis.

Relevan dengan kondisi kekinian negeri ini, perjalanan demokrasi tengah menghadapi ancaman
serius. Merebaknya sikap absolutisme dan anti pluralis yang mengklaim membawa suara
mayoritas dapat beresiko menghancurkan bangunan rumah negara-kebangsaan yang menghargai
kemajemukan. Untuk itulah pemahaman secara reflektif terhadap memori bangsa di masa lalu
dapat menyelamatkan elemen-elemen kearifan didalamnya yang sangat bermakna untuk
mencerahkan langkah bangsa kita saat ini dan lintasan yang dapat kita lalui di masa depan.

Menelaah ulang perjalanan terbangunnya republik yang kita cintai, maka hal penting untuk kita
renungkan sejak masa awal kebangkitan pergerakan modern di Indonesia, kita telah memiliki
modal histories yang sangat besar sebagai suatu bangsa modern dan inklusif. Ide kebangsaan

2
egalitarian telah menjadi imajinasi bersama dari seluruh rakyat yang disosialisasikan oleh
kalangan pemimpin intelektual di Indonesia sebagai tiang pancang awal bagi semangat
pluralisme. Ketika rakyat kecil masih terbelenggu dalam penindasan kolonialisme dan
kungkungan tatanan feodalisme, kaum terpelajar telah menjadi agensi pencerahan untuk
membukakan mata bahwa kita sebagai bangsa memiliki hak untuk merdeka (Muhammad Hatta
1957).

Satu hal yang patut kita renungkan, sejak masa awal kebangkitan pergerakan modern di
Indonesia, kita telah memiliki modal histories yang sangat besar sebagai suatu bangsa modern
dan inklusif. Pada fase awalnya fondasi prinsip egalitarian telah muncul pertama kali melalui
tulisan. Abdul Rivai pada tahun 1902 dalam karyanya Bangsawan Pikiran, ia memperkenalkan
istilah bangsawan pikiran sebagai pengganti dari bangswasan asal. Dengan memperkenalkan
istilah bangsawan pikiran untuk menggeser bangsawan asal, kalangan inteligensia modern ingin
mendobrak konstruksi sosial yang timpang dan previledge status keningratan bangsawan asal
diatas kelompok lain, untuk digantikan dengan bangsawan fikiran yang mengutamakan prestasi
dan kesetaraan (Yudi Latif 2005).

Mulai dari sinilah imaji keindonesiaan dibangun diatas fondasi kesetaraan dari tiap-tiap orang
yang memperjuangkannya, dimana penghargaan terhadap tiap-tiap orang diberikan atas dasar
pencapaian prestasi dan komitmen kepada rakyat bukan atas dasar status keningratan maupun
perbedaan etnis ataupun dominasi agama tertentu. Perubahan mentalitas dari pengagungan
pada bangsawan asal menuju bangsawan pikiran membawa kalangan intelegensia modern
Indonesia pada orientasi cita-cita kemadjoean. Fenomena ini adalah perubahan revolusioner
sebagai batu pijakan awal untuk membangun masyarakat terbuka, setara dan pluralistik.

Semenjak saat itulah pergerakan nasional modern dimulai pertama-tama sebagai upaya
menghancurkan sekat-sekat hierarkhi masyarakat tribus yang menempatkan perbedaan asal-asul
keturunan dan tatanan aristokrasi dalam posisi adiluhung. Respek terhadap keragaman atas
dasar penghargaan terhadap nilai kesetaraan menjadi langkah awal membangun model
nasionalisme inklusif dan berkeadaban sekaligus membongkar sekat-sekat ketimpangan sosial
diantara kelompok-kelompok sosial di masyarakat.

Perjuangan mewujudkan karakter kebangsaan yang bercirikan inklusif-egalitarian ini menapak


lebih jauh seiring dengan kemerdekaan Republik Indonesia. Lepasnya bangsa Indonesia dari
rantai penjajahan diikuti dengan semangat kolektif bangsa untuk menghapuskan segala
diskriminasi sosial yang diciptakan oleh formasi kolonialisme. Pada saat itu suatu simbol
revolusioner baru yang mengandung semangat kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan muncul
dalam istilah panggilan bung yang diperkenalkan oleh Soekarno. Kata sapaan bung yang berarti
saudara dapat dibandingkan dengan kata citizen (rakyat) atau kamerad (kawan) dalam bahasa
Rusia. Sebutan bung bagi kaum muda adalah bentuk sapaan egaliter karena tidak membedakan
hierarkhi strata sosial. Kandungan makna yang muncul didalamnya--sesuai dengan konteks
gelombang pasang api revolusi di Indonesia paska kemerdekaan--dapat diartikan sebagai
“saudara revolusioner” atau “saudara nasionalis Indonesia”. Dalam istilah tersebut segenap
strata sosial kaya, miskin, tua, muda dipersatukan dalam solidaritas sosial dan kesetaraan status
bersama sebagai bangsa Indonesia (George Mc Turnan Kahin 1995).

Titik kulminasi dari perjuangan kaum intelegensia nasional Indonesia untuk membangun
fondamen bagi karakter bangsa kemudian tercapai dengan terumuskan nilai-nilai esensial
kenegaraan Pancasila. Sejak awal perumusannya kalangan intelegensia dan pemimpin Indonesia
seperti Bung Karno telah merumuskan Pancasila sebagai bentuk kesepakatandiantara kekuatan-
kekuatan politik yang ada untuk membangun konsensus bersama diantara setiap identitas-
identitas kebangsaan. Apabila mencermati momen sejarah di masa lalu, dapat dikatakan bahwa
penghapusan tujuh kata yang tertera didalam Piagam Jakarta (menjalankan syariah Islam bagi
pemeluk-pemeluknya) tidak dapat dikatakan sebagai kekalahan politik ummat Islam yang harus
dibalas ketika waktunya tiba. Hal tersebut merupakan bentuk kebesaran hati dan ketajaman visi
dari kalangan founding father kita untuk membangun sebuah cita-cita kebangsaan yang inklusif
dan menjadikan Indonesia sebagai rumah kebangsaan bagi seluruh warganya tanpa terkecuali.

Prinsip kebangsaan Inklusif ini sejalan dengan yang diutarakan oleh Sukarno dalam pidatonya
tentang Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, bahwa kebangsaan Indonesia bukanlah kebangsaan

3
yang sempit. Negara yang hendak didirikan adalah negara “semua untuk satu”, “satu untuk
semua” artinya semua orang berhak atas tanah air Indonesia. Indonesia yang dibangun haruslah
berbasis pada suatu landasan bersama bagi berbagai aliran yang terdapat di kalangan rakyat
(Bernard Dahm 1987).

Pancasila juga dirumuskan sebagai bagian dari penyerapan kalangan terdidik intelegensia
modern terhadap nilai-nilai universal dan moral internasional yang disepakati oleh bangsa-
bangsa beradab dan umat manusia. Didalamnya kita dapat melihat kesesuaian antara nilai-nilai
dasar kebangsaan kita dengan Declaration of Independence yang ditulis oleh para Founding
Father Amerika Serikat. Didalamnya sama-sama terdapat penghormatan terhadap nilai-nilai
kemanusiaan universal tentang kesetaraan, pluralisme, penghormatan terhadap individu, dan
pentingnya pemenuhan rasa keadilan bagi tiap-tiap orang dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

Relevansi Pancasila untuk mencerahkan langkah bangsa kita saat ini dan masa mendatang,
bukanlah dalam pengertian pentingnya bagi mitologisasi dan sakralisasi Pancasila untuk
dimanfaatkan bagi kepentingan kekuasaan seperti masa-masa terdahulu terutama di masa Orde
Baru. Yang paling mendasar adalah kesadaran akan etos kebangsaan inklusif yang terkulminasi
pada Pancasila merupakan jembatan yang dapat menghubungkan kita pada ingatan bermakna di
masa lalu. Bahwa semenjak awal berdirinya bangsa ini dibangun tidak diatas pengutamaan satu
kelompok suku, ras, kelas sosial atau agama apapun diatas kelompok lainnya. Penjelajahan
kreatif terhadap memori di masa lalu telah memberi kesadaran penting untuk langkah kita kini.
Nilai-nilai ideal nasionalisme bangsa kita sejak awal telah dibangun berdasarkan keterlibatan
partisipasi warga bersama (civic engagement) yang berpijak pada orientasi nilai-nilai kebebasan
sipil, pluralisme dan kesetaraan.

Sebagai pengejawantahan dari kontrak sosial untuk hidup bersama dibawah payung otoritas
politik, seperti berulangkali diutarakan oleh Nurcholish Madjid, Pancasila dapat disejajarkan
dengan Sahifatul Madinah (sebagai bentuk eksperimentasi awal dalam pembentukan fondasi
modern nation-state) sebagai sebuah piagam kontrak sosial bersama yang dibuat oleh Rasulullah
SAW di Madinah yang mengatur bagaimana hubungan antara kaum muslim dan non-muslim untuk
hidup bersama sebagai ummatan wahidah (ummat yang satu) dengan saling menghormati satu
sama lain, dan menghargai “the other” (yang lain), bukan untuk dieksklusikan dalam kehidupan
sosial bermasyarakat namun untuk hidup diatas basis kesetaraan, penghargaan terhadap aturan
hukum ditengah kemajemukan sosial.

Sastrawan besar kita almarhum Pramoedya Ananta Toer pernah berpesan “hanya bangsa yang
sadar sejarah dirinya yang mampu menentukan tujuan dari bangsa tersebut”. Masa lalu menjadi
mutiara terpendam yang dapat menyegarkan langkah kita saat ini. Ketika kita memahami bahwa
sejak awalnya negeri ini dibangun diatas nilai-nilai prinsipal yang menghormati keragaman,
membela hak-hak sipil tiap warga negara dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial bagi
semua, maka di masa depan memori tersebut menjadi lentera bagi kita untuk berdiri tegar
menghadapi ancaman fanatisme golongan dan manipulasi demokrasi untuk kepentingan tirani
yang mengklaim legitimasi suara mayoritas.

Pemahaman kritis terhadap karakter nasionalisme Indonesia yang sejak awal memiliki kesadaran
yang terbuka dan egaliter (civic nationalism) dapat mencerahkan jalan kita untuk berkomunikasi
dengan nilai-nilai moralitas internasional seperti pluralisme, demokrasi, hak asasi manusia,
karena pada dasarnya komitmen awal kita untuk hidup berbangsa berjalan seiring dengan
dinamika nilai-nilai universal kemanusiaan tersebut. Penelaahan reflektif terhadap akar-akar
kebangsaan kita di masa lalu membuat kita tidak akan mengalami hambatan psikologis untuk
merealisasikan nilai-nilai keadaban (civic virtue) dari bangunan modern nation-state saat ini.

Kesadaran inklusif bahwa setiap warga negara memiliki posisi setara adalah hal fundamental
untuk pemenuhan terhadap agenda demokrasi konstitusional. Sebuah bangunan politik
demokrasi dimana didalamnya tindakan politik ditujukan untuk menghadirkan keadilan sosial
untuk semua (Jurgen Habermas 1998). Didalam bangunan politik yang memperjuangkan
keadilan, tiap warga negara berperan sebagai agensi politik dalam penentuan berbagai
permasalahan komunitas mereka.

4
Disini tindakan politik menjadi aktivitas yang merealisasikan solidaritas, respek terhadap
keragaman dan otonomi warga. Sementara ruang politik adalah ruang komunikasi, negosiasi
antara warga yang berjalan melalui tindak persuasi yang mengharamkan tindak-tindak
kekerasan. Sementara pada level negara, maka negara dan segenap institusinya harus menjadi
pelayan bagi pemenuhan aspirasi publik dengan tetap tidak memihak terhadap kepentingan
suatu golongan (imparsial) sekaligus menimbang suara dan aksi politik dari warga dalam
mengambil kebijakan. Negara juga menjaga dan merawat agar ruang politik tetap menjadi
tempat bagi proses negosiasi dan komunikasi intersubyektif dikalangan warganegara dengan
menghormati kebebasan sipil, pluralisme dan anti kekerasan.

Persoalannya adalah seperti yang diutarakan oleh Muhammad Hatta dalam pidatonya di
Universitas Indonesia pada tahun 1957, bahwa revolusi kita menang dalam menegakkan
kebenaran baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam
melaksanakan cita-cita sosialnya. Sampai saat ini apa yang diuraikan oleh Muhammad Hatta
masih relevan dengan kondisi bangsa kita sekarang. Pelaksanaan cita-cita kita untuk membentuk
masyarakat yang berbasis pada kesetaraan, kesejahteraan bersama dan penghormatan terhadap
kemajemukan masih jauh dari berhasil. Penelaahan terhadap problem berbangsa dan bernegara
ini dapat kita mulai dari proses demokratisasi yang tengah berjalan di republik ini.

III. Menuju Konsolidasi Demokrasi


Saya berkali-kali memperingatkan kepada rakyat dan pemimpin-pemimpin kita, dengan
pidato maupun tulisan, bahwa demokrasi hanya bisa dijalankan apabila didukung oleh rasa
tanggung jawab. Tidak ada demokrasi dengan tiada tanggung jawab. Dan demokrasi yang
melewati batasnya dan meluap menjadi anarki akan menemui ajalnya dan digantikan
sementara waktu oleh diktator.

Muhammad Hatta, Tanggungjawab Kaum Inteligensia pada Tahun 1957


di Universitas Indonesia Jakarta

Pengalaman demokratisasi di berbagai negara yang baru saja terlepas dari kungkungan
otoritarianisme menunjukkan bahwa proses demokrasi membawa paradoks dalam praktikal
empirisnya. Seperti diuraikan oleh Jack Snyder (2000) dalam karyanya From Voting to Violence:
Democratization and Nationalist Conflict bahwa pengalaman berdemokrasi sejak masa revolusi
Prancis sampai dengan gelombang demokratisasi pada paruh akhir abad ke-20 menunjukkan
bahwa proses demokrasi pada fase transisinya dapat membunuh dirinya sendiri ketika dalam
proses kelahirannya kerap menghadirkan pertumpahan darah. Kemunculan elite-elite politik dan
wirausahawan politik yang memainkan kartu nasionalisme SARA, serta kebangkitan kelompok-
kelompok politik radikal yang bersikap eksklusif dan anti keragaman menjadi aktor-aktor politik
yang berperan menghancurkan bangunan demokrasi yang baru tumbuh.

Eksperimentasi Pemilihan Umum sebagai gerbang pembuka demokratisasi acapkali menjadi


sarana bagi kemunculan sentiment-sentimen nasionalisme SARA dan konflik antar golongan. Di
berbagai negara yang baru saja memulai proses transisi demokrasi menunjukkan, bahwa
seringkali kalangan elite-elite politik memainkan retorika sentiment ethno-nasionalisme,
eksklusivitas kelompok maupun fanatisme agama dengan memanfaatkan kebebasan pers.
Sementara itu proses penyesuaian ekonomi dibawah tekanan pasar bebas dan runtuhnya otoritas
politik negara justru menyediakan kesempatan bagi kalangan elite-elite politik untuk
mengumbar janji-janji distribusi ekonomi berdasarkan sentiment komunalistik kelompok (Jack
Snyder dan Karen Ballentine 1996).

Proses demokratisasi di Indonesia saat ini yang telah berlangsung juga tidak steril dari fenomena
paradoks demokrasi diatas. Proses keterbukaan politik yang berlangsung sejak reformasi 1998
membangkitkan anasir-anasir destruktif yang dapat menghancurkan demokrasi. Sewindu
reformasi memberi pelajaran berharga pada kita bahwa kita menapak jalur yang terjal menaik
dan berliku dalam lintasan demokrasi yang tengah kita lalui. Upaya meniti jalan menuju
konsolidasi demokrasi di Indonesia acapkali berhadapan dengan tantangan ganda yang berupaya
membajak demokrasi dari tarikan-tarikan elitisme maupun anasir-anasir komunalisme dari massa
yang diprovokasi oleh kalangan elite politik sehingga mengarah pada mobocracy demokrasi (Kees
van Dijk 2001; M.C.Ricklefs 2005).

5
Fenomena mobocracy bergulir ketika elite politik maupun kaum intelektual justru berperan
besar dalam memanipulasi kebencian, amarah dan sentimen-sentimen politik identitas atau
membiarkan ekspresi-ekspresi komunalistik menjadi bagian dari artikulasi politik massa. Bahasa-
bahasa demagogy menggantikan diskursus publik rasional dalam arena politik sehari-hari. Luapan
partisipasi politik saat ini tidak berkembang menjadi partisipasi politik yang produktif karena
lemahnya kualitas diskursus demokrasi yang menyuarakan wacana politik rasional dan
komunikatif di dalam ruang publik. Sementara itu pemimpin dan intelektual melepaskan
tanggung jawabnya untuk mengartikulasikan diskursus publik rasional sebagai pemecahan
terhadap segenap persoalan- persoalan sosial politik. Ironisnya kondisi seperti ini dimanipulasi
untuk kepentingan-kepentingan politik sesaat dan menarik simpati dari massa yang berfikir
kalap.

Tanggung jawab terhadap bergulirnya demokrasi inilah yang kemudian oleh Larry Diamond
(2003) ditekankan secara mendalam sebagai prasyarat dari perkembangan politik menuju
demokrasi yang terkonsolidasikan. Diamond menguraikan bahwa konsolidasi demokrasi
membutuhkan dua hal yaitu; komitmen positif terutama dari kalangan elite politik maupun
rakyat dan institusionalisasi politik yang membuat demokrasi dapat semakin terkonsolidasikan.
Dalam tulisan ini saya menambahkan satu hal yang penting dalam konsolidasi demokrasi yaitu
tersebarnya gagasan-gagasan demokrasi yang inklusif di ruang publik. Selanjutnya tulisan ini
akan menguraikan tiga perspektif diatas dalam relevansinya bagi penciptaan masyarakat
pluralis.

III.1. Demokrasi sebagai Konsensus Ideologis


Seperti telah diuraikan diatas tahap transisi demokrasi seringkali memunculkan artikulasi politik
destruktif berupa artikulasi wacana politik identitas secara ekstrem, mobilisasi politik komunal
dan munculnya semangat anti-keragaman dan konflik politik bernuansa SARA. Sementara itu
kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut dalam perkembangannya akan semakin meredup
ketika demokrasi telah terkonsolidasikan (Jack Snyder 2000). Berpijak pada tesis tersebut, maka
konsolidasi demokrasi menjadi sebuah kebutuhan mendesak untuk mewujudkan masyarakat
pluralis yang menghargai kebhinekaan bangsa. Agar konsolidasi demokrasi dapat direalisasikan di
negeri ini, maka pertama-tama harus ada kesepakatan konsensual mutualistik diantara setiap
agensi-agensi politik dari tataran elite maupun massa untuk meyakini demokrasi sebagai pilihan
yang tepat diantara pilihan alternatif-alternatif lainnya.

Para pelaku-pelaku politik sudah sepatutnya menempatkan demokrasi baik dalam tataran
mekanisme dan instrumen kelembagaan sampai pada nilai-nilai keadaban (civic culture) sebagai
satu-satunya aturan main dan kerangka moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Internalisasi
demokrasi sebagai satu-satunya aturan permainan politik ini tidak hanya membutuhkan
komitmen normatif dan kognitif, namun lebih dari itu keyakinan terhadap demokrasi harus
memanifes dalam habituation (kebiasaan) dimana nilai, prosedur dan harapan terinternalisasi
oleh setiap warga negara dan agensi politik di Indonesia.

Persoalan yang tengah kita hadapi saat ini adalah masih banyak kalangan elite politik yang tidak
memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan merawat demokrasi. Pemahaman normatif dan
kognitif terhadap nilai-nilai demokrasi tidak mewujud menjadi habituation kerangka bertindak
mereka dalam ranah politik dan ruang publik. Sementara saat ini kita mendapatkan elite-elite
politik didalam kepemimpinan masyarakat sipil yang enggan menyemaikan suara-suara
kebenaran dan nilai-nilai keadaban sipil. Yang terlihat saat ini adalah para elite-elite
kepemimpinan di level masyarakat sipil tersebut hanya mengikuti kecenderungan-
kecenderungan komunalistik massa dan membiarkan tindak-tindak kekerasan dan anti pluralisme
meruntuhkan bangunan kehidupan demokrasi dalam wilayah kultural maupun politik. Dimana
kesemuanya itu diarahkan kepada pencapaian target-target politik jangka pendek untuk meraih
kursi kekuasaan.

Di level civil society, bangsa ini tengah mengalami krisis figur kepemimpinan intelektual seperti
Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Amien Rais dan Ahmad Syafii Ma’arif yang pada masa
lalu berperan sebagai agensi politik utama yang mengartikulasikan suara Islam moderat dan
mendorong lokomotif demokrasi sekaligus merawat dan mempertahankannya. Saat ini kita
membutuhkan kepemimpinan intelektual di dalam ruang publik yang seperti diutarakan oleh
Edward Said (1995) dalam karyanya Representations of Intellectuals yang memiliki kemampuan

6
untuk berbicara benar kepada kekuasaan dan mampu mengartikulasikan suara-suara kebenaran
kepada publik.

Sementara di level negara, kepemimpinan republik saat ini menjadi kepemimpinan yang lemah.
Hal ini terjadi karena pemimpin negara tidak berani untuk mengambil sikap tegas terhadap
setiap tindakan-tindakan yang menggunakan jalan kekerasan dan berpretensi untuk menolak
keragaman. Bahkan para pemimpin di level negara sepertinya bungkam terhadap eksistensi
kelompok-kelompok tertentu yang berusaha mengganggu perkembangan kehidupan nation-state
kita yang tengah bergerak menuju aktualisasi cita-cita semangat negara kebangsaan yang
inklusif, setara dan menghormati keragaman multikultural. Akibatnya pemimpin di level negara
tidak mampu memerankan diri sebagai kekuatan utama yang mampu memoderasi benturan-
benturan identitas yang yang saat ini tengah menyeruak dihadapan kita.

Dalam kondisi demikian konsensus ideologis di kalangan elite politik dan masyarakat akar rumput
untuk menjadikan demokrasi sebagai aturan main kehidupan berbangsa dan bernegara kita dan
cita-cita kita kedepan adalah sebuah kebutuhan mendesak. Hanya elite politik dan warga yang
memiliki tanggung jawab dalam berdemokrasi maka proses eksperimentasi bernegara kita dapat
menghindarkan diri dari anasir-anasir kekerasan, semangat intoleransi dan kebencian terhadap
kemajemukan.

III.2. Menyebarkan Pemikiran Demokrasi di Ruang Publik


Seperti diuraikan sebelumnya perkembangan demokrasi saat ini tengah menghadapi ancaman
pembelokan menuju kondisi illiberal democracy maupun liberal undemocratic. Kondisi Illiberal
democracy terjadi ketika tujuan-tujuan politik illiberal seperti penguatan sentimen
komunalisme, pengedepanan isu SARA dan penolakan terhadap multikulturalitas bangsa tengah
memasuki arena politik demokrasi. Sementara kondisi liberal undemocratic terjadi ketika
kelompok-kelompok yang menyebarkan gagasan-gagasan pluralisme, keterbukaan dan kebebasan
menjalankan politik kekuasaan tanpa mempertimbangkan suara, aspirasi dan aksi politik dari
rakyat. Untuk menghadapi ancaman ruang publik tersebut, maka perlu kiranya memikirkan
antisipasi intelektual untuk meredam hegemoni gagasan-gagasan anti-pluralisme dan anti-rakyat
di wilayah publik. Pertempuran intelektual menjadi arena yang sangat menentukan menuju
proses konsolidasi demokrasi dan mempertahankan tatanan masyarakat pluralis. Pada level ini
maka hegemoni gagasan-gagasan demokrasi dan keadilan sosial di ruang publik menjadi
parameter utama bagi keberhasilan konsolidasi demokrasi.

Pada konteks inilah maka diseminasi gagasan-gagasan demokrasi haruslah menjalar di media
massa, diskusi-diskusi di ruang publik sampai pada tingkatan pendidikan di bangku-bangku
sekolah mengenai pengembangan budaya demokrasi, multikulturalisme, dan ide-ide sosialisme
demokrasi. Identitas kewargaan sipil dan kajian kritis terhadap mitos-mitos yang dapat merusak
kehidupan demokratis di lembaga-lembaga pendidikan harus digerakkan bersama-sama dengan
pengembangan birokrasi yang imparsial dan profesional serta pers berkwalitas sebagai corong
terhadap nilai-nilai keadaban demokratis.

Satu hal yang menarik ketika saya membaca memoar dari salah seorang teroris bom Bali yaitu
Imam Samudera dalam bukunya Aku Melawan Teroris, ternyata semangat fanatisme keagamaan
dalam dirinya ikut dibentuk oleh kebenciannya terhadap indoktrinasi pelajaran Pancasila yang ia
dapatkan semenjak Sekolah Dasar. Bagi Imam Samudera dan mungkin bagi orang-orang
segenerasi yang tumbuh dibawah atmosfer ketertutupan pada masa Orde Baru, mitologisasi
Pancasila dan pengajarannya sebagai indoktrinasi justru membuatnya terasing dari semangat
kebangsaan yang inklusif. Represivitas negara dan jangkauan ideologis totalitarian pada masa
rezim Soeharto dalam pendidikan telah memproduksi semangat resistensi dan kebencian
terhadap dasar negara dan tatanan politiknya.

Sementara itu gagasan-gagasan inklusif yang dapat mengantarkan anak didik untuk mengenal
pentingnya solidaritas sosial antara warga, penghormatan terhadap kemajemukan dan nilai-nilai
dasar demokrasi keadaban tidak menjadi diskursus utama dalam pelajaran disekolah. Sepertinya
hal ini menjadi salah satu penyebab, mengapa demokrasi pada awalnya selalu membuka kotak
pandora bagi munculnya gagasan-gagasan fanatisme dan anti-pluralisme. Hal ini disebabkan
karena sebelumnya terjadi krisis dalam penyebaran nilai-nilai inklusivitas dan pluralisme dalam
proses pendidikan keseharian.

7
Demikianlah konsolidasi demokrasi mengharuskan kita untuk memperhatikan aspek-aspek
mikroskopik dalam penyebaran wacana-wacana demokrasi selain di media massa dan diskusi-
diskusi publik juga internalisasi gagasan nilai-nilai demokratik di sekolah-sekolah. Pada level ini
maka perlu kiranya untuk memikirkan bagaimana gagasan-gagasan demokrasi dan keadaban sipil
yang telah dielaborasi oleh Soekarno-Hatta-Sjahrir, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan
para pendekar demokrasi lainnya dapat terinternalisasi sejak awal dalam materi pendidikan-
pendidikan di tiap level pendidikan. Sehingga tidak hanya menjadi konsumsi intelektualitas yang
canggih tapi juga dapat sosialisasikan ke dalam nilai-nilai moralitas keseharian dan membentuk
karakter bangsa.

III.3. Prasyarat Kelembagaan Menuju Konsolidasi Demokrasi


Konsolidasi demokrasi amat ditentukan oleh hadirnya prasyarat kelembagaan bagi suksesnya
proses demokratisasi. Seperti diuraikan oleh Jack Snyder dan Karen Ballentine (1997), bahwa
pengalaman keberhasilan konsolidasi demokrasi di Amerika Latin maupun beberapa negara Eropa
Timur menunjukkan hadirnya partai politik yang kuat dan moderat, masyarakat sipil yang
matang dan lembaga-lembaga pers yang profesional merupakan salah satu penentu bagi
keberhasilan proses demokratisasi. Hadirnya partai politik yang memiliki akar yang kuat di level
konstituen dan melakukan political engagement dengan aspirasi-aspirasi warga serta memiliki
orientasi ideologis berbasis civic nationalism memiliki peran besar mengartikulasikan agenda-
agenda publik dan membangun tatanan politik moderat pada level masyarakat politik.
Sementara pers yang profesional dan kuat memiliki peran penting dalam penyebaran gagasan-
gagasan kebangsaan yang inklusif untuk meredam anasir-anasir politik identitas komunalistik.

Pada level kelembagaan inilah proses transisi demokrasi kita masih menghadapi persoalan yang
rumit. Perkembangan dinamika kepartaian di Indonesia justru menunjukkan bahwa sebagian
besar partai politik yang berorientasi pada nilai-nilai civic nationalism memiliki masalah-masalah
di dalam dirinya. Pada satu sisi beberapa partai yang diharapkan mampu mengagendakan
wacana-wacana politik modern yang menghargai pluralitas belum mampu menjalankan fungsi
agregasi politik dan bekerja sebagai kanalisasi bagi aspirasi politik konstituennya.

Sementara dilema lainnya adalah partai-partai berbasis nasionalisme inklusif dan memiliki
konstituen yang cukup besar ini hampir seluruhnya terlibat dalam konflik internal yang tidak
berkesudahan dan memecah belah, dan ironisnya bernuansa parokialisme dan komunalistik.
Dalam kondisi demikian maka dalam konteks kelembagaan politik, penyebaran gagasan
pluralisme di ranah politik kekurangan agensi politik yang dapat merekonstruksi bangunan politik
demokratik-pluralis yang sekaligus mampu memperjuangkan civil liberties, hak-hak minoritas
dan kesadaran akan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Sehingga proses konsolidasi
demokrasi dan perkembangan politik liberal di Indonesia memerlukan dorongan dari kematangan
institusional yang kuat (partai politik dan media massa) serta mampu mengartikulasikan wacana-
wacana politik pluralis dan diskursus keadilan dalam perjuangan mengkonsolidasikan demokrasi.

IV. Membangun Negara untuk Kesejahteraan Rakyat


Apabila kita berniat mengurangi kemungkinan adanya penindasan yang lebih besar
pada abad ke-21, masyarakat harus belajar untuk mengembangkan saluran-saluran
yang tidak diracuni dan kurang bersifat manipulatif bagi informasi, partisipasi dan
aksi politik.

Soedjatmoko ”Development and Freedom” 1983

Salah satu hal yang kerapkali luput namun amat fundamental dalam diskursus pluralisme dalam
ruang publik di Indonesia, bahwa perkembangan karakter pluralisme dalam masyarakat modern
berjalan seiring dengan menguatnya pembicaraan mengenai pentingnya wacana-wacana
pembangunan dan keadilan sosial beserta implementasinya yang melibatkan partisipasi kolektif
antara institusi-institusi negara, pasar dan masyarakat sipil. Sebagai salah satu contoh--seperti
diuraikan dalam catatan perjalanan Alexis de Tocqueville—keberhasilan pengalaman masyarakat
Amerika dalam membangun asosiasi-asosiasi bebas yang menghargai pluralisme, menghormati
hak-hak politik maupun sipil dan berbasis kesetaraan sangat dibanyak dibantu oleh keberhasilan
relasi antara masyarakat sipil dan negara dalam memanfaatkan ekonomi pasar bebas untuk

8
membangun fondasi demokrasi ekonomi yang berbasis pada kesetaraan. Disini berkembangnya
kesadaran pluralis memerlukan topangan infrastruktur yang kuat bagi perwujudannya.

Dalam kaitannya dengan krisis pluralisme dan fanatisme kelompok di negeri kita yang merebak
akhir-akhir ini, salah satu persoalan utama adalah partisipasi politik negatif berbasis politik
identitas saat ini berjalan ditengah alienasi sebagian besar warganegara dalam proses
pembangunan ekonomi, partisipasi politik dan globalisasi yang turut menentukan kualitas dan
taraf kehidupan mereka. Sebagian besar warganegara kenyataannya tidak mendapatkan manfaat
utama dan akses yang signifikan dalam pembukaan pasar bebas dan proses-proses bernegara
yang tengah berlangsung di era globalisasi.

Riset terhadap fenomena penyebaran reformasi pasar bebas dan transisi demokrasi di negara-
negara berkembang termasuk Indonesia yang dilakukan oleh Amy Chua (2003) dalam karyanya
World On Fire: How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred and Global
Instability menunjukkan di negara-negara dunia ketiga formula demokrasi pasar bebas tidak
dapat secara langsung mewujudkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial karena hambatan
dominasi minoritas yang menguasai pasar (market-dominant-minorities) menyebabkan
kebebasan politik paska rezim otoritarian justru membuka partisipasi politik bernuansa SARA dan
penyebaran wacana-wacana intoleransi di masyarakat. Kebencian mayoritas masyarakat
terhadap kondisi ketimpangan sosial ekonomi yang begitu akut, menyebabkan demokrasi mudah
dimanipulasi oleh pemimpin-pemimpin oportunis yang mengipasi masyarakat dengan kebencian
berbasis etnik maupun agama dan semangat komunalisme.

Dalam konteks ini maka strategi mengadopsi pasar bebas dan demokrasi di negara-negara
berkembang sudah semestinya mempertimbangkan ketimpangan sosial ekonomi yang
menempatkan sebagian kecil pemain ekonomi kuat yang berhasil mengarahkan pasar bebas
ditengah kepapaan dan kenestapaan mayoritas masyarakat yang tidak mendapatkan akses dan
berkah dari persebaran kapitalisme. Untuk itu maka pada bagian dibawah ini saya mencoba
mengeksplorasi beberapa strategi-strategi yang dapat digunakan agar penyebaran demokrasi dan
pasar bebas berjalan sebagai proses pembangunan untuk pembebasan sehingga dapat
mendorong pada perubahan transformatif yang lebih bermakna bagi realisasi pembangunan
masyarakat pluralis kedepan.

IV.1. Menyebarkan Keuntungan Pasar untuk Kesejahteraan Rakyat


Dilema utama dalam integrasi masyarakat di negara miskin dan berkembang dalam proses
globalisasi ekonomi terjadi ketika wacana laissez faire capitalism terbukti mengeksklusikan
mayoritas warga dalam proses-proses keterbukaan pasar yang tengah berlangsung. Kemarahan
mereka dalam medan sosial-politik acapkali menghancurkan capaian-capaian demokrasi politik
dan reformasi ekonomi yang dijalankan. Sehubungan dengan realitas yang pahit ini, satu hal
yang patut untuk dipertimbangkan adalah model fundamentalisme pasar yang menempatkan
pasar bebas tanpa regulasi dan pengkondisian hanya akan melahirkan tragedi sosial-ekonomi
bagi masyarakat banyak. Sampai saat ini bahkan tidak ada negara Eropa maupun Amerika yang
berhasil mematangkan demokrasi dan pasar bebas yang mengadopsi secara total prinsip
fundamentalisme pasar, ketika kampanye terhadap gagasan tersebut dijalankan keseluruh
negara-negara non-Barat.

Sejarah formasi sosial masyarakat modern Eropa—seperti diuraikan oleh Edwards McNall Burns
(1954) dalam karyanya Western Civilizations: Their History and Their Culture--menampilkan
perkembangan kapitalisme pasar bebas di Eropa berjalan dengan baik karena tidak saja ditopang
oleh demokrasi politik namun juga oleh demokrasi ekonomi. Perkembangan ekonomi pasar bebas
sejak paruh akhir abad ke-19 diikuti oleh perkembangan gagasan-gagasan sosial-demokrasi untuk
mereformasi perjalanan kapitalisme. Sejak saat itu muncul wacana-wacana tentang
kesejahteraan sosial yang meregulasi banyak hal berkaitan dengan kesejahteraan bagi kelas
pekerja, jam kerja yang memadai sehingga kelas pekerja tidak dikenai beban kerja yang berat,
penerapan pajak progresif, jaring pengaman sosial bagi warga yang paling tidak diuntungkan
dalam sistem kapitalisme dan berbagai reformasi lainnya demi keadilan sosial.

Tidak saja berkembang pada level wacana, gagasan-gagasan tersebut direalisasikan oleh negara-
negara Eropa seperti di Jerman dibawah arahan Oto Van Bismarck, pemerintahan Austria sejak
1885, Amerika yang dipelopori oleh pemikiran Alexander Hamilton, dan kemudian diikuti oleh

9
Prancis maupun Italia. Sampai saat inipun ketika doktrin neo-liberalisme tengah menjadi
gelombang pasang yang menyebar keseluruh dunia, negara-negara Eropa maupun Amerika tidak
meninggalkan jaringan pengaman sosial bagi warganya.

Berkaca pada ilustrasi historis diatas, menjadi kebutuhan mendesak bagi negara-negara
berkembang khususnya di Indonesia untuk menyebarkan keuntungan dari proses integrasi pasar
bebas agar dapat dinikmati oleh mayoritas warga yang dilanda kemiskinan. Berbagai mekanisme
sosial yang memerlukan inisiatif negara diperlukan disini untuk membawa kapitalisme dan
demokrasi menjadi berkah bagi semua. Pertama-tama perhatian terhadap redistribusi melalui
pajak, program jaring pengaman sosial pada kualitas dasar kehidupan warga (pendidikan,
kesehatan, sanitasi), pelatihan dan pendidikan untuk menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas,
penegakan dan perawatan hak-hak sipil dan politik menjadi komitmen mendasar dari
pelaksanaan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik meliputi jejaring negara,
pasar dan masyarakat sipil).

Persoalannya dibawah kendali para penasehat dari lembaga keuangan internasional seperti IMF
dan World Bank mekanisme ini dianggap menyalahi trajektori pasar bebas. Pengalaman Joseph
E. Stiglitz ketika melakukan pendampingan reformasi ekonomi di negara-negara miskin dan
berkembang ketika ia menjadi konsultan ekonomi Bank Dunia membuktikan, berbagai komitmen
terhadap distribusi bantuan luar negeri untuk peningkatan sektor pendidikan, kesejahteraan dan
kesehatan di negara-negara berkembang dipandang oleh elite-elite ekonom dari Bank Dunia
maupun IMF sebagai pemborosan anggaran publik. Padahal berbagai mekanisme sosial yang
penting untuk merealisasikan keadilan sosial tersebut merupakan sesuatu yang tidak asing di
negara-negara Barat yang makmur, berkelimpahan dan demokratis (Joseph E.Stiglitz 2002).

Dilema yang muncul bagi implementasi kebijakan-kebijakan untuk menyebarkan berkah pasar
bebas bagi kesejahteraan masyarakat banyak adalah negara seperti Indonesia tidak memiliki
sumber daya yang cukup, selain terjebak dalam jeratan korupsi dan anggaran pajak yang sedikit
untuk mengimpelementasikan program jaring pengaman sosial. Menghadapi kondisi ini, strategi
melawan korupsi yang melibatkan masyarakat sipil, supremasi hukum yang tegas dan tanpa
ampun, serta pengelolaan sumber daya alam secara tepat menjadi sebuah pekerjaan yang harus
segera dilaksanakan. Bangsa kita bukannya kekurangan sumber daya untuk kemajuan dan
kesejahteraan warganya, sampai saat ini Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan
sumber alam yang sangat besar dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Salah kelola
tata pemerintahan menjadi problem utama yang harus segera diselesaikan. Mengingat sistem
kapitalisme agar dapat berjalan dengan baik dan mampu meredam gejolak-gejolak sosial politik
memerlukan prasyarat kesetaraan sosial diantara masyarakat atau minimal pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan dasar dari tiap-tiap warga.

IV.2. Pembangunan dan Partisipasi Kolektif Warga Sebagai Aksi Pembebasan


Penghormatan terhadap keragaman atau semangat pluralisme tidak hadir untuk memenuhi
dirinya sendiri, pluralisme bukan saja perlu dibela untuk kepentingan pluralisme itu sendiri! Ia
pantas dibela, dipertahankan dan diperjuangkan untuk tujuan yang lebih bermakna yaitu untuk
merealisasikan kemerdekaan bagi tiap-tiap manusia. Secara lebih mendalam kemerdekaan bagi
tiap-tiap manusia adalah bahwa tiap-tiap orang memiliki hak untuk memperoleh kualitas dan
terbuka terhadap pilihan-pilihan hidup yang bermartabat. Disini penghormatan terhadap
kebhinekaan--dalam konteks keIndonesiaan—menjadi penting bagi pemenuhan kemerdekaan
bagi tiap-tiap orang Indonesia.

Untuk memulai bagian ini saya akan mencoba menghubungkan antara pluralisme, partisipasi,
pembangunan, dan kemerdekaan. Di negara-negara yang telah mengadopsi demokratisasi,
keran-keran partisipasi politik terbuka lebar dengan tingkat partisipasi politik yang tinggi.
Persoalannya adalah tanpa dibangun diatas kualitas nilai-nilai demokrasi yang tinggi, maka
partisipasi politik tersebut bergerak menuju kebencian terhadap kemajemukan, politisasi etnis,
agama, dan kelompok untuk menyerang ”the other”, dan pengabaian demokrasi untuk
partisipasi dalam proses pembangunan yang lebih substansial (pemberantasan kemiskinan dan
kelaparan, pemenuhan hak-hak sipil dan politik dari warga, serta perbaikan kualitas hidup
seperti kesehatan, pendidikan dan hak-hak sosial dari masyarakat).

10
Kebebasan politik tidak mengarah pada kemerdekaan bagi tiap-tiap warganya, ketika partisipasi
politik tidak menciptakan jejaring masyarakat sipil yang berkomitmen untuk menjalankan proses
pembangunan sebagai upaya pemerdekaan manusia. Kekerasan dan politik identitas yang fanatik
berpotensi menghancurkan lintasan demokrasi sebagai perjuangan warga untuk meningkatkan
kualitas kehidupan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan terbukanya saluran-saluran partisipasi
politik, media massa dan pasar bebas tidak berfungsi optimal untuk mengarahkan warga
melakukan kontrol terhadap jalannya tata pemerintahan serta terlibat dalam penentuan
kebijakan-kebijakan bermakna bagi kepentingan publik. Partisipasi politik dalam lingkungan
yang sarat dengan kekerasan politik identitas hanya akan menampilkan dominasi satu kelompok
terhadap yang lain dan menangnya elite politik yang berhasil memanipulasi massa dengan
slogan-slogan etnis, agama dan keunggulan suatu kelompok.

Proses demokrasi sejak awal harus bersinergi dengan peningkatan kualitas wacana demokrasi
dan penumbuhan respek terhadap keragaman dalam kehidupan sosial. Pembelajaran kolektif
terhadap nilai-nilai pluralisme melalui jejaring masyarakat sipil akan berperan efektif untuk
mengarahkan demokrasi menjadi bagian integral dari proses pembangunan sebagai pemerdekaan
bagi tiap-tiap manusia (Amartya Sen 2000).

Sampai disini saya bermaksud untuk mengarahkan pentingnya kualitas demokrasi yang baik bagi
proses pembangunan sebagai proses humanistik—dalam perspektif Amartya Sen--untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia mulai dari pemenuhan hak-hak sosial-ekonomi (mulai dari
bebas dari kemiskinan, kelaparan, kesahatan dan standar pendidikan yang baik) sampai dengan
hak-hak sipil dan politik. Dalam lingkungan politik demokratik yang menghargai keragaman,
warga memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri sebagai agensi politik aktif dalam
membentuk arus sejarahnya sendiri, dan bukan sebagai pelaku pasif baik sebagai penikmat
maupun korban dari hasil pembangunan. Negara dan masyarakat sipil bersama-sama memiliki
peran penting untuk memperkuat kualitas hidup kemanusiaan melalui model pembangunan
demokratik berwawasan manusiawi.

Salah seorang akademisi politik Jose Maria Maravall (1995) menguraikan pandangan optimistik
tentang demokrasi. Menurutnya berbagai contoh kasus di beberapa negara yang berhasil meniti
jalan demokrasi berbagai elemen-elemen demokrasi seperti pluralisme politik, oposisi politik,
pemberdayaan masyarakat sipil dan kebebasan pers memberikan dorongan yang positif bagi
keberhasilan pembangunan sebagai upaya pemerdekaan manusia. Praksis asas-asas transparansi
dan akuntabilitas secara konsisten menjadi pendorong dan pembuka jalan bagi proses
pembangunan ekonomi bagi kesejahteraan warga. Monitoring yang intensif dan kontrol yang
ketat dalam pelaksanaan pemerintahan oleh warga dan kekuatan-kekuatan politik serta akses
informasi yang terbuka lebar dari media massa dalam sistem demokrasi justru mereduksi korupsi
terhadap sumber daya publik sehingga membawa berkah bagi penataan reformasi ekonomi yang
efisien. Sanksi dan dukungan yang diberikan oleh warga terhadap kebijakan-kebijakan
pemerintahan dalam mekanisme demokrasi justru menuntut pemerintah untuk memiliki
komitmen sepenuhnya dan sensitive terhadap aspirasi warga.

Satu hal yang tidak dapat dilupakan bahwa hal itu berlangsung ketika demokratisasi dan luapan
partisipasi politik rakyat juga harus diikuti dengan penguatan kapabilitas negara (capable state).
Penguatan kelembagaan negara seperti penguatan administrasi publik dan birokrasi yang
professional, efisien dan bersih, maupun lembaga-lembaga politik seperti lembaga legislative
yang memiliki komitmen publik yang tinggi dan sensitive terhadap agenda rakyat menjadi
prasyarat utama untuk keberhasilan proses pembangunan sebagai upaya pemerdekaan tiap-tiap
manusia.

V. Penutup
Dimasa depan menurut saya tidak akan muncul kembali Nurcholish Madjid baru, sebagai
begawan yang menghadirkan dentuman besar tentang gagasan-gagasan tercerahkan seperti
pluralisme, inklusivitas dan toleransi dan mengkhotbahkannya diatas bukit. Tugas penting yang
telah menunggu, adalah merambah peta jalan untuk merealisasikannya dalam konteks
keindonesiaan, kemodernan dan keIslaman. Sudah saatnya kaum intelektual menjadi agensi-
agensi aktif dalam perjalanan panjang untuk membela pluralisme dan merealisasikan
terbangunnya masyarakat yang terbuka dan majemuk. Untuk mengawalinya, maka sudah saatnya

11
bagi kita menjadi pelayan dari rakyat dan republik ini dengan berfikir dalam spektrum yang
lebih luas bagi proses yang tak pernah henti untuk memerdekakan manusia.

Daftar Pustaka
Burns, Edward McNall. 1958. Western Civilizations: Their History and Their Culture. New York:
WW Norton & Company INC.
Chua, Amy. 2003. World On Fire: How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred
and Global Instability. New York: Doubleday
Dijk, Kees Van. 2001. A Country in Despair: Indonesia between 1997 and 2000. Jakarta: KITLV
Press.
Diamond, Larry. 2003. Developing Democracy toward Consolidation. Yogyakarta IRE.
Dahm, Bernard. 1987. Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta LP3ES.
D’Enteves, Maurizio Passerin. 2003. Filsafat Politik Hannah Arendt. Yogyakarta: Qalam.
Habermas, Jurgen. 1998. The Inclusion of the Other. Massachusetts: The MIT Press.
Idi Subandy Ibrahim. 2004. Dari Nalar Keterasingan Menuju Nalar Pencerahan: Ruang Publik dan
Komunikasi dalam Pandangan Soedjatmoko. Yogyakarta: Jalasutra.
Kahin, George Mc Turnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Sinar Harapan dan UNS
Press.
Muhammad Hatta. 1983. Tanggung Jawab Kaum Intelegensia dalam Cendekiawan dan Politik..
Jakarta LP3ES.
Maravall, Jose Maria. 1995. The Myth of the Authoritarianism Advantage dalam Economic
Reform and Democracy. Editor Larry Diamond dan Marc F. Plattner. Maryland: The
John Hopkins University Press.
Nurcholish Madjid. 2004. Indonesia Kita. Jakarta: Universitas Paramadina.
Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.
Soekarno. 2003. Lahirnja Pantja-Sila. Depok: Vision-03.
Said, Edward. 1998. Peran Intelektual: Kuliah-Kuliah Reith Tahun 1993. Jakarta: Obor.
Snyder, Jack. 2000. From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict.New
York: WW.Norton and Company.
___________dan Karen Ballentine. Nationalism and the Market Place of Idea dalam Nationalism
and Ethnic Conflict. Editor: Michael E. Brown et.al. Massachusetts: MIT Press.
Sen, Amartya. 2000. Development as Freedom. New York: Alfred A. Knopf.
Senghaas, Dieter. 1998. The Clash within Civilization: coming to terms with cultural conflict.
London: Routledge.
Stiglitz, Joseph E. Globalization and Its Discontents. New York. WW.Norton & Company.
Yudi Latif. 2005. Intelegensia Muslim dan Kuasa: genealogi Inteligensia Muslim Indonesia abd
ke-20. Bandung: Mizan.
Zakaria, Fareed. 2003. The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Homa and Abroad. New
York & London: WW. Norton & Company.

12

Anda mungkin juga menyukai