Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH HUKUM LINGKUNGAN

ANALISIS PUTUSAN
No.Reg 71/G.TUN/2001/PTUN-JKT

KASUS PELEPASAN KAPAS TRANSGENIK


DI SULAWESI SELATAN

Barry Maheswara,
Moh. Arief,
Aulia Layinna, 0906519772
Catherine Juwita, 0906519255
Deydra Azhara, 0906519362
Irfan Damanik, 0906519772
Mahsiwara Timur, 0906519961
Putri Neysa Anggraeni, 0906520263
Siti Irniati Pratiwi, 0906520471

KELAS : C
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2010
ANALISIS PUTUSAN PERKARA TATA USAHA NEGARA
No.Reg 71/G.TUN/2001/PTUN-JKT

1. Hak Gugat atau Legal Standing Penggugat

• Berdasarkan pasal 53 ayat (1) UU No. 5 tahun 1986 jo UU No. 9 tahun 2004 jo UU
No. 51 tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dinyatakan bahwa
“Seseorang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan
oleh suatu keputusan tata usaha negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada
pengadilan yang berwenang berisi tuntutan agar keputusan tata usaha negara yang
disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai
tuntutan ganti rugi dan / atau rehabilitasi”.
• Berdasarkan pasal 92 (1) UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa “Dalam rangka pelaksanaan
tanggung jawab perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, organisasi
lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian
fungsi lingkungan hidup”.
• Berdasarkan pasal 92 (3) UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa “organisasi lingkungan hidup dapat
mengajukan gugatan apabila memenuhi persyaratan :
a. berbentuk badan hukum
b. menegaskan di dalam anggaran dasarnya bahwa organisasi tersebut didirikan
untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup
c. telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai dengan anggaran dasarnya paling
singkat dua tahun”
• Berdasarkan pasal 93 (1) UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa “setiap orang dapat mengajukan gugatan
terhadap keputusan tata usaha negara apabila :
a. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan kepada
usaha dan/atau kegiatan yang wajib AMDAL tetapi tidak dilengkapi dengan
dokumen AMDAL
b. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan kepada
kegiatan yang wajib UKL-UPL, tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen UKL-UPL;
dan/atau
c. badan atau pejabat tata usaha negara yang menerbitkan izin usaha dan/atau
kegiatan yang tidak dilengkapi dengan izin lingkungan

Dalam kasus ini terdapat enam pihak yang melakukan gugatan dan bertindak sebagai
penggugat, yaitu:
1. Yayasan Lembaga Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia (Indonesian Centre
for Environmental Law)
2. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
3. Yayasan Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia
(KONPHALINDO)
4. Yayasan Biodinamika Pertanian Indonesia / Biotani Indonesia
5. Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan
6. Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM)

Penguraian syarat-syarat yang tercantum dalam pasal 92 (3) UU No. 32 tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut:
1. Berbentuk badan hukum
Bahwa para penggugat dalam kasus Kapas Transgenik sebagaimana telah diuraikan di
atas adalah Direktur Eksekutif / Ketua Badan Pengurus / Koordinator dari Lembaga-
lembaga Swadaya Masyarakat yang tumbuh secara swadaya, atas kehendak sendiri dan
keinginan sendiri dari beberapa kelompok masyarakat di tengah masyarakat, yang
memfokuskan diri serta bergerak di bidang Lingkungan Hidup maupun Perlindungan
Konsumen. Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang berbentuk Badan Hukum atau
Yayasan maka kedudukan para penggugat yang memiliki kepentingan dan kedudukan
hukum untuk mewakili masyarakat dalam memperjuangkan haknya telah diakui secara
eksplisit dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
2. Menegaskan di dalam anggaran dasarnya bahwa organisasi tersebut didirikan untuk
kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
a. Dalam Pasal 4 AD/ART dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL)
disebutkan bahwa tujuan dari lembaga ini ada adalah salah satunya untuk memberikan
dukungan terhadap upaya-upaya pembelaan dalam permasalahan lingkungan
masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.
b. Dalam Pasal 5 AD/ART dari YLKI disebutkan bahwa maksud dan tujuan dari
lembaga ini ada adalah untuk memberikan bimbingan dan perlindungan kepada
masyarakat konsumen menuju kepada kesejahteraan keluarga..
c. Dalam Pasal 4 AD/ART dari KONPHALINDO disebutkan bahwa maksud dan
tujuan dari lembaga ini ada adalah turut serta melestarikan hutan dan alam Indonesia
guna kesejahteraan masyarakat luas, hal ini jelas termasuk dalam usaha perlindungan
lingkungan hidup.
d. Dalam Pasal 5 AD/ART dari Yayasan Biodinamika Pertanian Indonesia
disebutkan disebutkan bahwa tujuan dari lembaga ini didirikan adalah salah satunya
untuk pengembangan pertanian berwawasan lingkungan (sustainable agriculture).
e. Dalam Pasal 5 AD/ART dari YLKSulawesi Selatan disebutkan bahwa maksud dan
tujuan lembaga ini didirikan adalah memberikan bimbingan dan perlindungan kepada
masyarakat konsumen, menuju kepada kesejahteraan keluarga.
f. Dalam Pasal 3 ayat (6) AD/ART dari Yayasan Lembaga Pengkajian dan
Pemberdayaan Masyarakat disebutkan bahwa salah satu maksud dan tujuan
lembaga ini didirikan adalah untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dalam
upaya mengelola dan meningkatkan kesejahteraan menuju masyarakat yang adil dan
makmur. Hal ini dapat ditempuh salah satunya dengan cara perlindungan dan
pelestarian lingkungan hidup agar rakyat dapat sejahtera dan terlindungi dari
pencemaran lingkungan.
3. Telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai dengan anggaran dasarnya paling singkat
dua tahun.
Bahwa apa yang menjadi fungsi yayasan-yayasan tersebut di atas adalah untuk
memberdayakan masyarakat dan turut serta dalam usaha-usaha pelestarian lingkungan
dan perlindungan konsumen tersebut telah direalisasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan
nyata yang menunjukkan kepedulian yayasan-yayasan tersebut terhadap masyarakat dan
lingkungan khususnya masyarakat petani kapas dan lingkungan di Provinsi Sulawesi
Selatan, di antaranya kegiatan:
- Penyadaran masyarakat tentang produk transgenik dengan cara penyebarluasan
informasi ke berbagai lapisan masyarakat.
- Ikut serta secara aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan pembahasan dan
penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan produk transgenik.
- Melakukan kegiatan advokasi publik baik kepada lembaga swadaya masyarakat atau
lembaga lainnya untuk menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle)
dalam kegiatan yang berkaitan dengan produk transgenik.
- Melakukan pengumpulan data-data tentang hal-hal yang berkaitan dengan produk
transgenik.
- Melakukan kegiatan pendampingan pada petani untuk pengembangan pertanian
berwawasan lingkungan (sustainable agriculture).

Dilihat dari telah terpenuhinya pasal 92 UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di atas dapat disimpulkan bahwa para penggugat pada
umumnya telah memiliki hak gugat (legal standing) dalam kasus Kapas Transgenik. Namun
perlu juga diperhatikan bahwa dalam AD/ART YLKI dan YLK Sulawesi Selatan tidak
memuat secara tegas (hanya implisit) bahwa tujuan dari Yayasan tersebut adalah untuk
kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Namun dari pertimbangan yang dikeluarkan
oleh Majelis Hakim dalam menjatuhkan putusannya, tujuan dari YLKI dan YLK Sulawesi
Selatan yang adalah memberikan perlindungan konsumen termasuk dalam fungsi
melestarikan lingkungan hidup.

2. Environmental Risks Assessment v. Precautionary Principle

Environmental Risks Assessment diartikan sebagai penilaian risiko atau dampak yang
dapat disebabkan oleh dilakukannya suatu hal, dalam hal ini sebuah usaha, terhadap
lingkungan sekitar. Lingkungan yang dimaksud bukan hanya dampak yang ditimbulkan pada
lahan yang digunakan atau sumber daya alam yang dilibatkan, namun juga dampak luas
terhadap masyarakat sekitar maupun konsumen dari produk yang dihasilkan dari usaha
tersebut. Environmental risks assesment pada dasarnya dibagi dalam empat tahapan yaitu
identifikasi bahaya atau risiko, penilaian terbuka, penilaian pengaruh atau dampak, serta
karakteristik dari pengaruh atau dampak tersebut.1

Pada dasarnya, belum ada penjelasan yang tepat mengenai prinsip kehati-hatian.

1
Hal. 197. D.A. Andow and Claudia Zwahlen, "Assessing Environmental Risks of Transgenic Plants", Ecology
Letters, Vol. 9, 2006.
There is considerable controversy about how to define a precautionary regulatory
approach and how to identify the criteria to guide its implementation.2

Asas atau prinsip kehati-hatian adalah bahwa segala ketidakpastian mengenai dampak suatu
usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah meminimalisasi atau menghindari
ancaman terhadap pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Asas kehati-hatian telah
menjadi sebuah asas yang sangat diperhatikan dalam suatu pembentukan peraturan
lingkungan hidup baik di tingkat nasional ataupun di tingkat internasional untuk melindungi
lingkungan dari efek-efek yang ditimbulkan oleh manusia pada khususnya. Dalam penerapan
dan pengaplikasian prinsip kehati-hatian cara yang paling sering kita jumpai adalah dengan
cara analisis resiko terhadap segala jenis usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting
terhadap lingkungan hidup.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat kita jelaskan bahwa terdapat korelasi yang erat
antara asas kehati-hatian dan environmental risk assessment (ERA) dimana di dalam
meminimalisasi resiko yang akan timbul khususnya dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang
terkait dengan lingkungan hidup, maka kita harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam
menjalankan sebuah usaha dan/atau kegiatan usaha.

Menurut pendapat dari pihak Tergugat atau PT. Monagro Kimia, risiko yang dapat
timbul dari penggunaan Varietas Unggul NuCOTN 35B (BOLLGARD) adalah secara sangat
signifikan akan mengurangi penggunaan pestisida kimiawi, yang memberikan dampak
berkurangnya pencemaran udara dan lingkungan oleh zat kimia pestisida yang dapat
membahayakan lingkungan hidup dan manusia, serta secara ekonomis mengurangi biaya
produksi bagi petani yang sudah sangat terpuruk akibat krisis moneter dan politik yang
berkepanjangan.

Sementara pihak Penggugat atau beberapa LSM yang terkait di bidang lingkungan
hidup, berpendapat bahwa pernyataan mengenai penggunaan Varietas Unggul NuCOTN 35B
(BOLLGARD) akan atau tidak akan membawa dampak positif maupun negatif kepada
lingkungan, adalah masih belum jelas. Hal tersebut dikarenakan PT. Monagro Kimia belum

2
Hal. 317. R. Bratspies, "The Illusion of Care: Regulation, Uncertainty, and Genetically Modified Crops", New
York University Environmental Law Journal, Vol. 10, 2002.
melaksanakan proses Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta pengumuman
kepada masyarakat. Penggugat berpendapat kapas transgenik berpotensi menimbulkan
dampak penting terhadap lingkungan, karena:
1. Kapas transgenik Bt DP 5690B sebagai Varietas Unggul NuCOTN 35B
(BOLLGARD) merupakan kapas hasil rekayasa genetika varietas Delta Pine (DP) 5690
yang telah disisipi gen Cry1A yang mengandung endotoxin Bt (Bacillus thuriengiensis)
sehingga tahan hama karena dapat membunuh serangga-serangga tertentu;
2. Tanaman transgenik tahan hama merupakan tanaman yang harus melalui kajian
lingkungan paling rinci dan ketat karena kemampuannya menghasilkan racun yang
mampu membunuh hama sasaran, sehingga mempunyai potensi besar untuk:
a. Menimbulkan kerugian pada keanekaragaman hayati, berupa terbunuhnya suatu jenis
hewan atau menurunnya populasi suatu jenis tanaman yang bukan merupakan sasaran
semula;
b. Terjadinya perpindahan gen dari tanaman transgenik ke kerabat lainnya sehingga
menimbulkan gula super yang sulit diberantas;
c. Pembentukan senyawa yang menimbulkan alergi atau keracunan bagi manusia.

Hakim yang menangani kasus kapas transgenik ini melakukan penafsiran dari
klarifikasi kegiatan pelepasan kapas transgenik oleh Tergugat kepada Menteri Negara
Lingkungan Hidup atau Kepala BAPEDAL dalam surat tanggal 10 November 2000 yang
menyatakan bahwa pengujian laboratorium telah dilaksanakan pada bulan September 1998
dan Maret 2000 di BALITBIO Bogor yang hasilnya menyatakan tanaman kapas transgenik
tersebut aman terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati dan oleh karenanya dapat
dilakukan uji daya hasil atau uji adaptasi mengukuti prosedur yang berlaku. Dengan
demikian, menurut Hakim tersebut, environmental risks assesment yang dapat timbul dari
kapas transgenik ini adalah akibat yang tidak negatif dan aman terhadap lingkungan.

Menurut kelompok kami, pihak PT. Monagro Kimia memang telah mempertimbangkan
mengenai risiko yang dapat muncul dari penggunaan kapas transgenik tersebut. Hal ini
mengacu pada uji daya hasil atau uji adaptasi yang telah dilakukan di BALITBIO Bogor pada
bulan September 1998 dan Maret 2000, dimana hasil dari pengujian laboratorium tersebut
adalah tidak ada akibat negatif yang diprediksi akan terjadi dari penggunaan kapas transgenik
tersebut, serta aman terhadap lingkungan. Namun, kelompok kami berpendapat bahwa
sebenarnya telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian, dimana Pemerintah dalam
hal ini Menteri Pertanian mengeluarkan suatu surat keputusan tanpa adanya suatu analisis
resiko jangka panjang yang akan terjadi apabila pelepasan kapas transgenik tersebut
dilakukan. Analisis BALITBIO Bogor, menurut kelompok kami, adalah analisis yang
digunakan hanya untuk jangka pendek saja. Sedangkan berdasarkan jurnal ilmiah “The
illusion of care : regulation, uncertainty, and genetically modified food crops”, pemakaian
yang melebihi batas dari teknologi transgenik akan menimbulkan kerusakan lingkungan,
karena terdapat bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan dalam jangka waktu yang
panjang ke depan.

Gene flow is “the incorporation of genes into the gene pool of one population from
one or more other populations”

Crops genes may replace wild genes (genetik assimilation: Ellstrand & Elam 1993;
Levin et al. 1996; Wolf et al. 2001), reducing the genetik diversity of wild populations.
Crop genes may also flow to other crop varieties or land races, contaminating the
recipient seed pools. Whether this genetik contamination is called “genetik pollution”
or “adventitious presence”, it can have undesired consequences, reducing seed
quality (Friesen et al. 2003), threatening food safety (NRC 2004a) and organic food
production, or harming indigenous cultures [North American Free Trade Agreement–
Commission for Environmental Cooperation (NAFTA–CEC) 2004]. If the resulting
hybrids have lower fitness than their wild parents, the wild populations may shrink
(demographic swamping: Levin et al. 1996; Wolf et al. 2001), threatening the survival
of the wild population (Ellstrand & Elam 1993; Levin et al. 1996). Alternatively, if the
resulting hybrids have a higher fitness than their wild parents, the hybrid may become
invasive (Tiedje et al. 1989), replacing the wild population and other species in
agricultural and natural areas. Gene flow from crops to wild relatives is implicated in
the evolution of weediness in seven of the world’s 13 most significant crops (Ellstrand
et al. 1999). 3

Berdasarkan artikel tersebut di atas, Varietas Unggul NuCOTN 35B (BOLLGARD)


dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada di daerah pengembangan
varietas tersebut, serta mengancam keseimbangan alam yang ada. Keanekaragaman dapat

3
Hal. 200. R. Bratspies, "The Illusion of Care: Regulation, Uncertainty, and Genetically Modified Crops", New
York University Environmental Law Journal, Vol. 10, 2002.
berkurang apabila varietas tersebut justru lebih banyak mematikan hama yang tidak termasuk
dalam sasarannya, untuk kemudian berimbas pada makhluk hidup lain yang berkait dengan
keberadaan hama tersebut.

Selain itu, mengacu pada artikel di atas, persebaran gen yang terjadi dari gen Varietas
Unggul NuCOTN 35B (BOLLGARD) kepada tumbuhan sekitarnya, juga mengancam
berkurangnya keanekaragaman hayati. Apabila Varietas Unggul NuCOTN 35B
(BOLLGARD) ternyata lebih baik daripada varietas yang sebelumnya, maka Varietas Unggul
NuCOTN 35B (BOLLGARD) akan menggantikan varietas sebelumnya dan berdampak
positif bagi manusia. Namun apabila ternyata Varietas Unggul NuCOTN 35B (BOLLGARD)
merupakan penurunan dari varietas yang sebelumnya, maka varietas yang baru ini akan
mengancam keberadaan varietas yang lama dan akan membahayakan perkembangan dari
varietas lama yang lebih baik.

Penggugat dalam kasus di atas berpendapat bahwa pengertian Prinsip Kehati-hatian


(Precautionary Principle) merujuk pada ketentuan dalam Prinsip 15 Deklarasi Rio 1992, yaitu:

“Bahwa tidak adanya kepastian ilmiah, tidak adanya atau kurang memadainya
informasi ilmiah, tidak boleh digunakan untuk menunda atau menghambat langkah
preventif yang tepat untuk mencegah kerusakan lingkungan”.

Tergugat telah mengeluarkan Surat Keputusan yang mengijinkan pelepasan kapas


transgenik Bt a quo tanpa mewajibkan pelaksanaan AMDAL, yang seharusnya dengan
pelaksanaan AMDAL tersebut dapat berfungsi sebagai alat untuk menilai dampak yang
mungkin ditimbulkan dari kegiatan/usaha introduksi produk transgenik di Indonesia, guna
melindungi lingkungan, keanekaragaman hayati, kesehatan maupun jiwa manusia. Maka
menurut kelompok kami, tindakan Tergugat tersebut sudah sangat jauh menyimpang dari
keinginan Pemerintah Indonesia untuk mengadopsi Prinsip Kehati-hatian dalam penanganan
produk transgenik. Apabila Tergugat mempertimbangkan semua kepentingan, termasuk
keinginan keras Pemerintah Indonesia untuk menganut Prinsip Kehati-hatian, maka Tergugat
tidak akan sampai pada putusan memberi izin pelepasan produk transgenik tanpa melalui
proses AMDAL.
Berdasarkan penjabaran di atas maka apabila kita menggunakan peraturan perundang-
undangan saat ini, yaitu UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, dapatlah kita nyatakan bahwa pemerintah melakukan pelanggaran
terhadap prinsip kehati-hatian dan environmental risks assessment karena :
1. Pemerintah tidak melakukan kajian resiko jangka panjang, melainkan hanya
melakukan riset dan penelitian dampak resiko untuk jangka pendek saja yang dilakukan
di laboratorium penelitian dimana lebih banyak di dapatkan bahwa pelepasan kapas
transgenik akan menimbulkan banyak keuntungan dibandingkan kerugiannya.
2. Bahwa pemerintah belum dapat menerangkan dan menjelaskan bagaimana cara untuk
mereduksi dan meminimalisasi dampak-dampak yang mungkin terjadi akibat pelepasan
kapas transgenik di dalam masyarakat khususnya di bidang perlindungan lingkungan
hidup dan pelestarian keaneka ragaman hayati
3. Bahwa pemerintah belum melakukan tindakan pemberian informasi secara rinci
kepada masyarakat luas mengenai dampak-dampak yang mungkin terjadi di masa
mendatang akibat dari pelepasan kapas transgenik secara berlebihan khususnya di bidang
perlindungan lingkungan hidup dan pelestarian keanekargaman hayati, memang benar
bahwa pemerintah telah melakukan press release yaitu konfrensi pers dengan wartawan,
sesuai dengan perkataan pemerintah dalam jawabannya di kasus ini, antara lain mengenai
uji multilokasi, kelebihan dan keunggulan kapas transgenik, serta jumlah pendapatan
yang akan didapatkan apabila petani melakukan kegiatan pelepasan kapas transgenik.
Akan tetapi, sama sekali pemerintah tidak menjelaskan kepada masyarakat luas akibat
apa sajakah yang akan timbul di masa mendatang apabila dilakukan pelepasan kapas
transgenik. Karena sesuai dengan pendapat ahli Dr. Agus Dana Permana yang dihadirkan
dalam persidangan, dikatakan bahwa pelepasan kapas transgenik menimbulkan beberapa
kerugian antara lain :
1. Tingkat ekspresi dari gen tunggal sehingga menahan biomassa dari transgenik.
2. Akan menimbulkan toleransi terhadap hama, sehingga menimbulkan kekebalan yang
cepat pada serangga yang merusak daun hingga ke batang.
3. Apabila bakteri tersebut sampai ke tanah akan merusak struktur tanah dan
mengganggu ekosistem antropoda tanah.
3. Genetically Modified Organism (GMO)