Anda di halaman 1dari 2

Kelompok 6:

Annisa Fahira Lubis (170200119)


Setio Utomo (170200134)
Sarah Nadya A S (170200357)
Rivaldo Sagala (170200358)
Henrikus Ion S (170200361)
Alfina Dameria W S (170200370)
Jackson Siburian(170200528)

HASIL SESI TANYA JAWAB MENGENAI HAK ULAYAT:

1.Dea karunia sejahtera (170200134)


Apakah konsensus hak ulayat masih relevan sampai saat ini? Jika ya/tidak, apakah ada mekanisme
pengelolaan hak ulayat tersebut?

Dijawab oleh Alfina(170200370)


Jawaban: Ya, konsensus hak ulayat masih diterapkan sampai saat ini di beberapa daerah di Indonesia. Salah 1
contoh nyata nya dapat kita lihat di kampung salah 1 rekan kami yaitu rivaldo di Desa Bonandolok, Sianjur
Mulamula. Mengenai pengaturan mengenai hak ulayat sendiri ada di: Peraturan Menteri Agraria No. 5 tahun
1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, Surat Edaran BPN Nomor
3/SE/IV/2014 tentang Penetapan Eksistensi Masyarakat Hukum Adat dan Tanah Ulayat, dan yang terbaru
adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri No.52 tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan
Masyarakat Hukum Adat.

2. Nabila Ulfa Aulia (170200135)


Terkait umpeti. Apakah umpeti tersebut sesuai atau ada aturan tetap dari penegak hukum adat?

Dijawab oleh Rivaldo(170200358)


Jawaban: Mengenai upeti oleh orang asing yang ingin mengambil atau menggunakan sesuatu dari tanah
ulayat, itu tidak memiliki aturan tetap. Karena setiap wilayah atau daerah memiliki aturan tersendiri yang
berbeda-beda, jadi mengenai upeti ada yang menggunakan konsep berdasarkan keputusan penatua adatnya
saja dan ada juga yang bedasarkan dengan keputusan penatua adat bersama masyarakat adatnya.

3. Christian Rahmat Hutahaean (170200118)


Bagaimana penyelesaian konkrit mengenai tanah ulayat yang dijual? Dan apabila masyarakat adat merasa
rugi, kemana orang yang dirugikan tersebut mengadu?

Dijawab oleh Setio (170200134)


Jawaban: Tanah Ulayat tidak bisa diperjual belikan. Namun apabila ada suatu sengketa yang merugikan
masyarakat adat oleh keputusan pemerintah, maka masyarakat adat atau orang yang dirugikan dapat
mengadukannya ke Pengadilan Tata Usaha Negara (sesuai dengan asal 8 ayat (1) Permendagri No.52 tahun
2014)