Anda di halaman 1dari 8

Prosiding

Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008


Universitas Lampung, 17-18 November 2008

PEMETAAN HIDROGEOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODA


GEOLISTRIK

Syamsu Rosid dan Johan Muhammad

Geofisika, Departemen Fisika FMIPA Universitas Indonesia


Kampus UI Depok, Depok 16424
email: srosid@fisika.ui.ac.id

ABSTRAK

Pemetaan lapisan akuifer untuk memenuhi kebutuhan industri, perhotelan dan komunitas
masyarakat seperti pesantren menjadi sangat signifikan dalam rangka meminimalkan biaya
eksploitasi. Sebuah pesantren X di daerah Cihideung Serang dengan populasi 550 santri ternyata
kebutuhan primer airnya tidak cukup jika hanya mengandalkan airtanah dari lapisan akuifer
permukaan. Apalagi kalau kebutuhan itu digunakan untuk pengembangan potensi santri seperti
pengelolaan kolam renang dan pertanian. Telah dilakukan pengukuran dan pemetaan lapisan
akuifer di daerah Cihideung, Serang Banten dengan menggunakan metoda geolistrik. Target
pemetaan ini adalah untuk mendapatkan lapisan akuifer dalam yang diharapkan memiliki debit
dan cadangan air yang sangat besar dan tidak bergantung musim. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan konfigurasi Schlumberger dan bentangan kabel AB/2 hingga mencapai 300
meter. Dari pemodelan 2D diperoleh sebaran airtanah di daerah pengukuran bahwa lapisan
akuifer dalam diperkirakan lapisan pasir tufaan dan berada pada kedalaman 40 meter hingga
100 meter. Ketebalan lapisannya bervariasi tergantung pada topografi permukaan dan lapisan
kedap air di bawah lapisan akuifer dengan kecenderungan semakin menebal ke bagian bawah
danau. Dengan mempertimbangkan estimasi luas daerah pengamatan, ketebalan lapisan akuifer
dan porositas batuan reservoarnya serta saturasi air, diperkirakan potensi airtanah di lapisan
tersebut mencapai 2,9 juta m3.

Kata kunci: dc resistivity, geolistrik, Schlumberger, akuifer dalam, hidrogeologi.

1. PENDAHULUAN

Dari hasil penyelidikan sebelumnya terhadap lokasi penelitian dengan menggunakan


metode geolistrik telah dibuat sebuah sumur bor yang memiliki kedalaman hingga 100 meter.
Pembuatan sumur bor hingga kedalaman tersebut bisa menghabiskan banyak dana dan dirasa
kurang efektif khususnya untuk memenuhi seluruh kebutuhan air bagi para penghuni pesantren
yang tersebar pada lokasi yang cukup luas. Untuk itu, keberadaan airtanah yang lebih terjangkau
pada seluruh daerah di lokasi pesantren akan sangat membantu dalam penentuan lokasi sumur
bor yang lebih mudah dan efisien. Penyelidikan geolistrik lanjutan di lokasi ini diharapkan akan
dapat mengetahui letak-letak airtanah, arah aliran air, volume, serta model hidrogeologi daerah
ini. Dengan begitu diharapkan dapat dimanfaatkan dalam menentukan lokasi pengeboran yang
tepat serta pengelolaan airtanah bagi para santri dan penduduk yang tinggal disana. Dari
beberapa konfigurasi elektroda pada metode geolistrik, konfigurasi Schlumberger menjadi

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-27


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

pilihan terbaik dikarenakan jangkauannya yang paling dalam (Barker, 2001). Hal ini sesuai
dengan kebutuhan di lapangan mengingat dari sumur bor sebelumnya mencapai kedalaman
sekitar 100 meter. Nilai besaran yang dicari melalui metode geolistrik ialah nilai resistivitas
batuan. Resistivitas merupakan nilai intrinsik batuan yang menunjukkan seberapa besar
hambatan listrik batuan tersebut sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis batuan.
Nilai resistivitas batuan dapat diketahui dari besaran terukur yakni ΔV dan I melalui hubungan
resistivitas dengan geometri batuan bawah permukaan. Pada metode resistivitas, arus listrik
diinjeksikan oleh sepasang elektrode arus AB. Arus listrik akan mengalir di bawah permukaan
bumi melalui lapisan-lapisan batuan yang memiliki resistivitas berbeda. Sepasang elektrode
tegangan MN yang dibentangkan pada jarak tertentu akan mengukur besar tegangan listrik di
permukaan bumi. Dengan mengetahui nilai tegangan dan arus listrik maka nilai resistivitas
perlapisan batuan bawah permukaan dapat diprediksi. Hubungan antara resistivitas, beda
potensial (ΔV), dan arus listrik (i) yang terukur dipengaruhi oleh geometri dari konfigurasi
yang dipergunakan dalam bentuk:
−1
⎡ 2πΔVMN ⎤ ⎧⎡ 1 1 ⎤ ⎡ 1 1 ⎤⎫ (1)
ρ=⎢ ⎥ ⎨⎢ AM − MB ⎥ − ⎢ AN − NB ⎥ ⎬
⎣ i ⎦ ⎩⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎭

Dimana AM, MB, AN, dan NB merupakan jarak antar elektrode.


Untuk konfigurasi Schlumberger nilai resistivitas dapat dihitung dari formula:

π ⎡⎛ L ⎞ ⎛ a ⎞ ⎤ ΔVMN
2 2

ρ= ⎢⎜ ⎟ − ⎜ ⎟ ⎥ (2)
a ⎢⎣⎝ 2 ⎠ ⎝ 2 ⎠ ⎥⎦ i

dimana L jarak antar elektrode arus dan a jarak antar elektrode potensial.
Dengan memperhatikan sifat listrik batuan yang tersaturasi fluida di bawah tanah maka
keberadaan akuifer dapat diprediksi. Adapun sifat listrik batuan bergantung pada tingkat
porositas, permeabilitas, jenis fluida pada pori batuan, dan kandungan garam dalam fluida.
Akuifer yang dicari dalam penelitian ini berdasarkan data sumur bor diduga terdiri atas akuifer
dangkal dan dalam serta memiliki tingkat salinitas yang rendah.

2. METODE PENELITIAN

2.1 Tinjauan geologi daerah penelitian

Penelitian dilakukan di area Pesantren X yang terletak di Desa Bantar Waru, Kecamatan
Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Berdasarkan penjelasan peta geologi daerah Anyer
diketahui bahwa daerah Bantar Waru didominasi oleh formasi Tufa Banten Atas yang terdiri
atas batuan tufa sela, tufa berbatu apung, dan tufa pasiran di bagian atas serta di bagian bawah
terdiri atas tufa hablur, tufa lapili berbatuapung, tufa kaca, dan sisipan tufa lempungan warna

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-28


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

merah (Santosa et al., 1992). Menurut penjelasan peta hidrogeologi Indonesia daerah Anyer
dan Cikarang, desa Bantar Waru secara morfologi termasuk kedalam kelompok satuan
morfologi perbukitan bergelombang (Suryaman, 2001). Secara umum, geologi daerah ini
disusun oleh berbagai jenis batuan berumur tua (tersier) sampai muda (kuarter).
Berdasarkan kedudukan akuifer dari muka tanah setempat, maka sistem akuifer di
daerah pemetaan hidrogeologi Anyer dapat dibedakan menjadi akuifer endapan permukaan
(surficial aquifer) dengan kedalaman kurang dari 20 meter di bawah muka tanah (bmt) dan
akuifer batuan dasar (bedrock aquifer) dengan kedalaman lebih dari 20 meter bmt. Akuifer
endapan permukaan pada daerah perbukitan bergelombang terletak pada kedalaman antara 10-
20 meter bmt. Sedangkan Akuifer batuan dasar terletak pada kedalaman antara 20 sampai 120
meter bmt. Akuifer daerah Bantar Waru memiliki debit kurang dari 5 liter per detik dan diduga
kedudukannya lebih dari 100 meter di bawah muka tanah (Suryaman, 2001).

2.2 Akuisisi data tahanan jenis


Lintasan pengukuran ditentukan berdasarkan disain interpretasi yang dikehendaki serta
mempertimbangkan kondisi alam daerah sekitar lokasi penelitian. Titik-titik sounding
diusahakan diukur dengan arah bentangan elektrode yang searah untuk memudahkan dalam
proses korelasi dalam interpretasi masing-masing titik sounding. Hal inilah yang menentukan
pemilihan lokasi titik-titik sounding sehingga dalam pengukuran antar titik sounding
memungkinkan untuk membentangkan elektrode pada arah yang sama. Desain pengukuran
dibuat untuk dua lintasan dan 9 titik sounding. Lintasan satu terdiri dari lima titik sounding
yakni NF1, NF2, NF3, NF4, dan NF5. Sementara pada lintasan kedua di sebelah selatan
terdapat titik sounding NF6, NF7, NF8, dan NF9. Lintasan pengkuran dan persebaran titik
sounding dapat dilihat dalam Gambar 1. Karena target kedalaman yang diinginkan mencapai
100 meter maka bentangan AB/2 dilakukan hingga mencapai bentangan 300 meter. Dalam
pengukuran yang dilakukan, keadaan alam dan cuaca mempengaruhi proses dan hasil
pengukuran. Keadaan alam menentukan arah bentangan yang mungkin dilakukan pada saat
pengukuran berlangsung. Sementara kondisi cuaca dapat berpengaruh pada tingkat kebasahan
tanah sehingga berpotensi mengubah distribusi arus listrik pada saat pengukuran. Permukaan
tanah yang basah akan menjadi penghantar listrik yang baik sehingga arus listrik akan banyak
terdistribusi di permukaan dan kurang terdistribusi pada kedalaman yang jauh. Permukaan yang
terlalu basah juga akan memperbesar kon-duktivitas batuan peng-hantar di permukaan se-hingga
berdampak pada membesarnya arus yang terukur hingga melampaui kemampuan maksimum-
nya sebesar 2 A. Lintasan 1 mem-bentang dengan arah barat-timur dari perbatasan luar bagian
barat Pesantren X hingga lokasi sumur bor airtanah di samping pintu masuk menuju Pesantren
X. Lintasan 2 membentang dengan arah barat-timur di daerah sebelah selatan lokasi Pesantren
X. Pengukuran di titik ini umumnya menghadapi kendala sulitnya mencari bentangan

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-29


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

maksimum hingga 600 meter disebabkan banyaknya kebun-kebun dan ilalang sehingga
pembentangan kabel sering menjumpai masalah.

SUMBER AIR CIKADU


9314900

9314800 NF4 MASJID THOLIBAH NF1

NF5 NF2

9314700

MASJOD THOLIB NF3

9314600 NF7

NF8

NF9
9314500 NF6

598800 598900 599000 599100 599200 599300 599400 599500

Gambar 1. Topografi, lintasan pengukuran dan sebaran titik sounding

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Pengolahan Data
Dari persamaan (2) perhitungan dilakukan menggunakan microsoft excel untuk
mendapatkan resistivitas semu batuan (apparent resistivity). Harga apparent resistivity inilah
yang kemudian diolah lebih lanjut sehingga didapatkan nilai tahanan jenis sebenarnya (true
resistivity) batuan pada setiap kedalaman.

Gambar 2. Contoh hasil pengolahan data 1-D untuk sounding NF1 dan NF4.

Pengolahan data 1-D daerah penelitian dilakukan menggunakan metode inversi dengan
bantuan model awal yang didapat melalui metode forward. Proses pengolahan data ini
dilakukan menggunakan software Progress. Mengingat adanya prinsip ekuivalensi dalam
interpretasi 1-D data sounding maka data penunjang menjadi rujukan dalam membuat model

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-30


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

yang akan dipakai. Dalam hal ini, data lithologi sumur yang pernah dibor di lokasi penelitian
dan hasil interpretasi awal survey seismik refraksi menjadi data penunjang utama yang
mendasari pembuatan model satu dimensi.

3.2 Pemodelan Hidrogeologi


Pembuatan pemodelan tahanan jenis 2 dimensi dilakukan dengan melakukan korelasi
tahanan jenis antar titik sounding disesuaikan dengan kedalaman hasil interpretasi 1-D. Korelasi
disini merupakan teknik menghubungkan nilai-nilai resistivitas batuan yang memiliki harga
tahanan jenis yang relatif sama berdasarkan interpretasi 1-D dan informasi geologi yang telah
diketahui. Pembuatan pemodelan ini dilakukan secara manual menggunakan software Surfer8
agar interpretasi dapat mempertimbangkan aspek geologi bawah permukaan yang telah
diketahui sebelumnya dari lithologi sumur dan koreksi topografi di lapangan yang diketahui
penulis.

200 200
190 1 190 9
2 180 6 180
Elevasi (meter)

5 3
Elevasi (meter)

160 160 160 7 7 160


4 140 8 140
130 130
120 120
100 100
100 100
70 70
80 80
40 40 60 60
598700 598800 598900 599000 599100 599200 599300 599400 599500 599600 598950 599000 599050 599100 599150 599200 599250 599300 599350 599400 599450 599500
Easting Easting
Keterangan: Keterangan:

: >100 ohm-m : 20-100 ohm-m : < 20 ohm-m : >100 ohm-m : < 20 ohm-m
: 20-100 ohm-m

Gambar 3. Penampang tahanan jenis 2-D lintasan 1 (kiri) dan lintasan 2 (kanan)

Dari pengolahan data sounding 1-D yang telah dilakukan dibuatlah korelasi antar titik
sounding NF1, NF2, NF3, NF4, dan NF5 untuk lintasan 1 dan korelasi titik-titik NF6, NF7,
NF8, NF9 untuk lintasan 2. Korelasi ini dibuat setelah sebelumnya dilakukan penempatan muka
tanah dengan elevasi hasil GPS. Secara umum korelasi dilakukan dengan klasifikasi tahanan
jenis rendah (< 20 Ohm-m), sedang (20-100 Ohm-m), dan tinggi (>100 Ohm-m). Proses
korelasi mempertimbangkan kecocokan tahanan jenis yang sama dengan kesesuain kedalaman
dan perkiraan lithologi batuan yang diketahui dari data sumur bor, khususnya untuk daerah di
sekitar sumur bor.

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-31


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Lithologi
0

Tanah penutup

10

Pasir
20

Breksi

44
Pasir tufaan (Akuifer)

52

Breksi

84

Pasir tufaan (akuifer)

103

Tufa lanauan

Gambar 4 Korelasi Hasil Sounding dan Data Bor (CV Toya, 2006)

Gambar 5. Hasil Interpretasi Seismik Refraksi Daerah Penelitian (2006)

Interpretasi 2 dimensi sangat erat kaitannya dengan pemodelan hidrogeologi yang akan
dibuat karena interpretasi batuan dari model penampang tahanan jenis dua dimensi akan
membantu menafsirkannya menjadi model hidrogeologi. Dalam melakukan interpretasi model
tahanan jenis 2-D maka keterangan dari data geofisika lainnya serta data geologi sangat
diperlukan. Data lithologi batuan hasil logging pada sumur bor menjadi data nyata kondisi
bawah permukaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, pemodelan hasil interpretasi satu dan dua
dimensi dari survey resistivity yang dilakukan harus dikontrol dengan data sumur tersebut.
Adanya data sumur bor ini dapat mereduksi munculnya ekuivalensi pada interpretasi data
ISBN : 978-979-1165-74-7 V-32
Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

sounding. Dari hasil penyelidikan seismik refraksi pada enam lintasan di daerah sekitar lokasi
penelitian didapatkan keterangan bahwa lapisan yang diduga sebagai akuifer dangkal pada
umumnya ditemui mulai dari kedalaman 15 hingga 20 meter. Untuk daerah penyelidikan
seismik refraksi yang letaknya dekat dengan sounding NF1 dan NF2 ditemui akuifer dangkal
pada kedalaman sekitar 20 meter sedangkan untuk daerah di sekitar sounding NF4 ditemui
akuifer dangkal mulai dari kedalaman yang lebih dangkal yakni sekitar 6 meter (Irpani, 2006).
Dengan membandingkan hasil interpretasi resistivity dengan data bor dan refraksi dibuatlah
model hidrogeologi untuk lintasan 1 dan 2 dimana diprediksi juga jenis batuan dan batuan yang
berfungsi sebagai akuifer.

190 1 190
2
Elevasi (meter)

5 3
160 160
4
130 130
100 100
70 70
40 40
598700 598800 598900 599000 599100 599200 599300 599400 599500 599600
Easting
Keterangan:

: top soil : breksi


: tufa lanauan

: pasir tufaan : pasir permukaan


: pasir dangkal

200 200
9
180 6 180
Elevasi (meter)

160 7 7 160
140 8 140
120 120
100 100
80 80
60 60
598950 599000 599050 599100 599150 599200 599250 599300 599350 599400 599450 599500
Easting
Keterangan:

: top soil : breksi


: tufa lanauan

: pasir tufaan : pasir permukaan


: pasir dangkal

Gambar 6. Model hidrogeologi untuk lintasan 1 (kiri) dan lintasan 2 (kanan).

4. KESIMPULAN

Pemodelan hidrogeologi yang dihasilkan dalam penampang dua dimensi yang


didapatkan dari kedua lintasan pengukuran memberikan gambaran bahwa dugaan akuifer
berada pada kedalaman dangkal 10-30 meter dari permukaan yang terdiri atas lapisan pasir,
akuifer dalam pertama berada pada kedalaman 20 hingga 60 meter, dan akuifer yang lebih
dalam lagi diduga terdapat pada kedalaman 40 hingga kedalaman 100 meter yang terdiri atas

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-33


Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008
Universitas Lampung, 17-18 November 2008

lapisan pasir tufaan. Ketebalan lapisan akuifer bervariasi bergantung pada topografi permukaan
dan lapisan kedap air di bawah lapisan akuifer dengan kecenderungan semakin menebal ke
bagian bawah danau. Dengan estimasi luas daerah yang terlingkupi survey penelitian yakni
sebesar 280.000 meter persegi, dan ketebalan rata-rata akuifer sebesar 30 meter, serta porositas
batuan yang berperan sebagai akuifer yaitu pasir tufaan diperkirakan sebesar 35 % (U. S. Army,
1999) dan asumsi saturasi air dalam pori 100 % maka estimasi potensi air bawah tanah di
wilayah Pesantren X sebesar : Potensi = 280.000 x 30 x 0.35 = 2.940.000

DAFTAR PUSTAKA

Barker, R. D., 2001. Principles of Electrical Imaging, University of Birmingham. UK.

CV Toya Reka Sarana, 2006. Laporan Akhir Penyelidkan Electric Well Logging Pesantren X,
Bandung.

Irpani, Imron., 2006. Pemetaan Lapisan Akuifer Permukaan Kampung Cihideung, Serang,
Banten dengan Menggunakan Seismik Refraksi, Departemen Fisika UI.

Santosa, S., Sutrisno., Turkandi, T. Sukanta, U., 1992. Peta Geologi Lembar Anyer , Jawa,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Dirjen Geologi dan Sumber Daya
Mineral, Bandung.

Suryaman, M., 2001. Penjelasan Peta Hidrogeologi Indonesia Lembar Anyer dan Cikarang.

U.S. Army Corps of Engineers. 1999. Engineering and Design Groundwater Hydrology.
Departement of The Army, USA.

ISBN : 978-979-1165-74-7 V-34