Anda di halaman 1dari 15

AGORA Vol. 5, No.

3, 2017

IMPLEMENTASI ETIKA BISNIS PADA PT. PENDAWA POLYSINDO PERKASA

Benny

Program Manajemen Bisnis, Program Studi Manajemen, Universitas Kristen Petra

Jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya

E-mail: m31413031@john.petra.ac.id

Abstrak- PT Pendawa Polysindo Perkasa pemimpin buruk, maka perlahan perusahaan


merupakan sebuah perusahaan keluarga akan jatuh. Salah satu unsur dasar pemimpin
yang bergerak di bidang industry plastik. yang berkualitas adalah pemimpin yang
Seperti yang kita ketahui ada perusahaan memilki integritas yang tinggi (Maedjaja,
yang tidak melaksanakan etika-etika 1995). Pemimpin yang memiliki integritas
dalam operasional perusahaannya, ada yang tinggi, dapat kita lihat dari cara
beberapa etika yang dapat diterapkan di pemimpin tersebut bersikap dan berperilaku
perusahaan yaitu Etika Utilirianisme, dalam menjalankan kegiatan bisnisnya
Etika Relativisme, Etika Pragmatisme, misalnya dengan tidak melakukan tindakan
Etika Evolusionisme, dan Etika pelanggaran etika dalam berbisnis.
Deontologi. Jenis penelitian ini
menggunakan metode kualitatif. Teknik Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup
sampel menggunakan tekinik purposive yang baik, baik pada diri seseorang maupun
sampling. Metode pengumpulan data pada suatu masyarakat. Ini berarti etika
dengan wawancara. Proses analisa data berkaitan dengan nilai-nilai tata cara hidup
menggunakan triangulasi sumber untuk yang baik, aturan dan kebiasaan hidup yang
mengelola data yang diperoleh, kemudian baik (Keraf, 2010). Perkara yang biasanya
dengan hasil wawancara pada sumber muncul dalam etika mempunyai kaitan yang
lain PT. Pendawa Polysindo Perkasa, dan erat dengan kehidupan manusia khususnya
ditarik kesimpulan apakah keduanya di kalangan masyarakat yang melanggar
memiliki hubungan yang baik atau tidak. agama dalam kehidupan mereka. Oleh
karena itu penting bagi setiap orang
Kata Kunci - Etika Evolusionisme, termasuk pemimpin sebuah perusahaan
EtikaUtilitarianisme,Etika Pragmatisme, untuk memeluk dan taat pada suatu
Etika Relativisme dan Etika Deontologi. kepercayaan atau agama karena dalam
masing-masing agama terdapat nilai-nilai
I. PENDAHULUAN kebajikan dan kebenaran mutlak yang
terkandung dalam ajarannya yang dapat
Salah satu aspek penting yang dapat dipergunakan untuk melihat nilai-nilai yang
memberikan pengaruh terhadap keberhasilan terkandung di dalam etika.
suatu perusahaan adalah peran dari seorang
pemimpin (Winarto, 2005). Jika peran Selain itu perusahaan wajib menerapkan
pemimpin baik maka perusahaan akan kode etik. Kode etik diterapkan di setiap
berkembang dan namun jika peran perusahaan dengan tujuan agar dapat
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

menjadi acuan bagi semua pihak di dalam keadaan, dan kondisi baru yang timbul
perusahaan serta pihak luar yang terkait searah dengan pertumbuhan masyarakat.
dengan usaha perusahaan dalam
melaksanakan tugas dan pengambilan 2.Etika Utilitarianisme
keputusan dan juga perusahaan akan
mendapatkan reputasi yang baik, Teori utilitarianisme mengatakan bahwa
perlindungan atas tuntutan hukum yang suatu kegiatan bisnis adalah baik jika bisa
mungkin terjadi dan pada akhirnya terwujud memberikan manfaat kepada sebagian besar
kemakmuran dan keberhasilan usaha yang konsumen atau masyarakat. John S.Mill
berkelanjutan. Contohnya yaitu PT. GDODP EXNX \DQJ EHUMXGXO ³.DPXV )LOVDIDW´
Mastrotto Indonesia dimana perusahaan mengatakan bahwa etika utilitarianisme
yang memproduksi jok kulit telah merupakan teori etika yang mengatakan
menerapkan kode etik yang berlaku bagi bahwa hal-hal yang baik merupakan hal
semua karyawan yang bekerja di perusahaan yang bermanfaat, berguna, dan
tersebut seperti perusahaan mempunyai menguntungkan. Sebaliknya hal-hal yang
aturan bahwa jam masuk kerja jam 08.00 jahat dan tidak baik merupakan hal-hal yang
dan dispensasi keterlambatan hanya 5 menit. merugikan, tidak bermanfaat dan tidak
Apabila lebih dari 5 menit akan dikenai menguntungkan, dari karena itu baik atau
sanksi dalam bentuk surat peringatan atau buruknya sesuatu ditentukan berdasarkan
hukuman yang lainnya. Lalu setiap manfaat yang diperoleh, berguna atau tidak
karyawan harus lapor kepada atasan masing- berguna dan menguntungkan atau tidak
masing departemen jika ingin ijin keluar menguntungkan (Bagus, 2000).
kantor sehingga, tidak ada karyawan yang
dapat keluar kantor untuk menyelesaikan 3.Etika Pragmatisme
permasalahan di luar pekerjaan kantor ( Indo
Trading, 2010). Pragmatisme berasal dari kata pragma
(bahasa Yunani) yang berarti tindakan,
1.Etika Evolusionisme perbuatan, dan juga manfaat. Pragmatisme
adalah aliran filsafat yang berpendapat
Etika Evolusionisme adalah suatu konsep
bahwa kriteria kebenaran sesuatu yaitu,
yang merupakan hasil dari suatu evolusi
apakah sesuatu tersebut memiliki kegunaan
(Sunoko, 1992). Salah satu penggagas
bagi kehidupan nyata. Oleh sebab itu
terkenal yaitu Herbert Spencer mengatakan
kebenaran sifatnya menjadi tidak mutlak
bahwa manusia hanya mampu mengenal
( Hamersma, 2008).
suatu gejala, walaupun dibelakang gejala-
gejala tersebut terdapat suatu dasar yang 4.Etika Relativisme
absolut sehingga suatu etika yang
berkembang di suatu tempat merupakan Relativisme berasal dari kata Latin,
suatu evolusi pada tempat tersebut (Bertens, Relativus, yang berarti relatif. Sejalan
2000). Soekanto (1990) mendefinisikan dengan arti katanya, secara umum
evolusi sebagai suatu perubahan kecil secara relativisme berpendapat bahwa perbedaan
pelan-pelan dan kumulatif yang terjadi manusia, budaya, etika, moral, agama,
dengan sendirinya dan memerlukan waktu bukanlah perbedaan dalam hakikat,
yang cukup lama. Evolusi dalam masyarakat melainkan perbedaan karena faktor-faktor di
adalah suatu perubahan yang terjadi karena luarnya. Sebagai paham dan pandangan etis,
usaha-usaha masyarakat tersebut untuk relativisme berpendapat bahwa yang baik
menyesuaikan diri dengan keperluan, dan yang jahat, yang benar dan yang salah
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

tergantung pada masing-masing orang dan tanpa adanya suatu motif tertentu dar
budaya masyarakatnya. Ajaran seperti ini perbuatan tersebut, melainkan melakukan
dianut oleh Protagras, Pyrrho, dan pengikut- suatu hal yang merupakan suatu kewajiban.
pengikutnya, maupun oleh kaum Skeptik.
Relativisme dapat dibahas di berbagai Prinsip-Prinsip Etika
bidang. Kesamaan yang dimiliki oleh semua
Menurut White (1997) dalam bukunya yang
bentuk dan sub bentuk relativisme adalah
EHUMXGXO ³Honetsy, Morality, and
keyakinan bahwa sesuatu misalnya
Conscience´ dalam buku tersebut White
pengetahuan dan moralitas) bersifat relatif
menyebutkan ada lima prinsip yang
terhadap prinsip tertentu dan penolakan
mendasari etika yang kita terapkan di dalam
bahwa prinsip itu mutlak.
kehidupan sehari-hari yaitu timbangan yang
5.Etika Deontologi benar, memiliki kejujuran, menjadi teladan
bagi semua orang, memiliki tanggung jawab
pribadi, dan mengambil keuntungan yang
'HRQWRORJL EHUDVDO GDUL NDWD <XQDQL ³'HRQ´
wajar.
berarti kewajiban. Suatu tindakan itu dapat
dikatakan baik bukan dilihat dari dinilai dan Berdasarkan prinsip-prinsip etika yang telah
dibenarkan berdasarkan perilaku atau tujuan disebutkan di atas maka peneliti
dari tindakan tersebut, melainkan menggunakan prinsip yang dikemukakan
berdasarkan pada kewajiban yang bertindak oleh White (1997) terutama pada prinsip
kepada orang lain seperti keinginan diri kejujuran, timbangan yang benar, memiliki
sendiri selalu berlaku baik pada diri sendiri tanggung jawab pribadi, dan mengambil
maupun orang lain. keuntungan yang wajar.
Deontologi merupakan teori etika yang Adapun pertimbangan peneliti di dalam
menyatakan bahwa yang menjadi dasar bagi menggunakan prinsip ini karena peneliti
baik buruknya suatu perbuatan adalah melihat adanya suatu hubungan antar prinsip
kewajiban seseorang untuk berbuat baik yang satu dengan yang lainnya.
kepada sesama manusia. Etika deontologi Pertimbangan yang lainnya yaitu prinsip
berbicara mengenai kewajiban pada diri etika yang dikemukakan oleh Jerry White
seseorang yang harus dijalankan dan (1997) juga berkaitan dengan proses bisnis
diterapkan di masyarakat dimana tindakan yang akan diteliti oleh peneliti, yaitu :
yang dilakukan harus sesuai dengan norma
dan moral, tanpa memandang apakah hal 1.Timbangan yang Benar
tersebut menguntungkan atau merugikan
( Bertens, 2010). Inti dari etika deontologi Dalam prinsip ini dijelaskan bahwa para
yaitu sebuah tindakan yang dilakukan tanpa pebisnis harus memiliki rasa tanggung
melihat dan mempertimbangkan hal-hal jawab terhadap kualitas produk yang
yang menguntungkan, melainkan seseorang dihasilkan untuk dijual kepada konsumen
harus melakukan suatu hal yang atau pelanggan. Kualitas produk yang
berhubungan dengan kewajiban. Bertens ditawarkan harus sesuai dengan harga yang
mengutip dari gagasan Immanuel Kant yang diberikan ke pelanggan sehingga, akan
merupakan salah satu tokoh ternama terwujudnya rasa keadilan di dalam
penggagas teori etika deontologi. Inti dari melakukan transaksi jual-beli.Adapun hal-
konsep etika deontologi adalah sebuah hal tertentu yang sebaiknya dibicarakan
tindakan yang dilakukan tanpa adanya terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalah-
pertimbangan hal lain yang menguntungkan , pahaman terhadap pelanggan.
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

2.Prinsip Kejujuran masyarakat baik secara keseluruhan maupun


secara parsial yang memiliki hubungan serta
Prinsip kejujuran dalam setiap tindakan atau kepentingan terhadap perusahaan. Individu,
perikatan bisnis merupakan keutamaan. kelompok, maupun komunitas dan
Kejujuran diperlukan di dalam suatu bisnis masyarakat dapat dikatakan sebagai
dengan tujuan agar terciptanya hubungan stakeholder jika memiliki karakteristik
yang harmonis antara perusahaan dengan seperti yang diungkapkan oleh Budimanta
pelanggan. Dalam perikatan perjanjian dan (2008) yaitu mempunyai kekuasaan,
kontrak tertentu, semua pihak saling percaya legitimasi, dan kepentingan terhadap
satu sama lain, bahwa masing-masing pihak perusahaan. Hal tersebut berlaku sama bagi
harus jujur dalam proses pembuatan komunitas lokal, karyawan, pemasok,
perjanjian dan kontrak. Kejujuran kepada pelanggan, investor dan kreditor yang
pelanggan yaitu pada saat menawarkan masing-masing elemen stakeholder tersebut
produk kepada pelanggan wajib mengetahui memiliki kekuasaan dan kepentingan
kondisi produk yang akan dijual sehingga, sehingga masing-masing elemen tersebut
pelanggan tidak akan merasa tertipu setelah membuat sebuah hubungan yang
membeli produk tersebut. berhubungan dengan perusahaan agar dapat
memenuhi kebutuhannya masing-masing.
3.Mengambil Keuntungan yang Wajar
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti
Para pebisnis disarankan untuk tidak
dalam penelitian ini menggunakan
mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri
stakeholder sebagai salah satu pihak yang
dan kemudian merugikan orang lain dalam
memiliki kepentingan serta ikut terlibat
memberikan harga pada setiap produk yang
dalam proyek pada perusahaan, dimana
dijual tidak boleh terlalu jauh melampaui
pihak tertentu yang dimaksud adalah
nilai dari barang yang akan dijual kepada
pemasok, pekerja, dan pelanggan. Dalam
pelanggan sehingga, para pelanggan tidak
penelitian ini peneliti akan meneliti pihak
merasa dirugikan oleh pebisnis setelah
eksternal dan internal perusahaan. Pihak-
membeli produk tersebut.
pihak yang dimaksud yaitu :
4.Tanggung Jawab Pribadi
- Pemasok merupakan suatu pihak yang
Sebagai seorang pemimpin kita harus dapat bertugas untuk menyediakan barang bagi
mengambil keputusan dan mempertanggung pihak perusahaan. Dimana pemasok
jawabkan atas semua tindakan yang telah berperan sebagai seseorang yang menjadi
dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, penentu di dalam memilih kualitas dan
pemimpin juga diharapkan untuk memiliki ketepatan pada waktu penyediaan barang
keberanian di dalam mengambil resiko yang sehingga perusahaan dapat menyediakan
didasarkan pada pemikiran yang matang barang bagi pihak pelanggan tanpa
sehingga, apabila telah terjadi masalah di mengurangi nilai dan manfaat dari barang
dalam pengambilan keputusan maka tersebut. Dari penjelasan tersebut kita dapat
pemimpin tersebut dapat mempertanggung mengetahui bahwa pemasok dapat dikatakan
jawabkan atas tindakan yang telah dilakukan. sebagai pihak eksternal perusahaan karena
hubungan yang timbul antara pemasok dan
Stakeholder perusahaan merupakan hubungan yang
sifatnya transaksi jual-beli dimana pemasok
Stakeholder merupakan individu, berperan sebagai pihak yang menjual barang
sekelompok manusia, komunitas atau kepada perusahaan sebagai pembeli yang
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

dapat menentukan jumlah pemesanan dan II. METODE PENELITIAN


spesifikasi barang pesanan dan melihat
kualitas barang setelah barang dikirim Jenis penelitian yang digunakan di dalam
kepada pihak konsumen (Mulyadi, 2007). melakukan penelitian ini adalah jenis
penelitian kualitatif. Metode penelitian
-Konsumen dikatakan sebagai pihak internal kualitatif sering disebut metode penelitian
perusahaan merupakan seseorang atau naturalistik karena penelitiannya dilakukan
organisasi yang memiliki suatu kepentingan pada kondisi yang alamiah, disebut juga
tertentu terhadap produk dan jasa, sehingga sebagai metode etnografi. Menurut
dengan adanya kepentingan tersebut maka Sugiyono (2010) penelitian kualitatif
akan mengakibatkan terjadinya suatu biasanya dilakukan pada objek alamiah yang
transaksi jual-beli dimana perusahaan berkembang apa adanya dan data yang
sebagai penjual dan pelanggan sebagai digunakan untuk penelitian tidak
pembeli, dan menyebabkan terjadinya dimanipulasi oleh peneliti sehingga,
keuntungan dari transaksi tersebut. kehadiran peneliti tidak begitu
Pelanggan dikatakan sebagai pihak internal mempengaruhi dinamika pada objek tersebut.
perusahaan karena Hubungan perusahaan
dan pelanggan yang terjadi yaitu hubungan Menurut Sugiyono (2010), menjelaskan
transaksi jual-beli dimana terjadinya proses bahwa metode penelitian kualitatif
tawar menawar produk sampai pada tahap merupakan metode penelitian yang
pembelian produk, pembayaran hingga berlandaskan pada teori yang digunakan
pemberian produk dari perusahaan kepada untuk meneliti pada kondisi obyek yang
pembeli. Sehingga adanya keterkaitan yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai
sangat erat antara perusahaan dengan penentu di dalam melakukan sebuah
pelanggan ( Hadi, 2007). penelitian, pengambilan sampel sumber data
dilakukan secara purposive dan snowball,
- Karyawan merupakan seseorang yang Teknik pengumpulan dengan trianggulasi,
bekerja di suatu perusahaan dan memiliki analisis data bersifat induktif atau kualitatif,
hubungan erat dengan pekerjaan yang dan hasil penelitian kualitatif lebih
dijalankan serta berhak untuk menerima mengarah pada makna dari penelitian yang
upah sesuai dengan jabatan yang dimiliki. dilakukan daripada generalisasi.
Pekerja dikatakan sebagai pihak internal
perusahaan karena hubungan yang terdapat Peneliti menggunakan metode kualitatif
antara pekerja dan perusahaan adalah suatu deskriptif dengan pendekatan etnografi.
hubungan pekerjaan dimana pekerja Pendekatan etnografi menjelaskan bahwa
mempunyai suatu kewajiban yang harus peneliti ikut berpartisipasi di dalam sebuah
dijalankan yaitu pekerja harus bekerja keras kelompok atau organisasi dengan tujuan
untuk memperoleh sebuah keuntungan bagi untuk melakukan riset beserta dengan proses
perusahaan serta menjalankan tugas yang pembuatan deskripsi tertulis tentang riset
diberikan oleh perusahaan sesuai dengan yang dilakukan oleh peneliti. Metode
jabatannya masing-masing dan dengan hak deskriptif adalah suatu metode dalam
berupa upah yang diberikan oleh pihak meneliti status sekelompok manusia, suatu
perusahaan sebagai hasil kerja keras dari objek, kondisi, sistem pemikiran ataupun
karyawan perusahaan ( Per-01/Men/1999 peristiwa pada masa sekarang. Tipe
tentang Tenaga Kerja dikutip dari Adisu, penelitian ini berusaha menerangkan
2008). fenomena sosial tertentu. Pendekatan ini
dilakukan oleh peneliti dengan cara
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

mengamati dan menganalisa lingkungan butiran-butiran kecil plastik yang siap diolah
kerja pada PT. Pendawa Polysindo Perkasa kembali. Biji plastik daur ulang selain
seperti kebiasaan yang sudah sering tercipta murah juga lebih mudah didapatkan
kesehariannya. Berangkat dari metode mengingat melimpahnya sampah plastik
penelitian kualitatif pada pendekatan yang ada di masyarakat. Produk yang
etnografi ini, peneliti akan melakukan ditawarkan oleh bapak Hans hampir tidak
penelitian dengan terjun ke lapangan dalam mendapat respon yang positif dari beberapa
rangka untuk mengindentifikasi penerapan daerah. Lalu berselang sekitar 3 tahun
etika bisnis pada PT. Pendawa Polysindo produk biji plastik tersebut mendapat respon
Perkasa. dari masyarakat sekitar 5 tahun sehingga
lama kelamaan pemimpin tersebut
Selain itu, peneliti akan menjelaskan dan mempunyai sebuah ide untuk memproduksi
mendeskripsikan sesuai dengan fenomena sendiri biji plastik yang kemudian di olah
dan fakta-fakta yang ada pada PT. Pendawa menjadi kantong plastik.
Polysindo Perkasa. Peneliti berharap adanya
penelitian ini maka dapat memberikan Pada tahun 1990, Hans Koeswanto
makna dan kesimpulan yang disesuaikan meresmikan perusahaan plastik untuk
dengan teori yang digunakan. Sukmadinata pertama kalinya. Berselang 2 tahun
(2009), menyatakan bahwa penelitian kemudian yaitu pada tahun 1992,
deskriptif bertujuan mendefinisikan suatu perusahaan ini sudah mendapat orderan
keadaan atau fenomena secara apa adanya. ratusan karung untuk dikirim ke luar pulau
Berdasarkan uraian di atas dapat seperti Papua dan Bali. Seiring dengan
disimpulkan bahwa jenis penelitian ini berjalannya waktu perusahaan Hans
menggunakan penelitian kualitatif karena Koeswanto memperoleh banyak orderan dari
analisis data yang digunakan berupa kata- berbagai macam daerah. Hal itu masih
kata tertulis atau lisan dan terjadi hingga sekarang. Lokasi perusahaan
mempertimbangkan pendapat orang lain saat ini terletak di jalan Wonoayu Raya, No.
yang bisa disebut dengan narasumber 8-10, Jimbaran Wetan, Wonoayu, Pasuruan,
dengan melakukan proses wawancara di Jawa Timur 61261.
perusahaan yang akan diteliti.
PT. Pendawa Polysindo Perkasa merupakan
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN perusahaan yang berbisnis di bidang
kantong plastik. Sebelum berdirinya PT.
PT. Pendawa Polysindo Perkasa merupakan Pendawa Polysindo Perkasa, pemilik bekerja
perusahaan yang memproduksi kantong sebagai penjual biji plastik selama lebih
plastik dengan berbagai merk yang mulai dari 5 tahun. Namun saat ini pemilik sudah
berdiri pada tahun 1990. Perusahaan ini berhasil membangun perusahaan yang
didirikan oleh Hans Koeswanto yang memproduksi kantong plastik sendiri.
merupakan anak ke lima dari Ny. Melihat perkembangan PT. Pendawa
Lilianawati dan Tn. Teguh. Hans Koeswanto Polysindo Perkasa dari awal berdiri hingga
mendirikan perusahaan plastik ini ketika sekarang ini, maka dapat dikatakan bahwa
berumur 30 tahun. Pada awalnya perusahaan PT. Pendawa mengalami peningkatan dan
ini hanya menjual biji plastik pada tahun kemajuan secara perlahan-lahan.
1980. Pada saat itu biji plastik yang bapak
Hans jual adalah biji plastik yang berasal PT. Pendawa Polysindo Perkasa merupakan
dari sampah plastik yang dihancurkan perusahaan yang memiliki visi untuk
dengan mesin pencacah sehingga menjadi menjadi perusahaan plastik yang melayani
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

secara professional. Adapun misi yang deontologi dalam hubungannya dengan


dimiliki oleh perusahaan untuk dapat pemasok. Etika deontologi merupakan suatu
mencapai visinya yaitu : kebenaran yang sesuai dengan norma dan
nilai yang ada tanpa melihat manfaat,
1.Peduli terhadap pelanggan tingkat kemudahan, bahkan menyenangkan
atau tidaknya hal tersebut untuk dilakukan
Kepedulian dalam melayani pembelian dan
( Bertens, 2000). Hal ini tercermin dari
keluhan pelanggan, serta dalam menentukan
tindakan pemimpin perusahaan dimana ia
kualitas barang yang terbaik yang
menetapkan untuk melaporkan setiap
selanjutnya akan dijual kepada pelanggan.
kejadian ketidaksesuaian barang yang terjadi
2.Peduli terhadap pekerja kepada pemasok, baik itu kelebihan jumlah
barang, kekurangan jumlah barang, dan
Kepedulian dengan memperhatikan hak-hak ketidaksesuaian tipe barang yang dikirim
pekerja yang sudah seharusnya oleh pemasok seperti barang yang dikirim
diperjuangkan oleh perusahaan demi merupakan tipe barang yang harganya lebih
tercapainya kesejahteraan dalam hubungan mahal daripada barang yang dipesan oleh
kerja dan terciptanya suasana kekeluargaan perusahaan dan juga sebaliknya. Peneliti
antara pekerja dan atasan di dalam menemukan tindakan ini dilakukan atas
perusahaan. dasar prinsip kejujuran, dimana kejujuran
yang dimaksud disini yaitu mengatakan
3.Menjalin hubungan yang baik dengan yang sebenarnya dan tidak berdusta
pemasok ( White,1997).
Tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang Hasil dan Pembahasan Sikap dan
diberikan oleh pemasok terhadap perusahaan Perilaku Pemimpin PT. Pendawa
serta menjaga komitmen dan perjanjian yang Polysindo Perkasa Menggunakan 5
ada antara pemasok dan perusahaan Perspektif Etika Dalam Hubungannya
sehingga tercipta hubungan yang baik antara Dengan Konsumen.
pemasok dan perusahaan.
Berdasarkan hasil analisa di atas maka
4.Bekerja dengan tujuan yang bersih dan peneliti menemukan bahwa dalam
jujur hubungannya dengan pelanggan, pemimpin
Bekerja dengan mempunyai satu tujuan PT. Pendawa Polysindo Perkasa
yang sama yaitu bekerja dengan tujuan yang menggunakan etika utilitarianisme. Etika
bersih dan jujur terbebas dari bisnis kotor, utilitarianisme merupakan paham dalam
penyuapan, dan tindakan yang merugikan filsafat moral yang menekankan manfaat
pihak lain. atau kegunaan dalam menilai suatu tindakan
sebagai prinsip moral yang paling dasar,
Hasil dan Pembahasan Sikap dan untuk menentukan bahwa suatu perilaku
Perilaku Pemimpin PT. Pendawa baik jika bisa memberikan manfaat kepada
Polysindo Perkasa menggunakan 5 sebagian besar konsumen atau masyarakat.
Perspektif Etika dalam hubungannya Hal ini dapat dilihat dari fakta-fakta yang
dengan pemasok. ditemukan dari analisa di atas, yaitu
perbedaan perilaku antara pemimpin dengan
Berdasarkan dari hasil analisa di atas maka pelanggan mayoritas dan pelanggan
peneliti melihat pemimpin di PT. Pendawa minoritas. Perusahaan selalu mengutamakan
Polysindo Perkasa menggunakan etika mayoritas dengan tujuan agar pemimpin
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

dapat memperoleh keuntungan yang lebih tunjangan-tunjangan pada seluruh karyawan.


besar dari biasanya sehingga, pemimpin Dalam hal ini peneliti melihat bahwa dengan
berpikir bahwa pelanggan mayoritas harus pemberian upah sesuai dengan standar Upah
dilayani sebaik mungkin supaya mereka Minimum Kota atau UMK atau sesuai
tidak mengambil barang di perusahaan lain. dengan peraturan pemerintah maka
Karena menurut pemimpin PT. Pendawa kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan
Polysindo Perkasa bahwa dasar dari sudah memenuhi hak-hak karyawan yang
berbisnis itu untuk memperoleh atau sudah seharusnya menjadi kewajiban dari
mendapatkan keuntungan yang lebih dan hal setiap perusahaan. Lalu mengenai
tersebut menurutnya sudah sangat umum tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh
untuk dilakukan oleh para pengusaha. perusahaan untuk karyawan sudah
memenuhi aturan yang ditetapkan oleh
Pemimpin juga mengatakan bahwa dalam pemerintah. Perusahaan memberikan
berbisnis kita tidak bisa hanya melihat dari tunjangan kepada setiap karyawan yang
teori saja dalam arti teori tetap dibutuhkan bekerja di sana tanpa membeda-bedakan
sebelum terjun ke lapangan tetapi, kita tidak jabatan. Tunjangan yang diberikan oleh
bisa berfokus pada teori saja karena yang perusahaan di antaranya yaitu BPJS
menentukan hasilnya adalah hasil dan fakta kesehatan dan BPJS kesejahteraan.
yang diperoleh pada saat berada di lapangan.
Teori hanyalah sebagai pendamping di Kebijakan selanjutnya yaitu pemimpin PT.
dalam berbisnis. Tindakan yang dilakukan Pendawa Polysindo Perkasa setuju dengan
oleh pemimpin PT. Pendawa Polysindo pernyataan yang mengatakan bahwa standar
Perkasa sangat bertentangan dengan prinsip moral itu bersifat mutlak atau absolut
dari etika deontologi. Karena deontologi sehingga, pemimpin tidak menyutujui
merupakan suatu kebenaran yang dilakukan bahwa adanya karyawan yang memutlakan
sesuai dengan norma dan nilai yang ada kebenaran sendiri-sendiri yang dapat
tanpa melihat manfaat, tingkat kemudahan, merugikan pihak lain. Perusahaan juga
bahkan menyenangkan atau tidaknya hal mengajarkan kepada setiap karyawan untuk
tersebut untuk dilakukan (Bertens, 2000). saling menolong dan bekerja sama agar
dapat menciptakan suasana lingkungan kerja
Hasil dan Pembahasan Sikap dan yang kondusif .
Perilaku Pemimpin PT. Pendawa
Polysindo Perkasa Menggunakan 5 Kebijakan lainnya yaitu perusahaan tidak
Perspektif Etika dalam Hubungannya pernah menerapkan kebijakan yang
dengan Karyawan. berkaitan dengan penurunan upah para
karyawan meskipun omzet dari perusahaan
Berdasarkan hasil analisa di atas maka mengalami penurunan yang cukup
peneliti menemukan bahwa pemimpin PT. signifikan. Hal ini berarti perusahaan
Pendawa Polysindo Perkasa dalam terbukti tidak menerapkan prinsip yang
hubungannya dengan karyawan berkaitan dengan etika utilitarianisme karena,
menggunakan etika deontologi. Hal ini di dalam menjalin hubungan dengan
tergambar dengan jelas dari kebijakan- karyawan perusahaan tidak melihat hanya
kebijakan yang perusahaan berikan kepada sekedar dari untung dan rugi saja.
karyawan. Kebijakan yang pertama yaitu
pemenuhan standar Upah Minimum Kota
atau UMK dalam pemberian gaji karyawan
dan kebijakan yang kedua yaitu pemberian
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

Hasil dan Pembahasan Sikap Pemimpin tidak dengan cara atau tindakan yang dapat
Terhadap 5 Perspektif Etika Dalam merugikan pelanggan lainnya.
Berbisnis.
Hasil dan Pembahasan Sikap Pemimpin
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka Terhadap 5 Perspektif Etika Dalam
peneliti menemukan bahwa pemimpin PT. Berbisnis.
Pendawa Polysindo Perkasa merupakan
seorang pemimpin perusahaan yang Berdasarkan hasil penelitian di atas maka
menganut etika utilitarianisme yang peneliti menemukan bahwa pemimpin PT.
berhubungan dengan pelanggan. Hal ini Pendawa Polysindo Perkasa merupakan
terbukti dari hasil wawancara dengan seorang pemimpin perusahaan yang
pemimpin, karyawan perusahaan serta menganut etika utilitarianisme yang
pelanggan tetap perusahaan tercermin sangat berhubungan dengan pelanggan. Hal ini
jelas dari pola pikir dan perilaku pemimpin terbukti dari hasil wawancara dengan
PT. Pendawa Polysindo Perkasa yang lebih pemimpin, karyawan perusahaan serta
mengutamakan kepuasan pribadi dalam arti pelanggan tetap perusahaan tercermin
mengutamakan pelanggan mayoritas untuk sangat jelas dari pola pikir dan perilaku
memperoleh keuntungan yang lebih dari pemimpin PT. Pendawa Polysindo Perkasa
pelanggan tersebut. Pemimpin melakukan yang lebih mengutamakan kepuasan pribadi
hal yang tidak adil di dalam berbisnis. dalam arti mengutamakan pelanggan
Karena pemimpin memikirkan hanya untung mayoritas untuk memperoleh keuntungan
dan rugi saja sehingga pelanggan minoritas yang lebih dari pelanggan tersebut.
yang dikorbankan. Dalam hasil penelitian ini Pemimpin melakukan hal yang tidak adil di
peneliti melihat bahwa pola pikir dan dalam berbisnis. Karena pemimpin
perilaku pemimpin yang didapatkan memikirkan hanya untung dan rugi saja
bertentangan dengan prinsip deontologi sehingga pelanggan minoritas yang
dimana etika deontologi mengajarkan dikorbankan. Dalam hasil penelitian ini
kepada kita semua untuk tidak membeda- peneliti melihat bahwa pola pikir dan
bedakan pelanggan entah itu mayoritas atau perilaku pemimpin yang didapatkan
minoritas harus tetap dilayani dengan bertentangan dengan prinsip deontologi
sepenuh hati. Hal ini akan membuat dimana etika deontologi mengajarkan
pelanggan minoritas merasa tidak adil kepada kita semua untuk tidak membeda-
dengan sikap dan perilaku pemimpin karena bedakan pelanggan entah itu mayoritas atau
pelanggan minoritas pasti akan merasa minoritas harus tetap dilayani dengan
tersingkir akibat adanya para penguasa yaitu sepenuh hati. Hal ini akan membuat
pelanggan mayoritas. Memang dalam pelanggan minoritas merasa tidak adil
berbisnis kita sering melihat bahwa orang- dengan sikap dan perilaku pemimpin
orang lebih melayani dengan sepenuh hati karena pelanggan minoritas pasti akan
apabila pelanggan yang datang membeli merasa tersingkir akibat adanya para
dalam jumlah banyak. Akan tetapi, sebelum penguasa yaitu pelanggan mayoritas.
melakukan tindakan tersebut lebih baik Memang dalam berbisnis kita sering
dipikirkan terlebih dahulu dampak yang melihat bahwa orang-orang lebih melayani
akan terjadi pada orang lain. Semua orang dengan sepenuh hati apabila pelanggan
yang berbisnis tentunya menginginkan yang datang membeli dalam jumlah banyak.
sebuah keuntungan yang lebih besar agar Akan tetapi, sebelum melakukan tindakan
usaha tersebut bisa sukses dan berkembang tersebut lebih baik dipikirkan terlebih
secara nasional maupun internasional tetapi dahulu dampak yang akan terjadi pada
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

orang lain. Semua orang yang berbisnis yaitu mereka berhak untuk diperlakukan
tentunya menginginkan sebuah keuntungan atau dilayani secara benar dan jujur serta
yang lebih besar agar usaha tersebut bisa tidak diskriminatif.
sukses dan berkembang secara nasional Maka melalui penelitian ini peneliti
maupun internasional tetapi tidak dengan berharap dapat menjadi acuan bagi
cara atau tindakan yang dapat merugikan perusahaan dalam menerapkan prinsip-
pelanggan lainnya. prinsip etika bisnis yang benar sesuai
dengan aturan yang ada dengan tidak hanya
Temuan dan Implikasi Manajerial memikirkan keuntungan saja tetapi
perusahaan juga harus menerapkan prinsip
Setelah melakukan analisa dan pembahasan
keadilan kepada pelanggan minoritas
mengenai sikap dan perilaku pemimpin PT.
maupun pelanggan mayoritas. Bisnis yang
Pendawa Polysindo Perkasa dengan melihat
dijalankan oleh produsen harus sesuai
5 perspektif etika yang berbeda dalam
dengan etika bisnis yang ada. Etika yang
hubungan dengan pemasok, pelanggan, dan
menjadi landasan para produsen
karyawan perusahaan dan juga analisa dan
menjadikan adanya tanggung jawab atas
pembahasan mengenai sikap pemimpin
bisnis yang dikembangkan. Bisnis yang
terhadap 5 perspektif etika tersebut, peneliti
diharapkan dapat diterima oleh masyarakat
menemukan adanya temuan yang menonjol
harus dilandasi dengan moral , jujur,
diantaranya yaitu pemimpin PT. Pendawa
transparan dan bersifat profesional. Apabila
Polysindo Perkasa terbukti menggunakan
empat hal tersebut ditinggalkan maka bisnis
atau menganut paham tentang
pun dapat tidak diterima oleh masyarakat
utilitarianisme. Hal ini terjadi ketika
sendiri dan menimbulkan kerugian bagi
peneliti meneliti tentang hubungan antara
produsen. Jadi, dalam penelitian ini
pemimpin dengan pelanggan di dalam
ditemukan bahwa ada dampak negatif dari
menjalankan bisnisnya. Peneliti
etika utilitarianisme yaitu pelanggaran hak
menemukan adanya ungkapan dari
dan kepentingan kelompok minoritas
pemimpin yang mengatakan bahwa bisnis
dikorbankan demi menguntungkan
itu dijalankan oleh pemimpin dengan
kepentingan kelompok mayoritas.
tujuan agar memperoleh keuntungan namun
hal tersebut bukan berarti bahwa pemimpin IV. Kesimpulan dan Saran
dapat melakukan tindakan yang melanggar
hak-hak para pelanggannya. Kesimpulan
Pada penelitian ini diharapkan perusahaan
untuk dapat mengubah sistem kerja yang Hasil dari Implementasi Etika Bisnis pada
berlaku di perusahaan saat ini sesuai PT. Pendawa Polysindo Perkasa adalah etika
dengan prinsip-prinsip etika deontologi. utilitarianisme pada pelanggan. Peneliti
Hal tersebut sangat penting bagi melihat adanya penggunaan etika
perusahaan karena dengan mengubah utilitarianisme yang dilakukan oleh
sistem kerja maka dapat dipastikan pemimpin pada PT. Pendawa Polysindo
perusahaan akan menjadi lebih baik dan Perkasa yang berhubungan dengan
lebih tertata di dalam menjalankan kegiatan pelanggan dan dalam menjalankan bisnisnya.
bisnisnya. Melalui penelitian ini juga Hal ini terbukti dari beberapa penelitian
diharapkan perusahaan tidak mengabaikan yang dilakukan oleh peneliti kepada
pelanggan minoritas. Hal ini di karenakan pelanggan. Dimana pelanggan mengatakan
pelanggan minoritas juga mempunyai hak bahwa perusahaan dalam menjalankan
yang sama dengan pelanggan mayoritas bisnisnya masih bersikap tidak adil di dalam
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

memenuhi hak para pelanggannya yaitu menentukan suatu keputusan dengan tidak
mengorbankan pelanggan minoritas demi mengorbankan pelanggan yang lainnya.
kepentingan pelanggan mayoritas. Lalu Dalam berbisnis kita tidak seharusnya hanya
peneliti juga melihat adanya penerapan etika memikirkan keuntungan dan kerugian saja
deontologi yang dilakukan oleh pemimpin tanpa memandang hal lainnya seperti
perusahaan dalam menjalankan sumber daya dan sebagainya. Berbisnis
hubungannya dengan karyawan dan bukan hanya sekedar memperoleh
distributor. Dimana perilaku pemimpin yang keuntungan saja melainkan bagaimana cara
bertanggung jawab atas pelaporan kepada kita memberikan kontribusi yang baik atau
distributor akibat ketidaksesuaian barang positif terhadap produk atau barang yang
yang dikirim dengan barang yang dipesan telah dibuat oleh perusahaan tersebut
oleh PT. Pendawa Polysindo Perkasa. Hal sehingga bisnis tersebut dapat memberikan
ini terbukti dari tindakan pemimpin yang manfaat bagi diri sendiri serta orang lain.
masih mempunyai tanggung jawab di dalam
menjalankan bisnisnya. Peneliti juga Perusahaan perlu lebih fokus di dalam
menangkap bahwa pemimpin sudah menerapkan perspektif etika deontologi
menerapkan perspektif etika deontologi terutama kepada pelanggan. Memang tidak
yang berhubungan dengan para mudah dalam menerapkan etika deontologi
karyawannya salah satunya adalah maka dari itu, perusahaan perlu perlahan-
memberikan reward atau bonus kepada para lahan untuk menyingkirkan kebiasaan lama
karyawannya yang memberikan keuntungan seperti mengutamakan mayoritas daripada
bagi perusahaan. Selain itu pemimpin juga minoritas karena, dalam berbisnis sudah
tidak pernah menurunkan gaji para seharusnya pelanggan yang memesan
karyawannya walaupun omzet dari terlebih dahulu entah pelanggan itu
perusahaan sedang mengalami penurunan. memesan barang dalam jumlah yang sedikit
Hal ini terbukti dari perkataan Aldo sebagai atau banyak merekalah yang harus kita
manajer marketing dan Lisa sebagai kepala layani terlebih dahulu. Kita harus dapat
gudang. menghargai kepercayaan yang diberikan
oleh pelanggan kepada perusahaan kita.
Sementara itu, peneliti tidak menemukan Pelanggan sudah mempercayai perusahaan
bahwa terdapat penggunaan perspektif pada kita dengan memakai produk kita alangkah
etika evolusionisme, pragmatisme, dan baiknya apabila kita dapat menumbuhkan
relativisme pada PT. Pendawa Polysindo rasa kepercayaan yang dimiliki oleh
Perkasa karena peneliti tidak mendapatkan pelanggan tersebut agar tetap mengambil
fakta dan bukti yang terkait dengan ketiga produk atau barang di perusahaan kita dalam
perspektif etika di atas. jangka waktu yang panjang.
Saran

Berdasarkan kesimpulan yang di dapat dari


hasil analisis data lapangan berupa
wawancara dengan narasumber, maka
penulis mencoba memberikan rekomendasi
sebagai berikut :
Perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan
setiap tindakan yang dilakukan dalam
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

DAFTAR PUSTAKA Dr. Keraf, A. Sonny. 2010. Etika Bisnis:


Agoes Sukrisno dan Ardana, I Cenik (2009). Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta:
Etika Bisnis dan Profesi : Tantangan Kanisius.
Membangun
Fisch, M. (1986) Peirce, Semiotic and
Manusia Seutuhnya, Penerbit : Salemba
Pragmatism, Bloomington, IN: Indiana
Empat : Jakarta.
University Press.
Audi, Robert, "Sophist". In The Cambridge
Guimard, Anne, 2008. Investor Relations:
Dictionary of Philosophy. (Cambridge:
Principles and International Best
Cambridge University Press, 1999).
Practices of
Bagus, Lorenz. 2000. Kamus Filsafat. Financial Communications. New York:
Jakarta: Gramedia. Palgrave Macmillan.

Bentham, Jeremy (January 2009). An Gustina. (2008). Etika Bisnis Suatu Kajian
Introduction to the Principles of Nilai dan Moral Dalam Bisnis. Jurnal
Morals and Legislation (Dover Ekonomi dan Bisnis Vol 3 nomor 2.
Philosophical Classics). Dover Yogyakarta: Kanisius
Publications Inc. p. 1.
Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L.1989.
Bertens, K. 2007. Etika. Jakarta: Gramedia Sosiologi, Jilid 1 dan 2. Jakarta:
Pustaka Utama. Erlangga.

Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat Habibi, Don (2001). "Chapter 3, Mill's
pustaka pelajar; Djogjakarta 2007. Moral Philosophy". John Stuart Mill and
the Ethic of Human Growth. Dordrecht:
Budi Hardiman, Filsafat Modern. Jakarta:
Springer Netherlands. pp. 89±90, 112.
PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Hamersma, Harry.1984. Tokoh-Tokoh
B Miles, Matthew dan Huberman, Michael.
Filsafat Barat Modern. Jakarta: PT
1992. Analisis Data Kualitatif. Penerbit
Gramedia.
UI : Jakarta.
Hadi, Anwar. 2007. Pemahaman dan
Bertens, K.(2000). Pengantar Etika Bisnis.
Penerapan ISO/IEC 17025: 2005.
Yogyakarta : Kanisius.
Jakarta : PT. Gramedia
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

Pustaka Utama. Maedjaja, Daniel. 1995. Prinsip-prinsip


Dasaar Kepemimpinan Kristen.
Hadiwijono, Harun. 2011. Sari Sejarah
Yogyakarta : Kanisius.
Filsafat Barat 2. Yogyakarta : Kanisius.
Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi
Hamersma, Harry. 2008. Pintu Masuk Ke
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.
Dunia Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.
Remaja Rosdakarya.
J Sudarminta. Epistemologi
Nasution, Hasan Bakti. 2001. Filsafat
Dasar ,Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Umum. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Kant, Fundamental Principles of the
Poedjawijatna, I.R.2005. Pembimbing Ke
Metaphysics of Morals, Translated by
Arah Filsafat. Cet. 12. Jakarta:
Thomas K. Abbott with an introduction
Rineka Cipta.
by Marvin Fox ( New York: The Bobbs-
Merill Company, Inc., 1949), p. 57. Ritzer, George dan Goodman, Douglas J.
2007. Teori Sosiologi Modern (Edisi
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori
VI). Jakarta: Kencana.
Antropologi I. Jakarta: UI-Press.
Siahaan, Hotman M. (1986). Pengantar ke
Kretarto, Agus, 2001. Investor Relations : Arah Sejarah dan Teori Sosiologi.
Pemasaran dan Komunikasi Keuangan Jakarta: Penerbit Erlangga.
Perusahaan Berbasis Kepatuhan. Grafiti Seseno, Franz Magnus.1993. Etika Sosial,
Pers. Jakarta: PT Gramedia.
Latif, Mukhtar. 2014. Orientasi Ke Arah
Surajiyo. 2009. Ilmu Filsafat (Suatu
Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta :
Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Kencana.
Syadali, Ahmad dan Mudzakir. November
Mantra, Ida Bagoes. 2008. Filsafat
1997. Filsafat Umum. Cet. 1.
Penilitian & Metode Penelitian
Bandung: Pustaka Setia.
Sosial.Yogyakarta : Pustaka
Pelajar. Sunoto. 1992. Aspek Manusia dalam
Organisasi : Dasar Penelitian dan
Implikasi Metode Penelitian. Jakarta :
Kanisius.
AGORA Vol. 5, No.3, 2017

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian


Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian


Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sukandarrumidi. 2002. Metodologi


Penelitian : Petunjuk Praktis untuk
Penelitian Pemula. Jogjakarta : Pustaka
Pelajar.
Watloly, Aholiab. 2001. Tanggung Jawab
Pengetahuan. Yogyakarta : Kanisius.

White, J.E. (1997). Honesty,Morality,&


Conscience. Navpress Publishing
Group.

Winarto, Paulus. 2005. The Leadership


Wisdom. Jakarta : Elex media
komputindo.
AGORA Vol. 5, No.3, 2017