Anda di halaman 1dari 18

A.

Definisi

1. Stroke

B. Pengertian

Stroke adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan hilangnya fungsi otak secara akut dan dapat
menimbulkan kematian (WHO), 2014). Stroke merupakan gangguan fungsiotak yang timbul mendadak
karena terjadinya gangguan peredaran darah otak yang menimbulkan kehilangan fungsi neurologis
secara cepat. Dampak dari penyakit stroke diantaranya keterbatasan aktivitas (Pinzon & Asanti, 2010).
Secara patologi stroke dibedakan menjadi sebagai berikut :Stroke diklasifikasikan menjadi dua :
1. Stroke Non Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai dengan kelemahan
pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri kepala, mual, muntah, pandangan kabur
dan dysfhagia (kesulitan menelan). Stroke non haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik
dan stroke trombotik (Wanhari, 2008).
2. Stroke Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan intra serebral atau
perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi
cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).Stroke hemoragik di
sebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematom
intraserebrum) atau ke dalam ruang subaraknoid yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan
jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia subaraknoid). Ini adalah jenis stroke yang paling
mematikan, tetapi relative hanya menyusun sebgian kecil dari stroke total, 10-15% untuk perdarahan
intraserebrum dan 5% untuk perdarahan subaraknoid(Irfan, 2012). Biasanya terjadi saat melakukan
aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat ( Wijaya & Putri, 2013).

B. Etiologi dan Faktor Risiko

1. Trombosis (bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak)

2. Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain)

3. Iskemia (Penurunan aliran darah ke area otak)

4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan
otak atau ruang sekitar otak. Akibatnya adalah penghentian suplai darah ke otak, yang menyebabkan
kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori , bicara atau sensasi (Smeltzer C.
Suzann, 2002)

Faktor resiko pada penyakit stroke :

1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskuler

3. Kolesterol tinggi

4. Obesitas

5. Peningkatan hematokrit

6. Diabetes

7. Kontrasepsi oral

8. Merokok

9. Penyalahgunaan obat

10. Konsumsi alkohol

2) Faktor yang dapat dimodifikasi


Faktor yang dapat dimodifikasi terdiri dari tingkatan pertama dan kedua.

a) Tingkat pertama faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi, diurutkan dari tingkat banyaknya
kejadian yaitu hipertensi, diabetes mellitus, merokok, fibrilasi atrium dan disfungsi ventrikel kiri.

b) Tingkatan kedua yaitu terdiri dari kolesterol, hiperlipidemia, asimtomatik karotid stenosis, sickle cell
disease, terapi hormon esterogen, diet, obesitas, alkohol, migrain, dan hiperkoagulasi. Kebanyakan dari
faktor risiko yang tingkatan kedua ini, memiliki hubungan dengan pengembangan faktor risiko tingkat
pertama, misalnya obesitas merupakan faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dan diabetes (Goldstein
dkk, 2010).

Faktor risiko yang umumnya menyebabkan stroke yaitu tekanan darah tinggi (hipertensi). Tekanan darah
tidak boleh melebihi 140/90 mmHg. Tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan tingginya tekanan di
dinding arteri sehingga bisa menyebabkan bocornya arteri otak, bahkan ruptur pada arteri otak yang
akan mengakibatkan terjadinya stroke hemoragik. Tekanan darah tinggi juga bisa menyebabkan stroke
iskemik yang dikarenakan oleh adanya atherosclerosis (Silva dkk, 2014).

C. Tanda dan Gejala


Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana
yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral
(sekunder atau aksesori). Fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya.
1. Kehilangan motorik
Stroke adalah penyakit motor neuron dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan
motorik.
2. Kehilangan komunikasi
Fungsi otak lain yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab
afasia paling umum.Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh hal berikut:

a. Disartria (kesulitan berbicara), ditunjukkan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh
paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.

b. Disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara), yang terutama ekspresif atau reseptif.
c. Apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya), seperti terlihat
ketika pasien mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.

3. Gangguan persepsi
Ketidakmampuan untuk menginterpretasikan sensasi. Stroke dapat mengakibatkan disfungsi persepsi
visual, gangguan dalam hubungan visual-spasial dan kehilangan sensori

4. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik

Disfungsi ini dapat ditunjukkan dengan kesulitan dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi, yang
menyebabkan pasien ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka.

5. Disfungsi kandung kemih


Setelah stroke pasien mungkin mengalami inkontinensia urinarius sementara karena konfusi,
ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan
urinal/bedpan.

D. Patofisiologi

Oksigen sangat penting untuk otak, jika terjadi hipoksia seperti yang terjadi pada stroke, di otak akan
mengalami perubahan metabolik, kematian sel dan kerusakan permanen (AHA, 2015). Pembuluh darah
yang paling sering terkena adalah arteri serebral dan arteri karotis interna yang ada di leher (Guyton &
Hall, 2014). Adanya gangguan pada peredaran darah otak dapat mengakibatkan cedera pada otak
melalui beberapa mekanisme, yaitu :

1) Penebalan dinding pembuluh darah (arteri serebral) yang menimbulkan penyembitan sehingga aliran
darah tidak adekuat yang selanjutnya akan terjadi iskemik.

2) Pecahnya dinding pembuluh darah yang menyebabkan hemoragik.

3) Pembesaran satu atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak.

4) Edema serebral yang merupakan pengumpulan cairan pada ruang interstitial jaringan otak (Smeltzer
& Bare, 2013).

Penyempitan pembuluh darah otak mula-mula menyebabkan perubahan pada aliran darah dan setelah
terjadi stenosis cukup hebat dan melampaui batas krisis terjadi pengurangan darah secara drastis dan
cepat. Obtruksi suatu pembuluh darah arteri di otak akan menimbulkan reduksi suatu area dimana
jaringan otak normal sekitarnya masih mempunyai peredaran darah yang baik berusaha membantu
suplai darah melalui jalur-jalur anastomosis yang ada. Perubahan yang terjadi pada kortek akibat oklusi
pembuluh darah awalnya adalah gelapnya warna darah vena, penurunan kecepatan aliran darah dan
dilatasi arteri dan arteriola (AHA, 2015).

E. WOC
F. Pemeriksaan Penunjang
1) CT-Scan
Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infark (Wijaya & Putri, 2013)

2) Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI)


Pemeriksaan MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark atau hemoragik (Oktavianus, 2014). MRI
mempunyai banyak keunggulan dibanding CT dalam mengevaluasi stroke, MRI lebih sensitif dalam
mendeteksi infark, terutama yang berlokasi dibatang otak dan serebelum (Farida & Amalia, 2009)

3) Pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA)

Merupakan metode non-infasif yang memperlihatkan arteri karotis dan sirkulasi serebral serta dapat
menunjukan adanya oklusi(Hartono, 2010)

4) Pemeriksaan ultrasonografi karotis dan dopler transkranial

Mengukur aliran darah serebral dan mendeteksi penurunan aliran darah stenosis di dalam arteri karotis
dan arteri vetebrobasilaris selain menunjukan luasnya sirkulasi kolateral.Kedua pemeriksaan ini dapat
digunakan untuk mengkaji perburukkan penyakit vaskular dan mengevaluasi efek terapi yang
ditimbulkan pada vasospasme, seperti yang terjadi pada perdarahan subaraknoid.Angiografi serebral
merupakan prosedur invasif yang menggunakan media kontras untuk menunjukan pembuluh darah
serebral, kepatenan, dan lokasi stenosis, oklusi atau aneurisma.Pemeriksaan aliran darah serebral
membantu menentukan derajat vasopasme(Hartono, 2010).

5) Pemeriksaan lumbal pungsi


Pemeriksaan fungsi lumbal menunjukkan adanya tekanan (Oktavianus, 2014). Tekanan normal biasanya
ada trombosis, emboli dan TIA, sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah
menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranial (Wijaya & Putri, 2013).

6) Pemeriksaan EKG
Dapat membantu mengidentifikasi penyebab kardiak jika stroke emboli dicurigai terjadi (Hartono, 2010)

7) Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal, kadar glukosa, lipid, kolestrol, dan
trigliserida dilakukan untuk membantu menegakan diagnose(Hartono, 2010).

8) EEG (Electro Enchepalografi)

Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi
yang spesifik (Wijaya & Putri, 2014)
9) Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obtruksi arteri,
oklusi/ruptur (Wijaya & Putri, 2013)
10) Sinar X tengkorak
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang luas,
klasifikasi karotis interna terdapat pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada
perdarahan sub arachnoid (Wijaya & Putri,2013).

11) Pemeriksaan foto thorax


Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan
salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng
pineal daerah berlawanan dari masa yang meluas (Doengoes, 2000) (Wijaya & Putri, 2013).

G. Penatalaksanaan
Penanganan stroke ditentukan oleh penyebab stroke dan dapat berupa terapi farmasi, radiologi
intervensional, atau pun pembedahan. Pada stroke hemoragik, tujuan terapi adalah mencegah
kerusakan sekunder dengan mengendalikan tekanan intrakranial dan vasospasme, serta mencegah
perdarahan lebih lanjut (Hartono, 2010).

a. Medis
1. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebri (ADS) secara percobaan, tetapi maknanya pada tubuh
manusia belum dapat dibuktikan
2. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intraarterial.
3. Medikasi antitrombosit dapat diresepkan karena trombositmemainkan peran sangat penting dalam
pembentukan trombus dan ambolisasi. Antiagresi trombosis seperti aspirin digunakan untuk
menghambat reaksi pelepasan agregasi trombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
4. Antikoagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya trombosis atau
embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler (Mutaqin, 2011)
b. Keperawatan
Berikut ini beberapa jenis terapi yang dapat dijalankan terkait proses pemulihan kondisi pasca stroke :

1. Terapi Wicara

Terapi wicara membantu penderita untuk mengunyah, berbicara, maupun mengerti kembali kata – kata
(Farida & Amalia, 2009).
2. Fisioterapi
Kegunaan metode fisioterapi yang digunakan untuk menangani kondisi stroke stadium akut bertujuan
untuk :

a. Mencegah komplikasi pada fungsi paru akibat tirah baring yang lama
b. Menghambat spastisitas, pola sinergis ketika ada peningkatan tonus
c. Mengurangi oedem pada anggota gerak atas dan bawah sisi sakit

d. Merangsang timbulnya tonus ke arah normal, pola gerak dan koordinasi gerak
e. Meningkatkan kemampuanaktivitas fungsional (Farida & Amalia, 2009).
3. Akupuntur
Akupuntur merupakan metode penyembuhan dengan cara memasukkan jarum dititik-titk tertentupada
tubuh penderita stroke. Akupuntur dapat mempersingkat waktu penyembuhan dan pemulihan gerak
motorik serta ketrampilan sehari-hari (Farida & Amalia, 2009).

Senam Ergonomik
Senam ini berfungsi untuk melatih otot-otot yang kaku dengan gerakan-gerakan yang ringan dan tidak
menimbulkan rasa sakit bagi penderitanya. Senam ergonomik diawali dengan menarik napas
menggunakan pernapasan dada. Hal ini bertujuan supaya paru-paru dapat lebih banyak menghimpun
udara. Ketika napas, oksigen dialirkan keotak yang memerlukan oksigen dalam jumlah yang banyak
supaya dapat berfungsi dengan baik. Dengan demikian, senam ergonomik dapat dikatakan membantu
penderita stroke karena kondisi stroke merupakan terganggunya suplaioksigen ke otak (Farida & Amalia,
2009).

Yoga (Terapi Meditasi)

Yoga menurunkan resiko terkena stroke dengan meningkatkan suplai darah keotak bila yoga dilakukan
secara teratur. Aktivitas yang dilakukan dalam yoga khusus penderita stroke yaitu latihan peregangan
seluruh bagian tubuh, memijit organ-organ internal, kelenjar, sistem peredaran darah dan sistem
pembuangan, demikian pernyataan Rahmat Darmawan, seorang master of energy yang juga praktisi
yoga (Farida & Amalia, 2009)

H. Komplikasi

Adapun kompilasi Stroke Hemoragik menurut Sudoyo, (2009) yaitu:

a. Hipoksi Serebral

Diminimalkan dengan memberikan oksigenasi darah adekuat di otak

b. Penurunan aliran darah serebral


Tergantung pada tekanan darah curah jantung, dan integritas pembuluh darah.

c. Embolisme Serebral
Dapat terjadi setelah infrak miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik.

d. Distritmia

Dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentiantrombus lokal. komplikasiadapun
kompilasi stroke hemoragik menurut sudoyo, (2009) yaitu:

J. Asuhan Keperawatan Teoritis


Menurut Tarwoto (2013) pengkajian keperawatan pada pasien stroke meliputi :
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan,
agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.

b. Keluhan utama
Keluhan yang didapatkan biasanya gangguan motorik kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara
pelo, dan tidak dapat berkomunikasi, nyeri kepala, gangguan sensorik, kejang, penurunan kesadaran.

c. Riwayat penyakit sekarang

Serangan stroke infark biasanya didahului dengan serangan awal yang tidak disadari oleh pasien,
biasanya ditemukan gejala awal sering kesemutan, rasa lemah pada salah satu anggota gerak. Pada
serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat pasien melakukan
aktifitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping
gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.

d. Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala,
kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif,
kegemukan.

e. Riwayat penyakit keluarga

Adanya riwayat keluarga dengan hipertensi, adanya riwayat DM, dan adanya riwayat anggota keluarga
yang menderita stroke.
6) Riwayat Psikososial
Adanya keadaan dimana pada kondisi ini memerlukan biaya untu pengobatan secara komprehensif,
sehingga memerlukan biaya untuk pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan yang sangat mahal
dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.

2. Pola Fungsional Gordon

1) Pola kebiasaan
Biasanya pada pasien yang pria, adanya kebiasaan merokok dan penggunaan minuman beralkohol

2) Pola makan

Biasanya terjadi gangguan nutrisi karena adanya gangguan menelan pada pasien stroke hemoragik
sehingga menyebabkan penurunan berat badan.

3) Pola tidur dan istirahat


Biasanya pasien mengalami kesukaran untuk istirahat karena adanya kejang otot/ nyeri otot
4) Pola aktivitas dan latihan
Biasanya pasien tidak dapat beraktifitas karena mengalami kelemahan, kehilangan sensori , hemiplegi
atau kelumpuhan

5) Pola eliminasi
Biasanya terjadi inkontinensia urin dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan
peristaltik usus
6) Pola hubungan dan peran
Biasanya adanya perubahan hubungan dan peran karena pasien mengalami kesukaran untuk
berkomunikasi akibat gangguan bicara

7) Pola persepsi dan konsep diri

Biasanya pasien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, dan tidak kooperatif
(Batticaca, 2008)

3. Pemeriksaan Fisik

a. Tingkat Kesadaran
Gonce (2002) tingkat kesadaran merupakan parameter untama yang sangat penting pada penderita
stroke. Perludikaji secara teliti dan secara komprehensif untuk mengetahui tingkat kesadaran dari klien
dengan stroke. Macam-macam tingkat kesadaran terbagi atas:
Metoda Tingkat Responsivitas
1) Composmentis : kondisi sesorang yang sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun terhadap
dirinya maupun terhap lingkungannya dan dapat menjawab pertanyaan yang dinyatakan pemeriksa
dengan baik
2) Apatis : yaitu kondisi seseorang yang tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya

3) Derilium : yaitu kondisi sesorang yang mengalami kekacauangerakan, siklus tidur bangun yang
terganggu dan tampak gaduh gelisah, kacau, disorientasi srta meronta-ronta

4) Somnolen : yaitu kondisi sesorang yang mengantuk namun masih dapat sadar bila diransang, tetapi
bila rangsang berhenti akan tertidur kembali

5) Sopor : yaitu kondisi seseorang yang mengantuk yang dalam,namun masih dapat dibangunkan
dengan rangsang yang kuat,misalnya rangsang nyeri, tetapi tidak terbangun sempurna dan tidak dapat
menjawab pertanyaan dengan baik.

6) Semi-Coma : yaitu penurunan kesadaran yang tidak memberikan respons terhadap pertanyaan, tidak
dapat dibangunkan sama sekali, respons terhadap rangsang nyeri hanya sedikit, tetapi refleks kornea
dan pupil masih baik.
7) Coma : yaitu penurunan kesadaran yang salangat dalam,memberikan respons terhadap pernyataan,
tidak ada gerakan, dan tidak ada respons terhadap rangsang nyeri.Berikut tingkat kesadaran
berdasarkan skala nilai dari skor yang didapat dari penilaian GCS klien :
a. Nilai GCS Composmentis : 15 – 14
b. Nilai GCS Apatis : 13 – 12

c. Nilai GCS Derilium : 11 – 10

d. Nilai GCS Somnolen : 9 – 7

e. Nilai GCS Semi Coma : 4

f. Nilai GCS Coma : 3

2) Tanda-tanda Vital

a) Tekanan darah

Biasanya pasien dengan stroke hemoragik memiliki riwayat tekanan darah tinggi dengan tekanan systole
> 140 dan diastole > 80

b) Nadi

Biasanya nadi normal

c) Pernafasan

Biasanya pasien stroke hemoragik mengalami gangguan pada bersihan jalan napas

d) Suhu

Biasanya tidak ada masalah suhu pada pasien dengan stroke hemoragik

3) Rambut

Biasanya tidak ditemukan masalah

4) Wajah

Biasanya simetris, wajah pucat. Pada pemeriksaan Nervus V (Trigeminal) : biasanya pasien bisa
menyebutkan lokasi usapan dan pada pasien koma, ketika diusap kornea mata dengan kapas halus, klien
akan menutup kelopak mata. Sedangkan pada Nervus VII (facialis) : biasanya alis mata simetris, dapat
mengangkat alis, mengernyitkan dahi, mengernyitkan hidung, menggembungkan pipi, saat pasien
menggembungkan pipi tidak simetris kiri dan kanan tergantung lokasi lemah dan saat diminta
mengunyah pasien kesulitan untuk mengunyah.

5) Mata
Biasanya konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupil isokor, kelopak mata tidak oedema. Pada
pemeriksaan nervus II (optikus) : biasanya luas pandang baik 90°, visus 6/6. Pada nervus III
(okulomotoris) : biasanya diameter pupil 2mm/2mm, pupil kadang isokor dan anisokor, palpebra dan
reflek kedip dapat dinilai jika pasien bisa membuka mata . Nervus IV (troklearis) : biasanya pasien dapat
mengikuti arah tangan perawat ke atas dan bawah. Nervus VI (abdusen) : biasanya hasil nya pasien
dapat mengikuti arah tangan perawat ke kiri dan kanan

6) Hidung

Biasanya simetris kiri dan kanan, terpasang oksigen, tidak ada pernapasan cuping hidung. Pada
pemeriksan nervus I (olfaktorius) :
kadang ada yang bisa menyebutkan bau yang diberikan perawat namun ada juga yang tidak, dan
biasanya ketajaman penciuman antara kiri dan kanan berbeda dan pada nervus VIII (akustikus) :
biasanya pada pasien yang tidak lemah anggota gerak atas, dapat melakukan keseimbangan gerak
tangan-hidung

7) Mulut dan gigi

Biasanya pada pasien apatis, sopor, soporos coma hingga coma akan mengalami masalah bau mulut, gigi
kotor, mukosa bibir kering. Pada pemeriksaan nervus VII (facialis) : biasanya lidah dapat mendorong pipi
kiri dan kanan, bibir simetris, dan dapat menyebutkan rasa manis dan asin. Pada nervus IX
(glossofaringeal) : biasanya ovule yang terangkat tidak simetris, mencong kearah bagian tubuh yang
lemah dan pasien dapat merasakan rasa asam dan pahit. Pada nervus XII (hipoglasus) : biasanya pasien
dapat menjulurkan lidah dan dapat dipencongkan ke kiri dan kanan namun artikulasi kurang jelas saat
bicara

8) Telinga

Biasanya sejajar daun telinga kiri dan kanan. Pada pemeriksaan nervus VIII (akustikus) : biasanya pasien
kurang bisa mendengarkan gesekanjari dari perawat tergantung dimana lokasi kelemahan dan pasien
hanya dapat mendengar jika suara keras dan dengan artikulasi yang jelas

9) Leher

Pada pemeriksaan nervus X (vagus) : biasanya pasien stroke hemragik mengalami gangguan menelan.
Pada peemeriksaan kaku kuduku biasanya (+) dan bludzensky 1 (+)

10) Thorak

a) Paru-paru
Inspeksi : biasanya simetris kiri dan kanan
Palpasi : biasanya fremitus sam aantara kiri dan kanan
Perkusi : biasanya bunyi normal (sonor)
Auskultasi: biasanya suara normal (vesikuler)

b) Jantung
Isnpeksi : biasanya iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : biasanya ictus cordis teraba
Perkusi : biasanya batas jantung normal
Auskultasi: biasanya suara vesikuler

11) Abdomen
Inspeksi : biasanya simetris, tidak ada asites
Palpasi : biasanya tidak ada pembesaran hepar
Perkusi : biasanya terdapat suara tympani
Auskultasi: biasanya biasanya bising usus pasien tidak terdengar.
Pada pemeriksaan reflek dinding perut, pada saat perut pasien digores biasanya pasien tidak merasakan
apa-apa.

12) Ekstremitas
a) Atas
Biasanya terpasang infuse bagian dextra / sinistra. CRT biasanya normal yaitu < 2 detik.Pada
pemeriksaan nervus XI (aksesorius) : biasanya pasien stroke hemoragik tidak dapat melawan tahanan
pada bahu yang diberikan perawat. Pada pemeriksaan reflek, biasanya saat siku diketuk tidak ada
respon apa-apa dari siku, tidak fleksi maupun ekstensi (reflek bicep (-)) dan pada pemeriksaan tricep
respon tidak ada fleksi dan supinasi (reflek bicep (-)). Sedangkan pada pemeriksaan reflek hoffman
tromer biasanya jari tidak mengembang ketika diberi reflek (reflek Hoffman tromer (+)).

b) Bawah

Pada pemeriksaan reflek, biasanya saat pemeriksaan bluedzensky I kaki kiri pasien fleksi ( bluedzensky
(+)). Pada saat telapak kaki digores biasanya jari tidak mengembang (reflek babinsky (+)). Pada saat
dorsum pedis digores biasanya jari kaki juga tidak beresponn (reflek caddok (+)). Pada saat tulang kering
digurut dari atas ke bawah biasanya tidak ada respon fleksi atau ekstensi (reflek openheim (+)) dan pada
saat betis diremas dengan kuat biasanya pasien tidak merasakan apa-apa (reflek gordon (+)). Pada saat
dilakukan reflek patella biasanya femur tidak bereaksi saat di ketukkan (reflek patella (+)).

4) Saraf Kranial
I. Olfaktorius : saraf cranial I berisi serabut sensorik untuk indera penghidu. Mata pasien terpejam dan
letakkan bahan-bahan aromatic dekat hidung untuk diidentifikasi.

II. Optikus : Akuitas visual kasar dinilai dengan menyuruh pasienmembaca tulisan cetak. Kebutuhan akan
kacamata sebelum pasien sakit harus diperhatikan.

III. Okulomotoris : Menggerakkan sebagian besar otot mata

IV. Troklear : Menggerakkan beberapa otot mata

V. Trigeminal : Saraf trigeminal mempunyai 3 bagian: optalmikus, maksilaris, dan madibularis. Bagian
sensori dari saraf ini mengontrol sensori pada wajah dan kornea. Bagian motorik mengontrol otot
mengunyah. Saraf ini secara parsial dinilai dengan menilai reflak kornea; jika itu baik pasien akan
berkedip ketika kornea diusap kapas secara halus. Kemampuan untuk mengunyah dan mengatup rahang
harus diamati.
VI. Abdusen : Saraf cranial ini dinilai secara bersamaan karena ketiganya mempersarafi otot
ekstraokular. Saraf ini dinilai dengan menyuruh pasien untuk mengikuti gerakan jari pemeriksa ke segala
arah.

VII. Fasial : Bagian sensori saraf ini berkenaan dengan pengecapan pada dua pertiga anterior lidah.
Bagian motorik dari saraf ini mengontrol otot ekspresi wajah. Tipe yang paling umum dari paralisis fasial
perifer adalah bell’s palsi.
VIII. Akustikus : Saraf ini dibagi menjdi cabang-cabang koklearis dan vestibular, yang secara berurutan
mengontrol pendengaran dan keseimbangan. Saraf koklearis diperiksa dengan konduksi tulang dan
udara. Saraf vestibular mungkin tidak diperiksa secara rutin namun perawat harus waspada, terhadap
keluhanpusing atau vertigo dari pasien.

IX. Glosofaringeal : Sensori: Menerima rangsang dari bagian posterior lidah untuk diproses di otak
sebagai sensasi rasa. Motorik: Mengendalikan organ-organ dalam

X. Vagus : Saraf cranial ini biasanya dinilai bersama-sama. SarafGlosofaringeus mempersarafi serabut
sensori pada sepertiga lidah bagian posterior juga uvula dan langit-langit lunak.Saraf vagus
mempersarafi laring, faring dan langit-langit lunak sertamemperlihatkan respon otonom pada jantung,
lambung, paru-paru dan usus halus. Ketidak mampuan untuk batuk yang kuat, kesulitan menelan dan
suara serak dapat merupakan pertanda adanya kerusakan saraf ini.

XI. Asesoris spinal : Saraf ini mengontrol otot-otot sternokliedomostoid dan otot trapesius. Pemeriksa
menilai saraf ini dengan menyuruh pasien mengangkat bahu.

Diagnosa Keperawatan
a) Resiko perfusi serebral tidak efektif b/d penurunan kinerja ventrikel kiri, tumor otak, cidera kepala,
infark miokard akut, hipertensi dan hiperkolesteronemia.

b) Pola napas tidak efektif b/d depresi pusat pernapasan, hambatan upaya napas, gangguan
neuromuskular dan gangguan neurologis

c) Gangguan mobilitas fisik b/d gangguan neuromuskuler dan kelemahan anggota gerak

D) Gangguan komunikasi verbal b/d penurunan sirkulasi serebral, dan gangguan neuromuskuler
Rencana Asuuan Keperawatan
No Diagnosa SLKI SIKI

Resiko perfusi Setelah dilakukan Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial


serebral tidak tindakan Keperawatan Observasi
efektif b/d 3x 24 jam diharapkan
hipertensi perfusi jaringan serebral 1.Identikasi penyebab peningkatan TIK
pasien menjadi efektif
2.Monitor tanda/gejala peningkatan TIK
dengan
3.Monitor MAP, CVP, PAWP, PAP, ICP, dan CPP, jika perlu
kriteria hasil :
4. Monitor gelombang ICP
a) Tingkat kesadaran
kognitif meningkat 5.Monitor status pernapasan

b) Gelisah menurun 6. Monitor intake dan output cairan

c) Tekanan intrakranial 7. Monitor cairan serebro-spinal


menurun
Terapeutik
d) Kesadaran membaik
1.Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang
tenang

2.Berikan posisi semi fowler

3. Hindari manuver Valsava

4. Cegah terjadinya kejang

5. Hindari penggunaan PEEP

6. Atur ventilator agar PaCO2 optimal

7. Pertahankan suhu tubuh normal

Kolaborasi

1. Kolaborasi pemberian sedasi dan anti konvulsan, jika perlu

2. Kolaborasi pemberian diuretik osmosis


3. Kolaborasi pemberian pelunak tinja Pemantauan Neurologis
Observasi :

1. Monitor ukuran, bentuk, kesimetrisan, dan reaktifitas pupil.

2. Monitor tingkat kesadaran

3. Monitor tanda-tanda vital

4. Monitor status pernapasan : analisa gas darah, oksimetri


nadi, kedalaman napas, pola napas, dan usaha napas

5. Monitor refleks kornea

6. Monitor kesimetrisan wajah

7. Monitor respons babinski

8. Monitor respons terhadap pengobatan.


Implementasi

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada
tahap perencanaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Pada tahap ini
perawat menerapkan pengetahuan intelektual, kemampuan hubungan antar manusia (komunikasi) dan
kemampuan teknis keperawatan, penemuan perubahan pada pertahanan daya tahan tubuh,
pencegahan komplikasi, penemuan perubahan sistem tubuh, pemantapan hubungan klien dengan
lingkungan, implementasi pesan tim medis serta mengupayakan rasa aman, nyaman dan keselamatan
klien.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan perbandingan yang sistemik dan terencana mengenai kesehatan klien dengan
tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan
tenaga kesehatan lainnya. Penilaian dalam keperawatan bertujuan untuk mengatasi pemenuhan
kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.

C. Dokumentasi Keperawatan

Pendokumentasian yang digunakan dalam kasus ini adalah model dokumentasi POR ( Promblem
Oriented Record ) menggunakan SOAPIE (subyek, obyek, analisa, planning, implementasi, evaluasi ).
Dalam setiap diagnosa keperawatan penulis melakukan tindakan keperawatan kemudian penulis
mendokumentasikan yaitu dalam memberikan tanda tangan waktu dan tanggal. Jika ada kesalahan
dicoret diberi paraf oleh penulis.
Daftar Pustaka

Aminoff, M.J., & Josephson, S.A. 2014. Aminoff’s Neurology and General Medicine. Elsevier

Asmadi. 2008. Teknik prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta:
Salemba Medika.

Batticaca, F.B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika
Bulecheck, G.M., Butcher, H.K., Docthterman, J.M., & Wagner, C.M. 2013.
Nursing Interventions Classification (NIC), 6th edition. United State Of America: Mosby Elsevier, Inc

Corwin, E.J. 2009. Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC

Gonce, P. (2002). Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta

Saryono, & Anggreni, MD. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta : Nuha
Medika

Tarwoto & Wartonah. (2012). Kebutuhan Dasar Manusia & Proses Keperawatan.Jakarta : EGC

World Health Organization. (2016). Noncommunicable Disease Country Profil Indonesia. Retrieved from
http://www.who.int/countries/idn_en.pdf?ua=1