Anda di halaman 1dari 49

LAPORAN SEMINAR KASUS

KEPERAWATAN MATERNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SUSPEK KISTA
OVARIUM BILATERAL+ TUMOR ILEUM
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK R

PROGRAM STUDI PROFESI


KEPERAWATAN FAKULTAS
KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
ANDALAS 2021
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teoritis Penyakit
1. Definisi
Kista Ovarium adalah sebuah struktur tidak normal yang berbentuk seperti
kantung yang bisa tumbuh dimanapun dalam tubuh. Kantung ini bisa berisi zat
gas, cair, atau setengah padat. Dinding luar kantung menyerupai sebuah kapsul.
(Andang, 2013) Kista ovarium biasanya berupa kantong yang tidak bersifat
kanker yang berisi material cairan atau setengah cair. (Nugroho, 2014). Kista
berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (kista indung telur) berarti
kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur
(ovarium). Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja. (Setyorini, 2014)
Kista ovarium merupakan pembesaran dari indung telur yang mengandung
cairan. Besarnya bervariasi dapat kurang dari 5 cm sampai besarnya memenuhi
rongga perut, sehingga menimbulkan sesak nafas. (Manuaba, 2009) Jadi, kista
ovarium merupakan tumor jinak yang menimbulkan benjolan abnormal di bagian
bawah abdomen dan berisi cairan abnormal berupa udara, nanah, dan cairan
kental.

2. Anatomi dan Fisiologi


Anatomi

Alat reproduksi wanita dibagi dua yaitu :

a. Alat reproduksi eksterna


1) Mons Veneris
Adalah daerah diatas simfisis yang akan ditumbuhi rambut kemaluan
(pubes) rambut ini tumbuh membentuk sudut lengkung.
2) Labia Mayora
Berada bagian kanan dan kiri berbentuk lonjong yang pada wanita
menjelang dewasa ditumbuhi juga oleh rambut kemaluan.
3) Labia Minora
Bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu, disini dijumpai
frenulum, klitoris, preputium dan prenulum prudanti.
4) Klitoris
Besarnya kira-kira sebesar kacang hijau sampai cabe rawit dan ditutupi oleh
frenulum klitoris. Glans klitoris berisi jaringan yang dapat berereksi sifatnya
amat sensitive karena banyak memiliki serabut saraf.
5) Vulva
Alat kandungan luar yang berbentuk lonjong berukuran panjang mulai dari
klitoris, dari kiri dibatasi bibir kecil sampai belakang dibatasi perineum.
6) Vestibulum
Terletak di bawah selaput lender vulva, terdiri dari bulbus vestibula dan kiri
disini dijumpai vestibule mayor (kelenjar bartholini) dan kelenjar vestibulum
minor.
7) Hymen
Merupakan selaput yang menutupi intrabus vagina bentuknya berlubang
membentuk semilunaris, anularis tapisan. Bila tidak berlubang disebut atresia
himenalis atau hymen impeforata.

8) Lubang Kemih
Tempat keluarnya air kemih yang terletak dibagian bawah klitoris disekitar
lubang kemih bagian kiri dan kanan lubang kelenjar skene.
9) Perineum
Terletak diantara vulva dan anus.

b. Alat reproduksi interna

1) Vagina
Liang atau saluran yang menghubungkan vulva dengan rahim terletak diantara
saluran kemih dan liang dubur. Dibagian ujung atasnya terletak mulut rahim.
Ukuran panjang dinding depan 8 cm dan dinding belakang 10 cm. Bentuk
dinding dalamnya berlipat – lipat disebut rugae sedangkan ditengahnya ada
bagian yang lebih keras disebut kolumna ruganum. Dinding vagina terdiri dari
lapisan mukosa, lapisan otot dan lapisan jaringan ikat.
2) Uterus
Suatu struktur otot yang cukup kuat bagian luarnya ditutupi oleh peritoneum
sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim.
Rahim berbentuk seperti bola lampu pijar atau buah pear mempunyai
rongga yang terdiri dari tiga bagian dasar yaitu : Badan rahim (korpus uteri)
berbentuk segitiga, leher rahim (service uteri), Rongga rahim (kavum uteri).
Besarnya rahim berbeda-beda tergantung dari usia dan pernah melahirkan anak
atau belum. Ukurannya sebesar telur ayam kampung. Pada nulipara ukurannya
5,5 – 8 cm x 3,5 – 4 cm x 2 – 2,5 cm : multipara 9 – 9,5 cm x 5,5 – 6 cm x 3 –
3,5 cm. Dinding rahim secara histologic terdiri dari 3 lapisan : Lapisan serosa
(lapisan peritoneum) diluar, lapisan otot (lapisan miometrium) ditengah,
lapisan mukosa (endometrium) didalam. Sikap dan letak rahim dalam rongga
panggul terfikasi dengan baik karena disokong dan dipertahankan oleh: Tonus
rahim sendiri, tekanan intra abdominal, otot-otot dasar panggul, ligamen-
ligamen.

3) Tuba Fallopi
Saluran yang keluar dari kornu rahim kanan dan kiri panjangnya 12 – 13 cm,
diameter 3 – 8 mm, bagian luarnya diliputi oleh peritoneum viseral merupakan
bagian dari ligamentum latum. Bagian dalam saluran dilapisi silia, yaitu
rambut getar yang berfungsi untuk menyalurkan telur dan hasil konsepsi.
Saluran telur terbagi 4 yaitu : Paris intertisialis (intramularis), pars ismika yang
merupakan bagian tengah saluran telur yang sempit, pars ampularis, dimana
biasanya pembuahan (konsepsi terjadi), infundibulum, yang merupakan ujung
tuba yang terbuka kerongga perut di infudibulum terdapat fimbriae yang
berguna untuk menangkap sel telur (ovum) yang kemudian dapat disalurkan
kedalam tuba.
4) Ovarium
Terdapat dua indung telur masing-masing dikanan dan kiri rahim dilapisi
mesovarium dan tergantung dibelakang lig latum. Bentuknya seperti buah
almond, sebesar ibu jari tangan (jempol), berukuran 2,5 – 5 cm x 1,5 – 2 cm x
0,6
– 1 cm. Indung telur ini posisinya ditunjang oleh mesovarium lig. Ovarika
dan lig. Infundibulopelvikum.

Fisiologi
a. Vagina
Fungsi penting dari vagina ialah :
1) Saluran keluar untuk mengeluarkan darah haid dan secret lain dari rahim.
2) Alat untuk bersenggama.
3) Jalan lahir pada waktu persalinan.
b. Uterus
Fungsi utama uterus (rahim) adalah :
1) Setiap bulan berfungsi untuk siklus haid.
2) Tempat janin tumbuh dan berkembang.
3) Berkontraksi terutama sewaktu bersalin dan sesudah bersalin.
c. Tuba Fallopi
Fungsi utama saluran telur adalah :
1) Sebagian saluran telur menangkap dan membawa ovum.
2) Tempat terjadinya pembuahan.
d. Ovarium
Fungsi indung telur yang utama yaitu :
1) Menghasilkan sel telur (ovum)
2) Menghasilkan hormon-hormon ( progesterone dan estrogen)
3) Ikut serta mengatur haid.

3. Etiologi
Berdasarkan (Smelzer & Bare, 2002), penyebab dari kista belum diketahui
secara pasti, kemungkinan terbentuknya kista akibat gangguan pembentukan
hormon dihipotalamus, hipofisis atau di indung telur sendiri (ketidakseimbangan
hormon). Kista folikuler dapat timbul akibat hipersekresi dari FSH dan LH yang
gagal mengalami involusi atau mereabsorbsi cairan. Kista granulosa lutein yang
terjadi didalam korpus luteum indung telur yang fungsional dan dapat membesar
bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang berlebihan saat fase
pendarahan dari siklus menstruasi. Kista theka-lutein biasanya bersifay bilateral
dan berisi cairan bening, berwarna seperti jerami. Penyebab lain adalah adanya
pertumbuhan sel yang tidak terkendali di ovarium, misalnya pertumbuah abnormal
dari folikel ovarium, korpus luteum, sel telur.
Menurut (Yatim,2008) ada beberapa penyebab kista ovarium anatara lain
perempuan usia dewasa tua sampai usia menopause yang timbul karena gangguan
perkembangan folikel ovarium hingga tidak timbul ovulasi. Kista ovarium
disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus,hipofisis dan
ovarium.

4. Patofisiologi
Ovulasi terjadi akibat interaksi antara hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan
endometrium. Perkembangan dan pematangan folikel ovarium terjadi akibat
rangsangan dari kelenjar hipofisis. Rangsangan yang terus menerus datang dan
ditangkap panca indra dapat diteruskan ke hipofisis anterior melalui aliran portal
hipothalamohipofisial. Setelah sampai di hipofisis anterior, GnRH akan mengikat
sel genadotropin dan merangsang pengeluaran FSH (Follicle Stimulating
Hormone) dan LH (LutheinizingHormone), dimana FSH dan LH menghasilkan
hormon estrogen dan progesteron (Nurarif, 2013).
Ovarium dapat berfungsi menghasilkan estrogen dan progesteron yang
normal. Hal tersebut tergantung pada sejumlah hormon dan kegagalan
pembentukan salah satu hormon dapat mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium
tidak akan berfungsi dengan secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan
hormon hipofisis dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal dapat
menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam
ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel
telur. Dimana, kegagalan tersebut terbentuk secara tidak sempurna di dalam
ovarium dan hal tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya kista di dalam
ovarium, serta menyebabkan infertilitas pada seorang wanita (Manuaba, 2010).
5. Klasifikasi
Klasifikasi kista ovarium menurut Nugroho, 2010 adalah :
1) Tipe kista normal
a. Kista fungsional

Merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal
dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi
yang normal. Kista ini akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa
subur, untuk melepaskan sel telur yang pada akhirnya siap dibuahi oleh sperma.
Setelah pecah kista ini akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat
menstruasi. Kista fungsiaonal terdiri dari :
a) Kista Folikuler
Kista yang terjadi dari folikel normal yang melepaskan ovum yang ada
didalamnya. Terbentuk kantung berisi cairan atau lendir didalam ovarium.
b) Kista Corpus Luteum
Kista ini timbul karena pada waktu pelepasan sel telur terjadi pendarahan dan
lama – lama bisa pecah dan timbul perdarahan yang kadang – kadang perlu
tindakan operasi untuk mengatasinya.

2) Tipe Kista Abnormal


a. Kistadenemo
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya
bersifat jinak, namun dapat membesar dan menimbulkan nyeri.
b. Kista Coklat (endometrioma)
Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat
karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.
c. Kista dermoroid
Merupakan kista yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku,
rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian indung telur.
Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.
d. Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di
luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan
endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat
menstruasi dan infatilitas.
e. Kista hemorhage
Merupakan kista fungsiaonal yang diseratai perdahaan sehingga menimbulkan
nyeri didalam satu sisi perut bagian bawah.
f. Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Kista lutein sesungguhnya
umumnya berasal dari kospus luteum haematoma.
g. Kista polikistik ovarium
Karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel telur secara kontinyu.
Besarnya terjadi setiap bulan, ovarium akan membesar karena bertumpuknya
kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus
di lakukan untuk mengangkat kista tersebuat agar tidak menimbulkan gangguan
dan rasa sakit.

6. Manifestasi Klinis
1) Gejala – gejala akibat kista ovarium dapat dijabarkan sebagai berikut.
(Yatim,2008) gejala kista secara umum antara lain : Rasa nyeri yang menetap
dirongga panggul disertai rasa agak gatal, rasa nyeri sewaktu bersetubuh atau
nyeri rongga panggul kalau tubuh bergerak, perut membesar, rasa nyeri timbul
begitu siklus menstruasi selesai, perdarahan menstruasi tidak seperti biasa.
Mungkin perdarahan lebih lama, mungkin lebih pendek atau tidak keluar
darah menstruasi pada siklus biasa atau siklus menstruasi tidak teratur.
2) Menurut Winkjosastro, 2005.
a) Gejala akibat pertumbuhan dapat menimbulkan
- Rasa berat di abdomen bagian bawah.
- Mengganggu miksi atau defekasi.
- Tekanan kista ovarium dapat menimbulkan obstipasi atau edema pada
tingkat tungkai bawah.
b) Gejala akibat hormonal
Ovarium merupakan sumber hormon utama wanita bila menjadi tumor dapat
mengganggu menstruasi, tumor sel granulose dapat menimbulkan
hipermenorea sedangkan tumor menimbulkan archenoblastoma dapat
menimbulkan amenorea.
c) Gejala akibat komplikasi
1) Perdarahan kedalam kista
Terjadi sedikit-sedikit sehingga berangsur-angsur menyebabkan
pembesaran kista yang menimbulkan gejala nyeri perut mendadak.
2) Putaran tungkai
Adanya putaran tungkai menimbulkan tarikan melalui ligamentum
infundibulepelvikum terhadap peritoneum dan ini menimbulkan rasa
sakit karena vena lebih mudah tertekan dan terjadi pembendungan darah
dan dapat terjadi robekan dinding kista, untuk itu perlu tindak lanjut.
3) Infeksi pada kista
Cenderung mengalami peradangan dan disusul penanahan.

7. Komplikasi
Menurut Yatim (2008), komplikasi – komplikasi yang dapat terjadi pada kista
ovarium adalah :
1) Perdarahan kedalam kista, biasanya terjadi secara terus-menerus dan sedikit-
sedikit yang dapat menyebabkan pembesaran kista dan menimbulkan kondisi
kurang darah (anemia).
2) Putaran tangkai, dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm
atau lebih. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi akut sehingga
mengalami nekrosis.
3) Robek dinding kista, terjadi pada torsi tangkai akan tetapi dapat pula sebagai
akibat trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut, dan lebih sering pada
waktu persetubuhan.
4) Perubahan keganasan atau infeksi (merah, panas, bengkak, dan nyeri).
5) Gejala penekanan tumor fibroid bisa menimbulkan keluhan buang air besar
(konstipasi).
8. WOC

9. Pemeriksaan Penunjang
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah kista berasal
dari ovarium atau tidak dan untuk menentukan sifat- sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor
berasal dari uterus ovarium atau kandung kencing, apakah tumor lasik atau
solid dan dapat dibedakan juga antara cairan dalam rongga perut yang bebas
dan yang tidak.
3. Fotorontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks selanjutnya pada
kista demoroid kadang – kadang dapat dilihat adanya gigi dalam kista.
4. Parasentesis
Fungsi pada asitis berguna untuk menentukan sebab asites yang berguna untuk
mencemarkan kavum peritonei isi kista bila dinding kista tertusuk
5. Pemeriksaan kadar HCG
Untuk menyisihkan ada tidaknya kehamilan
6. Pemeriksaan CS -125
Untuk mengetahui apakah terjadi proses keganasan pada kista.

10. Penatalaksanaan
Penatalaksanann umum
Menurut Yatim, 2008 :
a. Apabila kistanya kecil misal sebesar permen dan pada pemeriksaan sonogram
tidak terlihat tanda – tanda keganasan biasanya dilakukan laparaskopi.
b. Apabila kistanya agak besar biasanya dilakukan laparatomi
c. Untuk polikistik ovarium biasanya dengan pengobatan oral yaitu pil KB
gabungan estrogen – progesteron untuk mengurangi ukuran besar kista.
Menurut Winkjosastro,2008 :
a. Kista yang besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang dari 5
cm disebut kista folikel atau korpus luteum. Penanganannya adalah dengan
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium.
b. Jika kista berukuran besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan
ovarium biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salpingo ooforektomi).
c. Jika terdapat keganasan dilakukan histerektomi dan salpingo ooforektomi
bilateral
Penatalaksaan Medis
1) Observasi
Kebanyakan kista ovrium terbentuk normal yang disebut kista fungsional dimana
setiap ovulasi, telur dilepaskan keluar ovarium dan terbentuklah kantung sisa
tempat telur. Kista ini normalnya akan mengkerut sendiri biasanya setelah 1-3
bulan. Oleh sebab itu, dokter menganjurkan agar kembali berkonsultasi setelah
3 bulan untuk meyakinkan apakah kistanya sudah betul-betul menyusut
(Yatim, 2005).
2) Pemberian hormone
Pengobatan gejala hormone androgen yang tinggi, dengan pemberian obat pil KB
(gabungan esterogen-progesteron) boleh ditambahkan obat anti androgen
progesterone cyproteronasetat (Yatim, 2005).
3) Terapi bedah atau operasi
Cara ini perlu mempertimbangkan umur penderita, gejala, dan ukuran besar kista.
Pada kista fungsional dan perempuan yang bersangkutan masih menstruasi,
biasanya tidak dilakukan pengobatan dengan operasi. Tetapi bila hasil pada
sonogram, gambaran kista bukan kista fungsional dan kista berukuran besar,
biasanya dokter menganjurkan untuk mengangkat kista dengan operasi. Begitu
pula bila perempuan sudah menopause dan dokter menemukan adanya kista,
sering kali dokter yang bersangkutan mengangkat kista tersebut dengan jalan
operasi meskipun kejadian kanker ovarium jarang ditemukan. Akan tetapi,
apabila si permpuan berusia 50-70 tahun, maka resiko tinggi terjadi kanker
(Yatim, 2005).

Prinsip pengobatan kista dengan operasi menurut yatim, (2005) yaitu:


a) Apabila kistanya kecil (misalnya, sebesar permen) dan pada pemeriksaan
sonogram tidak terlihat tanda-tanda proses keganasan, biasanya dokter
melakukan operasi dengan laparoskopi. Dengan cara ini, alat
laparoskopidimasukan kedalam rongga panggul dengan melakukan
sayatan kecil pada dinding perut, yaitu sayatan searah dengan rambut
kemaluan.
b) Apabila kistanya agak besar, biasanya pengangkatan kista dilakukan
dengan laparatomi. Teknik ini dilakukan dengan pembiusan total. Dengan
cara laparatomi, kistabisa diperiksa apakah sudah mengalami proses
keganasan, operasi sekalian mengangkat ovarium dan saluran tuba,
jaringan lemak sekitar serta kelenjar limfe.
Metode pembedahan:
a) Laparaskopi adalah dengan pembiusan secara umum (general anastesi).
Luka sayatan pada dinding perut sekitar 1 cm. Dengan video laparaskopi
bisa terlihat baik bagian-bagian rongga perut dan bagian depan rongga
panggul. Dengan kombinasi penggunaan alat pembuka (koagulator),
electro surgery, dan ultrasonic, dan ultrasonic surgery atau sinar laser
dilakukan pengangkatan miom dan perbaikan dinding uterus kaya dengan
pembuluh darah, hingga perlu teknik-teknik tertentu untuk mengatasi
komplikasi perdarahan (Yatim, 2008).
b) Laparatomi adalah pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Yang dimaksud pembedahan laparatomi adalah berbagai jenis operasi pada
uterus, operasi pada tuba fallopi, Operasi pada ovarium.
c) Ooforektomi adalah pengangkatan ovarium.
d) Histerektomi Histerrektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya
merupakan tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilaksanakan per
abdominam atau per vaginam. Yang akhir ini jarang dilakukan karena
uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan tidak ada perlekatan dengan
sekitarnya. Adanya prolapsus uteri akan mempermudah prosedur
pembedahan. Histerektomi total
B. Landasa Teoritis Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Nama , umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku, status perkawinan, diagnosa
medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no RM dan alamat.
b. Riwayat Kesehatatan
- Keluhan Utama Keluhan yang diungkapkan saat dilakukan pengkajian
- Riwayat Kesehatan Sekarang
Perjalanan penyakit klien sebelum, selama, perjalanan dan sesampainya
dirumah sakit hingga saat dilakukan pengkajian tindakan yang
dilakukan sebelumnya dan pengobatan yang didapat setelah masuk
Rumah Sakit.
- Riwayat Menstruasi
Kaji menarche, siklus mens, banyaknya haid yang keluar, keteraturan mens,
lamanya, keluhan yang menyertai.
- Riwayat Obstetri
Kali tanggal partus,jenis partus.
- Riwayat Keluarga Berencana
KB idien, jenis kontrasepsi yang digunakan sejak kapan
- Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan penyakit yang pernah dialami.
- Riwayat Pernikahan
Kali usia pernikahan,lamanya pernikahan.
- Riwayat Seksual
Kali usia pertama kali melakukan hub seks
- Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat kesehatan keluarga yang
mempunyai penyakit yang sama.
- Riwayat Kebiasaan Sehari-hari
1) Personal hygien.
Kaji kebiasaan personal hygiene klien meliputi keadaan kulit, rambut,
mulut, gigi dan vulva hygiene.
2) Pola Makan
Kebiasaan makan dalam porsi makan, frekuensi, alergi atau tidak.
3) Pola Eliminasi
- BAB
Kaji frekuensi, warna, bau, konsistensi atau keluhan saat BAB.
- BAK
Kaji freekuensi, warna, bau & keluhan saat berkemih.
4) Pola Aktivitas & Latihan
Kaji kegiatan dalam pekerjaan & kegiatan diwaktu luang sebelum
selama di RS.
5) Pola Tidur & Istirahat
Kaji waktu, lama tidur per hari, kebiasaan saat tidur & kesulitan.
- Riwayat penggunaan zat
Kaji kebiasaan & lama penggunaan rokok.
- Riwayat Sosial Ekonomi
Kaji pendapatan perbulan, hubungan sosial & hubungan dalam keluarga.
- Riwayat Psiko Sosial dan Spiritual
Psikososial
Respon klien terhadap penyakit yang diderita saat ini.

Spiritual
Kaji kegiatan keagamaan klien yang sering dilakukan dirumah dan diRS.
c. Pemeriksaan Fisik
Kaji keadaan umum, kesadaran, BB dan tinggi badan , dan TTV
1) Kepala
Keluhan pusing, warna rambut, keadaan dan kebersihan
2) Mata
Kesimetrisan mata, warna konjungtiva, sklera kornea
3) Hidung
Kesimetrisan, keadaan kebersihan , penciuman
4) Mulut
Kelembaban mukosa bibir, keadaan gigi
5) Telinga
kelainan bentuk, keadaan dan fungsi
6) Leher
Kaji adanya pembengkakan, pembesaran kelenjar tiroid
7) Daerah dada
Keluhan sesak, bentuk, nyeri dada auskultasi suara jantung, frekuensi nadi
dan TD.
8) Abdomen
Kaji adanya massa pada abdomen , distensi, bising usus, nyeri tekan
9) Genetalia eksterna
Pengeluaran sekret dan perdarahan , warna, bau keluhan gatal dan kebersihan
10) Ekstremitas
Kaji kekuatan otot, varises, kontraktur pada persendian dan kesulitan
pergerakkan

2. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
1) Nyeri Akut b/d adanya masa abnormal di abdomen
2) Ansietas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit
3) Konstipasi

Post Operasi
1) Nyeri Akut b/d proses pembedahan
2) Risiko Infeksi b/d pembedahan
3) Intoleransi Aktivitas b/d keterbatasan kemampuan dalam beradaptasi
3. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa Keperawatan NOC NIC
o
1 Nyeri akut b.d adanya Tingkat nyeri (2102) Manajemen nyeri (1400)
masa abnormal di Aktivitas :
Kriteria Hasil :
abdomen - Lakukan pengkajian nyeri
- Nyeri yang
komprehensif yang meliputi
dilaporkan (4)
lokasi, karakteristik,
- Panjangnya episode
onset/durasi, frekuensi,
nyeri (4)
kualitas, intensitas atau
- Menggosok area
beratnya nyeri
yang terkena
- Observasi adanya penunjuk
dampak (4)
non verbal
- Ekspresi nyeri wajah
- Tentukan akibat dari
(4)
pengalaman nyeri terhadap
- Tidak bisa
kualitas hidup pasien
beristirahat (4)
- Kendalikan faktor
- Agitasi (5)
lingkungan yang dapat
- Iritabilitas (5)
mempengaruhi respon
- Mengeluarkan
pasien terhadap
keringat (5)
ketidaknyamanan
- Berkeringat
- Ajarkan prinsip-prinsip
berlebihan (5)
manajemen nyeri
- Ketegangan otot (5)
- Dorong pasien untuk
- Kehilangan nafsu
memonitor nyeri dan
makan (4)
menangani nyeri yang tepat
- Mual (4)
- Ajarkan metode
- Intoleransi makan
nonfarmakologi untuk
(5)
menurunkan nyeri
- Frekuensi napas (5)
- Berikan individu penurun
- Tekanan darah (4)
nyeri yang optimal dengan
peresepan analgesic
- Gunakan tindakan
2 Intoleransi Aktivitas pengontrol nyeri

Toleransi Terhadap
Aktivitas (0005) Manajemen Energi (0180)
Kriteria Hasil : Aktivitas:
- Saturasi oksigen - Kaji status fisiologis
ketika beraktivitas pasien yang menyebabkan
- Frekuensi nadi kelelahan sesuai dengan
ketika beraktivitas konteks usia dan
- Frekuensi perkembangan
pernapasan ketika - Gunakan instrument yang
beraktivitas valid untuk mengukur
- Kemudahan kelelahan
bernapas ketika - Perbaiki defisit status
beraktivitas fisiologis
- Tekanan darah - Pikih intervensi untuk
sistolik ketika mengurangi kelelahan
beraktivitas baik farmakologi maupun
- Tekanan darah nonfarmakologi
diastolic ketika - Monitor intake/asupan
beraktivitas nutrisi untuk mengetahui
- Warna kulit sumber energi yang
- Kecepatan berjalan adekuat
- Jarak berjalan - Monitor sumber kegiatan
- Toleransi dalam olahraga dan kelelahan
menaiki tangga emosional yang dialami
- Kekuatan tubuh pasien
bagian atas Anjurkan periode istirahat dan
3 Konstipasi Kekuatan tubuh bagian kegiatan secara bergantian
bawah

Eliminasi usus (0501)


Manajemen Konstipasi
Kriteria Hasil:
- Pola eliminasi (5) (0450)
- Kontrol gerakkan
Aktivitas :
usus (5)
- Warna feses (5) - Monitor tanda dan gejala
- Jumlah feses untuk
konstipasi
diet (5)
- Feses lembut dan - Monitor tanda dan gejala
berbentuk (5)
impaksi
- Kemudahan BAB
(5) - Monitor pergerakan usus
- Tekanan sfingter (5)
meliputi frekuensi,
- Otot untuk
mengeluarkan feses konsistensi, bentuk,
(5)
volume dan warna dengan
- Pengeluaran feses
tanpa bantuan (5) cara yang tepat
- Suara bising usus
- Monitor bising usus
(5)
- Lemak dalam feses - Monitor tanda dan gejala
(5)
terjadinya rupture usus
- Darah dalam feses
(5) atau peritonitis
- Mucus dalam feses
- Identifikasi faktor-faktor
(5)
- Konstipasi (5) yang menyebabkan atau
- Nyeri saat BAB (5)
berkontribusi pada
terjadinya konstipasi
- Dukung peningkatan
asupan cairan
- Instruksikan pasien untuk
mencatat warna, volume,
frekuensi, dan konsistensi
dari feses
- Instruksikan pasien/
keluarga diet tinggi serat

4. Implementasi
Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana
tindakan tersebut diharapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses
keperawatan (Diagnosa, tujuan intervensi) harus di evaluasi, dengan melibatkan
klien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya dan bertujuan untuk menilai
apakah tujuan dalam perencanaan keperawatan tercapai atau tidak untuk
melakukan pengkajian ulang jika tindakan belum berhasil. Ada tiga alternatif yang
dipakai perawat dalam menilai suatu tindakan berhasil atau tidak dan sejauh mana
tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai dalam jangka waktu tertentu sesuai
dengan rencana yang ditentukan, adapun alternatif tersebut adalah : tujuan
tercapai, tujuan tercapai sebagian, tujuan tidak tercapai.
S : Subjek yaitu data yang di dapatkan dari pasien mengenai apa yang di rasakan
pasien.
O : Objektif yaitu data yang di dapatkan baik dari hasil pengukuran vital sains
maupun data yang tampak secara psikis dari pasien.
A : Assignment yaitu keterangan mengenai tindakan keperawatan berhasil tidaknya di
lakukan pada pasien.
P : Planning yaitu tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah pasien
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA MASALAH GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

I.PENGKAJIAN

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. D
Umur : 31 tahun 5 bulan 1hari
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Padang
Tanggal Pengkajian : 13 Desember 2021
Diagnosa Medis : Suspek Kista Ovarium Bilateral + Tumor
Ileum

B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Klien mengeluhkan sakit perut bagian kiri bawah, menjalar sampai
ke ari-ari. Pasien mengalami keputihan seperti serbuk tepung sejak
1 tahun lalu
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data bahwa klien saat ini
merasakan mual, nyeri pada bagian perut bawah, dan merasa tidak
nyaman pada bagian perutnya. Klien sulit tidur akibat rasa tidak
nyaman yang dialami di perut. Tanda-tanda vital pasien didapatkan
hasil yaitu tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 88 x/menit, suhu
36,50C, pernapasan 20 x/ menit. Pasien akan dilakukan operasi
laparaskopi pada senin 13 Desember 2021 jam 16.00. Pasien tidak
terpasang infus ataupun kateter, hanya terpasang threeway.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien memiliki riwayat Servisitis sejak tahun 2018. Klien juga
memiliki riwayat maag.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki
penyakit yang sama dengan klien dan penyakit keganasan lainnya.
5. Riwayat Obstetri sebelumnya
Klien menikah di usia 23 tahun. Klien melahirkan secara normal
melalui bidan diusia 28 tahun dan tidak ada masalah pada
kehamilan sebelumnya. Riwayat obstetric klien P2A0H2. Anak
pertama klien lahir pada tahun 2018 (berusia 3 tahun) dan anak
kedua klien lahir tahun 2021 (berusia 6 bulan).
6. Riwayat Menstruasi
Menarche klien pada usia 13 tahun. Klien tidak memiliki masalah
menstruasi sebelumnya. Lama haid klien lebih kurang 7 hari dengan
frekuensi ganti pembalut sebanyak 2-3 kali/hari.
7. Riwayat KB
Klien pernah menggunakan KB tahun 2019 bentuk pil KB selama 1
bulan
C. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : tampak lemah
b. Tanda-tanda vital :
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 88 x / i
Suhu : 36,6
C Napas : 20 x /
i
c. Pengukuran Antropometri
: TB : 154 cm
BB : 50 Kg
IMT : 21,09
d. Pemeriksaan Head to Toe :
1) Kepala

- Bentuk : Bulat
- Simetris : Simetris
- Luka : Tidak ada
- Nyeri : Tidak ada
2) Rambut
- Warna : Hitam
- Struktur : rambut klien mudah rontok

3) Mata
- Simetris : kiri dan kanan
- Pupil : isokor
- Edema : tidak ada
- Penglihatan : menggunakan kaca mata
- Sklera : tidak ikterik
- Konjungtiva : tidak anemis
4) Hidung
- Simetris : Simetris antara lubang kiri dan kanan
- Tulang hidung : Normal
- Secret : Tidak ada
- Polip : Tidak ada
5) Telinga
- Daun telinga : Normal
- Liang telinga : Normal
- Membran thympani : Normal
6) Mulut dan tenggorokkan
- Warna bibir : merah sedikit pucat
- Mukosa bibir : mukosa bibir sedikit kering
- Kondisi gigi : baik
7) Leher
- Kelenjar getah bening : Tidak ada pembengkakan
- Kelenjar tiroid : Tidak ada pembengkakan
- Kaku kuduk : Tidak ada
8) Wajah
- Inspeksi : tampak pucat
- Edema : Tidak ada
- Nyeri : Tidak ada

9) Paru – Paru
- Inspeksi : Simetris kiri dan kanan
- Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan
- Perkusi : Sonor
- Auskultasi : vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/-

10) Jantung
- Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : ictus cordis tidak teraba
- Perkusi : Redup, Gallop -
- Auskultasi : Reguler.
11) Payudara
- Inspeksi : tampak normal, aerola coklat
- Palpasi : tidak ada benjolan
12) Abdomen
- Inspeksi : tampak sedikit membuncit
- Palpasi : nyeri tekan
- Perkusi : timpani
- Auskultasi : bising usus normal
13) Eksremitas atas/bawah
- Inspeksi : tampak kurus dan lemah
- Palpasi : akral teraba hangat, CRT < 2 detik
- Kemampuan otot :
55555555
55555555
14) Genitalia
Tidak ada kelainan

e. Pola Fungsi Kesehatan


1) Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Klien mengatakan penyakit yang diderita klien merupakan
kelalain klien karena tidak bisa menjaga diri klien dari penyakit.
Klien juga mengatakan penyakit yang diderita klien datang dari
Allah sebagai penggugur dosa. Klien tidak pernah merokok dan
mengkonsumsi alkohol. Klien memiliki riwayat alergi makanan
udang dan obat Amoxilin.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien mengatakan tidak mengalami penurunan berat badan. Klien
mengatakan sering merasa mual dan tidak nyaman area perut. Klien
juga mengatakan kurang nafsu makan. Klien tidak suka sayur sehingga
kurang mengkonsumsi makanan yang berserat.
Gambaran diit kalien sehari- hari :
Sebelum sakit Saat sakit
Pagi : lontong Pagi : MC
Siang : nasi + lauk Siang: MC
Malam : nasi + lauk Malam : MC
Minum : 6-8 gelas / hari Minum : 6-8 gelas/hari
3) Pola eliminasi
Klien mengatakan BAB 1 kali/ hari dengan konsistensi lembek,
warna kuning kecoklatan. Klien mengatakan BAK 5-6 kali warna
kuning jerning, bau khas
4) Pola istirahat dan tidur
Klien mengatakan selama sehat tidur lebih kurang 6-7 jam/hari.
Namun selama sakit pasien sulit tidur di malam hari karena rasa
nyeri dan tidak nyaman di area perut.
5) Pola persepsi sensori dan kognitif
Klien mengatakan merasa nyeri dibagian perut bawah
deskripsi:
P : Nyeri disebabkan oleh proses
penyakit Q : nyeri terasa seperti ditekan
R : nyeri terasa di perut bagian
bawah
S : skala nyeri 4
T : nyeri hilang timbul dengan durasi 1-2 menit
6) Persepsi dan konsep diri
Klien tampak kooperatif, bicara klien normal, klien berkomunikasi
menggunakan Bahasa indonesia.
7) Pola hubungan dengan orang lain
Selama sehat pasien sering berkumpul dengan tetangga didekat rumah.
Pasien memiliki warung dirumahnya dan sering bersosialisasi dengan
tetangga.
8) Pola reproduksi dan seksual

Klien mengatakan selalu melakukan pemeriksaan payudara


mandiri setiap bulannya. Dan melakukan pap smear rutin sejak
tahun 2020
9) Pola mekanisme koping
Keadaan emosi klien dalam sehari-hari santai. Biasanya saat ada
masalah klien menceritakan ke orang tua dan bercerita dengan
suaminya. Klien tidak mengkonsumsi obat-obatan apapun untuk
mengatasi stress.
10) Pola nilai dan keyakinan
Klien beragama islam. Klien tidak memiliki pantangan
keagamaan selama dirawat dirumah sakit. Selama sakit klien
melakukan ibadah ditempat tidur.
D. Data Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal: 3 Desember 2021


Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Interpretasi
Normal
Kimia Klinik
Total protein 8,4 g/dl 6,6 – 8,7 Rendah
Albumin 5,0 g/dl 3,8 – 5,0 Rendah
Globulin 3,4 g/dl 1,3 – 2,7 Tinggi
Bilirubin Total 1,4 mg/dl 0,3-1,0 Tinggi
Bilirubin Direk 0,6 mg/dl <0,20 Tinggi
Bilirubin Indirek 0,8 mg/dl <0,60 Tinggi
SGOT 23 U/L < 32 Normal
SGPT 17 U/L < 31 Normal
Ureum darah 11 mg/dl 10 – 50 Normal
Kreatinin darah 0,7 mg/dl 0,6 – 1,2 Normal
Gula Darah 111 mg/dl 50-200 Normal
Sewaktu
Elektrolit
Natrium 137 mmol/L 136 – 145 Normal
Kalium 4,5 mmol/L 3,5 – 5,1 Normal
Klorida 109 mmol/L 97 - 111 Normal
Hematologi
Hemoglobin 12,7 g/dl 12 – 14 Normal
Leukosit 4,40 x 103/mm3 5 – 10x 103 Rendah
Hematokrit 39 % 37 – 43 Normal
Trombosit 292 x103/mm3 150 – 400 x103 Normal
Eritrosit 4,42x 106/ UL 4,00-4,50 x106 Normal
MCV 89 fL 82 – 92 Normal
MCH 29 pg 27 – 31 Normal
MCHC 33% 32 – 36 Normal
RDW-CV 12,8% 11,5-14,5 Normal
Hemostasis
PT
PT 11,1 detik 9,41-12,07 Normal
INR 1,14 <1,2 Normal
PT Kontrol 10,9
APTT
28,9 detik 22,59-29,79
APTT
Normal
APTT Kontrol 26,5

2. Pemeriksaan Penunjang
1) Biopsi
Tanggal : 12 Februari 2020
Kesan : HSIL (High grade Squamous Intraepithelial Lesion) dan
Servisiti Kronik
Tanggal: 12 Maret 2020

Makroskopik
Sepotong jaringan putih kecoklatan kenyal padat ukuran 2,5x2x1 cm
penampang putih kecoklatan
Mikroskopik
Tampak potongan jaringan serviks dengan sebagian permukaan
dilapisi epitel berlapis gepeng (ektoserviks) yang mengalami
koilositosis dan sebagian dilapisi epitel kolumnar (endoserviks) yang
mengalami metaplasia skuamosa dengan inti yang reaktif. Pada
stroma jaringan ikat dibawahnya tampak sebukan sedan sel-sel
limfosit. Sel plasma dan histiosit serta beberapa leukosit PMN.
Tampak pula kelenjar-kelenjar yang dilapisi oleh epitel kolumnar inti
di basal, sitoplasma jernih. Beberapa dengan sel yang tumbuh berpapil
dengan inti reaktif. Kelenjar ada yang melebar kistik. Tak tampak sel-
sel tumor ganas dalam sedian ini
Diagnosa : Servisitis Kronik Eksaserbasi Akut
Nabothyan Cyst
2) Pemeriksaan Radiologi
Kesan : MSCT Scan Abdomen sampai pelvis menunjukkan:
Sugestif Kista Overius Bilateral
- Lesi berdensitas udara yang tampaknya di dinding uterus
(sugestif suatu emfisema subkuti)
- Ileus di abdomen atas sampai bawah
II. ANALISA DATA

No DATA ETIOLOGI MASALAH


1 Data Subjektif Fungsi ovarium Nyeri Akut b/d agen
abnormal pencedera fisiologis
- Pasien mengatakan nyeri di
bagian perut bawah menjalar
Penimbunan folikel
ke ari-ari yang terbentuk secara
- Pasien mengatakan sulit tidur tidak sempurna
akibat nyeri dan rasa tidak
nyaman di perutnya Folikel gagal
mengalami
pematangan, gagal
Data Objektif berinvolusi dan gagal
mereabsorbsi cairan
- Pasien tampak meringis
menahan nyeri di perut
- Pasien tampak sulit tidur Terbentuk kista
ovarium
- Pengkajian nyeri
P : nyeri disebabkan oleh
Adanya cairan dalam
proses penyakit jaringan di daerah
Q: nyeri terasa seperti di ovarium
tekan
R: nyeri terasa di perut Pasien merasa nyeri
diperut bagian bawahn
bagian bawah
S: skala nyeri 4
T: nyeri hilang timbul dengan Nyeri Akut
durasi 1-2 menit

2 Data Subjektif Post op Risiko Infeksi b/d


efek prosedur invasif
- Pasien mengatakan sudah
mengalami keputihan sejak 1 Sirkulasi darah
tahun lalu menurun
- Pasien mengatakan gatal area
vaginanya akibat keputihan Imunitas tubuh
menurun
yang tidak normal
- Pasien mengatakan keputihan
seperti serbuk tepung Risiko infeksi

Data Objektif
- Leukosit : 4, 40 x 103/mm3
- Pasien dilakukan tindakan
laparaskopi

3 Data Subjektif Kista ovarium Gangguan Rasa


Nyaman b/d gejala
- Pasien mengeluhkan rasa
penyakit
tidak nyaman diperutnya Pembesaran ovarium
- Pasien mengatakan tidak
nyaman meyebabkan Menahan organ sekitar

tubuhnya terasa panas


Tekanan syaraf sel
- Pasien mengatakan sering
tumor
merasa mual
Data Objektif Gangguan rasa nyaman
- Pasien tampak gelisah
- Pasien sulit tidur
- Pasien tampak mual
- Pasien tampak sering ke
kamar mandi untuk BAK
III. INTERVENSI

No. Diagnosa SLKI SIKI


Keperawatan
1. Nyeri Akut b.d Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri (I.08238)
agen pencedera (L.08066) Observasi
fisiologis Kriteria Hasil : - Identifikasi lokasi,
- Keluhan nyeri karakteristik, durasi,
menurun frekuensi, kualitas, intensitas
- Meringis menurun nyeri
- Kesulitan tidur- Identifikasi skala nyeri
menurun - Identifikasi respon nyeri non
- Tanda-tanda vital verbal
membaik - Identifikasi faktor yang
- Nafsu makan memperberat dan
membaik memperingan nyeri
Terapeutik
Kontrol Nyeri - Berikan teknik
(L.08063) nonfarmakologis untuk
Kriteria Hasil : mengurangi rasa nyeri
- Melaporkan nyeri - Kontrol lingkungan yang
terkontrol memperberat rasa nyeri
meningkat - Fasilitasi istirahat dan tidur
- Kemampuan Edukasi
mengenali - Jelaskan penyebab, periode,
penyebab nyeri dan pemicu nyeri
meningkat - Jelaskan strategi meredakan
- Kemampuan nyeri
menggunakan - Ajarkan teknik
teknik non- nonfarmakologis untuk
farmakologis mengurangi rasa nyeri
meningkat
Pemberian Analgesik (I.08243)
Observasi
- Identifikasi karakteristik
nyeri
- Monitor tanda-tanda vital
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
Terapeutik
- Diskusikan jenis analgesik
yang disukai untuk mencapai
analgesia optimal
- Dokumentasikan respons
terhadap efek analgesik dan
efek yang tidak diinginkan
Edukasi
- Jelaskan efek terapi dan efek
samping obat
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian dosis
dan jenis analgesik sesuai
indikasi
2. Risiko Infeksi Tingkat Infeksi Pencegahan Infeksi (I.14539)
b.d efek (L.14137) Observasi
prosedur invasif Kriteria Hasil : - Monitor tanda dan gejala
- Kemerahan infeksi lokal dan sistemik
menurun Terapeutik
- Nyeri menurun - Batasi jumlah pengunjung
- Bengkak menurun - Berikan perawatan kulit
- Cuci tangan sebelum dan
sesudah kontak dengan
pasien dan lingkungan pasien
- Pertahankan teknik aseptik
pada pasien berisiko tinggi
Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
- Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
- Ajarkan cara memeriksa
kondisi luka operasi
- Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
- Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
3. Gangguan Rasa Status Kenyamanan Terapi Relaksasi (I.09326)
Nyaman (L.08064) Observasi
Kriteria Hasil : - Identifikasi teknik relaksasi
- Kesejahteraan fisik yang efektif digunakan
meningkat - Periksa ketegangan otot,
- Perawatan sesuai frekuensi nadi, TD, suhu
kebutuhan sebelum dan sesudah latihan
meningkat - Monitor respon terhadap
- Keluhan tidak terapi relaksasi
nyaman menurun Terapeutik
- Ciptakan lingkungan yang
tenang
- Gunakan pakaian longgar
Edukasi
- Jelaskan tujuan, manfaat,
batasan dan jenis relaksasi
yang tersedia
- Anjurkan ambil posisi
nyaman
- Demonstrasikan dan latih
teknik relaksasi

IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No Hari/Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


. Keperawatan
1. Senin/ 13 Nyeri Akut - Mengidentifikasi S:
Desember b.d agen lokasi, karakteristik, Pasien mengatakan nyeri
2021 pencedera durasi, frekuensi, bagian perut bawah sampai ke
Pukul 11.00 fisiologis kualitas dan intensitas ari-ari
wib nyeri
- Mengidentifikasi O:
skala nyeri - Pasien tampak meringis
- Mengidentifikasi menahan nyeri di perut
respon nyeri
- Pasien tampak sulit tidur
- Mengidentifikasi
respon nyeri non - Pengkajian nyeri
verbal P : nyeri disebabkan oleh
- Mengidentifikasi
proses penyakit
faktor yang
memperberat dan Q: nyeri terasa seperti di
memperingan nyeri tekan
- Memberikan R: nyeri terasa di perut
analgesik (ranitidin
3mg , parasetamol 50 bagian bawah
mg) S: skala nyeri 4
- Memonitor tanda- T: nyeri hilang timbul
tanda vital sebelum
dengan durasi 1-2 menit
dan sesudah
pemberian analgesik - Tanda- tanda vital
TD: 100/70 mmHg
N : 88 x/menit
S: 36,6 0C
P: 20 x/menit

A:
Masalah belum teratasi

P:
Intervensi dilanjutkan
2. Senin/ 13 Risiko Infeksi - Memonitor tanda dan S:
Desember b.d efek gejala infeksi lokal - Pasien mengalami
2021 prosedur dan sistemik keputihan seperti serbuk
Pukul 12.00 invasif - Mempertahankan tepung
wib teknik aseptik pada
pasien berisiko tinggi O:
- Mengajarkan cara - Leukosit : 4, 40 x 103/mm3
mencuci tangan
dengan benar A:
- Mengajarkan cara Masalah belum teratasi
memeriksa kondisi
luka operasi
- Memberikan P:
perawatan luka Intervensi dilanjutkan
- Menganjurkan
meningkatkan asupan
nutrisi
- Menganjurkan
meningkatkan asupan
cairan
3. Senin/ 13 Gangguan - Mengidentifikasi S:
Desember Rasa Nyaman teknik relaksasi yang - Pasien mengatakan
2021 efektif digunakan merasa tidak nyaman area
Pukul 14.00 - Memeriksa perut bawah
wib ketegangan otot,
frekuensi nadi, TD, O:
suhu sebelum dan - Tanda- tanda vital
sesudah latihan TD: 100/70 mmHg
- Memonitor respon
N : 88 x/menit
terhadap terapi
relaksasi S: 36,6 0C
- Menganjurkan ambil P: 20 x/menit
posisi nyaman
- Pasien kesulitan tidur akibat
- Mendemonstrasikan
dan latih teknik rasa tidak nyaman di perut
relaksasi bawah

A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
4. Selasa/ 14 Nyeri Akut - Mengidentifikasi S:
Desember b.d agen lokasi, karakteristik, Pasien mengatakan nyeri
2021 pencedera durasi, frekuensi, bagian perut bawah dan bekas
Pukul 10.00 fisiologis kualitas dan intensitas operasi
wib nyeri
- Mengidentifikasi O:
skala nyeri - Pasien tampak meringis
- Mengidentifikasi menahan nyeri di perut
respon nyeri
- Pasien tampak sulit tidur
- Mengidentifikasi
respon nyeri non - Pengkajian nyeri
verbal P : nyeri disebabkan oleh
- Mengidentifikasi
proses penyakit
faktor yang
memperberat dan Q: nyeri terasa seperti di
memperingan nyeri tekan
- Memberikan R: nyeri terasa di perut
analgesik
Memberikan bagian bawah dan bekas
analgesik (ranitidin operasi
3mg , parasetamol 50 S: skala nyeri 3
mg)
T: nyeri hilang timbul
-
- Memonitor tanda- dengan durasi 1-2 menit
tanda vital sebelum - Tanda- tanda vital
dan sesudah
TD: 98/62 mmHg
pemberian analgesik
N : 93 x/menit
S: 36,5 0C
P: 20 x/menit

A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Intervensi dilanjutkan
5. Selasa/ 14 Risiko Infeksi - Memonitor tanda dan S:
Desember b.d efek gejala infeksi lokal - Pasien mengalami
2021 prosedur dan sistemik keputihan seperti serbuk
Pukul 11.00 invasif - Mempertahankan tepung
wib teknik aseptik pada
pasien berisiko tinggi O:
- Mengajarkan cara - Leukosit : 4, 40 x 103/mm3
mencuci tangan - Pasien baru selesai operasi
dengan benar
laparaskopi
- Mengajarkan cara
memeriksa kondisi
luka operasi A:
- Memberikan Masalah teratasi sebagian
perawatan luka
- Menganjurkan
P:
meningkatkan asupan
Intervensi dilanjutkan
nutrisi
- Menganjurkan
meningkatkan asupan
cairan
6. Selasa/ 14 Gangguan - Mengidentifikasi S:
Desember Rasa Nyaman teknik relaksasi yang - Pasien mengatakan
2021 efektif digunakan merasa tidak nyaman area
Pukul 14.00 - Memeriksa bekas operasi
wib ketegangan otot,
frekuensi nadi, TD, O:
suhu sebelum dan - Tanda- tanda vital
sesudah latihan TD: 98/62 mmHg
- Memonitor respon
N : 93 x/menit
terhadap terapi
relaksasi S: 36,5 0C
- Menganjurkan ambil P: 20 x/menit
posisi nyaman
- Pasien kesulitan tidur akibat
- Mendemonstrasikan tidak nyaman pada area
dan latih teknik luka operasi
relaksasi

A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi dilanjutkan
7. Rabu / 15 Nyeri Akut - Mengidentifikasi S:
Desember b.d agen lokasi, karakteristik, Pasien mengatakan nyeri
2021 pencedera durasi, frekuensi, bagian perut bawah dan bekas
Pukul 10.00 fisiologis kualitas dan intensitas operasi, namun tidur pasien
wib nyeri telah baik
- Mengidentifikasi
skala nyeri O:
- Mengidentifikasi - Pasien tampak meringis
respon nyeri menahan nyeri di perut
- Mengidentifikasi
- Pengkajian nyeri
respon nyeri non
verbal P : nyeri disebabkan oleh
- Mengidentifikasi proses penyakit
faktor yang
Q: nyeri terasa seperti di
memperberat dan
memperingan nyeri tekan
- Memberikan R: nyeri terasa di perut
analgesik bagian bawah dan bekas
Memberikan
analgesik (ranitidin operasi
3mg , parasetamol 50 S: skala nyeri 2
mg) T: nyeri hilang timbul
-
dengan durasi 1-2 menit
- Memonitor tanda-
tanda vital sebelum - Tanda- tanda vital
dan sesudah TD: 100/69 mmHg
pemberian analgesik
N : 90 x/menit
S: 36,4 0C
P: 20 x/menit

A:
Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi dilanjutkan
8. Rabu/ 14 Risiko Infeksi - Memonitor tanda dan S:
Desember b.d efek gejala infeksi lokal - Pasien mengalami
2021 prosedur dan sistemik keputihan seperti serbuk
Pukul 11.00 invasif - Mempertahankan tepung
wib teknik aseptik pada
pasien berisiko tinggi O:
- Mengajarkan cara - Leukosit : 7, 40 x 103/mm3
mencuci tangan - Pasien hari kedua selesai
dengan benar
operasi laparaskopi
- Mengajarkan cara
memeriksa kondisi - Pasien tampak sudah bisa
luka operasi berjalan sendiri secara pelan
- Melatih perawatan
luka A:
- Menganjurkan Masalah teratasi sebagian
meningkatkan asupan
nutrisi
- Menganjurkan P:
meningkatkan asupan Intervensi dilanjutkan
cairan
9. Rabu/ 14 Gangguan - Mengidentifikasi S:
Desember Rasa Nyaman teknik relaksasi yang - Pasien mengatakan
2021 efektif digunakan merasa tidak nyaman area
Pukul 14.00 - Memeriksa bekas operasi
wib ketegangan otot,
frekuensi nadi, TD, O:
suhu sebelum dan - Tanda- tanda vital
sesudah latihan
- Memonitor respon TD: 100/69 mmHg
terhadap terapi N : 90 x/menit
relaksasi
S: 36,4 0C
- Menganjurkan ambil
posisi nyaman P: 20 x/menit
- Mendemonstrasikan Pasien sering terbangun
dan latih teknik
dimalam hari
relaksasi

A:
Masalah belum teratasi

P:
Intervensi dilanjutkan
BAB IV
PEMBAHASAN
Menganalisis pengkajian keperawatan pada pasien dengan suspek kista
ovarium bilateral + tumor ileum ruangan Kebidanan RSUP Dr. M.
Djamil Padang

Dari hasil pengkajian didapatkan data bahwa klien saat ini merasakan
mual, nyeri pada bagian perut bawah, dan merasa tidak nyaman pada bagian
perutnya. Klien sulit tidur akibat rasa tidak nyaman yang dialami di perut. Tanda-
tanda vital pasien didapatkan hasil yaitu tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 88
x/menit, suhu 36,50C, pernapasan 20 x/ menit. Pasien akan dilakukan operasi
laparaskopi pada senin 13 Desember 2021 jam 16.00. Pasien tidak terpasang infus
ataupun kateter, hanya terpasang threeway. Menurut ( Yatim,2008) gejala kista
secara umum antara lain : Rasa nyeri yang menetap dirongga panggul disertai
rasa agak gatal,rasa nyeri timbul begitu siklus menstruasi selesai, perdarahan
menstruasi tidak seperti biasa. Mungkin perdarahan lebih lama, mungkin lebih
pendek atau tidak keluar darah menstruasi pada siklus biasa atau siklus
menstruasi tidak teratur.

Menganalisis diagnosa keperawatan pada pasien dengan suspek kista


ovarium bilateral + tumor ileum ruangan Kebidanan RSUP Dr. M.
Djamil Padang

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada pasien Ny. D


didapatkan 3 diagnosa keperawatan yaitu nyeri akut b.d agen cedera
fisiologis, resiko infeksi bd prosedur invasif, dan gangguan rasa nyaman bd
gejala penyakit. Diagnosa pertama yang diangkat berdasarkan kasus adalah
nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologi Ditandai dengan
Pasien mengatakan nyeri di bagian perut bawah menjalar ke ari-ari,pasien
sulit tidur akibat nyeri dan rasa tidak nyaman di perutnya. Skala nyeri 4 dan
nyeri terasa ditekan -tekan.

Diagnosa keperawatan yang kedua yang diangkat yaitu resiko infeksi


b.d efek prosedur invasif yang ditandai dengan Pasien mengalami keputihan
sejak 1 tahun lalu,terasa gatal gatal di area vaginanya akibat keputihan yang
tidak normal, Pasien juga mengatakan keputihan seperti serbuk tepung. Serta
Leukosit 4, 40 x 103/mm3. Pasien post laparaskopi

Diagnosa keperawatan yang ketiga yang diangkat yaitu gangguan rasa


nyaman b.d gejala penyakit yang ditandai dengan pasien mengeluhkan rasa
tidak nyaman diperutnya , ketidaknya manan ini meyebabkan tubuhnya terasa
panas, pasien tampak gelisah, sulit , mengeluh mual dan pasien tampak sering
ke kamar mandi untuk BAB.

Menganalisis intervensi keperawatan pada pasien dengan suspek kista


ovarium bilateral + tumor ileum ruangan Kebidanan RSUP Dr. M.
Djamil Padang
Intervensi keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan
yang sesuai dengan kebutuhan pasien (NyD). Intervensi keperawatan
berpedoman pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dengan
luarannya yaitu Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Intervensi
dilakukan dengan tujuan untuk mencapai kriteria hasil (SLKI).
Intervensi yang dilakukan pada diagnosa nyeri akut adalah manajemen
nyeri dengan kriteria hasil pasien melaporkan nyeri terkontrol meningkat,
kemampuan mengenali penyebab nyeri meningkat, dan kemampuan
menggunakan teknik non-farmakologis meningkat. Tindakan yang dilakukan
berupa mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri, mengidentifikasi skala nyeri, mengidentifikasi respon nyeri
non verbal, mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan
nyeri, memberikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa
nyeri,megontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri, memfasilitasi
istirahat dan tidur dan memberikan edukasi strategi meredakan nyeri seperti
teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Rencana tindakannya
yaitu pemberian analgesik untuk membantu menurunkan skala nyeri.
Intervensi yang dilakukan pada diagnosa resiko infeksi adalah
pencegahan infeksi dengan kriteria hasil kemerahan menurun, Nyeri menurun
dan bengkak menurun. Dengan tindakannya memonitor tanda dan gejala
infeksi lokal dan sistemik membatasi jumlah pengunjung, memberikan
perawatan kulit,mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
dan lingkungan pasien, mempertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tinggi serta memberikan edukasi tentang cara memeriksa kondisi luka operasi
dan meningkatkan asupan nutrisi dan cairan.
Intervensi yang dilakukan pada diagnosa ketiga tentang gangguan rasa
nyaman yaitu memberikan terapi relaksasi dengan tindakan mengidentifikasi
teknik relaksasi yang efektif digunakan (relaksasi napas dalam), memeriksa
ketegangan otot, frekuensi nadi, TD, suhu sebelum dan sesudah latihan,
memonitor respon terhadap terapi relaksasi, menciptakan lingkungan yang
tenang, menganjurkan pasien mengunakan pakaian longgar, dan mengedukasi
pasien cara melakukan eknik relaksasi untuk meningkatkan kenyamanan.
Rencana tindakan selanjutnya yaitu melatih pasien untuk melakukan terapi
relaksasi lain seperti terapi nonfarmakologi (pemberian aroma terapi),
sehingga didapatkan outcomes nya berupa kesejahteraan fisik
meningkat,perawatan sesuai kebutuhan meningkat dan keluhan tidak nyaman
menurun
Menganalisis implementasi keperawatan pada pasien dengan suspek
kista ovarium bilateral + tumor ileum ruangan Kebidanan RSUP Dr. M.
Djamil Padang
Diagnosa pertama yaitu nyeri akut yaitu dengan Mengidentifikasi
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan intensitas nyeri,
mengidentifikasi skala nyeri, mengidentifikasi respon nyeri, mengidentifikasi
respon nyeri non verbal,mengidentifikasi faktor yang memperberat dan
memperingan nyeri, memberikan analgesik (ranitidin), dan memonitor tanda-
tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik.
Implementasi yang dilakukan pada diagnosa kedua yaitu resiko infeksi
adalah berupa memonitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik,
mempertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi,mengajarkan cara
mencuci tangan dengan benar, mengajarkan cara memeriksa kondisi luka
operasi, melakukan perawatanan luka operasi, mengganti perban luka operasi
secara berkala,menganjurkan meningkatkan asupan nutrisi, menganjurkan
meningkatkan asupan cairan.
Implementasi yang dilakukan pada diagnosa ketiga yaitu gangguan
rasa nyaman Mengidentifikasi teknik relaksasi yang efektif digunakan,
memeriksa ketegangan otot, frekuensi nadi, TD, suhu sebelum dan sesudah
latihan, memonitor respon terhadap terapi relaksasi, menganjurkan ambil
posisi nyaman, mendemonstrasikan dan latih teknik relaksasi.
Memonitor tanda tanda vital penting dilakukan karena merupakan
tindakan yang peting untuk memantau kondisi pasien atau mengidentifikasi
masalah dan mengevaluasi respon pasien terhadap intervensi
(Sulistyowati,2016) . monitor TTV dilkukan secara berkala agar dapat
mengetaui keadaan umum pasien. Apabila terjadi perburukan dapat dianalisis
tindakan secepatnya. Tindakan perawatan luka penting diberikan pada pasien
yang telah menjalani operasi untuk mencegah terjadinya infeksi atau
peradangan. Pada kasus ini Ny D post laparoskopi karena itu wajib dilakukan
perawatan luka serta memberikan edukasi kepada keuarga cara merawat luka
dan mengganti perban agar keluarga dapat melakukan secara mandiri. Selain
itu melakukan kolaborasi dengan spesialis jika ditemukan tanda dan gejala
lain.
Menganalisis evaluasi keperawatan pada pasien dengan suspek kista
ovarium bilateral + tumor ileum ruangan Kebidanan RSUP Dr. M.
Djamil Padang
Setelah dilakukan pengkajian pada tanggal 13 Desember 2021 dan
diberikan inplementasi, didapatkan evaluasi keperawatan yaitu pasien
mengatakan Pasien mengatakan nyeri bagian perut bawah sampai ke ari-ari,
Pasien tampak meringis menahan nyeri di perut, Pasien tampak sulit tidur,
pasien mengalami keputihan seperti serbuk tepung, Leukosit : 4, 40 x
103/mm3, dan pasien mengatakan merasa tidak nyaman dia area perut bawah.
Untuk itu pasien dianjurkan melakukan teknik relaksasi nafas dalam untuk
mengurangi nyeri dan meningkatkan asupan nutrisi agar kondisi pasien
membaik. Pada tanggal 14 Desember 2021 didapatkan evaluasi pasien masih
nyeri bagian perut bawah dan bekas operasi skala nyeri 3, dimana hari
tersebut pasien mengatakan nyerinya telah berkurang, leukosit pasien masih
4.40x103 mm, pasien direncanakan untuk cek labor ulang. pasien masih
kesulitan untuk berjalan. Dan pada tanggal 15 Desember 2021, pasien,
mengatakan nyerinya sudah berkurang, leukosit pasien telah meningkat
menjadi 7,40 x103 mm. Tetapi pasien masih merasa tidak nyaman karena luka
operasi, serta sering terbangun dimalam ari. Tindakan selanjutnya yang perlu
diberikan pada pasien yaitu menganjurkan pasien meningkatkan asupan
nutrisi untuk menunjang perbaikan luka perasi,dan mengajarkan pasiien
perawatan lukaoperasi.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada pasien, dapat disimpulkan bahwa:


1. Pengkajian menunjukkan pasien mengalami nyeri akut berhubungan dengan
agen pencedera fisilogis, dan beresika mengalami infeksi karena pasien post
laparoskopi. dibuktikan dengan ibu mengatakan nyeri pada bagian perut
bawah dan mengalami keputihan seperti serbuk tepung serta leukosit pasien
dibawah bats normal

2. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan adalah nyeri akut, resiko infeksi, dan
gangguan rasa nyaman

3. Implementasi asuhan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang


telah direncanakan yaitu manajemen nyeri , perawatan penccegahan infeksi
dan terapi relaksasi

4. Hasil evaluasi yang dilakukan pada hari rawatan ketiga didapatkan masalah
nyeri akut teratasi sebagian dan masalah resiko infeksi teratasi sebagian, dan
masalah ganggguan rasanyaman teratasi sebagian

B. Saran

Sebagai perawat, diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan pada


pasien dengan pasien dengan kista ovarium bilateral + tumor ovarium
- DAFTAR PUSTAKA
-
- A Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas,
alih bahasa Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.
-
- Heardman. (2011). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.
-
- Hefner, Linda J. & Danny J.Schust. (2008). At a Glance Sistem Reproduksi Edisi
II. Jakarta : EMS, Erlangga Medical Series.
-
- Mansjoer, Arif. (2002). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
-
- Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta :
EGC.
-
- Smelzer & Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC. Williams,
-
- Rayburn F. (2005). Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya medika.
-
- Winkjosastro, Hanifa, (2005), Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
-