Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MATERNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER OVARIUM

OLEH:
VISCA DWI FEBRIATI, S.Kep
2141312067
KELOMPOK T

PEMBIMBING AKADEMIK:
WEDYA WAHYU, S.Kp., M.Kep

PEMBIMBING CI KLINIK:
RAHMI AMELIA, S.TR.KEB

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2021
I. KONSEP DASAR

A. Anatomi fisiologi ovarium

1. Ovarium

Adalah gonad wanita, dua struktur kecil yang terletak pada kedua sisi uterus.

Kelenjar yanng berada di bawah pengaruh sikliis hormon hipofise ini menghasilkan oosit

dan hormon ovarium (Brooker, 2012)

Ovarium adalah salah satu di antara beberapa organ reproduksi wanita yang berfungsi

untuk menghasilkan sel telur. Setiap wanita memiliki dua ovarium, terletak pada rongga

panggul sebelah kiri dan kanan. (Ilmu Dokter, 2014)

Ovarium merupakan bagian dari sistem reproduksi wanita. Setiap wanita memiliki dua

ovarium. Mereka oval, sekitar empat sentimeter panjang dan berbaring di kedua sisi rahim

(uterus) terhadap dinding panggul di daerah yang dikenal sebagai fossa ovarium. Mereka

diadakan di tempat oleh ligamen melekat pada rahim, tetapi tidak secara langsung melekat

pada sisa saluran reproduksi wanita, misalnya saluran telur. (Kliksama, 2015)

2. Fungsi ovarium

a. Menyimpan ovum (telur) yang dilepaskan satu setiap bulan, ovum akan melalui tuba

fallopi tempat fertilisasi dengan adanya sperma kemudian memasuki uterus, jika

terjadi proses pembuahan (fertilisasi) ovum akan melekat (implantasi) dalam uterus

dan berkembang menjadi janin (fetus), ovum yang tidak mengalami proses fertilisasi

akan dikeluarkan dan terjadinya menstruasi dalam waktu 14 hari setelah ovulasi.

b. Memproduksi hormon estrogen dan progesteron, kedua hormon ini berperan terhadap

pertumbuhan jaringan payudara, gambaran spesifik wanita dan mengatur siklus

menstruasi.

c. Ovarium berfungsi mengeluarkan hormon steroid dan peptida seperti estrogen dan

progesteron. Kedua hormon ini penting dalam proses pubertas wanita dan ciri-ciri

seks
sekunder. Estrogen dan progesteron berperan dalam persiapan dinding rahim untuk

implantasi telur yang telah dibuahi. Selain itu juga berperan dalam memberikan sinyal

kepada hipotalamus dan pituitari dalam mengatur sikuls menstruasi.

3. Letak Ovarium

Ovarium adalah dua organ kecil, seukuran ibu jari Anda, yang terletak di panggul

perempuan. Mereka melekat pada rahim, satu di setiap sisi, dekat pembukaan tuba fallopi.

Ovarium berisi sel gamet wanita, disebut oosit. Dalam istilah non medis, oosit disebut

“telur”. Ovarium merupakan bagian dari sistem reproduksi wanita. Setiap wanita memiliki

dua indung telur. Mereka oval, sekitar empat sentimeter panjang dan berbaring di kedua

sisi rahim (uterus) dinding panggul di wilayah yang dikenal sebagai fossa ovarium.

Mereka ditahan oleh ligamen melekat pada rahim tetapi tidak secara langsung melekat

pada sisa saluran reproduksi wanita. (Hikmat, 2014)

4. Bagian bagian ovarium

Struktur ovarium terdiri atas

a. Korteks disebelah luar yang diliputi oleh epitelium germinativum yang berbentuk

kubik dan di dalam terdiri dari stroma serta folikel-folikel primordial.

b. Medulla di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluh-

pembuluh darah, serabut-serabut saraf dan sedikit otot polos.Diperkirakan pada

wanita terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap bulan satu folikel akan keluar,

kadang-kadang dua folikel, yang dalam perkembangannya akan menjadi folikel de

Graff. Folikel-folikel ini merupakan badian terpenting dari ovarium dan dapat dilihat

di korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam dan pula dalam tingkat-tingkat

perkembangan dari satu sel telur dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel saja sampai

menjadi folikel de Graff yang matang terisi dengan likuor folikulli, mengandung

estrogen dan siap untuk berovulasi.


1. Pengertian

Kanker ovarium adalah tumor ganas yang tumbuh pada ovarium (indung telur)

yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa

menyebar melalui system getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke

hati dan paru

– paru.

Kanker ovarium adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian

dan mekanisme normalnya sehingga mengalami pertumbuhan tidak normal, cepat dan

tidak terkendali. (Apotik Online dan Media Informasi Obat-Penyakit).

Kanker indung telur atau kita sebut dengan kanker ovarium, adalah kanker yang berasal

dari sel-sel ovarium atau indung telur. (Sofyan, 2006)

Kanker ovarium merupakan sebuah penyakit di mana ovarium yang dimiliki wanita

memiliki perkembangan sel-sel abnormal. Secara umum, kanker ovarium merupakan

suatu bentuk kanker yang menyerang ovarium. Kanker ini bisa berkembang sangat cepat,

bahkan, dari stadium awal hingga stadium lanjut bisa terjadi hanya dalam satu tahun saja.

Kanker ovarium merupakan suatu proses lebih lanjut dari suatu tumor malignan di

ovarium. Tumor

malignan sendiri merupakan suatu bentuk perkembangan sel-sel yang tidak terkontrol

sehingga berpotensi menjadi kanker. Wikipedia Kanker adalah pertumbuhan sel abnormal

yang cenderung menyerang jaringan disekitarnya dan menyebar ke organ tubuh lain yang

letaknya jauh (Corwin, 2009, Hal; 66).

Kanker ovarium merupakan tumor dengan histogenesis yang beraneka ragam,

dapat berasal dari ketiga demoblast (ektodermal, endodermal, mesoderal) dengan sifat-

sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam (Smeltzer & Bare, 2002).

Terdapat pada usia peri menopause kira-kira 60%, dalam masa reproduksi 30%

dan 10% terdapat pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak

jelas
jinak dan tidak jelas pasti ganas (borderline malignancy atau carsinoma of low-maligna

potensial) dan jelas ganas (true malignant)(Priyanto, 2007).

Kanker ovarium adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian

dan mekanisme normalnya sehingga mengalami pertumbuhan tidak normal, cepat dan

tidak terkendali. (Apotik Online dan Media Informasi Obat-Penyakit. Hal.2 di akses tgl

20-7- 2009).

Kanker ovarium adalah salah satu kanker ginekologi yang paling sering dan

penyebab kematian kelima akibat kanker pada perempuan. (Price, 2005;1297)

Kanker ovarium memiliki 4 stadium yaitu :

(Smeltzer, 2001;1570)

 Stadium I : Pertumbuhan kanker terbatas pada ovarium

 Stadium II : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan perluasan

pelvis

 Stadium III : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan metastasis

diluar pelvis atau nodus inguinal atau retroperitoneal positif

 Stadium IV : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua sisi ovarium dengan

metastasis jauh

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kanker indung telur atau kita

sebut dengan kanker ovarium, adalah kanker yang berasal dari sel-sel ovarium atau indung

telur. dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya sehingga

mengalami pertumbuhan tidak normal, cepat dan tidak terkendali.

2. Epidemiologi

Kanker ovarium adalah kanker yang membuat frustasi bagi pasien dan pemberi

pelayanan kesehatan karena awitannya yang tersembunyi dan tidak adanya gejala

peringatan adalah penyeab mengapa penyakit ini telah mencapai tahap lanjut ketika
didiagnosa. Kejadian merupakan penyebab kematian utama di antara malignan si

ginekologis. Penyakit ini mempunyai angka kejadian sekitar 13,8 wanita per 100.000.

Sayang sekali, sekitar 75% dari kasus dideteksi pada tahap lanjut. Amatlah sulit untuk

mendiagnosa dan adalah unik sehingga kemungkinan kondisi ini merupakan awal dari

banyak kanker primer dan mungkin menjadi tempat metastase dari kanker lainnya.

Kondisi ini membawa angka kematian 14.500 setiap tahunnya dan merupakan penyebab

prevalen keenam dari kematian akibat kanker pada wanita ( Wingo et. al. , 1995 ).

Sebagian kasus mengenai wanita usia 50 – 59 tahun. Insidens tertingginya adala di negara

– negara industri, kecuali Jepang yang insidennya paling rendah.

Wanita dengan kanker ovarium mempunyai resiko mengidap kanker payudara tiga

sampai empat kali lipat dan wanita dengan kanker payudara mempunyai resiko yang

meningkat terhadap kanker ovarium. Tidak ada faktor penyebab definitif yang telah

ditetapkan, tetapi kontraseptif oral tampak memberikan efek protektif. Hereditas dapat

berperan dalam menimbulkan penyakit ini, dan banyak dokter menyarankan pemeriksaan

pelvis bimanual bagi wanita yang mempunyai satu atau dua orang saudara dengan kanker

ovarium. Meskipun dengan pemeriksaan yangn cermat, tumor ovarium biasanya terdapat

jauh di dalam dan sulit untuk dideteksi. Belum ada skrinng dini yang tersedia saat ini,

meskipun penanda tumor sedang dalam penelitian. Sonogram transvaginal dan pengujian

antigen Ca-125 sangat membantu pada mereka yang beresiko tinggi untuk mengalami

kondisi ini. Akhir – akhir ini, antigen yang berkaitan dengan tumor membantu dalam

perawatn tindak lanjut setelah didiagnosis dan pengobatan, tetapi tidak pada skrining

umum dini.

Faktor – faktor resiko termasuk diet tinggi lemak, merokok, alkohol, penggunaan

bedak talk perineal, riwayat kanker payudara, kanker kolon, kanker endometrium, dan

riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium. Nulipara, infertilitas, dan tak-
ovulasi adalah faktor – faktor resiko. Angka kelangungan hidup tergantung pada tahap

mana kanker didiagnosis. Lebih dari 80% kanker ovarium epitelial ditemukan pada wanita

pascamenopause. Usia 62 tahun adalah usia di mana kanker ovarium epitelial paling

sering ditemui. Kanker ovarium epitelial jarang ditemukan pada usia kurang dari 45 tahun.

Pada wanita premenopause hanya 7% tumor ovarium epitelial yang ganas.

Di RSCM Jakarta antara tahun 1989-1992 ditemukan 1.726 kasus kanker

ginekologi, di antaranya 13,6% adalah kanker ovarium. Umumnya (72%) adalah kanker

ovarium epitelial yang datang dalam stadium lanjut, sedangkan stadium I-II (42,5%).

Mortalitas karena kanker ovarium adalah 22,6% dari 327 kematian kanker ginekologi.

3. Etiologi

Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang

menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium yaitu :

 Hipotesis incessant ovulation

Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium untuk

penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. Proses penyembuhan sel-sel epitel yang

terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor

 Hipotesis Gonadotropin

Teori ini didasarkan pada pengetahuan hasil percobaan binatang pada data

epidemiologi. Hormon hipofisa diperlukan untuk perkembangan tumor ovarium pada

beberapa percobaan pada binatang rodentia. Pada percobaan ini ditemukan bahwa jika

kadar hormon esterogen rendah di sirkulasi perifer, kadar hormon gonadotropin akan

mengikat. Peningkatan kadar hormon goonadotropin ini ternyata berhubungan dengan

makin bertambah bsarnya tumor ovarium pada binatang tersebut.

 Hipotesis androgen
Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Hal

ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor

androgen. Dalam percobaan in-vitro, androgen dapat menstimulasi pertumbuhan

epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium.

 Hipotesisi Progesteron

Berbeda dengan efek peningkatan resiko kanker ovarium oleh androgen,

progesteron ternyata memiliki peranan protektif terhadap terjadinya kanker ovarium.

Epitel normal ovarium mengandung reseptor progesteron. Percobaan pada kera

macaque, progesteron menginduksi terjadinya apoptosis sel epitel ovarium, sedangkan

esterogen menghambatnya. Pemberian pil yang mengandung esterogen saja pada

wanita pasca menopause akan meningkatkan terjadinya resiko kanker ovarium,

sedangkan pemberian kombinasi dengan progesteron akan menurunkan resikonya.

Kehamilan, dimana kadar progesteron tinggi, menurunkan kanker ovarium. Pil

kontrasepsi kombinasi menurunkan resiko terjadinya kanker ovarium. Demikian juga

yang hanya mengandung progesteron yang menekan ovulasi juga menurunkan resiko

kanker ovarium. Akan tetapi, pemakaian depo medroksiprogesteron asetat ternyata

tidak menurunkan resiko terjadinya kanker ovarium.

Penyebab pasti kanker ovarium tidak diketahui namun multifaktorial. Risiko

berkembangnya kanker ovarium berkaitan dengan lingkungan, endokrin dan faktor genetik

(Price, 2005;1297).

a. Faktor lingkungan

Kebiasaan makan, kopi dan merokok, adanya asbestos dalam lingkungan, dan

penggunaan bedak talek pada daerah vagina, semua itu dianggap mungkin

menyebabkan kanker.

b. Faktor endokrin
Faktor risiko endokrin untuk kanker ovarium adalah perempuan yang nulipara,

menarche dini, menopause yang lambat, kehamilan pertama yang lambat, dan tidak

pernah menyusui. Penggunaan kontrasepsi oral tidak meningkatkan resiko dan

mungkin dapat mencegah. Terapi pengganti estrogen (ERT) pascamenopause

untuk 10 tahun atau lebih berkaitan dengan peningkatan kematian akibat kanker

ovarium

c. Faktor genetic

Kanker ovarium herediter yang dominan autosomal dengan variasi penetrasi telah

ditunjukkan dalam keluarga yang terdapat penderita kanker ovarium. Bila terdapat

dua atau lebih hubungan tingkat pertama yang menderita kanker ovarium, seorang

perempuan memiliki 50% kesempatan untuk menderita kanker ovarium.

Ada beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya kanker ovarium yaitu:

 Diet tinggi lemak

 Merokok

 Alkohol

 Riwayat kanker payudara, kolon, atau endometrium

 Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau ovarium

 Nulipara

 Infertilitas

 Menstruasi dini

 Wanita diatas usia 50 – 75 tahun

 Wanita yang memiliki anak > 35 tahun

 Ras kaucasia > Afrika-Amerika

 Kontrasepsi oral

 Berawal dari hyperplasia endometrium yang berkembang menjadi karsinoma.

 Menarche dini
4. Patofisiologi

Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormone dan kegagalan

pembentukan salah satu hormone tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium

tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormone

hipofisa dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan

penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel

tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, terbentuk secara

tidak sempurna di dalam ovarium karena itu terbentuk kista di dalam ovarium. Setiap hari,

ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pada

pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan

oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang

memiliki struktur 1,5 – 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi

pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif.

Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara

gradual akan mengecil selama kehamilan.

Kanker ovarium bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan

dengan abdomen dan pelvis dan sel-sel yang menempatkan diri pada rongga abdomen dan

pelvis. Sel-sel ini mengikuti sirkulasi alami cairan peritoneal sehingga implantasi dan

pertumbuhan keganasan selanjutnya dapat timbul pada semua permukaan intraperitoneal.

Limfatik yang disalurkan ke ovarium juga merupakan jalur untuk penyebaran sel-sel

ganas. Semua kelenjar pada pelvis dan kavum abdominal pada akhirnya akan terkena.

Penyebaran awal kanker ovarium dengan jalur intraperitoneal dan limfatik muncul tanpa

gejala yang spesifik. Gejala tidak pasti yang akan muncul seiring dengan waktu adalah

perasaan berat pada pelvis, sering berkemih dan disuria dan perubahan fungsi

gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat kenyang dan

konstipasi. Pada beberapa


perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina sekunder akibat hyperplasia

endometrium bila tumor menghasilkan estrogen, beberapa tumor menghasilkan

testosterone dan menyebabkan virilasi. Gejala-gejala keadaan akut pada abdomen dapat

timbul mendadak bila terdapat perdarahan dalam tumor , ruptur atau torsi ovarium. Namun

tumor ovarium paling sering terdeteksi selama pemeriksaan pelvis rutin.

5. Pathway
6. Klasifikasi
Lebih dari 30 neoplasma ovarium telah diidentifikasi. Tumor ovarium

dikelompokkan dalam 3 kategori (Price, 2005;1297) besar yaitu :

 Tumor-tumor epitel

Tumor-tumor epitel menyebabkan 60% dari semua neoplasma ovarium dan

diklasifikasikan sebagai neoplasma jinak, perbatasan ganas

 Tumor stroma gonad

 Tumor-tumor sel germinal

Terdapat tiga ketegori utama tumor sel germinal yaitu : tumor jinak (kista dermoid),

tumor ganas (bagian dari kista dermoid), tumor sel germinal primitive ganas (sel

embrionik dan ekstraembrionik)

Dua pertiga persen kanker ovarium adalah tumor sel germinal primitive ganas. Penting

untuk mendiagnosis jenis tumor dengan tepat.

Klasifikasi stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation International of

Ginecologies and Obstetricians ) 1987, adalah :

 Stadium I : pertumbuhan terbatas pada ovarium

o Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium, tidak ada asietas yang berisi

sel ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaan luar, kapsul utuh.

o Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak asietas, berisi sel

ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul intak.

o Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau

kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan

bilasan peritoneum positif.

 Stadium II : Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul

o Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba

o Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya


o Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau

kedua ovarium, kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan

bilasan peritoneum positif.

 Stadium III : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum

di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi

sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum.

o Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi

secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan

(seeding) dipermukaan peritoneum abdominal.

o Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan

peritoneum dan terbukti secara mikroskopis, diameter melebihi 2 cm, dan kelenjar

getah bening negatif.

o Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah

bening retroperitoneal atau inguinal positif.

 Stadium IV : pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh.

Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4, begitu juga metastasis

ke permukaan liver.

7. Tanda dan Gejala Klinis

Adapun tanda dan gejala yang ditimbulkan pada pasien dengan kanker ovarium

adalah sebagai berikut :

a. Haid tidak teratur

b. Darah menstruasi yang banyak (menoragia) dengan nyeri tekan pada payudara

c. Menopause dini

d. Dispepsia

e. Tekanan pada pelvis


f. Sering berkemih dan disuria

g. Perubahan fungsi gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut,

cepat kenyang dan konstipasi.

h. Pada beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina sekunder

akibat hyperplasia endometrium bila tumor menghasilkan estrogen. (Smeltzer,

2001;1570)

8. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik hasil yang sering didapatkan pada tumor ovarium adalah

massa pada rongga pelvis. Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang mampu

membedakan tumor adneksa adalah jinak atau ganas, namun secara umum dianut bahwa

tumor jinak cenderung kistik dengan permukaan licin, unilateral dan mudah digerakkan.

Sedangkan tumor ganas akan memberikan gambaran massa yang padat, noduler, terfiksasi

dan sering bilateral. Massa yang besar memenuhi rongga abdomen dan pelvis lebih

mencerminkan tumor jinak atau keganasan derajat rendah. Adanya asites dan nodul pada

cul-de-sac merupakan petunjuk adanya keganasan.

9. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien kanker ovarium yaitu :

a. Anamnesis dan pemeriksaan fisik pelvic

b. Radiologi : USG Transvaginal, CT scan, MRI

c. Tes darah khusus : CA-125 (Penanda kanker ovarium epitelial), LDH, HCG, dan

AFP (penanda tumor sel germinal)

d. Laparoskopi

e. Laparotomi

f. Pemeriksaan untuk mengetahui perluasan kanker ovarium

g. Pielografi intravena (ginjal, ureter, dan vesika urinaria), sistoskopi dan

sigmoidoskopi.
h. Foto rontgen dada dan tulang

i. Scan KGB (Kelenjar Getah Bening)

j. Scan traktus urinarius

10. Diagnosis / Kriteria Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat, pemeriksaan fisik ginekologi,

serta pemeriksaan penunjang

a. Riwayat

Kanker ovarium pada stadium dini tidak memberikan keluhan. Keluhan yang

timbul berhubungan dengan peningkatan massa tumor, penyebaran tumor pada permukaan

serosa dari kolon dan asites. Rasa tidak nyaman dan rasa penuh diperut, serta cepat merasa

kenyang sering berhubungan dengan kanker ovarium. Gejala lain yang sering timbul

adalah mudah lelah, perut membuncit, sering kencing dan nafas pendek akibat efusi pleura

dan asites yang masif.

Dalam melakukan anamnesis pada kasus tumor adneksa perlu diperhatikan umur

penderita dan faktor risiko terjadinya kanker ovarium. Pada bayi yang baru lahir dapat

ditemukan adanya kista fungsional yang kecil (kurang dari 1-2 cm) akibat pengaruh dari

hormon ibu. Kista ini mestinya menghilang setelah bayi berumur beberapa bulan. Apabila

menetap akan terjadi peningkatan insiden tumor sel germinal ovarium dengan jenis yang

tersering adalah kista dermoid dan disgerminoma. Dengan meningkatnya usia

kemungkinan keganasan akan meningkat pula. Secara umum akan terjadi peningkatan

risiko keganasan mencapai 13% pada premenopause dan 45% setelah menopause.

Keganasan yang terjadi bisa bersifat primer dan bisa berupa metastasis dari uterus,

payudara, dan traktus gastrointestinal.

b. Pemeriksaan fisik ginekologi


Dengan melakukan pemeriksaan bimanual akan membantu dalam memperkirakan

ukuran, lokasi, konsistensi dan mobilitas dari massa tumor. Pada pemeriksaan

rektovaginal untuk mengevaluasi permukaan bagian posterior, ligamentum sakrouterina,

parametrium, kavum Dauglas dan rektum. Adanya nodul di payudara perlu mendapat

perhatian, mengingat tidak jarang ovarium merupakan tempat metastasis dari karsinoma

payudara.

Hasil yang sering didapatkan pada tumor ovarium adalah massa pada rongga

pelvis. Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang mampu membedakan tumor

adneksa adalah jinak atau ganas, namun secara umum dianut bahwa tumor jinak

cenderung kistik dengan permukaan licin, unilateral dan mudah digerakkan. Sedangkan

tumor ganas akan memberikan gambaran massa yang padat, noduler, terfiksasi dan sering

bilateral. Massa yang besar yang memenuhi rongga abdomen dan pelvis lebih

mencerminkan tumor jinak atau keganasan derajat rendah. Adanya asites dan nodul pada

cul-de-sac merupakan petunjuk adanya keganasan.

c. Pemeriksaan penunjang

Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang utama dalam menegakkan

diagnosis suatu tumor adneksa ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan

gambaran dengan septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites .

Walaupun ada pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT scan, MRI (magnetic resonance

imaging), dan positron tomografi akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan,

namun pada penelitian tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih

baik dari ultrasonografi. Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling

sering digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai

keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk jenis sel

germinal, antara lain alpha-fetoprotein (AFP), lactic acid dehidrogenase (LDH), human
placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline phosphatase (PLAP) dan human

chorionic gonadotrophin(hCG).

11. Kemungkinan komplikasi

a. Torsi

b. Rupture kista

c. Perdarahan

d. Keganasan

12. Penatalaksanaan

Adapun tindakan yang dilakukan pada penanganan kanker ovarium antara lain:

(Smeltzer, 2001;1570)

 Intervensi bedah untuk kanker ovarium adalah histerektomi abdominal total dengan

pengangkatan tuba falopii dan ovarium serta omentum (salpingo-oofarektomi bilateral

dan omentektomi) adalah prosedur standar unruk penyakit tahap dini

 Terapi radiasi dan implantasi fosfor 32 (32P) interperitoneal, isotop radioaktif, dapat

dilakukan setelah pembedahan

 Kemoterapi dengan preparat tunggal atau multiple tetapi biasanya termasuk sisplantin,

sikofosfamid, atau karboplatin juga digunakan

 Paklitaksel (Taxol) merupakan preparat yang berasal dari pohon cemara pasifik,

bekerja dengan menyebabkan mikrotubulus di dalam sel-sel untuk berkumpul dan

mencegah pemecahan struktur yang mirip benang ini. Secara umum, sel-sel tidak

dapat berfungsi ketika mereka terlilit dengan mikrotubulus dan mereka tidak dapat

membelah diri. Karena medikasi ini sering menyebabkan leucopenia, pasien juga

harus minum G- CSF (factor granulosit koloni stimulating)


 Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita dengan

asites yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya dinding kista

akibat bagian yang diduga asites ternyata kista yang memenuhi rongga perut.

Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan apabila penderita mengeluh sesak akibat

desakan pada diafragma.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data

yang akurat dan sistematis akan membantu pemantauan status kesehatan dan pola

pertahanan pasien, mengidentifikasi kekuatan pasien serta merumuskan diagnosa

keperawatan (Mocthar, 2006)

a. Dasar data pengkajian

1) Aktivitas/istirahat

Gejala : Kelemahan dan atau keletihan, perubahan pola istirahat dan jam kebiasaan tidur

pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas,

berkeringat malam, keterbatasan partisipasi dalam hobi, latihan. Pekerjaan atau profesi

dengan pemajanan karsinoma lingkungan, tingkat stres tinggi.

2) Sirkulasi

Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja, perubahan TD

3) Integritas ego

Gejala: Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres

(misal merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan

religius/spiritual). Masalah tentang perubahan dalam penampilan misal alopesia, lesi

cacat, pembedahan.
Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna,

rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.

Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah

4) Eliminasi

Gejala: Perubahan pada pola defekasi misal darah pada feces, nyeri pada defekasi.

Perubahan eliminasi urinarius misal nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih sering

berkemih.

Tanda : Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.

5) Makanan/cairan

Gejala : Kebiasaan diet buruk (misal rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan pengawet),

anoreksia, mual/muntah, intoleransi makanan.

Tanda : Perubahan pada kelembaban/turgor kulit, edema.

6) Neurosensori

Gejala : Pusing

7) Nyeri/kenyamanan

Gejala : Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misal ketidaknyamanan ringan sampai

nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit)

8) Keamanan

Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinoma, pemajanan matahari lama/berlebihan.

Tanda : Demam, ruam kulit, ulserasi.

9) Pernapasan

Gejala : Merokok (tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan asbes.

10) Seksualitas
Gejala: Masalah seksual misal dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan

nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun, multigravida, pasangan seks multipel, aktivasi

seksual dini, herpes genital.

11) Interaksi social

Gejala : Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung, riwayat perkawinan (berkenaan

dengan kepuasan di rumah, dukungan atau bantuan), masalah tentang fungsi atau

tanggung jawab peran.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umun pasien, kesadaran, tekanan darah, respirasi,

berat badan

a. Mata : Meliputi pemeriksaan kelopak mata, gerakan mata, konjungtiva, sclera, pupil,

akomodasi.

b. Hidung : meliputi pemeriksaan reaksi alergi, sinus, dan lain-lain

c. Mulut dan tenggorokan : kaji adanya mual, kesulitan menelan

d. Dada dan aksila : kaji adanya pembesaran mammae

e. Pernafasan : kaji jalan nafas, suara nafas, kaji adanya penggunaan otot bantu pernafasan

f. Sirkulasi jantung : kaji kecepatan denyut apical, irama, kelainan bunyi jantung, sakit

dada

g. Abdomen : kaji adanya asites

h. Genitourinaria : kaji adanya massa pada rongga pelvis

i. Ekstremitas : kaji turgor kulit\

c. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah : Hb dan leukosit menurun, trombosit meningkat, ureum dan

kreatinin meningkat.

2) Pemeriksaan urine : Ureum dan kreatinin meningkat.

2. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri kronis berhubungan dengan nekrosis jaringan pada ovarium akibat penyakit

kanker ovarium

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan perubahan

fungsi gastrointestinal

3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan penekanan pada vesika urinaria

4. Gangguang eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi mengenai

penyakit (kanker ovarium)

6. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

7. Risiko perdarahan berhubungan dengan hyperplasia endometrium

8. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis (metastase sel kanker ke

bagian tubuh yang lain)

3. Rencana Tindakan Keperawatan


No. Tujuan & Kriteria Intervensi Rasional
Dx Hasil
1 Setelah diberikan asuhan Lakukan pengkajian Membantu membedakan
keperawatan selama (… nyeri secara penyebab nyeri dan
x24) jam diharapkan komprehensif catat memberikan informasi
nyeri pasien berkurang keluhan, lokasi nyeri, tentang kemajuan atau
atau terkontrol dengan frekuensi, durasi, dan perbaikan penyakit,
Kriteria Hasil : intensitas (skala 0-10)
a. Pasien mengatakan dan tindakan terjadinya komplikasi dan
skala nyeri yang penghilangan nyeri yang keefektifan intervensi.
dialaminya menurun dilakukan]
. Pasien Pantau tanda - tanda Peningkatan nyeri akan
melaporkan nyeri vital mempengaruhi perubahan
yang sudah terkontrol pada tanda - tanda vital
maksimal dengan Dorong penggunaan Memungkinkan pasien
pengaruh atau efek keterampilan manajemen untuk berpartisipasi
samping minimal nyeri seperti teknik secara aktif untuk
c. TTV pasien dalam relaksasi dan teknik mengontrol rasa nyeri
batas normal, meliputi : distraksi, misalnya yang dialami, serta dapat
Nadi normal (60 - 100 x dengan mendengarkan meningkatkan koping
/ menit) musik, membaca buku, pasien
Pernapasan normal (12 dan sentuhan terapeutik.
- 20 x / menit) Berikan posisi yang Memberikan rasa
Tekanan darah normal nyaman sesuai kebutuhan nyaman pada pasien,
(110 - 130 mmHg / 70 - pasien meningkatkan relaksasi,
90 mmHg) dan membantu pasien
Suhu : (360-37,50C) untuk memfokuskan
. Ekspresi wajah kembali perhatiannya.
pasien tidak meringis Dorong pengungkapan Dapat mengurangi
e. Pasien tampak tenang perasaan pasien ansietas dan rasa takut,
(tidak gelisah) sehingga mengurangi
. Pasien dapat persepsi pasien akan
melakukan teknik intensitas rasa sakit.
relaksasi dan Evaluasi upaya Tujuan yang ingin
distraksi dengan tepat penghilangan nyeri atau dicapai melalui upaya
sesuai indikasi untuk kontrol pada pasien kontrol adalah kontrol
mengontrol nyeri nyeri yang maksimum
dengan pengaruh atau
efek samping yang
minimum pada pasien.
Tingkatkan tirah baring, Menurunkan gerakan
bantulah kebutuhan yang dapat meningkatkan
perawatan diri yang nyeri
penting
Kolaborasi pemberian Nyeri adalah komplikasi
analgetik sesuai indikasi tersering dari kanker,
meskipun respon
individual terhadap nyeri
berbeda-beda. Pemberian
analgetik dapat
mengurangi nyeri yang
dialami pasien
Kolaborasi untuk Rencana manajemen
pengembangan rencana nyeri yang terorganisasi
manajemen nyeri dengan dapat mengembangkan
pasien, keluarga, dan tim kesempatan pada pasien
kesehatan yang terlibat untuk mengontrol nyeri
yang dialami. Terutama
dengan nyeri kronis,
pasien dan orang terdekat
harus aktif menjadi
partisipan dalam
manajemen nyeri di
rumah.
Kolaborasi untuk Mungkin diperlukan
pelaksanaan prosedur untuk mengontrol nyeri
tambahan, misalnya berat (kronis) yang tidak
pemblokan pada saraf berespon pada tindakan
lain
2 Setelah diberikan . Pantau intake makanan . Mengidentifikasi
asuhan keperawatan setiap hari, biarkan kalien kekuatan atau defisiensi
selama (…x24 ) jam menyimpan buku harian nutrisi
diharapkan klien dapat tentang makanan sesuai
mendemonstrasikan indikasi
berat badan stabil . Identifikasi klien yang . Mual muntah
dengan Kriteria Hasil : mengalami mual atau psikogenik terjadi
a. Berat badan muntah yang diantisipasi sebelum kemoterapi
pasien stabil. mulai.
b. Pasien bebas dari . Ukur tinggi badan . Membantu dalam
tanda – tanda malnutrisi. (TB), berat badan (BB), identifikasi malnutrisi
c. Pengungkapan dan ketebalan lipatan protein-kalori, khususnya
pemahaman pengaruh kulit triseps atau dengan bila BB dan pengukuran
individual pada antropometrik lainnya. antropometrik kurang
masukan adekuat pastikan jumlah dari normal
d. Berpartisipasi dalam penurunan BB saat ini
intervensi spesifik untuk . Dorong klien untuk . Kebutuhan metabolic
merangsang nafsu makan dengan diet tinggi jaringan ditingkatkan
makan kalori kaya nutrient,
. TTV pasien dengan intake cairan
dalam batas normal, yang adekuat. Dorong
meliputi: Nadi normal : penggunaan suplemen
(60 - 100 x / menit) dan makan sedikit tapi
Pernapasan normal : ( sering.
12 - 20 x / menit) . Ciptakan suasana . Membantu waktu
Tekanan darah normal : makan malam yang makan lebih
( 110 - 130 mmHg / 70 - menyenangkan, dorong menyenangkan, yang
90 mmHg) pasien untuk berbagi dapat meningkatkan
Suhu : (360-37,50C) makan dengan keluarga masukan.
atau teman.
. Rujuk pada ahli atau Memberikan rencana
tim pendukung nutrisi diet khusus untuk
memenuhi kebutuhan
individu dan menurunkan
masalah berkenaan
dengan malnutrisi protein
atau kalori dan
defensiensi mikronutrien.
3 Setelah diberikan Catat keluaran urine, Penurunan aliran urine
asuhan keperawatan selidiki penurunan atau tiba-tiba dapat
selama (…x24) jam penghentian aliran urine mengindikasikan adanya
diharapkan pola tiba-tiba obstruksi atau disfungsi
eliminasi urine pasien pada traktus urinarius
kembali normal Kaji pola berkemih Identifikasi kerusakan
(adekuat) dengan (frekuensi dan fungsi vesika urinaria
Kriteria Hasil : jumlahnya). Bandingkan akibat metastase sel-sel
Tidak terjadi hematuria haluaran urine dan kanker pada bagian
Tidak terjadi masukan cairan serta tersebut
inkontinensia urine catat berat jenis urine
Tidak terjadi disuria Observasi dan catat Penyebaran kanker pada
Jumlah output urine warna urine. Perhatikan traktus urinarius (salah
dalam batas normal (± ada atau tidaknya satunya di vesika
0,5 - 1 cc / kgBB / jam) hematuria urinaria) dapat
menyebabkan jaringan di
vesika urinaria
mengalami nekrosis
sehingga urine yang
keluar berwarna merah
karena bercampur dengan
darah
Observasi adanya bau Identifikasi tanda - tanda
yang tidak enak pada infeksi pada jaringan
urine (bau abnormal) traktus urinarius
Dorong peningkatan Mempertahankan hidrasi
cairan dan pertahankan dan aliran urine baik
pemasukan akurat
Awasi tanda vital. Kaji Indikator keseimbangan
nadi perifer, turgor kulit, cairan dan menunjukkan
tingkat hidrasi
pengisian kapiler, dan
membran mukosa
Kolaborasi : Pemeriksaan diagnostik
Siapkan untuk tes dan penunjang misalnya
diagnostik, prosedur pemeriksaan retrograd
penunjang sesuai dapat digunakan untuk
indikasi mengevaluasi tingkat
infiltrasi kanker pada
traktus urinarius sehingga
dapat menjadi dasar
untuk intervensi
selanjutnya
Kolaborasi : Kadar BUN dan kreatinin
Pantau nilai BUN dan yang abnormal dapat
kreatinin menjadi indikator
kegagalan fungsi ginjal
sebagai akibat komplikasi
metastase sel-sel kanker
pada traktus urinarius
hingga ke organ ginjal.
4 Setelah diberikan Kaji dan dokumenasikan Mengetahui sejauh mana
asuhan keperawatan frekuensi, warna dan dampak dari konstipasi
selama (…x24) jam konsistensi feses, itu sendiri terhadap
diharapakan konstipasi keluarnya flatus, adanya pasien.
pasien menurun dengan impaksi, ada tidaknya
Kriteria Hasil : bisisng usus dan distensi
Pola eliminasi dalam abdomen pada ke empat
rentang yang kuadran abdomen.
diharapkan Feses lunak Identifikasi factor yang Dapat mempermudah
dan berbentuk dapat menyebabkan pengobatan dan
Mengeluarkan feses konstipasi. penatalaksanaan yang
tanpa bantuan tepat.
Berikan privasi dan Dapat meningkatkan rasa
keamanan untuk pasien nyaman untuk pasien.
selama eliminasi
defekasi.
Anjurkan pasien untuk Mengurangi rasa nyeri
meminta obat nyeri pada pasien.
sebelum defekasi untuk
memfasilitasi
pengeluaran feses tanpa
nyeri.
Lakukan penyuluhan Memberikan gambaran
untuk pasien dan kepada pasien dan
keluarga. keluarga mengenai
konstipasi dan apa dan
tidak yang boleh
dilakukan.
Kolaborasi dengan ahli Mengurangi konstipasi
gizi untuk meningkatkan berkelanjutan melalui
serat dan cairan dalam makanan yang dicerna.
diet
5 Setelah dilakukan Kaji pengetahuan pasien Mengetahui seberapa
asuhan keperawatan tentang penyakit yang tingkat pengetahuan
selama (…x24) jam dialaminya pasien tentang
diharapkan pengetahuan penyakitnya
pasien bertambah Berikan penkes pada Meningkatkan
dengan Kriteria Hasil: pasien tentang penyakit pengetahuan pasien
Pasien mengerti tentang yang dialaminya tentang penyakitnya
penyakit yang (pengertian, tanda dan sehingga pasien
dialaminya gejala, penyebab, kooperatif dalam setiap
Pasien dapat penatalaksanaan) tindakan yang diberikan
berpartisipasi selama Berikan dukungan pada Meningkatkan semangat
pasien pasien sehingga pasien
proses perawatan dan tidak takut dengan
pengobatan penyakitnya
Libatkan keluarga dalam Membangkitkan
setiap tindakan yang akan semangat pasien sehingga
dilakukan pada pasien keluarga dan pasien bisa
saling mensupport
6 Setelah dilakukan Kaji tingkat ansietas Mengetahui tingkat
asuhan keperawatan ansietas pasien untuk
selama (...x24) jam menentukan intervensi
diharapkan kecemasan yang tepat
pasien berkurang Gali penyebab ansietas Membantu pasien
dengan Kriteria Hasil: pasien mengurangi ansietas
Pasien tampak lebih Libatkan keluarga dalam Membangkitkan
rileks setiap tindakan yang akan semangat pasien sehingga
Pasien mampu dilakukan pada pasien keluarga dan pasien bisa
menunjukkan saling mensupport
mekanisme koping yang Gali intervensi yang Menurunkan ansietas
efektif menurunkan ansietas pasien
(musik, latihan relaksasi)
7 Setelah dilakukan Kaji tanda-tanda vital Mengetahui adanya
asuhan keperawatan tanda-tanda syok
selama (…x24) jam Monitor tanda-tanda Mengetahui adanya
diharapkan pasien tidak perdarahan perdarahan sehingga
mengalami perdarahan lebih dini dapat dicegah
dengan Kriteria Hasil : Anjurkan pasien untuk Menghindari adanya
Tanda-tanda vital dalam tirah baring perdarahan
batas normal = (TD : Kolaborasi pemberian Mencegah perdarahan
110-130/70-90 mmHg, antikoagulan
N : 60-100 x/menit, S :
36o-37,5º C, RR: 12-20
x/menit)
Perdarahan tidak ada
8 Setelah dilakukan Kaji tanda-tanda vital Mengetahui adanya
asuhan keperawatan tanda-tanda syok
selama (…x24) jam Monitor tanda-tanda Mengetahui adanya
diharapkan pasien tidak infeksi tanda-tanda infeksi
mengalami infeksi sehingga lebih dini dapat
dengan Kriteria Hasil: dicegah
Tanda-tanda vital dalam Lakukan prosedur cuci Menghindari adanya
batas normal tangan yang benar infeksi
TD : 110-130/70-90 sebelum ke pasien
mmHg Pertahankan tindakan Tindakan aseptik yang
N : 60-100 x/menit aseptik setiap akan dilakukan pada pasien

S : 36o-37,5º C melakukan tindakan untuk mencegah infeksi

RR: 12-20 x/menit perawatan ke pasien

Tidak terdapat tanda- Kolaborasi pemberian Mencegah infeksi

tanda infeksi (kalor, antibiotik

tumor, rubor, Kolaborasi pemeriksaan Mengetahui adanya

fungsiolaesa) darah lengkap (WBC) infeksi atau tidak

Hasil lab terutama Dorong dan pertahankan Memenuhi kebutuhan

WBC dalam batas masukan kalori dan kalori tubuh pasien

normal (WBC = 4,9- protein dalam diet sehingga membantu

10,9) meningkatkan daya tahan


tubuh

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan dilakukan berdasarkan rencana tindakan yang dibuat

5. Evaluasi Keperawatan

No. Dx Evaluasi
1 Pasien mengatakan skala nyeri yang dialaminya menurun
Pasien melaporkan nyeri yang sudah terkontrol maksimal dengan pengaruh atau
efek samping minimal
TTV pasien dalam batas normal
Ekspresi wajah pasien tidak meringis
Pasien tampak tenang (tidak gelisah)
Pasien dapat melakukan teknik relaksasi dan distraksi dengan tepat sesuai
indikasi untuk mengontrol nyeri
2 Berat badan pasien stabil.
Pasien bebas dari tanda – tanda malnutrisi.
Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat
Berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan
TTV pasien dalam batas normal
3 Tidak terjadi hematuria
Tidak terjadi inkontinensia urine
Tidak terjadi disuria
Jumlah output urine dalam batas normal (± 0,5 - 1 cc / kgBB / jam)
4 Pola eliminasi dalam rentang yang diharapkan
Feses lunak dan berbentuk
Mengeluarkan feses tanpa bantuan
5 Pasien mengerti tentang penyakit yang dialaminya
Pasien dapat berpartisipasi selama proses perawatan dan pengobatan
6 Pasien tampak lebih rileks
Pasien mampu menunjukkan mekanisme koping yang efektif
7 Tanda-tanda vital dalam batas normal
Perdarahan tidak ada
8 Tanda-tanda vital dalam batas normal
Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (kalor, tumor, rubor, fungsiolaesa)
Hasil lab terutama WBC dalam batas normal (WBC = 4,9-10,9)

DAFTAR PUSTAKA

Donges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

Guyton, Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC

Manuaba, I Gede Bagus. 2004. Kapita Selekta Kedokteran dan KB. Jakarta : EGC
Nettina, Sandra M. 2001. Pedoman Praktek Keperawatan. Jakarta : EGC

Prawiroharjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : YBPSP

Price. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6. Jakarta

: EGC

Smeltzer. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Volume 3.

Jakarta : EGC

TIM FK UNPADJ.2001. Ginekologi. Bandung : FK UNPADJ

Wilkinson M. Judith, dkk. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Diagnosis NANDA,

Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC Edisi 9. Jakarta : EGC


LAPORAN KASUS
KEPERAWATAN MATERNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER OVARIUM

OLEH:
VISCA DWI FEBRIATI, S.Kep
2141312067
KELOMPOK T

PEMBIMBING AKADEMIK:
WEDYA WAHYU, S.Kp., M.Kep

PEMBIMBING CI KLINIK:
RAHMI AMELIA, S.TR.KEB

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2021
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA MASALAH GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI

I. PENGKAJIAN
Hari/ tanggal : Kamis/25 November
2021 Oleh : Visca Dwi Febriati

A. Identitas Pasien Penanggung Jawab :


Nama : Ny.D Nama : Tn.I
Umur : 38 tahun Umur : 43 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Bukittinggi Alamat : Bukittinggi

Tanggal masuk RS : 18/11/2021


Tanggal Pengkajian : 25/11/2021 jam 15.00

B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Klien masuk pada tanggal 18 November 2021 dengan keluhan merasakan
nyeripada perut bagian bawah, perut terasa membengkak, darah (-)
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 25 November 2021 pukul 15.00 WIB
dengan hari rawatan ke 8, Ny. D post op mengeluhkan nyeri pada ari-ari nyeri
dirasakan hilangtimbul, nyeri skala 6, nyeri hilang timbul dan seperti tertusuk jarum,
klien juga mengeluhkan nyeri perut bagian tengah. Klien juga mengeluh letih dan
nafsu makan menurun dan terkadang mual.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Ny.D mengatakan pernah dirawat sebelumnya dengan penyakit kanker ovarium
pada bulan Januari dan Maret 2020 dilakukan operasi pengangkatan Rahim di rumah
sakit RSUP Dr.M Djamil Padang.Klien juga pernah melakukan kemoterapi di rumah
sakit RSUP Dr.M Djamil Padang.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak ada memiliki riwayat penyakit keturunan seperti DM,
Hipertensi dan Jantung
5. Riwayat Obstetri sebelumnya
No L/P Usia BBL Cara Penolong ASI Komplikasi
Lahir Persalinan
1 P 10 th 2.6 kg SC Dokter 2 th -

6. Riwayat Menstruasi
Menarche : Usia 12
tahun Siklus : 1/28 hari
Banyaknya ganti pembalut
:3x/hari Lama haid : 7-14 hari

7. Riwayat KB
Klien mengatakan pernah menggunakan KB Pill setelah hamil anak pertama
selama 2 tahun, tahun berikutnya tidak pernah menggunakan KB lagi.

C. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Compos Mentis
b. Tanda-tanda vital : TD : 100/69mmhg Nadi: 90x/mnt Nafas : 19x/mnt Suhu: 36.4
c. Pengukuran Antropometri : TB: 150 cm BB: 58 kg IMT: 25 m2
d. Pemeriksaan Head to Toe :
1) Kepala : tidak ada pembekakan di kepala
2) Rambut : penyebaran rambut merata, rambut rontok efek kemoterapi
dan rambut berwarna putih
3) Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
4) Hidung : tidak ada pernafasan cuping hidung
5) Telinga : telinga simetris kiri dan kanan, tidak terdapat bekas luka
6) Mulut dan tenggorokkan: tidak ada stomatis, mukosa mulut kering
7) Leher : tidak terdapat membengkakan vena jugularis
8) Wajah : tidak terdapat edema pada wajah
9) Dada dan thorax :
a. Paru-paru :
i. Inspeksi : simetris kiri dan kanan
ii. Palpasi : vocal fremitus teraba
iii. Perkusi : sonor ( berisi jaringan paru)
iv. Auskultasi : suara nafas vesikuler
b. Jantung
i. Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
ii. Palpasi : ictus cordis teraba
iii. Perkusi : pekak
iv. Auskultasi : Bunyi jantung lup dup
c. Payudara
i. Inspeksi : simetris kiri dan kanan
ii. Palpasi : tidak terdapat benjolan massa pada payudara

10) Abdomen
a. Inspeksi : simetris kiri dan kanan
b. Palpasi : nyeri tekan (-)
c. Perkusi : timpani
d. Auskultasi : Bising usus (+)

11) Eksremitas atas/bawah


a. Inspeksi kuku : crt < 3 detik
b. Palpasi : tidak terdapat edema, nyeri pada ujung kuku
c. Kemampuan otot 5555 5555
5555 5555
12) Genitalia ( alat kelamin, anus)
a. Inspeksi : tampak bekas operasi laparatomi
b. Palpasi : saat dipalpasi nyeri pada bekas operasi

e. Pola Fungsi Kesehatan


1) Pola persepsi dan manajemen kesehatan

Pasien mengatakan tidak memiliki alergi terhadap makanan. Klien tidak merokok

2) Pola nutrisi dan metabolic

Pasien mengatakan makan 3 kali sehari dan makanan selingan pada siang atau hari

Pagi : sepiring lontong sayur/ nasi

Siang : sepiring nasi, lauk pauk, sayur

Sore : makanan selingan seperti buah, gorengan,

dll Malam : sepiring nasi, lauk pauk

Minum 10 gelas/hari

Pasien mengatakan terkadang tidak nafsu dan biasanya pulang dari RS klien

mengalami mual

Selama di RS pasien mengatakan hanya habis ½ porsi karena menu yang disajikan tidak

nasi tetapi bubur kanji dengan gula anau.

3) Pola eliminasi

Klien mengatakan defekasi 1x sehari sekali, BAB lunak, BAK ±5-6x dalam sehari.

4) Pola aktifitas dan olahraga

Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga, yang setiap hari mengasuh anak. Pasien

melakukan aktivitas sehari-harinya secara mandiri seperti berbelanja, memasak,

mencuci dll.

5) Pola istirahat tidur


Pasien mengatakan tidur malam jam 21.00 dan terbangun tengah malam, dan tidak

bisa tidur lagi sampai pagi. Pasien merasakan kurang segar setelah bangun tidur.

6) Pola persepsi sensori dan kognitif

Klien dalam keadaan sadar, berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan

minang,tidak ada gangguan komunikasi, pendengaran dan penglihatan baik.

7) Pola hubungan

Pasien memiliki hubungan yang baik dengan suami, anak dan tetangga sekitar rumah

pasien. Pasien tinggal bersama suami dan anaknya.

8) Pola reproduksi seksual

Pasien mengatakan saat sakit menstruasi menjadi tidak teratur dan tidak pernah

menggunakan KB setelah melahirkan anak pertama 2 tahun .

9) Pola koping

Pasien mengatakan jika ada masalah ia akan bercerita kepada suami dan anaknya, dan

klien tidak ada menggunakan obat penghilang stress.

10) Pola keyakinan dan kepercayaan

Pasien beragama islam, sebelum sakit pasien tetap melaksanakan sholat 5 waktu, dan

selama di RS klien tidak ada melaksanakan shalat karena alasan perut sakit.
f. Data Penunjang
1) Radiologi (rontgen thoraks)
2) Laboratorium : Hematologi

Hasil pemeriksaan Rontgen Thoraks (17 November 2021) :


Cor : Bentuk dan ukuran normal
CTR : <50%
Mediastinum superior tidak melebar
Corakan bronkhovaskuler ke 2 paru baik
Sinus costofrenikus kanan dan kiri lancip
Ke 2 diafragma licin

Kesimpulan : cor dan pulmo dalam batas normal

Hasil pemeriksaan laboratorium : 26 November 2021


Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Hematologi
Hemoglobin 11,9 g/dl 12.0 - 14.0 g/dl
Leukosit 18,29 103/mm3 5.0 - 10.0 103/mm3
Trombosit 239 103/mm3 150 – 400 103/mm3
Hematocrit 35 % 37.0 – 43.0 %
MCV 84 fL 82.0 – 92.0 fL
MCH 28 pg 27.0 – 31.0 pg
MCHC 34 % 32.0 – 36.0 %
RDW -CV 16,3 % 11.5 - 14.5 %
II. ANALISA DATA
No Data Etiologi Problem
1 Data Subjektif : Agen pencedera fisiologi Nyeri akut
Deskripsi Nyeri :
P : nyeri karena proses
penyakit
Q : seperti tertusuk-
tusuk jarum
R : nyeri pada perut bagian
bawah
S 6
- T : nyeri hilang timbul
- Ny.D mengatakan
merasakan nyeri di perut
bagian tengah
- Ny.D juga mengatakan
merasakan nyeri sampai ke
ari-ari
Data Objektif :
- Pasien tampak
meringis
- Pasien tampak
gelisah
- TD= 100/69
mmHg
- RR= 19x/mnt
- T= 36.40 C N= 90 x/menit
2. DS : Nafsu Defisit nutrisi
makan
 Pasien mengatakan menurun
nafsu makannya

menurun sejak Defisit nutrisi
setelah operasi
 Pasien mengatakan
mudah letih
 Pasien mengatakan
makan 3x sehari dan
hanya menghabiskan
setengah porsi.

 Pasien mengeluh
mual
DO:
 BB saat ini: 58 kg
 BB sebelum operasi 75 kg
 Hb: 11.9 g/dL
III. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
NO SDKI SLKI SIKI
1 Nyeri akut (D.0077) 1. Tingkat nyeri (L.08066) 1. Manajemen nyeri (I.08238)
Kriteria Hasil : Tindakan
Gejala &Tanda Mayor :
- Keluhan nyeri dari meningkat ke Observasi
a. Subjektif menurun (5-1) - Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
Mengeluh nyeri - Meringis dari meningkat ke menurun frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
b. Objektif (5-1) - Identifikasi skala nyeri
- Tampak meringis - Kesulitan tidur dari meningkat ke - Identifikasi respon nyeri non verbal
- Bersikap protektif menurun (5-1) - Identifikasi factor yang memperberat dan
- Gelisah - Diaphoresis dari meningkat ke memperingan nyeri
- Frekuensi nadi meningkat menurun (5-1) Terapeutik
- Sulit tidur - Muntah dari meningkat ke menurun - Berikan terapi non farmakologi untuk
(5-1) mengurangi rasa nyeri
Gejalah & Tanda Minor
- Mual dari meningkat ke menurun (5-1) - Fasilitasi istirahat dan tidur
a. Subjektif - Anoreksia dari meningkat ke menurun Edukasi
(Tidak Tersedia) (5-1) - Jelaskan penyebab, periode, dan peicu nyeri
b. Objektif - Frekuensi nadi dari memburuk ke - Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Tekanan dara meningkat membaik (1-5) - Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
- Pola napas berubah - Pola napas memburuk ke membaik (1- - Anjurkan menggunakan analgesic yang
5) tepat
- Tekanan darah memburuk ke - Anjurkan teknik nonfarmakologi untuk
- Nafsu makan berubah membaik (1-5) mengurangi rasa nyeri
- Proses berfikir terganggu - Nafsu makan memburuk ke Kolaborasi
- Menarik diri membaik (1-5) Kolaborasikan pemberian analgesic
- Berfokus pada diri sendiri - Pola tidur memburuk ke membaik jika perlu
- Diaforesis (1- 5) 2. Kompres panas (I.08235)
Tindakan
2. Kontrol Nyeri (L.08063) Observasi
Kriteria Hasil :
- Melaporkan nyeri terkontrol dari - Identidikasi kontraindikasi kompres hangat

menurun ke meningkat (1-5) - Identifikasi kulit yang akan diberikan

- Kemampuan mengenali onset nyeri kompres hangat

dari menurun ke meningkat (1-5) - Periksa suhu alat kompres


- Monitor iritasi kulit atau kerusakan jaringan
- Kemampuan dari menurun ke
meningkat (1-5)
Terapeutik
- mengenali penyebab nyeri dari
- Pilih motode kompres yang nyaman dan
menurun ke meningkat (1-5)
mudah didapat
- Kemampuan menggunakan teknik non
- Pilih lokasi kompres
farmakologi dari menurun ke
- Balut alat kompres panas dengan kain
meningkat (1-5)
pelindung, jika perlu
- Keluhan nyeri dari meningkat ke
- Hindari menggunakan kompres pada
menurun (1-5)
jaringan yang terpapar terapi radiasi
Penggunaan analgesic dari menurun ke
meningkat (1-5)
Edukasi
3. Status kenyamanan (L.08064)
Jelaskan prosedur penggunaan
Kriteria Hasil :
kompres hangat
- Keluhan tidak nyaman dari meningkat
ke menurun (1-5) - Ajarkan cara menghindari keruskaan

- Gelisah dari meningkat ke menurun jaringan akibat panas

(1-5)
- Keluhan sulit tidur dari meningkat ke 3. Kompres dingin (I.08234)

menurun (1-5) Tindakan

- Mual dari meningkat ke menurun (1-5) Observasi

- Merintih dari meningkat ke menurun - Identidikasi kontraindikasi kompres hangat

(1-5) - Identifikasi kulit yang akan diberikan

- Menangis dari meningkat ke menurun kompres hangat

(1-5) - Periksa suhu alat kompres

- Pola tidur dari memburuk ke membaik - Monitor iritasi kulit atau kerusakan jaringa
(1-5) Terapeutik
- Pilih motode kompres yang nyaman dan
mudah didapat
- Pilih lokasi kompres
- Balut alat kompres panas dengan
kain pelindung, jika perlu
- Hindari menggunakan kompres pada
jaringan yang terpapar terapi radiasi
Edukasi
Jelaskan prosedur penggunaan
kompres hangat
- Ajarkan cara menghindari keruskaan
jaringan akibat panas

4. Terapi relaksasi (I.09236)


Tindakan
Observasi
- Identifikasi teknik relaksasi yang efektif
digunakan
- Monitor respon terhadap terapi relaksasi
Terapeutik
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan
nyaman
- Gunakan suara yang lembut
Edukasi
- Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis
relaksasi
- Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi
yang dipilih
- Anjurkan mengambil posisi yang nyaman
- Anjurkan rileks
Anjurkan mengulangi atau melakukan
teknik relaksasi
5. Teknik distraksi (I.08247)
Tindakan
Observasi
- Identifikasi teknik distraksi yang efektif
digunakan
Terapeutik
- Gunakan teknik distraksi
Edukasi
- Jelaskan manfaat teknik distraksi
- Anjurkan berlatih teknik distraksi
2 Defisit Nutrisi (D.0019) Status Nutrisi (L.03030) Manajemen Nutrisi (I. 03119)
Defenisi: asupan nutrisi tidak Luaran: Observasi:
cukupuntuk memenuhi
a. Porsi makanan yang dihabiskan  Identifikasi status nutrisi
kebutuan
b. Berat Badan atau IMT  Identifikasi alergi dan
c. Frekuensi makan intoleransi makanan
Nafsu makan
 Monitor asupan makanan
 Monitor berat
badan Terapeutik:
 Sajikan makanan secara menarik
dansuhu yang sesuai
Edukasi
 Ajarkan diet yang
diprogramkan Kolaborasi
 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrien yang dibutuhkan
Promosi Berat Badan
Observasi
 Identifikasi kemungkinan
penyebabBB kurang
 Monitor berat badan
Terapeutik
 Sediakan makanan yang tepat
sesuai kondisi pasien
 Berikan pujian kepada pasien
untuk peningkatan yang dicapai
Edukasi
 Jelaskan jenis makanan yg bergizi
tinggi, terjangkau.
IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
No Diagnosa Implementasi Evaluasi
1 Nyeri akut - Mengidentifikasi karakteristik S:
nyeri, durasi, dan frekuensi - Klien mengatakan nyeri
nyeri sedikit mulai berkurang
- Mengidentifikasi skala nyeri setelah dilakukan
- Mengidentifikasi faktor yang tindakan teknik nafas
memperberat nyeri dalam dan kompres
- Memberikan terapi non hangat
farmakologi untuk - Skala nyeri 4
mengurangi nyeri ( teknik O:
nafas dalam) - Klien tampak sedikit meringis
- Menjelaskan teknik kompres - TD : 120/88 mmHg
hangat untuk mengurangi N : 80x/mnt
nyeri P : 20 x/mnt
S : 36.7o C
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
2 Defesit nutrisi - Mengindentifikasi status nutrisi S:
- Mengidentifikasi alergi makanan - Klien mengatakan sudah
- Memonitor asupan makan mencoba untuk makan
- Memonitor berat badan sering tetapi masih mual
- Mengidentifikasi penyebab - Klien mengatakan masih
berat badan kurang tidak nafsu makan
- Menganjurkan untuk O:
makan sedikit tetapi sering - Klien tampak lemas
- Berat badan masih kurang
- Hb : 11.9 g/dl
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN MATERNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PLASENTA PREVIA

OLEH:
VISCA DWI FEBRIATI, S.Kep
2141312067
KELOMPOK T

PEMBIMBING AKADEMIK:
WEDYA WAHYU, S.Kp., M.Kep

PEMBIMBING CI KLINIK:
RAHMI AMELIA, S.TR.KEB

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
PLASENTA PREVIA

A. Pengertian Plasenta Previa


Plasenta previa merupakan plasenta yang berimplementasi pada segmen
bawah rahim (SBR) sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri
internum (OUI). Plasenta previa merupakan salah satu penyebab perdarahan
antepartum. Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pervaginam yang terjadi
pada kehamilan diatas 28 minggu. Sampai saat ini penyebab plasenta previa belum
diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga kuat menimbulkan
kelainan ini, yaitu multiparitas dan cacat rahim, riwayat bedah sesar, usia 35 tahun
atau lebih, ibu hamil yang merokok, riwayat kuretase, riwayat kehamilan ganda dan
riwayat miomektomi (Manuaba, 2014).
Plasenta previa ialah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Gejala
perdarahan awal plasenta previa pada umumnya hanya berupa perdarahan bercak
atau perdarahan ringan dan umumnya akan berhenti secara spontan. Jumlah
perdarahan yang terjadi sangat tergantung dari jenis plasenta previa.
Perdarahan dapat terjadi pada saat uterus merenggang dan tumbuh, tidak terasa
nyeri dan terlihat sebagai pengeluaran darah yang segar. Sering kali ditemukan
malpresentasi bagian presentasi janin. Terdapat risiko perdarahan pascapartum
yang lebih lanjut saat kekuatan retraksi segmen bawah uteri buruk setelah terjadi
plasenta previa. (Prawirohardjo, 2010; Medforth, 2012).

B. Epidimiologi

Plasenta previa banyak ditemukan pada ibu dengan kehamilan berisiko seperti
pada ibu dengan paritas tinggi, dan usia diatas 30 tahun, uterus yang cacat serta ibu
dengan kehamilan ganda. Pada beberapa rumah sakit, insiden plasenta previa
berkisar 1,7 % sampai dengan 2,9%. Insiden di negara maju lebih rendah yakni
sekitar 0,3-0,6 % dari seluruh persalinan atau kurang dari 1% yang disebabkan
berkurangnya jumlah ibu dengan paritas tinggi atau risiko tinggi. Kejadian plasenta
previa. Peningkatan penggunaan ultrasonografi dapat meningkatkan deteksi dini
plasenta previa. Kejadian plasenta previa adalah 1 dari 200 persalinan
(Prawirohardjo 2010; Quennan, 2012).
C. Klasifikasi

Ada empat macam jenis berdasarkan letaknya (Cunningham, 2010):

(1) Plasenta previa totalis yaitu ostium internum tertutup sama sekali
oleh jaringan plasenta,

(2) Plasenta previa parsialis yaitu ostium internum tertutup sebagian


oleh jaringan plasenta,

(3) Plasenta previa marginalis dimana tepi plasenta terletak pada bagian
pinggir ostium internum dan

(4) Plasenta letak rendah yaitu plasenta tertanam dalam segmen bawah
uterus, sehingga tepi plasenta sebenarnya tidak mencapai ostium
internum tetapi sangat berdekatan dengan ostium tersebut.

Kejadian yang paling khas pada plasenta previa yaitu perdarahan


rasa nyeri yang biasanya terlihat setelah kehamilan mendekati akhir
trimester kedua atau sesudahnya, perdarahan secara tiba-tiba. Pasien
dengan plasenta previa dapat digolongkan kedalam beberapa kelompok
(Cunningham, 2010) yaitu :

1) Kelompok dengan janin prematur tetapi tidak terdapat kebutuhan


yang mendesak untuk melahirkan janin tersebut,

2) Kelompok dengan janin dalam waktu 3 minggu menjelang aterm,

3) Kelompok yang berada dalam proses persalinan dan


4) Kelompok dengan perdarahan yang begitu hebat sehingga uterus
harus dikosongkan meskipun janin masih imatur. Penatalaksanaan
yang tepat adalah pengurangan aktivitas fisik, menghindari
pemeriksaan dalam dan pemberian cairan infus berupa elektrolit dan
tranfusi jika perdarahan terus menerus.

D. Etiologi

Etiologi plasenta previa belum diketahui secara pasti. Frekuensi plasenta previa
meningkat pada grande multipara, primigravida tua, bekas secsio sesarea, bekas
aborsi, kelainan janin, dan leioma uteri. Penyebab secara pasti belum diketahui
dengan jelas. Menurut beberapa ahli penyebab plasenta previa yaitu :
a. Plasenta previa merupakan implementasi di segmen bawah rahim dapat
disebabkan oleh endometrium di fundus uteri belum siap menerima implanmtasi,
endometrium yang tipis sehingga diberpulakan perluasan plasenta untuk mampu
memberikan nutrisi pada janin dan vili korealis pada chorion leave yang
persisten.
b. Etiologi plasenta previa belum diketahui pasti namun meningkat pada grande
multi para, primigravida tua, bekas secsio sesarea, bekas operasi dan leiomioma
uteri. (Norma, dkk. 2013)

Menurut Sofian (2012), penyebab plasenta previa yaitu :


a. Endometrium yang inferior
b. Chorion leave yang persesiten
c. Korpus luteum yang bereaksi lambat

Strassman mengatakan bahwa faktor terpenting adalah vaskularisasi yang


kurang pada desidua yang menyebabkan atrofi dan peradangan, sedangkan Brown
menekankan bahwa faktor terpenting ialah vili korealis persisten pada desidua
kapsularis.

E. Manifestasi klinis

Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan biasanya


terjadi pada akhir trimester II hingga trimester III atau sebelum persalinan,
perdarahan uterus keluar tanpa disertai rasa nyeri. Perdarahan pertama biasanya
sedikit kemudian berhenti sendiri, namun perdarahan berulng tanpa sebab yang
jelas akan timbul kembali. Pada plasenta letak rendah, perdarahan baru terjadi
pada saat mulai persalinan, bisa sedikit sampai banyak mirip dengan solusio
plasenta. Perdarahan berat disebabkan segmen bawah rahim tidak mampu
berkontraksi sekuat segmen atas rahim sehingga dapat menybabkan perdarahan
berlangsung hingga pasca persalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan
serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mudah
mengalami robekan. Robekan lebih mudah terjadi pada upaya pengeluaran
plasenta dengan tangan misalnya pada retensio plasenta sebagai komplikasi
plasenta akreta (Prawirohardjo, 2010).

F. Gejala dan Dampak Ibu dan Janin

Gejala dan dampak yang dapat terjadi pada ibu dan janin dengan kasus
plasenta previa adalah sebagai berikut:
(1) Gejala
Gejala-gejala plasenta previa ialah perdarahan tanpa nyeri, sering terjadi
pada malam hari saat pembentukan segmen bawah rahim, bagian terendah masih
tinggi diatas pintu atas panggul (kelainan letak). Perdarahan dapat sedikit atau
banyak sehingga timbul gejala. Biasa perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi
gambaran yang tidak berbeda dari abortus, perdarahan pada plasenta previa di
sebabkan karena pergerakan antara plasenta dengan dinding rahim.Biasanya
kepala anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub bawah rahim, kepala
tidak dapat mendekati pintu atas panggul, karena hal tersebut di atas, juga ukuran
panjang rahim berkurang maka plasenta previa lebih sering terdapat kelainan
letak(Rukiyah, 2010:205-206).

(2) Dampak
a. Bahaya pada ibu dengan plasenta previa jika terjadi, yaitu perdarahan yang
hebat, Infeksi sepsis dan emboli udara
b. Sementara bahaya untuk janinnya antara lain yaitu Hipoksia, Perdarahan dan
syok (Maryunani, 2013:138).

G. Faktor Risiko

Faktor risiko perdarahan antepartum untuk plasenta previa menurut


Prawiroharjo (2010) adalah paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misal bekas
bedah cesar atau miomektomi, perokok, cacat bekas bedah cesar, plasenta yang
terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dan eritoblastosis fetalis bisa yang dapat
menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga
menutupi sebagian atau seluruh segmen ostium uteri internum.
Faktor predisposisi plasenta previa menurut Jordan (2014) yang
merupakan faktor risiko plasenta previa adalah usia ibu > 35 tahun, Multiparitas,
ibu dengan riwayat bedah cesar, infertilitas buatan, perokok, Alpha Feloprotein
(AFP), ibu dengan kehamilan kembar, Jarak kehamilan yang terlalu dekat serta
riwayat ibu dengan kuretase. Manuaba (2012) menambahkan bahwa mioma
uteri dan malnutrisi merupakan juga merupakan faktor risiko plasenta previa.
Faktor risiko plasenta previa menurut Mochtar dalam Norma (2013)
adalah:
1. Usia ibu > 35 tahun
2. Paritas banyak
3. Endometrium cacat oleh karena bekas cesar atau bekas kuretase
4. Jarak persalinan yang dekat yaitu kurang dari 2 tahun
5. Mioma uteri
6. Polip endometrium
7. Kehamilan kembar
8. Ibu yang merokok
9. Riwayat plasenta previa sebelumnya
10. Adanya luka jaringan parut sehingga dapat menyebabkan hipoplasia
endometrium sedangkan faktor lainnya adalah reaksi korpus luteum
melambat.

H. Patofisiologi

Perdarahan antepartum disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi


pada trimester ketiga karena pada saat itu segmen bawah rahim lebih mengalami
perubahan karena berkaitan dengan semakin tuanya kehamilan.
Menurut manuaba (2014), implementasi plasenta disegmen bawah rahim
disebabkan:
a. Endomentriumdi fundus uteri belum siap menerima implantasi
b. Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu
memberikan nutrisi ke janin.
c. Vili korealis pada korion leave (korion yang gundul yang persisten.

Menurut Davood (2008), sebuah penyebab utama pada perdarahan trimester


tiga yaitu plasenta previa yang memiliki tanda khas dengan perdarahan tanpa rasa
sakit. perdarahan diperkirakan terjadi dalam hubungan dengan perkembangan
segmen bawah rahim (SBR) pada trimester tiga. Dengan bertambah tuanya
kehamilan, segmen bawah rahim (SBR) lebih melebar lagi dan serviks mulai
membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah rahim (SBR), pelebaran
segmen bawah rahim (SBR) dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh
plasenta yang melekat disitu tanpa diikuti tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari
dinding uterus. Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darahnya bewarna merah
segar,berlainan dengan darah yang disebabkanoleh solusio plasenta yang bewarna
kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya ialah sinus uteri yang robek karena
terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari
plasenta. Perdarahannya tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut
otot segmen bawah rahim (SBR) untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu,
sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala tiga dengan
plasenta yang letanya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan
terjadi.

I. Penatalaksanaan
Menurut Sukarni. I,. Sudarti (2014), penatalaksanaan plasenta previa yaitu:
(1) Konservatif

Dilakukan perawatan konservatif bila kehamilan kurang 37 minggu, perdarahan


tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal), tempat tinggal pasien
dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan dalam 1 menit). Perawatan
konservatif berupa:
(a) Istirahat
(b) Pemberian hematinik dan spasmolitik untuk mengatasi anemia
(c) Memberikan antibotik bila ada indikasi
(d) Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.

Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan


konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak
ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh
melakukan senggama.

(2) Penanganan aktif

Penanganan aktif bila perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan,


umur kehamilan 37 minggu atau lebih, anak mati. Penanganan aktif berupa persalinan
pervaginam dan persalinan per abdominal.
Penderita di persiapkan untuk pemeriksaan dalam diatas meja operasi.
(double set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pemeriksaan dalam
didapatkan:
(a) Plasenta previa margnalis,
(b) Plasenta previa letak rendah
(c) Plasenta previa lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah
matang, kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau
hanya sedikit maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada
partus pervaginam, bila gagal drips (sesuai dengan protap terminasi kehamilan).
Bila terjadi perdarahan banyak lakukan seksio caesarea.

Indikasi untuk melakukan seksio caesarea adalah:


(a) Plasenta previa totalis
(b) Perdarahan banyak tanpa henti
(c) Presentase abnormal
(d) Panggul sempit
(e) Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang)
(f) Gawat janin

Cara Menyelesaikan Persalinan pada Kehamilan dengan Plasenta Previa

Menurut Prawirohardjo (2010), cara menyelesaikan persalinan pada kehamilan


dengan plasenta previa adalah sebagai berikut:
(a) Seksio caesarea
Prinsip utama dalam melakukan seksio caesarea (adalah untuk menyelamatkan
ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan untuk hidup, tindakan
ini tetap di laksanakan).
Tujuan seksio caesarea yaitu melahirkan janin dengan segera sehingga uterus
dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan dan menghindarkan
kemungkinan terjadinya robekan pada servik uteri, jika janin di lahirkan pervaginam.
Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga
serviks uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek, selain itu, bekas
tempat implantasi plasenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan
vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.
Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.Lakukan
perawatan lanjut pasca bedah termasuk pemantauan perdarahan, infeksi dan
keseimbangan cairan masuk dan cairan keluar.

(b) Melahirkan pervaginam


Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1) Amniotomi dan akselerasi
Umunya dilakukan pada plasenta previa lateralis / marginalis dengan pembukaan
lebih dari 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta akan
mengikuti segmen bawah rahim dan di tekan oleh kepala janin. Jika kontraksi
uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi dengan infus oksitosin.
2) Versi baxton hicks
Tujuan melakukan versi braxton hicks ialah mengadakan temponade plasenta
dengan bokong (dan kaki) janin. Versi braxton hicks tidak dilakukan pada pada
janin yang masih hidup.

J. Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosis plasenta previa adalah sebagai berikut:

(1) Gejala klinis


Pertama ialah kita mengetahui gejala klinisnya terlebih dahulu, gejala
diantaranya yaitu:
(a) Gejala utama plasenta previa adalah pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri
dari biasanya, berulang, darah biasanya berwarna merah segar.
(b) Bagian terdepan janin tinggi (floating) sering di jumpai kelainan letak janin.
(c) Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal,
kecuali bila dilakukan periksa dalam sebelumnya, sehingga pasien sempat
dikirim ke rumah sakit. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent bleeding)
biasanya lebih banyak. Janin biasanya masih baik (Maryunani, 2013:138).

(2) Pemeriksaan fisik


(a) Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas
panggul (Nugroho, 2010:126)
(b) Pemerksaan inspekulo : pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah
perdarahan berasal dari ostium uteri internum atau dari kelainan serviks dan
vagina. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri internum, adanya
plasenta previa harus di curigai (Fauziyah, Y, 2012:74)

(3) Pemeriksaan penunjang


(a) USG untuk diagnosis pasti, yaitu menentukan letak plasenta.
(b) Pemeriksaan darah: hemoglobin, hematokrit (Nugroho, 2010:127)

K. Pemeriksaan Penunjang

1. Ultrasonografi
Penentuan lokasi plasenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak
menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin.
2. Pemeriksaan dalam
Adalah senjata dan cara paling akhir yang paling ampuh dibidang obstetric untuk
diagnostic plasenta previa namun harus hati – hati karena bahayanya sangat besar.
3. Pemeriksaan darah
Yaitu golongan darah, hemoglobin , hematokrit serta darah lengkap dan kimia
darah untuk menunjang persiapan operasi
4. Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian
tubuh janin.
5. Vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika
memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34
minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup
procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di
ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
6. Isotop Scanning
7. Pemeriksaan inspekula
Hati – hati dengan memakai sepekulum dilihat dari mana asal perdarahan apakah
dalam uterus atau dari kelainan serviks vagina varices yang pecah dan lain – lain.
8. Pemeriksaan radio isotope
Macam – macam pemeriksaan ini antara lain :
a. plasentografi jaringan lunak
b. sitografi
c. plasentografi inderek
d. anterigrafi
e. amnigrafi
f. radio isotopik plasentografi
(Prawirohardjo (2010)
L. Komplikasi

Ada beberapa komplikasi yang bila terjadi pada ibu hamil dengan plasenta previa
menurut manuaba (2014), yaitu :
1. Komplikasi pada ibu
a. Dapat terjadi anemi bahkan syok
b. Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh
c. Infeksi pada perdarahan yang banyak

2. Komplikasi pada janin


a. Kelainan letak janin
b. Prematuritas, morbiditas dan mortalitas yang tinggi
c. Asfiksia intauterine sampai dengan kematian
ASUHAN KEPERAWATAN
RETENSIO PREVIA

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal untuk mengumpulkan informasi tentang klien yang
dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah serta kebutuhan dan
kesehatan klien meliputi :

1. Pengumpulan data

 Anamnesa
 Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan,
alamat, medicalrecord dll.
 Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28
minggu/trimester III.
 Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
 Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek; terbentuknya SBR,
terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal.
 Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan pembuluh
darah dan placenta.
 Inspeksi
 Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.
 Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
 Palpasi abdomen
 Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
 Sering dijumpai kesalahan letak
 Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya
kepala masih goyang/floating

2. Riwayat Kesehatan

 Riwayat Obstetri
Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan
sebelumnyaagar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada
kehamilansekarang. Riwayat obstetri meliputi:
- Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)
- Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi
- Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong
persalinan
- Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
- Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan perdarahan.
- Komplikasi pada bayi
- Rencana menyusui bayi
- Riwayat mensturasi
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). TP
ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP
berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh,
bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan.

 Riwayat Kontrasepsi

Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin,


ibu, ataukeduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada saat
kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut
pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan
organ seksual pada janin.

 Riwayat penyakit dan operasi:

Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek
buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur operasi,
dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di dokumentasikan

3. Pemeriksaan fisik

a. Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil :
1) Rambut dan kulit
Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra. Striae
atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Laju pertumbuhan
rambut berkurang.
2) Wajah
Mata : pucat, anemis, Hidung, Gigi dan mulut
3) Leher
4) Buah dada / payudara
Peningkatan pigmentasi areola putting susu
Bertambahnya ukuran dan noduler
5) Jantung dan paru
Volume darah meningkat, Peningkatan frekuensi nadi, Penurunan resistensi
pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal, Terjadi hiperventilasi
selama kehamilan, Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas,
Diafragma meningkat, Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan
dada.

6) Abdomen
Menentukan letak janin, Menentukan tinggi fundus uteri
7) Vagina
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda
Chandwick), Hipertropi epithelium
8) Sistem musculoskeletal
Persendian tulang pinggul yang mengendur, Gaya berjalan yang canggung,
Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal.

b. Khusus
1) Tinggi fundus uteri
2) Posisi dan persentasi janin
3) Panggul dan janin lahir
4) Denyut jantung janin

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipovelemia b/d kehilangan cairan aktif (perdarahan) (D.0023)
2. Nyeri Akut b/d Agen Pencedera Fisiologis (D.0077)
3. Risiko Syok b/d kekurangan volume cairan (D.0039)
4. Risiko Infeksi b/d Efek prosedur invasif (D.0142)

C. Rencana keperawatan dan intervensi

NO. SDKI SLKI SIKI


1. Hipovelemia Sebte/dlah dilakukan tindakan Manajemen Perdarahan
kehilangan cairan kaekpteifrawatan selama 1x24 jam Pervaginam Pascapersalinan
(perdarahan) diharapkan “Status Cairan (I.02045) :
(D.0023) (L.03028) menurun, dengan kriteria Observasi
hasil: 1. Periksa uterus (mis.
TFU sesuai hari melahirkan,
No. Indikator Skala membulat dan
1. Kekuatan 4 keras/lembek)
nadi 2. Identifikasi penyebab
2. Turgor kulit 4 kehilangan darah (mis.
3. Dyspnea 4 Atonia uteri atau robekan
4. Perasaan 4 jalan lahir)
lemah 3. Identifikasi keluhan ibu
5. Frekuensi 4 (mis. Keluar banyak darah,
nadi pusing, pandangan kabur)
6. Tekanan 4 4. Identifikasi riwayat
darah perdarahan pada kehamilan
7. Tekanan nadi 4 lanjut (mis. Abruption, PIH,
8. Membran 4 dan plasenta previa)
mukosa 5. Monitor risiko
9. Kadar Hb 4 terjadinya perdarahan
10. Kadar Ht 4 6. Monitor jumlah
11. Intake cairan 4 kehilangan darah
7. Monitor kadar Hb, Ht,
Keterangan (no.1-2) :
PT, dan APTT sebelum dan
1 : menurun
sesudah perdarahan
2 : cukup menurun
8. Monitor fungsi
3 : sedang
neurologi
4 : cukup meningkat
9. Monitor membran
5 : meningkat
mukosa, bruising, dan adanya
petechie
Keterangan (no.3,4) :
1 : meningkat
Terapeutik
2 : cukup meningkat
10. Lakukan penekanan pada
3 : sedang
area perdarahan, jika perlu
4 : cukup menurun
11. Berikan kompres dingin,
5 : menurun
jika perlu
12. Pasang oksimeteri
13. Berikan oksigen nasal
Keterangan (no.5-11) : kanul 3liter /menit
1 : memburuk 14. Posisikan supine
2 : cukup memburuk 15. Pasang IV line dengan
3 : sedang selang infus transfusi
4 : cukup membaik 16. Pasang kateter untuk
5 : membaik meningkatkan kontraksi
uterus
17. Lakukan pijat uterus untuk
merangsang kontraksi
uterus.

Kolaborasi
18. Kolaborasi pemberian
transfusi darah, jika
perlu
19. Kolaborasi pemberian
uterotonika, antikoagulan,
jika perlu
2. Nyeri Akut b/d Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (I.08238) :
Agen Pencedera keperawatan selama 1x24 jam Observasi :
Fisiologis diharapkan “Tingkat Nyeri (L. 1. Identifikasi lokasi,
(D.0077) 12111) menurun, dengan kriteria karakteristik, durasi,
hasil: frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri
No. Indikator Skala 2. Identfikasi skala nyeri
1. Keluhan 4 3. Identifikasi faktor yang
Nyeri memperberat dan
2. Ketegangan 4 memperingan nyeri
otot 4. Monitor efek samping
3. Frekuensi 4 penggunaan analgetik
nadi Terapeutik
4. Tekanan 3 5. Berikan teknik
darah nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Keterangan (no.1,2) : 6. Fasilitasi istirahat dan
1 : meningkat tidur.
2 : cukup meningkat
3 : sedang Edukasi :
4 : cukup menurun 7. Jelaskan penyebab, periode,
5 : menurun dan pemicu nyeri
8. Jelaskan strategi
Keterangan (no.3,4) : meredekan nyeri
1 : memburuk 9. Anjurkan
2 : cukup memburuk menggunakan analgetik
3 : sedang secara tepat
4 : cukup membaik 10.Anjurkan teknik
5 : membaik nonfarmokologis untuk
mengurangi rasa nyeri.

Kolaborasi
11. Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu.

3. Risiko Syok b/d Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Syok (I.02068) :


kekurangan keperawatan selama 1x24 jam Observasi
volume cairan diharapkan Tingkat Syok (L.03032) 1. Monitor status
(D.0039) meningkat, dengan kriteria hasil: kardiopulmonal (frekuensi
No. Indikator Skala dan kekuatan nadi,
1. Kekuatan 4 frekuensi napas, TD,
nadi MAP).
2. Tingkat 4 2. Monitor status oksigenasi
kesadaran (oksimetri nadi, AGD)
3. Monitor status cairan
3. Saturasi 4 (masukan dan haluaran,
oksigen turgor kulit, CRT)
4. Akral dingin 4 4. Monitor tingkat kesadaran
5. Pucat 4 dan respon pupil.
6. Letargi 4 5. Periksa riwayat alergi
7. Mean arterial 4
pressure Terapeutik
8. Tekanan 4 6. Berikan oksigen untuk
darah sistolik mempertahankan saturasi
9. Tekanan 4 oksigen >94%
darah 7. Persiapkan intubasi dan
diastolik ventilasi mekanis, jika
10. Frekuensi 4 perlu
nadi 8. Pasang jalur IV, jika perlu
11. Frekuensi 4 9. Pasang kateter urine untuk
napas menilai prduksi urine, jika
perlu
10. Lakukan skin test untuk
Keterangan (no.1-3) :
mencegah reaksi alergi
1 : menurun
2 : cukup menurun
Edukasi
3 : sedang
11. Jelaskanrisiko syok
4 : cukup meningkat
penyebab/faktor syok
5 : meningkat
12. Jelaskan tanda dan gejala
awal syok
Keterangan (no.4-6) :
13. Anjurkan melapor jika
1 : meningkat
menemukan/merasakan
2 : cukup meningkat
tanda dan gejala awal syok
3 : sedang
14. Anjurkan memperbanyak
4 : cukup menurun
asupan cairan oral
5 : menurun
15. Anjurkan menghindari
allergen
Keterangan (no.7-11) :
1 : memburuk
Kolaborasi
2 : cukup memburuk
16. Kolaborasi pemberian IV,
3 : sedang
jika perlu
4 : cukup membaik
17. Kolaborasi pemberian
5 : membaik
transfuse darah, jika perlu
18. Kolaborasi pemberian
antiinflamasi, jika perlu.
4. Risiko Infeksi b/d Setelah dilakukan tindakan
Efek prosedur keperawatan selama 1x24 jam
invasif diharapkan “Tingkat Infeksi” Pencegahan Infeksi (I.14539)
(D.0142) (L. 14137) menurun, dengan :
kriteria hasil: Observasi
NO. Indikator Skala 1. Monitor tanda dan gejala
1. Kemerahan 4 infeksin local dan sistemik
2. Nyeri 4 Terapeutik
3. Periode malaise 4 2. Batasi jumlah pengunjung
4. Letargi 4 3. Cuci tangan sebelum dan
5. Gangguan 4 sesudah kontak dengan
kognitif pasien dan lingkungan
6. Kadar sel darah 4 pasien
putih 4. Pertahankan teknik aseptik
pada pasien yang beresiko
Keterangan (no.1-5) : tinggi
1 : meningkat Edukasi
2 : cukup meningkat 5. Jelaskan tanda dan gejala
3 : sedang infeksi
4 : cukup menurun 6. Ajarkan cara mencuci
5 : menurun tangan dengan benar
7. Ajarkan etika batuk
Keterangan (no.6) : 8. Ajarkan cara memeriksa
1 : memburuk kondisi luka atau luka
2 : cukup memburuk operasi
3 : sedang 9. Anjurkan meningkatkan
4 : cukup membaik asupan nutrisi
5 : membaik 10. Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
Kolaborasi
11. Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu.
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F., Leveno, K.., Bloom, S., Hauth, J., Rouse, D., Spong, C. (2010). Williams
Obstetrics,( 23rd ed.). San Francisco: The Mc Graw-Hill Companies

Davood S, Parviar K, Ebrahimi S (2008). Selected pregnancy variables in women with


placenta previa. Res. J. Obstet Gynecol, 1: 1-5.

Fauziyah, Y. (2012). Obstetri Patologi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan.


Yogyakarta: Nuha medika.

Manuaba, I. (2012). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB Untuk


Pendidikan Bidan, Ed. 2. Jakarta: EGC

Manuaba, I. (2014). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB Untuk


Pendidikan Bidan, Ed. 2. Jakarta: EGC

Maryunani, Anik. (2013). Asuhan Kegawatdaruratan Maternal & Neonatal. Jakarta :


Trans Info Medika
.
Medforth J, et al. Walker A. 2012. Kebidanan Oxford : Dari Bidan untuk Bidan.
Jakarta: EGC

Norma, Nita, dkk, 2013. Asuhan Kebidanan Patologi Teori dan Tinjauan Kasus.
Yogyakarta : Nuha Medika

Nugroho, T. 2010. Buku Ajar Obstetri. Yogyakarta : Nuha Medika

PPNI, P. S. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI, P. S. (2018). Standart Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI, P. S. (2019). Standar Luaran keperawatan Indonesia. Jakarta : DPP PPNI.

Prawirohardjo, S. (2008). Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


Jakarta

Sofiian, A, 2011. Sipnosis Obstetri, Edisi 3, Jilid 1. Jakarta : EGC

Queenan J, Spong C, Lockwood C. 2012. Queenan’s Management of High Risk Pregnancy


An Evidence-Based Approach sixth edition. England. Willey Blackwell
LAPORAN KASUS
KEPERAWATAN MATERNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PLASENTA PREVIA

OLEH:
VISCA DWI FEBRIATI, S.Kep
2141312067
KELOMPOK T

PEMBIMBING AKADEMIK:
WEDYA WAHYU, S.Kp., M.Kep

PEMBIMBING CI KLINIK:
RAHMI AMELIA, S.TR.KEB

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2021
FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU NIFAS

I. PENGKAJIAN
Hari/ tanggal : Senin / 22 November 2021
Oleh : Visca Dwi Febriati
A. Identitas

Pasien Penanggung Jawab : Tn. R

Nama : Ny. S

Umur : 35th

Agama : Islam

Pendidikan : Sarjana

Pekerjaan : IRT

Alamat : Muara Labuh, Solok Selatan

Tanggal Partus : 19 November 2021

Jenis Partus : Sectio Caeseria

B. Riwayat Kesehatan

1. Keluhan Utama

Pasien rujukan dari RSUD Solok datang ke IGD RSUP M. DJAMIL Padang dengan
keluhan perdarahan hebat pasca partus anak ketiga dan diagnose plasenta previa totalis.

2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Saat pengkajian pada tanggal 22 November 2021 pasien mengeluh pusing, batuk disertai

dahak yang sulit dikeluarkan, pasien juga mengeluh nyeri pada bekas sc dan nyeri pada

kedua payudara pasien mengatakan dirinya merasa cemas terhadap kondisinya dari awal

didiagnosa plasenta previa totalis karena pengangkatan rahim total pasien saat itu tidak

tahu,
saat mengetahui setelah sadar dan pasien merasa cemas bayinya lahir yang belum cukup

bulan tidak mendapatkan ASI karena ASI nya tidak mau keluar sejak pasca partus, dan

pasien juga mengatakan mengalami ini untuk pertama kalinya. Pasien juga mengatakan

dirinya sudah tidak menjadi wanita sempurna karena rahim sudah diangkat total. Pasien

tampak gelisah, pasien tampak cemas, pasien tampak lemah dan tampak pucat. Pasien

tampak terpasang Ringer Lactat dan transfusi darah sebanyak 4 kantong. Golongan darah

pasien O dengan rhesus +.

3. Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan pernah melahirkan dengan sectio caesaria pada anak pertama dan
kedua. Pasien mengatakan tidak ada mempunyai riwayat hipertensi dan diabetes mellitus.
C. Riwayat Obstetri P3 A0

No L/P Usia BBL Cara Penolong ASI Komplikasi


Lahir Persalinan
1 P 10 th 3,8 kg SC Dokter Ada Tidak ada
tidak
lancar
2 L 6 th 2,9 kg SC Dokter Ada Tidak ada
tidak
lancar
3 L 6 hari 3,1 kg SC Dokter Tidak Plasenta
ada Previa
Totalis

D. Riwayat Kehamilan Sekarang

1. Gangguan pada hamil muda :

Pasien mengatakan saat hamil anak pertama mual dan sempat kurang nafsu makan , dan saat
melahirkan panggul sempit. Pasien juga mengatakan saat hamil sekarang baru diperiksa
kehamilan setelah 4 minggu hamil.

2. Tempat memeriksakan kehamilan :

Pasien mengatakan pemeriksaan kehamilan di posyandu puskesmas daerahnya.

3. Obat yang diberikan :

Pasien mengatakan obat yang diberikan oleh posyandu adalah Vit. B Komplek dan Obimin
AF (penambah darah).

4. Nutrisi selama hamil :

Pasien mengatakan saat hamil tidak terkendala nafsu makan, biasanya makan 3-4 kali sehari
dengan nasi, lauk, sayur dan buah. Pasien juga mengatakan tidak ada pantangan makan
selama hamil.

E. Riwayat persalinan
1. Jenis persalinan :Pasien mengatakan persalinan anak pertama dan kedua persalinan
SC dengan penolong persalinan oleh dokter.

2. Lama persalinan : kurang lebih 6 jam

3. Jumlah perdarahan : kurang lebih 2000 cc

4. Keadaan umum : Pasien tampak lemas dan pucat

F. Riwayat Kontrasepsi

1. Jadi akseptor / tidak : Ya

2. Jenis kontrasepsi : KB Suntik

3. Lama : 6 bulan setelah melahirkan anak pertama

4. Keluhan selama menjadi akseptor : Nafsu makan bertambah menjadi obesitas

G. Data Psikologis

1. Empati Sensitivitas terhadap Isyarat Bayi : Pasien mengatakan selama merawat anak
pertama dan kedua, pasien mengerti isyarat bayi ketika menangis berarti haus atau berarti
bayi basah/pipis. Pasien mengatakan bayi saat ini jauh dari dekapannya yaitu di RSUD
Rasidin Padang karena ruang bayi di RSUP M jamil saat itu penuh.

2. Respon ibu ketika bayi menangis : Pasien mengatakan biasanya akan mendekapkan atau
memeluk bayi dan menyusui bayi. Pasien juga mengatakan akan memeriksa tubuh bayi
apakah basah atau tidak.

3.Konsep diri: Pasien mengatakan bangga pada diri sendiri saat ini sudah melahirkan 3 anak
tetapi untuk anak ke4 tidak bisa karena rahim sudah diangkat secara total, pasien
mengatakan sebagai perempuan , ia menganggap sudah tidak sempurna lagi dan pasien
tampak cemas dan sedih.

a. Kepuasan ibu terhadap kelahiran : Pasien mengatakan puas terhadap kelahiran ini tetapi
kaget dan cemas setelah mengetahui rahimnya diangkat.

b. Penerimaan diri ibu : Pasien mengatakan pasrah terhadap kondisinya, dan mungkin ini
sudah jalannya tidak bisa hamil lagi.

a. Harga diri :
1) Perubahan apa yang ibu rasakan setelah mengalami persalinan: Pasien
mengatakan sebagai perempuan kaget dan cemas mengetahui rahim nya
diangkat secara total.

2) Apakah ada hal penting yang dipikirkan saat ini: Pasien


mengatakan saat ini memikirkan anaknya yang baru lahir tidak ada
didekapannya dan cemas ASInya tak kunjung keluar , alhasil anak yang baru
lahir dibantu susu formula.

3) Kesesuaian antara harapan dan kenyataan

Pasien mengatakan tidak menyangka akan melahirkan anaknya di usia


kehamilan 7 bulan.

4) Sikap ibu terhadap persalinan dan merawat bayi

Pasien mengatakan ingin bertemu bayinya namun masih dirawat di

RSUD.

4. Pengalaman melahirkan: Bagaimana persepsi ibu terhadap pengalaman


melahirkan

Pasien mengatakan mengalami nyeri di bekas operasi dan aktivitas menjadi


terganggu

5. Kecemasan.

a. Apa respon ibu jika bayi sakit

Pasien mengatakan jika anaknya sakit akan dibawa berobat ke puskesmas

b. Perilaku ibu saat bayi sakit

Pasien mengatakan akan cemas jika anaknya sakit yang tidak kunjung sembuh

6. Depresi

a. Apakah ibu tampak diam dan menarik diri : Tidak ada

b. Apakah ibu tampak menangis : Tidak ada

7. Konflik peran.

a. Apakah ibu menerima peran sebagai ibu : Ya


b. Bagaimana dengan pekerjaan ibu: Pasien mengatakan tidak bekerja

c. Bagaimana menjalankan tugas sebagai istri : Butuh bantuan dari suami

8. Dukungan Sosial ( suami dan keluarga) : Pasien mengatakan selama merawat anak
biasanya dibantu oleh suami dan selama di rumah sakit suami memberikan dukungan
penuh kepada istrinya.

9. Bonding Attachment: score gray


H. Pemenuhan kebutuhan dasar

a. Nutrisi : Pasien mengatakan tidak memiliki alergi terhadap makanan dan pasien
mengatakan selama di rumah sakit makan 3x dalam sehari dengan porsi 1 piring tidak habis
karena nasinya keras. Diit MB TKTP ( Nasi + Lauk + Sayur + Buah)

b. Eliminasi : Pasien tampak terpasang kateter dengan warna urine kuning kemerahan,
pasien mengatakan biasanya BAK 5-6x/hari , dan BAB 1 x/ hari dengan konsistensi lembek
warna kuning.

c. Oksigenasi : Pasien mengatakan sesak dan mengeluhkan batuk dengan dahak yang tak
kunjung keluar, Pernapasan 22x/menit

d. Aktivitas dan Istirahat : Pasien mengatakan sudah bisa duduk ditempat tidur namun untuk
berjalan masih perlu bantuan.

e. Pola Tidur : Pasien mengatakan tidur nyenyak dan tidak ada masalah

f. Seksualitas : Pasien mengatakan dalam berhubungan seks tidak ada masalah namun untuk
saat ini tentu perlu dipikir dulu karena Rahim pasien sudah diangkat

I. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum : Composmentis

Kesadaran : GCS 15
TTV : TD : 120/67 mmHg N: 90x/I S: 36,5°C RR: 22x/i

2. Mata : Konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik

3. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

4. Dada/ mammae

a. Inspeksi :

Kebersihan : payudara tampak bersih

Kesimetrisan : payudara simetris

Hiperpigmentasi : tampak berwarna gelap pada seputar

aerola bentuk papilla : papilla tampak menonjol


pembengkakan : tidak tampak pembengkakan

Kolostrom / ASI : belum tampak kolostrom keluar

b. Palpasi : pasien mengatakan nyeri jika ditekan pada kedua payudara

Nyeri tekan / tidak : Ada

kolostrum / ASI : Belum ada


5. Abdomen

a. Inspeksi

Bentuk : perut tampak diperban bekas sc, tampak stretch marks

Kebersihan : perut tampak bersih

Striae : tampak striae

gavidarum Hiperpigmentasi: tampak

berwarna putih Linea nigra : tidak ada

b. Palpasi :

Nyeri tekan : tidak ada

TFU : tidak dapat dilakukan

luka post operasi: Nyeri dan dibawah pusat

keadaan luka : Luka belum dibersihkan dan belum dibuka

jumlah jahitan: tidak dapat dikaji

massa : tidak teraba massa

vesika urinaria : terpasang

kateter Bowel : belum BAB

c. Auskultasi : bising usus normal


6. Genetalia

a. Vagina :

jenis lokhea :

Jumlah :

Konsistensi :

b. Perineum (Utuh/ Epiostomi/ Ruptur)

1) Episiotomi : tidak terkaji

Tipe :-

jumlah jahitan : -

2) Ruptur : tidak terkaji

jumlah jahitan : -

Keadaan jahitan : REEDA

7. Ektrimitas

a. Edema : tidak ada

b. Tanda Homan : tidak ada

c. Ada/ tidak infus : tidak terpasang infus


J. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Hemoglobin 7,7 g/dL 12.0 - 14.0

Leukosit 33,35 103/mm3 5.0 - 10.0

Hematokrit 23 % 37.0 - 43.0

Trombosit 163 103/mm3 150 - 400

MCV 84 fL 82.0 – 92.0

MCH 28 pg 27.0 – 31.0

MCHC 33 % 32.0 – 36.0

Kesimpulan : Anemia Berat

2. Radiologi / USG

K. Tindakan yang dilakukan

1. Jenis tindakan ( misal: SC )

SC dengan histerektomi

2. Tanggal : 19/11/2021

Jenis anestesi : spinal

L. Terapi obat

- Ceftriaxone 2x1 gr

- Netronidae 3x500 gr

- Paracetamol 3 x 500 mg

- SF 2x180mg

- Vit C 3 x 50 mg
II. ANALISA DATA

No Data Etiologi Problem


1 DS: Ekstrinsik (debu) Bersihan jalan nafas
a. Pasien mengatakan sesak dan tidak efektif b.d
batuk yang sulit dikeluarkan Hipersensitivitas penggunaan otot
dahaknya bantu pernapasan
Permebialitas kapiler
DO: meningkat
a. Pasien tampak sesak
b. Pasien tampak penggunaan Edema mukosa bronkus
otot pernapasan
c. Ronkhi (+) Bersihan jalan nafas tidak
d. TD : 120/67 mmHg efektif
N: 90x/i
S: 36,5°C
RR: 22x/i

2 DS: Agen pencedera fisik (luka Nyeri melahirkan b.d


a. Pasien mengatakan nyeri pada post operasi) post partum fisiologis
payudara dan bekas sc, nyeri
skala 5, nyeri datang saat Terputusnya kontinistor
beraktivitas, nyeri terasa jaringan
melilit, durasi nyeri kurang
lebih 1 menit. Mengeluarkan zat-zat
proteolitik (bradykinin,
DO: histamin, prostaglandin)
a. Pasien tampak meringis
b. TD : 120/67 mmHg Respon Nyeri
N: 90x/i
S: 36,5°C
RR: 22x/i
Nyeri Melahirkan
3 DS: pasien mengatakan badannya Tindakan SC Risiko Infeksi b.d efek
terasa lemas prosedur insisi
DO: Terputusnya kontiniutas
a. Tampak bekas luka operasi jaringan akibat prosedur
dengan posisi luka vertical, pembedahan
luka tampak tertutup perban
dengan ukuran ± 15 cm Risiko Infeksi
b. Leukosit 33,35 103/mm3
III. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa SIKI SLKI


1 Bersihan jalan nafas Pertukaran Gas Manajemen Jalan Napas
tidak efektif b.d Tujuan: Setelah dilakukanObservasi:
penggunaan otot tindakan keperawatan 3x24
 Monitor pola napas
bantu pernapasan jam oksigenasi dan/atau
 Monitor bunyi napas tambahan
eliminasi karbondioksida pada
 Monitor sputum
membran alveolus-kapiler
(jumlah,warna,aroma)
Normal.
Terapeutik
Kriteria Hasil :
a. Batuk efektif
 Pertahankan kepatenan jalan napas
meningkat ke 4
 Posisikan semi fowler atau fowler
b. Produksi sputum
 Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
menurun ke 4
 Lakukan penghisapan lendir kurang
c. Mengi menurun ke 4
dari 15 detik
d. Gelisah menurun ke 4
 Berikan oksigen, jika perlu
e. Pola napas membaik
Edukasi
ke 4
 Anjurkan asupan cairan
2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
Pemantauan Respirasi
Observasi:

 Monitor pola nafas


 Monitor frekuensi, irama,
kedalaman dan upaya napas
 Monitor saturasi oksigen, monitor
nilai AGD
 Monitor adanya sumbatan jalan
nafas
 Monitor produksi sputum
Terapeutik
 Atur Interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi ps
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
Informasikan hasil pemantauan, jika
perlu

2 Nyeri melahirkan Tingkat Nyeri Manajemen nyeri


Tujuan: Setelah dilakukanObservasi:
tindakan keperawatan 3x24  Identifikasi lokasi, karakteristik,
jam diharapkan tingkat nyeri durasi, frekuensi, kualitas,
menurun intensitas nyeri
Kriteria Hasil :  Identifikasi skala nyeri
 Identifikasi respons nyeri non
a. Frekuensi nadi cukup
verbal
membaik ke 4
 Identifikasi faktor yang
b. Pola napas cukup
memperberat dan memperingan
membaik ke 4
nyeri
c. Keluhan nyeri cukup  Identifikasi pengetahuan dan
menurun ke 4 keyakinan tentang nyeri
 Identifikasi pengaruh nyeri pada
d. Meringis cukup
kualitas hidup
menurun ke 4
 Monitor efek samping
e. Gelisah cukup
penggunaan analgetik
menurun ke 4
Terapeutik:
 Berikan teknik nonfarmakologi
untuk mengurangi rasa nyeri
 Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
 Fasilitasi istirahat dan tidur
 Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
 Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
 Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu

3 Risiko Infeksi Tingkat Infeksi Pencegahan infeksi


Tujuan: Setelah dilakukanObservasi:
tindakan keperawatan 3x24  Monitor tanda gejala infeksi lokal
jam glukosa derajat infeksi dan sistemik
menurun. Terapeutik
Kriteria Hasil :  Batasi jumlah pengunjung
a. Kemerahan cukup  Berikan perawatan kulit pada
menurun ke 4 daerah edema
b. Nyeri cukup menurun  Cuci tangan sebelum dan sesudah
ke 4 kontak dengan pasien dan
c. Kadar sel darah putih lingkungan pasien
cukup membaik ke 4  Pertahankan teknik aseptik pada
pasien berisiko tinggi
Edukasi
 Jelaskan tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara memeriksa luka
 Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian imunisasi, Jika
perlu
IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

No Diagnosa Implementasi Evaluasi


1. Bersihan jalan nafas tidak a. Memonitor TTV dan KU S:
efektif b. Memonitor pola napas - Pasien mengeluh batuk dahak
c. Memonitor bunyi yang sulit dikeluarkan
napas tambahan O:
d. Mengatur posisi pasien semi - Pasien tampak sesak
fowler / fowler - Ronkhi (+)
e. Mengajarkan untuk batuk - TD : 127/92 mmHg
efektif - N : 92x/i
- RR: 21 x/i
- S : 36,7°C
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan

2. Nyeri Melahirkan a. Memonitor KU S:


b. Mengidentifikasi lokasi, - Pasien mengatakan masih
karakteristik, durasi, mengeluh nyeri
frekuensi dan kualitas nyeri - Nyeri skala 3
c. Mengidentifikasi skala nyeri - Nyeri dirasakan melilit dan
d. Mengidentifikasi respon durasi 1 menit
nyeri non verbal O:
e. Memberikan analgesic - Pasien tampak meringis
(paracetamol) - TD : 127/92 mmHg
- N : 92x/i
- RR: 21 x/i
- S : 36,7°C
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan

3. Risiko Infeksi a. Memonitor KU S: Pasien mengatakan badannya


b. Mencuci tangan sebelum dan terasa lemas
sesudah kontak dengan pasien O: Tampak luka operasi
dan lingkungan pasien S : 36,7°C
c. Menganjurkan meningkatkan Leukosit 33,35 103/mm3
asupan nutrisi A: Masalah belum teratasi
d. Menganjurkan meningkatkan P: Intervensi dilanjutkan
asupan cairan