Anda di halaman 1dari 6

Stabilisasi Lereng untuk Pengendalian Erosi dengan Soil Bioengineering ………… (Aspian Noor, dkk)

STABILISASI LERENG UNTUK PENGENDALIAN EROSI


DENGAN SOIL BIOENGINEERING MENGGUNAKAN AKAR
RUMPUT VETIVER
(1) (1) (1)
Aspian Noor , Jurnadi Vahlevi dan Fathurrozi

(1)
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Banjarmasin

Ringkasan
Intensitas hujan yang cukup tinggi dengan durasi yang lama merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya erosi dan kelongsoran pada lereng yang kritis Air memberikan kon-
stribusi terhadap terjadinya kelongsoran terutama pada tanah tak jenuh air. Air masuk
kedalam tanah tak jenuh melalui: infiltrasi air permukaan, rembesan air dalam tanah dan
naiknya permukaan air tanah. Ke tiga peristiwa diatas merubah kondisi tak jenuh menjadi
kondisi jenuh air pada sebagian lapisan tanah. Akibatnya tanah mengalami perubahan
kondisi mula-mula (initial state), sehingga lapisan tanah ini akan mengalami pengurang-
an kohesi akibat genangan dan hujan deras yang terjadi dengan periode yang sukup
panjang serta memicu kelongsoran tanah pada bidang yang lemah. Upaya penanganan
melalui rekayasa geoteknik dengan menggunakan teknik-teknik perkuatan tanah pena-
warkan penyelesaian dengan biaya yang sangat mahal dan hanya dapat dilakukan pada
lokasi-laoksai yang mudah dijangkau. Penggunaan sisten soil bioengineering seperti ve-
getasi merupakan salah satu penanganan kelongsoran lanjutan serta kelongsoran jangka
panjang yang perlu dipertimbangkan, memgingat beberapa keunggulannya. Dengan so-
lusi gree/bioengineering perlu pertimbangan yang tepat, berdasarkan iklim, tipe tanah
dan biaya. Pada daerah dengan kondisi iklim panas, tanah cukup kuat dan kohesif,
barangkali cukup hanya dengan ditutup rumput biasa sebagai proteksi lereng. Pada
kondisi ekstrim, pada daerah lereng curam dan tanah sangat mudah erosi, hujan sangat
berlimpah dan waktu masih memungkinkan (lereng yang baru dibentuk perlu segera
ditangani), maka penanaman vetiver perlu dipertimbangkan.
Kata Kunci : Stabilitas Lereng, Erosi, Soil Bioengineering, Akar Rumput Vetiver

1. PENDAHULUAN Kelongsoran dalam, adalah masalah


geotek-nik atau geologi, yang mencakup
Erosi Dan Problema Stabilitas geometri le-reng, kuat tanah, kondisi
Pergerakan massa tanah atau slip/slide yang cuaca/iklim, karakte-ristik air tanah, dan lain-lain
menyebabkan problema stabilitas, dibedakan yang memerlukan analisis stabilitas. lereng.
dalam 2 (dua) kategori, yaitu : kelongsoran Sedangkan kelong-soran dangkal agak sulit
dangkal dan kelongsoran dalam seperti ditam- diperhitungkan. Ke-longsoran dangjkal ini (1-2
pilkan pada Gambar 1. m), justru masalah yang banyak terjadi setelah
pembentukan le-reng (galian atau timbunan),
khususnya pada kawasan dengan intensitas
hujan tinggi dan durasi lama. Hal ini tetap dapat
muncul wa-laupun analisis lereng telah
menunjukkan le-reng mempunyai faktor
keamanan yang cukup.
Walaupun masalah erosi dan masalah stabi-
litas agak berbeda, namun sebagai masalah sa-
ling ada keterkaitan. Erosi adalah proses alami
dimana faktor luar seperti angin atau air mengi-
kis partikel tanah dan seringkali dipicu oleh hu-
jan yang mengikis lapis permukaan, membentuk
saluran atau sungai-sungai kecil dengan keda-
Gambar 1. Jenis kelongsoran laman 10-60 cm, lama kelamaan makin dalam
Jurnal POROS TEKNIK, Volume 3, No. 2, Juni 2011 : 69 - 74

sehingga menyebabkan lereng makin curam nas liar, nipah dan lain-lain. Namun demikian,
yang memicu ketidakstabilan (Agustin J, 2009). penggunaan tanama-tanaman tersebut menun-
Problem ketidakstabilan atau kelongsoran jukkan bebrapa kelemahan, misalnya:
dalam, merupakan permasalahan yang tergan- - Bambu yang tumbuh berumpun-rumpun, ti-
tung pada karakteristik geometrik lereng, sifat dak membuat baris pagar yang tertutup, se-
tanah dan air pori yang pada dasarnya problem hingga air banjir akan terkonsenterasi me-
geoteknik/geologi yang harus ditangani dengan ngalir pada gap antar rumpun, yang akan
studi analisis yang tepat. Dilain pihak, problem meningkatkan daya rusak air dan menye-
glincir dangkal, yang terletak pada kedalaman babkan erosi makin banyak terjadi.
60-250cm, tidak tersedia analisnya, sehingga - Bambu hanya memiliki sistem akar yang
menjadi problem kronis, apalagi dengan adanya dangkal (1-1.5 m), tidak sebanding dengan
hujan lebat dan material lerang yang sangat batang dan daunnya, sehingga rumpun
erosif (Agustin J, 2009). bambu menambah beban pada tebing su-
Masalah erosi dan kelongsoran pada u- ngai tanpa mendukung stabilitas lereng.
mumnya ditangani dengan mortared rip-rap, - Bambu dengan sistem akar rummpunnya,
shotcrete atau semacamnya untuk melapisi / menggrogoti tanah dibawahnya, menimbul-
menutupi lereng untuk mencegah infiltrasi air kan erosi dan menciptakan kondisi sede-
yang menyebabkan kelongsoran. Namun, tidak mikian rupa sehingga kelongsoran lebih be-
dalam semua kasus, hal ini berhasil. Ada 2 pen- sar.
dekatan, pertama dengan cara konvensional - Pohon bakau dapat membentuk zona pe-
yang keras/kaku yang sering digunakan, yaitu nyangga (buffer zone), proteksi yang sangat
dengan shotcrete, soil nailing, tanah bertulang, baik untuk mengurangi daya/tenaga ombak
dan lain-lain yang lebih mahal, atau kedua de- sehingga mengurangi erosi pantai, tapi me-
ngan pendekatan hijau yang lebih murah, lebih numbuhkan bakau sulit dan lama karena biji
baik estetikanya dan ramah lingkungan. sering dimakan oleh tikus, jadi berates-ratus
Penggunaan tanaman, khususnya penggu- hektar ditanam, hanya sebagian kecil yang
naan akar untuk tujuan memperkuat tanah pada tumbuh menjadi hutan.
daerah pergerakan dangkal (stabilitas lereng) - Pohon casuarinas dan nanas liar yang dita-
yang berfungsi sebagai paku/pasak tanah mulai nam pada bukit-bukit pasir, tebing sungai
diperhitungkan setelah beberapa parameter dan lain-lain, berfungsi dengan baik untuk
membuktikannya (Agustin J, 2009). mengurangi daya/tenaga angin dan badai
pasir tapi bukan aliran pasir Karena tidak
Soil Bioengineering membentuk garis pagar dan tidak mempu-
Istilah bioengineering secara umum dapat di- nyai sistem akar yang dalam.
definisikan sebagai suatu yang berkaitan de- Rumput atau tumbuhan pendek lainnya wa-
ngan penggunaan material hidup (living materi- laupun cukup baik untuk proteksi lereng, tetapi
al). Dalam hal ini rumput (vegetasi) tanpa peng- tidak efektif daerah dengan curah hujan intensif
gunaan material buatan (nonliving material) la- dan pada tanah sangat erosif, kemudian digu-
innya untuk mengatasi persoalan-persoalan tek- nakan pohon dengan jaringan akar yang dalam
nik tertentu (Redfield, 2000 dalam Santiawan dan lebih kuat untuk mengatasi problem perge-
2007). Akar merupakan bagian terpenting ka- rakan massa tanah dangkal. Namun, diperlukan
rena berkemampuan mengikat tanah sangat waktu 1-9 tahun sebelum pohon tumbuh dan
berguana untuk sistem konstruksi penahan le- berfungsi.
reng disamping akar dapat menyerap air dari Dengan solusi green/bioengineering perlu
dalam tanah dan dilepas ke atmosfir melalui pertimbangan yang tepat, berdasarkan iklim,
proses transpirasi yang dapat menurunkan te- tipe tanah dan biaya. Pada daerah dengan kon-
gangan air pori (Gray dan Robin, 1995 dalam disi iklim panas, tanah cukup kuat dan kohesif,
Santiawan 2007). Pertumbuhan batang tanam- barangkali cukup hanya dengan ditutup rumput
an mempengaruhi pencapaian kedalaman akar biasa sebagai proteksi lereng. Pada kondisi
tanaman seperti yang dikemukakan oleh Ris- ekstrim, pada daerah lereng curam dan tanah
munandar (Santiawan, 2007). sangat mudah erosi, hujan sangat berlimpah
dan waktu masih memungkinkan (lereng yang
2. VEGETASI UNTUK PENGENDALIAN baru dibentuk perlu segera ditangani), maka pe-
EROSI DAN STABILITAS LERENG nanaman vetiver perlu dipertimbangkan.
Bambu sebagai material mempunyai keku-
Penggunaan vegetasi sebagai bioenginee- atan yang sangat tinggi terhadap beratnya,
ring telah dicoba. Untuk erosi tebing sungai, dengan kuat tarik (265-388 MPa) mendekati
metode bioengineering yang paling umum digu- mild steel (480 MPa), namun bambu sebagai
nakan adalah dengan menanam bambu, se- material bangunan mempunyai kelemahan yaitu
dangkan untuk erosi pantai dengan bakau, na- keawetan yang kurang, sensitif terhadap fungi/
Stabilisasi Lereng untuk Pengendalian Erosi dengan Soil Bioengineering ………… (Aspian Noor, dkk)

jamur dan serangga jika tidak dilakukan pera- bekerja analogis sebagai paku tanah yang hi-
watan dengan kimiawi serta tidak homogen dup (living soil nails).
(Agustin J, 2009). Vetiver dapat digunakan dalam pekerjaan si-
pil (Agustin J, 2009), mengingat::vetiver mem-
3. RUMPU VETIVER punyai kekuatan (strength) yang paling tinggi
diantara semua jenis rumput; vetiver membe-
Vitever (vetiveria zizanioides), suatu tum- rikan estetika lebih baik karena bisa berdam-
buhan yang digolongkan sebagai rumput tapi pingan dengan tumbuhan asli lainnya; vetiver
berprilaku seperti sifat-sifat pohon, maka dari itu dapat hidup di tanah yang berpasir dan bersa-
dianjurkan sebagai alternatif yang lebih baik. linitas; baris pagar vetiver dapat menahan pe-
Sebagai rekayasa konservasi tanah dan alat ngikisan dari aliran air (scouring of water flow)
rekayasa biologi, penggunaan teknologi vetiver hasil dari badai hujan lebat sebesar 0,028 m3/
memerlukan pemahaman akan biologi, ilmu det ; di tanah keras, akar vetiver hanya dapat
tanah dan juga prinsifp-prinsip hidrolika dan mencapai 1 m, sedangkan pada tanah normal
hidrologi. sampai 2-4 m; biaya penanganan dengan ve-
Teknologi vetiver mempunyai karakteristik tiver ± 1/6 – 1/8 dari cara konvensional (stone
yang berbeda-beda untuk berbagai aplikasi, based engineering) dan selain itu lebih baik es-
akar yang dalam/panjang untuk stabilisasi ta- tetika dan lansekapnya.
nah, susunan yang tebal dan rapat untuk me- Layaknya barang hidup, tanaman perlu
nyebarkan air dan menahan sedimen dan sa- waktu untuk tumbuh, berkembang, dan mantap
ngat tahan terhadap bermacam-mavam bahan sebelum dapat berfungsi dan bahwa perlu pe-
kimiawi untuk rehabilitasi lahan (Agustin J, meliharaan agar fungsinya dapat bertahan atau
2009). berkelanjutan.
Akar vetiver membantu memperkuat lapisan Vetiver diklasifikasikan sebagai rumput tapi
permukaan 0-2 m yang rawan menggelincir/ berprilaku seperti karakteristik pohon. Jaringan
merosot (Gambar 2). akar vetiver yang massif dan panjang (2-4m)
dan sangat cepat tumbuh (4-6 bulan), lebih baik
daripada berbagai pohon lainnya, yang normal
membutuhkan 2-5 tahun agar efektif.
Vetiver bukan pengganti bangunan struktur
tapi lebih baik sebagai pendukung. Pada kon-
disi ekstrem dan kritis, bangunan struktural da-
pat dikombinasikan dengan vetiver.

5. KARAKTERISTIK TEKSIS RUMPUT


VETIVER

Kuat tarik dan kuat geser


Akar vetiver dengan kuat tarik tinggi yang
berinteraksi dengan tanah akan membentuk
komposit. Akar vetiver memperkuat tanah de-
ngan memindahkan tegangan geser dalam ma-
Gambar 2. Mekanisme Stabilitas Lereng oleh triks tanah ke tegangan tarik. Dengan kata lain,
Vetiver (Sumber: Agustin J, 2009) kuat geser tanah diperbesar oleh matris akar.
Telah disebutkan bahwa akar vetiver mem-
4. CARA BEKERJA VETIVER punyai kuat tarik rata-rata cukup tinggi yaitu 75
Mpa atau ± 1/6 dari kuat baja lunak (mild steel).
Vetiver beriteraksi dengan tanh setelah tum- Jaringan akar yang padat dan massif akan be-
buh, membentuk bahan komposit yang terdiri kerja serempak, mirip soil nailing, dengan daya
dari akar dengan kuat tarik yang tinggi dan penetrasi menembus lapisan keras atau ber-
melekat pada tanah yang kuat tariknya lebih batu, akar ini layaknya soil nail yang hidup.
kecil. Ketika jaringan akar dibawah yang rapat
Akar vetiver ini memperkuat tanah dengan menyediakan peningkatan kuat geser yang me-
menyalurkan kuat geser (shear stress). nghasilkan peningkatan stabilitas lereng, bagian
Pada saat jaringan akar yang massif dan atasnya, atau batang yang kaku berfungsi se-
padat terbentuk utuh, akan bekerja sebagai pa- perti penghalang hidup menahan lumpur/sedi-
ku tanah (soil nails) seperti yang diharapkan men dalam proses pengendalian erosi. Dengan
dalam pekerjaan rekayasa sipil. tingkat pertumbuhan yang cepat, dapat mem-
Dengan kemampuan menembus lapisan bentuk pagar yang rapat jika ditanam berpola.
keras atau tanah bebatuan (rock), akar vetiver Kemampuan dari baris pagar vetiver sedemiki-
Jurnal POROS TEKNIK, Volume 3, No. 2, Juni 2011 : 69 - 74

an rupa sehingga tidak menyebabkan tertimbun sedemikian rupa agar dapat mengarahkan alir-
dan mati. Dari studi diketahui bahwa kemapuan an air ke tempat yang tepat dan dapat bertahan
menahan lumpur adalah 6-35 kali >dari rumput terhadap daya scouring (abrasi) aliran air
3
atau tanaman laninnya (Agustin J, 2009). 0,028m /det (Agustin J, 2009).
Penetrasi akar dari pagar vetiver dengan
jarak tanam ± 15 cm dapat meningkatkan kuat 5. DESAIN PENANAMAN
geser tanah pada daerah sekitarnya sebesar 50
cm sebesar 90% pada kedalaman 0,25 cm. Pe- Pengaruh kelandaian lereng
ningkatan 39% pada kedalan 0,5 m dan per- Vetiver dapat tumbuh dengan baik pada le-
lahan-lahan menurun 12,5% pada kedalaman reng dengan kelandaian < 1:1,75 (H:V) atau ±
1m (Agustin J, 2009). 60⁰ dan tidak bagus pada kelandaian > 1:2,75
Kemampuan penetrasi akar vetiver cukup (H:V) atau ± 70⁰ (Gambar 3).
besar, melalui lapisan yang keras atau lapisan
berbatuan (dengan titik-titik lunak), dan bekerja
sebagai paku tanah (soil nails) atau pasak
(dowel) pada kedalaman 2-3 m seperti umum-
nya digunakan dalam pendekatan pekerjaan
rekayasa stabilisasi lereng (Agustin J, 2009).

Tekanan air pori


Peningkatan infiltrasi air mempunyai penga-
ruh besar pada penutup vegetasi pada lahan
berlereng dan memerlukan perhatian karena air
yang berlebihan akan meningkatkan tekanan air
pori dalam tanah yang dapat menyebabkan ke-
tidakstabilan.
Peningkatan kadar air tanah dapat dikurangi Gambar 3. Pengaruh kelandaian lereng
jika vetiver dapat ditanam pada garis kontur se- Sumber: Agustin J, 2009.
hingga dapat menahan dan menyeberkan air
larian pada lereng. Akan tetapi efek ini perlu di-
imbangi dengan tingkat pengurangan air tanah Standar penanaman
yang lebih besar yang disebabkan oleh pertum- Setelah lereng didesain (dengan pertimba-
buhan yang cepat dan sistem perakaran yang ngan geoteknik) dengan faktor keamanan, pro-
sangat intensif dari tanaman vetiver. teksi lereng perlu diterapkan agar dapat menja-
Pengurangan air tanah dapat menurunkan ga stabilitas lereng dalam jangka panjang, khu-
kadar air tanah sampai dengan 1,5 m dari pagar susnya pada daerah dengan curah hujan tinggi
vetiver sehingga memperendah tekanan air pori dan penutup tanah yang mudah erosi. Dengan
dan meningkatkan infiltrasi pada daerah terse- desain yang baik, kualitas bahan tanah yang
but yang dapat nenyebabkan pengurangan air memenuhi spesifikasi, teknik penanaman dan
larian dan derajat erosi (Agustin J, 2009). pemeliharaan yang benar, diharapkan hasil
yang baik akan tercapai sesuai dengan potensi
Karakteristik hidrolik tanaman.
Vetiver yang ditanam berbaris, akan mem- Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
bentuk pagar yang tebal dan dengan batang mendesain vetiver untuk lereng hasil galian dan
yang kaku dapat berdiri sampai 0,6 m mem- hasil timbunan.
bentuk penghalang/peredam hidup yang mem-  Kemiringan lereng <= 45⁰ khusus untuk
perlambat dan menyebarkan air larian. tanah yang mudah erosi dan untuk daerah
Dengan bentuk pagar yang diletakkan de- ynga curah hujannya tinggi.
ngan tepat, vetiver dapat bekerja sebagai struk-  Penampang melintang lereng berupa baris
tur yang sangat efektif menyebarkan dan me- mengikuti kontur, dengan jarak vertkal 0,5-
nyalurkan air larian untuk menstabilkan daerah 2,0 m diukur kebawah lereng, jarak 0,5 –
atau sebagian saluran yang tepat ke pembu- 1,0 m vertikal digunakan untuk tanah yang
angan yang aman. mudah erosi dengan jarak slip/rumpun 5-10
Perpaduan sistem perakaran yang dalam cm dan 1,0 – 2,0 m untuk tanah yang lebih
dan ketebalan pagar vetiver, akan melindunngi stabil dengan jarak slip/rumpun 10-15 cm
ambang dan tepi aliran sungai pada saat banjir. (Gambar 4).
Akar yang dalam untuk mencegah terhanyut, Sementara dalam proses penanaman, di-
sedangkan bagian atas yang tumbuh tebal akan perkuat dengan kayu/bambu yang dipasang di-
mengurangi kecepatan aliran dan daya erosi. belakang baris vetiver untuk penyangga semen-
Pagar vetiver dapat dirancang dan diletakkan tara dan memperlambat air larian. Sebagai con-
Stabilisasi Lereng untuk Pengendalian Erosi dengan Soil Bioengineering ………… (Aspian Noor, dkk)

toh bahan perkuatan tersebut adalah batang ka- Terasering dengan lebar 1-3 m dianjurkan
yu ukuran (150cm x 3 cm x 7,5 cm) yang dipan- untuk setiap interval vertikal 5-8 m, pada lereng
cang kedalam lereng dengan interval kontur 60 yang tingginya > 10 m. Perlu dibuat drainase,
cm kemudian antar tiang dirajut dengan potong- yang diperlukan untuk membuang kelebihan air
an bambu. Dibelakang bambu tersebut ditanam larian
vetiver untuk menciptakan baris pagar dengan
bantuan batang kayu dan bambu tersebut.
(Gambar 5 dan Gambar 6).

Gambar 6. Contoh Standar Drawing-Vetiver


Drass Planting for Higways Slope Protection
Sumber: Panduan Penanaman Rumput Vetiver
sebagai Penahan Erosi pada Konstruksi Jalan
(Interim), 2009.

Gambar 4. Rancangan penanaman vetiver


pada lereng (Sumber: Agustin J, 2009).

Gambar 7. Detail A dari Gambar 6.

Untuk lereng galian erosif, lereng dibentuk


Gambar 5. Contoh penanaman vetiver pada lagi, kemudian buatlah teras mini (mini bench-
lereng sangat erosif dan pada saluran drainase. ing) 50 cm pada setiap ketinggian 50 -150 cm
Sumber: Panduan Penanaman Rumput Vetiver untuk penanaman vetiver serta dibuat sistem
sebagai Penahan Erosi pada Konstruksi Jalan drainasenya (Gambar 8.)
(Interim), 2009.

Sebagai acuar melaksanakan penanaman


vetiver merefer pada, Direktorat Bina Teknik,
Spesifikasi Khusus Interim Seksi 8.9 (SKh.1-
8.9): Pengembalian Kondisi Galian, Timbunan
dengan Rumput Vetiver Sistem (VS), 2008 dan
Panduan Penanaman Rumput Vetiver sebagai
Penahan Erosi pada Konstruksi Jalan (Interim),
2009. Detail A diperlihatkan pada Gambar 7.
Apabila bahu jalan tidak diperkeras, baris
pertama ditanam pada ujung atas lereng tim- Gambar 8. Penampang penanaman vetiver
bunan, baris ini perlu ditanam pada semua pada lereng yang erosif.
timbunan yang tingginya > 1,5 m. Untuk desain mitigasi banjir dan proteksi
Apabila bahu jalan diperkeras atau terletak pantai, tebing sungai, tanggul dan bangunan
ditikungan, baris pertama ditanam pada 1,0 -,05 penahan air yang tidak stabil, perlu diperhatikan
m dari ujung atas lereng timbunan untuk men- hal-hal berikut ini:
cegah gangguan terhadap sight distance. o Kemiringan tebing sebaiknya <= 1(V):1,5(H)
Baris paling bawah ditanam pada kaki le- o sedangkan untuk tanggul pantai dianjurkan
reng timbunan atau galian sepanjang sisi sa- (1(V):3(H) sampai 1(V):4(H)
luran drainase (sebelum saluaran) Untuk lereng diatas muka air tertinggi su-
Di antara baris atas dan bawah, vetiver dita- ngai, kanal dan arus, spesifikasi untuk ga-lian
nam pada jarak vertikal seperti disebutkan dia- dan timbunan, seperti disebutkan diatas dapat
tas. digunakan.
Jurnal POROS TEKNIK, Volume 3, No. 2, Juni 2011 : 69 - 74

Untuk lereng dibawah muka air tertinggi o Baris pagar vetiver dapat menahan pe-
sungai, kanal dan arus, vetiver sebaiknya di- ngikisan dari aliran air (scouring of water
tanam dalam dua arah. flow) hasildari badai hujan lebat sebesar
o Untuk stabilisasi tebing, vetiver ditanam 0,028 m3/det.
dalam baris, parallel dalam arah aliran air o Di tanah keras, akar vetiver hanya dapat
(horisontal), pada garis kontur berjarak 0,8- mencapai 1 m, sedangkan pada tanah nor-
1,0 m (diukur kebawah tebing) mal sampai 2-4 m.
o Untuk mengurangi kecepatan aliran, vetiver o Biaya penanganan dengan vetiver ± 1/6 –
ditanam dalam baris, tegak lurus aliran air 1/8 dari cara konvensional (stone based
dengan jarak antar baris 2,0 m untuk tanah engineering) dan selain itu lebih baik es-
yang erosif dan 4,0 m untuk tanah yang tetika dan lansekapnya.
stabil (sebagai tambahan proteksi, jarak o Layaknya barang hidup, tanaman perlu
antar baris 1,0 m dianjurkan untuk sungai waktu untuk tumbuh, berkembang, dan
dan kanal sering terkena banjir dadakan) mantap sebelum dapat berfungsi dan bah-
Baris horizontal pertama ditanam pada pun- wa perlu pemeliharaan agar fungsinya da-
cak tebing dan baris terakhir ditanam pada tan- pat bertahan atau berkelanjutan.
da air rendah pada tebing, sebagai catatan: ka- o Vetiver diklasifikasikan sebagai rumput tapi
rena muka air pada beberapa lokasi berubah- berprilaku seperti karakteristik pohon.
ubah sesuai musim, vetiver dapat ditanam se- o Jaringan akar vetiver yang massif dan
jauh mungkin dibawah pada tebing pada saat panjang (2-4m) dan sangat cepat tumbuh
yang memungkinkan. (4-6 bulan), lebih baik daripada berbagai
Vetiver ditanam pada kontur disepanjang pohon lainnya, yang normal membutuhkan
tebing di antara baris-baris puncak dan bawah 2-5 tahun agar efektif.
dengan jarak seperti spesifikasi diatas. o Vetiver bukan pengganti bangunan struktur
Karena muka air tinggi, baris-baris bawah tapi lebih baik sebagai pendukung. Pada
tumbuh lebih pelan/lama daripada baris atas- kondisi ekstrem dan kritis, bangunan struk-
nya, dalam beberapa hal baris-baris bawah tural dapat dikombinasikan dengan vetiver.
sebaiknya ditanam pada saat tanah paling ke- o Vetiver mempunyai manfaat sebagai sta-
ring, sedangkan pada muara yang mengalami bilisasi bioengineering untuk menstabilkan
pasang surut, air lebih asin pada saat-saat tebing sungai, kanal irigasi, pengendalian
tertentu dalam satu tahun, yang dapat mem- erosi sungai dan tanggul pantai, lereng ga-
pengaruhi pertumbuhan vetiver pada baris ba- lian dan timbunan pada jalan raya, bukit
wah, dalam hal ini varietas yang lebih tahan ter- pasir, erosi pada lahan pertanian yang ber-
hadap garam, seperti bakau dapat digunakan lereng.
sebagai pengganti vetiver.
Karena vetiver memerlukan waktu untuk 7. DAFTAR PUSTAKA
tumbuh, sehingga tidak langsung dapat ber-
fungsi sesuai dengan yang direncanakan dalam 1. Agustin J, 2009, Vetiver untuk Pengen-
desain, adakalanya perlu dipertimbangkan un- dalian Erosi dan Stabilita Lereng, Subdit
tuk menggunakan semacam bahan-bahan ala- Teknik Lingkungan, Direktorat Bina Teknik,
mi atau sintetis untuk menutup lereng yang ter- Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
buka, sebelum vetiver berfungsi. Bahan alami 2. Bowles, J.E., & Hainim J.K. 1984, Sifat-
atau sintetis (misalnya geofabric, fibrimat, dan sifat Fisis dan Geoteknik Tanah, Erlangga,
lain-lain yang berfungsi untuk: menyerap dam- 3. Departemen Pekerjaan Umum, 2009, Pan-
pak tetesan hujan, membantu menjaga kelem- duan Penanaman Rumput Vetiver sebagai
baban, menjaga ikatan bibit dengan tanah, Penahan Erosi pada Konstruksi Jalan (In-
berfungsi sebagai penahan/dam bibit dan ta- terim), Direktorat Bina Teknik.Jakarta.
nahnya dan mengurangi air larian. 4. Departemen Pekerjaan Umum, 2008, Spe-
sifikasi Khusus Interim Seksi 8.9 (SKh .1-
6. PENUTUP 8.9), Direktorat Bina Teknik. Jakarta.
5. Hardiyanto, H.C, 2007, Mekanika Tanah II,
Kesimpulan Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
o Vetiver mempunyai kekuatan (strength) 6. Sastiawan, 2007, Penggunaan vegetasi
yang paling tinggi diantara semua jenis (rumput gajah) dalam menjaga kestabilan
rumput. tanah terhafdap kelongsoran, Jurnal Ilmiah
o Vetiver memberikan estetika lebih baik ka- Teknik Sipil, volume 11 No.1, Januari 2007,
rena bisa berdampingan dengan tumbuhan Universitas Udayana Denpasar, Bali.
asli lainnya.
o Vetiver dapat hidup di tanah yang berpasir
dan bersalinitas. ₪ JPT © 2011 ₪