Anda di halaman 1dari 10

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. MORTALITAS

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat


dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu
kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian
keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan
lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan
berbagai survei dan penelitian.

1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Data kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh


melalui survei, karena sebagian besar kematian terjadi di rumah, sedangkan
data kematian pada fasilitas pelayanan kesehatan hanya memperlihatkan
kasus rujukan. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia berasal dari berbagai
sumber yaitu Sensus Penduduk, Surkesnas/ Susenas dan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah
untuk menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya berbagai fasilitas
atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang
terampil, serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke
norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang
sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.

Menurut BPS Indikator Kesejahteraan Anak 2000, AKB di Propinsi


Kalimantan Tengah pada tahun tersebut sebesar 36/ 1000 KH dan meningkat
pada tahun 2002-2003 (SDKI) menjadi 40/ 1000 KH. Berdasarkan kompilasi
profil tahun 2005, jumlah kelahiran dilaporkan sebesar 37.853, bayi lahir mati
216 dan kematian bayi sebesar 179 (Tabel IIS 5).

2. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)

Angka Kematian Ibu Maternal diperoleh dari berbagai survei yang


dilakukan secara khusus. Dengan dilaksanakannya Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) maka
cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding wilayah
sebelumnya.

Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten maka


digunakan data hasil SKRT, AKI menurun dari 425 pada tahun 1992 menjadi 373
pada tahun 1995. Pada tahun 2002-2003 AKI menjadi 307 yang diperoleh dari
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 6
hasil SDKI. Walaupun angka ini terus menurun namun bila dibandingkan dengan
target nasional yang akan dicapai pada tahun 2010 yaitu 125 per 100.000
kelahiran hidup, maka apabila penurunannya seperti tahun-tahun sebelumnya,
dipekirakan target tersebut akan sulit tercapai. Propinsi Kalimantan Tengah
masih mengikuti angka nasional yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan kompilasi data profil pada tahun 2005 ada 44 kematian ibu
maternal dan ini meningkat dari tahun 2004 dengan kematian ibu sebanyak 16
orang. Data kematian ibu maternal ini dapat dilihat pada tabel IIS 6.

3. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH)

Penurunan Angka Kematian Bayi sangat berpengaruh pada kenaikan


umur harapan hidup (UHH) waktu lahir. Angka Kematian Bayi sangat peka
terhadap perubahan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga
perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan
umur harapan hidup (UHH) pada waktu lahir. Meningkatnya umur harapan
hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya
peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat.

Umur harapan hidup waktu lahir penduduk Kalimantan Tengah dari tahun
ke tahun terus mengalami peningkatan yang bermakna. Umur harapan hidup
Kalimantan Tengah sedikit lebih tinggi dibanding dengan angka nasional yaitu
69,51 dan 71,98 untuk Kalimantan Tengah (BPS, Indikator Kesra Kalimantan
Tengah 2002).

B. MORBIDITAS

Angka kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari


masyarakat (community based data) yang dapat diperoleh dengan melalui
studi morbiditas dan hasil pengumpulan data baik dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota maupun dari data sarana pelayanan kesehatan (facility
based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.

1. Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan dalam profil ini adalah Penyakit Malaria,
TB Paru, HIV/ AIDS , Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Kusta.

1.a. Penyakit Malaria


Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia, perkembagan penyakit malaria dipantau melalui annual
parasite incidence (API), dari hasil SPM dari Kabupaten/ Kota
penderita Malaria yang diobati sebesar 91% dari target yang
seharusnya 100% (Tabel SPM 31).

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 7


1.b. Penyakit TB Paru
Menurut hasil Surkesnas 2001, TB Paru menempati urutan ke 3
penyebab kematian umum (9,4%), selain menyerang paru,
Tuberculosis dapat menyerang organ lain (extra pulmonary). Dari data
SPM yang berhasil dikumpulkan menunjukkan kasus BTA + sebanyak
1.545 orang, diobati sebanyak 1.942 orang dan sembuh sebanyak 1.301
orang (Tabel SPM 13).

1.c. Penyakit HIV/ AIDS


Peningkatan penyakit HIV/ AIDS terus menunjukkan peningkatan,
meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus
dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah,
menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia,
meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya
penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah
memperbesar tingkat risiko penyebaran HIV/ AIDS.

Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat


epidemi yang terkonsentrasi, yaitu adanya prevalensi lebih dari 5%
pada sub populasi tertentu, misal pada kelompok pekerja seksual
komersial dan penyalahgunaan NAPZA. Tingat epidemi ini
menunjukkan tingkat perilaku berisiko yang cukup aktif menularkan di
dalam suatu sub populasi tertentu.

Jumlah penderita HI/ AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena


gunung es, yaitu jumlah penderita dilaporkan jauh lebih kecil dari
pada jumlah sebenarnya. Hal ini berarti bahwa jumlah penderita HIV/
AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum diketahui secara pasti.
Diperkirakan jumlah orang dengan HIV di Indonesia pada akhir tahun
2003 mencapai 90.000 – 130.000 orang. Sementara Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2004 (Depkes RI, 2006) melaporkan jumlah kumulatif
kasus HIV/ AIDS sebanyak 4.605 kasus. Sesuai dengan Sensus tahun
2000 kumulatif kasus AIDS per 100.000 penduduk secara nasional
sebesar 0,68. Cara penularan AIDS yang terbesar adalah melalui
hubungan heteroseksual yaitu 50,62%, melalui suntikan yang ada
kaiannya dengan NAPZA sebesar 26,26% serta melalui hubungan
homoseksual sebesar 9,34%.

Upaya yang dilakukan dalam rangka pemberantasan penyakit HIV/


AIDS disamping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan
diarahkan pada upaya pemantauan dan pengobatan penderita
penyakit menular seksual (PMS).

Dari hasil Sero Survei HIV/AIDS yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Propinsi terlihat adanya peningkatan kasus dari 2002-2004 namun
sedikit menurun pada tahun 2005.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 8
Tabel 1
Hasil Sero Survei HIV/ AIDS 2002-2005
Propinsi Kalimantan Tengah

No Kab/ Kota 2002 2003 2004 2005


Sampel (+) Sampel (+) Sampel (+) Sampel (+)
1 Kotawaringin Barat 838 5 392 6 412 4 415 7
2 Sukamara 55 0 69 1 98 4
3 Lamandau 45 2 56 0 40 1
4 Kotawaringin Timur 209 1 194 2 193 6 201 9
5 Palangka Raya 101 0 101 1 214 12 160 1
6 Seruyan 25 0
7 Barito Selatan 11 0
8 Barito Utara 73 0 64 0 90 1 82 1
9 Katingan 102 2 108 3 46 0
TOTAL 1.221 6 953 13 1.178 27 1.042 23
Sumber : Laporan Sero Survei HIV/ AIDS Subdin P2 2005

1.d. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)


ISPA masih merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan
balita di Indonesia. Dari beberapa hasil SKRT diketahui bahwa 80
sampai 90% dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan Pneumonia.
Pneumonia merupakan penyebab kematian pada balita dengan
peringkat pertama dari hasil Surkesnas 2001. ISPA sebagai penyebab
utama kematian pada bayi dan balita diduga karena pneumonia
merupakan penyakit akut dan kualitas penatalaksanaannya belum
memadai.

Upaya dalam rangka pemberantasan penyakit infeksi saluran


pernafasan akut lebih difokuskan pada upaya penemuan dini dan
tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita
pneumonia balita yang ditemukan. Jumlah balita penderita pneumonia
di Kalimantan Tengah dilaporkan sebanyak 4.969 kasus dan semuanya
sudah tertangani (Tabel SPM 13).

1.e. Penyakit Kusta


Dalam kurun waktu sepuluh tahun (1991-2001), angka prevalensi
penyakit kusta secara nasional telah mengalami penurunan dari 4,5
per 10.000 penduduk pada tahun 1991. Lalu turun menjadi 0,85 per
10.000 penduduk pada tahun 2001. Pada tahun 2002 prevalensi sedikit
meningkat menjadi 0,95, pada tahun 2003 turun menjadi 0,8 dan
tahun 2004 meningkat lagi menjadi 0,93 per 10.000 penduduk (Profil
Kesehatan Indonesia 2004, Depkes).

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 9


Meskipun Indonesia telah mencapai eleminasi kusta pada pertengahan
2000, sampai saat ini penyakit kusta masih menjadi salah satu masalah
kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah
penderita kusta di Indonesia dan merupakan negara dengan urutan
ketiga penderita terbanyak di dunia. Penyakit kusta dapat
mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah ini diperberat
dengan masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dan petugas,
akibatnya sebagian penderita dan mantan penderita dikucilkan
sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan
pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.

Jumlah penderita kusta di Kalimantan Tengah dilaporkan sebanyak


154 orang dan yang telah selesai menjalani pengobatan (RFT)
sebanyak 77 orang (50%), lebih lanjut pada tabel SPM 32.

2. Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)

PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ ditekan


dengan pelaksanaan program imunisasi, pada profil ini penyakit yang akan
dibahas antara lain penyakit tetanus eonatorum, campak, difteri, pertusis dan
hepatitis B.

2.a. Tetanus Neonatorum


Jumlah kasus tetanus neonatorum di Indonesia pada tahun 2003
sebanyak 175 kasus dengan angka kematian (CFR) 56% (Profil
Kesehatan Indonesia 2003, Depkes). Angka ini sedikit menurun bila
dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini diduga karena meningkatnya
cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun secara keseluruhan
CFR masih tetap tinggi. Penanganan kasus tetanus neonatorum
memang tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah usaha
pencegahan yakni pertolongan persalinan yang higienis dan ditunjang
dengan imunisasi TT pada ibu hamil. Jumlah kasus tetanus
neonatorum di Kalimantan Tengah sebanyak 4 kasus (Tabel SPM 35).

2.b. Campak
Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan
Kejadian Luar Biasa (KLB). Secara nasional selama tahun 2004
frekuensi KLB campak menempati urutan kedua setelah DBD. KLB
Campak 2004 terjadi sebanyak 97 kali dengan jumlah kasus sebanyak
2.818 dan 44 kematian atau CFR 1,56% (Profil Kesehatan Indonesia
2004, Depkes).
Dari kompilasi data profil kabupaten/ kota terdapat 955 kasus campak
yang terjadi di Kalimantan Tengah (Tabel SPM 35).

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 10


2.c. Difteri
Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif
rendah. Rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi adanya program
imunisasi. Di Indonesia selama tahun 2004 frekuensi KLB difteri terjadi
34 kali dengan jumlah kasus sebanyak 106 dan CFR 9,4% (Profil
Kesehatan Indonesia 2004, Depkes). Jumlah kasus difteri di
Kalimantan Tengah sepanjang tahun 2005 sebanyak 3 kasus, 2 kasus di
Kapuas dan 1 kasus di Palangka Raya (Tabel SPM 35).

2.d. Pertusis/ Batuk Rejan


Jumlah kasus pertusis di Kalimantan Tengah pada tahun 2005 hanya
terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 12 kasus (Tabel
SPM 35).

2.e. Hepatitis B
Sepanjang tahun 2005 di Propinsi Kalimantan Tengah kasus hepatitis B
ditemui di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak
13 kasus dan Kabupaten Barito Selatan sebanyak 14 kasus (tabel SPM
35).

Gambar 3
Proporsi Kasus PD3I yang Dilaporkan
Di Propinsi Kalimantan Tengah tahun 2005

1% 3% 0%1% 2% 0%

93%

Difteri Pertusis Tetanus T. Neonatorum Campak AFP Hepatitis B

3. Penyakit Potensi KLB/ Wabah

3.a. Demam Berdarah Dengue


Penyakit demam berdarah dengue (DBD) telah menyebar luas ke
seluruh wilayah propinsi. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB
dengan angka kesakitan dan kematian relatif tinggi. Angka insiden DBD

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 11


secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola
epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun kurun waktu lima belas
tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode 2-5 tahunan
sedangkan angka kematian cenderung menurun.
Pada tahun 2004 terjadi KLB DBD di Indonesia. Pemerintah melalui
Departemen Kesehatan dalam press release tanggal 16 Februari 2004,
menetapkan bahwa telah terjadi KLB di Indonesia dan ditetapkan 12
propinsi sebagai propinsi KLB, sementara itu Kalimantan Tengah dan 8
delapan propinsi lainnya ditetapkan sebagai propinsi dengan
peningkatan kasus.
Upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi
masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang
nyamuk (gerakan 3M), pemantauan angka bebas jentik (ABJ) dan
penanganan di rumah tangga.
Dari kompilasi data profil kesehatan kabupaten/ kota sepanjang tahun
2005 di Kalimantan Tengah ditemukan 512 kasus, dengan jumlah kasus
terbanyak 324 yang terjadi di Kabupaten Kotawarngin Timur. Jumlah
ini sedikit meningkat dari tahun sebelumnya, dimana tahun 2004
ditemukan 462 kasus (Tabel SPM 14).

3.b. Diare
Pada tahun 2004, di Indonesia diare merupakan penyakit dengan
frekuensi KLB kelima terbanyak setelah DBD, Campak, Tetanus
Neonatorum dan keracunan makanan. Angka kesakitan diare di
Kalimantan Tengah dari tahun 2000-2004 fluktuatif dari 15,87 sampai
23,45. Pada tahun 2005 kasus diare sebanyak 38.979 dan sebanyak
14.630 adalah balita (Tabel SPM 14).

3.c. Filariasis
Program eliminasi filarisis dilaksanakan atas dasar kesepakatan global
WHO tahun 2000 yaitu “ The Global Goal of Elimination of Lymphatic
Filariasis as a Public Health Problem The Year 2020”. Di Indonesia
sampai dengan tahun 2003 kasus kronis Filariasis telah menyebar ke 30
propinsi dan telah ditemukan 3 spesies cacing yaitu Wucherecia
bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Penderita filariasis di
Propinsi Kalimantan Tengah sebesar 97 kasus dan kasus terbanyak
terdapat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Tabel SPM 33).

B. STATUS GIZI

Status gizi seseorang erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan


individu, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat
memperparah penyakit infeksi, juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan
kesehatan. Bahkan status gizi janin yang masih dalam kandungan dan bayi

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 12


yang masih menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil dan ibu
menyusui.
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara
lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, status
gizi wanita usia subur Kurang Energi Kronis (KEK).

1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah
satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan
neonatal. BBLR dibedakan atas 2 kategori yaitu BBLR karena premature dan
BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir
cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak
BBLR karena IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemi, malaria dan
menderita penyakit menular seksual(PMS) sebelum konsepsi atau saat
kehamilan. Dari kompilasi data profil kesehatan kabupaten/ kota diperoleh
gambaran dari 39.353 kelahiran hidup terdapat 451 bayi dengan BBLR dan 373
bayi (83%) BBLR yang sudah tertangani (Tabel SPM 2).

2. Status Gizi Balita

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan


tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita
adalah pengukuran secara antropometrik yang menggunakan indeks Berat
badan menurut umur balita kemudian disetarakan dengan standar baku
rujukan WHO-NCHS utuk mengetahui status gizinya. Ada 4 status gizi balita
yang ditentukan menurut berat badan/ umur (BB/ U):
Gizi Buruk : < - 3 SD
Gizi Kurang : - 3 SD sampai – 2 SD
Gizi Baik : - 2 SD sampai + 2 SD
Gizi Lebih : > + 3 SD

Pemantauan status gizi (PSG) balita di Propinsi Kalimantan Tengah


tahun 2005 dilaksanakan di 14 kabupaen/ kota dengan jumlah balita yang
diukur sebanyak 54.051 dan hasilnya terdapat pada tabel dibawah ini:

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 13


Tabel 2
Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita
Propinsi Kalimantan Tengah tahun 2005
No Kabupaten/ Kota Jumlah Status Gizi Menurut BB/ U
Anak Buruk Kurang Baik Lebih
Anak % Anak % Anak % Anak %
1 Lamandau 821 4 0,5 26 3,2 777 94,6 14 1,7
2 Sukamara 456 21 4,6 31 6,8 389 85,3 15 3,3
3 Kotawaringin Barat 17.033 384 2,3 2.233 13,1 13.825 81,2 591 3,5
4 Seruyan 2.289 40 1,7 110 4,8 2.134 93,2 5 0,2
5 Kotawaringin Timur 8.432 96 1,1 492 5,8 7.594 90,1 250 3
6 Katingan 2.601 127 4,9 536 20,6 1.884 72,4 54 2,1
7 Gunung Mas 9.520 0 - 847 8,9 8.240 86,6 433 4,5
8 Palangka Raya 789 4 0,5 151 19,1 631 80 3 0,4
9 Pulang Pisau 1.345 53 3,9 264 19,6 1.011 75,2 7 1,3
10 Kapuas 2.644 66 2,5 396 14,9 2.176 81,7 26 1
11 Barito Timur 2.077 58 2,8 447 21,5 1.535 73,9 37 1,8
12 Barito Selatan 2.849 44 1,5 434 15,2 2.312 81,2 59 2,1
13 Barito Utara 839 0 - 77 9,2 728 86,8 34 4,1
14 Murung Raya 2.336 29 1,2 196 8,4 2.090 89,5 21 0,9
Kalimantan Tengah 54.051 926 1,7 6.240 11,5 45.326 83,9 1.559 2,9
Sumber : Laporan PSG Program Gizi tahun 2005

Dari hasil PSG diatas bila dibandingkan antara tahun 2004 dan 2005, ada
sedikit perbedaan dimana status gizi lebih, gizi baik dan gizi buruk lebih tinggi
dibanding tahun 2004. Hasil status gizi kurang pada tahun 2004 (15,4%) lebih
tinggi dibanding tahun 2005 (11,5%) dan status gizi buruk meningkat tahun
2005 (1,7%) dibandingkan tahun 2004 (1,0%).
Dari hasil PSG yang dilakukan oleh Program Gizi setiap tahunnya angka
gizi buruk dari tahun 2003-2005 mengalami fluktuatif yang dapat dilihat pada
grafik dibawah ini:

Gambar 4
Perkembangan Kasus Gizi Buruk
Di Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2003-2005

20

15

10

0
2003 2004 2005

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 14


Sumber : Laporan PSG Program Gizi tahun 2005
3. WUS yang mendapat kapsul Yodium

Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah


gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan
pertumbuhan fisik meliputi pembesaran kelenjar tiroid (gondok), bisu, tuli,
kretin (kerdil), gangguan motorik, dan mata juling. Pemberian kapsul Yodium
dimaksudkan untuk mencegah lahirnya bayi kretin, karen itu sasaran
pemberian kapsul Yodium adalah Wanita Usia Subur (WUS) termasuk ibu hamil
dan ibu nifas. Angka prevalensi gondok atau Total Goiter Rate (TGR) dihitung
berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar, baik yang teraba maupun
yang terlihat. GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena
secara umum prevalensinya masih diatas 5%. Berdasarkan laporan Seksi Gizi
Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah dari hasil survei tahun 2003 TGR
di Kalimantan Tengah sebesar 14%.

Berdasarkan kompilasi profil kesehatan kabupaten/ kota tahun 2005


jumlah WUS di Kalimantan Tengah sebanyak 300.588 dan WUS yang mendapat
kapsul Yodium sebanyak 58.829 (19,57%). Bila ditinjau berdasarkan desa/
kelurahan endemis maka terdapat 25 desa/ kelurahan dengan endemis berat
dan 33 desa dengan endemis ringan (Tabel SPM 29)

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 15