Anda di halaman 1dari 36

Mheea Nck Seputar Informasi Tentang Tambang, Home UUD Tambang Ventilasi Tambang

Ilmu Tambang Browse » Home » TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA »


PEMANFAATAN ABU BATUBARA PEMANFAATAN ABU BATUBARA BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batubara adalah suatu lapisan yang padat, yang
pembentukannya atau penyebarannya secara horizontal dan vertikal, dan merupakan suatu
lapisan yang bersifat heterogen. Karena sifat batubara yang heterogen maka pada (eksplorasi
pemborannya) Recovery harus memenuhi syarat maksimal 90% yang diambil, bila kurang dari
90% maka tidak Refresentatif dan penyebaran batubara menunjukkan perbedaan kwalitas maka
penyebaran batubara sangat mempengaruhi kwalitas. Berdasar proses terjadinya batubara terbagi
menjadi dua yaitu : * Proses biokimia yakni proses penghancuran oleh bakteri-bakteri
“anaerobic” terhadap kayu-kayuan (sisa tumbuhan) senhingga terbentuk gel atau biasa disebut
gelly. Bakteri anaerobic bakteri yang hidup pada tempat (air) yang kurang mengandung oksigen
padaair kotor, contohnya pada daerah rawa-rawa. * Proses termodinamika yakni proses
perubahan beat menjadi lapisan batuabara oleh adanya panas dan tekanan, juga proses dari luar
seperti proses geologi (perlipatan dll) Penggunaan batubara sebagai sumber energi akan
menghasilkan abu yaitu berupa abu layang (fly ash) maupun abu dasar (bottom ash). Kandungan
abu layang sebesar 84 % dari total abu batubara. Produksi abu layang batubara dunia yang
diperkirakan tidak kurang dari 500 juta ton per tahun dan ini diperkirakan akan bertambah.
Hanya 15 % dari produksi abu layang yang digunakan. Sisa dari abu layang cenderung sebagai
reklamasi (Tanaka dkk., 2002). Hal ini dapat menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap
lingkungan. Oleh karena itu masalah abu layang batubara harus segera diselesaikan agar tidak
terjadi penumpukan dalam jumlah yang besar baik di Indonesia maupun di dunia. Salah satu
alternatif untuk memanfaatkan abu layang batubara adalah dengan mengubah abu layang
tersebut menjadi zeolit. Zeolit dapat dimanfaatkan untuk beragam kegunaan seperti katalis,
absorben, sumber kation penyaring molekul (Smart dkk., 1993) dan yang tidak kalah pentingnya
lagi adalah sebagai builder detergent (Hui dkk., 2006). Abu layang didapatkan sebagai mineral
yang terdapat pada batubara. Selama pembakaran batubara, sebagian dari mineral melebur
menjadi partikel abu layang yang dapat membentuk fase kristal seperti kuarsa dan mulit yang
masih berada pada batubara, meskipun fase gelas menutupi permukaan aluminosilikat. Abu
layang batubara mengandung silika dan alumina, yang dapat diubah ke dalam zeolit melalui
proses pelarutan fase gelas pada komponen alkali. Fase gelas sangat penting dalam pembentukan
zeolit karena memiliki kelarutan yang sangat tinggi di dalam larutan alkali (Inada dkk., 2005).
Komponen utama dari abu layang terdiri dari SiO2 dan Al2O3 dengan beberapa kristal seperti
kuarsa (SiO2) dan mulit (2SiO2.3Al2O3), hematit (α-Fe2O3) dan magnetit (Fe3O4). 1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar kita dapat mengerti dan memahami
tentang teknik pemanfaatan abu batubara secara benar dan efisien. Dan dapat meminimalisir
dampak polusi yang ditimbulkan pada lingkungan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Abu
Batubara (Fly Ash) Fly ash batubara adalah limbah industri yang dihasilkan dari pembakaran
batubara dan terdiri dari partikel yang halus. Gradasi dan kehalusan fly ash batubara dapat
memenuhi persyaratan gradasi AASTHO M17 untuk mineral filler. Penggunaan mineral filler
dalam campuran aspal beton adalah untuk mengisi rongga dalam campuran, untuk meningkatkan
daya ikat aspal beton, dan untuk meningkatkan stabilitas dari campuran. Dari penelitian tentang
penggunaan fly ash batubara sebagai mineral filler untuk menggantikan filler bubuk marmer
pada campuran aspal beton menunjukkan kadar optimum lebih rendah dari pada filler bubuk
marmer, yaitu 3.5 % untuk filler fly ash batubara dan 4.5 % untuk filler bubuk marmer. Fly-ash
atau abu terbang yang merupakan sisa-sisa pembakaran batu bara, yang dialirkan dari ruang
pembakaran melalui ketel berupa semburan asap, yang telah digunakan sebagai bahan campuran
pada beton. Fly-ash atau abu terbang di kenal di Inggris sebagai serbuk abu pembakaran. Abu
terbang sendiri tidak memiliki kemampuan mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan
kehadiran air dan ukuran partikelnya yang halus, oksida silika yang dikandung oleh abu terbang
akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen
dan menghasilkan zat yang memiliki kemampuan mengikat. Menurut ACI Committee 226
dijelaskan bahwa, fly-ash mempunyai butiran yang cukup halus, yaitu lolos ayakan N0. 325 (45
mili mikron) 5-27%, dengan spesific gravity antara 2,15-2,8 dan berwarna abu-abu kehitaman.
Sifat proses pozzolanic dari fly-ash mirip dengan bahan pozzolan lainnya. Menurut ASTM C.618
(ASTM, 1995:304) abu terbang (fly-ash) didefinisikan sebagai butiran halus residu pembakaran
batubara atau bubuk batubara. Fly-ash dapat dibedakan menjadi dua, yaitu abu terbang yang
normal yang dihasilkan dari pembakaran batubara antrasit atau batubara bitomius dan abu
terbang kelas C yang dihasilkan dari batubara jenis lignite atau subbitumes. Abu terbang kelas C
kemungkinan mengandung zat kimia SiO2 sampai dengan dengan 70%. 2.2 Limbah Padat Abu
Terbang Batubara ( Fly Ash ) Abu batubara sebagai limbah tidak seperti gas hasil pembakaran,
karena merupakan bahan padat yang tidak mudah larut dan tidak mudah menguap sehingga akan
lebih merepotkan dalam penanganannya. Apabila jumlahnya banyak dan tidak ditangani dengan
baik, maka abu batubara tersebut dapat mengotori lingkungan terutama yang disebabkan oleh
abu yang beterbangan di udara dan dapat terhisap oleh manusia dan hewan juga dapat
mempengaruhi kondisi air dan tanah di sekitarnya sehingga dapat mematikan tanaman. Akibat
buruk terutama ditimbulkan oleh unsur-unsur Pb, Cr dan Cd yang biasanya terkonsentrasi pada
fraksi butiran yang sangat halus (0,5 – 10 μm). Butiran tersebut mudah melayang dan terhisap
oleh manusia dan hewan, sehingga terakumulasi dalam tubuh manusia dengan konsentrasi
tertentu dapat memberikan akibat buruk bagi kesehatan (Putra,D.F. et al, 1996). Abu terbang
batubara umumnya dibuang di ash lagoon atau ditumpuk begitu saja di dalam area industri.
Penumpukan abu terbang batubara ini menimbulkan masalah bagi lingkungan. Berbagai
penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan untuk meningkatkan
nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Saat ini abu terbang
batubara digunakan dalam pabrik semen sebagai salah satu bahan campuran pembuat beton.
Selain itu, sebenarnya abu terbang batubara memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam: 1.
Penyusun beton untuk jalan dan bendungan 2. Penimbun lahan bekas pertambangan 3. Recovery
magnetic, cenosphere, dan karbon 4. Bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori 5.
Bahan penggosok (polisher) 6. Filler aspal, plastik, dan kertas 7. Pengganti dan bahan baku
semen 8. Aditif dalam pengolahan limbah (waste stabilization) 9. Konversi menjadi zeolit dan
adsorben 2.3 Sifat Kimia dan Sifat Fisika Fly Ash Komponen utama dari abu terbang batubara
yang berasal dari pembangkit listrik adalah silika (SiO2), alumina, (Al2O3), besi oksida
(Fe2O3), kalsium (CaO) dan sisanya adalah magnesium, potasium, sodium, titanium dan
belerang dalam jumlah yang sedikit. Tabel 2.2 Komposisi Kimia Salah Satu Jenis Abu Terbang
Batubara (http://thebloghub.com/pages/ABU-BATUBARA) Tabel 2.3 Komposisi kimia abu
terbang batubara Komponen Bituminous Sub- bituminous Lignite SiO2 20-60% 40-60% 15-45%
Al2O3 5-35% 20-30% 10-25% Fe2O3 10-40% 4-10% 4-15% CaO 1-12% 5-30% 15-40% MgO
0-5% 1-6% 3-10% SO3 0-4% 0-2% 0-10% Na2O 0-4% 0-2% 0-6% K2O 0-3% 0-4% 0-4% LOI
0-15% 0-3% 0-5% Sifat kimia dari abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yang
dibakar dan teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan
subbituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak
dari pada jenis bituminous. Namun, memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon yang lebih
sedikit dari pada bituminous. Kandungan karbon dalam abu terbang diukur dengan menggunakan
Loss Of Ignition Method (LOI), yaitu suatu keadaan hilangnya potensi nyala dari abu terbang
batubara. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat
atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil
dari 0,075 mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100 sampai 3000 kg/m3 dan luas area
spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara Blaine) antara 170 sampai 1000
m2/kg, sedangkan ukuran partikel rata-rata abu terbang batubara jenis sub-bituminous 0,01mm –
0,015 mm, luas permukaannya 1-2 m2/g, massa jenis (specific gravity ) 2,2 – 2,4 dan bentuk
partikel mostly spherical , yaitu sebagian besar berbentuk seperti bola, sehingga menghasilkan
kelecakan (workability ) yang lebih baik ( Nugroho,P dan Antoni, 2007) 2.4 Abu Terbang
Sebagai Adsorben untuk Penyisihan Polutan pada Gas Buang Abu terbang dapat dimanfaatkan
sebagai adsorben untuk penyisihan polutan pada gas buang prose pembakaran yang berpotensi
untuk merusak lingkungan seperti gas sulfur oksida yang menyebabkan hujam asam, gas
nitrogen oksida yang menyebabkan pemanasan global, dan merkuri (Hg) yang berbahaya bagi
makhluk hidup. 2.4.1 Penyisihan SOx Industri-industri berusaha untuk mengurangi emisi SOx
dengan cara memasang unit flue gas desulphurization (FGD) dan unit scrubber. Dua unit tersebut
banyak digunakan karena memiliki efisiensi yang tinggi terhadap proses de-SOx. Namun, dua
unit tersebut membutuhkan air dalam jumlah yang besar dan akibatnya menghasilkan limbah cair
yang banyak. FGD tipe kering tidak membutuhkan pengolahan limbah cair tetapi tipe ini
membutuhkan adsorben dalam jumlah besar untuk mencapai efisiensi de-SOxyang tinggi. Abu
terbang batubara lebih dipilih untuk digunakan sebagai adsorben pada FGD tipe kering dalam
skala besar dibandingkan karbon aktif karena biayanya lebih murah. Dua tipe abu terbang
batubara yang berasal dari fluidized bed combustion (FBC) dan pulverized coal combustion
(PCC) telah diuji coba untuk menyisihkan SO2 dengan bantuan kalsium hidroksida (CaOH2)[2].
Hasil uji coba tersebut adalah konversi CaO menjadi CaSO4 mencapai 92-100% dalam
pereaksian selama 1 jam. 2.4.2 Penyisihan Nox Abu terbang batubara juga memiliki potensi
sebagai adsorben untuk menyisihkan NOx dari aliran gas buang. Emisi NOx diserap oleh karbon
tidak terbakar yang terdapat di dalam abu terbang batubara. Partikel karbon tersebut dapat juga
diaktivasi untuk meningkatkan kinerja penyerapan NOx. Penelitian yang dilakukan oleh Rubel et
al menunjukkan bahwa perbandingan kapasitas penyerapan NOx karbon dari abu terbang
batubara yang diaktivasi dengan karbon aktif komersial adalah 1/3. 2.4.3 Penyisihan merkuri
(Hg) Emisi merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara pada unit boiler mendapat
perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan
menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Abu terbang batubara dapat dijadikan salah
satu adsorben untuk mengontrol emisi merkuri dengan bantuan filter dari bahan kain misalnya
dengan memakai baghouse filter. Peneliti Serre dan Silcox menyatakan bahwa karbon yang tidak
terbakar di dalam abu terbang batubara dapat digunakan sebagai substitusi karbon aktif yang
murah dan efektif. Abu terbang batubara dapat diinjeksikan secara berkala di dalam baghouse
filter yang digunakan untuk menyisihkan merkuri. Luas permukaan dan struktur abu terbang
batubara yang berpori merupakan dua hal yang menyebabkan abu terbang batubara berpotensi
untuk menyerap emisi merkuri. 2.4.4 Penyisihan gas-gas organik Selain dapat digunakan untuk
menyisihkan tiga polutan diatas, abu terbang batubara juga dapat digunakan untuk menyisihkan
gas organik. Penelitian yang dilakukan oleh Peloso, menunjukkan bahwa abu terbang batubara
yang telah melewati proses aktivasi secara termal dapat menyisihkan uap toluene. 2.5
Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash Fly ash dan bottom ash adalah terminology umum untuk
abu terbang yang ringan dan abu relatif berat yang timbul dari suatu proses pembakaran suatu
bahan yang lazimnya menghasilkan abu. Fly ash dan bottom ashdalam konteks ini adalah abu
yang dihasilkan dari pembakaran batubara. Sistem pembakaran batubara umumnya terbagi 2
yakni sistem unggun terfluidakan (fluidized bed system) dan unggun tetap (fixed bed system atau
grate system). Disamping itu terdapat system ke-3 yakni spouted bed system atau yang dikenal
dengan unggun pancar. Fluidized bed system adalah sistem dimana udara ditiup dari bawah
menggunakan blower sehingga benda padat di atasnya berkelakuan mirip fluida. Teknik
fluidisasi dalam pembakaran batubara adalah teknik yang paling efisien dalam menghasilkan
energi. Pasir atau corundum yang berlaku sebagai medium pemanas dipanaskan terlebih dahulu.
Pemanasan biasanya dilakukan dengan minyak bakar. Setelah temperatur pasir mencapai
temperature bakar batubara (300oC) maka diumpankanlah batubara. Sistem ini menghasilkan
abu terbang dan abu yang turun di bawah alat. Abu-abu tersebut disebut dengan fly ash dan
bottom ash. Teknologi fluidized bed biasanya digunakan di PLTU (Pembangkit Listruk Tenaga
Uap). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan berat adalah : (80-
90%) berbanding (10-20%). Fixed bed system atau Grate system adalah teknik pembakaran
dimana batubara berada di atas conveyoryang berjalan atau grate. Sistem ini kurang efisien
karena batubara yang terbakar kurang sempurna atau dengan perkataan lain masih ada karbon
yang tersisa. Ash yang terbentuk terutama bottom ash masih memiliki kandungan kalori sekitar
3000 kkal/kg. Di China, bottom ash digunakan sebagai bahan bakar untuk kerajinan besi (pandai
besi). Teknologi Fixed bed system banyak digunakan pada industri tekstil sebagai pembangkit
uap (steam generator). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan
berat adalah : (15-25%) berbanding (75-25%). 2.5.1 Persoalan di Sekitar Fly ash dan Bottom ash
Fly ash/bottom ash yang dihasilkan oleh fluidized bed system berukuran 100-200 mesh (1 mesh
= 1 lubang/inch2). Ukuran ini relative kecil dan ringan, sedangkan bottom ash berukuran 20-50
mesh. Secara umum ukuran fly ash/bottom ash dapat langsung dimanfaatkan di pabrik semen
sebagai substitusi batuan trass dengan memasukkannya pada cement mill menggunakan udara
tekan (pneumatic system). Disamping dimanfaatkan di industri semen, fly/bottom ash dapat juga
dimanfaatkan menjadi campuran asphalt (ready mix), campuran beton (concerete) dan dicetak
menjadi paving block/batako. Dari suatu penelitian empiric untuk campuranbatako, komposisi
yang baik adalah sbb : · Kapur : 40% · Fly ash : 10% · Pasir : 40% · Semen : 10% Persoalan
lingkungan muncul dari bottom ash yang menggunakan fixed bed atau grate system. Bentuknya
berupa bongkahan-bongkahan besar. Seperti yang telah disinggung di atas bahwa bottom ash ini
masih mengandung fixed carbon (catatan : fixed carbon dalam batubara dengan nilai kalori
6500-6800 kkal/kg sekitar 41-42%). Jika bottom ash ini langsung dibuang ke lingkungan maka
lambat laun akan terbentuk gas Metana (CH4) yang sewaktu-waktu dapat terbakar atau meledak
dengan sendirinya ( self burning dan self exploding). Di sisi yang lain, jika akan dimanfaatkan di
pabrik semen maka akan merubah desain feeder, sehingga pabrik semen tidak tertarik untuk
memanfaatkan bottom ash tsb. 2.5.2 Solusi Persoalan Fly ash dan Bottom ash Dari situasi dan
keadaan di atas maka dapat dikatakan bahwa solusi terhadap munculnyafly/bottom ash serta
pemanfaatan yang dikaitkan dengan keamanan terhadap lingkungan adalah sbb : Fly ash/bottom
ash yang berasal dari sistem pembakaran fluidized bed dapat digunakan untuk : a. Campuran
semen tahan asam b. Campuran asphalt (ready mix) dan beton c. Campuran paving block/batako
Fly ash yang berasal dari fixed bed system dapat langsung digunakan seperti point 1.a, 1b dan
1c. Sedangkan untuk bottom ash yang masih dalam bentuk bongkahan maka harus mengalami
perlakukan pengecilan ukuran (size reduction treatment) sebelum dimanfaatkan lebih lanjut. 2.6
Konversi Abu Terbang Batubara Menjadi Zeolit Zeolit pada dasarnya merupakan padatan
aluminium-silikat yang memiliki struktur yang berpori. Zeolit alam biasanya terbentuk dari batu
dan abu gunung berapi yang beraksi dengan logam alkali tanah pada air tanah. Zeolit murni
hampir tidak dapat ditemukan di alam. Biasanya terdapat pengotor seperti logam natrium dan
kalsium. Abu terbang batubara memiliki potensi dikonversi menjadi zeolit jika memiliki
kandungan alumina-silika yang cukup tinggi dan kandungan karbon yang rendah. Zeolit
memiliki beberapa aplikasi industrial yaitu[6]: · Pertukaran ion : Penukar ion Na+/K+/Ca2+ ·
Adsorpsi pengotor gas : Adsorpsi selektif berdasarkan molekul gas spesifik · Adsorpsi pengotor
air : Adsorpsi reversibel air tanpa ada perubahan sifat fisik dan kimia dari zeolit itu sendiri Jenis
zeolit yang dihasilkan dari abu terbang bergantung pada komposisi awal dan metode
konversinya. Metode yang umum digunakan adalah hydrothermal alkali treatment yaitu
memanaskan campuran abu terbang dengan larutan alkali (KOH, NaOH, dsb.) dalam variasi
waktu reaksi, suhu, dan tekanan tertentu. 2.6.1 Tantangan Masa Depan Abu terbang pada masa
kini dipandang sebagai limbah pembakaran batubara. Penanganan abu terbang masih terbatas
pada penimbunan di lahan kosong. Hal ini berpotensi bahaya bagi lingkungan dan masyarakat
sekitar seperti, logam-logam dalam abu terbang terekstrak dan terbawa ke perairan, abu terbang
tertiup angin sehingga mengganggu pernafasan. Sudut pandang terhadap abu terbang harus
dirubah, abu terbang adalah bahan baku potensial yang dapat digunakan sebagai adsorben murah.
Beberapa investigasi menyimpulkan bahwa abu terbang memiliki kapasitas adsorpsi yang baik
untuk menyerap gas organik, ion logam berat, gas polutan. Modifikasi sifat fisik dan kimia perlu
dilakukan untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi. Berdasarkan paparan diatas sudah terbukti
bahwa abu terbang batubara memiliki potensi yang besar sebagai adsorben yang ramah
lingkungan. Abu terbang batubara dapat menjadi alternatif pengganti karbon aktif dan zeolit.
Tetapi, kapasitas adsorpsi abu terbang sangat bergantung pada asal dan perlakuan pasca
pembakaran batubara. Sampai sekarang, pemanfaatan abu terbang masih dilakukan dalam skala
kecil karena umumnya kapasitas adsorpsinya masih rendah. Modifikasi sifat fisik dan kimia
dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi abu terbang. Peningkatan kapasitas adsorpsi dapat
membuat adsorben dari abu terbang batubara kompetitif bila dibandingkan dengan karbon aktif
dan zeolit. Konversi abu terbang menjadi zeolit adalah salah satu alternatif yang sangat potensial
meningkatkan nilai ekonomis abu terbang. Karbon sisa pembakaran dalam abu terbang memiliki
kualitas setara karbon aktif sehingga investigasi mengenai pemisahan karbon sisa berpotensi
meningkatkan nilai ekonomis dari abu terbang. Zeolit memiliki kegunaan yang banyak seperti
adsorben, resin penukar ion, molecular sieves, dll. Zeolit memilki kapasitas adsorpsi yang jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan abu terbang sehingga konversi abu terbang menjadi zeolit
menjadi alternatif yang menjanjikan dimasa depan (Queroll, 2006). Penelitian di masa depan
diharapkan dapat membuat konversi abu terbang menjadi zeolit komersil pada skala industri. 2.7
Abu Batubara Pada Pembuatan Beton Fly-ash atau abu terbang yang merupakan sisa-sisa
pembakaran batu bara, yang dialirkan dari ruang pembakaran melalui ketel berupa semburan
asap, yang telah digunakan sebagai bahan campuran pada beton. Fly-ash atau abu terbang di
kenal di Inggris sebagai serbuk abu pembakaran. Abu terbang sendiri tidak memiliki kemampuan
mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yang halus,
oksida silika yang dikandung oleh abu terbang akan bereaksi secara kimia dengan kalsium
hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memiliki
kemampuan mengikat. Menurut ACI Committee 226 dijelaskan bahwa, fly-ash mempunyai
butiran yang cukup halus, yaitu lolos ayakan N0. 325 (45 mili mikron) 5-27%, dengan spesific
gravity antara 2,15-2,8 dan berwarna abu-abu kehitaman. Sifat proses pozzolanic dari fly-ash
mirip dengan bahan pozzolan lainnya. Menurut ASTM C.618 (ASTM, 1995:304) abu terbang
(fly-ash) didefinisikan sebagai butiran halus residu pembakaran batubara atau bubuk batubara.
Fly-ash dapat dibedakan menjadi dua, yaitu abu terbang yang normal yang dihasilkan dari
pembakaran batubara antrasit atau batubara bitomius dan abu terbang kelas C yang dihasilkan
dari batubara jenis lignite atau subbitumes. Abu terbang kelas C kemungkinan mengandung zat
kimia SiO2 sampai dengan dengan 70%. Tingkat pemanfaatan abu terbang dalam produksi
semen saat ini masih tergolong amat rendah. Cina memanfaatkan sekitar 15 persen, India kurang
dari lima persen, untuk memanfaatkan abu terbang dalam pembuatan beton. Abu terbang ini
sendiri, kalau tidak dimanfaatkan juga bisa menjadi ancaman bagi lingkungan. Karenanya dapat
dikatakan, pemanfaatan abu terbang akan mendatangkan efek ganda pada tindak penyelamatan
lingkungan, yaitu penggunaan abu terbang akan memangkas dampak negatif kalau bahan sisa ini
dibuang begitu saja dan sekaligus mengurangi penggunaan semen Portland dalam pembuatan
beton. Sebagian besar abu terbang yang digunakan dalam beton adalah abu kalsium rendah
(kelas ”F” ASTM) yang dihasilkan dari pembakaran anthracite atau batu bara bituminous. Abu
terbang ini memiliki sedikit atau tida ada sifat semen tetapi dalam bentuk yang halus dan
kehadiran kelambaban, akan bereaksi secara kimiawi dengan kalsium hidrosida pada suhu biasa
untuk membentuk bahan yang memiliki sifat-sifat penyemenan. Abu terbang kalsium tinggi
(kelas ASTM) dihasilkan dari pembakaran lignit atau bagian batu bara bituminous, yang
memiliki sifat-sifat penyemenan di samping sifat-sifat pozolan. Hasil pengujian yang dilakukan
oleh Poon dan kawan-kawan, memperlihatakan dua pengaruh abu terbang di dalam beton, yaitu
sebagai agregat halus dan sebagai pozzolan. Selain itu abu terbang di dalam beton menyumbang
kekuatan yang lebih baik dibanding pada pasta abu terbang dalam komposisi yang sama. Ini
diperkirakan lekatan antara permukaan pasta dan agregat di dalam beton. More dan kawan-
kawan, Mendapatkan workabilitas meningkat ketika sebagian semen diganti oleh abu terbang.
Beton yang mengandung 10 persen abu terbang memperlihatkan kekuatan awal lebih tinggi yang
diikuti perkembangan yang signifikan kekuatan selanjutnya. Kekuatan meningkat 20 persen
dibanding beton tanpa abu terbang. Penambahan abu terbang menghasilakan peningkatan
kekuatan tarik langsung dan modulus elastis. Kontribusi abu terbang terhadap kekuatan di dapati
sangat tergantung kepada faktor air-semen, jenis semen dan kualitas abu terbang itu sendiri.
Dalam suatu kajian, abu terbang termasuk ke dalam kategori kelas F dengan kandungan CaO2
rendah sebesar 1,37 persen lebih kecil daripada 10 persen yang menjadi persyaratan minimum
kelas C. Namun demikian kandungan SiO2 sukup tinggi yaitu 57,30 persen. Abu terbang ini,
selain memenuhi kriteria sebagai bahan yang memiliki sifat pozzolan, abu terbang juga memiliki
sifat-sifat fisik yang baik, yaitu jari-jari pori rata-rata 0,16 mili mikron, ukuran median 14,83
mili-mikron, dan luas permukaan spesifik 78,8 m2/gram. Sifat-sifat tersebut dihasilkan dengan
menggunakan uji Porosimeter. Hasil-hasil pengujian menunjukkan bahwa abu terbang memiliki
porositas rendah dan pertikelnya halus. Bentuk partikel abu terbang adalah bulat dengan
permukaan halus, dimana hal ini sangat baik untuk workabilitas, karena akan mengurangi
permintaan air atau superplastiscizer. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Penggunaan batubara
sebagai sumber energi akan menghasilkan abu yaitu berupa abu layang (fly ash) maupun abu
dasar (bottom ash). Kandungan abu layang sebesar 84 % dari total abu batubara. Produksi abu
layang batubara dunia yang diperkirakan tidak kurang dari 500 juta ton per tahun dan ini
diperkirakan akan bertambah. Hanya 15 % dari produksi abu layang yang digunakan. Sisa dari
abu layang cenderung sebagai reklamasi (Tanaka dkk., 2002). Hal ini dapat menimbulkan
pengaruh yang buruk terhadap lingkungan. Oleh karena itu masalah abu layang batubara harus
segera diselesaikan agar tidak terjadi penumpukan dalam jumlah yang besar baik di Indonesia
maupun di dunia. Salah satu alternatif untuk memanfaatkan abu layang batubara adalah dengan
mengubah abu layang tersebut menjadi zeolit. Zeolit dapat dimanfaatkan untuk beragam
kegunaan seperti katalis, absorben, sumber kation penyaring molekul (Smart dkk., 1993) dan
yang tidak kalah pentingnya lagi adalah sebagai builder detergent (Hui dkk., 2006). 3.2 Saran
Perlu adanya terobosan baru dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena
dengan perkembangan keduanya maka dengan sendirinya penanganan abu batubara akan sangat
berguna bagi kehidupan manusia dan tidak lagi menjadi limbah industri. Dukung aku ya Dalam
Kontes SEO Adira Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia PEMANFAATAN ABU
BATUBARA 1 komentar: puteri utami mengatakan... PT. Citra Nusantara Energi sebagai
distributor Gas Alam sangat cocok digunakan di Industri maupun di alat transportasi pribadi atau
umum. AMAN, HEMAT & HARGA TERJANGKAU For more info klik http://cne.co.id/ atau
geratih.blogspot.com 8 Juli 2015 21.23 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama
Beranda Pengikut Komentar Terbaru darimana sumber penulisan kadar mangan diperoleh ?...
Makasih bro bermanfaat sekali min tambain relasitasnya..!! salam tambang saya tambang upri
makassar ? salam tambang saya tambang upri makassar ? Daftar Link Teman Adira Asuransi
Kendaraan Terbaik Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia Century 21 Broker Properti Jual Beli
Sewa Rumah Indonesia kata-kata mutiara Yafi Site Belajar Menjadi BINTANG Ozi Blog Cell
Phone Reviews Kata-kata Mutiara Kata-kata Indah Ramalan Jodoh Kata-Kata Cinta Kata-Kata
Lucu Cerita Lucu Site Info My Popularity (by popuri.us) widgeo.net Adira Asuransi Kendaraan
Terbaik Indonesia seputar dunia tambang Pesan Sponsor Mheea Ncenk Heart Buat Lencana
Anda Update Terbaru Perhitungan Cadangan Cadangan Adira Asuransi Kendaraan Terbaik
Indonesia Mheea Nck © 2010-2011 | Adira Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia |
Makeityourring Diamond Engagement Rings

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu


http://mheea-nck.blogspot.co.id/2011/01/pemanfaatan-abu-batubara.html

Search

RANGER OF ENVIRO
For Fun n for Link.....

 Home
 Organisasi
 Downloads
 Parent Category
 Featured
 Health
 Edit

Categories
 film (1)
 gadget (2)
 hiburan (6)
 HIMATEKLINK (11)
 IMTLI (9)
 LabLink (1)
 liburan? (8)
 MIKROBIOLOGI (4)
 news (54)
 OPINION (29)
 PEMETAAN (1)
 penghasil uang (5)
 Penyakit (1)
 PKL (2)
 PLI (2)
 PTAT (1)
 sinopsis (13)
 teman (18)
 termodinamika (1)
 TUGAS (12)
 tutorial (9)

Blog Archive
 ►  2011 (12)

 ►  2010 (19)

 ▼  2009 (39)
o ►  September (2)
o ►  Agustus (2)
o ►  Juli (4)
o ►  Juni (12)
o ►  Mei (7)
o ►  April (6)
o ▼  Maret (5)
 Streptococcus lactis
 Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran ...
 IMTLI Ajarkan Cara Daur Ulang Kertas
 BAKTERI COLIFORM
 PENGGUNAN GEOGRAPHICAL INFORMATION SYSTEM (GIS)
PA...
o ►  Februari (1)

 ►  2008 (8)
Senin, 23 Maret 2009
Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran Batubara Pada PLTU
Suralaya Sebagai Bahan Baku Pembuatan Refraktori Cor

Posted by Dafi Acosta on 15.54

1. Judul

Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran Batubara Pada PLTU
Suralaya Sebagai Bahan Baku Pembuatan Refraktori Cor

2. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata pencemaran. Pencemaran


sendiri terdiri dari beberapa macam, antara lain pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran
udara, serta pencemaran suara. Pencemaran tersebut memberikan dampak yang sangat berbahaya
terhadap kehidupan makhluk hidup. Bagi manusia bahaya dari pencemaran ini bukan hanya
mengarah kepada bahaya kesehatan tetapi juga bahaya kematian.

Salah satu pencemaran yang paling berbahaya dan memberikan dampak yang cukup
besar adalah pencemaran udara. Pencemaran udara sendiri mengandung pengertian masuk atau
dimasukkannya masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, atau komponen lain ke dalam
udara dari kegiatan manusia atau proses alam sehingga menurunkan kualitas udara tersebut ke
titik tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang/tidak berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukkannya.

Pada dasarnya semua pencemaran itu berbahaya bagi kehidupan, tetapi pencemaran udara
menjadi salah satu pencemaran yang dikategorikan sebagai pencemaran yang sangat berbahaya.
Hal ini dikarenakan partikel polutan dari pencemaran ini berukuran sangat kecil sehingga tidak
disadari oleh masyarakat. Sumber pencemar dalam pencemaran udara tidak hanya berasal dari
aktivitas manusia (karena tangan manusia), tetapi juga oleh sumber-sumber pencemar yang
datangnya akibat peristiwa alamiah seperti gunung meletus, bencana alam, dan lain-lain.
Berdasarkan wujud fisiknya, pencemar-pencemar yang terdapat di udara tidak hanya berupa gas
atau uap, melainkan kontaminan itu dapat juga sebagai benda-benda padat sebagai partikel, yaitu
berupa debu, asap, kabut, dan lain-lain, bahkan panas dan bau juga.

Partikulat termasuk dalam salah satu polutan pencemaran udara. Secara umum partikel
yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Partikel-
partikel tersebut sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar
oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau
pneumoconiosis.

Fly Ash merupakan salah satu jenis partikulat yang dapat diklasifikasikan dalam debu. Hal
ini karena biasanya Fly Ash dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Abu terbang (fly ash) sebagai
limbah PLTU berbahan bakar batu bara dikategorikan oleh Bapedal sebagai limbah berbahaya
(B3). Sehubungan dengan meningkatnya jumlah pembangunan PLTU berbahan bakar batubara
di Indonesia, maka jumlah limbah abu terbang juga akan meningkat yaitu jumlah limbah PLTU
pada tahun 2000 sebanyak 1,66 juta ton, sedangkan pada tahun 2006 diperkirakan akan mencapai
sekitar 2 juta ton. Khusus untuk limbah abu dari PLTU Suralaya, sejak tahun 2000 hingga tahun
2006, diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton/tahun. Jika limbah abu ini
tidak dimanfaatkan akan menjadi masalah pencemaran lingkungan, yang mana dampak dari
pencemaran akibat abu terbang (fly ash) sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun
kesehatan. Oleh karena itu, penelitian tentang studi kasus pencemaran udara yang disebabkan
oleh partikulat khususnya abu terbang (Fly Ash) perlu dilaksanakan untuk mengetahui sejauh
mana dampak serta pemanfaatannya terhadap lingkungan.

3. Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini kami membahas tentang sumber, dampak, penanggulangan dan
kendala yang disebabakan oleh partikulat di udara terhadap lingkungan.

4. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menginformasikan tentang
sumber, dampak, penanggulangan dan kendala yang disebabakan oleh partikulat di udara
terhadap lingkungan.
5. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini antara lain masyarakat menjadi tahu bahwa abu terbang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan refraktori cor sehingga di samping menjaga
lingkungan dapat digunakan sebagai mata pencaharian.

6. Tinjauan Pustaka

a. Karakteristik Fly Ash (Abu Terbang)

Abu terbang merupakan limbah padat hasil dari proses pembakaran di dalam furnace
pada PLTU yang kemudian terbawa keluar oleh sisa-sisa pembakaran serta di tangkap dengan
mengunakan elektrostatic precipitator. Fly ash merupakan residu mineral dalam butir halus
yang dihasilkan dari pembakaran batu bara yang dihaluskan pada suatu pusat pembangkit
listrik. Fly ash terdiri dari bahan inorganik yang terdapat di dalam batu bara yang telah
mengalami fusi selama pembakarannya. Bahan ini memadat selama berada di dalam gas-gas
buangan dan dikumpulkan menggunakan presipitator elektrostatik. Karena partikel-partikel
ini memadat selama tersuspensi di dalam gasgas buangan, partikel-partikel fly ash umumnya
berbentuk bulat. Partikel-partikel fly ash yang terkumpul pada presipitator elektrostatik
biasanya berukuran silt (0.074 – 0.005 mm). Bahan ini terutama terdiri dari silikon dioksida
(SiO2), aluminium oksida (Al2O3) dan besi oksida (Fe2O3).

Menurut laporan teknik PT PLN (Persero) (1997), di Indonesia produksi limbah abu
terbang dan abu dasar dari PLTU diperkirakan akan mencapai 2 juta ton pada tahun 2006, dan
meningkat menjadi hampir 3,3 juta ton pada tahun 2009. Khusus untuk PLTU Suralaya, sejak
tahun 2000 hingga 2006 diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton per
tahun. Produksi abu terbang batubara (fly ash) didunia pada tahun 2000 diperkirakan
berjumlah 349 milyar ton. Produksi abu terbang dari pembangkit listrik di Indonesia ini terus
meningkat, pada tahun 2000 yang jumlahnya mencapai 1,66 milyar ton dan diperkirakan
mencapai 2 milyar ton pada tahun 2006. Jika limbah abu ini tidak ditangani akan
menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Salah satu kemungkinan penanganannya
adalah dengan memanfaatkan abu terbang ini untuk bahan baku pembuatan refraktori..
Penyumbang terbesar produksi abu terbang batubara adalah sektor pembangkit listrik.
Tabel 1. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU di Indonesia

meta equiv="Content-Type"
content="text/html; charset=utf-8">

Tabel 2. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU Suralaya

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi dalam kandungan mineral fly ash (abu
terbang) dari batu bara adalah:

Komposisi kimia batu bara

Proses pembakaran batu bara

Bahan tambahan yang digunakan termasuk bahan tambahan minyak untuk stabilisasi
nyala api dan bahan tambahan untuk pengendalian korosi.

Senyawa-senyawa penyusun abu terbang sebenarnya sangat ditentukan oleh mineral-


mineral pengotor bawaan yang terdapat pada batu bara itu sendiri yang disebut dengan
inherent mineral matter. Mineral pengotor yang terdapat dalam batu bara dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

1. Syngenetic atau disebut dengan mineral matter : pada dasarnya mineral-mineral ini
terendapkan di tempat tersebut bersamaan dengan saat prosespembentukan paet.
2. Epigenetica juga disebut dengan extraneous mineral matter: pada prinsipnya mineral-
mineral pengotor ini terakumulasi pada cekungan setelah proses pembentukan lapisan
peat tersebut selesai.
Dari sejumlah abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran batubara, maka
sebanyak 55% - 85 % berupa abu terbang (fly Ash) dan sisanya berupa abu dasar (Bottom
Ash). Sedangkan dari PLTU Suralaya dari sejumlah abu yang dihasilkan hampir 90 % berupa
abu terbang (Fly Ash). Kedua janis abu ini memiliki perbedaan karakteristik serta
pemanfaatannya. Biasanya untuk fly ash (abu terbang) banyak dimanfaatkan dalam
perrusahaan industri karena abu terbang ini mempunyai sifat pozolanik, sedangkan unutk abu
dasar sangat sedikit pemanfaatannya dan biasanya digunakan sebagai material pengisi (Aziz1,
2006).

a. Proses Pembentukan Fly Ash (Abu Terbang)

Sistem pembakaran batubara umumnya terbagi 2 yakni sistem unggun terfluidakan


(fluidized bed system) dan unggun tetap (fixed bed system atau grate system). Disamping itu
terdapat system ke-3 yakni spouted bed system atau yang dikenal dengan unggun pancar.
Fluidized bed system adalah sistem dimana udara ditiup dari bawah menggunakan blower
sehingga benda padat di atasnya berkelakuan mirip fluida. Teknik fluidisasi dalam
pembakaran batubara adalah teknik yang paling efisien dalam menghasilkan energi. Pasir atau
corundum yang berlaku sebagai medium pemanas dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan
biasanya dilakukan dengan minyak bakar. Setelah temperatur pasir mencapai temperature
bakar batubara (300oC) maka diumpankanlah batubara. Sistem ini menghasilkan abu terbang
dan abu yang turun di bawah alat. Abu-abu tersebut disebut dengan fly ash dan bottom ash.
Teknologi fluidized bed biasanya digunakan di PLTU (Pembangkit Listruk Tenaga Uap).
Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan berat adalah : (80-
90%) berbanding (10-20%). Fixed bed system atau Grate system adalah teknik pembakaran
dimana batubara berada di atas conveyor yang berjalan atau grate. Sistem ini kurang efisien
karena batubara yang terbakar kurang sempurna atau dengan perkataan lain masih ada karbon
yang tersisa. Ash yang terbentuk terutama bottom ash masih memiliki kandungan kalori
sekitar 3000 kkal/kg. Di China, bottom ash digunakan sebagai bahan bakar untuk kerajinan
besi (pandai besi). Teknologi Fixed bed system banyak digunakan pada industri tekstil sebagai
pembangkit uap (steam generator). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam
perbandingan berat adalah : (15-25%) berbanding (75-25%) (Koesnadi, 2008).
b. Sifat-sifat Fly Ash (Abu Terbang)

Abu terbang mempunyai sifat-sifat yang sangan menguntungkan di dalam


menunjang pemanfaatannya yaitu :

1.Sifat Fisik

Abu terbang merupakan material yang di hasilkan dari proses pembakaran batubara
pada alat pembangkit listrik, sehingga semua sifat-sifatnya juga ditentukan oleh komposisi
dan sifat-sifat mineral-mineral pengotor dalam batubara serta proses pembakarannya.
Dalamproses pembakaran batubara ini titik leleh abu batu bara lebih tinggi dari temperatur
pembakarannya. Dan kondisi ini menghasilkan abu yang memiliki tekstur butiran yang sangat
halus. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat
atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil
dari 0,075mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100 sampai 3000 kg/m 3 dan luas area
spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara Blaine) antara 170 sampai 1000
m2/kg. Adapun sifat-sifat fisiknya antara lain :

a) Warna : abu-abu keputihan

b) Ukuran butir : sangat halus yaitu sekitar 88 %

2. Sifat Kimia

Komponen utama dari abu terbang batubara yag berasal dari pembangkit listrik
adalah silikat (SiO2), alumina(Al2O3), dan besi oksida(Fe2O3), sisanya adalah karbon, kalsium,
magnesium, dan belerang.

Sifat kimia dari abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yan dibakar
dan teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan
sub/bituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih
banyak daripada bituminus. Namun, memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon yang
lebih sedikit daripada bituminous. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang
umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran
batubara bituminous lebih kecil dari 0,075 mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100-
3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya antara 170-1000 m2/kg.

Tabel 3. Komposisi kimia abu terbang batubara

Komponen Bituminous Sub- Lignite


bituminous
SiO2 20-60% 40-60% 15-45%
Al2O3 5-35% 20-30% 10-25%
Fe2O3 10-40% 4-10% 4-15%
CaO 1-12% 5-30% 15-40%
MgO 0-5% 1-6% 3-10%
SO3 0-4% 0-2% 0-10%
Na2O 0-4% 0-2% 0-6%
K2O 0-3% 0-4% 0-4%
LOI 0-15% 0-3% 0-5%

c. Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang)

Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan


untuk meningkatkan nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap
lingkungan. Saat ini umumnya abu terbang batubara digunakan dalam pabrik semen sebagai
salah satu bahan campuran pembuat beton selain itu, sebenarnya abu terbang batubara
memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam:

1. penyusun beton untuk jalan dan bendungan


2. penimbun lahan bekas pertambangan
3. recovery magnetik, cenosphere dan karbon
4. bahan baku keramik, gelas, batubata, dan refraktori
5. bahan penggosok (polisher)
6. filler aspal, plastik, dan kertas
7. pengganti dan bahan baku semen
8. aditif dalam pengolahan limbah (waste stabilization)
9. konversi menjadi zeolit dan adsorben

Refraktori merupakan bahan tahan api sebagai penahan (isolator) panas pada tanur-
tanur suhu tinggi yang banyak digunakan oleh berbagai industri, seperti industri peleburan
logam, kaca, keramik, semen. Refraktori cor merupakan bahan tahan api berupa bubuk yang
jika dicampur dengan air dan dibiarkan beberapa saat akan mengeras (setting).
Penggunaannya sebagai isolator panas dilakukan dengan cara pengecoran adonan campuran
bahan tersebut dengan air pada dinding tanur yang akan diisolasi.

Ada 3 tipe refraktori cor berdasarkan kandungan CaO-nya (Kumar et al,2003;


Silvonen,2001) yaitu:

- Low cement castables mengandung maksimum CaO 2,5 %

- Ultra - low cement castables mengandung CaO <>

- No cement castables mengandung CaO <>

Menurut data produk perdagangan dari Sharada Ceramic Ltd, India (2000), refraktori
cor yang bersifat asam mengandung Al2O3 65 - 95%, dan SiO2 5 - 32%, tahan terhadap suhu
1750 - 1860°C, bulk density 2,1 - 2,8 g/ml. Bahan refraktori yang baik harus memiliki kadar
Al2O3 lebih tinggi daripada SiO2 dengan perbandingan Al2O3 : SiO2 = 65% : 35% atau nilai
Al2O3/SiO2=1,85 (Aziz2, 2006)

Penelitian dan aplikasi pemanfaatan abu terbang sebagai bahan refraktori sudah
dilakukan dibeberapa negara seperti India dan Cina. Abu terbang PLTU-Suralaya diduga
mempunyai potensi sebagai salah satu bahan baku refraktori. Dalam rangka pemanfaatan abu
terbang PLTUSuralaya untuk bahan baku pembuatan refraktori, khususnya refraktori cor
(castable refractory), perlu terlebih dahulu dilakukan penelitian bahan baku (raw materials)
abu terbang tersebut untuk mengetahui karakteristiknya melalui serangkaian penelitian dan
pengujian.

d. Dampak Fly Ash (Abu Terbang) di Lingkungan


Adapun dampak yang ditimbulkan dari fly ash, yaitu:

1. Dampak positif.

Fly ash (abu terbang/abu layang) dimanfaatkan sebagai adsorben limbah


sasirangan dan logam berat berbahaya, bahan pembuat beton, bahan pembuat refaktori
cor tahan panas, Hal itu didasari oleh struktur abu layang yang berpori dan luas
permukaan yang besar, sehingga dengan sedikit perlakuan dan modifikasi manjadikan
abu layang sebagai bahan yang cukup potensial untuk berbagai keperluan sehingga dapat
menghemat biaya dan tanpa disadari dapat mengurangi pencemeran lingkungan akibat fly
ash itu sendiri. Bagi industry yang menggunakan bahan bakar batu bara, seperti PLTU
dapat memanfaatkan fly ash sebagai sumber ekonomi sampingan.

2. Dampak negatif.

Apabila fly ash didiamkan dan tidak diolah maka akan berdampak pada
lingkungan dan manusia, karna fly ash merupakan salah satu limbah B3.

Tabel 4. Waktu paparan fly ash

Jenis-jenis penyakit yang ditimbulkan oleh patikulat fly ash batubara:

a. Penyakit Silikosis

Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2,
yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini
banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang
mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu, debu silika juka banyak
terdapat di tempat di tempat penampang bijih besi, timah putih dan tambang batubara.
Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas
SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan terdispersi ke udara bersama – sama
dengan partikel lainnya, seperti debu alumina, oksida besi dan karbon dalam bentuk abu.

Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi
sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit
silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap
ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang
disertai batuk-batuk. Batuk ii seringkali tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis
tingkah sedang, gejala sesak nafas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks
kelainan paru-parunya mudah sekali diamati. Bila penyakit silicosis sudah berat maka
sesak nafas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah
kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung.

Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan
pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat sebab penyakit
silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventif lebih penting dan berarti
dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis akan lebih buruk kalau
penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma
broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya. Pengawasan dan pemeriksaan
kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat membantu pencegahan dan
penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data kesehatan pekerja sebelum masuk
kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat
penyakit pekerja kalau sewaktu – waktu diperlukan.

b. Penyakit Antrakosis

Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh


debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara
atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti
pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut
bertenaga batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar
batubara.

Masa inkubasi penyakit ini antara 2 – 4 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis
dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga ditandai
dengan adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu
silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit silicosis. Bila hal ini
terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga macam,
yaitu penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis dan penyakit
tuberkolosilikoantrakosis.

Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan


waktu yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatif tidak begitu berbahaya. Penyakit
antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema yang
memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka antrakosis murni
lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti oleh emphysema.
Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan, kecuali dari
sumber penyebabnya. Sedangkan paenyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah
dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat dari
fototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu batubara dan
debu silikat, serta juga adanya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru.

1. Metodologi

a. Karakterisasi Fly Ash (Abu Terbang)

Dalam usaha untuk memanfaatkan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran
batubara di PLTU unit II Suralaya menjadi sebagai bahan baku dalam pembuatan refraktori
cor, maka terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap abu terbang yang dilanjutkan dengan
persiapannya.

Adapun langkah-langkah analisis dan percobaanya sebagai berikut :


1. Uji karakterisasi abu terbang PLTU Suralaya dilakukan melalui analisis kimia, analisis
fisik (distribusi ukuran, porositas, berat jenis, analisis SEM). Hasil - hasil analisis yang
diperoleh
2. pembuatan refraktori cor dan membandingkan dengan komposisi/ karakteristik yang
dimiliki oleh refraktori cor komersial.

Adapun alat / metoda yang digunakan adalah sebagai berikut :

Analisis kimia dengan AAS

Mineralogi dengan XRD.

Dimana prinsip kerja dari XRD adalah merekam dan memvisualisasikan pantulan
sinar X dari kisikisi kristal dalam bentuk grafik. Grafik tersebut kemudian dianalisis,
terdiri atas mineral liat apa saja dan relatif komposisinya.

Uji struktur mikro dengan SEM.

SEM (Scanning Electron Microscope) dimana prinsip kerjanya dengan


menggunakan mikroskop tenaga elektron sehingga dapat melakukan perbesaran hingga
beribu-ribu kali.

Uji distribusi ukuran dengan Fritsch Particle Sizer, dan ayakan mesh Tyler

Uji porositas berdasarkan SNI 13-3604-1994

Uji densitas berdasarkan SNI 13-3602-1994

Tabel 5. Komposisi kimia abu pada limbah PLTU Suralaya


Karakteristik abu PLTU Suralaya dapat dilihat pada Tabel 5 masing-masing
mengandung Al2O3 30,8% dan 24% serta mengandung SiO2 sebanyak 54% dan 63,4%.
Karena kandungan CaO sekitar 4% maka abu ini termasuk kualitas ASTM kelas “C” yang
lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing castables refractory yang tahan suhu relatif
rendah, padahal yang diinginkan adalah klasifikasi low/ultra-low cement castable refractory
yang tahan suhu tinggi. Kandungan CaO maksimum 1% adalah kualitas ASTM kelas “F”.
Oleh karena itu, diperlukan penambahan aluminium oksida ke dalam abu batubara untuk
mengurangi kadar CaO, Fe2O3. Komposisi kimia limbah PLTU-Suralaya seperti terlihat pada
Tabel 1 menunjukkan bahwa Kadar Al2O32 yaitu Al2O3 : SiO2 = 30,8% : 50% atau nilai
Al2O3/SiO2=0,57. Bahan refraktori yang baik harus memiliki kadar Al2O3>SiO2 dengan
perbandingan Al2O3 : SiO2 = 65% : 35% atau nilai Al2O3/SiO2=1,85. Oleh karena itu, limbah
abu terbang dan abu dasar PLTU-Suralaya dapat digunakan sebagai bahan penambah
pembuatan refraktori.

a. Pembuatan Refraktori Cor

Pada prinsipnya pembuatan refraktori cor sama dengan pembuatan refraktori bata,
hanya saja produk refraktori cor dibuat berbentuk bubuk, sedangkan produk refraktori bata
dibuat/dicetak berbentuk bata. Bahan baku refraktori cor pada umumnya dibuat dari mineral
yang ada di alam, terdiri dari campuran aggregate dan binder dengan perbandingan tertentu.
Ada berbagai jenis aggregate yang berfungsi sebagai grog antara lain kalsium silikat, tabular
alumina. Grog adalah material granular yang dibuat dari bahan tahan api hancur (crushed
brick) sebagai pengisi bodi berukuran kasar yang dapat berfungsi mengurangi shrinkage dan
thermal expansion, serta meningkatkan stabilitas saat mengalami suhu tinggi. Ada berbagai
jenis binder antara lain clay atau chamotte, kalsium aluminat. Aggregate dan binder dicampur
menggunakan mesin homogenizer. Campuran aggregate + binder + abu terbang kemudian
dibakar/disinter pada suhu tinggi (>1300 °C) agar membentuk klinker. Klinker digerus untuk
mendapatkan ukuran tertentu sesuai persyaratan perdagangan. Klinker halus ini adalah produk
akhir yang disebut sebagai refraktori cor. Berdasarkan sifatnya abu terbang dapat berfungsi
ganda, yaitu sebagai aggregate sekaligus binder. Penelitian pembuatan refraktori cor dengan
menggunakan abu terbang ini diharapkan dapat mengurangi pemakaian aggregate dan binder
yang harganya mahal dalam pembuatan refraktori cor. Refraktori cor dibuat dari campuran
agregat dan binder. Agregat terdiri atas abu terbang, grog (crushed brick), dan aluminium
oksida. Sebagai binder adalah calcium aluminate. Abu terbang memiliki fungsi ganda selain
sebagai agregat juga sebagai binder. Campuran agregat dan binder dibuat dalam beberapa
komposisi dengan nilai Al2O3 / SiO2 sebesar 1,5 sampai 2,4. Setiap campuran diaduk dengan
alat homogenizer untuk mendapatkan campuran yang homogen. Terhadap masing-masing
campuran pengujian distribusi ukuran butir, komposisi mineral, komposisi kimia, dan bulk
density. Campuran ditambah 15% air dan diaduk sampai merata membentuk adonan. Adonan
dicorkan ke dalam cetakan yang telah disiapkan dan dibiarkan sampai mengering. Hasil
adonan ini disebut komposit mentah. Kemudian hasil adonan tersebut di uji dengan uji
porositas,densitas, tekstur. Dan juga melakukan pengujian kerefraktoriannya dengan teknik
uji PCE dan uji pembakaran firing. Sebagai pembanding (kontrol) adalah hasil uji salah satu
refraktori cor komersial. Porositas diuji berdasarkan SNI 13-3604-1994, dan uji densitasnya
berdasarkan SNI 13-3602-1994, tekstur diuji menggunakan SEM. Uji pembakaran untuk
menentukan nilai PCE didasarkan pada SNI 15-4936-1998. Dapur untuk pembakaran
digunakan muffle furnace. Pengambilan contoh menggunakan teknik basung prapat, uji
distribusi ukuran menggunakan Fritsch Particle Sizer dan ayakan mesh Tyler. Uji mineralogi
dengan X-RD, dan analisis kimia dengan AAS.
1. Hasil Dan Pembahasan

a. Karakteristik Fly Ash(Abu terbang) di PLTU surabaya

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti maka dapat di
ketahui dan di informasikan bahwa :

1) Distribusi ukuran butiran :

Dari hasil analisis distribusi ukuran menggunakan Fritch particle sizer, menunjukkan
bahwa ukuran partikel-partikel abu terbang di PLTU Suralaya berkisar antara 0.31 - 300.74
µm, dengan distribusi 80% berukuran 0.31 - 40.99 µm, atau d50 = 6,22 µm. Ukuran partikel
yang sangat halus ini Sangat cocok sebagai bahan pengisi (fine grog) dalam sistem refraktori
cor. Bentuk partikelnya menunjukkan bentuk-bentuk membulat (spheres), berukuran kira-kira
<15>

Gambar 1. merupakan material aluminium Silikat

Partikel-partikel yang membulat tersebut satu sama lain terlepas (tidak berikatan).
Bentuk partikel fly ash yang membulat ini kemungkinan disebabkan karena pada saat
aluminosilikat mengalami pembakaran suhu tinggi dalam boiler PLTU, alkali di permukaan
partikel meleleh. Terlihat pada Gambar 1. bahwa permukaan partikel membulat tersebut tidak
merata yang menunjukkan kemungkinan proses pelelehannya belum sempurna. Partikel-
partikel yang permukaannya meleleh belum sempurna dan berukuran halus ini cenderung
bergerak/berputar di dalam boiler akibat tekanan udara panas dan terbang melalui cerobong
sehingga disebut abu terbang.

Partikel halus yang membulat cocok untuk digunakan sebagai bahan tahan api cor,
karena memiliki sifat lambat pengendapan dan self flowing yang lebih baik. Jika di lihat dari
keunggulan pada sifat pengendapan yang lambat, cenderung membentuk distribusi merata,
sehingga produk refraktori cor yang di produksi akan mempunyai struktur fisik yang uniform
dengan daya tahan abrasif yang lebih baik. Mullite(3Al2O3.2SiO2) yang terdeteksi melalui
XRD mungkin jumlahnya sangat kecil, karena tidak Unsur-unsur yang terkandung dalam abu
terbang itu sendiri seperti C-K, Al-K Si-K dan Fe-K dengan komponen C = 32,5%, Al 2O3 =
3,98%, SiO2 = 4,5% dan FeO = 59%. Kenampakan bentuknya dilihat dengan adanya tekstur
menjarum/memanjang (tekstur khas mulite) seperti pada tekstur refraktori cor komersial.
Selain itu juga belum nampak adanya tekstur yang berikatan satu sama lain yaitu tekstur
akibat perlakuan suhu tinggi/pelelehan. Oleh karena itu, abu terbang-PLTU Suralaya belum
bersifat refraktori.

1) Tekstur:

Hasil uji spot EDS menggunakan SEM terhadap butiran kasar (+30 mesh) dan
butiran halus (-200 mesh) menunjukkan, butiran kasar bertekstur seperti butiran gula pasir
(sugary) yang berukuran <>μm, dan partikel halus (fine) menunjukkan sugary dan tekstur
jarum (needle) yang panjangnya sekitar 3 μm.

2) Komposisi mineral :

Hasil uji terhadap contoh abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan bahwa mineral
dominannya adalah kuarsa dan sedikit mullite. Keberadaan mullite menunjukkan bahwa
aluminosilikat pada abu terbang telah mengalami kontak dengan suhu tinggi di dalam tungku
pembakaran batubara PLTU. Mullite (3Al2O3.2SiO2) adalah mineral alumina silikat yang
tahan terhadap suhu tinggi hingga sekitar 1875°C, tetapi karena masih ada mineral kuarsa
kemungkinan ketahanan terhadap suhu akan berkurang.

3) Komposisi kimia :
Komposisi kimia disajikan pada Tabel 2. menunjukkan bahwa nilai Al 2O3/SiO2 =
0,16 yang berarti kadar alumina sangat kecil dibandingkan dengan silikanya. Jika
dibandingkan dengan data dalam Tabel 6. (PT PLN, 1997), terlihat kadar alumina lebih tinggi
dengan nilai Al2O3/SiO2 = 0,6. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena komposisi batu
bara yang digunakan dulu dengan saat ini oleh PLTU-Suralaya sudah berubah. Saat ini batu
bara yang digunakan berasal dari PT. Adaro. Selain itu juga terlihat ada senyawa pengotor
seperti Fe2O3, TiO2, CaO, K2O dan Na2O yang relatif tinggi, sehingga mungkin akan
menurunkan kualitas refraktori. Dengan kandungan CaO sekitar 3,2% maka abu terbang ini
termasuk klasifikasi ASTM kelas “C” yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing
castables refractory yang tahan suhu relatif rendah. Berdasarkan kandungan mineral dan
komposisi kimianya seperti terlihat pada Tabel 8. maka abu terbang ini selain berfungsi
sebagai bahan pengisi berbutir halus (fine grog) juga dapat berfungsi sebagai binder dalam
sistem refraktori.

Data yang ditunjukkan pada Tabel 7. adalah komposisi kimia abu PLTU-Suralaya
hasil pengujian menurut laporan teknik PT PLN, 1977. Data tersebut memperlihatkan
kandungan Al2O3 yang relatif lebih tinggi yaitu 30,8% untuk abu terbang dan 24% untuk abu
dasar. Juga kandungan SiO2 yang lebih rendah yaitu 54% untuk abu terbang dan 63,4% untuk
abu dasar. Untuk abu terbang, nilai perbandingan Al2O3/SiO2 adalah 0,57. Kandungan CaO
relatif tinggi yaitu sekitar 4%. Menurut klasifikasi ASTM, abu terbang dengan nilai
kandungan CaO tersebut termasuk kelas “C”, yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan
cementing castables refractory yang tahan suhu relatif rendah. Untuk mencapai kualitas
refraktori yang tahan suhu tinggi, kandungan CaO maksimum 1%. Kualitas ini termasuk
low/ultra-low cement castable refractory, yaitu klasifikasi ASTM kelas “F” (Hwang,1991).
Oleh karena itu, untuk mencapai komposisi kimia refraktori diperlukan penambahan
aluminium oksida atau bahan yang mengandung Al2O3 tinggi ke dalam abu terbang guna
mengurangi kadar SiO2, CaO, K2O, Na2O, Fe2O3 sehingga dapat mendekati komposisi kimia
refraktori cor komersial, dan memiliki nilai Al2O3/SiO2 sekitar 1,6 – 1,85.

Komponen/senyawa kimia yang terdeteksi dari analisis SEM untuk butiran kasar
terdiri atas Al2O3=72,7%, SiO2=16,6%, CaO=1,18%, ZrO2=9,4% dan FeO dan MoO3 dalam
kadar rendah. Adapun partikel halus terdiri atas senyawa Al2O3=72,2%, SiO2=8,9%,
ZrO2=5,71%, Ta2O5=13,2% dan CaO, MgO, C kadar rendah. Keberadaan senyawa Zirkonia
dan Tantalum menambah ketahanan refraktori terhadap suhu tinggi. Adanya komponen C
(karbon) kemungkinan berasal dari bahan abu terbang atau waktu proses sinterisasi
menggunakan bahan bakar batu bara.

Tabel 6. Komposisi kimia Fly ash PLTU Suralaya

Tabel 7. Komposisi kimia pada limbah PLTU Suralaya

Tabel 8. Tipikal Komposisi kimia Grog

b. Pembuatan Refraktori Cor Dan Membandingkan Dengan Komposisi/ Karakteristik


Yang Dimiliki Oleh Refraktori Cor Komersial

1) Rekayasa dan Hasil Penghitungan Komposisi


Dari hasil karakterisasi abu terbang PLTU-Suralaya selanjutnya diperlukan
penelitian untuk merekayasa dan menghitung komposisi bahan baku refraktori cor
(komposit mentah) yang terdiri dari 4 komponen : abu terbang, grog aluminosilikat
(crushed brick), aluminium oksida, dan calcium aluminate (sebagai pengikat atau binder).
Grog adalah material granular yang dibuat dari bahan tahan api hancur (crushed brick)
sebagai pengisi bodi berukuran kasar yang dapat berfungsi mengurangi shrinkage dan
thermal expansion, meningkatkan stabilitas saat mengalami suhu tinggi. Abu terbang
mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai grog, pengisi refraktori berbutir halus dan sebagai
binder atau perekat karena di dalamnya mengandung calcium aluminate.

Sebagai bahan grog kasar, digunakan aluminosilikat yang telah mengalami


perlakuan suhu tinggi dan telah dipecah (crushed brick). Salah satu tipikal grog untuk
refraktori cor biasanya dibuat berukuran ± 30 mesh, yang mana komposisi mineralnya
terdiri dari: corundum, mullite dan cristobalite. Komponen lainnya adalah aluminium
oksida (Aloxi) yang berfungsi untuk menambah kandungan Al2O3 sehingga sifat
kerefraktorian dari refraktori cor diharapkan menjadi meningkat. Kalsium aluminate (Ca-
aluminate) berfungsi sebagai bahan pengikat, terutama saat pembentukan atau pencetakan
untuk mempercepat waktu pengeringan dan pengerasan (setting time). Salah satu tipikal
komposisi yang kemungkinan bisa dibangun dan diuji adalah seperti disajikan pada Tabel
9.

Tabel 9. Tipikal Komposisi Kimia Grog, Aloxi, Ca-aluminate

Campuran bahan baku (abu terbang, grog, alumunium oksida, calcium aluminate)
berdasarkan volumenya dengan perbandingan Al2O3/SiO2 tertentu yang telah tercampur
secara homogen membentuk suatu komposit mentah refraktori cor.
Selanjutnya dilakukan rekayasa komposisi yang dibuat dengan perbandingan
komponen komposit mentah seperti ditunjukkan pada Tabel 10, menghasilkan tipikal
komposisi kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11. Nilai Al2O3/SiO2 tertinggi
dicapai pada komposit mentah kode “A” yaitu 1,69. Nilai ini dapat memenuhi refraktori
cor komersial tipe CAJ- 16. Komposit mentah kode “B” dan “D” dapat memenuhi
refraktori cor komersial tipe CAJ-14.

Tabel 10. Rekayasa Komposisi Komposit Mentah Refraktori Cor

Tabel 11. Hasil Perhitungan Komposisi Kimia Komposit Mentah Refraktori Cor

Untuk contoh rekayasa campuran menggunakan bahan baku aluminium oksida,


grog dan calcium aluminate tanpa abu terbang memberikan kadar Al2O3 yang tinggi tetapi
dengan penambahan abu terbang yang semakin banyak kadar Al2O3 cenderung menurun
drastis. Selanjutnya Gambar menunjukkan bahwa penambahan semen ca-aluminate hanya
meningkatkan kadar Al2O3 relatif kecil.
Gambar 2. Pengaruh penambahan aluminate terhadap kadar Al2O3 pada campuran (abu, crushed
brick, aloxi = 3 : 2 : 1)

Sebaliknya dilakukan penambahan alumina oksida yang semakin banyak, yang


ternyata dapat menaikkan kadar Al2O3 secara signifikan (Gambar 3).

Gambar 3. Pengaruh penambahan Alumina Oksida


terhadap kadar Al2O3 pada campuran (abu, semen, crushed brick = 3 : 2 : 2)

1) Uji Hasil Cetak Refraktori Cor

Benda uji dibuat melalui cetakan berbentuk silinder berdiameter 4 cm dan tinggi
4,5 cm, dengan cara menuangkan adonan komposit mentah ke dalamnya. Sebelum
penuangan, adonan dibuat terlebih dahulu dengan menambahkan 15-20% air pada
komposit mentah dan diaduk sampai rata, kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan
dibiarkan sampai mengeras (setting). Pengamatan secara visual menunjukkan, benda-benda
uji mentah tersebut umumnya mempunyai setting time <>

Tabel 12. Sifat fisik benda uji mentah refraktori cor dan nilai kerefraktoriannya
No Kode benda Setting time Bulk density Porositas (%) PCE Titik leleh
uji (jam) (g/ml)
(SK.No) (oC)
1 CAJ-16 <24 2,58 23,04 SK.34 1750

2 CAJ-14 <24 2,43 27,14 SK.16 1460

3 A <24 1,82 41,11 SK.16 1460

4 B <24 1,80 42,79 SK.16 1460

5 C <24 1,97 37,36 SK.12 1350

6 D <24 1,85 41,32 SK.1O 1300

Uji pembakaran untuk menentukan nilai kerefraktoriannya dilakukan melalui


teknik uji PCE, hasil ujinya juga dapat dilihat pada Tabel 12. Dari data uji menunjukkan
bahwa semua benda uji memiliki setting time kurang dari 24 jam, benda uji yang dibuat
dari contoh refraktori komersial yaitu CAJ-16 memiliki densitas paling tinggi (2,6 g/ml),
tetapi memiliki porositas paling rendah (23%). Hasil uji PCE terhadap CAJ-16
memberikan nilai paling tinggi yaitu SK-34 yang setara dengan ketahanan suhu maksimum
1750°C. Selain itu terlihat pula dari Tabel 11. adanya kecenderungan penurunan ketahanan
terhadap suhu dengan bertambahnya komponen abu terbang yang secara grafis
diperlihatkan pada Gambar 4. Hal ini kemungkinan disebabkan karena abu terbang
memiliki kandungan SiO2 yang tinggi, berarti dalam campuran terjadi peningkatan
komposisi SiO2 yang secara teoritis menurut kurva titik leleh dan kerefraktorian akan
menurunkan ketahanan suhunya (penurunan nilai PCE). Senyawa alkali yang terkandung
dalam abu terbang seperti CaO, K2O dan Na2O turut mempengaruhi turunnya nilai PCE.
Dalam klasifikasi refraktori, low/ultra-low cement castable refractory yang tahan suhu
tinggi, kandungan CaO nya maksimum 1% (kualitas ASTM kelas “F”) (tekmira mei).
Gambar 4. Pengaruh penambahan abu terbang terhadap ketahanan suhu

Meskipun demikian dari data yang ada di dalam Tabel 11 terlihat adanya
perlakuan lain yang cukup signifikan yaitu dengan penambahan abu terbang yang relatif
banyak masih dapat mempunyai nilai PCE relatif tinggi yaitu SK-16 seperti pada kode
contoh “A” dan “B” jika penambahan volume semen aluminat atau volume crushed brick
juga relatif tinggi yaitu abu terbang : semen aluminate : crushed brick : alumina oksida = 3
: 2 : 3 : 2.

Dengan demikian, komposisi campuran bahan baku yang terbaik dalam percobaan
ini adalah abu terbang, calcium aluminate, grog, aluminium oksida dengan perbandingan
volume masing-masing 3 : 2 : 3 : 2 (A) atau 3 : 3 : 3 : 1 (B) dengan nilai PCE = SK-16
yang setara dengan ketahanan suhu 1460°C. Perbandingan komposisi Al 2O3/SiO2 = 1,69
mendekati / sama dengan komposisi refraktori cor komersial yaitu Al 2O3/SiO2 = 1,62 (lihat
Tabel 10 dan 12, kode benda uji “CAJ-16” dan “A”).

Peningkatan kadar Al2O3 dapat meningkatkan ketahanan refraktori terhadap suhu.


Tetapi dalam percobaan ini, upaya peningkatan kadar Al2O3 dalam campuran bahan baku
dengan menambahkan alumina oksida (corundum) tidak memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap ketahanan suhu, bahkan cenderung nilai ketahanan suhunya turun.
Penambahan alumina oksida sebanyak 3(tiga) bagian memberikan nilai ketahanan suhu
paling rendah yaitu 1280°C – 1300°C. Perlakuan ini mungkin saja disebabkan karena
corundum yang ditambahkan adalah bahan yang sudah stabil/inert, sehingga waktu
pembentukan bahan uji dengan ditambahkan air serta waktu pembakaran bahan uji tidak
terjadi reaksi kimia.

Bahan-bahan baku yang telah dicampur menjadi komposit mentah dan telah
dicetak membentuk benda uji mentah dengan cara menambahkan air (15 –20%) bereaksi
membentuk komposit baru yang mempunyai karakteristik berbeda dari bahan asalnya serta
mempunyai sifat kerefraktorian yang lebih baik (tekmira mei).

(a)

(b)

Gambar 5. (a) bentuk mikrostruktur CAJ-16 (b) bentuk mikrostruktur B

Gambar 5 menunjukkan adanya perbedaan tekstur yang mencolok antara


refraktori komersial yang telah ditambah air (contoh benda uji mentah “CAJ-16”) dengan
refraktori rekayasa hasil campuran bahan-bahan baku (abu terbang + calcium aluminate +
grog + aluminium oksida) yang juga telah ditambah air yang sama (contoh benda uji
mentah “B”). CAJ-16 teksturnya didominasi bentuk serat memanjang tajam seperti ciri
khas silika dan terlihat kompak (padat) saling berikatan. Porositasnya 23% dengan bulk
density sekitar 2,6 g/ml. Mineral-mineralnya sama seperti contoh sebelum dicetak yaitu
corundum, mullite dan cristobalite. Dari hasil uji dan pengamatan ini juga tampak bahwa
bubuk refraktori cor komersial merupakan bahan refraktori yang sangat reaktif terhadap air
dengan membentukstruktur baru, struktur yang tahan terhadap suhu maksimum 1750°C.
Sebaliknya contoh “B” strukturnya didominasi oleh fragmen-fragmen yang membentuk
aglomerat yang terdiri dari partikel-partikel menyudut dan partikel-partikel membulat
(sphere ) yang berasal dari abu batubara. Di antara fragmen-fragmen aglomerat tersebut
membentuk rongga-rongga yang terlihat poros. Porositasnya 42,8% dengan bulk density
1,8 g/ml. Jika dibandingkan dengan contoh benda uji mentah CAJ-16 ternyata bubuk
rekayasa refraktori cor belum menunjukkan reaktifitas yang tinggi terhadap air, namun
hanya mampu membentuk aglomerat dengan porositas tinggi. Kandungan mineral-
mineralnya sama seperti contoh bahan rekayasa sebelum dicetak yaitu corundum, mullite
dan cristobalite. Struktur ini hanya mampu tahan terhadap suhu maksimum 1460°C.

2) Pembakaran (Firing) terhadap Benda Uji

Benda uji bakar (firing ) selama 1 jam pada suhu 1000°C. Terlihat bahwa hasil uji
bakar menunjukkan kekerasan benda uji menjadi lebih tinggi.

1. Kesimpulan

 Dari hasil analisis distribusi ukuran menggunakan Fritch particle sizer, menunjukkan
bahwa ukuran partikel-partikel abu terbang di PLTU Suralaya berkisar antara 0.31 -
300.74 µm, dengan distribusi 80% berukuran 0.31 - 40.99 µm, atau d50 = 6,22 µm.
Ukuran partikel yang sangat halus ini Sangat cocok sebagai bahan pengisi (fine grog)
dalam sistem refraktori cor.
 Partikel halus yang membulat cocok untuk digunakan sebagai bahan tahan api cor, karena
memiliki sifat lambat pengendapan dan self flowing yang lebih baik.
 Hasil uji spot EDS menggunakan SEM terhadap butiran kasar (+30 mesh) dan butiran
halus (-200 mesh) menunjukkan, butiran kasar bertekstur seperti butiran gula pasir
(sugary) yang berukuran <>μm, dan partikel halus (fine) menunjukkan sugary dan tekstur
jarum (needle) yang panjangnya sekitar 3 μm.
 Hasil uji terhadap contoh abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan bahwa mineral
dominannya adalah kuarsa dan sedikit mullite.
 Komposisi kimia abu PLTU-Suralaya hasil pengujian menurut laporan teknik PT PLN,
1977. Data tersebut memperlihatkan kandungan Al2O3 yang relatif lebih tinggi yaitu
30,8% untuk abu terbang dan 24% untuk abu dasar. Juga kandungan SiO 2 yang lebih
rendah yaitu 54% untuk abu terbang dan 63,4% untuk abu dasar. Untuk abu terbang, nilai
perbandingan Al2O3/SiO2 adalah 0,57. Kandungan CaO relatif tinggi yaitu sekitar 4%.
 Pada rekayasa komposisi yang dibuat dengan perbandingan komponen komposit mentah
seperti ditunjukkan pada Tabel 10, menghasilkan tipikal komposisi kimia seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 11. Nilai Al2O3/SiO2 tertinggi dicapai pada komposit mentah
kode “A” yaitu 1,69. Nilai ini dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ- 16.
Komposit mentah kode “B” dan “D” dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ-
14.
 Dari data uji cetak refraktori cor menunjukkan bahwa semua benda uji memiliki setting
time kurang dari 24 jam, benda uji yang dibuat dari contoh refraktori komersial yaitu
CAJ-16 memiliki densitas paling tinggi (2,6 g/ml), tetapi memiliki porositas paling
rendah (23%). Hasil uji PCE terhadap CAJ-16 memberikan nilai paling tinggi yaitu SK-
34 yang setara dengan ketahanan suhu maksimum 1750°C.
 Pda uji pembakaran refraktori cor, Benda uji bakar (firing ) selama 1 jam pada suhu
1000°C. Terlihat bahwa hasil uji bakar menunjukkan kekerasan benda uji menjadi lebih
tinggi.

2. Daftar Pustaka

Aziz1, Muchtar, Ngurah Ardha Dan Lili Tahli. 2006. Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya
Dan Evaluasinya Untuk Refraktori Cor. www.tekmira.esdm.go.id. Di akses pada tanggal
27 Februari 2009.

Aziz2, Muchtar, Ngurah Ardha. 2006. Percobaan Pendahuluan Pembuatan Refraktori Cor dari
Abu Terbang Suralaya. www.tekmira.esdm.go.id. Di akses pada tanggal 27 Februari
2009.

Koesnadi, Heri.2008. Fly Ash. http://heri-mylife.blogspot.com/2008/06/fly-ash.html. Di akses


pada tanggal 27 Februari.
2 komentar:

Donny Putra mengatakan...

Untuk uji mineral fly ash dimana ya??

25 Maret 2014 19.53

Dafi Acosta mengatakan...

kami cuma melakukan studi literatur jd tidak secara langsung menguji kandungan dr fly
ash itu sendiri..
mungkin bisa memnghubungi penelitinya langsung yg ada di daftar Daftar Pustaka untuk
lebih jelasnya mengenai pengujian mineral fly ashnya

26 April 2014 02.55

Poskan Komentar

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

RSS Subscription!

Follow me!
Powered by Dailymotion

My Facebook
Dafi 'Kalonk' Acosta

Buat Lencana Anda

Chit Chat
 
RANGER OF ENVIRO © 2010 Design by Free New WP Themes | Bloggerized by Lasantha -
Premium Blogger Themes
Powered by Blogger